Jiwa Kewirausahaan Dalam Diri Muhammad Saw

”Many greatmen started as newspapers boys,” (proverb) “Kerasnya kehidupan masa kecil dapat menimbulkan dorongan untuk bekerja keras, pantang menyerah dan ketahanan dalam memimpin” (Manfred Kets de Vries) Jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dalam diri Muhammad Saw tidak terjadi begitu saja, tetapi hasil dari suatu proses panjang dan dimulai sejak beliau masih kecil. (Antonio, 2008). Dari hasil penelitian Collin dan Moores (2964) dan Zaleznik (1976), mereka menyimpulkan, ”The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience.” Pendapat semacam ini diamini oleh kebanyakan guru leadership yang sepakat bahwa; apa yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan kita akan membuat perbedaan yang berarti dalam periode kehidupan berikutnya. Menurut mereka, pengalaman masa kecil dapat mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan seseorang. Pengalaman masa kecil juga bisa menimbulkan dorongan dan daya kritis, kemauan mencoba, disiplin, dan sebagainya yang akan membantu seseorang untuk mengembangkan rasa percaya diri serta keinginan berprestasi. Sebaliknya, pengalaman masa kecil dapat pula menyebabkan seseorang untuk tidak melakukan hal-hal tersebut. Jauh sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, beliau sudah dikenal sebagai pedagang. Bahkan, sejak kecil, putra dari pasangan Abdullah dan Aminah ini telah menunjukkan kesungguhannya terjun dalam bidang bisnis atau kewirausahaan(entrepreneurship).

1

Jiwa Kewirausahaan Dalam Diri Muhammad Saw
Perbandingan Masa hidup Rasulullah Saw antara Bisnis dan Kenabian

Muhammad Saw mulai merintis karir dagangnya saat berusia 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan sebagai pedagang terus dilakukan hingga menjelang beliau menerima wahyu (berusia sekitar 37 tahun). Kenyataan ini menegaskan; Muhammad Saw telah menekuni dunia bisnis selama lebih kurang 25 tahun. Lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung sekitar 23 tahun (lihat gambar).

2

Masa Kecil Membentuk Jiwa Wirausaha Terjunnya Muhammad Saw dalam perniagaan sejak dini, tidak terlepas dari kenyataan yang menuntut beliau untuk belajar hidup mandiri. Maklumlah, tatkala usia 6 tahun, Muhammad kecil sudah ditinggal wafat kedua orangtuanya. Sejak itu beliau sempat diasuh sang kakek, Abdul Muthalib, dan dilanjutkan pamannya, Abu Thalib, yang sangat sederhana kehidupan ekonominya. Abu Thalib memiliki perasaan yang halus dan terhormat dikalangan Quraisy. Ia mencintai Muhammad Saw sama seperti Abdul Muthalib mencintai beliau. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, membuat Abu Thalib kian menyayanginya. Kondisi ekonomi keluarga sang paman yang pas-pasan, membuat Muhammad Saw merasa harus berusaha untuk meringankan bebannya. Beliau pun sempat bekerja “serabutan”; membantu tetangga merapihkan pekarangannya, memikul batu untuk sedikit upah atau mengambil kayu bakar dari hutan atau semak belukar lalu menjualnya di pasar. Muhammad Saw kecil melakukukan apa saja yang “halal” untuk memperkecil ketergantungannya kepada sang paman. Subhanallah, suatu hal yang sangat jarang kita temukan pada anak anak seusia itu saat ini. Dimana tidak sedikit anak anak kita hidup dalam “kenyamanan dan kemudahan”. Mereka dipilihkan sekolah pavorit yang berafiliasi internasional dengan bayaran SPP selangit. Berangkat ke sekolah diantar dengan mobil be A/C, ditunggu oleh sang supir atau di jemputnya pulang saat sekolah usai. Seuai sekolah anak anak bisa mengikuti berbagai kursus dan les atau bahkan hang-out bermain di mall dan shoping centre. Untuk itu mereka di bekali hand phone dan ATM. Sangat jarang anak anak kita memiliki kesadaran untuk meringankan beban keuangan orang tuanya dengan menujual makanan makanan kecil di lingkungan sekolah, berjualan koran sore hari atau menjajakan kue ke warung warung sekitar rumah.

3

Peta Perjalanan Dagang Nabi Muhammad SAW Ketika berusia 12 tahun, Muhammad ikut berdagang dengan pamannya ke Syiria (Syam). Awalnya, Abu Thalib tidak berniat mengajaknya karena medan perjalanan yang sangat sulit; melewati padang pasir yang luas. Tapi, karena Muhammad kecil berkeras untuk ikut, ia terpaksa mengabulkan permintaan tersebut. Kerasnya keinginan Muhammas Saw untuk ikut ekspedisi dagang menunjukkan betapa besar semangatnya untuk merubah nasib, memperbaiki keadaan dan tidak merepotkan sang paman terlalu jauh. Peta Perjalanan Dagang Muhammad di Masa Remaja

Sumber: Khalil, Shawqi Abu. 2003. Atlas on the Prophet‟s Biography. Riyadh: Darussalam. Hal. 44.

4

Peta Perjalanan Dagang Nabi Muhammad SAW "Berdasarkan peta di atas, maka tempat-tempat yang dikunjungi Muhammad Saw muda saat ikut berdagang yaitu: Madinah, Khaibar, Taima, Daumatil Jandal, Busra (dekat )" Dalam perjalanan dagang tersebut, Muhammad melewati daerah Madyan, Wadi‟ al- Qura, serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Beliau mendengar cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan tersebut dan sejarahnya. Di Syam (Syiria), Muhammad Saw juga mendengar berita tentang kerajaan Romawi dan agama Kristen, serta tentang kitab suci mereka. Meskipun usia Muhammad baru 12 tahun, namun beliau sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, mempunyai pengamatan yang mendalam, serta ingatan yang kuat. (Haikal : 1980) Saat menempuh perjalanan dagang itu, Muhammad dan pamannya bertemu dengan seorang rahib (pendeta Nasrani) bernama Bahira atau Buhaira yang melihat tanda kenabian pada diri beliau sesuai naskah (manuscript) Nasrani yang disimpannya („Ali, Shahi-h al-Si-rah al-Nabawiyah, hal 58-59). Si Rahib menasihati Abu Thalib agar jangan terlalu jauh memasuki daerah Syam. Dikhawatirkan, orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat pada Muhammad.

5

Ayo gabung dengan www.tazkiaonline.com
untuk belajar ekonomi syariah secara online

Unsur-unsur Manajemen Nabi Muhammad SAW Muhammad melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan anak-anak seusianya. Tatkala merasa mampu bekerja sendiri, beliau mulai menggembala kambing milik penduduk Makkah dan menerima upah atas jasanya itu. Kegiatan menggembala kambing mengandung nilai-nilai yang luhur: pendidikan rohani, latihan merasakan kasih sayang kepada kaum lemah, serta kemampuan mengendalikan pekerjaan berat dan besar. Berikut ini hikmah atau pengaruh dari kegiatan menggembala kambing terhadap unsur-unsur manajemen:

Sumber: Antonio, Muhammad Syafii, Muhammad: the Super Leader Super Manager, ProLM& Tazkia Publishing,2009, hal.

6

Karir Pertama Nabi Muhammad SAW Menjelang usia dewasa, beliau memutuskan untuk memilih sektor perdagangan sebagai karirnya. Beliau menyadari bahwa pamannya bukanlah orang yang kaya namun memiliki beban keluarga yang cukup besar. Oleh karena itu Muhammad muda berpikir untuk berdagang. Terlebih lagi, sebagai salah seorang dari anggota keluarga besar suku Quraisy yang umumnya pedagang, Muhammad Saw diharapkan menjadi pedagang pula.

Rupanya, kondisi dan pengalaman berdagang masa kecil telah menempa diri Muhammad sehingga dikemudian hari beliau menjadi seorang wirausahawan yang handal dan sukses. Apalagi, nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah sudah tampak pada pribadi Insan pilihan Allah ini. Tampak jelas bahwa Muhammad muda ingin sekali untuk bisa hidup mandiri. Dalam sebuah riwayat beliau bersabda, “Tidak seorang pun pernah memakan makanan yang lebih baik, daripada yang dimakan dari hasil kerja dengan tangannya sendiri. Nabi Daud As pun biasa makan hasil kerja tangannya” (HR. Bukhari).

INBOX “Muhammad Saw telah membina dirinya menjadi seorang pedagang profesional, yang memiliki reputasi dan integritas luar biasa. Beliau berhasil mengukir namanya di kalangan masyarakat bisnis pada khususnya, dan kaum Quraisy pada umumnya.” (Afzalurrahman, Encyclopedia of Seerah Vol. II buku ke-3, The Moslem School Trust, 1982)

7

Masa Usia Dewasa Nabi Muhammad SAW Aisyah Ra meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda, “Hal-hal yang paling menyenangkan yang engkau nikmati adalah yang datang dari hasil tanganmu sendiri,,,, dan anakmu berasal dari apa yang engkau hasilkan” (HR. Tirmidzi, Nasa‟i dan Ibn Majah). Nabi Saw juga bersabda, “Berusaha mendapatkan nafkah yang halal adalah kewajiban di samping tugas-tugas lainnya yang telah diwajibkan” (HR. Baihaqi dalam Shu‟ab al-iman).

INBOX Dimensi bisnis dan entrepreneurship yang melekat dalam diri Muhammad Saw, nyaris luput dari perhatian kebanyakan orientalis. Barangkali, hal ini dikarenakan tidak kontroversial dan tidak menarik dalam perdebatan teologis. Padahal, Nabi Muhammad Saw telah mencontohkan etika bisnis yang seharusnya menjadi perhatian umat manusia seluruhnya.

Sebelum Menikah Sudah Berbisnis Ketika merintis karir di bidang bisnis, beliau mulai berdagang kecil-kecilan di kota Makkah. Muhammad Saw membeli barang-barang dari suatu pasar, lalu menjualnya kepada orang-orang. Fakta ini kian menegaskan; pekerjaan sebagai pedagang sudah dilakukan oleh Muhammad Saw, jauh sebelum beliau menikah dengan Khadijah. Muhammad Saw sempat menerima modal dari para investor serta anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana peninggalan orangtuanya. Mereka sangat mempercayai Muhammad Saw untuk menjalankan bisnis dengan uang mereka berdasarkan kerjasama mudha-rabah.

8

Masa Usia Dewasa Nabi Muhammad SAW Mudharabah adalah akad kerjasama antara dua pihak dalam suatu usaha atau proyek tertentu. Pihak pertama (ma-lik, sha-hib al-ma-l) menyediakan seluruh modal; pihak kedua („a-mil, mudha-rib, nasabah) bertindak selaku manajer atau pengelola. Keuntungan usaha dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Tetapi, jika terjadi kerugian akan ditinjau secara adil. Seandainya kerugian timbul akibat risiko bisnis, akibat cuaca, gempa, atau force majeur lainnya, maka akan ditanggung oleh pemilik modal. Namun bila kerugian karena keteledoran atau kecurangan pengelola usaha, maka si pengelola atau manajer wajib bertanggungjawab atas kerugian tersebut.

9

Integritas Berdagang Nabi Muhammad SAW Dalam menjalankan bisnisnya, Muhammad Saw menghiasi diri dengan kedisiplinan, memperkaya dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat-sifat mulia lainnya. Tidak mengherankan apabila penduduk Makkah mempercayai sosoknya dan menggelari Muhammad Saw sebagai Al-ami-n (orang yang terpercaya). Sebuah riwayat menceritakan, Rabi bin Badr pernah melakukan kerjasama dagang dengan Muhammad Saw. Tatkala mereka bertemu kembali, Muhammad Saw bertanya, ”Apakah Anda mengenaliku?” Ia menjawab, ”Kau pernah menjadi mitraku dan mitra yang paling baik pula. Engkau tidak pernah menipuku dan tidak berselisih denganku.” Para pemilik modal di Makkah semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan Muhammad Saw. Salah seorang diantaranya adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan berdasarkan mudha-rabah. Khadijah bertindak sebagai pemodal (shahibul ma-l), sedangkan Muhammad Saw sebagai pengelola (mudha-rib).

INBOX Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad telah berdagang-sebagai agen dagang Khadijah ke Syiria, Palestina, Yaman, Bahrain dan tempat-tempat lainnya. Banyak agen yang telah dipekerjakan oleh wanita itu sebelum Nabi. Namun tak seorang pun yang bekerja lebih memuaskan dibanding beliau. Khadijah merasa senang dengan kejujuran, integritas, sikap baik dan kemampuan berdagang Nabi sehingga sifat-sifat ini menimbulkan rasa cinta yang suci dalam diri Khadijah.

10

Kunjungi website STEI TAZKIA www.tazkia.ac.id

Wilayah Perdagangan yang di Kunjungi Muhammad SAW Wilayah perdagangan yang dikunjungi Muhammad Saw meliputi Yaman, Syria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab lainnya. Menurut satu riwayat, sebelum menikah, beliau menjadi manajer perdagangan Khadijah ke pusat perdagangan di Yaman. Muhammad pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan ke Syria dan Jerash di Yordania. Pusat perdagangan dan turisme Jerash Festival (Mahrajan Jerash) saat ini

Pusat perdagangan dan turisme Jerash Festival (Mahrajan Jerash) saat ini

Selain gigih, Muhammad Saw memang pandai dalam berdagang. Tatkala menjual barang dagangannya di pasar-pasar di Busra, misalnya, beliau memperoleh keuntungan dua kali lipat dibandingkan para pedagang lainnya. Itulah sebabnya Khadijah memberikan bagian keuntungan yang lebih besar daripada yang telah mereka berdua sepakati sebelumnya. (Al-Shalabi : 2004)

11

Wilayah Perdagangan yang di Kunjungi Muhammad SAW Dari catatan Afzalurrahman dikemukakan, Muhammad Saw menerima upah seperti dalam bentuk unta. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Allamah Zahabi, bahwa beliau melakukan dua kali perjalanan dagang untuk Khadijah dan mendapat upah dua ekor unta betina dewasa. Kecerdikan Muhammad Saw tampak pula ketika melakukan perjalananan dagang ke Yaman bersama Maysarah, pembantu laki-laki Khadijah. Di samping menjual dagangannya, beliau sengaja mendatangi sentra garmen dan tekstil di sana, kemudian membeli bahan kain dan pakaian jadi untuk dijual di Makkah.

12

Kompetensi Muhammad SAW Dalam Berdagang Pengenalan wilayah dagang merupakan bagian dari “modal” kompetensi Muhammad SAW dalam berdagang

Dagangan di pasar pasar tua Arabia. Kehandalan Muhammad Saw dalam berbisnis, ditunjang oleh pengetahuannya yang luas mengenai wilayah tujuan dagang yang strategis. Tatkala menjejakkan kakinya ke Bahrain, umpamanya, menurut satu riwayat Imam Ahmad, Muhammad Saw pernah menerima utusan salah satu kabilah dari Bahrain. Kepada utusan itu beliau menanyakan; siapa pemimpinnya? Utusan tersebut menjawab; pemimpinnya adalah Al-Ashajj. Setelah Muhammad Saw bertemu Al-Ashajj, beliau bertanya kepadanya berbagai hal dan mengenai orang-orang terkemuka. Muhammad Saw pun menyinggung perihal kota-kota perdagangan di Bahrain seperti Safa, Mushaqqar, dan Hijar. AlAshajj sangat terkejut dengan luasnya wawasan geografis dan pengetahuan tentang sentra-sentra komersial Muhammad Saw. Katanya, “Sungguh! Anda lebih tahu tentang negeri saya daripada saya sendiri. Anda juga lebih banyak mengenal kota-kota di negeri saya daripada yang saya ketahui.” Lalu Muhammad Saw berkata, “Saya mendapat kesempatan menjelajahi negeri Anda, dan saya telah diperlakukan dengan baik. Di usia muda, Muhammad Saw memang sudah menjadi pedagang regional karena daerah perdagangannya meliputi hampir seluruh Jazirah Arab.

13

Setelah Menikah Tetap Berbisnis Afzalurrahman (2000) mencatat; setelah menikah, Muhammad Saw tetap melanjutkan usaha perdagangannya. Di masa itu, beliau bertindak sebagai mitra dalam usaha istrinya. Beliau melakukan perjalanan bisnis ke berbagai pusat perdagangan di seluruh penjuru negerinya dan negeri-negeri tetangga. Tidak banyak catatan sejarah yang merekam usaha perdagangan dan perjalanan bisnis yang dilakukan Muhammad Saw setelah menikah. Tetapi, sebagaimana dinyatakan lebih lanjut oleh Afzalurrahman, terdapat catatan tentang hubungan dagang beliau dengan berbagai macam orang. Hal ini memberi petunjuk bahwa beliau tetap menggeluti bidang perdagangan setelah menikah. Satu hal yang berbeda, sebelum menikah, Muhammad Saw sebagai project manager bagi Khadijah. Setelah menikah, beliau menjadi joint owner dan supervisor bagi agen-agen perdagangan Khadijah. Dalam ilmu entrepreneurship, yang dilakukan Muhammad Saw pasca menikah merupakan suatu lompatan dari quadran pekerja pindah menjadi quadran business owner dan co-investor. Muhammad Saw telah mengaplikasikan suatu teori seperti yang pernah disarankan Robert T. Kiyosaki, teori cashflow quadrant. Uniknya teori tersebut baru dikemukakansekitar 135 abad kemudian. Perbedaan lain Robert T. Kiyosaki memilih untuk menjadi self employed dengan berprofesi sebagai business networkconsultant dan book writer bukan sebagai trader dan business investor berskala regional atau global.

14

Setelah Menikah Tetap Berbisnis

Source: Rober T kiyosaki, Cash-flow Quadrant,dengan modifikasi

Sejumlah hadits yang memberikan tuntunan perdagangan menunjukkan bahwa Muhammad Saw mengetahui seluk-beluk bisnis. Beliau memahami strategi supaya perdagangan bisa berhasil. Beliau mengetahui sifat dan perilaku yang merusak atau menghambat bisnis perdagangan. Lebih dari itu, Muhammad Saw memahami berbagai hal yang merusak sistem pasar secara keseluruhan, seperti kecurangan timbangan, menyembunyikan cacat barang yang dijual, riba, gharar, dan sebagainya. Beliau telah membuktikan; kesuksesan dalam bisnis dapat dicapai tanpa menggunakan cara-cara terlarang Catatan yang menegaskan bahwa Muhammad Saw tetap menekuni dunia bisnis setelah menikah, didukung dengan sifat kemandirian beliau yang telah tertanam sejak kecil. Apalagi, sekurang-kurangnya, tercatat tiga perjalanan dagang beliau yang sempat diberitakan pasca pernikahannya dengan Khadijah; ke Yaman, Najed, dan Najran. Di samping melakukan perjalanan dagang ke kota-kota lain, beliau terlibat urusan dagang selama musim haji, misalnya di pasar Ukaz dan Dzul Majaz. Beliau pun sibuk mengurus perdagangan grosir di kota Makkah.

15

Pusat Perdagangan Arab Masa Jahiliyah Pusat pusat perdagangan Arab pra Islam dan awal masa Islam yang sebagiannya telah dikunjungi Muhammad Saw. Pusat-Pusat Perdagangan Arab Masa Jahiliyah

16

Pusat Perdagangan Arab Masa Jahiliyah Semasa Muhammad Saw berdagang, sudah terdapat pusat-pusat perdagangan yang dikunjungi para pedagang dari arah timur dan selatan. Sebagai seorang pedagang, besar kemungkinan beliau pun mendatangi pasar-pasar itu berulang kali seperti halnya para pedagang Quraisy lain. Hal ini dilakukan demi mengembangkan serta mempertahankan langganan dan mitra bisnis. Pusat-pusat perdagangan Arab yang sudah ada sebelum kedatangan Islam itu antara lain; Daumatul Jandal, Al-Mushaqqar (Bahrain al-Ahsa), Suhar (Oman), Daba (Oman), Shihr atau Shihr Mahrah Bukit (di Uhud), Souq Aden (Yaman), Souq San‟a (Yaman), Al-Rabiyah (Hadramaut), Ukaz (di Arafah), Zil Majaz, Mina, An-Natah (di Khaibar), dan Al-Hijr (Al-Yamamah). Ketika di Madinah, Muhammad Saw sendiri yang membangun pasar berorientasi syariat Islam. Pasar ini bukanlah seperti pasar yang dikuasai orang-orang Yahudi seperti halnya Pasar Qainuqa' dulu (Qardhawi : 1993). Pasar tersebut langsung diawasi oleh Rasulullah. Beliau menertibkan segala sesuatunya, mengurus, serta memberi bimbingan dan pengarahan kepada masyarakat setempat. Tujuannya adalah supaya tidak ada lagi segala bentuk transaksi yang menyimpang dari ajaran Islam seperti penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, dan yang lainnya.

17

Perkembangan Karir Bisnis Muhammad SAW

Sumber: Antonio, Muhammad Syafii, Muhammad: the Super Leader Super Manager, ProLm & Tazkia Publishing,2009, hal.

18

Perkembangan Karir Bisnis Muhammad SAW
Perjalanan karir Muhammad Saw di bidang perdagangan sebagaimana tertera dalam tabel di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pada usia 12 tahun, Muhammad Saw telah mengenal perdagangan yang dapat diistilahkan dengan magang (internship). Hal ini terus dilakukan sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai membuka usaha sendiri. Pada usia ini beliau sudah menjadi seorang business manager. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pemilik modal Makkah mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad Saw beliau menjadi seorang investment manager.
Saat berusia 25 tahun dan menikah dengan Khadijah, Muhammad Saw tetap mengelola perdagangannya sebagai mitra bisnis Khadijah. Dengan demikian beliau termasuk sebagai business owner. Menginjak usia 30-an, Muhammad Saw menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu untuk memikirkan kondisi masyarakat. Pada saat ini Muhammad Saw sudah mencapai apa yang disebut sebagai kebebasan uang (financial freedom)dan waktu. Sejak itulah beliau mulai sering menyendiri (tahannuts) ke Gua Hira‟. Hal ini silakukan hingga mendapat wahyu pertama pada usia 40 tahun. Periode baru dalam hidup Muhammad Saw sebagai seorang Nabi dan Rasul dimulai.

19

Periode Kehidupan Muhammad SAW Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa masa kehidupan Muhammad Saw meliputi empat periode seperti tertuang dalam tabel:

INBOX Perhatian terhadap aspek bisnis Muhammad Saw semakin mengemuka seiring dengan munculnya kembali konsep ekonomi Islam. Selain membangun kerangka teori ekonomi Islam dan berbagai aspeknya, juga dicari tokoh yang dapat dijadikan teladan dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi. Nabi Muhammad Saw merupakan figur yang tepat dijadikan sebagai teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi. Beliau tidak hanya memberikan tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi dilaksanakan, tetapi beliau memberikan suri tauladan dan model yang sukses karena telah mengalami sendiri menjadi seorang pengelola bisnis atau wirausaha.

20

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful