You are on page 1of 19

LAPORAN KASUS

KISTA BARTOLIN

Nama : Andri Agustaria Wijaya NIM : H1A 003005 PEMBIMBING : dr. Made Putra Juliawan, SpOG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI LAB/SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/RSUP NTB 2012

Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan praktek sehari-hari sebagai dokter. K. dr. penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan kepada penulis: 1. SpOG. Edi Prasetyo Wibowo. selaku pembimbing laporan kasus ini. H. SpOG (K). SpOG. selaku pembimbing. Rusdhy Hariawan Hamid. Akhirnya penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak kekurangan. selaku Kepala Bagian/SMF Kebidanan dan Kandungan RSU Mataram. SpOG. Made Punarbawa. Mahayasa. selaku Koordinator pendidikan Bagian/SMF Kebidanan dan Kandungan RSU Mataram. SpOG. Doddy A. I Made W. SpOG. Laporan kasus yang berjudul “Kista Bartolin” ini disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/SMF Obstetri dan Genikologi Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada kesempatan ini. Mataram. 6. 2. Agus Thoriq. SpOG. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan kepada penulis. 5. Januari 2012 Penulis . dr. 3. karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya.KATA PENGANTAR Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. A. dr. Juliawan. dr. I Made P.. Terima kasih. 4. selaku supervisor. dr. dr. Oleh karena itu. kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini. dr.

Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Bentuk-bentuk kelainan pada kelenjar Bartholin :  Bartholinitis  Kista bartholini  Abses bartholini  Keganasan (berupa adenokarsinoma maupun karsinoma skuamosa) . Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini. yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. beberapa disertai dengan sindrom uretra. sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur.BAB I PENDAHULUAN Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. salah satunya adalah infeksi. meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses. Kebanyakan wanita hamil mengalami infeksi asimtomatik. infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. uretritis. kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini tidak menular secara seksual. atau infeksi kelenjar Bartholin.

Kista bartholini adalah kista yang terdapat pada kelenjar barholini.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.2 Etiologi Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. seperti infeksi. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan. Penyebab penyumbatan diduga akibat infeksi atau adanya pertumbuhan .1 Definisi Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. peradangan atau iritasi jangka panjang. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. 2.

Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial.kulit pada penutup saluran kelenjar bartholini.3 Gejala & Tanda Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Namun. bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Non infeksi • • • : Stenosis / atresia congenital Trauma mekanik Inspissated mucous 2. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. seperti Escherichia coli. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut: • • Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan. dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Penyebab sumbatan : 1. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Infeksi : Sejumlah bakteri dapat menyebabkan infeksi. kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. seperti Escherichia coli (E. coli). Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. 2. serta bakteri yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti gonore dan klamidia. termasuk bakteri yang umum. Dispareunia . dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista dapat terinfeksi.

kista dapat tender. Dalam beberapa kasus. Dari hasil ini dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu diberikan. dan tidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya. Untuk kultur diambil swab dari abses atau dari daerah lain seperti serviks. dapat terjadi. Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya. tetapi hal ini tidak dapat menunda pengobatan. Jika abses telah pecah secara spontan. • • • 2. jika kista terinfeksi. dapat terdapat discharge yang purulen.• • Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda. pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasikan jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti Gonorrhea dan Chlamydia. nyeri. Karakteristik dari lesi kistik dan solid dari vulva dapat dilihat pada Tabel 2. kista terdapat di bagian unilateral. Jika berukuran besar. Demam. didapatkan daerah selulitis di sekitar abses. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause. suatu pertumbuhan massa pada . Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi. diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) Hasil pemeriksaan fisik yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut: • Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit. fluktuasi dan terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4 atau 8 pada labium minus posterior. Biopsi dapat dilakukan pada kasus yang dicurigai keganasan. fluktuasi dengan daerah sekitar yang eritema dan edema. Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan • • terhadap abses Bartholin sebagai berikut: • Pada perabaan teraba massa yang tender. unilateral.4 Diagnosis Kista atau abses Bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik. meskipun tidak khas pada pasien sehat. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian. khususnya dengan pemeriksaan ginekologis pelvis.

wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan. merupakan tempat tersering timbulnya adenocarcinoma. setiap wanita berusia lebih dari 40 tahun perlu menjalani tindakan biopsi untuk menyingkirkan kecurigaan neoplasma. Sekitar 50% dari tumor kelenjar Bartholin adalah karsinoma sel skuamosa. tumor ini dapat masuk ke dalam saluran limfatik yang langsung menuju ke kelenjar getah bening inguinal profunda serta superficialis. dimana penyakit inflamasi jarang ditemui pada usia tersebut. terutama bila massanya bersifat irreguler. kistik adenoid (suatu adenokarsinoma dengan histologis spesifik dan karakteristik klinis). Kesalahan dalam . Karena mungkin sulit untuk membedakan tumor Bartholin dari kista Bartholin yang jinak hanya dengan pemeriksaan fisik. Karsinoma kelenjar Bartholin memiliki persentase sekitar 1% dari kanker vulva. Akibatnya. dan keras. tumor dapat mempengaruhi rektum dan langsung menyebar melalui fossa ischiorectalis. dan transitional cell carcinoma. nodular. adenosquamousa. Jenis lain dari tumor yang timbul di kelenjar Bartholin adalah adenokarsinoma. Karena lokasinya yang jauh di dalam. dan walaupun kasusnya jarang.

Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan. 2. sehingga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut hingga biopsi: • • • • Usia yang lebih tua dari 40 tahun Massa yang tidak nyeri. dan tidak nyeri Terdapat riwayat keganasan labial sebelumnya. Akhir-akhir ini dianjurkan marsupialisasi sebagai tindakan tanpa resiko sayatan dan isi kista dikeluarkan. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan. tidak fluktuasi. Abses bartholin : Insisi (bedah drainase) + word catheter. 1. Beberapa kondisi berikut ini dapat merupakan sugestif keganasan kelenjar Bartholin. asimptomatik → dibiarkan Simptomatis/ rekuren → pembedahan berupa insisi +word catheter → marsupialisasi → laser varporization dinding kista 3. Prinsipnya berikan terapi antibiotik . ekstirpasi Penanganan abses bartholin sama dengan penanganan kista bartholin simtomatis. kronis. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan. Bartholinitis 2. akan tetapi tindakan ini bisa menimbulkan perdarahan. dan bertambah besar secara progresif Massa yang solid.5 Penatalaksanaan Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Tindakan itu terdiri atas ekstirpasi. kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase.mendiagosis keganasan Bartholin akan memberikan prognosa yang buruk. dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan. namun ada sedikit perbedaan. sehingga ketepatan dan kecepatan dalam mendiagnosa sangat diperlukan. Kista Bartholin • • : : Antibiotik spektrum luas Kecil.

Anestesi lokal b. . nyeri sedikit  Coitus tidak terganggu  Tindakan sederhana Teknik : a. Kateter Word Indikasi : Kista bartholini Keuntungan :  Minimal trauma. Kateter diangkat Kateter word memang dirancang untuk kasus kista/abses bartholin. sampai kateter dilepas. meskipun 67% disebabkan oleh flora normal vagina. Kateter dipasang. Pertahankan 3-4 minggu. Setelah dipasang. dalam waktu ini duktus akan mengalami epithelialisasi e. dan lakukan pemeriksaan kultur pus oleh karena ada kemungkinan disebabkan gonorrhea atau chlamydia. Setelah 4 minggu akan terbentuk saluran drainase baru dari kista bartholin Secara kosmetik hasilnya cukup bagus karena orifisiumnya akan mengecil dan hampir tidak terlihat.spektrum luas. balon diisi dengan 2-3 ml air d. kateter word ini dibiarkan selama 4 minggu dan penderita dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas seksual. Insisi 2 cm c.

0 atau 4. Prinsipnya adalah membuat insisi elips dengan skalpel di luar atau di dalam cincin hymen (jangan di luar labium mayor karena dapat timbul fistel). Posisi lithotomi b. Dinding kista diinsisi. Dinding kista dijahit secara terputus dengan benang absorbable 3.0 kolateral dengan kulit introitus. Buat insisi di atas mukosa vagina pada perbatasan dengan introitus sampai mencapai dinding kista f.Marsupialisasi Indikasi Keuntungan : Kista bartholin kronik dan berulang :  Komplikasi < dari ekstirpasi  Fungsi lubrikasi dipertahankan Kerugian Teknik : Rekurensi 10-15% karena penutupan dan fibrosis orifisium : a. Dinding kista dipegang dengan klem Allis h. Labia diretraksi dengan benang 3. Kemudian dinding kista didekatkan dengan kulit menggunakan benang 3. dibersihkan. keluarkan semua isinya g.0 sehingga tampak introitus vagina e. ke medial dengan mukosa vagina i. Angka rekurens sekitar 10%. Lakukan pemeriksaan bimanual untuk menentukan luasnya kista c. . Apabila terdapat lokulasi. Insisi harus cukup dalam mengiris kulit dan dinding kista di bawahnya (untuk kemudian dibuang).0 dan dijahit interrupted. Tidak diperlukan tampon/drain Marsupialisasi adalah pilihan terapi apabila setelah penggunaan kateter word terjadi rekurensi atau tidak ada kateter word. Tindakan aseptik & antiseptik d.

Eksisi/Ekstirpasi Indikasi :  Abses/kista persisten  Abses/kista rekuren  Terdapat indurasi pada basal kista yang sulit dicapai dengan marsupialisasi  Kista pada usia > 40 tahun (dapat menjadi ganas) Keuntungan : Kecil kemungkinan rekuren Kerugian/Komplikasi :  Perdarahan (a.pudenda)  Hematoma  Selulitis  Pembentukan scar yang nyeri  Sisa jaringan kista yang tidak terangkat sepenuhnya  rekuren  Fungsi lubrikasi (-) Eksisi dilakukan jika terjadi rekurensi berulang. . Sebaiknya tindakan ini dilakukan di kamar operasi oleh karena biasanya akan terjadi perdarahan yang banyak yang berasal dari plexus venosus bulbus vestibuli. Komplikasi lain adalah selulitis dan dyspareuni. dan pernah dilaporkan terjadinya septik syok pasca tindakan.

S : 20 tahun : SD tamat : IRT : Islam : Sasak : Pringgarata : 22/12/2011 : 263394 Anamnesis Keluhan utama : Benjolan di kemaluan Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik dengan keluhan adanya benjolan di daerah kemaluan sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS). . hipertensi. dan asma disangkal. Riwayat keluar darah dari jalan lahir (-). Riwayat penyakit diabetes melitus. tidak ada gangguan berkemih maupun buang air besar. riwayat keputihan (-). Riwayat Penyakit Keluarga : Os mengaku tidak memiliki penyakit keturunan. Riwayat penyakit diabetes. Riwayat melakukan hubungan sebelumnya selama hamil (+). belum pernah ada keluar cairan. Pasien juga mengeluh telat haid selama 5 bulan. Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Agama Suku Alamat MRS No. hipertensi dan asma tidak ada di keluarga pasien. Riwayat demam sebelumnya (-). Benjolan tidak nyeri.Riwayat penyakit kulit (+). tidak ada perdarahan.BAB III LAPORAN KASUS I. membesar. Riwayat Penyakit Dahulu : Os tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. RM II. tidak ada keluarga os yang mengalami hal serupa. Identitas Pasien : Ny.

murmur (-). Status Generalis : Baik : Compos mentis : 110/80 mmHg : 80 x/menit. HPHT: 25/07/2011. Wheezing (-/-) : Luka bekas operasi (-). striae gravidarum (+) : Edema (-/-). Riwayat KB : Riwayat obstetri : 1. isi cukup : 20 x/menit : 36. . tidak hiperemis. DJJ (+) V.8 0C : An -/-. reguler. Status Gizi: Normal (BB: 46. akral hangat (+/+) Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Mata Jantung Paru Abdomen Ekstremitas IV. Ikterus -/: S1S2 tunggal. pasien mengaku haid teratur dengan siklus 28 hari.5 kg. gallop (-) : Vesikuler (+/+). tidak nyeri.Riwayat Haid : Haid pertama pada umur 12 tahun. HTP: 01/05/2012 Riwayat pernikahan : Ini merupakan pernikahan pertama os dengan suami pertama. massa kistik. TB: 154 cm) Status obstetric TFU = 21 cm Status Ginekologi Inspeksi dan palpasi : Tampak benjolan di labia minora sinistra dengan ukuran 5 x 3 x 2 cm. tidak ada discharge. regular. Ini III. Rhonki (-/-). batas tegas. lama haid 6-7 hari. sudah berlangsung selama ± 1 tahun.

3 gr/dl = 84.7 pg = 32 % = 12.VI. Diagnosis G1P0A0H0 21-22mgg T/H/IU + Kista Bartolini VIII.0 fl = 29.03 x 103/μL = 339 x 103/μL = (-) MCV MCH HCT WBC PLT HbsAg VII. Hb Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah = 11. Rencana Tindakan Pro ekstirpasi .

Apakah penatalaksanaan kasus ini sudah tepat ? Jika dilihat dari teori yang ada. . diajukan kasus seorang wanita 20 tahun hamil dengan umur kehamilan 21-22 mg yang kemudian didiagnosa dengan kista bartolin. Apa penyebab kista bartolini pada kasus ini ? Dari kasus ini penyebab terjadinya kista adalah karena adanya sumbatan pada kelenjar bartolini yang bisa disebabkan oleh faktor personal hygine pasien itu sendiri (kurang menjaga kebersihan daerah kemaluan) atau dari infeksi kuman yang dibawa oleh suami pasien. Selanjutnya akan dibahas : 1. nyeri pada saat perabaan (-). Apakah diagnosa dan pemeriksaan pada kasus ini sudah tepat ? Sudah tepat karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengacu pada kista bartolin. Dari anamnesis tidak didapatkan tanda-tanda nyeri pada benjolan yang terdapat di daerah kemaluannya sejak 3 minggu yang lalu dan dirasa sangat mengganggu aktifitas pasien seperti berjalan. 2. hiperemis (-). dan pada saat berhubungan seksual dengan suaminya.BAB IV PEMBAHASAN Pada laporan kasus ini. fluktuasi (-). penanganan pada kasus ini sudah tepat yaitu dengan melakukan ekstirpasi pada kista untuk mengeluarkan kista beserta kapsulnya guna mencegah terjadinya kekambuhan. permukaan licin. duduk. 3. Dari pemeriksaan fisik didapatkan benjolan unilateral (labia minor kiri) dengan ukuran ± 5 cm x 3 cm x 2 cm. teraba massa kistik.

BAB V KESIMPULAN 1. . Faktor predisposisi dari pasien ini adalah personal hygine yang kurang. Diagnosis pada pasien ini sudah tepat sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yaitu Kista bartolini. 3. Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini sudah tepat yaitu ekstirpasi pemberian antibiotic dan anti inflamasi. 2.

Vorvick. Sexual Transmitted Diseas Dalam William obstetrics edisi 22. American family physician. Available from: http://www.G. et al.mayoclinic. USA: McGraw-Hill comp..gov/medlineplus/ency/article/001489. et al. 2010. Available from: http://www. inc Folashade omole. Penerbit : PT. 2010. Bartholin’s abscess.nih. Morehouse School Of Medicine. Jakarta.html Mayo clinic Staff. Am fam physician. Hanifa. Atlanta. Georgia Linda J. MD et al. 2005. 2003 jul 1.com/health/bartholin-cyst/DS00667 Wiknjosastro.DAFTAR PUSTAKA Anonym.68(1):135-140.wikipedia. Ilmu Kandungan Edisi Kedua Cetakan Keenam. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010. Management of bartholin’s duct cyst and gland abscess. Bartholin's cyst.nlm. Available from: http://en. . F. Bartholin's cyst. 2008.org/wiki/Bartholin%27s_cyst Cunnningham.

Siklus haid selama ± 28-30 hari. tidak Assessment G1P0A0H0 2122 mgg dengan Kista Bartolini Planning  RL inf  Ampicillin 1gr/6jam  proextiparsi . batas tegas.S2 tunggal regular.8°C STATUS GENERALIS  Mata: konjunctiva anemis (-/-).  Ekstremitas: edema (-). ronkhi (-/-)  Abdomen: supel. Benjolan tidak nyeri. belum pernah ada keluar cairan. STATUS OBSTETRI TFU 21cm DJJ (+) STATUS GYNECOLOGI Inspeksi dan palpasi : Tampak benjolan di labia minora sinistra dengan ukuran 5 x 3 x 2 cm. wheezing (-/-). Pasien telah menikah 1 kali 2 tahun yang lalu dan sudah memiliki 1 anak. Pasien lupa kapan pertama kali haid. bekas luka operasi (-). asthma (-). Pasien mengaku bahwa haidnya memang tidak teratur sejak ± 4 tahun yang lalu. tidak ada gangguan berkemih maupun buang air besar Pasien mengaku tidak pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya. tidak ada keluarganya yang pernah mengalami hal serupa. darah: 110/80 mmHg Nadi: 80 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. maupun penyakit berat lainnya. lama haid ± 4-6 hari yang disertai nyeri selama haid. berumur 1 tahun. dan tidak memiliki riwayat hipertensi (-).10 (10.CATATAN PERKEMBANGAN Date/Time Subjective 22/12/2011 Pasien datang ke Poliklinik Kandungan RSUP NTB jam 10. massa kistik. murmur (-). membesar. diabetes mellitus (-). tidak ada perdarahan. riwayat keputihan (-).10) WITA (22 Desember 2012) dengan keluhan adanya benjolan di daerah kemaluan sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Pasien belum pernah Objective Keadaan Umum: baik GCS: E4V5M6 Tek. gallop (-)  Paru: vesikuler (+/+). sklera ikterus (-/-)  Jantung: S1.

menggunakan alat atau metode kontrasepsi apapun sebelumnya.  Temuan intraoperatif: kista bartholin ekstirpasi Operasi finished. hiperemis. tidak ada discharge PEMERIKSAAN LAB Hb = 11.  Ketorolac 3%/8 jam  Ampicillin 1gr/6jam .0 fl MCH = 29. tidak nyeri.5°C Tampak massa (+). darah: 110/80 mmHg Nadi: 80 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36. Perdarahan aktif (-) G1P0A0H0 2122 mgg dengan Kista Bartolini  Operasi dimulai.20 - Keadaan Umum: baik GCS: E4V5M6 Tek.3 gr/dl MCV = 84.7 pg HCT = 32 % WBC = 20.20 x 103/μL PLT = 339 x 103/μL HbsAg = (-) 23/12/2012 09.