You are on page 1of 2

ANALISIS PULANG POKOK (BREAK EVENT POINT -BEP

)
October 10th, 2011 | Author: agussukoco

Break Event Point (BEP), atau lebih dikenal dengan titik pulang pokok adalah seuatu kondisi dimana jumlah pendapatan dan jumlah pengeluaran adalah seimbang. Secara umum perhitungan analisa pulang Pokok adalah menyamakan nilai Total Pendapatan (TR) dan Nilai Total Biaya (TC).

Nilai Total Pendapatan (TR= total revenue) adalah merupakan jumlah uang yang diterima dari penjualan suatu produk yanitu perkalian antara jumlah harga (P) dan jumlah barang (Q) atau dapat dirumuskan sebagai TR = P x Q (1) , dimana TR adalah total revenue (total Pendapatan ) , P adalah Harga jual produk dan Q adalah jumlah barang.

Nilai Total Biaya (TC=Total Cost) adalah merupakan jumlah biaya total yang diperlukan untuk suatu produk. Total biaya adalah merupakan jumlah dari biaya Tetap (Fixced Cost) dan Biaya Variabel (Variable Cost). Biaya tetap adalah merupakan jumlah dari komponen biaya yang jumlahnya relative tetap pada setiap periode, baik periode bulan atau tahun. Biaya Variabel adala komponen biaya yang jumlahnya bervariasi tergantung pada jumlah barang yang diproduksi. Jadi jika dirumuskan maka TC = FC + V.Q (2); Dimana TC adalah total biaya, FC adalah biaya tetap dan V adalah biaya Variabel dan Q adalah jumlah barang Break event point didapatakan ketika jumlah Pendapatan sama dengan jumlah Biaya, atau TR= TC. Jika persamaan 1 dan 2 dimasukan maka P.Q = FC+V.Q ; Q(PV)=FC ; dan Q = FC/(P-V). dimana Q adalah jumlah barang , FC adalah biaya tetap , V adalah biaya Variabel dan P adalah harga barang. Dalam aplikasi bisnis maka rumusan diatas sudah dapat memberikan gambaran umum perhitungan BEP , tetapi belum dapat langsung untuk diterapkan. Sebagai contoh dalam menentukan biaya tetap, maka harus dilakukan break down lagi , komponen biaya apakah yang dapat dimasukan ke dalam golongan Biaya tetap. Begitu pula ketika menetukan biaya variable yang merupakan biaya yang langsung berhubungan dengan biaya produksi. Diperlukan analisa yang detail dan cermat untuk menentukan komponen masing-masing biaya. Hal ini juga dikarenakan komponen biaya pada masing masing produk adalah berbeda beda. Sebagai contoh ilustrasi adalah menghitung break event point untuk usaha Penjualan Nasi Goreng, maka komponen biaya tetap dan biaya variable dapat dikelompokan sebagai berikut: Biaya Variabel : Nasi Rp. 1.500 Bumbu Rp. 500 Minyak Goreng Rp. 500 Ayam Rp. 1.000 Telor Rp. 500

Perhitungan: TR = TC P. 100. 5.000 Jumlah biaya untuk membuat satu porsi nasi Goreng adalah Rp.Bungkus Rp. 1.000.000/bl Telepon Rp.000.Q 7.150 2000Q = 3. Keutungan usaha adalah jika mampu untuk menjual lebih dari Q pada BEP Untuk kasus bisnis yang lainnya maka.000/ bl Jumlah Rp.000 + 5.150.000/ bl PDAM Rp.000. berapa nasi goring yang harus terjual per bulan untuk BEP. 3.Q= FC + V.000.000 . jika harga jual nasi Goreng per porsi Rp. .150 Q = 3150/2000 -Q= 1575 porsi Jadi untuk BEP maka setiap bulan harus dapat terjual sebanyak 1575 porsi atau 52.Biaya Tetap : terdiri atas Sewa tempat Rp.5 porsi per hari. 7. 3.150.000/ bl Pengadaan Peralatan Masak Rp.000 x Q 7000Q-5000Q = 3.000/ bl Gaji Pegawai Rp. 5. 50.150.000.000/ bl Jumlah biaya tetap yang harus dibayar per bulan adalah Rp.000. 500 + Jumlah Rp. 500 Ongkos kerja Rp. 1. 1.Yang menjadi pertanyaan adalah . tentu memerlukan rincian yang berbeda dan banhkan akan memerlukan perhitungan yang lebih rumit jika perusahaan yang ditangani besar dan jumlah produk bervariasi.Q = 3.