1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Banyaknya pemakaian paduan - paduan aluminium terutama seri 6063 sebagai bahan konstruksi automotif serta dalam berbagai macam industri membuat orang berpikir ulang bagaimana merekayasa agar logam tersebut tahan terhadap kerusakan, terutama yang diakibatkan oleh pengaruh korosi. Hal ini dianggap wajar karena beberapa tahun terakhir ini kebutuhan metanol sebagai bahan bakar automotif semakin meningkat. Karena metanol merupakan medium yang korosif, maka perIu dipahami dengan baik tentang perilaku korosi logam dan paduannya dalam larutan metanol, terutama pengaruh impuritas dalam tingkat konsentrasi yang rendah, sekitar 1 M asam klorida (HCL). Paduan aluminium seri 6063 mempunyai sifat korosi yang baik, namun masih sering mengalami kegagalan yang diakibatkan oleh korosi sumuran. Perilaku korosi sumuran pada paduan aluminium telah diamati pada berbagai kondisi untuk berbagai kepeduan. Pada paduan aluminium yang lain mengalami serangan korosi sumuran dan korosi hatas butir pada temperatur 75°C dan 100°C dalam larutan 0,001 M HCL. Pemberian impuritas (asam klorida = HCL) kedalam larutan metanol menyebabkan serangan korosi yang sangat serius pada logam besi, namun belum diketahui jika prosedur tersebut diterapkan pada logam yang lain termasuk logam paduan aluminium .

2

Proses elektrokimia terhadap perilaku korosi akhir yang dihasilkan dari proses korosi paduan aluminium seri 6063 dalam larutan metanol sangat bergantung pada konsentrasi impuritas yang ditambahkan kedalam medium pelarut (metanol). Dalam proses ini didapatkan hasil perilaku elektrokimia yang berbeda-beda, potensial korosi yang berbeda, laju korosi yang berbeda dan potensial sumuran yang berbeda pula, serta struktur mikro yang berbeda pada potensial korosi terpolarisasi. Setiap jenis impuritas yang ditambahkan kedalam metanol sebagai medium pengkorosif akan memberikan perilaku korosi yang berbeda pada aluminium seri 6063. Proses ini dimaksudkan untuk mengetahui perilaku elektrokimia pada proses korosi sumuran akibat reaksi gabungan dari besaranbesaran tersebut dibawah kondisi terpolarisasi. Pengujian korosi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana terjadinya korosi sumuran pada paduan aluminium seri 6063 dibawah kondisi polarisasi bebas dengan menggunakan rangkaian sel elektrolisis. Sedangkan pengujian mikroskopi dilakukan untuk mempelajari penyebaran atau distribusi sumuran dengan menggunakan Mikroskop optik. Selanjutnya untuk menganalisis hasil karakterisasi korosi sumuran\pada paduan aluminium seri 6063 akan dikaji dan dimodifikasi dengan model teoritis yang telah ada. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana mekanisme korosi sumuran pada paduan Aluminium seri 6063 akibat perlakuan panas dan penambahan impuritas 1M HCL dalam medium metanol dibawah kondisi terpolarisasi.

3

2. Bagaimana besamya laju korosi dari paduan Aluminium seri 6063 dengan metode kehilangan massa. 3. Bagaimana struktur mikro permukaan aluminium seri 6063 akibat korosi dan perlakuan panas.

C. Tujuan Penelitian 1. Mempelajari dan menganalisis mekanisme korosi sumuran pada paduan Aluminium seri 6063 akibat perlakuan panas dan penambahan impuritas 1 M HCL dalam medium metanol dibawah kondisi terpolarisasi. 2. Mengetahui besarnya laju korosi dari paduan Aluminium seri 6063 dengan metode kehilangan massa. 3. Mempelajari dan mengamati struktur mikro permukaan aluminium seri 6063 akibat korosi dan perlakuan panas.

D. Batasan Masalah Pada penelitian tugas akhir ini hanya dibatasi pada korosi sumuran yang terjadi pada paduan Aluminium seri 6063 dengan medium pengkorosi larutan Metanol + 1 M HCL dalam waktu pengujian 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105 menit. Sebelum dilakukan pengujian korosi diberikan proses perlakuan panas pada temperatur 550°C selama 8 jam dan 16 jam dan dilakukan pendinginan di udara bebas. Pengujian korosi dilakukan dalam rangkaian sel elektrolisis dengan sumber tegangan 3 volt dan arus sebesar 17 mA.

4

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis adalah untuk memperoleh pemahaman dalam pengujian perlakuan panas dan korosi mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki. 2. Bagi akademik sebagai bahan pengetahuan dan referensi tentang perlakuan panas dan korosi khususnya perlakuan panas dan korosi dalam larutan 1 M HCL. 3. Bagi perusahaan adalah sebagai acuan untuk lebih baik lagi dan menerapkannya.