You are on page 1of 43

KESEHATAN WANITA DALAM PERSFEKTIF GENDER

Cecilia Mike Ananta 10003

4/2/2013

1

Pengertian Gender dan Seksualitas

1.Pengertian Gender

 Gender pada awalnya diambil dari kata dalam

bahasa arab JINSIYYUN yang di adopsi dalam bahasa francis dan inggris menjadi Gender. perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab, dan prilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat ( Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003 ).
2

 Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan

4/2/2013

Lanjutan. . .
 Gender adalah peran dan tanggung jawab
perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara sosial. Gender berhubungan dengan persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai permpuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat, bukan karena perbedaan biologis ( WHO, 1998 ). tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat dan dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman akibat konstruksi sosial.
3

 Gender adalah perbedaan peran, fungsi,

4/2/2013

2. Pengertian Seksualitas /Jenis kelamin 
Seksualitas/Jenis kelamin adalah karakteristik biologis anatomis (Khususnya sistem reproduksi dan horomonal), diikuti dengan karakteristik fisiologis tubuh, yang menentukan seseorang adalah laki-laki atau perempuan (DepKes RI, 2002:2) Seksualitas/Jenis kelamin ( seks )adalah perbedaan fisik biologis, yang mudah dilihat melalui ciri fisik primer dan secara skunder yang ada pada kaum laki-laki dan perempuan ( Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003)
4

4/2/2013

Lanjutan. . .

Seksualitas/Jenis kelamin adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu (Handayani, 2002:4 Seks adalah karakeristik genetik /fisiologis atau biologis seseorang yang menunjukkan apakah dia seorang perempuan atau laki-laki (WHO, 1998)

4/2/2013

5

Perbedaan Gender dan Seks:
NO 1 Karakteristik Sumber Pembeda Gender Manusia (masyarakat) Tuhan Seks

2 3

Visi, misi Unsur pembeda

Kebiasaan Kebudayaan (tingkah laku)

Kesetaraan Biologis (alat reproduksi0

4

Sifat

Harkat, martabat dapat dipertukarkan

Kodrat, tertentu, tidak dapat dipertukarkan Terciptanya nilai-nilai : kesempurnaan, kenikmatan, kedamaian dll. Sehingga menguntungkan kedua belah pihak.

5

Dampak

Terciptanya normanorma/ketentuan tentang “pantas” atau “tidak pantas” lakilaki pantas menjadi pemimpin perempuan “pantas” dipimpin dll, sering merugikan salah satu pihak, kebetulan adalah

perempuan
6
4/2/2013

Ke-berlaku-an

Dapat berubah, musiman dan berbeda antar kelas

Sepanjang masa, dimana saja, tidak mengenal pembedaan kelas
6

Menurut Badan Pemberdayaan Masyarakat, perbedaan antara Gender dengan jenis kelamin
Jenis Kelamin Tidak dapat berubah, contohnya alat kelamin laki-laki dan perempuan Gender Dapat berubah contohnya peran dalam kegiatan seharihari, seperti banyak perempuan jadin juru masak jika dirumah, tetapi jika direstoran lebih banyak laki-laki juru masak Tidak dapat dipertukarkan, contohnya jakun pada lakilaki dan payudara pada perempuan Berlaku sepanjang masa, contohnya status sebagai laki-laki atau perempuan Tergantung budaya dan kebiasaan, contohnya di pulau jawa, pada zaman penjajahan belanda kaum perempuan ridak memperoleh hak pendidikan. Setelah Indonesia merdeka perempuan mempunyai kebebasan mengikuti pendidikan. Berlaku dimana saja, contohnya dirumah, dikantor dan dimanapun berada, seorang laki-laki atau perempuan tetap laki-laki dan perempuan Tergantung budaya setempat, contohnya di pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap permpuan dikarenakan budaya setempat antara lain diutamakan untuk menjadi perawat, guru TK, pengasuh anak. Merupakan kodrat Tuhan, contohnya laki-laki mempunyai ciri utama yang berbeda dengan ciri-ciri utama perempuan, misalnya jakun Ciptaan Tuhan, contohnya perempuan biasa haid, hamil, melahirkan dan menyusui, sedang laki-laki tidak
4/2/2013

Dapat dipertukarkan

Bukan merupakan budaya setempat, contohnya pengaturan jumlah anak dalam satu keluarga.

Buatan manusia, contohnya laki-laki dan perempuan berhak mencadi calon kertua RT, RW dan kepala desa bahkan presiden
7

Teori Gender
Menurut Kantor Menneg PP, BKKBN, UNFPA (2001) ada 3 teori tentang gender. Teori Nurture  Rumusan yang dibentuk oleh masyarakat mengakibatkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.  Kaum laki-laki dianggap sama dengan kaum yang berkuasa/penindas.
4/2/2013 8

Lanjutan. . .

Perjuangan diawali oleh kaum feminis internasional yang memperjuangkan kesamaan (sameness), kesamaan berdasar konsep 50-50 (fifty-fifty). Konsep ini dinamakan perfect equality (kesamaan kualitas). Perjuangan mereka mendapatkan kendala dari segi agama dan budaya

4/2/2013

9

Teori Nature

Paham ini memandang adanya perbedaan lakilaki dan perempuan merupakan takdir Tuhan yang mesti di terima manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Adanya perbedaan secara biologis merupakan pertanda perbedaan tugas dan peran yang mana tugas dan peran tersebut ada yang dapat digantikan tetapi ada yang tidak karena takdir alamiah.
10

4/2/2013

Teori Equilibrium/Keseimbangan

Hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu kesatuan yang saling menyempurnakan, karena setiap laki-laki dan perempuan memiliki kelemahan dan keutamaan masing-masing, harus saling bekerjasama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara.

4/2/2013

Semua kebijakan dan strategi pembangunan harus dipertimbangkan; keseimbangan antara perempuan dan laki-laki, kepentingan serta sejauh mana peran laki-laki dan perempuan.

11

GENDER DAN KESEHATAN REPRODUKSI


 

Peran ganda perempuan merugikan kesehatannya.
Pola penyakit antara laki-laki dan perempuan menunjukkan adanya perbedaan. Kemampuan perempuan untuk hamil dan melahirkan menunjukkan bahwa mereka memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi yang berbeda, baik dalam keadaan sakit maupun sehat.
12

4/2/2013

Lanjutan. . .

Kombinasi antara faktor jenis kelamin dan peran gender dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya seseorang dapat meningkatkan resiko terjadinya beberapa penyakit. Tindak kekerasan terhadap perempuan umumnya berkaitan dengan gender.

4/2/2013

13

Budaya yang Mempengaruhi Gender

Sebagian besar masyarakat banyak dianut kepercayaan yang salah tentang apa arti menjadi seorang wanita dengan akibat yang berbahaya bagi kesehatan wanita.
Setiap masyarakat mengharapkan wanita dan pria untuk berpikir, berperasaan, dan bertindak dengan pola-pola tertentu, dengan alasan hanya karena mereka dilahirkan sebagai wanita atau pria.
14

4/2/2013

Lanjutan. . .

Gender dan kegiatan-kegiatan yang dihubungkan dengan jenis kelaminnya tersebut, semuanya adalah hasil rekayasa masyarakat.

Kegiatan lain tidak sama dari satu daerah ke daerah lain di seluruh dunia, tergantung pada kebiasaan, hukum dan agama yang dianut oleh masyarakat tersebut.

4/2/2013

15

Lanjutan. . .

Peran jenis kelamin bahkan bisa tidak sama di dalam suatu masyarakat, tergantung pada tingkat pendidikan, suku dan umurnya.

Peran Gender diajarkan secara turun temurun dari orang tua ke anaknya.

4/2/2013

16

Diskriminasi Gender
Bentuk diskriminasi gender  Marjinalisasi Marjinalisasi adalah proses peminggiran atau penyisihan yang mengakibatkan perempuan dalam keterpurukan.  Sub Ordinasi Sub ordinasi adalah kedudukan salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting daripada jenis kelamin sebaliknya.

4/2/2013

17

Lanjutan. . .

Pandangan Stereotipe Pandangan stereotipe adalah penandaan atau cap yang sering bermakna negatif.

4/2/2013

18

Kekerasan - Suami memperketat istri dalam urusan ekonomi keluarga. - Suami melarang istri bersosialisasi di masyarakat. - Istri mencela pendapatan suami di depan umum. - Istri merendahkan martabat suami di hadapan masyarakat. - Suami membakar, memukul istri

4/2/2013

19

Lanjutan. . .

Beban kerja Beban kerja yang dilakukan oleh jenis kelamin tertentu lebih banyak bagi perempuan di rumah mempunyai beban kerja lebih besar dari pada laki-laki

4/2/2013

20

Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender
Gender dan Marginalisasi Perempuan  Bentuk manifestasi ketidakadilan gender adalah proses marginalisasi atau pemiskinan terhadap kaum perempuan.  Ada beberapa mekanisme proses marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender.  Dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan bahkan asumsi ilmu pengetahuan

4/2/2013

21

Lanjutan . . .
Gender dan Subordinasi Pekerjaan Perempuan  Subordiansi adalah anggapan tidak penting dalam keputusan politik.  Perempuan tersubordinasi oleh faktor-faktor yang dikonstruksikan secara sosial.  Hal ini disebabkan karena belum terkondisikannya konsep gender dalam masyarakat yang mengakibatkan adanya diskriminasi kerja bagi perempuan.

4/2/2013

22

Gender dan Streotip atas Pekerjaan Perempuan  Streotip adalah pelabelan terhadap suatu kelompok atau jenis pekerjaan tertentu.  Stereotip adalah bentuk ketidakadilan.  Secara umum stereotip merupakan pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tersebut, dan biasanya pelabelan ini berakibat pada ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negatif.

4/2/2013

23

Lanjutan. . .
Gender dan Kekerasan Terhadap Perempuan  Kekerasan adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang.  Kekerasan terhadap manusia ini sumbernya macam-macam, namun ada salah satu kekerasan yang bersumber anggapan gender.

4/2/2013

24

Gender dan Beban Kerja Lebih Berat  Dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, maka peran perempuan mengalami perkembangan yang cukup cepat.  Namun perlu dicermati bahwa perkembangan perempuan tidaklah “mengubah” peranannya “lama” yaitu peranan yang dalam lingkup rumah tangga (peran reproduktif).  Maka dari itu perkembangan perempuan ini sifatnya menambah, dan umumnya perempuan mengerjakan peranan sekaligus untuk memenuhi tuntutan pembangunan.
4/2/2013 25

Isu Gender dalam Kesehatan Reproduksi

Isu gender adalah Suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan laki-laki dan perempuan yaitu adanya kesenjangan antara kondisi yang dicita-citakan (normatif) dengan kondisi sebagaimana adanya (obyektif).

4/2/2013

26

Next…
1. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Safe motherhood) Hal-hal yang sering dianggap sebagai isu gender sebagai berikut :  Ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan dalam kaitannya dengan kesehatan dirinya.  Sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan laki-laki.  Beban majemuk pada daerah tertentu dimana tuntutan untuk tetap bekerja.
4/2/2013 27

Next. . .
2. Keluarga Berencana  Kesertaan ber-KB  Perempuan tidak mempunyai kekuatan untuk memutuskan metode kontrasepsi yang diinginkan  Pengambilan keputusan : partisipasi kaum lakilaki dalam program KB sangat kecil dan kurang, namun kontrol terhadap perempuan dalam hal memutuskan untuk ber-KB sangat dominan.
4/2/2013 28

3. Kesehatan Reproduksi Remaja Hal-hal yang sering dianggap sebagai isu gender sebagai berikut :  Ketidakadilan dalam membagi tanggung jawab misalnya pada pergaulan yang terlalu bebas. Ada kecenderungan pula untuk menyalahkan pihak perempuan, sedangkan remaja puteranya seolah-olah terbebaskan dari segala permasalahan, walaupun ikut andil dalam menciptakan permasalahan tersebut.  Ketidak-adilan dalam aspek hukum

4/2/2013

29

4. Infeksi Menular seksual  Perempuan selalu dijadikan obyek intervensi dalam program pemberantasan IMS, walaupun kaum laki-laki sebagai konsumen justru memberi kontribusi yang cukup besar dalam permasalahan tersebut.

Setiap upaya mengurangi praktek prostitusi, kaum perempuan sebagai penjaja seks komersial selalu menjadi obyek dan tudingan sumber permasalahan, sementara kaum laki-laki yang mungkin menjadi sumber penularan tidak pernah diintervensi dan dikoreksi. Perempuan (istri) tidak kuasa menawarkan kondom jika suami terserang IMS.

4/2/2013

30

Penanganan Isu Gender dalam Kesehatan Reproduksi

 Masalah kesehatan reproduksi dapat terjadi
sepanjang siklus hidup manusia.

 Perempuan lebih rentan dalam menghadapi risiko
kesehatan reproduksi.

 Masalah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan
dari hubungan laki-laki dan perempuan.

4/2/2013

31

Next. . .

 Laki-laki juga mempunyai masalah kesehatan
reproduksi.

 Perempuan rentan terhadap kekerasan dalam
rumah tangga (kekerasan domestik) atau perlakuan kasar.

 Kesehatan reproduksi lebih banyak dikaitkan
dengan urusan perempuan

4/2/2013

32

Pelayanan Kesehatan Yang Peka Gender
“Pelayanan Kesehatan yang Peka Gender” adalah jika petugas kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan bersikap “Peka gender” (DepKes RI, 2002).

 Sadar dan peka tentang kesetaraan gender  Sadar dan peka terhadap keadilan gender  Sadar dan peka peran, bisa dan stereotip
gender
4/2/2013 33

Next . . .

 Sadar dan peka tentang gender dan jenis

kelamin.  Sadar tentang isu gender dalam tiap kondisi sasaran

4/2/2013

34

Peran Laki-laki dalam kesehatan reproduksi
Peran dan tanggung jawab laki-laki dalam kesehatan reproduksi sangat berpengaruh terhadap kesehatan perempuan. Ada 8 kegiatan penting yang pelu dilakukan laki-laki secara aktif dalam kesehatan reproduksi,yaitu :  Perencanaan ber-KB  Aktif dalam ber-KB  Memperhatikan kesehatan ibu hamil  Memastikan persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan
4/2/2013 35

Next . . .

   

Membantu setelah bayi lahir Menjadi seorang ayah yang baik Membantu pencegahan PMS Mengakhiri kekerasan terhadap perempuan

4/2/2013

36

Pengarus-Utamaan Gender
Pengertian Pengarus-utamaan gender (gender mainstreaming, GMS) didefinisikan oleh UN ECOSOC (United National Economic and Sosial Council) pada tahun 1997 sebagai berikut :

 Pengarus-utamaan gender (PUG) adalah suatu

4/2/2013

proses penelaahan implikasi terhadap perempuan dan laki-laki dari setiap kegiatan, program, kebijakan, undang-undang dan setiap bidang dan tingkat.

37

Next. . .

 Pengarus-utamaan gender adalah suatu strategi

untuk memasukkan isu dan pengalaman perempuan dan laki-laki ke dalam satu dimensi yang integral dalam rancangan, pelaksanaan, pemantuan dan evaluasi kebijakan dan program dalam setiap bidang, agar perempuan dan lakilaki mendapat manfaat yang sama.

4/2/2013

38

Tujuan

 Membentuk mekanisme untuk formulasi

kebijakan dan program dan responsif gender.

 Memberi perhatian khusus pada kelompok yang

mengalami marjinalisasi sebagai dampak dari bias gender.

 Meningkatkan pemahaman dan kesadaran semua
pihak baik pemerintah maupun non pemerintah sehingga mau melakukan tindakan yang sensitif gender di bidang masing-masing.

4/2/2013

39

Sasaran Pengarus-Utamaan Gender Pengarus utamaan gender akan berhasil, jika sudah dilaksanakan oleh seluruh kalangan masyarakat baik yang bergabung dalam lembaga departemen maupun non departemen. Sasaran :  Organisasi Profesi  Organisasi Swasta  Organisasi Keagamaan  Maupun organisasi yang paling kecil yaitu keluarga
4/2/2013 40

Alat Pengarus-Utamaan Gender

 Analisis gender dapat dipandang sebagai alat

atau cara untuk mengkaji suatu kebijakan dan proses perencanaan program dengan melihatnya dari perspektif gender dan hubungan gender, guna melihat adanya ketimpangan gender, serta bentuk dan penyebabnya.

 Biasanya meliputi empat bidang, yaitu bidang

akses, manfaat, partisipasi dan penguasaan atas sumber-sumber ekonomi, budaya dan politik.
41

4/2/2013

Next. . .

 GAP (Gender Analysis Pathways) merupakan
metode analisis gender yang dikembangkan untuk mengidentifikasi adanya ketimpangan gender serta mengembangkan indikator dan tujuan yang sensitif gender dalam program pembangunan

4/2/2013

42

www.themegallery.com

4/2/2013

43