P. 1
Skrip Si

Skrip Si

|Views: 82|Likes:
Published by Richard Wowiling
skripsiiii
skripsiiii

More info:

Published by: Richard Wowiling on Apr 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

MAKNA SIMBOLIK TAU-TAU DALAM SISTEM STRATIFIKASI SOSIAL PADA PELAKSANAAN UPACARA RAMBU SOLO’ DI KEL.

LEATUNG KEC.SANGALLA’ UTARA KAB. TANA TORAJA

SKRIPSI

MAIKE YULITA DATUAN E41107062

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

HALAMAN PENGESAHAN JUDUL : MAKNA SISTEM SIMBOLIK TAU-TAU SOSIAL DALAM PADA

STRATIFIKASI

PELAKSANAAN UPACARA RAMBU SOLO’ DI KEL. LEATUNG KEC.SANGALLA’ UTARA KAB. TANA TORAJA NAMA NOMOR POKOK : : MAIKE YULITA DATUAN E411 07 062

Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing I dan Pembimbing II untuk diajukan pada tim evaluasi skripsi Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Makassar, Menyetujui: Pembimbing I Pembimbing II 18 Juli 2011

Drs. Hasbi M.Si Nip: 1963 0827 1991 0310

Drs.SuparmanAbdulla,M.Si Nip: 1969 1231 200801 1

Mengetahui/Menyetujui Pimpinan Jurusan Sosiologi FISIP UNHAS

Drs. Hasbi, M.Si Nip:1963 0827 1991 0310

LEMBAR PENERIMAAN TIM EVALUASI

Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan Tim Evaluasi Skripsi pada Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Oleh :
NAMA NIM JUDUL : MAIKE YULITA DATUAN : E 411 07 062 : MAKNA SIMBOLIK TAU-TAU PADA DALAM SISTEM

STRATIFIKASI

SOSIAL

PELAKSANAAN

UPACARA RAMBU SOLO’ DI KEL. LEATUNG KEC. SANGALLA’ UTARA KAB. TANA TORAJA

Pada : Hari / Tanggal : Selasa, 12 Juli 2011 Tempat : Ruang Ujian Jurusan Sosiologi FISIP UNHAS

TIM EVALUASI SKRIPSI

Ketua

: Prof. Dr. Maria E, Pandu, MA

( .................................)

Sekretaris

: Sultan, S.Sos, M.Si

( .................................)

Anggota

: Drs. Hasbi, M.Si

( ................................ )

Drs. Suparman Abdullah, M.Si ( ................................ )

Buchari Mengge, S.Sos, MA

( ................................ )

Penulis sangat menyadari bahwa berkat dukungan. dan bantuan serta petunjuk/arahan dari berbagai pihak. motivasi.KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat. BA. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda Petrus Bokko’ Ibunda Rasma Runtung Datuan. skripsi ini dapat dirampungkan. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar. Penulis sadar semua itu tidak akan pernah bisa terbalaskan.di sela-sela berbagai tirai penghalang yang setia menyertai. Setelah beberapa tahun bergelut dalam masa studi. Dalam proses penulisan skripsi ini penulis menyadari begitu banyak dukungan. . perhatian. kasih sayang dan pengorbananya selama ini. atas doa restu. bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Tetapi dengan kerja keras dari penulis akhirnya skripsi ini dapat selesai juga. pertolongan dan pimpinannya. Penulis dihadapkan pada keputusan penting pada apa yang harus ditulis dan dari mana memulainya. sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini yang berjudul “Makna Simbolik Tau-tau Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Pelaksanaan Upacara Rambu Solo‟ di Kelurahan Leatung Kecamata Sanggala‟ Utara Kabupaten Tana Toraja”. bimbingan.

4. Hasbi M.Si selaku ketua jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar dan sekaligus sebagai pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. (terima kasih atas ilmunya) 6. untuk memberikan informasi dan data-data sampai pada penyelesaiaan skripsi ini .MA. Yohanis Panggalo selaku Lurah Leatung yang telah memberikan keterangan serta memberikan ijin kepada sipenulis untuk mengadakan penelitian Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan di Kelurahan Leatung. selaku Dekan Fisip Universitas Hasannudin. Bapak Prof. Hamka Naping. Paturusi.MA selaku Penasehat Akademik dan Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. Seluruh responden yang telah bersedia meluangkan banyak waktunya kepada penulis. Idrus A. Para dosen dan staf Akademik jurusan sosiologi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Hasanuddin. 5. Bapak Prof Dr.Pada kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan terimah kasih dan penghargaan kepada: 1. Bapak Drs. Dr.Suparman Abdulla. 7. Sp.B. 3.Hj.Sp. Bapak Drs.Bo selaku Rektor Universitas Hasanuddin 2.

selama penyusunan Skripsi ini. Buat kakakku yang sangat aku sayangi Ronal Datuan. Roni Runtung Datuan. saya tidak akan perna melupakan nasehat-nasehat kakak . 11. membantuku dalam penyusunan skripsi ini. 13. perhatiannya. Terima kasih atas kerja samanya. tanks atas waktunya serta pengertiannya. Lina. . motivasinya. suportnya. Teman seperjuanganku Norma. mendidik dan membiayai dan memotivasi ananda sehingga dapat menyelesaikan pendidikan sampai di perguruan tinggi. 12. Semua teman-teman ku di jurusan sosiologi angkatan 07 yang telah banyak membantuku. Semua keluargaku tak terkecuali makasih atas segala batuaannya. dan dukungan doanya selama penulis dalam bangku kuliah. Terima kasih juga kepada kakak Febri yang tidak perna bosan mendengarkan keluh kesahku selama dalam penyelesaian skipsi ini. Very Datuan dan Nely Datuan makasih atas segala nasehatnya. kerjasamanya serta dukungannya selama adinda di bangku kuliah. 14. 9. Teman-teman ku warga PMKO FISIP UNHAS.8. dan Marni yang paling setia menemaniku. dengan tulus dan kasih sayang. 10. terima kasih dukungan dan doanya. Icha. Rasa hormat penulis haturkan terima kasih terkhusus kepada kedua orang tuaku yang paling aku cintai dan sayangi karena telah melahirkan dan membesarkan ananda.

2011 Maike Yulita Datuan . makasih atas segala dukungan dan kerjasamanya. Makassar. Untuk semua yang telah berarti dalam hidupku yang tak sempat disebut oleh penulis.15.

Pada dasarnya tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu sebuah penelitian yang berusaha memberikan gambaran mengenai objek yang diteliti atau satu tipe penelitian yang bertujuan membuat deskriptif atau gambaran secara sistematis dan aktual mengenai fakta-fakta yang ada. Judul Skripsi “Makna Simbolik Tau-Tau dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Pelaksanaan Upacara Rambu Solo’ di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla’ Utara Kabupaten Tana Toraja ” Di Bimbing oleh Hasbi dan Suparman Abdulla. Penentuan informan ditentukan secara sengaja. Sangalla‟ Utara Kab. .ABSTRAK Maike Yulita Datuan. Maka dengan demikiaan diperoleh kesimpulan bahwa simbol tau-tau yang dipergunakan dalam upacara rambu solo‟ menurut peraturan adat orang toraja yang dibuatkan Tau-tau adalah orang yang berasal dari kalangan bangsawan tinggi yang telah berjasa besar bagi masyarakat. kaya kuat. Dasar penelitian ini adalah studi kasus yaitu satu pendekatan yang melihat objek penelitian sebagai satu keseluruhan yang terintegrasi. Leatung Kec. secara khusus mereka yang dianggap memahami betul dan dapat memberikan informan yang benar berkaitan dengan masalah peneliti. merupakan pemuka/pemimpin masyarakat dan bagi golongan yang hidupnya berarti bagi masyarakat. adapun kriteria yang dimaksud adalah penduduk yang berada di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla‟ Utara Kabpupaten Tana Toraja Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berdasarkan pedoman wawancara. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui Makna Simbolik Tau-Tau dalam Sistem Stratifikasi Sosial sebagai salah satu komponen utama dalam Upacara Rambu Solo‟ di Kel. sehingga dapat menjadi pelindung dan pembela rakyat. maka informan dibedakan atas dua bagian yaitu informan kunci dan informan ahli berdasarkan atas kriteria. Hasil wawancara dan observasi tersebut kemudian digambarkan dalam bab pembahasan seta kajian literature yang berkenaan dengan penelitian ini. Agar peneliti memiliki hasil yang maksimal. mengetahui makna simbolik tau-tau sebagai salah satu komponen utama dalam upacara rambu solo‟ dan memahami sistim norma yang berkaitan dengan tau-tau di Tana Toraja serta mengapa makna simbolik tau-tau tersebut masih dipertahankan. E411 07 062. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna tau-tau secara alamiah di Tana Toraja. Status sosial sangat mempengaruhi keberadaan tau-tau dalam upacara rambu solo‟ di Tana Toraja.

Pengertian Ma‟tau-tau ……………………………………. Teori Interaksionisme Simbolik …………………………. 59 62 63 64 . G. Latar Belakang Masalah…………………………………… Rumusan Masalah………………………………………….... Pengertian Kepercayaan dan Kebudayaan ………………… Pengertian Stratifikasi Sosial………………………………. Kepercayaan Aluk Todolo ………………………………. B.DAFTAR ISI HALAMAM SAMPUL…………………………………………… HALAMAN JUDUL………………………………………………. Tindakan Sosial dan Proses Pemaknaan …………………… Sistem Sosial ……………………………………………… 21 22 26 28 37 39 44 49 50 BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI A. D. I. HALAMAN PEGESAHAN ……………………………………… KATA PENGANTAR………………………………………. F.. E. 2. Sistem Pendidikan ………………………………………… Sarana dan Prasarana …………………………………….. E.. ABSTRAK………………………………………………………… DAFTAR ISI………………………………………………………. Mata pencaharian ………………………………………….. Metode penelitian …………………………………………. C. BAB I PENDAHULUAN A... B.... Dasar dan Tipe Penelitian …………………………. B. Kerangkah konseptual ……………………………………. 3. D. C.. D. Teknik Lokasi Penelitian …………………………. Upacara Keagamaan ……………………………………… Pengertian Tentang Makna dan Simbol …………………. Teknik Pemilihan Informan ………………………. 5. C. 1. Teknik Pengumpulan Data ………………………. H. Teknik Analisis Data ……………………………… 1 6 7 8 17 17 17 17 18 19 i ii iii iv viii ix BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.... Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………………. 4. Gambaran Umum Kelurahan Leatung…………………….

70 B. Makna Religi dari Upacara Tau-tau Masa Kini…………………… 95 BAB V PENUTUP A. Karakteristik Responden …………………………………….. Makna Stratifikasi dari Tau-tau dalam Kehidupan Sosial Budaya… 82 D. Kesimpulan ………………………………………………. Makna Simbolik Tau-Tau Sebagai Salah Satu Komponen Dalam Upacara Rambu Solo‟ ………………………………… 72 C. Saran ……………………………………………………….. Sistem Kekerabatan………………………………………… BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 66 66 A. Sistem Kepercayaan ………………………………………… F. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 103 104 . Makna Simbolik Tau-tau dalam Kehidupan Sosial Budaya……… 85 E. Norma/Aturan yang Berkaitan dengan Tau-tau…………………… 88 F..E. B.

pada suku toraja. menempatkan kepercayaan terhadap dunia gaib yang hakiki. Pada umumnya kepercayaan menjadi suatu pegangan dalam menyakini sesuatu yang gaib atau yang sifatnya supernatural yang berada diluar batas pemikiran manusia. Dalam pandangan hidup Aluk Todolo. Dimana orientasi kepercayaan yang bertujuan sebagai pedoman tingkah laku bagi seluruh masyarakat yang memahami serta menyakini kepercayaan tersebut dalam suatu wilayah. Diwilayah toraja terdapat satu sistem kepercayaan yang dikenal sebagai aluk todolo. Dan agar individu-individu harus dapat memainkan perananya masing-masing dalam kelompok masyarakat itu sebagai suatu sistem. Urgensinya dapat dilihat pada peranan sistem kepercayaan dalam bentuk sikap individu dalam berperilaku. Latar belakang Manusia adalah mahluk sosial yang hidup bermasyarakat dan tidak akan mampu untuk hidup sendiri. khususnya pada bidang kebudayaan. Oleh karena itu manusia yang hidup berkelompok diwujudkan dalam suatu masyarakat senantiasa berusaha mengejar suatu hidup yang teratur dan aman. Hidup di dunia ini . Manusia mempunyai naluri untuk senantiasa hidup berkawan dimanapun mereka berada. Namun harapan itu tidak akan perna terwujud jika kelompok masyarakat itu tidak perna saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.BAB I PENDAHULUAN A. Memahami sistem kepercayaan suatu kelompok masyarakat merupakan hal penting baik itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun pengembangan secara menyeluruh.

temurun. Sebagaimana yang disimpulkan oleh Natsir (2007:52) bahwa keyakinan “Aluk Todolo” adalah kepercayaan dan pemujaan kepada arwah leluhur yang lahir dari suatu kepercayaan yang bersumber dari Aluk Pitussa‟bu Pitu Ratu‟Pitungpulo Pitu. Upacara kematian dan pemakaman yang disebut Aluk Rambu Solo‟ bagi masyarakat toraja yang dilandasi oleh aturan dan kepercayaan serta bahkan boleh dikatakan bahwa hal tersebut dikatergorikan sebagai keyakinan yang mereka anut secara turun . Sesuai definisi Alam Puya adalah suatu perhimpunan para arwah-arwah sebelum menjelma menjadi dewa atau to membali puang setelah diadakanya rangkaian upacara tertentu yakni dalam upacara Aluk Rambu Solo‟. Karena pada prinsipnya selain sebagai aturan yang telah menjadi (2)aspek-aspek tentang kehidupan manusia juga sebagai aturan pemujaan kepada Puang Matua (sang pencipta) (3) serta aturan tentang bagaimana menyembah atau pemujaan kepada leluhur sebagai pengawas dan pemberi berkat kepada keturunannya dalam ajaran aluk todolo. .hanya sementara. Abu hamid dalam honesto (1996:2) mengemukakan bahwa penganut Aluk Todolo memandang hidup ini sebagai suatu proses untuk mencapai yang lebih tinggi dan suci. Sebagian besar masyarakat Toraja menggangap bahwa aturan tersebut sudah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. termasuk dalam yaitu (1) hubungannya dengan pemujaan kepada arwah leluhur. Tandilintin(1981:64). Kehidupan di dunia harus tetap melalui proses agar nantinya mendapat kehidupan yang baik di alam puya. terdapat suatu dunia dimana kehidupan tersebut menjadi kekal. yakni di alam puya.

Dalam kehidupan keseharian orang Toraja dalam mengaktualisasikan kepercayaan AlukTodolo. Dalam upacara kematian masyarakat Toraja mempunyai beberapa tingkat – tingkatan upacara yang diatur atau ditentukan oleh adanya kasta-kasta yang dinamakan Tana‟ dalam masyarakat Toraja. serta selain dari hal tersebut juga karena adanya dasar perbedaan kasta dan kemampuan seseorang dalam pelaksanaan upacara pemakaman. . Pada prosesi pemakaman ada beberapa ritual yang harus dilakukan sampai keritual puncaknya. masyarakat Toraja dalam menjalankan sitem kepercayaan aluk todolo dapat dibagi 2 macam yaitu upacara Rambu Tuka’ untuk keselamatan dan syukuran dan untuk kematian dan pemakaman disebut upacara Rambu Solo’. Masyarakat Tana Toraja sangatlah terkenal dengan upacara kematiannya jika dibandingkan dengan upacara pernikahan. Dengan demikian. sementara yang diatur adalah hanya orang yang memiliki kemampuan dalam meyediakan kurban-kurban upacara pemakaman yang dalam hal ini utamanya kerbau. Dengan melakukan upacara keselamatan dan kehidupan manusia yang disebut Rambu Tuka’. karena yang tidak berkemampuan tidak diatur lagi oleh kedudukan tana‟. Kemampuan seseorang serta kasta yang ada hanya dibatasi oleh persyaratan yang sifatnya normal saja. Jadi perbedaan tingkatan upacara yang disebutkan diatas hanya ditentukan oleh kemampuan menurut adat. Upacara ini juga dapat bermakna sebagai upacara syukuran. karena bagi masyarakat Tana Toraja mereka hidup untuk memenuhi kebutuhan kehidupan berikutnya.

yang wujud atau . secarik atau bersaudara). bahwah manusia dan segala isi bumi adalah sangserkan (sama-sama berasal dari golongan yang sama. Tau-tau (patung) yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah salah satu dari lambang atau simbol yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan orang Toraja. ia adalah saleko). wujud atau rupa. sehingga dalam upacara itu dipenuhi dengan simbolsimbol. Manusia misalnya dapat disimbolkan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang. dan ada juga yang dilambangkan dalam gambar. Syair ini biasanya diungkapkan sebagai kalimat “permohonan izin” kepada yang dituakan dalam suatu upacara Rambu Solo‟ maupun Rambu Tuka‟. Orang yang terpandang dalam masyarakat penguasa atau bangsawan disimbolkan dengan barana‟ (pohon beringin) : Tabe’ lako barana’na tondok. Selain it u juga disimbolkan dengan binatang kerbau saleko : kenna tedong tu’ saleko (seandainya kerbau. lamba’ layukna padang. maupun masyarakat secara umum yang mendukung kebudayaan tersebut. Maka sistem upacara kematian orang toraja pun sangat spesifik sifatnya dan sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan sosial yang ada dalam masyarakat dimana simbol –simbol yang mendukungnya mempunyai fungsi dan peranan tersendiri baik bagi individu sendiri (pemakai gelar). Tindakan religius seluruhnya bersifat simbolis. yang disertai dengan sifat sakral. binatang. Tautau ini adalah karya seni yang terbuat dari kayu pahatan.ataupun benda-benda pusaka yang dimilikinya. Penyimbolan semacam ini dilatarbelakangi oleh mitos penciptaan.Dalam upacara kematian tersebut ada berbagai kegiatan atau tindakan religius yang dilaksanakan. Simbol-simbol tersebut biasanya diambil dari tumbuhan-tumbuhan.

Sosiologi mempelajari dalam teori interaksionisme simbolik bahwa kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol memungkinkan manusia bisa melihat dirinya melalui prespektif orang lain. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh George Herbert Meed dalam teori sosiologi modern(2007: 95) . tetapi harus disesuaikan dengan kedudukan dan exsistensi sipemiliknya. dalam interaksi sosial. pemahaman orang Toraja sendiri terhadap nilai-nilai atau makna-makna yang terdapat pada tau-tau umumnya sudah mulai kabur atau berkurang sehingga pembuatan tau-tau ada yang tidak lagi berdasarkan makna-makna simbolik melainkan dilihat hanya sebagai foto belaka atau hanya sebagai gambar yang bernilai estetis. kesadaran dan pemahaman orang Toraja. Akan tetapi dewasa ini. Tau-tau sebagai simbol lahir dari suatu pengetahuan. bereaksi.modelnya serupa (mirip) dengan leluhur yang bersangkutan. tau-tau tidak dapat dipakai begitu saja. Proses-prose berfikir. pada hakekatnya ia mengandung nilai-nilai atau makna-makna dan fungsi dalam penempatannya. Dalam proses interaksi sosial. manusia mengkomuikasikan arti-arti kepada orang-orang lain melalui simbol-simbol. dan berinteraksi menjadi mungkin karena simbol-simbol yang penting dalam kelompok sosial itu mempunyai arti yang sama dan membangkitkan reaksi yang sama pada orang yang menggunakan simbol-simbol itu. Kemudian orang-orang lain menginterprestasikan simbol-simbol itu dan mengarahkan tingkah-laku mereka berdasarkan interprestasi mereka. Pada umumnya tautau ini dapat kita jumpai pada saat upacara itu dilaksanakan dan dipekuburanpekuburan. Dengan kata lain. Oleh karena itu. aktor-aktor terlibat dalam proses saling mempengaruhi.

Bagaimana makna simbolik Tau-Tau sebagai salah satu komponen utama dalam upacara Rambu Solo‟ di Kel. maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai acuan pengumpulan data dalam penelitian nanti. Ini merupakan warisan kepercayaan asli suku toraja. salah satu unsur tindakan religius dalam upacara pemakaman adalah Tau-tau. B.com) mengatakan bahwah Tau-tau berasal dari kata Tau yang berarti manusia. jadi Tau-tau secara harafiah berarti orangorangan. Rob (www. dimana para komunitas Aluk Todolo yang mempercayai adanya dunia lain setelah dunia ini. Tana Toraja? 2. Tau-tau bukanlah sebuh patung yang digunakan untuk mempresentasikan raga si orang yang telah meninggal tersebut tidak ikut mati.toraja-treasure. Bagaimana makna startifikasi sosial yang berkaitan dengan tau-tau? 3. Sangalla‟ Utara Kab. Leatung Kec. Dalam konteks upacara pemakaman budaya Tana Toraja. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan pentingnya penelitian ini dilakukan.Upacara pemakaman dalam kepercayaan Aluk Todolo. diwarnai oleh berbagai tindakan religius. Pengulangan kata Tau mengandung makna menyerupai. Mengapa makna simbolik tau-tau masih di pertahankan? . Adapun pokok masalah yang dimaksud adalah “Makna Simbolik Tau-Tau Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Pelaksanaan Upacara Rambu Solo‟ di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla‟ Utara Kabupaten Tana Toraja” hal tersebut diatas dapat dilihat dari dua jenis pertayaan yang antara lain yaitu: 1.

begitupun dengan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Tana Toraja.C. Untuk mengetahui makna staratifikasi sosial yang berkaitan dengan tau-tau. Bagi penelitian selanjutnya agar dijadikan sebagai informasi dan referensi bagi penelitian yang mengkaji hal yang serupa. b. Leatung Kec. Sangalla‟ Utara Kab. Manfaat teoritis a. Manfaat penelitian 1. Tujuan penelitian Setiap masalah yang diangkat dalam suatu penelitian tentunya mempunyai tujuan. Bagi pemerintah setempat untuk bahan informasi bagi pembangunan sektor parawisata di Toraja. Untuk mengetahui makna simbolik tau-tau ini masih dipertahankan. . Bagi mahasiswa adalah sebagai bahan masukan untuk menambah khasanah pengetahuan sekaligus kontribusi pemikiran tentang “Makna Tau-Tau Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Upacara Kematian Orang Toraja”. Tujuan Dan Manfaat Penelitian a. 2. 2. Manfaat praktis a. b. Untuk mengetahui Makna Simbolik Tau-Tau sebagai salah satu komponen utama dalam Upacara Rambu Solo‟ di Kel. 3.

b. sehingga suasana-suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak nyata. D. Dimana sistem kepercayaan itu tidak terlepas dari dukungan atau partisipasi masyarakat yang menjadi pelanjut dan pewaris tradisi tersebut. Kerangkah Konseptual a. Adapun komponen itu antara lain emosi keagamaan. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tradisi seperti yang tercermin pada upacara pemakaman yang merupakan tradisi dan pola budaya pada sistem kepercayaan yang merupakan bagian dari sistem religi sebagai inti dari setiap kebudayaan. . memiliki beberapa komponen yang mempuyai peranan-peranan sendiri-sendiri namun berkaitan erat satu dengan yang lainnya. Kepercayaan Oleh geertz (1992:5) melihat kepercayaan adalah suatu sistem simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana-suasana hati dan motivasi yang kuat dan yang tahan lama dalam diri manusia. Bagi pribadi penulis dalam memahami bidang sosiologi dan sebagai bahan perbandingan bagi pihak yang ingin meneliti/memahami topik yang sama. dengan merumuskan kosepkonsep tentang suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsepkonsep itu dengan aura faktualitas.(1987:80). sistem keyakinan. Dimana sistem kebudayaan berkaitan erat dengan kegiatan upacara. peralatan ritus dan upacara. dan umat agama (Kontjaraningrat. sistem ritus dan upacara. Religi sebagai salah satu unsur kebudayaan.

Oleh Subaga(1987) dikemukakan bahwa motivasi upacara pemakaman itu dilandasi oleh suatu keyakinan bahwa dibalik kematian masih ada lanjutan hari hidup di dunia lain. Dan kelanjutan dari hidup itu ada sangkut pautnya dengan upacara kematian. Setiap ada orang mati Sisarak Angin Dipudukna (menghembuskan nafas terakhir belum disebut mati melainkan pergi atau Male Memboko’ dalam artian orang yang dimaksud tersebut telah pergi dan apabila mayat masih ada diatas rumah.(1975:1). Kematian dalam Aluk Todolo merupakan proses yang membentuk seseorang kepada kemuliaanya yaitu menjadi Dewa. orang mati tersebut masih dianggap tidur sekalipun sudah tidak bernafas. . yang merupakan suatu penunjang untuk hidup di alam lain. Sebab keyakinan Aluk Todolo merupakan salah satu keyakinan yang mengajarkan tentang hidup dan kehidupan yang dianut oleh orang toraja sejak dari nenek moyang mereka yang hingga saat ini masih tetap berakar hidup di masyarakat Toraja (Tangdilintin. Dikatakan demikian karena motivasi religius dari upacara kematian bagi orang Toraja adalah bahwa arwah orang mati itu akan menempati kedudukannya yang baru yakni di alam puya.Upacara pemakaman merupakan perwujudan dari sistem kepercayaan masyarakat khususnya kehidupan masyarakat Tana Toraja. Upacara ini tidak diperuntukan pada kegiatan keseharianya. tetapi dikaitan dengan kepercayaan Aluk Todolo. Oleh sebab itu upacara pemakaman bagi orang Toraja sangatlah penting karena untuk menunjang arwah orang mati memasuki tempatnya yang tetap.

diterjemakan. dan membuat penilaian mereka. b. (2) suatu pola makna-makna yang ditranmisikan secara historis yang terkadang dalam bentuk-bentuk simbol. Karena kita ketahui bersama bahwa simbol merupakan akumulasi dari pada makna yang digambarkan oleh interprestasi pemikiran tadi kemudian mengakibatkan timbulnya interaksi manusia dan lingkungan alam . sumber-sumber ekstrasomatik dari informasi. yang melalui bentuk-bentuk simbol tersebut manusia berkomunikasi. sehingga akan mengakibatkan proses pengantian simbol yang di interprestasikan.Pelaksanaan upacara pemakaman tersebut ditunjang pula dengan realitas kehidupan yang digambarkan sebagai suatu kehidupan yang kekal. dan (4) oleh karena kebudayaan adalah suatu sistem simbol. Mengekspresikan perasaan-perasaan mereka. dan diinterpretasi. yang dengan makna dan simbol tersebut individu-individu mendefenisikan dunia mereka. maka proses kebudayaan harus dipahami. 2005:288) mengemukakan suatu defenisi kebudayaan sebagai:(1) suatu sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol. (3) suatu peralatan simbolik bagi mengontrol perilaku. memantapkan. dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai sikap terhadap kehidupan. Clifford geertz(dalam Achmad. sementara dari simbol tersebut saling terkait dengan sismbol-simbol lainya yang turut menumbuhkan rangsangan pemikiran. Simbol Dengan digunakannya simbol dalam setiap upacara akan menumbuhkan rangsangan pemikiran.

Oleh sebab itu Tau-tau menjadi salah satu unsur dari kesatuan rangkaian dari unsur-unsur dalam sistem upacara pemakaman sehingga menjadi bahagian dalam benda upacara pemakaman tersebut. c. Tau-tau yang juga merupakan suatu simbol yang dipergunakan untuk mengungkapakan keyakinan terhadap suatu kenyataan dari hidup total dialam lain. warna maupun kata dalam tulisan. seperti benda-benda upacara. Selanjutnya Geerts (1992:6) mengatakan bahwa dalam simbol-simbol tersebut.dan sosial budayanya yang dipergunakan untuk melihat kehidupan menurut latar belakang sosial budaya masyarakat berdasarkan pengalaman. Karya seni dibuat dengan simbol dan ikon dan melalui inilah maka makna-makna yang diletakkan pada sesuatu dapat diketahui. Mengingat kognitifitas seseorang sangat mempengaruhi setiap ciptaan manusia utamanya karya seni. doa-doa dan tari-tari. Makna-makna tersebut adalah kontruksi sosial yang menjadi keyakinan seniman yang dituangkan dalam gerak. dan juga nilai intelektualisasi yang dimiliki masyarakat Toraja. dalam karyanya yang cukup terkenal “ The Study Of . Mengetahui budaya suatu komunitas dapat dilakukan dengan mengkaji ciptaan karyanya. Status sosial Konsep status sosial pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963 oleh Rapl Lington. Dalam upacara pemakaman diungkapkan dalam bentuk simbolsimbol. akan memberikan pemahaman yang mendalam terhadap kenyataan-kenyataan yang terjadi di dalam hidup ini.

pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan. jabatan. sosiologi kontemporer. Untuk mengukur status seseorang menurut Pitirim Sorokin secara rinci dapat dilihat dari. Soedjono Dirdjosisworo memberikan pengertian status sosial sebagai berikut: “Status sosial merupakan kedudukan seseorang (individu) dalam satu kelompok pergaulan hidupnya” . atau posisi kelompok dalam hubunganya dengan kelompok lainnya”. dalam arti lingkungan pergaulan. polama.dan agama. Seseorang dalam masyarakat dapat memiliki beberapa kedudukan sekaligus. hak-hak. “Status sosial suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok. Tiap diri kita adalah pemegang status yang memegang masingmasing. Kedudukan atau status seseorang atau masyarakat tertentu akan berbeda-beda.Man” dan sejauh itu konsep tersebut dapat digunakan dalam mengkaji konsep dalam kehidupan masyarakat. (Soedjono Dirdjosisworo. dan kewajibannya. 1987:53). Kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain. prestisenya. keturunan. (Margaret M. Menurut Horton dan Hunt 1993. akan tetapi biasanya salah satu . demikian pula halnya seseorang dalam proses memperoleh kedudukanya dalam masyarakat luas akan berbeda pula. Individu adalah sebagai orang yang menempati status atau posisi dan sebagai pelaksana peran yang digariskan oleh status atau posisi tersebut. politis. kekayaan. 1981:96).

dan sebagainya.memilih tempat tinggal. karena dalam aturan adat yang berlaku disana bahwa tidak boleh sembarangan memilih simbol yang akan dipergunakan seperti TAU-TAU. Dengan melihat kedudukan yang menonjol tersebut. pergaulan. sebab itu akan melanggar peraturan adat bila ada masyarakat toraja yang bukan merupakan keturunan bangsawan .kedudukan yang menonjol itulah yang merupakan kedudukan utama. Dalam melaksanakan Upacara Rambu Solo‟ masyarakat sangalla‟ memilih simbol yang akan digunakan dalam upacara tersebut.Tinggi Rendahnya status sosial seseorang dapat dilihat pula dari proses upacara Rambu solo’ dan symbol-simbol yang digunakan dalam upacara tersebut. mereka yang menggunakan simbol ini dalam upacara mereka adalah dari keturunan BANGSAWAN saja. Di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla‟ yang terkenal sebagai Tondok Kapuangan (tempat Raja-raja/keturunan Bangsawan) juga berlaku hal tersebut. yang bersangkutan dapat digolongkan ke dalam strata atau lapisan sosial tertentu dalam masyarakat. Demikian halnya dalam masyarakat toraja status sosial sangat penting. Dalam sosiologi hal ini disebut status simbol. tapi sebelum itu ada hal-hal yang perlu diperhatikan berdasarkan status sosial masyarakat. di mana semakin banyak simbo-simbol yang di pakai dalam Upacara Rambu Solo’ maka semakin tinggi pula status sosial keluarga yang melaksanakan upacara tersebut. Simbol status tersebut tampak dalam cara berpakaian. Status sosial seseorang dalam masyarakat sebenarnya dapat dilihat melalui kehidupan sehari-harinya yang merupakan ciri-ciri tertentu.

Sedangkan status sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain. dalam arti lingkungan pergaulannya. Keturunan 5. Jabatan atau pekerja 2. Karena harus berdasarkan strata sosialnya dan harus memperhatikan komposisinya Kedudukan (status ) seringkali dibedakan dengan kedudukan sosial. keturunan menjadi konsep utama untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam stratifikasi sosial . Kedudukan adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. prestisenya. Agama Salah satu cara untuk mengukur status sosial yang dikemukakan diatas adalah keturunan didalam masyarakat tradisional. hak-hak dan kewajibannya. atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi.menggunakan simbol ini dalam upacara mereka. sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut. Sorokin (dalam Narwoko dan Bagong. 2006) secara rinci dapat dilihat dari: 1. tapi kedudukan atau status sosial tersebut memepengaruhi status orang tadi dalam kelompok sosial yang berbeda. Pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan 3. Untuk mengukur status sosial seseorang menurut Pitirin A. Dengan demikian kedudukan sosial tidaklah semata-mata merupakan kumpula kedudukan-kedudukan seseorang dalam kelompok yang berbeda. Kekayaan 4.

Status pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua jenis. yang dimaksud status yang menunjukkan dari penelitian orang lain. yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usahausaha yang disengaja dilakukan. dimana sumber status yang berhubungan dengan penelitian orang lain selamanya konsisten untuk seseorang. maka anggota masyarakat yang dimaksud secara langsung mendapatkan bangsawan serta bentuk perlakuan dari masyarakat yang lain sangat berbeda dibangdingkan dengan masyarakat yang sama sekali bukan keturunan bangsawan. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja tergantung dari kemampuan masing-masing orang dalam mengejar dan mencapai tujuan-tujuan. bukan diperoleh sejak lahir. yakni yang bersifat objektif dan subjektif. . antara lain: 1.masyarakat yang lain sangat berbeda dibandingkan dengan masyarakat yang sama sekali bukan keturunan bangsawan. Dalam masyarakat seringkali kedudukan atau status dibedakan menjadi dua macam. Sementara itu. 2. Ascribed-status. Achieved-status. ini diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam masyarakat didapat sejak lahir. Anggota masyarakat yang masih memilki garis keturunan dengan kaum bangsawan (raja). Jabatan sebagai direktur merupakan posisi status yang bersifat objektif dengan hak dan kewajiban yang terlepas dari individu.

Sehingga dapat tradisi. Peran dapat dikatakan sebagi perilaku individu yang penting bagi struktur dan perilaku sosial Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku. achieved-status. dan 4. 3. kepercayaan. 2. karena fungsi peran sendiri adalah sebagai berikut: 1. Peran merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. 2. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Satu hal yang tidak bisa dipisahkan ketika membahas kedudukan atau status sosial dalam masyarakat yakni peran (role). . Pewarisan pengetahuan. Memberi arah pada proses sosialisasi. maka orang tersebut tela melaksanakan sesuatu peran. seseorang dalam masyrakat telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibanya sesuai dengan kedudukannya. Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat. juga berarti suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang karena telah berjasa kepada masyarakat. norma-norma dan melestarikan kehidupan masyarakat. Artinya. nilai-nilai.Disamping kedua status tersebut diatas. Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol. Suatu peran mencakup dua hal yaitu : 1.

Agar peneliti memiliki hasil yang maksimal. 2. Informan kunci . Dasar dan Tipe Penelitian a. maka informan dibedakan atas dua bagian yaitu informan kunci dan informan ahli. Metode Penelitian 1. Teknik Pemilihan informan pemilihan informan dalam penelitian ini ditentukan secara sengaja. b. Teknik Lokasi penelitian penelitian ini berlangsung selama tiga bulan yaitu dari awal bulan January sampai maret tahun 2011. secara khusus mereka yang dianggap memahami betul dan dapat memberikan informan yang benar berkaitan dengan masalah peneliti. Dasar Penelitian Dasar penelitian adalah studi kasus. Tipe Penelitian Adapun tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yaitu pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan obyek penelitian yang mencakup Makna Tau-Tau Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Pelaksanaan Upacara Kematian Orang Toraja. yaitu suatu pendekatan yang melihat objek penelitian sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. 3. Lokasi penelitian yaitu di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla‟ Utara Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan.E.

sedangkan informan ahli. maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah: 1. . terdiri dari 8 informan.adalah mereka yang dapat memberi informan mengenai masalah yang sedang diteliti. seperti orang yang dituakan. adalah mereka yang memiliki wawasan luas serta pengetahuan yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. dalam hal ini mengenai Makna Tau-tau. Wawancara di maksudkan untuk mendapat informasi tentang makna simbolik tau-tau dalam sistem stratifikasi pada upacara rambu solo‟ di toraja. 4. Observasi Digunakan untuk mengadakan pengamatan secara langsung dengan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek yang akan di teliti. b. Wawancara Mendalam Digunakan dianggap dapat untuk mewawancarai informasi orang-orang yang yang memberikan dibutuhkan berkenaan dengan judul yang diangkat untuk diteliti dan dapat dipercaya kebenarannya. Data Primer Data ini dikumpulkan dengan menggunakan: a. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dari informan dalam rangka menjawab permasalahan penelitian.

Data Sekunder Data ini dikumpulkan melalui penelusuran atau studi pustaka dari berbagai arsi-arsip penelitian. Wawancara terbuka adalah bagian dari wawancara tak terstruktur dimana model wawacara luwes. Analisis deskriptif secara kualitatif dalam arti bahwa penarikan persyataan yang dilakukan dengan menghubungkan antara makna dari berbagai bahan keterangan yang relevan. susunan pertanyaannya dan susunan kata-katanya dalam setiap pertanyaan dapat diubah saat wawancara. menggambarkan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Dimana tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan informasi yang dianggap bagian dari keseluruhan. dokumen-dokumen dan buku tes yang berkaitan dengan kajian penelitian ini.Wawacara yang dilakukan nantinya adalah wawacara terbuka (opened / Instruktural). Dalam menganalisa data digunakan 2 tahap: pertama. artikel-artikel. 2. agar datanya bersifat kualitatif dan represetatif. untuk mengetahui lebih jauh budaya lokal masyarakat dalam mengetahui tentang . Teknik Analisis Data Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder dianalisis kemudian disajikan dan secara deskriptif kualitatif. menguraikan. sesuai yaitu dengan menjelaskan. 5.

Tau-tau dalam upacara kematian. . kedua untuk mengetahui sejauh mana fungsi Tau-tau bagi masyarakat Toraja.

Menurut kamus bahasa Toraja. menurut Sipa‟ Datuan( 56 tahun) 4) Tau-tau yaitu patung dari orang yang sedang diupacarakan pemakamannya. yaitu: 1) Tau-tau adalah indentifikasi personifikasi leluhur yang dibuat untuk penyembahan kepada roh leluhur. Adapun fungsi tau-tau ialah perantara si mati dengan keluarga yang masih hidup. Jadi ma‟tau-tau adalah pembuatan atau pengadaan orang-orangan atau patung bagi orang tua atau leluhur yang sudah meninggal dunia. Menurut ne‟ Mariak ( 75 tahun). Beberapa pengertian mengenai tau-tau. tau-tau yang disingkat menjadi kata: tatau artinya:orang-orangan (patung). yang pada waktu mayat diarak kelapangan dari rumah. 2) Tau-tau adalah patung atau boneka sebagai personifikasi dari seseorang yang meninggal dunia. yaitu : antara manusia dan Tuhan . tau-tau:patung. Menurut Yohanis Panggalo (53 tahun). Menurut Y.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. tau-tau itu turut pula diarak dengan perlengkapan pakaian kebesaran (pakaian adat).S Parante (63 tahun) 3) Tau-tau adalah wakil dari arwah leluhur yang sudah mati sebagai pengganti diri yang melambangkan perjalanan manusia yang sedang menuju kelangit sesuatu perjalan manusia yang sedang dalam peralihan dan ia ada dalam sikap yang mendua. orang-orangan) yang diperuntukkan bagi orang tua atau leluhur. Selain pendapat tersebut. ada juga menurut Nooy Plam (1979:263) tau-tau bukan sekedar hasil karya si pemahat (to pande). Dalam bukunya Marrang (1979:21) memberikan pengertian tentang tautau yaitu tau-tau adalah personifikasi dari si mati. . tapi mengandung nilai religius dan nilai sosial budaya yang tinggi. Pengertian Ma’ tau-tau Ma‟ tau-tau adalah kata kerja yang artinya membuat tau-tau (tau:orang.

peralatan menurut adat istiadat. setelah manusia mati. upacara dapat diasumsikan sebagai perayaan yang dilakukan sehubungan dengan . tubuhnya menjadi busuk tetapi jiwanya tidak. Tau. Jadi menurut suku Toraja dalam keyakinan Aluk Todolo. Agar dapat menghadirkan roh leluhur pada upacara penyembahan dibuatkanlah sesuatu yang dapat mengganti diri leluhur tersebut. Upacara Keagamaan Upacara adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperingati tanda-tanda kebesaran. Selain itu. Dibuatlah patung atau tau-taunya sebagai pendeskripsian dari roh leluhur. Jiwanya inilah yang menjadi dewa atau arwah leluhur setelah melalui upacara penyembahan. Menurut Rumengan (69 tahun).5) Patung atau tau-tau adalah salah satu karya seni yang berupa tiruan manusia atau binatang. disuguhi makan. Aluk todolo percaya bahwa dalam diri tau-tau tersebut terdapat roh leluhur. Tau-tau merupakan lambang kehadiran leluhur pada saat upacara tersebut. yang terbuat dari pahatan atau relief kayu. Upacara juga dapat bermakna sebagai rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat dengan aturan adat.tau adalah indentifikasi personifikasi dari roh leluhur yang dibuat dan dihadirkan pada upacara rambu solo‟( upacara pemakaman orang toraja) sebagai ganti diri atau pribadi dari leluhur yang sedang di upacarakan pemakamannya. Dalam agama suku Toraja ( Aluk Todolo) diyakini bahwa manusia terdiri atas tubuh dan jiwa. B. Jiwa sifatnya kekal. abadi sedangkan tubuh mati dan menjadi busuk. Oleh karena tau-tau dianggap sebagai simbol dari leluhur. minuman dan sirih. maka ia harus diperlakukan seperti manusia yang masih hidup seperti diberi pakaian. .

(h) berpuasa. Dalam upacara keagamaan atau upacara yang dilakukan oleh pemangku adat. makanan yang telah disucikan dengan doa. Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih besar terhadap anggota masyarakatnya sehingga anggota masyarakat yang melanggarnya akan menerima sanksi yang keras. 2005) mengemukakan tujuh aspek kebudayaan dengan susunan sebagai berikut: 1. (e) menari tarian suci.peristiwa penting. Sistem teknologi dan peralata . Sistem pengetahuan 4. (d) makan bersama. (f) berprosesi atau berpawai. (k) bersemedi. Sistem religi dan upacara 2. (c) berdoa. (b) berkorban. Sistem mata pencaharian hidup 7. (i) intoksikasi atau mengaburkan pikiran dengan memakan obat bius untuk mencapai kesadaran mabuk. (g) memainkan seni drama suci. Bahasa 5. Sistem dan organisasi kemasyarakatan 3. Kesenian 6. Koetjaraningrat (1981). profesi yang dianggap suci menjadi keharusan dan ini memiliki kekuatan hukum yang sangat keras yang diberlakukan untuk menjaga kelangsungan adat istiadat yang diyakini oleh masyarakat. menjabarkan upacara-upacara tersebut dalam beberapa unsur. yakni (a) bersaji. (j) bertapa. Konjaranigrat (dalam basrowi.

Dalam konsep perkawinan. Kontjaranigrat (dalam Bosrowi. .Upacara adat merupakan salah satu dari wujud kebudayaan. 2002) melihat lembaga sosial ini dari segi fungsinya. 2005) mengatakan bahwa suatu yang kompleks dan aktivitas serta tindakan berpola pada manusia dalam masyarakat atau biasa disebut sistem sosial. Upacara adat juga termasuk lembaga sosial karena didalamnya terdapat peraturan-peraturan dan kebiasaan masyarakat seperti yang dipaparkan oleh Polak (Bosrowi. Lanjut Leopold von wiese dan Howard Becker ( dalam soekanto. Bosrowi (2005). Upacara adat termasuk dalam unsur-unsur normative yang merupakan bagian dari kebudayaan. pertunangan. Hal ini dilakukan agar mendapat restu dari seseorang yang sudah mati dan dianggap keramat. 2005) bahwa lembaga sosial adalah suatu yang kompleks atau sistem peraturan-peraturan dan adat istiadat yang memepertahankan nilai-nilai yang penting. perkawianan dan lain-lain. upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat yang merupakan prasyarat sebelum menikah menjadi pedoman sendiri bagi mereka yang memulai hidup berumah tangga. yaitu sebagai suatu jaringan proses-proses antara manusia ada antara kelompok manusia yang berfungsi untuk memelihara hubungan.hubungan tersebut serta pola-polanya. sesuai dengan kepentingan-kepentingan manusia dan kelompoknya. mengemukakan bahwa salah satu unsur normatif yang merupakan bagian dari kebudayaan adalah unsur-unsur yang menyangkut kepercayaan seperti harus mengadakan upacara adat pada kelahiran.

antara lain sebagai berikut: 1. Upacara adat atau upacara keagaaman dianggap perlu diperhatikan karena dalam kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan suatu unsur kebudayaan yang tampak paling lahir. konsepsi tentang dunia roh dan dunia akhirat dan lain-lain. Sehingga itu. . Mengidentifikasi individu dengan kelompok lainnya.Upacara adat merupakan tata kelakuan atau kebiasaan yang merupakan prilaku dan juga sekaligus diterima sebagai norma pengatur yang mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas. bahan etnografi mengenai upacara keagamaan atau upacara adat diperlukan untuk menyusun teori-teori tentang asal mula religi. Memberi batas-batas pada perilaku individu. Sistem religi dalam susatu kebudayaan selalu memiliki ciri-ciri untuk sedapat mungkin memelihara emosi keagaaman merupakan unsur penting dalam suatu religi keagaaman bersama denga tiga unsur lainnya yaitu: 1. yang dilakukan masyarakat terhadap anggotanya. 2. hal ini karena tata kelakuan yang dimaksud merupakan suatu alat untuk memaksakan suatu perbuatan dan sekaligus larangan terhadap suatu perbuatan tertentu. konsep tentang dewa-dewa. Menjaga solidaritas antar anggota masyarakat. roh-roh baik jahat. Tata kelakuan tersebut diatas mempunyai ciri-ciri tersendiri. secara sadar atau tidak sadar. Sistem keyakinan. 3.

Dalam kaitan dengan penelitian ini. Konsep ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Meed mengemukakan bahwa teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the self) dan dunia luarnya. gereja. Pengertian Tentang Makna dan Simbol Secara etimologi kata simbol berasal dari kata yunani “ simbolon” yang berarti tanda pengenal. C. ( Teori Sosiologi Modern 2007:98. pura. yang didalamnya berisi tanda-tanda. isyarat dan kata-kata. konsep simbolik merujuk pada symbol tau-tau dalam upacara kematian dan teori interaksionesme simbolik. langgar. George Herbert Meed memusatkan perhatiaanya pada interaksi antara individu dan kelompok. Konsep simbol merupakan sebuah pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan manusia dan tingkah laku manusia. Disini cooley menyebutnya sebagai looking glass self. sistem ini mengandung empat aspek yakni (a) tempat upacara keagamaan dilakukan seperti candi. bahwa individu merupakan hal yang paling dalam konsep sosiologi. Sistem upacara keagamaan. lencana atau semboyan. Dalam prespektif ini dikenal sosiolog George Herbet Meed inti pandangan simbol adalah individu. Mereka melihat bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu lain.2. (b) saat-saat upacara keagamaan dijalankan. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dan dengan menggunakan simbol-simbol. mesjid dan sebagainya.113). kuil. . (c) benda-benda dan alat upacara seperti Patung-patung yang melambangkan dewa-dewa.

Selain itu. . Seperti halnya dalam upacara rambu solo‟ berbagai tanda yang digunakan dalam upacara tersebut mempunyai makna yang berbeda-beda tetapi saling berhubungan.Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks. namun merupakan seseorang aktor yang dinamis dan berubah. lebih tak di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi. Sedangkan makna menurut Ferdinan de saussere mengatakan bahwa tanda memiliki dua etnis yaitu signifier dan signified atau tanda dan makna‟ atau „ penanda dan tanda‟. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind). Makna merupakan hubungan antara penanda-penanda dan objeknya. keduanya saling berkaitan satu sama lain. Kombinasi keduanya saling berkaitan satu sama lain. keseluruhan interaksi tersebut bersifat simbolik . Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “diluar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita. namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis. menginterprestasi. namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. yang selalu berada dalam proses menjadi dan tak perna selesai terbentuk sepenuhnya. Makna sangat berperan dalam suatu tanda mengandung makna dan informasi. namun juga menangkap. namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial. Kombinasi keduanya dalam semiotika disebut tanda. Individu bukanlah sekelompok sifat. di mana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia. Istilah tanda dapat pula diidentikkan dengan bentuk yang mempunyai makna. bertidak dan mencipta.

dan respon kita terhadap. atau interprestasi oleh penetapan makna dari tindakan orang lain . oleh interprestasi. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala tersebut adalah virtual. realitas muncul dalam proses interaksi. interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol. kita secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterprestasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. defenisi kita mengenai dunia sosial dan presepsi kita mengenai. Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol. Interaksionisme simbolik mengarahkan perhatian kita pada interaksi antar individu.D. Parah ahli prespektif Interaksionisme simbolik melihat bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisi melalui interaksinya dengan individu yang lain. Ketika berinteraksi dengan yang lainnya. Jadi . Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut . mediasi ini ekuivalen dengan perlibatan proses interprestasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia. dan bagaiman hal ini bisa dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu. Teori Interaksionisme Simbolik Makna-makna itu bagi kita bersama yang lain. Pendekatan interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pedekatan teoritis lainnya. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian kearah denan bahasa: namun Meed mengembangkan hal itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik.

yang tidak lain adalah interprestasi. isyarat dan kata-kata. Interaksi simbolik. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal). menurut Herbert Blumer. perilaku non verbal. dan mentrasformasikan makna dalam kaitannya dengan situasi dimana dan kearah mana tindakannya.berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol. yaitu proses mental atau berfikir.” Aktor tidak sematamata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang lain.respon. Jadi terdapat variable antara atau variable yang menjebatani antara stimulus dengan respon. mengelompokkan. Tindakan manusia itu sama sekali bukan stimulus . simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya. Respon actor baik secara langsung maupun tidak langsung. dan objek yang disepakati bersama menurut Meet (dalam sosiologi modern 2007:101). merujuk pada “karakter interaksi khusus yang sedang berlangsung antara manusia. Teori interaksionisme simbolik memandang bahwa arti/makna muncul dari proses interaksi sosial yang telah dilakukan. menurut Blumer. Arti . berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Teori interaksionisme simbolik sangat menekankan arti pentingnya “proses mental”atau proses berfikir bagi manusia sebelum mereka bertindak. berfikir. melainkan stimulusproses berfikir-respon. aktor akan memilih. Dalam konteks itu. Oleh karenanya. interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain. memeriksa. yang di dalamya berisi tandatanda. selalu didasarkan atas makna penilaian tersebut.

Teori interaksinisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial manusia. bukan struktur masyarakat. Interaksilah yang dianggap variable penting yang menentukan perilaku manusia. menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Teori ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Prespektif ini berupaya untuk memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. sebagaimana ditegaskan Blumer. penganut interksionisme simbolik berpandangan. reflektif dan kreatif.dari sebuah benda tumbuh dari cara-cara dimana orang lain bersikap terhadap orang tersebut. individu bersifat aktif. Esensi interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia. menafsirkan. perilaku manusia adalah produk dari interprestasi mereka atas . Bagi prespektif ini. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan struktur yang ada diluar dirinya. proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Menurut teoritis prespektif ini. Dalam pandangan prespektif ini. yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Manusia bertindak hanya berdasarkan defenisi atau penafsiran mereka atas objek-objek sekeliling mereka. kehidupan sosial adalah “interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol”.

2005) Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. sebagaimana dianut teori behavioristik atau teori struktural. Jadi jelas ini merupakan hasil proses belajar. kesimpulan utama yang perlu diambil dari substansi teori interaksionisme simbolik adalah sebagai berikut. Mereka melihat bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisi melalui interaksinya dengan individu yang lain.dunia di sekeliling mereka. manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya. nilai-nilai sosial dan makna dari simbol-simbol itu memberikan pembatasan terhadap tindakannya. jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan. Singkatnya. Kehidupan bermasyarakat itu terbentuk melalui proses komunikasi dan interaksi antar individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melaui proses belajar. and not simply the stimulus. that determines how a man will react ( Ritzer dalam sutaryo. bahwa symbolic interactionist (para pengikut teori interaksionisme simbolik) memberi dasar penalaran bahwa. dalam artian memahami simbol-simbol. . dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut. Para ahli dibelakang prespektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling dalam konsep sosiologi. Menurut Ritzer. It is thismental process. namun dengan kemampuan berfikir yang dimilikinya. Tindakan sesorang dalam proses interaksi itu bukan semata-mata merupakan suatu tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus. Meskipun norma-norma. there is a „minding‟ process that intervenes between stimulus and response.

Dalam prespektif ini seorang sosiolog George Herbet Meet (1863-1931). Mereka melihat bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Mereka mengemukakan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol. dan aktif jika dibandingkan dengan prespektifprespektif sosiologis yang konvensional. pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. interasionisme simbolik menfokuskan diri pada hakekat interaksi. isyarat dan kata-kata. menginterprestasi.Dalam prepektif ini dikenal nama sosiologi. Interaksi sendiri dianggap sebagai unit analisi. teori ini akan berurusan dengan struktur-struktur sosial. Di sisi ini masyarakat tersusun dari individu-individu yang berinteraksi yang tidak hanya bereaksi. bahwa interaksionisme simbolik pada hakikatnya merupakan sebuah prespektif yang bersifat sosial-psikologis yang terutama relevan untuk penyelidikan sosiologis. namun juga menangkap. yang didalamnya berisi tanda-tanda. Individu bukanlah . lebih tak terduga. Seperti yang dikatakan Francis Abraham dalam Modern Sosiological Theory (1982). Baik manusia dan struktur sosial dikonseptualisasikan secara lebih kompleks. bentuk-bentuk kongkret dari perilaku individual atau sifat-sifat batin yang bersifat dugaan. yang memusatkan perhatianya pada interaksi antara individu dan kelompok. bertindak dan mencipta. Charles Horton Cooley (1984-1929). sementara sikap-sikap diletakkan menjadi latar belakang.

atau oleh penetapan makna dan tindakan orang lain. namun Meed mengembangkan hai itu dalam arah yang berbeda dan cukup unik. Selain itu.makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain. Pendekatan interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual. makna tersebut berkembang dan disempurnakan saat interaksi tersebut . Masyarakat bukanlah sesuatu yang statis “diluar sana” yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita. Pendekatan interaksionisme simbolik berkembang dari sebuah perhatian kearah dengan bahasa. Jadi. Mediasi ini ekuivalen dengan perlibatan proses interprestasi antara stimulus dan respon dalam kasus perilaku manusia.sekelompok sifat. yang selalu berada dalam proses menjadi dan tidak perna selesai terbentuk. namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis. interaksi manusia dimediasi oleh penggunaan simbol-simbol. Dengan mengetahui interaksionisme simbolik sebagai teori maka kita akan bisa memahami fenomena sosial lebih luas melalui pencermatan individu. namun merupakan seorang aktor yang dinamis dan berubah. namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. dimana makna-makna dibentuk oleh akal budi manusia. Pendekatan interkasionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatanpendekatan teoritis lainya. manusia bertindak berdasarkan makna-makna. oleh interprestasi. Ada tiga yang utama dalam teori interaksionisme simbolis ini yakni. keseluruhan proses interaksi tersebut bersifat simbolik. Individu bukan hanya memilki pikiran (mind). namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial.

sehingga tersisih dan tidak dianggap penting. Selanjutnya konsep interaksi sosial dimana di sini proses pengambilan peran sangatlah penting. Teori interaksionisme simbolik memandang bahwa “arti” muncul dari proses interaksi sosial yang telah . yakni manusia – manusia lainnya. Diantaranya adalah mengenai konsep diri.berlangsung. “Arti” (mean) dianggap sudah semestinya begitu. “Arti” dianggap sebagai sebuah interaksi netral antara faktor-faktor yang bertanggung jawab pada tingkah laku manusia. Kemudian gagasan konsep perbuatan dimana perbuatan manusia dibentuk dalam dan melalui proses interaksi dengan dirinya sendiri. Disini dikatakan bahwa manusia bukanlah satu-satunya yang bergerak di bawah pengaruh perangsang entah dari luar atau dari dalam melainkan dari organisme yang sadar akan dirinya (an organism having self). Kemudian konsep objek dimana manusia diniscayakan hidup ditengah-tengah objek yang ada. sedangkan „tingkah laku‟ adalah hasil dari beberapa faktor. Posisi teori interaksionisme simbolik adalah sebaliknya bahwa arti yang dimilki benda-benda untuk manusia adalah berpusat dalam kebenaran manusia itu sendiri. Dan perbuatan ini sama sekali berlainan dengan perbuatan-perbuatan lain yang bukan mahluk manusia. Menurut Herbert Blumer. Dari sini kita bisa membedakan teori interaksionisme simbolik dengan teori-teori lainya. yakni secara jelas melihat arti dasar pemikiran kedua yang mengacu pada sumber dari arti tersebut. teori interaksionisme simbolik memilki beberapa gagasan. Yang terakhir adalah konsep Joint Action dimana disini aksi kolektif yang lahir atas perbuatan-perbuatan masing-masing individu yang disesuaikan satu sama lain.

menurut Cooley . Diri yang bersifat mental (mental selves). Jika kita melihatnya secara terpisah. Disini Cooley berusaha mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai individu namun bukan sebagai entitas yang terpisah dari masyarakat. Penjelasan Charles Horton Cooley adalah tokoh yang amat penting dalam teori ini. Evolusi organic adalah interplay yang kreatif baik individu maupun masyarakat sebagai dua wujud dari satu fenomena yang sama. moral. “ dan jika kita ingin memiliki pengetahuan yang riil atas diri individu. terutama mengenai apa yang anda pikirkan tentang apa yang . yaitu bahwa kehidupan sosial secara fundamental merupakan sebuah evolusi organik. dan bahwa masyarakat itu secara ideal bersifat demokratis. “kehidupan kita adalah salah satu kehidupan manusia secara keseluruhan”. yang saling bekerja sama. namun sebagai sebuah bagian psiko-sosial dan historis dari bahan-bahan penyusun masyarakat. dan progresif. Sehingga interaksi simbolik memandang “arti” sebagai sebagai produk sosial.dilakukan. sebagai kreasi-kreasi yang terbentuk melalui aktifitas yang terdefenisi dari individu saat mereka berinteraksi. maka kita harus memandang individu secara demikian. Pemikiran sosial Cooley terdiri atas dua asumsi yang mendalam mengenai hakikat dari kehidupan sosial. Saya membayangkan apa yang anda pikirkan. maka proses pengetahuan kita atas diri individu akan gagal. Pandangan ini meletakkan teori interaksionisme simbolik pada posisi yang sangat jelas dengan implikasiyang cukup dalam. Arti dari sebuah benda untuk seseorang tumbuh dari cara-cara dimana orang lain bersikap terhadap orang tersebut.

Seperti yang ditegaskan Cooley. Jika sosiologi hendak memahami masyarakat. terutama mengenai apa yang saya pikirkan tentang apa yang anda pikirkan. Menurut Cooley. mereka juga merupakan produk-produk yang ditentukan dan dibangun oleh pikiran publik. kepercayaan-kepercayaan. institusi-institusi tersebut merupakan hasil dari organisasi dan kristalisasi dari pikiran yang membentuk simbol-simbol. Masyarakat adalah sebuah relasi diantara ide-ide yang bersifat personal. institusi-intitusi tersebut merupakan kreasi-kreasi mental dari indivudu-individu dan dipelihara melalui kebiasaan-kebiasaan manusiawi dari pikiran yang hampir selalu dilakukan secara tidak sadar karena sifat kedekatannya dengan diri kita (familiartity). Cooley mengemukakan bahwa institusi sosial membentuk fakta-fakta dari masyarakat yang bisa dipelajari oleh studi sosiologis. namun juga merupakan seseorang creator dan pemelihara struktur sosial tersebut.saya pikirkan. . Oleh karena itu. dan sentiment-sentimen perasaan yang tahan lama. ketika intitusiinstitusi masyarakat dipahami terutama sebagai kreasi-kreasi mental. Dalam konsep Looking-Glass Self ( diri yang seperti cermin pantul). tugas fundamental dari sosiologi ialah untuk memahami sifat organis dari masyarakat sebagaimana dia berlangsung melalui presepsipresepsi individual dari orang lain dan dari diri mereka sendiri. maka individu bukanlah semata-mata “efek” dari struktur sosial. dia harus mengkonsentrasikan perhatiannya pada aktivitas-aktivitas mental dari individu-individu yang menyusun masyarakat tersebut. Menurut Cooley. “imajinasi yang saling dimiliki oleh orang-orang merupakan fakta-fakta yang solid dari masyaraka.

adat. Tetapi juga sebagai berbagai bentuk upacara. Sedangkan kepercayaan mempunyai wujud sebagai sistem keyakinan dan gagasan-gagasan tentang Tuhan.hukum. yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan. (Koetjaraningrat 2003:81). dan cara bertindak. maupun benda-benda suci. Dalam kebudayaan tercakup hal-hal bagaimana tanggapan manusia terhadap dunianya dan lingkungan masyarakat. kepercayaan.istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. dewa-dewa. neraka. Pengertian Kepercayaan dan kebudayaan Manusia sebagai mahkluk budaya. Seperangkat nilai yang menjadi landasan untuk menentukan sikap terhadap dunia luarnya bahkan untuk mendasari langkah-langkah kegiatan yang hendak dan harus dilakukan sehubungan dengan kondisi alam maupun pola hidup kemasyarakatan.E. Selanjutnya kebudayaan berpengaruh terhadap lingkungan tertentu sehingga makin lama makin menjauhkan manusia dari kondisi asli lingkungan alam. surga. dan lain-lain. mengandung pengertian bahwa manusia menciptakan budaya dan kemudian kebudayaan memberikan arah dalam hidup dan tingkah laku manusia. moral . hal yang selanjutnya mempengaruhi pola-pola berpikirnya dan juga cara bergaul. Dengan penekanan kepada suatu sistem keyakinan. menyebabkan kepercayaan itu menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan dan menjadi pendorong atau penggerak serta pengontrol bagi tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk .kesenian. roh-roh halus. Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks.

digerakkan.Gertz melihat agama dan kepercayaan itu bagian yang utuh tak terpisahkan dari kebudayaan. Clifford Gertz (1992:5) mendefisikan kepercayaan itu sebagai berikut: suatu sistem simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana-suasana hati dan motivasimotivasi itu tanpak nyata. Nilai agamalah yang mempengaruhi semua nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan. . disamping member peringatan dan menanggulangi sosialisasi bagi kehidupan masyarakat. berfungsi untuk mengukuhkan tata susila yang sedang berlaku. Dalam hal ini juga merupakan pernyataan cara berpikir dan cara merasa kelompok masyarakat.tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya. dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan masyarakatnya sebagai tindakan yang diselimuti oleh sistemsistem simbol. Dengan konsep ini C. etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata dipengaruhi. Konsep atau ide dari pelaksana upacara dalam kehidupan religius manusia adalah sesuatu yang universal yakni memohon kepada yang kuasa tertinggi bagi keperluan hidup manusia. Dapat juga dikatakan bahwa penyelengara upacara mengungkapakan emosi keagamaan yang telah dianut oleh masyarakat. Dalam keadaan demikian maka. Hal ini berarti bahwa suatu sistem nilai dari kebudayaan terwujud sebagai sistem-sistem simbol suci dimana maknanya bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi kerangkah acuannya. secara langsung atau tidak langsung atau tidak langsung.

F. Stratifikasi sosial akan membedakan warga masyarakat menurut kekuasaan dan pemilikan materi. Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. baik secara perorangan maupun kelompok. Pengertian Stratifikasi Sosial Sistem berlapis-lapis di masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah „‟Social Stratification‟‟. Dengan begitu. Sorokin mengatakan bahwa Social Stratification adalah pembeda penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat. Stratifikasi sosial (Pelapisan sosial) sudah mulai dikenal sejak manusia menjalin kehidupan bersama. Terbentuknya pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun. yang di wujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. atau kedua-duanya. Pada masyarakat yang taraf kebudayaannya masih sederhana. . kewajibankewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertical (bertingkat). Dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban. sedangkan masyarakat modern memiliki pelapisan sosial yang kompleks dan tajam perbedaannya. kepemilikan kekayaan. maka pelapisan yang terbentuk masih sedikit dan terbatas. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan. Pitrium A. Kata Stratification berasal dari stratum (jamak : strata yang berarti lapisan).

Ukuran semacam ini biasanya . ia akan menempati pelapisan di atas.pendapatan. Dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial adalah sebagai berikut : 1. Ukuran kehormatan. seseorang yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan social masyarakat yang bersangkutan. seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak. Semakin ke atas semakin sedikit jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas (upper class). Dalam stratifikasi sosial terdapat tiga kelas sosial. dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi atau kelas ekonomi. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah. 3. Masyarakat kelas bawah (lower class). Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class). kekayaan. Orang-orang yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya lebih banyak (mayoritas) daripada di kelas menengah (middle) apalagi pada kelas atas (upper). Ukuran kekuasaan. 2. Ukuran kekayaan. 2. cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai. mobil pribadinya. orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. yaitu : 1. kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya. Masyarakat yang terdiri kelas menengah (middle class) 3.

dan miskin pada lapisan bawah. pemilihan tempat pendidikan.dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. cara berbicara. Yang kaya ditempatkan pada lapisan atas. Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa pelapisan sosial dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran ilmu pengetahuan. Misalnya. Dari perbedaan lapisan sosial ini terlihat adanya kesenjangan sosial. Seseorang yang tergolong dalam strata sosial atas dapat dilihat dari gaya busananya. Stratifikasi sosial juga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari orang-orang yang berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan kekuasaan. Biasanya orang-orang kelas atas . Pola gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara berpakaian. tempat tinggal.  Cara Berpakaian. privilese dan prestise. Dalam lingkungan masyarakat dapat terlihat perbedaan antara individu. 4. Hal ini tentu merupakan masalah sosial dalam masyarakat. seperti adanya perbedaan gaya hidup dan perlakuan dari masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki pelapisan tertentu.Perbedaan sikap tersebut tercermin dari gaya hidup seseorang sesuai dengan strata sosialnya. yang dapat didasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki. ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. atau satu keluarga lain. hobi dan tempat rekreasi. Atau mereka yang berpendidikan tinggi berada di lapisan atas sedangkan yang tidak sekolah pada lapisan bawah. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

tas. Pada umumya masyarakat kelas atas akan membangun rumah yang besar dan mewah dengan gaya arsitektur yang indah. Mereka yang termasuk dalam golongan strata atas memiliki gaya berbicara yang beradaptasi dengan istilah-istilah asing serta penuh dengan kesopanan. Pendidikan menjadi faktor yang paling penting bagi setiap masyarakat. jam tangan yang bermerek dan dari luar negeri. Umumnya masyarakat strata atas memilih memasukkan anakanak mereka pada sekolah-sekolah ataupun universitas-universitas yang berkualitas tinggi termasuk sekolah di luar negeri. Sedangkan bagi masyarakat yang menduduki pelapisan bawah lebih memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah dalam negeri. Sedangkan mereka yang termasuk strata sosial menengah ke bawah. Sedangkan orang-orang yang berada dalam strata bawah terkadang suka berbicara yang tidak terlalu memperhatikan etika.menggunakan busana dan aksesoris lain. seperti sepatu.  Cara Berbicara. Cara berbicara orang-orang yang tergolong strata atas akan berbeda dengan orang-orang yang berada dalam strata bawah. lebih memilih menggunakan barangbarang produksi dalam negeri.  Pendidikan. . Sedangkan masyarakat yang tergolong strata menengah lebih memilih bentuk dan tipe rumah yang sederhana bahkan ada juga yang tinggal di rumah susun. Masyarakat kelas atas lebih menyukai tinggal di kawasan elite dan apartemen mewah yang dilengkapi dengan fasilitas modern.  Tempat Tinggal.

menonton orkestra. seperti bermain sepak bola. Adanya sistem berlapis-lapis di dalam masyarakat. lebih memilih hobi dan berekreasi yang tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya. serta menyalurkan hobi. Secara teoritis. Hobi dan rekreasi. bagi masyarakat yang tergolong strata bawah. angkatan bersenjata atau perkumpulan. perusahaan. balap mobil. maka kekuasaan dan wewenang yang ada padanya harus dibagibagi pula. tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu jutuan bersama. Menyalurkan hobi serta berekreasi merupakan hal-hal yang diperhatikan oleh masyarakat yang berada dalam pelapisan atas. Akan tetapi apabila masyarakat hidup dengan teratur. . seperti misalnya pemerintahan. partai politik. mereka lebih memilih berekreasi ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri. Sedangkan. dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. akan tetapi sesuai dengan kenyataan kehidupan dalam kelompok-kelompok sosial tidaklah demikian. dan berekreasi ke tempat yang dekat dengan tempat tinggal mereka. secara vertikal dan horizontal. Begitu pula berekreasi. Biasanya orang-orang yang berada dalam strata atas memilih olahraga yang ekslusif seperti golf. mengoleksi lukisan-lukisan mahal dan sebagainya. semua manusia dapat dianggap sederajat. sehingga jelas bagi setiap orang ditempat-tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang dalam organisasi. Sistem stratifikasi sosial yang dengan sengaja disusun biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasiorganisasi formal.main biola. seperti main piano.

Suatu masyarakat yang memiliki kekayaan cukup banyak dapat dikategorikan termasuk orang yang cukup terpandang oleh sekitarnya. Menurut Abdul (2004:43) tau-tau fungsinya semula bersifat religius dan berkaitan langsung dengan upacara kematian dari kaum bangsawan Toraja. tetapi menurut kepercayaan Aluk Todolo. Natsir (2005:47) Tau-tau menurut keyakinan Aluk Todolo. yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang disebut „Aluk Todolo’. dianggap penjelmaan roh dari orang yang meninggal atau menjadi tempat tinggal bagi roh arwah leluhur yang tela mati.Apabila kekuasaan dan wewenang itu tidak dibagi-bagi secara teratur. Dalam kehidupan upacara dan tradisi budaya Toraja Tau-tau tidak hanya sekedar salah satu perlengkapan pada upacara pemakaman. dolo berarti dulu) yang artinya agama leluhur adalah agama atau kepercayaan yang dianut oleh orang Toraja. Aluk Todolo (aluk berarti agama. maka kemungkinan membahayakan besar akan terjadi pertentangan-pertentangan keutuhan yang dapat masyarakat. Namun demikian. to berarti orang. kepemilikan tanah. menurut keyakinan Aluk Todolo. karena proses pembuatan itu sendiri harus diikuti oleh upacara kurban dan sesajen maka tidak semua . G. semua orang harus dibuatkan tau-tau. mobil pribadi serta terpadang dalam masyarakat dan sebagainya. Kepercayaan Aluk Todolo Orang toraja memiliki suatu kepercayaan asli. sesuai dengan kepercayaan Aluk Todolo. Ukuran kekayaan itu dapat dilihat dari kekuasaan. pegangan hidup. adalah bayangan dari orang mati dengan dasar itu.

aluk tananan (aturan tentang ladang. Aluk ma’lolo tau secara khusus menekankan tentang aluk dadinna ma’lolo tau (aturan tentang kelahiran). Aluk a’pa’ oto’na terdiri atas: aluk ma’ lolo tau (aturan tentang manusia). yang biasa disebut upacara rambu solo’. Penganut Aluk Todolo juga menyembah Deata yang menerima kuasa dari Puang Matua untuk memelihara dan menguasai segala isi bumi sehingga mereka menyembah sang pencipta. Karena itu. Selain deata. serta aluk matena ma’lolo tau (aturan tentang orang yang meninggal) yang mengatur pelaksanaan upacara pemakamaan. Datu Laukku‟. serta aluk bangunan banua (aturan tentang mendirikan rumah).penganut Aluk Todolo dapat mengikutinya. dan tanaman). si mati yang dibuatkan patung-patung di Tana Toraja hanyalah orang-orang yang berasal dari keturunan bangsawan murni ( Tana’ Bulaan). aluk tuona ma’lolo tau ( aturan tentang bagaimana manusia terhadap Puang Matua. Secara garis besar. Puang Matua juga memberikan kuasa kepada to membali puang untuk memperhatikan perilaku manusia dan keturunannya menurut AMA( 2006:24-26). Aluk Todolo terdiri atas dua elemen. kerbau dan lain-lain).babi. dan To Membali Puang). yaitu : aluk tallu oto’na ( tiga falsafah kepercayaan) dan aluk a’pa’ oto’na (empat falsafah adat). susunan) kepada manusia yang pertama. aluk patuan (aturan tentang hewan seperti ayam. Deata. Aluk tallu oto’na meliputi pemujaan terhadap Puang Matua sebagai sang pencipta yang konon memberikan Sukaran Aluk (sukaran:aturan. yang berisi ketentuan bahwa manusia dan isi bumi harus menyembah Puang Matua. sawah. .

Latar belakang pemujaan kepada roh leluhur yang dideskripsikan dalam rupa tau wujud tau-tau di Toraja ini dapat dibangdingkan dengan latar belakang terjadinya pemujaan arwah nenek moyang di tanah Batak. Roh orang mati dianggap mempunyai kuasa. tetapi juga dapat berbahaya. Mengharapkan berkat dan menolak kutuk. Ketakutan kepada roh orang mati. Putusnya suatu generasi bukan saja sebab tidak mempunyai keturunan (anak) tetapi juga sebab tidak dengan nenek moyang. Selanjutya. maka roh tersebut perlu dibujuk melalui pemujaan. Oleh sebab itu. Hal ini tidak boleh putus. dapat melindungi. Roh nenek moyang yang dianggap sakit. yaitu langit. arwa dapat keluar dari puya menuju asal nenek moyang manusia. Penganut Aluk Todolo meyakini bahwa langit merupakan tempat kediaman Puang Matua dan Deata . kaya dan berani dipuja dan memelihara hubungan . c. Adanya kesinambungan generasi. Titik sentral kepercayaan agama purba di tanah Batak adalah pengutusan orang mati. Mereka percaya bahwa puya merupakan tempat sementara bagi arwah orang-orang yang telah meninggal. Untuk mengembalikannya. seperti yang diungkapkan oleh Situmorang (1980:22) dalam edisi berita oikumene terbitan bulan Oktober yang berdasar pada: a. Orang dapat sakit jika roh orang itu keluar dari dalam tubuhnya.Para penganut Aluk Todolo juga percaya adanya kehidupan setelah kematian. roh leluhur harus senantiasa dibujuk. b. Yang menonjol dalam pemujaan nenek moyang adalah pengharapan akan berkat.

Seperangkat aktivitas-aktivitas yang sedikit banyak bersifat keharusan. Aluk todolo sebagai suatu agama atau kepercayaan berdasar kelima pokok atau dasar-dasar seperti yang dikemukakan oleh T.Ihromi (1981:52) yakni: 1. 5. suatu konektivitas yang meliputi mereka yang memilki bersama ciri-ciri religi di atas. 3. Suatu sistem dari lambang-lambang. dan mungkin juga hanya dimaksudkan berlaku untuk lapisa-lapisan sosial tertentu. benda-benda. dilarang untuk waktu-waktu yang lain. yang dalam rangka religi itu dianggap sebagai kegiatan yang penting dan bersifat mutlak. 4.dihormati supaya ia memberikann berkat. diberi sifat suci dan supernatural dan hidup manusia tergantung pada satuansatuan yang bersifat supernatural. keberhasilan dalam hidup dan dalam pencarian nafkah. Suatu perasaan bahwa hubungan manusia dengan dunia supernatural. perbuatan-perbuatan orang yang bersifat empiris bukan empiris yang mempunyai unsur kesucian. 2. Suatu keseluruhan yang sampai derajat tertentu mewujudkan yang sampai derajat tertentu mewujudkan kesatuan yang integratif terdiri dari kepercayaankepercayaan yang mengenai kesatuan-kesatuan yang dipisahkan dari bendabenda biasa atau kejadian-kejadian biasa yang mempunyai kegunaan praktis.O. dan dalam hubungan dengan hal-hal ini manusia mewujudkan keadaan emosional yang bersifat relevan untuk suasana religi. Kegiatan-kegiatan itu pada umumnya diharuskan untuk peristiwa – peristiwa tertentu. dalam acara yang tertentu terikat erat dengan nilai-nilai moral yang dia junjung . Adanya komunitas orang kepercayaan.

Percaya dan menyembah kepada deata-deata sang pemelihara ciptaan Puang Matua. dengan aturan-aturan mengenai kelakuannya. Percaya dan menyembah kepada Puang Matua sebagai oknum sang pencipta semesta alam. Kebudayaan Toraja mengenai Aluk Todolo. Asas ini terdiri dari tujuh asas atau prinsip. Menurut Tangdilintin (1975:4) Aluk Tallu O to’na. tetapi dalam dan pengawas serta pemberi berkat kepada manusia . dengan sifat dari tujuan hidupnya yang dia percayai yang dituntut dari padanya. 3. yang dulunya dikenal dengan ajaran hidup dan kehidupan Aluk Pitung Sa’bu Pitu Ratu’ Pitung Pulo Pitu atau Aluk Sanda Pitunna sebagai ajaran yang berasaskan 7 (tujuh) asas hidup dan kehidupan. yang diharapkan akan diindahkan. Menurut ajaran Aluk Todolo ketiga oknum tersebut diatas merupakan satu kesatuan tiga oknum tetapi tidak sama kedudukannya serta tidak sama tingkatannya. demikian pula kurban dan sesajian persembahan ada perbedaan serta tempat mengadakan upacara persembahan dan kurban persembahan. Percaya dan menuja kepada Tomembali Puang atau Todolo sebagai oknum sang pemelihara turunannya. yaitu : asas menyembah dan memuja serta percaya kepada tiga oknum dan tata kehidupan empat asas. makanya manusia dalam menyembah tingkat yang berbeda-beda. 2. yaitu agama atau keyakinan yang berdasarkan 3 oknum yang dipuja dan disembah dan dikatakan sebagai kesatuan oknum yaitu: 1.tinggi.

Tindakan sosial yang akan dimaksud disini adalah Tau-tau.keyakinan Aluk Todolo dan asas Aluk Tallu Oto’na. Ada’ Matena Ma’lolo Tau yaitu adat mati dari pada manusia. Apabila kita menaruh . Ada’ Tuona Ma’lolo Tau. Ada’ Manombana Ma’lolo Tau yaitu adat memujanya dan percaya dari pada manusia kepada Tuhannya. Tindakan Sosial dan Proses Pemaknaan. Ada’ Dadinna Ma’lolo Tau yaitu adat lahir dari manusia. 3. Max weber berpendapat bahwa tindakan sosial adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya sendiri dan diarahkan kepada tindakan orang lain George Ritzer (1985:44). H. adalah merupakan kesatuan dalam hubungan yang saling berkaitan dan saling mengisi setelah melalui proses dan cara yang sudah tertentu dalam upacara pemujaan dari persembahan menurut kedudukan masing-masing aknum tersebut. Keempat asas dalam proses kehidupan manusia menurut ajaran Aluk Todolo dikenal dengan falsafah kehidupan dalam Aluk Pitung Sa’bu Pitu Ratu Pitung Pulo Pitu dengan nama asas Ada‟ Ap’pa 0to’na atau Ada’ Patang Sullapa’. asas tata kehidupan yang berdasarkan atas adanya proses dalam kehidupan manusia dengan empat proses dalam asas Aluk Pitung Sa’bu Pitu Ratu’ Pitung Pulo Pitu karena manusia dalam menempati alam ini melalui 4 proses dan tingkat dalam hubunganya dengan sang pencipta dan ketiaga oknum yaitu: 1. 2. Menurut Tangdilinting (1975:6) Aluk A’pa Oto’na. 4. yaitu adat kehidupan dari pada manusia.

memperluas dan melestarikan kekuasaan. yaitu codes. nilai. seperti meraih. kutipan Sunyono Usman dari Ann Swider dalam Ikma (2007:16) tentang kebudayaan sebagai meaning-making (proses pemaknaan) menyatakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam melihat proses pemaknaan sehingga memproduksi tindakan sosial.perhatian yang lebih pada Tau-tau. dapat pula berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan politik. Sistem Sosial Memahami sistem sosial ialah proses belajar mengenali. norma. keyakinan. Telah dikemukakan bahwa simbol tau-tau dalam upacara rambu solo‟ ini tidak lagi dimaknai yang telah dirintis aluk todolo. Peran manusia di sini . Codes (kode) terkait dengan pesan dibalik tindakan yang mengandung atau berkaitan dengan simbol . keyakinan. Sejalan dengan pemikiran Malinowski. menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia. bahkan kelompok yang berperan didalamnya. norma. Berkaitan dengan tindakan sosial ini. I. reinterpertasi sosial budaya dan terhadap upacara melahirkan perubahan sosial yang ditujukan untuk memenuhi atau merumuskan kebutuhan-kebutuahan baru. dan kebiasaan dalam periode dan tempat yang berbeda tidak mampu menggerakkan tindakan sosial. yang dapat dihayati melalui interprestasi.nilai. kita menemukan beberapa individu. Pesan itu berupa bagian dari upaya memupuk solidaritas sosial. Contexts (suasana) adalah keadaan yang menciptakan derajat pengaruh kebudayaan terhadap tindakan sosial. contexts dan institutions. Simbol.

optimalisasi. tata nilai. Ketika kita mengamati suatu fenomena sosial. actor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti mempunyai kecendrungan untuk mengoptimalkan kepuasan yang hubungannya dengan situasi mereka didefinisikan dan dimediasi dalam sistem simbol bersama yang terstruktur secara cultural. sistem sosial harus terstuktur (tertata) sehingga dapat beroperasi dalam hubungan yang harmonis dengan sisten lain. kualitas dan kedudukan relasional di dalam dan antar sistem. transaksi dan negosiasi sejumlah sistem sosial pada konteks waktu dan tempat tertentu. kepuasan. bukan sebagai individu. Oleh karenanya. berusaha tetap langgeng.lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan. maka sebenarnya kita sedang mencerna realitas kehidupan yang membawakan kondisi sistem masyarakat tertentu yang sedang bekerja.Hal yang paling penting pada system social yang dibahasnya Parsons mengajukan persyaratan fungsional dari system social diantaranya: 1. . interaksi. (Parsons. fenomena sosial pada hakikatnya adalah proses dialog. Pada pembahasannya parson mendefinisikan system social sebagai berikut: sistem sosial terdiri dari sejumlah actor-aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik. Sistem ini mencirikan karakteristik sifat. ukuran. dan cultural. 1951:5-6)kunci masalah yang dibahas pada system social ini meliputi actor. lingkungan. dan seringkali berbenturan dengan sistem-sistem lainnya.

7. sistem sosial harus mampu mengendalikan prilaku yang berpotensi menggangu. dan system harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan juga dapat menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhannnya. 6. . sistem sosial harus mampu melahirkan partisipasi yang memadai dari para anggotanya. 3.2. 5. Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua sistem sosial. Pembahasan teori fungsionalisme structural Parson diawali dengan empat skema penting mengenai fungsi untuk semua sistem tindakan. empat fungsi tersebut wajib dimiliki oleh semua sistem agar tetap bertahan (survive). skema tersebut dikenal dengan sebutan skema AGIL. Sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu apa itu fungsi yang sedang dibicarakan disini. 4. sistem sosial harus mampu memenuhi kebutuhan aktornya dalam proporsi yang signifikan. meliputi adaptasi (A). pencapaian tujuan atau goal attainment (G). sistem sosial memerlukan bahasa. fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan sistem. dan Latensi (L). bila konflik akan menuimbulkan kekacauan maka harus bisa dikendalikan. integrasi (I). untuk menjaga kelangsungan hidupnya sistem sosial harus mendapatkan dukungan dari system lain. penjelasannya sebagai berikut: Adaptation : fungsi yang amat penting disini sistem harus dapat beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang gawat.

sebuah sistem harus memelihara dan memperbaiki motivasi pola-pola individu dan kultural . Sredangkan tingkat yang diatasnya berfungsi mengawasi dan mengendalikan tingkat yang ada dibawahnya. Latency :laten berarti sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola. . Parson memberikan jawaban atas masalah yang ada pada fungsionalisme structural dengan menjelaskan beberapa asumsi sebagai berikut. selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi (AGL). Fungsi integrasi di lakukan oleh sistem social. Bagaimana sistem kultural bekerja? Jawabannhya adalah dengan menyediakan actor seperangkat norma dan nilai yang memotivasi actor untuk bertindak. Pertama adaptasi dilaksanakan oleh organisme prilaku dengan cara melaksanakan fungsi adaptasi dengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal. pencapainan tujuan sangat penting. Integrastion : artinya sebuah sistem harus mampu mengatur dan menjaga antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sedangkan fungsi pencapaian tujuan atau Goal attainment difungsikan oleh system kepribadian dengan menetapkan tujuan sistem dan memolbilisasi sumber daya untuk mencapainya. dimana system harus bisa mendifinisikan dan mencapai tujuan utamanya. dan laten difungsikan sistem cultural. Tingkat integrasi terjadi dengan dua cara. pertama : masing-masing tingkat yang paling bawah menyediakan kebutuhan kondisi maupun kekuatan yang dibutuhkan untuk tingkat atas.Goal attainment .

Yang penting kepercayaan/keyakinan tersebut dianggap benar atau tepat oleh warga yang hidup didalam sistem sosial yang bersangkutan. sifat dasar bagian suatu system akan mempengaruhi begian-bagian lainnya. 5. Akan tetapi hal itu tidaklah begitu penting. alokasi dan integrasi merupakan ddua hal penting yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan sistem. 2. Kepercayaan adalah faktor yang . 3. mengendalikan lingkungan yang berbeda dan mengendalikan kecendrungan untuk merubah system dari dalam. artinya ia akan bergerak pada proses perubahan yang teratur. Mungkin juga terdapat anekaragam keyakinan umum yang dipeluk didalam suatu ”sistem sosial”. sistem bergerak statis. 4. Dalam kenyataannya kepercayaan/keyakinan itu tidak mesti benar. 7. Kepercayaan/keyakinan (penegetahuan) Setiap ”sistem sosial” mempunyai unsur-unsur kepercayaan/keyakiankeyakinan tertentu yang dipeluk dan ditaati oleh warganya. sistem mempunyai property keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. sistem akam memelihara batas-batas dengan lingkungannya. sistem cenderung bergerak kea rah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan. 6. sistem cenderung menuju kerah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagianbaguan dengan keseluruhan sostem. Unsur-unsur sosial itu sendiri adalah: 1.1.

yang bila sampai pada tingkatan tertentu harus diakui. Popularitas e. Perasaan adalah suatu keadaan kejiwaan manusia yang menyangkut keadaan sekelilingnya. Perasaan (sentimen) Faktor dasar yang lain dari sistem sosial adalah perasaan. baik yang bersifat alamia maupun sosial. Proses elemental yang secara langsung membentuk perasaan adalah interaksi perasaan. Tujuan atau Sasaran Tujuan atau sasaran dari suatu sistem sosial. 3. Kepercayaan merupakan pemahaman terhadap semua aspek alam semesta yang dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak. Pada dasarnya kebudayaan dilakukan melalui proses perubahan atau dengan jalan mempertahankan sesuatu. kebudayaan mempunyai fungsi sendiri dan tujuan. paling jelas dapat dilihat dari fungsi-fungsi itu sendiri. . Hasil interaksi itu lalu membangkitkan perasaan. Kepribadian 2. Perasaan sangat membantu menjelaskan polapola perilaku yang tidak bisa dijelaskan dengan cara lain. Penampilan atau penampakan atau keaktraktifan b. Misalnya. Kompetensi atau kewenangan c. Penguasaan terhadap materi d. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kepercayaan antara lain: a.mendasar yang mempengaruhi kesatuan sistim sosial.

Evaluasi dilakukan untuk melihat keberhasilan suatu sistem sosial. Ketertiban atau keteraturan merupakan unsur-unsur universal di dalam semua kebudayaan. dengan kata lain. Norma-norma menggambarkan tata tertib atau aturan-aturan permainan. Sebagai alat evaluasi Fungsi ketiga dari tujuan adalah untuk mengevaluasi suatu organisasi sosial. Norma Norma-norma sosial dapat dikatakan merupakan patokan tingkah laku yang diwajibkan atau dibenarkan di dalam situasi-situasi tertentu. norma memberikan petunjuk standard untuk bertingkah laku dan didalam menilai tingkah laku. apabila ada suatu hambatan tidak akan terlalu berlarut-larut atau akan dapat segera diatasi. c. Juga untuk mengantisipasi.Tujuan mempunyai beberapa fungsi antara lain: a. Sebagai motivasi Tujuan organisasi masyarakat harus dapat memotisi selurh anggota yang terlibat dalam suatu sistem sosial untuk ikut berperan serta atau berpartisipasi dalam seluruh kegiatan masyarakat. . Sebagai pedoman. b. terukur dan memperhatikan dimensi waktu. Norma atau kaidah merupakan pedoman untuk bersikap atau berperilaku pantas didalam sistem sosial. suatu tujuan harus jelas. realistis. Sebagai pedoman Tujuan berfungsi sebagai pedoman atau arah terhadap apa yang ingin dicapai oleh suatu sistem sosial. 4.

sedangkan non-otoritatif seperti pemaksaan dan kemampuan mempengaruhi orang lain tidaklah implisit dikarenakan posisi-posisi status.5. 7. 9. sedang peranan dapat dikatakan sebagai suatu bagian dari status yang terdiri dari sekumpulan norma-norma sosial. di dalamnya mesti terdapat berbagai macam kedudukan atau status. 8. Ada kemungkinan ditentukan orang-orang yang mempunyai pangkat kemiripan. Kekuasaan Kekuasaan dalam suatu sistem sosial seringkali dikelompokkan menjadi dua jenis utama. Pangkat tersebut tergantung pada posisi-posisi status dan hubungan-hubungan peranan. yaitu otoritatif dan non-otoritatif selalu bersandar pada posisi status. Akan tetapi tidak ada satu sistem sosial manapun yang sama orang-orangnya berpangkat sama untuk selama-lamanya. Tingkatan atau Pangkat Tingkatan atau pangkat sebagai unsur dari sistem sosial dpat dipandang sebagai kepangkatan sosial(sosial standing). Ganjaran dan hukum tersebut ditetapkan oleh masyarakat untuk menjaga tingkah laku mereka supaya sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Kedudukan –peranan Status dapat didefenisikan sebagai kedudukan didalam sistem sosial yang tidak tergantung pada para pelaku tersebut. Sarana . Sanksi Istilah sanksi digunakan oleh sosiolog untuk menyatakan sistem ganjaran atau tindakan (rewards) dan hukumm (punishment) yang berlaku pada suatu sistem sosial.Semua sistem sosial. 6.

sarana itu dapat dikatann semua cara atau jalan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan sistem itu sendiri.Secara halus. tetapi para sosiolog lebih memusatkan perhatianya pada masalah penggunaan sarana tersebut dipandang sebagai suatu proses yang erat hubungannya dengan sistem sosial. 10. Tekanan tegangan Dalam sistem sosial akan terdapat unsur-unsur tekanan-ketegangan dan hal itu mengakibatkan perpecahan. Bukan sifat dari sarana itu yang penting didalam sistem sosial. Dengan kata lain. . tidak ada satupun sistem sosial yang secara seratus persenn teratur atau terorganisasikan dengan sempurna.

Gambaran Umum Kelurahan Leatung Kelurahan Leatung merupakan salah satu kelurahan dari dua dusun yaitu dusun Leatung dengan dusun Lebani‟. Terdiri atas laki-laki 634 jiwa dan perempuan sebanyak 601 jiwa. dengan jumlah kepala keluarga 296.BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI A. a. terletak disebelah pusat Kecamatan.2 Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Buntao‟ Sebelah Timur berbatasan dengan Leatung Matallo Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa rantelabi‟ Sebelah Barat berbatasan dengan Lembang Salu Allo . Penduduk Penduduk juga merupakan potensi yang sangat besar dalam pembangunan suatu wilayah sebab adanya pembangunan tidak terlepas dari keterlibatan serta partisipasi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk lebih jelasx dapat dilihat pada table 4. Dari kedua dusun diatas sesuai dengan data jumlah penduduk tahun 2010 yang kami kumpulkan berjumlah sebanyak 1235 jiwa. dengan batas-batas sebagai berikut:     b. Batas-batas Kelurahan Kelurahan Leatung adalah salah satu dari 6 Kelurahan di kecamatan Sangalla‟ Utara.

c.2 sebagai berikut: . Tabel III.Dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pemeritah di Kelurahan Leatung maka Kelurahan ini dibagi kedalam 2 dusun yaitu dusun Leatung dengan Lebani‟. pekarangan . perkebunan masayarakat. Luas wilayah Kelurahan Leatung Luas wilayah Kelurahan Leatung secara keseluruhan adalah 16.6728 km2 luas tersebut meliputi persawahan. Jumlah penduduk Kelurahan Leatung tahun 2010 Nama Dusun L Leatung Lebani‟ Jumlah 442 192 634 Jenis Kelamin P 425 176 176 Jumlah Jiwa 867 368 1235 Sumber : data statistik Kantor Kelurahan Leatung tahun 2011 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa warga dusun Leatung lebih banyak dari dusun Lebani‟ yaitu leatung 867 sedangkan lebani‟ hanya 368. dan lain-lain yang dapat diperinci pada table 1.

Tabel III.728 Sumber: data statistic Kantor Kelurahan Leatung tahun 2011 d.645 23. Jumlah penduduk menurut usia Jumlah penduduk produktif di Kelurahan Leatung adalah sebanyak 854 jiwa yaitu 17 sampai 56 Tahun sedangkan jumlah non produktif adalah sebesar 381 jiwa.019 55.644 166.420 63.2 Luas wilayah Kelurahan Leatung (diperinci berdasarkan tanah) tahun 2010 Komposisi Tanah Sawah Perkebunan Pekarangan Rumah Lain-lain Jumlah Luas (ha) 24. .

5 Tahun 6 . mata pencaharian yang digeluti oleh sebagian besar masyarakat adalah petani.pegawai. tukang.7 Tahun 8 .sopir dan sebagainya seperti tampak pada table III.12 Bulan 1 .235 Jiwa Sumber:data statistik Kantor Kelurahan Leatung 2011 B. disamping itu sebagian bekerja sebagai pedangan . Semakin bagus mata pencaharian seseorang maka semakin tinggi pula statusnya dalam masyarakat.17 Tahun 18 – 56 Tahun >56 Tahun Jumlah 10 40 38 144 298 104 634 4 35 33 134 278 117 601 14 75 71 278 576 221 1.4 .3 Jumlah penduduk Kelurahan Leatung (diperinci menurut Usia) No Umur L P Jumlah 1 2 3 4 5 6 0 .Tabel III. Mata Pencaharian Mata pencaharian merupakan sumber ekonomi atau sumber pendapatan penduduk yang dapat menentukan tingkat kemakmuran dan taraf hidup mereka. Mata pencaharian Penduduk Kelurahan leatung sangat bervariasi.

C. Umumnya Padi. Pendidikan merupakan syarat mutlak untuk mencapai suatu komunitas yang maju. sopir 13. Semakin banyak penduduk yang berpendidikan tinggi di suatu wilayah maka semakin tinggi pulalah kemajuan wilaya. Sistem Pendidikan Penduduk merupakan salah satu variable yang sangat menetukan tingkat kemajuan suatu wilayah.Tabel III. Dalam bidang pertanian dan perkebunan Kelurahan Leatung terdapat lahan sawah dan kebun yang cukup luas.4 diatas menggambarkan bahwa mayoritas Penduduk di Kelurahan Leatung adalah Petani. Kopi. Cacao dan sebagian kecil sayur mayur.4 Jumlah penduduk kelurahan leatung menurut mata pencaharian No 1 2 3 4 5 Mata pencaharian Petani Pegawai/ABRI Pedangang Tukang Sopir Jumlah 200 68 11 15 13 298 Jumlah KK Sumber:data statistik Kantor Kelurahan Leatung tahun2011 Tabel III. tukang 15. 68 pegawai. Karena dengan pendidikan yang . pedangang 11. sebanyak 200 orang dari jumlah penduduk. begitu pula sebaliknya semakin banyak penduduk yang berpendidikan renda maka tingkat kemajuan wilayah tersebut semakin lambat.

5.5: Potensi Kelurahan Leatung dalam sektor pendidikan NO. Dengan mengacu pada program pemerintah mengenai wajib belajar 9 tahun maka dari data diatas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Kelurahan Leatung memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.tinggi maka ada harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada masa yang akan datang. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana adalah salah satu factor yang sangat penting bagi suatu Kelurahan di suatu wilayah. Tabel III. 1 2 3 4 5 6 7 Tingkat Pendidikan Buta Aksara Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat D2 Tamat S1 Tamat S2 Jumlah 181 279 235 200 37 109 11 Sumber: data statistik Kelurahan Leatung Tahun 2011 Berdasarkan tabel diatas adalah terlihat bahwa tingkat pendidkan yang dominan di Kelurahan Leatung adalah Tamat SD dan tingkat pendidikan yang paling kecil adalah S2. Untuk mendukung pembangunan yang sedang . D. Untuk melihat tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel III.

maka tersedianya sarana dan prasarana diberbagai bidang sangat dibutuhkan. 4. Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di Kelurahan Leatung adalah sebagai berikut: 1. dimana semua pemukiman dijangkau jalan yang terdiri atas: aspal.berjalan. 5. 2 buah mesin ketik. Sarana ibadah Terdapat 2 buah gereja Kristen Protestan dan 1 buah gereja Katolik. Kantor Kelurahan tersebut memiliki 1 buah komputer . . 2 buah posyandu. Sarana Air Bersih Kelurahan Leatung merupakan daerah yang kaya akan mata air yang berjumlah 18 unit sehinggah sebagian besar masyarakat Kelurahan Leatung mengkomsumsi air dari mata air yang jernih dan ada pula yang menggunakan sumur gali dan sumur pompa. Kondisi tersebut mendukung kelancaran aktivitas masyarakat Kelurahan Leatung. 2. Sarana keamanan Terdapat 4 buah pos ronda dan pada setiap RT memilki 2 orang Hansip. Sarana Transportasi Sarana perhubungan Kelurahan Leatung cukup memadai.pengerasan dan rintisan. 3. 8 buah meja. Sarana Pemerintah Kelurahan Leatung memiliki sebuah kantor Kelurahan sebagai tempat untuk menjalankan pemerintahan. Sarana kesehatan Terdapat 1 buah puskesmas. 23 kursi. 6.

Sarana penerangam Dari segi penerangan semua wilayah Kelurahan Leatung telah terjangkau penerangan PLN. Kelompok kekerabatan ditandai dengan adanya sentiment dan keakraban atara satu dengan yang lainnya. aspek –aspek yang dieksperikan ialah sistem kekerabatan dan sistem pelapisan sosial masyarakat (stratifikasi sosial). Sarana Olaraga Memilki 1buah lapangan sepak bola. dalam penulisan ini. 1 buah lapangan volly. dan suku Toraja sebanyak 1. 8. 3 orang suku luwu.750 orang. Sistem Kepercayaan Dari segi realigi masyarakat Kelurahan Leatung terdiri atas 1. Kekerabatan merupakan kesatuan sosial yang terbentuk atas pertalian darah atau perkawianan. 112 orang beragama Katolik . dan 4 buah meja pimpong. 4 orang suku Makassar.7. . sehingga dapat dikatakan bahwa aspek penerangan tidak menjadi kendala bagi masyarakat leatung. Masyarakat Kelurahan Leatung tergolong majemuk dengan 22 orang suku bugis.110 orang beragama Kristen . Sistem Kekerabatan Ada beberapa hal yang penting mendasar yang mencakup dalam aspekaspek sosial setiap masyarakat. 12 orang beragama islam dan 1 orang beragama hindu. 10 orang suku flores. F. E. 21 orang suku belau. Untuk itu.

Secara umum istilah kekerabatan biasanya diartikan sebagai kinsip group atau suatu kesatuan sosial yang berbentuk dengan didasari oleh pertalian darah dan perkawinan.Dalam perkawinan di Tana Toraja tidak akan terlihat adanya kurban persembahan atau sajian persembahan seperti pada upacara rambu solo‟.hal ini disebabkan karena perkawinan di Tana Toraja merupakan adat dengan adaya persetujuan dari kedua bela pihak yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan. Dalam masyarakat Toraja dikenal dengan istilah kasiuluran atau pa‟rapuan atau keluarga. dan Anakanak yang belum kawin. Perkawinan adat Toraja atau dalam bahasa Toraja disebut Rampanan Kapa’ sangat dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan hukum-hukum adat dimana ketentuan-ketentuan tersebut berpangkal pada susunan Tana‟ atau Kasta yang dianut oleh masyarakat Toraja. Sehingga perkawinan bagi kebanyakan orang Toraja adalah perkawinan antara rumpun keluarga yang sama sehingga membina dan mempererat hubungan kekeluargaan. Kesepakatan tersebut kemudian disahkan oleh pemerintah serta hukum-hukum yang berlaku apabila dalam perkawinan tersebut terjadi perceraian. Kelompok-kelompok kekerabatan ditandai dengan adanya kekerabatan antara satu dengan yang lainnya. Dalam garis keturunan yang dinyatakan tutu‟ diperhitungkan untuk menentukan kedudukan sepupu tiga kali dalam bahasa Toraja disebut sampu pentallun dan angkatan sebelumnya atau atasnya dinyatakan dengan istilah tomatuangku atau orang tua ego diperhitungkan untuk menentukan kedudukan . Dalam keluarga masyarakat Toraja istilah kekerabatan disebut dengan siulu‟ keluarga batih yaitu keluarga yang terdiri dari Ayah.Ibu.

sampu penna’pa atau sepupu empat kali dan seterusnya. Selain itu dalam garis keturunan nene’ atau nenek dikenal pola pelapisan kekerabatan adalah sebagai berikut toma’dadi untuk angkatan yang sederajat dengan Ibu dan Bapak, sile’to ntuk angakatan yang sederajad dengan ego atau bila ditempatkan pada urutan ketiga nenek, ana’dadian untuk angkatan yang sederajat ego, ampo untuk angkatan yang sederajat dengan anak dari ego. Dalam masyarakat Toraja ada juga kata sapaan seperti Puang, untuk kalangan bangsawan dan ambe‟, atau indo‟, dan sebagainya yang dipergunakan apabila menyapa terhadap yang tua, baik lebih tua maupun kepada yang lebih muda dalam usia perorangan disapa dengan ana‟. Sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Toraja adalah system bilateral yaitu masuk menjadi anggota kerabat yakni dari garis keturunan Ayah maupun Ibu. Di dalam kehidupan masyarakat individu menjadi kepala keluarga adalah Ayah. Ayah mempunyai tanggung jawab secara langsung untuk melidungi keluarga dan serta bertanggung jawab sepenuhnya untuk kebutuhan rumah tangga. Adapun peran ibu dalam rumah tangga dapat membantu peran ayah untuk mendukung segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga. Jika dikaitkan rumah tangga dengan anaka-anak, peran kaum ibu dalam rumah tangga merupakan aspek yang sangat penting dalam keluarga. Masyarakat memandang kedudukan laki-laki dan perempuan itu sama. Namun terdapat hal yang membedakan antara peran dan tanggung jawab suami dan istri yang berkaitan dengan rumah tangga. Seorang suami memiliki tanggung jawab terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kesejateraan , keamnan,

kebahagiaan, serta nafkah yang cukup untuk menjamin rukunnya suatu rumah tangga. Peran dan tanggung jawab seorang istri memperhatikan dan menjaga anak serta bertanggung jawab atas segala keperluan suami seperti memasak, mencuci dan sebagainya. Dalam hal yang berhubungan dengan garis keturunan, masyarakat Toraja melihat garis keturuna dari kedua bela pihak , baik Ayah maupun pihak, baik ayah maupun pihak ibu dengan prinsip bilateral. Dalam permasalahan pembagian warisan bahwa bila seorang anak yang banyak menyumbang korban persembahan bila seseorang dari orang tua mereka talah tiada, maka dialah yang paling banyak mendapatkan warisan, baik laki-laki maupun perempuan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Pada bagian ini, semua yang didapatkan selama dua bulan penelitian akan dibahas.Responden yang dijadikan sampel adalah masyarakat Kelurahan Leatung yang terdiri dari dua dusun Leatung dan Lebani‟. 1. Indentitas Informan Indentitas informan merupakan faktor yang sangat penting untuk diketahui dalam suatu penelitian, dari data informan ini diharapkan dapat memberikan suatu gambaran awal yang akan membantu masalah selanjutnya yang akan diuraikan untuk lebih mengenal informan dalam penelitian ini . 2. Usia Informan Untuk membahas masalah-masalah yang dikemukakan pada bab pendahuluan, perlu mengklasifikasi identitas responden sebagai pendukung dalam memberikan analisa terhadap masalah yang diteliti. Salah satu hal yang sangat penting dalam memberikan gambaran mengenai suatu pemaknaan tau-tau dalam upacara rambu solo‟. Dan dalam penelitian ini tidak menentukan batas usia Dalam penelitian ini jenis kelamin informan adalah laki-laki dengan memilih 8 orang masyarakat setempat sebagi informan. Adapun umur dari masing-masing responden yaitu ne‟ Mariak 75 tahun, ne‟ Etos 65 tahun, Yohanis panggalo 53 Tahun, Y.S Parante 63 tahun, Pak Arma 69 tahun, Sifa‟ datuan 56 tahun, S.S Datuan 56 tahun, Simon 48 Tahun.

4. Jika seseorang mempunyai pendapatan yang rendah. Dalam penelitian ini pendidikan masing-masing responden berlainan. pekerjaan secara sosiologis bisa menandakan status sosial seseorang. karena pendidikan cukup besar pengaruhnya pada proses pembauran baik terhadap lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan tempat kerja. yang berusaha memperoleh pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Tentunya setiap orang menginginkan pekerjaan yang baik. Sebagaimana pendidikan. seperti mencari lokasi atau tempat yang menguntungkan. maka orang tersebut cenderung mencari cara untuk meningkatkan pendapatan.3. apabila bagi mereka yang telah berkeluarga atau berumah tangga. hal ini dapat dicapai bila potensi dan latar belakang individu mendukungnya. Hal ini sangat penting untuk menunjang perbaikan nasib seseorang. . Pekerjaan Pekerjaan merupakan suatu faktor yang sangat menentukan bagi seseorang untuk kelangsungan hidupnya. dalam artian bahwa pekerjaan tersebut tidak berat dan mempunyai penghasilan yang memuaskan. Pendidikan Tingkat pendidikan informan juga merupakan faktor yang sangat penting untuk diketahui dalam penelitian. Demikian pula dengan masyarakat Kelurahan leatung.

Sebelum agama Kristen masuk wilayah Tanah Toraja. Namun demikian tidak semua lapisan bangsawan yang membuat symbol tau-tau dapat membuat tau-tau yang sama(berdasarkan jenis kayu). peneliti melengkapi keterangan dari informan dengan beberapa acuan sejarah dan hasil penelitian. dan Tomembali Puang atau Todolo ( sang pengawas yang memperhatikan perilaku manusia dan pemberi berkat kepada keturunannya di bumi) Tangdilintin(1981:79). Deata ( sang pemelihara semua ciptaan Puang Matua). Bedasarakan jenis kayu. Patung permanen diperuntukkan bagi golongan bangsawan (puang) yang dirapa’i (upacara kematian yang besar. orang toraja pada umumnya menganut kepercayaan yang disebut Aluk Todolo. Para penganutnya harus mematuhi aturan-aturan kehidupan berdasarkan Aluk Todolo untuk menghindari hukuman dari ketiga pribadi yang dipuja. yaitu Puang Matua (sang pencipta segala isi bumi). Salah satu aturan yang harus dipatuhi manusia (penganut Aluk Todolo) adalah kewajiban untuk membuat Tau-tau bagi orang Tua mereka yang diupacarakan dalam konteks ini adalah kalangan bangsawan. Makna Simbolik dari Tau-Tau Masa Dulu Menurut Aluk Todolo Penelitian ini mencoba mengungkapkan makna yang lebih mendalam tentang makna simbolik Tau-tau . Makna Simbolik Tau-Tau Sebagai Salah Satu Komponen Dalam Upacara Rambu Solo’ 1. Tau-tau dibedakan atas dua jenis. biasanya mengorbankan 24 ekor kerbau sebagai syarat upacara tetapi biasanya lebih dari itu sesuai dari kemampuan) pada . yaitu Tau-tau nangka ( tau-tau permanen. dari kayu nangka) dan Tau-tau lampa ( bambu).B.

ritual ma‟ pesung (pengorbanan hewan dan pemberian sajian kepada leluhur yang didewakan) sudah mulai dilakukan. Hal ini dapat dibangdingkan dengan yang terjadi ditanah Batak. Hal ini terus berlangsung sampai tau-tau itu selesai dibuat. lembut maka muka tau-tanya kelihatan senyum. merupakan pemuka/ pemimpin masyarakat. bagi mereka hanya dapat dibuatkan tau-tau lampa. Karena dulunya tau-tau tidak terlalu mirip dengan mukanya tapi sesuai dengan karakternya. baik. Mulai dari proses penebang kayu dipahat menjadi tau-tau . Adapun posisi atau gaya tau-tau yaitu berdiri tegak. dan bagi golongan yang hidupnya berarti bagi masyarakat. yaitu bahwa yang pantas atau layak dibuatkan patungnya adalah bapa-bapa leluhur yang dianggap mempunyai kuasa atau pengaruh yang istimewa. Untuk membuat Tau-tau dibutuhkan seseorang pemahat yang khusus yang disebut “topande” dan harus melakukan berbagai prosesi ritual. Sebelum dibuatkan tau-tau salah satu sanak keluarga yang mau dibuatkan tau-tau menceritakan karakter simati kepada Topande misalnya pada masa hidupnya orangnya keras maka muka tau-taunya kakuh dan sebaliknya jika masa hidupnya orang sabar. bedasarkan kemulian mereka dibumi. kuat sehingga dapat menjadi pelindung dan pembela rakyat. Adapun lapisan bangsawan yang tidak mampu atau tidak mampu atau tidak dapat memenuhi ketentuan-ketentuan Aluk Todolo seperti yang telah disebutkan di atas. seperti meminta sesuatu. berdasarkan harta kekayaan mereka dan kedudukan mereka dalam silsilah marga Lothar(1996:168). telapak tangan kanan berdiri.upacara penguburannya. bagi golongan bangsawan yang telah berjasa besar bagi masyarakat kaya. Posisi ini disebut dirinding pala’ dikulambu taruno yang .

Minuman. Hal itu dimaksudkan agar ia kemasukan roh dari jelasah dan mendapat ilham dari jenazah tersebut dan dengan demikian rupa atau roman muka dari tau-tau yang dibuatnya itu mirip atau menyerupai roman muka dari orang yang meninggal itu” (wawancara 20 februari 2011). “massa‟bu tau-tau” yang dilengkapi dengan sajian kurban babi. roh simati sudah masuk dalam tau-tau tersebut sehingga diperlakukan demikian. Tau-tau yang memilki simbol yakni penggunaan seppa tallu buku ( celana yang hanya sampai dibagian lutut) dan dodo ( sarung yang diselempangkan pada tau-tau yang umumya . kita dapat mengetahui status sosial dari sipunya tau-tau. Para penganut Aluk Todolo mempunyai kepercayaan bahwa tau-tau yang sudah dilantik tersebut. Menurut ne‟ mariak (75 tahun) “selama dalam proses pembuatan tau-tau. sirih. dengan maksud untuk memberikan simbol tersebut menggambarkan diri simati bahwa dia dari strata sosial yang tinggi (bangsawan). Pada saat tau-tau itu selesai dibuat.mempunyai makna bahwa roh leluhur akan senantiasa menjaga keselamatan seluruh anak cucu dan masyarakat dengan memberikan persembahan berupa kurban pada saat upacara berlangsung. Menurut Topande dari buntao‟ bahwa sebuah tau-tau dapat dibuat maksimal 23 hari untuk tau-tau Todolo. tautau itu dilantik lebih dulu dengan satu upacara disebut. Ia diperlakukan sebagaimana orang yang masih hidup seperti: diberi nasi (makanan). dan dikenakan pakaian adat dan berbagai perhiasan pusaka. Topande harus tidur didekat atau dibawah kolong rumah tempat jenazah disemayamkan. Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan tau-tau ini. kemudian dipakaikan dengan pakaian adat dan dihiasi dengan pershiasan pusaka seperti manusia. Tau-tau yang telah dilantik tersebut diletakkan didekat jenazah.

Usungan ini berguna untuk mengangkat tau-tau tersebut pada saat acara ma‟pasonglo‟. tetapi tidak mempunyai batang). lalu tau-tau tersebut didirikan atau didudukkan diatas usungan tersebut. Menurut ne‟ etos (65 tahun): “Ma’pasonglo’ merupakan acara mengarak tau-tau tersebut bersama dengan orang yang meninggal yang dibuatkan tau-tau mengelilingi kampung dengan diikuti keluarga yang berjalan dibelakang orang yang mengusung peti mati serta tau-tau” (wawancara 28 februari 2011). dan membawa semacam tas tempat sirih yang disebut sepu’. kurban yang akan dipersembahkan dalam upacara rambu‟ solo‟ tersebut seperti kerbau turut juga diara-arak yang sudah pula dihiasi . jenazah bersama ta-taunya diturunkan kelumbung padi (mengkalao alang). sedangkan bagian bawahnya memakai sarung. Sedangkan tau-tau wanita mengenakan baju pokko’ ( baju yang pada lenganya hanya sampai pada siku dan sempit). tau-tau laki-laki memakai baju dari pasangan seppa tallu buku. ikat kepala( pa‟tali). maka tau-tau ini dibuatkan usungan. Sesuai dengan adat pada upacara rambu solo‟ yang akan dilaksanakan. Mereka berjalan dibawah bentangan kain merah yang diikat pada usungan petih jenazah yang dibentangkan diatas kepala mengikuti arakan-arakan para pembawa usungan peti yang disebut “saringan” ( terbuat dari bambu yang menyerupai rumah adat toraja tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih ringan sehingga bisa untuk diangkat). Setelah mengkalao alang tau-tau diletakkan didepan lumbung. Pakaian yang dikenakan tau-tau menyerupai pakaian masyarakat Toraja pada upacara rambu solo‟ berlangsung. dan salempang dari sarung. memakai tutup kepala dari sarong ( terbuat dari bambu menyerupai paying.berwarna putih) adalah seorang bangsawan. Setelah tiba saatnya pelaksanaan upacara pemakaman.

tau-tau diletakkan berdiri didepan atau disamping liang agar mudah dilihat dari luar. Dan yang menarik dari pekuburan batu adalah semakin tinggi pekuburan batu (liang si mati) menunjukkan kedudukan atau status seseorang yang dikuburkan dalam liang tersebut sangat tinggi pula ( bangsawan) dalam masyarakat dan juga ada makna lain dari itu bahwa penempatan tau-tau pada tebing yang tinggi mempunyai makna simbolik yakni sebagai tanda atau wujud bahwa roh leluhur selalu menjaga dan mengawasi masyarakat dari segala malapetaka. Penggatian pakaian tau-tau ini dilakukan sebelum ada jenasah baru dari rumpun keluarga yang dikuburkan. . Dan pada saat jenazah dimasukkan atau dikuburkan kedalam kuburan batu (liang). maka orang yang meninggal tersebut akan diusung ramai-ramai menuju tempat penguburan( diliang-liang batu) bersama dengan tau-tau yang juga diusung ketempat penguburan. Setiap beberapa tahun pakaian diganti oleh kaum keluarganya dengan disertai upacara persembahan. Setelah pesta ini berlangsung selama beberapa hari sesuai adat yang berlaku dan berbagai prosesi upacara yang dilaksanakan didalamnya. Setelah orang yang meninggal tersebut diletakkan ditempat yang telah disediakan seperti liang segi empat yang dipahat pada didnding batu.berbagai hiasan (benda Pusaka Aluk Todolo). kemudian tau-tau tersebut juga diletakkan pada dinding-dinding batu yang dipahat memanjang membentuk pesegi panjang. Setelah acara arak-rakan selesai. maka orang mati tersebut kembali ketempat semula atau tongkonan tempat dimana upacara tersebut akan dilaksanakan atau dimulai.

Karena kepercayaan Aluk Todolo yang menyakini bahwa: mati adalah suatu proses perubahan status dari manusia yang hidup kepada manusia roh dialam gaib yang disebut To Membali Puang setelah melalui upacara peresmian atau pelantikan roh (massa’bu) menjadi dewa dalam upacara pemakaman. sesungguhnya diltarbelakangi oleh faktor. Fungsi dan makna tau-tau dalam upacara rambu solo‟ menurut kepercayaan aluk todolo bahwa dewa yang mereka sembah dan diratapi oleh keluarga dan masyarakat. Selain itu juga karena adanya kepercayaan bahwa Tau-tau dianggap perwujud bagian dari orang yang sudah meninggal. prestise.Tau-tau merupakan perlengkapan yang sangat penting pada upacara pemakaman. dengan demikian orang yang sudah meninggal tersebut tetap ada dan menjaga kita dari atas sana (alam baka). Menurut Yohanis panggalo (53 tahun): “ dewa dapat tinggal dalam tau-tau itu sehingga tau-tau tersebut menjadi pusat kekuatan. kepercayaan. kesaktian dan daya gaib dan tau-tau itu seolaholah menjadi manifestasi (penjelmaan) dari dewa itu sendiri. dan ekonomi. Adapun tujuan pembuatan tau-tau yaitu untuk digunakan sebagai tanda atau simbol dalam upacara rambu solo‟ bagi orang lain bahwa yang meninggal tersebut adalah kalangan bangsawan dan sebagai simbol penting dalam upacara Rambu Solo‟ tinggkat rapasan atau dirapai’i. Serta mempermudah proses penyembahan bagi leluhur”( wawancara 21 februari 2011). Pembuatan tau-tau ini dilatarbelakangi oleh kehidupan sosial budaya yang erat hubungannya dengan penonjolan status sosial atau strata kebangsawanan dari orang yang terpandang. .

yaitu dengan melengkapkan segala keperluan yang akan digunakan oleh roh di alam gaib yang disebut Puya (tempat bersemayam roh menurut keyakinan Aluk Todolo).2.Latar belakang dari penyembahan tersebut adalah berdasar pada keyakinan dalam Aluk Todolo. Menurut ajaran Aluk Todolo yang sesuai dengan sukaran aluk (sukaran = ketentuan.penyembahan atau pemujaan atau keprcayaan. Salah satu dari tiga oknum yang dipuja dan disembah dalam Aluk Todolo ini ialah oknum ketiga yaitu.ukuran. Roh/jiwa dari orang yang meninggal akan berubah menjadi dewa (Tomembali Puang) setelah melalui upacara penyembahan/pemujaan. . Makna religius Makna yang dimaksudkan dalam hal ini adalah makna yang berhubungan dengan agama . c. manusia harus percaya dan memuja serta menyembah kepada tiga oknum Tandilintin (1981:79). Tomembali puang/Todolo sebagai sang pengawas memperhatikan garakgerik serta member berkat kepada manusia (keturunanya). Deata-deata yang banyak jumlahnya itu sebagai sang pemelihara seluruh ciptaan Puang Matua. Berdasarkan Aluk Todolo ini. b. yaitu: a. seseorang yang mati harus dirawat atu diperlakukan betul-betul seperti dan memelihara orang yang masih hidup. Puang Matua sebagai sang pencipta segala isi bumi ini. aluk = aturan ). Tomembali Puang/ Todolo. bahwa antara yang hidup dan yang mati masih terdapat hubungan persekutuan yang erat. susunan.

rusa dan lain-lain) pada pemakaman orang mati menurut Aluk Todolo di Tana Toraja. dan harus dipuja serta disembah. karena menurut keyakinan aluk todolo bahwa arwah yang datang ke puya dengan tidak membawa bekal dari dunia tidak dapat diterima secara wajar di puya. kurban yang ada disesuaikann dengan kedudukan kastanya serta peranan dalam masyarakat Tangdilintin (1981:122). Sebagai suatu hal yang menentukan martabat dari keturunanya didalam masyarakat seterusnya.babi. Aluk todolo mengajarkan bahwa arwa nenek moyang selalu menyertai dan menjaga anak cucunya dan dapat memberi berkat bagi mereka. Tau-tau sebagai simbol kehadiran dewa/arwah leluhur dalam suatu upacara raambu solo‟ di toraja menurut Aluk Todolo harus mendapat perlakuan seperti manusia. tangdilintingg (1981:121): a. Akan menjadi bekal atau harta benda roh orang mati di alam baka/alam gaib. Akan menentukan kedudukan arwah yang dinamakan “to membali puang” (arwah yang telah menjadi dewa) dia alam baka/gaib. Karena itu. b. Disamping sebagai bekal kealam baka/gaib serta menjadi korba sosial. kuda. dan dalam pembagian warisan.Adapun tujuan dari pegadaan kurban harta benda (kerbau. c.adanya kurban harta benda pada upacara pemakaman adalah untuk memenuhi tuntutan adat hidup dan pergaulan hidup dari orang mati selama hidupnya. Tangan dari tau-tau berada pada posisi mangrande pala’ (menopang . Hal ini dideskripsikan melalui posisi kedua tangan tau-tau yang agak lain jika dibandingkan dengan posisi tangan orang yang masih hidup.

dalam arti bisa mengutuk atau memberkati (informasi dari J. Nenek moyang yang sudah menjadi dewa berarti sudah berdiri secara otonom menguasai keluarganya sendiri. Menurut ne‟ Mariak (75 tahun): . sedap dipandang mata karena bentuknya yang indah. tetapi juga mengandung unsur paksaan. mempunyai nilai seni yang tinggi atau artistik. yaitu memaksa leluhur memberi berkat bagi keturunannya. ma’ rinding taruno (melindungi jari). 3. Makna Estetika Dari Tau-tau Makna estetika adalah makna yang mengandung keindahan. nenek moyang akan member berkat bagi anak cucunya” (wawacara tanggal 4 maret 2011). Berkat dan kutuk sangat tergantung pada sikap keluarga terhadap nenek moyang yang sudah meninggal. Dengan demikian hubungan atara leluhur dengan keturunannya harus senantiasa terpelihara dengan baik. Jadi jelas bahwa pemujaan nenek moyang disebabkan oleh rasa takut. bersifat sosial budaya dan memaikan peranan penting pada upacara rambu solo’. rasa hormat dan cinta kasih.S Datuan (43 tahun): “artinya dari bentuk atau posisi tangan tau-tau ini adalah bahwa leluhur atau nenek moyang mengharapkan atu meminta kurban persembaha berupa harta benda (kerbau atau babi) dari anak cucunya sesuai dengan banyaknya harta atau kemampuan mereka.telapak tangan). Nilai seperti ini dapat juga kita jumpai pada pembuatan tau-tau di toraja. Akan tetapi roh leluhur ini dapat pula memberi kutukan bagi keturunanya jika tidak memenuhi persyaratan dari pemujaan. dan sebagai imbalannya.A Sarira budayawan Toraja). Patung yang adalah hasil karya pemahat yang bernilai seni yang tinggi dalam kebudayaan toraja. Menurut S.

Patung yang dipahat topande akan menghasilakan bentuk dan rupa patung yang indah. Dengan gencaranya program diversifikasi seni tradisi Toraja dan menguatnya posisi agama Kristen.Nilai seni yang terdapat atau dikandung oleh tau-tau ini jika dikembangkang dengan baik akan dapat menunjang pengembangan sector parawisata. Khusunya dengan terbukanya dan ditetapkannya Tana Toraja sebagai daerah parawisata menyebabkan penggalian kebudayaan yang lama. bentuk dan upacara untuk mengkukuhkan tau-tau bernilai sakral. seperti mengukir peti mati dan peralatanperalatan upacara rambu solo‟ lain. hiasan-hiasan. Karna itu replika tau-tau dengan berbagai gaya dan ukuran bermunculan yang dibuat oleh para perajin Toraja yang selama ini pada umumnya membuat cendramata ukir dan replica tongkonan dan berbagai ukiran motif toraja dalam aneka wadah. 4. gaya. maka tau-tau dianggap sebagai bagian dari nilai seni toraja yang harus dikembangkan tanpa tekukuh oleh material. Hal ini akan menimbulkan kekaguman bagi orang yang melihatnya. Makna Ekonomi Tau-tau Sebuah tau-tau dapat dinilai dengan 1 ekor kerbau tedong pudu‟ dengan harga sekitar 47 juta menurut Simon (48 tahun) . yang sangat mirip dengan rupa orang yang dibuatkan patungnya. dan lain-lain (wawancara 11 maret 2011)”. Dalam hal ini. kita dapat menggunakan pendekatan . mungkin kita berfikir bahwa sebagian orang toraja mungkin tidak menggunakan perhitungan rasio dalam menilai suatu tau-tau.“membuat tau-tau ini adalah salah satu bentuk dan cara mengungkapakan nilai seni pada upacara rambu solo‟ disamping bentuk dan cara lain. penggunaan pakaian adat Toraja. termasuk pengadaan tau-tau.

C. Kondisi seperti ini tentunya berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat toraja. kekayaan.Makna Stratifikasi Sosial dari Tau-tau dalam Kehidupan Sosial Struktur dan stratifikasi sosial yang berlaku di masyarakat Toraja biasanya berdasarkan garis keturunan. dan budak (kaunan). Status yang ditentukan oleh kelahiran. meski sebenarnya seseorang itu sukses secara finansial atau bahkan gagal beberapa orang . seperti keterangan dari informan Simon (48 tahun): “pelaksanaan upacar rambu solo‟ yang menggunakan tau-tau dalam upacara mereka memperkuat sistem ekonomi masyarakat. Sejumlah orang toraja bahkan menjadi pengrajin pahat untuk mencukupi kebutuhan hidup. ada tiga strata sosial pada masyarakat Toraja yakni.Falsafah orang toraja yang mengkonstruksikan value (nilai) dan price (harga) nampaknya masih berlaku hingga saat ini. Sebelumnya. usia. aristokrat (puang atau parengnge). Dalam hal ini pengrajin pahat akan kebanjiran pesanan dan akan memperoleh keuntungan yang relative besar. tau-tau merupakan sumber pendapatan bagi sebaian warga di tana toraja. Mereka dapat membuka dan menegmbangkan lapangan kerja melaui pengrajin pahat (wawancara 23 februari)”. Selain berfungsi sebagai salah satu pendapatan bagi warga. Dari aspek ekonomi. khususnya pada masa pra-kolonial. dan pekerjaan.ekonomi masa kini untuk memberi harga yang relative pantas untuk tau-tau yang sebelumnya telah dikontruksikan sedemikian rupa dalam falsafah toraja. orang biasa/awam (to buda. Namum menurut salah seorang informan ne‟ Mariak (75 tahun) tau-tau Aluk Todolo ada yang bernilai ratusan juta rupiah kerena dianggap mempunyai kekuatan gaib. tau-tau cenderung dihargai lebih tinggi menjelang banyaknya pelaksanaan (musim) beberapa upacara rambu solo‟ di Tana Toraja. to sama).

dan pesta syukuran. lapisan sosial golongan bangsawan menengah. Di setiap desa memiliki 4 sampai 8 orang toparengnge‟ Tobara’. lapisan sosial golongan hamba/budak. Tana’ Bulawsan . Kelas ini adalah pemimpin kampung. Tominaa. 1965). Tana’ Karurung . Mereka tidak menerima bayaran atas kewajiban mereka. . Kelompok ini berfungsi sebagai penasehat dan pemelihara keyakinan Aluk Todolo. Mereka juga termasuk orang yang rendah hati (modest) dan jujur (honest) (periksa juga Veen. Ambe’ Tondok dipilih oleh para pemimpin sosial informal. Tetapi ada umumnya dalam masyarakat suku toraja dikenal ada empat strata sosial yang disebut Tana‟. d. Kelompok ini adalah pemimpin adat dan agama. Tana’ Kua-kua. Tana’ Bassi .diperbolehkan menerobos rintangan sosial ini Ini tentu saja berbeda dengan sistem dan struktur sosial pada masyarakat modern saat ini. Mereka pemimpin setiap upacara-upacara adat dan acara kematian. strata yang dimaksud antara lain : a. Mereka terdiri dari beberapa orang di suatu kampung. Ambe’ tondok. Fungsi mereka adalah memelihara kebiasaan (adat) dan tradisi lama keyakinan Aluk Todolo. Kelompok ini adalah asisten Toparengnge’. Seorang Ambe’ Tondok bisa juga dipilih sebagai kepala kampung. lapisan sosial golongan bangsawan tinggi. lapisan sosial golongan rakyat biasa/rakyat merdeka. c. b. Sementara secara fungsional. Biasanya mereka terdiri dari 2 orang atau bahkan lebih di setiap desa. klasifikasi kepemimpinan dalam masyarakat Toraja adalah sebagai berikut: Toparengnge‟.

beberapa kaum aristokrat masih menerapkan sistem seperti ini. meski dalam tingkat yang wajar dan tidak seketat dahulu. di negeri ini. Bahkan sampai kini otoritas tradisonal ini coba dipertahankan dengan berbagai cara. dan bahkan pengembalian fungsi lembang seperti sebelumnya. Wertheim. Misalnya dengan berafiliasi kepada organisasi sosial tertentu. Hingga kini sistem sosial yang berkembang di Tana Toraja masih berlaku. 1956:132-52).Tobulodia’pa. mempertegas kembali fungsi-fungsi adat. Riset Eric Crystal (1970. adat (Customary Law) yang berlaku dalam masyarakat (Wertheim. tetapi pada saat bersamaan mereka diwajibkan melaksanakan praktek ajaran Aluk Todolo dan menaati perintah keempat kelas di atas. jika bukan dilarang. Adanya lapisan atau golongan yang terdapat dalam masyarakat suku toraja ini sangat berpengaruh pada pengadaan Tau-tau. Hal ini . jika bukan dilegalisasi oleh. dan Nooy-Palm (1986) menyimpulkan bahwa sistem sosial yang berkembang di Tana Toraja turut mempengaruhi tipe kepemimpinan dan otoritas tradisional di daerah ini. Volkman (1990). 1976:194. Kelas ini merupakan kelas terendah dalam masyarakat Toraja secara fungsional. sistem perbudakan muncul sebagai konsekuensi dari pembagian kelas-kelas sosial. Misalnya. 1994). Sistem perbudakan ini seringkali berakar dari. Lapisan yang paling rendah (golongan hamba) sama sekali tidak boleh membuat tau-tau atau sama sekali tidak boleh dibuatkan tau-taunya bila kelak meninggal nanti. Meski sistem perbudakan telah lama dihapuskan. Mereka tidak memiliki hak atau kekuasaan. dalam masyarakat Toraja khususnya.

Menurut Simon (48 tahun): “makna ini ingin menunjukkan identitas kebangsawanan si pemilik patung beserta kaum keluarganya (wawancara tanggal 23 februai 2011)” D. Jadi tidak semua orang mati dapat diangkat menjadi nenek moyang yang dipuja/disembah. berdasarkan kemuliaan mereka dibumi. mereka dianggap memiliki suatu kuasa pengaruh yang istimewa. Adanya peninggalan-peninggalan budaya. perilaku dan alamnya sangat mencerminkan sebuah masyarakat tradisional dengan kesungguhan menjaga dan melestarikan tradisi yang masih terpelihara sampai sekarang yakni tradisi penggunaan Tau-tau dalam upacara Rambu Solo‟ untuk orang yang sudah meninggal dan merupakan bangsawan.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makna tau-tau berdasarkan makna stratifikasi sosial ini tujuannya adalah untuk menunjukkan identitas keluarga yang dibuatkan simbol tau-tau sebagai keluarga yang berada atau kaya dan memilki kuasa. .disebabkan adanya pemahaman bahwa tidak semua leluhur yang dapat dipuja atau disembah. Itulah sebabnya dari empat strata sosial masyarakat yang ada dalam masyarakat suku toraja tersebut yang layak dibuatkan tau-tau adalah golongan bangsawan. berdasarkan harta kekayaan dan kedudukan mereka dalam masyarakat. pengaruh serta kedudukan dalam masyarakat. Leluhur yang dapat diangkat menjadi leluhur yang dapat dipuja dan disembah adalah bapa-bapa leluhur yang telah melindungi rakyat (urrinding tondok) dan membela rakyat. Makna Simbolik Tau-tau Dalam Kehidupan Sosial budaya Masyarakat Toraja adalah masyarakat yang senantiasa mempertahankan tradisi budaya secara turun temurun.

Demikian pula dengan menggunakan kayu nangka Sebagai bahan utama pembuatann tau-tau karena mempunyai getah berwarna putih yang diartikan sebagai darah dewa. Tau-tau laki-laki memilki ciri-ciri . Sesuai observasi ciri-ciri fisik seperti tau-tau yang ada di tana toraja khususnya disanggala‟ tepatnya di pekuburan saudara salah satu informan peneliti yaitu ne‟ Mariak dan juga ditempat salah satu objek parawisata di Suaya. Menurut wawancara yang dilakukan penulis kepada beberapa tokoh masyarakat bahwa pembuatan tau-tau berdasarkan bahannya menjadi dua yaitu tau-tau nangka dan tau-tau lampa.Tautau nangka dibuat khusus untuk kaum bangsawan tinggi (tana’ bulaan) sedangkan tau-tau lampa diperuntukkan bagi kalangan bangsawan menengah (tana’ bassi) nama upacaranyapun dibedakan yakni upacara pemakaman yang menggunakan tau-tau nangka disebut upacara pemakaman tingkat Rapasan sedangkan upacara yang menggunakan tau-tau lampa disebut Doya tedong atau tingkat dibatang.Dalam pembuatan tau-tau tidak terlepas dari makna yang mendasari serta kedudukan dalam sistem sosial budaya Toraja. Salah satu pekuburan yang di tempati almarhum Puang Sangalla‟ disemayamkam. Masyrakat toraja mempunyai kepercayaan bahwa darah dewa berwarna putih. Seperti masyarakat lainnya setiap tingkahlaku dan material budaya masyarakat Toraja selalu sarat akan pemakaman. yaitu ada posisinya berdiri dan ada posisinya duduk. karena kaum bangsawan tinggi adalah titisan dewa maka tau-tau perwujudannya harus dibuat dari bahan kayu nangka.

tau perempuan dilengkapi asesoris yang disebut Kandaure yang terbuat dari ayaman manik-manik berwarna. sama-sama membawa Sepu’ (semacam tas tempat sirih) sikap tangan yang sama yaitu tangan jiri terbuka dan tangan kanan terjulur seakan-akan memberi salam atau sebaliknya. Selain perbedaan ciri-ciri tersebut terdapat persamaan atara Tau-tau laki-laki dengan Tau-tau wanita. b. Untuk tau-tau wanita memiliki ciri-ciri seperti : a. dagu yang agak lebar. berbentuk seperti payung. b. celana yang hanya sampai bagian lutut disebut seppa tallu buku. sikap badan tegak berdiri. alis mata diberi warna hitam. c. Persamaan tersebut berupa mata yang terbuat dari tulang dan berwarna putih. pakaian tau-tau menyerupai pakaian masyarakat toraja pada umunnya (saat upacara rambu solo‟).warni yang hanya ad ditoraja tetapi juga di suku dayak (Kalimantan) dapat kita jumpai anyaman manik-manik yang bahannya sama tetapi tidak disebut Kandaure dan tidak berbentuk seperti Kandaure. baju pokko dan dodo). Menurut S. bagian bawah atau celana memakai sarung khusus yang hanya dijumpai ditoraja tenunan asli toraja (seppa tallu buku. dagu yang agak lonjong. memakai baju menyerupai jas. d. c. bentuk muka yang kaku dan mata yang melotot. dan biasanya bagi Tau. selempang berupa sarung dan umunya berwarna putih (simbol darah dewa). e. d. tutup kepala dari sarong atau passarong yang terbuat dari ayaman bambu. pakaian yang diapakai adalah baju pokko yang pada umumnya hanya lenganya hanya sampai pada siku dan sempit.S Datuan ( 43 tahun): Bahwa mata yang melotot pada Tau-tau mempunyai makna bahwa orang yang dibuatkan tau-tau tersebut semasa hidupnya selalu siap dan tegar .seperti : a. f. ikat kepala yang disebut pa‟ tali.

Dengan begitu sawah-sawah akan menghasilakan padi yang melimpah dan arwah leluhur akan memberikan kesuburan. E. Aluk adalah norma-norma yang mengatur kehidupan masyarakat dan merupakan peraturan yang tidak tertulis yang diwariskan dari generasi kegenerasi secara turun temurun tanpa ada perubahan berati. misalnya: . menurut ne‟ Mariak ( 75 tahun ) : “ pemaknaan dalam penempatan dan sikap Tau-tau mempunyai suatu nilai atau makna” (wawancara 11 maret 2011). maka aluk dilaksanakan dalam seluruh kehidupan itu dan alam sekitarnya menurut Kobong dkk (1992:6). Norma / Aturan-aturan Yang Berkaitan Dengan Tau-tau Masyarakat tana toraja didalam melaksanakan kegiataan yang berhubungan Ma‟ tau-tau senantiasa didasarkan pada aluk-ada’. Tau-tau merupakan salah satu simbol dari upacara Rambu Solo‟ di Tana Toraja tentunya mengandung nilai-nilai atau makna tersendiri. Aluk adalah keseluruhan aturan-aturan keagamaan dan kemasyarakatan. Penempatan Tau-tau pada tebing yang terpahat dan menghadap ketimur yang dibawahnya terhampar area persawahan yang dimaksudkan sebagai permintaan akan kesejateraan hidup masyarakat. Karena seluruh kehidupan itu selalu dikaitan dengan aluk. Adapun tau-tau dengan posisi duduk yang kebanyakan adalah kaum wanita yang mempunyai makna bahwa kaum wanita bertanggung jawab dalam mengatur urusan rumah tangga” (wawancara 2 maret 2011).menghadapi segala permasalahan hidup Tau-tau dengan posisi berdiri dan memengang tongkat mempunyai makna bahwa beliau merupakan pemengang kekuasaan dalam memimpin masyarakat dalam segi adat – istiadat.

Menurut Sipa‟ Datuan ( 56 tahun) : “bahwa dalam aluk orang toraja didukung oleh nilai-nilai inti . kepercayaan. Aluk bua‟ Orang toraja percaya bahwa Aluk sama dengan agama bahakan mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Aluk bagunan banua d. Aluk padang e. Aluk rambu tuka‟ f. upacara adat. Aluk Tanana pasa‟ h. Aluk parpe c. Itulah sebabnya aluk – aluk tersebut terkadang disebut aluk nenek karena ada kesan pelaksanaanya berhubungan lansung dan pemeliharaan oleh leluhur nenek moyang.a. Alukna mello tau b. jadi Aluk Todolo bagi orang Toraja merupakan keyakinan agama. yang mengandung larangan (pemali) dan pedoman berinteraksi dan bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. normanorma aturan yang berlaku dalam aluk siapapun yang mengubah aluk (lale-lale aluk) akan mendapat teguran dari dewa (deata) leluhurnya” ( wawancara 25 februari 2011). upacara agama. Yang melanggar tuntutan dan pemali aluk akann akan mendapat pembalasan dari dewa (nenek moyang) semacam karma. Aluk rambu‟ solo‟ g. Masyarakat Toraja percaya bahwa Aluk yang sudah turun temurun dari leluhur tidak boleh di ubah secara semena-mena oleh orang yang tidak mengerti tentang Aluk. jika aluk di ubah atau dipermaikan tidak sesuai dengan nilai dan norma yang terdapat dalam aluk akan mendatangkan mala petaka bagi yang mengubah .

S Parante (63 tahun): “Bahwa dalam aluk orang toraja didukung oleh nilai-nilai dan normanorma dalam masyarakat. siri’ siluang’ siri’ tongkonan dan siri’ tondok” wawancara 15 maret 2011). Aluk Mello Tau. Menurut Y. yang diperuntukkan bagi dunia mahluk manusia b. Hal ini berlaku dalam lingkungan masyarakat toraja. antara lain nilai inti yang terkandung dalam adalah siri’ rapu. Kebanyakan pola kehidupan orang toraja diatur dengan aluk sola pemali didalam hidup seseorang justru menyebabkan pala hidup orang itu cukup teratur. yang diperuntukkan bagi dunia hewan Hubungan sosial dikalangan warga masyarakat toraja dengan sendirinya diatur oleh norma yang telah disepakati dalam masyarakat. yang diperuntukkan bagi dunia hewan c. Aluk Tananan. Setiap masyarakat pada dasarnya memilki aturan atau norma yang berlaku dalam lingkungan masyarakatnya serta adat istidat yang harus ditaati oleh setiap warganya. Aluk Patuoan. Oleh sebab itu.aluk dan akan terus kegenerasi mereka „ke generasi ketiga. khususnya dalam melaksanakan ma‟tau-tau terlebih dulu memahami akan adanya aluk yang berlaku dan berkaitan dengan simbol tersebut. ketuju dan akan terus kegenerasi berikutnya jika dia tidak meminta maaf kepada dewa melalui ritual yang ditentukan dalam aluk‟ (osso‟ ma‟ pentallun ma‟pempitu sae lako ketae‟ na pemaseroi male ma‟pesung lako deata). Aluk dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui Aluk Tallu Lolona ( tiga pucuk) yaitu: a. Secara individu manusia itu pada dasarnya ingin menang sendiri serta ingin mengutamakan kepentingan pribadinya dengan mengabaikan kepentingan orang lain. untuk . pola kehidupan yang diatur dengan aluk sola pemali melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang diusung menjadi adat-istiadat dalam masyarakat.

baik itu upacara rambu‟ solo‟ maupun rambu‟ tuka‟ akan selalu didasari dengan aturan adat serta larangan yang ad dalam masyarakat”. maka dibuatlah norma atau aturan yang dapat mengatur hubungan-hubungan tersebut dalam masyarakat. . segala sesuatu yang dilakukan. tetapi banyak masyarakat tidak paham dengan aturan yang berlaku. adat serta larangan. kesemuanya itu didasari dengan norma atu aturan. Menurut peraturan adat orang Toraja yang boleh dibuatkan Tau-tau nangka adalah bangsawan tinggi yang telah berjasa besar bagi masyarakat.S Parante (63 tahun): “orang yang tidak mentaati aluk akan mendapat sanksi sesuai aturan yang beralaku dalam masyarakat serta orang yang membuat tau-tau yang bukan dari kalangan bangsawan akan cemohkan dan dipermalukan di masyarakat”(wawancara 27 februari). Menurut Rumengan (69 tahun): “ segala pekerjaan yang ada dibumi ini. Karena mereka menggangap dirinya adalah bangsawan dan berjasa bagi masyarakat tetapi kenyataan yang ada bila kita telusuri mereka hanya boleh dibuatkan tau-tau lampa. tidak sesuai dengan Aluk yang ada. Meskipun demikian masih ada masyakat yang melanggar peraturan yang ada misalnya pada pembuatan tau-tau ada orang yang membuatkan tau-tau dalam keluarganya yang tidak sesuai dengan norma yang ada yaitu membuatan patung tau-tau nangka buat leluhurnya karena mereka mau dinggap sebagai bangsawan tinggi dan mereka juga tidak mematuhi aturan dan makna yang terkandung didalamnya. Menurut Y. kaya.menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut. Dan ada pula masyarakat yang bukan dari kalangan bangsawan tetapi membuatkan tau-tau buat orang tua mereka karena mereka menggangap dirinya sudah mampu menurut ekonomi.merupakan pemuka/pemimpin masyarakat. kuat sehingga menjadi pelindung dan pembela bagi rakyat. Demikian halnya dalam kehidupan masyarakat toraja.

Dalam pembuatan tau-tau pada saat masyarakat Tana toraja masih menganut kepercayaan Aluk todolo sebelum masyarakat tana toraja mengenal Agama Kristen dan didalam pembuatan tau-tau terdapat norma yang harus ditaati yaitu sebagai berikut: a. dengan . Apabila semua upacara (memohon kepada Dewa agar pohon yang ditebang bagus hasilnya nanti bila dipakai) tersebut telah dilaksanakan. beras yang dimasak bukan sembarang beras pada acara Ma‟piong ini adalah beras Ba‟tan yakni semacam beras yang ukurannya kecilkecil. Pada acara ini diadakan pemotongan seekor ayam jantan yang disebut manuk sella’ (ayam jantan yang berwarna merah sedangkan kakinya berwarna putih)” (wawancara 27 februari 2011). Pohon yang akan ditebang ini adalah pohon nangka yang tela tua umurnya. terlebih dahulu diadakan upacara ritual dibawah pohon nangka tersebut. Selain itu. Menurut Y. didahului dengan penebangan pohon yangdalam bahasa toraja disebut Manglelleng. baik menggunakan kapak maupun menggunakan gergaji tau mesin dan dipotong sesuai kebutuhan. Pegolahan bahan Pada tahap pengolahan bahan ini. pada acara manglelleng diadakan juga acara Ma’piong dibawah pohon yang akan ditebang (ma‟ piong yaitu memasak nasi dalam bambu atau biasa disebut lemang). maka kayu nangka tesebut dapat ditebang. kemudian beras kedua ialah beras Kasalle yaitu beras yang sekamnya mempunyai bulu pada ujungnya.S Parante (63 tahun): “sebelum penebangan itu berlangsung.

terlalu . Pada bagian Ma‟kollong ini bagian pundak belakang dari tau-tau itu dibuatkan lobang sebagai tempat untuk menanamkan kepala atau Tau-tau. dalam proses pembuatan ini diadakan upacara ritual terlebih dahulu. Manglassak ini bahwa bahan yang telah disiapkan dipahat demi sedikit dengan mengikuti bentuk dasar yang telah dibuat sebelumnya. Pada bagian ini dikorbankan satu ekor babi sebelum pembuatan tersebut dilaksanakan kemudian beras di sokko‟ (beras ketan di masak dengan santai sampai kering). Dalam upacara ritual ini dikorbankan seekor babi. jari tangan dan bagian lengan dari tau-tau tersebut. Pada umumnya bagian ini tidak terlalu mendapat perhatian yang serius dalam penggarapannya karena pematung beranggapan bahwa ini akan ditutup oleh baju sehingga tidak mendapatkan penggarapan yang final. Proses pembuatan Pada tahap ini bahan yang sudah ada diolah kemudian dibentuk dengan cara dikurangi sedikit demi sedikit memakai parang atau menggunakan pahat. Tahap-tahap pembuatan dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut: Manglassak adalah merupakan pembuatan badan tau-tau beserta kakinya.b. Seperti pada upacara menglelleng. Pada tahap ini juga dapat dibuatkan bagian-bagian badan yang lain seperti tangan. Kemudian beras masih tetap dimasak seperti upacara Manglelleng namun pada upacara ini beras tersebut tidak lagi dipiong tetapi dimasa‟ yang disebut Sokko‟. Pada pembuatan ini bagian lengan. Pada tahap ini telahdisiapkan untuk dipahat. Ma’kollong merupakan pembuatan bagian pundak tau-tau atau penyatuan antara bagian pundak tau-tau dengan kepala dan leher tau-tau menjadi satu kesatuan.

serta pemberian rambut yang biasanya diambil dari serat ponda daa (daunnya sejenis nanas tapi berbuah). ponto lokki’ (gelang erbuat dari emas). Massa’bu merupakan kegiatan yang paling akhir dilaksanakan pada kegiatan membuat tau-tau. sarung yang disalempangkan kebadannya yang umumnya berwarna putih (kembali meningatkan bahwa warna putih adalah warna darah deata menurut kepercayaan aluk todolo) bahwa tidak semua orang dapat memakai sarung putih hanya dari kalangan strata sosial tinggi (bangsawan). Pada bagian ini tidak lagi dikorbankan baik ayam jantan maupun babi. Seperti pada acara sebelumnya bahwa pada acara ma‟kollong ini juga dikurbankan seekor babi sebagai korban. Untuk tau-tau laki-laki biasanya diberi aksesoris berupa Pa‟ tali (ikat kepala dari kain tenun). maka pada saat itu pula tau-tau tersebut diberi pakaian dan aksesoris sebagai pelengkap untuk tau-tau wanita biasanya dilengkapi dengan aksesoris berupa sarong (tebuat dari bambu seperti topi petani tetapi dengan ukuran yang berbeda agak melebar seperti payung). celana orang dulu (seppa tallu buku)semacam celana puntung. Namun tongkat hanya dipengang oleh Tau-tau apabila yang dibuatkan tau-tau . setelah pemahatan selesai maka tidak berarti bahwa tau-tau yang dibuat telah selesai. lalu rambut disanggul tegak (dilokkon te’dek). Pada saat tau-tau tersebut sudah didirikan dimana semua bagian badannya telah disatukan secara utuh . serta memakai tongkat. memakai jas. karena tau-tau ini masih harus diberi asesoris sesuai dengan jenis kelaminnya” (wawancara tanggal 20 februari)”. Menurut Ne‟ Mariak (75 tahun): “massa‟bu merupakan acara mendirikan atau membangunkan tau-tau tersebut dari posisi tidur ke posisi berdiri. kadang juga menngunakan manik (kalung) tanda kebangsawanan.tangan dan jari tangan dibuat menyambung.

alang sura‟ lumbung berukir dan Tau-tau tetap mereka pertahankan sebagai milik kelompoknya yang secara kasat mata membedakannya dengan kelompok masyarakat biasa lainnya. Karena itu simbol-simbol yang mengarah pada kebangsawanan seperti kepemilkikan harta benda.tersebut telah berumur tua. Kesemua tata upacara pembuatan tau-tau yang telah disebut diatas dilaksanakan apabila orang meninggal tersebut dari strata sosial yang tinggi yang masih menganut agama nenek moyang (aluk todolo). Hal ini terutama dilakukan oleh kaum bangsawan tinggi yang tidak ingin “kehilangan” identitas stratifikasi sosial sebagai simbol paling terhormat/bermartabat dalam masyarakat Toraja hingga saat ini. Akan tetapi apabila yang meninggal tersebut memeluk agama Kristen tidak lagi melakukan upacara tersebut. Makna Religi Dari Upacara Tau-Tau Masa Kini a. F. tidak terlepas dari adanya upaya pengukuhan dan penguatan status sosial yang ingin ditunjukkan oleh kaum bangsawan tinggi Toraja masa kini. Tau-Tau Kristen Menurut Ajaran Kristen Protestan (Gereja Toraja) Munculnya berbagai bentuk dan rupa Tau-tau masa kini bentuk sinkretisme yang merupakan penyesuaian . perpaduan antara nilai-nilai tradisi lama (aluk todolo) dengan tradisi baru. misalnya banua sura‟ tongkonan berukir. Apabila tau-tau tersebut diberi pakaian maka biasanya dikorbankan lagi satu ekor babi yang diberi nama bai ballong (seekor babi yang sempurna tanpa cacat). .

Demikian

pula

dengan

pelaksanaan

upcara

pemakaman

masih

dipertahankan sebagai bagian dari identitas kebangsawanan, meskipun hal ini bertentangan dengan keyakinan yang mayoritas kaum bangsawan anut saat sekarang ini yaitu agama Kristen, sebab ada tertulis dalam kitab suci agama Kristen KELUARAN 20: kesepuluh hukum taurat, hukum ke 2 “Jangan

membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di atas langit, atau ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya, sebab aku, TUHAN, ALLAHmu, adalah ALLAH yang cemburu, yang membalaskan kesalahan Bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci AKU”. Bahwa masyarakat Toraja mengetahui bahwa pembuatan tau-tau itu bertentangan dengan keyakinan yang mereka anut karena tau-tau berasal dari kepercayaan Aluk Todolo, tetapi disini peneliti mencoba melihat bahwa budaya mempengaruhi kepercayaan yang dianut masyarakat toraja sekarang ini meskipun C.Gertz melihat agama dan kepercayaan itu bagian yang utuh tak terpisahkan dari kebudayaan, nilai agamalah yang mempengaruhi semua nilai-nilai yang ada dalam kebudayaan. Hal ini berarti bahwa suatu sistem nilai dari kebudayaan terwujud sebagai sistem-sistem simbol suci dimana maknanya bersumber pada ajaranajaran agama yang menjadi kerangkah acuannya. Dalam keadaan demikian maka, secara langsung atau tidak langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata dipengaruhi, digerakkan, dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya dan

terwujud dalam kegiatan-kegiatan masyarakatnya sebagai tindakan yang diselimuti oleh sistem-sistem simbol. Tetapi itu pada keyakinan yang lama. Meskipun demikian peneliti juga melihat bahwa sudah banyak perubahan yang terjadi pada pembuatan Tau-tau tidak lagi melakukan penyembahan, dan tidak bernilai pada Aluk todolo yang melakukan pemujaan dan sesajen, sekarang ini masyrakat Kristen memaknai tau-tau sebagai patung atau gambaran dari orang yang dibuatkan patung dan akan selalu dikenang. b. Tau-tau masa kini Beragamnya bentuk tau-tau yang ada saat ini di Tana Toraja tidak terlepas dari bebasnya kaum bangsawan memaknai Tau-tau sebagai patung yang menggambarkan seseorang,. Karena itu pihak keluarga memesan Tau-tau sebagai potret diri anggota keluarganya dari seniman patung, baik, seniman lokal maupun seniman luar Tana Toraja. Dalam memaknai tau-tau sebagai patung yang tidak bermakna Aluk todolo, terdapat berbagai tingkatan tentang tau-tau dan patung potret dianut oleh kaum bangsawan Toraja. Menurut ne‟ Mariak (75 tahun): “Pedapat yang masih sederhana bahwa bila pembuatan tau-tau tersebut tidak lagi dibuat oleh Pande tau-tau dengan berbagai ritualnya, maka hal ini sudah dapat diterima dan tidak bertentangan dengan iman Kristen (wawancara tanggal 11 maret 2011)”. Pendapat yang lebih tingkat pemahamannya menurut S.S Datuan (43 tahun): “Bahwa mengenai simbol Tau-tau yang dipakai dalam suatu upacara Rambu solo‟ bagi lapisan masyarakat yang menyadang gelar sebagai bangsawan tinggi (Tana’ bulaan). Mengenai rupa dan bentuk Tau-tau adalah selain tidak dibuat oleh pande dengan berbagai upacara pemujaan, juga patung yang dibuat harus menyerupai wajah dan proposisi dari orang yang dibuatkan Tau-tau dan tetap bahannya dari Kayu nangka”( wawancara 2 maret 2011).

Dalam banyak peristiwa (kasus) terjadi penolakan terhadap Tau-tau yang dibuat pengrajin dipesan oleh seorang keluarga buat orang tuanya, dengan alasan ketidak miripan patung dengan wajah dari orang yang dibuatkan patung serta bahannya bukan dari kayu nangka dalam artian masyarakat tidak memaknai bahwa nangka yaitu deata dan getahnya adalah darah deata namun masyarakat sekarang ini memaknai kayu nangka sangat kuat dan tahan lama. Jika Tau-tau dibuat dari kayu yang tidak sekuat nangka maka akan mungkin tidak kuat dan tahan lama mungkin cuma tahan beberapa tahun dan akan lapuk sehingga keluarga yang akan bersiarah ke kuburan tidak menemukant Tau-tau dari keluarga mereka yang akan mereka kenang seumur hidup. Salah satu contohnya Tau-tau yang sangat realis (menyerupai orang yang dipatungkan), bahkan sangat proposional dengan perbandingan ukuran 1:1 dengan orang yang dipatungkan (sebagai syarat utama diterimahya Tau-tau ini oleh keluarganya) adalah patung kakak ne‟ Mariak salah satu informan peneliti. Hadirnya bentuk tau-tau dengan corak yang realis yang meskipun sudah tidak dibuat berdasarkan kepercayaan tahap-tahap Aluk Todolo ternyata tidak membuat masyarakat toraja khususnya warga sanggala‟ utara menganggap bahwa patung ini bukan benda Aluk Todolo. Hal ini karena disebabkan karena Tau-tau masih dikaitan dengan bahan bakunya terbuat dari kayu nangka meskipun mereka sudah memakna berbeda denga Aluk Todolo dan dipajang ditempat pemakaman meskipun gaya tangan mereka tidak seperti pada Tau-tau Aluk todolo, tetapi yang sangat menarik bahwa mimik muka dari Patung harus masih sesuai dengan

karakter yang dibuatkan patung dan masyrakat Sanggala‟ utara meyakini bahwa

benda aluk todolo ini sangat berarti bagi mereka bahwa sipapun (Tana‟ bulaan) yang membuatkan patung bagi lehurnya akan mendapt berkat. jika mereka yang tidak membuatkan patung bagi leluhurnya akan mendapa kutuk dari leluhurnya serta juga mereka masih mengganggap bahwa Tau-tau itu mempunyai sejarah dari nenek moayang mereka dan akan tetap dijaga kelestariannya.S tidak menggunakan . yang berbahan dari semen sedikit lebih “ekstrim” dan mengurangi pemakaian simbol-simbol Tau-tau bila dibangdingkan dengan Tau-tau milik kakak ne‟ Mariak ( Puang kapala ne‟Dampang) pada patung ayah T. menurut informan R.M seperti yang terjadi di salah satu wilayah Tana toraja ada seseorang bangsawan yang membuatkan Tau-tau bagi Ayahnya yang bernama T. meskipun tidak lagi melakukan pemujaan tetapi masih banyak nilai-nilai yang diadopsi dari Aluk Todolo dan itu tidak akan perna hilang dari masyarakat Toraja kerena sudah mendara daging dalam kehidupan mereka seperti Makna simbol Tau-tau dalam upacara rambu solo‟sangatlah penting untuk tetap terjaga secara turun temurun dan tidak akan perna pudar dan itu adalah benda pusaka (warisan) dari leluhur mereka. meskipun Penganut Aluk Todolo tidak ada lagi. Meskipun demikian Tau-tau tidak dinilai lagi secara Gaib dan tidak diperlakukan seperti pada Aluk Todolo (melakukan pemujaan) ini adalah salah satu aspresiasi dalam memaknai tau-tau masyarakat tana toraja sekarang ini. bahwa upaya kaum bangsawan Toraja untuk memberikan pemahaman kepada orang Toraja mengenai perbedaan nama tau-tau (benda Aluk To dolo-Sakral) dan bahan dari patung yang dipesan dari luar toraja.S. Tidak dapat disangkal bahwa.

Jika terjadi pelanggaran akan berakibat besar. serta nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarkat Toraja. Tau-tau dari semen itu menjadi buah bibir bagi masyarkat setempat bahwa keluarga T. celana.S adalah gelar yang didapat sejak bekerja sebagai anggota Polisi. hasil dari putusan musyawarah yang merupakan suatu keputusan yang tertinggi dan dinggap sakral. Kada misa ini menjadi prinsip yang teguh dan dipengang setiap melaksanakan aktifitas dalam masyarakat. Didalam lingkungan masyarakat toraja telah berlaku norma atau aturan yang telah dibuat masyarakat. dan mereka percaya Keluarga T. pin dan tanda pangkat turut dikenakan pada patung semen tersebut. Patung itupun disimpan ditempat pemakaman buatan yang dibangun menyerupai rumah yang dibuat menyerupai rumah yang disebut patane. “misa‟ kada di potuo pantan kada dipomate”. setelah upacara pemakaman selesai . Hasil keputusan bersama itu tersebut dalam istilah masyarakat setempat “kada misa” (kata sepakat). (baju.S lambat laun akan menerima teguran dari nenek moyang (kutuk)” wawancara ( 8 maret 2011).pakaian. ikat kepala sebagaimana Tau-tau puang kapala ne‟ Dampang dan semua Tau-tau pada umumnya).S bukan bangsawan tinggi ( tana‟ bulaan) tetapi dari bangsawan menengah (tana‟ bassi) jadi saya setuju saja jika mereka memaknai Tau-tau ayah mereka dengan demikian. Disebutkan dalam pepatah atau semboyan orang toraja. kacamata.M (67 tahun): “ayah dari T. Namun mengingatkan kita pada tradisi tau-tau aluk tododlo adalah pemakaian benda-benda asli kegemaran dari orang yang meninggal ( patung ayah T. Apa yang telah disepakati dalam hasi musyawarah tidak dapat lagi dirubah dan diakhiri dengan pemotongan kurban.S) seperti pakaian polisi. Dalam hal ini. tetapi masyarakat punya pendapat lain dari pembuatan Tau-tau dari semen tersebut bahwa keluarga T.S melanggar adat. Artinya: . Tetapi wujud dari pakaian yang dikenakan patung ayah T.S membuat tradisi baru yang tidak sesuai dengan adat yang berlaku. Menurut R.

maka diberilah nama peserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikata seluruh daerah dan kelompok adat.“satu kata akan membawa kehidupan tetapi masing-masing kata dapat membawa kematian atau bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ketika Kristen/Protestan makin banyak dianut sebahagian besar penduduk sejak tahun 1930-an melaui pendeta-pendeta dari Belanda. Pada kenyataanya banyak pemeluk Kristen Toraja beranggapan bahwa tidak semua Aluk bertentangan dengan pemahaman terhadap ajaran agama baru yang mereka anut. misalnya Upacara Rambu Solo‟. tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat ditoraja. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak perna diperintah oleh seorang penguasa tunggal. persekutuan negri sebagi satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. muncul dua garis besar sikap: menolak seluruh unsurelama atau melestarikan apa yang tak bertentangan dengan norma atau aturan baru.Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakana. Didalam kesatuan adat seluruh wilayah tana toraja diikat oleh satu atauran yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari‟ Allo yang secara harafiahnya berarti “negri yang bulat seperti matahari”. Ini menandakan bahwa interaksi di antara masyarakat toraja menuju satu kesepakatan yang mutlak sangat dijunjung tinggi. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut. Namun ada juga yang bersikap liberal . tetapi ada yang bersikap radikal dan menolak seluruh Aluk meski dalam relasi sosial mereka tidak dapat terhindarkan dari Aluk.

Yang masi menjalankan Aluk tetapi mengurangi Aluk yang bertentangan dengan agama. dan tidak lagi diannggap penjelmaan roh siwafat jadi tidak lagi diberi sesajen. hampir semua Tau-tau dibuat tidak berdasarkan aluk dalam artian tidak lagi ada pemujaan dan ritual-ritual. Masyarakat sangalla‟masih mempertahankan adat istidat yang secara turun temurun kerena mereka menganggap itu warisan dari nenek moyang yang harus dijaga kelestariannya serta merupakan penghormatan bagi para leluhurnya juga mereka masih memahami bahwa tau-tau tersebut perwujudan dari si mati yang mempunyai existensi tersendiri dalam masyarakat. Demikianlah maka saat ini. .

dianggap memiliki suatu kuasa pengaruh yang istimewa. A. Serta antara hidup dan yang mati masih terdapat hubungan persekutuan yang erat serta seluruh yang melindungi rakyat dan membela rakyat. berdasarkan kemuliaan mereka dibumi. . berdasarkan harta kekayaan dan kedudukan mereka dalam masyarakat atau sebagai simbol patung yang melambangkan sebgai golongan bangsawan. Makna Simbolik tau-tau dalam kehidupan sosial budaya pada umumnya pembuatan Tau-tau berdasarkan status sosial dan bahanya dapat dibagi dua yaitu tau-tau nangka dibuat khusus untuk kaum bangsawan tinggi sedangkan tau-tau lampa diperuntukkan bagi kalangan bangsawan menegah. Kesimpulan Bertolak dari pembahasan terhadap masalah penelitian.BAB V PENUTUP Sebagai bab penutup dan saran skripsi ini. maka penulis mencoba membuat beberapa kesimpulan berdasarkan deskripsi yang disajikan dimuka. bahwa simbol tau-tau ini tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan Aluk Todolo meskipun sudah ada kepercayaan yang mutlak. maka ditetapkan kesimpulan sebagai berikut: a. mereka . bangsawan tinggi maupun menengah semuanya memakai Tau-tau nangka. Makna simbolik tau-tau yakni sebagai simbol penyembahan atau pemujaan pada Aluk Todolo. Namun makna sekarang ini berbeda dengan terdahulu semua yang menganggap dirinya bangsawan. b.

Hal ini dimungkinkan dapat terlaksana dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait. Simbol Tau-tau mengadung sistem norma yakni di mana setiap orang menggunakan simbol dalam upacara rambu solo‟ atau membuatkan patung bagi leluhurnya haruslah dari golongan bangsawan serta berjasa besar bagi masarakat. dan pemimpin masyarakat jika terjadi pelanggaran maka akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai dengan norma (aturan) adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat.c. kekuasaan dan kekayaan identik dengan kelas sosial yang ada di masyarakat toraja yang mempengaruhi pengadaan simbol tau-tau dalam upacara rambu solo‟. terutama bidang ilmu-ilmu sosial. Saran Bertolak dari pembahasan penelitian di atas. B. d. Agar pemerintah daerah Tana Toraja meningkatkan usaha-usaha untuk melestarikan budaya daerah serta menjaga peninggalan-peninggalan budaya toraja seperti Tau-tau. namun ditekankan pula pada konsepsi tatanan kehidupan kelompok masyarakat yang dapat mendukung keberadaan budaya asli tersebut. Simbol tau-tau ditentukan oleh stratifikasi sosial atau kelas-kelas sosial dalam masyarakat toraja. maka penulis memberikan saran sebagai berikut: a. Dan perlu dibuat suatu konsep pelestarian budaya toraja secara total dan terpadu dengan implementasi yang tidak hanya berupa bentuk visual saja. .

b. Pengetahuan dan pengertian mengenal budaya tersebut haruslah disertai dengan informasi yang luas dan akurat tentang kepercayaaan nenek moyang yang pada dasarnya memujah roh,dengan tujuan untuk menghindari terjadinya pertentangan dengan agama yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. Dengan demikian diharapkan dapat bermanfaat ganda bagi masyarakat setempat, yaitu tidak kehilangan eksistensi dan kebanggan terhadap budayanya, selain itu tetap dapat memajukan parawista daerah dan pelestarian budaya local, sehingga nantinya diharapkanterjadi asimilasi yang positif pada budaya asli toraja secara bertahap namun tetap dapat dikenal budaya tersebut secara utuh meskipun kelak tidak lagi didukung oleh Aluk Todolo.

DAFTAR PUSTAKA Aliansi Masyarakat Ada (AMA) Toraja. 2006. Sejarah Tana Toraja Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo (belum dipublikasikan). Laporan AMA Toraja. Bogor Bonar H. Situmorang. 1980. Pemujaan Arwah Nenek Moyang. Majallah Berita Oikumene. BPS, 2010, Kelurahan Leatung Dalam Angka 2010, BPS Kel, Leatung. Basrowi, (2005), Pengantar Sosiologi, Ghallia Indonesia Anggota IKAPI, Bogor. C. Salambe‟. 1972. Orang Toraja Dengan Ritusnya: in memorial Laso’ Rinding Puang Sangalla’. Ujung Pandang. Dwi Narwoko,J, (2006) Sosiologi Teks Pengantar dan Teerapan, Kencana Media Group, Jakarta. Geertz, Cilfforg. 1992. Kebudayaan Dan Agama. Kanisius: Yogyakarta _____________ 1992. Tafsir Kebudayaan. Kanisius. Yogyakarta. Koentjaningrat. 1987. Sejarah Antropologi 1. Universitas Indonesia. Jakarta. Koejaranigrat, (1999). Manusia Dan Kebudayaan Indonesia, Djambatan, Jakarta. Marrang. Paranoan. 1979. Upacara Kematian Orang Toraja. Lembaga Penelitian UNHAS. Ujung Pandang. Maleong, Lexi, L. 1998 Metode Penelitian Kualitatif IV. Remaja Karya. Bandung. Mohammad, Natsir, Sitonda. 2007. Toraja Warisan Dunia. Pustaka. Refleksi. Makassar. Narwoko , Baggo, (2006), Struktur Sosial Masyarakat, Prenata Media Group,

Soejono. Adat dan Injil (perjumpaan Adat Dengan Iman Kristen Di Tana Batak. Raho.Sosiologi Suatu pengantar. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Perubahan Aplikasinya Pada Desain Moderen. pengantar sosiologi. Antropologi Budaya.Raja Grafindo Persada.T. 2002.2004. PT. Schreiner Lothar. edisi revisi.M.A. R. Tangdilintin. I Gede. Yayasan Lepongan Bulan.PT Raja Grafindo Persada.B.Parsudi. Suparlan. Dan ………………1981. 1996. SVD (2007). Sinar Harapan dan Yayasan Cipta Loka Cakara: Jakarta. Jakarta: LP. Manusia Kebudayaan Dan Lingkungan Prespektif Antropologi Budaya.SH. (2010). 1997. Yayasan Lepongan Bulan: Tana Toraja. L. Agama Asli Indonesia. Abdul Azis. Kamanto.H. Sunarto. Erlangga. 1975. PT.Fevi Subagya. Jakarta . Ritzer. 2002. Teori Sosiologi Moderen. Toraja dan Kebudayaanya. George. Tana Toraja Wiranata. Said.2004. Jakarta. BPK-GM. Bernart. Prestasi Pustakaraya. Ombak.1982. Jakarta Indonesia. Jakarta.: Jakarta.Jakarta. Citra Aditya . Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Soekanto. Upacara Pemakaman Adat Toraja.

Ritual Toraja dalam Suvenir.Bakti.Rob.toraja-treasures. WWW.com . Bandung. 2008. . Tau-Tau.

Gambar Tau-tau Tau-tau Kuno. “asal” bermata. berhidung dan punya mulut. teknologi zaman dulu. .Lampiran 1.

Gambar Tau-tau Di pekuburan di Gua Batu Suaya Sangalla’ .Lampiran 2.

.

Tau-tau puang sangalla’ .

.

Lampiran 3. Gambar Tau-tau Di pekuburan Marante .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->