KEPERAWATAN KOMUNITAS 1 Kelompok 4

Cucun sunarti Najma laila Gina husna amalia Peronika Santiko setya putri awaliani Meita rizki wulandari Ipah muplipah Linda wahyuni Sulasiah Sudasiah Easy fidiah sarah Mila syahara Wiwik dwi purwati

AKADEMI KEPERAWATAN UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH JAKARTA 2011

PENDAHULUAN

Prinsip dasar kesehatan kerja

PRINSIP DASAR KESEHATAN KERJA

A.Pengertian

Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23). Konsep dasar dari Upaya Kesehatan Kerja ini adalah : Identifikasi permasalahan, Evaluasi dan dilanjutkan dengan tindakan pengendalian. B. Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Kesehatan Kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk : Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. C. Kapasitas Kerja, Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Kondisi atau tingkat kesehatan pekerja sebagai (modal) awal seseorang untuk melakukan pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat depengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja dan lain-lain.

Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja. Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising debu, zat-zat kimia dan lain-lain) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibat kerja. Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan ditempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh factor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya. D. Lingkungan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja yang Ditimbulkan Penyakit akibat kerja dan atau berhubungan dengan pekerjaan dapat disebabkan oleh pemajanan dilingkungan kerja. Dewasa ini terdapat kesenjangan antara pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha untuk mencegahnya. Misalnya antara penyakit yang sudah jelas penularannya dapat melaui darah dan pemakaian jarum suntik yang berulang-ulang, atau perlindungan yang belum baik pada para pekerja Rumah sakit dengan kemungkinan terpajan melalui kontak langsung. Untuk mengantisipasi permasalahan ini maka langkah awal yang penting adalah pengenalan / identifikasi bahaya yang bisa timbul dan di Evaluasi, kemudian dilakukan pengendalian. Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya dilingkungan kerja ditempuh tiga langkah utama, yakni: 1. Pengenalan lingkungan kerja. Pengenalan linkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal (walk through inspection), dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja. 2. Evaluasi lingkungan kerja. Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan. 3. Pengendalian lingkungan kerja.

Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemajanan terhadap zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja. a. Pengendalian lingkungan (Environmental Control Measures) Disain dan tata letak yang adekuat Penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya. b. Pengendalian perorangan (Personal Control Measures) Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan. Namun alat pelindung perorangan harus sesuai dan adekuat . Pembatasan waktu selama pekerja terpajan terhadap zat tertentu ringkungan kerja. Kebersihan perorangan dan pakaiannya, merupakan hal yang penting, terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan bahan kimia serta partikel lain. Tujuan Penerapan Keperawatan Kesehatan Kerja Secara umum ,tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan Hyperkes dapat dirinci sebagai berikut (Rachman,1990)  Agar tenaga kerja dan setiap orang yang berada ditempat kerja selalu dalam keadaan sehat dan selamat.  Agar sumber-sumber poduksi dapat berjalan secara lancer tanpa ada hambatan. Kecelakaan Kerja Menurut peraturan mentri tenaga kerja RI nomor : 03/MEN/1998 tentang tata cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan bahwa yang dimaksud dengan kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan karna manusia atau harta benda. Penyebab Kecelakaan Kerja Secara umum, 2 penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah penyebab dasar (basic causes) dan penyebab langsung ( immediate causes).  Penyebab dasar 1. Faktor manusia atau pribadi, antara lain karena kurangnya kemampuan fisik, mental, dan psikologis : kurang atau lemahnya pengetahuan dan keterampilan (keahlian) : stress dan motivasi yang tidak cukup atau salah.

2. Faktor kerja atau lingkungan, antara lain karena ketidakcukupan kemampuan kemimpinan dan atau pengawasan, rekayasa (engineering), pembeliaan atau pengadaan, perawatan (maintence),alat-alst, perlengkapan, dan barang-barang atau bahan-bahan , standar-standar kerja, serta berbagai penyalahgunaan yang terjadi dilingkungan kerja.

 Penyalahgunaan langsung 1. Kondisi berbahaya (kondisi yang tidak standar-unsafe condition), yaitu tindakan yang akan menyebabkan kecelakaan misalnya peralatan pengaman, pelindung, atau rintangan yang tidak memadai atau tidak memenuhi syarat : bahan dan peralatan yang rusak, terlalu sesak atau sempit, sistem-sistem tanda peringatan yang kurang memadai, bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan, kerapian atau tata letak (hhousekeeping) yang buruk, lingkungan berbahaya atau beracun (gas, debu, asap, uap, dan lainnya) bising paparan radiasi serta ventilasi dan penerangan yang berkurang (B.Sugeng,2003). 2. Tindakan berbahaya (tindakan yang tidak standar-unsafe act), yaitu tingkah laku tindak lanjut atau perbuatan yang akan menyebabkan kecelakaan misalnya mengoprasikan alat tanpa wewenang gagal untuk memberi peringatan dan pengamanan bekerja dengan kecepatan yang salah menyebabkan alat-alat keselamatan, menggunakan alat-alat yang rusak tidak berfungsi memindahkan alat-alat keselamatan diri secara benar.

Penyakit akibat Kerja Menurut peraturaalah setiap penyakit yang menteri tenaga kerja RI nomor : PER01/MEN/1981 tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja bahwa yang dimaksud dengan penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap penyakit yang disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Jenis-jenis penyakit akibat kerja tersebut adalah berikut ini.    Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan faktor utama penyebab cacat atau kematian. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner atau byssinosis yang disebabkan oleh debu kapas, vias, henep (serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa), dan sisal atau serat yang diperoleh dari tumbuhan agave sisalana, biasanya dibuat tali).

                       

Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik. Penyakit yang disebabkan oleh berilium (Be) atau persenyawaannya yang beracun. Penyakit yang di sebabkan Kadmium (Cd) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan oleh fosfourus (P) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan kromium (Cr) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan mangan ( Mn) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan oleh arsenik (As) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau merkurium (Hg) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan oleh timbel atau plumbum (Pb) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang di sebabkan oleh flourin (F) atau persenyawaannya yang beracun Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida Penyakit yang di sebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon halifatik aromatik yang beracun Penyakit yang di sebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau homolognya yang beracun Penyakit yang di sebabkan oledh nitrogliserin atau ester asam nitrat yang lainnya Penyakit yang disebabkan oleh alkohol,glikol,atau keton. Penyakit yang disebabkan oleh kebisingan Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang persendian, dan pembuluh darah tepi atau saraf tepi) Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekan tinggi Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan mengion Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau biologis Kanker kulit eptilioma primer yang disebabkan oleh bitumen, minyak mineral, atau persenyawaan, produk, dan residu dari zat-zat tersebut Kanker poaru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes

Hygiene Perusahaan dan kesehatan kerja

Definisi 1. Higiene perusahaan Hygiene perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta prakteknya dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusaahaan melalui pengukuran yang hasilnya di pergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan perusahaan dengan menitik beratkan kepada tindakan pencegahan,agar pekerja dan masyarakat disekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja serta dimungkinkan meningkatkan derajat kesehatan setinggitingginya.

2. Kesehatan Kerja Kesehatan kerja adalah spesialisasi ilmu kesehatan atau kedokteran beserta praktiknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya,baik fisik,mental ataupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuaratif,terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang di akibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum. Hygiene perusahaan dan kesehatan kerja (Hyperkes) Adalah bagian dari usaha ksesehatan masyarakat yang di tujukan kepada masyarakat pekerja,masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat umum yang menjadi konsumen dari hasil produksi perusahaan tersebut sehingga dapat terhindard dari penyakit-penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan pekerjaan dan lingkungan pekerjaan,dan dapat meningkatkan derajat kesehatan 3. Sifat Hygiene perusahaan Sasarannya adalah lingkungan kerja dan bersifat teknis Kesehatan kerja Sasarannya adalah manusia dan sifatnya medis 4. Tujuan Tujuan umum Meningkatkan derajat kesehatan pekerja agar di peroleh tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan khusus

  

Agar masyarakat pekerja dapat mencapai keadaan kesehatan yang sebaikbaiknya,baik fisisk,mental maupun sosial Agar masyarakat sekitar perusahaan terlindungi dari bahaya pencemaran perusahaan Agar hasil produksi perusahaan tidak membahayakan masyarakat konsumen

Hakikat Hiperkes 1. Sebagai alat mencapai kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, seh ingga dapat meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja. 2. sebagai alat untuk meningkatkan produksi yang berlandaskan kepada meningkatnya efisiensi dan produktivitas tenaga kerja dalam berproduksi.

Perlindungan Khusus 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pemberian Imunisasi Hygiei ne kerja yang baik Sanitasi lingkungan kerja yang sehat Perlindungan diri terhadap bahaya-bahaya pekerjaaan Pengendalian bahaya akibat kerja agar dalam keadaan aman Perlindungan terhadap faktor karsinogen Menghindari sebab-sebab alergi Perserasian manusia (pekerja) dengan mesin

Upaya-Upaya Pencegahan Penyakit akibat Kerja  Subsitusi Yaitu mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan bahan-bahan yang kurang berbahaya atau tidak berbahaya sama sekali, misalnya karbon tetraklorida diganti dengan triklor-etilen.  Ventilasi Umum Yaitu mengalirkan udara sebanyak-banyaknya menurut perhitungan kedalam ruang kerja, agar bahan-bahan berbahaya ini lebih rendah dari kadar yang membahayakan, yaitu kadar pada nilai ambang batas.  Ventilasi Keluar Setempat ( Local exbausters ) Adalah alat yang dapat menghisap udara dari suatu tempat kerja tertentu, agar bahan-bahan yang berbahaya dari tempat tersebut dapat dialirkan keluar.

 Isolasi Adalah dengan cara mengisolasi proses perusahaan yang membahayakan, misalnya isolasi mesin yang hirup pikuk, sehingga kegaduhan yang disebabkannya menurun dan tidak menjadi gangguan pada pekerja.  Pakaian atau Alat Pelindung Adalah alat pelindung dalam pekerjaan dapat berupa kacamata, masker, helm, sarung tangan, sepatu atau pakain khusus yang didesain untuk pekerjaan tertentu.  Pemeriksaan Sebelum Bekerja Yaitu pemeriksaan kesehatan pada calon pekerja untuk mengetahui apakah calon pekerja tersebut sesuai dengan pekerjaaan yang akan diberikan baik fisik maupaun mentalnya.

 Pemeriksaan Kesehatan secara Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara berkala terhadap pekerja, apakah ada gangguan kesehatan yang timbul akibat pekerjaan yang dilakukan. Dapat dilakukan setiap enam bulan sekali atau satu tahun sekali, atau disesuaikan dengan kebutuhan. Diagnosis spesifik penyakit akibat kerja Secara teknis penegakan diagnosis dilakukan dengan cara berikut ini.  Anamnesis (wawancara) meliputi identitas,riwayat kesehatan,riwayat penyakit, dan keluhan yang di alami saat ini.  Riwayat kerja   Sejak pertma kali bekerja. Kapan,dimana,apa yang di kerjakan,bahan yang di gunaka,jenis bahaya yang ada,kejadian sama pada pekerjaa lain,pemakaian alat pelindungan diri,cara melakukan lain yang di lakukan,kegemaran (hobi),dan kebiasaan lain (merokok,alkohol).   Sesuai tingkt pengetahuan,pemahaman pekerjaan.

 Membandingkan gejala penyakit sewaktu bekerja dan dalam keadaan tidak bekerja Pada saat bekerja maka gejala timbul atau menjadi lebih berat,tetapi pada saat tidak bekerja atau istirahat maka gejala berkurang atau hilang.

 

Perhatiakn juga kemungkinan pemajanan di laur tempat kerja. Informasi tentang ini dapat di tanayakan dalam anamnesis atau dari data penyakit di perusahaan.

 Pemerikasaan fisik yang di lakukan dengan catatan    Tanda dan gejala yang muncul mungkin tidak spesifik. Pemeriksaan laboratorium penunjang membantu diagnostic klinis. Dugaan adanya penyakit akibat kerja dilakukan juga melalui pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis.  Pemeriksaan laboratorium khusus atau pemeriksaan biomedis.    Seperti pemeriksaan spirometri dan rontgen paru (pneumoconiosispembacaan standar ILO). Pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan hasil metabolic dalam darah dan urine.

 Pemeriksaan atau pengujian lingkungan kerja atau data hygiene perusahaan yang memerlukan:     Kerja sama dengan tenaga ahli hygiene perusahaan. Kemampuan mengevaluasi factor fisik dan kimia berdasarkan data yang ada. Pengenalan secara langsung system kerja,intensitas,dan lama pemajanan.

 Konsultasi keahlian medis dan keahlian lain. Sering kali penyakit akibat kerja di temukan setelah ada diagnosis klinis,kemudian dicari factor penyebabnya di tempat kerja,atau melalui pengamatan (penelitian) yang relative lebih lama.  Dokter spesialis lainnya,ahli toksilkologi,dan dokter penasihat (kaitan dengan kompensasi). Fungsi dan tugas perawat dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di industry adalah sebagai berikut (Nasrul Effendy,1998).  Fungsi Perawat  Mengkaji masalah kesehatan.

           

Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap pekerja. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah dilakukan.

 Tugas perawat Mengawasi lngkungan pekerja. Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja. Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawat du rumah kepada pekerja dan keluarga pekerja yang mempunya masalah kesehatan. Ikut berperan dalam penyelengaraan pendidikan k3 terhadap pekerja. Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja dan keluarganya. Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja. Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan K3.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah –Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan masalah ini, yang berjudul “PRINSIP DASAR KESEHATAN KERJA”. Dalam menyusun makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan hambatan karena kerterbatasan kami dan sumber yang tersedia, namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam menyempurnakan makalah ini. Besar harapan kami, semoga makalah ini bermanfaat khususnya dibidang kesehatan.

JAKARTA , 14 Juli 2011

PENUTUP

Walaupun kami sudah berusaha sehabis tenaga untuk melengkapkan makalah ini selengkap-lengkapnya, akan tetapi hanya sekedar inilah yang dapat kami berikan. Kami mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dari lubuk hati saya, supaya makalah ini member faedah kepada kami dan kepada sekalian pembaca atau pendengarnya, berfaedah di dunia ini dan berfaedah pula di akhirat nanti, amin-amin Ya Rabbal a’lamin. Demikian juga jikalau ada kekhilafan dalam makalah ini saya mohon ampun kepada Tuhan, karena kesalahan itu tak ada yang sengaja membuatnya. Isi dari makalah ini saya usahakan sebaik-baiknya untuk dapat di baca dengan terang, dan jelah untuk membaca ataupun juga pendengarnya. Mudah-mudahan berkat “ Nabi Besar kita”, junjungan kita Nabi Muhammad Saw, makalah ini berfaedah untuk kita bersama dan di terima Tuhan sebagai amal yang saleh bagi kami sebagai penulisnya dan bagi saudara-saudara sebagai pembaca atau pendengar. Amin-amin Ya Rabbal a’lamin ! !

DAFTAR PUSTAKA

Drs.Nasrul Effendy.Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Edisi 2. EGC

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful