BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas, substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya. Definisi ini dapat membedakan halusinasi dengan mimpi, berkhayal, ilusi dan pseudohalusinasi (tidak sama dengan persepsi sesungguhnya, namun tidak dalam keadaan terkendali). Contoh dari fenomena ini adalah dimana seseorang mengalami gangguan penglihatan, dimana ia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama. Halusinasi juga harus dibedakan dengan delusi pada persepsi, dimana indera menangkap rangsang nyata, namun persepsi nyata yang diterimanya itu diberikan makna yang dan berbeda (bizzare). Sehingga orang yang mengalami delusi lebih percaya kepada hal-hal yang atau tidak masuk logika.

2. Tujuan Penulisan a. Tujuan Umum Dapat memahami dan mengetahui Asuhan Keperawatn Jiwa pada kasus Halusinasi b. Tujuan Khusus 1) Dapat mengetahui pengkajian pada kasus halusinasi 2) Dapat mengetahui diagnosa keperawatan pada kasus halusinasi 3) Dapat mengetahui intervensi dan rasional pada kasus halusinasi

3. Sistematika Penulisan Dan supaya penyusunan tugas portofolio ini terlihat sistematis, maka penulis membagi bahasan menjadi tiga bab,yaitu: Bab I. Pendahuluan Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Masalah, dan Sistematika Penulisan.

1

Bab II.

Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan Jiwa pada kasus Halusinasi ini terdiri dari pengertian halusinasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik, penatalaksanaan, pengkajian, pohon masalah, diagnosa keperawatan, fokus intervensi dan rasional.

Bab III. Penutup Yang terdiri dari Kesimpulan.

2

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn. Halusinasi penglihatan/visual Pancaran cahaya. Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana indifidu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah. (Depkes RI. tak enak. Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra seorang pasien. b. ada sensasi dari tanah. menjijikkan d. pola atau interpretasi stimulus yang datang ( Carpenito. PENGERTIAN Halusinasi adalah suatu keadaan individu menginterpretasikan stressor yang tidak ada stimulus dari lingkungan. memerintah sesuatu. sederhana. gambar geometric. 2000). membicarakan dirinya. dasarnya mungkin organik.BAB II LANDASAN TEORITIS 1. 2004). Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiology (Stuart dan Laraia. Halusinasi pengecapan/ gusfaktori Merasa sesuatu yang busuk. amis. kompleks. fungsional. Adapun jenis-jenis halusinasi. antara lain : a. Halusinasi penghidu/ olfaktori Bau busuk. Menyenangkan/menakutkan c. menjijikan e. yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun. Halusinasi sinestetik Merasakan gerakan – gerakan organ yang ada ditubuhnya merasakan aliran darah 3 . Halusinasi pendengaran/auditorik Mendengar suara orang. benda. 2001). amis. 1998). psikotik ataupun histerik (Maramis. harum. 2000). orang lain f. panorama luas/ kompleks. karton. Halusinasi perabaan/ tactile Merasa/mengalami rasa sakit.

mekanisme : adanya paparan virus pada otak : ibu pencemas. maka terjadilah isolasi sosial. PATOFISIOLOGI Proses terjadinya halusinasi di pengaruhi oleh 2 faktor. Faktor predisposisi 1) Genetik 2) Neuribiologik : diturunkan dari keluarga : terjadi gangguan pada area prefrontal dan limbic dari otak 3) Neurotransmiten : abnormalitas pada dopamin. ETIOLOGI a. tetapi sebelum tidur persepsi sensori bekerja salah i. Selain itu dapak lain dari rangsangan internal meningkat dan 4 . Disamping itu dampak lain yang terjadinya proses menarik diri dapat mengakibatkan rangsangan internal meningkat dan rangsangan eksternal menurun. ayah yang tidak peduli. penghantaran listrik abnormal 2) Stress lingkungan : ambang toleransi menurun pada stress lingkungan 3) Gejala pemicu maladaptif : aspek kesehatan. Faktor presipitasi 1) Biologi : proses pengolahan informasi berlebihan. lingkungan. dan glutamat 4) Virus 5) Psikologis b. Kemudian menyebabkan terjadinya harga diri rendah lalu timbullah gangguan citra diri. Halusinasi histerik Timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional 2. Halusinasi visceral Perasaan tertentu timbul didalam tubuhnya h. 3. sikap dan perilaku individu. Halusinasi hipnopompik Hampir sama dengan halusinasi hipnagnik tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari tidurnya j. Selain itu dari harga diri rendah dapat menyebabkan seorang pasien menarik diri sehingga terjadilah kerusakan interaksi sosial. Dari kedua faktor tersebut maka terjadilah gangguan sistem koping individu sehingga mengakibatkan defisit perawatan dini. Halusinasi hipnagnik Halusinasi ini adakalanya pada orang yang normal. over proteksi. serotonin. yaitu faktor predisposisi dan faktor presipitasi.g.

Komunikasi kurang/ tidak ada. Apatis. Menarik diri dan menghindar dari orang lain c. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata d. Menciptakan Lingkungan yang Terapeutik Untuk mengurangi tingkat kecemasan. afek tumpul h. Mendekati orang lain dengan ancaman p. Tidak ada kontak mata. sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata. orang lain dan lingkungannya). Tidak dapat memusatkan perhatian e. senyum dan tertawa sendiri b. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai q. klien sering menunduk k. dan PABA dari stimulus SSO yang mengontrol pelepasan halusinogen. serotonin. Berdiam diri di kamar/ klien kurang mobilitas l. merusak (diri sendiri. takut f. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara : a. ekspresi sedih. MANIFESTASI KLINIK Pada umumnya tanda dan gejala halusinasi. kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi. 4. Mempunyai rencana untuk melukai 5. kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. bermusuhan. Ekspresi muka tegang.rangsangan eksternal menurun dapat memicu terjadinya halusinasi yang mungkin bisa mengakibatkan terjadinya RPK dan PK. mudah tersinggung g. Memperlihatkan permusuhan o. Bicara. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan r. Menolak berhubungan dengan orang lain. Pasien 5 . Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari. Menghindar dari orang lain (menyendiri) i. Curiga. norepineprin. n. antara lain : a. klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap m. disamping itu juga dapat mengakibatkan terjadinya waham akibat dari pelepasan dopamin. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/ perawat j.

jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. d. misalnya jam dinding. 6. PENGKAJIAN FOKUS a. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai. Pengkajian Primer Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini yaitu. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien. antara lain: 6 . Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. majalah dan permainan. bicaralah dengan pasien. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan. e. bermain atau melakukan kegiatan. c. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas. Menggali Permasalahan Pasien dan Membantu Mengatasi Masalah yang Ada Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif. Melibatkan Keluarga dan Petugas Lain dalam Proses Perawatan Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan. b. serta reaksi obat yang di berikan. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. gambar atau hiasan dinding. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Melaksanakan Program Terapi Dokter Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. misalnya berolah raga. Memberi Aktivitas pada Pasien Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik.

Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok. ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. mengenai faktor perkembangan sosial kultural.1) Faktor predisposisi. biokimia. Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. c) Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. 2) Faktor Presipitasi Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan. psikologis dan genetik yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. 7 . terlalu lama diajak komunikasi. tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. e) Faktor genetik Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya. Dengan adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP) d) Faktor Psikologis Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas. a) Faktor Perkembangan Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan kecemasan b) Faktor Sosiokultural Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di besarkan. objek yang ada dilingkungan juga suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.

perasaan tidak aman. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. c) Dimensi Intelektual Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu : a) Dimensi Fisik Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. d) Dimensi Sosial Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan adanya kecenderungan untuk menyendiri. kurang perhatian. prilaku merusak diri. sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan. penggunaan obatobatan. tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. dirinya atau orang lain individu 8 . Menurut Rawlins dan Heacock.3) Prilaku Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga. kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua prilaku klien. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa. Individu asyik dengan halusinasinya. demam hingga delirium. ketakutan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut. seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial. gelisah dan bingung. intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama. b) Dimensi Emosional Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi.

sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. 4) Sumber Koping Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan halusinasi pemeriksaan penunjangnya terdiri dari : 1) Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan neurologis lengkap 2) Tanda vital 3) Pemeriksaan status mental 4) Mini Mental State Examination (MMSE) 5) Pemeriksaan medikasi dan kadar obat 6) Skrinning darah dan urin untuk alkohol. serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Saat halusinasi menguasai dirinya individu kehilangan kontrol kehidupan dirinya.cenderung untuk itu. b. obat – obatan dan logam berat 7) Elektrokardiogram 8) Pemeriksaan neurologis: CT atau MRI kepala 9) Tes neuropsikologis 9 . dukungan sosial dan keyakinan budaya. Oleh karena itu. Pada individu tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak terjadi. aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan. 5) Mekanisme Koping Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress. Individu dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping dilingkungan. e) Dimensi Spiritual Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam individu tersebut. dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.

POHON MASALAH Perilaku kekerasan (PK) Perubahan proses pikir : waham Resiko tinggi mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan Pelepasan dopamine. PABA Gangguan persepsi sensori : halusinasi Pelepasan halusinogen Stimulus SSO isolasi Rangsang internal meningkat rangsang eksternal menurun Kerusakan interaksi sosial Menarik diri Perhatian berfokus pada diri sendiri Harga diri rendah Gangguan citra diri Defisit perawatan diri Koping individu tidak efektif Faktor predisposisi Faktor presipitasi 10 .7. norepineprin. serotonin.

Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi b.8. cara memutuskan halusinasi dan melaksanakan cara yang efektif bagi klien untuk digunakan 3) Menggunakan keluarga untuk mengontrol halusinasi dengan cara sering berinteraksi dengan keluarga 4) Menggunakan obat dengan benar Intervensi : 1) Bina Hubungan saling percaya 11 . Defisit perawatan diri : Mandi/kebersihan berhubungan dengan ketidakmampuan dalam merawat diri e. Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi Tujuan Umum : Tidak terjadi perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri c. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL a. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah d. Koping individu tidak efektif 9. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin terjadi pad aklien dengan halusinasi adalah sebagai berikut : a. DIAGNOSA KEPERAWATAN Masalah yang dapat dirumuskan pada umumnya bersumber dari apa yang klien perlihatkan sampai dengan adanya halusinasi dan perubahan yang penting dari respon klien terhadap halusinasi. Tujuan khusus : 1) Klien dapat membina hubungan saling percaya 2) Klien dapat mengenal halusinasinya 3) Klien dapat mengontrol halusinasinya 4) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya 5) Klien dapat menggunakan obat untuk mengontrol halusinasinya Kriteria Evaluasi : Klien dapat : 1) Mengungkapkan perasaannya dalam keadaan saat ini secara verbal 2) Menyebutkan tindakan yang biasa dilakukan saat halusinasi. Perubahan proses pikir : Waham berhubungan dengan harga diri rendah kronis f.

10) Diskusikan cara-cara memutuskan halusinasi 11) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan cara memutuskan halusinasi yang sesuai dengan klien 12) Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok 13) Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga ketika mengalami halusinasi 14) Lakukan kunjungan rumah : Diskusikan dengan keluarga tentang : a) Halusinasi klien b) Cara memutuskan kelompok c) Cara merawat anggota keluarga halusinasi d) Cara memodifikasi lingkungan untuk menurunkan kejadian halusinasi e) Cara memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan pada saat mengalami halusinasi 15) Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk mengontrol halusinasi 16) Bantu klien menggunakan obat secara benar b. dan frekuensi 8) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya saat alami halusinasi. waktu. isi. Perubahan persepsi sensorik : halusinasi berhubungan dengan menarik diri Tujuan Umum : Klien mampu mengontrol halusinasinya 12 . 9) Identifikasi bersama klien tindakan yang dilakukan bila sedang mengalami halusinasi.a) Salam terapeutik b) Perkenalkan diri c) Jelaskan tujuan interaksi d) Ciptakan lingkungan yang tenang e) Buat kontrak yang jelas 2) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3) Dengarkan ungkapan klien dengan empati 4) Adakan kontak secara singkat tetapi sering secara bertahap (waktu disesuaikan dengan kondisi klien) 5) Observasi tingkah laku : verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi 6) elaskan pada klien tanda-tanda halusinasi dengan menggambarkan tingkah laku halusinasi 7) Identifikasi bersama klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi.

mau memanggil nama perawat dan mau duduk bersama 2) Klien dapat menyebutkan penyebab klien menarik diri 3) Klien mau berhubungan dengan orang lain 4) Setelah dilakukan kunjungan rumah klien dapat berhubungan secara bertahap dengan keluarga Intervensi : 1) Bina hubungan saling percaya a) Buat kontrak dengan klien b) Lakukan perkenalan c) Panggil nama kesukaan d) Ajak klien bercakap-cakap dengan ramah 2) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandatandanya serta beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau bergaul/ menarik diri 3) Jelaskan pada klien tentang perilaku menarik diri. misalnya menyebutkan perilaku menarik diri 3) Klien mampu mengadakan hubungan/sosialisasi dengan orang lain : perawat atau klien lain secara bertahap 4) Klien dapat menggunakan keluarga dalam mengembangkan kemampuan berhubungan dengan orang lain Kriteria Evaluasi : 1) Klien dapat dan mau berjabat tangan.Tujuan Khusus : 1) Klien mampu membina hubungan saling percaya 2) Klien mampu mengenal prilaku menarik dirinya. Dengan perawat mau menyebutkan nama. tanda-tanda serta yang mungkin jadi penyebab 4) Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan 5) Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan 6) Perlahan-lahan serta klien dalam kegiatan ruangan dengan melalui tahap-tahap yang ditentukan 7) Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai 8) Anjurkan klien mengevaluasi secara mandiri manfaat dari Berhubungan 9) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan klien mengisi waktunya 10) Motivasi klien dalam mengikuti aktivitas ruangan 13 .

bina hubungan saling percaya dengan keluarga 13) Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri. penyebab dan cara keluarga menghadapi 14) Dorong anggota keluarga untuk berkomunikasi 15) Anjurkan anggota keluarga secara rutin menengok klien minimal sekali seminggu c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap Tujuan Khusus : Klien dapat : 1) Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki 2) Menilai kemampuan diri yang dapat dipergunakan 3) Klien mampu mengevaluasi diri 4) Klien mampu membuat perencanaan yang realistik untuk dirinya 5) Klien mampu bertanggung jawab dalam tindakan Kriteria Evaluasi : 1) Klien dapat menyebut minimal 2 aspek positip dari segi fisik 2) Klien dapat menyebutkan koping yang dapat digunakan 3) Klien dapat menyebutkan efektifitas koping yang dipergunakan 4) Klien mampu memulai mengevaluasi diri 5) Klien mampu membuat perencanaan yang realistik sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya 6) Klien bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencanan Intervensi : 1) Dorong klien untuk menyebutkan aspek positip yang ada pada dirinya dari segi fisik 2) Diskusikan dengan klien tentang harapan-harapannya 3) Diskusikan dengan klien keterampilannya yang menonjol selama di rumah dan di rumah sakit 4) Berikan pujian 5) Identifikasi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh klien 6) Diskusikan koping yang biasa digunakan oleh klien 7) Diskusikan strategi koping yang efektif bagi klien 14 .11) Beri pujian atas keikutsertaan dalam kegiatan ruangan 12) Lakukan kungjungan rumah.

Defisit perawatan diri : Mandi / kebersihan diri berhubungan dengan ketidak mampuan dalam merawat diri Tujuan Umum : Klien mampu melaksanakan perawatan diri dengan baik sehingga penampilan diri adekuat Tujuan Khusus : Klien mampu : 1) Menjelaskan arti. mulut/gigi tidak bau. tanda-tanda kebersihan diri 2) Mengidentifikasi kebersihan dirinya 3) Menjelasakan cara-cara membersihkan dirinya 4) Melakukan perawatan diri dengan bantuan perawat 5) Melakukan perawatan diri secara mandiri 6) Memberdayakan sistem pendukung untuk meningkatkan perawatan diri Kriteria Evaluasi : Klien mampu : 1) Menyebutkan arti kebersihan diri 2) Menyebutkan tujuan kebersihan diri (untuk memelihara kesehatan tubuh dan badan terasa segar/nyaman) 3) Menyebutkan tanda-tanda kebersihan diri : kulit tidak ada daki dan tidak berbau.8) Bersama klien identifikasi stressor dan bagaimana penialian klien terhadap stressor 9) Jelaskan bahwa keyakinan klien terhadap stressor mempengaruhi pikiran dan perilakunya 10) Bersama klien identifikasi keyakinan ilustrasikan tujuan yang tidak realistik 11) Bersama klien identifikasi kekuatan dan sumber koping yang dimiliki 12) Tunjukkan konsep sukses dan gagal dengan persepsi yang cocok 13) Diskusikan koping adaptif dan maladaptif 14) Diskusikan kerugian dan akibat respon koping yang maladaptif d. rambut tidak ada ketombe. genitalia tidak gatal dan mata tidak ada kotoran 4) Menilai keadaan kebersihan dirinya 5) Menyebutkan cara-cara membersihkan diri dari rambut sampai kaki 6) Mendemonstrasikan cara membersihkan diri secara benar dengan bantuan perawat 7) Melakukan perawatan diri secara mandiri dengan benar dan tersusun jadwal kegiatan untuk kebersihan diri 15 . kutu. tidak ada bau dan tersisir rapi. kuku pendek dan bersih. tujuan.

8) Keluarga mampu menyebutkan cara meningkatkan kebersihan diri klien dan keluarga dapat membantu/terlibat aktif dalam memelihara kebersihan diri Intervensi : 1) Dorong klien untuk menyebutkan arti. tujuan. Perubahan proses pikir : Waham somatis berhubungan dengan harga diri rendah kronis 16 . tujuan dan tanda-tanda kebersihan diri 2) Diskusikan tentang arti. tanda-tanda kebersihan diri 3) Dengarkan keluahan klien dengan penuh perhatian dan empati 4) Berikan pujian apabila klien menyebutkan secara benar 5) Bantu klien menilai kebersihan dirinya 6) Berikan pujian atas kemampuan klien menilai dirinya 7) Dorong klien menyebutkan alat-alat dan cara membersihkan diri 8) Diskusikan tentang alat-alat dan cara membersihkan diri 9) Menjelasakan cara-cara membersihkan diri 10) Melakukan perawatan diri dengan bantuan perawat 11) Demonstrasikan pada klien cara-cara membersihkan diri 12) Bimbing klien mendemonstrasikan kembali cara-cara membersihkan diri 13) Dorong klien membersihkan diri sendiri dengan bantuan 14) Melakukan perawatan diri secara mandiri 15) Berikan kesempatan klien untuk membersihkan diri sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan 16) Dorong klien mengungkapkan manfaat yang dirasakan setelah membersihkan diri 17) Beri penguatan positif atas perawatan klien 18) Bimbing klien membuat jadwal kegiatan untuk membersihkan diri 19) Bimbing klien membersihkan diri sesuai jadwal secara mandiri 20) Monitor kemampuan klien membersihkan diri sesuai jadwal 21) Diskusikan dengan keluarga tentang ketidakmampuan klien dalam merawat diri 22) Diskusikan cara membantu klien membersihkan diri 23) Libatkan keluarga dalam perawatan kebersihan diri klien a) Menyediakan alat-alat b) Membantu klien membersihkan diri c) Memonitor pelaksanaan jadwal 24) Beri pujian e.

Tujuan Umum : Klien mampu berhubungan dengan orang lain tanpa merasa rendah diri Tujuan Khusus : 1) Klien dapat memperluas kesadaran diri 2) Klien dapat menyelidiki dirinya 3) Klien dapat mengevaluasi dirinya 4) Klien dapat membuat rencana yang realistis 5) Klien mendapat dukungan keluarga yang meningkatkan harga dirinya Kriteria Evaluasi : 1) Klien dapat menyebutkan kemampuan yang ada pada dirinya setelah 1 kali pertemuan 2) Klien dapat menyebutkan kelemahan yang dimiliki dan tidak menjadi halangan untuk mencapai keberhasilan 3) Klien dapat menyebutkan cita-cita dan harapan yang sesuai dengan kemampuannya setelah 1 kali pertemuan 4) Klien dapat menyebutkan keberhasilan yang pernah dialami setelah 1 kali pertemuan 5) Klien dapat menyebutkan kegagalan yang pernah dialami setelah 4 kali pertemuan 6) Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai setelah 1 kali pertemuan 7) Klien dapat membuat keputusan dan mencapai tujuan setelah 1 kali pertemuan 8) Keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda harga diri rendah : a) Mengatakan diri tidak berharga b) Tidak berguna dan tidak mampu c) Pesimis d) Menarik diri dari realita 9) Keluarga dapat berespon dan memperlakukan klien dengan harga diri rendah secara tepat setelah 2 kali pertemuan Intervensi : 1) Diskusikai dengan klien kelebihan yang dimiliknya 2) Diskusikan kelemahan yang dimilik klien 3) Beritahu klien bahwa manusia tidak ada yang sempurna. semua memiliki kelebihan dan kekurangan 4) Beritahu klien bahwa kekurangan bisa ditutup dengan kelebihan yang dimiliki 5) Anjurkan klien untuk lebih meningkatkan kelebihan yang dimiliki 17 .

tidak menjauhi 25) Anjurkan pada keluarga untuk memberikan kesempatan berhasil pada klien 26) Anjurkan keluarga untuk menerima klien apa adanya 27) Anjurkan keluarga untuk melibatkan klien dalam setiap pertemuan keluarga f. Koping individu tak efektif berhubungan dengan rendah diri Tujuan Umum : Klien dapat mendemonstrasikan lebih banyak penggunaan keterampilan koping adaptif yang dibuktikan oleh adanya kesesuaian antara interaksi dan keinginan untuk berpartisipasi dalam masyarakat Tujuan Khusus : Pasien akan mengembangkan rasa percaya kepada 1 orang perawat dalam 1 minggu Kriteria Evaluasi : 18 .6) Beritahukan klien bahwa ada hikmah dibalik kekurangan yang dimiliki 7) Diskusikan dengan klien ideal dirinya : Apa harapan selama di RS. tidak mengejek. rencana klien setelah pulang dan apa cita-cita yang ingin dicapai 8) Beri kesempatan klien untuk berhasil 9) Beri reinforcement positip terhadap keberhasilan yang telah dicapai 10) Bantu klien mengidentifikasikan kegiatan atau keinginan yang berhasil dicapai 11) Kaji bagaimana perasaan klien dengan keberhasilan tersebut 12) Bicarakan kegagalan yang pernah dialami klien dan sebab-sebaba kegagalan 13) Kaji bagaimana respon klien terhadap kegagalan tersebut dan cara mengatasi 14) Jelaskan pada klien bahwa kegagalan yang dialami dapat menjadi pelajaran untuk mengatasi kesulitan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang 15) Bantu klien merumuskan tujuan yang ingin dicapai 16) Diskusikan dengan klien tujuan yang ingin dicapai dengan kemampuan klien 17) Bantu klien memilih prioritas tujuan yang mungkin dapat dicapainya 18) Beri kesempatan kepada klien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilih 19) Tunjukkan keterampilan atau keberhasilan yang telah dicapai klien 20) Ikutsertakan klien dalam kegiatan aktivitas kelompok 21) Beri reinforcement postif bila klien mau mengikuti kegiatan kelompok 22) Diskusikan dengan keluarga tanda-tanda harga diri rendah 23) Anjurkan setiap anggota keluarga untuk mengenal dan menghargai kemampuan tiap anggota keluarga 24) Diskusikan dengan keluarga cara berespons terhadap klien dengan harga diri rendah seperti menghargai klien.

1) Klien dapat menilai situasi realistis dan tidak melakukan tindakan proyeksi perasaannya dalam lingkungan tersebut 2) Klien dapat mengakui dan mengklarifikasi kemungkinan salah interpretasi terhadap prilaku dan perkataan orang lain 3) Klien dapat berinteraksi secara kooperatif Intervensi : 1) Bina hubungan saling percaya 2) Hindari kontak fisik 19 .

(Depkes RI. Komunikasi kurang/ tidak ada. Halusinasi adalah suatu keadaan individu menginterpretasikan stressor yang tidak ada stimulus dari lingkungan. orang lain dan lingkungannya). Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata 4. dan gejala pemicu maladaptif Pada umumnya tanda dan gejala halusinasi. ekspresi sedih. terdiri dari : Biologi. 2000). merusak (diri sendiri. Faktor presipitasi. Mendekati orang lain dengan ancaman 20 . neuribiologik. virus. Menarik diri dan menghindar dari orang lain 3. Menghindar dari orang lain (menyendiri) 9. Tidak dapat memusatkan perhatian 5. terdiri dari : Genetik. mudah tersinggung 7. senyum dan tertawa sendiri 2. klien sering menunduk 11. Faktor predisposisi. Tidak/ jarang melakukan kegiatan sehari-hari. klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap 13. stress lingkungan. Sedangkan penyebab halusinasi ada 2 faktor yaitu : 1. afek tumpul 8. Bicara.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn. bermusuhan. Curiga. Berdiam diri di kamar/ klien kurang mobilitas 12. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/ perawat 10. neurotransmiten. Tidak ada kontak mata. antara lain : 1. Ekspresi muka tegang. Apatis. dan psikologis 2. 1998). Menolak berhubungan dengan orang lain. takut 6. 14. Memperlihatkan permusuhan 15.

Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai 17.16. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan 18. Mempunyai rencana untuk melukai 21 .

(N.(1998). Jakarta : EGC Townsend. RSJP Bandung. Anna. . Ann. Jakarta.I. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa.Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri. Keperawatan Jiwa. EGC.). 1999 Tim Direktorat Keswa. EGC. Edisi 1. Edisi 3. Kes. 2000 Keliat Budi.Daulima. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.Mary. Jakarta : EGC Struart & sundeen. Dit. Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik. 2000 Isaacs. Jen Yan. 1997 Stuart & Sunden. Pocket Guide to Psychiatric Nursing. 1998 22 .C. Buku Saku Keperawatan Jiwa.H. Terj. Bandung.(Ed 3).C.DAFTAR PUSTAKA Directorat Kesehatan Jiwa. 1995 Residen Bagian Psikiatri UCLA. Keliat Budi Ana. Edisi I. Jakarta. Dep. Kes R. EGC. Buku Saku Psikiatri. Jakarta : EGC.Jakarta:EGC. Edisi 3. 1998.

Lewat 3 hari 2. Lewat 1 hari 4. 4 halaman 4. pathways kurang lengkap.FORMAT PENILAIAN PORTOFOLIO NAMA MAHASISWA NIM TOPIK NO : AGUS ISMAIL : G2A011004 : ASUHAN KEPERAWATAN HALUSINASI KRETERIA KERAPIAN 1. Lebih dari 4 halaman KELENGKAPAN ISI 1. Tulis tangan kurang rapi 3. Dua sumber plus internet 4. Tulis tangan tidak rapi 2. Diketik rapi 4. Makalah hanya memuat 7-9 dari 10 item 3. Makalah memuat kurang dari 7 item dalam sistematika 2. sumber dilampirkan JUMLAH HALAMAN 1. patofisiologi. Makalah memuat 10 item sesuai sistematika terdiri dari: pengertian. fokus interfensi tanpa rasional 4. Satu sumber 2. diagnosa keperawatan kurang lengkap. etiologi. 3 halaman 3. Dua sumber 3. Tepat waktu JUMLAH BUKU SUMBER 1. Tiga sumber plus internet. 2 halaman 2. Makalah memuat 10 item sesuai sistematika terdiri dari: BOBO T 1 NILAI 2 3 4 NILAI X BOBOT 1 10 2 10 3 15 4 10 5 30 23 . Lewat 2 hari 3. penatalaksanaan. manifestasi klinis. pengkajian fokus kurang lengkap. Diketik sangat rapi WAKTU PENYERAHAN 1.

penatalaksanaan.Kep. pengkajian fokus lengkap. diagnosa keperawatan lengkap. Membaca tidak memahami 3. Membaca sangat memahami ORGINALITAS Tidak meniru milik orang lain JUMLAH TOTAL X 20 5 NILAI AKHIR : 100 NILAI AKHIR : Mengetahui Dosen Semarang. Membaca memahami 4. Agus Ismail 24 . Desi Ariyana Rahayu. manifestasi klinis. pathways lengkap dan sistematis. fokus interfensi disertai rasional PEMAHAMAN 1. patofisiologi.6 7 pengertian. Tidak memahami tidak membaca 2. etiologi. M. 7 Desember 2012 Mahasiswa Ns.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful