MAKALAH STRUKTUR PUISI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Poetry

Disusun Oleh Aditya Y Sumarya Gina Silvia Dedeh Krisdayanti Feti Fitriani Ida Ayu Purnamasari Mulyadi N. Susan Rohmanita Rina Anggraeni Rostini Wiku Sunda Laras

STBA Sebelas April Sumedang 2013

Kata Pengantar
Puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ‘Struktur Puisi’ yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Poetry. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini dengan ketulusan dan kerendahan hati, penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Imas Maryanah, S.S M.Pd selaku dosen mata kuliah Poetry. Penyusun menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya. Sumedang, 2 April 2013

Penyusun

BAB I

1. Apa saja yang termasuk struktur batin dan struktur fisik dalam puisi? 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas.4 Metode Penelitian Metode yang dilakukan oleh penyusun adalah mencari informasi melalui internet.PENDAHULUAN 1. yaitu : 1. adapun rumusan masalah dari makalah ini sengaja penyusun batasi. Bab III Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. .5 Sistematika Penulisan Makalah yang diberi judul ‘Struktur Puisi’ ini menguraikan sistematika penulisannya sebagai berikut : Bab I Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang. Bab II Pembahasan.1 Latar Belakang 1. 1. adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui struktur dalam puisi baik struktur batin maupun struktur fisik puisi. Ada berapa macam struktur dalam puisi? 2.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas. tujuan. metode penulisan serta sistematika penulisan. rumusan masalah.

BAB II .

1986) mengatakan. (3) Bahasa kiasan. majas. meskipun tidak menyatakan secara jelas tentang unsur-unsur puisi. dan tema. (3) Bentuk: nilai bunyi.PEMBAHASAN 2. d) Dick Hartoko (dalam Waluyo. emosi. Unsur tematik puisi lebih menunjuk ke arah struktur batin puisi. amanat (intention). (1) Hakikat puisi yang melipuiti tema (sense). rasa (feeling). imajeri. Bila struktur batin lebih menekankan unsur pembangun dari dalam puisi. (2) Imajeri. imajeri. (4) . Banyak kajian yang menelaah struktur puisi. sarana retorika. (4) Isi: narasi. dan makna. 1987:27). Berikut ini merupakan beberapa pendapat mengenai unsur-unsur puisi: a) Richards (dalam Tarigan. maka struktur fisik menekankan unsur pembangun dari luarnya. (1) Diksi. b) Waluyo (1987) mengatakan. ritme. atau keduanya. yaitu unsur tematik atau unsur semantik puisi dan unsur sintaksis puisi. dan rima. nada (tone). versifikasi. bahwa dalam puisi terdapat struktur fisik atau yang disebut pula sebagai struktur kebahasaan dan struktur batin puisi yang berupa ungkapan batin pengarang. serta (2) Metode puisi yang meliputi diksi. bahasa kiasan. bahwa unsur puisi terdiri dari. bentuk. e) Meyer menyebutkan unsur puisi meliputi.1 Unsur Pembangun Puisi Puisi dibangun dari dua bagian unsure yang disebut dengan struktur batin dan struktur fisik. menyebut adanya unsur penting dalam puisi. kata nyata. (2) Bahasa puisi: diksi. c) Altenberg dan Lewis (dalam Badrun. unsur sintaksis menunjuk ke arah struktur fisik puisi. namun dari outline buku mereka bisa dilihat adanya (1) Sifat puisi. baik struktur fisik maupun maupun struktur batin. 1989:6).

rasa. nada. dan struktur fisik puisi (diksi. (5) Diksi. maka subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. 2. yaitu struktur batin puisi (tema. 1987:150). (7) Bahasa figuratif. (4) Amanat. pada dasarnya akan berhubungan dengan gambaran dunia atau makna puisi secara umum yang ingin diungkapkan penyairnya. (5) Bunyi. dan amanat). (9) Ritme dan rima. 1978:150). Unsur-unsur puisi ini. 1989:6]. dalam rangka mengidentifikasi subject matter. (6) Ritme. Oleh sebab itu. “Apa yang ingin dikemukakan penyair lewat puisi yang dikemukakannya?” 2. Bila sense baru berhubungan dengan gambaran makna dalam puisi secara umum. dan rima). Subject matter merupakan pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya (Aminuddin. (6) Imaji. (3) Rasa.Subject Matter Struktur yang kedua dalam struktur batin ialah subject matter. bahasa figuratif. ritme. . Terdapatnya sense dalam suatu puisi. pembaca akan menampilkan pertanyaan. (7) Bentuk [Badrun. menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur. Dalam analisis puisi keberadaannya akan menimbulkan pertanyaan lagi.Simbol.2 Struktur Batin Puisi Dibawah ini merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam struktur batin puisi: 1. kata konkret.Sense Sesuatu yang diciptakan atau dikembangkan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkannya itulah yang disebut sense (Aminuddin. Dari beberapa pendapat di atas. (1) Tema. (8) Kata konkret. imajeri. (2) Nada. dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur puisi meliputi.

sejalan dengan sesuatu yang secara umum dikemukakan penyairnya?”. 1987:150). Dalam rangka menganalisis tone dalam suatu puisi. pembaca akan berhubungan dengan pencarian . Feeling mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu. Feeling Adapun mengenai sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya disebut dengan feeling (Aminuddin. “Bagaimana sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya?”. Maka akan timbul pertanyaan dari pembaca dalam menganalisis feeling. Sikap penyair terhadap apa yang ditampilkan lewat puisinya tersebut akan tercermin ketika pokok pikiran penyair terhadap puisinya sudah diketahui terlebih dahulu.“Pokok-pokok pikiran apa saja yang diungkapkan penyair. 1987:150). 3. Hal yang demikian ini mungkin saja terjadi karena sewaktu penulis berbicara masalah cinta maupun tentang cinta itu sendiri kepada kekasih. manusia pada umumnya juga dilatarbelakangi oleh sikap tertentu pula. Pembahasan mengenai felling tidak akan terlepaskan dengan pembahasan sebelumya. Subject matter yang dimaksud adalah seperti pengulasan pada setiap baitnya yang kemudian dibentuk paragraf atas pokok-pokok pikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut pokok pikiran antara yang satu dengan yang lainnya begitu erat berkaitan. 4. yakni subject matter. Tone Tone mengandung maksud sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya (Aminuddin. penulis akan berbeda sewaktu peneliti berbicara kepada teman.

Jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan. Menganalisis dengan tahapan ini. masa bodoh. Tema berbeda . Total of meaning (totalitas makna) adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam satu puisi (Aminuddin. yang berbeda dengan sense yang baru memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca. 6. keriangan. Penentuan totalitas makna puisi berdasarkan atas pokok-pokok pikiran yang ditampilkan penyair. atau pelbagai macam sikap lainnya sejalan dengan keanekaragaman sikap manusia dalam menyikapi realitas yang dihadapinya. Bila menganalisis totalitas makna puisi. menggurui. felling. sebab tahapan sebelumnya merupakan suatu korelasi yang tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya. 1987:151). 1987:151). kesedihan. serta sikap penyair terhadap pembaca. 5. sikap penyair terhadap pokok pikiran. “Bagaimanakah makna keseluruhan puisi yang saya baca berdasarkan subject matter. dan tone. pembaca dapat menampilkan pertanyaan. dan tone yang telah saya temukan?”. tidak dapat meninggalkan tahapan-tahapan sebelumnya. “Bagaimana sikap penyair terhadap pembaca?”. Total of Meaning Tingkatan kelima dalam struktur batin ialah total of meaning. felling. semangat. Hasil rangkuman itu akan menimbulkan totalitas makna dalam suatu puisi.jawaban dari pertanyaan. Theme Ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi itulah yang dimaksud dengan theme atau tema (Aminuddin. Karena sebelum mencapai tahapan total of meaning (totalitas makna) maka haruslah melampaui tahapan-tahapan sebelumnya seperti subject matter.

Disebut tidak sama dengan pandangan moral maupun message karena tema hanya dapat diambil dengan jalan menyimpulkan inti dasar yang terdapat dalam totalitas makna puisi. Masalahnya sekarang. 1987:151). Tujuan amanat ini merupakan yang mendorong penyair menciptakan puisinya. Tingkatan ketujuh ini dapat ditelaah setelah mampu memahami pelbagai tahapan sebelumnya. namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang disampaikan. “Apakah ide dasar atau inti dari totalitas makna itu?”. Amanat yang hendak disampaikan penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair. Intention Intention atau amanat merupaakan pesan atau tujuan yang hendak disampaikan oleh penyair (Aminuddin. dan yang berada dibalik tema yang diungkapkan. Nantinya dalam menganalisis tema muncul pertanyaan seperti berikut. bidang cakupan tema lebih luas daripada pandangan moral maupun message. Dengan kata lain.dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun. bagaimanakah memberikan jawaban atas sejumlah pertanyaan itu. 2. Theme juga demikian. sedangkan pandangan moral atau message dapat saja terdapat dalam butir-butir pokok pikiran yang ditampilkannnya. Sehingga pada tahapan theme ini ide dasar atau pokok dari totalitas makna tersebut apa. 7.3 Struktur Fisik Puisi . merupakan sebuah kelanjutan dari telaah-telaah pada tahapan sebelumnya.

penglihatan. Geoffrey (dalam Waluyo. imaji penglihatan (visual). dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga. hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. b) Diksi. pendengaran. Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat. tepi kanan-kiri. d) Kata konkret. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. penyimpangan sintaksis. dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. penggunaan dialek. yaitu. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal. maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. keselarasan bunyi. yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi katakata. dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). penyimpangan semantis. menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan. yaitu. 19987:68-69). penyimpangan leksikal. c) Imaji. yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. dan urutan kata. yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi. seperti. mendengar. imaji suara (auditif).Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut: a) Tipografi (perwajahan puisi). yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan . penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno). dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik). penyimpangan fonologis. penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu). pengaturan barisnya. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna.

(1) onomatope (tiruan terhadap bunyi. satire. bumi. ironi.). 2. (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi. antitesis. sajak penuh. anafora.. klimaks. 1987:83). dll. Misal kata konkret “salju”: melambangkan kebekuan cinta. hingga paradoks. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi. pleonasme.4 Analisis Struktur Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil dan Anjangsana Dibawah ini merupakan salah satu analisi struktur puisi Senja Di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar : SENJA DI PELABUHAN KECIL Buat Sri Aryati . litotes. sinekdoke. antiklimaks. panjang pendek. artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo. simile. misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C. e) Bahasa figuratif. kehampaan hidup. metafora. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. dan sebagainya [Waluyo. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi. 1986:128). Bahasa figuratif disebut juga majas. asonansi. eufemisme. kehidupan. personifikasi. ritme. totem pro parte. 187:92]). pars pro toto.B. persamaan akhir. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis. dan metrum. persamaan awal. tempat hidup.munculnya imaji. Ritma merupakan tinggi rendah. yaitu menyangkut rima. dan akhir baris puisi. tengah. repetisi bunyi [kata]. sedangkan kata konkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor. alusio. baik di awal. sajak berselang. repetisi. sajak berparuh. yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito. keras lemahnya bunyi. Rima mencakup. Adapaun macam-macam majas antara lain. f) Versifikasi. dll. dan (3) pengulangan kata/ungkapan.

Diksi (pilihan kata) Pilihan kata banyak mengunakan kata-kata yang bernada muram. Struktur Fisik Puisi 1. tidur. Berjalan Menyisir semenanjung. perahu tiada yang berlaut.dipantulkan oleh kata-kata: gudang. ada juga kelepak elang Menyinggung muram. ujung dll. kelam. pada cerita Tiang serta temali. laut. 2.desir hari lari berenang Menemu bujuk pangkal akanan. sedu penghabisan bisa berdekap (Chairil Anwar. rumah tua . rumah tua. Tiada lagi.1946) A. hilang ombak. Tidak bergerak dan kini. tanah. air tidur. aku sendiri. hilang ombak. temali. masih penggap harap Sekali tiba di ujung dan sekali selamat jalan Dari pantai keempat. Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Pengimajinasian(imagery/pencitraan) Penggunaan kata-kata yang digambarkan atas bayangan konkret apa yang .Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang-gudang. tiang . Kapal.

metrum) Masih mengikuti pola lama. rumah tua .kita hayati secara langsung melalui pengindraan manusia. Tipografi(tata wajah) Mengunakan tipografi puisi konvenional dengan dilengkapi enyambemen . ”perahu tiada berlaut” melambangkan hati yang tiada keceriaan dankegembiraan karena kehilangan cinta. pada cerita ( imaji visual penglihatan.) 3. gerimis mempercepat kelam. Versifikasi(rima. Ritma barupa ikatan yang mengikat bait dengan menggunakan keterangan kalimat. Rima akhir setiap bait( /ta-ta-ut-ut(abab) dan (/ang-ang-ak-ak(aabb). Pada bait pertama menggunakan frasa/ini kali/ pada bait kedua menggunakan/gerimis/ pada bait ketiga menggunakan /tiada lagi). 6. kelepak elang menyinggung kelam. 4. Kata pengikat tersebut memunculkan gelombang irama baru. maka penyair mengkonkretkan kata-kata seperti: sepi yang mencekam. Majas(bahasa figuratif) Gaya bahas hiperbola ditemukan pada kalimat ”dari pantai keempat sedu penghabisan bisa terdekap”. 5. Di antara gudang-gudang. Kata konkret( penyebab terjadinya imaji) Untuk melukiskan dan menumbuhkan imajinasi dalam daya bayang pembaca. Kata ”senja” melambangkan berpisahnya suatu hubungan percintaan. kapal tiada berlaut.ritma. dan pada bait ketiga rima akhir berubah menjadi (abab).

B. kelam.berupa titik ditengah baris yang menunjukan bahwa gagasan pada suatu baris dalam puisi masih berlanjut pada baris berikutnya. maka struktur tematik/struktur intaksis sebagai berikut: Bait I Penyair merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. 2. Ratap tangis menggema sampai pantai keempat. sehingga kelepak elang dapat didengar. Jika diuraikan bait demi bait. Struktur batin puisi 1. desir hari lari berenang. Ada juga kelepak elang menyinggung muram. Gerimis mempercepat kelam. Tema : Bertema tentang kedukaan karena kegagalan cinta atau cinta yang gagal sehingga menimbulkan kedukaan. Harapan bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam tetapi harus dilupakan karena cintanya tinggal bertepuk sebelah tangan dan menimbulkan kelukaan yang dalam Bait III Setelah mendengar Sri Ayati bahwa ia telah membunyai seorang suami hingga harapannya di pertegas dengan “sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan”. Nada : . Kenangan cinta sangat memukul hatinya sehingga hatinya mati setelah orang yang di cintainya pergi seperti kapal yang tidak berlaut hidupnya tiada berarti Bait II Duka hati penyair menambah kelemahan jiwa karna sepi.

3. dan kesendirian itu disebabkan oleh kegagalan cintanya dengan Sri Aryati. Harapan untuk mendapatkan perempuan pujaannya diumpamakan sebagai ”pelabuhan cinta”. Sedangkan dibawah ini merupakan contoh analisis puisi Anjangsana karya Murdani Tulqadri : ANJANGSANA Oleh: Murdani Tulqadri Sebuah rinud. 4. Rindu begitu renjana… Kepada sang kekasih bergelar sanak di sudut kota sana Bersarang di pojok-pojok jiwa Balig bahkan sudah tua Renta dan begitu sengasara karena cinta Hanya ada sebuah penawar . . Cinta yang sungguh-sungguh akan menyebabkan seseorang menghayati apa arti kegagalan secara total. Amanat : Penyair inggin mengungkapkan kegagalan cintanya yang menyebabkan seseorang seolah-olah kehilangan segala-galanya. kesepian. kedukaan. karena lukanya benar-benar sangat dalam. Bahkan sedu tangisnya menggumandang sampai ke pantai keempat karena kegagalan cintanya. Perasaan : Perasaan penyair pada waktu menciptakan puisi merasakan kesedihan.Penyair menceritakan kegagalan cintanya dengan nada ratapan yang sangat mendalam.

ini bukan persoalan mengapa dan siapa! Hanya sebuah anjangsana Lalu… hilang sudah duduk perkara Ketika paras-paras telah saling berhadapan Pucuk-pucuk rindu mulai layu Berganti bianglala di langit-langit hati Saling berceloteh mengumbar kasih… Air muka lalu menjadi begitu suci Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati Hanya sebuah anjangsana Lalu… sudah hilang semua perkara Hingga musim semi yang dinanti… tiba… melukis rona merah di hati 28 Oktober 2012 Di peraduan sanak .Bagi sengsara yang juga konsekuensi desir rasa Anjangsana ianya Ah.

dankekasih bergelar sanak yang menandakan bahwa ia begitu rindu bahkan sangat rindu kepada keluarganya. Seluruh bait dan baris mengungkapkan tema kerinduan. . renjana. Hal tersebut dapat kita temukan apabila meneliti bait demi bait puisi di atas dan kita akan menemukan jawaban yang dikemukakan penyair sebagai berikut: 1. 3. Bait III: menceritakan cara mengatasi kerinduan yang sudah menyesakkan dada tersebut. “Pucuk-pucuk rindu mulai layu” berarti rindu mulai memudar dan terobati. Kerinduan itu dapat kita tangkap lewat penggunaan bahasanya. dan anjangsana sudah cukup bagi pembaca untuk mengerti langkah yang akan dilakukan oleh sang penyair untuk mengobati kerinduannya. Bait V: menceritakan keadaan yang akan terjadi setelah anjangsana dilakukan. sengsara. Bait II: menceritakan gambaran rindu tersebut yang telah dipendam oleh sang penyair. Adanya penggunaan tanda baca berupa titik dan tanda seru di tengah dan di akhir puisi menunjukkan perbedaan puisi tersebut dari puisi lama.1. Struktur Global Puisi di atas adalah puisi modern namun bentuk puisinya mirip dengan puisi baru dengan klasifikasi tersina (3 baris). Puisi di atas terdiri dari tujuh bait dan tiap-tiap bait terdiri dari tiga baris. namun “apa” yang mesti dilakukan sang penyair. Dengan anjangsana tersebut maka hilang sudah semua derita sang penyair karena bukan persoalan “mengapa” dan “siapa” yang menjadi pertanyaan. Solusi tersebut berupa anjangsana yang berarti kunjungan untuk melepas rindu kepada keluarganya. 5. 2. Diksi-diksi sepertipenawar. Kerinduan kepada siapa? Kerinduan terhadap keluarganya. Bait I: sudah menceritakan alasan puisi tersebut diciptakan. Bait IV: mempertegas bahwa anjangsana memang satu-satunya jalan untuk mengobati kerinduan yang sudah mengakar kuat dan menumbuhkan derita yang begitu perih. 4. Baris yang berbunyi “ Bersarang di pojok-pojok jiwa” dan “Balig bahkan sudah tua” menceritakan bahwa rindu itu telah begitu lama dipendam oleh penyair yang sudah sedemikian menderitanya karena hal tersebut. Dia tidak termasuk puisi baru karena sudah terlepas dari rima (ciri puisi lama) yang masih terasa pada puisi baru. “Ketika paras-paras telah saling berhadapan” berarti ketika sang penyair telah bertemu dengan keluarganya. Itu diperjelas lagi dibaris berikutnya. Penyair telah memasukkan diksi rindu. “Berganti bianglala di langit-langit hati” berarti rindu tersebut sudah berganti menjadi kebahagian di dalam hati penyair. Gaya bahasa yang berhubungan dengan suasana hati seorang manusia yang dilukiskan oleh penyair membantu mengungkapkan tema kerinduan tersebut.

Diksi yang digunakan penyair adalah kata-kata yang bernada muram (pada saat mengambarkan kerinduan) dan cerah (ketika kerinduan mulai terobati dengan anjangsana). Diksi tentang kemuraman itu seperti: rindu. Bait VII: mempertegas bahwa anjangsanalah yang benar-benar merupakan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah kerinduan yang kronis yang penyair hadapi.suci. 7. bianglala.sebagian kata-kata tersebut jarang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. “Saling berceloteh mengumbar kasih…” berarti sang menceritakan segala hal yang ia rasakan dan pengalamannya kepada keluarganya hingga menimbukan cinta kasih di antara mereka. dansengsara yang hampir semuanya dipantulkan kepada perasaan di hati. 2.6. “Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati” berarti perasaan bahagia yang besar yang telah penyair rasakan. Puisi “Anjangsana” cukup mudah dipahami bahasanya. Ketika hal itu dilakukan. bahagia. Analisis Struktur Fisik Secara sepintas lalu dapat kita rasakan bahwa puisi di atas mempunyai kepaduan dan harmoni antara struktur fisik dan struktur batin. dan rona merah yang juga berhubungan dengan gambaran hati yang bahagia. renta. Bahasa yang digunakan penyair dalam puisinya sebenar cukup jelas. Sedangkan diksi tentang kecerahan tersebut seperti: penawar. Namun diksi-diksi yang digunakan penyair adalah diksi yang tidak biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan cenderung memiliki nilai estetis. . Kata-kata tersebut jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ini dipertegas lagi dengan pelukisanpelukisan keadaan dalam puisi tersebut yang dilakukan oleh penyair yang menambah nilai keindahan puisi tersebut. Wajahnya yang mungkin dahulu sayu kini berganti cerah dan bersinar. “Air muka lalu menjadi begitu suci” menandakan bahwa paras wajah penyair yang begitu mengalami perubahan setelah bertemu dengan keluarganya. musim semi. maka sang penyair akan benar-benar merasakan kebahagian yang luar biasa seperti yang ia gambarkan secara umum dalam puisinya. Bait VI: menceritakan suasana lanjutan ketika sang penyair telah berkumpul dengan keluarganya. renjana. anjangsana. kasih.

.renta. Sejauh yang kita ketahui.(ke terangan waktu) Hingga musim semi…………………………………………………………………. Sebagai contoh: Rindu begitu renjana… Kepada sang kekasih bergelar sanak di sudut kota sana Bersarang di pojok-pojok jiwa Balig bahkan sudah tua Renta dan begitu sengasara karena cinta Penggunaan perumpamaan yang dilakukan penyair juga menimbulkan daya sugesti seperti bersarang.Karena bernada muram dan cerah. Penggunaan kata-kata dengan vokal akhir /a/ menyugesti pembaca untuk merasakan kerinduaan yang dirasakan oleh penyair.. Diksidiksi tersebut pun juga menggambarkan keadaan rindu yang dialami oleh penyair. Sebagai bukti: Sebuah rindu… …………………………………………………………………………(keterangan keadaan) Rindu begitu renjana…………………………………………………………………(keterangan keadaan) Bersarang di pojok-pojok jiwa…………………………………………………. penggunaan dan perpaduan diksi dalam puisi “Anjangsana” adalah khas . dan sengsara juga menimbulkan daya sugesti.(keterangan tempat) Lalu… ……………………………………………………………………………………. pojok-pojok jiwa. maka keterangan kalimat ditempatkan hampir di setiap baris sebagai penggambaran makna puisi.(keterangan waktu) Kata-kata yang digunakan penyair juga menimbulkan sugesti pada pembaca.

sangat dalam dan menutup perasaan itu dengan syair: Renta dan begitu sengasara karena cinta. penulis juga memasukkan imaji auditif sehingga pembaca seolah mendengar bunyi tersebut. Perasaan rindu penyair diperkonkret dengan pernyataan berikut: Sebuah rindu/ Rindu begitu renjana/ Bersarang di pojok-pojok jiwa/Balig bahkan sudah tua/ Renta dan begitu sengasara karena cinta. Lambang-lambang yang digunakan tidak mencontoh penyair sebelumnya dan diungkapkan secara hidup serta tidak mengganggu keharmonisan komposisi puisinya. Namun. Bagaimana bayangan kita apabila rindu tersebut sudah menjadi renjana? penyair telah merasakan rindu yang begitu dalam. . Kata kongkrit tersebut menimbulkan pengimajian dalam bayangan pikiran pembaca. Bahasa figuratif yang digunakan oleh penyair tidak terlalu sulit untuk dimengerti pembaca dan tidak mengganggu pemahaman makna puisi.ciptaan penyair dan bukan merupakan jiplakan dari ciptaan penyair lain. Dengan demikian. penulis lebih banyak memasukkan unsur visual ke dalam puisinya seperti: Lalu… sudah hilang semua perkara/ Hingga musim semi yang dinanti… tiba… melukis rona merah di hati. Kemudian penyair menggambarkan bahwa sebuah pertemuan lewat lawatannya kepada orang yang dirindukan. penyair seakan-akan menginginkan pembaca untuk merasakan apa yang dirasakan olehnya dengan visualisasi. Pengimajian dan kata kongkret yang digunakan oleh penyair tidak memperkabur makna puisi yang hendak disampaikan. Daya sugesti yang diciptakan oleh ungkapan-ungkapan tersebut juga cukup besar. Penyair pun menginginkan kita merasakan kebahagian ketika bertemu dengan orang yang kita cintai. Ungkapan-ungkapan yang digunakan Murdani Tulqadri begitu segar dan bernilai estetis yang tinggi dan digambarkan dengan kiasan-kiasan yang menghidupkan suasana. Perasaan rindu penyair dilukiskan begitu dalam dan mencekam. Dengan larik-larik tersebut. Penyair ingin kita merasakan rindu seperti yang ia gambarkan. puisi tersebut memantulkan kerinduan dan kebahagian—ketika rindu telah terobati dengan anjangsana—yang diungkapkan dengan gaya khas Murdani Tulqadri. Dan begitu gembiranya penyair hingga menyusun larik indah berbunyi: Pucuk-pucuk rindu mulai layu/ Berganti bianglala di langitlangit hati. Imaji tersebut seperti pada baris: Saling berceloteh mengumbar kasih. Ia menggambarkannya imaji visual tersebut dengan larik seperti: Ketika paras-paras telah saling berhadapan. Selain itu.

misalnya: Ah. dan bait ketujuh memiliki pola a-a-b. pada bait ketiga digunakan kata /hanya/. Pada bait pertama digunakan frasa /sebuah ridu/. Bait pertama. pada bait keempat digunakan kata ekspresi /Ah/. yakni tema kerinduan terhadap keluarga. Adanya titik dan tanda seru di tengah dan akhir baris menunjukkan bahwa gagasan pada suatu baris dilanjutkan dengan baris berikutnya. Setiap bait puisi itu diikat dengan kata pengikat sehingga pada permulaan bait seakan muncul sebuah gelombang irama baru. Gaya bahasa hiperbola kita jumpai pada kalimat “Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati” dan kalimat pelukisan lainnya yang ternyata mampu memberikan gambaran yang tepat tentang kebahagiaan penyair. Kata “bianglala” melukiskan kebahagiaan yang dirasakan oleh penyair apabila ia bertemu dengan orang yang ia kasihi yang bagai bianglala begitu indah di angkasa. namun ia tidak termasuk puisi lama karena struktur lainnya tidak sama. Begitu pula dengan “rona merah” yang berarti kecerahan hati penyair apabila bahagia. bait kelima memiliki pola a-b-c. dan enam memilki pola a-a-a. Walaupun sebagaian besar mengikuti pola syair (puisi lama) yaitu a-a-a. Ritma puisi berupa ikatan yang mengikat bait dengan menggunakan keterangan kalimat. pada bait kelima digunakan kata /ketika/. dan pada bait ketujuh digunakan kata /hanya/. empat. Kerinduaan hati penyair sangat dalam. kedua. Pola rima akhir pada tiap-tiap bait tersebut memang ada yang sama namun tak sedikit yang berbeda hingga puisi di atas tidak digolongkan sebagi puisi lama. Struktur Batin Puisi Secara sepintas telah diinterprestasikan tema puisi ini.Kata “renta” mengambarkan bahwa kerinduan penyair telah lama ia pendam dan menyisakan sengsara berkepanjangan apabila ia tidak diobati segera. pada bait kedua digunakan kata /gerimis/. Hal ini dapat dibuktikan setelah kita . ini bukan persoalan mengapa dan siapa!/Saling berceloteh mengumbar kasih…/Air lalu menjadi begitu suci/Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati muka 3. pada bait keenam digunakan kata /saling/. Versifikasi dalam puisi ini mengitu pola puisi komporer. sedangkan bait ketiga memiliki pola b-a-a. Tipografi puisi “Anjangsana” adalah tipografi puisi kontemporer. Gagasan-gagasan yang beruntun dikumukakan dalam satu baris.

bahwa rindu itu telah membuatnya menderita berkepanjangan. bahwa raut wajahnya akan kembali cerah. Nada dan Suasana puisi ini adalah nada dan suasana bercerita dengan mengungkapkan perasaan sedih dan bahagianya. Kemudian penyair menggambarkan pula kebahagian yang akan ia rasakan tatkala bertemu dengan keluarganya yang begitu amat bahagia. Penyair pun menceritakan kebahagian yang akan memupuskan kerinduan dan penderitaan tersebut. dan struktur sintaksis dari puisi ini mendukung kerinduan penyair yang mendalam. Amanat puisi menyatakan bahwa penyair ingin mengungkapkan rasa rindunya yang begitu dalam yang menyebabkan ia menderita dan juga penyair ingin menceritakan rasa bahagianya . Diksi.menelaah struktur bahasa penyair. Kerinduan itu digambarkan begitu dalam dan telah lama berada di dalam hati sang penyair. Perasaan penyair pada waktu menciptakan puisi ini dapat kita rasakan juga sewaktu mambahas bait demi bait. Begitulah rindu penyair kepada keluarganya. pemgimajian. Perasaan sedih karena kerinduan dan bahagia apabila bertemu dengan orang yang dicintai begitu jelas digambarkan oleh penyair hingga membuat pembaca ikut merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Dengan demikian. kata kongkrit. bersemangat. majas. dan rasa senang akan selalu menghiasi hatinya. interprestasi tentang tema itu dapat dibenarkan. Rasa rindu kemudian berganti bahagia seperti yang penyair sebut dalam puisinya yang berbunyi “Kemuning bahagia bersandar di dipan-dipan hati”. Penyair menceritakan kerinduannya disertai pelukisan rasa yang begitu jelas.

yang begitu indah apabila telah bertemu dengan orang yang dirindukannya. Dengan begitu. Namun. . obat rindu ialah menemui orang yang dirindukan. Kerinduan itu dapat membuat orang menderita dan dapat mengacaukan hal yang kita perbuat. maka rindu akan berubah menjadi rasa bahagia yang selalu menghiasi hati dan berbagi kasih dengan orang yang dirindukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful