Home

Tentang Kami

Daftar Agen

Kontak

Download

[101] Agar Anak tak Jadi Korban Pelecehan
Thursday, 04 April 2013 17:47 Penjahat kelamin tak pandang bulu membidik korban. Malah, belakangan ini anak-anak yang kerap jadi sasaran. Maklum, mereka adalah individu yang masih polos dan tak berdaya menghadapi orang dewasa. Apalagi di bawah ancaman orang yang dikenal dekat, seperti guru, paman, kakek, atau ayah kandungnya. Tentunya kita tak ingin anak-anak terus menjadi korban. Pasalnya, pelecehan seksual berdampak besar terhadap psikologis anak, karena mengakibatkan emosi yang tidak stabil. Anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual akan mengalami sejumlah masalah, seperti: kehilangan semangat hidup, membenci lawan jenis, dan punya keinginan untuk balas dendam. Nah, berikut cara-cara untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak: Jalin Komunikasi Intensif Orang tua wajib membuka komunikasi dan menjalin kedekatan emosi dengan anak-anak. Sempatkanlah bermain bersama mereka, bercengkerama dan berdialog tentang keseharian mereka. Kedekatan emosional ini penting untuk membangun rasa aman dan nyaman, serta memupuk rasa percaya diri anak. Tanamkan Soal Tubuh Orang tua wajib memberikan pengertian kepada anak-anak tentang tubuh mereka, terutama terkait dengan batasan aurat. Pahamkan pula tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang lain terhadap bagian tubuhnya. Misalnya, anak diberi pengertian bahwa kalau ada orang lain yang mencoba mencium pipi misalnya, jangan diperbolehkan. Apalagi orang lain yang tidak dikenal. Ajak Menutup Aurat Jika sang anak sudah melewati usia balita, ajarkan bersikap malu bila telanjang. Ajarkan sedini mungkin untuk menutup aurat. Memang, menutup aurat bukan jaminan tidak dilecehkan, namun setidaknya dengan menutup aurat anak tidak menjadi pemicu mencuatnya syahwat. Sebaiknya anak memiliki kamar sendiri. Lalu, ajarkan pula untuk selalu menutup pintu dan jendela bila tidur. Pahamkan Tentang Mahram Pahamkan pada anak tentang mahram dan non mahram, serta bagaimana bersikap terhadap mereka. Termasuk, kenalkan kepada anak mengenai perbedaan antara orang asing, kenalan, teman, sahabat, dan kerabat. Misalnya, orang asing adalah orang yang tidak dikenal sama sekali. Terhadap mereka, si anak tak boleh terlalu ramah, akrab, atau langsung memercayai. Kerabat adalah anggota keluarga yang dikenal dekat. Meski terhitung dekat, sebaiknya sarankan kepada anak untuk menghindari situasi berduaan saja. Jaga Pergaulan Anak Beri pengertian pada anak, batas-batas pergaulan yang boleh dan tak boleh. Mungkin saja anak terlalu akrab dengan teman lawan jenis. Meski ia belum baligh, tetap harus dijaga. Jangan sampai mengajak teman beda lawan jenisnya main di kamar misalnya. Pantau pula di mana aktivitas anak, usahakan agar tidak sendirian di tempat yang rawan atau berdua-duaan dengan lawan jenis.[](kholda)

SEARCH search...
Search

SEBARKAN ARTIKEL INI:

RUBRIK MEDIA UMAT
Anjangsana Aspirasi Bisnis Syariah Cermin Editorial Ekonomi Fokus Headline News Hikmah Konsultasi Kristologi Mancanegara Media Daerah Media Nasional Media Utama Mercusuar Muslimah News Dalam Negeri News Luar Negeri Opini Salam Redaksi Siyasah Syariyyah Sosok Telaah Wahyu Ustadz Menjawab Wawancara

Anjangsana Aspirasi Bisnis Syariah Ekonomi Editorial Cermin Fokus Media Nasional Media Utama Mercusuar Muslimah News Dalam Negeri

Headline News Hikmah Konsultasi Kristologi Mancanegara Media Daerah News Luar Negeri Opini Salam Redaksi Siyasah Syariyyah Sosok

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful