BAB I PENDAHULUAN

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan akan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target. Krisis hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah (TD) >180/120 mmHg dengan kemungkinan akan terjadinya gangguan organ atau telah terjadi gangguan organ. Krisis HT berupa TD yang sangat tinggi (umumnya TD diastolik > 120 mmHg) dan menetap pada nilainilai yang tinggidan terjadi dalam waktu yang singkat dan menimbulkan keadaan klinis yang gawat. Hipertensi krisis biasanya terjadi pada pasien yang tidak mendapat terapi antihipertensi atau mendapat terapi antihipertensi tetapi adequate. The Seventh Report of the Joint National Comitte on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) membagi krisis HT ini menjadi 2 golongan yaitu: hipertensi emergensi (darurat) dan hipertensi urgensi (mendesak). Hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi perlu dibedakan karena dalam penatalaksanaannya sangat berbeda. Hipertensi emergensi ditandai dengan kelainan / kerusakan pada organ target yang bersifat progresif sehingga tekanan darah harus diturunkan dengan segera ( dalam menit sampai jam) agar dapat mencegah atau membatasi kerusakan target organ yang telah terjadi, sedangkan pada hipertensi urgensi tidak terdapat kelainan / kerusakan pada organ target yang bersifat progresif sehingga penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari). Angka kejadian krisis HT menurut laporan dari hasil penelitian dekade lalu di negara maju berkisar 2 – 7% dari populasi HT, terutama pada usia 40 – 60 tahun dengan pengobatan yang tidak teratur selama 2 – 10 tahun. Angka ini menjadi lebih rendah lagi dalam 10 tahun belakangan ini karena kemajuan dalam pengobatan HT, seperti di Amerika hanya lebih kurang 1% dari 60 juta penduduk yang menderita hipertensi. Di Indonesia belum ada laporan tentang angka kejadian ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful