You are on page 1of 6

DAMPAK PENGKAJIAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI NUSA TENGGARA BARAT

Moh. Nazam, Prisdiminggo dan Arief Surahman Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB

ABSTRAK
Pengkajian budidaya rumput laut, telah dilaksanakan pada bulan Juli 1996 s/d Maret 1997 di Teluk Serewe dan April 1997 s/d Maret 1998 di Teluk Ekas, Kabupaten Lombok Timur. Pengkajian ini bertujuan mendapatkan komponen atau paket teknologi budidaya rumput laut ( E. cottonii) yang mampu meningkatkan produksi pada kondisi biofisik dan sosial ekonomi spesifik lokasi. Pengkajian di Teluk Serewe, menghasilkan rekomendasi paket teknologi budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii), yaitu ukuran rakit dan waktu tanam yang tepat. Pengkajian di Teluk Ekas, menghasilkan rekomendasi paket teknologi budidaya rumput laut (Eucheuma cottonii), yaitu ukuran rakit, waktu tanam dan pengelolaan usaha berkelanjutan. Untuk mengetahui sejauhmana rekomendasi paket teknologi yang dihasilkan telah diterapkan oleh masyarakat, maka pada awal Januari 2004 dilakukan survei dampak pengkajian budidaya rumput laut di NTB, bertujuan : (a) menganalisis tingkat penerapan komponen atau paket teknologi budidaya rumput laut oleh masyarakat; (b) menganalisis dampak teknis, sosial dan ekonomi usaha budidaya rumput laut di tingkat nelayan. Hasil analisis menunjukkan : (a) tingkat penerapan teknologi budidaya rumput laut di NTB telah mencapai 42%, di antaranya 83,75% nelayan menerapkan ukuran rakit sesuai dengan rekomendasi; 46,25% menerapkan waktu tanam; 17,5% menerapkan umur bibit dan 20% menerapkan bibit sendiri. (b) secara teknis komponen teknologi yang direkomendasikan mudah diterapkan, secara sosial memberikan peluang kerja bagi anggota keluarga yang bersifat produktif dan secara ekonomis memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga sebesar Rp.2.586.000/tahun (24,50%). Kata kunci : dampak, teknis, sosial, ekonomi

PENDAHULUAN
Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Propinsi Nusa Tenggara Barat. Selain memiliki potensi areal budidaya yang cukup luas sekitar 5.190 ha, juga karena permintaan pasar komoditas ini cukup baik dan teknologinya relatif mudah diterapkan oleh masyarakat nelayan dengan sosial ekonomi rendah. Permintaan dan harga rumput laut dalam lima tahun terakhir meningkat secara signifikan. Perkembangan produksi rumput laut NTB dan harga di tingkat nelayan, seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan produksi rumput laut dan harga di tingkat nelayan 1996-2001 di NTB Tahun 199 6 199 7 199 8 199 9 200 0 200 1 Produksi (ton) 16.099,00 16.109,00 25.126,00 21.052,40 21.348,90 22.951,40 Harga di tingkat nelayan (Rp/kg kering) 800 2.000 5.500 4.500 4.000 3.500 Nilai total (Rp000) 12.879.200 32.218.000 138.193.000 84.209.600 96.070.050 80.329.900 0.06 55.97 -16.21 1.41 7.51 peningkatan/ penurunan (%)

Sumber : Data diolah 2004.

Berpluktuasinya harga rumput laut yang diterima nelayan disebabkan oleh berpluktuasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebagai dampak krisis moneter. Meningkatnya nilai dollar terhadap rupiah justru meningkatkan harga rumput laut, mengingat komoditas ini adalah komoditas

ekspor. Dengan demikian dalam situasi krisis moneter usaha budidaya rumput laut masih memberikan keuntungan. Dalam upaya mengembangkan usaha budidaya rumput laut yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi nelayan di NTB, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Mataram melakukan pengkajian budidaya rumput laut E. cottonii selama 2 tahun, yaitu pada bulan Juli 1996 s/d Maret 1997 di Teluk Serewe dan April 1997 s/d Maret 1998 di Teluk Ekas, Kabupaten Lombok Timur. Pengkajian ini bertujuan mendapatkan komponen atau paket teknologi budidaya rumput laut (E. cottonii) yang mampu meningkatkan produksi pada kondisi biofisik dan sosial ekonomi spesifik lokasi. Hasil pengkajian di Teluk Serewe menunjukkan : budidaya rumput laut E. cottonii menggunakan rakit terapung ukuran 10 m x 10 m, memberikan laju pertumbuhan dan produktivitas tertinggi di lokasi tersebut. Waktu tanam yang optimal adalah bulan April s/d September. Sedangkan hasil pengkajian di Teluk Ekas menunjukkan : budidaya rumput laut menggunakan rakit terapung ukuran 5 m x 5 m dan 5 m x 10 m, memberikan laju pertumbuhan dan produktivitas tertinggi dengan waktu tanam yang optimal adalah April s/d September. Teknologi hasil pengkajian di kedua lokasi tersebut telah direkomendasikan oleh Komisi Teknologi Pertanian NTB, sesuai SK. Kepala Kanwil Departemen Pertanian NTB/Ketua Komisi Teknologi Pertanian, Nomor 1687/LB.430/VI/98, tanggal 11 Juni 1998. Hasil pengkajian tersebut telah dikomunikasikan melalui berbagai media komunikasi, antara lain seminar, temu lapang, temu informasi, temu aplikasi teknologi pertanian dan media elektronik maupun media cetak. Untuk mengetahui sejauhmana rekomendasi paket teknologi yang dihasilkan telah diterapkan oleh masyarakat baik di lokasi pengkajian maupun di luar lokasi pengkajian, telah dilakukan survei dampak pengkajian budidaya rumput laut di sentra-sentra produksi, bertujuan : (a) mengidentifikasi dan mengnalisis tingkat penerapan komponen atau paket teknologi rekomendasi oleh masyarakat;(b) menganalisis aspek teknis, sosial dan ekonomi usaha budidaya rumput laut di NTB.

BAHAN DAN METODE


Survei dilaksanakan di Dusun Serewe (Teluk Serewe), Dusun Ekas dan Batunampar (Teluk Ekas), dan Dusun Grupuk (Teluk Gerupuk) pada awal Januari 2004. Lokasi tersebut merupakan sentra produksi rumput laut di NTB. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei deskriptif. Responden ditentukan secara proporsional random sampling, dengan jumlah sampel 10% di masingmasing lokasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam ( indept interview), dan observasi. Untuk mempermudah pengutipan data, digunakan kuisioner semi terstruktur. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan desk study, konsultasi dengan dinas instansi terkait, swasta dan tokoh masyarakat. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tingkat penerapan teknologi Proses penerapan (adopsi) suatu teknologi merupakan proses komunikasi dari sumber teknologi kepada pengguna. Kemampuan pengguna untuk menyerap/menerima informasi yang disampaikan berbeda satu sama lain. Menurut Samsuddin (1997) adopsi adalah suatu proses yang dimulai dari keluarnya ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua sampai diterimanya ide tersebut oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Seseorang menerima hal baru melalui tahapan-tahapan yang disebut proses adopsi, yang dimulai dari tahap kesadaran, minat, penilaian, mencoba dan adopsi. Dalam tahap adopsi ini pengguna teknologi sudah menerapkan teknologi yang dianjurkan. Hasil identifikasi tingkat penerapan teknologi rekomendasi budidaya rumput laut di sentra produksi, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

Grafik 1. Tingkat penerapan rekomendasi teknologi budidaya rumput laut di NTB tahun 2004
90

Tingkat penerapan

80 70 60

(%)

50 40 30 20 10 0

Serewe

Bt. Nampar Lokasi

Ekas

Gerupuk

Ukuran rakit

Waktu tanam

Umur bibit

Bibit sendiri

Hasil survei (Gambar 1), menunjukkan bahwa 83,75% nelayan menerapkan ukuran rakit sesuai rekomendasi; 46,25% menerapkan waktu tanam sesuai rekomendasi; 17,5% menerapkan umur bibit dan 20% menerapkan bibit sendiri. Ukuran rakit 10 m x 10 m banyak diterapkan oleh nelayan di Serewe, Ekas dan Gerupuk; sedangkan ukuran rakit 5 m x 5 m dan 5 m x 10 m banyak diterapkan oleh nelayan di Batunampar. Penerapan awal tanam April/Mei pada umumnya dilakukan oleh nelayan di Batunampar, Ekas dan Gerupuk, sedangkan di Serewe awal tanam umumnya dilakukan pada bulan Juni/Juli. Perbedaan penerapan awal tanam umumnya disebabkan karena sulitnya memperoleh bibit pada awal tanam, karena rata-rata bibit awal diperoleh dengan membeli bibit pada nelayan yang menanam lebih awal. Bagi nelayan yang menggunakan bibit sendiri, awal tanam tidak masalah, dan umumnya telah menyiapkan bibit sejak Januari. Bahkan beberapa nelayan di Batunampar menanam rumput laut sepanjang tahun. Penggunaan bibit umur 25 30 hari masih rendah, yaitu hanya 17,5%, disebabkan karena nelayan lebih banyak menggunakan bibit umur tua (umur 40-50 hari) yang dibeli dari nelayan di sekitarnya, yaitu sekitar 82,5%. Penggunaan bibit umur tua ini terutama dilakukan oleh nelayan yang biasa membeli bibit, karena umumnya nelayan bersedia menjual bibitnya pada umur panen (umur 4050 hari), tidak ada nelayan yang bersedia menjual bibit umur muda. Umumnya nelayan hanya membeli bibit sekali dalam satu tahun, yaitu pada saat tanam pertama, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan bibit musim berikutnya, menggunakan bibit sendiri dari hasil panennya atau pembibitan khusus. Ukuran rakit berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan produktivitas rumput laut. Laju pertumbuhan tertinggi mencapai 4,31% dan produktivitas mencapai 7,33 kg/m2. Ukuran rakit yang optimal di Serewe adalah 10m x 10m, sedangkan di Teluk Ekas 5m x 10m dan 5m x 5m (Nazam, et al, 1998). Pertumbuhan rumput laut memerlukan gerakan/goyangan yang ditimbulkan oleh ombak agar pertukaran air dapat merata ke seluruh permukaan rakit dan mengenai setiap rumpun tanaman. Oleh karena itu ukuran rakit perlu disesuaikan dengan besarnya ombak, agar gerakan/goyangan rakit optimal. Gerakan/goyangan rakit yang terlalu keras akan menyebabkan kerontokan rumput laut. Metode rakit apung sangat cocok dikembangkan pada perairan yang dasarnya terdiri dari karang dan pergerakannya didominasi oleh ombak. Kelebihan dari metode rakit apung dibandingkan dengan metode lain adalah pertumbuhan tanaman lebih baik karena pergerakan air dan intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman cukup baik. Selain itu tanaman lebih aman dari gangguan bulu babi dan pemeliharaan tanaman lebih mudah dilakukan. Waktu tanam berpengaruh pada pertumbuhan rumput laut dan yang optimal adalah April s/d September (Prisdiminggo et al, 1998). Waktu tanam berkaitan erat dengan perubahan iklim dan kondisi perairan. Suhu air yang tinggi dan keadaan ombak yang tenang menyebabkan laju pertumbuhan terhambat. Perubahan lingkungan juga biasanya diikuti oleh serangan penyakit ice-ice, sehingga pertumbuhan tidak normal, warna pucat dan permukaan tanaman ditutupi oleh debu air ( salt) sehingga tallus mudah patah/rontok. Saat terjadinya serangan ice-ice berbeda antar daerah. Serangan ice-ice di teluk Serewe dan Ekas terjadi pada bulan September akhir Januari. Pada musim penghujan

sering terjadi blooming lumut yang menutupi permukaan tanaman sehingga mengurangi penetrasi cahaya dan pesaing dalam mendapatkan zat makanan sehingga tanaman berwarna pucat, pertumbuhan terhenti dan akhirnya rontok. Lembaga Penelitian Perikanan Laut Indonesia (1975) dalam Sugiarto, et al (1983), menemukan bahwa terdapat suatu variasi musim pertumbuhan E. spinosum yang dibudidayakan di Pulau Samaringa, Sulawesi Tengah. Variasi pertumbuhan tersebut erat hubungannya dengan keadaan ombak atau pergerakan air. Makin besar pergerakan air makin cepat perkembangan pertumbuhannya. Hal ini terjadi pada bulan Desember dan Januari. Keadaan laut yang tenang bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Mubarak, (1991), mengamati bahwa di Pulau Seribu air laut sangat tenang terjadi antara bulan Maret-Juni, sedangkan di Bali air laut sangat tenang terjadi pada bulan April-Agustus. Selanjutnya Ismail (1992) mengemukakan bahwa produksi yang dihasilkan dari budidaya rumput laut salah satunya ditentukan oleh laju/tingkat pertumbuhan (growth rate). Laju pertumbuhan per hari sangat ditentukan oleh sesuai atau tidaknya perairan tersebut bagi kehidupan tanaman. Salah satu faktor terpenting adalah cukup kuat tidaknya gerakan air/arus yang berfungsi sebagai pembawa makanan/zat hara tanaman. Kondisi perairan yang optimum untuk budidaya E. spinosum adalah kecepatan air sekitar 20-40 cm per detik, dasar perairan cukup keras tidak berlumpur, kisaran salinitas 28-34 ppt (optimum 33 ppt), suhu air berkisar 20-28 oC dengan fluktuasi harian maksimal 4oC, kecerahan tidak kurang dari 5 m, pH antara 7,3 - 8,2 (Foscarini, et al, 1990; Cholik, 1991; Ismail, 1992). Pengelolaan budidaya dengan menyediakan bibit yang dihasilkan sendiri memberikan beberapa keuntungan antara lain dapat diperoleh bibit yang berkualitas sehingga produktivitas meningkat dan tingkat ketergantungan dengan nelayan lain dapat dikurangi dan menekan biaya usahatani khususnya biaya bibit yang tinggi (Nazam et al, 1998). Rakit bibit harus terpisah dari rakit budidaya. Umur bibit yang baik 25-30 hari. Sedangkan panen untuk dikeringkan pada umur 45-50 hari. Perlu diatur waktu penanaman untuk rakit bibit dan rakit usaha sedemikian rupa, sehingga bibit selalu tersedia pada saat panen rakit usaha. Untuk itu penanaman untuk bibit dilakukan 10-15 hari sesudah penanaman rakit usaha. Perbandingan rakit bibit dan rakit usaha yang optimal adalah 1:3 (Nazam et al, 1998). Aspek teknis, sosial dan ekonomis Secara teknis komponen teknologi yang direkomendasikan mudah diterapkan. Kendala penerapan lebih disebabkan oleh faktor sosial terutama pada perubahan perilaku nelayan yang sangat lamban. Teknologi budidaya rumput laut relatif sederhana sehingga dapat dikerjakan oleh anggota rumah tangga nelayan. Pada usaha budidaya rumput laut peranan wanita sangat menonjol. Hampir seluruh tahapan kegiatan dalam proses produksi dapat dilakukan oleh kaum wanita dan bahkan oleh anak-anak (seusia SD), mulai dari kegiatan : memasang tali bibit pada tali ris, mengikat bibit pada tali ris, panen dan penjemuran. Tenaga kerja yang digunakan semaksimal mungkin memanfaatkan tenaga kerja keluarga, hanya pada kegiatan pemasangan tali bibit pada tali ris dan mengikat bibit menggunakan tenaga kerja luar keluarga. Secara ekonomis penerapan teknologi rekomendasi memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara nelayan. Keuntungan penerapan teknologi rekomendasi antara lain : penggunaan bibit lebih bermutu, karena dikelola secara khusus, produktivitas meningkat, tidak perlu membeli bibit dan biaya usahatani dapat ditekan. Untuk melihat dampak ekonomis usaha budidaya rumput laut di tingkat nelayan, salah satu pendekatan yang digunakan adalah pendapatan rumah tangga dalam satu tahun. Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diperoleh seluruh anggota keluarga dari berbagai sumber baik dari usaha pokoknya sebagai nelayan maupun dari luar usaha nelayan dalam satu tahun. Pendapatan rumah tangga dapat digunakan untuk menentukan status kesejahteraan (Bappenas, 2000). Konstribusi pendapatan rumah tangga nelayan dari usaha budidaya rumput laut di Serewe, Batunampar, Ekas dan Grupuk, ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pendapatan rata-rata rumah tangga nelayan budidaya rumput laut di Sentra Produksi, tahun 2004. Sumber pendapatan 1. Penangkapan ikan/udang karang 2. Budidaya rumput laut 3. Lain-lain Jumlah
Sumber : Data primer diolah 2004.

Pendapatan (Rp/th) n=75 4,780,000 2,586,000 3,187,000 10,553,000

% 45.30 24.50 30.20 100.00

Hasil analisis (Tabel 1), menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan rumah tangga nelayan dari usaha budidaya rumput laut di sentra produksi sebesar cukup besar, yaitu Rp.2.586.000/tahun (24,50%). Kontribusi pendapatan terbesar masih diperoleh dari hasil penangkapan ikan/udang (45,30%) dan dari lain-lain sumber, seperti dagang, tukang, jasa angkutan dengan kontribusi cukup besar yaitu 30,20%. Rendahnya pendapatan dari usaha budidaya rumput laut ini disebabkan antara lain : (a) jumlah unit rakit yang diusahakan masih sedikit (belum memenuhi skala usaha); (b) padat penggunaan bibit kurang bermutu (umur tua); (c) harga bibit relatif tinggi (tidak menggunakan bibit sendiri); (d) usaha masih bersifat subsisten dan belum dikelola secara komersial. Hasil analisis mengenai kemampuan nelayan dalam penyediaan modal, sendiri masih rendah (35%), sedangkan 65% masih tergantung dari pinjaman. Umumnya pinjaman modal diberikan oleh pedagang pengumpul dengan syarat harus menjual produksinya kepada pedagang pengumpul yang bersangkutan dengan harga sedikit lebih rendah dibanding yang lainnya. Penggunaan modal yang terbesar pada awal operasi terutama untuk pembelian bahan rakit dan bibit awal yang mencapai harga Rp.80/kg. Pada periode berikutnya petani sudah mampu menyediakan bibit sendiri. Umumnya pengembalian hutang sudah dapat dibayar setelah 1-2 musim tanam. Dari aspek pemasaran hasil dapat dikatakan cukup lancar, hampir tidak dijumpai hambatan yang berarti, karena di masing-masing lokasi terdapat pedagang pengumpul yang siap membeli hasil nelayan pada setiap saat dengan harga yang wajar dan sistem pembayaran kontan. Pendapatan dari rumput laut bervariasi, antara Rp.125.000 s/d Rp.800.000/musim tanam (satu musim = 40-45 hari), tergantung jumlah rakit atau luas usaha yang dikelola. Dalam satu tahun pertumbuhan rumput laut hanya berlangsung dalam 4-5 musim tanam. Status usaha budidaya rumput laut Budidaya rumput laut sudah menjadi bagian dari kehidupan nelayan dan bahkan terjadi pergeseran persepsi nelayan terhadap usaha budidaya rumput laut dari usaha sampingan menjadi usaha pokok. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan nelayan baik sebagai usaha pokok maupun sampingan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Sebagai usaha pokok rata-rata kepemilikan rakit berkisar antara 7-20 unit/KK diterapkan oleh hampir 60% nelayan. Sedangkan sebagai usaha sampingan jumlah rakit yang dimiliki berkisar antara 3-6 unit rakit/KK atau kurang dari 500 m2.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : Komponen teknologi hasil pengkajian telah diadopsi oleh nelayan di lokasi pengkajian maupun di luar lokasi pengkajian. Hal ini mengindikasikan teknologi yang dihasilkan dapat beradaptasi dengan baik sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi spesifik lokasi. 2. Kontribusi pendapatan nelayan dari usaha budidaya rumput laut sebesar 24,50% dari total pendapatan rumah tangga dalam setahun. Rendahnya pendapatan dari usaha budidaya rumput laut ini disebabkan antara lain : (a) jumlah unit rakit yang diusahakan masih sedikit (belum memenuhi skala usaha); (b) padat penggunaan bibit kurang bermutu (umur tua); (c) harga bibit relatif tinggi (tidak menggunakan bibit sendiri); (d) usaha masih bersifat subsisten dan belum dikelola secara komersial. 1.

3.

Budidaya rumput laut sudah menjadi bagian dari kehidupan nelayan dan bahkan terjadi pergeseran persepsi nelayan terhadap usaha budidaya rumput laut dari usaha sampingan menjadi usaha pokok. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan nelayan baik sebagai usaha pokok maupun sampingan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

DAFTAR PUSTAKA
Cholik, F. 1991. Budidaya rumput laut Eucheuma Sp dengan rakit dan lepas dasar.Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. Foscarini. B. And Jayant Parakash. 1991. Hand book on Eucheuma Seaweed Cultivation in Fiji .South Fasisic Aquaculture Development Project. FAO. Ismail, W, 1992. Budidaya rumput laut jenis algae merah. Makalah Aplikasi Teknologi Kupang NTT, 2-3 Maret 1992. Mubarak.H, 1991. Penanggulangan sementara terhadap serangan hama dan penyakit rumput laut. Makalah pelatihan penanggulangan Hama dan Penyakit Rumput Laut bagi petugas teknis perikanan 7-27 Januari, 1991, BBL Lampung. Nazam,M.,Prisdiminggo dan A.S. Wahid. 1999. Kajian Ukuran Rakit Pada Budidaya Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Pada Beberapa Waktu Tanam Di Teluk Ekas, Lombok Timur. Pros. Lokakarya Regional BPTP Naibonat.1999 Prisdiminggo, M. Nazam, A.Salam Wahid dan Rohama Daud. 1998. Pengaruh Waktu Tanam Terhadap Produksi, Produktivitas dan Laju Pertumbuhan Harian Pada Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii dengan Metode Rakit (Kasus di Dusun Serewe dan Batunampar, Kec. Keruak, Lombok Timur. Pros.Simposium Perikanan Indonesia. Ujung Pandang.1998. Samsuddin S, U. 1997. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Binacipta. Bandung. Cetakan pertama Maret 1977. Sugiarto.A, Sulistijo, Wanda.S. Atmaja, Hasan Mubarak 1983. Rumput laut (Algae) manfaat, potensi dan usaha udidayanya. Lembaga Oceanologi Nasional - LIPI, Jakarta.