You are on page 1of 13
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jelas alamiah kalau ada orang yang menderita sakit. Namun menjadi kewajiban kita untuk berusaha mencegah terjangkitnya penyakit, kalau penyakit itu belum diderita. Kita pun yakin bahwa setiap penyakit atau gangguan pasti ada penyembuh atau obatnya. Demikian juga dalam hal gangguan kejiwaan. Hal ini perlu diperhatikan, karena ada pendapat umum bahwa gangguan kejiwaan merupkan takdir yang tidak dapat disembuhkan. Di bagian ini akan dikemukakan berbagai keterangan mengenai wacana penting dalam menghadapi masalah perilaku abnormal ini, ialah masalah penanggulangan (treatment,therapy). 1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain: 1. Untuk menyelesaikan tugas psikologi 2. Menambah pengetahuan tentang penanganan gangguan psikologi abnormal BAB II PEMBAHASAN 2.1 Penanganan (Intervention) Istilah intervensi merupakan istilah yang saat ini sangat umum digunakan orang untuk menunjuk pada berbagai macam tindakan yang dimaksudkan untuk memberikan kesembuhan atas gangguan kejiwaan atau pelurusan atas penyesuaian diri yang salah. Intervensi juga digunakan dalam berbagai istilah lain yang digunakan untuk membantu orang yang terganggu secara kejiwaan (psychological disorders) atau memiliki masalah kejiwaan (psychological problems) dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam literatur lama,intervensi dan lain-lainnya itu lebih dikenal dengan nama psikoterapi. Istilah psikoterapi ini merupakan istilah paling awal dalam psikologi, selaras dengan dekatnya psikologi pada kedokteran yang memliiki teknik terapan terapi. Namun, istilah itu lama kelamaan ditinggalkan orang, meskipun dalam praktis sehari-hari sangat biasa. Freud pada awalnya menggunakan istilah psikoterapi ini, namun kemudian meninggalkannya dan hanya menggunakan psikoanalisis sesuai dengan nama teori dan penerapan teorinya. Disamping psikoterapi dan psikoanalisis, juga dikenal nama lain, yaitu melatih (coaching), bimbingan (guidance), konseling, pemberian nasihat (advising), perlakuan (treatment), dan pengubahan perilaku (behavior modification).Yang dimaksud dengan melatih adalah memberi petunjuk yang berulang-ulang mengenai apa yang harus dilakukan individual ketika menghadapi masalah-masalah yang tidak mampu ia tanggulangi. Bimbingan adalah memberi tahu dan petunjuk serta mendampingi klien dalam memecahkan masalahnya. Konseling adalah usaha bantuan yang titik beratnya adalah “menemani” klien untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereflesikan masalah klien sampai timbulnya pemahaman emosional (emotional insight) dalam diri individu atas permasalahannya dan kemampuannya untuk memecahkan masalahnya sendiri. Pemberian nasihat adalah memberitahukan mengenai keadaan atau cara yang dapat ditempuh mengenai masalah yang dialami klien. Perlakuan adalah setiap tindakan yang diberikan seorang ahli kepada individual dengan maksud untuk menolong individu agar terlepas dari keadaan terganggu atau terlilit masalah. Pengubahan perilaku adalah setiap tindakan yang diarahkan pada perilaku yang salah pada seseorang sehingga ia dapat berfungsi optimal. Dalam membahas berbagai perlakuan (treatment) untuk perilaku abnormal, Susan Nolen Hoeksema, mengemukakan tiga pendekatan perlakuan yang biasa diberikan terhadap mereka yang mengalami gangguan kejiwaan atau abnormalitas yaitu perlakuan biologis (biological treatments), terapi-terapi psikologi (psychological therapies), dan pendekatan-pendekatan social (social approaches). 2.1.1 Perlakuan Biologis Perlakuan biologis hampir seluruhnya melibatkan resep-resep obat untuk gangguan mental, yang pada umumnya dimaksudkan untuk meredakan simtom-simtom psikologis dengan cara memperbaiki ketidakseimbangan neurotransmitter. Bisa juga obat-obat itu dimaksudkan mengkompensasikan deficit struktural didalam otak atau akibat dari abnormalitas genetik. Pada dasarnya, obat-obat yang digunakan untuk psikopatologi didasari oleh biologi dalam bentuk usaha menentang proses terjadinya psikopatologi. • Obat-obat Antipsikotis Medikasi antipsikotis menolong meredusir pengalaman-pengalaman perseptual yang tidak realistis, keyakinan-keyakinan yang tidak sebenarnya, dan simtom-simtom psikosis lainnya. Permulaan penanganan dengan obat modern biasanya dipikirkan berhubungan dengan ditemukannya kholrpromazin, yang saat ini biasa digunakan untuk menangani simtom-simtom psikosis (Valenstein, 1998 dalam Hoeksema, 2004). Gejala psikosis sendiri meliputi kehilangan sentuhan realitas, halusinasi (pengalaman perseptual yang tidak nyata), dan delusi (fantastic, keyakinan tidak nyata). Juga diketahui bahwa khlorpromazin juga dapat menurunkan agitas, eksitasi, konfusi, dan paranoia pada pasien psikotik. Turunan khlopromazin ini merupakan suatu neuroleptic, yang menunjukkan bahwa obat ini menekan aktivitas system syaraf. Di Amerika Serikat, kelompok obat ini dikenal dengan nama Thorazin. Juga yang berhasil dalam pemasaran, khlorpromazin yang ditemukan Paul Janssen, butyrophenone. Obat-obat antipsikotik merupakan penemuan yang dapat mengubah pandangan psikosis sebagai penyakit yang penderitanya selama-lamanya harus tinggal di rumah sakit jiwa dan tidak dapat dikendalikan. • Obat-obat Antidepresan Seperti kita ketahui, bahwa obat-obat antidepresan membantu mengurangi simtom-simtom depresi, seperti kesedihan, rendahnya motivasi, dan gangguan tidur dan makan. Obat-obat ini ditemukan secara kebetulan seperti juga obat-obat antipsikotik (Valenstein, 1998 dalam Hoeksema, 2004). Jean Dealy menemukan bahwa isoniazid dan iproniazid dapat berfungsi sebagai antidepresan ialah obat-obat yan g dapat menangani simtom-simtomdepresi. Sebelumnya telah dikemukakan pula monoamine oxidase inhibitors (MAOls) yang dikenal dengan merek dagang Nardil dan Parnate. Obat-obat ini telah memperlihat keefektifannya dengan cara menghambat enzim monoamine oxisade, sehungga mampu meningkatkan taraf sejumlah neurotransmitter, seperti neropinefrin. Obat penenang lainnya antara lain Lithium, yaitu suatu unsur metalik yang ada di laut, dalam natural springs, dan pada jaringan binatang atau tumbuhan. Lithium merupakan zat antikonsulvan dan penghambat saluran kalsium (calcium channel blockers) yang membantu mengurangi mania. • Obat Antikecemasan Barbiturat dan benzodiazepine membantu mengurangi rasa cemas dan insomania serta mampu menekan system syaraf pusat dan mengurangi aktivitas berbagai tipe neuron. Obat-obat ini efektif untuk melahirkan relaksasi dan tidur, juga benar-benar adiktif, namun akan menyebabkan simtom-simtom ancaman kehidupan, seperti meningkatnya denyut nadi, delirium, dan konvulsi. • Terapi Elektrokonvulsif ETC adalah sati seri penanganan di mana serangan otak diinduksikan dengan cara pengaliran listrik melalui otak pasien. Sebelum dilakukan, pasien diberi anestesi dan ototnya direlaskan agar tidak cidera. 2.2.2. Terapi-terapi Psikologis Yang paling terkenal psikodinamika yang memusatkan perhatian pada usaha membuka dan menyelesaikan konflik-konflik yang tidak disadari. Teori psikodinamik menolong klien mendapatkan pemahaman kedalam motif dan konflik-konflik tak sadar, melalui analisis asosiasi bebas, resistensi-resistensi, impian-impian dan transferensi. Terapi humanistik menolong klien mengeksplorasi nilai-nilai dan potensial-potensial pribadinya sendiri dan memuaskan potensialnya lebih lengkap dengan mempersiapkan relasi yang lebih hangat dan suportif. Terapi-terapi perilaku berusaha untuk membentuk kembali perilaku maladaptif orang. Terapi ini menolong klien menghilangkan perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki atau mengajari klien perilaku yang baru dan lebih dikehendaki dengan teknik-teknik seperti desensitisasi sistematis atau pembentukan respons. Terapi kognitif berusaha untuk mengubah cara berpikir maladaptif seseorang dengan menantang pemikiran-pemikiran irasional dan belajar keterampilan baru. • Terapi-terapi Psikodinamis Terapi ini memusatkan diri pada usaha membuka dan menyelesaikan konflik-konflik tak sadar yang melahirkan simtom-simtom psikologis. Tujuannya adalah menolong klien menemukan cara-cara maladaptif yang telah mereka coba untuk meneyelsaikan sumber-sumber konflik tak sadar mereka. Pemahaman ini membebaskan klien dari cengkraman masa lalu dan memberi mereka pemahaman agensi dalam membuat perubahan di masa kini (Vakoch & Strupp, 2000). Tujuan ini adalah membantu klien mengintegrasikan aspek-aspek kepribadian mereka yang telah retak atau menolak ke dalam pemahaman diri yang utuh. Transferensi klien terhadap terapis adalah juga kunci terhadap konflik dan kebutuhan tak sadar. Transferensi terjadi jika berkaitan dengan seseorang yang penting dalam perkembangan awal klien, seperti ayah dan bundanya. Misalnya, klien menemukan dirinya bereaksi terhadap kemarahan atau ketakutakan yang sangat mendalam jika seorang terapis hanya beberapa menit setelah perjanjian, dan hali ini dapat menjadi dasar secara emosional ditinggalkan orang tua saat kecil. Terapis dapat menunjuk cara-cara klien berperilaku yang menampilkan trasferensi dan kemungkinan klien mengeksplorasi akar perilakunya dalam relasinya dengan orang penting lain. Terapis tidal berusaha untuk menafsirkan aspek-aspek tak sadar pengalaman klien. Mereka lebih mencoba untuk mengkomunikasikan, memahami klien dan secara eksplisit meminta umpan balik dari klien mengenai pemahamannya. Contoh : Klien : Saya merasa begitu kehilangan dalam karir. Setiap waktu tampaknya makin sempit untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kreatif, yang dapat membawa ke promosi, saya bagaimanapun mengelola untuk mendongkraknya. Saya tidak pernah merasa seperti saya sungguh-sungguh menggunakan potensi saya. Ada hambatan disana. Refleksi : Itu benar-benar frustasi untuk mengangkat dan membunuh peluang anda dan terasa seperti suatu dalam diri anda yang terjadi dari waktu ke waktu. Interprestasi psikodinamika: tampaknya tiap waktu anda makin dapat sukses yang menyabot diri anda secara tidak sadar. Barangkali sukses berarti sesuatu terhadap anda yang “troubling”atau tidak menyenangkan dan anda tidak waspada mengenai apa itu. Tafsiran ini bisa jadi benar, terapi tetapis client-centered akan melihatnya tidak selaras, karena hal itu membawa kepada klien perhatian sesuatu yang tidak berjalan terus dalam kesadaran klien. • Terapi Perilaku Terapi perilaku merupakan terapi yang sangat bertentangan dengan terapi psikodinamik maupun humanistik. Kalau terapi psikodinamik memusatkan perhatian pada konflik-konflik yang tidak disadari dan masalah relasional yang berkembang selama masa anak-anak , dan terapi humanistic memfokuskan diri pada upaya untuk memnbantu klien menemukan inner self, terapi-terapi perilaku hanya memusatkan perhatiannya pada perubahan perilaku-perilaku spesifik orang pada hari yang sama. • Teknik untuk Menghilangkan Perilaku yang tidak Diinginkan Pertama-tama adalah terapi disensitisasi sistematis (Sistematic Desernsitization Therapy) didasarkan pada two-factor model dari Mowrer (1939), yang mengajukan bahwa orang mengembangkan respons ketakutan dan kecemasan terhadap rangsangan yang semula netral, melalui pengkondisian klasik. Selanjutnya, melalui pengkodisian operan, mereka mengembangkan perilaku-perilaku yang dirancang untuk menghindari trigger untuk kecemasan tersebut. Merupakan metode gradual untuk menghilangkan respons-respons kecemasan terhadap stimuli dan perilaku maladaptif yang sering mengiringi rasa cemas. Dalam desensitisasi sistematis, orang pertama-tama mengembangkan suatu hirarki stimulus yang ditakutkan, berjarak dari stimulus yang akan membuatnya hanya membangkitkan kecemasan yang ringan menjadi stimuli yang membangkitkan kecemasan yang kuat atau panik. Seorang yang memiliki fobia terhadap ular mungkin memperlihatkan urutan berikut: 1) Mendengar kata ular. 2) Membayangkan seekor ular dalam kontainer tertutup pada jarak yang jauh. 3) Membayangkan ular dalam kontainer terbuka pada jarak jauh. 4) Membayangkan ular dalam kontainer tertutup pada jarak dekat. 5) Melihat gambar ular. 6) Menonton film atau video tentang ular. 7) Melihat ular dalam kontainer pada ruangan yang sama. 8) Melihat ular di luar kontiner dalam ruangan yang sama. 9) Memperhatikan seseorang memegang ular. 10) Menyentuh ular. 11) Memegang ular. 12) Bermain dengan ular. Kemudian terapis akan membantu klien mengikuti prosedur melalui hirarki ini, mulai dari taraf yang paling tidak menakutkan. Penderita mendapat intruksi untuk membayangkan stimulus yang menakutkan itu untuk beberapa saat. Kemudian kalau ia merasa takut, dilakukan relaksasi. Setelah relaks, diteruskan dengan taraf yang makin lebih menakutkan. • Teknik Mempelajari Perilaku yang Dikehendaki Dapat dipahami kalau dalam berbagai macam terapi,seperti dalam terapi perilaku ini, yang paling banyak dilakukan adalah menghilangkan perilaku tertentu, karena hal demikianlah yang menyebabkan ia disebut terganggu. Namun dalam pengertian yang lebih luas, apa yang disebut dengan terganggu itu termasuk juga kurang dimilikinya pola perilaku atau keterampilan dan keberanian untuk bertingkah laku tertentu. • Terapi-terapi Kognitif Terapi-terapi ini memfokuskan diri pada menantang tafsiran maladaptif orang mengenai kejadian-kejadian dan cara berpikir, dan menempatkan mereka dengan berpikir yang lebih adaptif. Banyak strategi keperilakuan berkombinasi dengan strategi-strategi kognitif. Terapis kognitif juga menolong klien belajar teknik memecahkan masalah secara lebih efektif untuk menghadapi masalah-masalah konkrit dalam kehidupannya. Bentuk yang paling terkenal adalah dari Aaron Beck, 1976. Teknik terapi ini pada dasarnya mempunyai tiga tujuan, yaitu: 1. Membantu klien mengidentifikasi pikiran-pikiran maladaptif irasionalnya. Orang sering tidak mengenal pikiran-pikiran negatif yang berputar-putar dalam jiwanya dan mempengaruhi emosi dan perilakunya. 2. Mengajarkan kepada klien menghadapi pikiran-pikiran irasional atau pikiran maladaptif dan mempertimbangkan alternatif cara berpikir. 3. Pertanyaan seperti : “Apa yang terburuk dapat terhjadi karena situasi atau keadaan itu “ Apa yang dapat anda lakukan kalu kejadian terburuk terjadi?” Dengan pertanyaan demikian, diharapkan agar klien dapat mengarahkan upayanya dan yakin bahwa kejadian terburuk pun akhirnya dapat ia tanggulangi”. • Tugas Keperilakuan Salah satu hal yang penting untuk dilakukan dalam rangka terapi kognitif, adalah Tugas Keperilakuan (Behavioral Assignments) untuk membantu klien mengumpulkan bukti yang menyangkut keyakinan-keyakinnya. Tugas-tugas ini ditampilkan kepadaklien sebagai cara untuk menguji hipotesis dan mengumpulkan informasi yang mungkin berguna untuk terapi. • Melakukan Kendali Terapis kognitif berusaha untuk mengajar klien keterampilan-keterampilan sehingga klien dan menjadi terapis sendiri. Terapis berusaha agar klien bertanggung jawab dan mengendalikan pikiran dan tingkah lakunya atau sekedar bereaksi terhadap kekuatan-kekuatan eksternal. 2.2.3 Pendekatan Sosial Terapi interpersonal merupakan suatu versi short-term terapi psikodinamik yang lebih memfokuskan diri pada hubungan yang sedang berjalan. Terapis sistem keluarga berusaha untuk mengubah sistem perilaku yang maladaptif dalam keluarga. Program-program prevensi berusaha menghentikan atau menghambat perkembangan gangguan atau menolong orang untuk dapat mengurangi gangguan atas kehidupan sehari-harinya. Terapi-terapi spesifik kultural menggunakan keyakinan dan ritual budaya dalam menangani klien kultur tersebut. Terdapat beberapa jenis terapi dalam kelompok ini, antara lain: terapi antarpribadi, terapi sistem terapi, terapi kelompok, perlakuan komunitas, dan perlakuan lintas budaya. Terapi antarpribadi merupakan terapi jangka pendek yang memfokuskan diri pada relasi dan keterlibatan mutakhir klien dan mengeksplorasi akar masalah mereka dalam relasi di masa lalu. Tertapis sistem keluarga memfokuskan diri pada pengubahan pola perilaku maladaptif dalam sistem keluarga untuk mengurangi patologi di dalam anggotanya secara individual. Dalam terapi kelompok, orang yang menyumbangkan masalah datang bersama untuk menunjang, saling belajar dengan rekan-rekannya, dan berlatih keterampilan baru. Kelompok yang menolong diri sendiri merupakan bentuk terapi kelompok yang tidak melibatkan professional di bidang kesehatan mental. Gerakan kesehatan mental komunitas bermaksud untuk mengdeinstitusionalisasi orangorang dengan gangguan mental dan menangani mereka melalui pusat-pusat kesehatan mental komunitas, rumah singgah, dan pusast-pusat penanganan jalan. Sumber daya untuk pusat kesehatan komunitas itu tidak pernah adekuat dan tidak banyak orang tidak memiliki akses keperawatan kesehatan mental. Program prevensi primer bernaksud untuk menghentikan perkembangan gangguan sebelum terjadi. Sedangkan program-program prevensi sekunder menyediakan penanganan untuk taraftaraf pertama gangguannya dengan harapan meredakan perkembangan gangguan. Nilai-nilai yang terdapat di dalam kebanyakan psikoterapi yang dapat bertentangan dengan nilai pada budaya tertentu termasuk focus pada individual, ekspresi emosi, ketertutupan pribadi, dan harapan yang dimiliki klien. Orang dari kelompok monoritas dapt lebih menyerupai tetap dalam penanganan jika sesuai dengan terapis dari kelompok budayanya, tetapi terdapat perbedaan individual yang luas dalam preferensi ini. Terdapat sejumlah terapi spesifik kulutral untuk menangani psikopatologi dalam tradisi kultur-kultur itu. PENANGANAN GANGGUAN PSIKOLOGI ABNORMAL MAKALAH OLEH Abdurrochman Syarief 201010420311115 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013