You are on page 1of 9
KEBIJAKAN PENERBITAN DAN PERBUKUAN DARI JAMAN HINDIA BELANDA HINGGA SEKARANG MAKALAH Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penerbitan dan Perbukuan Semester VI Dosen Pengampu DRS. Purwono, SIP,. M.Si Oleh Haris Widodo Hegmi Shimabait Ratna Nopita sarai 10140004 10140009 101400xx PROGRAM ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013 BAB I PENDAHULUAN Salah satu kemerdekaan yang menjadi cita-cita proklamasi Republik indonesia adalah mencerdakan kehidupan bangsa sebagai mana tertera dalam pembukuan undang-undang dasar 1945 (UUD1945). Salah satu sarana penting dan strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah melalu buku dalam jumlah yang memadai. Namun, industri penerbitan dan perbukuan di indonesia tidak bengitu berkembang seperti di negara-negara Eropa dan Amerika. Kurang berkembangnya industri penerbitan dan perbukuan di Indonesia disebabkan karena banyak faktor, diantaranya adalah kebijakan pemerintah yang kurang berpihak. Pajak yang terlalu tinggi, tidak adanya subsidi dari pemerintah untuk menekan harga produksi kertas, maraknya pembajakan buku dan lain sebagainya merupakan contohkurang berpihaknya kebijakan pemerintah dan tidak kurang tegasnya hukum sehingga menghambat pertumbuhan induetri pernerbitan dan perbukuan. Kelompok kami akan sedikit mengulas tentang kebijakan pemerntah terhadap penerbitan dan perbukuan pada jaman belanda hingga pada jaman revormasi. BAB II PEMBAHASAN A. Zaman Kolonial Belanda 1. Sekilas Tentang Politik Etis Politik etis mengawali sejarah percetakan dan perbukuan di Indonesia pada jaman belanda. Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. kebijakan politik etis meliputi: a. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian b. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi c. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan Terkait dengan kebijakan yang ke 3 Pemerintah Belanda membangun sekolahsekolah. Namun, pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya. Dari kebijakan politik etislah muncul kebutuhan akan pendidikan yang memanfaatkan buku sebagai sarana pembelajaran, sehingga berpotensi merangsang tumbuhnya industri penerbitan dan perbukuan di Indonesia. 2. Awal Kisah Penerbitan dan perbukuan Pada awal kemerdekaan, khususnya selama zaman Yogyakarta menjadi ibukota negara Republik Indonesia praktis belum ada penerbit buku, kecuali diluar daerah kekuasaan republik khususnya di jakarta sperti; Balai Pustaka, J.B Wolters, Noordhoff kolf, Versluys dan lain sebagainya. Semantara di Daerah “Republik Yogya” masih menggunakan buku-buku peninggalan belanda yang diterjemahakan kedalam bahasa indonesia. Karena langkanya buku maka siswa hanya mencatat apa yang disamapikan oleh guru saja. Buku-buku dapat diedarkan dipasaran setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, meskipun hanya buku-buku peninggalan belanda yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. B. Orde Lama 1. Sekilas tentang Berdirinya IKAPI Setelah setelah belanda mengakui kedaulatan indonesia pada tahun 1949, industri Penerbitan dan percetakan mulai berkembang. Kemudian munculah IKAPI pada tahu1950-an sebagai wadah organisasi dari para penerbit. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) didirikan tanggal 17 Mei 1950 di Jakarta atas prakarsa dan kesepakatan beberapa penerbit nasional ketika itu. Selain didorong semangat untuk menggantikan posisi penerbit asing, khususnya Belanda, yang masih memonopoli kegiatan penerbitan buku di Tanah Air, lahirnya IKAPI juga dijiwai hasrat yang besar untuk membantu pemerintah dalam membangun masyarakat Indonesia yang cerdas. 2. Kebjakan Pemerintah Orde Lama Pada jaman Pemerintahan Orde lama, untuk menunjang pertumbuhan industri perbukuan, maka pemerintah menetapkan berbagai kebijakan yang menguntungkan bagi para penerbit. Diantaranya adalah: 1. Pemerintah Memberikan subsidi pada harga kertas sebanyak 50% dari harga normal sehingga diharapkan harga satuan buku dapat ditekan 50% lebih murah dari harga yang sebenarnya. Walaupun subsidi hanya diberikan sebatas kertas koran saja. 2. Pemerintah mendirikan Yayasan Lektur untuk mengawai dan mengatur peneebit, importir, dan mahasiswa/ dosen. Lembaga lektur dinaungi oleh depertemen perdagangan. Yayasana lektur didirikan karena pada waktu itu pemerintah beranggapan bawha kalangan mahasiswa dan dosen masih banyak buku terbitan luar negeri sehingga harganya mahal. Kemudian pemerintah memberikan subsidi yang lazim disebut dengan “nota lektur” untuk mendapatkan keringanan sebesar 50%. 3. Keringanan pajak dan cukai bagi para importir buku. C. Orde Baru 1. Sekilas Transisi Kebijakan Orde lama Ke Orde baru pada masa orde baru pemerintah menghabuskan segala bentuk subsidi dan hanya disisakan saja untuk Sembako “sembilan Bahan pokok” terkait dengan pangan. Kebijakan pemberian subsidi yang pada jaman orde lama dihapuskan karena indoensia sedang mengalami krisi keuangan pada waktu itu. Harga buku melonjak drastis, daya beli menjadi menurun sehingga banyak pengusaha penerbitan yang terpakasa gulung tikar karena tidak mampu menutupi biaya produksinya. Keadaan ekonomi Indonesia mulai membaik pada tahun 1973 dan pemerintah mengambil kebijakan baru yang terkait dengan pendidikan. Pemerintah membuat proyek buku Inpres yang diambil dari 250 penerbit secara langsung. 2. Kebijakan Orde Baru tentang penerbitan dan perbukuan a. Penngadaaan buku pelajaran sekolah Pada saat mendikbud dijabat oleh Mashuri Indonesia mendapatkan bantuan kertas dari bank duni yang direalisaikan menjadi buku paket (buku Pegangan wajib) bagi siswa hingga tingkat SLTA. Dan sebagai distributor tunggal ditunjuk PN Balai pustaka. Penerbit yang menangani proyek ini dihendel oleh pemerintah dan buak oleh sektor swasta. Kebijakan mentri berlaku sampai sekarang. Namun, mulai tahun 1996 kebijakan itu mulai ditinggalkan. b. Buku untuk pendidikan tinggi Kebjakan yang diambil untuk penerbitan buku pendidikan tinggi adalah diserahkan sepenuhnya kepada swasta. Dan pihak kampus pun diberi kesempatan untuk menerbitkan bukunya sendri. Bahkan hingga tingkat fakultas juga menerbitkan bukunya sendiri. Contohnya adalah UI press, UGM press dan lain sebagainya. c. Perizinan Ada beberapa payung hukum yang menaungi penerbitan dan perbukuan: 1. PP NO.6 th1964 tentang kewajiban menyerahkan contoh barang cetakan dalam tempo 2 X 24 jam kekantor kejaksaan setempat bagi perusahaan percetakan dan penerbitan. 2. UU no 6. Tahun 1982 tentang hak cipta yang kemudian dismpurnakan menjadi UU No.17 th 1987 tentang hak cipta. 3. UU No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. 4. Keppres No.5 th 1978 tentang pembentukan badan pertimbangan pengembangan buku nasional. 5. Keppres No. 4 th 1987 tentang pembentukan pusat perbukuan. 6. UU no.4 th 1990 tentang wajib serah simpan tentang karya cetak dan karya rekam. 7. Kepres No. 2 th 1990 tentang PPN ditanggung pemerintah atau buku impor dan atas penyerahan peneyrahan buku palajaran umum, kitab suci dan buku pelajaran agama. 8. Garis garis besar haluan negara dan UUD 1945. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Politik etis merupakan cikal bakal berkembangnya penerbitan dan perbukuan di Indonesia pada waktu itu. Kebijakan pendidikan kepada masyarakat indonesia merangsang tumbuhnya penerbitan dan perbukuan, meskipun dalam implementasinya terjadi penyelewengan kebijakan. Kemajuan industri Penerbitan dan Perbukuan sangat tergantung dari kebijakan pemerintah. Dari jaman Hindia Belanda hingga sekarang memiliki kebijakan yang berbeda-beda dan menentukan pasang surutnya industri penerbitan dan perbukuan di Indonesia. B. Saran Guna meningkatkan pertumbuhan industri Penerbitan dan perbukuan, pemerintah sebagai pengambil kebijakan hendaknya mampu membuat kebijakan yang lebih pro terhadap industri penerbitan dan perbukuan. Mulai dari memikirkan bagaimanan meningkatkan minat baca masyarakat, daya beli buku masyarakat dan juga subsidi seperti apa untuk penerbit dan percetakan agar atmosfer penerbitan dan perbukuan di Indonesia menjadi baik. DAFTAR PUSTAKA Usman, rozali.1997.”Polase Perbukuan Di Indonesia. Dalam Buku Membangaun Kualitas Bangsa: Bunga Rampai Sekitar Perbukuan Indonesia.Kanisius: Yogyakarta. Paemboyan, taya.1994.Perbukuan Nasional Kini dan Tantanganya Pada Masa Mendatang. Jakarta: Balai pustaka. Catatan: 1. Kurang sistematis 2. Terlalu simpel 3. Referensi masih sangat kurang REVISI