P. 1
Tugas Mandiri

Tugas Mandiri

|Views: 53|Likes:
Published by yuli_prabowo_1

More info:

Published by: yuli_prabowo_1 on Apr 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2014

pdf

text

original

Sections

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila nantinya terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005). Pemerintah Kabuaten Magelang sendiri memasukan program

imunisasi ke dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam program P2M dan imunisasi yang diwajibkan ada 5 jenis, salah satunya BCG ( Bacille Calmette-Guerin). BCG adalah vaksin hidup yang dibuat untuk menimbulkan kekebalan terhadap kuman Mycobacterium Tuberculosis. Kuman tersebut menimbulkan penyakit Tuberkulosis yang dikenal dengan TBC. TBC paling sering mengenai paru-paru tapi juga dapat mengenai organ lainnya seperti selaput otak, tulang, kelenjar, selaput perut, dll. Pada survey tahun 1992, TBC adalah penyebab kematian nomor dua di Indonesia setelah penyakit kardiovaskuler. WHO memperkirakan di Indonesia setiap tahunnya 175.000 kematian akibat TBC dan 450.000 kasus baru pertahun. Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi Tuberculosis namun mengurangi resiko tuberculosis berat sepeti meningitis tuberkulosa dan

1

tuberculosis milier. Pemberian vaksin BCG baik dilakukan pada usia kurang dari 2 bulan.(Milis, 2010) Dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menargetkan imunisasi BCG sebesar 95%, namun permasalahannya ada pada data Standar Pelayanan Minimal pada Periode Januari – Oktober 2011, di dapatkan cakupan 85,12% dari 11 desa yang berada di bawah naungan puskesmas Secang I.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian di atas, terdapat masalah yang belum diketahui, yaitu : Apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011 sehingga tidak memenuhi target?

C. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan Umum Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis serta mengevaluasi penyebab rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011 sehingga tidak memenuhi target. 2. Tujuan Khusus

2

a. Mengetahui permasalahan yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo. b. Menganalisis dan mengevaluasi penyebab masalah rendahnya

imunisasi BCG di Desa Ngadirojo. c. Mendapatkan alternatif pemecahan masalah rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo. d. Menentukan prioritas pemecahan masalah rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo.

D. MANFAAT 1. Bagi Penulis a. Menambah pengetahuan penulis tentang program imunisasi BCG. b. Manambah pengetahuan penulis tentang penyebab dan pemecahan masalah rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo. 2. Bagi Puskesmas dan Petugas Kesehatan Mengevaluasi kinerja petugas Puskesmas Secang I maupun petugas kesehatan di Desa Ngadirojo sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo. 3. Bagi Masyarakat Menambah pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya imunisasi BCG dalam pencegahan penyakit poliomyelitis atau kelumpuhan.

E. BATASAN PENGKAJIAN 3

1. Batasan Judul Laporan kegiatan dengan judul “Evaluasi cakupan bayi yang mendapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011” mempunyai batasan pengertian judul sebagai berikut: a. Evaluasi Adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atau permasalahan yang ditemukan. b. Cakupan Adalah jangkauan suatu hal. c. Bayi Adalah bayi yang berusia 0-12 bulan. d. Imunisasi Adalah upaya meningkatkan atau membentuk kekebalan tubuh berguna mencegah suatu penyakit tertentu. e. BCG Adalah vaksin hidup yang dibuatkan untuk menimbulkan kekebalan terhadap Mycobacterium Tuberculosis. f. Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang Adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Secang I, Kabupaten Magelang. 4

g. Periode Januari – Oktober 2011 Adalah kurun waktu selama 10 bulan yang diawali dari Bulan Januari 2011 dan berakhir pada Bulan Oktober 2011. 2. Batasan Operasional a. Frekuensi kegiatan berlangsung selama 10 bulan. b. Sasaran adalah jumlah bayi yang berusia 0-12 bulan yang sudah mendapatkan imunisasi BCGdan belum mendapatkan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. 3. Ruang Lingkup Ruang lingkup pengkajian yang dilakukan meliputi: a. Lingkup lokasi : Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang b. Lingkup waktu : Januari sampai Oktober 2011. Desa Ngadirojo, Kecamatan

c. Lingkup sasaran : Seluruh bayi di

Secang, Kabupaten Magelang d. Lingkup metode : Kuesioner, Wawancara, Dan Pencatatan. c. Lingkup materi : Evaluasi program KIA dan P2P mengenai

cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011.

F. METODOLOGI

5

Survei dilakukan di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang pada tanggal 22 dan 23 Desember 2011. Responden diambil secara acak dari 64 yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan, dan terkumpul 15 orang sebagai responden. Jenis data yang diambil adalah : 1. Data primer, yang diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) dengan cara bayi di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Selain itu, wawancara juga dilakukan kepada Koordinator KIA dan P2P maupun bidan Desa Ngadirojo mengenai program pelayanan kesehatan imunisasi BCG. 2. Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data-data dari laporan bagian KIA dan P2P Puskesmas SECANG I dan bidan Desa Ngadirojo.

Data yang terkumpul diolah dan kemudian dianalisis masalah yang ditemukan dengan mencari kemungkinan penyebabnya, melalui pendekatan sistem, yang meliputi kelima input, yaitu man, money, material, machine, methods, proses yang meliputi fungsi manajemen baik P1, P2, P3, serta lingkungan. Dengan demikian dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah berdasarkan penyebab masalah yang paling mungkin dan penggabungan alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah itu, prioritas pemecahan masalah ditentukan dengan menggunakan rumus kriteria matriks, yang kemudian dibuat rencana kegiatan dan plan of action (POA) berdasarkan pemecahan masalah yang terpilih dan dijadwalkan dalam sebuah Gann chart.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. IMUNISASI I. Pengertian Imunisasi Imunisasi / pengebalan adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin. Vaksin adalah kuman hidup yang dilemahkan / kuman mati / zat yang bila dimasukkan ke tubuh menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit : Poliomyelitis (kelumpuhan), Campak (measles), Difteri (indrak), Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari), Tetanus, Tuberculosis (TBC), Hepatitis B dan untuk mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh wabah yang sering berjangkit. (Anonim a. 2011) II. Tujuan Imunisasi Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit : a. Poliomyelitis (kelumpuhan). b. Campak (measles) c. Difteri (indrak) d. Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari)

7

e. Tetanus f. Tuberculosis (TBC) g. Hepatitis B III.Manfaat Imunisasi a. Manfaat untuk anak. Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan

kemungkinan cacat atau kematian. (Anonim a. 2011) b. Manfaat untuk keluarga. Menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit. Mendorong keluarga kecil apabila si orang tua yakin bahwa anak-anak akan menjalani masa kanak-kanak dengan aman. (Anonim a. 2011) c. Manfaat untuk Negara. Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra bangsa Indonesia diantara segenap bangsa didunia. (Anonim a. 2011) B. BCG (Bacille Calmette-Guerin) BCG adalah vaksin hidup yang dibuat untuk menimbulkan kekebalan terhadap kuman Mycobacterium Tuberculosis. Kuman tersebut menimbulkan penyakit Tuberkulosis yang dikenal dengan TBC. (Staf Pengajar FKUI. 1994).

8

Vaksinasi BCG tidak mencegah infeksi Tuberculosis namun mengurangi resiko tuberculosis berat sepeti meningitis tuberkulosa dan tuberculosis milier. (Anonim b. 2011) Vaksin BCG adalah program imunisasi Nasional di Indonesia, BCG diberikan pada umur kurang dari 2 bulan. Vaksin ulangan tidak dianjurkan. Bayi yang berusia di atas 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberculin dahulu sebelum dilakukan imunisasi BCG. (Anonim b. 2011) I. Cara Pemberiannya Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Vaksin BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk bubuk. Vaksin BCG melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC).

Vaksin dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh Calmett Guerint. Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung. Tempat penyuntikan adalah sepertinya bagian lengan kanan atas. (Anonim a. 2011)

Gambar 1. Penyuntikan imunisasi BCG 9

II. Efek Samping BCG 1. Reaksi normal Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10 mm. Setelah 2 – 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm. (Anonim b. 2011) 2. Reaksi berat Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam dan dosis yang terlalu tinggi. (Anonim b. 2011) 3. Reaksi yang lebih cepat Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi BCG. (Anonim b. 2011)

10

BAB III DATA UMUM DESA NGADIROJO

A. Data Desa Ngadirojo Desa Ngadirojo terletak diwilayah Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (Data Statistik Desa Ngadirojo, 2011)

B. Batas Wilayah Wilayah Desa Ngadirojo dibatasi oleh : a Sebelah utara b Sebelah Selatan c Sebelah Timur d Sebelah Barat : Desa Tanjung Sari. : Desa Kalijoso. : Desa Semalen. : Desa Purwoselote

(Data Statistik Desa Ngadirojo, 2011)

C. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk Desa Ngadirojo tahun 2011 berdasarkan data statistic di dapatkan jumlah 4.212 jiwa dengan jumlah laki-laki 2.041 jiwa dan jumlah perempuan 2.171 jiwa. (Data Statistik Desa Ngadirojo, 2011)

11

E.

Jumlah Bayi Jumlah bayi di Desa Ngadirojo yang berusia 0-12 bulan sebanyak 64 bayi, diantaranya 31 berjenis kelamin laki-laki dan 33 berjenis kelamin perempuan. (Data Statistik Desa Ngadirojo, 2011)

12

BAB IV ANALISIS HASIL

Data cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011 diperoleh dari data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer dilaksanakan pada hari Kamis dan Jum’at, pada tanggal 22 dan 23 Desember 2011. Responden yang diambil adalah 15 ibu yang memiliki bayi usia 0 - 12 bulan. Pengambilan data dilakukan dengan mendatangi rumah responden, dan pengisian kuesioner dengan cara wawancara. Kuesioner dibacakan oleh dokter muda kepada responden. Sebelum pengambilan data primer, dilakukan pengambilan data sekunder pada hari Kamis dan Jum’at, pada tanggal 22 dan 23 Desember 2011. A. Pencapaian Kunjungan Bayi yang Mendapatkan Imunisasi BCG • Jumlah cakupan kunjungan bayi yang dapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo adalah :

Jumlah pencapaian kunjungan bayi yang dapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo adalah :

13

Dari hasil didapatkan pencapaian kunjungan bayi yang dapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo periode Januari – Oktober 2011 kurang dari 95 %, yang berarti kunjungan bayi yang dapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo masih menjadi masalah.

B. Hasil Kuesioner Hasil survey dilakukan pada 15 ibu yang memiliki bayi, pada tanggal 22 – 23 Desember 2011. Berisikan pertanyaan tentang pengetahuan, sikap, dan prilaku ibu terhadap program imunisasi BCG. Tabel 1. Kuesioner dan Hasil Kuesioner PERSENTASE NO. PERTANYAAN JUMLAH (%) PENGETAHUAN 1. Apakah anda mengetahui tentang imunisasi ? a. Ya 2. b. Tidak Apakah manfaat imunisasi ? a. Mengobati Penyakit 3. b. Mencegah Penyakit Ada berapa jenis imunisasi berdasarkan anjuran pemerintah? a. 3 jenis (BCG, DPT, Campak) 2 15 0 0 15 100% 0% 0% 100% 13,33% 86,67% 14

b. 5 jenis (BCG, DPT, Polio, 4. Hepatitis B, Campak) Apa manfaat imunisasi BCG ? a. Agar anak tidak terkena TBC 5. b. Agar anak tidak lumpuh Kapan diberikan imunisasi BCG? a. 0-2 bulan b. 4 bulan SIKAP 1. Apakah imunisasi penting menurut anda ? a. Penting 2. b. Tidak penting Apakah petugas imunisasi ramah terhadap anda ? a. Ramah 3. b. Tidak ramah Saat anak anda diimunisasi, apakah petugas memberikan penjelasan tentang imunisasi ? a. Ya 4. b. Tidak Apakah kegiatan imunisasi mengganggu waktu anda ? a. Mengganggu 5. b. Tidak mengganggu Apakah suami/keluarga anda mendukung anda mengikuti

13

9 6 10 5

60% 40% 66,67% 33,33%

15 0

100% 0%

12 3

80% 20%

7 8

46,67% 53,33%

0 15

0% 100%

15

imunisasi? a. Mendukung b. Tidak mendukung PRILAKU 1. Apakah anda rutin membawa anak anda mengikuti imunisasi? a. Ya 2. b. Tidak Apakah anak anda sudah di imunisasi BCG ? a. Ya 3. b. Tidak Apa yang anda lakukan jika muncul efek samping (demam), apa yang akan anda lakukan ? a. Dibiarkan saja 4. b. Diberi obat penurun panas Apa yang anda lakukan agar anak anda tetap sehat ? a. Memberikan imunisasi dan makanan bergizi 5. b. Memberikan imunisasi saja Apakah anda pernah mengikuti penyuluhan tentang imunisasi ? a. Pernah b. Tidak pernah

14 1

93,33% 6,67%

14 1

93,33% 6,67%

14 1

93,33% 6,67%

0 15

0% 100%

15

100%

0

0%

1 14

6,67% 93,33%

16

C. Analisis Hasil Survey Imunisasi BCG Hasil survey pada 15 ibu yang memiliki bayi di desa Ngadirojo pada tanggal 22 -23 Desember 2011. Berisikan tentang pengetahuan, sikap, dan prilaku ibu terhadap program imunisasi BCG. Hasil perhatian dari survei yang telah dilakukan, yaitu: 1. Berdasarkan hasil survei pengetahuan mengenai imunisasi didapatkan 15 responden mengetahuinya dengan persentase 100%. 2. Berdasarkan hasil survei pengetahuan mengenai manfaat imunisasi didapatkan 15 responden menjawab sebagai mencegah penyakit dengan persentase 100%. 3. Berdasarkan hasil survei pengetahuan mengenai jumlah jenis imunisasi yang di anjurkan pemerintah didapatkan 13 responden menjawab terdapat 5 jenis (BCG, DPT, Polio, Hepatitis B, Campak) dengan persentase 86,67% dan 2 responden menjawab terdapat 3 jenis (BCG, DPT, Campak) dengan persentase 13,33%. 4. Berdasarkan hasil survei pengetahuan mengenai manfaat imunisasi BCG didapatkan 9 responden menjawab agar anak tidak terkena TBC dengan persentase 60% dan 6 responden menjawab agar anak tidak lumpuh dengan persentase 40%. 5. Berdasarkan hasil survei pengetahuan mengenai saat kapan diberikan imunisasi didapatkan 10 responden menjawab saat usia 0 – 2 bulan dengan persentase 66,67% dan 5 responden menjawab saat usia 4 bulan dengan persentase 33,33%.

17

6. Berdasarkan hasil survei sikap mengenai pentingnya imunisasi menurut responden didapatkan 15 responden menjawab pentingnya imunisasi dengan persentase 100%. 7. Berdasarkan hasil survei sikap mengenai keramahan petugas imunisasi dalam pemberian imunisasi didapatkan 12 responden menjawab ramahnya petugas dengan persentase 80% dan 3 responden menjawab tidak ramah dengan persentase 20%. 8. Berdasarkan hasil survei sikap mengenai saat imunisasi, petugas memberikan penjelasan tentang imunisasi didapatkan 8 responden menjawab tidak memberikan penjelasan dengan persentase 53,33% dan 7 responden menjawab diberikan penjelasan dengan persentase 46,67%. 9. Berdasarkan hasil survei sikap mengenai kegiatan imunisasi mengganggu atau tidaknya waktu responden dalam mengikuti kegiatan didapatkan 15 responden menjawab tidak mengganggu dengan persentase 100%. 10. Berdasarkan hasil survei sikap mengenai dukungan suami dalam pelaksanaan imunisasi didapatkan 14 responden menjawab mendukung dengan persentase 93,33% dan 1 responden menjawab tidak ramah dengan persentase 6,67%. 11. Berdasarkan hasil survei prilaku mengenai rutinnya membawa anaknya untuk mengikuti pemberian imunisasi didapatkan 14 responden menjawab rutin dengan persentase 93,33% dan 1 responden menjawab tidak rutin dengan persentase 6,67%.

18

12. Berdasarkan hasil survei prilaku mengenai sudah pernahkah anak anda di imunisasi BCG didapatkan 14 responden menjawab ya dengan persentase 93,33% dan 1 responden menjawab tidak dengan persentase 6,67%. 13. Berdasarkan hasil survei prilaku mengenai jika setelah imunisasi muncul gejala efek samping (demam), apa yang akan ibu lakukan, didapatkan 15 responden menjawab akan diberi obat penurun panas dengan persentase 100%. 14. Berdasarkan hasil survei prilaku mengenai apa yang akan dilakukan, agar anak anda tetap sehat, didapatkan 15 responden menjawab dengan member imunisasi dan makanan bergizi dengan persentase 100%. 15. Berdasarkan hasil survei prilaku mengenai pernahkah mengikuti penyuluhan tentang imunisasi didapatkan 14 responden menjawab tidak pernah dengan persentase 93,33% dan 1 responden menjawab pernah dengan persentase 6,67%.

19

D. Hasil Wawancara Dengan Bidan Desa di Desa Ngadirojo dan Koordinator Imunisasi Dari hasil wawancara dengan bidan desa di desa Ngadirojo dan koordinator imunisasi pada tanggal 23 Desember 2011, didapatkan informasi sebagai berikut : 1. Terdapat satu koordinator imunisasi di puskesmas Secang I. Di desa Ngadirojo terdapat satu pengurus bidan desa yang bertanggung jawab di posyandu setiap dusun di desa Ngadirojo dan bertugas di PKD desa Ngadirojo. Selain bidan desa juga terdapat 15 kader yang membantu di posyandu dalam pelaksanaannya. 2. Kegiatan imunisasi yang dilakukan di posyandu mendapat dana dalam pengadaan vaksin dan peralatan di dapatkan dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Terdapat pula dana swadaya masyarakat yang didapatkan dari setiap pasien atau ibu yang ingin anaknya dilakukan imunisasi dikenakan biaya Rp. 1000,-. Dana tersebut digunakan untuk kepentingan posyandu dan para kader. 3. Tidak dilakukannya penyuluhan khusus mengenai imunisasi BCG. 4. Sudah dilakukan pencatatan pada saat datang untuk dilakukan imunisasi dan di catat di buku KMS. 5. Terdapat media promosi berupa poster di balaidesa. 6. Adanya perencanaan kunjungan yang telah di buat bidan desa untuk mengunjungi setiap posyandu yang ada di Desa Ngadirojo.

20

7. Sistem pelaksanaan posyandu dengan menggunakan 5 meja : 1 meja pendaftaran, 1 meja penimbangan, 1 meja pencatatan, 1 meja pelayanan kesehatan, dan 1 meja konsultasi. 8. Sebagian kecil masyarakat kurangnya pemahaman dan pentingnya akan imunisasi.

E. Hasil Wawancara Dengan Kader di Desa Ngadirojo Dari hasil wawancara dengan kader di desa Ngadirojo pada tanggal 23 Desember 2011, didapatkan informasi sebagai berikut : 1. Jadwal posyandu yang sudah ada dan di koordinasi oleh bidan desa. 2. Pelaksanaan kegiatan posyandu sudah terstruktur dimulai dari pendaftaran, penimbangan, pencatatan, dan dilakukan imunisasi oleh bidan desa. 3. Di akhir kegiatan posyandu, tidak dilakukannya pengecekan ulang namanama yang belom hadir untuk dilakukan imunisasi. 4. Kesadaran masyarakat untuk pentingnya imunisasi cukup. 5. Tidak ada penyuluhan mengenai imunisasi BCG. 6. Tidak dilakukan survey untuk melihat anak yang belum dilakukan imunisasi

21

BAB V ANALISIS MASALAH

A. UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS Secara garis besar, program kesehatan Puskesmas dibagi menjadi 3 macam, yaitu upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan, dan upaya kesehatan inovasi. Upaya kesehatan wajib ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global, serta mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. (Yuniar. 2011) Upaya kesehatan pokok Puskesmas, yaitu : a. Promosi kesehatan b. Kesehatan lingkungan c. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB) d. Perbaikan gizi masyarakat e. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) f. Pengobatan (Heri M. 2011) Semua upaya kesehatan wajib Puskesmas ini telah dimiliki dan dilaksanakan oleh Puskesmas Secang I. Adapun Pencegahan dan

Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) meliputi adanya kasus cakupan kunjungan imunisasi BCG.

22

B. INDIKATOR PROGRAM PUSKESMAS YANG BERMASALAH Dalam pelaksanaan kegiatan program Puskesmas Secang I ada beberapa cakupan kegiatan yang belum mencapai target. Salah satu kegiatan yang menjadi masalah yang akan dibahas adalah cakupan kunjungan bayi yang mendapat imunisasi BCG yang masih kurang mencapai target di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Permasalahannya ada pada data Standar Pelayanan Minimal pada Periode Januari – Oktober 2011 di desa Ngadirojo di dapatkan cakupan 53,70% dari 11 desa yang berada di bawah naungan puskesmas Secang I. Tabel 2. Cakupan kunjungan bayi yang mendapat imunisasi BCG di wilayah kerja Puskesmas Secang I Sasaran Target Dinas Nama Desa Kab. Mage lang Jambewangi Payaman Kalijoso Ngadirejo Madyocondro Madusari Secang Ngabean Krincing Donorojo Karangkajen Total Ba yi (1 tah un ) 112 112 47 65 69 71 115 60 118 35 29 833 108 88 30 29 51 39 99 37 94 38 28 641 116.13 94.62 76.92 53.70 89.47 66.10 104.21 74.00 95.92 126.67 116.67 76.95% 122.24 99.60 80.97 56.53 94.18 69.58 109.70 77.89 100.97 133.33 122.81 81% Hasil % Cakupan Bulan Jan – Okt 2011 Pencapaian (%)

95 %

95%

23

C. Kerangka Pikir Pemecahan Masalah Masalah adalah kesenjangan antara keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai, yang menimbulkan rasa tidak puas, dan keinginan untuk memecahkannya. Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah : 1. Menyatakan hubungan dua atau lebih variabel 2. Dapat diukur 3. Dapat diatasi (Hartoyo. 2011) Berikut ini merupakan urutan dalam siklus pemecahan suatu masalah, yaitu : 1. Identifikasi atau Inventarisasi Masalah Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai, menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja, misalnya SPM. Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil pencapaian. Kemudian membandingkan antara kedaan nyata yang terjadi (cakupan) dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan (target). 2. Penentuan Prioritas Masalah Penentuan prioritas masalah ditentukan dengan berbagai metode diantaranya adalah Hanlon, Delbeq, CARL, Pareto, dan lain-lain. 3. Penentuan Penyebab Masalah

24

Penentuan kepustakaan.

penyebab

masalah

dilihat

berdasarkan masalah

data

ataupun jangan

Penentuan

penyebab

hendaknya

menyimpang dari masalah tersebut.

4. Memilih Penyebab Yang Paling Mungkin Penyebab masalah paling mungkin terjadi harus dipilih berdasarkan sebabsebab yang didukung oleh data atau konfirmasi. 5. Menentukan Alternatif Pemecahan Masalah Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah apabila penyebab masalah sudah dapat teridentifikasi dengan baik namun dalam pemecahan masalah harus memiliki berbagai macam alternatif pemecahan masalah. 6. Penetapan Pemecahan Masalah Terpilih Setelah alternatif pemechan masalah ditentukan maka dilakukan pemilihan pemecahan masalah terpilih (paling efektif dan efisien) apabila ditemukan beberapa alternatif maka digunakan Hanlon kualitatif untuk menentukan atau memilih pemecahan masalah terbaik. 7. Penyusunan Rencana Penerapan Rencana penerapan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plain Of Action) atau rencana kegiatan. 8. Monitoring dan Evaluasi 25

Untuk mengetahui keberhasilan dari pemecahan suatu masalah dilakukan monitoring pada saat proses penyelesaiaan masalah tersebut berlangsung dan evaluasi setelah seluruh permasalahan selesai. (Hartoyo. 2011) Masalah yang akan dibahas dirangkum dengan menggunakan bagan pendekatan pemecahan masalah sebagai berikut :

P rob le mS olvin gC y cle :
1. Identifikasi Masalah

8. Monitoring & Evaluasi

2. Penentuan Prioritas Masalah

7. Penyusunan rencana penerapan

3. Penentuan Penyebab Masalah

6. Penetapan pemecahan masalah terpilih

5. Menentukan alternatif pemecahan masalah

4. Memilih Penyebab yang paling mungkin

Gambar 2. Kerangka pikir pemecahan masalah D. Analisis Penyebab Masalah Untuk menganalisis penyebab masalah manajemen puskesmas, digunakan pola pendekatan sistem dan pendekatan mutu. Akan tetapi, dalam laporan ini yang digunakan hnaya pola pendekatan sistem saja. Pendekatan sistem meliputi input (man, method, money, machine, material), proses (P1 Perencanaan, P2 Penggerakkan dan Pelaksanaan, P3

26

Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian) dan lingkungan, yang kemudian dituangkan dalam diagram fishbone. Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan atau cakupan kegiatan tidak sesuai dengan target pencapaian. Sistem yang diutarakan pada laporan ini adalah sistem terbuka pelayanan kesehatan dan dijabarkan sebagai berikut : INPUT Man Money Method PROSES P1 P2 P3 OUTPUT Cakupan Program

LINGKUNGAN Fisik Kependudukan Sosial Budaya Gambar 3. Kerangka Pemikiran Pendekatan Sistem Cakupan masalah terdapat pada output dimana hasil kegiatan atau cakupan kegiatan tidak sesuai dengan standar minimal. Hal yang terpenting pada upaya pemecahan masalah adalah bahwa kegiatan dalam rangka pemecahan masalah hars sesuai dengan penyebab masalah tersebut, yakni berdasarkan pendektan sistem penyebab masalah yang terjadi pada input, proses maupun lingkungan.

E. Menentukan Kemungkinan Penyebab Masalah

27

Dalam menganalisis penyebab maslah secara menyeluruh digunkan pendekatan evalusi menejemen meliputi input, proses, output, outcome serta environment. Sehingga dapat ditelusuri hal-hal yang kemungkinan

menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan tersebut.

28

Tabel 3. Analisis input penyebab masalah Kekurangan / penyebab masalah Koordinator imunisasi : • Hanya merekap data imunisasi, tidak mensurvei langsung. • Tidak mengecek ulang data imunisasi yang masuk. Bidan desa : • Kurangnya kesehatan, dikarenakan hanya tersedia 1 bidan untuk 1 desa yang terdiri dari 8 posyandu. • Tidak mengecek tenaga

Komponen Input Man •

Kelebihan Tersedianya koordinator pengurus imunisasi. • • Tersedianya 1 orang bidan desa. Tersedianya 15 kader di Desa Ngadirojo

ulang hasil pencatatan dan pelaporan yang ditulis kader. Kader : • Pengetahuan kader

masih kurang tentang imunisasi BCG dan manajemennya. • Hanya sebagian kader yang aktif.

29

Money

Sumber dana berasal dari Dinas Kesehatan untuk pendanaan imunisasi

Terdapat dana swadaya masyarakat digunakan untuk kepentingan posyandu dan para kader sebesar Rp

Method

1000,• Sudah dilakukannya • kegiatan posyandu yang sesuai jadwal. • Pelaksanaan dilakukan dengan sistem 5 meja • Sudah ada pemberitaan di Desa untuk warga Terdapat tempat untuk dilakukannya posyandu. • •

Kurangnya materi yang disampaikan tentang manfaat imunisasi BCG. Belum adanya SOP imunisasidi posyandu. Tidak adanya

penyuluhan mengenai • imunisasi. Tidak adanya brosur, pampflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai imunisasi BCG.

Material

Machine

Tersedianya alatalat, vaksin, obat KIPI, paracetamol untuk imunisasi.

Terdapatnya KMS

30

di posyandu. • P1 (perencanaan) Ada buku laporan • Tidak ada jadwal untuk kunjungan rumah untuk mendata bayi yang belum di imunisasi. kegiatan imunisasi • Sudah ada penjadwalan setiap bulannya untuk kunjungan desa. • Informasi jadwal dilakukan 1 hari sebelumnya P2 (penggerakan pelaksanaan) • • dilakukan posyandu Posyandu dilakukan • sesuai dengan jadwal. Pelaksanaan menggunakan Proses sistem 5 meja. • Bidan desa selalu membawa alat dan vaksin imunisasi saat posyandu. • Tidak semua yang datang imunisasi dilakukan konseling setelah diimunisasi. Jika ada warga yang datang ke posyandu ingin melakukan imunisasi dalam jumlah yang sedikit ( ≤ 3 bayi) di tunda, dan di anjurkan untuk P3 (pengawasan, pengendalian , dan penilaian) • • Adanya bidan yang bertanggung jawab dalam pengawasan jalannya posyandu Adanya laporan bulanan kegiatan imunisasi Lingkungan (fisik dan non fisik) • tahu • • • datang ke puskesmas. Pelaporan hasil kegiatan tidak dicek ulang oleh koordinator imunisasi atau bidan desa. Tidak ada evaluasi setelah kegiatan posyandu oleh bidan desa dengan kader. Masyarakat desa

Masyarakat

31

bahwa penting

imunisasi untuk

Ngadirojo sebagian besar bekerja, sehingga sulit untuk mengikuti imunisasi posyandu. • Masyarakat sebagian melakukan imunisasi BCG di tempat Bidan swasta dan Rumah sakit.

pencegahan penyakit.

Hasil analisis masalah di atas dapat dibuat dalam bentuk diagram fishbone yaitu sebagai berikut :

32

F. Fish Bone PROSES
P2 :

P1 :

Tidak semua yang datang imunisasi dilakukan konseling setelah diimunisasi.
P3 :

MASALAH Penemuan kasus bayi yang mendapat imunisasi BCG di Desa Ngadirojo pada Periode Januari – Oktober 2011 sebagian besar 56,53%.

Tidak ada jadwal untuk kunjungan rumah untuk mendata bayi yang belum di imunisasi.

 Pelaporan hasil kegiatan tidak dicek ulang oleh koordinator imunisasi atau bidan desa.  Tidak ada evaluasi setelah kegiatan posyandu oleh bidan desa dengan kader.

Man
Koordinator imunisasi : • Hanya merekap data imunisasi, tidak mensurvei langsung. • Tidak mengecek ulang data imunisasi yang masuk. Bidan desa : • Kurangnya tenaga kesehatan, dikarenakan hanya tersedia 1 bidan untuk 1 desa yang terdiri dari 8 posyandu. • Tidak mengecek ulang hasil pencatatan dan pelaporan yang ditulis kader. Kader : • Pengetahuan kader masih kurang tentang imunisasi BCG dan manajemennya. • Hanya sebagian kader yang aktif.

INPUT
• •

Methode
Kurangnya materi yang disampaikan tentang manfaat imunisasi BCG. Belum adanya SOP imunisasidi posyandu. Tidak melakukan survei atau penyuluhan mengenai imunisasi. .

Money Material
Tidak adanya brosur, pampflet dan poster sebagai sarana edukasi mengenai imunisasi BCG.

-

LINGKUNGAN
Masyarakat desa Ngadirojo sebagian besar bekerja, sehingga sulit untuk mengikuti imunisasi posyandu.

Machine Gambar 4. Diagram fish bone

33

G. Penyebab Masalah yang Paling Mungkin Dari berbagai penyebab masalah, setelah dilakukan klarifikasi dengan beberapa petugas terkait dan dilakukan wawancara kepada responden, beserta kader. Maka berdasarkan analisis penyebab masalah di atas di dapatkan penyebab masalah yang paling mungkin terjadi, yaitu : 1. Tidak ada jadwal untuk kunjungan rumah untuk mendata bayi yang belum di imunisasi. 2. Tidak adanya program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk mengadakan penyuluhan mengenai imunisasi BCG kepada masyarakat. 3. Pelaporan hasil kegiatan tidak dicek ulang oleh koordinator imunisasi atau bidan desa.

34

BAB VI PEMECAHAN MASALAH

A. Alternatif Pemecahan Masalah Setelah melakukan analisis penyebab yang paling mungkin dari masalah rendahnya cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang periode Januari – Oktober 2011. maka langkah selanjutnya yaitu menyusun alternatif pemecahan masalah.

B. Kerangka Alternatif Pemecahan Masalah Penyebab Masalah Alternatif Pemecahan Masalah Meningkatkan peran serta kader di posyandu untuk membantu pelaksanaan agar lebih baik di posyandu Membuat jadwal kunjungan rumah 1 bulan sekali untuk mendata bayi yang sudah atau belum di imunisasi. Melakukan penyuluhan guna untuk meningkatkan pengetahuan mengenai imunisasi. Pemantauan langsung oleh koordinator imunisasi saat ada kegiatan posyandu di desa. Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi. 35

Tidak ada jadwal untuk kunjungan rumah untuk mendata bayi yang belum di imunisasi.

Tidak adanya program dari Puskesmas atau Posyandu setempat untuk mengadakan penyuluhan mengenai imunisasi BCG kepada masyarakat.

Pelaporan hasil kegiatan tidak dicek ulang oleh koordinator imunisasi atau bidan desa.

C. Hasil Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah 1. Meningkatkan peran serta kader di posyandu untuk membantu pelaksanaan agar lebih baik di posyandu. 2. Membuat jadwal kunjungan rumah 1 bulan sekali untuk mendata bayi yang sudah atau belum di imunisasi. 3. Melakukan penyuluhan guna untuk meningkatkan pengetahuan mengenai imunisasi. 4. Pemantauan langsung oleh koordinator imunisasi saat ada kegiatan posyandu di desa. 5. Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi D. Penentuan Pemecahan Masalah Dengan Kriteria Matriks Menggunakan Rumus MxIxV/C Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks dengan rumus M x I x V / C. (Hartoyo. 2011) Penyelesaian masalah sebaiknya memenuhi kriteria, sebagai berikut : 1. Efektivitas program Pedoman untuk mengukur efektivitas program : a. Magnitude (M) : Besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan b. Importancy (I) : Pentingnya cara penyelesaian masalah

36

c. Vulnerability (V) : Sensitifitas cara penyelesaian masalah Kriteria M, I, dan V diberi nilai 1 – 5. Bila makin magnitude maka nilainya makin besar, mendekati 5. Begitu juga dalam melakukan penilaian pada kriteria I dan V. (Hartoyo. 2011) 2. Efisiensi pogram Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cost). Kriteria cost (c) diberi nilai 1 – 5. Bila costnya makin kecil, maka nilainya mendekati 1. (Hartoyo. 2011) Tabel 4. prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks
Nilai Penyelesaian Masalah M Meningkatkan peran serta kader di posyandu untuk membantu pelaksanaan agar lebih baik di posyandu. Membuat jadwal kunjungan rumah 1 bulan sekali untuk mendata bayi yang sudah atau belum di imunisasi. Melakukan penyuluhan guna untuk meningkatkan pengetahuan mengenai imunisasi. Pemantauan langsung oleh koordinator imunisasi saat ada kegiatan posyandu di desa. Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi. Kriteria I V C Hasil Akhir (MxIxV)/ C 20 IV

Urutan

5

4

5

5

3

4

3

1

36

II

3

4

3

5

7,2

V

4

5

5

3

33,33

III

3

4

4

1

48

I

37

Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif penyebab pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks, maka didapatkan urutan prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah rendahnya cakupan cakupan imunisasi BCG di Desa Ngadirojo, sebagai berikut : 1. Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi setalah acara posyandu berlangsung di Desa. 2. Membuat jadwal kunjungan rumah 1 bulan sekali untuk mendata bayi yang sudah atau belum di imunisasi. 3. Pemantauan langsung oleh koordinator imunisasi saat ada kegiatan posyandu di desa. 4. Meningkatkan peran serta kader di posyandu untuk membantu pelaksanaan agar lebih baik di posyandu. 5. Melakukan penyuluhan guna untuk meningkatkan pengetahuan mengenai imunisasi. Setelah di dapatkan prioritas alternatif pemecahan masalah di atas, maka prioritas utama dari masalah di atas adalah “Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi”. Adapun isi dari pelaksanaannya, sebagai berikut : 1. Mengadakan rapat evaluasi hasil kegiatan posyandu. 2. Pengumpulan data-data yang telah dilakukan imunisasi. 3. Mendatangi rumah warga yang bayinya tidak hadir untuk mengikuti imunisasi BCG.

38

E. Plan Of Action (POA) Cakupan Imunisasi BCG di Desa Ngadirojo
Tabel 5. Plan of action cakupan Imunisasi BCG
No. 1. Kegiatan Rapat evaluasi Tujuan Meningkatkan mutu pelayanan saat melakukan imunisasi. Sasaran kader, dan bidan desa Lokasi Di balai desa Pelaksana kordinator imunisasi Waktu Setiap bulan Dana Anggaran Puskesmas Metode musyawarah bersama antara koordinator imunisasi dengan bidan desa dan kader Kunjungan langsung ke bidan praktek swasta atau pelayanan kesehatan swasta Proses: Terlaksananya evaluasi yang dihadiri bidan desa dan kader. Hasil : Meningkatnya mutu pelayanan posyandu, khusunya dalam pelaksanaan imunisasi BCG. Proses: Terkoordinasinya pelaporan dan pencatatan dengan bidan praktek swasta atau pelayanan kesehatan swasta. Hasil : Didapatkan data kunjungan bayi yang sudah imunisasi dan belum imunisasi Proses: Terlaksananya kunjungan ke rumah bayi yang belum di imunisasi BCG Hasil : Seluruh bayi di desa Ngadirojo sudah dilakukan imunisasi BCG. Tolak ukur

2.

Pengumupulan data-data.

Didapatkan data bayi yang sudah imunisasi BCG dan yang belum melakukan imunisasi BCG.

Bidan desa, kader, dan bidan prakter swasta atau pelayanan kesehatan swasta

Di balai desa

Bidan desa dan koordinator imunisasi

Setiap bulan

Anggaran Puskesmas

3.

Melakukan survei.

Untuk mendata nama bayi yang belum dilakukan imunisasi, sehingga pemberian imunisasi BCG yang merata.

bayi yang belum imunisasi BCG

Rumah ibu yang memiliki bayi yang belum imunisasi BCG.

Bidan desa dan kader posyandu

Setiap bulan

Dana operasional puskesmas dan posyandu

Kunjungan langsung ke rumah dan edukasi warga.

39

Tabel 6. Gann Chart Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sept Okto Nov Des Kegiata n 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1* 2* 3*

*Keterangan : 1. Mengadakan rapat evaluasi hasil kegiatan posyandu. 2. Pengumpulan data-data yang telah dilakukan imunisasi. 3. Mendatangi rumah warga yang bayinya tidak hadir untuk nmengikuti imunisasi BCG.

40

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan standar pelayanan minimal (SPM) yang menunjukan cakupan kunjungan bayi yang mendapat imunisasi BCG yang masih kurang mencapai target di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Permasalahannya ada pada data Standar Pelayanan Minimal pada Periode Januari – Oktober 2011, di dapatkan cakupan 53,70% dari 11 desa yang berada di bawah naungan puskesmas Secang I. Alternatif pemecahan masalah yang akan diterapkan antara lain dengan menggunakan metode penyelesaian masalah kriteria matriks dengan melihat magnitude, importancy, vulnerability dan cost. Dengan alternatif kegiatan berdasarkan urutan prioritas masalah utama, sebagai berikut : 6. Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang setalah acara posyandu berlangsung di Desa. 7. Membuat jadwal kunjungan rumah 1 bulan sekali untuk mendata bayi yang sudah atau belum di imunisasi. 8. Pemantauan langsung oleh koordinator imunisasi saat ada kegiatan posyandu di desa. 9. Meningkatkan peran serta kader di posyandu untuk membantu pelaksanaan agar lebih baik di posyandu.

10. Melakukan penyuluhan guna untuk meningkatkan pengetahuan mengenai imunisasi. Setelah di dapatkan prioritas alternatif pemecahan masalah di atas, maka prioritas utama dari masalah di atas adalah “Melakukan evaluasi dan pengecekan ulang data imunisasi”. Adapun isi dari pelaksanaannya, sebagai berikut : 4. Mengadakan rapat evaluasi hasil kegiatan posyandu. 5. Pengumpulan data-data yang telah dilakukan imunisasi. 6. Mendatangi rumah warga yang bayinya tidak hadir untuk nmengikuti imunisasi BCG.

B. Saran 1. Untuk Masyarakat • Diharapkan masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan bayinya, terutama dalam pemberian imunisasi dasar. • Diharapkan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan imunisasi secara rutin di posyandu, jika ada bayi yang belum diimunisasi bisa dapat terdeteksi. 2. Untuk Profesi • Agar dapat meningkatkan program penyuluhan kepada masyarakat guna menambah pengetahuan kesehatan kepada warga. • Agar selalu melakukan pemantauan kegiatan imunisasi serta selalu mengadakan penilaian, pengawasan, dan evaluasi kegiatan imunisasi.

3. Untuk Perangkat Desa • Diharapkan dapat membantu dalam mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam program-program puskesmas dan posyandu, terutama dalam ppemberian imunisasi. 4. Untuk Penulis

Sebagai bahan pembelajaran bagi penulis mengenai upaya dalam mengatasi masalah kesehatan di desa dan di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2011. Asuhan Kebidanan Bayi Imunisasi BCG . Available from : http://asuhankebidanan.net/2011/asuhan-kebidanan-bayi-imunisasi-bcg/. Di akses pada tanggal 21 Desember 2011.

Anonim

b.

2011.

Efek

Samping

Imunisasi.

Available

from

:

http://www.smallcrab.com/anak-anak/713-efek-sampingimunisasi. Di akses pada tanggal 21 Desember 2011

Departemen Kesehatan RI. Pemantauan Program Imunisasi. Jakarta : DEPKES RI ; 2005

Milis. 2010. Vaksin BCG. Available from : http://milissehat.web.id/?p=851. Di akses pada tanggal 21 Desember 2011.

Hartoyo, M.Kes. 2011. Handout Instrumen Analisa Penyebab untuk Pemecahan Masalah. Magelang

Hartoyo, M.Kes. 2011. Handout Instrumen dalam Proses Pemecahan Masalah, Penentuan Prioritas Masalah dan Pengambilan Keputusan. Magelang.

Hartoyo, M.Kes. 2011. Handout Penentuan Prioritas dan Pemecahan Masalah . Magelang.

Heri Muchdiyono, M. Kes. 2011. Pelayanan di Puskesmas. Magelang

Staf Pengajar FKUI. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : FKUI

Yuniar. 2011. Handout Upaya Kesehatan Puskesmas & Indikator. Magelang.

LAMPIRAN

1. Kuesioner KUESIONER : Nama Ibu Umur Ibu Alamat Pekerjaan Pendidikan : : : : : Jumlah Anak : Nama Anak Umur Anak : :

PENGETAHUAN : 1. Apakah anda mengetahui tentang imunisasi ? 1. Ya 2. Apakah manfaat imunisasi ? 1. Mengobati Penyakit 2. Mencegah Penyakit 2. Tidak

3. Ada berapa jenis imunisasi yang di anjurkan pemerintah ? 1. 3 jenis 4. Apa manfaat imunisasi BCG ? 1. Agar anak tidak terkena TBC 5. Kapan diberikan imunisasi BCG? 1. usia 0-2 bulan SIKAP : 1. Apakah imunisasi penting menurut anda ? 1. Penting 2. Tidak penting 2. 4 bulan 2. Agar anak tidak lumpuh 2. 5 jenis

2. Apakah petugas imunisasi ramah terhadap anda ? 1. Ramah 2. Tidak ramah

3. Saat anak anda diimunisasi, apakah petugas memberikan penjelasan tentang imunisasi ? 1. Ya 2. Tidak

4. Apakah kegiatan imunisasi mengganggu waktu anda ? 1. Mengganggu 2. Tidak mengganggu

5. Apakah suami/keluarga anda mendukung anda mengikuti imunisasi ? 1. Mendukung PRILAKU : 1. Apakah anda rutin membawa anak anda mengikuti imunisasi ? 1. Ya 2. Tidak 2. Tidak mendukung

2. Apakah anak anda sudah di imunisasi BCG ? 1. Ya 2. Tidak

3. Apa yang anda lakukan jika muncul efek sampig (demam), apa yang akan anda lakukan ? 1. Dibiarkan saja 2. Diberi obat penurun panas

4. Apa yang anda lakukan agar anak anda tetap sehat ? 1. Memberikan imunisasi dan makanan bergizi 5. Apakah anda pernah mengikuti penyuluhan tentang imunisasi ? 1. Ya pernah 2. Tidak pernah 2. Memberikan imunisasi saja

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->