Gingivostomatitis herpetic primer a.

Pada sebagian besar kasus yang ditemukan disebabkan oleh virus herpes simplex tipe 1 (HSV 1) b. Tipe 2 (HSV 2) juga dapat terjadi pada rongga mulut (<5% kasus) c. Virus DNA yang menular melalui saliva dan kontak langsung d. Lebih banyak ditemukan pada anak-anak, tetapi dapat juga terjadi pada dewasa muda e. Infeksi primer seringkali bersifat subklinis f. Sekitar 90% orang dewasa memiliki antibody terhadap HSV 1 sebelum usia mereka mencapai 30 tahun dan membawa virus tersebut dalam bentuk laten g. Setelah infeksi, virus tetap berada dalam ganglion sensoris tanpa menimbulkan keluhan h. Reaktivasi yang terjadi pada virus laten dapat terjadi dan menyebabkan herpes labialis, yang disebut juga “cold sore” i. Infeksi awal menyebabkan gejala ringan atau berupa gingivostomatitis herpetic primer.

Gejala: a. Ulserasi multiple intraoral yang menyebabkan rasa sakit di gingival, lidah, dan radang tenggorok b. Ditemukan krusta yang berdarah pada bibir c. Ada rasa sakit pada waktu menelan, makan dan berbicara d. Pasien merasa tidak enak badan, suhu tubuh meningkat e. Dapat disertai rasa mual, muntah dan sakit kepala.

Tanda:

a. Seluruh bagian rongga mulut dapat terkena, terutama bibir, gingival, palatum durum dan lidah b. Lesi awal berupa vesikel yang kemudian akan pecah c. Gingival membengkak dan oedematous d. Ulkus bersifat multiple dan bergabung menjadi satu e. Bentuk: bulat dan dangkal f. Ukuran: diameter 2-3 mm g. Dasar lesi: kekuningan atau keabuan h. Tepi lesi: merah dan meradang i. Kadang ditemukan ruam kulit j. Suhu tubuh meningkat, kelenjar limfe regional membesar dan lunak k. Terjadi dehidrasi pada anak-anak. (Birnbaum, Warren. 2009. Diagnosis Kelainan dalam Mulut: Petunjuk bagi Klinisi. Jakarta: EGC)

Tes Pemeriksaan Mikrobiologi a. Bekerjasama dengan laboratorium untuk mendapatkan swab, botol specimen, formulir permintaan pemeriksaan lab, serta rincian cara pengiriman yang disukai dan perlindungan kemasan yang dikirim b. Idealnya, specimen diambil sebelum perawatan antimicrobial c. Dapat mengidentifikasi mikroorganisme penyebab infeksi yang berasal dari gigi d. Sensitivitas organism terhadap berbagai antibiotic dapat ditentukan sehingga dapat diberikan perawatan yang paling efektif. Infeksi Virus: a. Swab dikirim dalam medium transport khusus untuk dilakukan pemeriksaan kultur atau pemeriksaan mikroskop electron. Swab kering tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnosis

b. Specimen darah (dalam wadah biasanya sebanyak 10 ml) juga perlu dikirim untuk pemeriksaan serologi c. Diperlukan perlakuan hati-hati untuk mendapatkan dan mengirim specimen berbahaya, misalnya virus hepatitis dan HIV. Sedapat mungkin menghindari tusukan jarum dan kontaminasi permukaan luar dari wadah specimen. (Birnbaum, Warren. 2009. Diagnosis Kelainan dalam Mulut: Petunjuk bagi Klinisi. Jakarta: EGC.)

Akut Herpetik Gingivostomatitis Walaupun pada sebagian besar kasus, infeksi primer bersifat subklinis atau asimptomatik, menifestasi klinis yang paling sering adalah gingivostomatitis yang parah. Penyakit ini lebih sering mengenai anak umur 1-10 tahun, tetapi tidak jarang juga mengenai orang dewasa. Timbul secara mendadak dengan demam tinggi dan lemas, pasien lemah dan sulit makan. Terlihat limfadenopati submandibula dan servikal atas yang dalam. Mukosa mulut meradang dan gingival terserang peradangan akut, membengkak dan mudah berdarah. Lesi khas berupa vesikel yang timbul pada seluruh mukosa mulut, terutama pada palatum didekat geraham besar susu (atau geraham kecil tetap) dan gingival margin. Vesikel memiliki dinding sangat tipis, terlihat berupa tetesan embun kecil pada mukosa yang cepat pecah, membentuk ulser cekung serta dangkal berdiameter 1-2 mm dan sakit pada bagian atas daerah konus yang kecil, terlihat mirip kawah bulan. Seringkali terlihat kasus tanpa pecahnya vesikel yang dapat menunjukkan diagnose, tetapi pada orang dewasa lesi mungkin lebih sedikit dan besar daripada anak-anak dan sulit dibedakan dengan apthae, walaupun riwayat yang ada cukup dapat membedakan keduanya. Diagnose ditentukan dengan mengerok dasar vesikel yang belum pecah (setelah atapnya dibuang) dan memeriksa sel secara mikroskopis. Biasanya tipe sel di atas dapat terlihat dan dapat digunakan untuk menentukan diagnose (sel serupa terlihat pada cacar air dan zoster, tetapi

keduanya jelas terlihat secara klinis). Bukti diagnose lain dapat diperoleh (walaupun kurang jelas) dengan isolasi virus atau penentuan titer antibody. Untuk penentuan titer, darah awalnya diperlukan dan setelah 21 hari kemudian, terlihat peningkatan titer yang cukup besar.

Perawatan: Walaupun penyakit ini tidak menyebar dan hilang spontan setelah 14 hari, usaha mengurangi gejala dapat dilakukan dengan member elixir tetrasiklin 250 mg qds (untuk orang dewasa) yang digunakan untuk kumur-kumur setelah makan. Untuk anak-anak, digunakan elixir eritromisin. (Gayford, J.J. 1990. Penyakit Mulut (Clinical Oral Medicine). Jakarta: EGC.)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful