LAPORAN REFLEKSI KASUS STASE ILMU FORENSIK

Oleh : Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Permana Putra(08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG 2013

Page 1

warna kulit sawo matang. Pakaian kaos dalam warna putih merek gaetza ukuran 36. Sosial Ekonomi e. Dari pemeriksaan atas jenazah tersebut maka disimpulkan bahwa telah diperiksa jenazah laki-laki. Kronologis : Dari teman korban yang selamat didapatkan keterangan bahwa korban merupakan salah satu ABK (Anak Buah Kapal ) dari kapal Barito pasifik yang melarikan diri karena menjadi korban kekerasan dari kapten kapal. celana pendek warna hitam merek tatonika dan celana dalam warna coklat merek scorpion ukuran L. untuk aspek ke-Islaman sifatnya wajib) a.R No Surat Visum : Ver/01/I/2013/Serse Umur : 20 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Diagnosis/ kasus : diduga meninggal dunia karena tenggelam Pengambilan kasus pada minggu ke : 2 Jenis Refleksi: lingkari yang sesuai (minimal pilih 2 aspek. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus Dokter dalam pelaksanaan praktiknya wajib memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien. yang berdasarkan surat permintaan tersebut di atas bernama R. Didapatkan tanda-tanda kontak dengan air yang lama. Aspek lain Form uraian 1. mengurangi penyulit yang mungkin timbul. yang beralamat Karawang Jawa Barat ditemukan di laut jawa. lurus. panjang badan seratus tujuh puluh sentimeter. dan melindungi diri dari kemungkinan penularan Page 2 . 29 tahun 2004. Ke-Islaman* b. meringankan penderitaan korban. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ). Etika/ moral c. pasal 45 ayat 1. Ptb yang ditanda tangani oleh Supano pangkat AKP. kurang lebih dua puluh tahun. Sebab kematian tenggelam di air asin yang menyebabkan mati lemas. dukuh pilang sari desa widodo kulon kecamatan patebon Kendal dan diduga meninggal dunia karena tenggelam. setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan. di kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Semarang telah diperiksa jenazah. Dalam penanganan penderita gawat darurat yang terpenting bagi tenaga kesehatan adalah mempertahankan jiwa penderita. Permana Putra (08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161) Stase Identitas Pasien Nama / Inisial : Ilmu Forensik : Sdr. rambut berwarna hitam. NRP 61070465 dan diterima tanggal 9 Januari 2012. umur dua puluh tahun. Terdapat tanda-tanda pembusukan. Dalam UU No. tenggelam di air asin dan tandatanda mati lemas.Kdl/Sek. Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resor Kendal Sektor Patebon melalui suratnya tanggal 9 Januari 2013 Nomor Polisi: LP/1/1/2013/Jtg/Res.FORM REFLEKSI KASUS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA _____________________________________________________________________________________________ Nama Dokter Muda / NIM : Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Medikolegal d. 2. jenis kelamin laki-laki.

Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. menyetujui. · Erat terkait dengan doktrin informed-consent. · Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth. dan kedua. · Mengutamakan kepentingan pasien · Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain · Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk) · Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada. Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya). o menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain. bantulah membuat keputusan penting. juga prima facie dalam penerapan praktiknya secara skematis dalam gambar berikut : a. dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects). Selain menghormati martabat manusia. hormatilah hak privasi liyan. · Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan. membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat). dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat. membenarkan. c. penggunaan teknologi baru. maka dari itu dalam refleksi kasus ini kami akan membahas mengenai perspektif islam mengenai otopsi. Konsil Kedokteran Indonesia. pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup). tetap berlaku dan harus diikuti. mendukung. · Pandangan J. paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi). letting die. suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. menetapkan bahwa. satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Refleksi dari aspek etika moral /medikolegal/ sosial ekonomi beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai * *pilihan minimal satu Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. · Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak. dimana dalam melakukan autopsy terdapat beberapa ketentuan terkait aspek medikolegal. 3. do no harm. mintalah consent untuk intervensi diri pasien. setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan). praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika).penyakit menular dari penderita. lindungi informasi konfidensial. Menghormati martabat manusia. Proses otopsi terkadang masih mengundang pro dan kontra dari segi keislaman. Pernyataan kuno: first. Tindakan berbuat baik (beneficence) • General beneficence : o melindungi & mempertahankan hak yang lain o mencegah terjadi kerugian pada yang lain. karena kondisi berbeda. b. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Tetapi pada beberapa kasus. setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri). Pertama. membela. satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. • Specific beneficence : o menolong orang cacat. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Pada praktiknya. Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap ramah atau menolong. Pada kasus ini dilakukan autopsy. o menyelamatkan orang dari bahaya. Page 3 . bila ditanya. Berbuat baik (beneficence). · Menghendaki. hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.

Norma dalam etika kedokteran (EK) : · Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan) · Fakta fundamental hidup bersusila : Page 4 . d.Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama : · Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien. Inilah yang disebut pemilihan berdasarkan asas prima facie.· Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien. · Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif .  Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat). · Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu · Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan). dengan cara rata/merata. diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). · Treat similar cases in a similar way = justice within morality. agama dan faham kepercayaan. d.Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting . secara material kepada : · Setiap orang andil yang sama · Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya · Setiap orang sesuai upayanya. · Setiap orang sesuai kontribusinya · Setiap orang sesuai jasanya · Setiap orang sesuai bursa pasar bebas c. isinya larangan. Perbedaan kedudukan sosial. tingkat ekonomi. · Norma tunggal. Menuntut pengorbanan relatif sama. khususnya : yang-hak dan yang-baik · Jenis keadilan : a. status perkawinan. sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmanirohani. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya) b. seperti : · Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien · Minimalisasi akibat buruk · Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : . seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-”absah” sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ’ilat yang sesuai). serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya.Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut . pandangan politik. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Hukum (umum) : · Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) b. · pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu. · Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagaifairness) yakni : a. Keadilan (justice). kebangsaan dan kewarganegaraan.

diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Jadi dokter tetap bebas. karena telah berabad-abad. Etika profesi luhur/mulia : Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan : · Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter) · Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = l’esprit de corpse pour officium nobile 7. Etika profesi (biasa): · bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi · bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai. 6.18 Tahun 1981 Bab 2. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran. misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht) · Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran. Bisa menaati atau masa bodoh. kewajiban ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri. Etika normatif (mengacu ke deontologis. Otopsi diperbolehkan jika jenazah menderita penyakit yang berbahaya bagi masyarakat (menular) Prosedur mediko-legal Prosedur mediko-legal adalah tata-cara atauprosedur penatalaksanaan dan berbagaiaspek yang berkaitan pelayanan kedokteranuntuk kepentingan hukum Secara garis besar prosedur mediko-legalmengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. · bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM). 3. tidak tenang. umum. Otopsi Klinik Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Otopsi diperbolehkan bila ada surat permintaan dari kepolisian b. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah. zelfoplegging) 4. Otopsi diperbolehkan jika dalam 2x24 jam tidak ada keluarga korban yang datang ke rumah sakit c. yaitu : 1. Otopsi Autopsi dibagi berdasarkan tujuannya. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum) 2. · Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori). Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed. Bedah Mayat Klinis Pasal 2: a. menyesal. Otopsi Menurut Pandangan Hukum Menurut PPRI No.menghalang-halangi atau menggagalkanpemeriksaan mayat untuk pengadilan. Tujuannya untuk Page 5 ..Etika mewajibkan dokter secara mutlak. teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya) 5. namun sekaligus tidak memaksa. Sifat Etika Kedokteran : 1. danpada beberapa bidang juga mengacukepada sumpah dokter dan etikakedokteran PEMERIKSAAN MAYAT UNTUK PERADILAN PASAL 222 KUHP Barangsiapa dengan sengaja mencegah. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien). yangbaik & yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi) · Isi : 2 norma pokok : · sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain. norma-norma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral · Sebagian isinya dilindungi hukum.

sehingga apabila keluarga keberatan atas pelaksanaan autopsi. Menetapkan sebab kematian c. menggambarkan dan mengukur luka luar dan luka dalam f. persetujuan keluarga jenazah tidak diperlukan dalam prosedur autopsi forensik. Mendeteksi. Tujuan pemeriksaan otopsi forensic adalah untuk: a. maupun bunuh diri. sebelum diberikan kepada keluarga. Maka apabila mereka melaksanakannya niscaya akan terjada darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka pada Allah. Secara yuridis. Maka tidak boleh membunuh. dan saat kematian c. Dari Ibnu Umar berkata : “Rasulullah bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada TuhanYang Berhak disembah kecuali Allah dan Muhamad adalah utusan Nya. An Nisa’ : 93) 2. Allah Ta’ala berfirman : “Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja. Untuk otopsi ini mutlak diperlukan ijin keluarga terdekat mayat tersebut. Menentukan penyebab pasti kematian. pemeriksaan mikrobiologi dan histologi dan infestigasi penting lainnya g. namun dalam keadaaan amat memaksa dapat dilakukan otopsi parsial atau needle necropsy terhadap organ tertentu meskipun pada kedua keadaan tersebut kesimpulannya sangat tidak akurat. mekanisme kematian. Banyak dalil yang berhubungan dengan hal ini. maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk otopsi anatomi. fisik dan perawatan b. Untuk otopsi ini diperlukan ijin dari korban (sebelum meninggal) atau keluarganya. maka balasannya adalah neraka Jahannam. Untuk mendemonstrasikan segala kelaian luar dan dalam. Menetapkan cara kematian dan waktu kematian yang penting dan mungkin d.” Page 6 . Otopsi Forensik / Medikolegal Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaaan. oleh dokter sendiri. malformasi dan penyakit e. melukai dan menyakitinya serta tidak boleh mematahkan tulang atau mencincang tubuhnya setelah dia meninggal. keberatan dapat disampaikan pada penyidik. kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya. Dalam keadaan darurat jika dalam 2x24 jam seorang jenazah tidak ada keluarganya. Dokter hanya merupakan pelaksana permohonan penyidik (dalam hal iniKepolisian) untuk melakukan autopsi. 4. Dilakukan oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi manusia. Mendapatkan sampel untuk analisis. 3. diantaranya : 1. Otopsi Anatomi Dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat penyakit. pembunuhan. Menahan organ dan jaringan yang relevan sebagai bukti h. patogenaesis penyakit. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai Kehormatan seorang muslim hidup maupun mati Termasuk sesuatu yang sangatbaik jelas hukumnya dalam syariat islam adalah kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati.” (QS. dsb. Mendapatkan foto dan video untuk keterangan dan pendidikan i. mendirikan sholat serta menunaikan zakat. menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem. Memberikan interpretasi ahli terhadap semua yang ditemukan Memperbaiki kondisi tubuh. Sebaiknya otopsi klinis dilakukan secara lengkap. lengkap.menentukan penyebab kematian yang pasti. Prosedur Otopsi sebagai berikut: a. Membantu penentuan identitas mayat b. Membuat identifikasi dari tubuh memperkirakan ukuran. dan seteliti mungkin. Menyediakan laporan tertulis yang lengkap untuk temuan otopsi j. Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam membentuk visum et repertum Otopsi forensic harus dilakukan sedini mungkin. Mengumpulkan dan memeriksa benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan d.

Muslim 22) 3. kita bahas satu persatu permasalahan yang ada : Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Baihaqi 4/58.” Otopsi Menurut Agama Menurut agama Islam. Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah dalam keadaan dlorurot ataukah belum sering terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama’ yang menjadikan merekapun berselisih dalam hukumnya. Namun jika meninggal dengan cara yang wajar maka berarti tidak perlu dicari pelakunya atau kalau mungkin sudak ditangkap pihak kepolisian bisa segera di bebaskan. Bukhori 1/70. Otopsi ini diperlukan mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia. kalau memang karena tindakan kriminalitas maka akan dicari tanda-tanda yang memungkinkan akan bisa mengungkap siapa pelakunya. maka tidak ada dosa baginya. Untuk lebih jelasnya. Abu Dawud 2/69. Al Baqoroh : 173) juga berdasarkan sebuah kaidah fiqh yang masyhur bahwasannya keadaan dlorurot (terpaksa) itu bisa menghalalkan sesuatu yang haram.Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan saya adalah utusannya kecuali dengan karena tiga perkara : 1. Dengan otopsi ini seorang dokter bisa mengetahui penyakit yang menyebabkan kematian pasien. Dalam kedaan darurat dan lebih mementingkan manfaat b. 2. Ini sangat diperlukan sekali agar bisa mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat. Namun yang paling sering dilakukan ada tiga macam. yaitu : • Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas Untuk keperluan ini seorang dokter melakukan otopsi jenazah. Ibnu Majah 1/492.” (HR. Dan masih banyak tujuan-tujuan lain. Apakah memang dia meninggal karena tindakan kriminalitas atau karena mati biasa. Bukhori Muslim) 4. Apabila ada ibu meningal dunia dalam keadaan mengandung sedangkan bayi yang dikandungnya masih Page 7 . 3.(HR.Dari Aisyah berkata : “Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mu’min yang sudah meninggal seperti mematahkan tulangnya saat dia masih hidup. sehingga kalau memang ini adalah sebuah wabah dan dikhawatirkan terjangkit pada masyarakat lainnya bisa segera dilakukan tindakan preventif agar tidak menyebar. Orang yang pernah menikah lalu berzina. Ibnu Hibban 776. Orang yang murtad dari agama (islam) dan meninggalkan jamaah. Untuk menegakkan hukum secara adil Macam-macam tujuan membedah jenazah Dilihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi mayat ada beberapa macam. Secara umum hukum dari masalah ini berangkat dari apakah otopsi jenazah seorang muslim itu memang terpaksa harus dilakukan ? karena pada dasarnya tidak boleh melukai.” (QS.” (HR. Ahmad 6/58 dengan sanad shohih. mematahkan tulang dan lainnya dari jasad seorang muslim berdasarkan hadits Aisyahdiatas terkecuali kalau memang dalam keadaan dlorurot harus melakukan itu maka boleh dilakukan berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang makanan yang haram dimakan : “Tetapi barang siapa dalam keadan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas. • Otopsi untuk keperluan praktek ilmu kedokteran. Orang yang membunuh maka diqishos. • Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian secara umum. lihat Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 295) Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : “Hadits ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang mu’min setelah dia meninggal sama sebagaimana tatkala dia masih hidup. otopsi dalam tinjauan syar’i : a. Untuk kepentingan pengembangan ilmu kesehatan c.

hidup. Hal ini sering terjadi. Permana Putra (08711080) Yaltafit Abror Jeem (08711161) Page 8 . (Lihat Syarah Mukhtashor Kholil Syaikh Ahmad Dirdir dan Al Inshof Imam Al Mardawi 2/556. (Lihat Al Majmu’ Syarah Muhadzab Imam Nawawi 5/301.” Umpan balik dari pembimbing TTD Dokter Pembimbing Dr. Adapun bagaimana caranya. maka tidak diperbolehkan melanggar suatu yang sudah jelas keharamannya demi sesuatu yang masih belum jelas. Namun Imam Syafi’i. Al Muhalla 5/166) Dan ini adalah madzhab yang Rojih insya Allah. Maka yang benar adalah pendapat yang mewajibkan pembedahan perut ibu jika para dokter menguatkan kemungkinan bayi itu bisa hidup selepas operasi bedah tersebut.” (Lihat Ahkamul Janaiz hal : 297) Berkata Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Al Muhalla : “Adapun mengeluarkan bayi yang masih hidup dalam kandungan sang ibu maka hal ini wajib dilakukan. dan beliau mengatakan bahwa ini adalah madzhab Abu Hanifah dan jumhur ulama’ juga madzhab Ibnu Hazm dan ini adalah sesuatu yang benar Insya Allah. KF. Ditambah lagi bahwasannya pembedahan perut sang ibu untuk tujuan ini bukanlah sebuah bentuk penghinaan terhadap mayat.” Juga karena Rasulullah melarang untuk mencincang mayat.” Berkata Syaikh Al Albani : “Apa yang dipilih oleh Syaikh Rosyid Ridlo adalah madzhab Syafi’iyah sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi. para ulama berselisih apakah harus di bedah perut ibu atau bagaimana? Imam Malik dan Ahmad mengatakan tidak boleh di bedah perut seorang wanita meskipun bayi yang ada dalam pertnya masih hidup namun dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan farji oleh tenaga medis. Ibnu Hazm dan sebagian ulama’ Malikiyah mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu dibedah perut ibu demi keselamatan bayi yang masih dalam kandungannya. hal itu terserah kepada para ahlinya baik seorang dokter maupun dukun bayi. Dari sini ada dua hal yang bertentangan antara menyelamatkan nyawa bayi itu ataukah menjaga kehormatan sang ibu untuk tidak dilakukan pembedahan dan mematahkan tulangnya ? tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan pertana itulah yang lebih rajih. Rasulullah bersabda : “Mematahkan tulang orang mu’min yang telah meninggal sama seperti mematahkan tulang seorang mu’min yang masih hidup. 15 Januari 2013 TTD Dokter Muda Sobri Emiga Sando (05711058) Gladia Puspitasari R (07711070) Andriani (07711110) Astri Sulastri Prasasti (08711213) Rakhmatia Fadhilah I (08711089) Hengki S. Kasyaful Qina’ 2/130). Berkata Syaikh Rosyid Ridlo menanggapi madzhab Imam Malik dan Ahmad : “Berdalil dengan hadits Aisyah untuk membiarkan bayi yang masih hidup dalam perut ibu sampai meninggal adalah sesuatu yang aneh bila ditinjau dari dua segi : • Bahwasannya membedah perut tidak akan mematahkan tulangnya. • Bahwasannya hidupnya janin apabila telah sempurna bentuknya lalu dikeluarkan dengan jalur oprasi bedah. Berkata Imam Ibnu Qudamah : “Hal ini karena bayi itu belum pasti masih hidup dan memang biasanya tidak bisa hidup. Semarang. Ratna Relawati Sp.

Page 9 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful