REFERAT “PROTEINURIA”

Oleh: Aditha Satria Maulana
Pembimbing : dr. H. Ahmad Nuri, Sp.A dr. Gebyar Tri Baskoro, Sp.A dr. Ramzi Syamlan, Sp.A

SMF Anak – RSD dr. Soebandi Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2011

Proteinuria
• Ekskresi protein urin lebih besar dari 150 mg / 24 jam • Petanda kerusakan ginjal, baik sebagai kurangnya penyerapan gangguan filtrasi atau kelainan sistemik. • Asimptomatik – Simptomatik , tergantung spektrum kerusakan ginjal.

– Proteinuria orthostatik • Terjadi bila uji protein negatif pada posisi tidur. umumnya pada usia muda dan ditemukan jumlah protein dalam urin. dan stres emosional. 1gram/ hari yang disebabkan adanya perubahan hemodinamik pada ginjal.• Klinis : – Proteinuria sementara (transient) • Tidak ditemukan pada tiap urin/ dalam kadar <1gram/ hari. setelah berolahraga. paparan terhadap udara dingin. tetapi positif pada urin pada posisi tegak. gagal jantung kongestif. demam. – Proteinuria menetap (persistent) • bila semua sampel urin memberikan uji yang positif pada minimal 2 atau lebih pemeriksaan protein dalam urin Biasanya ditemukan kelainan fungsi parenkim ginjal .

.

Fisiologi ginjal (pembentukan urin) • Filtrasi glomerulus Proses penyaringan besar-besaran plasma (hampir bebas protein) dari kapiler glomerulus ke kapsula bowman • Reabsorpsi Perpindahan zat dari lumen tubulus ke plasma kapiler peritubulus • Sekresi Perpindahan zat dari plasma kapiler menuju lumen tubulus .

Total vol.Filtrasi glomerulus • • • • • Aliran darah ginjal 1200 mL/ menit Hanya 20 % plasma yang difiltrasi di glomerulus Rata-rata GFR = 125 mL/ menit 180 L/ hari. Plasma ± 3L  Ginjal memfiltrasi darah 60 x/ hari Dipengaruhi oleh Tekanan filtrasi dan koefisien filtrasi – Tekanan filtrasi  tekanan dan aliran darah ginjal – Koefisien filtrasi  luas permukaan dan permeabilitas kapiler .

.

• Filtrat glomerulus cairan bebas protein (kecuali albumin dan globulin) dan kristaloid • Albumin ≤ 10 mg/ L melewati membran dengan endositosis di tubulus proksimal .• Membran glomerulus (endotel. celah epitel)  permeabel terhadap molekul kecil tidak pada molekul besar. lamina basalis.

4.Reabsorpsi • 99 % cairan yang difiltrasi di glomerulus diserap kembali oleh tubulus. 2. 1% diekskresi • Komponen yang di reabsorpsi 1. 3. Natrium Glukosa Urea Protein Plasma .

Transtosis protein plasma • Protein(BM kecil) yang terfiltrasi akan di reabsorpsi di tubulus proksimal • Protein terlalu besar untuk direabsorpsi melalui kanal atau dibawa oleh carrier  masuk dengan cara endositosis di membran apikal & eksositosis di membran basolateral  transitosis .

Protein Tamm-Horsfall. 40%. – 40% Albumin. 15 % immunoglobulin.Pada urin normal • Protein – 60 %  protein plasma – 40%  sekresi dalam saluran kemih • Kandungan – Albumin + 32 protein plasma lainnya. 5% protein plasma lain dan enzim .

Protein urin normal dalam 24 jam Jumlah (mg) Bayi prematur Bayi cukup bulan Bayi Anak 2-4 tahun Anak 4-10 tahun Anak 10-16 tahun 11-60 Mg/m2 88-377 15-68 17-85 68-309 48-244 20-121 26-194 29-238 37-223 31-234 22-181 Mg/m2 = mg per m2 luas permukaan badan Sumber : Miltenyi. 1979 .

– Turbidimetrik • protein dalam urin dipresipitasi dengan menggunakan (Asam sulfosalisilat) atau dipanasi (protein rebus) Positif palsu Urin terlalu pekat Dipstick Hematuria gross Urin terlalu pekat Negatif palsu Urin encer Immunoglobulin rantai ringan Hematuria gross Kontras media radiologi Kadar penisilin dan sefalosporin Urin encer Asam sulfosalisilat tinggi .Cara pemeriksaan • Kualitatif – Kolorimetrik • protein akan mengubah warna ( tetrabromofenol biru) yang dimasukkan ke dalam dipstick.

5-1 g/ hari 1-2 g/ hari >2 gr/ hari .Skala Proteinuria Jumlah Derajat Konsentrasi Harian Negatif 1+ 2+ 3+ 4+ 5-20 mg/ dL 30 mg/ dL 100 mg/ dL 300 mg/ dL >2000 mg/ dL <0.5 g/ hari 0.

5 Rasio protein/ kreatinin . Subyek Anak normal < 2 tahun > 2 tahun Anak dengan proteinuria < 0.5 < 0.5. Rasio normal untuk anak kurang dari 2 tahun adalah < 0.• Kuantitatif – Idealnya dengan menampung urin 24 jam – Kurang akurat pada bayi dan anak  rasio protein (mg/ DL) dibagi kreatinin (mg/ dL) pada satu pengeluaran urin.2. untuk yang > 2tahun rasionya kurang dari 0.2 >1.

Patofisiologi • • • • Proteinuria glomerular Proteinuria tubular Proteinuria overload Proteinuria karena peubahan hemodinamik .

sindrom nefrotik. nefropati diabetikum .Proteinuria Glomerular • paling umum dan berkaitan dengan ekskresi protein >2 g/ 24 jam • Kerusakan dinding kapiler glomerulus (sawar selektif ukuran dan muatan terhadap protein plasma) – Selektif : BM kecil (albumin) – Non selektif : BM besar (IgG) • DD: glomerulonefritis.

nekrosis tubular akut. pada kerusakan tubulus proksimal mencapai 100 miligram. ekskresi protein <2 gram/ 24 jam • hanya 30-370 mikrogram diekskresi dalam urin normal pada manusia. • Petanda lain  ekskresi lisozim dalam jumlah besar.Proteinuria tubular • Lebih jarang . penyakit ginjal polikistik . protein pengikat retinol dan alfa1 mikroglobulin. • DD : nefropati refluks.

rhabdomiolisis (mioglobin) .Proteinuria overload • Protein dengan BM rendah yang difiltrasi normal oleh glomerulus kemudian direabsorpsi tubulus namun masih ditemukan dalam jumlah besar dan melewati daya reabsorpsi tubulus  proteinuria overload • DD : mieloma multipel (imunoglobulin rantai ringan). leukemia mielositik (lisozim ).

Proteinuria hemodinamik • Perubahan-perubahan hemodinamik intrarenal menimbulkan hiperfiltrasi dan hipertensi intraglomerular  kerusakan kapiler glomerulus  proteinuria • DD : Hipertensi. stress emosional. gagal jantung kongestif. .

kreatinin dalam urin 24 jam BUN. silinder - Hematuria. silinder Mungkin memerlukan uji tambahan . hematuria -.Evaluasi Dipstick Positif Negatif (selanjutnya tidak diuji) Uji asam sulfosalisilat Negatif Positif Uji proteinuria orthostatik Proteinuria persisten Proteinuria orthostatik Protein. kreatinin serum diikuti tiap 6 bulan Jumlah abnormal Jumlah normal Urinalisis lengkap. urin pagi Normal seluruhnya.

Uji antibodi antinuklir. CO2. Alfa1 mikroglobulin. Darah tepi lengkap 5. lisozim. anti streptokok (ASTO. dsb 6. Cl. USG Abdomen 12. Ca. Urin : Beta2 mikroglobulin. dsb 10. albumin. kolesterol. Komplemen hemolitik serum 7. P.Pemeriksaan tambahan 1. glukosa. asam urat. Anamnesis dan pemeriksaan fisik 2. Biopsi ginjal . Na. protein total. Imuno elektroforesis urin 11. protein pengikat retinol. Proteinuria kuantitatif 4. Uji proteinuria selektif 9. Kimia darah : K. Urinalisis 3. BUN. kreatinin. Streptozim. anti DNA ase B) 8.

sindrom Alport • Didapat – Primer/ idiopatik : Kelainan minimal. stres emosional • Persisten : – Glomerular • Kongenital/ herediter : Sindrom nefrotik kongenital. kejang. olahraga. glomerulosklerosis fokal segmental. glomerulonefritis proliferatif.Diagnosa banding • Orthostatik • Transient demam. nefropati membranosa. gagal jantung kongestif. nefropati IgA. glomerulonefritis membranoproliferatif. glomerulonefritis kronik .

AIDS. schistosomiasis. nekrosis tubular akut. uropati obstruktif. nefrokalsinosis. hiperkalsemia. kaptopril. serkoidosis. limfoma. hipokalemia. hipertensi – Tubular Nefritis interstisialis.• Sekunder – Infeksi : Glomerulonefritis akut pasca streptokokus. trimetadion. trombosis vena renalis. hepatitis B. stenosis arteri renalis. nefropati refluks. siklosporin) – Overload • • • • Rantai ringan : Diskrasia sel plasma Lisosim : Leukemia mielositik dan monositik Mioglobin : Rhabdomiolisis Hemoglobin : hemolisis . endokarditis bakterial subakut. Sindrom Good Pasture. Sindrom hemolitik uremik. merkuri – Neoplasma : Leukemia. amiloidosis – Obat-obatan : Penisilinamin. Purpura Henoch-Schoenlein. gout. nefropati refluks. Karsinoma – Lain-lain : Cangkok ginjal kronik. OAINS. Diabetes Mellitus. nefritis paru. aminoglikosida. dll – Kelainan Multisistem : SLE. garam emas. malaria. pielonefritis. obat-obatan (analgesik.

– Proteinuria sekunder karena autoimun harus ditangani dengan steroid ditambah penggunaan ACE inhibitor. .Penatalaksanaan • Pengobatan proteinuria didasarkan pada penyakit yang mendasarinya. • Paling umum adalah nefropati diabetes  kontrol indeks glikemik. • Medikamentosa – angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor. – ACE inhibitor + antagonis aldosteron (spironolakton)/ angiotensin receptor blocker (ARB) mengurangi kehilangan protein.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful