RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 1 s/d 5
Alokasi waktu : 10 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 1. Memahami struktur atom untuk meramalkan
sifat – sifat periodik unsur, struktur molekul
dan sifat – sifat senyawa.

Kompetensi Dasar : 1.1. Menjelaskan teori atom bohr dan
mekanika kuantum untuk menuliskan
konfigurasi elektron dan diagram orbital serta
menentukan letak unsur dalam tabel periodik.
Indikator :

Pertemuan ke – 1 :
- Menjelaskan kelemahan teori atom Bohr.
- Menjelaskan teori mekanika kuantum
Pertemuan ke – 2 :
- Menentukan bilangan kuantum kemungkinan elektron berada
- Menggambarkan bentuk orbital
- Menjelaskan kulit dan subkulit serta hubungannya dengan bilangan
kuantum
Pertemuan ke – 3 dan 4 :
- Menggunakan prinsip aufbau aturan hund dan asas larangan pauli untuk
menuliskan konfigurasi elektron dan diagram orbital.
Pertemuan ke – 5 :
- Menhubungkan konfigurasi elektron suatu unsur dan letaknya dalam
sistem periodik unsur..
I. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan ke – 1 :
o Siswa dapat menjelaskan kelemahan teori atom Bohr.
o Siswa dapat menjelaskan teori mekanika kuantum
Pertemuan ke – 2 :
o Siswa dapat menentukan bilangan kuantum kemungkinan
elektron berada
o Siswa dapat menggambarkan bentuk orbital
o Siswa dapat menjelaskan kulit dan subkulit serta hubungannya
dengan bilangan kuantum
Pertemuan ke – 3 dan 4 :
o Siswa dapat menggunakan prinsip aufbau aturan hund dan asas
larangan pauli untuk menuliskan konfigurasi elektron dan
diagram orbital.
Pertemuan ke – 5 :
o Siswa dapat menhubungkan konfigurasi elektron suatu unsur dan
letaknya dalam sistem periodik unsur.

II. Materi Pembelajaran
1. Teori atom Bohr
- Bohr merupakan orang yang pertama menghubungkan teori struktur
atom dengan tingkat energi elektron untuk menjelaskan spektrum.
- Teori atom Bohr berhasil menjelaskan struktur atom hidrogen, tetapi
belum dapat menerangkan atom berelektron banyak.
- Terdapat beberapa kelemahan pada teori yang diperkenalkan oleh
Niels Henrick David Bohr. Pertama, Teori Atom Bohr hanya
menjelaskan spektrum atom hidrogen. Akibatnya, spektrum atom
yang memiliki lebih dari satu elektron tidak dapat dijelaskan. Kedua,
teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa spektrum atom hidrogen
memiliki garis-garis tambahan ketika dipengaruhi medan magnet.
- Kekurangan model atom Bohr disempurnakan dengan model atom
mekanika kuantum.
2. Teori Atom Mekanika Kuantum
- Teori atom mekanika kuantum berakar pada hipotesis Prince Louis de
Broglie dan Werner Heisenberg.
- Menurut de Broglie, cahaya dapat berperilaku sebagai materi dan
berperilaku sebagai gelombang (dikenal dengan istilah dualisme
gelombangpartikel).
- Menurut Heisenberg, tidak mungkin menentukan kecepatan dan posisi
elektron secara bersamaan, tetapi yang dapat ditentukan hanyalah
kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari inti.
- Schrodinger berhasil menyelesaikan persamaan matematis yang
menghasilkan tiga bilangan kuantum yang menunjukkan
kebolehjadian menemukan elektron di sekeliling inti.
- Daerah kebolehjadian menemukan elektron di sekeliling inti disebut
orbital.

3. Bilangan kuantum dan orbital
Ada empat bilangan kuantum yang akan kita kenal, yaitu bilangan
kuantum utama (n),
bilangn kuantum Azimut (l), bilangan kuantum magnetic (m) dan bilangan
kuantum
spin (s).
a. Bilangan Kuantum Utama (n)
Lambang dari bilangan kuantum utama adalah ―n‖ (en kecil). Bilangan
kuantum utama menyatakan kulit tempat ditemukannya elektron yang
dinyatakan dalam bilangan bulat positif. Nilai bilangan itu di mulai dari
1, 2, 3 dampai ke-n.
Jenis Kulit Nilai (n)
K 1
L 2
M 3
N 4
Tabel 1. Hubungan jenis kulit dan nilai bilangan kuantum utama.

Tabel ini dapat dibuktikan bahwa untuk kulit K memiliki nilai bilangan
kuantum utama (n) = 1, kulit L memiliki nilai bilangan kuantum utama
(n) = 2 dan seterusnya. Semakin besar nilai n, berarti makin besar
orbital yang dihuni elektron itu.
b. Bilangan Kuantum Azimut (l)
Bilangan kuantum azimut menyatakan sub kulit tempat elektron berada
dan bentuk orbital, serta menentukan besarnya momentum sudut
elektron terhadap inti.
Banyaknya subkulit tempat elektron berada tergantung pada nilai
bilangan kuantum utama (n). Nilai bilangan kuantum azimut dari 0
sampai dengan (n - 1). Bila n = 1, maka hanya ada satu subkulit yaitu l
= 0. Sedangkan n = 2, maka ada dua subkulit yaitu l = 0 dan l = 1.
Bilangan Kuantum
Utama (n)
Bilangan Kuantum
Azimut (l)
Banyaknya
SubKulit
1 0 1
2

0
1
2
3


0
1
2
3
4



0
1
2
3
4
Tabel 2. Hubungan bilangan kuantum utama dan azimut serta
subkulit.
Kesimpulan yang dapat diambil dari tabel adalah Banyaknya subkulit
sama dengan nilai bilangan kuantum utama. Subkulit ditandai dengan
huruf yang didasarkan pada garis-garis spektrum yang tampak pada
spektroskopi secara berurutan
Nilai l Tanda Subkulit Garis spektrum pada
spektroskopi
0 s (sharp) Terang
1 p (principal) Terang Kedua
2 d (diffuse) Kabur
3 f (fundamental) Pembentukan warna
Tabel 3. Tanda subkulit berdasarkan nilai bilangan kuantum
azimut.
setiap kulit terdiri dari beberapa subkulit. Hal ini memungkinkan untuk
kulit yang berbeda akan memiliki jenis subkulit yang sama.
Kulit Nilai (n) Nilai (l) Jenis subkulit
K 1 0 1s
L 2
0 2s
1 2p
M 3
0 3s
1 3p
2 3d
N 4
0 4s
1 4p
2 4d
3 4f
Tabel 4. Hubungan subkulit sejenis dalam kulit yang berbeda pada
atom.

c. Bilangan Kuantum Magnetik (m)
Bilangan kuantum magnetik menyatakan orbital tempat ditemukannya
elektron pada subkulit tertentu dan arah momentum sudut elektron
terhadap inti. Sehingga nilai bilangan kuantum magnetik berhubungan
dengan bilangan kuantum azimut. Nilai bilangan kuantum magnetik
antara - l sampai + l. Hubungan antara bilangan kuantum azimut dengan
bilangan kuantum magnetik dapat Anda perhatikan pada tabel 5.
Bilangan
Kuantm
Azimut
Tanda
Orbital
Bilangan
Kuantum
Magnetik
Gambaran Orbital Jumlah
Orbital
0

s 0

1
1

p -1, 0, +1 3
2

d -2, -1, 0, +1, +2 5
3

f -3, -2, -1, 0, +1,
+2, +3
7
Tabel 5. Hubungan bilangan kuantum azimut dengan bilangan
kuantum magnetik.
Jika bilangan kuantum azimut (l) = 0, maka atom tersebut memiliki
orbital s dengan kotak sebanyak 1 dan bilangan kuantum magnetik 0.
sedangkan bilangan kuantum azimut 1, akan memiliki orbital p dengan
kotak yang saling menempel sebanyak 3 dan bilangan kuantum
magnetik masing-masing kotak secara urut dari kiri ke kanan –1, 0 dan
+1. Demikian masing-masing halnya untuk bilanga kuantum azimut
selanjutnya.

d. Bilangan Kuantum Spin (s)
Lambang bilangan kuantum spin adalah s yang menyatakan arah rotasi
elektron pada porosnya. Ada dua kemungkinan arah rotasi yaitu searah
jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.

Begitulah elektron yang berotasi, bila searah jarum jam maka memiliki
nilai s=+½ dan dalam orbital dituliskan dengan tanda panah ke atas.
Sebaliknya untuk elektron yang berotasi berlawanan arah jarum jam
maka memiliki nilai s = -½ dan dalam orbital dituliskan dengan tanda
panah ke bawah.
Dari uraian arah rotasi maka kiata dapat mengetahui bahwa dalam satu
orbital atau kotak maksimum memiliki 2 elektron.
Kulit n L M
Sub
kulit
Gambaran
Orbital
Jumlah
Orbital
Jumlah Orbital
Maksimum
Subkulit Kulit
K 1
0 0 1s

1 2 2
L 2
0 0 2s

1 2 8
1 -1, 0, +1 2p

3 6
M 3
0 0 3s

1 2 18
1 -1, 0, +1 3p

3 6
2 -2, -1, 0, +1, +2 3d

5 10
N 4
0 0 4s

1 2 32
1 -1, 0, +1 4p

3 6
2 -2, -1, 0, +1, +2 4d

5 10
3 -3, -2, -1, 0, +1, +2, +3 4f

7 14
|+
|+
|+
|+
Tabel 6. Hubungan keempat bilangan kuantum
Bila kulit atom sama (bilangan kuantum utama sama), subkulit
(bilangan kuantum azimut) dan orbital (bilangan kuantum magnetik)
serta arah (bilangan kuantum spin) dapat berbeda. Contohnya kulit ke 2
dapat memiliki bilangan kuantum azimut 0 atau 1 dan bilangan
kuantum magnetiknya bisa –1, 0 atau +1 sesuai dengan posisi dalam
kotak serta memiliki bilangan kuantum spin yang dapat berbeda sesuai
arah panahnya.

1. Bentuk Orbital
Ingatlah bahwa setiap subkulit disusun oleh satu atau lebih orbital dan
setiap orbital mempunyai bentuk tertentu. Adapun bentuk oebital di tentukan
oleh bilangan kuantum azimut.
Sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa arah orbital ditentukan
oleh bilangan kuantum magnetik.
Orbital s yang berbentuk bola tidak menunjukan arah ruang tertentu
karena kebolehjadian ditemukan elektron dengan bentuk ini berjarak sama
jauhnya ke segala arah dari inti atom. Inti atom terdapat pada pusat bola.
Perhatikanlah gambar arah ruang orbital s berikut ini !


Kebolehjadian terbesar ditemukannya elektron dalam orbital s terdapat
pada daerah sekitar bola, yaitu untuk orbital :
a. 1s : terdapat pada kulit bola
b. 2s : terdapat pada awan lapisan kedua
c. 3s : terdapat pada awan lapisan ketiga
Gambaran kebolehjadian ditemukan orbital pada masing-masing kulit :

Orbital 2s


Subkulit p terdiri dari tiga orbital p. Karena nilai bilangan kuantum
magnetiknya ada tiga yaitu –1, 0, dan +1. Ketiga orbital ini mempunyai
tingkat energi yang sama tetap arah ruangnya masing-masing berbeda. Jika
digabungkan, ketiga orbital ini saling tegak lurus satu sama lain. Bila
digambarkan pada sistem koordinat cartesius yang memiliki sumbu X, Y, dan
Z maka orbital p yang terletak pada sumbu X disebut orbital p
X
, sedangkan
yang terletak pada sumbu Y disebut orbital p
Y
. Begitu pula halnya dengan
orbital p yang terletak pada sumbu Z disebut orbital p
Z
.
Perhatikan gambar berikut ini!

Bentuk Orbital px, py, pz
Sehingga gambaran orbital p dengan bilangan kuantum azimut l =1
dinyatakan dalam gambar berikut ini!

Subkulit d terdiri dari 5 orbital d karena nilai –2, -1, 0, +1, +2. Seperti
halnya orbital p, orbital d juga memiliki tingkat energi yang sama tetapi arah
ruangnya masing-masing berbeda. Bila digambarkan pada sisitem koordinat
cartesius maka ketiga orbital d menempati ruang antar sumbu pada koordinat
cartesius tersebut. Masing-masing orbital dinyatakan sebagai d
XY
, d
XZ
dan
d
YZ
, sedangkan dua orbital d lainnya terletak pada sumbu koordinat cartesius
yang masing-masing orbital dinyatakan sebagai d
X
2
- Y
2
dan d
Z
2
. Bentuk
kelima orbital d dapat digambarkan sebagai berikut:
Orbital d
Z
2
terletak pada sumbu Z
Orbital d
X
2
- Y
2
terletak pada sumbu X dan Y
Orbital d
XY
terletak antara sumbu X dan Y
Orbital d
XZ
terletak antara sumbu X dan Z
Orbital d
YZ
terletak antara sumbu Y dan Z


Berbagai macam Orbital d

4. Konfigurasi elektron dan hubungannya dengan sistem periodik
Konfigurasi elektron merupakan tata letak elektron dalam
atom.Berdasarkan model atom mekanika didasarkan maka dalam
penulisannya mengacu pada 3 aturan utama, yaitu prinsip aufbau, aturan
Hund, dan azas larangan Pauli.
a. Prinsip Aufbau
Istilah Aufbau berasal dari bahasa jerman yang artinya membangun.
Pada penulisan konfigurasi elektron didasarkan pada pernyataan
bahwa ― Pengisian orbital dimulai dari orbital dengan tingkat energi
yang lebih rendah ke tingkat energy yang lebih tinggi, sehingga semua
elektron menempati orbital‖. Denagn keadaan itu maka atom berada
pada tingkat energy minimum.
Tingkat energy orbital dari yang terendah adalah :


1s
2s 2p
3s 3p 3d
4s 4p 4d 4f
5s 5p 5d 5f
6s 6p 6d
7s 7p








b. Aturan Hund
Friedrich Hund menyatakan aturan untuk menggambarkan arah rotasi
elektron. Aturan ini dikenal sebagai aturan Hund, yang berbunyi :
― Elektron- elektron yang berada di suatu orbital akan menempati
orbital yang kosong dengan arah rotasi sejajar. Setelah itu, elektron –
elektron lainnya menempati orbital tersebut dengan arah rotasi yang
berlawanan.
Contoh :
8
O :
8
O :
(salah)
c. Azas larangan Pauli
Wolfgang Linus Pauli menyatakan aturan penulisan konfigurasi
elektron yang dikenal sebagai asas larangan Pauli, asas ini menyatakan
bahwa :
― Tidak ada dua buah elektron dalam orbital yang sama memiliki
kekempat bilangan kuantum yang sama‖
Berdasarkan asas larangan Pauli ini, maka jumlah elektron yang
menempati sebuah orbital paling banyak dua elektron dengan arah
rotasi yang berlawanan. Hal ini berarti bilangan kuantum
. , . , ( bil.
Kuantum magnet) sebuah orbitalpasti sama, tetapi (bil. Kuantum
spin) bebeda. Dengan demikian, jumlah elektron maksimum yang
menempati suatu subkulit dapat dinyatakan dengan rumus ;
Jumlah elektron maksimum = 2 x (jumlah orbital dalam subkulit)
2
atau
jem = 2n
2
Contoh :
1) Jumlah elektron maksimum pada kulit K (n=1) = 2x 1
2
= 2
2) Jumlah elektron maksimum pada kulit M (n=1) = 2x 3
2
= 18

2. Tata cara Penulisan konfigurasi elektron
a. Tentukanlah jumlah elektron dari atom unsur tersebut! Jumlah
elektron dari atom unsur sama dengan nomor atom unsur tersebut.
b. Tuliskan jenis subkulit yang dibutuhkan secara urut berdasarkan
diagram curah hujan yang telahdibaca yaitu :
1s-2s-2p-3s-3p-4s-3d-4p-5s-4d-5p-6s-4f-5d-6p-7s-5f-6p-7p-8s
c. Isikan elektron pada masing-masing subkulit dengan memperhatikan
jumlah elektron maksimumnya.Elektron ditulis agak ke atas setelah
tanda orbital. Jika subkulit paling rendah sudah terisi maksimum,
maka sisa elektron dimasukkan pada subkulit berikutnya.
Berdasarkan jumlah orbital tiap subkulit dan tiap orbital maksimum
terisi dua elektron, maka jumlah elektron maksimum pada tiap-tiap
subkulit adalah:
Subkulit s maksimum isi 2 elektron
Subkulit p maksimum isi 6 elektron
Subkulit d maksimum isi 10 elektron
Subkulit f maksimum isi 14
elektron
Contoh: Konfigurasi unsur
16
S adalah :
1. Nomor atom unsur : 16
( lihat angka yang tertulis dibawah tanda atom) dengan demikian
jumlah elektron atom tersebut sebanyak 16.
2. Jenis subkulit yang dibutuhkan secara urut dituliskan sebagian,
mulai dari yang paling kiri 1s-2s-2p-3s-3p-4s
3. Isikan pada subkulit 1s sebanyak 2 elektron, kemudian sisanya
isikan pada subkulit 2s sebanyak 2 elektron, kemudian
dilanjutkan sampai jumlahnya 16.
Sehingga konfigurasi elektron untuk atom unsur dengan tanda
atom S dapat dituliskan secara berurut sebagai berikut: 1s
2
2s
2

2p
6
3s
2
3p
4


3. Catatan dalam menuliskan konfigurasi
a. Dua cara menuliskan subkulit
Ada dua cara menuliskan konfigurasi elektronscandium ( Z = 21),
yaitu
1) 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
4s
2
3d
1
, atau
2) 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
3d
1
4s
2

Pada dasarnya kedua cara tersebut sama dan sesuai denagn azas
aufbau. Menurut cara 1), subkulit-subkulit ditulis sesuai dengan urutan
tingkat energinya. Pada cara 2), subkulit-subkulit dari kulit yang sama
dikumpulkan, kemudian diikuti subkulit dari kulit berikutnya.

b. Menyingkat penulisan konfigurasi dengan menggunakan konfigurasi
elektron gas mulia
Pada penulisan ini maka konfigurasi elektron yang akan ditulis
disingkat dengan menambahkan konfigurasi elektron gas mulia yaitu:
10
Ne : 1s
2
2s
2
2p
6
18
Ar : 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6
36
Kr : 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
6


Contoh :
- Untuk menulis konfigurasi elektron
15
P tanpa menyingkat : 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
3

- Untuk menulis konfigurasi elektron
15
P dengan disingkat : [Ne]
3s
2
3p
3

Cara ini sesuai dengan aturan afbau dan secar singkat
c. Kestabilan subkulit d yang terisi penuh atau setengah penuh
Teradapat beberapa penyimpangan pengisian elektron berdasarkan
azas aufbau dengan yang ditemukan secara percobaan.
Contohnya yaitu konfigurasi elektron kromium (Z = 24 ) dan tembaga
(Z=29). Konfigurasi elektron Cr dan Cu berdasarkan azas aufbau
adalah sebagai berikut :
24
Cr : [Ar] 3d
4
4s
2

29
Cu : [Ar] 3d
9
4s
2

Konfigurasi elektron Cr dan Cu berdasarkan percobaan adalah sebagai
berikut :
24
Cr : [Ar] 3d
5
4s
1
29
Cu : [Ar] 3d
10
4s
1

Kecenderungan konfigurasi subkulit d ini akan lebih mencapai
kesetabilan dengan orbital yang terisi penuh atau setengah penuh.
Sehingga antara 3d
4
dengan 3d
5
maka akan cenderung lebih stabil pada
3d
5
. Sedangkan pada 3d
9
dengan 3d
10
maka orbita akan cenderung
stabil pada orbital yang terisi penuh yaitu 3d
10
.

3d
9
( tidak stabil), maka yang stabil
yang terisi penuh :

3d
10
(stabil)


d. Konfigurasi elektron ion
Ion tunggal yang bermuatan x+ terbentuk dari atom netralnya dengan
melepas x elektron.Elektron yang dilepas itu merupakan elektron dari
kulit terluar.
Contoh beberapa kation tunggal :
13
Al : 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
1

Al
3+
:1s
2
2s
2
2p
6
26
Fe : [Ar] 3d
6
4s
2

Fe
2+ :
[Ar] 3d
6

Ion tunggal yang bermuatan x- terbentuk dari atom netralnya dengan
menyerap x elektron.Elektron yang diserap itu mengisi orbital dengan
tingkat energy terendah yang belum penuh.
Contoh :
17
Cl : [Ne] 3s
2
3p
5

Cl
-
: [Ne] 3s
2
3p
6
(jumlah elektron menjadi 18)

III. Metode Pembelajaran
Diskusi informasi

IV. Langkah – langkah Pembelajaran
Pertemuan ke – 1 :
No Kegiatan Waktu
(Menit)
Aspek yang
dinilai
Pendidikan
karakter Guru Siswa
1 Kegiatan Awal :
Memberikan pretes
tentang teori atom
Bohr

Mengerjakan
pretes

10

Kemampuan
awal siswa

2 Kegiatan Inti :
Eksplorasi
Mengkaji kelemahan
teori atom Bohr
Elaborasi
Mengkaji hubungan
teori atom Bohr
dengan teori mekanika

Mendengarkan
penjelasan
dari guru
Bertanya
kepada guru
dan menjawab
pertanyaan

70

Keseriusan
siswa dalam
mengikuti
KBM
Keaktifan
siswa dalam
bertanya dan

Gemar
membaca


kreatif
kuantum, prinsip
ketidakpastian dan
mekanika gelombang.
Konfirmasi
Latihan soal bersama

dari guru menjawab
pertanyaan
3 Kegiatan Akhir :
- Menyimpulkan
tentang hubungan
teori atom Bohr dan
Mekanika kuantum


Dapat
menyimpulkan
hubungan
teori atom
Bohr dan
Mekanika
Kuantum

10

Kemampuan
siswa dalam
menyimpulkan


Pertemuan ke – 2 :
N
o
Kegiatan Waktu
(Menit)
Aspek yang
dinilai
Pendidikan
karakter Guru Siswa
1 Kegiatan Awal :
o Pre test
hubungan teori atom
bohr dengan
mekanika kuantum


Mengerjakan
pretes

10

Kemampuan
awal siswa

2 Kegiatan Inti :
Eksplorasi
Menentukan bilangan
kuantum serta
menggambarkan
bentuk orbital s, p, d
dan f.
Elaborasi
Mengulas pengertian
kulit dan subkulit
serta hubungannya
dengan bilangan
kuantum.
Konfirmasi:
Latihan soal bersama


Mendengarkan
penjelasan dari
guru
Mengerjakan
soal penentuan
bilangan
kuantum


70

Keseriusan
siswa dalam
mengikuti
KBM
Kemampuan
siswa dalam
mengerjakan
soal
Kerja keras


Kreatif




Gemar
membaca
3 Kegiatan Akhir :
- Menarik
kesimpulan tentang
hubungan bilangan
kuantum dengan
kulit dan subkulit.

Dapat
menyimpulkan
hubungan teori
atom Bohr dan
Mekanika

10

Kemampuan
siswa dalam
menyimpulkan



- Memberikan tugas
individu berupa
soal-soal
penentuan bilangan
kuantum (PR)

Kuantum

Mengerjakan
soal penentuan
bilangan
kuantum

Kemampuan
siswa dalam
mengerjakan
soal


Pertemuan ke – 3
No Kegiatan Waktu
(Menit)
Aspek yang
dinilai
Pendidikan
karakter Guru Siswa
1 Kegiatan Awal :
Tanya jawab
tentang hubungan
bilangan kuantum
dengan kulit dan
subkulit.


Menjawab
pertanyaan
guru

10

Pengetahuan
awal siswa

2 Kegiatan Inti :
Eksplorasi:
Menjelaskan cara
menentukan
konfigurasi
elektron
berdasakan aturan
aufbau
Elaborasi
Menyelesaikan
bersama cara
menentukan
konfigurasi
elektron
berdasakan aturan
aufbau
Konfirmasi
Latihan soal
bersama
konfigurasi
elektron
berdasakan aturan
aufbau



Memperhatikan
penjelasan guru
Mengerjakan
soal penulisan
konfigurasi
elektron

75

Keseriusan
siswa dalam
mengikuti
KBM
Kemampuan
siswa dalam
mengerjakan
soal

Gemar
membaca





Kerja
keras



3 Kegiatan Akhir :
- Memberikan

Menentukan

5

Kemampuan

tugas rumah tentang
konfigurasi elektron
beberapa unsur

konfigurasi
elektron
beberapa unsur
siswa dalam
menyelesaikan
soal




Pertemuan ke – 4
No Kegiatan Waktu
(Menit)
Aspek yang
dinilai
Pendidikan
karakter Guru Siswa
1 Kegiatan Awal :
o Mengingatkan
kembali tentang
penulisan konfigurasi
elektron


Menjawab
pertanyaan
guru

10

Kemampuan
awal siswa

2 Kegiatan Inti :
Eksplorasi:
Mengungkap
bilanngan kuantum
Elaborasi:
Menjelaskan tentang
cara penentuan
diagram orbital dari
beberapa unsur
berdasarkan aturan
Hund dan larangan
Pauli
Konfirmasi:
Latihan soal bersama
aturan Hund dan
larangan Pauli



Memperhatika
n penjelasan
guru
Mengerjakan
soal penulisan
diagram
orbital
beberapa
unsur

75

Keseriusan
siswa dalam
mengikuti
KBM
Kemampuan
siswa dalam
mengerjakan
soal





Gemar
membaca


kreatif



Mandiri
3 Kegiatan Akhir :
- Memberikan
tugas tentang
konfigurasi elektron
beberapa unsur


Menentukan
konfigurasi
elektron
beberapa
unsur

5

Kemampuan
siswa dalam
menyelesaikan
soal



Pertemuan ke – 5 :
No Kegiatan Waktu
(Menit)
Aspek yang
dinilai
Pendidikan
karakter Guru Siswa
1 Kegiatan Awal :
Mendiskusikan
tentang definisi
elektron valensi


Menjawab
pertanyaan
guru

10

Pengetahuan
awal siswa
Gemar
membaca
2 Kegiatan Inti :
Eksplorasi:
Menentukan elektron
valensi dan kulit
elektron terluar dari
konfigurasi elektron
beberapa unsur.
Elaborasi:
Mengamati subkulit
tempat pengisian
elektron terakhir
Konfirmasi:
Menentukan posisi
atom dalam SPU
berdasarkan
konfigurasi elektron.


Memperhatika
n penjelasan
guru
Mengerjakan
soal
penentuan
letah unsur
dalam SPU

75

Keseriusan
siswa dalam
mengikuti
KBM
Kemampuan
siswa dalam
mengerjakan
soal

Kerja keras








Kreatif
3 Kegiatan Akhir :
- Memberikan
tugas tentang
penentuan unsur
dalam tabel SPU
(PR)

Menentukan
konfigurasi
elektron
beberapa
unsur

5

Kemampuan
siswa dalam
menyelesaikan
soal



V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

Alat Peraga, lembar kerja siswa, presentasi dan buku kimia
VI. Penilaian
o Tugas individu, kuis, ulangan harian dalam bentuk test tertulis


Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 6
Alokasi waktu : 2 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 1. Memahami struktur atom untuk meramalkan
sifat – sifat periodik unsur, struktur molekul
dan sifat – sifat senyawa.
Kompetensi Dasar : 1.2.Menjelaskan jumlah pasangan elektron di
sekitar inti atom dan teori hibridisasi untuk
meramalkan bentuk molekul

Indikator :
- Menentukan PEB dan PEI.
- Menentukan tipe molekul.
- Menentukan bentuk molekul berdasarkan teori pasangan elektron.
- Menentukan bentuk molekul berdasarkan teori hibridisasi.
- Menentukan bentuk molekul dari molekul ion poliatom.
- Meramalkan kepolaran berdasarkan bentuk molekul.

I. Tujuan Pembelajaran
- Siswa mampu menentukan PEB dan PEI.
- Siswa mampu menentukan tipe molekul.
- Siswa mampu meramalkankan bentuk molekul berdasarkan teori
pasangan elektron.
- Siswa mampu meramalkan bentuk molekul berdasarkan teori hibridisasi.
- Siswa mampu menentukan bentuk molekul dari molekul ion poliatom.
- Siswa mampu meramalkan kepolaran berdasarkan bentuk molekul.

II. Materi Pembelajaran
Teori VSEPR
Geometri molekul atau sering disebut struktur molekul atau bentuk
molekul yaitu gambaran tiga dimensi dari suatu molekul yang ditentukan
oleh jumlah ikatan dan besarnya sudut-sudut yang ada disekitar atom
pusat.
Elektron valensi atom pusat yang digunakan pada pembentukan
senyawa kovalen terkadang digunakan untuk membentuk ikatan kadang
tidak digunakan. Elektron yang tidak digunakan ditulis sebagai pasangan
elektron bebas (PEB), sedangkan elektron yang digunakan dalam
pembentukan ikatan ditulis sebagai pasangan elektron ikatan (PEI). Selain
PEB dan PEI pada atom pusat dapat pula terdapat elektron tidak
berpasangan seperti pada molekul NO
2
.
Dalam suatu molekul elektron-elektron tersebut saling tolak-
menolak karena memiliki muatan yang sama. Untuk mengurangi gaya
tolak tersebut atom-atom yang berikatan membentuk struktur ruang
tertentu hingga tercapai gaya tolak yang minimum. Akibat yang
ditimbulkan dari tolakan yang yang terjadi yaitu mengecilnya sudut ikatan
dalam molekul. Urutan gaya tolak dimulai dari gaya tolak yang terbesar
yaitu sebagai berikut.
a. Gaya tolak antar sesama elektron bebas (PEB vs PEB)
b. Gaya tolak antara pasangan elektron bebas dengan elektron ikatan
(PEB vs PEI)
c. Gaya tolak antar pasangan elektron ikatan (PEI vs PEI).
Teori yang digunakan untuk mempelajari gaya tolak antar sesama
elektron valensi disebut teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair
Repulsion) yang dikembangkan oleh Gillespie dan Nylholm sehigga sering
disebut sebagai teori Gillespie-Nylholm. Dengan teori ini ternyata struktur
ruang suatu senyawa dapat ditentukan dengan memperhatikan elektron
bebas dan elektron ikatan dari senyawa yang bersangkutan.
Teori VSEPR tersebut berbunyi:
―bentuk geometri suatu molekul ditentukan sepenuhnya oleh tolakan
pasangan elektron dari atom pusat molekul tersebut, dimana pasangan
elektron atom pusat suatu molekul akan mengatur posisinya sedemikian
rupa sehingga gaya tolakan diantaranya adalah minimal(paling kecil)‖ (
Pasangan elektron yang dimaksud disini adalah pasangan elektron bebas
maupun pasangan elektron terikat)‖

1. Beberapa Bentuk Molekul Berdasarkan Teori VSEPR
Pada penentuan struktur ruang molekul-molekul berdasarkan teori
VSEPR umumnya atom pusat atom pusat dilambangkan dengan A, jumlah
atom yang diikat atau jumlah pasangan elektron ikatan (PEI)
dilambangkan dengan X dan pasangan elektron bebas atom pusat
dilambangkan dengan E. Berbagai struktur ruang molekul dapat dilihat
pada Tabel.
Nama Sudu
t
ikata
n
Jumla
h PEI
(X)
Jumla
h
PEB
(E)
Rumus
(AX
n
E
m
)
Bentuk
Molekul
Conto
h
senya
wa
Liniear 180 2 0 AX
2


CO
2

Trigonal
Planar
120 3 0 AX
3


BF
3

Planar
Huruf V
116,8 2 1 AX
2
E

SO
2

Tetrahedr
al
109,5 4 0 AX
4


CH
4

Piramida
trigonal
3 1 AX
3
E

NH
4

Planar
bentuk V
2 2 AX
2
E
2


H
2
O
Bipiramid
a
Trigonal
5 0 AX
5


PCl
5

Bipiramid
a Trigonal
4 1 AX
4
E
1


SF
4

Planar
Bentuk T
3 2 AX
3
E
2


ClF
3

Liniear 2 3 AX
2
E
3


XeF
2

Oktahedr
al
90 6 0 AX
6


SF
6

Piramida
Segiempat
5 1 AX
5
E

BrF
5

Segiempat
datar
4 2 AX
4
E
2


XeF
4

Keterangan: PEI = pasangan elektron ikatan, PEB = pasangan elektron
bebas, A= atom pusat, X
n
= jumlah atom yang diikat atom pusat, E
m
=
jumlah pasangan elektron bebas
Pada Tabel di atas, nama bentuk molekul yang diberi huruf tebal
merupakan bentuk molekul dasar karena semua elektron valensi atom
pusat digunakan untuk membentuk ikatan.
Jika terdapat elektron yang tidak digunakan untuk membentuk ikatan
atau elektron bebas ditunjukan dengan garis putus-putus kemudian dua
titik yang menyatakan pasangan elektron bebas.

2. Langkah-langkah Meramal Bentuk Molekul
Langkah-langkah yang digunakan untuk meramal struktur molekul
tidak berbeda jauh dengan langkah-langkah yang digunakan untuk
menggambar struktur Lewis suatu molekul atau ion poliatomik. Langkah-
langkah yang digunakan untuk meramal bentuk molekul sebagai berikut:
a. Menentukan atom pusat.
b. Tuliskan jumlah elektron valensi dari atom pusat.
c. Menentukan jumlah elektron valensi dari masing-masing
substituen jika berupa atom.
d. Satu elektron dari substituen dipasangkan dengan satu elektron
dari atom pusat sehingga membentuk pasangan elektron
(pasangan elektron ikatan, PEI). Perlu diperhatikan bahwa,
jumlah elektron atom pusat tidak selalu memenuhi kaidah oktet.
Jika masih terdapat substituen dan masih terdapat elektron pada
atom pusat, maka semuanya harus dipasangkan.
e. Jika semua susbtituen telah dipasangkan dengan elektron atom
pusat dan masih terdapat elektron yang tidak berpasangan, maka
elektron tersebut tetap ditulis pada atom pusat sebagai elektron
bebas atau pasangan elektron bebas (PEB).
f. Jika berupa ion poliatomik, maka setelah semua substituen
dipasangkan kurangi elektron jika ion bermuatan positif dan
tambahkan elektron jika ion bermuatan positif.
g. Menentukan bentuk molekul serta memperkirakan besarnya
sudut-sudut ikatan disekitar atom pusat dengan memperhatikan
tolakan-tolakan yang terjadi agar diperoleh bentuk dengan tolakan
yang minimum.

3. Contoh – contoh:
a. berilium klorida, BeCl
2

Be sebagai atom pusat memiliki 2 elektron valensi dan Cl sebagai
substituen memiliki 7 elektron valensi. Setelah satu elektron valensi
dipasangkan dengan satu elektron dari satu atom Be, masih terdapat
satu elektron bebas pada atom Be. Oleh sebab itu, 1 elektron tersebut
dipasangkan dengan satu elektron dari atom Cl. Setelah semua
dipasangkan tidak ada lagi elektron bebas pada atom Be. Agar tolakan
minimum maka kedua atom Cl letaknya berlawanan membentuk sudut
180°, seperti pada Gambar.

b. Boron Trifluorida, BF
3

Boron sebagai atom pusat memiliki 3 elektron valensi sehingga
setelah berikatan dengan 3 atom F maka tidak ada lagi elektron bebas
disekitarnya. Agar tolakan pasangan elektron ikatan minimal maka
setiap ikatan menata diri mengarah pada pojok-pojok segitiga sama sisi.
Bentuk molekul seperti ini disebut trigonal planar dengan sudut ikatan
sebesar 120°.

c. CH
4

Agar keempat PEI tolakan minimal maka letaknya mengarah pada
pojok-pojok tetrahedral. CH4 berbentuk tetrahedral normal dengan
sudut ikatan H-C-H sebesar 109,5°.

d. Belerang Heksafluorida, SF
6

Agar enam PEI tolakan minimal maka posisi 6 ikatan mengarah
pada pojok-pojok oktahedral normal.

e. Iod heptafluorida, IF
7

7 PEI posisinya mengarah pada pojok-pojok dari pentagonal
bipiramidal agar tolakan antar PEI menjadi minimal.

Teori Hibridisasi
Menurut Pauling, orbital-orbital elektron valensi dapat membentuk
serangkaian orbital baru yang disebut orbital atom hibrida atau orbital
hibrida. Proses pembentukan orbital-orbital hibrida yang dilakukan oleh suatu
atom disebut hibridisasi. Orbital-orbital hibrida ini mempengaruhi bentuk
molekul yang dibentuknya sehingga atom tersebut bergabung dengan atom-
atom lain. Pada tingkatan ini kita akan mempelajari lima buah orbital hibrida
yaitu orbital hibrida sp, sp
2
, sp
3
, sp
3
d, sp
3
d
2
.
(1). Orbital hibrida sp
Orbital atom hibrida sp merupakan keadaan elektron yang mungkin
dalam suatu atom ketika atom tersebut terikat ke atom-atom yang lain
dan keadaan elektron ini mempunyai sifat orbital 2s dan setengah dari
sifat orbital 2p. Sebagai contoh, molekul Be
2
yang berbentuk linear
dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep orbital hibrida sp
2
.
(2). Orbital hibrida sp
2

Keadaan energi elektron-elektron valensi dalam atom-atom periode
kedua terdapat pada orbital 2s dan orbital 2p. Jika kita
menggabungkan dua buah orbital 2p dengan sebuah orbital 2s, maka
kita akan memperoleh tiga buah orbital terhibridisasi sp
2
. Sebagai
contoh, molekul BF
3
yang berbentuk segitiga datar dapat dijelaskan
dengan menggunakan konsep orbital hibrida sp
2
.
(3). Orbital hibrida sp
3

Jika kita menggabungkan tiga buah orbital 2p dengan sebuah orbital
2s, maka kita akan memperoleh empat buah orbital terhibridisasi sp
3
.
Sebagai contoh, molekul CH
4
yang berbentuk seperti tetrahedron
dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep orbital hibrida sp
3
.
(4). Orbital hibrida sp
3
d
Jika sebuah orbital 3s dan tiga buah orbital 3p digabungkan, maka
akan dihasilkan lima buah orbital hibrida sp
3
d. Sebagai contoh PClF
4
,
merupakan molekul yang terhibridisasi dsp
3
. Jika sebuah atom
menggunakan suatu orbital hibrida dsp
3
untuk mengikat lima buah
atom lain, maka geometri molekulnya berbentuk segitiga bipiramida.
(5). Orbital hibrida sp
3
d
2

Jika dua buah orbital 3d, sebuah orbital 3s dan tiga buah orbital 3p
digabungkan, maka akan dihasilkan enam orbital hibrida d
2
sp
3
.
Sebagai contoh SF
6
merupakan molekul yang terhibridisasi d
2
sp
3
dan
berbentuk oktahedral.

III. Metode Pembelajaran
Diskusi Informasi
IV. Langkah – langkah Pembelajaran
Kegiatan Alokasi
waktu
Pendidikan
karakter
Kegiatan awal :
o Pre test tentang elektron valensi.
Kegiatan Inti:
Eksplorasi:
Memotivasi siswa dengan pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan topik
yang dipelajari
Elaborasi:
o Diskusi informasi tentang menentukan
PEB dab PEI berdasarkan struktur
lewis, tipe molekul , bentuk molekul
dan hibridisasi.
o Mempresentasikan topik diskusi,
mengumpulkan informasi dan masalah
yang dimiliki siswa.
o Mengarahkan siswa untuk memahami
bentuk molekul berdasarkan teori
struktur lewis, tipe molekul , bentuk
molekul dan hibridisasi.
Konfirmasi:
Menyimpulkan hasil diskusi


Rasa ingin
tahu


Kerja keras




Mandiri

Kreatif




Gemar
membaca
Kegiatan Akhir :
Pemberian tugas




V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

VI. Penilaian
a. Jenis tagihan : tugas individu dan ulangan harian
b. Bentuk intrumen : Portopolio dan test tertulis

Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007



































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 1
Alokasi waktu : 2 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 1. Memahami struktur atom untuk meramalkan
sifat – sifat periodik unsur, struktur atom dan
sifat – sifat senyawa.

Kompetensi Dasar : 1.3.Menjelaskan interaksi antar molekul (gaya
antar molekul) dengan sifatnya.

Indikator :
Menjelaskan perbedaan sifat fisik (titik didih, titik beku) berdasarkan
perbedaan gaya antar molekul ( gaya Van der Waals, gaya london dan ikatan
hidrogen)

I. Tujuan Pembelajaran
o Dapat menjelaskan gaya antar molekul.
o Dapat menjelaskan pengaruh gaya antar molekul terhadap sifat fisik
zat.

II. Materi Pembelajaran
Gaya Antar Molekul
Gaya antar molekul merupakan gaya tarik menarik atau tolak
menolak antara molekul-molekul zat. Berikut ini penjelasan tentang gaya
antarmolekul yang berhubungan dengan gaya Van der Walls dan Ikatan
Hidrogen.

1. Gaya Van der Walls
Karena atom-atom dan molekul-molekul dikelilingi oleh electron-
elektron yang bermuatan negative, maka malekul-molekul tersebut
dalam suatu zat mungkin saling tolak menolak, tetapi hal ini tidak
pernah terjadi. Peristiwa ini telah dijelaskan oleh seorang ahli fisika
Belanda, Johannes Diderik van der walls. Menurutnya molekul-
molekul dalam suatu zat tidak saling tolak menolak karena antara
molekul-molekul tersebut terdapat suatu gaya tarik-menarik yang
lemah. Gaya tersebut dikenal dengan gaya Van der Walls yang adapat
mewmpertahankan molekul-molekul tersebut untuk tetap berada dalam
suatu zat.
Gaya Tarik Antar Molekul
Jika molekul–molekul membentuk senyawa tentunya, ada
interaksi antar molekul seperti halnya keluarga, jika suatu keluarga
dinyatakan sebagai senyawa dan anggota keluarga sebagai molekul,
maka setelah kita mempelajari sifat masing–masing anggota keluarga
tentunya kita akan mempelajari hubungan (interaksi) antar anggota
keluarga tersebut. Gaya antar molekul disini dibatasi pada gaya tarik
antara dua molekul atau lebih dari satu zat murni. Pada bagian ini,
akan dipelajari tiga macam gaya tarik antar molekul. Dua diantaranya
sekaligus disebut gaya tarik Van der Waals. Gaya tarik yang lemah
disebabkan oleh dipol imbasan sesaat, yang terjadi antara semua
molekul, bahkan juga molekul yang non polar sekalipun, Gaya tarik
Van der Waals yang kuat, disebut gaya tarik dipol-dipol, terjadi antara
molekul yang memiliki momen dipol permanen. Gaya tarik ketiga
lebih kuat dari gaya Van der Waals yang terjadi hanya antar molekul
tertentu dan kemudian disebut Ikatan Hidrogen.
a. Gaya London
Seorang ahli fisika dari Jerman Fritz London, tahun 1930
menguraikan terjadinya tarikan yang lemah disebabkan oleh dipol
imbasan sekejap atau sesaat yang kemudian dikenal Gaya London.
Terjadinya tarikan antar elektron satu molekul dan inti molekul
yang lain dapat dibayangkan sebagai akibat menggesernya posisi
atau getaran (Vibrasi) elektron dan inti-inti itu. Suatu getaran
dalam sebuah molekul mengimbas (menginduksi) suatu geseran
elektron-elektron suatu molekul yang disebelahnya. Atom simetris
(tengah bersifat non polar) tetapi getaran yang mengimbas gaya
tarik dipol sesaat antara atom-atom sebelahnya. Bila beberapa
molekul berkumpul bersama-sama seperti dalam cair, geseran-
geseran disingkronkan, sehingga terdapat suatu tarikan total antara
banyak molekul yang bersebelahan. Dipol-dipol ini dikatakan
bersifat sesaat, karena getaran itu milyaran kali dalam suatu detik.
Pada saat berikutnya dipol itu hilang, atau mungkin arah polaritas
telah dibalik. Gaya London ini yang menyebabkan adanya tarikan
antara molekul-molekul senyawa non polar. Molekul-molekul
polar besar lebih efektif ditarik satu sama lain daripada molekul
kecil. Marilah kita bandingkan molekul metana, CH
4
dengan
propana CH
3
-CH
2
-CH
3
. Struktur molekul Propana lebih besar dari
Metana sehingga tarikan yang terjadi antar dua molekul Propana
lebih kuat dari pada dua molekul Metana. Contoh lain yang dapat
kita perhatikan antara iod, I
2
, dan flour, F
2
. Manakah yang lebih
kuat, molekul iod atau molekul flour? Molekul iod, molekul
dengan distribusi / penyebaran elektron yang besar dan baur ke
segala arah saling menarik lebih kuat dari pada molekul – molekul
yang elektronnya lebih kuat terikat. Molekul iod yang besar itu
saling tarik – menarik dengan lebih kuat dari pada molekul flour
yang lebih kecil. Mudah tidaknya suatu molekul membentuk dipol
sesaat disebut polarisabilitas. Hal ini berkaitan dengan masa
molekul relatif (Mr) dan bentuk molekul. Masa molekul relatif
berkaitan dengan jumlah elektron dalam molekul maka makin
mudah mengalami polarisasi sehingga makin kuat gaya
Londonnya. Mari kita bandingkan molekul H
2
, N
2
, O
2
, dan Br
2
.
Bagaimana urutan kekuatan gaya London molekul-molekul
tersebut? Urutan kekuatan Gaya London dari yang terlemah ke
yang paling kuat adalah
H
2
— N
2
— O
2
— B
r2
karena MrBr
2
> MrO
2
> MrN
2
> MrH
2

Molekul yang bentuknya panjang lebih mudah mengalami
polarisasi dibandingkan molekul yang kecil, padat dan simetris
sehingga gaya Londonnya juga lebih kuat.
b. Gaya tarik dipol–dipol
Gaya dipol-dipol terjadi pada molekul-molekul yang mempunyai
dipol permanen atau molekul polar. Antaraksi antara kutub positif
dari satu molekul dengan kutub negatif dari molekul yang lain akan
menimbulkan gaya tarik menarik yang relatif lemah. Kekuatan
gaya dipol-dipol ini akan semakin besar bila molekul-molekul
tersebut mengalami penataan dengan ujung positif suatu molekul
mengarah ke ujung negatif dari molekul yang lain.


c. Ikatan Hidrogen
Tarikan antar molekul yang luar biasa kuatnya, dapat terjadi antara
molekulmolekul, jika satu molekul mempunyai sebuah atom
hidrogen yang terikat pada sebuah atom berelektronegativitas
besar, dan molekul sebelahnya mempunyai sebuah atom
berelektronegativitas tinggi yang mempunyai sepasang elektron
menyendiri. Inti hidrogen, yakni proton ditarik oleh sepasang
elektron yang bersebelahan bolak-balik antara kedua atom tersebut.
Tarikan antara dua molekul yang menggunakan bersama-sama
sebuah proton disebut Ikatan Hidrogen.

III. Metode Pembelajaran
o Diskusi Informasi

IV. Langkah – langkah Pembelajaran
Kegiatan awal :
o Apresiasi ikatan kimia dan wujud zat
Kegiatan Inti:
o Diskusi hubungan antara fase zat dengan gaya antar molekul.
o Diskusi hubungan sifat fisik dengan gaya antar molekul
Kegiatan Akhir :
o Menyimpulkan hasil diskusi


No. Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
1 Kegiatan Awal
a. Guru membuka pelajaran
b. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
c. Guru memberikan motivasi pada siswa
d. Guru memberikan pertanyaan awal
tentang ikatan kimia


5 menit

2 Kegiatan Inti
Eksplorasi
a. Siswa diberikan pertanyaan
pendahuluan tentang sejauh mana
menguasai materi yang akan dipelajari
b. Guru meminta siswa untuk
mendeskripsikan macam – macam gaya
antar molekul.
Elaborasi
a. Siswa berdiskusi dengan teman
sebangku tentang materi yang sedang
dipelajari
b. Beberapa siswa memaparkan hasil
diskusi tersebut di depan kelas
c. Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya
Konfirmasi
a. Guru dan siswa membahas hasil
diskusi secara bersama – sama








20
menit


Rasa ingin
tahu
Gemar
membaca

komunikatif
3 Kegiatan Akhir
a. Siswa dengan bimbingan guru menarik
kesimpulan dari materi yang telah
dipelajari
b. Guru memberikan tugas rumah kepada
siswa berupa mengerjakan soal – soal
gaya antar molekul
c. Guru mengaitkan tentang materi yang
akan dipelajari pada pertemuan
selanjutnya
d. Guru menutup pelajaran



5 menit




V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

VI. Penilaian
o Jenis Tagihan : tugas individu



Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007


























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5
SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 1
Alokasi waktu : 1 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 2.Memahami perubahan energi dalam reaksi
kimia dan cara pengukurannnya.
Kompetensi Dasar : 2.1.Mendeskripsikan perubahan energi suatu
reaksi, reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.
Indikator :
- Menjelaskan hukum kekekalan energi.
- Membedakan sistem dan lingkungan.
- Menjelaskan tentang macam – macam sistem.
I. Tujuan Pembelajaran
o Siswa dapat menjelaskan hukum / azas kekekalan energi.
o Siswa dapat membedakan sistem dan lingkungan.
o Siswa dapat menjelaskan tentang macam – macam sistem.
II. Materi Pembelajaran
Hukum kekekalan energi adalah salah satu dari hukum-hukum
kekekalan yang meliputi energi kinetik dan energi potensial. Hukum
Kekekalan Energi : energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan, tetapi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Contohnya, Matahari adalah ciptaan Tuhan yang merupakan sumber
energi bagi alam semesta baik berupa energi panas maupun energi
cahaya. Tumbuhan hijau menyerap cahaya matahari dan mengubah zat-
zat pada daun menjadi karbohidrat melalui fotosintesis. Karbohidrat
merupakan sumber energi bagi makhluk hidup, batu baterai dapat
menyalakan lampu senter. Pada batu baterai reaksi kimia yang terjadi
menghasilkan energi listrik, kemudian energi listrik berubah menjadi
energi cahaya. Pada proses-proses tersebut tidak ada energi yang hilang
tetapi energi berubah ke bentuk energi lain.
o Sistem dan lingkungan
- sistem : segala sesuatu yang sedang menjadi pusat perhatian/kajian.
- lingkungan : segala sesuatu yang ada di luar sistem yang memiliki
pengaruh timbal balik terhadap sistem. Contohnya apabila
mereaksikan antara larutan NaOH dengan HCl yang berada dalam
tabung reaksi, sehingga yang berperan sebagai sistem adalah larutan
NaOH dan HCl sedangkan yang berperan sebagai lingkungan adalah
tabung reaksi.

o Sistem dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
- Sistem terbuka : suatu sistem yang memungkinkan terjadinya
pertukaran kalor dan zat antara lingkungan dan sistem.
- Sistem tertutup : suatu sistem yang antara sistem dan lingkungan dapat
terjadi pertukaran kalor, tetapi tidak dapat terjadi pertukaran materi.
- Sistem terisolasi : sistem yang tidak memungkinkan terjadinya
pertukaran kalor dan materi antara sistem dan lingkungan.
o Energi
- Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja. Setiap zat atau
sistem memiliki sejumlah energi tertentu yang digolongkan menjadi
energi kimetik,dan energi potensial. Energi kinetik yaitu energi yang
berkaitan dengan gerakan-gerakan molekul sistem, sedangkan energi
potensial berhubungan dengan ditarik atau ditolaknya zat oleh benda
lain. Jumlah energi suatu sistem disebut sebagau energi dalam (E) .
energi dalam merupakan energi yang termasuk pada fungsi keadaan,
tidak terpengaruh pada asal usulnya hanya terpengaruh pada keadaan
sistem.
- Energi dalam akan berubah jika sistem menyerap atau membebaskan
kalor. Energi dalam juga akan berubah jika sistem melakukan atau
menerima kerja.
-
-



- Sistem menerima kalor , q (+)
- Sistem membebaskan kalor, q (-)
- Sistem melakukan kerja, w (-)
- Sistem menerima kerja, w (+).

III. Model dan metode Pembelajaran
o Pendekatan : Inquiry.
o Metode : Diskusi, tanya jawab.
IV. Langkah – langkah Pembelajaran
U = q + w U = perubahan energi dalam
q = kalor
w = kerja
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
PERTEMUAN KE – 1
I Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas :
a. Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan sistem, lingkungan, dan
energi yang ada di dalamnya.
b. Guru memberitahukan bahwa siswa akan mempelajari
hukum kekekalan energi.
c. Motivasi : energi yang dimiliki suatu benda/zat tidak dapat
hilang tetapi dapat berubah dari satu bentuk energi ke
bentuk energi yang lain.

5’













II Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa mengenai konsep sistem
dan lingkungan dari buku sumber
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh sistem dan lingkungan di
lingkungan sekitar.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
sistem dan lingkungan.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok untuk kemudian
dibagikan question cards pada masing-masing kelompok.
o diskusi kelompok untuk mengidentifikasi sistem dan
lingkungan.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :

30’


Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa menuju konsep
sistem dan lingkungan
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap
jawaban siswa yang benar.
III Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
 Pemberian tugas : mencari contoh-contoh proses perubahan bentuk
energi suatu zat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan.

10’


V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI.
4. Penunjang:
a.Buku kimia kelas XI semester 1 Intan Pariwara
b.Question cards
c. proyektor / LCD
d. Power point
VI. Penilaian
o Jenis Tagihan :
A. Tertulis
Question cards









Kunci Jawaban Tugas tertulis :
1. Sistem : bejana
Lingkungan : kapur tohor dan air

1. Sebuah bejana berisi air ke dalamnya ditambahkan kapur tohor CaO. Para reaksi ini dibebaskan
kalor, terbukti dengan mendidihnya air dalam bejana. Zat apa yang berfungsi sebagai sistem dan
lingkungan?
2. Bagaimana bunyi hukum kekekalan energi ? dan berikan contohnya

2. Hukum Kekekalan Energi : energi tidak dapat diciptakan dan tidak
dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk
yang lain.

N orma penilaian tugas tertulis :
Setiap nomor, jawaban benar diberi skor maksimal 10
Nilai =

30
x 100

Norma penilaian performans :
Setiap butir keterampilan yang dipersyaratkan diberi skor dengan rentang 1
s.d. 5, jika :
- siswa dapat melakukan dengan benar diberi skor 5
- siswa melakukan mendekati benar diberi skor 4
- siswa melakukan cukup benar diberi skor 3
- siswa melakukan kurang benar diberi skor 2
- siswa melakukan tidak benar diberi skor 1


Nilai =

25
x 100




Program Tindak Lanjut :
- Siswa yang belum mencapai nilai 77 diberi tindakan remidial
- Siswa yang telah mencapai nilai ≥ 77 diberi pengayaan



Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Guru mapel kimia Praktikan,


Drs. Eko Nuryanto Silvia Anggraeni
NIP 196112271987031007 NIM 4301408045









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 2
Alokasi waktu : 2 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 2.Memahami perubahan energi dalam reaksi
kimia dan cara pengukurannnya.
Kompetensi Dasar : 2.1.Mendekripsikan perubahan energi suatu
reaksi, reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.
Indikator :
- Membedakan reaksi yang melepaskan kalor (eksoterm) dengan reaksi yang
menerima kalor (endoterm) melalui percobaan.
- Membedakan reaksi yang melepaskan kalor (eksoterm) dengan reaksi yang
menerima kalor (endoterm) melalui data.
- Menuliskan persamaan termokimia.
- Menggambarkan grafik yang menunjukkan reaksi eksoterm dan endoterm.

I. Tujuan Pembelajaran
o Melalui percobaan siswa dapat menyimpulkan perbedaan reaksi eksoterm
dan endoterm.
o Melalui percobaan siswa dapat menyimpulkan perbedaan reaksi eksoterm
dan endoterm.
o Siswa dapat menganalisis perbedaan reaksi eksoterm dan endoterm
melalui grafik.
o Siswa dapat menuliskan persamaan termokimia.
II. Materi Pembelajaran
o Reaksi eksoterm dan reaksi endoterm
- reaksi eksoterm : reaksi yang membebaskan kalor ke lingkungan
- reaksi endoterm : reaksi yang menyerap kalor dari lingkungan
1. Reaksi Eksoterm
Reaksi eksoterm, adalah kejadian dimana panas mengalir dari sistem ke
lingkungan. Maka, ΔH < O dan suhu produk akan lebih kecil dari reaktan.
Ciri lain, suhu sekitarnya akan lebih tinggi dari suhu awal.
Contoh
C(s)+O
2
-> CO
2
(g) ΔH=-393.4 kJ mol
-1
.
2. Reaksi Endoterm
Reaksi endoterm adalah kejadian dimana panas diserap oleh sistem dari
lingkungan. Maka, ΔH > 0 dan suhu sekitarnya turun.
Contoh:
- H
2
(g) + I
2
(g) -> 2HI(g) ΔH=51.9 kJ mol
-1

- Ba(OH)
2
(s) + 2NH
4
Cl (s) -> BaCl
2
(l) + 2NH
3
(g) + 2H
2
O(l)
o Perubahan entalpi : besarnya kalor yang dibebaskan/diserap sistem selama
reaksi berlangsung, dinyatakan dengan ΔH
- pada reaksi eksoterm : kalor berpindah dari sistem ke
lingkungan,sehingga kalor sistem berkurang, ΔH < 0
- pada reaksi endoterm : kalor berpindah dari lingkungan ke sistem,
sehingga kalor sistem bertambah, ΔH > 0


III. Metode Pembelajaran
o Diskusi
o Praktikum (demontrasi)

IV. Langkah – langkah Pembelajaran
PERTEMUAN KE – 2 Alokasi
waktu
Pendidikan
berkarakter
I. Pendahuluan
Apersepsi : menyiapkan alat dan bahan percobaan
Motivasi : alat kompres dapat panas dan dingin mengapa
demikian ?

10’


II Kegiatan Inti
 Eksplorasi : siswa melakukan percobaan reaksi eksoterm dan
reaksi endoterm secara berkelompok dan mandiri.
 Elaborasi :
o Guru dan siswa mendiskusikan hasil percobaan.
o Guru menjelaskan reaksi eksoterm dan endoterm.
o Guru meminta siswa berpikir kritis untuk membedakan
reaksi eksoterm dan endoterm.
 Konfirmasi : guru mengarahkan hasil diskusi menuju konsep

70’
Mandiri


Kerja keras


Berpikir
kritis
reaksi eksoterm dan reaksi endoterm.
III Penutup
 Guru dan siswa menyimpulkan hasil percobaan.
 Guru merefleksi materi setelah menerima pembelajaran reaksi
eksoterm dan endoterm.
 Guru membeikan tugas kepada siswa untuk mencari contoh-
contoh reaksi eksoterm dan reaksi endoterm dalam kehidupan
sehari-hari.



10’



V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a. Buku paket kelas XI yang relevan
b. proyektor / LCD
c. Lembar pengamatan siswa


VI. Penilaian
o Jenis Tagihan :
A. Tertulis
1. Jelaskan eksoterm/endotermkah reaksi berikut :
a. 4 gram Na dimasukkan ke dalam 50 mL air menyebabkan
kenaikan suhu 52
o
C.
b. Jika dalam tabung reaksi dicampurkan padatan NH
4
Cl dan
padatan BaCl
2
ternyata tabung reaksi suhunya turun dari 25
o
C
menjadi 12
o
C.

B. Performans (sikap dan kinerja)
Bentuk instrumen :
No. Aspek keterampilan yang diamati
Skor yang dicapai
5 4 3 2 1
1. Pemilihan alat yang digunakan
2. Cara mengambil zat-zat pereaksi
3. Cara mereaksikan zat-zat pereaksi
4. Cara mengukur/mengamati perubahan suhu
5. Cara membereskan alat/bahan setelah percobaan
C. Laporan tertulis

Kunci Jawaban Tugas tertulis :
1. a. Suhu lingkungan naik, kalor sistem berkurang → reaksi eksoterm
b. suhu lingkungan turun, kalor sistem bertambah → reaksi endoterm
N orma penilaian tugas tertulis :
Setiap nomor, jawaban benar diberi skor maksimal 10
Nilai =

20
x 100

Norma penilaian performans :
Setiap butir keterampilan yang dipersyaratkan diberi skor dengan rentang 1
s.d. 5, jika :
- siswa dapat melakukan dengan benar diberi skor 5
- siswa melakukan mendekati benar diberi skor 4
- siswa melakukan cukup benar diberi skor 3
- siswa melakukan kurang benar diberi skor 2
- siswa melakukan tidak benar diberi skor 1


Nilai =

25
x 100


Program Tindak Lanjut :
- Siswa yang belum mencapai nilai 77 diberi tindakan remidial
- Siswa yang telah mencapai nilai ≥ 77 diberi pengayaan


Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Guru mapel kimia Praktikan,


Drs. Eko Nuryanto Silvia Anggraeni
NIP 196112271987031007 NIM 4301408045











Lembar Pengamatan
Nama :
Kelas/No. Absen :
Kelompok :

REAKSI EKSOTERM DAN ENDOTERM

A. Tujuan
Menentukan reaksi eksoterm dan endoterm
B. Alat dan Bahan
Alat : tabung reaksi, termometer, gelas ukur, gelas kimia, kertas lakmus
merah,
gabus penutup.
Bahan : air, bongkahan CaO,NH
4
NO
3(s)
.
C. Langkah Kerja
1. Masukkan 10 mL air ke dalam gelas kimia dan uji dengan kertas lakmus
merah, pegang gelas itu dan rasakan suhunya. Tambahkan sebongkah CaO
sebesar kelereng, aduk dan rasakan suhu dengan memegang gelas kimia.
2. Masukkan 10 mL air ke dalam gelas kimia, selanjutnya masukan 2 g
amonium nitrat
3. Masukkan kedua termometer pada kedua gelas kimia.
4. Aduk campuran, tunggu 1 menit kemudian catat suhu awal larutan pada
kedua gelas kimia.
5. Selanjutnya setelah 5 menit catat suhunya.
D. Hasil Kerja
No. Kegiatan Pengamatan
1.


2.
Pencampuran CaO dan H
2
O
Suhu awal
Suhu akhir
Pencampuran NH
4
NO
3(s)
dan H
2
O
Suhu awal
Suhu akhir


E. Permasalahan
1. Gejala apakah yang menunjukkan telah terjadi reaksi kimia pada
percobaan 1 dan 2?
2. Jika didiamkan selam beberapa jam, apa yang anda harapkan terjadi
dengan suhu campuran pada reaksi 1 dan 2?
3. Bagaimanakah jumlah entalpi zat-zat hasul reaksi (produk) dibandingkan
dengan jumlah energi zat pereaksi (reaktan) pada reaksi 1 dan 2 jika
diukur pada suhu dan tekanan yang sama?
F. Kesimpulan
Simpulkan pengertian reaksi eksoterm dan endoterm serta perbedaan
keduanya.
Sebutkan contoh reaksi eksoterm dan endoterm masing-masing minimal 5!

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan :SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester: XI / IPA / 1
Pertemuan : 3
Alokasi waktu : 2 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 2.Memahami perubahan energi dalam reaksi
kimia dan cara pengukurannnya.

Kompetensi Dasar : 2.1. Mendeskripsikan perubahan entalpi suatu
reaksi, reaksi eksoterm, dan reaksi endoterm.
I. INDIKATOR
1. Menuliskan persamaan termokimia dengan lengkap dan benar.
2. Menjelaskan macam macam perubahan entalpi.
3. Menjelaskan perubahan entalpi pembentukan standar.
4. Menjelaskan perubahan entalpi penguraian standar.
5. Menjelaskan perubahan entalpi pembakaran standar.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Siswa dapat menuliskan persamaan termokimia dengan lengkap dan benar.
2. Siswa dapat menjelaskan macam-macam perubahan entalpi.
3. Siswa dapat menjelaskan perubahan entalpi pembentukan standar.
4. Siswa dapat menjelaskan perubahan entalpi penguraian standar.
5. Siswa dapat menjelaskan perubahan entalpi pembakaran standar.

III. ANALISIS MATERI
1. Persamaan Termokimia
Persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya disebut
persamaan termokimia. Nilai ∆H yang dituliskan pada persamaan
termokimia disesuaikan dengan stokiometri reaksi. Artinya jumlah mol zat
yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya.
Adalah persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya,
maka :
 ΔH reaksi dikaitkan dengan stoikiometri reaksi, artinya jumlah mol zat
yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya.
 Karena entalpi juga bergantung pada wujud zat, maka wujud zat juga
harus dituliskan. (padat = s; cair = l; gas= g; larutan = aq)
 Jika persamaan reaksi dibalik, maka tanda ∆H menjadi berlawanan dari
semula, tetapi besarnya sama.
 Jika kedua sisi persamaan dikalikan dengan nilai n, maka ∆H juga ikut
dikalikan dengan nilai n tersebut.

Contoh:
a. Pada pembentukan 1 mol air dari gas hidrogen dengan gas oksigen
dibebaskan 286 kJ. Kata ―dibebaskan― menyatakan bahwa reaksi
tergolong eksoterm. Oleh karena itu ∆H = -286 kJ Untuk setiap
mol air yang terbentuk. Persamaan termokimianya adalah:
H
2
(g) + ½ O
2 (g)
H
2
O
(l)
∆H = -286 kJ
Atau
2 H
2 (g)
+ O
2 (g)
2H2O (l) ∆H = -572 kJ
(karena koefisien reaksi dikali dua, maka harga ∆H juga harus dikali
dua).
b. Pada penguraian 1 mol air menjadi gas hidrogen dan gas oksigen
diserap 286 kJ. Kata ―diserap― menyatakan bahwa reaksi tergolong
endoterm. Oleh karena itu ∆H = +286 kJ Untuk setiap mol air yang
terurai. Persamaan termokimianya adalah:
H
2
O
(l)
H
2
(g) + ½ O
2 (g)


∆H = +286 kJ
Atau
2H
2
O
(l)
2 H
2 (g)
+ O
2 (g)
∆H = +572 kJ
(karena koefisien reaksi dikali dua, maka harga ∆H juga harus dikali dua)
2. Macam-macam Perubahan Entalpi Standar:
a. Perubahan Entalpi pembentukan standar (AH
0
f
)
Adalah Perubahan entalpi yang terjadi pada pembentukan 1 mol
suatu senyawa dari unsure-unsurnya yang paling stabil pada keadaan
standar.
Supaya terdapat keseragaman, maka harus ditetapkan keadaan
standar, yaitu suhu 25
0
C dan tekanan 1 atm. Dengan demikian
perhitungan termokimia didasarkan pada keadaan standar.
Pada umumnya dalam persamaan termokimia dinyatakan:
AB + CD AC + BD ∆ H
0
= x kJ/mol
∆H
0
adalah lambang dari perubahan entalpi pada keadaan itu. Yang
dimaksud dengan bentuk standar dari suatu unsur adalah bentuk yang
paling stabil dari unsur itu pada kondisi standar (298 K, 1 atm).
Contoh:
Perubahan entalpi pembentukan standar dari kristal ammonium klorida
adalah sebesar -314,4 kJ mol
-1
. Persamaan termokimia dari pernyataan
tersebut adalah:
½ N
2(g)
+ 2H
2(g)
+ ½ Cl
2(g)
NH
4
Cl ∆H
f
0
= -314,4 kJ/mol


b. Entalpi penguraian standar (AH
d
0
)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penguraian 1 mol
suatau senyawa menjadi unsure-unsurnya yang paling stabil pada
keadaan standar. Pada dasarnya perubahan entalpi penguraian satandar
merupakan kebalikan dari perubahan entalpi pembentukan standar, maka
harganya pun akan berlawanan tandanya.
Contoh:
Jika ∆H
f
0
H
2
O
(g)
=-240 kJ mol
-1
, maka ∆H
d
0
H
2
O
(g)
= +240 kJ mol
-1
.
Persamaan termokimianya adalah:
H
2
O
(l)
H
2(g)
+ ½ O
2(g)
∆H
d
0
H
2
O
(g)
= +240 kJ mol
-1

c. Entalpi pembakaran standar (AH
c
0
)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pembakaran 1 mol
suatu zat secara sempurna.Perubahan entalpi pada pembakaran sempurna
1 mol suatu zat yang diukur pada 298 K, 1 atm disebut entalpi
pembakaran standar (standard enthalpy of combustion), yang dinyatakan
dengan ∆H
0
c
. Entalpi pembakaran juga dinyatakan dalam kJ mol
-1
.
Pembakaran merupakan reaksi suatu zat dengan oksigen. Contoh
reaksi pembakaran sempurna suatu zat, antaranya adalah:
C
(s)
+ O
2(g)
CO
2(g)
H2(g) + ½ O2(g) H2O(g)
S
(s)
+ O
2(g)
SO
2(g)

Contoh:
Perubahan entalpi pembakaran standar dari karbon adalah sebesar -393,5
kJ mol
-1
. Persamaan termokimia dari pernyataan tersebut adalah:
C
(s)
+ O
2(g)
CO
2(g)
AH
c
0
= -393,5 kJ mol
-1

d. Perubahan Entalpi Netralisasi AHn
0

Perubahan entalpi netralisasi adalah perubahan entalpi yang terjadi pada
saat reaksi antara asam dengan basa baik tiap mol asam atau tiap mol
basa.
Contoh:
NaOH
(aq)
+ HCl
(aq)
NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)
AHn
0
= -57,1 kJ mol
-1

IV. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Inquiry
Metode : Ceramah, diskusi, dan tugas
V. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Pembelajaran Alokasi
waktu
Pendidikan
karakter
1. Kegiatan awal
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang
harus di capai dan sebelum memulai dengan materi
termokimia, guru bertanya pada siswa tentang jenis
– jenis energi yang dimiliki suatu materi, jenis
energi yang dihasilkan oleh reaksi kimia, dan
pengertian entalpi.
5 Menit

2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
1. Guru bertanya kepada siswa tentang persamaan
termokimia yang diketahuinya.
2. Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa
dengan menanyakan cara menulis persamaan
reaksi termokimia yang benar.
3. Guru meminta siswa mengamati langkah-
langkah menulis persamaan reaksi termokimia
secara lengkap dan benar.
4. Elaborasi
1. Guru menjelaskan secara singkat materi tentang
cara menulis persamaan reaksi termokimia
dengan lengkap dan benar, menjelaskan macam-
macam perubahan entalpi.
2. Guru membagi kelas menjadi beberapa
kelompok berdasarkan letak tempat duduk.
3. Guru memberikan soal, kemudian dalam waktu
3-5 menit tiap kelompok diminta untuk
mendiskusikan soal tersebut.
4. Guru memberikan kesempatan kepada anggota
kelompok untuk mengerjakan soal di depan
kelas.
5. Guru bersama kelompok lain mendiskusikan
hasil pekerjaan kelompok yang maju di depan
20 menit


Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu


Komunikatif/
bersahabat

Kerja keras



Menghargai
prestasi



kelas..
6. Memberikan kesempatan bertanya bagi siswa
yang mengalami kesulitan.
Konfirmasi
1. Guru memberikan contoh soal tentang penulisan
persamaan termokimia.
2. Guru dan siswa membahas latihan soal secara
bersama – sama.
3. Guru memberikan pengarahan apabila masih ada
kesalahan dalam mengerjakan soal







Komunikatif
3 . Kegiatan akhir
1. Siswa dengan bimbingan guru menarik
kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
2. Guru memberikan tugas kepada siswa berupa
soal – soal mengenai menuliskan persamaan
reaksi termokimia untuk melatih siswa terbiasa
menuliskan persamaan reaksi termokimia secara
lengkap dan benar.
3. Guru mengaitkan tentang materi yang akan
dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
4. Guru menutup pelajaran.
5 Menit


VI. MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
1. Buku KIMIA untuk SMA Kelas XI penerbit Erlangga hal 62-69
2. Modul kimia untuk SMA/MA Intan Pariwara
3. Power point


VII. EVALUASI

Soal
1. Diketahui entalpi pembentukan standar ( AH
f
0
) dari berbagai zat :
a. H
2
O
(l)
= - 285,85 kJ/mol
b. CO
2(g)
= +393,5 kJ/mol
c. C
2
H
5
OH
(l)
= - 277,7 kJ/mol
d. NaCl
(s)
= +410,9 kJ/mol
Tuliskan persamaan termokimianya.
2. Dari soal no.1 tuliskan persamaan termokimia dari entalpi penguraian
standar!
3. Tuliskan persamaan termokimia dari pembakaran, apabila diketahui harga
AH
0
c
:
a. belerang = -297 kj/mol
b. metana = -802 kj/mol
c. higrogen = -285,5 kj/mol
d. karbon monoksida = -283 kj.mol
4. Sebutkan dan jelaskan 3 macam-macam perubahan entalpi!
Kunci jawaban
1. Persamaan termokimia pembentukan standart dari zat:
a. H
2
+ ½ O
2
H
2
O ∆H
0
= -285,85 kJ/mol
b. C + O
2
C
2
O ∆H
0
= +393,5 kJ/mol
c. C + ½ O
2
+ 3H
2
C
3
H
5
OH ∆H
0
= - 277,7 kJ/mol
d. Na + Cl NaCl ∆H
0
= +410,9 kJ/mol
2. Persamaan termokimia penguraian standart dari zat:
a. H
2
O H
2
+ ½ O
2
∆H
0
= +285,85 kJ/mol
b. C
2
O C + O
2
∆H
0
= +393,5 kJ/mol
c. C
3
H
5
OH C + ½ O
2
+ 3H
2
∆H
0
= -+277,7 kJ/mol
d. NaCl Na + Cl ∆H
0
= +410,9 kJ/mol
3. Persamaan termokimia entalpi pembakaran dari:
a. S + O
2
SO
2
∆H
0
=-297 kj/mol
b. CH
4
+ 2O
2
CO
2
+ 2H
2
O ∆H
0
=-802 kj/mol
c. H
2
+ ½ O
2
H
2
O ∆H
0
=-285,5 kj.mol
d. CO + O
2
CO
2
∆H
0
=-283 kj.mol
4. Macam-macam perubahan entalpi:
a. Entalpi pembentukan adalah perubahan entalpi pada pembentukan 1
mol zat langsung dari unsur-unsurnya.
b. Entalpi penguraian adalah kebalikan dari reaksi pembentukan. Oleh
karena itu, sesuai dengan azas kekekalan energi, nilai entalpi
penguraian sama dengan entalpi pembentukannya, tetapi tandanya
berlawanan.
c. Entalpi pembakaran adalah perubahan entalpi pada pembakaran
sempurna 1 mol suatu zat yang diukur pada 298 K, 1 atm.
d. Entalpi netralisasi adalah perubahan entalpi yang terjadi pada saat
reaksi antara asam dengan basa baik tiap mol asam atau tiap mol basa.
Cara Penilaian
No.1 skor 3
No.2 skor 3
No.4 skor 3
No.5 skor 1
Nilai =

×

Mengetahui, Semarang, Agustus 2011
Guru mapel kimia Praktikan,


Drs. Eko Nuryanto Silvia Anggraeni
NIP 196112271987031007 NIM 4301408045

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 3, 4, 5, 6, 7, 8
Alokasi waktu : 12 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2010/2011

Standart Kompetensi : 2.Memahami perubahan energi dalam reaksi
kimia dan cara pengukurannya.
Kompetensi Dasar : 2.2.Menentukan ΔH reaksi berdasarkan
percobaan, hukum Hess, data perubahan
entalpi pembentukan standar dan data energi
ikatan.
Indikator :
Pertemuan ke – 4 :
- melakukan percobaan untuk menentukan ΔH reaksi dengan kalorimeter
sederhana.
Pertemuan ke – 5 :
- Menghitung ΔH reaksi berdasarkan data hasil percobaan
Pertemuan ke – 6 :
- Menghitung ΔH reaksi berdasarkan hukum hess
Pertemuan ke – 7 :
- Menghitung ΔH reaksi berdasarkan ΔH
0
f

Pertemuan ke – 8 :
- Menghitung ΔH reaksi berdasarkan data energi ikatan.


I. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan ke – 4 :
- Siswa dapat merancang dan melakukan percobaan untuk menentukan
ΔH reaksi dengan kalorimeter sederhana.
Pertemuan ke – 5 :
- Siswa dapat menentukan ΔH reaksi berdasarkan data hasil percobaan
Pertemuan ke – 6 :
- Siswa dapat menentukan ΔH reaksi berdasarkan hukum hess
Pertemuan ke – 7 :
- Siswa dapat menentukan ΔH reaksi berdasarkan ΔH
0
f

Pertemuan ke – 8 :
- Siswa dapat menentukan ΔH reaksi berdasarkan data energi ikatan.

II. Materi Pembelajaran

PENENTUAN PERUBAHAN ENTALPI
1. KALORIMETER
Untuk menentukan perubahan entalpi (ΔH) suatu reaksi dapat dilakukan
dengan suatu percobaan menggunakan kalorimeter, baik kalorimeter sederhana
maupun kalorimeter bomb. Kalorimeter merupakan suatu alat untuk mengukur
jumlah kalor reaksi yang diserap maupun yang dilepaskan pada suatu reaksi
kimia. Kalorimeter sederhana terdiri dari dua buah gelas styrofoam. Styrofoam
digunakan karena merupakan suatu isolator sehingga jumlah kalor yang diserap
atau yang dilepaskan ke lingkungan dapat diabaikan. Kalorimeter sederhana
digunakan untuk mengukur perubahan suhu larutan suatu reaksi kimia. Jadi jika
reaksi berlangsung eksoterm maka kalor akan sepenuhnya diserap oleh larutan
dalam wadah, namun jika reaksi berjalan endoterm maka kalor diserap dari
larutan. Dengan demikian jumlah kalor yang diserap atau dilepas larutan dapat
kita kita tentukan dengan mengukur perubahan suhu.
Dalam menentukan ΔH menggunakan kalorimeter, kita akan selalu
berhubungan dengan kalor atau panas. Jumlah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan 1 gram zat sebesar 1˚C atau 1˚K disebut panas jenis (c), dinyatakan
dengan satuan Joule g
-1
˚C
-1
. Untuk menentukan jumlah kalor suatu zat secara
umum berlaku rumus berikut.
q = m c ΔT
Keterangan:
q = jumlah kalor (Joule)
m = massa zat (gram)
c = kalor jenis (Joule g
-1
˚C
-1
)
ΔT = perubahan suhu (T
akhir
– T
awal
)

Jumlah kalor rumus di atas merupakan q
reaksi
. Dimana q
larutan
= -q
reaksi
. Dengan
demikian maka ΔH dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut.
ΔH = q
larutan
: jumlah mol

Selain kalorimeter sederhana terdapat pula kalorimeter bomb, yaitu
kalorimeter yang memperhitungkan kalor yang diserap perangkat (wadah,
pengaduk, termometer). ΔH reaksi pada kalorimeter dapat menggunakan rumus
berikut.
q
reaksi
= q
larutan
+ q
kalorimeter

= m c ΔT + C ΔT
Maka ΔH
reaksi
= q
reaksi
: jumlah mol

2. HUKUM HESS
Berdasarkan hukum Hess, penentuan ΔH dapat dilakukan melalui 2 cara
berikut.
a. Perubahan entalpi (ΔH) dihitung melalui penjumlahan dari perubahan entalpi
beberapa reaksi yang berhubungan
Perubahan entalpi dapat ditentukan dengan hukum Hess karena
banyak senyawa yang tidak bisa disintesis secara langsung dari unsur-unsur
penyusunnya. Dalam beberapa kasus, kadang reaksi berlangsung sangat
lambat, atau reaksi bersamaan dengan reaksi samping yang menghasilkan
senyawa lain yang tidak diharapkan, sehingga ΔH
f
tidak dapat ditentukan
secara langsung.
Misalnya pada pembakaran karbon akan menghasilkan gas CO.
Persamaan termokimianya sebagai berikut.
C(s) + 1/2O2 (g) CO(g) ΔH = -110,5kJ
Reaksi di atas dapat berlangsung melalui 2 tahap, yaitu:
C(s) +O2 (g) CO2 (g) ΔH = -393,5kJ
CO(g) + 1/2O2 CO (g) ΔH = -283,0kJ
Kita dapat membalikkan reaksi ke 2 (sehinggga menjadi reaksi endoterm
dan
memiliki CO(g) sebagai hasil reaksi. Ini menggambarkan dekomposisi CO2
untuk
menghasilkan CO dan O2.
CO2 (g) CO(g) + 1/2O2 (g) ΔH =283,0kJ
Sehingga kedua reaksi dapat dijumlahkan menjadi :
C s + O2(g) CO2 (g) ΔH= -393,5 kJ
CO2 (g) CO (g) + 1/2 O2 (g) ΔH = +283,0 kJ
C (s) + O (g) + CO2 (g) CO2 (g) + 1/2CO2 (g) + O2 g ΔH= -
110,5 kJ


Hukum Hess menyatakan bahwa “Perubahan entalpi yang dilepas atau
diserap tidak tergantung pada jalannya reaksi, melainkan bergantung pada
kondisi zat-zat yang bereaksi (reaktan) dan zat-zat hasil reaksi (produk)”.

















Dari diagram di samping dapat dijabarkan bahwa zat A dapat langsung
diubah menjadi zat B dengan perubahan entalpi sebesar ΔH. Namun dengan
jalan lain, zat A diubah menjadi zat C dengan perubahan entalpi sebesar
ΔH1, zat C diubah menjadi zat D dengan perubahan entalpi sebesar ΔH2,
dan zat D diubah menjadi zat B dengan perubahan entalpi sebesar ΔH3.
Dengan kata lain kita dapat memotong suatu reaksi menjadi suatu rangkaian
reaksi bertahap, dimana tiap-tiap tahapannya memiliki nilai ΔHr. Kita dapat
menghitung ΔHr keseluruhan dari penjumlahan ΔHr tiap-tiap tahap. Ini
dapat dirumuskan sebagai berikut.
ΔH = ΔH1 + ΔH2 + ΔH3
Contoh:
Δ
H
ΔH1
ΔH2
ΔH3
A
B
C
D
A
B
Δ
H
ΔH1
ΔH2
ΔH3
akhir
awal
C
(grafit)
+ 2H
2(g)
 CH
4(g)

Misalnya reaksi tidak dapat berlangsung sebagaimana yang kita tuliskan,
sehingga kita tidak dapat menentukan perubahan entalpi secara langsung.
Oleh karena itu kita harus mencari jalan tidak langsung. Mula-mula kita
mencari reaksi-reaksi yang melibatkn C, H
2
, dan CH
4
dimana semua reaksi
telah diketahui ΔHr-nya dengan baik.
(1) C
(grafit)
+ O
2(g)
 CO
2(g)
ΔHr = -393,5 kJ
(2) 2H
2(g)
+ O
2(g)
 2H
2
O
(l)
ΔHr = -571,6 kJ
(3) CH
4(g)
+ 2O
2(g)
 CO
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
ΔHr = -890,4 kJ
Karena kita ingin mencari persamaan yang hanya mengandung C dan H
2

sebagai reaktan dan CH
4
sebagai produknya maka kita harus
membalikkan persamaan (3) menjadi
(4) CO
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
 CH
4(g)
+ 2O
2(g)
ΔHr = +890,4 kJ



Kemudian dengan menjumlahkan persamaan (1), (2), dan (4):
(1) C
(grafit)
+ O
2(g)
 CO
2(g)
ΔHr = -393,5 kJ
(2) 2H
2(g)
+ O
2(g)
 2H
2
O
(l)
ΔHr = -571,6 kJ
(4) CO
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
 CH
4(g)
+ 2O
2(g)
ΔHr = +890,4 kJ
(5) C
(grafit)
+ 2H
2
O
(g)
 CH
4(g)
ΔHr = -74,7 kJ

b. Perubahan entalpi (ΔH) suatu reaksi dihitung berdasarkan selisih entalpi
pembentukan (ΔHf) antara produk dan reaktan.
Untuk reaksi aAB + bCD  cAD + dCB
ΔH = (c. ΔHf AD + d. ΔHf CB) – (a. ΔHf AB + b. ΔHf CD)
Atau
ΔH reaksi = ∆ − ∆
Di mana n dan m merupakan koefisien stoikiometri untuk produk dan
reaktan, sedangkan Σ (sigma) merupakan ―pejumlhan dari‖.
Contoh soal:
Apabila ΔH pembentukan (ΔHf) CaO
(s)
, H
2
SO
4(aq)
, CaSO
4(s)
dan H
2
O
(l)

berturut turut adalah a, b, c, dan d kJ/mol. Tentukan ΔH reaksi : CaO
(s)
+
H
2
SO
4(aq)
 CaSO
4(s)
+ H
2
O
(l)

Jawab:
ΔH reaksi = (jumlah ΔHf hasil reaksi) – (jumlah ΔHf reaktan)
= (ΔHf CaO + ΔHf H
2
SO
4
) – (ΔHf CaSO
4
+ ΔHf H
2
O)
= (c+d) – (a+b)
= c + d – a – b

3. ENERGI IKATAN
Saat mereaksikan beberapa senyawa, kadang timbul endapan atau
timbul warna. Hal ini menandakan bahwa selama proses reaksi, senyawa-
senyawa tersebut melakukan pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan
baru yang menghasilkan senyawa yang mengendap atau berwarna. Selama
proses pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan dibutuhkan sejumlah
energi. Besarnya energi ikatan ini yng menjadi dasar menentukan perubahan
entalpi (ΔH). Energi yang diperlukan untuk memutus ikatan kimia dalam 1
mol senyawa berwujud gas pada keadaan standar menjadi atom-atomnya
disebut energi ikatan. Berdasarkan jenis dan letak atom terhadap atom-atom
lain dalam molekulnya dikenal 3 jenis energi ikatan, yaitu:
a. Energi Atomisasi
Energi atomisasi adalah energi yang dibutuhkan untuk
memutuskan semua ikatan 1 mol molekul menjadi atom-atom bebas
dalam keadaan gas. Energi atomisasi sama dengan jumlah seluruh
ikatan atom-atom dalam 1 mol senyawa.
Contoh:
NH
3(g)
 N
(g)
+ 3H
(g)
ΔH = 297 kkal/mol
Pada molekul NH
3
terdapat 3 ikatan N-H, energi ikatan N-H sebesar
93 kkal/mol, sehingga energi atomisasi NH
3
sebesar 3 x 93 kkal/mol =
297 kkal/mol.
b. Energi Disosiasi Ikatan
Energi disosiasi ikatan adalah energi yang dibutuhkan untuk
memutuskan salah satu ikatan yang terdapat pada suatu molekul atau
senyawa dalam keadaan gas.
Contoh:
CH
4(g)
 CH
3(g)
+ H
(g)
ΔH = +431 kJ
Energi disosiasi untuk melepas 1 atom H dari molekul CH
4
sebesar
431 kJ.
c. Energi Ikatan Rata-rata
Energi ikatan rata-rata adalah energi rata-rata yang dibutuhkan
untuk memutuskan ikatan atom-atom pada suatu senyawa yang
dinotasikan sebagai D. Misalnya penguraian 1 mol gas CH
4
menjadi
atom-atomnya diperlukan energi sebesar 1668 kJ. Dalam molekul CH
4

terdapat 4 ikatan C-H. Energi ikatan rata-rata C-H (D
C-H
) = 1668 kJ : 4
= 417 kJ
Energi ikatan suatu molekul berwujud gas dapat ditentukan dari
data entalpi pembentukan standar (ΔHf) dan energi ikat unsur-
unsurnya. Prosesnya dianggap melalui 2 tahap yaitu:
1) Menguraikan senyawa menjadi unsurnya
2) Mengubah unsur menjadi atom gas.
Dari anggapan tersebut dapat diterapkan dalam penentuan energi
ikatan C=O dalam gas CO.
Contoh:
Dari tabel entalpi pembentukan standar diketahui ΔHf CO
(g)
= -110,5
kJ/mol, ΔHf C
(g)
= 716,7 kJ/mol, dan energi ikat O
2
= 495 kJ/mol.
Tentukan energi ikatan C=O dalam gs CO.
Jawab:
Reaksi : CO
(g)
 C
(g)
+ O
(g)
D
C=O
= ΔH = x kJ
Reaksi tersebut dapat dianggap berlangsung menurut tahapan:
CO
(g)
 C
(g)
+ ½ O
(g)
ΔH = ΔHf CO
(g)
= 110,5 kJ
C
(s)
 C
(g)
ΔHr = ΔHf C
(g)
= 716,7 kJ
½ O
2(g)
 O
(g)
ΔH = ½ D
O=O
= 247,5 kJ
CO
(g)
 C
(g)
+ O
2(g)
ΔH = 1074,7 kJ
Jadi energi ikatan C=O dalam gas CO adalah 1074,7 kJ/mol.
Reaksi kimia antar molekul dapat dianggap berjalan melalui 2
tahap yaitu pemutusan ikatan pada pereaksi dan pembentukan ikatan
pada produk, sehingga ΔH dari energi ikatan adalah:
ΔH = Σ energi pemutusan reaktan – Σ energi penggabungan
produk
Contoh soal:
Apabila energi ikatan C-H, C=C, Cl-Cl, C-C, dan C-Cl masing-
masing adalah 99 kkal, 146 kkal, 58 kkal, 83 kkal, dan 79 kkal,
tentukan besarnya ΔH dari reaksi berikut.
H H H H

C = C + Cl – Cl  H – C – C – H

H H H H
Jawab:
ΔH reaksi = (jumlah energi ikatan pereaksi) – (jumlah energi ikatan
hasil reaksi)
ΔH reaksi = (4 E
C-H
+ 1 E
C=C
+ 1 E
Cl-Cl
) – (4 E
C-H
+ 1 E
C-C
+ 2 E
C-Cl
)
ΔH reaksi = (1 E
C=C
+ 1 E
Cl-Cl
) – (1 E
C-C
+ E
C-Cl
)
ΔH reaksi = {(146+58) – (83+ 2x79)} kkal
ΔH reaksi = -37 kkal


III. Metode Pembelajaran
o Diskusi Informasi
o Praktikum
o Kuis




IV. Langkah – langkah Pembelajaran
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
PERTEMUAN KE – 4
I. Pendahuluan
 Membagi siswa menjadi beberapa kelompok

10’

II Kegiatan Inti
Eksplorasi:
Mendeskripsikan tentang jenis-jenis reaksi termokimia
Elaborasi
Melakukan percobaan penentuan ΔH reaksi dengan
kalorimeter sederhana
Konfirmasi:
Menyimpulkan hasil-hasil percobaan.

70’
Gemar
membaca


Kerja keras
III Penutup
 Mengumpulkan laporan hasil percobaan

10’

PERTEMUAN KE – 5
I. Pendahuluan
 Diskusi data hasil percobaan

20’

II Kegiatan Inti
Eksplorasi:
Mendiskripsikan tentang jenis-jenis reaksi termokimia
Elaborasi
Melakukan percobaan penentuan ΔH reaksi dengan
kalorimeter sederhana
Konfirmasi:
Menyimpulkan hasil-hasil percobaan.
 Menghitung perubahan entalpi berdasarkan percobaan

60’
Gemar
membaca


Kerja keras
III Penutup
 Menyimpulkan percobaan

10’

PERTEMUAN KE – 6
I. Pendahuluan
 Mengingat kembali macam-macam perubahan entalpi

20’

II Kegiatan Inti
Eksplorasi:
Mendeskripsikan tentang jenis-jenis reaksi termokimia
Elaborasi
 Menghitung perubahan entalpi berdasarkan hukum Hess
Konfirmasi:
Menyelesaikan soal bersama-sama

60’

Gemar
membaca

Mandiri
III Penutup
 Penugasan terstruktur : Menyelesaikan soal perhitungan
perubahan entalpi berdasarkan hukum Hess

10’

PERTEMUAN KE –7
I. Pendahuluan
 Mengingat kembali macam-macam perubahan entalpi

15’

No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
II Kegiatan Inti
Eksplorasi:
Mendeskripsikan tentang jenis-jenis reaksi termokimia
Elaborasi
 Menghitung perubahan entalpi berdasarkan hukum Hess
dan ∆Hf
Konfirmasi:
Menyelesaikan soal bersama-sama

65’

Gemar
membaca


Mandiri

Kerja keras

III Penutup
 Penugasan terstruktur : Menyelesaikan soal perhitungan
perubahan entalpi berdasarkan data ΔH
f
o


10’

PERTEMUAN KE – 8
I. Pendahuluan
 Mengingat kembali macam-macam perubahan entalpi

10’

II Kegiatan Inti
Eksplorasi:
Mendeskripsikan tentang energi ikatan termokimia
Elaborasi
 Menghitung perubahan entalpi berdasarkan energi ikatan
Konfirmasi:
Menyelesaikan soal bersama-sama

70’

Gemar
membaca

Mandiri

Kerja keras
III Penutup
 Penugasan terstruktur : Menyelesaikan soal perhitungan
perubahan entalpi berdasarkan energi ikatan

10’

V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD
d. Buku paket kimia 2, Seribu Pena Kimia SMA untuk kelas XI
e. LKS. Alat dan bahan praktikum
VI. Penilaian
Teknik Penilaian : Kuis, Tes, Perbuatan
Bentuk Instrumen : tertulis, cheklist
A. Alat Penilaian tertulis :
1. Tuliskan persamaan reaksi termokimia dari :
a. AH
f
o
Na
2
CO
3(s)
= -1130 kJ/mol
b. AH
d
o
C
2
H
5
OH
(l)
= +278 kJ/mol
c. AH
c
o
C
2
H
2(g)
= -1298 kJ/mol
2. Di dalam kalorimeter tembaga, 4 gram belerang dibakar menjadi SO
2
.
Massa kalorimeter 1,2 kg dan massa air di dalamnya 1,5 kg, suhu
mula-mula 25
o
C dan suhu akhir 33,24
o
C. Jika kalor jenis tembaga 0,4
J/g.K, dan kalor jenis air 4,2 j/g.K; Hitung AH
f
o
belerang dioksida ?
3. Diketahui beberapa persamaan reaksi termokimia:
2 C
(s)
+ 3 H
2(g)
→ C
2
H
6(g)
; AH = -85 kJ
C
(s)
+ O
2(g)
→ CO
2(g)
; AH = -394 kJ
H
2(g)
+ O
2(g)
→ H
2
O
(g)
; AH = -242 kJ
Melalui hukum Hess, tentukan AH untuk reaksi : C
2
H
6(g)
+ O
2(g)
→ CO
2(g)
; +
H
2
O
(g)
; AH = ...
4. Diketahui : AH
f
o
H
2
O
(l)
= -285,5 kJ/mol, AH
f
o
CO
2(g)
= -393,5 kJ/mol,
AH
f
o
C
3
H
8(g)
=-103 kJ/mol; Hitung :

a. AH
c
o
C
3
H
8(g)
b. kalor yang dilepas pada pembakaran sempurna 10 g C
3
H
8
(A
r
C=
12; H= 1)
5. Jika diketahui: E(H–H)= 436 kJ/mol, E(Br–Br) = 192 kJ/mol, E(H–
Br)=366 kJ/mol; hitung AH reaksi: ½ H
2(g)
+ ½ Br
2(l)
→ HBr
(g)



Kunci Jawaban :
1. a. 2Na(s) + C(s) + 1½ O
2
(g) → Na
2
CO
3
(s); AH = -1130 kJ/mol
b. C
2
H
5
OH(l) → 2 C (s) + 3 H
2
(g) + ½ O
2
(g) ; AH = +278 kJ/mol
c. C
2
H
2
(g) + 2 ½ O
2
(g) → 2 CO
2
(g) + H
2
O(g); AH = -1298 kJ/mol
2. q = [(m.c.
kal
) + (m.c.
air
)].At
= [1200 . 0,4 + 1500 . 4,2] . 8,24 J
= [480 + 630] . 8,24 J
= 9.146,4 J
= 9,1464 kJ
∑mol belerang yang dibakar =
32
4
mol =
8
1
mol
S(s) + O
2
(g) → SO
2
(g); AH
f
= 8 x 9,1464 kJ = 73,1712 kJ

3. (1). C
2
H
6(g)
→ 2 C
(s)
+ 3 H
2(g)
; AH = + 85 kJ
(2). 2C
(s)
+ 2O
2(g)
→ 2 CO
2(g)
; AH = -788 kJ
(3). 3H
2(g)
+ 1½ O
2(g)
→ 3 H
2
O
(g)
; AH = -726 kJ
(4). C
2
H
6(g)
+ 3½O
2(g)
→ 2CO
2(g)
; + 3H
2
O
(g)
; AH = - 1425 kJ

4. C
3
H
8(g)
+ 5O
2(g)
→ 3CO
2(g)
; + 4H
2
O
(g)

AH = (3 . -393,5 kJ + 4 . -285,5 kJ)
= 2219,5 kJ
5. ½ H
2(g)
+ ½ Br
2(l)
→ HBr
(g)

AH = [½. E(H-H) + ½.E(Br-Br)] – E(H –Br)
= ½ . 436 kJ + ½ .192 kJ – 366 kJ
= 218 kJ + 96 kJ - 366 kJ
= - 52 kJ

Norma Penilaian :
Setiap butir soal diberi skor maksimum 10
~ Nilai = 00 1 x
50
Skor Perolehan


B. Performans (sikap dan kinerja)
Bentuk instrumen :
No. Aspek keterampilan yang diamati
Skor yang dicapai
5 4 3 2 1
1. Pemilihan alat yang digunakan
2. Cara mengambil zat-zat pereaksi
3. Cara mereaksikan zat-zat pereaksi
4. Cara mengukur/mengamati perubahan suhu
5. Cara membereskan alat/bahan setelah percobaan

Norma penilaian performans :
Setiap butir keterampilan yang dipersyaratkan diberi skor dengan rentang 1
s.d. 5, jika :
- siswa dapat melakukan dengan benar diberi skor 5
- siswa melakukan mendekati benar diberi skor 4
- siswa melakukan cukup benar diberi skor 3
- siswa melakukan kurang benar diberi skor 2
- siswa melakukan tidak benar diberi skor 1
Nilai =
25
lehanskor jumlahpero
x 100
C. Laporan tertulis



Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007






RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 1
Alokasi waktu : 2 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia dan faktor – faktor yang
mempengaruhinya serta penerapannya dalam
kehidupan sehari – hari dan industri.
Kompetensi Dasar : 3.1. Mendeskripsikan pengertian laju reaksi
dengan melakukan percobaan tentang faktor –
faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

Indikator :
o Menghitung konsentrasi larutan ( Molaritas)
o Menjelaskan pengertian laju reaksi
o Menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi laju reaksi melalui
percobaan

I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran diharapkan siswa dapat:
o Menghitung konsentrasi larutan ( Molaritas)
o Menjelaskan pengertian laju reaksi
o Menganalisis faktor – faktor yang mempenngaruhi laju reaksi

II. Materi Pokok
1. Kemolaran
Kemolaran menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan.
M= molaritas
n = mol zat terlarut
V = volume larutan ( L )

M= molaritas
µ = massa jenis
% =kadar larutan
Mr = massa molekul

2. Ungkapan Laju Reaksi (v)
Laju menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses
berlangsung. Laju juga menyatakan besarnya perubahan yang terjadi dalam
satu satua waktu. Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau
tahun.
Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring
dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat peraksi semakin
sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi dinyatakan sebagai
laju berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk.
Untuk sistem homogen, laju reaksi umum dinyatakan sebagai laju
penguragan konsentrasi molar pereaksi atau laju pertambahan konsentrasi
molar produk untuk satu satuan waktu, sebagai berikut:

Jika diketahui satuan dari konsentrasi molar adalah mol/L. Maka satuan dari
laju reaksi adalah mol/L.det atau M/det.

3. Persamaan Laju Reaksi dan Penentuan Orde Reaksi
a. Bentuk persamaan laju reaksi
Untuk reaksi :
mA + nB  pC + qD
persamaan laju reaksi dinyatakan sebagai berikut :
dengan, v = laju reaksi
k = konstanta reaksi
x = orde (tingkat atau pangkat) reaksi
terhadap pereaksi A
y = orde (tingkat atau pangkat) reaksi
terhadap pereaksi B
[A] = konsentrasi awal A
[B] = konsentrasi awal B
Konstanta reaksi (k) adalah suatu tetapan yang harganya bergantung pada
jenis pereaksi, suhu, dan katalis. Setiap reaksi mempunyai harga k
tertentu pada suhu tertentu. Harga k akan berubah jika suhu berubah.
Reaksi yang berlangsung cepat mempunyai harga k yang besar,
sedangkan reaksi yang berlangsung lambat mempunyai harga k
yang kecil. Kenaikan suhu dan penggunaan katalis umumnya
mempercepat harga k. Pangkat konsentrasi pereaksi pesamaan laju
disebut orde atau tingkat reaksi. Orde reaksi ditentukan melalui
percobaan, tidak ada kaitannya dengan koefisien reaksi.
Reaksi mA + nB  pC + qD berorde x terhadap A dan berorde y
terhadap B. orde reaksi keseluruhan adalah x + y.
b. Makna orde reaksi
Orde reaksi menyatakan pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi.
1) Orde Nol
Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya
apabila perubahan konsentrasi pereaksi tersebut tidak
mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam jumlah
tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju
reaksi.
2) Orde Satu
Suatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu
pereaksinya jika laju
reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika
konsentrasi pereaksi itu
dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31
atau 3 kali lebih besar.
3) Orde Dua
Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi
jika laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu.
Apabila konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan
menjadi 32 atau 9 kali lebih besar.
c. Menentukan Persamaan Laju
Persamaan laju tidak dapat diturunkan dari stoikiometri reaksi tetapi
ditentukanmelalui percobaan. Salah satu cara menentukan persamaan
laju adalah metode laju awal. Menurut cara ini, laju diukur pada
awal reaksi dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Menurut cara ini,
laju diukur pada awal reaksi dengan konsentrasi yang berbeda-beda.

4. Faktor-Faktor yangMempengaruhi Laju Reaksi
Dengan menggunakan teori tumbukan dapat dijelaskan faktor-faktor
yang dapat
mempercepat laju reaksi.
d. Luas Permukaan Sentuh
Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam
laju reaksi, sebab semakin besar luas permukaan bidang sentuh antar
partikel, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga
menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin
kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil tumbukan
yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.
Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut berpengaruh, yaitu
semakin halus kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang
dibutuhkan untuk bereaksi; sedangkan semakin kasar kepingan itu,
maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi.
e. Konsentrasi Pereaksi
Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi,
sebab semakin besarkonsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi
semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat.
Begitu juga, apabila semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin
kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun
semakin kecil.
f. Suhu
Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi. Apabila
suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka
menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang
terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar.
Sebaliknya, apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tak aktif,
sehingga laju reaksi semakin kecil.
g. Tekanan
Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan
dari pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan
dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan
demikian dapat memperbesar laju reaksi.
h. Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu
tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi
ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat
atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan
yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur
pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi
energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

III. Model, metode, dan pendekatan Pembelajaran
1. model Pembelajaran : Kontruktivisme dan Inkuiri
2. metode Pembelajaran : Eksperimen, ceramah
3. Pendekatan : ketrampilan proses, CTL
IV. Langkah-langkah
Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
Pendahuluan



Persiapan




Pelaksanaan

















Penutup
1. Sebelum mulai proses pembelajaran, guru
bertannya tentang: (a) Pengertian molaritas
larutan , (b) definisi laju reaksi, (c) Perbedaan
larutan pekat dengan larutan encer

2. Siswa dibagi menjadi 8 kelompok, setiap
kelompok diberi foto kopi Kegiatan Belajar
Alternatif 3.1. tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi .Dengan dipandu
guru, setiap kelompok memeriksa alat dan
bahan percobaan, melakukan percobaan
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi..
3. Guru menegaskan kepada siswa untuk behati-
hati dalam melakukan percobaan terutama
yang berhubungan dengan zat-zat yang
berbahaya dan alat-alat yang mudah pecah.
5. Dengan bimbingan guru, siswa melakukan
percobaan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi.
6. Siswa mengisi dan mengolah data
pengamatan, dilanjutakan dengan
mendiskusikan kegiatan belajar alternatif
3.1. Tentang laju reaksi
7. Setelah percobaan dan diskusi kelompk
selesai, setiap kelompok mempresentasikan
lalu menyimpulkan hasil percobaan dan
diskusi.
1 Guru memberi penguatan mengenai
pengertian laju reaksi
2 Sebelum menutup guru memberi tugas
individu berupa pembutan laporan.
5’



5’




75’










5’

Rasa ingin
tahu
Gemar
membaca

Komunikatif




Kerja keras









Mandiri


V. Sumber dan Alat Pembelajaran:
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD


VI. Penilaian
1. Aspek yang dinilai :
Kognitif : menyebutkan faktor-faktor yang memepengaruhi laju
reaksi
Psikomotor : melakukan percobaan yang benar, melakukan
pengamatan dengan teliti.
Afektif : berpartisipasi aktif dalam diskusi, berpartisipasi aktif
dalam melakukan percobaan, melaksanakan percobaan
sesui prosedur, disipiln dan teliti, jujur dan terbuka,
mengumpulkan laporan hasil percobaan.
2. Jenis tagihan : Ulangan harian; ulangan blok, dan laporan hasil
pratikum
3. Bentuk Instrumen : pilihan ganda, uraian obyektif, dan uraian non obyektif

• Jenis Penilaian Kognitif (post tes)
i. Apakah yang dimaksud dengan laju reaksi ?
ii. Bagaimana laju reaksi berlangsung ?
iii. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan terhadap laju reaksi
?
iv. Bagaimana pengaruh kenaikan suhu larutan terhadap laju
reaksi ?
v. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi.

VII. Tindak Lanjut
- Siswa memiliki nilai kognitif > KKM diberikan pengayaan
- Siswa memiliki nilai kognitif < KKM diberikan remediasi



Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007







































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan :
Alokasi waktu : 10 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia dan faktor yang mempengaruhinya
serta penerapannya dalam kehidupan sehari
– hari dan industri.
Kompetensi Dasar : 3.2. Memahami teori tumbukan
untukmenjelaskan faktor – faktor penentu
laju dan arah reaksi serta terapannya dalam
kehidupan sehari - hari.
Indikator :
o Menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas permukaan dan suhu terhadap
laju reaksi berdasarkan teori tumbukan
o Membedakan diagram energi aktifasi dari reaksi dengan menggunakan
katalis dan tidak menggunakan katalis.
o Menjelaskan pengertian peranan katalis dan energi aktifasi dengan
menggunakan diagram.
o Menentukan orde reaksi berdasarkan data percobaan
o Menentukan persamaan laju reaksi
o Menentukan harga tetapan laju reaksi (k)
o Menjelaskan peranan katalis dalam makhluk hidup dan industri

I. Tujuan Pembelajaran
o Dapat menjelaskan pengaruh konsentrasi, luas permukaan dan suhu
terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan
o Dapat membedakan diagram energi aktifasi dari reaksi dengan
menggunakan katalis dan tidak menggunakan katalis.
o Dapat menjelaskan pengertian peranan katalis dan energi aktifasi
dengan menggunakan diagram.
o Dapat menentukan orde reaksi berdasarkan data percobaan
o Dapat menentukan persamaan laju reaksi
o Dapat menentukan harga tetapan laju reaksi (k)
o Dapat menjelaskan peranan katalis dalam makhluk hidup dan industri
II. Materi Pembelajaran
o Teori tumbukan
o Pengaruh katalisator
III. Metode Pembelajaran
o Diskusi kelompok
IV. Langkah – langkah Pembelajaran
Pertemuan
ke-
Kegiatan Waktu Pendidikan
karakter
1 Pendahuluan :
- Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran yang harus di capai dan
menyuruh siswa di kelas untuk
mengingat dan menyebutkan faktor-
faktor yang mempengaruhi laju reaksi
yang telah dipelajari pada pertemuan
sebelumnya.
- Guru dapat bertanya kepada siswa,
―Bagaimana pengaruh luas bidang
sentuh terhadap laju reaksi― atau ―apa
contoh dari pengaruh suhu terhadap laju
reaksi?‖
5’
Kegiatan Inti:
Eksplorasi
- Siswa diberikan pertanyaan
pendahuluan tentang sejauh mana
menguasai materi Teori tumbukan
- Guru menjelaskan pengaruh
konsentrasi, luas permukaan bidang
sentuh, dan suhu terhadap laju reaksi
berdasarkan teori tumbukan dengan
bantuan animasi.
- Guru menjelaskan pengertian
katalisator dan pengaruhnya terhadap
laju reaksi berdasarkan diagram.
Elaborasi
- Siswa mencatat materi yang
dijelaskan oleh guru
- Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya
Konfirmasi
- Guru memberikan pertanyaan kepada
siswa, ―bagaimana cara mempercepat
laju reaksi?‖
- Guru memberikan latihan soal kepada
siswa
80’

Gemar
membaca












Komunikatif





Kerja keras

Penutup :
 Guru memberikan soal tertulis untuk
diselesaikan dirumah.
 Guru bersama siswa membuat simpulan
tentang teori tumbukan untuk
menjelaskan faktor-faktor yang
memengaruhi laju reaksi dan pengaruh
katalisator terhadap laju reaksi.
5’
Mandiri
2 s/d 4 Kegiatan awal :
o Pre test pengaruh konsentrasi terhadap
laju reaksi
20’ Rasa ingin tahu
Kegiatan Inti:
Eksplorasi :
o Memotivasi siswa dengan
pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan dengan topik yang
dipelajari.
o Menganalisis data hasil percobaan.
o Siswa menjelaskan pengertian
peranan katalis dan energi aktifasi
dengan menggunakan diagram.
80’












Gemar
membaca


Kerja keras


o Mendeskripsikan pengertian orde
reaksi
Elaborasi :
- Mengarahkan siswa dalam menentukan
orde reaksi dan persamaan laju reaksi
secara berkelompok
- Memfasilitasi siswa dalam pembelajaran
kooperatif untuk menyampaikan hasil
diskusi
Konfirmasi :
- Memberikan beberapa pertanyaan yang
sesuai dengan hasil diskusi.
- Memberikan komentar terhadap jawaban
dan memberikan penjelasan jika terdapat
miskonsepsi.




80’







80’

Kreatif



Mandiri








komunikatif
Kegiatan Akhir :
Pemberian tugas mengenai persamaan laju
reaksi dan orde reaksi.
10’
5 Kegiatan awal :
- Guru memberi salam dan mengabsen
kehadiran siswa.
- Guru menarik perhatian siswa dengan
memberi contoh produk hasil industri
kimia seperti pupuk, asam sulfat, dan
margarin.
- Guru mengingatkan kembali tentang
pengertian katalis dan contonhnya.
- Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan konsep-konsep
yang akan dipelajari.



Rasa ingin tahu








Kegiatan Inti:
Eksplorasi
1. Siswa diberikan pertanyaan tentang
proses industri pembuatan produk
industri yang berkaitan dengan
pemberian katalis.
2. Guru menjelaskan peranan katalis
dalam industri dengan media power
point
Elaborasi
1 Guru membagi kelompok yang
heterogen dengan anggota 4 -5 anak.
2 Guru membagikan bahan ajar dan
mempelajari bab tentang peranan
katalis dalam industri kimia.

Gemar
membaca







Komunikatif




3 Guru memberi 4 masalah pada setiap
kelompok untuk dibagikan pada setiap
anak , satu anak mendapat satu
masalah yaitu
- Bagaimana Proses pembuatan asam
sulfat melalui proses kontak dan
sebutkan katalis apa yang
digunakan ?
- Bagaimana Proses pembuatan
amonia pada proses Haber-Bosch
dan sebutkan katalis apa yang
digunakan ?
- Bagaimana Proses pembuatan asam
nitrat dan katalis sebutkan katalis
apa yang digunakan ?
- Bagaimana Proses hidrogenasi
untuk pembuatan margarin dan
sebutkan katalis apa yang
digunakan ?
4 Guru memberikan kesempatan pada
masing-masing kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi
Konfirmasi
1 Mendiskusikan hasil diskusi masing-
masing kelompok
2 Penguatan terhadap kelompok yang
memberikan jawaban tepat, dan
kelompok yang memberikan sanggahan
dengan tepat.
3 Guru meluruskan apabila terjadi
miskonsepsi
Kerja keras






















Mandiri
Kegiatan Akhir :
- Guru bersama siswa menyimpulkan
hasil pembelajaran.
- Guru memberi tugas individu untuk
dikerjakan di rumah.
- Mengakhiri pelajaran dengan salam.


V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

VI. Penilaian
o Jenis Tagihan : tugas individu
o Performans ( kinerja dan sikap )


Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan :
Alokasi waktu : 4 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia dan faktor yang mempengaruhinya
serta penerapannya dalam kehidupan sehari
– hari dan industri.
Kompetensi Dasar : 3.3.Menjelaskan kesetimbangan dan faktor –
faktor yang mempengaruhi pergeseran
arah kesetimbangan dengan melakukan
percobaan.
Indikator :
o Menjelaskan kesetimbangan dinamis
o Menjelaskan kesetimbangan homogen dan heterogen
o Menentukan rumusan tetapan kesetimbangan
o Meramalkan arah pergerseran kesetimbangan dengan menggunakan
asas Le Chatelier
o Menganalisis pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan, dan
volume pada pergeseran kesetimbangan melalui percobaan

I. Tujuan Pembelajaran
o Dapat menjelaskan kesetimbangan dinamis
o Dapat menjelaskan kesetimbangan homogen dan heterogen
o Dapat menentukan rumusan tetapan kesetimbangan
o Dapat meramalkan arah pergerseran kesetimbangan dengan
menggunakan asas Le Chatelier
o Dapat menganalisis pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan,
dan volume pada pergeseran kesetimbangan melalui percobaan
II. Materi Pembelajaran
o Kesetimbangan dinamis
o Faktor – faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan
1. Konsep Kesetimbangan Dinamis
a. Pengertian Kesetimbangan Dinamis
Kesetimbangan dinamis adalah keadaan di mana reaksi berlangsung
terus-menerus dan kecepatan membentuk zat produk sama dengan
kecepatan menguraikan zat pereaksi.
b. Ciri-Ciri Kesetimbangan Dinamis
1. Reaksi berlangsung terus-menerus dengan arah yang berlawanan.
2. Terjadi pada ruang tertutup, suhu, dan tekanan tetap.
3. Kecepatan reaksi ke arah produk (hasil reaksi) sama dengan
kecepatan reaksi kearah reaktan (zat-zat pereaksi).
4. Bersifat dinamis, artinya tidak terjadi perubahan makroskopis, yaitu
perubahan yang dapat dilihat, tetapi terjadi perubahan mikroskopis,
yaitu perubahan tingkat partikel (tidak dapat dilihat).
5. Setiap komponen tetap ada.
c. Reaksi Satu Arah (Irreversible) dan Reaksi Dua Arah (Reversible)
Reaksi irreversible berlangsung satu arah, artinya zat-zat hasil tidak
dapat saling bereaksi kembali menjadi zat pereaksi. Contoh :
NaOH
(aq)
+ HCl
(aq)
→ NaCl
(aq)
+ H
2
O
(l)

Reaksi reversible dapat berlangsung dua arah, artinya zat-zat hasil
reaksi dapat saling berinteraksi untuk membentuk zat pereaksi kembali.
Contoh :
N
2 (g)
+ 3H
2 (g)
→ 2NH
3 (g)

Sebaliknya, 2NH
3 (g)
→ N
2 (g)
+ 3H
2 (g)

Kedua reaksi dapat digabung menjadi :
N
2 (g)
+ 3H
2 (g)
2NH
3 (g)

2. Kesetimbangan Homogen dan Heterogen
Kesetimbangan homogen adalah kesetimbangan yang semua
komponennya satu fase. Kesetimbangan homogen dapat berupa sistem
gas-gas atau cair-cair. Contoh :
- Kesetimbangan sistem gas-gas :
2SO
(g)
+ O
(g)
2SO
(g)

- Kesetimbangan sistem cair-cair :
NH
4
OH
(aq)
NH
4
+
(aq)
+ OH


(aq)

Kesetimbangan heterogen adalah kesetimbangan yang terdiri dari dua fase
atau lebih. Kesetimbangan heterogen umumya melibatkan komponen
padat-gas atau cair-gas. Contoh :
- Kesetimbangan sistem padat-gas :
CaCO
3

(s)
CaO
(s)
+ CO
2 (g)
- Kesetimbangan sistem cair-gas :
Ag
2
CrO
4

(s)
2Ag
+
(aq)
+ CrO
4
2-

(aq)

3. Pergeseran Kesetimbangan
a. Azas Le Chatelier
― Jika pada sistem kesetimbangan diberikan gangguan dari luar,
maka sistem kesetimbangan tersebut akan bergeser untuk
menghilangkan atau mengurangi pengaruh gangguan tersebut dan
mungkin membentuk sistem kesetimbangan yang baru ―
Dengan kata lain ―Bila terhadap suatu kesetimbangan dilakukan
suatu tindakan (aksi), maka sistem itu akan mengadakan reaksi
yang cenderung mengurangi pengaruh aksi tersebut‖
Reaksi = - Aksi

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan reaksi
2. Suhu
- Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan, maka
kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan
kalor (ke arah reaksi endoterm).

- Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka
kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan
kalor (ke arah reaksi eksoterm).

Contoh :
2NO
2(g)
N
2
O
4(g)
Jika suhu dinaikkan maka:
Reaksi maju ( eksoterm)
2NO
2(g)
N
2
O
4(g)
ΔH = -58,8kJ

Jika suhu diturunkan maka :
Reaksi balik ( endoterm )
N
2
O
4(g)
2NO
2(g)
ΔH = + 58,8 kJ

3. Konsentrasi
- Jika konsentrasi pereaksi ditambah kedalam campuran yang
berada dalam kesetimbangan maka akan menggeser
kesetimbangan ke arah hasil reaksi.
- Jika konsentrasi pereaksi dikurangi kedalam campuran yang
berada dalam kesetimbangan maka akan menggeser
kesetimbangan ke arah pereaksi.
Contoh : 2SO
2(g)
+ O
2(g)
↔ 2SO
3(g)

- Bila pada sistem kesetimbangan ini ditambahkan gas SO
2
,
maka kesetimbangan akan bergeser ke arah 2SO
3(g)
(hasil
reaksi).
- Bila pada sistem kesetimbangan ini dikurangi gas O
2
, maka
kesetimbangan akan bergeser ke 2SO
2(g)
+ O
2(g)
(pereaksi)
4. Tekanan dan Volume
- Jika tekanan bertambah ( volume berkurang ) maka reaksi akan
bergeser ke arah jumlah mol yang lebih kecil (koefisiennya
terkecil).
- Jika tekanan berkurang ( volume bertambah ) maka reaksi akan
bergeser ke arah jumlah mol yang lebih besar (koefisiennya
terbesar).
Contoh :
N
2
(g)+3H
2
(g) ↔ 2NH
3
(g)
Koefisien reaksi di kanan = 2
Koefisien reaksi di kiri = 4
Dari reaksi di atas menunjukkan bahwa bila pada sistem
kesetimbangan tekanan diperbesar (=volume diperkecil), maka
kesetimbangan akan bergeser ke arah 2NH
3
(g) karena
koefisiennya lebih kecil daripada N
2
(g)+3H
2
(g). Begitu juga
sebaliknya jika tekanan diperkecil (=volume diperbesar), maka
kesetimbangan akan bergeser kea rah N
2
(g)+3H
2
(g).

III. Metode Pembelajaran
o Diskusi kelompok
o Tanya jawab
o Eksperimen
IV. Langkah – langkah Pembelajaran
1. Pertemuan I
A. Pendahuluan
No. Kegiatan yang dilakukan guru Waktu Pendidikan
karakter
1 Memotivasi siswa dengan memperlihatkan berbagai
macam contoh peristiwa kesetimbangan yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari, Kemudian
bertanya kepada siswa mengapa ini bisa terjadi.
10
menit
Rasa
ingin tahu
2 Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran produk,
proses, psikomotor, keterampilan sosial, dan
karakter.


B. Inti
No.
Kegiatan yang dilakukan guru Waktu
Pendidikan
karakter
Eksplorasi
1 Siswa diberikan pertanyaan pendahuluan untuk
mengetahui sejauh mana menguasai materi
kesetimbangan.
20
menit
Gemar
membaca
Elaborasi
1 Guru menjelaskan tentang konsep kesetimbangan,
dan factor-faktor yang mempengaruhinya dengan
media power point.
5 menit

2 Siswa diberi pertanyaan untuk dikerjakan secara
individu.
20
menit
Mandiri
3 Membahas soal yang telah diberikan kepada siswa
dengan cara menyuruh siswa maju kedepan kelas
dan menuliskan jawabannya di papan tulis.
20
menit

4 Memberi kesempatan bagi siswa lain yang ingin
menanggapi atau menambahkan jawaban temannya
yang ada di depan.
10
menit

Konfirmasi
1 Guru melengkapi hasil diskusi dan menyampaikan
kesimpulan dari hasil diskusi.



C. Penutup
No. Kegiatan yang dilakukan guru
Waktu
Pendidikan
karakter
1 Menutup pelajaran dengan membimbing siswa
membuat rangkuman.
5 menit
Mandiri
2 Memberikan PR kepada masing-masing siswa
untuk mengerjakan soal tentang Laju reaksi.


2. Pertemuan II
A. Pendahuluan
No. Kegiatan yang dilakukan guru Waktu
Pendidikan
karakter
1 Melakukan flashback tentang materi yang dibahas
pada pertemuan sebelumnya.
10
menit

2 Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran produk,
proses, psikomotor, keterampilan sosial, dan
karakter.




B. Inti
No
.
Kegiatan yang dilakukan guru Waktu
Pendidika
n karakter
Eksplorasi
1 Menyuruh siswa untuk membuat hipotesis dari
percobaan yang akan dilakukan.

Gemar
membaca
Elaborasi
1 Mengorganisasi siswa dalam kelompok-kelompok
kooperatif. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa.
3
menit

2 Siswa melakukan percobaan tentang pengaruh
konsentrasi, volume, suhu, dan katalis terhadap
kesetimbangan dengan menggunakan alat dan bahan
serta prosedur yang telah tertulis di LKS.
5 menit
Kerja
keras
3 Siswa mendiskusikan data hasil percobaan untuk
mengerjakan soal-soal evaluasi.
5 menit
Mandiri
4 Setiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya di sepan kelas, dan kelompok lain
menanggapinya.


Konfirmasi

1 Guru melengkapi hasil diskusi dan menyampaikan
kesimpulan dari hasil diskusi.
40
menit


C. Penutup
No. Kegiatan yang dilakukan guru
Waktu
Pendidikan
karakter
1 Menutup pelajaran dengan membimbing siswa 6 menit
membuat kesimpulan dari percobaan dan diskusi
yang telah dilaksanakan.
2 Memberikan PR kepada masing-masing siswa
untuk menuliskan laporan tentang percobaan yang
telah dilakukan.
3 menit



V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD
o LKS
o Alat dan bahan percobaan
VI. Penilaian
o Jenis Tagihan : tugas individu
o Performans ( kinerja dan sikap )



Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan :
Alokasi waktu : 12 x 45 menit.( 2 JP = UH)
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia dan faktor yang mempengaruhinya
serta penerapannya dalam kehidupan sehari
– hari dan industri.
Kompetensi Dasar : 3.4.Menentukan hubungan kuantitatif antara
pereaksi dengan hasil reaksi dari suatu
reaksi kesetimbangan.
Indikator :
o Menafsirkan data percobaan mengenai konsentrasi pereaksi dan hasil
reaksi pada keadaan setimbang untuk menentukan derajat disosiasi dan
tetapan kesetimbangan
o Menghitung harga Kc berdasarkan konsentrasi zat dalam
kesetimbangan
o Menghitung harga Kp berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan
hasil reaksi pada keadaan setimbang.
o Menghitung harga Kc berdasarkan harga Kp atau sebaliknya


I. Tujuan Pembelajaran
o Dapat menafsirkan data percobaan mengenai konsentrasi pereaksi dan
hasil reaksi pada keadaan setimbang untuk menentukan derajat
disosiasi dan tetapan kesetimbangan
o Dapat menghitung harga Kc berdasarkan konsentrasi zat dalam
kesetimbangan
o Dapat menghitung harga Kp berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi
dan hasil reaksi pada keadaan setimbang.
o Dapat menghitung harga Kc berdasarkan harga Kp atau sebaliknya
II. Materi Pembelajaran
o Hubungan kuantitatif antara pereaksi dan hasil reaksi dari reaksi
kesetimbangan
Tetapan Kesetimbangan
Hukum Kesetimbangan Cato Guldberg dan Waage berbunyi: ― hasil kali
konsentrasi setimbang zat di ruas kanan dibagi dengan hasil kali
konsentrasi setimbang zat di ruas kiri, masing-masing dipangkatkan
dengan koefisien reaksinya, mempunyai harga tetap pada suhu tetap.‖
Tetapan kesetimbangan menyatakan perbandingan komposisi pereaksi dan
hasil reaksi dalam keadaan setimbang pada suhu tertentu. Persamaan
tetapan kesetimbangan sesuai dengan stoikiometri reaksi
a. Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi (K
c
)
Untuk reaksi kesetimbangan:
mA + nB pC + qD
maka persamaan tetapan kesetimbangan konsentrasinya adalah :

=
[]

[]

[]

[]

Kc adalah konstanta atau tetapan kesetimbangan konsentrasi yang
harganya tetap selama suhu tetap.
Catatan : Zat-zat yang terdapat dalam kesetimbangan dapat berbentuk
padat (s), larutan (aq), gas (g), dan cair (l). Tetapi yang dimasukkan
dalam tetapan kesetimbangan konsentrasi hanya zat-zat yang berbentuk
gas (g) dan larutan (aq) saja. Hal ini disebabkan konsentrasi zat padat
adalah tetap dan nilainya telah terhitung dalam harga Kc.
b. Tetapan Kesetimbangan Tekanan Gas (K
p
)
Tetapan kesetimbangan berdasarkan tekanan gas dinyatakan dengan
notasi Kp, yaitu hasil kali tekanan parsial gas-gas hasil reaksi dibagi
dengan hasil kali tekanan parsial gas-gas pereaksi, masing-masing
tekanan parsial gas dipangkatkan koefisiennya menurut persamaan
reaksi. Menurut persamaan reaksi:
mA
(g)
+ nB
(g)
pC
(g)
+ qD
(g)

maka persamaan tetapan kesetimbangan tekanannya adalah :

=
[

]

[

]

[

]

[

]

c. Tetapan Kesetimbangan Heterogen
Untuk reaksi-reaksi heterogen, zat-zat yang konsentrasinya tetap (zat
padat atau zat cair murni) tidak dipergunakan (diabaikan) dalam
rumusan harga K.
d. Hubungan antara K
c
dan K
p

Berdasarkan hukum tentang gas ideal PV = nRT dapat dicari hubungan
antara harga K
p
dan K
c
. Berdasarkan persamaan gas ideal, bahwa
P=n/V(RT), untuk gas besaran n/V merupakan konsentrasi gas dalam
ruangan sehingga dapat disubstitusikan menjadi :
P
A
= [A] RT; P
C
= [C] RT;
P
B
= [B] RT; P
D
= [D] RT;
Maka,

=
[]

()

[]

()

[]

()

[]

()

=
[]

[]

()
+
[]

[]

()
+

=

()
+−(+)

+ −+ = ∆, maka :

=

()



III. Metode Pembelajaran
o Diskusi kelompok
o Tanya jawab
IV. Langkah – langkah Pembelajaran
Pertemuan 1 dan 2 :
No. Kegiatan belajar mengajar
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
1.











Pertemuan Pertama :
Kegiatan Awal (Pendahuluan)
a. Guru membuka pelajaran dan menjelaskan tujuan
pembelajaran hari ini.
b. Guru mengingatkan kembali mengenai konsep
kesetimbangan
Kegiatan inti
a. Guru menjelaskan menjelaskan tetapan
kesetimbangan berdasarkan konsentrasi (Kc) dan
derajat disosiasi
b. Guru menjelaskan tetapan kesetimbangan
berdasarkan tekanan parsial (Kp) dan hubungan

5’




20’












Gemar
membaca



Pertemuan 3 ,4 dan 5 :

No. Kegiatan Alokasi
waktu
Pendidikan
karakter
Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang
ada di lingkungan yang berkaitan dengan
kesetimbangan.
- Guru mengingatkan kembali tentang materi
sebelumnya dan hubungannya dengan materi
selanjutnya.
Motivasi : banyak contoh kesetimbangan di
kehidupan sehari – hari..

Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa bagaimana
cara menentukan Kp dan Kc.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan
bertanya kepada siswa salahsatu contoh benda
yang bisa diukur harga tetapan kesetimbangan
nya.
o Guru meminta salah satu siswa untuk
menjelaskan contoh tersebut.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan
menggunakan power point atau dengan


Rasa ingin
tahu















antara Kc dan Kp
c. Guru memberikan contoh soal kepada siswa
d. Guru memberika latihan soal kepada siswa
Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa merefleksikan proses pembelajaran
b. Guru dan siswa membuat kesimpulan tentang materi
pokok yang telah dipelajari.
c. Guru memberikan tugas rumah


5’


Mandiri


Komunikati
f
menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk menentukan Kp dan
Kc.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam
berdiskusi dan mengusahakan menjawab
secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk
memaparkan jawaban kelompoknya secara
random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari
kelompok lain untuk menanggapi jawaban
yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa
mengenai harga Kp dan Kc.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan
dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun
hadiah terhadap jawaban siswa yang benar.

Komunikatif/
bersahabat







Menghargai
prestasi
Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
Pemberian tugas : mengerjakan soal soal latihan LKS.


V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

VI. Penilaian
o Jenis Tagihan : tugas individu
Ulangan Harian

Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007








RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan :
Alokasi waktu : 4 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standart Kompetensi : 3. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan
kimia dan faktor yang mempengaruhinya
serta penerapannya dalam kehidupan sehari
– hari dan industri.
Kompetensi Dasar : 3.5. Menjelaskan penerapan prinsip
kesetimbangan dalam kehidupan sehari –
hari dan industri
Indikator :
o Menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan – bahan
kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan

I. Tujuan Pembelajaran
o Dapat Menjelaskan kondisi optimum untuk memproduksi bahan –
bahan kimia di industri yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan

II. Materi Pembelajaran
o Proses Haber Bosch dan proses kontak
Penerapan sistem kesetimbangan reaksi antara lain dilakukan dalam
industri kimia. Agar industri tersebut menguntungkan secara ekonomi, maka
diterapkan prinsip tertentu yaitu menghasilkan produk sebanyakbanyaknya
dengan waktu sesingkat mungkin. Oleh karena itu, harus dihindari terjadinya
reaksi bolak-balik, karena akan menyebabkan produkkembali lagi menjadi bahan
baku, sehingga pabrik kimia mengalami kerugian besar. Dengan demikian, faktor-
faktor yang memengaruhi pergeseran kesetimbangan harus diperhatikan, agar
pergeseran kesetimbangan selalu menuju ke arah terbentuknya produk.
1. Pembuatan amonia (NH
3
) menurut Proses Haber – Bosch
Proses pembuatan amonia ditemukan oleh Karl Bosch dan Fritz Haber
dibuat melalui reaksi sebagai berikut.
N
2
(g) + 3 H
2
(g) 2 NH
3
(g) H = -92 kJ
Gas N
2
pada reaksi di atas diperoleh dari udara, sedangkan gas H
2
diperoleh dari
hasil reaksi gas alam dan air. Untuk menghindari reaksi bolak-balik,
kesetimbangan reaksi harus diusahakan bergeser ke arah terbentuknya NH
3
.
Sesuai Asas Le Chatelier, maka harus dilakukan usaha-usaha berikut:
1. Memperbesar tekanan
2. Menambah suhu
3. Menambahkan katalis
Secara sederhana proses pembentukan ammonia adalah sebagai berikut :





Gambar 1. Skema pembentukan amonia NH
3

2. Pembuatan Asam Sulfat (H
2
SO
4
)
Asam sulfat merupakan bahan kimia yang banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya, sebagai bahan campuran dalam deterjen, cat, zat
warna, fiber, plastik, industri logam, dan sebagainya. Dalam industri, pembuatan
asam sulfat dikenal dengan proses kontak. Proses ini melalui beberapa tahap
sebagai berikut:
1. Belerang dibakar dengan oksigen menghasilkan belerang dioksida.
Reaksi yang terjadi yaitu:
S(s) + O
2
(g) → SO
2
(g)
2. Belerang dioksida (SO
2
) direaksikan dengan oksigen membentuk gas
belerang trioksida. Reaksi yang terjadi yaitu:
2 SO
2
(g) + O
2
(g) 2 SO
3
(g)
3. Gas SO
3
direaksikan dengan asam sulfat pekat menghasilkan asam
disulfat atau asam pirosulfat (oleum). Perhatikan reaksi di bawah ini.
H
2
SO
4
(l) + SO
3
(g) → H
2
S
2
O
7
(l)
4. Asam pirosulfat (H
2
S
2
O
7
) dilarutkan dalam air menghasilkan H
2
SO
4
.
Persamaan reaksi yang terjadi:
H
2
S
2
O
7
(l) + H
2
O(l) → 2 H
2
SO
4
(l)
Agar lebih mudah memahami pembuatan asam sulfat dengan proses
tersebut, perhatikan skema berikut.

Gambar 2. Skema pembuatan asam sulfat (H
2
SO
4
)

III. Metode Pembelajaran
o Diskusi kelompok
o Tanya jawab

IV. Langkah – langkah Pembelajaran
No Strategi Pembelajaran Alokasi
waktu
Pendidikan
karakter
1. Kegiatan Awal 5 menit
- Guru membuka pelajaran
- Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
- Guru memotivasi siswa
- Guru memberi pertanyaan awal tentang materi
yang akan dibahas
2. Kegiatan Inti
Eksplorasi
- Siswa mendeskripsikan sekilas tentang materi
yang akan dipelajari
- Siswa diberikan pertanyaan pendahuluan
tentang sejauh mana menguasai materi yang
akan dipelajari
- Guru menjelaskan tentang Pembuatan Amonia
dengan Proses Haber Bosch dan menjelaskan
dengan media power point.
Elaborasi
- Siswa mencatat materi yang dijelaskan oleh
guru
- Siswa berdiskusi dengan teman sebangku
tentang materi yang sedang dipelajari.
- Salah satu siswa memaparkan hasil diskusi
tersebut di depan kelas.
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya.
Konfirmasi
- Guru membagikan latihan soal kepada siswa
dan siswa mengerjakan latihan soal secara
individu.
- Guru dan siswa membahas latihan soal secara
bersama – sama.

5 menit





10 menit






5 menit
Gemar
membaca










Komunikatif




Mandiri




Kerja keras
3 . Kegiatan akhir
- Siswa dengan bimbingan guru menarik
kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
- Guru memberikan tugas kepada siswa berupa
soal – soal mengenai Pembuatan Amonia
dengan Proses Haber Bosch
- Guru mengaitkan tentang materi yang akan
dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
- Guru menutup pelajaran.
5 menit



V. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

VI. Penilaian
o Jenis Tagihan : tugas individu
Ulangan Harian

Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas / Program / Semester : XI / IPA / 1
Pertemuan : 1, 2, 3 dan 4
Alokasi waktu : 8 x 45 menit.
Tahun ajaran : 2011/2012

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapanya.
Kompetensi Dasar : 4.1 Mendeskripsikan teori-teori asam basa dengan
menentukan sifat larutan dan menghitung pH larutan

A. Indikator :
- Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Arrhenius
- Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Bronsted dan Lowry
- Menuliskan persamaan reaksi asam dan basa menurut Bronsted dan
Lowry dan menunjukkan pasangan asam dan basa konjugasinya
- Menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Lewis
- Mengidentifikasi sifat larutan asam dan basa dengan berbagai indikator
- Memperkirakan pH suatu larutan elektrolit yang tidak dikenal
berdasarkan hasil pengamatan trayek perubahan warna berbagai
indikator asam dan basa.
- Menghubungkan kekuatan asam dan basa dengan sifat elektrolit.
- Menghitung pH larutan asam basa dari data konsentrasi dan sebaliknya.
- Menghitung pH campuran asam dan basa.
- Menghitung pH campuran basa dan basa.
- Menghitung pH asam dan basa.
- Menuliskan reaksi asam dan basa.
- Menyebut manfaat reaksi asam basa di bidang kesehatan.
- Menyebut manfaat reaksi asam basa di bidang pertanian.
-
B. Tujuan Pembelajaran
- Siswa mampu menjelaskan pengertian asam dan basa menurut
Arrhenius
- Siswa mampu menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Bronsted
dan Lowry
- Siswa mampu menuliskan persamaan reaksi asam dan basa menurut
Bronsted dan Lowry dan menunjukkan pasangan asam dan basa
konjugasinya
- Siswa mampu menjelaskan pengertian asam dan basa menurut Lewis
- Siswa mampu mengidentifikasi sifat larutan asam dan basa dengan
berbagai indikator
- Siswa mampu memperkirakan pH suatu larutan elektrolit yang tidak
dikenal berdasarkan hasil pengamatan trayek perubahan warna berbagai
indikator asam dan basa.
- Siswa mampu menghubungkan kekuatan asam dan basa dengan sifat
elektrolit.
- Siswa mampu menghitung pH larutan asam basa dari data konsentrasi
dan sebaliknya.
- Siswa mampu menghitung pH campuran asam dan basa.
- Siswa mampu menghitung pH campuran basa dan basa.
- Siswa mampu menghitung pH asam dan basa.
- Siswa mampu menuliskan reaksi asam dan basa.
- Siswa mampu menyebut manfaat reaksi asam basa di bidang kesehatan.
- Siswa mampu menyebut manfaat reaksi asam basa di bidang pertanian.

C. Materi Pembelajaran
Asam-basa
Asam dan Basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan sifat asam basa,
larutan dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu bersifat asam, bersifat
basa, dan bersifat netral. Asam dan Basa memiliki sifat-sifat yang berbeda,
sehingga dapat kita bisa menentukan sifat suatu larutan. Untuk menentukan
suatu larutan bersifat asam atau basa, ada beberapa cara. Yang pertama
menggunakan indikator warna, yang akan menunjukkan sifat suatu larutan
dengan perubahan warna yang terjadi. Misalnya Lakmus, akan berwarna
merah dalam larutan yang bersifat asam dan akan berwarna biru dalam
larutan yang bersifat basa. Sifat asam basa suatu larutan juga dapat
ditentukan dengan mengukur pH-nya. pHmerupakan suatu parameter yang
digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam
memiliki pH kurang dari 7, larutan basa memiliki pH lebih dari 7,
sedangkan larutan netral memiliki pH=7. pH suatu larutan dapat ditentukan
dengan indikator pH atau dengan pH meter.
Istilah asam berasal dari bahasa latin ―acetum‖ yang berarti cuka,
karena diketahui zat utama dalam cuka adalah asam asetat. Adapun basa
berasal dari bahasa arab yang berarti abu. Hingga saat ini, ada tiga
pengertian asam-basa yang dikemukakan oleh empat ilmuwan. Mereka
adalah Svante Arrhenius, Johannes Bronsted, Thomas Lowry dan G.N
Lewis.

4.1.1 MENURUT ARRHENIUS
Menurut teori Arrhenius, zat yang dalam air menghasilkan ion H
+
disebut
asam danbasa adalah zat yang dalam air terionisasi menghasilkan ion OH
-
.
Contoh Asam : HCl --> H
+
+ Cl


Contoh Basa : NaOH --> Na
+
+ OH
-

Meskipun teori Arrhenius benar, pengajuan desertasinya mengalami
hambatan berat karena profesornya tidak tertarik padanya. Desertasinya
dimulai tahun 1880, diajukan pada 1883, meskipun diluluskan teorinya tidak
benar. Setelah mendapat bantuan dari Van’ Hoff dan Ostwald pada tahun
1887 diterbitkan karangannya mengenai asam basa. Akhirnya dunia
mengakui teori Arrhenius pada tahun 1903 dengan hadiah nobel untuk ilmu
pengetahuan.
Sampai sekarang teori Arrhenius masih tetap berguna meskipun hal
tersebut merupakan model paling sederhana. Asam dikatakan kuat atau
lemah berdasarkan daya hantar listrik molar. Larutan dapat menghantarkan
arus listrik kalau mengandung ion, jadi semakin banyak asam yang
terionisasi berarti makin kuat asamnya. Asam kuat berupa elektrolit kuat
dan asam lemah merupakan elektrolit lemah. Teori Arrhenius memang perlu
perbaikan sebab dalam lenyataan pada zaman modern diperlukan
penjelasanyang lebih bisa diterima secara logik dan berlaku secara umum.
Sifat larutan amoniak diterangkan oleh teori Arrhenius sebagai berikut:
NH
4
OH --> NH
4

+
+ OH
-

Jadi menurut Svante August Arrhenius (1884) asam adalah spesi yang
mengandung H
+
dan basa adalah spesi yang mengandung OH
-
, dengan
asumsi bahwa pelarut tidak berpengaruh terhadap sifat asam dan basa.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa:
Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H
+
.
Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH
-
.
Contoh:
1) HCl(aq) H
+
(aq) + Cl
-
(aq)
2) NaOH(aq) Na
+
(aq) + OH
-
(aq)
4.1.2 MENURUT BRONSTED-LOWRY
Asam ialah donor proton, sedangkan basa adalah akseptor proton.
Teori asam basa dari Arrhenius ternyata tidak dapat berlaku untuk semua
pelarut, karena khusus untuk pelarut air. Begitu juga tidak sesuai dengan
reaksi penggaraman karena tidak semua garam bersifat netral, tetapi ada
juga yang bersifat asam dan ada yang bersifat basa. Konsep asam basa yang
lebih umum diajukan oleh Johannes Bronsted, basa adalah zat yang dapat
menerima proton. Ionisasi asam klorida dalam air ditinjau sebagai
perpindahan proton dari asam ke basa.
HCl + H
2
O --> H
3
O
+
+ Cl
-

Demikian pula reaksi antara asam klorida dengan amoniak, melibatkan
perpindahan proton dari HCl ke NH
3
.
HCl + NH
3
⇄ NH
4

+
+ Cl
-

Ionisasi asam lemah dapat digambarkan dengan cara yang sama.
HOAc + H
2
O ⇄ H
3
O
+
+ OAc
-

Pada tahun 1923 seorang ahli kimia Inggris bernama T.M. Lowry juga
mengajukan hal yang sama dengan Bronsted sehingga teori asam basanya
disebut Bronsted-Lowry. Perlu diperhatikan disini bahwa H
+
dari asam
bergabung dengan molekul air membentuk ion poliatomik H
3
O
+
disebut
ion Hidronium. Reaksi umum yang terjadi bila asam dilarutkan ke dalam air
adalah:
HA + H
2
O ⇄ H
3
O
+
+ A
-

Asam

basa asam konjugasi basa konjugasi
Perhatikanlah bahwa asam konjugasi terbentuk kalau proton masih tinggal
setelah asam kehilangan satu proton. Keduanya merupakan pasangan asam
basa konjugasi yang terdi dari dua zat yang berhubungan satu sama lain
karena pemberian proton atau penerimaan proton. Namun demikian
disosiasi asam basa masih digunakan secara Arrhenius, tetapi arti yang
sebenarnya harus kita fahami.
Johannes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry membuktikan bahwa tidak
semua asam mengandung ion H
+
dan tidak semua basa mengandung ion
OH
-
.
Bronsted – Lowry mengemukakan teori bahwa asam adalah spesi yang
memberi H
+
( donor proton ) dan basa adalah spesi yang menerima H
+

(akseptor proton). Jika suatu asam memberi sebuah H
+
kepada molekul
basa, maka sisanya akan menjadi basa konjugasi dari asam semula. Begitu
juga bila basa menerima H
+
maka sisanya adalah asam konjugasi dari basa
semula.
Teori Bronsted – Lowry jelas menunjukkan adanya ion Hidronium (H
3
O
+

) secara nyata.
Contoh:
HF + H
2
O ⇄ H
3
O
+
+ F


Asam basa asam konjugasi basa konjugasi
HF merupakan pasangan dari F
-
dan H
2
O merupakan pasangan dari H
3

O
+
. Air mempunyai sifat ampiprotik karena dapat sebagai basa dan dapat
sebagai asam.
HCl + H
2
O --> H
3
O
+
+ Cl
-

Asam Basa
NH
3
+ H
2
O ⇄ NH
4

+
+ OH
-

Basa Asam
Manfaat dari teori asam basa menurut Bronsted – Lowry adalah sebagai
berikut:
1. Aplikasinya tidak terbatas pada pelarut air, melainkan untuk semua
pelarut yang mengandung atom Hidrogen dan bahkan tanpa pelarut.
2. Asam dan basa tidak hanya berwujud molekul, tetapi juga dapat berupa
anion dan kation.
Contoh lain:
1) HAc(aq) + H
2
O(l) --> H
3
O+(aq) + Ac
-
(aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1
HAc dengan Ac
-
merupakan pasangan asam-basa konjugasi.
H
3
O+ dengan H
2
O merupakan pasangan asam-basa konjugasi.
2) H
2
O(l) + NH
3
(aq) --> NH
4

+
(aq) + OH
-
(aq)
asam-1 basa-2 asam-2 basa-1
H
2
O dengan OH
-
merupakan pasangan asam-basa konjugasi.
NH
4

+
dengan NH
3
merupakan pasangan asam-basa konjugasi.
Pada contoh di atas terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam (proton
donor) dan sebagai basa (proton akseptor). Zat atau ion atau spesi seperti ini
bersifat ampiprotik (amfoter).
Penulisan Asam Basa Bronsted Lowry

4.1.3 Menurut G. N. Lewis
Selain dua teori mengenai asam basa seperti telah diterangkan diatas,
masih ada teori yang umum, yaitu teori asam basa yang diajukan oleh
Gilbert Newton Lewis ( 1875-1946 ) pada awal tahun 1920. Lewis lebih
menekankan pada perpindahan elektron bukan pada perpindahan proton,
sehingga ia mendefinisikan : asam penerima pasangan elektron dan basa
adalah donor pasangan elekton. Nampak disini bahwa asam Bronsted
merupakan asam Lewis dan begitu juga basanya.
Reaksi antara proton dengan molekul amoniak secara Bronsted dapat
diganti dengan cara Lewis. Untuk reaksi-reaksi lainpun dapat diganti
dengan reaksi Lewis, misalnya reaksi antara proton dan ion
Hidroksida.Ternyata teori Lewis dapat lebih luas meliput reaksi-reaksi yang
tidak ternasuk asam basa Bronsted-Lowry, termasuk kimia Organik
misalnya:
CH
3

+
+ C
6
H
6
⇄ C
6
H
6
CH
3

+

Asam ialah akseptor pasangan elektron, sedangkan basa adalah Donor
pasangan elektron.

Contoh:



Asam Lewis

Asam-Basa Lewis

4.2 Kekuatan Asam-Basa dan pH larutan
4.2.1 Kesetimbangan ion dalam larutan
Air merupakan elektrolit sangat lemah karena ternyata sebagian molekul air
terionisasi menurut reaksi berikut:
H
2
O
(l)
H
+
(aq)
+ OH
-
(aq)

Menurut hukum kesetimbangan :
=
H +[OH−]
[H2O]

Oleh karena jumlah molekul air yang terionisasi sangat sedikit, maka
dianggap bahwa konsentrasi H2O tetap, sehingga K[H2O] tetap.
K[H
2
O] = [H+] [OH-]
K[H
2
O] dilambangkan dengan Kw atau tetapan kesetimbangan air.
Kw = [H+] [OH-]


a. Asam dan basa kuat
Untuk asam kuat atau basa kuat, perhitungan [H
+
] dan [OH
-
] bergantung pada
valensi dan konsentrasi larutan asam kuat atau basa kuat. Perhatikan rumus
berikut ini
[H+] = a x M asam
[OH-] = b x M basa
b. Asam dan basa lemah
Untuk asam lemah atau basa lemah, perhitungan [H
+
] dan [OH
-
] diperoleh dari
suatu persamaan tetapan ionisasi asam (Ka) dan tetapan ionisasi basa (Kb).
=

+
[

]
[]


+
dan [

] dianggap sama sehingga [H
+
]=[

]
=

+
[

]
[]

=

+
[
+
]
[]
=
[
+
]
2
[]

= [
+
]
2

+
=

Dengan prinsip dan cara yang sama, [OH-] suatu basa lemah dapat dihitung
dengan rumus berikut :


=

4.2.2 Derajat Keasaman (pH)
pH adalah kepanjangan dari pangkat hidrogen atau power of hydrogen.
pH larutan menyatakan konsentrasi ion H+ dalam larutan. Suatu zat asam
yang di masukkan ke dalam air akan mengakibatkan bertambahnya ion
hidrogen (H+) dalam air dan berkurangnya ion hidroksida (OH-). Sedangkan
pada basa, akan terjadi sebaliknya. Zat basa yang dimasukkan ke dalam air
akan mengakibatkan bertambahnya ion hidroksida (OH-) dan berkurangnya
ion hidrogen (H+).
Jumlah ion H+ dan OH- di dalam air dapat di gunakan untuk menentukan
derajat keasaman atau kebasaan suatu zat. Semakin asam suatu zat, semakin
banyak ion H+ dan semakin sedikit jumlah ion OH- di dalam air. Sebaliknya
semakin basa suatu zat, semakin sedikit jumlah ion H+ dan semakin banyak
ion OH- di dalam air.

Analog dengan pH

4.3 Identifikasi Asam, Basa, dan Garam Indikator
Berdasarkan sifat asam dan basa, larutan dibedakan menjadi tiga golongan
yaitu : bersifat asam, basa, dan netral. Sifat larutan tersebut dapat
ditunjukkan dengan menggunakan indikator asam-basa, yaitu zat-zat warna
yang menghasilkan warna berbeda dalam larutan asam dan basa. Cara
menentukan senyawa bersifat asam, basa atau netral dapat menggunakan
kertas lakmus, larutan indikator atau larutan alami. Misal, lakmus merah dan
biru. Berikut pengelompokkan jenis indikator asam–basa dalam larutan
yang bersifat asam, basa dan netral. Lihat tabel 2.5 di bawah ini.

Lakmus digunakan sebagai indikator asam-basa, sebab lakmus memiliki
beberapa keuntungan, yaitu:
1. Lakmus dapat berubah warna dengan cepat saat bereaksi dengan asam
ataupun basa.
2. Lakmus sukar bereaksi dengan oksigen dalam udara sehingga dapat tahan
lama.
3. Lakmus mudah diserap oleh kertas, sehingga digunakan dalam bentuk
lakmus kertas. Lakmus adalah sejenis zat yang diperoleh dari jenis lumut
kerak.
Selain menggunakan indikator buatan, dipakai pula indikator alami untuk
mengelompokkan bahan-bahan di lingkungan berdasarkan konsep asam,
basa, dan garam. Indikator alami, seperti : bunga sepatu, kunyit, kulit
manggis, kubis ungu atau jenis bunga-bungaan yang berwarna. Ekstrak
bahan-bahan tersebut dapat memberikan warna yang berbeda dalam larutan
asam dan basa.
Perhatikan tabel 2.6 warna ekstrak kubis ungu dalam larutan asam, basa,
dan netral.

Sifat asam ditunjukkan oleh perubahan warna indikator buatan dan
indikator alami menjadi warna kemerahan, sedangkan sifat basa ditunjukkan
oleh perubahan warna indikator buatan dan indikator alami menjadi warna
kebiruan atau kehijauan.
4. 4 Penentuan Skala Keasaman dan Kebasaan
Pada umumnya semua asam dan basa mempunyai sifat tertentu.
Misal, terdapat beberapa asam yang aman digunakan untuk obat tetes mata
atau diminum, tetapi terdapat juga asam yang dapat merusak jaringan kulit
dan logam. Semua basa juga memiliki sifat tertentu, misal kita
menggunakan pasta gigi untuk membersihkan gigi dan menghilangkan bau
mulut, sebaliknya natrium hidroksida digunakan untuk pembersih saluran
dan berbahaya jika terkena kulitmu. Jumlah ion H+ dalam air digunakan
untuk menentukan sifat derajat keasaman atau kebasaan suatu zat. Semakin
zat tersebut memiliki keasaman tinggi, semakin banyak ion H+ di dalam air.
Sedangkan semakin tinggi kebasaan zat tersebut, semakin banyak ion OH–
dalam air. Untuk menentukan harga pH dan pOH biasa digunakan indikator
universal yang dapat memperlihatkan warna bermacam-macam untuk tiap
pH. Indikator universal dilengkapi dengan cakram warna, sehingga warna
dan hasil reaksi dapat ditentukan pHnya dengan mencocokkan warna
tersebut. Selain itu, pH meter juga dapat dipergunakan untuk menentukan
tingkat keasaman atau kebasaan suatu zat.

Indikator universal merupakan campuran dari bermacam-macam indikator
asam dan basa yang dapat berubah warna setiap satuan pH. Terdapat dua
macam indikator universal yang digunakan, yaitu berupa larutan dan kertas.
Jenis indikator universal larutan, jika dimasukkan dalam larutan yang
bersifat asam, basa atau garam yang memiliki pH berbeda-beda akan
memberikan warna-warna yang berbeda pula. Perhatikan tabel 2.7 di bawah
ini!

Sedangkan jika menggunakan indikator universal bentuk kertas untuk
mengetahui sifat asam, basa dengan cara mencelupkan kertas tersebut
Kemudian warna yang muncul dicocokkan dengan cakram warna standar
yang terdapat pada kemasan indikator tersebut. Larutan bersifat netral jika
pH = 7, larutan bersifat asam jika pH < 7, dan larutan bersifat basa jika pH >
7.

D. Metode Pembelajaran
Diskusi Informasi

E. Langkah – langkah Pembelajaran

No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
PERTEMUAN KE – 1
I Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan asam dan basa.
- Guru memberitahukan bahwa siswa akan mempelajari larutan
asam basa.
- Motivasi : banyak contoh asam basa di kehidupan sehari –
hari. Oleh karena itu penting sekali mempelajari asam basa.

5’









II Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa mengenai teori asam basa
yang pernah diketahui oleh siswa.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh asam basa di lingkungan
sekitar.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
asam basa.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk mengidentifikasi teori asam basa.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai teori asam

30’


Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
basa.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap
jawaban siswa yang benar.
III Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
 Pemberian tugas : mencari contoh-contoh benda yang merupakan
asam basa suatu zat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan.

10’


Pertemuan ke- 2
Pendahuluan
Apersepsi: menyiapkan alat dan bahan percobaan

Kegiatan Inti
 Eksplorasi : siswa melakukan percobaan mengidentifikasi asam
basa menggunakan berbagai indikator .
 Elaborasi :
o Guru dan siswa mendiskusikan hasil percobaan.
o Guru menjelaskan tentang berbagai macam indikator alami.
o Guru meminta siswa berpikir kritis untuk membedakan tiap
indikator.
Konfirmasi : guru mengarahkan hasil diskusi menuju konsep reaksi
asam basa.
Kerja keras



Komunikatif

Berpikir
Kritis
Penutup
 Guru dan siswa menyimpulkan hasil percobaan.
 Guru merefleksi materi setelah menerima pembelajaran reaksi
eksoterm dan endoterm.
Guru membeikan tugas kepada siswa untuk mencari contoh-contoh
reaksi eksoterm dan reaksi endoterm dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan ke-3
Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan asam dan basa.
- Guru mengingatkan kembali tentang materi sebelumnya dan
hubungannya dengan materi selanjutnya.

No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
Motivasi : banyak contoh asam basa di kehidupan sehari – hari.
Oleh karena itu penting sekali mempelajari asam basa.
Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa bagaimana cara
menentukan pH.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh benda yang bisa diukur pH
nya.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
tersebut.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk menentukan pH.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai pH.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap
jawaban siswa yang benar.

Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
Pemberian tugas : mengerjakan soal soal latihan LKS.

Pertemuan ke4
Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas

No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan asam dan basa.
- Guru mengingatkan kembali tentang materi sebelumnya dan
hubungannya dengan materi selanjutnya.
Motivasi : banyak contoh asam basa di kehidupan sehari – hari.
Oleh karena itu penting sekali mempelajari asam basa.
Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa tentang contoh asam basa
dibidang kesehatan yang diketahui.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh benda asam basa dibidang
kesehatan.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
tersebut.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk mnyebut contoh asam basa dibidang
kesehatan dan pertanian serta manfaatnya.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai pH.
guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap jawaban siswa yang benar.

Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
Pemberian tugas : mencari contoh larutan asam basa yang ada di
bidang makanan dan minuman.


F. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

G. Penilaian
a. Jenis tagihan : tugas individu dan ulangan harian
b. Bentuk intrumen : Portopolio dan test tertulis

Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007





RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : 1
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa,
metode pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar :4.2 Menghitung banyaknya pereaksi dan hasil
reaksi dalam larutan elektrolit dari hasil titrasi asam
basa.



A. Indikator :
1. Menulis reaksi rumus, lengkap dan bersih.
2. Menghitung massa suatu zat dalam reaksi asam dan basa.
3. Menentukan konsentrasi asam atau basa dengan titrasi.
4. Menentukan indikator yang tepat untuk titrasi asam dan basa.
5. Menentukan kadar zat dari data hasil reaksi.

B. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menulis reaksi rumus, lengkap dan bersih.
2. Siswa dapat menghitung massa suatu zat dalam reaksi asam dan basa.
3. Siswa dapat menentukan konsentrasi asam atau basa dengan titrasi.
4. Siswa dapat menentukan indikator yang tepat untuk titrasi asam dan basa.
5. Siswa dapat menentukan kadar zat dari data hasil reaksi.

C. Materi Pembelajaran
Stoikiometri larutan
Titrasi asam dan basa

D. Metode Pembelajaran
Diskusi, tanya-jawab

E. Langkah – langkah Pembelajaran

No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
PERTEMUAN KE – 1
I Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Guru memberitahukan bahwa siswa akan mempelajari larutan
stoikiometri larutan asam basa.
- Motivasi : banyak contoh asam basa di kehidupan sehari –
hari. Oleh karena itu penting sekali mempelajari asam basa.

5’








II Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa mengenai stoikiometri
larutan asam basa yang pernah diketahui oleh siswa.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa hubungan massa dan konsentrasi.

30’


Gemar
membaca


No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk menentukan stoikiometri asam basa.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai
stoikiometri asam basa.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap
jawaban siswa yang benar.
Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
III Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
 Pemberian tugas : mencari contoh-contoh benda yang merupakan
asam basa suatu zat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan.

10’


Pertemuan ke- 2
Pendahuluan
Apersepsi: menyiapkan alat dan bahan percobaan

Kegiatan Inti
 Eksplorasi : siswa melakukan percobaan menggunakan berbagai
indikator pada titrasi asam basa.
 Elaborasi :
o Guru dan siswa mendiskusikan hasil percobaan.
o Guru menjelaskan tentang berbagai macam titrasi asam basa.
o Guru meminta siswa berpikir kritis untuk membedakan tiap
titrasi.
Konfirmasi : guru mengarahkan hasil diskusi menuju konsep titrasi
asam basa.
Kerja keras



Komunikatif

Berpikir
Kritis
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
Penutup
 Guru dan siswa menyimpulkan hasil percobaan.
 Guru merefleksi materi setelah menerima pembelajaran tirasi asam
basa.

Pertemuan ke-3
Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan titrasi asam dan basa.
- Guru mengingatkan kembali tentang materi sebelumnya dan
hubungannya dengan materi selanjutnya.

Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa macam – macam titrasi
asam basa.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh titrasi.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
tersebut.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk menentukan pH titrasi asam basa.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.

 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai pH.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam
bentuk lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap

Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
jawaban siswa yang benar.
Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
Pemberian tugas : mengerjakan soal soal latihan LKS.

Pertemuan ke4
Pendahuluan
- Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
- Guru mengkondisikan kelas
- Melakukan apersepsi tentang segala sesuatu yang ada di
lingkungan yang berkaitan dengan kadar suatu zat asam dan
basa.
- Guru mengingatkan kembali tentang materi sebelumnya dan
hubungannya dengan materi selanjutnya.

Kegiatan Inti
 Eksplorasi :
o Guru menanyakan kepada siswa tentang yang dimaksud
kadar suatu zat yang diketahui.
o Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan bertanya
kepada siswa salahsatu contoh benda yang mempunyai
kadar zat.
o Guru meminta salah satu siswa untuk menjelaskan contoh
tersebut.
 Elaborasi :
o Guru menyajikan materi dengan menggunakan power point
atau dengan menulis di papan tulis
o Siswa dikelompokkan dalam kelompok
o diskusi kelompok untuk menentukan kadar suatu zat.
o Guru mendampingi kegiatan siswa dalam berdiskusi dan
mengusahakan menjawab secara cooperative
o Guru menunjuk perwakilan kelompok untuk memaparkan
jawaban kelompoknya secara random .
o Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain
untuk menanggapi jawaban yang dipresentasikan.


Gemar
membaca


Rasa ingin
tahu

Komunikatif/
bersahabat



Berpikir
kritis

Toleransi

Menghargai
prestasi
No. Kegiatan
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
 Konfirmasi :
o guru mengarahkan hasil diskusi siswa mengenai kadar zat.
o guru memberikan umpan balik dan penguatan dalam bentuk
lisan, tulisan, isyarat maupun hadiah terhadap jawaban siswa
yang benar.
Penutup
 Menyimpulkan hasil diskusi.
 Refleksi.
Pemberian tugas : mengerjakan latihan soal LKS.


F. Alat / Bahan / Sumber :
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD

G. Penilaian
a. Jenis tagihan : tugas individu dan ulangan harian
b. Bentuk intrumen : Portopolio dan test tertulis

Mengetahui, Semarang,Agustus2011
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : 1
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar : 4.3 Menggunakan kurva perubahan harga pH pada titrasi
asam basa untuk menjelaskan larutan penyangga dan
hidrolisis


A. Indikator
1. Menjelaskan pengertian larutan penyangga berdasarkan percobaan
2. Menjelaskan sifat-sifat larutan penyangga berdasarkan percobaan
3. Membedakan larutan penyangga dan bukan larutan penyangga
berdasarkan percobaan

B. Tujuan
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian larutan penyangga berdasarkan
percobaan
2. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat larutan penyangga berdasarkan
percobaan
3. Siswa dapat membedakan larutan penyangga dan bukan larutan penyangga
berdasarkan percobaan

C. Analisis Materi
1. Larutan Penyangga
Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang dapat
mempertahankan harga pH tertentu terhadap usaha mengubah pH seperti
penambahan asam, basa atau penegnceran. Artinya, pH larutan penyangga
praktis tidak berubah apabila ke dalam larutan tersebut ditambahkan
sedikit asam kuat, basa kuat atau bila larutan diencerkan.
Contoh.
Penambahan 0,1 mL larutan HCl 1 M ke dalam satu liter air suling
mengubah pH-nya dari 7 menjadi 4. Bila larutan HCl yang sama
banyaknya ditambahkan ke dalam satu liter air laut, perubahan pH-nya
jauh lebih kecil yaitu dari 8,2 menjadi 7,6. Larutan seperti air laut ini yaitu
larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu disebut larutan
penyangga atau buffer atau dapar.
2. Sifat Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat mempertahankan nilai pH tertentu. pH
larutan penyangga tidak mengalami perubahan yang berarti jika dilakukan
pada larutan tersebut ditambahkan sejumlah kecil asam, basa atau
dilakukan pengenceran.

D. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran : Inquiry dengan media Lembar Kerja Siswa
Metode Pembelajaran : Kombinasi praktikum, ceramah, tanya jawab,
diskusi, presentasi, penemuan dan pemberian tugas.

E. Kegiatan Belajar Mengajar
No. Kegiatan Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
Pendahuluan
- Guru membuka pelajaran.
- Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
- Guru memberikan motivasi kepada siswa
―Kalian harus benar-benar mempelajari
dan melakukan praktikum pada materi
ini karena nantinya kalian akan dapat
membuktikan sifat-sifat dari larutan
penyangga, yaitu dapat
mempertahankan harga pH tertentu
pada penambahan sedikit asam, basa
(15
menit)













atau jika dilakukan pengenceran.‖
- Guru memberikan apersepsi
- Guru mengingatkan kembali
mengenai pH larutan asam-basa
- Guru mengajukan pertanyaan untuk
dijawab secara lisan.
a. Berapakah pH air suling?
b. Berapakan pH larutan yang
bersifat asam?
c. Barapakah pH larutan yang
bersifat basa?
Gemar
membaca



Kegiatan Inti
Eksplorasi
1). Guru memberikan suatu permasalahan
kepada siswa yaitu membuktikan sifat
larutan penyangga.
2). Guru meminta siswa untuk
membedakan manakah yang merupakan
larutan penyangga dan manakah yang
bukan merupakan larutan penyangga.
Elaborasi
1) Guru membimbing siswa tentang
bagaimana cara kerja yang harus
dilakukan dan meminta para siswa
mengerjakan LKS terstruktur secara
berkelompok.
2) Guru berkeliling dan mengamati
aktifitas siswa dan membimbing
kelompok yang mengalami kesulitan
3) Guru meminta dua orang siswa untuk
(60
menit)


Kerja keras

Kreatif




Komunikatif








Menghargai
melaporkan hasil kerja kelompoknya,
dan kelompok-kelompok lain diminta
untuk menanggapi.
Konfirmasi
1) Guru menganalisis, mengevaluasi proses
pemecahan masalah siswa dan memeriksa
hasil temuan siswa untuk memastikan
kebenaran hasil penemuan tersebut.
2) Guru membantu untuk melakukan refleksi
terhadap hasil pemecahan masalah yang
telah mereka diskusikan dan memberikan
pujian bagi kelompok yang berhasil baik
dan memberi semangat bagi kelompok
yang belum berhasil dengan baik (jika ada).
3) Guru memberikan latihan soal kepada
siswa.
prestasi







Menghargai
prestasi




Mandiri

1. Kegiatan Penutup (15 menit)
1). Siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari dengan bimbingan guru.
2). Guru memberikan kuis dan PR.
3). Guru meminta siswa untuk mempelajari
materi selanjutnya.
4). Guru menutup pelajaran.


F. Media dan Sumber Relajar
Media : LKS, Whiteboard, spidol, alat dan bahan praktikum
Sumber Relajar :
Belajar Kimia secara Menarik untuk SMA kelas XI. Das
Salirawati, dkk. 2007. Grasindo.
Kimia Bilingual untuk SMA Kelas XI. 2007. Yrama
Widya.
Kimia untuk SMA Kelas XI. Michael Purba. 2007.
Erlangga.

G. Penilaian
Jenis tagihan : Tugas individu dan tugas kelompok
Bentuk Instrumen : Kinerja dan sikap

H. Evaluasi
1. Apa yang dimaksud dengan larutan penyangga atau buffer?
2. Perhatikan data percobaan berikut:
Larutan A B C
pH awal 7 5 8
Ditambahkan sedikit asam 4 4,99 7,98
Ditambahkan sedikit basa 10 5,01 8,01
Manakah di antara larutan tersebut yang bersifat penyangga? Jelaskan
jawabanmu!

I. Kunci Jawaban
1. Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang dapat
mempertahankan harga pH tertentu terhadap usaha mengubah pH seperti
penambahan asam, basa atau penegnceran.
2. Larutan B dan C
Karena pada kedua larutan tersebut tidak terjadi perubahan pH yang
berarti pada penambahan sedikit asam dan basa. Hal tesebut sesuai dengan
sifat larutan penyangga yang dapat mempertahankan harga pH pada usaha
penambahan sedikit asam atau basa.
LEMBAR KERJA SISWA I
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI / II (Dua)
Pokok Bahasan : Larutan Penyangga
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

Tujuan : Mempelajari sifat larutan penyangga dan bukan penyangga pada
penambahan sedikit asam, basa atau pengenceran.

Cara Kerja:
1. Dengan menggunakan indikator universal, ukur pH larutan NaCl 0,1 M.
Larutan pH
NaCl 0,1 M ................

2. Siapkan 3 gelas kimia 100 mL. Isi masing-masing dengan 10 mL larutan NaCl
0,1 M, kemudian:
a. Ke dalam gelas kimia 1 tambahkan 1 mL larutan HCl 0,1 M.
b. Ke dalam gelas kimia 2 tambahkan 1 mL larutan NaOH 0,1 M.
c. Ke dalam gelas kimia 3 tambahkan 10 mL aquades.
Ukur pH ketiga larutan tersebut.
Larutan pH
a NaCl 0,1 M + ................................... ................
b NaCl 0,1 M + ................................... ................
c NaCl 0,1 M + ................................... ................

3. Campurkan 25 mL larutan CH
3
COOH 0,1 M dan 25 mL larutan CH
3
COONa
0,1 M dalam sebuah gelas kimia. Ukur pH-nya.
Larutan pH
.......................................... ........................

4. Siapkan 3 gelas kimia yang bersih. Isi masing-masing dengan larutan pada
prosedur 3, kemudian:
a. a. Ke dalam gelas kimia 1 tambahkan 1 mL larutan HCl 0,1 M.
b. Ke dalam gelas kimia 2 tambahkan 1 mL larutan NaOH 0,1 M.
c. Ke dalam gelas kimia 3 tambahkan 10 mL aquades.
Ukur pH ketiga larutan tersebut.
Larutan pH
a ................. ................
b ................. ................
c ................. ................

5. Campurkan 25 mL larutan NH
3
0,1 M dan 25 mL larutan NH
4
Cl 0,1 M dalam
sebuah gelas kimia. Ukur pH-nya.
Larutan pH
......................................... ................

6. Siapkan 3 gelas kimia yang bersih. Isi masing-masing dengan larutan pada
prosedur 3, kemudian:
a. a. Ke dalam gelas kimia 1 tambahkan 1 mL larutan HCl 0,1 M.
b. Ke dalam gelas kimia 2 tambahkan 1 mL larutan NaOH 0,1 M.
c. Ke dalam gelas kimia 3 tambahkan 10 mL aquades.
Ukur pH ketiga larutan tersebut.
Larutan pH
a ................. ................
b ................. ................
c ................. ................

Kesimpulan:
1. Diantara larutan yang di uji, larutan yang bersifat penyangga adalah.....
2. Sifat-sifat larutan penyangga, yaitu:
..............................................................................................................................







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : 2
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar : 4.3 Menggunakan kurva perubahan harga pH pada titrasi
asam basa untuk menjelaskan larutan penyangga dan hidrolisis

i. Indikator
1. Menjelaskan komponen larutan penyangga
2. Menjelaskan cara kerja larutan penyangga.

ii. Tujuan
1. Siswa dapat menjelaskan komponen larutan penyangga
2. Siswa dapat menjelaskan cara kerja larutan penyangga

iii. Analisis Materi
1. Komponen Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat dibedakan atas larutan penyangga asam
dan larutan penyangga basa. Larutan penyangga asam mempertahankan
harga pH pada daerah asam (pH < 7), sedangkan larutan penyangga basa
mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7).
2. Larutan penyangga asam
Larutan penyangga asam mengandung asam lemah (HA) dengan basa
konjugasinya(A
-
). Cara membuatnya:
a. Mencampurkan asam lemah (HA) dengan garamnya (LA, garam LA
menghasilkan ion A
-
yang merupakan basa konjugasi dari asam HA)
Contoh:
 Larutan CH
3
COOH dicampur dengan larutan CH
3
COONa, sehingga
didalam larutan terdapat CH
3
COOH (HA) dan CH
3
COO
-
(A
-
).
 Larutan H
2
CO
3
dicampur dengan NaHCO
3
sehingga didalam larutan
terdapat H
2
CO
3
(HA) dan HCO
3
-
(A
-
)
 Larutan NaH
2
PO
4
dengan Na
2
HPO
4
sehingga didalam larutan
terdapat H
2
PO
4
-
dan HPO
4
2-

b. Mereaksikan asam lemah berlebihan dengan basa kuat
Contoh:
Mereaksikan 100 ml Larutan CH
3
COOH 0.1 M dengan 50 ml Larutan
NaOH 0.1 M, sehingga pada akhir reaksi terdapat 0,005 mol CH
3
COOH
(sisa reaksi) dan 0,005 mol CH
3
COO
-
(hasil reaksi)
CH
3
COOH + NaOH CH
3
COONa + H
2
O
Mula : 0,010 mol 0,005 mol
Bereaksi :0,005 mol 0,005 mol
Sisa :0,005 mol 0 0,005 mol
Campuran merupakan buffer karena mengandung CH
3
COOH (asam
lemah) dan CH
3
COO
-
(basa konjugasi dari CH
3
COOH).

3. Larutan Penyangga Basa
Larutan penyangga Basa mengandung Basa lemah (B) dengan asam
konjugasinya (BH
+
). Cara membuatnya:
a. Mencampurkan basa lemah dengan garamnya
Contoh:
Larutan NH
3
+ larutan NH
4
Cl (komponen penyangganya : NH
3
dan NH
4
+
)
b. Mereaksikan basa lemah berlebihan dengan asam kuat
Contoh:
Mereaksikan 10 ml Larutan NH
4
OH 0,1 M dengan 50 ml larutan HCl 0,1 M
sehingga pada akhir reaksi terdapat 0,005 mol NH
4
OH (sisa reaksi) dan
0,005 mol NH
4
+
(hasil reaksi)
NH
4
OH + HCl NH
4
Cl + H
2
O
Mula : 0,010 mol 0,005 mol
Bereaksi :0,005 mol 0,005 mol
Sisa :0,005 mol 0 0,005 mol
Campuran merupakan buffer karena mengandung NH
4
OH (basa lemah)
dan NH
4
+
(asam konjugasi dari NH
4
OH).

4. Cara Kerja Larutan Penyangga
Adapun cara kerja larutan penyangga dapat dipahami dari dua contoh
berikut:
ii. Larutan penyangga asam
Contoh: larutan penyangga yang mengandung CH
3
COOH dan
CH
3
COO
-
. Dalam larutan terdapat kesetimbangan:
CH
3
COOH
(aq)
CH
3
COO

(aq)
+ H
+
(aq)
Penambahan asam (H
+
) akan menggeser kesetimbangan ke kiri, ion H
+
akan bereaksi dengan ion CH
3
COO

membentuk molekul
CH
3
COOH. Jika yang ditambah adalah basa (OH
-
), maka ion OH
-
dari
basa itu akan bereaksi dengan ion H
+
membentuk air. Hal ini akan
menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi
H
+
dapat dipertahankan.
iii. Larutan penyangga basa
Contoh: larutan penyangga yang mengandung NH
3
dan NH
4
+

NH
3 (aq)
+ H
2
O
(l)
NH
4
+

(aq)
+ OH
-

(aq)
Jika ke dalam larutan ditambahkan suatu asam, maka ion H
+
dari asam
itu akan mengikat ion OH
-
. Hal itu akan menyebabkan kesetimbangan
bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion OH
-
dapat dipertahankan.
Demikian juga pada penambahan suatu basa, kesetimbangan akan
bergeser ke kiri sehingga konsentrasi ion OH
-
dapat dipertahankan.

iv. Model Pembelajaran
Model pembelajaran :Inquiry dengan media Lembar Kerja Siswa
Metode pembelajaran :Kombinasi ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja
kelompok, presentasi, dan pemberian tugas.

v. Kegiatan Belajar Mengajar
No. Kegiatan belajar mengajar
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
1.






2.


Kegiatan Awal (Pendahuluan)
c. Guru mengingatkan kembali mengenai materi
sebelumnya.
d. Guru memberikan motivasi dengan menjelaskan
pentingnya materi ini untuk memahami materi
selanjutnya.
e. Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok
Kegiatan Inti.
a. Guru menjelaskan tentang komponen dan cara kerja
larutan penyangga.
15’
5’

5’


5’
25’
5’









Gemar
membaca

vi. Media dan Sumber Belajar
Media : LKS, Whiteboard dan Spidol
Sumber Belajar :
Belajar Kimia secara Menarik untuk SMA kelas XI. Das
Salirawati, dkk. 2007. Grasindo.
Kimia Bilingual untuk SMA Kelas XI. 2007. Yrama
Widya.
Kimia untuk SMA Kelas XI. Michael Purba. 2007.
Erlangga
vii. Penilaian
Aspek yang dinilai






3.




4.
b. Guru membimbing siswa untuk memecahkan masalah
mengenai komponen dan cara kerja larutan penyangga
dan mencatat hasilnya dalam Lembar Kerja Siswa.
c. Guru meminta wakil tiap kelompok untuk
mempresentasikan hasil yang diperoleh untuk
didiskusikan dan ditarik kesimpulan.
Pengaplikasian Mata Pelajaran.
a. Guru memberikan latihan soal pada siswa
b. Guru memberikan waktu untuk mengerjakan latihan soal.
c. Guru dan siswa berdiskusi bersama mengenai jawaban
yang benar pada latihan soal.
Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa merefleksikan proses pembelajaran pada
hari itu.
b. Guru dan siswa membuat kesimpulan tentang materi
pokok yang telah dipelajari.
c. Guru memberikan tugas rumah
10’


10’


35’
5’
15’
15’

15’
5’

5’

5’
Kerja keras


Komunikatif



Mandiri









Kognitif : Menjelaskan komponen dan cara kerja larutan
penyangga.
Psikomotorik : Menggali dan mengolah informasi mengenai
komponen larutan penyangga dan cara kerja
larutan penyangga.
Afektif : Berpartisipasi aktif dalam diskusi,
memperhatikan penjelasan guru, jujur, kerja keras,
terbuka serta mengumpulkan tugas.

viii. Evaluasi
Periksalah apakah campuran berikut bersifat penyangga atau tidak. Jika ya,
tulis komponen penyangganya.
3. 50 mL larutan CH
3
COOH 0,1 M + 50 mL larutan Ca(CH
3
COO)
2
0,1 M
4. 50 mL larutan CH
3
COOH 0,2 M + 50 mL larutan NaOH 0,1 M
5. 50 mL larutan CH
3
COOH 0,1 M + 50 mL larutan NaOH 0,1 M
6. 50 mL larutan CH
3
COOH 0,1 M + 50 mL larutan NaOH 0,2 M
7. 50 mL larutan NH
3
0,2 M + 50 mL larutan HCl 0,1 M
8. 50 mL larutan H
3
PO
4
0,1 M + 50 mL larutan NaOH 0,1 M

ix. Kunci Jawaban
9. Ya, Komponen penyangga CH
3
COOH (HA) dan CH
3
COO
-
(A
-
)
10. Ya, Komponen penyangga CH
3
COOH (HA) dan CH
3
COO
-
(A
-
)
11. Tidak
12. Tidak
13. Ya, Componen penyangga NH
3
(Basa lemah) dan NH
4
+
(asam konjugasi
NH
3
)
14. Tidak
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : 3
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa,
metode pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar : 4.3 Menggunakan kurva perubahan harga pH pada
titrasi asam basa untuk menjelaskan larutan penyangga dan hidrolisis
A. Indikator
Menghitung pH dan pOH larutan penyangga berdasarkan prinsip
kesetimbangan.

B. Tujuan
Siswa dapat menghitung pH dan pOH larutan penyangga berdasarkan prinsip
kesetimbangan.

C. Analisis Materi
Menghitung pH Larutan Penyangga
pH larutan penyangga bergantung pada Ka asam lemah dan Kb basa lemah
serta perbandingan konsentrasi asam dengan konsentrasi basa konjugasi atau
konsentrasi basa dengan konsentrasi asam konjugasi.
1. Larutan Penyangga Asam
Larutan penyangga ini dapat dihasilkan dari reaksi asam lemah
berlebih dengan basa kuat. Contoh : larutan penyangga dari larutan
CH
3
COOH (asam lemah) dan CH
3
COONa (basa konjugasi/garam).
Besarnya [H
+
] dan pH larutan penyangga asam lemah dan basa konjugasi
dapat dirumuskan :
[H
+
] =





pH = -log [H
+
]
pH = pKa – log


pH = pKa – log

Keterangan:
Ka = tetapan asam lemah
2. Larutan Penyangga Basa
Larutan penyangga ini dapat dihasilkan dari reaksi antara basa lemah
berlebih dengan asam kuat.
Contoh : larutan penyangga dari NH
3
(basa lemah) dan NH
4
Cl (asam
konjugasi/garam).
Harga OH
-
dan pOH dari basa lemah dan asam konjugasinya dapat
dirumuskan :
pOH = -log [OH
-
]
pOH = pKb – log


pOH = pKb – log

pH = 14 - pOH
Keterangan :
Kb = tetapan basa lemah

D. Model Pembelajaran
Model pembelajaran : Inquiry
Metode pembelajaran : Tanya jawab, diskusi dan tugas
E. Kegiatan Belajar Mengajar
No. Kegiatan belajar mengajar
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
1.





2.



3.






4.





5.
Kegiatan Awal (Pendahuluan)
a. Guru mengingatkan kembali mengenai materi sebelumnya.
b. Guru memberikan motivasi dengan menjelaskan
pentingnya materi ini untuk memahami materi
selanjutnya.
Kegiatan Inti.
Eksplorasi
a. Guru menyakan apa yang dimaksud dengan penyangga?
b. Guru menjelaskan tentang pH larutan penyangga
Elaborasi
a. Guru membimbing siswa untuk menemukan rumus untuk
menghitung pH larutan penyangga dalam Lembar Kerja
Siswa.
b. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil
yang diperoleh untuk didiskusikan dan ditarik
kesimpulan.
Konfirmasi
a. Guru memberikan latihan soal pada siswa
b. Guru memberikan waktu untuk mengerjakan latihan
soal.
c. Guru dan siswa berdiskusi bersama mengenai jawaban
yang benar pada latihan soal.
Kegiatan Akhir
d. Guru dan siswa merefleksikan proses pembelajaran pada
hari itu.
e. Guru dan siswa membuat kesimpulan tentang materi
15’
5’

5’


5’
25’
5’
10’


10’

35’
5’
15’
15’

15’
5’

5’

5’









Rasa ingin
tahu




Mandiri


Kerja keras


Komunikatif








F. Media dan Sumber Belajar
Media : LKS, Whiteboard dan Spidol
Sumber Belajar :
Belajar Kimia secara Menarik untuk SMA kelas XI. Das
Salirawati, dkk. 2007. Grasindo.
Kimia Bilingual untuk SMA Kelas XI. 2007. Yrama
Widya.
Kimia untuk SMA Kelas XI. Michael Purba. 2007.
Erlangga
G. Penilaian
Aspek yang dinilai
Kognitif : Menghitung pH larutan penyangga.
Psikomotorik : Berpartisipasi aktif dalam diskusi.
Afektif : Memperhatikan penjelasan guru, jujur, kerja
keras, terbuka serta mengumpulkan tugas.

H. Evaluasi
15. Tentukanlah pH larutan penyangga yang dibuat dengan mencampurkan 50
mL larutan CH
3
COOH 0,1 M dengan 50 mL larutan NaCH
3
COO 0,1 M.
Ka CH
3
COOH = 1,8 x 10
-5
.
16. Ke dalam 100 mL larutan NH
3
0,1 M ditambahkan 100 mL larutan
(NH
4
)
2
SO
4
0,1 M. Berapakah pH campuran tersebut?(kb NH
3
= 1,8 x 10
-5
)

I. Kunci Jawaban
17. Diketahui:
pokok yang telah dipelajari.
f. Guru memberikan tugas rumah
Volume CH
3
COOH = 50 mL
M CH
3
COOH = 0,1 M
Buffer
Volume NaCH
3
COO = 50 mL
M NaCH
3
COO = 0,1 M

Ka = 1,8 x 10
-5

Ditanya:
pH larutan?
Jawab:
Mol CH
3
COOH = 50 mL x 0,1 mmol/mL
= 5 mmol
Mol NaCH
3
COO = 50 mL x 0,1 mmol/mL
= 5 mmol
Mol asam = mol basa konjugasi, maka pH = pKa
= - log 1,8 x 10
-5

= 4,75

18. Diketahui:
Volume NH
3
= 100 mL
M NH
3
= 0,1 M
Buffer Basa
Volume (NH
4
)
2
SO
4
= 100 mL
M (NH
4
)
2
SO
4
= 0,1 M

Kb = 1,8 x 10
-5

Ditanya:
pH larutan?

Jawab:
Mol NH
3
= 100 mL x 0,1 mmol/mL
= 10 mmol
Mol (NH
4
)
2
SO
4
= 100 x 0,1 mmol/mL
= 10 mmol
Mol ion NH
4
+
= 2 x 10 mmol
= 20 mmol
| |
g
b
kb OH × =
÷

=
20
10
10 8 , 1
5
× ×
÷

=
6
10 9
÷
×
pOH = - log
6
10 9
÷
×
= 6 – log 9
pH = 14 – (6 – log 9)
= 8 + log 9
= 8,95
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : 3
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa,
metode pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar : 4.4 Menyelidiki sifat larutan penyangga dan
peranan larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup dan kehidupan sehari-
hari.

A. Indikator
1. Menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
2. Menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari

B. Tujuan
1. Siswa dapat menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup
2. Siswa dapat menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam kehidupan
sehari-hari

C. Analisis Materi
Secara luas larutan penyangga digunakan dalam analisis biokimia,
bakteriologi, fotografi, industri kulit, dan zat warna. Dalam tiap bidang
tersebut, terutama dalam biokimia dan bakteriologi, diperlukan rentang pH
tertentu yang sempit untuk mencapai hasil optimum. Kerja suatu enzim,
tumbuhnya kultur bakteri, dan proses biokimia lainnya sangat sensitif
terhadap perubahan pH.
Dalam darah terdapat larutan penyangga H
2
CO
3
– HCO
3
- dan
H
2
PO
4
-
- HPO
4
2-
, sehingga pH darah dipertahankan tetap yaitu sekitar 7.4.
Sistem penyangga yang utama dalam cairan intra sel adalah pasangan
H
2
PO
4
-

- HPO
4
2-
.
Sistem ini bereaksi dengan asam dan basa sebagai berikut :
HPO
4
2-

(aq)
+ H
+
(aq)
H
2
PO
4
-
(aq)

H
2
PO
4
-
(aq)
+ OH
-
(aq)
HPO
4
2-
(aq)
+ H
2
O
(aq)

Adapun sistem penyangga yang terdapat dalam cairan luar sel
darah adalah pasangan H
2
CO
3
– HCO
3
-
. Sistem ini bereaksi dengan asam
dan basa sebaga berikut:
H
2
CO
3

(aq)
+ OH
-
(aq)
HCO
3(aq)
+ H
2
O
(l)
HCO
3
-
(aq)
+ H
+
(aq)
H
2
CO
3(aq)
Perbandingan konsentrasi HCO
3
-
terhadap H
2
CO
3
yang diperlukan
untuk menjadikan pH = 7,4 adalah 20 : 1. Jumlah HCO
3
-
yang jauh lebih
banyak karena hasil metabolisme yang diterima darah lebih banyak yang
bersifat asam. Proses metabolisme dalam jaringan terus-menerus
membebaskan asam-asam seperti asam laktat, asam fosfat dan asam sulfat.
Ketika asam-asam itu memasuki pembuluh darah maka ion HCO
3
-
akan
berubah menjadi H
2
CO
3.
Kemudian H
2
CO
3
akan terurai menjadi CO
2.
Pernafasan akan meningkat untuk mengeluarkan kelebihan CO
2
melalui
paru-paru. Apabila darah harus menerima zat yang bersifat basa maka
H
2
CO
3
akan berubah menjadi HCO
3
-
. Untuk mempertahankan
perbandingan HCO
3
-
/ H
2
CO
3
tetap 20 :1 maka sebagian CO
2
yang terdapat
dalam paru-paru akan larut ke dalam darah membentuk H
2
CO
3
.
Dalam larutan penyangga, kita dapat menjaga pH tertentu sesuai
yang kita inginkan. Apabila mekanisme pengaturan pH dalam tubuh gagal,
seperti saat terjadi selama sakit, sehingga pH darah akan turun atau naik dan
dapat menyebabkan kerusakan permanen pada organ tubuh atau bahkan
kematian. Misalnya pada kerja enzim, pertumbuhan bakteri, dan proses
bikimia lainnya. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan keadaan asidosis
(penurunan pH) adalah penyakit jantung, penyakit ginjal, diabetes mellitus,
diare yang terus-menerus, atau makanan berkadar protein tinggi selama
jangka waktu lama. Keadaan asidosis sementara dapat terjadi karena olah
raga intensif yang dilakukan terlalu lama. Alkalosis (peningkatan pH darah)
dapat terjadi akibat muntah yang hebat, hiperventilasi (bernafas terlalu
berlebihan, kadang-kadang karena cemas atau histeris atau berada di
ketinggian). Suatu penelitian yang dilakukan terhadap para pendaki gunung
yang mencapai puncak Everest (8848 m) tanpa oksigen tambahan
menunjukkan pH darah mereka berada diantara 7,7 - 7,8. hiperventilasi
diperlukan untuk mengatasi tekanan oksigen yang amat rendah (kira-kira 43
mmHg) ditempat setinggi itu.

D. Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran: Inquiry
Metode pembelajaran : Ceramah, tanya jawab, diskusi dan tugas

E. Kegiatan Belajar Mengajar

F. Media dan Sumber Belajar
Media : LKS, Whiteboard dan Spidol
No. Kegiatan belajar mengajar
Alokasi
Waktu
Pendidikan
karakter
1.






2.






3.




4.
Kegiatan Awal (Pendahuluan)
f. Guru mengingatkan kembali mengenai materi
sebelumnya.
g. Guru memberikan motivasi dengan menjelaskan
pentingnya materi ini untuk memahami materi
selanjutnya.
h. Guru membagi LKS
Kegiatan Inti.
d. Guru menjelaskan tentang fungsi larutan penyangga
dalam tubuh dan kehidupan sehari.
e. Guru membimbing siswa untuk menemukan fungsi lain
larutan penyangga dalam tubuh dan kehidupan sehari.
f. Guru meminta siswa untuk mempresentasikan hasil yang
diperoleh untuk didiskusikan dan ditarik kesimpulan.
Pengaplikasian Mata Pelajaran.
d. Guru memberikan latihan soal pada siswa
e. Guru memberikan waktu untuk mengerjakan latihan soal.
f. Guru dan siswa berdiskusi bersama mengenai jawaban
yang benar pada latihan soal.
Kegiatan Akhir
g. Guru dan siswa merefleksikan proses pembelajaran pada
hari itu.
h. Guru dan siswa membuat kesimpulan tentang materi
pokok yang telah dipelajari.
i. Guru memberikan tugas rumah
15’
5’

5’


5’
25’
5’
10’


10’

35’
5’
15’
15’

15’
5’

5’

5’








Gemar
membaca
Sumber Belajar :
Belajar Kimia secara Menarik untuk SMA kelas XI. Das
Salirawati, dkk. 2007. Grasindo.
Kimia Bilingual untuk SMA Kelas XI. 2007. Yrama
Widya.
Kimia untuk SMA Kelas XI. Michael Purba. 2007.
Erlangga

G. Penilaian
Aspek yang dinilai
Kognitif : Menjelaskan fungsi larutan penyangga dalam
tubuh dan dalam kehidupan sehari-hari..
Psikomotorik : Berpartisipasi aktif dalam diskusi.
Afektif : Memperhatikan penjelasan guru, jujur, kerja
keras, terbuka serta mengumpulkan tugas.

H. Evaluasi
Sebutkan komponen penyangga dalam:
19. Cairan luar sel
20. Cairan intrasel

I. Kunci jawaban
21.
Komponen penyangga cairan luar sel adalah H
2
CO
3
– HCO
3

Sistem ini bereaksi dengan asam dan basa sebaga berikut:
H
2
CO
3

(aq)
+ OH
-
(aq)
HCO
3(aq)
+ H
2
O
(l)
HCO
3
-(aq) + H
+
(aq)
H
2
CO
3(aq)

22. Komponen penyangga yang utama dalam cairan intra sel adalah pasangan
H
2
PO
4
-HPO
4
2-

Sistem ini bereaksi dengan asam dan basa sebagai berikut :
HPO
4
2-

(aq)
+ H
+
(aq)
H
2
PO
4
-
(aq)

H
2
PO
4
-
(aq)
+ OH
-
(aq)
HPO
4
2-
(aq)
+ H
2
O
(aq)





RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / Ilmu Alam/ Genap
Pertemuan : Ke-
Alokasi Waktu : 6 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapanya.

Kompetensi Dasar : 4.5 Menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis
dalam air dan pH larutan garam tersebut.
Indikator :
- Menentukan ciri-ciri beberapa jenis garam yang dapat terhidrolisis dalam
air melalui percobaan
- Menentukan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi hidrolisis
- Menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis

Tujuan Pembelajaran :
Setelah mengikuti pembelajaran siswa dapat :
1. Menuliskan cirri-ciri jenis garam yang dapat mengalami hidrolisis
2. Menjelaskan sifat garam yang terhidrolisis dari persamaan reaksi hidrolisis
3. Menuliskan reaksi hidrolisis suatu larutan garam
4. Menghitung pH larutan garam yang terhidrolisis

A. Materi Pokok : Hidrolisis Garam
o Hidrolisis garam merupakan reaksi asam lemah atau basa lemah
dari suatu garam dengan air.
o Garam yang terhidrolisis adalah garam yang terbuat dari
 asam lemah dengan basa kuat,
 basa lemah dengan asam kuat,
 asam lemah dengan basa lemah.
o Garam yang berasal dari asam lemah dengan basa kuat dan basa
lemah dengan asam kuat akan terhidrolisis sebagian.
o Garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah akan
terhidrolisis total.
o pH garam yang terhidrolisis dapat dihitung dengan rumus:
 garam dari asam kuat dan basa lemah :[H+] = .
pH = – log [H+]
 garam dari asam lemah dan basa kuat
[OH–] = .
pOH = –log[OH–]

pH = pKw – pOH

B. Model, metode, dan pendekatan Pembelajaran
1. Pendekatan Pembelajaran : Keterampilan Proses dan inkuiri
2. Metode Pembelajaran : Diskusi
3. Model Pembelajaran : Contextual teaching and Learning ( CTL ).

C. Langkah-langkah
Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
Pertemuan 1
Kegiatan
Awal



Kegiatan
Inti




Kegiatan
Akhir
a. Apersepsi : Apakah komponen
penyusun garam ?
b. Motivasi : membawa beberapa
contoh garam seperti :
garam dapur, NH4Cl,
dan CH3COONa,
menguji pH garam-
garam tersebut dengan
kertas lakmus secara
demonstrasi

a. ( Eksplorasi )
b. Menganalisis sifat larutan garam yang
mengalami hidrolisis melalui
eksperimen dalam kelompok di
laboratorium
c. ( Elaborasi)
d. Diskusi hasil eksperimen dalam
kelompoknya masing-masing Diskusi
informasi tentang reaksi hidrolisis
garam
e. ( Konfirmasi)
f. Membahas hasil diskusi kelompok
dalam diskusi kelas untuk
memperoleh kesimpulan
a. Mengerjakan latihan soal
menyelesaikan reaksi hidrolisis dan
10
menit



60
menit





20
menit

Rasa ingin
tahu



Kerja keras


Mandiri


Komunikatif




Kreatif
menentukan sifat garam
b. Mengelompokkan beberapa garam
berdasarkan sifatnya jika dilarutkan
dalam air

Pertemuan 2
Kegiatan
Awal


Kegiatan
Inti



Kegiatan
Akhir
Motivasi : Demonstrasi menentukan
pH larutan garam dengan
indikator universal.
Masalah : bagaimana cara
menentukan pH larutan garam ?

a. ( Eksplorasi dan elaborasi)
Diskusi informasi menentukan pH
larutan garam yang mengalami
hidrolisis parsial bersifat asam dan
basa.
( Konfirmasi)
b. Menarik kesimpulan dari hasil diskusi
informasi


Mengerjakan latihan soal menghitung
pH larutan garam yang mengalami
hidrolisis parsial.
Memberikan latihan soal sebagai PR
10
menit



60
menit




20
menit




Komunikatif



Mandiri


Kerja keras
Pertemuan 3
Kegiatan
Awal


Kegiatan
Inti



Kegiatan
Akhir
Masalah : bagaimana cara
menentukan pH larutan
garam yang berasal dari
asam lemah dan basa
lemah?


a. ( Eksplorasi dan elaborasi)
Diskusi informasi menentukan pH
larutan garam yang mengalami
hidrolisis total bersifat asam dan basa.
( konfirmasi)
( konfirmasi)
b. Menarik kesimpulan dari hasil diskusi
informasi

Mengerjakan latihan soal menghitung
pH larutan garam yang mengalami
hidrolisis total
5 menit



30
menit




10
menit





Komunikatif




Mandiri

Kerja keras

Memberikan latihan soal sebagai PR
Pertemuan 4
Kegiatan
Awal


Kegiatan
Inti


Kegiatan
Akhir
Masalah : Apa manfaat dan dampak
negatif garam yang
mengalami hidrolisis bagi
kehidupan

a. .( eksplorasi dan elaborasi)
Diskusi informasi kegunaan dan
bahaya dari bahan-bahan yang
mengandung garam yang terhidrolisis
( konfirmasi)
Menarik kesimpulan dari hasil diskusi
informasi

Memberikan tugas membuat artikel
dengan topik yang berhubungan dengan
hidrolisis garam.
5 menit



30
menit




10
menit



Komunikatif



Mandiri

Kerja keras

D. Sumber dan Alat Pembelajaran:
1. Buku KIMIA kelas XI Jilid 2
2. Lembar kerja siswa.
3. Alat dan bahan.



E. Penilaian
1. Aspek yang dinilai :

Kognitif
:


Psikomotor
:


Afektif
:
Menentukan pengertian garam yang terhidrolisis, ciri-
ciri beberapa jenis garam yang dapat terhidrolisis, jenis-
jenis garam yang terhidrolisis,reaksi garam yang
terhidrolisis
menggali dan mengolah informasi tentang hidrolisis
garam, menyususn alat-alat percobaan, melaksanakan
percobaan dengan benar, melakukan pengukuran
dengan teliti, mengisi lembar pengamatan dan
perhitungan.
Berpartisipasi aktif dalam diskusi, berpartisipasi aktif
dalam melakukan percobaan, melaksanakan
demonstrasi/ percobaan sesuai prosedur, disiplin dan
teliti, jujur dan terbuka, mengumpulkan laporan hasil
percobaan.

2. Jenis tagihan : Ulangan harian; ulangan blok.
3. Bentuk Instrumen : tes tertulis pilihan ganda, uraian obyektif, dan
uraian non obyektif



Soal Ulangan Harian
Hidrolisis

1. a. Diantara garam berikut manakah yang dapat mengalami hidrolisis jika
dilarutkan dalam air ?
1) (CH
3
COO)2Ca
2) KCN
3) CuSO
4

4) Na
2
SO
4

5) Na
2
s
6) AlCl
3

7) SrCl2
b. Tuliskan reaksi hidrolisnya
2. Tentukan sifat larutan garam berikut ini:
a. NaF
b. C
6
H
5
NH
3
Cl
c. AlCl
3
d. KNO
3

e. NH
4
CN, Ka= 10
-6
, Kb=10
-5

3. Hitung pH dari100 mL (CH
3
COO)
2
Ba 0.004 M?
(Ka
CH3COOH
= 2.10
-5
)
4. Hitung pH campuran berikut:
a. 100 mL NH
4
OH 0.4 m + 400 mL HCl 0.1 M(Kb
NH4OH
=2.10
-5
)
b. 250 mL CH
3
COOH 0.1 M + 125 mL Ca(OH)
2
0.1 M (Ka
CH3COOH
=
2.10
-5
)
5. Hitung masa NH
4
NO
3
(Mr = 80) yang terlarut dalam 250 mL larutan
tersebut jika pH = 5.5,
Kb NH
4
OH = 2.10
-5
!

Pedoman Penskoran

NO Uraian Jawaban Skor
1. a. Yang mengalami hidrolisis
1) (CH
3
COO)2Ca
2) KCN
3) CuSO
4

4) Na
2
s
5) AlCl
3

b.Reaksi hidrolisis
1) (CH3COO)2Ca(aq) + H2O(l) ⇌ CH3COOH(aq) +
Ca
2+
(aq) + OH
-
(aq)
5








NO Uraian Jawaban Skor
2) KCN(aq) + H2O(l) ⇌ HCN(aq) + K +(aq) + OH –(aq)
3) CuSO4 (aq) + H2O(l) ⇌ Cu(OH)2 (aq) + H+(aq) + SO4
2-(aq)
4) Na2S (aq) + H2O(aq) ⇌ H2S(aq) + Na+(aq) + OH –(aq)
5) AlCl3(aq) + H2O(l) ⇌ Al(OH)3 (aq) + H+(aq) + Cl –(aq)


5
2. a. basa
b. asam
c. asam
d. netral
e. basa
5
3.
[OH-] =

10
−14
2.10
−5
. 8. 10
−3
= 2 . 10
-6
, pOH = 6 – log 2, pH = 8 +
log 2
5
4
[H+] =

10
−14
2.10
−5
. 8. 10
−2
= 2. 10
-5,5
, pH = 5,5 – log 2
5
5.
10
-5,5
=

10
−14
2.10
−5
M NH4
+
, M NH4+ =
2.10
−16
10
−14
= 0,02 M,
1
massa NH4NO3 = 5. 10
-3
x 80 = 0,4 gram .
5


Nilai =( jumlah skor x 10)/3
Pedoman penilaian psikomotor dan afektif



No Nama Aspek yang dinilai Afektif/sikap
selama
mengikuti
pembelajaran
(4)
Menggunakan
pipet (1)
Ketepatan
membaca
skala pH(2)
Kerjasama
(3)
1 .......
2 ....

Catt :
Untuk aspek 1 dan 2:
1. Skor 90 -100 tepat
2. Skor 75 – 89 kurang tepat

Untuk Aspek 3 :
1.Skor 86 – 95 : amat baik
2. Skor 75 – 85 : baik

Untuk Afektif ;
86 – 95 : A
75 – 85 : B






LKS : Hidrolisis/XI-2/2010

Menentukan garam yang terhidrolisis

Tujuan : Menyelidiki sifat garam

Alat :
- beker gelas - pelat tetes
- indikator universal - pipet tetes

Bahan :
- larutan NaCl - larutan Na2CO3
- larutan KCl - larutan CH3COONa
- larutan (NH4)2SO4
- larutan NH4Cl



Cara kerja
1. Teteskan 1 mL larutan NaCl dalam pelat tetes
2. Ukur pH larutan dengan indikator universal
Catat hasilnya dalam tabel pengamatan.
3. Ulangi langkah (1) dan (2) untuk larutan garam lainnya.


Hasil pengamatan
Buat dan lengkapi tabel di bawah ini pada buku kerja kalian.



Garam
Komponen Penyusun
pH Sifat
Asam Basa
NaCl
KCl
(NH4)2SO4
NH4Cl
Na2CO3
CH3COONa

Evaluasi dan kesimpulan

Kerjakan di buku kerja kalian.
1. Tentukan
a. komponen penyusun masing-masing larutan,
b. sifat larutan.
2. Manakah garam yang mengalami hidrolisis? Jelaskan.
3. Buat kesimpulan dari kegiatan kalian dan diskusikan dengan teman kalian

Mengetahui Semarang, Agustus 2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Kimia




Drs. Waino S. S.Pd, M.Pd
NIP 19550701 198703 1 003
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / IPA/ Genap
Pertemuan : Ke-
Alokasi Waktu : 2 x 45 ’

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapanya.
Kompetensi Dasar : 4.5 menggunakan kurva perubahan harga pH pada titrasi
asam basa untuk menjelaskan larutan penyangga dan
hidrolisis
Indikator : Menganalisis grafik hasil titrasi asam kuat dan basa
kuat, asam lemah dan basa kuat, asam kuat dan basa
lemah untuk menjelaskan larutan penyangga dan
hidrolisis
A. Materi Pokok : Grafik Titrasi asam dan basa

B. Model, metode, dan pendekatan Pembelajaran
1. model Pembelajaran : Pembelajaran Kooperatif
2. metode Pembelajaran : Diskusi dan tanya Jawab
3. Pendekatan : Konsep
C. Langkah-langkah

Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
Pertemuan 1
Kegiatan
Awal


Kegiatan
Inti






Kegiatan
Akhir
a. Apersepsi : sifat larutan
penyangga dan hidrolisis
b. Motivasi : bagaimana
perubahan pH larutan asam cuka
0,1M jika ditambahkan larutan
NaOH 0,1 M ?

a. .( eksplorasi)
b. Setiap kelompok mendapatkan foto
kopi belajar alternatif tentang
grafik Titrasi Asam basaGuru
menjelaskan beberapa jenis grafik
titrasi antara asam kuat dengan basa
kuat, asam kuat dengan basa lemah,
asam lemah dengan basa kuat, dan
grafik larutan penyangga.
c. ( elaborasi)
Sambil berdiskusi, siswa mengisi
10
menit



60
menit







20
menit
Rasa ingin
tahu



Kerja keras




Komunikatif



Mandiri
Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
kegiatan belajar alternatif Setelah
selesai diskusi, .
(konfirmasi)
d. salah satu kelompok
mempresentasikan hasil
diskusinya di depan kelas sekaligus
menyimpulkanya
Latihan soal



D. Sumber dan Alat Pembelajaran:
1. Buku KIMIA kelas XI Jilid 2
2. Lembar kerja siswa, alat dan bahan


E. Penilaian
1. Aspek yang dinilai :
Kognitif
:



Afektif
:
Menganalisis grafik hasil titrasi asam kuat dan basa kuat,
asam lemah dan basa kuat, asam kuat dan basa lemah
untuk menjelaskan larutan penyangga dan hidrolisis,
menganalisis grafik hasil titrasi asam kuat dan basa kuat,
asam lemah dan basa kuat, asam kuat dan basa lemah
untuk menjelaskan larutan penyangga dan hidrolisis
Berpartisipasi aktif dalam diskusi, berpartisipasi aktif
dalam melakukan percobaan, melakasanakan
demonstrasi/ percobaan sesuai prosedur, disiplin
dan teliti, jujur dan terbuka, mengumpulkan laporan hasil
percobaan.
2. Jenis tagihan : Ulangan harian; ulangan blok.
3. Bentuk Instrumen : pilihan ganda, uraian obyektif, dan uraian non
obyektif



Soal Ulangan Harian
1. Pada titrasi 50 mL CH3COOH 0,1 M Ka = 1 . 10
-5
dengan NaOH 0,1
M. Tentukan nilai pH larutan setelah penambahan NaOH mencapai :
a. 0 mL
b. 25 mL
c. 50 mL
d. 75 mL
Buatlah grafik perubahan pH tersebut terhadap volume NaOH

2. Pada titrasi 40 mL NH3 0,1 M Kb = 1 . 10 -5 dengan HCl 0,1 M.
Tentukan nilai pH larutan setelah penambahan HCl mencapai:
a. 0 mL
b. 20 mL
c. 40 mL
d. 60 mL
e. Buatlah grafik perubahan pH tersebut terhadap volume HCl


Pedoman penskoran

NO Uraian Jawaban Skor
1.
a. CH3COOH(aq), [H+] =

0,1. 10
−5
= 10
-3
, pH =3
b. CH3COOH(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq) +
H2O(l)
m : 5 mmol 2,5 mmol -
-
r : -2,5 mmol -2,5 mmol +2,5 mmol +
2,5 mmol

ak : 2,5 mmol - 2,5 mmol
2,5 mmol

buffer asam, [H+] = 10
-5
.
2.5
2.5
= 10
-5
, pH = 5

c. CH3COOH(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq) +
H2O(l)
m : 5 mmol 5 mmol - -
r : -5 mmol -5 mmol +5 mmol + 5
mmol

ak : 0 mmol 0 mmol 5 mmol
5 mmol

hidrolisis basa, [OH-] =

10
−14
10
−5
. 0,05 = 7,1 x 10
-6
, pOH =
6-log 7,1
pH = 8 + log 7,1

d.CH3COOH(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq) +
H2O(l)
m : 5 mmol 7, 5 mmol -
-
r : -5 mmol -5 mmol +5 mmol + 5
3
6








7









5







4
NO Uraian Jawaban Skor
mmol

ak : 0 mmol 2,5mmol 5 mmol
5 mmol

[OH-] = 2,5/125 = 0,02 M, pOH = 2 –log 2, pH = 12 +
log 2

e. grafik
2.
a. NH3, [OH] =

0,1. 10
−5
= 0,001, pOH=3, pH = 11

b.NH3(aq) + HCl (aq)  NH4Cl (aq)
4 mmol 2 mmol -
-2 mmol -2 mmol +2 mmol

2 mmol 0 mmol 2 mmol

Buffer basa, [OH-] = 10
-5
x (2/2) = 10
-5
, pOH =5, pH = 9

c. NH3(aq) + HCl (aq)  NH4Cl (aq)
4 mmol 4 mmol -
-4 mmol -4 mmol +4 mmol

0 mmol 0 mmol 4 mmol
Hidrolisis asam, [H+] =

10
−14
10
−5
x 0,05 = 7,1 x 10 -6

pH= 6-log 7,1

d. NH3(aq) + HCl (aq)  NH4Cl (aq)
4 mmol 6 mmol -
-4 mmol -4 mmol +4 mmol

0 mmol 2 mmol 4 mmol

[H+] = 2/100 =0,02 M, pH = 2 – log 2
e. Grafik
3

7







6









5






4

Nilai = Jumlah skor x 2

Mengetahui Semarang, Agustus
2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Kimia




Drs. Waino S. S.Pd, M.Pd
NIP 19550701 198703 1 003


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / IPA/ 2
Pertemuan : 1,2 dan 3
Alokasi Waktu : 6 x 45’
Tahun ajaran : 2010/2011

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan terapannya
Kompetensi Dasar : 4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi
berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan

Indikator :
1. Menjelaskan kesetimbangan dalam larutan jenuh atau larutan garam uang
sukar larut
2. Menghubungkan tetapan hasil kali kelarutan dengan tingkat kelarutan atau
pengendapan
3. Menuliskan ungkapan berbagai Ksp elektrolit yang sukar larut
4. Menghitung kelarutan suatu elektrolit yang sukar larut berdasarkan data
harga Ksp atau sebaliknya

A. Materi Pokok :
- Hasil kali kelarutan (Ksp)
Pada suatu larutan elektrolit, zat-zat yang terlarut akan terionisasi dan
menghasilkan kation dan anion. Jika keadaan sudah lewat jenuh, akan
terdapat padatan yang tidak larut. Antara ion-ion yang dihasilkan dan
padatan yang tidak larut, terjadi kesetimbangan heterogen.
Perhatikan reaksi berikut:
AgCl(s) ↔ Ag
+
(aq) + Cl
-
(aq)
Tetapan kesetimbangan yang berlaku untuk ion-ion larutan elektrolit
disebut tetapan hasil kali kelarutan atau Ksp. Jadi Ksp AgCl = [Ag
+
][Cl
-
]

B. Model, metode, dan pendekatan Pembelajaran
1. Model Pembelajaran : Cooperative learning (CL)
2. Metode Pembelajaran : Ceramah dan Diskusi informasi
3. Pendekatan : Ketrampilan proses, CTL







C. Langkah-langkah

Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
Pertemuan I
-Keg. awal


-Keg. inti





-Penutup



1. Sebelum mulai proses pembelajaran, guru
bertanya tentang: (a) kelarutan garam dapur,
(b) reaksi ionisasi zat elektrolit, (c) konsep
reaksi kesetimbangan
2. Melalui diskusi informasi, guru menjelaskan
kesetimbangan dalam larutan jenuh atau
larutan garam yang sukar larut
3. Siswa berlatih menuliskan reaksi
kesetimbangan untuk garam-garam yang sukar
larut
4. Siswa secara bergiliran menuliskan hasil
kerjanya di depan untuk dibahas bersama
5. Sebelum menutup proses pembelajaran, guru
menugaskan siswa untuk mengerjakan Uji
Pemahaman dalam buku kimia

10’


75’





5’



Rasa ingin
tahu





Kerja
keras

Mandiri
Pertemuan
II
-Keg. awal
-Keg. inti







-Penutup

1. Guru bertanya tentang persamaan reaksi
kesetimbangan dalam larutan
2. Melalui diskusi informasi, guru menjelaskan
hubungan tetapan hasil kali kelarutan
dengan tingkat kelarutan atau pengendapan
3. Siswa berlatih menuliskan hubungan Ksp
dengan kelarutan suatu zat
4. Siswa secara bergiliran menuliskan hasil
kerjanya di depan untuk dibahas bersama
5. Sebelum menutup proses pembelajaran,
guru menugaskan siswa untuk mengerjakan
Uji Pemahaman dalam buku kimia


10’
75’




5’

Rasa ingin
tahu



Kreatif

Mandiri


Pertemuan
III
-Keg. awal
-Keg. inti

1. Guru bertanya tentang hubungan Ksp
dengan kelarutan
2. Melalui diskusi informasi, guru menjelaskan

10’
75’


Gemar
membaca









-Penutup
cara menghitung kelarutan suatu elektrolit
yang sukar larut berdasarkan data harga Ksp
atau sebaliknya
3. Dengan bimbingan guru, siswa melakukan
diskusi kelompok tentang pembahasan soal-
soal yang terdapat dalam buku pegangan
siswa
4. Setelah diskusi selesai, secara bergiliran
perwakilan setiap kelompok mengerjakan
soal di depan untuk dibahas bersama.
5. Sebelum menutup proses pembelajaran,
guru menugaskan siswa untuk mengerjakan
Uji Pemahaman dalam buku kimia





5’




Kerja
keras



Mandiri





D. Sumber dan Alat Pembelajaran:
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD
b. Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester 2, Penerbit Erlangga, Michael
Purba.
c. Kimia Untuk SMU Kelas XI, Penerbit Grafindo, Nana Sutresna.

E. Penilaian
1. Aspek yang dinilai:
Kognitif : Menjelaskan pengertian kelarutan dan hasil kali
kelarutan; menjelaskan kesetimbangan dalam larutan
jenuh atau larutan garam uang sukar larut; menuliskan
reaksi kesetimbangan ion-ion dalam larutan jenuh;
menuliskan berbagai rumus Ksp dari berbagai larutan
yang sukar larut
Psikomotor : Menggali dan mengolah informasi tentang kelarutan
dan hasil kali kelarutan; mengkomunikasikan hasil
diskusi
Afektif : berpartisipasi aktif dalam diskusi; memperhatikan
penjelasan guru; disiplin dan kerja keras; jujur dan
terbuka; mengungkapan hasil diskusi
2. Jenis tagihan : Ulangan harian
3. Bentuk Instrumen : Uraian

F. Evaluasi:
1. Tulislah rumusan Ksp garam-garam berikut ini:
a. AgBr
b. Ag
2
CO
3

c. PbI
2

d. Ba
3
(PO
4
)
2

2. Pada suhu tertentu, kelarutan Ca(OH)
2
adalah 0,074 gram dalam 100 mL
larutan. Tentukan Ksp Ca(OH)
2
! (Mr Ca(OH)
2
= 74)
3. Diketahui Ksp Ag
2
CrO
4
pada suhu 25
o
C adalah 3,2 x 10
-11
. Tentukan
kelarutan Ag
2
CrO
4
dalam air dan konsentrasi Ag
+
dalam keadaan jenuh!

G. Kunci:
1. Rumusan Ksp:
a. AgBr(s) ↔ Ag+(aq) + Br-(aq)
Ksp = [Ag+][Cl-] ...................(1)

b. Ag2CO3(s) ↔ 2Ag+(aq) + CO32-(aq)
Ksp = [Ag+]2[CO32-] ...................(1)
c. PbI2(s) ↔ Pb2+(aq) + 2I-(aq)
Ksp = [Pb2+][I-]2 ...................(1)
d. Ba
3
(PO
4
)
2
(s) ↔ 3Ba2+(aq) + 2PO43-(aq)
Ksp = [Ba2+]3[PO43-]2 ……………(1)

2. n = 0,074 : 74 = 0,001mol s = 0,001 : 0,1 = 0,01 mol L
-1

Ksp Ca(OH)2 = 4s
3
Ksp = 4 x (0,01)
3
Ksp = 4 x 10
-6
……(3)

3. Ksp Ag2CrO4 = 3,2 x 10-11 s = 2 x 10
-4
mol L
-1

Ag2CrO4(s) ↔ 2Ag+(aq) + CrO42-(aq)
s 2s s
Konsentrasi Ag+ = 2s = 4 x 10
-4
mol L
-1

……………(3)
Jumlah = 10



Mengetahui, Semarang,12 Agustus 2010
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA NEGERI 5 SEMARANG
Mata Pelajaran : K I M I A
Kelas/Prog/Semester : XI / IPA/ 2
Pertemuan : Ke-
Alokasi Waktu : 6 x 45’
Tahun ajaran : 2010/2011

Standar Kompetensi : 4. Memahami sifat-sifat larutan asam basa, metode
pengukuran dan teraapanya.
Kompetensi Dasar : 4.6 Memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi
berdasarkan prinsip kelarutan dan hasil kali kelarutan
Indikator : - Menjelaskan pengaruh penambahan ion senama terhadap
kelarutan
- Menentukan pH larutan dari harga Ksp-nya
- Memperkirakan terbentuknya endapan berdasarkan harga Ksp

A. Materi Pokok : Hubungan pH dengan Ksp
B. Model, metode, dan pendekatan Pembelajaran
1. Model Pembelajaran : Pembelajaran Interaktif
2. Metode Pembelajaran : Diskusi dan tanya jawab
3. Pendekatan : contextual teaching and Learning ( CTL ).
C. Langkah-langkah
Tahapan Kegiatan belajar Mengajar Waktu Pendidikan
karakter
Pertemuan I
-Keg. awal

-Keg. inti








-Penutup

1. Sebelum memulai proses pembelajaran,
guru bertanya kepada siswa tentang
kelarutan dan hasil kali kelarutan
2. Melalui diskusi informasi, guru
menjelaskan tentang pengaruh ion
senama terhadap kelarutan zat yang
sukar larut
3. Dengan bimbingan guru, siswa
melakukan diskusi kelompok untuk
membahas soal-soal tentang pengaruh
ion senama
4. Setelah diskusi selesai, secara bergiliran
perwakilan setiap kelompok
mengerjakan soal di depan untuk
dibahas bersama.
5. Sebelum menutup proses pembelajaran,
guru menugaskan siswa untuk
mengerjakan Uji Pemahaman dalam
buku kimia

10’


75’




5’



Rasa ingin
tahu





Mandiri



Kerja
keras
Pertemuan
II
-Keg. awal

-Keg.inti








-Penutup

1. Sebelum memulai proses pembelajaran,
guru bertanya kepada siswa tentang
pengaruh ion senama terhadap kelarutan
zat yang sukar larut
2. Melalui diskusi informasi, guru
menjelaskan cara menentukan pH
berdasarkan harga Ksp
3. Dengan bimbingan guru, siswa
melakukan diskusi kelompok untuk
membahas soal-soal tentang cara
menentukan pH berdasarkan harga Ksp
4. Setelah diskusi selesai, secara bergiliran
perwakilan setiap kelompok
mengerjakan soal di depan untuk
dibahas bersama.
5. Sebelum menutup proses pembelajaran,
guru menugaskan siswa untuk
mengerjakan Uji Pemahaman dalam
buku kimia


10’

75’






5’

Rasa ingin
tahu





Mandiri


Kerja
keras
Pertemuan
III
-Keg.awal


-Keg. inti












-Penutup

1. Sebelum memulai proses pembelajaran,
guru bertanya kepada siswa tentang cara
menentukan pH berdasarkan harga Ksp
2. Melalui diskusi informasi, guru
menjelaskan cara memperkirakan
terbentuknya endapan berdasarkan
harga Ksp
3. Melalui diskusi informasi, guru
menjelaskan cara menentukan harga
kelarutan atau Ksp dari suatu garam
yang sukar larut jika konsentrasi garam
diketahui.
4. Dengan bimbingan guru, siswa
melakukan diskusi kelompok untuk
membahas soal-soal tentang perkiraan
pengendapan
5. Setelah diskusi selesai, secara bergiliran
perwakilam setiap kelompok
mengerjakan soal di depan untuk
dibahas bersama.
6. Sebelum menutup proses pembelajaran,
guru menugaskan siswa untuk
mengerjakan Uji Pemahaman dalam
buku kimia

10’

75’








5’

Rasa ingin
tahu










Mandiri



Kerja
keras

D. Sumber dan Alat Pembelajaran:
1. Bahan ajar: www.psb-psma.org
2. Bahan uji : www.psb-psma.org
3. Pusat perbukuan : buku elektronik Kimia Jilid XI
4. Penunjang:
a.Buku paket kelas XI yang relevan
b.Tabel periodik unsur
c. proyektor / LCD
e. Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester 2, Penerbit Erlangga, Michael
Purba.
f. Kimia Untuk SMU Kelas XI, Penerbit Grafindo, Nana Sutresna.

E. Penilaian
1. Aspek yang dinilai :
Kognitif :



Psikomotor
:

Afektif :
Menentukan harga kelarutan suatu garam yang sukar larut
jika Kspnya di ketahui, menentukan harga Ksp suatu garam
yang sukar larut jika kelarutan gram tersebut diketahui,
menjelaskan hubungan pH larutan dengan harga Ksp.
Menggali dan mengolah informasi tentang Cara menentukan
larutan dari data Ksp atau sebaliknya, mengkomunikasikan
hasil diskusi.
Berpartisipasi aktif dalam diskusi; memperhatikan penjelasan
guru; disiplin dan kerja keras; jujur dan terbuka;
mengungkapan hasil diskusi
2. Jenis tagihan : Ulangan harian
3. Bentuk Instrumen : Uraian

F. Evaluasi:
1. Jika Ksp Mg(OH)2 = 4 x 10
-12
, tentukan kelarutan Mg(OH)
2
dalam larutan
NaOH 0,1M !
2. Larutan jenuh senyawa hidroksida dari suatu logam, M(OH)
3
mempunyai
pH = 9. Tentukan harga Ksp (hasil kali kelarutan) dari senyawa ini!
3. Dalam 1000 mL larutan terdapat campuran garam-garam Ba(NO
3
)
2
,
Sr(NO
3
)
2
, dan Pb(NO
3
)
2
yang masing-masing konsentrasinya 0,01 M. Jika
ditambahkan 81 miligram Na
2
CrO
4
(Mr. Na
2
CrO
4
= 162), tentukan garam
yang mengendap ! (Ksp BaCrO
4
= 2 x 10
-10
, Ksp SrCrO
4
=
3,6 x 10
-5
, Ksp PbCrO
4
= 1,8 x 10
-14
)


Mengetahui, Semarang,12 Agustus 2010
Kepala Sekolah, Koord mapel kimia



DRS. WAINO S. S.Pd,M.Pd Drs. Eko Nuryanto
NIP 195507011987031003 NIP 196112271987031007












































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SATUAN PENDIDIKAN : SMA Negeri 5 semarang
KELAS/PROG/SEMESTER : XI/Ilmu alam/Genap
PERTEMUAN KE : Ke-
ALOKASI WAKTU : 2 X 45’

Standar Kompetensi : 5. Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi dasar : 5.1 Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari
INDIKATOR :
 Mendeskripsikan peranan koloid di industri kosmetik, makanan, dan farmasi
A. Materi Pokok : Sifat-sifat koloid
Koloid merupakan sistem yang memiliki ukuran partikel
antara 10
–7
-10
–5
cm.
Secara garis besar koloid dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
a. sol, koloid dengan fase terdispersi padat,
b. emulsi, koloid dengan fase terdispersi cair,
c. buih, koloid dengan fase terdispersi gas.
Beberapa sifat karakteristik koloid yaitu :
a. efek Tyndall, penfhhamburan cahaya,
b. gerak Brown, gerak liku-liku,
c. adsorpsi, proses penyerapan pada permukaan,
d. muatan koloid dan elektroforosis,
e. koagulasi,
f. koloid pelindung.
Koloid dapat dibuat dengan cara kondensasi dan dispersi.
Manfaat koloid dalam kehidupan adalah untuk
a. deterjen,
b. penjernihan air, dan
c. pengumpalan darah.
B. Model, metode, dan pendekatan pembelajaran:
1. Model : Kontruktivisme dan Inkuiri
2. Metode : Eksperimen, Diskusi
3. Pendekatan : CTL
C. Langkah – langkah
Tahapan Kegiatan Belajar Mengajar Waktu
Pendahuluan

1. Sebagai penguatan, guru mengulas materi
yang dibahas pada pertemuan sebelumnya.
5’

 Mengklasifikasikan suspensi kasar, larutan sejati dan koloid berdasarkan
data hasil pengamatan (effek Tyndall, homogen/heterogen, dan penyaringan)
 Mengelompokkan jenis koloid berdasarkan fase terdispersi dan fase
pendispersi
 Mendeskripsikan sifat-sifat koloid (effek Tyndall, gerak Brown, dialisis,
elektroforesis, emulsi, koagulasi, koloid liofob dan liofil)
Persiapan



Kegiatan Inti






Penutup
2. Menyampaikan pengalaman belajar yang
diperoleh siswa dan bertanya tentang: (a)
jenis-jenis campuran yang diketahui siswa;
(b) perbedaan dari jenis-jenis campuran;
(c) komponen penyusun larutan.
3. Siswa dikelompokkan dalam kelompok
kecil.
4. Eksplorsi, Dengan arahan guru, beberapa
siswa mendiskusikan cara sistem dispersi
yang berlaku untuk sistem koloid
5. Elaborasi, Setelah tanya jawab selesai,
siswa mendiskusikan soal-soal dalam
kegiatan belajar
6. Guru menegaskan kembali jenis-jenis
koloid berdasarkan fase terdispersi dan
medium pendispersi
7. Kofirmasi, Sebelum menutup proses
pembelajaran, guru meminta siswa untuk
mengumpulkan hasil diskusi kelompoknya.
Kemudian guru menugasi siswa untuk
mengerjakan uji pemahaman 9.1 dalam
buku Kimia.




70’




5’

5’




D. Sumber Belajar : Buku Penunjang Kimia Kelas XI , LKS

E. Penilaian
1. Aspek yang dinilai adalah sebagai berikut:
Kognitif
:


Psikomotor
:

Afektif
:
Menjeklaskan pengertian sistem dispersi, membedakan
antara larutan , koloid, dan suspensi, mengelompokan
campuran ke dalam larutan, koloid, dan susspensi,
mengelompokkan jenis-jenis koloid.
Menggali dan mengolah informasi tentang sistem dispersi
dan pengelompokkan jenis-jenis koloid
Berperan aktif dalam diskusi dan ikut serta dalam
menyimpulkan hasil pemecahan
masalah.

2. Jenis tagihan : Ulangan harian, ulangan blok, dan laporan hasil
percobaan
3. Bentuk instrumen : Pilihan ganda, uraian obyektif, dan uraian non obyektif


Mengetahui Semarang, Agustus
2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
Kimia




Drs. Waino S. S.Pd, M.Pd
NIP 19550701 198703 1 003
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Prog/Semester : XI/ IPA/ genap
Pertemuan : Ke-
Alokasi Waktu : 4 x 45’

Standar Kompetensi : 5. Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Dasar : 5.2 Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya
dalam kehidupan sehari
Indikator :
1.Menyebutkan sifat-sifat khusus yang dimiliki sistem koloid
2.Mengamati dsan menjelaskan hasil pengamatan tentang efek tyndal dan
gerak brown
3.Memperagakan proses penjernihan air dengan cara menambahkan koagulan
4.Menjelaskan koloid liofil dan liofob serta perbedaan sifat keduanya dengan
contoh yang ada dilingkungan

A. Materi Pokok : Sifat-sifat Koloid
B. Model, metode, Pendekatan:
1. Model : Kontruktivisme
2. Metode : Eksperimen
3. Pendekatan : Ketrampilan proses

C. Langkah-Langkah:
Tahapan Kegiatan Belajar Mengajar waktu Pendidikan
karakter
Pendahuluan

Persiapan






Pelaksanaan







1. Sebelum memulai pembelajaran,
guru bertanya kepada siswa
tentang hal-hal: (a) sistem
dispersi; (b) Jenis-jenis koloid;
(c) mengetahui sifat koloid
2. Siswa dikelompokkan dan
diberi foto kopi Kegiatan Belajar
alternatif 9.2 tentang sifat-sifat
koloid
3. Dengan dipandu guru, setiap
kelompok memeriksa alat dan
bahan-bahan percobaan
4. Eksplorasi, Guru menegaskan
kepada siswa agar berhati-hati
dalam melaksanakan percobaan,
terutam yang berhubungan
dengan zat-zat yang berbahaya
5’

5’






70’







Rasa ingin
tahu



Komunikatif











Penutup

dan alat-alat yang mudah pecah
5. Elaborasi, Dengan bimbingan
guru, siswa melakukan
percobaan sambil mengisi data
pengamatan
6. Setelah percobaan selesai, guru
memandu siswa melaksanakan
diskusi kelas
7. Salah satu kelompok
mempresentasikan hasil
percobaannya, sekaligus
menyimpulkannya
8. Guru memperagakan cara
menjernihkan air dengan
menggunakan koagulan dan
siswa mengamatinya
9. Konfirmasi, siswa
menyimpulkan hasil pengamatan
dari pergaan tersebut
10. Sebelum menutup proses
pembelajaran, guru memberi
tugas pada siswa agar membuat
laporan hasil percobaan dan
diskusi
10’
Kerja keras






Mandiri







Mandiri

D. Sumber dan Alat Pembelajaran
1. Buku Kimia SMA kelas XI jilid 2B Gravindo, LKS
2. Alat dan bahan percobaan : Gelas kimia, pembakar spiritus, larutan HCl,
FeCl
3
, dan serbuk As
2
O
3

3. Lingkungan

E. Penilaian :
1. Aspek yang dinilai :
Kognitif
:


Psikomotor
:


Afektif
:
Menyebutkan sifat-sifat khusus yang dimiliki sistem koloid;
efek tyndal dan gerak brown; memperagakan proses
penjernihan air dengan cara menambahkan koagulan; koloid
liofil dan liofob serta perbedaan sifat keduanya dengan contoh
yang ada dilingkungan
Menyususun alat-alat percobaan,; cara menggunakan alat-alat
percobaan dengan benar; melakukan pengamatan dengan teliti;
mengisi lembar,pengamatan dan menjawab pertanyaan-
pertanyaan; mengkomunikasikan hasil percobaan
: Berperan aktif dalam percobaan; melaksanakan sesuai
prosedur; disiplin dan teliti; jujur dan terbuka; menghargai
pendapat orang lain; mengumpulkan laporan hasil percobaan

2. Jenis tagihan : Ulangan harian, ulangan blok, dan laporan hasil percobaan
3. Bentuk instrumen: Pilihan ganda, uraian obyektif, dan uraian non obyektif




Mengetahui Semarang, Agustus 2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Kimia




Drs. Waino S. S.Pd, M.Pd
NIP 19550701 198703 1 003
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan : SMA Negeri 5 Semarang
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Prog/Semester : XI/ ilmu alam/ genap
Pertemuan : ke-
Alokasi Waktu : 4 x 45’

Standar Kompetensi : 5. Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Dasar : 5.2 Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya
dalam kehidupan sehari
Indikator : * Menjelaskan Penggunaan sistem koloid di industri
kosmetik, makanan, dan farmasi
* Mengidentifikasi jenis koloid yang mencenari
lingkungan

A. Materi Pokok : Sifat-sifat Koloid
B. Model, Metode, Pendekatan Pembelajaran
1. Model : Pembelajar Langsung
2. Metode : Studi litertur, pemberian tugas
3. Pendekatan : Lingkungan
C. Langkah-Langkah:
Tahapan Kegiatan Belajar Mengajar waktu Pendidikan
karakter
Pendahuluan


Persiapan


Pelaksanaan






Penutup

1. Sebelum memulai pembelajaran,
guru bertanya kepada siswa
tentang hal-hal: (a) pembuatan
koloid; (b) contoh-contoh koloid
Jenis-jenis koloid; (c) mengetahui
sifat koloid
2. Siswa duduk dalam kelompoknya
masing-masing
3. Eksplorasi, setiap kelompok
mendapatkan literatur mengenai
studi literatur Pengunaan dan
Pencemaran sistem koloid
4. Elaborasi, Guru menugasi siswa
untuk melakukan studi literatur
(koran, majalah, dan media
elektronik) diperpustakaan untuk
mencari informasi mengenai
kegunaankoloid di industri dan
kehidupan sehari-hari, serta
pencemaran lingkunganyang
disebabkan partikel koloid.
5’

5’



70’






10’
Rasa ingin
tahu
Gemar
membaca








Kerja
keras
Gemar
membaca





5. Guru menugaskan setiap
kelompok untuk membuat laporan
hasil studi literatur di
perpustakaan, kemudian
dipresentasikan di depan kelas
secara bergiliran pada pertemuan
berikutnya.
6. Konfirmasi, Setelah dari
perpustakaan, guru mengevaluasi
sekaligus menegaskan kepada
siswa agar mempersiapkan hasil
laporannya untuk dipresentasikan
Mandiri





D. Sumber dan Alat Pembelajaran
1. Buku Kimia SMA kelas XI jilid 2B Gravindo, LKS
2. Lingkungan


E. Penilaian :
a. Aspek yang dinilai :
Kognitif :


Psikomotor :

Afektif :
Menjelaskan kenggunaan koloid di industri dan
kehidupan sehari; memberikan contoh-contoh partikel
koloid; yang berguna dalam industri dan kehidupan
sehari-hari; menjelaskan terjadinya pencemaran
lingkungan.
Menggali dan mengolah informasi tentang kegunaan
dan pencemaran koloid; mengkomunikasikan hasil studi
literatur di perpustakaan.
Berperan aktif dalam diskusi; mengumpulkan hasil
kerja diskusi; disiplin dan teliti; jujur dan terbuka;
menghargai pendapat orang lain; mengumpulkan
laporan hasil percobaan
b. Jenis tagihan : Ulangan harian, ulangan blok, dan laporan hasil
percobaan
c. Bentuk instrumen: Pilihan ganda, uraian obyektif, dan uraian non
obyektif

Mengetahui Semarang, Agustus
2011
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Kimia




Drs. Waino S. S.Pd, M.Pd
NIP 19550701 198703 1 003
Kurang Kd 4.1, 4.2

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful