Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Vertigo

Oleh :

Komang Arya Oktaviantara 1002105079

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 2011

toksik. Adanya penyakit vertigo menandakan adanya gangguan system deteksi seseorang. unstable). keganasan. (Anonim. Bisa berupa trauma. atau autoimun. otot bola mata]. otot). dan somatokinetik [kulit. otonomik (pucat. Etiologi Vertigo berbeda dengan dizziness. 2006. misalnya dapat membuat kita sulit untuk melangkah karena rasa berputar yang mempengaruhi keseimbangan tubuh. metabolik. Definisi pengertian Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar.Motion sickness (mabuk darat.A. mual. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya. muntah) dan pusing 2. Konsep Dasar Penyakit 1.Gentamisin 3) Kelainan sirkulasi Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler . Sedangkan vertigo bisa lebih berat dari itu. vaskular. terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja. dapat disertai gejala lain.Alkohol . Penyebab umum dari vertigo: 1) . melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus. Diagnosis dan Tatalaksana Kedaruratan Vertigo) Asal terjadinya vertigo dikarenakan adanya gangguan pada sistem keseimbangan tubuh. suatu pengalaman yang mungkin pernah kita rasakan. Sistem keseimbangan tubuh kita dibagi menjadi 2 yaitu sistem vestibular (pusat dan perifer) serta non vestibular (visual [retina. yaitu kepala terasa ringan saat akan berdiri. mabuk laut) 2) Obat-obatan . sendi. infeksi.Keadaan lingkungan . peluh dingin.

Peradangan saraf vestibuler .Tumor otak . Tetapi suatu ketika nanti serangan tersebut muncul lagi. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok penyakit :    Vertigo yang paroksismal Vertigo yang kronis Vertigo yang serangannya mendadak/akut.Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri Herpes zoster . Di antara serangan-serangan itu penderita sama sekali bebas dari keluhan vertigo.Sklerosis multipel .Penyakit Meniere 5) Kelainan neurologis . persarafannya atau keduanya . berlangsung selama beberapa menit atau hari.Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo) . kemudian menghilang sempurna. berangsur-angsur mengurang Masing-masing kelompok tersebut dibagi lagi menurut gejala penyertanya menjadi 3 (tiga) kelompok :  Vertigo yang Paroksismal Yaitu vertigo yang datang serangannya mendadak.Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga) . yaitu : 1. Vertigo jenis ini dapat dibedakan lagi atas segala penyertanya.4) Kelainan di telinga . Termasuk di dalam kelompok ini ialah : .Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin.Tumor yang menekan saraf vestibularis. Berdasarkan gejalanya yang menonjol/klinis. Yang disertai dengan keluhan telinga : Kelompok penyakit ini memiliki kumpulan gejala/sindroma yang sama yang disebut sindrom Meniere.

Intoksikasi obat-obatan. Ekuivalen migren.Vertigo posisional paroksismal benign  Vertigo Kromis Yaitu vertigo yang menetap lama. Herpes zoster otikus.Vertigo posisional paroksismal yang laten . Lues serebri. Lesi labirin akibat bahan ototoksik. 2. Vertigo akibat lesi lambung. Ensefalitis pontis. Tumor serebelopontis. tetapi penderita tidak pernah bebas sama sekali dari keluhan. 2. Yang tanpa disertai keluhan telinga. Perdarahan labirin. Vertigo pada anak (vertigo de L’enfance). 2. cedera pada arteria auditiva interna/arteia vestibulokoklearis. Sindroma Cogan. 3. Berdasarkan gejala penyertanya yang menonjol dibedakan atas dua kelompok : 1. Termasuk di sini : . 3. Sklerosis multipleks. Tanpa disertai keluhan telinga : . Labirin picu (Trigger labyrinth). Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi. Pelagra. Vertigo yang timbulnya dipengaruhi posisi : .Morbus Meniere. Kelainan endokrin. Labirinitis akuta. Kelainan okuler. Araknoiditis ponto serebelaris. keluhannya konstan tidak membentuk serangan-serangan akut Berdasarkan gejal penyertanya. Yang disertai dengan keluhan dari telinga : Otitis media kronika. Termasuk di sini : Serangan iskemia sepintas arteria vertebro basilaris. Hipoglikemi. dibedakan tiga kelompok: 1.Vertigo servikalis  Vertigo yang Serangannya Mendadak/Akut. Serangan iskemia sepintas orteria vertebralis. Berangsur-angsur Mengurang. Yang tanpa disertai keluhan dari telinga : Kontusio serebri. Kelainan Psikis. Sindrom Lermoyes. Disertai dengan keluhan telinga : Trauma labirin. Neuritis nervus VIII. Kelainan kardiovaskuler. Kelainan gigi/odontogen. Labirintitis kronika. Siringobulbi. Epilepsi. Tumor fosa kranii posterior. Sindrom pasca komosio. Meningitis TB.Hipotensi ortostatik .

Neuritis vestibularis. belajar dan daya ingat. maka proses pengolahan informasi akan terganggu. yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik. di samping itu. jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. Ensefalitis vestibularis. visual. atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan. Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler. respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus. visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan. dan vestibulospinalis. unsteadiness. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Sklerosis multipleks. Vertigo epidemika. Hematobulbi.Neuronitis vestibularis. akan diproses lebih lanjut. . Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan proprioseptik. 3. Dalam kondisi fisiologis/normal. jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar. Menurut teori Sinap yang merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjau peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler. III. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. dan proprioseptik. ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis. Patofisiologi Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan. IV dan VI. Sindrom arteria vestibularis anterior. susunan vestibuloretikularis. Sumbatan arteria serebeli inferior posterior. reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar.

peningkatan kadar CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan saraf simpatik yang selanjutnya mencetuskan mekanisme adaptasi berupa meningkatnya aktivitas sistim saraf parasimpatik. Teori ini dapat menerangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat.Rangsang gerakan menimbulkan stres yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor). muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat dominasi aktivitas susunan saraf parasimpatis. . yang berkembang menjadi gejala mual. berkeringat di awal serangan vertigo akibat aktivitas simpatis.

Muntah Nyeri akut gangguan keseimbangan (ataxia.PATHWAY peranan neurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi pada proses adaptasi. cairan Intake nutrisi << Risiko Cedera Ketidakseimbangan Nutrisi: < Kebutuhan tubuh . belajar dan daya ingat. dizziness) Ketidakseimbangan vol. Rangsang gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan Stres Sekresi CRF >> Susunan Saraf Simpatis Aktif Aktivitas susunan saraf Parasimpatis >> Vertigo Ansietas TIK >> Vestibula cereblum menekan pusat muntah Menekan Pusat Nyeri Aktivitas ke cereblum kortex >> Mual. headache.

kelainan gigi/ odontogen. 2004: 47) serangan akut. berlangsung beberapa menit atau hari. meningitis Tb. tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok : 1. Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance). kelainan kardiovaskuler. Vertigo servikalis. labirintitis kronis. yang serangannya mendadak/akut. Sindrom Lermoyes. siringobulbi. o Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi : Termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten. sklerosis multipel. ensefalitis pontis. keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. Klasifikasi Berdasarkan gejala klinisnya. Labirin picu (trigger labyrinth). Vertigo mengurang. kemudian menghilang sempurna. Vertigo paroksismal Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak. Vertigo kronis Yaitu vertigo yang menetap. Sindrom Cogan. Di antara serangan. tumor fossa cranii posterior.4. kelainan endokrin. Epilepsi. sindrom pasca komosio. o Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri. penderita sama sekali bebas keluhan. 144. Migren ekuivalen. hipoglikemi. Arakhnoiditis pontoserebelaris. dibedakan menjadi : . dibedakan menjadi: o Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika. Lues serebri. tumor serebelopontin. lesi labirin akibat bahan ototoksik. pelagra. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi : o Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere. 2. Vertigo posisional paroksismal benigna. kemudian berangsur-angsur 3. kelainan psikis. kelainan okuler. intoksikasi obat. o Yang tanpa disertai keluhan telinga : Termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris. o Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik.

tinitus. RS Doriqueto. seperti gerakan berputar. mata merah. cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis. vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan. ensefalitis vestibularis.VIII. penglihatan kabur. o Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler. gelisah. muntah. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi. Epley’s maneuver in the same session in benign paroxysmal positional vertigo) Sistem vestibular sentral terletak pada batang otak.o Disertai keluhan telinga : Trauma labirin. puyeng (dizziness). nadi lemah. pada hampir sebagian besar pasien. Sementara itu. 2007. rasa kepala berat. krista pada kanalis semisirkularis mengatur akselerasi angular. lelah. Korn. hematobulbi. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual. nyeri kepala. herpes zoster otikus. (GP. mudah tersinggung. Labirin tersusun dari 3 kanalis semisirkularis dan otolit (sakulus dan utrikulus) yang berperan sebagai reseptor sensori keseimbangan. lidah merah dengan selaput tipis. mulut pahit. vertigo epidemika. neuritis n. Pada BPPV tidak didapatkan gangguan pendengaran. tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun. Ada pula yang membagi vertigo menjadi : 1. Sebaliknya. sindrom arteria vestibularis anterior. 5. sklerosis multipleks. serebelum dan serebrum. . serta koklea sebagai reseptor sensori pendengaran. 2. sedangkan makula pada otolit mengatur akselerasi linear. lidah pucat dengan selaput putih lengket. sumbatan arteria serebeli inferior posterior. MM Gananca. labirintitis akuta. and HH Cauvilla. Gejala Klinis Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual. nafsu makan turun. sistem vestibular perifer meliputi labirin dan saraf vestibular. . perdarahan labirin.

Untuk menguji fungsi serebelum dapat dilakukan past pointing dan diadokokinesia.6.  Pemeriksaan fisis dasar dan neurologis sangat penting untuk membantu menegakkan diagnosis vertigo. kecuali pada penyakit Meniere.  Sistem vestibular dapat dinilai dengan tes Romberg. dan motorik-sensorik. Saraf kranial III. Dalam hal yang meragukan kita dapat membuktikan adanya hidrops dengan tes gliserin.  Pemeriksaan saraf kranial I dapat dibantu dengan funduskopi untuk melihat ada tidaknya papiledema atau atrofi optik. Sementara itu. pemeriksaan neurologis dilakukan untuk menilai fungsi vestibular. Pemeriksaan Fisik  Pemeriksaan fisik diperlukan hanya untuk menguatkan diagnosis penyakit ini. maka operasi diduga akan berhasil dengan baik. Uji-uji ini biasanya berguna untuk menilai stabilitas postural jika mata ditutup atau dibuka. uji jalan di tempat (fukuda test) atau berdiri dengan satu atau dua kaki. Bila dalam anamnesis terdapat riwayat fluktuasi pendengaran. Bila terdapat hidrops. Pemeriksaan telinga ditekankan pada pencarian adanya proses infeksi atau inflamasi pada telinga luar atau tengah. Sensitivitas uji-uji ini dapat ditingkatkan dengan teknik-teknik tertentu seperti melakukan tes Romberg dengan berdiri di alas foam yang liat. Saraf kranial V untuk refleks kornea dan VII untuk pergerakan wajah. uji pendengaran diperiksa dengan garputala dan tes berbisik. Pemeriksaan fisis dasar yang terutama adalah menilai perbedaan besar tekanan darah pada perubahan posisi. tandem gait test. Secara garis besar. Selain itu tes gliserin ini berguna untuk menentukan prognosis tindakan operatif pada pembuatan shunt. . IV dan VI ditujukan untuk menilai pergerakan bola mata. sedangkan pada pemeriksaan ternyata tidak terdapat tuli saraf maka kita sudah dapat mendiagnosis penyakit Meniere. sebab tidak ada penyakit lain yang bisa menyebabkan adanya perbaikan dalam tuli saraf. Fungsi serebelum tidak boleh luput dari pemeriksaan. saraf kranial.  Pergerakan (range of motion) leher perlu diperhatikan untuk menilai rigiditas atau spasme dari otot leher.

Penting untuk membedakan apakah nistagmus yang terjadi perifer atau sentral. Nistagmus perifer dapat berputar atau rotasional dan dapat terlihat dengan memindahkan fiksasi visual. Pemeriksaan khusus neuro-otologi yang umum dilakukan adalah uji Dix-Hallpike dan electronystagmography (ENG). Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan khusus :       ENG Audiometri dan BAEP Psikiatrik Pemeriksaan tambahan : Laboratorium Radiologik dan Imaging EEG. Namun pada beberapa kasus memang diperlukan. menandakan adanya input vestibular yang asimetris. nistagmus posisional. Profil lipid dan .  Uji fungsi motorik juga harus dilakukan antara lain dengan cara pasien menekuk lengannya di depan dada lalu pemeriksa menariknya dan tahan hingga hitungan ke sepuluh lalu pemeriksa melepasnya dengan tiba-tiba dan lihat apakah pasien dapat menahan lengannya atau tidak. positioning nystagmus. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap dapat memberitahu ada tidaknya proses infeksi. Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai pergerakan mata seperti adakah nistagmus spontan atau gaze-evoked nystagmus dan atau pergerakan abnormal bola mata. Timbulnya nistagmus dan gejala lain setelah pergerakan kepala yang cepat. dan EKG. dan uji kalori. Pada dasarnya pemeriksaan penunjang tidak menjadi hal mutlak pada vertigo. Uji ENG terdiri dari gerak sakadik. biasanya sekunder akibat neuronitis vestibular yang tidak terkompensasi atau penyakit Meniere. Nistagmus sentral biasanya hanya vertikal atau horizontal saja dan dapat terlihat dengan fiksasi visual. kondisi muskuloskeletal pasien dan kerjasama pasien itu sendiri 7. nistagmus akibat gerakan kepala. Pasien dengan gangguan perifer dan sentral tidak dapat menghentikan lengannya dengan cepat. EMG. Tetapi uji ini kualitatif dan tergantung pada subjektifitas pemeriksa.

Penatalaksanaan Tatalaksana vertigo terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu kausal. Terapi simtomatik bertujuan meminimalkan 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala otonom. . Untuk mencapai tujuan itu digunakanlah vestibular suppresant dan antiemetik. Foto rontgen. ialah dengan traksi leher dan fisioterapi. 8. calcium channel blocker. neurotonik. Terapi rehabilitasi bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibular.hemostasis dapat membantu kita untuk menduga iskemia. Sebagian besar kasus vertigo tidak diketahui kausanya sehingga terapi lebih banyak bersifat simtomatik dan rehabilitatif. antihistamin. misalnya pilot. simtomatik dan rehabilitatif. pemain sirkus dan olahragawan. dan histaminik Pengobatan khusus untuk pasien yang menderita vertigo yang disebabkan oleh rangsangan dari perputaran leher (servikal). di samping latihan-latihan lain dalam rangka rehabilitasi.VIII 9. Fluktuasi gangguan pendengaran berupa tuli saraf 3. Menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral. Rehabilitasi penting diberikan. sebab dengan melatih sistem vestibuler ini sangat menolong. misalnya tumor N. menderita vertigo servikal dapat di atasi dengan latihan yang intensif sehingga gejala yang timbul tidak lagi mengganggu pekerjaannya sehari-hari. Kadang-kadang gejala vertigo dapat di atasi dengan latihan yang teratur dan baik. atau MRI dapat digunakan untuk mendeteksi kehadiran neoplasma/tumor. CT-scan. Arteriografi untuk menilai sirkulasi vertebrobasilar. anti virus dan rehabilitasi. benzodiazepin. Vertigo hilang timbul 2. fenotiazin. Beberapa obat yang tergolong vestibular suppresant adalah antikolinergik. Neuritis vestibuler di obati dengan obat-obat simptomatik. yaitu : 1. Diagnosis Diagnosis dipermudah dengan dibakukannya kriteria diagnosis. Orang-orang yang karena profesinya.

misalnya. diet dan diuretik. yaitu berkurangnya respon terhadap stimulasi sensorik yang diberikan berulang-ulang. mengaktifkan kendali tonus inti vestibular oleh serebelum. sistem visual dan somatosensorik. serta menimbulkan habituasi. misalnya endolimfatik shunt atau kokleosakulotomi. Sebaliknya pada tipe sentral. menandakan prognosis yang buruk. Semoga dengan kemajuan ilmu bedah saraf di masa yang akan datang. 10. Prognosis Prognosis pasien dengan vertigo vestibular tipe perifer umumnya baik. Infark arteri basilar atau vertebral. prognosis tergantung dari penyakit yang mendasarinya. . Pada kasus jarang dimana penyakit sudah kebal dengan terapi obat. vertigo tak lagi menjadi momok. dapat terjadi remisi sempurna. dilakukan labirintektomi. yaitu pengangkatan koklea (bagian dari telinga tengah yang mengatur pendengaran) dan kanalis semisirkularis. Jika vertigo sangat mengganggu dan terjadi gangguan pendengaran yang berat. pasien terpaksa harus memilih intervensi bedah.Mekanisme kerja terapi ini adalah substitusi sentral oleh sistem visual dan somatosensorik untuk fungsi vestibular yang terganggu.

kesulitan membaca Insomnia. Aktivitas / Istirahat o o o o Letih. peka rangsangan selama sakit kepala Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik). jeruk. Neurosensoris o Pening. anggur. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Sirkulasi o o o Riwayat hypertensi Denyutan vaskuler.B. aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca. ketidakberdayaan depresi Kekhawatiran. 3. bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala. daging. wajah tampak kemerahan. keputusasaan. Integritas Ego o o o o Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu Perubahan ketidakmampuan. 4. hotdog. misal daerah temporal. disorientasi (selama sakit kepala) . malaise Keterbatasan gerak Ketegangan mata. tomat. anoreksia (selama nyeri) Penurunan berat badan 5. keju. bawang. ansietas. Pucat. o o Mual/muntah. lemah. makan berlemak. MSG (pada migrain). coklat. Makanan dan cairan o Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein. 2. o Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh. alkohol. saus.

8. pascatrauma. sinusitis. o o o o o Nyeri. stroke. Interaksi sosial o Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit. kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore Perubahan pada pola bicara/pola pikir Mudah terangsang. Otot-otot daerah leher juga menegang. cedera kepala yang baru terjadi. Aura . gelisah. Penyuluhan / pembelajaran o Riwayat hypertensi. parastesia. sensitif terhadap cahaya/suara yang keras. 7. 6. stroke. penyakit pada keluarga . tumor otak. fasialis. Parastesia. frigiditas vokal. trauma. ketegangan otot. tinitus. 9. Nyeri/ kenyamanan o Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala. peka terhadap stimulus. paralisis Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus). misal migrain. Fokus menyempit Fokus pada diri sendiri Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis. Penurunan refleks tendon dalam Papiledema. migrain. epitaksis. Perubahan visual. Keamanan o o o o Riwayat alergi atau reaksi alergi Demam (sakit kepala) Gangguan cara berjalan. cluster.o o o o o o o o Riwayat kejang. pucat pada daerah wajah. kemerahan. olfaktorius.

o Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. gelisah. menopause B. 2. perubahan pola tidur. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual. Nyeri akut berhubungan dengan tekanan syaraf. vasospressor. 3. cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan ditandai dengan wajah px tampak gelisah dan meminta informasi 4. muntah ditandai dengan Kulit kering . Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan penurunan Intake Nutrisi Oral ditandai dengan px tidak nafsu makan karena rasa mual 5. Resiko cedera berhubungan dengan gangguan keseimbangan berupa ataxia dan pusing. Diagnosa Keperawatan 1. peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor perubahan posisi. Kontrasepsi oral/hormone.

d px tidak nafsu makan P : intervensi tecapai karena rasa mual P: pantau kondisi Px .d Px mengatakan Nyeri ringan O : wajah px tampak tenang da rileks A : intervensi tercapai sebagian P : lanjutkan intervensi Resiko Cedera b. oral d.d peningkatan S : px mengatakan Nyerinya berkurang dengan skal TIK d.d S : mual.d kulit kering O: Sudah terpasang Infus A: tujuan tercapai P : perhatikan kondisi infus Ketidakseimbang Nutrisi S : Pasien mengatakn sudah mau makan dengan gelisah dan meminta informasi kurang dari kebutuhan tubuh jumlah yang ditentukan b.d penurunan intake nutrisi O : Perawatn melihat px makan dengan lahap.muntah d.Evaluasi Diagnosa Evaluasi Nyeri akut b.d gangguan S : px mengatakan mampu mengontrol pusingnya keseimbangan berupa ataxia dan jatuhnya dan pusing O : perawat meilhat pasien mampu memilih tmpat untuk jatuh A : Intervensi tercapai sebagian P: lanjutkan intervensi cemas berhubungan dengan S : pasien tidak merasa cemas lagi akan kurang pengetahuan ditandai penyakitnya dan mengetahui kondisi penyakitnya dengan wajah px tampak O : raut wajah pasien tidak tegang lagi A : intervensi tercapai sebagian P : lanjutkan intervensi Kekurangan volume cairan b.

USA : Mosby Elsevier T.pdf/144_15TerapiAkupunkturuntukVertigo.DAFTAR PUSTAKA Joanne & Gloria. THT. EGC. Marion. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. 2011.kalbefarma. Nursing Outcomes Classification Fourth Edition. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC http://www. Jakarta. EGC. Sue.3. diakses tanggal 17 desember 2011 http://www. ed.com/files/cdk/files/14415 Terapi Akupunktur untuk Vertigo. Meridean. 2008. USA : Mosby Elsevier Lynda Juall carpernito. Jakarta. NANDA Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Elizabeth. 2004. ed.kalbefarma. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien.html. Nursing Intervension Classification Fourth Edition.com/files/cdk/files/14415 Cermin Dunia Kedokteran-144. Doenges. 2. Heather Herdman. Marilynn E. 1999. Diakses tanggal 17 desember 2011 . 1999. Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful