LAP PORAN TE ETAP PRAK KTIKUM BIOKIMIA B

OLEH H: SR RI NUR FITH HRIYANI G1A 008 8 018

UNIV VERSITAS MATARAM M M FAK KULTAS MATEMATI M IKA DAN ILMU I PEN NGETAHUA AN ALAM PROGRAM STUD DI BIOLOG GI 2010 0

1   

HALAMAN PENGESAHAN Laporan ini dibuat sebagai salah satu syarat telah mengikuti praktikum Biokimia. Mataram, 24 Desember 2010 Mengetahui : Koordinator

Lalu Shafwan Hadi El‐Wathan      G1C 007 013 

Co. Asst

Lady Faerrosa Josman  G1C 007 014  

Sahri Yanti  G1C 007 035   

Mirwan Hasan Aziz  G1C 007 022   

Hismawadi  G1C 007 010 

 

  2 I  

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim…. Puji syukur kehadirah Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan praktikum sekaligus laporan tepat pada waktu yang ditentukan. Laporan ini disusun berdasarkan hasil praktikum dan ditambah dengan hasil bacaan dari buku-buku lain maupun browsing di internet yang berhubungan dengan acara praktikum yang dilaksanakan. Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan laporan ini, adalah sebagai syarat yang diperlukan untuk respon akhir praktikum Biokimia sehingga penyusun dapat menyelesaikan mata kuliah Biokimia. Dalam penyusunan laporan ini, penyusun menyadari masih banyak kekeliruan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Mataram, 24 Desember 2010 Penyusun

  3 II   

...... Acara III Penentuan Kadar Kolesterol ................................... 35 4...................................................................................................................................................... Acara IV Uji Sifat Fisik dan Kimia Cairan Tubuh (Air Liur dan Empedu ...................................... III 1.................................................................... 52   III 4     ...................... 5 2...... Acara I Isolasi dan Hidrolisis Karbohidrat .......... 17 3......................DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN .......... II DAFTAR ISI ........................................................................ I KATA PENGANTAR ....................................... Acara II Kimia Lipida ....................

amilosa. Umbi-umbian merupakan bahan berkarbohidrat tinggi.69.08-6. c. dimana keduanya memiliki perbedaan sifat-sifat baik fisik maupun kimia (Fesenden. proksimat. Secara umum karbohidrat memiliki rumus empiris Cx ( H2O ) sehingga awalnya disalah artikan sebagai hidrat arang. Suweg dan gembili mempunyai prospek untuk produk tepung 5    . ubikelapa dan gembili dilakukan di Laboratorium Enzimatis dan Biokimia Balitbio Bogor. Alternatif pengembangan umbi-umbian yaitu untuk tepung umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ganyong. reaksi Molisch. antara lain ganyong. 1994). atau oligosakarida dan polisakarida. ubikelapa dan gembili.13 dan 2. suweg. dan reaksi Benedict). suweg. ukuran granula. Tujuan : Untuk mengidentifikasi sifat-sifat umum berbagai jenis karbohidrat. dengan uji kuantatif (menentukan kadar pati ) dan uji kualitatif (reaksi peragian. disakarida.65%) pada tepung umbi dan tepung pati dapat meningkatkan manfaat tepung dan pati tersebut sebagai tepung komposit.4. Hari. tanggal : Sabtu.98 g/g). tetapi di Indonesia belum semua umbi-umbian dimanfaatkan dan dikembangkan. daya serap air. b.24%). Analisis yang dilakukan adalah rendemen pati dan tepung. Kandungan lemak (0. karbohidrat dapat dibagi menjadi monosakarida. B.25%. Berdasakan berat molekul dan banyaknya monomer penyusunnya. suweg. LANDASAN TEORI Karbohidrat merupakan polihidroksi adehida atau polihidroksi keton serta beberapa senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis.5 dan 10 _m). Hasil rendemen menunjukkan bahwa ganyong lebih prospektif dikembangkan untuk produk tepung pati. ubikelapa. PELAKSANAAN PRAKTIKUM a. Tempat : Laboratorium Kimia Lantai 3 Fakultas MIPA Universitas Mataram.36-52. dan protein (0.ISOLASI DAN HIDROLISIS KARBOHIDRAT A. dan gembili mempunyai kadar pati yang tinggi berkisar 39. Tepung suweg mempunyai absorbsi air maupun minyak tertinggi (2.09-2.342. derajat putih. dan sifat amilografnya. Penelitian evaluasi karakteristik sifat fisiko-kimia tepung umbi dan tepung pati ganyong. tepung pati dan tepung komposit. Berdasarkan fungsinya karbohidrat dapat dibedakan menjadi aldosa jika tersusun oleh gugus aldehid dan ketosa jika tersusun atas gugus keton. 4 Desember 2010. Ganyong dan ubikelapa mempunyai ukuran granula pati lebih besar (22.

cara fisik. Uji kuantitatif dilakukan dengan menentukan kadar pati dari isolat amilum pada umbi. maltosa akan dihidrolisis menjadi glukosa dan glukosa terlebih dahulu dengan enzim zymase yang terdapat pada ragi. Pada percobaaan. Penentuan karbohidrat polisakarida maupun oligosakarida memerlukan perlakuan pendahuluan yaitu hidrolisa terlebih dahulu sehingga diperoleh monosakarida. Hasil dari fermentasi adalah adanya gelembung-gelembung CO2 dan bau alkohol. akan terbentuk dua lapisan zat cair. 2004). merupakan uji untuk memeriksa atau mengetahui pembentukan furfural pada beberapa jenis karbohidrat. dan reaksi bennedict (Wahjudi. selanjutnya glukosa yang terbentuk akan mengalami proses fermentasi. Implikasi hasil penelitian untuk menggali potensi sumber karbohidrat sebagai tepung komposit ataupun sebagai bahan industri perpatian (Richana. reaksi molisch. 6    . (Harrow. sedangkan dengan dehidrasi heksosa – heksosa manghasilkan hidroksi metal furfural. Hal ini berarti bahwa maltosa adalah salah satu karbohidrat yang dapat difermentasikan 1946). Pentosa hampir secara kuantitatif terdehidrasi menjadi furfural. Uji kualitatif dilakukan dengan berbagai reaksi kimia yaitu reaksi peragian. Uji molisch. Pereaksi molisch terdiri atas larutan α naftol dalam alkohol. Untuk keperluan ini maka bahan dihidrolisa dengan asam atau enzim pada suatu keadaan yang tertentu. Maltosa memberikan hasil yang positif dalam pengujian ini. Reaksi hidrolisis maltosa sebelum fermentasi sebagai berikut : Setelah dihidrolisis menjadi glukosa dan glukosa. Maltosa adalah gula disakarida. 1994 ). Sifat fisikokimia ganyong dan suweg mempunyai amilosa rendah (18.6% dan 19. Banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan banyaknya karbohidrat dalam suatu bahan yaitu antara lain dengan cara kimiawi. 2003). Pada proses disakarida. Percobaaan peragian dilakukan untuk menentukan gula yang dapat difermentasikan. Pada batas antara kedua lapisan itu akan terjadi warna ungu karena terjadi reaksi pondensasi antara furfural dengan α naftol ( Poedjiadi.2%) dan viskositas puncak tinggi (900-1080 BU dan 780-700 BU).umbi maupun tepung pati sedangkan ubikelapa untuk tepung umbi. cara enzimatik dan cara kromatografi. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan glukosa misalnya ditambahkan H2SO4 pekat hatihati. gula yang diuji adalah maltosa. contohnya maltosa.

larutan Na2CO3 dan Na-sitrat menjadikan pereaksi Benedict bersifat basa lemah. Kedua senyawa ini dapat mereduksi pereaksi fehling. 2008). Warna endapan tergantung konsetrasi yang diuji. Glukosa dapat mereduksi ion Cu+ dari CuSO4 menjadi ion Cu+ yang selanjutnya mengendap sebagai Cu2O. atau merah bata. Bahan - . Na2CO3. ALAT DAN BAHAN 1. Endapan yang terberntuk dapat berwarna hijau.Pereaksi Benedict merupakan larutan yang mengandung CuSO4. Hal ini disebabkan dalam darah terdapat juga asam urat dan keratin. C. kuning. Alat Tabung reaksi Rak tabung reaksi Gelas ukur Gelas kimia Penangas air Penjepit Corong pisah Gelas beker Rak tabung reaksi Blender Pipet tetes Pipet volume Rubber bulb Timbangan analitik Penyaring Buchner Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) Aquadest Alkohol 95% Larutan 20% suspensi ragi roti Larutan karbohidrat 7    2. namun tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict. Pereaksi Benedict banyak digunakan untuk memeriksa kadar glukosa dalam urin daripada pereaksi fehling. Pereaksi Benedict lebih mudah digunakan karena terdiri hanya dari satu macam larutan (Rifki. Selain itu pereaksi fehling kurang peka dibandingkan dengan Benedict.. dan Nasitrat.

-

Larutan buffer fosfat (pH: 6,6 – 6,8) Larutan glukosa Larutan fruktosa Larutan laktosa Larutan 10% alfa naftol Larutan H2SO4 pekat Reagen Benedict Kertas saring Tissue Kertas label

D. SKEMA KERJA • Isolasi Amilum dari Umbi/Biji-bijian. 100 gram ubi kayu yang sudah diparut - (+) 200 ml aquades - di blender selama 30 detik, dilakukan beberapa kali. - Disaring residu dengan kain dan larutan yang keruh ditampung dalam gelas ukur 500 ml. - (+) 200 ml aquades dan dikocok. dibiarkan Larutan yang jenuh - Didekantasi Larutan yang jernih Endapan - (+) 100 mL alkohol 95% - Disaring dengan penyaring buchner. Pati -Dikeringkan dengan meratakannya pada kertas saring pada suhu kamar Hasil • Uji kualitatif karbohidrat : Reaksi Peragian 5 mL Larutan 20% suspensi ragi roti + 5 ml karbohidrat + 5 mL Larutan Buffer fosfat (pH 6.6-6.8)
8   

- Dimasukkan ke tabung reaksi (fermentasi) - Dibiarkan 1 jam - Adanya gelembung CO2 menunjukkan adanya reaksi peragian Hasil Reaksi Molisch 2 mL glukosa - Dimasukkan ke dalam tabung reaksi. - (+) 2 tetes larutan 10% alfa naftol yang masih baru. dicampur - Dialirkan 2 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan hingga membentuk lapisan di bawah campuran. - Adanya cincin ungu pada batas 2 cairan tersebut menunjukkan adanya karbohidrat. Dikerjakan pula terhadap fruktosa. Hasil Reaksi Benedict 5 mL Reagen Benedict + 8 tetes larutan glukosa - Dimasukkan ke dalam tabung reaksi -▲ dengan penangas air selama 5 menit atau ▲ langsung 1 menit -Warna hijau, kuning, merah, orange atau merah bata dan endapan merah bata menunjukkan reaksi positif. - Dikerjakan pula reaksi ini terhadap fruktosa/laktosa. Hasil E. HASIL PENGAMATAN No. Langkah Kerja 1. Isolasi amilum dari umbi/biji-bijian • 100 gr ubi diblender ditambah 200 ml • Ubi kayu berwarna kuning setelah aquadest diblander lagi 30 detik. diblender diperoleh kemudian +aquadest diperoleh larutan ubi kayu berwarna kuning keruh agak putih. • Larutan ditambah ubi disaring, ditampung, • Larutan keruh ditampung dan • Endapan tertinggal pada kertas saring berwarna putih kekuningan
9   

Hasil Pengamatan

aquadest,

dikocok

dibiarkan mengendap

• Larutan jenuh didekantasi, ditambah • Setelah didekantasi terjadi endapan 200 ml aquadest, dikocok dan dibiarkan mengendap. di bawah larutan. Endapan tersebut berwarna putih. Pada bagian atas diperoleh larutan kuning agak jernih. • Endapan ditambah 100 ml alcohol 95%, • Setelah ditambahkan etanol : kemudian disaring Menimbulkan bau, berwarna putih.

• Pati kemudian dikeringkan, setelah • Berat kertas saring = 0,39 gram. kering ditimbang ditempatkan pada kertas saring. Berat amilum kering : 18,58 gram

2.

Uji kualitatif Karbohidrat a. Reaksi peragian 5 ml larutan 20% suspensi ragi roti+5 ml buffer fosfat (pH 6,6-6,8). Dibiarkan 1 jam, + karbohidrat. b. Reaksi Molisch • Perlakuan terhadap glukosa : 5 ml • Larutan alfa naftol berwarna hitam. glukosa +2 tetes larutan 10% Setelah ditambah alfa naftol: Glukosa : tidak bercampur Laktosa : tidak bercampur Fruktosa : tidak tercampur (bening kecokelatan). Setelah ditambahkan H2SO4 : terdapat cincing ungu pada ketiga amilum antara perbatasan amilum dan alfa naftol (ada karbohidrat). alfanaftol yang masih baru dan dicampur, dialirkan perlahan-lahan 2 ml H2SO4. • Perlakuan terhadap fruktosa : 5 ml fruktosa + 2 tetes larutan 10 % alfanaftol yang masih baru dan dicampurkan, dialirkan perlahanlahan 2 ml H2SO4. • Perlakuan terhadap laktosa : 5 ml laktosa + 2 tetes larutan 10 % alfanaftol yang masih baru dan dicampurkan, dialirkan perlahanlahan 2 ml H2SO4.
10 

• Glukosa, fruktosa, laktosa berwarna putih. Setelah didiamkan 1 jam terdapat gelembung CO2 yang menandakan adanya karbohidrat.

 

• Larutan benedict berwarna biru. Perhitungan • Isolasi amilum dari umbi-umbian Diketahui : Berat ubi kayu Berat kertas saring Berat kertas saring + pati Berat amilum kering Hitung : Kadar amilum dalam Ubi Kayu ? Jawab : Kadar amilum dalam Ubi Kayu = : 100 gram : 0. tengah hijau.39 =18. F. bawah biru.97 gram : 18. Reaksi Benedict • Perlakuan terhadap glukosa : 5 ml reagen benedict + 8 tetes larutan glukosa diletakkan pada tabung dan dimasukkan dalam penangas air selama 5 menit. Setelah dipanaskan 5 menit: Glukosa: terdapat 3 lapisan yaitu lapisan atas berwana hijau muda. Setelah ditambahkan glukosa.97-0.58 gram BeratAmilum x100% BeratUbiKayu 11    . tengah hijau tua.39 gram : 18.c. fruktosa.laktosa : tidak terjadi perubahan larutan tetap berwarna biru. bawah biru. bawah biru. Laktosa : terbentuk 3 lapisan yaitu atas kuning. • Perlakuan terhadap fruktosa : 5 ml reagen benedict + 8 tetes larutan glukosa diletakkan pada tabung dan dimasukkan dalam penangas air selama 5 menit. Fruktosa :terbentuk 2 lapisan yaitu atas orange. ANALISIS DATA 1. • Perlakuan terhadap Laktosa : 5 ml reagen benedict + 8 tetes larutan glukosa diletakkan pada tabung dan dimasukkan dalam penangas air selama 5 menit.

58gram x100% 100 gram = 18. Reaksi Molisch c. Reaksi Benedict Glukosa CH 2OH O H H OH OH OH HO H H H O H H CH2OH H + O H H H OH OH OH HO H H CH2OH H O H H OH OH C O HO O H H CH2OH H O H H + H OH OH C HO O H H H H+ CH2OH H O H H H OH OH C HO O H H Cu 2+ ion tartrat + Cu2O merah + 3 H2O 12    . Persamaan Reaksi • Uji kualitatif karbohidrat a.58 % 2.= 18. Reaksi Peragian C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP b.

Dari hasil pengamatan.Fruktosa H HOH  C  2 H  O OH     H  HO OH  H  CH2OH  H  O H HOH 2C H H O + OH HOH  C 2 H  OH   O H + HO CH2OH H OH   C H  HO CH2OH OH  H  HOH  C 2 OH   O Cu2+ HOH 2C H H OH H  + H H  HO     C  OH  H  CH2OH ion tartrat HO CH2 H OH + Cu2 O merah  OH Laktosa CH2OH O H HO H H OH O H OH H H CH2OH O H H OH OH OH H H O H H CH2OH O H HO H H OH O H OH H CH2OH O H H H OH H OH CH2OH H + O H H H OH OH OH H H CH2OH OH O H OH OH C H H H CH2OH O H HO H H OH O H OH H CH2OH OH H H H+ H OH OH O H H H HO H H O CH2OH O H HO Cu2+ H H OH ion tartrat O H OH H CH2OH OH O H H OH OH C O H H + Cu2O merah G. Percobaan pertama yaitu isolasi amilum dari ubi kayu. setelah dilakukan pencucian terakhir dengan menggunakan alkohol 95% dan disaring dengan penyaring Buchner. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan tentang cara mengisolasi amilum yang merupakan karbohidrat dari ubi kayu/singkong serta pengujian kualitatif pada karbohidrat dengan menggunakan reaksi peragian. diperoleh 13    . reaksi Molisch. Amilum/pati adalah polisakarida dengan sususan yang kompleks. serta reaksi Benedict. Pada umbi-umbian atau bii-bijian pati ini merupakan energi simpanan.

Selain uji Molisch. maka diperolehlah kadar amilum sebesar 18. Uji kualitatif karbohidrat bertujuan untuk mengetahui komponen penyusun suatu senyawa atau adanya suatu karbohidrat. Pengujian terhadap 3 karbohidrat ini juga digunakan pada uji Molisch dan uji Benedict. Setelah didiamkan selama 1 jam. reaksi peragian dilakukan untuk menentukan gula yang dapat difermentasikan. dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. fruktosa dan juga laktosa yang ditambahkan dengan ragi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat karbohidrat dalam larutan tersebut. timbul gelembung-gelembung CO2 dari 3 larutan tersebut. Selain menguji adanya gula pereduksi.58 gram. memang benar terbentuk cincin berwarna ungu diantara dua larutan setelah ditambahkan H2SO4 pekat pada larutan tersebut sehingga menunjukkan adanya kabohidrat. Benedict terdiri dari campuran Na2Co3 + CuSO4 + Natrium sitrat . Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan. Pada uji ini jika terbentuk cincin ungu pada bidang batas dua cairan maka menunjukkan adanya karbohidrat. Seperti yang tertera pada landasan teori. fruktosa. sehingga jika kita melakukan perhitungan kadar amilum dalam 100 gram ubi kayu.amilum sebesar 18. Selanjutnya adalah uji Molisch. juga berlaku secara kuantitatif. percobaan ke dua yaitu uji kualitatif karbohidrat. laktosa adalah 3 karbohidrat yang dapat difermentasi selain maltosa dan karbohidrat lainnya. karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan (Chandra. Dari hasil praktikum yang dilakukan. Selanjutnya. reaksi Molisch dan reaksi Benedict. Oleh karena itu glukosa. Uji Benedict bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi dalam suatu larutan dengan indikator yaitu adanya perubahan warna khususnya menjadi merah bata.58%. Monosakarida yang bersifat redutor. Pada reaksi ini. konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan α-naftol untuk membentuk produk berwarna. uji Benedict pun dilakukan pada percobaan ini. Uji kualitatif yang dilakukan pada percobaan ini meliputi reaksi peragian. ada 3 gula yang diuji yaitu glukosa. Ketika ada beberapa larutan yang tidak dikenal secara pasti bahwa larutan tersebut mengandung karbohidrat atau tidak. Diperkirakan. 2009). disamping itu tercium juga bau alkohol yang merupakan hasil fermentasi. 2009). Setelah dipanaskan 5 menit pada glukosa 14    . uji Molisch bisa dilakukan untuk menentukan adanya kandungan karbohidrat (Chandra.

Pada reaksi Molisch. hijau tua. Uji kualitatif yang dilakukan pada percobaan ini adalah reaksi peragian. Diperkirakan. konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan α-naftol untuk membentuk produk berwarna. endapan merah bata. tengah hijau dan bawah biru. 4.58%. Terima kasih 15    . dan pada laktosa terbentuk 3 lapisan yaitu atas kuning. pada fruktosa terbentuk 2 lapisan yaitu atas orange.Ass harap pengarahan dan bimbingannya lebih ditingkatkan.terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas berwana hijau muda. 3. Reaksi peragian dilakukan untuk menentukan gula yang dapat difermentasikan. orange. 5. dan kepada kakak-kakak Co. H. Warna biru merupakan warna larutan Benedict. Saran : Diharapkan kepada praktikan agar lebih serius lagi dalam praktikum. bawah biru. Dari hasil percobaan isolasi amilum dari ubi kayu diperoleh kadar amilum (pati) dalam 100 gram ubi kayu adalah sebesar 18. Timbulnya gelembung-gelembung CO2 pada larutan dan bau alkohol menunjukkan bahwa terdapat karbohidrat dalam larutan tersebut serta larutan dapat difermentasikan. adanya karbohidrat ditunjukkan oleh perubahan warna larutan setelah dipanaskan yaitu warna hijau muda. 2. PENUTUP Kesimpulan : 1. Karena berdasarkan teori yang menyatakan bahwa apabila terbentuk warna diatas (kecuali biru) atau warna lainnya seperti merah bata. dan merah maka memberikan reaksi positif sehingga pada percobaan ini larutan mengandung gula pereduksi karena memberikan reaksi positif. tengah hijau tua dan bawah biru. Pada reaksi Benedict. reaksi molisch dan reaksi benedict. agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. dan kuning. adanya karbohidrat ditandai dengan terbentuknya cincin ungu diantara 2 cairan.

multiplay.com/2009/12/biokimia.DAFTAR PUSTAKA Chandra. Suweg. Jakarta : 16    . Ralph J. 1994. 2004.30 WITA Fessenden. Dasar-Dasar Biokimia. Diakses pada tanggal 6 Desember 2010 pukul 10. Edi. Richana. 2008. A. Malang : UM Press. Dasar-Dasar Kimia Organik. Poejiadi.id/media/publikasi/jurnal/j. Karakterisasi Sifat Fisikokimia Tepung Umbi Dan Tepung Pati Dari Umbi Ganyong. Textbook of Biochemistry. pdf.Pascapanen. dkk. Benjamin. Joan S. Harrow. Diakses pada tanggal 7 Desember 2010 pukul 08. Ubi Kelapa Dan Gembili.50 WITA. http://pascapanen. Kimia Organik II. Biokimia.00 WITA.html. London : W..deptan. Fessenden. 1994. 2003. http://arifqbio. B. Seri Pengantar Biokimia. 2009..blogspot. http://ajo-lapbiokimia.com/journal/item/15/seri PenangantarBiokimia. Binarupa Aksara.litbang.2004_1_4.go. Rifki. Jakarta : UI Press. 1946. Nur dan Titi Chandra Sunart. Wahjudi. Saunder Company. Diakses pada tanggal 5 Desember 2010 Pukul 14.

atau pelarut lemak yang lain. Lemak 17    . eter. Sifat kimia dan fungsi biologinya juga berbeda-beda. B. Walaupun demikian para ahli biokimia bersepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisik seperti lemak. hewan.benzena yang sering juga disebut pelarut lemak.KIMIA LIPIDA A. jaringan lemak sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sebesar 90%.Untuk mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan peroksida. Jadi berdasarkan pada sifat fisika tadi. .Untuk mengidentifikasi senyawa lipid menggunakan tes noda lemak. Tempat : Laboratorium Kimia Lantai 3 Fakultas MIPA Universitas Mataram. Lemak dan minyak merupakan makronutrien penting yang menempati urutan kedua setelah HA sebagai bahan bakar untuk memberikan energi kepada sel-sel tubuh. Kesepakatan ini telah disetujui oleh Kongres Internasional Kimia Murni dan Terapan. dimasukkan dalam satu kelompok yang disebut lipid. aseton. 11 Desember 2010 3. mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk hidup.kloroform. 2. ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya. dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7. . Untuk memberikan definisi yang jelas tentang lipid sangat sukar. . 1994 : 52).Untuk mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan asam. sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Jaringan bawah kulit di sekitar perut. lipid dapat diperoleh dari hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi menggunakan alkohol panas. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. LANDASAN TEORI Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan. atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia ialah lipid.Untuk mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan penyabunan. Tujuan : . Hari/tanggal : Sabtu. Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah : tidak larut dalam air. Macam senyaw-senyawa serta kuantitasnya yang diperoleh melalui ekstraksi itu sangat tergantung pada bahan alam sumber lipid yang digunakan.5 sampai 30% (Poedjiadi. tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya eter.

Penelitian bertujuan menetapkan sumber karbon dan waktu kultur yang memberikan aktivitas desaturase tertinggi. Aktivitas ∆6 dan ∆12 desaturase terdeteksi pada cairan fermentasi A. corymbifera merupakan enzim intraselular yang mencapai aktivitas tertinggi pada medium Serrano-Careon dengan sumber karbon campuran sukrosa dan parafin (0. corymbifera. bilangan asam. Untuk mengidentifikasi kualitas lemak atau minyak dapat dilakukan uji sifat fisika dan kimianya. corymbifera. Cara tersebut dapat mempertahankan aktivitas desaturase 70–80% pada penyimpanan suhu 25oC dan 50oC selama enam jam (http://www. Aktivitas ∆12 desaturase terdeteksi dari peningkatan persentase asam linoleat pada CPO yang telah diinkubasi dengan cairan fermentasi atau ekstrak biomassa.48% asam linoleat menjadi asam gamma linolenat (GLA) yang memiliki potensi nilai ekonomis lebih tinggi. sedangkan aktivitas ∆6 desaturase terdeteksi dari dikonversinya sebesar 66.ipard. Lemak yang ada dalam makanan maupun tubuh dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama yaitu:trigliserida. lemak dibedakan drngan minyak yaitu lemak berbentuk padat sedangkan minyak berbentuk cair. viskositas. Keduanya dibedakan berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap antara dua atom karbonnya dalam rumus bangunnya (Hartono.14 U/mL) dan sumber karbon molases (0. Desaturase dapat dihasilkan dari Absidia corymbifera dan diamplifikasikan untuk peningkatan ketidakjenuhan dan kualitas minyak sawit mentah (CPO).11 U/mL) masingmasing pada inkubasi selama 76 dan 120 jam. Berdasarkan bentuknya. komposisi asam lemak hasil konversi desaturase dan cara menstabilkan desaturase dari A. Lemak atau minyak yang terdapat didalam tubuh disebut pula lipid. kolesterol dan fosfolipid. Desaturase merupakan enzim yang berperan dalam proses desaturasi rantai karbon asam lemak menjadi asam lemak tak jenuh yang banyak manfaatnya bagi kesehatan.mempunyai fungsi lain yang tidak dimiliki oleh HA seperti pembentukan komponen membran vitamin larut lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desaturase dari A.com/infopstk/publikasi/e-jurnal/biotek/MP70-02-03. Laju degradasi desaturase dapat dihambat dengan cara isolasi dan pencucian fraksi mikrosom dengan bufer garam. Pengendapan filtrat kultur fermentasi dan ekstraksi lipida biomassa tidak mampu menstabilkan desaturase. berat jenis. bilangan iod dan bilangan peroksida. Asam lemak dapat dibedakan pula antara asam lemak jenuh dan tidak jenuh. 2006:28).pdf : 1-2). antara lain indeks bias. Bilangan penyabunan adalah jumlah 18    . Enzim desaturase dikenal sangat tidak stabil. bilangan penyabunan.

miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Bilangan asam merupakan jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam lemak bebas yang terdapat pada satu gram lemak atau minyak. Bilangan iod adalah jumlah gram iod yang dapat diikat oleh 100 gram lamak atau minyak. Bilangan iod menyatakan derajat ketidakenuhan lemak atau minyak (Tim Penyusun Praktikum Biokimia. ikatan rangkap yang ada pada lemak tidak enuh akan bereaksi dengan iod atau senyawa-senyawa iod. 2010 : 8-9). ALAT DAN BAHAN • Alat ‐ Gelas arloji ‐ Tabung reaksi dan rak tabung reaksi ‐ Penjepit tabung reaksi ‐ Labu Erlenmeyer ‐ Pipet tetes ‐ Pipet volume ‐ Rubber bulb ‐ Pendingin tegak ‐ Pendingin balik ‐ Pemanas ‐ Alat titrasi ‐ Gelas ukur ‐ Gelas kimia ‐ Timbangan analitik • Bahan ‐ Minyak baru ‐ Minyak bekas ‐ Eter ‐ Kertas saring ‐ Larutan KOH 0.5 N ‐ Indikator fenolftalin (PP) ‐ Larutan standar HCl 0.5 N ‐ Alkohol 95% 19    . Bilangan Bilangan peroksida didefiniskan sebagai jumlah mg peroksida dalam setiap 1000 g (1 kg) minyak atau lemak. C.

‐ Larutan standar KOH 0. asetat glasial 2:3) ‐ Larutan KI jenuh ‐ Aquades ‐ Larutan standar Natrium tiosulfat 0.1 N ‐ Indikator amilum ‐ Kertas label D. kemudian dikocok (campuran minyak dan eter) Hasil  Dituang dalam gelas arloji Uapkan eternya Usap larutan dengan kertas saring/buram (ada/tidak noda minyak)  2. Grease Spot Test Senyawa X yang diidentifikasi  (minyak baru/kotor)  Hasil  + sedikit eter.5 N dalam etanol dalam erlenmeyer  20    . Penentuan Bilangan Penyabunan 2 gr minyak baru/kotor  Campuran  Ditimbang dalam erlenmeyer 250 ml + 25 ml KOH 0.1 N ‐ Pelarut (campuran kloroform – as. SKEMA KERJA 1.

 HCl untuk titrasi)  3. standar HCl 0. Penentuan Bilangan Asam 10 gr minyak (baru/kotor)  +  25 ml alkohol 95%  Hasil  Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250ml Tutup erelenmeyer dengan pendingin balik Hasil  Panaskan hingga mendidih 21    . Larutan bebas dari  butir‐butir lemak  Hasil  Larutan didinginkan - + indikator fenolftalin (PP) Hasil  Hasil  Dititrasi dengan lar.- Erlenmeyer dihubungkan dengan pendingin tegak.5 N (vol. Didihkan dengan penangas uap sampai semua minyak tersabunkan.

Hasil  Digojog kuat-kuat untuk melarutkan asam lemak bebas Hasil  Didinginkan Di tetesi indikator PP Hasil  Dititrasi dengan lar. sambil dikocok Hasil  + 30 ml aquades - Dititrasi dengan lar. Penentuan Bilangan Peroksida 0.1 N) 4. standar natrium tiosulfat 0.5 gr minyak  - Dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250ml + 30 ml pelarut (camp. asetat glasial 2:3 v/v) Hasil   (minyak larut sempurna)  Hasil  + 0. Natrium tiosulfat untuk  titrasi) 22    .5 ml lar. standar KOH 0.1 N (indikator amilum) Hasil  (vol. kloroform – as. KI jenuh.

2. • Minyak diserap kertas saring dengan Lemak/ minyak dikocok dengan eter • 20 tetes minyak berwarna kuning pekat cepat. N. kertas saring transparan kecokelatan dan ada noda. ‐ Erlenmeyer ‐ 4 gram minyak dalam Erlenmeyer 50 • Warna dihubungkan dengan • Warna merah pekat pendingin tegak.5 • Setelah dititrasi dengan 16. Pengamatan minyak bekasnya hitam kecokelatan. Minyak dididihkan dengan penangas. ‐ Larutan didinginkan + 5 tetes indikator • Warna menjadi merah pekat agak PP. Penentuan Bilangan Penyabunan Langkah Kerja ml + 50 ml KOH 0. kecokelatan warna menjadi merah bening.5 N dalam etanol.5 ml HCl 23    . HASIL PENGAMATAN a.Catatan: Keempat percobaan ini dilakukan masing-masing dua kali untuk dua jenis sampel (minyak) yang berbeda yakni minyak baru dan minyak bekas. Grease Spot Test Langkah Kerja yang selanjutnya dituang dalam kaca arloji dan diuapkan eternya. E. ‐ Dititrasi dengan larutan HCl standar 0. Minyak Bekas 1. setelah ditambahkan 50 ml KOH warnanya berubah menjadi merah teh. Usap kaca arloji dengan kertas sarin Pengamatan setelah dikocok dengan eter warnanya berubah menjadi lebih kuning dan minyak larut dalam eter.

‐ Ditambahkan 0. Penentuan Bilangan Peroksida Langkah kerja kloroform : asam asetat glacial (2:3 v/v) dikocok. Penentuan Bilangan Asam Langkah Kerja erlenmenyer + 50 ml etanol 96% Pengamatan ditambahkan etanol terbentuk dua lapisan yaitu atas etanol dan bawah minya (tidak larut).Blangko Langkah Kerja ‐ 50 ml KOH 0. Terbentuk warna pink.5 ml KI jenuh sambil • Kuning bening setelah + KI Pengamatan ‐ 0.1 N dengan indikator PP. keruh.5 gram minyak + 30 ml pelarut • Minyak larut dengan sempurna dikocok + 30 ml aquades.7 ml. ‐ Dititrasi dengan larutan HCl standar warna menadi merah sekali seperti warna 0. lapisan atas putih ‐ 20 gram minyak dimasukkan dalam • Warna minyak cokelat kehitaman setelah balik. ‐ Erlenmeyer ditutup dengan pendingin • Terbentuk 2 lapisan . larutan standar KOH 0. larutan dititrasi dengan • Titrasi : 16.5 N 3. ‐ Didinginkan.5 N dalam etanol Pengamatan Setelah blangko dititrasi dengan 42 ml HCl minuman fanta setelah dititrasi menjadi cokelat bening (lebih bening dari warna minyak bekas). 4. Kuning keruh (ada pengentalan) setelah + aquadest peroksida) (iodin dibebaskan oleh ‐ Iodium yag dibebaskan oleh peroksida • Setelah ditambakan 3 tets indikator Pp dititrasi dengan larutan standar Na24    larutan menjadi warna ungu dan setelah . lapisan bawah cokelat madu. dipanaskan sampai mendidih dan digojok kuat.

Tidak tercampur. Terdapat gumpalan 25    . N.5 ml) ‐ Dititrasi dengan larutan HCl standar 0. merah dari sebelumnya) pada 1 ml. ‐ 4 gram minyak dalam Erlenmeyer 50 • Setelah ditambahkan KOH dalam etanol dihubungkan dengan • Larutan pendingin tegak. Grease Spot Test Langkah Kerja yang selanjutnya dituang dalam kaca arloji dan diuapkan eternya.tiosulfat amilum.7 ml b. • Berkas pada kertas saring bening dan Lemak/ minyak dikocok dengan eter • 10 tetes minyak berwarna kuning setelah tembus sampai ke bawah kertas saring. Minyak dididihkan dengan penangas. Usap kaca arloji dengan kertas sarin Pengamatan dikocok dengan eter 10 tetes minyak tersebut larut. ‐ Erlenmeyer Pengamatan berwarna cokelat bening. ‐ Larutan didinginkan + 5 tetes indicator • Larutan menjadi warna merah bata (lebih PP. 0.5 N dalam etanol. kemudian gumpalan hilang pada tetes-tetes selanjutnya dan warna lebih bening dari sebelumnya (18.1 N dengan indicator ditirasi larutan menjadi warna keruh agak pink • Volume Na2S2O3 titrasi = 3. Penentuan Bilangan Penyabunan Langkah Kerja ml + 50 ml KOH 0. 2. Minyak Baru 1. berwarna cokelat bening kehitaman (teh).5 • HCl berwarna bening.

berwarna putih (2. ‐ Iodium yag dibebaskan oleh peroksida • Larutan + indikator amilum berwarna 26    . kemudian berwarna pink pada titrasi 11.Blangko Langkah Kerja ‐ 50 ml KOH 0.8).5 N dalam etanol Pengamatan Setelah blangko dititrasi dengan 42 ml HCl minuman fanta setelah dititrasi menjadi cokelat bening (lebih bening dari warna minyak bekas). Penentuan Bilangan Peroksida Langkah kerja kloroform : asam asetat glacial (2:3 v/v) dikocok. ‐ Dititrasi dengan larutan HCl standar warna menadi merah sekali seperti warna 0. kuning bening. minyak di tengah larutan dan larutan berwarna putih/keruh.8. ‐ Ditambahkan 0. larutan dititrasi dengan • Setelah dititrasi dengn KOH. 4. larutan larutan standar KOH 0.5 gram minyak + 30 ml pelarut • Terjadi pencampuran dikocok + 30 ml aquades.5 N 3. dipanaskan sampai mendidih dan digojok kuat.5 ml KI jenuh sambil • Bening kekuningan terjadi penggumpalan Pengamatan (warna larutann bening kekuningan). ‐ 0. Penentuan Bilangan Asam Langkah Kerja erlenmenyer + 50 ml etanol 96% Pengamatan bawah minyak ‐ 20 gram minyak dimasukkan dalam • Terbentuk 2 lapisan yaitu atas alkohol dan ‐ Erlenmeyer ditutup dengan pendingin • Terdapat 2 lapisan : atas putih susu bawah balik. ‐ Didinginkan.1 N dengan indikator PP.

Persamaan reaksi a.dititrasi dengan larutan standar Natiosulfat amilum.5 ml) F. ANALISIS DATA 1. 0. Penentuan Bilangan Asam R‐COOH + KOH             R‐COOK + H2O Asam lemak + KOH             Garam + H2O  CH3(CH2)16COOH + KOH              CH3(CH2)16COO‐K+ + H2O  CH2‐COOH(CH2)16CH3             CH2OC2H5  CH‐COOH(CH2)16CH3   + 2 CH2OH              CHOC2H5 + 3CH3(CH2)16COOH  CH2‐COOH(CH2)16CH3                                   CH2OC2H5  d. Dititrasi dengan larutan Na-tiosulfat dan menjadi berwarna merah muda (bening keruh agak pink) (2. Penentuan Bilangan Peroksida 2I + H2O2 I2 + H2O2 2I + 2H2O + 2S2O2 27    I2 + 2S2O32 + 2H2 .1 N dengan indicator ungu. Penentuan Bilangan Penyabunan R‐COOH + KOH              R‐COOK + H2O + gliserol R‐COOK + HCl                R‐COOH + KCl  HCl + KOH            KCl + H2O  Minyak + KOH           Kalium Stearat + H2O + gliserol  c. Grease Spot Test (Tes Noda Lemak) • CH2OH CHOH + (R—O—R') CH2OH • CH3 O CH3 2CO2 + H2O Larut b.

5 4 gram 675.9 mlHCl/gram = = ¾ Bilangan Asam Minyak Baru Bilangan Asam = mlKOHxNorm.5ml ) x 28.5 BeratMinya k ( gram ) = (40.2ml − 16.1 BeratMinyak ( gram) 28    . Perhitungan ¾ Bilangan Penyabunan Minyak Baru Bilangan Penyabunan = (V1 − V2 ) x 28.5ml ) x 28.Reaksi Pembentukan Peroksida • RCHCHR + O2 R CH + R CH 2.45mlHCl 4 gr 168.5 BeratMinya k ( gram ) = (40.5 4 gram 618.KOHx56.6 mlHCl/gram = = Minyak Kotor Bilangan Penyabunan = (V1 − V2 ) x 28.45ml 4 gr 154.2ml − 18.

N 2 S 2 O3 x1000 BeratMinyak ( gram) = 3.5 gram 250mlN 2 S 2 O3 0.Lar.TitranLar .418mlKOH 20 gr 3.1Nx1000 0.KOHx56.1Nx56.1 20 gram 93.68 mlKOH/gram = = = ¾ Bilangan Peroksida Minyak Baru Bilangan Peroksida = Vol.1x1000 0.N 2 S 2 O3 x1000 BeratMinyak ( gram) = 2.1Nx56.87 mlKOH/gram = = Minyak Kotor Bilangan Asam = mlKOHxNorm.1 BeratMinyak ( gram) 16.1 20 gram 77.N 2 S 2 O3 xNorm.TitranLar .= 3.7 mlx 0.N 2 S 2 O3 xNorm.5 gr = = Minyak Kotor Bilangan Peroksida = 500 mlN2S2O3/gram Vol.5 gram 29    .5mlx0.8mlx 0.687mlKOH 20 gr 4.7mlx0.Lar.

Minyak Baru 154. Seperti yang kita ketahui bahwa lipid hanya dapat larut dalam pelarut organik non polar atau semi polar dan eter ini merupakan salah satu pelarut organik non polar sehingga minyak dapat larut pada saat mencampurkannya dengan senyawa eter ini. telah dilakukan identifikasi senyawa lipid menggunakan grease spot test atau tes noda lemak. Minyak adalah salah satu sumber energi yang lebih efektif jika dibandingkan dengan karbohidrat atau protein karena satu gram lemak atau minyak dapat menghasilkan 9 kkal/gram energi. Sedangkan pada pelarut nonpolar tidak memiliki momen dipol. Pada percobaan ini minyak larut dalam eter.68 mlKOH/gram 740 mlN2S2O3/gram G. Begitu juga sebaliknya. kertas saring tersebut baik pada minyak bekas maupun minyak baru membentuk noda translucent.5 gr 740 mlN2S2O3/gram Bil. Peroksida Bil. Kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut ditentukan oleh banyak hal.9 mlHCl/gram 4. Umumnya zat yang polar dapat larut dalam pelarut yang bersifat polar. Minyak Kotor/Jelantah 168. Asam Bil. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan tentang kimia lipid dengan menggunakan minyak bekas dan minyak baru. Hal ini dikarenakan adanya momen dipol pada zat atau pelarut sehingga dapat berikatan dan berinteraksi dengan sesamanya. Pada percobaan pertama dengan menggunakan minyak bekas dan baru.= = Sampel Minyak 370mlN 2 S 2 O3 0.6 mlHCl/gram 3.87 mlKOH/gram 500 mlN2S2O3/gram 2. Pada saat diusapkan dengan kertas saring. sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram energi. Penyabunan 1. jadi tidak dapat larut. antara lain adalah sifat kepolaran zat dan pelarutnya. namun tidak dapat larut dalam pelarut nonpolar. sehingga tidak bisa berinteraksi dengan zat yang polar. 30    .

9 dan pada minyak baru sebesar 154.5 N dan 5 tetes PP sebagai indikator. 31    . sedangkan minyak baru yang rantainya lebih panjang akan memiliki bilangan penyabunan yang lebih kecil.6.sehingga kertas tulis yang tidak tembus pandang menjadi semi transparan. Kemudian dilakukan titrasi dengan HCl 0. Titrasi HCl akan menetralkan KOH yang berlebih dan terbentuklah endapan putih garam netral KCl. Pada percobaan ini tidak terjadi seperti yang diharapkan karena disebabkan banyaknya indikator PP yang ditambahkan ke dalam larutan. akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar .1985 minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif kecil. Akan tetapi pada minyak bekas kertas saring ini kurang transparan bila dibandingkan dengan kertas saring pada minyak bersih dan warnanya kecokelatan serta ada noda karena pada minyak bekas terdapat zat pengotor dan karena sering digunakan sehingga warna kertas saring tersebut menjadi kecoklatan sehingga terjadi reaksi pencokelatan. Caranya adalah dengan menentukan jumlah kelebihan KOH yang tersisa setelah saponifikasi. Pada minyak bekas. Proses ini lebih dikenal dengan nama saponifikasi. Dengan adanya pemanasan dan penambahan KOH maka minyak akan membentuk gliserol dan sabun atau garam asam lemak. Larutan HCl tersebut digunakan untuk mengetahui sisa KOH yang tidak bereaksi (Aditya. Percobaan ke dua yaitu mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan penyabunan. rantai berupa rantai pendek karena rantai karbonnya telah mengalami penguraian oleh pemanasan yang berulang-ulang. Begitu pula halnya dengan blangko. 2010). bilangan penyabunan adalah bilangan yang menunjukkan jumlah mg kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas dan menyabunkan ester yang terdapat dalam 1 gr zat uji. Pada percobaan ini penambahan KOH+etanol berfungsi untuk menyabunkan dan pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk mencampurkan larutan. didapatkan bilangan penyabunan minyak bekas sebesar 168. maka angka penyabunan relatif kecil. Dari hasil analisis data. sebenarnya hasil larutannya berwarna bening akan tetapi karena penetesan indikator PP yang terlalu banyak sehingga hasilnya melenceng dari hasil sebenarnya. Menurut Farmakope edisi III. Menurut Hart. Pada blangko hanya ada reaksi KOH dengan HCL saja. Hal ini berarti bahwa bilangan penyabunan tersebut juga dipengaruhi oleh berat molekul dari kedua jenis minyak tersebut. sehingga bilangan penyabunan besar. Serta kelebihan HCl akan mengubah sabun menjadi asam lemaknya.

Dari hasil analisis data didapatkan hasil bilangan asam 3.dengan bantuan larutan Natrium tiosulfat (N2S2O3). H. Bilangan peroksida menunjukkan banyaknya mgrek peroksida yang terbentuk dalam setiap 100 gram minyak dan merupakan nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak. minyak tersebut tidak larut.87 untuk minyak baru dan 4. PENUTUP Kesimpulan: 1. dimana banyaknya larutan N2S2O3 yang dipakai sebanding dengan jumlah H2O2 yang terkandung dalam minyak. Minyak larut dalam eter karena eter merupakan pelarut organik non polar 32    . Karena kriteria minyak yang sudah rusak menurut sifat kimia lipida adalah minyak yang memiliki nilai bilangan asam dan bilangan peroksida tinggi maka nilai perhitungan analisis data yang diperoleh pada praktikum ini menunjukkan hasil yang demikian pula. I2 ini dapat direduksi kembali menjadi I. Berdasarkan analisis data diperoleh bilangan peroksida untuk minyak baru sebesar 500 sedangkan untuk minyak lama sebesar 740. Minyak atau lemak yang mudah mengalami oksidasi spontan adalah yang mengandung asam lemak tidak jenuh. Jadi bilangan asam ini bisa dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui apakah minyak sudah kotor atau tidak. yaitu melihat banyaknya I. Larutan KOH pada percobaan ini berguna sebagai penitrasi. Pada saat penambahan alkohol 95% pada minyak.Selanjutnya adalah mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan asam.68 untuk minyak bekas.yang dioksidasi oleh H2O2 menjadi I2. dimana I2 disini akan membentuk kompleks dengan amilum sehingga menghasilkan warna biru. Percobaan terakhir adalah mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan peroksida. Perubahan minyak menjadi tengik biasanya dipengaruhi oleh oksigen yang disebut ketengikan oksidatif yaitu ketengikan yang disebabkan oleh oksidasi oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung minyak dan lemak dibiarkan berkontak dengan udara. Bilangan asam menunjukan banyaknya asam lemak bebas dalam suatu lemak atau minyak. Bilangan asam merupakan jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam-asam lemak bebas yang terdapat pada satu gram lemak atau minyak. Untuk menentukannya dapat menggunakan metode iodometri atas dasar reaksi antara alkali iodida dengan peroksida dalam suasana asam.

Dari hasil Percobaan mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan didapatkan hasil bilangan asam 3. Kerusakan minyak ditandai dengan minyak berubah menjadi tengik yang biasanya dipengaruhi oleh oksigen yang disebut ketengikan oksidatif.6. 4. Bilangan penyabunan minyak bekas diperoleh sebesar 168. 33    .2. 3. Akan tetapi hanya pada minyak bekas yang menunjukkan ada noda pada kertas saring. Besarnya bilangan penyabunan pada minyak bekas dikarenakan rantai berupa rantai pendek karena rantai karbonnya telah mengalami penguraian oleh pemanasan yang berulang-ulang. Minyak baru maupun bekas menunjukkan hasil positif pada identifikasi senyawa lipid menggunakan grease spot test atau tes noda lemak karena menghasilkan kertas saring yang transparan. 6.9 dan pada minyak baru sebesar 154. Pada percobaan mengidentifikasi kualitas minyak melalui penentuan bilangan peroksida diperoleh bilangan peroksida untuk minyak baru sebesar 500 sedangkan untuk minyak lama sebesar 740. Saran : Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan praktikum ada tidak terjadi kesalahan pada hasil yang diperoleh. 5.68 untuk minyak bekas. 7. kriteria minyak yang sudah rusak menurut sifat kimia lipida adalah minyak yang memiliki nilai bilangan asam dan bilangan peroksida tinggi.87 untuk minyak baru dan 4.

Syamsu. 2010. Tim Penyusun Praktiku Biokimia..ipard. Panji. Suharyanto..30 WITA.com/doc/43248666/Laporan-Praktikum-Biokimia-Lipid. 34    . Petunjuk Praktikum Biokimia.. Dasar-dasar Biokimia. Mataram : Fakultas MIPA Unram.35 WITA. Anna.. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. http://www. Diakses pada tanggal 17 Desember 2010 pukul 13. Jakarta : UI Press.2006. http://www. Diakses pada tanggal 17 Desember 2010 Pukul 13.com/infopstk/publikasi/e-jurnal/biotek/MP70-0203. Andry.DAFTAR PUSTAKA Aditya. Paulus. Poedjiadi. Laporan Praktikum Biokimia Lipid. Fauzi.pdf. Hartono. Tri.scribd. Produksi dan Stabilisasi Desaturase Dari Absidia corymbife. 1994. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Anindita Ratnawati.

yang mempunyai sistem lingkar lima. semua hormon steroid terbuat dari perubahan struktur dasar kimia kolesterol (Achmad. Akan tetapi pola makan yang cenderung berupa makanan sumber hewani dengan lemak tinggi. 9 November 2010 : Laboraturium Kimia lantai 3 Fakultas MIPA Universitas Mataram sampel B. PELAKSANAAN PRAKTIKUM Tujuan : Untuk menentukan kadar kolesterol dengan melakukan uji dan menentukan kurva kalibrasi Hari. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. Sintesis MEVALONAT yang merupakan senyawa 6 karbon dari Asetil KoA 35    . Kelebihan kolesterol inilah yang dapat memacu aterosklerosis yang selanjutnya berpotensi menimbulkan penyakit jantung koroner (PJK) (Galton and Krone. estrogen.PENENTUAN KADAR KOLESTEROL A. Steroid lain termasuk steroid hormon seperti kortisol. sehingga dimasukkan dalam golongan lipid (lemak. Kolesterol memiliki molekul yang terdiri atas tiga lingkar enam tersusun seperti dalam fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima Hidrokarbon tetrasiklik jenuh. Biosintesis kolesterol terbagai dalam lima tahap : 1. LANDASAN TEORI Kolesterol merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol adalah senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam minyak dan alkohol. menyebabkan kolesterol berada dalam jumlah berlebihan dalam darah. kerangka ini sekaligus merupakan ciri khusus yang membedakan steroid dengan senyawa organik bahan alam. disebut 1. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. dan testosteron. kolesterol diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Nyatanya. 1986). hidrokarbon tetrasiklik jenuh yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri atas 17 atom karbon. tanggal Tempat : Selasa. 1991). Secara normal.).2 siklopentenoperhidrofenantren. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Kolesterol dalam tubuh manusia berasal dari diet makanan asal hewan yang mengandung kolesterol dan juga disintesis oleh liver dari Asetil CoA (Asetil CoA berasal dari penguraian karbohidrat dan lemak) (Vogel : 1985).

04 Kontrol (+) 60 69 60 70 84 68. Kadar kolesterol total masing-masing kelompok tikus setelah diberi larutan uji selama 30 hari 36    .6±6. HMG-KoA ini dikonversi menjadi mevalonat dengan katalis enzim HMG-KoA reduktase.3-epoksida oleh enzim oksidase.8±3. Sintesis SKUALENA dari 6 molekul isoprenoid Kondensasi tiga molekul isopentenil difosfat membentuk farnesil difosfat. Sintesis senyawa induk LANOSTEROL dari proses siklisasi skualena Skualen dikonversi menjadi skualen 2. 2003).83 Lemak tinggi 89 85 82 82 97 87±6. Dengan cara dekarboksilasi terbentuk unit isoprenoid aktif. Hasil dari reaksi yang terjadi adalah senyawa skualen.88 70. Sintesis unit ISOPRENOID dari mevalonat dengan melepas CO2 Mevalonat mengalami fosforilasi oleh ATP untuk membentuk beberapa intermediet terfosforilasi aktif. Aseto asetil KoA berkondensasi dengan molekul asetil KoA berikutnya membentuk HMG-KoA.6±9. 3. setiap kelompok diberi perlakuan dengan larutan uji selama 30 hari. 4.28 Kadar kolesterol (mg/dL) Produk A Produk B 67 60 85 76 78 81 82 69 76 68 77. Kontrol (-) 58 67 63 58 63 61. Setelah itu terjadi siklisasi yang dikatalis oleh enzim oksidoskualen:lanosterol siklase 5. 2. Sintesis KOLESTEROL dari lanosterol melalui beberapa tahapan. Kadar kolesterol kelompok tikus yang diberikan pakan diet kolesterol tinggi selama 10 hari meningkat rata-rata 10-20 mg/dLn dibandingkan dengan kelompok tikus yang diberikan pakan standar (kontrol negatif). Data kadar kolesterol total masing-masing kelompok tikus setelah diberi larutan uji selama 30 hari ditunjukkan pada Tabel 1. Selanjutnya. yaitu isopentonil difosfat. diantaranya pelepasan 3 gugus metil.8±8. Pembentukan kolesterol dari lanosterol berlangsung dalam membran retikulum endoplasma ( Murray.84 1 2 3 4 5 Rerata±SD Tabel 1.Molekul asetil KoA berkondensasi membentuk aseto asetil KoA dan dikatalis oleh enzim sitoxol tiolase.

kadar kolesterol total kelompok tikus diet lemak tinggi tanpa perlakuan menunjukkan perbedaan signifikan dengan kelompok tikus diet lemak tinggi yang diberi perlakuan dengan produk B dosis 0.Hasil analisis dengan One Way Anova menunjukkan bahwa kadar kolesterol kelompok kontrol negatif berbeda secara signifikan dengan kolesterol kelompok tikus diet kolesterol tinggi yang diberi perlakuan dengan produk A. 2). adanya senyawa-senyawa polifenol dan asam fenolat sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai suplemen untuk pencegahan obesitas. Sedangkan jamur shimeji utuh dilaporkan mengandung berbagai serat makanan seperti pektin. ALAT DAN BAHAN 1. Pembawa yang digunakan adalah madu. Aktivitas antikolesterol apel kemungkinan berhubungan dengan kandungan seratnya yang tinggi. Dosis kurang (di bawah dosis terapi) sehingga tidak menimbulkan efek atau perlu diberikan dalam multiple dose. dimana madu mengandung gula (karbohidrat) yang merupakan sumber kalori. Sesuai dengan penelitian Leontowicz et al. termasuk dalam aktivitasnya sebagai antitumor dan antikolesterol. C. diet tambahan dengan apel Israel (Malus sylvestris) menunjukkan efek hipokolesterolemia pada tikus diet kolesterol tinggi. Sebaliknya. Jamur shitake (Lentinus edodes) diketahui memiliki aktivitas hipokolesterolemia melalui mekanisme modifikasi metabolisme fosfolipid pada liver tikus. Oleh karena itu.Tabung Reaksi .Buret 37    . -glukan dan kitin. Padahal. (2002).5 mL/200 gram pada tikus diet lemak tinggi mampu menurunkan kadar kolesterol hampir setara dengan obat antikolesterol standar simvastatin. 2010). Kelompok tikus tetap diberikan diet lemak tinggi selama perlakuan menggunakan produk A. penyakit-penyakit kardiovaskuler dan penyakit lainnya (Ariantari. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian produk A dosis 0. Data ini menunjukkan bahwa pemberian produk B sekali sehari dosis 0. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pemberia produk A tidak dapat menurunkan kadar kolesterol total kelompok tikus diet lema tinggi yaitu: 1). 3). berdasarkan beberap penelitian sebelumnya jamur shitake dan shimeji diketahui memiliki aktivitas antikolesterol.5 mL/200 gram BB sekali sehari dan kelompok tikus diet lemak tinggi yang diberi perlakuan dengan obat antikolesterol standar simvastatin (kontrol positif).15 mL/200 gram BB sekali sehari tidak mampu menurunkan kadar kolesterol tikus yang diberi diet kolesterol tinggi sampai kadar normal (dibandingkan dengan kontrol negatif). Alat . beberapa preparasi herbal menggunakan jamur shimeji utuh dilaporkan lebih efektif dibandingkan dengan fraksi atau isolatnya.

Dikocok .Alkohol absolut .Colour reagen .5 alkohol absolut ..1 mL serum .5.Serum . Bahan .Pipet .Dimasukkan ke dalam tabung reaksi .Dikocok dengan vortex mixer ± 30 detik Hasil .Didiamkan Terbentuk 2 lapisan . Uji Sampel ¾ Untuk kadar kolesterol rendah 2.Diambil lapisan atas .Gelas kimia . SKEMA KERJA 1.Dimasukkan kedalam tabung reaksi lain Hasil 38    .(+) 0.0 mL petroleum benzin .Larutan kolesterol standar 0.Asam sulfat pekat .Kertas saring 2.Asam asetat glacial .(+) 3 mL aquadest .tabung reaksi ditutup rapat-rapat .Aquades .Petrolium benzin .Dikocok Hasil .05 mg/ml petroleum eter D.Gelas Ukur .

∆ penangas air beberapa menit .0 mL petroleum benzin .Dimasukkan ke dalam tabung reaksi .Didinginkan pada T kamar Sampel -Dialirkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan Terbentuk 2 lapisan .Dikocok dengan vortex mixer ± 30 detik Hasil .Dikocok .Diambil lapisan atas 39    .Dikocok dgn vortex mixer .Dibiarkan mengering di udara terbuka Hasil .tabung reaksi ditutup rapat-rapat .5.5 alkohol absolut .Diukur A dan % T dengan spektrofotometer pd ‫ = ג‬560 nm Hasil ¾ Untuk kadar kolesterol tinggi 2.Didiamkan dalam ruang gelap 30 menit .Diuapkan dalam penangas air pada suhu 800C Cairan tinggal sedikit .(+) 3 mL aquadest .(+) 4.1 mL serum .0 mL Colour Reagent (1.(+) 0.dikocok Hasil .0 mg FeCl3 6H2O/mL asam asetat glasial) Tabung reaksi lain + 4 ml asam asetat glasial Blangko ..Didiamkan Terbentuk 2 lapisan .

Diukur A dan % T dengan spektrofotometer pd ‫ = ג‬560 nm Hasil 2.0 ml T.∆ penangas air beberapa menit .Dimasukkan kedalam tabung reaksi lain Hasil .Larutan kolesterol standar 0..Dibiarkan mengering di udara terbuka Hasil .R 3 + 2.0 ml .5 mL T.05 mg/mlpetroleum eter .0 mg FeCl3 6H2O/mL asam asetat glasial) Tabung reaksi lain + 4 ml colour reagent Blangko .Diuapkan (penangan air T = 80o) Larutan tersisa sedikit .R 1 + 0.(+) 4.Didiamkan dalam ruang gelap 30 menit .Dikocok dgn vortex mixer .Diuapkan dalam penangas air pada suhu 800C Cairan tinggal sedikit . Kurva Kalibrasi T.Didinginkan pada T kamar Sampel -Dialirkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan Terbentuk 2 lapisan .Diuapkan dalam temperatur kamar Hasil 40    .R 2 + 1.0 mL Colour Reagent (1.

∆ penangas air beberapa menit Tabung reaksi lain + 4 ml colour reagen Blangko Sampel .0 ml petroleum benzin Tutup tabung rapat-rapat..(+) 4.Didiamkan dalam ruang gelap 30 menit .1 ml serum dikocok • Tambahkan 5. • Ambil lapisan atas masukkan dalam 41    Hasil Pengamatan -Warna lebih kuning -Lebih keruh.0 mL Colour Reagent (1. • Campur dengan vortex mixer selama 30 dtk.Diukur A dan % T dengan spektrofotometer pd ‫ = ג‬560 nm Hasil E. HASIL PENGAMATAN • Uji Sampel Serum konsentrasi Tinggi (Kolesterol tinggi Langkah Kerja • Sediakan tabung reaksi tertutup (tabung S) • 2. .0 mg FeCl3 6H2O/mL asam asetat glasial) . • Tambahkan 3 ml aquades kocok lagi selama 10-15 dtk.Didinginkan pada T kamar -Dialirkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan Terbentuk 2 lapisan .5 ml alkohol dimasukkan dalam tabung reaksi • Tambahkan 0. warna krem. lapisan bawah putih kuning. mengendap lama -Endapan krem -Terbentuk 2 lapisan : lapisan atas bening kuning. kemudian didiamkan terjadi 2 lapisan.Dikocok dgn vortex mixer .

%T = 3. • Masukkan tabung s dalam penangas air beberapa menit kemudian didinginkan.0 ml H2SO4 pekat ke dalam tabung s dan b dengan mengalirkan melalui dinding tabung yang dimiringkan • Kocok dengan vortex mixer.0 ml Reagent (Colour Reagent) • Ambil tabung lain untuk blanko. -Saat + asam sulfat Tabungg S: lapisan atas putih.074 nm. • Tambahkan 4.074 nm. Ukur A dan % T larutan S terhadap B dengan spektrofotometer pada λ = 360 nm S : A= 0. lapisan bawah bening.7 B: A= 0. • Ditambahkan 3. %T= 69.000 gr -Larutan berwarna kuning FeCl3-6H2O/ml asam asetat glasial).0 colour reagent (0. Masukkan 4.tabung reaksi. lapisan bawah cokelat • Diamkan tabung s dan b dalam ruang gelap selama 30 menit. tengah bening kekuningan. • Uapkan dalam penangas air dengan (80o) sampai cairan tinggal sedikit. -Lapisan atas putih keruh. Ambil tabung reaksi dan biarkan mengering. lapisan bawah cokelat Tabung B: lapisan atas bening kekuningan.8 -Saat dipanaskan bening kekuningan -Larutan bening kekuningan -Larutan bening kekuningan Serum Kolesterol Rendah Langkah Kerja • Sediakan tabung reaksi tertutup (tabung S) 42    Hasil Pengamatan .

Terdapat endapan putih . • Tambahkan 3 ml aquades kocok lagi selama 10-15 dtk.1 ml serum dikocok • Tambahkan 5. kemudian didiamkan terjadi 2 lapisan. Residu keruh . . bening. . Masukkan 4.0 colour reagent (0.• 2.Lebih jernih. -Larutan bening -Larutan bening kekuningan -Larutan berwarna kuning . • Uapkan dalam penangas air dengan (80o) sampai cairan tinggal sedikit. • Ditambahkan 3. lapisan bawah bening.0 ml H2SO4 pekat ke dalam tabung s dan b dengan mengalirkan melalui dinding tabung yang dimiringkan • Kocok dengan vortex mixer.Warna putih. bawah bening.Tabung S: terdapat 4 lapisan.000 gr FeCl3-6H2O/ml asam asetat glasial). • Tambahkan 4. 3 cokelat. Ambil tabung reaksi dan biarkan mengering. bawah putih.Terbentuk 2 lapisan: atas bening. 43    . • Ambil lapisan atas masukkan dalam tabung reaksi. 1 keruh.0 ml Reagent (Colour Reagent) • Ambil tabung lain untuk blanko. 4 cokelat Tabung B: terdapat 2 lapisan. 2 bening. • Campur dengan vortex mixer selama 30 dtk.5 ml alkohol dimasukkan dalam tabung reaksi • Tambahkan 0. ada residu. mengendap cepat. • Masukkan tabung s dalam penangas air beberapa menit kemudian didinginkan. atas bening kekuningan. -Lapisan atas putih keruh.0 ml petroleum benzin Tutup tabung rapat-rapat.

atas kuning.0 colour reagent (0.000 gr FeCl3-6H2O/ml asam asetat glasial).074 nm %T = 69.0 ml Reagent (Colour Reagent) • Ambil tabung lain untuk blanko. bawah bening. Ukur A dan % T larutan S terhadap B dengan spektrofotometer pada λ = 360 nm S : A = 1. • Uapkan sampai kering dalam perangas air (80 derajat celcius ) dan sisanya diuapkan pada temperatur kamar.1 ml dan 2. Tabung 2 : 2 lapisan warna.032 B: A = 0.Larutan menguap sampai kering -Warna colour reagent kuning larutan dalam tabung lebih bening dibandingkan sebelumnya. . -Tabung 1: 2 lapisan warna. • Masukkan tabung s dalam penangas air beberapa menit kemudian didinginkan. bawah .0 ml larutan kolestrol standar 0. 0.Setelah dipanaskan warna ketiga • Ditambahkan 3.362 nm %T = 0. masing-masing tabung diisi 0.   44    Hasil Pengamatan -Warna larutan kolesterol bening .05 mg/ml petroleum eter.8 • Kurva Kalibrasi Langkah Kerja • Sediakan 3 tabung reaksi.masing: Tabung 1 : 125 mg % Tabung 2 : 250 mg % Tabung 3 : 500 mg % • Tambahkan 4. atas kuning. • Kadar kolesterol masing. • Masukkan 4.• Diamkan tabung s dan b dalam ruang gelap selama 30 menit.0 ml H2SO4 pekat ke dalam tabung s dan b dengan mengalirkan melalui dinding tabung yang dimiringkan.5 ml.

275 nm %T (Transmitan) 73.05 mg Ditanya : Massa M1.7 0.5 ml 1 ml 2 ml   A (Absorbans) 0.0 F.036 nm 0. atas hjau.4 nm Tabung 3 : A = 0.275 nm. %T = 45. Tabung 3 : 3 lapisan warna.3 70. Tabung B : 2 lapisan warna. M3 ? M1 = V1 x kadar kolesterol standar 45    . Perhitungan Diketahui : kolesterol volume V1 = 0.1 Tabel Uji Sampel Tabung Blangko 1 Kolestero tinggi Kolesterol rendah Tabel Kurva Kalibrasi Tabung Blangko 2 0.053 nm. • Ukur A dan % T larutan S terhadap B Tabung 1 : A = 0. M2.074 nm 1. %T = 78. ANALISIS DATA 1.061 nm.      bening. %T = 73. atas kuning.362 nm %T (Transmitan) 69.053 nm 0. tengah merah. • Kocok dengan vortex mixer.8 3. bawah bening.1 78.5 ml.4 45.3 dengan spektrofotometer pada λ = 360 Tabung 2 : A = 0. %T = 70.074 nm 0.0 ml.036 nm. V3 = 2. bawah bening.061 nm 0. • Diamkan tabung s dan b dalam ruang gelap selama 30 menit.0 ml Kadar kolesterol standar = 0. V2 = 1.0 Tabung B : A = 0.032 A (Absorbans) 0.

282x + 0.0 x 0.25 0.1 mg 2.= 0.1 0.282x + 0.05 = 0.08 0.282x x = 0.051 = 0.023 Konsentrasi (mg) Penentuan Kadar Kolesterol Dalam Serum Darah (X) Serum Kolesterol Tinggi : 9 y = 0.05 mg M1 = V1 x kadar kolesterol standar = 2.023 = 0.074 – 0.5 x 0.04 0.05 = 0.282x + 0.02 0 0 0.2 0.051/0.023 0.06 0.1 Absorbansi 0.025 mg M2 = V2 x Kadar kolesterol standar = 1.282 = 1.282x 0.05 = 0.0 x 0.3 konsentrasi (mg) linear (konsentrasi) y = 0.801 Serum Kolesterol Rendah : 46    .12 0. Kurva Kalibrasi Kurva kalibrasi 0.074 = 0.023 0.15 0.05 0.

Penambahan asam sulfat pekat pada percobaan ini adalah untuk kompleks warna atau untuk menunjukkan adanya kolesterol.282x + 0.282x 1. Petroleum benzin merupakan suatu pelarut organik yang bersifat non polar dan kolesterol seperti yag dijelaskan di atas termasuk lipid yang bersifat non polar sehingga petroleum benzin ini dapat melarutkan kolesterol.362 = 0. tidak larut dalam air tetapi larut dalam minyak dan alkohol panas. Kolesterol merupakan steroid hewani yang terdapat pada hampir semua jaringan hewan dan berguna dalam biosintesis hormon steroid.339/0. 2010). 2. Adapun tujuan dilakukannya pengocokan atau vortex mixer adalah agar fase 2 pelarut tersebut terpisah sempurna. Adanya 2 fase menunjukkan dari 2 pelarut yang tidak saling campur. Penambahan asam sulfat pekat ini menyebabkan 47    .023 1. dan serum kolesterol rendah terbentuk endapan putih.282 = 4.9 y = 0. Kolesterol dan derivatnya. Alkohol absolute merupakan alkohol yang mendekati alkohol murni dan bersifat anhydrous dan merupakan pelarut yang bersifat polar.339 = 0. pada serum kolesterol tinggi terbentuk endapan krem. Pada saat penambahan petroleum benzin. Steroid adalah lipid yang memiliki struktur kimia khusus yang terdiri atas 4 cincin atom karbon (Anonim. 2008). Fungsi alkohol disini adalah untuk melarutkan zat-zat yang bersifat polar yang ada pada kolesterol.5 ml alkohol absolute (etanol) ditambah dengan serum dan menghasilkan warna putih serta endapan pada kolesterol rendah sedangkan dihasilkan warna kuning pada kolesterol tinggi.282x + 0. Kolesterol ialah molekul yang ditemukan dalam sel berupa sejenis lipid (lemak) khusus yang disebut steroid.748 G. Pada percobaan pertama yakni uji sampel. penambahan colour reagent disini digunakan untuk identifikasi warna.362 – 0. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini telah dilakukan percobaan penentuan kadar kolesterol dimana digunakan uji sampel dan kurva kalibrasi dalam menentukan kadar kolestrol tersebut. namun senyawa ini tidak harus diperoleh dari luar tubuh melalui makanan sebab kolesterol dapat disintesis oleh tubuh dari asetil koenzim A (Anonim.282x x = 1. sehingga dimasukkan dalam golongan lipid (lemak).023 1.023 = 0.

4 dan 2 lapisan pada larutan serum kolesterol tinggi dan kolesterol rendah serta tabung blangko. Dalam pengujian sampel.749 nm dengan % T sebesar 3. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan 48    .362 nm dan % T sebesar 0. Dari hasil analisis data.7%. Kadar normal kolesterol dalam darah adalah 200 mg/dl sehingga nilai kadar kolesterol pada hasil pengamatan lebih sedikit dari pada kadar normal kolesterol dalam darah. serum kolesterol tinggi ini nilainya lebih kecil dibandingkan dengan serum kolesterol rendah.9%. Spektrofotometer dapat mengidentifikasi logam yang ada dalam sampel bila sampel itu bewarna. ini mungkin terjadi karena praktikan kurang teliti dalam melaksanakan tahap demi tahap percobaan tersebut. Pada serum kolesterol rendah diperoleh nilai A sebesar 1.748 mg/dl. Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya.terbetuknya masing-masing 2. Akan tetapi dari hasil perhitungan kadar kolesterol.032% sedangkan pada serum kolesterol tinggi diperoleh A sebesar 0. Hal ini disebabkan karena memang serum yang digunakan pada praktikum ini memiliki kadar kolesterol yang sedikit. Spektrofotometer bekerja berdasarkan penyerapan sinar yang dihasilkan oleh sampel yang bewarna pada panjang gelombang tertentu. Selanjutnya. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang di transmisikan atau yang di absorpsi. Untuk mengukur absorbansi (A) dan % transmittannya maka digunakan alat yang disebut spekrtofotometer. Untuk tabung blangko (B) nilai A sebesar 0. serum diletakkan kedalam ruang gelap yang bertujuan untuk fluorosense karena kolesterol merupakan salah satu larutan yang memiliki sensitivitas tinggi atau sifatnya menyerap cahaya yang bisa menambah nilai absorbansinya. Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spectrometer dan fotometer. percobaan ke dua yang dilakukan adalah kurva kalibrasi.074 dan % T sebesar 68.801 mg/dl sedangkan nilai kadar kolesterol dalam serum kolesterol rendah sebesar 4. nilai kadar kolesterol dalam serum kolesterol tinggi diperoleh sebesar 1. namum sulit diidentifikasi pada sampel yang tidak menghasilkan perubahan warna atau kadar logam dalam sampel sangat kecil sekali (Montgomery : 1993). Oleh karena itu sebelum diukur nilai absorbansinya maka perlu disimpan dalam ruang gelap.

Penambahan colour reagent disini digunakan untuk identifikasi warna. pada umumnya.275 %T 45.4.0 ml larutan konsentrasi standar. 8. Kalibrasi. tidak larut dalam air tetapi larut dalam minyak dan alkohol panas. H. Nilai A tabung 1 sebesar 0. Penambahan bahan-bahan seperti colour reagent dan lain-lain pada percobaan ke dua ini memiliki fungsidan tujuan yang sama pada uji sampel di atas.061 %T 70. Fungsi penambahan petroleum benzin adalah sebagai pelarut yang melarutkan kolesterol.8. termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi). Spektrofotometer bekerja berdasarkan penyerapan sinar yang dihasilkan oleh sampel yang bewarna pada panjang gelombang tertentu. 7. Larutan ini berwana bening. Untuk mengukur absorbansi (A) dan % transmittannya maka digunakan alat yang disebut spekrtofotometer. 1.0 ml. tabung 3 A sebesar 0. tabung 2 A sebesar 0. 2. Penambahan asam sulfat pekat pada percobaan ini adalah untuk kompleks warna/ menunjukkan adanya kolesterol. 5.tersertifikasi.5 ml. 9. Kolesterol dan derivatnya. 3. dan 2. 4.749 nm 49    . sehingga termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius pada titik-titik tertentu di skala (Vogel : 1985). 6. Kolesterol diletakkan kedalam ruang gelap bertujuan untuk flourosense. merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu.1. PENUTUP Kesimpulan : 1.032% sedangkan pada serum kolesterol tinggi diperoleh A sebesar 0. Kolesterol ialah molekul yang ditemukan dalam sel berupa sejenis lipid (lemak) khusus yang disebut steroid. Tujuan dilakukannya pengocokan atau vortex mixer adalah untuk memisahkan secara sempurna fase 2 pelarut.0. Contohnya.053 dengan %T sebesar 73. sedangkan tabung B nilai A sebesar 0. Pada serum kolesterol rendah diperoleh nilai A sebesar 1.036 %T 78. Pada 3 tabung reaksi masing-masing dimasukkan 0.362 nm dan % T sebesar 0.

Nilai A tabung 1 sebesar 0.8. sedangkan tabung B nilai A sebesar 0.036 %T 78. 11.061 %T 70. 10.dengan % T sebesar 3.0.9%.4. Nilai kadar kolesterol pada hasil pngamatan lebih sedikit dari pada kadar normal kolesterol dalam darah. tabung 3 A sebesar 0. 50    .1. tabung 2 A sebesar 0.7%.275 %T 45. Hal ini disebabkan karena memang serum yang digunakan pada praktikum ini memiliki kadar kolesterol yang sedikit.074 dan % T sebesar 68. Untuk tabung blangko (B) nilai A sebesar 0.053 dengan %T sebesar 73.

D. W.pdf. Vogel.unud.I. 2009.farmasiku. 1991. A. http://www. Montgomery. Ni Putu. London : Gower Medical Publishing. 1985.30 WITA. and Krone. 1986. 2010. 51    . Uji Aktivitas Penurunan Kolesterol Produk Madu Herbal Yang Beredar Di Pasaran Pada Tikus putih Diet Lemak Tinggi. Hiperlipidaemia in Practice. Petunjuk Praktikum Biokimia. Rex. Galton. Sjamsul Arifin. M. http://ejournal. Jilid 2. Mataram : FMIPA UNRAM. Victor W Rodwell. 2010. Robert. Setiono dan A.id/abstrak/j-kim-4-1-3. Darli K Grader. Anonim. Jakarta : Penerbit Karunika. Jakarta : Kalman Media Pustaka.DAFTAR PUSTAKA Achmad. Jakarta: EGC. Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam. 2008. Biokimia Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus (terjemahan Prof. Diakses pada tanggal 13 November 2010 pukul 17. dkk. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Anorganik Makro dan Semimikro. 1993. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Ariantari. Diakses pada tanggal 13 November 2010 pukul 17. Ismadi).ac.30 WITA. Anonim. Biokimia Harper. Muray. Kolesterol.com/index. Dr.php?target=categories &category_id=194.H Pudjaatmaka. Penerjemah L.

kolestrol. dan sublingual. mineral. Saliva adalah cairan yang lebih kental dari pada air biasa. Fungsi ludah sebagai pembasah makan dalam mencerna makanan di mulut. 1985). lisitin.E. Setiap harinya kelenjar ludah dapat menghasilkan 1-1.D. 8 Desember 2010. Asam empedu merangsang produksi garam-garam empedu (Vogel. : Laboraturium Kimia lantai 3 Fakultas MIPA Universitas Mataram. : Selasa. B. Hati adalah organ lunak yang kaya akan darah yang berwarna merah tua. Komposisi empedu terdiri atas air. garam empedu. LANDASAN TEORI Organ tubuh yang terbesar adalah hati. 52    . Teganan permukaan rendah dari lemak dan sebagian bartanggung jawab untuk emulsifikasi lemak sebelum dicerna dan diabsorpsi di dalam usus halus. Darah yang mengalir ke hati merupakan darah yang berasal langsung dari jantung dan usus. garam anorganik. Enzim yang di miliki oleh saliva berupa amylase (ptyalin).5 L air ludah. pigmen empedu. Garam empedu berfungsi sebagai penetral asam lambung yang masuk ke dalam deudenum. Ludah atau air liur merupkan cairan yang membantu dalam proses pencernaan secara kimia di dalam mulut.UJI SIFAT FISIK DAN KIMIA CAIRAN TUBUH (AIR LIUR DAN EMPEDU) A. Darah yang mengalir kemudian akan merembes melalui lobolus kecil yang memiliki diameter 1 mm dengan jumlah lobolus lebih dari 50.000. 1985). dan K). yang paling penting dalam pencernaan lemak adalah efek hidrotropiknya. Cairan empedu disekresi oleh hati. PELAKSANAAN PRAKTIKUM Tujuan Hari/tanggal Tempat : Untuk mengetahui sifat fisik dan kimia dari air liur dan empedu. Di dalam hati zat makanan akan di pecah menjadi zat yang perlukan oleh tubuh seperti vitamin. Dari semua komposisi tersebut. Empedu itu sendiri bukan merupakan sejenis enzim yang dapat mengkatalis reaksi dalam tubuh. Ludah (saliva) kaya akan ion dan mengandung sejumlah enzyme. Ada tiga set kelenjar ludah pada manusia : parotid. submaksilaris. Selain itu ludah juga memiliki anti bakteri dalam mulut dan cukup efektif membunuh bakteri. Selain untuk absorpsi lemak empedu juga penting untuk proses absorpsi vitamin-vitamin yang larut dalam dalam lemak (Vitamin A. Hati memiliki lobus kanan lebih besar dan lobus kiri yang lebih kecil. dan zat lain yang penting dalam tubuh (Mayer.

Kelompok DM memiliki kriteria kadar glukosa darah puasa (GDN) 126 mg/dL dan glycosylated haemoglobin (HbA1c) > 8%. Analisis data penelitian dilakukan dengan uji t berpasangan untuk uji komparasi laju alir saliva. Konsentrasi protein total saliva diukur dengan metode Bradford. Kelompok kontrol memiliki kriteria GDN < 100 mg/dL dan memiliki usia serta jenis kelamin yang disesuaikan dengan kelompok DM. Sampel saliva tanpa stimulasi dikumpulkan dari 12 subyek penyandang DM tipe 2 terkontrol buruk (kelompok DM) dan 16 subyek non diabetes (kelompok kontrol).Kandungan air alam ludah sekitar 99. Pada sampel saliva dilakukan pengukuran konsentrasi protein total saliva. C. Penelitian tentang hubungan konsentrasi protein total saliva dengan viskositas saliva tanpa stimulasi pada penyandang diabetes melitus bertujuan untuk melihat hubungan konsentrasi protein total saliva dengan viskositas saliva pada penyandang DM tipe 2 terkontrol buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna konsentrasi protein total saliva dan viskositas saliva pada kelompok DM dan kelompok kontrol. Analisis data penelitian dilakukan dengan uji Pearson untuk uji korelasi laju alir saliva dengan viskositas saliva serta konsentrasi protein total saliva dengan viskositas saliva. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah tidak terdapat korelasi yang bermakna antara konsentrasi protein total saliva dengan viskositas saliva tanpa stimulasi pada penyandang diabetes melitus tipe 2 terkontrol buruk (Oktayani. Terdapat korelasi yang tidak bermakna antara laju alir saliva dengan viskositas saliva maupun konsentrasi protein total saliva dengan viskositas saliva pada penyandang DM tipe 2 terkontrol buruk.24%. viskositas saliva dan konsentrasi total protein saliva antara kedua kelompok. 2009). Laju alir saliva pada kelompok DM memiliki perbedaan bermakna dengan kelompok kontrol. laju alir saliva dan viskositas saliva tanpa stimulasi. ALAT DAN BAHAN • Alat ‐ Tabung Reaksi 9 buah ‐ Rak tabung reaksi ‐ Gelas kimia 100 mL 2 buah ‐ Pipet tetes beberapa buah ‐ Kertas saring 1 lembar ‐ Corong 1 buah • Bahan ‐ Aquades ‐ Empedu 53    . Saliva sendiri memiliki pH sedikit dibawah 7 (Poedjiadi: 1994).

Uji Molisch 20 tetes air Liur tidak di saring Dimasukkan ke dalam tabung reaksi + 2 tetes pereaksi Molisch. 10 tetes Hasil 3. Uji Biuret 20 tetes Air Liur tidak disaring Dimasukkan ke dalam tabung reaksi + 20 tetes NaOH 10 % dicampur dengan baik + Setetes CuSO4 sampai terbentuk lembayung. 54    . Bila belum terbentuk + CuSO4 max. campur dengan baik Dimiringkan tabung + 20 tetes asam sulfat pekat. dialirkan melalui dinding tabung. penetapan pH Air Liur Air Liur Dicelupkan indukator pH Dicocokkan warnanya dengan standar pH dan ditentukan pH air liur Hasil 2.‐ Air liur ‐ NaOH 10 % ‐ CuSO4 ‐ Larutan sukrosa 5 % ‐ Pereaksi Molisch ‐ H2SO4 pekat ‐ Asam asetat ‐ HCl ‐ BaCl2 2 % ‐ HNO3 pekat 3 mL ‐ Indikator pH ‐ Minyak goreng D. SKEMA KERJA Air Liur 1.

diperhatikan cincin yang terbentuk.Hasil 4. Hasil 5. Uji Gmelin Empedu encer Dimasukkan dalam tabung reaksi Dimiringkan tabung + 30 tetes HNO3 pekat dialirkan ke dinding tabung Diperhatikan warna yang pada perbatasan yang terbentuk Hasil 3. Sifat Empedu Empedu Dicatat sifat fisik empedu Hasil 2. dicampur dengan baik Dicatat ada tidaknya endapan putih Hasil Empedu 1. campur dengan baik Dicatat ada tidaknya presispitasi amorf. 55    . Uji Sulfat 10 tetes air liur Disaring dan dimasukkan dalam tabung reaksi + 3-5 tetes HCl + 5-10 tetes BaCl2 2 %. Uji Presipitasi 20 tetes air liur Disaring dan dimasukkan dalam tabung reaksi. + 1 tetes asam asetat encer. Uji Pettenkofer Empedu encer Dimasukkan dalam tabung reaksi + 5 tetes sukrosa 5 % + 30 tetes asam sulfat pekat dialirkan ke dinding tabung dengan posisi miring.

Air liur putih berbusa beberapa tetes (max.Hasil 4. Uji Molish ƒ Dimasukkan 20 tetes air liur yang tidak disaring ke dalam tabung reaksi ƒ (+) 2 tetes pereaksi Molisch dan 56    Terbentuk gumpalan kental berwarna . Hasil E. Langkah Kerja 1. terbentuk warna lembayung dengan membentuk warna ungu. HASIL PENGAMATAN 30 tetes Aquades 2 Dimasukkan dalam tabung + 3 tetes minyak + 30 tetes empedu encer Dikocok dan diamati terbentuknya emulsi Hasil Air Liur No. Ditentukan PH air liur 2. Penetapan pH Air liur ƒ Dicelupkan indikator universal ke Pengamatan Warna air liur putih berbusa pH = 7 (Netral) dalam air liur yang tidak disaring ƒ Dicocokkan warna indikator dengan standar warna PH. Fungsi Empedu Sebagai Emulgator 30 tetes aquades 1 Dimasukkan dalam tabung reaksi + 3 tetes minyak Dikocok dan diamati terbentuknya emulsi. Uji biuret ƒ Dimasukkan 20 tetes air liur yang Air liur putih berbusa tidak disaring ke dalam tabung reaksi ƒ (+) 20 tetes NaOH % dan di Keruh agak bening campur dengan baik ƒ Ditambahkan larutan CuSO4 Ditambah lebih dari 1 tetes. 10 tetes) dan dikocok 3.

lapisan bawah bening Lebih keruh dari sebelumnya. lembek. Langkah Kerja 1.5 N ƒ (+) 5-10 tetes BaCl2 2% dan dicampur dengan baik ƒ Diamati perubahannya Empedu No. Uji Presipitasi ƒ Dimasukkan 20 tetes air liur yang Putih keruh Lebih keruh dari sebelumnya disaring ke dalam tabung reaksi ƒ (+) 1 tetes asam asetat encer dan dicampur dengan baik dan diamati perubahannya 5.dicampur dengan baik ƒ Dialirkan dengan hati-hati 20 tetes kecokelatan Terbentuk 4 lapisan : lapisan atas keruk kecokelatan lapisan ke dua keruh lapisan ke tiga bening kecokelatan lapisan paling bawah bening kekuningan H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan dengan pipet tetes sehingga cairan tidak bercampur 4. berselaput. bau. disaring ke dalam tabung reaksi ƒ (+) 3-5 tetes HCl 0. bentuk oval empedu 2. Uji Sulfat ƒ Dimasukkan 10 tetes air liur yang Putih keruh Terbentuk 2 lapisan : lapisan atas keruh. Sifat Empedu ƒ Diamati dan dicatat sifat fisik Pengamatan Berwarna biru. Uji Gmelin ƒ Dimasukkan ke dalam tabung reaksi 3 mL HNO3 pekat ƒ Dialirkan dengan hati-hati 3 mL Terdapat 3 lapisan : lapisan atas cokelat tua kehitaman 57  larutan empedu encer melalui   .

lapisan minyak terdapat di bagian atas. lapisan aquadest di bagian bawah (emulsi cair) Tabung 2 (emulgator 2) : tidak menyatu.dinding tabung yang dimiringkan dengan pipet tetes sehingga cairan tidak bercampur ƒ Diamati warna yang terbentuk lapisan ke dua cokelat kemerahan lapisan ke tiga merah bening 3. lapisan atas seperti buih berwarna hijau muda. lapisan aquaadest di bagian bawah (emulsi cair). Fungsi Empedu Sebagai Cabang Emulgator ƒ Disiapkan 2 tabung reaksi yang Tabung 1 (emulgator 1) : tidak menyatu. Uji Pettenkofer ƒ Dimasukkan ke dalam tabung reaksi 5 mL larutan empedu encer ƒ (+) 5 tetes larutan sukrosa 5% ƒ Dialirkan dengan hati-hati 2 mL Tidak terjadi perubahan Terdapat 3 lapisan : lapisan atas hijau susu lapisan ke dua hitam lapisan ke tiga bening H2SO4 pekat melalui dinding tabung yang dimiringkan dengan pipet tetes sehingga cairan tidak bercampur. lapisan minyak terdapat di bagian atas. 4. Setelah ditambahkan larutan empedu cair : terdapat 2 lapisan. lapisan bawah berwarna hijau tua (emulsi.terdapat 2 lapisan. berisi 3 mL aquadest ƒ (+) 1 tetes minyak pada masing- masing tabung ƒ (+) 3 mL larutan empedu encer pada tabung ke dua ƒ Kedua tabung dikocok hingga isinya bercampur dan diamati perubahannya           58    .

F. ANALISIS DATA 9 Persamaan Reaksi 1) Air liur Uji      HO Biuret                         O‐Na+            C=O                                    C=O     RHC       + NaOH             RHC               NH2                                                        NH3+          O‐               C=O + CuSO4                   Larutan merah ungu     RHC                  NH3+    Uji Molisch                 O H2SO4(l)       H                OH                                                          O    HO      H             H2SO4(l)      HO                                                      H      OH                                                                                   O       H      OH                      OH                                            Hidroksi metil furfural                   O       H                OH        H2SO4(l)                        O    HO      H                                                                              H      OH                                                                     O       H      OH                      OH                                          Furfural                                                                                                                                           HC                     OH                               O                                                         CH3                                                               HO                                                                                                        HC  +  OH                                                       O             HO                                                                                                                                                                                  OH                           HC               OH                HC                                                                                            OH                       Kompleks Biru                                           59  .

Pada uji biuret ini air liur ditambahkan NaOH agar beraksi dengan protein yang ada pada air liur dan selanjutnya dengan CuSO4 yang akan menghasilkan warna ungu . uji molisch. dan uji sulfat. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini telah dilakukan pengujian sifat fisik cairan tubuh yaitu air liur dan empedu. diperoleh pH dari air liur tersebut adalah 7. Pengujian biuret yang dilakukan pada air liur bertujuan untuk menentukan apakah di dalam air liur terdapat protein atau tidak. Beberapa metode pengujian yang digunakan pada percobaan pertama ini adalah uji biuret. Dalam data 60    . Air liur yang dipakai adalah air liur manusia sedangkan untuk empedu digunakan empedu ayam. Pada percobaan pertama yaitu air liur. akan tetapi berdasarkan teori pH air liur adalah sedikit di bawah 7. uji presipitasi.Uji Presipitasi (Pengendapan)     HO                                     C=O                                    RHC       + Asam             Penggumpalan Protein (Presipitasi)              NH2                                                          Uji Sulfat SO42-(aq) + Ba2+(aq) 2) Cairan Empedu Uji Gmelin Billirubin + HNO3 Pekat                            Larutan Merah muda  BaSO4(s) Uji Pettenkoffer                 O       H                OH                                                          O    HO      H             H2SO4(l)      HO                                                      H      OH                                                                                   O       H      OH                      OH                                            Hidroksi metil furfural   Garam Empedu                     Asam Empedu                                  O                     Asam Empedu                                    HO                                                                                                       o                                                       Cincin merah antara 2 lapisan  G.

Pengujian ke tiga adalah uji presipitasi dengan menggunakan asam asetat encer. Uji Gmelin ini bertujuan untuk mengetahui adanya keberadaan konjugat bilirubin pada cairan empedu. Hasil kondensasi ini akan bereaksi dengan α-naftol sehingga membentuk kompleks ungu yang berupa cincin di antara 2 lapisan. dan berbentuk oval. Pengujian selanjutnya adalah uji molisch. diperoleh larutan berwana ungu dan hal ini membuktikan bahwa air liur tersebut mengandung protein. sama halnya dengan uji biuret. berselaput. Pengujian ke dua yaitu dengan uji pettenkofer. Jika digunakan HNO3 pekat (95%) maka akan terbentu larutan merah muda. Dari hasil pengamatan menunjukkan tidak terbentuknya cincin ungu sehingga dapat diketahui di dalam saliva tersebut tidak ada karbohidratnya. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya karbohidrat yang terkandung di dalam air liur. Pengujian ini akan membuktikan 61    . Protein yang ada dalam air liur atau saliva ini berasal dari enzim yang terdapat di dalamnya yang berupa enzim amylase yang tersusun atas protein. Hal ini menandakan adanya sulfat di dalam air liur. akan tetapi pada uji ini air liur harus disaring terlebih dahulu disaring agar menghilangkan kotoran sehingga akan lebih kelihatan perbedaannya. Prinsip umum dari pengujian ini adalah jika terdapat karbohidrat baik pentosa maupun heksosa akan mengalami kondensasi jika ditambahkan H2SO4. Pengujian pertama yang dilakukan pada cairan empedu antara lain pengujian Gmelin dengan prinsip pengujian meliputi reaksi antara bilirubun yang terkandung di dalam empedu dengan HNO3 yang akan menghasilkan larutan berwana sesuai dengan konsentrasi HNO3 yang dipakai. Protein akan terdenaturasi jika ditambahkan dengan asam sehingga terbentuk suatu endapan. Sesuai dengan hasil pengamatan sifat fisik empedu ayam antara lain berwarna hijau. Percobaan ke dua yaitu pengujian terhadap cairan empedu. Selanjutnya. lembek. Pengujian sulfat ini menggunakan BaCl2 yang akan bereaksi membentuk BaSO4 yang memiliki kelarutan rendah sehingga akan mengakibatkan terbentuknya endapan dalam larutan yang diasamkan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui protein yang tekandung didalam air liur. Kekeruhan ini merupakan indikasi jika di dalam larutan tersebut terbentuk endapan.pengamatan. Dalam hasil percobaan yang kemudian diamati larutan ini menjadi lebih keruh. pengujian ke empat yang merupakan pengujian terakhir adalah uji sulfat. Pengujian ini juga memerlukan penyaringan terhadap air liur. Hasil pengamatan yang diperoleh berupa larutan yang semakin keruh jika dibandingkan dengan laruatan semula. Pada pengujian ini terdapat lapisan berwarna cokelat kemerahan dan merah bening yang membuktikan bahwa adanya reaksi bilirubin dengan HNO3 pekat.

5.adanya garam empedu yang terkandung di dalamnya. 3. 2. PENUTUP Kesimpulan : 1. diperoleh larutan berwana ungu dan hal ini membuktikan bahwa air liur tersebut mengandung protein. 62    . Pengujian selanjutnya yakni pengujian ke tiga bertujuan untuk mengetahui sifat pengemulsi lemak dari cairan empedu. bukan merah yang berarti bahwa tidak ada garam empedu pada cairan tersebut sedangkan pada empedu jelas terdapat kandungan garam empedu. akan tetapi berdasarkan teori pH air liur adalah sedikit di bawah 7. Hal ini berkaitan dengan fungsinya dalam pencernaan makanan di dalam tubuh yakni sebagai pencerna lemak dan lemak akan mudah di hidrolisis dengan cara mengubah bentuknya menjadi emulsi. Dari hasil pengamatan yang diperoleh terbentuk emulsi cair pada tabung 1 dan 2 ketika aquadest ditambahkan minyak. G. Pengujian biuret yang dilakukan pada air liur bertujuan untuk menentukan apakah di dalam air liur terdapat protein atau tidak dengan penambahan NaOH dan CuSO4. Hal ini menunjukkan adanya enzim lipase dalam empedu yang di analisis. Sifat ini wajib dimiliki oleh cairan empedu. 4. Pada uji presipitasi. Pada uji molisch diperoleh hasil pengamatan menunjukkan tidak terbentuknya cincin ungu sehingga dapat diketahui di dalam saliva tersebut tidak ada karbohidratnya. Akan tetapi pada pengujian ini berdasarkan hasil pengamatan terbentuk 3 lapisan warna larutan dimana warna larutan pada lapisan ke dua adalah hitam . hasil pengamatan yang diperoleh berupa larutan yang semakin keruh jika dibandingkan dengan laruatan semula dan hal ini membuktikan terdapat protein dalam air liur. Zat yang berperan disini adalah enzim lipase. Ketika tabung 2 ditambahkan dengan cairan empedu maka terjadi emulsi yang stabil. Pada uji sulfat diperoleh larutan yang lebih keruh. Hal ini menandakan adanya sulfat di dalam air liur. Prinsip dari pengujian ini adalah garam empedu akan diasamkan oleh H2SO4 dan adanya hasil kondensasi heksosa dari sukrosa akan bereaksi dengan asam empedu membentuk kompleks warna merah diantara 2 lapisan yang terbentuk. Hal ini mungkin terjadi karena praktikan kurang teliti dalam mengerjakan pengujian ini sehingga diperoleh hasil yang tidak diinginkan. Dalam data pengamatan. Diperoleh pH dari air liur pada percobaan adalah 7.

Hal ini mungkin terjadi karena praktikan kurang teliti dalam mengerjakan pengujian ini sehingga diperoleh hasil yang tidak diinginkan.   63    . 7. bukan merah yang berarti bahwa tidak ada garam empedu pada cairan tersebut sedangkan pada empedu jelas terdapat kandungan garam empedu.Ass harap pengarahan dan bimbingannya lebih ditingkatkan. agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. dan kepada kakak-kakak Co.6. Pada pengujian fungsi empedu sebagai emulgator terbentuk emulsi yang stabil ketika aquadest dan minyak ditambahkan empedu dalam satu tabung reaksi. Terima kasih. dan berbentuk oval. Saran :  Diharapkan kepada praktikan agar lebih serius lagi dalam praktikum. Pada uji pettenkofer diperoleh hasil bahwa terbentuk 3 lapisan warna larutan dimana warna larutan pada lapisan ke dua adalah hitam . Pada pengujian Gmelin terdapat lapisan berwarna cokelat kemerahan dan merah bening yang membuktikan bahwa adanya reaksi bilirubin dengan HNO3 pekat. lembek. 8. Sifat fisik empedu ayam berdasarkan pengamatan antara lain berwarna hijau. 9. berselaput.

 dkk. Poedjadi. Vogel.go. Jakarta : Kalman Media Pustaka.I. Setiono dan A.H Pudjaatmaka. Peter.  Oktayani. Penerjemah L.dikti. Dasar-Dasar Biokimia.DAFTAR PUSTAKA Mayer. 2009.id/jurnal/detil/id/0:4420/q/saliva/offset/0/limit/1. Jakarta : UI. Harper’s Review of Biochemistry.00 WITA. 64    . Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Anorganik Makro dan Semimikro. Diakses pada tanggal 29 November 2010 pukul 11. 1994. Runi. Hubungan Konsentrasi Protein Total Saliva Dengan Viskositas Saliva Tanpa Stimulasi Pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol Buruk. 1985. A. 1985. http://garuda. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. A. Anna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful