UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2012/2013 (Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

)
Dosen : Dr. Sri Handayani, M.Pd

Oleh :

HADI YANUAR ISWANTO NIM. 1006590

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2

I.

Teori belajar dan pembelajaran
1) Teori Humanistik Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar bersifat eklektik, tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Proses belajar dianggap berhasil jika pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, yaitu : 1) Proses pemerolehan informasi baru 2) Personalia informasi pada individu. Pandangan teori humanistik ini dipelopori oleh Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers. Para pendukung aliran ini berpendapat bahwa motivasi dasar manusia adalah mencapai aktualisasi diri. Proses belajar harus terjadi dalam suasana bebas, diprakarsai sendiri dan percaya pada diri sendiri (selfinitiatedandselfreliantlearning). a. Arthur W. Combs Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. b. Abraham Maslow Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal : 1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang 2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslowmengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self). Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti

2 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

3

kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. c. Carl Rogers Teori belajar humanistikRogers menitikberatkan pada metode student-centered, dengan menggunakan “komunikasi antar pribadi” yaitu berpusat pada peserta didik dengan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik untuk dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam suatu kehidupan. Yang terpenting dari Rogers adalah proses suasana (emotionalapproach) dalam pembelajaran bukan hasil dari belajar. Melalui bukunya yang sangat populer FreedomtoLearnandFreedomLearn for the 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal, dan berarti. Pendekatan Rogers dapat dimengerti dari prinsip-prinsip penting belajar humanistik yang diidentifikasikan sebagai sentral dari filsafat pendidikannya. 1) Keinginan untuk belajar (The DesiretoLearn) Keinginan manusia untuk belajar adalah suatu hal yang wajar. Keingintahuan anak yang sudah melekat atau sudah menjadi sifatnya untuk belajar adalah asumsu dasar yang penting untuk pendidikan humanistik. Dalam kelas yang menganut pandangan humanistik, anak diberi kebebasan untuk memuaskan keingintahuan mereka, untuk mengikuti minat mereka yang tidak bisa dihalangi, untuk menemukan diri mereka sendiri, serta apa yang penting dan berarti tentang dunia yang mengelilingi mereka. 2) Belajar secara signifikan (SignificantLearning) Belajar secara signifikan terjadi ketika belajar dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa. Menurut pandangan Combs, belajar dibagi dua proses yang meliputi perolehan dari informasi baru dan menurut selera siswa. Jika siswa belajar dengan baik dan paling cepat, humanis menganggap ini adalah belajar secara signifikan. Contohnya adalah pikiran siswa yang belajar dengan cepat untuk menggunakan komputer agar bisa menikmati permainan, atau siswa yang cepat belajar untuk menghitung uang kembaliannya ketika membeli sesuatu. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa belajar mempunyai tujuan dan kenyataannya dimotivasi oleh kebutuhan untuk tahu. 3) Belajar tanpa ancaman (LearningwithoutThreat) Belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang bebas dari ancaman. Proses belajar dipertinggi ketika siswa dapat menguji kemampua mereka, mencoba pengalaman baru,

3 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

4

bahkan membuat kesalahan tanpa mengalami sakit hati karena kritik dan celaan. 4) Belajar atas inisiatif sendiri (Self-initiazedLearning) Untuk teori humanistik, belajar akan paling signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri, dan ketika belajar melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar sendiri. Dengan memilih pengarahan dari orang yang sedang belajar sendiri, akan memberi motivasi tinggi dan kesempatan kepada siswa untuk belajar bagaimana belajar. Dalam belajar atas inisiatif sendiri, belajar juga harus melibatkan semua aspek seseorang, kognitif, dan afektif. Rogers dan ahli humanistik lain menyebut ini sebagai whole-personlearning. Ahli-ahli humanistik percaya bahwa jika belajar adalah pribadi dan affective, maka belajar akan membuat perasaan memiliki dalam diri siswa. Siswa akan merasa dirinya lebih terlibat dalam belajar, lebih menyukai prestasi, dan paling penting lebih dimotivasi untuk terus belajar. 5) Belajar dan berubah (LearningandChange) Rogers mencatat bahwa siswa pada masa lalu belajar satu set fakta ilmu statistik dan ide-ide. Dunia menjadi lambat untuk berubah dan apa yang dipelajari di sekolah cukup untuk memenuhi tuntutan waktu. Sekarang, perubahan adalah fakta hidup. Pengetahuan berada dalam keadaan yang terus berubah secara konstan. Belajar seperti waktu yang lalu tidak cukup lama untuk memungkinkan seseorang akan sukses dalam dunia modern. Menurut Rogers, yang dibutuhkan sekarang adalah individu yang mampu belajar dalam lingkungan yang berubah. 2) Teori Behaviorisme Teori psikologi behaviorisme adalah suatu teori belajar yang memandang kehidupan manusia terdiri atas unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Teori ini sangat menekankan pada perilaku yang dapat diamati dan diukur. Adapun ciri dari rumpun teori behaviorisme ini adalah:      Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil; Lebih bersifat mekanistis; Menekankan pentingnya latihan; Mementingkan pembentukan reaksi atau respon; dan Menekankan peranan lingkungan dalam proses pembelajaran.

Teori behaviorisme ini memiliki tiga rumpun yang terdiri atas 1) kondisioning klasik dengan tokohnya Ivan Pavlov; 2) psikologi penguatan (operantconditioning) dengan tokoh yang terkenal yaitu B.FSkinner, 3) Psikologi Koneksionisme dengan tokohnya Edward L. Thorndike. Kita akan mengulas satu persatu ketiga teori tersebut.

4 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

5

Teori Koneksionisme Teori ini merupakan teori yang paling awal dari rumpun behaviorisme. Menurut teori ini tingkah laku individu tidak lain dari suatu hubungan rangsangan dengan jawaban atau stimulus-respon. Siapa yang dapat menguasai hubungan stimulus respon sebanyak-banyaknya maka dia dapat berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respon perlu dilakukan berulang-ulang. Tokoh yang terkenal dalam mengembangkan teori ini adalah Edward L. Thorndike. Hasil penelitiannya dikenal dengan trialanderror. Menurut koneksionisme belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Thorndikemengemukakan tiga hukum dalam belajar yaitu: a. Law of Readiness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu. b. Law of Exercise, yaitu belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan pengulangan dalam belajar. c. Law of Effect, belajar akan semangat apabila mengetahui hasil belajar yang baik. Mengetahui hasil belajar dengan segera dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, sehingga ia tahu dimana letak kelemahannya dan memperbaikinya dengan segera. Untuk itu dalam proses pembelajaran feedback yang menyenangkan sangat diperlukan agar dapat mempengaruhi usaha siswa dalam belajar. Teori ConditioningClassic Teori ini dipelopori oleh Ivan Pavlov seorang ahli fisiologi dari Rusia. Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan seekor anjing yang mengeluarkan air liur”. Percobaan ini membuktikan bahwa suatu rangsangan tertentu (cahaya merah) akan mengakibatkan suatu tindak balas tak terlazim yaitu keluar air liur, karena bersamaan dengan rangsangan tak lazim (alami) yaitu makanan (Mohamad Surya: 2003,h.34). Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa respon yang dikondisikan sebagai tujuan. Penelitian ini menjelaskan bahwa individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Untuk melihat hubungan antara rangsangan dengan respon. Menurut teori ini belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan sutau perilaku atau respon terhadap sesuatu. Sedangkan mengajar adalah membentuk kebiasaan dengan mengulang-mengulangsuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Artinya belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan Suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu.

5 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

6

Teori OperantConditioning Asumsi dari teori ini adalah bahwa perubahan perilaku merupakan fungsi dari pada kondisi atau peristiwa lingkungan. Tokoh teori ini salah satunya adalah B.F. Skinner. Menurut Skinner dalam Surya (2003) bahwa respon individu tidak hanya terjadi karena adanya rangsangan dari lingkungan, akan tetapi dapat juga terjadi karena sesuatu di lingkungan yang tidak diketahui atau tidak disadari. Menurut Skinner bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Penguatan tersebut terbagi menjadi dua yaitu bentuk penguatan yang bersifat positif dan negatif. Penguatan yang bersifat positif dapat berupa hadiah atau penghargaan (reward), sedangkan yang berupa penguatan negatif antara lain menunda atautidak memberikan penghargaan (punishment), misalnya dengan memberikan tugastambahan. Prinsip-prinsip belajar yang banyak digunakanpada teori ini menurut Harley dan Davis dalam Sagala (2010) adalah:    Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila siswa ikut terlibat secara aktif di dalamnya; Materi pelajaran diberikan dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur sedemikian rupa sehingga hanya perlu diberikan suaturespon tertentu saja; Setiap respon perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga siswa dapat dengan segera mengetahui apakah respon yang diberikan betul atau tidak; Perlu diberikan penguatan setiap kali siswa memberikan respon baik itu positif ataupun negatif. Penguatan yang bersifat positif akan lebih baik karena dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa, sehingga ia ingin mengulang kembali respons yang telah diberikan.

Teori belajar Skinner ini banyak diterapkan dalam bidang pendidikan formal terutama dalam penetapan model pembelajaran dan teknologi pembelajaran. Memilih rangsangandan memberikan peneguhan adalah merupakan unsur utama dalam pembelajaran. Dalampembelajaran di kelas siswa perlu mendapat perhatian terutama dalam aspek perbedaan individual, kesiapan untuk pembelajaran, dan pemberian motivasi (Mohammad Surya: 2003,h 44). Program pembelajaran yang terkenal dari Skinner adalah “program Instruction” yaitu suatu bahan belajar yang menggunakan media dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran berprogram ini bahan ajar disajikan dalam bentuk unit-unit kecil yang diberikan ilustrasi dan pertanyaan, tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik dengan segera terhadap aktivitas belajar siswa. Program Instruction yang dikembangkan Skinner ini menjadi cikal bakal berkembangnya program pembelajaran berbasis komputer model tutorial, drill, games, dan simulasi. Teori belajar behaviorisme ini tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam proses pembelajaran.
6 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

7

Kelebihan: a. Pembelajaran difokuskan pada secara pencapaian sebuah tujuan yang jelas dan bisa menanggapi secara otomatis segala respon yang diberikan oleh setiap siswa. b. Cocok untuk pembelajaran yang lebih menekankan pada Perolehan kemampuan psikomotor (praktek) dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti spontanitas, kelenturan, refleks, daya tahan. c. Dapat diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan penghargaan langsung seperti pemberian hadiah. d. Teori ini juga sangat menekankan pada prinsip bahwa setiap individu memiliki potensi dalam belajar, yang membedakan hanya pada waktu siswa memahami suatu materi. Dengan demikian siswa yang memiliki kemampuan lambat pun dapat menyelesaikan materi dengan tuntas, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan cepat dapat melanjutkan materi selanjutnya tanpa harus menunggu teman lainnya. Karena pembelajaran ini juga menekankan pembelajaran secara individual. Kelemahan: a. Siswa mungkin akan menemukan dalam suatu situasi dimana stimulus bagi respon yang benar tidak terjadi, karena siswa tersebut tidak sanggup menanggapi. b. Proses pembelajaran bersifat dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat dilihat dari luar, kecuali gejalanya. c. Proses belajar bersifat otomatis-mekanis, padahal setiap individu memiliki selfdirection dan selfcontrol yang bersifat kognitif, sehingga ia bisa menolak untuk merespon jika ia tidak menghendakinya. d. Proses pembelajaran manusia dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat terdapat perbedaan karakter fisik dan psikis dalam individu manusia dan hewan. Manusia memiliki karakteristik yang unik. 3) Teori Konstruktivisme Konstruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi)pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan yang dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak dengantiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yangsiap untuk diambil dan diangkat. Tetapi manusia harus mengkonstruksipengetahuanitu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Untuk itu siswa perlu dibiasakanuntuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu
7 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

8

yang berguna bagi dirinya, danbergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus mengkonstruksikansendiri pengetahuandibenak mereka. Teori ini berkembang dari teori kerja Piaget, Vygotsky, teoripemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif lainnya, seperti teori Bruner(Slavin dalam Nur dan Trianto, 2007 : 13) Esensi dari teori konstruktivisme bahwa siswa harus menemukan danmentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabiladikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar inipembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerimapengetahuan. Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangankaum objektivitas yang lebih enekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapabanyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guruadalah memfasilitasi proses tersebut dengan : o Menjadikan pengetahuan lebih bermakna dan relevan bagi siswa; o Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; o Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka dalam belajar. Konstruktivisme dapat diartikan sebagai kedudukan psikologi yang berpegangteguh kepada kebenaran yang kebanyakan terjadi pada makna yang konkrit. Inibermakna bahwa ilmu pengetahuan dibina oleh individu-individu melaluipengamatan kepada fenomena alam.Konstruktivisme memberikan penekanan kepada peserta didik untukmembina pengetahuan melalui proses psikologi yang aktif. Ilmu pengetahuan dibinake dalam struktur kognitif anak dari hasil pengalaman mereka dengan alam. Strukturpengetahuan ini kadang-kadang menjadi penghalang yang kuat kepadapembelajaran dan perubahan konseptual peserta didik. Dari perspektif konstruktivismakna pembelajaran adalah dibina di dalam diri peserta didik hasil pengalamanpancainderanya dengan alam. Peserta didik akan bertindak kepada pengalamanpengalamanpancaindera dengan cara membina di dalam pikiran mereka dalambentuk skema atau struktur kognitif yang akan membentuk makna dan kepahamanmereka. Individu-individu akan memberi makna kepada situasi atau fenomena danmengakibatkan pembentukan proses yang mengambil tempat dalam pikiran individutersebut. Konstruktivisme merupakan respon terhadap berkembangnya harapanharapanbaru yang berhubungan dengan proses pembelajaran yang menginginkanperan aktif siswa dalam merekayasa dan memprakarsai pembelajaran secaramandiri.Glaserfeld dan Kitchener dalam Aunurrahman (2009) memberikan penekanantentang 3 hal mendasar berkaitan dengan pemahaman terhadap gagasankonstruktivisme, yaitu: 1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapiselalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek 2. Subjek membentuk kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untukpengetahuan.

8 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

9

3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang yang membentukpengetahuan, dan konsepsi itu berlaku bila berhadapan dengan pengalamanpengalamanseseorang. 4) Teori Belajar Kognitif Pengertian Belajar Kognitif Belajar kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses pengolahan informasi. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Teori Belajar CognitiveDevelopmental Dari Piaget Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa tahapyaitu: a. Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana. Ciri-ciri tahap sensorimotor :  Didasarkan tindakan praktis.
9 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

10

     

Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi. Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek. Mengenai periode sensorimotor: Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pada banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik. Urutan periode tetap. Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.

b. Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak. c. Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturanaturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif. d. Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”. Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / dikode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima. Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi. 5) Teori Sibernetik Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif paling barudibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan denganperkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalahpengolahan informasi. Sekilas, teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitifyang mementingkan proses. Proses memang penting dalam

10 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

11

teori sibernetik. Namun,yang lebih penting lagi adalah “sistem informasi” yang diproses itu. Informasi inilahyang akan menentukan proses. Asumsi lain dari teori sibernetik ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajaryang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua siswa. Maka, sebuah informasimungkin akan dipelajari seorang siswa dengan satu macam proses belajar, daninformasi yang sama itu mungkin akan dipelajari siswa yang lain melalui proses belajaryang lain. Implementasi teori sibernetik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkanoleh beberapa tokoh, di antaranya adalah pendekatan-pendekatan yang berorientasi padapemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Baliner, Biehler dan Snowman, Baine, serta Tennyson. Konsepsi Landa dalam model pendekatannya disebutalgoritmik dan heuristik. Pask dan Scott yang membagi siswa menjadi tipe menyeluruhatau wholist dan tipe serial atau serialist.

II.

Metode pembelajaran
A. Pengertian metode adalah a wayinachievingsomething. Metode digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar dan untuk membangun kegiatan spesifik yang alami dimana instruktur dan peserta didik akan terlibat secara aktif selama pembelajaran. Dalam satu strategi dapat digunakan berbagai metode pembelajaran. B. Berbagai macam metode pembelajaran : 1) Metode ceramah Metode ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila pengunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunannya. Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu, juga adanya faktor kebiasaan baik dari guru atau pun siswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga dengan siswa, mereka akan belajar manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah, sehingga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada guru berarti tidak ada belajar. Metode ceramah merupakan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori. Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah

11 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

12

Ada beberapa kelebihan sebagai alasan mengapa ceramah sering digunakan. a. Ceramah merupakan metode yang ’murah’ dan ’mudah’ untuk dilakukan. Murah dalam arti proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit. b. Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokokpokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat. c. Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. d. Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru yang memberikan ceramah. e. Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan. Di samping beberapa kelebihan di atas, ceramah juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya: a. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, sebab apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru. b. Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. c. Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi, walau pun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran; pikirannya melayang ke mana-mana, atau siswa mengantuk, oleh karena gaya bertutur d. guru tidak menarik. e. Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan tidak ada seorang pun

12 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

13

yang bertanya, semua itu tidak menjamin siswa seluruhnya sudah paham. 2) Metode tanya jawab Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat twowaytraffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru. Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam metode tanya jawab ini antara lain: Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab. 1) Untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa. 2) Untuk merangsang siswa berfikir. 3) Memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah yang belum dipahami. Jenis pertanyaan. Pada dasarnya ada dua pertanyaan yang perlu diajukan, yakni pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran: 1) Pertanyaan ingatan, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan sudah tertanam pada siswa. Biasanya pertanyaan berpangkal kepada apa, kapan, dimana, berapa, dan yag sejenisnya. 2) Pertanyaan pikiran, dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh mana cara berpikir anak dalam menanggapi suatu persoalan. Biasanya pertanyaan ini dimulai dengan kata mengapa, bagaimana. 3) Tehnik mengajukan pertanyaan. 4) Berhasil tidaknya metode tanya jawab, sangat bergantung kepada tehnik guru dalam mengajukan pertanyaanya. Metode tanya jawab biasanya dipergunakan apabila: 1) Bermaksud mengulang bahan pelajaran. 2) Ingin membangkitkan siswa relajar. 3) Tidak terlalu banyak siswa. 4) Sebagai selingan metode ceramah. 3) Metode diskusi

13 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

14

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi: (1) diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan; (2) diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru. Sebab, dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bias dihindari. Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi. Kalau metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka pada metode ini bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, materi pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar. Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Pertama, diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru. Kedua, diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok. Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. a. Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide. b. Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
14 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

15

c. Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di samping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain. Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya: a. Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara. b. Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur. c. Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan. d. Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran. 4) Metode peragaan dan demonstrasi Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri. Kelebihan dan Kelemahan Metode Demonstrasi Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: a. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan. b. Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi. c. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran. Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antarannya:
15 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

16

a. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak. b. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah. c. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. 5) Metode bermain peran Konsep Tiap orang mempunyai cara sendiri dalam menghadapi suatu situasi, objek ataupun orang. Cara tersebut dilatarbelakangi oleh sikap, perasaan, dan sistem nilai yang dimilikinya. Melalui permainan peran sikap, perasaan dan sistem nilai tersebut dikembangkan melalui peragaan dan diskusi. Tujuan Agar peserta didik : 1) memiliki sikap, perasaan dan sistem nilai yang sesuai dengan norma masyarakat, 2) memiliki keterampilan memecahkan masalah-masalah sosial. Lingkup bahasan 1) 2) 3) 4) Konflik antar pribadi. Hubungan antar kelompok sosial, ras, etnis, dll. Dilema individual : pertentangan nilai di rumah, sekolah, masyarakat. Masalah-masalah kemasyarakatan, kenegaraan.

6) Metode pembelajaran praktisi Metode praktik lapangan bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kerja, maupun di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman nyata yang diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta,

16 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

17

sehingga dapat memicu kemampuan peserta dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat metode praktik adalah pengembangan keterampilan. 7) Metode kunjungan lapangan Metode kunjungan lapangan atau metode karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Contoh: Mengajak siswa ke gedung pengadilan untuk mengetahui sistem peradilan dan proses pengadilan, selama satu jam pelajaran. Jadi, karyawisata di atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut studytour. Langkah- langkah Pokok dalam Pelaksanaan Metode Karyawisata 1. Perencanaan Karyawisata a) Merumuskan tujuan karyawisata. b) Menetapkan objek kayawisata sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. c) Menetapkan lamanya karyawisata. d) Menyusun rencana belajar bagi siswa selama karyawisata. e) Merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan. 2. Pelaksanaan Karyawisata Fase ini adalah pelaksanaan kegiatan belajar di tempat karyawisata dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar ini harus diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas. 3. Tindak Lanjut Pada akhir karyawisata siswa diminta laporannya baik lisan maupun tertulis, mengenai inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata. 8) Metode proyek Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang berpusat pada proses, relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan memadukan konsep-konsep dari sejumlah komponen baik itu pengetahuan, disiplin ilmu atau lapangan. Pada pembelajaran berbasis proyek kegiatan pembelajarannya berlangsung secara kolaboratif dalam kelompok yang heterogen. Mengingat hakikat kerja proyek adalah kolaboratif,
17 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

18

maka pengembangan keterampilan belajar berlangsung diantara mahasiswa. Pada pembelajaran berbasis proyek kekuatan individu dan cara belajar yang diacu dapat memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan. Secara umum pembelajaran berbasis proyek menempuh tiga tahap yaitu perencanaan proyek, pelaksanaan proyek, dan evaluasi proyek. Kegiatan perencanaan meliputi: identifikasi masalah riil, menemukan alternatif dan merumuskan strategi pemecahan masalah, dan melakukan perencanaan. Tahap pelaksanaan meliputi pembimbingan mahasiswa dalam penyelesaian tugas, dalam melakukan pengujian produk (evaluasi), presentasi antar kelompok. Tahap evaluasi meliputi penilaian proses dan produk yang meliputi: kemajuan belajar proyek, proses aktual dari pemecahan masalah, kemajuan kenerja tim dan individual, buku catatan dan catatan penelitian, kontrak belajar, penggunaan komputer, refleksi. Sedangkan penilaian produk seperti dalam hal: hasil kerja dan presentasi, tugas-tugas non tulis, laporan proyek. Melalui Pembelajaran berbasis proyek mahasiswa akan mengalami dan belajar konsep-konsep. Pembelajaran berbasis proyek memfokuskan pada pertanyaan atau masalah yang mendorong menjalani konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Proyek juga melibatkan mahasiswa dalam investigasi konstruktif. Investigasi ini dapat berupa desain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, penemuan atau proses pembangunan model. Proyek mendorong mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat rumit, dan tanggung jawab mahasiswa. Proyek memberikan keotentikan pada mahasiswa. Karakteristik ini meliputi topik, tugas, peranan yang dimainkan mahasiswa, konteks dimana proyek dilakukan, kolaborator yang bekerja sama dengan mahasiswa, produk yang dihasilkan, sasaran bagi produk yang dihasilkan dan unjuk kerja atau kriteria dimana produk-produk dinilai. 9) Metode tutorial Sejatinya metode tutorial adalah metode pembelajaran dengan mana guru memberikan bimbingan belajar kepada siswa secara individual. Oleh sebab itu metode ini sangat cocok diterapkan dalam model pembelajaran mandiri seperti pada pembelajaran jarak jauh dengan mana siswa terlebih dahulu diberi modul untuk dipelajari. Keunggulan Metode Tutorial Siswa memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik yang dihadapinya dapat dilayani secara spesifik pula. Seorang siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan

18 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

19

kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh kecepatan belajar siswa yang lain atau lebih dikenal dengan istilah SelffacedLearning. Kelemahan Metode Tutorial Sulit dilaksanakan pembelajaran klasikal karena guru harus melayani siswa dalam jumlah yang banyak. Jika tetap dilaksanakan, diperlukan teknik mengajar dalam tim atau teamteaching dengan pembagian tugas di antara anggota tim. Apabila tutorial ini dilaksanakan, untuk melayani siswa dalam jumlah yang banyak, diperlukan kesabaran dan keluasan pemahaman guru tentang materi. 10) Metode andragogi Andragogi adalah suatu model proses pembelajaran peserta didik yang terdiri atas orang dewasa. Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam pembelajaran, yang merupakan pengelompokan teori belajar berdasarkan usia dan kemampuan/persepsi berpikir untuk mengikuti proses belajar dalam pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa berimplikasi pada penggunaan teknik pembelajaran yang dipandang cocok digunakan di dalam menumbuhkan perilaku warga belajar. Knowles mengklasifikasi teknik pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar berdasarkan tipe kegiatan belajar, yakni; sikap, pengetahuan dan keterampilan. Kegiatan belajar pada pendidikan orang dewasa masih merupakan kegiatan belajar yang paling efisien dan paling dapat diterima serta merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa belajar. Oleh karena, kegiatan belajar merupakan alat yang dinamis dan fleksibel dalam membantu orang dewasa, maka penggunaan metode belajar diperlukan berdasarkan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Metode belajar orang dewasa adalah cara mengorganisir peserta agar mereka melakukan kegiatan belajar, baik dalam bentuk kegiatan teori maupun praktek. ( Anonim: 2006) Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar, harus (1) berpusat pada masalah, (2) menuntut dan mendorong peserta untuk aktif, (3) mendorong peserta untuk mengemukakan pengalaman sehari-harinya, (4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama peserta, dan antara peserta dengan tutor, dan (5) lebih bersifat pemberian pengalaman, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi. Kegiatan belajar dan membelajarkan pada garis besarnya dapat dibedakan atas tahap-tahap: 1. Perumusan Tujuan Program

19 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

20

Tujuan program menyatakan domain tingkah laku serta tingkatan tingkah laku yang ingin dicapai sebagai hasil belajar. Selain dari itu warga belajar dapat memiliki kesiapan mental dalam mengikuti program kegiatan belajar yang akan dilaksanakan. Gagasan ini merupakan aplikasi dari hukum kesiapan mental dari Thorndike. 2. Pengembangan Alat Evaluasi dan Evaluasi Hasil Belajar Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap ini antara lain: a. Pengembangan Kemampuan Pikir; merupakan teknik pengembangan kemampuan berpikir. b. Hukum Efek; kegiatan belajar yang memberikan efek hasil belajar yang menyenangkan seperti nilai yang baik, cenderung untuk diulangi dan ditingkatkan. c. Penguatan; pujian ataupun teguran/peringatan diberikan sesegera mungkin dan secara konsisten. Warga belajar perlu mengetahui hasil tesnya agar ia terdorong untuk terdorong lagi, dapat menilai usaha belajarnya untuk menghadapi tes berikutnya. d. Keputusan Penyajian; hasil evaluasi dijadikan dasar untuk mengambil keputusan apakah pelajaran dapat dilanjutkan atau perlu diselenggarakan penjelasan remedial atau mengulang kembali bagianbagian yang dianggap sukar. e. Hasil Evaluasi; merupakan balikan bagi fasilitator tentang efektivitas/ kemampuan penyajiannya. Juga merupakan balikan bagi warga belajar untuk mengetahui penguasaan terhadap bahan pelajaran. 3. Analisis Tugas Belajar dan Identifikasi Kemampuan Warga Belajar Kemampuan yang ingin dicapai sebagai tujuan pembelajaran, diurai (dianalisis) atas unsur-unsur yang telah diidentifikasi tersebut diseleksi sehingga hanya unsur-unsur yang belum dikuasai sajalah yang dipilih sebagai bahan pelajaran. Pada tahap ini juga diidentikkan karakteristik individual warga belajar seperti: kecerdasan/bakat, kebiasaan belajar, motivasi belajar, kemampuan awal dan kebutuhan warga belajar, terutama yang menyangkut kesulitan belajarnya. 4. Penyusunan Strategi Belajar - Membelajarkan Strategi belajar - membelajarkan pada hakikatnya adalah rencana kegiatan belajar dan membelajarkan yang dipilih oleh fasilitator untuk
20 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

21

dilaksanakan, baik oleh warga belajar maupun oleh sumber belajar dalam rangka usaha pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap ini antara lain ialah: Teori Bruner tentang cara mengorganisasikan batang tubuh ilmu yang dipelajari, urut-urutan pokok bahasan yang disajikan, teknik-teknik penyajian enaktif, ikonik dan simbolik; Teori penyajian bahan verbal yang bermakna menurut Ausubel; Penataan Situasi belajar yang menyangkut pengelolaan belajar dan kondisi belajar menurut Gagne; Metode belajar pemecahan masalah dengan teknik: ramu pendapat, metode buku catatan kolektif dan metode papan buletin kolektif. Metode belajar/penyajian menemukan. Metode ini memudahkan transfer dan retensi, mempertinggi kemampuan memecahkan masalah serta mengandung motivasi intrinsik. Perbedaan individu dalam hal kecepatan belajar warga belajar. Pengaturan urutan-urutan penyajian bahan pelajaran menurut tingkat kesulitannya dari yang sederhana ke yang lebih sulit. 5. Pelaksanaan Kegiatan Belajar dan Membelajarkan Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahapan ini antara lain ialah: Hukum kesiapan. Menyiapkan mental warga belajar untuk mengikuti pelajaran baru dengan memberikan penjelasan singkat mengenai pengetahuan prasyarat untuk mengikuti pelajaran baru/hal-hal yang telah dipelajari dan berhubungan erat dengan pelajaran baru. 6. Pemantauan Hasil Belajar Teori belajar orang dewasa yang erat hbubungannya dengan tahapan ini antara lain: Hukum Latihan. Makin sering sesuatu pelajaran diulang makin dikuasai pelajaran itu. Belajar lanjut (overlearning). Belajar lanjut 50% (150%) lebih lama daya tahannya dalam ingatan. Review. Belajar dengan teknik review berkala lebih efektif daripada belajar terus-menerus tanpa review. (Mappa, 1994: 154). C. Bagaimana memilih metode pembelajaran yang tepat ? Jawab : Metode pembelajaran merupakan aspek penting dalam kemajuan pendidikan di sekolah. Metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dalam memilih metode, guru perlu menggunakan cara-cara kreatif. Dengan cara kreatif, guru akan sangat mengalir dengan mudah dalam membawakan pembelajaran inovatif yang berbasis siswa.

21 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

22

Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran adalah : tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, kemasan materi pembelajaran, situasi dan konteks belajar siswa, sumber belajar yang ada serta waktu yang tersedia.

III.

Model-model pembelajaran

A. Problem basedlearning 1) Gambaran umum Pembelajaran berbasis masalah (Probelem-basedlearning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Ward, 2002; Stepien, dkk.,1993). Lebih lanjut Boud dan felleti, (1997), Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pembelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau openended melalui stimulus dalam belajar. PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: a. belajar dimulai dengan suatu masalah, b. memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa, c. mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, bukan di seputar disiplin ilmu, d. memberikan tanggung jawab yang besar kepada pembelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, e. menggunakan kelompok kecil, dan f. menuntut pembelajar untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajar dalam bentuk suatu produk atau kinerja. Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar. 2) Tahapan-tahapan pemecahan masalah Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen, 2001), yaitu:
22 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

23

       

mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis data, memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya, memilih cara untuk memecahkan masalah, merencanakan penerapan pemecahan masalah, melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah

3) Pemecahan masalah sebagai pengambilan keputusan Menurut Stoner (1996) pengambilan keputusan menggambarkan proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Kemudian menurut Chuck Williams (2001) pengambilan keputusan adalah proses memilih satu pemecahan masalah dari beberapa alternatif yang tersedia. Menurut T. Hani Handoko (1999) pengambilan keputusan didefinisikan sebagai penentuan serangkaian kegiatan untuk mencapai hasil yang diinginkan. George P. Huber membedakan pengambilan keputusan dari penentuan pilihan (choicemaking) dan dari pemecahan masalah (problem solving). Penentuan pilihan mengacu pada seperangkat kegiatan yang sempit yang terlibat dalam pemilihan satu pilihan dari seperangkat pilihan alternatif. Jadi, penentuan pilihan merupakan satu sisi dari pengambilan keputusan. Pemecahan masalah mengacu pada masalah yang lebih luas yang terlibat dalam penemuan dan implementasi tindakan untuk memperbaiki situasi yang tidak memuaskan. Penemuan masalah (probleimfinding) mengacu pada proses pengenalan masalah dan pengambilan keputusan untuk mencoba memecahkan masalah tersebut. Penemuan masalah sebagai dasar bagi keputusan manajerial yang efektif. 4) Tahapan dalam penerapan problem basedlearning Fase 1: Mengorientasikan mahasiswa pada masalah Menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang diperlukan, memotivasi mahasiswa terlibat aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih Fase 2: Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar Membantu mahasiswa membatasi dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi Fase 3: Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Mendorong mahasiswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan mencari untuk penjelasan dan pemecahan

23 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

24

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu mahasiswa merencanakan dan menyi-apkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Fase 5: Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Membantu mahasiswa melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang digunakan selama berlangusungnya pemecahan masalah. B. Cooperativelearning 1) Gambaran umum a. Tipe STAD (StudentTeamsAchievementDivision) Tipe STAD adalah metode pembelajaran kooperatif untuk pengelompokan kemampuan campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota. Keanggotaan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Ciri-ciri pembelajaran tipe STAD, yaitu kelas terbagi dalam kelompokkelompok kecil, tiap kelompok terdiri 4-5 anggota yang heterogen. b. Tipe NHT (NumberedHeadTogether) Tipe NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Mengarahkan 2. Membuat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. 3. Memberikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. 4. Mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas 5. Mengadakan kuis individual dan membuat skor perkembangan tiap siswa. 6. Mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward c. Tipe Jigsaw Tipe jigsaw termasuk pembelajaran kooperatif dengan Sinta sebagai berikut. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen,
24 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

25

berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. Tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, bahan belajar tiap kelompok adalah sama. Buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. Kembali ke kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu : Setiap anggota tim terdiri dari 5-6 orang yang disebut kelompok asal, Kelompok asal tersebut dibagi lagi menjadi kelompok ahli, Kelompok ahli dari masing-masing kelompok asal berdiskusi sesuai keahliannya, Kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk saling bertukar informasi.

-

2) Falsafah cooperativelearning Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo hominisocius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial (Lie, 2003:27). Sedangkan menurut Ibrahim (2000:2) model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. 3) Unsur-unsur cooperativelearning Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, yang meliputi; saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok (Lie, 2003:30). C. Contextualteachingandlearning 1) Gambaran umum Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (Daily Life modeling), sehingga akan teras manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif-nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukab dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi. 2) Falsafah contextualteachinglearning Penerapan pembelajaran kontekstual (ContextualTeachingandLearning) di Amerika Serikat bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa. Filosofi pembelajaran
25 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

26

kontekstual berakar dari paham progressivisme John Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah. Pokok-pokok pandangan progressivisme antara lain: 1. Siswa belajar dengan baik apabila mereka secara aktif dapat mengkonstruksi sendiri. 2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang wajar. 3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang belajar. 4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti. 5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat. 6. Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen. Selain teori progressivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri. siswa menunjukkan belajar dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. Belajar dipandang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk membangkit ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi. Berpijak pada dua pandangan itu, filosofi konstruksivisme berkembang. Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang harus mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya. Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi, siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Menurut filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif, temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan tidak menentu. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan pengetahuan dan mengajar diartikan sebagai kegiatan atau menggali makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Otak atau akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi sehingga muncul makna yang unik. Dengan paham kontruksivisme, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu. Pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna. Siswa diharapkan mampu mempraktikkan pengetahuan/pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan. Siswa diharapkan juga melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman ini diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas yang merupakan unsur yang sangat esensial. Hakikat teori kontruksivisme adalah
26 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

27

bahwa siswa harus menjadikan informasi itu menjadi miliknya sendiri. teori kontruksivisme memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasiinformasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan yang tidak sesuai lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa (student-centeredinstruction). 3) Unsur-unsur contextualteachinglearning Modeling Questioning Learning Community Inquiry Constructivism Reflection Authenticassessment

IV.

Pengelolaan kelas

A. Pengertian Manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai. J.M. Cooper (1977) merumuskan lima definisi mengenai manajemen kelas. 1. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses untuk mengendalikan atau mengontrol perilaku siswa di dalam kelas. Definisi ini diwarnai oleh ancangan manajemen yang bersifat otoritatif, dimana guru melakukan tugas utama sebagai pencipta dan pemelihara suasana kelas agar tetap tertib. Pendekatan otoriter dalam manajemen kelas menjadikan siswa di dalam kelas sebagai ukuran keberhasilan dalam mengelola kelas. 2. Manajemen kelas merupakan upaya menciptakan kebebasan atau semangat egaliter bagi diri siswa. Konsepsi ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri siswa terdapat potensi untuk bebas dan tugas guru adalah memaksimalkan kebebasan itu. Inisiatif guru menciptakan kebebasan secara alami bagi siswanya adalah sah dan sejalan dengan

27 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

28

kaidah dasar proses kemanusiaan bahwa dalam diri manusia ada naluri alami untuk tidak berada dalam ikatan hidup yang ketat.

3. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses memodifikasi perilaku siswa (studentbehavioralmodification). Kata lainnya, manajemen kelas merupakan proses mengubah perilaku siswa, dari perilaku yang mengalami deviasi atau penyimpangan ke perilaku tugas yang produktif (on taskbehavior), baik di dalam maupun di luar kelas dalam lingkup kampus sekolah. Perubahan perilaku siswa, karena itu, dimaksudkan agar tingkah laku mereka yang tidak diharapkan dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan. 4. Manajemen kelas dipandang sebagai proses menciptakan suasana sosio emosional yang positif di dalam kelas. Asumsi dasar pandangan ini adalah proses pembelajaran di kelas akan berkembang secara maksimal manakala iklim positif tercipta. Iklim positif itu tercipta manakala terjadi hubungan interpersonal yang kondusif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Termasuk hubungan yang kondusif antara guru dengan tata usaha sekolah. Dalam makna luas hubungan itu mencakup interaksi yang kondusif antara warga sekolah dengan warga sekitar dan orang tua siswa.

5. Manajemen kelas dipandang sebagai upaya pemberdayaan (empowering) sebuah sistem sosial atau proses kelompok belajar siswa (groupprocesses) sebagai intinya. Sistem sosial dimaksud bisa dipandang “bersahaja” dan bisa distrukturkan. Kata “bersahaja” bermakna bahwa siswa berada pada posisi dan memiliki status yang sama dengan rekanrekannya. Kata ini juga bisa bermakna dalam kerangka proses pembelajaran, dimana siswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar di kelas dengan memanfaatkan potensi yang ada. Kata “distrukturkan” mengandung makna bahwa di kelas itu ada ketua kelas, wakil ketua kelas, kelompok siswa menurut piket harian, dan lain-lain. Oleh karena itu, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. B. Tujuan Fungsi manajemen kelas adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. C. Aspek-aspek kelas yang harus dikelola Beberapa aspek yang menyangkut pengelolaan kelas, yaitu:
28 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

29

1. Ekspektasi, Merupakan persepsi guru dan peserta didik berkenaan dengan hubungan mereka. 2. Kepemimpinan, Diartikan sebagai tingkah laku yang mendorong suatu kelompok bergerak kearah pencapaian tujuan yang dimaksud. 3. Kemenarikan, Tingkat hubungan persahabatan diantara anggota kelompok kelas 4. Norma, Adalah pedoman tentang cara berpikir, merasa dan bertingkah laku yang diakui bersama anggota kelompok. 5. Komunikasi, memungkinkan terjadi interaksi yang bermakna pada anggota kelompok. 6. Keeratan, Berkaitan dengan rasa kebersamaan yang dimiliki oleh kelompok kelas. D. Manfaat pengelolaan kelas Tujuan Pengelolaan Kelas: Agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Adapun tujuan penggunaannya di dalam kelas bagi siswa adalah : a. Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya. b. Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan, dan bukan kamarahan. c. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri di dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.

V.

Media dalam belajar dan pembelajaran
A. Pengertian Menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4), Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”. Dijabarkan juga oleh Djamarah (1995 : 136), Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai Tujuan pembelajaran”. Gerlach dan Ely (1971), menjelaskan bahwa Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

29 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

30

B. Manfaat penggunaan media Arief S. Sadiman, dkk. (2006: 17-18) menjelaskan kegunaan media pembelajaran sebagai berikut: a. Memperjelas penyajian pesan. b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera. c. Mengatasi sikap pasif, sehingga peserta didik menjadi lebih semangat dan lebih mandiri dalam belajar. d. Memberikan rangsangan, pengalaman, dan persepsi yang sama terhadap materi belajar. C. Jenis-jenis media 1) Media visual Media grafis adalah suatu jenis media yang menuangkan pesan yang akan disampaikan dalam bentuk simbol-simbol komunikasi verbal. Simbol-simbol tersebut artinya perlu dipahami dengan benar, agar proses penyampaian pesannya dapat berhasil dengan baik dan efisien. Selain fungsi tersebut secara khusus, grafis berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat terlupakan bila tidak digrafiskan (divisualkan). Bentuk-bentuk media grafis antara lain adalah: (1) gambar foto, (2) sketsa, (3) diagram, (4) bagan/chart, (5) grafik, (6) kartun, (7) poster, (8) peta, (9) papan flannel, dan (10) papan buletin. 2) Media non elektrik Media non elektrik adalah media yang mempunyai dimensi panjang dan lebar saja, yang penggunaannya tidak memerlukan bantuan perangkat elektronik. Macam-macam media non elektrik antara lain yaitu: (1) papan tulis, (2) papan flanel, (3) alat lebar gantungan (ALG), (4) alat lebar sampiran (ALS), (5) poster, dan (6) handouts. 3) Media audio visual Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, dan media ini dibagi ke dalam dua jenis : a. audiovisual diam, yang menampilkan suara dan visual diam, seperti film soundslide. b. Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, seperti film, video cassete dan VCD.

30 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

31

Media audio - visual disebut juga sebagai media video. Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptaan pesan belajar melalui bentuk visualisasi. Menurut Ronald Anderson (1994:99), media video adalah merupakan rangkaian gambar elektronis yang disertai oleh unsur suara audio juga mempunyai unsur gambaryang dituangkan melalui pita video (video tape). Rangkaian gambar elektronis tersebutkemudian diputar dengan suatu alat yaitu video cassetterecorder atau video player. Menurut Ronald Anderson (1994:103-105) bahwa dalam media video terdapat kelebihan dan kekurangan, antara lain: Kelebihan media video: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Dapat digunakan untuk klasikal atau individual Dapat digunakaan seketika. Digunakan secara berulang. Dapat menyajiakn materi secara fisik tidak dapat bicara kedalam kelas. Dapat menyajikan objek yang bersifat bahaya Dapat menyajikan obyek secara detail Tidak memerlukan ruang gelap Dapat di perlambat dan di percepat Menyajikan gambar dan suara

Kelemahan media video : 1. Sukar untuk dapat direvisi 2. Relatif mahal 3. Memerlukan keahlian khusus Tujuan media video dalam pembelajaraan Ronald Anderson (1994:102) mengemukakan tentang beberapa tujuan dari pembelajaran menggunakan media video, antara lain: Untuk tujuan kognitif : a. Dapat mengembangkan mitra kognitif yang menyangkut kemampuan mengenal kembali dan kemampuan memberikan rangsangan gerak dan serasi.

31 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

32

b. Dapat menunjukkan serangkaian gambar diam tanpa suara sebagai media foto dan film bingkai meskipun kurang ekominis. c. Melalui video dapat pula diajarkan pengetahuan tentang hukum-hukum dan prinsip – prinsip tertentu. d. Video dapat digunakan untuk menunjukkan contoh dan cara bersikap atau berbuat dalam suatu penampilan, khususnya yang menyangkut interaksi siswa. Untuk tujuan afektif : a. Video merupakan media yang baik sekali untuk menyampaikan informasi dalam matra afektif. b. Dapat menggunakan efek dan teknik, video dapat menjadi media yang sangat baik dalam mempengaruhi sikap dan emosi. Untuk tujuan psikomotorik : a. Video merupakan media yang tepat untuk memperlihatkan contoh ketrampilan yang menyangkut gerak. Dengan alat ini dijelaskan, baik dengan cara memperlambat maupun mempercepat gerakan yang ditampilkan. b. Melalui video siswa dapat langsung mendapat umpan balik secara visual terhadap kemampuan mereka sehingga mampu mencoba ketrampilan yang menyangkut gerakan tadi. 4) Multimedia Media dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai alat bantu untuk memperjelas pesan yang disampaikan guru. Media juga berfungsi untuk pembelajaran individual dimana kedudukan media sepenuhnya melayani kebutuhan belajar siswa (pola bermedia). Beberapa bentuk penggunaan komputer media yang dapat digunakan dalam pembelajaran meliputi: a. Penggunaan Multimedia Presentasi. Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang sifatnya teoritis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan grup belajar yang cukup banyak di atas 50 orang. Media ini cukup efektif sebab menggunakan multimedia projector yang memiliki jangkauan pancar cukup besar. Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks, video, animasi, image, grafik dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditrif maupun kinestetik .

32 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

33

Berbagai perangkat lunak yang memungkinkan presentasi dikemas dalam bentuk multimedia yang dinamis dan sangat menarik. Perkembangan perangkat lunak tersebut didukung oleh perkembangan sejumlah perangkat keras penunjangnya. Salah satu produk yang paling banyak memberikan pengaruh dalam penyajian bahan presentasi digital saat ini adalah perkembangan monitor, chard video, soundchard serta perkembangan proyektor digital (digital imageprojector) yang memungkinkan bahan presentasi dapat disajikan secara digital. untuk bermacam-macam kepentingan dalam berbagai kondisi dan situasi, serta ukuran ruang dan berbagai karakteristik audience. Tentu saja hal ini menyebabkan perubahan besar pada trend metode presentasi saat ini, dan dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pengolahan bahan presentasi dengan menggunakan komputer tidak hanya untuk dipresentasikan dengan menggunakan alat presentasi digital dalam bentuk Multimedia projector (seperti LCD, In-Focus dan sejenisnya), melainkan juga dapat dipresentasikan melalui peralatan proyeksi lainnya, seperti overheadprojector (OHP) dan film slidesprojector yang sudah lebih dahulu diproduksi. Sehingga lembaga atau instansi yang belum memiliki perangkat alat presentasi digital akan tetapi telah memiliki kedua alat tersebut, dapat memanfaatkan pengolahan bahan presentasi melalui komputer secara maksimal. Dalam sudut pandang proses pembelajaran, presentasi merupakan salah satu metode pembelajaran. Penggunaannya yang menempati frekuensi paling tinggi dibandingkan dengan metode lainnya. Berbagai alat yang dikembangkan, telah memberikan pengaruh yang sangat besar bukan hanya pada pengembangan kegiatan praktis dalam kegiatan presentasi pembelajaran akan tetapi juga pada teori-teori yang mendasarinya. Perkembangan terakhir pada bidang presentasi dengan alat bantu komputer telah menyebabkan perubahan tuntutan penyelenggaraan pembelajaran. Diantaranya tuntutan terhadap peningkatan kemampuan dan keterampilan para guru dalam mengolah bahan-bahan pembelajaran ke dalam media presentasi yang berbasis komputer. b. Multimedia Interaktif. Secara umum Multimedia Interaktif ini disajikan dalam bentuk CD, sehingga sangat cocok pembelajaran individual. Manfaat dari Pembelajaran yang menggunakan Multimedia Interaktif antara lain : Mendorong siswa belajar secara mandiri Membantu siswa meningkatkan pemahaman materi Membantu dan mendorong guru dalam menjelaskan hal-hal yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Sifat media ini selain interaktif juga bersifat multi media terdapat unsur-unsur media secara lengkap yang meliputi sound, animasi, video, teks dan grafis.

33 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

34

D. Kriteria media belajar dan pembelajaran yang baik Dalam menentukan media pembelajaran yang akan dipakai dalam proses belajar mengajar, pertama-tama seorang guru harus mempertimbangkan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan karakteristik media yang akan dipilihnya. Dengan mengajukan beberapa pertanyaan, maka pemilihan media dapat dilakukan berdasarkan: 1. Apakah media yang bersangkutan relevan dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai ? 2. Apakah ada sumber informasi, katalog mengenai media yang bersangkutan? 3. Apakah perlu dibentuk tim untuk memonitor yang terdiri dari para calon pemakai? (Sadiman, 1986). Selain dari itu, dapat dikemukakan pula bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan media antara lain adalah : (1) tujuan instruksional yang ingin dicapai, (2) karakteristik siswa, (3) jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio atau visual), keadaan latar atau lingkungan, dan gerak atau diam, (4) ketersediaan sumber setempat, (5) apakah media siap pakai, ataukah media rancang, (6) kepraktisan dan ketahanan media, (7) efektivitas biaya dalam jangka waktu panjang.

VI.

Komunikasi dalam belajar dan pembelajaran

A. Definisi komunikasi dalam belajar dan pembelajaran Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Proses belajar mengajar (PBM) merupakan suatu bentuk komunikasi yaitu komunikasi antara subyek didik dengan pendidik, antara mahasiswa dengan dosen, antara siswa dengan guru”. Di dalam komunikasi tersebut terdapat pembentukan (transform) dan pengalihan (transfer) pengetahuan, keterampilan ataupun sikap dan nilai dari komunikator (pendidik, dosen, guru) kepada komunikan (subyek didik, mahasiswa, siswa) sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. B. Fungsi komunikasi dalam belajar dan pembelajaran 1. Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan yang akan diperolehnya atau keterampilan yang akan dipelajarinya. Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan pelajaran dan tingkat kesulitan yang diharapkan. Untuk pembelajaran khususnya yang menampilkan gerak dapat
34 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

35

mempertunjukkan kinerja (performance) yang harus dipelajari siswa. Dengan demikian dapat menjadi model perilaku yang diharapkan dapat dipertunjukkannya pada akhir pembelajaran. 2. Memotivasi siswa Salah satu peran yang umum dari media komunikasi adalah memotivasi siswa. Tanpa motivasi, sangat mungkin pembelajaran tidak menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa seringkali dilakukan dengan menggambarkan sejelas mungkin keadaan di masa depan, dimana siswa perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Jika siswa menjadi yakin tentang relevansi pembelajaran dengan kebutuhannya di masa depan, ia akan termotivasi mengikuti pembelajaran. Media yang sesuai untuk menggambarkan keadaan masa depan adalah media yang dapat menunjukkan sesuatu atau menceritakan (tell) hal tersebut. Bila teknik bermain peran digunakan (seperti lawak atau drama), pengalaman yang dirasakan siswa akan lebih kuat. Film juga seringkali diproduksi dan digunakan untuk tujuan motivasi dengan cara yang lebih alami. C. Unsur-unsur komunikasi dalam belajar dan pembelajaran Unsur-unsur komunikasi menurut Harold Lasswell : a. Komunikator (Source, Sender) b. Pesan (Message) c. Media (Channel) d. Komunikan (Receiver) e. Efek (Effect, Influence) D. Arah-arah komunikasi dalam belajar dan pembelajaran Ada 3 pola komunikasi belajar mengajar, yaitu : a. Komunikasi sebagai aksi  komunikasi satu arah. Guru pemberi aksi  Siswa penerima aksi Guru aktif Siswa pasif. Ceramah pada dasarnya komunikasi satu arah, atau komunikasi sebagai aksi. Komunikasi jenis ini kurang menghidupkan kegiatan siswa belajar. b. Komunikasi sebagai interaksi - komunikasi dua arah. Pada komunikasi ini Guru dan siswa dapat berperan sama, yakni pemberi aksi dan penerima aksi. Keduanya dapat saling memberi dan saling menerima. c. Komunikasi sebagai Transaksi - komunikasi banyak arah. Yakni komunikasi yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antar siswa yang satu dengan siswa lainnya. Model ini mengarah kepada pola siswa belajar aktif.

35 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

36

E. Jenis-jenis komunikasi dalam belajar dan pembelajaran 1. Dari segi penyampaian pesannya, komunikasi dapat dilakukan secara lisan dan secara tertulis, atau secara elektronik melalui radio, televisi, telepon, internet dan sebagainya. 2. Dari segi kemasan pesan, komunikasi dapat dilakukan secara verbal (dengan berbicara) atau dengan non verbal (diwakili bahasa isyarat). Komunikasi verbal: diwakili dalam penyebutan kata-kata, yang pengungkapannya dapat dengan lisan atau tertulis. Komunikasi non verbal: terlihat dalam ekspresi atau mimik wajah, gerakan tangan, mata dan bagian tubuh lainnya.

3. Dari segi keresmian pelaku komunikasi, saluran komunikasi yang digunakan, dan bentuk kemasan pesan, komunikasi dapat dikategorikan sebagai bentuk komunikasi formal dan non formal. 4. Dari segi pasangan komunikasi, komunikasi dapat dilihat sebagai: a. Komunikasi Intrapersonal (intra personal communication), ialah proses komunikasi dalam diri komunikator: pengirim dan penerima pesannya adalah dirinya sendiri (manusia sebagai makhluk rohani). b. Komunikasi Interpersonal (inter personal communication) ialah interaksi tatap muka antara dua orang atau lebih dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapinya secara langsung pula (manusia sebagai makhluk sosial).

36 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

37

DAFTAR PUSTAKA

 Buku :
Anderson, Ronald.H. (1994). Pemilihan dan Pengembangan media Video Pembelajaran. Jakarta : Grafindo Pers. Aunnurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta Djiwandono, Sri EstiWuryani. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Grasindo Fadillah, M.Psi. (2012). Psikologi Belajar. Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana Iriyadi, Achmad. (2010). Handout Simulasi III. Bandung : FPIPS UPI Nuryanto, Apri. (2011). Materi Media Pembelajaran. Yogyakarta : Fakultas Teknik - Jurusan Pendidikan Teknik Mesin UNY Rofiq, M.Aunur. (2009). Pengelolaan Kelas. Malang : Depdikbud Sadiman, Arief. (2006). Media Pendidikan. Jakarta : Grafindo Sagala, Syaiful. (2010). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta Sudatha. I Gde Wawan. (2011). Teori Belajar Sibernetik. Bali : Universitas Pendidikan Ganesha Surya, Mohammad. (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Yayasan Bakti Winaya Suyatno. (2009). Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo : Masmedia Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 4 : Pendidikan Lintas Bidang. Jakarta : Grasindo Waryanto, Nur Hadi. (2007). Penggunaan media audio visual dalam menunjang pembelajaran. Yokyakarta : UNY

Internet : Ahmad, Luthfi. (2012). Teori Belajar Kognitif. Tersedia di http://upi-luthfiahmad.blogspot.com

37 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

38

Kusumah, Wijaya. (2012). Apakah Manajemen Kelas itu ? Tersedia di http://www.wijayalabs.com

Latifah, Lyna. (2010). Manajemen Kelas/Pengelolaan Kelas. Tersedia di https://docs.google.com

Malik, Halim. (2011). Teori Belajar Andragogi dan penerapannya. Tersedia di http://www.edukasi.kompasiana.com

Subagio. (2011). Manajemen Kelas. Tersedia di http://subagio-subagio.blogspot.com

Sutirman. (2012). Media Pembelajaran. Tersedia di http://tirman.wordpress.com

http://www.raudlatul-ulum.com/tag/metode-tutorial/2009 http://www.teknologipendidikan.net/

38 | Ujian Akhir Semester Ganjil 2012/2013 -Belajar dan Pembelajaran

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful