SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

BAB-IV PERIODISASI BIROKRASI/ ORGANISASI
4.1. Organisasi Pemerintahan Secara Umum Sebelum mengupas birokrasi/ organisasi kehutanan, terlebih dahulu dibahas organisasi permerintahan di Tanah Papua yang dimulai sejak Masa Pemerintahan Kolonial Belanda, Jaman Orde Lama sampai dengan Orde Baru. 4.1.1. Masa Pemerintahan Kolonial Belanda Pemerintah Belanda secara resmi mendirikan pemerintahan di Irian Jaya sejak tahun 1828. Mula-mula wilayah ini dijadikan 1 Keresidenan yang berkedudukan di Ambon. Kemudian tahun 1922 dirubah menjadi 2 Keresidenan dan akhirnya menjadi 6 Afdeling. Pada tahun 1949 melalui KMB di Denhag, Pemerintah belanda memisahkan Irian Jaya dari RI dan menjadikannya sebagai Propinsi seberang lautan berdasarkan Staatsbead No. J.567 tanggal 28 Desember 1949. Penyelengaraan Pemerintah di d s ra p d “e i s e cn Ne wG i a. a ak n a a B wn rg lg i d i u u e” n Berdasarkan Bewinds regcling Nieuw Guinea tersebut Struktur

Pemerintahan diatur sebagai berikut : a. Untuk menyelenggarakan Pemerintahan di Irian Jaya, diangkat seorang Gubernur sebagai Pimpinan Pemerintahan. Sedangkan untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan dijabat oleh seorang Sekretaris. Dinas-dinas yang berfungsi membantu menyelenggarakan Pemerintahan terdiri dari : 1). 2). 3). 4). 5). 6). 7). Dienst van Binnenlandse zaken Dienst van Financien Dienst van Culture le zaken Dienst van Algemene Ekonomische zaken Dienst van Voorictings Dienst Dienst van Verkeer an Energie Dienst van Gezonndheidszorg.
IV- 1

b.

Gubernur

dalam

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dinas-Dinas tersebut di atas melaksanakan tugasnya dalam penyelenggaraan Pemerintahan sesuai dengan bidangnya masing-masing menurut ketentuan yang berlaku Para Kepala Dinas bertanggungjawab langsung kepada Gubernur untuk melaksanakan koordinasi di antara dinas-dinas, dibentuk suatu dewan yang disebut “ a d V n De s Ra a i t n F od n.Me l d w n i,G b ru me g d k n mu y w rh aa o fe ” lu e a n u en r n a a a ai i sa aa tu rencana-rencana yang penting mengenai tugas penyelenggaraan Pemerintah. c. Pembagian Wilayah Administratif Pemerintahan dalam perkembangan terakhir menjelang penyerahan Irian Jaya kepada Republik Indonesia melalui UNTEA, Irian Jaya dibagi menjadi beberapa Wilayah (Keresidenan). Onderafdeling (IIPB atau KPS) dan Distrik serta kampung. Pembagian Wilayah Administratif Irian Jaya pada masa penyerahan kekuasaan kepada Republik Indonesia terdiri dari 6 afdeling, 23 onderafdeling, 5 Exploratieressort dan 75 District.

Di samping adanya pemerintahan Belanda (Nederlands Niuew Guinea tersebut), sejak tahun 1956 Pemerintah Republik Indonesia juga membentuk Propinsi Otonomi Irian Barat dengan Undang-Undang Nomor 15 tahun 1956 yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1956. Hal ini disebabkan sikap Belanda tidak mau menyerahkan wilayah ini, sedangkan Proklamasi 17 Agustus 1945 sudah membebaskan seluruh tumpah darah Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Po i iP r a g n Ia B rtn mep tp l b s r r nB rt a rp s “ej n a ”r n aa i n u i i lui u u e a Ia aa d n i a i pulau-pulau lain disekelilingnya termasuk Kawedanan Todore, Distrik Pantai dan Distrik Weda di Maluku Utara Ibukota Propinsi ini berkedudukan di Soasiu. 4.1.2. Masa Pemerintahan Republik Indonesia Sesudah penyerahan kekuasaan dari UNTEA kepada Republik Indonesia, maka penyelenggaraan pemerintahan di Wilayah Irian Jaya belum dapat segera dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana yang dilaksanakan di daerah-daerah Indonesia lainnya, melainkan harus melalui tahap-tahap peralihan sebelum dapat menyesuaikan dengan susunan Ketatanegaraan dan Ketatausahaan Republik Indonesia.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 2

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selama waktu 1963 sampai dengan 1983 Struktur Pemerintahan di Irian Jaya mengalami perubahan-perubahan sebagai berikut : a. Struktur Pemerintahan Propinsi Irian Jaya menurut Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1963 : 1). Dengan diserahkannya Irian Barat kepada kekuasaan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, maka untuk menyelenggarakan Pemerintahan di Wilayah Irian Jaya, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1963. Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1963 mengatur tentang Ketentuan Pokok mengenai Pemerintahan dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan ini sesuai dengan Penetapan Presiden Nomor 1/1963, Pemerintahan Afdeling, Orderafdeling serta District belum berubah dan atau disesuaikan dengan Struktur Pemerintahan di daerah Indonesia lainnya di luar Irian Jaya. Pasal 7 Penetapan Presiden Nomor 1 tahun 1963 menetapkan bahwa Gubernur membawahi semua peralatan Pemerintahan Sipil yang ada di derah Irian Jaya dan mengadakan koordinasi penyelenggaraan tugas peralatan-peralatan yang ada. Peralatan-peralatan yang dimaksud adalah Dinas-dinas tingkat Propinsi yang menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 02/INSTR/1963 (RHS) terdiri dari : a). b). c). d). e). f). g). h). i). Dinas Pemerintahan; Dinas Keuangan; Dinas Sosial dan Kehakiman; Dinas Kesehatan; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan; Dinas Penerangan; Dinas Perekonomian Rakyat; Dinas Perhubungan; Dinas Pekerjaan Umum.

2). Perkembangan selanjutnya dalam Struktur Pemerintahan, istilahistilah Afdeling diganti menjadi Keresidenan, Onderafdeling diganti dengan Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) sedangkan istilah District sementara masih tetap digunakan.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 3

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selanjutnya sebagai realisasi pasal 4 Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1963, Propinsi Irian Jaya dibagi menjadi 6 Keresidenan : 23 KPS dan 79 Dustrik. Pemerintahan berjalan lancar dan sesuai kebutuhan masa diadakan pemekaran Wilayah dan dibentuk KPS dan Distrik baru, sehingga pada waktu Tahun 1963, di Irian Jaya terdapat 27 KPS dan 90 Distrik. Tahun 1966 Keresidenan dihapuskan untuk seluruh Indonesia termasuk Irian Jaya. Dan khusus untuk Irian Jaya bekas wilayah Keresidenan dijadikan Kabupaten Administratif. Untuk membantu Gubernur dalam Bidang Administratif, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepada Daerah Propinsi Irian Jaya Nomor : 69/GIB/1963 dibentuk Sekretariat Daerah yang dipimpin oleh seorang Sekretariat Daerah. Sekretariat Daerah yang dibentuk berdasarkan SK GIB No. 69 Tahun 1963 tersebut terdiri dari 5 Biro yakni : 1). 2). 3). 4). 5). Biro Pemerintahan Biro Keuangan Biro Kepegawaian Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Biro Politik dan Keamanan

Di samping kelima Biro tersebut di atas terdapat Tata Usaha Umum yang langsung dibawah Sekretaris Daerah dan pada DPDGR Propinsi Irian Jaya, dibentuk satu Tata Usaha yang dipimpin oleh Sekretaris Khusus DPDGR Propinsi Irian Jaya. Sekretaris Khusus bertanggungjawab kepada Sekretaris Daerah selaku Sekretaris DPDGR Propinsi Irian Jaya. Sesuai sifat pemerintahan di Irian Jaya yang masih Administratif, maka pada Kantor Gubernur Kepala Daerah, tidak ada pemisahan antara urusan Pemerintahan Umum Pusat dengan urusan Otonomi. Semua persoalan diselesaikan oleh Biro Pemerintahan. Biro Keuangan walaupun namanya Biro tetapi berfungsi sebagai Dinas Keuangan yang berarti mengkoordinir semua aparat Keuangan yang Irian Jaya dan mengurus baik Keuangan Pusat di Daerah maupun Keuangan Daerah, jadi men-tackle semua keuangan aparat Vertikal yang ada di Irian Jaya.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 4

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Biro Kepegawaian juga mentackle semua persoalan Kepegawaian di Irian Jaya, baik Pegawai Pusat maupun Pegawai Daerah dan Biro ini statusnya sebagai Perwakilan KUP (Bank sekarang) untuk Irian Jaya. Ditinjau dari tugas dan wewenangnya, ketiga Biro tersebut mempunyai status tidak sebagaimana fungsi Biro pada umumnya. Demikian pula apabila ditinjau dari segi anggaran tersendiri seperti halnya Dinas-dinas. Demikian gambaran singkat Struktur Pemerintahan Daerah di Propinsi Irian Jaya sesuai dengan Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1963. b. Organisasi Pemerintahan Daerah Propinsi Irian Jaya, menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969.

Sebagai tindak lanjut dari hasil Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yang merupakan Irian Jaya tetap merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk kepentingan pelaksanaan Pemerintah, di Irian Jaya yang efektif, demi kemajuan rakyat di Irian Jaya, maka pada bulan September 1969 di keluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonomi Irian Barat dan Kabupatenkabupaten Otonom Propinsi Irian Barat. Pengaturan lebih lanjut mengenai Pemerintahannya diatur berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 dan 135 Tahun 1970. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri tersebut di atas dibentuklah Dinas Otonom untuk tingkat Propinsi yang terdiri dari : 1). 2). 3). 4). 5). 6). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dinas Sosial Dinas Kesehatan Dinas Pekerjaan Umum Dinas Kehutanan Dinas Pertanian

Untuk tingkat Kabupaten, berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Irian Barat Nomor : 177/GIB/1970 dibentuk 5 (lima) Dinas Otonom yaitu :

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 5

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

1). 2). 3). 4). 5). 6). 7). 8). 9).

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dinas Sosial Dinas Kesehatan Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pertanian Dinas Tenaga Kerja Dinas Pertambangan Dinas Pariwisata Dinas LLAJR

Dinas Kehutanan tidak ada di tingkat Kabupaten, tetapi ini tidak berarti bahwa Aparat Kehutanan di Kabupaten tidak ada, hanya statusnya bukan Dinas tetapi nama Pemangkuan Hutan, yang merupakan verlengstruk dari Dinas Kehutanan Propinsi. Selanjutnya untuk membantu Gubernur Kepala Daerah dalam bidang Administrasi, berpedoman kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1969 dan Nomor 10 Tahun 1969 disusun Struktur Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Propinsi Irian Jaya yang dituangkan dalam Peraturan Nomor 2 Tahun 1970. Dalam Struktur Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah yang baru ini sejalan dengan Pemerintahan Otonom kepada Propinsi dan KabupatenKabupaten di Irian Jaya, maka dalam Sekretariat Daerah baru ini mulai dipisahkan antara urusan Pemerintahan Umum Pusat dan urusan Otonom. Urusan Otonom dikoordinir Sekretariat Daerah dibantu oleh dua orang Administrator yang mengkoordinir 3 (tiga) Biro yang pembagiannya sebagai berikut : 1). Administrator Bidang Pelayanan Administratif mengkoordinir : 1.1. Biro Administrasi umum 1.2. Biro Kepegawaian 1.3. Biro Keuangan 2). Administrator Bidang Pelaksanaan mengkoordinir : 2.1. Biro Desentralisasi dan Tata Praja 2.2. Biro Perekonomian Daerah 2.3. Biro DPRD
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 6

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3). Urusan Pemerintahan Umum dilaksanakanoleh : 3.1. Direktorat Koordinasi dan Tata Praja 3.2. Direktorat Politik dan Keamanan : dengan SK. Mendagri No. 4 Tahun 1971 diubah namanya menjadi Direktorat Khusus) 3.3. Inspektorat Umum 3.4. Direktorat PMD 3.5. Direktorat Agraria. c. Organisasi Pemerintahan Daerah Propinsi Irian Jaya menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Sejak Irian Jaya diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia Tahun 1963 sampai dengan 1974 Pemerintahan di Propinsi Irian Jaya telah berjalan 11 (sebelas) Tahun. Dalam usia 11 (sebelas) tahun Pemerintahan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya telah mengalami kemajuankemajuan dibidang Pemerintahan maupun hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang Pemerintahan maupun hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang Pembangunan. Mengingat kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh Pemerintah Daerah Propinsi Irian Jaya, Pemerintah Pusat menganggap bahwa Daerah Irian Jaya sudah sejajar dengan lain di Indonesia, maka kekuasaan selama ini diberikan kepada Pemerintah Propinsi Irian Jaya dihapuskan. Dalam bidang Pemerintahan dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di Propinsi Irian Jaya diseragamkan dengan Struktur Pemerintahan di Daerah Tingkat I luar Irian Jaya. Pemerintah Daerah Tingkat I Irian Jaya dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I Irian Jaya. Pembagian tugas antara dua komponen tersebut cukup jelas dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 yakni : Kepala Daerah memimpin Bidang Eksekutif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bergerak bidang Legislatif. Dalam menyelenggarakan Pemerintahan Daerah Kepala Daerah dibantu oleh unsur Staf dan Pelaksana yang terdiri dari : 1. Sekretaris Wilayah Pemerintah Daerah sebagai unsur Staf (Pelayanan) 2. Dinas-dinas Daerah yang mempunyai 2 (dua) fungsi yakni : - Sebagai Staf teknis dari Kepala Daerah dan - Sebagai bdan Pelaksana teknis.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 7

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sekretaris Wilayah Daerah Sekretaris Wilayah Daerah sebagai unsur staf yang sekarang berlaku termasuk tipe B, dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat I Irian Jaya No. 2 Tahun 1992 dengan susunan sebagai berikut : Sekretarias Wilayah Daerah Tingkat I Irian Jaya dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Gubernur Kepala Daerah. Dalam melaksanakan tugasnya Sekretaris dibantu oleh 3 (tiga) orang Asisten yang terdiri dari : a. b. c. d. Asisten Bidang Ketataprajaan Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Asisten Bidang Kesejahteran Rakyat Asisten Bidang Administrasi dan Umum.

Tiap-tiap Asisten mewakili Biro dengan Perincian sebagai berikut : a. Asisten Bidang Ketata Praja membawahi : b. Biro Bina Pemerintahan Biro Bina Pemerintahan Desa Biro Hukum Biro Hubungan Masyarakat

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan membawahi : - Biro Bina penyusunan Program - Biro Bina Perekonomian Daerah Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat membawahi : - Biro Sosial Mental Spiritual - Biro Lingkungan Hidup

c.

d.

Asisten Bidang Administrasi dan Umum membawahi : - Biro Organisasi dan Tatalaksana - Biro Kepegawaian - Biro Keuangan - Biro Perlengkapan dan Perawatan - Biro Umum Dalam melaksanakan tugasnya Biro-biro tersebut bertanggungjawab kepada Asisten Sekwilda sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 8

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dinas-Dinas Daerah Dinas-dinas Daerah sebagai unsur pelaksana Kepala Daerah mempunyai tugas pokok menyelenggarakan urusan-urusan yang menjadi urusan rumah tangga daerah/ otonom yang telah diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah. Untuk Daerah Tingkat I Irian Jaya sampai dengan saat ini terdapat 8 (delapan) urusan yang telah diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dengan perincian sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. Urusan Bimbingan dan Kesejahteraan Sosial Urusan Pertanian Urusan Kesehatan Urusan Pendidikan dan Kebudayaan Urusan Pekerjaan Umum Urusan Perikanan Urusan Pendapatan Daerah dengan itu untuk menyelenggarakan urusan-urusan

Sehubungan

dimaksud dibentuk Dinas-Dinas Daerah yang terdiri dari : 1. Untuk Tingkat Propinsi a. Dinas Sosial b. Dinas Pertanian c. Dinas Kesehatan d. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan e. Dinas Pekerjaan Umum f. Dinas Kehutanan g. Dinas Perikanan h. Dinas Pendapatan Daerah i. j. 2. Dinas Pariwisata Dinas Tenaga Kerja

Untuk Daerah Tingkat II untuk tiap-tiap Kabupaten Daerah Tingkat II Irian Jaya dibentuk Dinas-dinas sebanyak 7 (tujuh) buah, dimana penyelenggaraan urusan Kehutanan tidak diserahkan kepada Daerah Tingkat II.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 9

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

c.

Organisasi Pemerintahan Daerah menurut Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1981

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1981 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Wilayah / Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Secara garis besarnya, susunan Organisasi dan Tata Kerja ini hampir sama dengan susunan Organisasi dan Tata Kerja menurut PERDA Nomor 5 tahun 1976, hanya perbedaannya antara lain perobahan pada sebutan Asisten Sekwilda dan Penambahan/pemecahan beberapa Biro, dan perobahan beberapa Biro jadi dalam menyelenggarakan Pemerintahan di Daerah berdasarkan Dekosentrasi, serta tugas pembantuan Gubernur KDH juga dibantu oleh Staf Pelayanan, Staf Pelaksana. Menurut PERDA, susunan Sekretariat dan Tata Kerja Sekretariat Wilayah Daerah Tingkat I Irian Jaya terdiri dari : 1). Asisten Pemerintahan (Asisten I), membawahi - Biro Bina Pemerintahan - Biro Bina Pemerintahan Desa - Biro Bina Hukum - Biro Bina Hubungan Masyarakat 2). Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten II), membawahi : - Biro Bina Pembangunan Desa - Biro Bina Pengembangan Produksi Daerah - Biro Bina Sarana Perekonomian Daerah - Biro Bina Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 3). Asisten Administrasi dan Umum, (Asisten III), membawahi - Biro Organisasi dan Tata Laksana - Biro Kepegawaian - Biro Keuangan - Biro Umum Masing-masing Biro dipimpin oleh Kapala Biro yang bertanggungjawab kepada Asisten Sekwilda. Selanjutnya Biro-biro dibagi dalam bagianbagian yang dipimpin oleh Kepala Bagian dan Bagian-Bagian dibagi dalam Sub-sub Bagian yang dipimpin oleh Sub Bagian.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 10

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I adalah unsur Staf yang membantu Pimpinan Dewan dalam melaksanakan tugasnya sehingga dengan demikian bertanggungjawab kepada Ketua Dewan dan Teknis Administrasi mengikuti petunjuk dan dibina oleh Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat I. Sekretaris Dewan dipimpin ooleh seorang Sekretaris Dewan. Sekretaris Dewan dibagi dalam 4 (empat) Bagian yaitu : Bagian Umum Bagian Persidangan dan Risalah Bagian Keuangan Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol

Masing-masing Bagian dipimpin oleh seorang Kepala Bagian membawahi Kepala-kepala Sub Bagian, Untuk Dinas Otonom unsur Pelaksanaan Teknis, sampai pada saat ini sebanyak 11 (sebelas) buah yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dinas Sosial Dinas Pertanian Dinas Perkebunan Dinas Peternakan Dinas Perikanan Dinas Kehutanan Dinas Kesehatan Dinas Pekerjaan Umum Dinas Pendapatan Daerah Dinas Pariwisata Dinas Tenaga Kerja

Untuk Kabupaten Daerah Tingkat II masing-masing susunan organisasi dan Tata Kerjanya diatur dengan Peraturan Daerah Tingkat II masingmasing diperlengkapi dengan 8 (delapan) Bagian serta sejumlah Sub Bagian. Untuk melaksanakan tugas-tugas Dekosentrasi dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri, pada tingkat Propinsi Dati I dan Kabupaten; Dati II terdapat Unit Kerja yaitu : Inspektorat Wilayah Propinsi Dati I Irian Jaya dan Inspektorat Dati I Irian Jaya dan Inspektorat Dati II masing-masing.
IV- 11

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

-

Direktorat Sosial Politik Propinsi Irian Jaya dan Kantor Sosial Pilitik Kabupaten masing-masing. Direktorat Pembangunan Desa Propinsi Irian Jaya dan Kantor Pembangunan Desa masing-masing Kabupaten. Direktorat Agraria Propinsi Irian Jaya dan Kantor Agraria Kabupaten masing-masing. Mawil HANSIP Propinsi Irian Jaya dan Mawil HANSIP Kabupaten masing-masing.

Bidang/ kegiatan lainnya yang tidak termasuk dalam suatu Lembaga Departemen (Non Departemen), ialah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. BAPPEDA Tingkat Propinsi Dati I dan BAPPEDA Kabupaten Dati II; BKPMD Tingkat Propinsi Dati I; Arsip Daerah Propinsi Dati I Irian Jaya; Pusat Data Elektronik (PDE) Dati I Irian Jaya dan PDE II; BKKBN Tingkat Propinsi Dati I dan BKKBN Kabupaten Dati II; KONI Tingkat Propinsi Dati I dan KONI Kabupaten Dati II; BP7 Tingkat Propinsi Dati I dan BP7 Kabupaten Dati II.

Selain dari pada itu, Gubernur Irian Jaya selaku Kepala Wilayah yang mewakili Pemerintah sesuai pasal 80 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 bertugas mengkoordinir kegiatan instansi-instansi Vertikal yang mempunyai unit/ satuan kerja di wilayah ini sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kakanwil Departemen Penerangan; Kakanwil Departemen P dan K; Kakanwil Departemen Agama; Kakanwil Departemen Sosial; Kakanwil Departemen Perdagangan; Kakanwil Departemen Pertambangan dan Energi; Kakanwil Departemen Perindustrian; Kakanwil Departemen Kehakiman; Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan;

10. Kakanwil Ditjen Imigrasi 11. Kakanwil Ditjen Bina Guna 12. Kakanwil Ditjen Bina Lindung 13. Kakanwil Ditjen Perhubungan Laut
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 12

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

14. Kakanwil Ditjen Perhubungan Darat 15. Kakanwil Ditjen Perhubungan Udara 16. Kakanwil Departemen Transmigrasi 17. Kakanwil Departemen Perhubungan 18. Kakanwil Departemen Ditjen Transmigrasi 19. Kakanwil Departemen Ditjen Koperasi 20. Kakanwil Ditjen Anggaran 21. Kepala Inspeksi Pajak 22. Kepala Inspeksi Bea dan Cukai 23. Kepala Kantor Ipeda 24. Kepala Perbendaharaan Negara 25. Kepala Kantor Pengawasan Anggaran Negara 26. Kepala Percetakan Negara 27. Kepala Lembaga Meteorologi & Geofisika 28. Koordinator RRI 29. Kakanwil IV PN. DAMRI 30. Kakanwil X PLN 31. Kakanwil Usaha Telekomunikasi 32. Kepala Kantor Administrasi Veteran 33. Kepala Kantor Sensus dan Statistik 34. Kepala Daerah Pos dan Giro 35. Kepala Dolog Kemudian untuk membahas masalah-masalah yang dianggap sangat penting Gubernur membawakannya dalam forum MUSPIDA, sangat penting Gubernur membawakannya dalam forum MUSPIDA (Termasuk MUSPIDA Plus) yaitu : PANGDAM XVII Cenderawasih PANGDAERAL X PANGKODAU KADAPOL XVII KEJATI Ketua Pengadilan Tinggi Rektor UNCEN Ketua DPRD Tingkat I Irian Jaya.
IV- 13

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.

Pembentukan Pemerintahan Wilayah Kecamatan :

Dalam rangka menyeragamkan susunan organisasi dan untuk meningkatkan kelancaran penyelenggaraan Pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna telah dikeluarkan Peraturan Menteri Nomor 4 Tahun 1973 ini mengatur tentang penghapusan Wilayah. Kepala Pemerintahan setempat dan Distrik membentuk Pemerintahan Wilayah Kecamatan di Daerah Tingkat I Irian Jaya, yang pedoman disusun Organisasi dan Tata Kerja, diatur dalam Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 1973. Sebagai realisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1973 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 1973, telah dikeluarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Irian Jaya Nomor 195/GIJ/1973 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan Kecamatan di Daerah Tingkat I Irian Jaya sebanyak 117 Kecamatan yang dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. Tahap Persiapan (tahun 1972/1973); Tahap Pertama (tahun 1973/1974) dibentuk 58 Kecamatan; Tahap Kedua (tahun 1973/1974) dibentuk 37 Kecamatan; Tahap ketiga (tahun 1975/1976) dibentuk 21 Kecamatan; Tahap Penyempurnaan/Peningkatan (tahun 1976/1977 s/d. Tahun 1978/1979); Pemekaran Kecamatan Jayapura menjadi Kecamatan Jayapura Selatan dan Kecamatan Jayapura Utara.

Sampai dengan tahun 1983 di seluruh Irian Jaya telah selesai dibentuk 117 Kecamatan. 4. Pembentukan Desa :

Sebagaimana telah diuraikan di bagian lain bahwa pada waktu penyerahan Irian Jaya kekuasaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Jaya terdiri dari 75 Distrik. Kemudian untuk menyesuaikan dengan Ketatanegaraan Republik Indonesia istilah Distrik diganti dengan Desa. Sampai dengan tahun 1980 Desa dan Kelurahan di Irian Jaya berjumlah 892 buah, dengan demikian dalam kurun waktu 1963 s/d. 1980 terjadi penambahan sebanyak 817 buah desa.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 14

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kelurahan berjumlah 69 buah dengan pertambahan desa dalam periode 1980-1983, diantaranya termasuk lokasi Transmigrasi yang sudah selesai masa pembinannya tahun 1983 di Irian Jaya didapati 835 desa dan 66 buah kelurahan. Tabel 4.1. Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan di Setiap Kabupaten di Propinsi Irian Jaya Tahun 1983 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 5. Kabupaten Merauke Jayawijaya Jayapura Paniai Fak-Fak Sorong Manokwari Yapen Waropen Biak Numfor Irian Jaya Kecamatan 18 12 22 17 8 15 12 5 8 117 Desa 176 107 101 136 48 102 62 39 64 835 Kelurahan 6 5 19 5 6 7 6 5 7 66

Pembentukan Kota Administratif :

Kota Jayapura di samping sebagai Ikukota Kabupaten juga sebagai Ibukota Propinsi sehingga kota Jayapura menjadi Pusat segala kegiatan di Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Mengingat statusnya tersebut, kota Jayapura mengalami perkembangan yang pesat terutama perkembangan kota dan perkembangan jumlah penduduknya. Menghadapi kenyataan ini maka untuk mengelola kota Jayapura agar dalam pembangunan/ perkembangannya dapat diarahkan sedemikian rupa, perlu adanya peningkatan status Kota Jayapura menjadi Kota Administratif. Sehubungan dengan itu Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Madya Jayapura. Berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut pada tanggal 2 Agustus 1993 Menteri Dalam Negeri meresmikan Kota Jayapura menjadi Kota Madya. 6. Pembentukan Wilayah Kerja Pembantu Gubernur dan Wilayah Pembantu Bupati :

Melihat Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya ini sangat luas, yaitu kurang lebih 3,5 x luas Pulau Jawa, dan sesuai dengan tuntutan serta rus perkembangan pembangunan disegala bidang, maka :

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 15

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

a.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 1 September 1983 Nomor 821.25.454 telah dibentuk Wilayah Kerja Pembantu Gubernur Yaitu : 1. Wilayah Kerja Pembantu Gubernur Irian Jaya Wilayah meliputi : a). Kabupaten Daerah Tingkat II Jayapura; b). Kabupaten Daerah Tingkat II Jayaijaya; c). Kabupaten Daerah Tingkat II Paniai. Wilayah Kerja Pembantu Gubernur Irian Jaya Wilayah II meliputi : a). Kabupaten Daerah Tingkat II Biak Numfor; b). Kabupaten Daerah Tingkat II Yapen Waropen; c). Kabupaten Daerah Tingkat II Mankwari; d). Kabupaten Daerah Tingkat II Sorong. Wilayah Kerja Pembantu Gubernur Irian Jaya Wilayah III meliputi : a). Kabupaten Daerah Tingkat II Fak-Fak; b). Kabupaten Daerah Tingkat II Merauke.

2.

3.

b.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 3 Agustus 1983 Nomor 821.26.351 telah dibentuk Wilayah Kerja Pembantu Bupati meliputi : Wilayah Kerja Pembantu Bupati Fak-Fak unruk Wilayah Mimika meliputi : a). Kecamatan Mimika Barat; b). Kecamatan Mimika Timur; c). Kecamatan Agimuka.

1.

2.

Wilayah Kerja Pembantu Bupati Merauke Wilayah Asmat meliputi : a). KecamatanSawaerma; b). Kecamatan Agats; c). Kecamatan Atsy; d). Kecamatan Pantai Kasuari.

4.2. Organisasi Kehutanan Pusat Organisasi kehutanan di daerah tidak terlepas dari kebijakan di Jakarta sebagai organisasi kehutanan nasional. Oleh karena itu perlu dijabarkan periodisasi pengembangan kelambagaan di Departemen Kehutanan Jakarta yang menetapkan bentuk struktur organisasi di masing-masing daerah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 16

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selama dua dekade terakhir, Pegawai Negeri Sipil Departemen Kehutanan mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan kelembagaan Departemen Kehutanan. Namun dalam periode lima tahun terakhir, perkembangan Pegawai Negeri Sipil Departemen Kehutanan mengalami fluktuasi jumlah maupun kualitas yang sangat kuat dipengaruhi oleh kemauan politik pemerintah pada era reformasi dan kebijakan kelembagaan Departemen Kehutanan. Berdasarkan nuansa dan implikasi yang melatar belakangi kebijakan kepegawaian Departemen Kehutanan selama dua puluh tahun terakhir dapat dikategorikan menjadi empat era, yaitu: Era Pengembangan Kelembagaan, Era Pemantapan Kelembagaan, Era Peningkatan Profesionalisme PNS dan Era Reformasi. Era Pengembangan Kelembagaan Periode Tahun 1983-1988 ini merupakan Era Pengembangan Kelembagaan, dimana Kebijakan Kepegawaian sangat kuat dipengaruhi oleh: • Kebijakan Pemerintah untuk membentuk Departemen Kehutanan dari Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian. • Kebijakan Departemen Kehutanan untuk menarik kelembagaan Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian ke Departemen Kehutanan, yaitu: Brigade Planologi Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber daya Alam, Perhutani, Inhutani I, II, III. • Kebijakan Departemen Kehutanan untuk membentuk (7) Unit Eselon I, (27) Kantor Wilayah dan (21) BRLKT dan (39) Sub BRLKT, (8) BLK, (10) BIPHUT, (3) BPK, (10) TN, (1) BPA, (1) BPTDAS, (3) BTR, (1) BTP, (10) BISHH dan (22) BPPB. • Kebijakan Pengimplementasian Widyaiswara dan Guru. Jabatan Fungsional Peneliti,

Pada Era Pengembangan Kelembagaan ini, Kebijakan Kepegawaian pada Biro Kepegawaian Departemen Kehutanan adalah sebagai beikut: 1) Pada Tahun 1983, Penarikan Pegawai dari Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian ke Departemen Kehutanan sebanyak : 12.390 PNS.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 17

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

2) Pengalihan profesi pegawai dari Jabatan struktural/ non struktural yang memenuhi persyaratan menjadi ke Jabatan fungsional peneliti pada Pusat Penelitihan Kehutanan dan Balai Penelitian Kehutanan, Jabatan fungsional widayaiswara pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Jabatan fungsional guru pada Sekolah Kehutanan Menengah Atas. 3) Pengadaan Pegawai pada Tahun 1983 sebanyak: 934 PNS, Tahun 1984 sebanyak : 1.179 PNS, Tahun 1985 sebanyak : 6.120 PNS, Tahun 1986 sebanyak : 1.224 PNS, Tahun 1987 sebanyak : 1.078 PNS, dan Tahun 1988 sebanyak : 3.088 PNS. Era Pemantapan Kelembagaan Pada Periode Tahun 1988-1993 merupakan Era Pemantapan Kelembagaan, Kebijakan Kepegawaian pada era ini sangat kuat dipengaruhi Kebijakan Departemen Kehutanan, yaitu untuk:  Melanjutkan Pengembangan Kelembagaan Unit Pelaksana Teknis dengan Penambahan (3) SKMA, (1) BTPDAS, (2) TN, (1) SKMA dan Pembentukan (8) BKSDA.  Peningkatan Efisiensi, Efektifitas Kerja dan Pemantapan Koordinasi Instansi Departemen Kehutanan yang ada di daerah dengan Instansi Pemerintah lainnya, dengan pengalihan kedudukan Unit Pelaksana Teknis BRLKT V dari Solo ke Semarang dan BRLKT VI dari Malang ke Surabaya yang ada di Kabupaten ke Propinsi. Dan mengembangkan kelembagaan.  Penguatan Kelembagaan Kehutanan di Daerah dengan Pengalihan Pembinaan Administratif Unit Pelaksana Teknis BRKLT, BIPHUTdan BISHH dari Direktorat Jenderal Teknis ke Kantor Wilayah.  Penguatan Kelembagaan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dengan Pengalihan Pembinaan Unit Pelaksana Teknis BTR, BTP, BTPDAS dari Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.  Pembentukan Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan, Jagawana dan Teknisi Kehutanan binaan Departemn Kehutanan. Pada Era Pengembangan Kelembagaan ini, Kebijakan Kepegawaian di Departemen Kehutanan adalah :
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 18

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

1) Pengadaan Pegawai pada Tahun 1988 sebanyak: 3.088 PNS, Tahun 1989 sebanyak : 2.241 PNS, Tahun 1990 sebanyak : 1.367 PNS, Tahun 1991 sebanyak : 1.155 PNS, Tahun 1992 sebanyak : 801 PNS, dan Tahun 1993 sebanyak : 2.000 PNS. 2) Memutasikan kedudukan kerja PNS pada BRLKT V dari Solo ke Semarang dan BRLKT VI dari Malang Ke Surabaya. 3) Memutasikan kedudukan kerja PNS pada Unit Pelaksana Teknis BTR, BTP, BTPDAS dari Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 4) Pengalihan profesi pegawai dari Jabatan struktural/ non struktural yang memenuhi persyaratan menjadi ke Jabatan fungsional Penyuluh Kehutanan, Jagawana, Teknisi Kehutanan binaan Departemen Kehutanan 5) Rekruitasi Tenaga Fungsional binaan Departemen Kehutanan. a. Rekruitasi Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan dari tenaga Penyuluh lapangan reboisasi (PLR) dan Penyuluh lapangan penghijauan (PLP) yang memenuhi persyaratan. b. Rekruitasi Jabatan Fungsional pengamanan dan perlindungan persyaratan. Jagawana dari tenaga hutan yang memenuhi

c. Rekruitasi Jabatan Fungsional Teknisi Inventarisasi dan Pengukuran Hutan, Konservasi Tanah, Teknisi Reboisasi, Budidaya Hasil Hutan Non Kayu, Eksploitasi Hutan, Pengujian Hasil Hutan, Bina Wisata Alam, Konservasi Kawasan Hutan dan Lingkungan dari tenaga teknis lapangan kehutanan yang memenuhi persyaratan. d. Penambahan Jabatan Fungsional Peneliti untuk menopang penambahan BTPDAS Ujung Pandang dan Penambahan Guru untuk menopang penambahan 4 (empat) SKMA yaitu: SKMA Pekanbaru, SKMA Samarinda, SKMA Ujung Pandang dan SKMA Manokwari Era Peningkatan Profesionalisme PNS

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 19

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada Periode Tahun 1993 - 1998 merupakan Era Peningkatan Profesionalisme PNS, Kebijakan Kepegawaian pada era ini sangat kuat dipengaruhi Kebijakan Departemen Kehutanan untuk : • Meningkatkan Profesionalime Sumber Daya Manusia Departemen Kehutanan dengan Program Jangka Panjang 10 Tahun Pendidikan S2 dan S3 di dalam/ luar Negeri dan Pemberian Ijin Belajar Untuk Mengikuti Pendidikan dengan biaya sendiri. • Melanjutkan Peningkatan Efisiensi, Efektifitas Kerja dan Pemantapan Koordinasi Instansi Departemen Kehutanan yang ada di daerah dengan Instansi Pemerintah lainnya, dengan pengalihan kedudukan Unit Pelaksana Teknis BKSDA III dari Bogor ke Bandung, Sub BRLKT Asahan Barumun dari Medan Ke Padang Sidempuan, Sub BRLKT Cimanuk dari Majalengka ke Garut dan BTR dari Benakat ke Palembang. Pada Era Peningkatan Pofesionalisme ini, Kebijakan yang dilakukan dalam hal Kepegawaian adalah : 1). Pengadaan Pegawai pada Tahun 1993 sebanyak: 2.000 PNS, Tahun 1994 sebanyak : 230 PNS, Tahun 1995 sebanyak : 386 PNS, Tahun 1996 sebanyak : 1.706 PNS, Tahun 1997 sebanyak : 3.013 PNS, dan Tahun 1998 sebanyak : 1.854 PNS. 2). Memutasikan kedudukan kerja PNS pada BKSDA III dari Bogor ke Bandung , Sub BRLKT Asahan Barumun dari Medan Ke Padang Sidempuan, Sub BRLKT Cimanuk dari Majalengka ke Garut dan BTR dari Benakat ke Palembang . 3). Mengirimkan PNS Departemen Kehutanan yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti tugas belajar Program master sebanyak 400 PNS, Program Magister Managemen/ Master Bussiness Administrasi Sumber Daya Manusia sebanyak 80 PNS dan Program Doktor sebanyak 200 PNS secara bertahap sampai dengan tahun 2004. 4). Rekruitasi Calon Pegawai Negeri Sipil, untuk mengisi formasi jabatan struktural/non struktural baik yang ada di Tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 20

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Era Reformasi Periode Tahun 1998 - 2003 ini merupakan Era Reformasi, dimana Kebijakan Kegawaian sangat kuat dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah dan kebijakan kelembagaan Departemen kehutanan. Kebijakan Pemerintah , yaitu : • Perubahan Kabinet dari Departemen Departemen Kehutanan dan Perkebunan. • Perubahan Departemen Kehutanan Departemen Pertanian dan Kehutanan. • Perubahan Departemen Departemen Kehutanan. Pertanian dan Kehutanan menjadi

Perkebunan

menjadi

dan

Kehutanan

menjadi

• Kemauan politik pemerintah untuk melaksanakan Otonomi Daerah • Kemauan politik pemerintah dalam pelepasan Propinsi Timor Timur ke negara Timor Leste. Kebijakan kelembagaan yang diambil oleh Departemen Kehutanan adalah: Pada Tahun 1998, • Kebijakan pengalihan kelembagaan lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertaniaan ke Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Pada Tahun 2000, • Kebijakan penyerahan kembali kelembagaan lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Kehutanan ke Departemen Pertanian. • Kebijakan pengimplementasian Jabatan Fungsional Auditor pada Inspektorat Jenderal departemen Kehutanan. Pada Tahun 2001, • Kebijakan Pengalihan kelembagaan Kantor Wilayah, Sub BIPHUT dan SKMA Manokwari Departemen Kehutanan ke Pemerintah Propinsi. • Kebijakan Penyerahan kelembagaan Kantor Wilayah, Unit Pelaksana Teknis dan Dinas PKT di Propinsi Timor Timur ke Pemerintah Timor Leste.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 21

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada Tahun 2002, • Kebijakan empat kriteria, yaitu : Integritas Moral, Profesionalisme, Leadership dan Teamwork. Dalam pengangkatan calon pejabat di lingkungan Departemen Kehutanan. • Kebijakan teknis pencalonan pejabat struktural eselon II di lingkungan Departemen Kehutanan melalui Personal Assesment Center (PAC) yang berbasis 3 (tiga) unsur utama kompetensi, yaitu : Pengetahuan, Keahlian dan Sikap/ Perilaku • Kebijakan pengimplementasian Jabatan Fungsional Perencana pada Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan. • Kebijakan pengaturan kembali Jabatan Kehutanan binaan Departemen Kehutanan. Pada Tahun 2003, • Kebijakan Pemerintah untuk Pegawai Negeri Sipil (PUPNS). melaksanakan Pendataan Ulang Fungsional Penyuluh

• Kebijakan pengimplementasian Jabatan Fungsional Perundang-Undangan pada Biro Hukum dan Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan. • Kebijakan pengaturan kembali Jabatan Fungsional Ekosistem Hutan binaan Departemen Kehutanan.

Perancang Organisasi

Pengendali

• Kebijakan pengaturan kembali Jabatan Fungsional Polisi Kehutanan binaan Departemen Kehutanan. Pada Era Reformasi Kehutanan adalah : Pada Tahun 1998, 1) Pengalihan pegawai lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian ke Departemen Kehutanan dan Perkebunan, sebanyak 12.218 PNS yang terdiri dari pegawai pusat sebanyak : 1.682 PNS dan pegawai daerah sebanyak : 10.536 PNS. Pada Tahun 2000, 2) Pengalihan profesi dari jabatan struktural/ non struktural menjadi jabatan fungsional Auditor pada Inspektorat Jenderal departemen Kehutanan
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 22

ini,

Kebijakan

Kepegawaian

Departemen

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada Tahun 2001, 3) Penyerahan kembali pegawai dari lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Kehutanan ke Departemen Pertanian, sebanyak 12.025 PNS, yang terdiri dari pegawai di pusat sebanyak : 931 PNS, pegawai pada unit pelaksana teknis sebanyak : 959 PNS dan Dinas Perkebunan sebanyak : 10.135 PNS. 4) Pelimpahan pegawai ke Pemerintah Propinsi sebanyak 16.356 PNS, yang terdiri dari : Kantor Wilayah sebanyak : 2.574 PNS, Sub BIPHUT sebanyak : 1.025 PNS, BLK Manokwari sebanyak : 32 PNS, SKMA Manokwari, Sebanyak : 22 PNS, Dinas Kehutanan TK I, sebanyak : 6.347 PNS dan Dinas PKT/ Dinas Kehutanan Tingkat II, sebanyak 6.356 PNS. 5) Pengalihan Pegawai Negeri Sipil RI yang berasal dari Propinsi Timor Timur melalui United Nation Transitional Administration East Timor (UNTAET) ke Pemerintah Timor Leste sebanyak 208 PNS. Pada Tahun 2002, 6) Penyelenggaraan penilaian personal bagi para calon pejabat struktural eselon II di lingkungan Departemen Kehutanan sebanyak : 58 assesi. 7) Pengalihan profesi dari jabatan struktural/ non struktural menjadi jabatan Fungsional Perencana pada Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan. Pada Tahun 2003, 8) Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil yang mana Keadaan Pegawai Departemen Kehutanan pada Tahun 2003 sebanyak 17.325 PNS, yang terinci sebagai berikut : Kantor Pusat Departemen Kehutanan : 3.430 PNS, Unit Pelaksana Teknis : 11.578 PNS, Badan Usaha Milik Negara : 2.317 PNS. 9) Penyelenggaraan penilaian personal bagi para calon pejabat structural eselon II di lingkungan Departemen Kehutanan sebanyak : 29 assesi. 10) Pengalihan profesi dari jabatan struktural/ non struktural menjadi jabatan Fungsional Perancang Peraturan Perundang-undangan pada Biro Hukum dan Organisasi Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 23

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selama Periode Tahun 1998-2003, Pengadaan Pegawai Negeri Sipil secara selektif dengan kualifikasi pendidikan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Pada Tahun 1998 sebanyak : 1.854 PNS, Tahun 1999 sebanyak : 1.895 PNS, Tahun 2000 sebanyak : 347 PNS, Tahun 2001 sebanyak : 485 PNS, Tahun 2002 sebanyak : 500 PNS, dan Tahun 2003 sebanyak : 400 PNS. 4.2.1. Periode Tahun 1983 - 1988 - Era Pengembangan Kelembagaan Dengan semakin luas ruang lingkup tugas kehutanan dalam menunjang Pembangunan Nasional, pengurusan di bidang kehutanan dipandang perlu memperoleh perhatian lebih besar dan ditangani secara lebih intensif. Semakin luasnya permasalahan tersebut, dalam Pembentukan Kabinet Pembangunan IV Periode Tahun 1983-1988, dibentuk Departemen Kehutanan RI (Keputusan Presiden RI Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan IV Tanggal 16 Maret 1983). Departemen Kehutanan sebagai bagian dari Pemerintahan Negara dipimpin oleh seorang Menteri Kehutanan yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden sebagian dan tugas mempunyai umum tugas pokok dan

menyelenggarakan

pemerintahan

pembangunan di bidang kehutanan (Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1984 Tentang Susunan Organisasi Departemen Tanggal 6 Maret 1994). Dengan terbentuknya Departemen Kehutanan, pengurusan hutan yang semula diselenggarakan oleh Lembaga Pemerintah setingkat Direktorat Jenderal menjadi diselenggarakan oleh Lembaga Pemerintah setingkat Departemen. Kebijakan Departemen Kehutanan adalah pengembangan kelembagaan baik yang ada di tingkat Pusat, Daerah, dan Badan Usaha Milik Negara. Strategi Kebijakan Pengembangan Kelembagaan Departemen Kehutanan pada Periode Tahun 1983-1988, adalah :

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 24

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada Tahun 1983, 1) Pengalihan Kelembagaan Departemen Kehutanan. dari Departemen Pertanian ke

a. Pengalihan Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian menjadi departemen Kehutanan. b. Pengalihan Unit Pelaksana Teknis, yaitu : Brigade Planologi Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan, c. Pengalihan Badan Usaha Milik Negara, yaitu : Pelimpahan lingkup Perum PERHUTANI, PT. INHUTANI I, II dan III. 2) Pembentukan 27 Kantor Wilayah Departemen Kehutanan. Untuk melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Departemen Kehutanan di Propinsi dibentuk Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di 27 Propinsi (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 34/Kpts-II/1983 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi Tanggal 26 Agustus 1983). 3) Pembentukan 21 Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) dan 39 Sub BRLKT. Untuk melaksanakan penyusunan rencana, bimbingan, monitor pelakasanaan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dibentuk Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di 21 Lokasi dan Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di 39 Lokasi (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 098/Kpts-II/1983, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi, Tanggal 16 Desember 1983). 4) Pembentukan 2 Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA). Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pelaksana lapangan tingkat menengah di bidang kehutanan, dibentuk Sekolah Kehutanan Menengah Atas di 2 lokasi, yaitu: di Kadipaten dan Samarinda (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 068/Kpts-II/1983, Tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Kehutanan Menengah Atas, Tanggal 5 November 1983).

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 25

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada Tahun 1984, 5) Pengembangan Kelembagaan di pusat Pembentukan Unit Eselon I, yang terdiri dari : Sekretariat Jenderal, Inspektorat Jenderal Jenderal, Perlindungan dan Tata Direktorat Hutan Guna Jenderal dan Pengusahaan Alam, Hutan, Badan dan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Direktorat Pelestarian Badan Inventarisasi Hutan, Penelitian

Pengembangan Kehutanan dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. (Keputusan Presiden RI Nomor 15 Tahun 1984, Tentang Susunan Organisasi Departemen Tanggal 6 Maret 1984). 6) Pembentukan 8 Balai Latihan Kehutanan (BLK) Untuk meningkatkan ketrampilan teknis sumber daya manusia, dibentuk Balai Latihan Kehutanan yang bertugas untuk melaksanakan kursus dan latihan pegawai dan non pegawai di bidang kehutanan yang berada di 8 lokasi, yaitu : di Pematang Siantar, Pekanbaru, Bogor, Kadipaten, Samarinda, Ujung Pandang, Kupang dan Manokwari (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 094/KptsII/1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BLK, Tanggal 12 Mei 1984 ). 7) Pembentukan 10 Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT). Untuk menyiapkan prakondisi kehutanan, dibentuk Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan yang bertugas untuk melaksanakan inventarisasi, pengukuran dan perpetaan di 10 lokasi, yaitu : di Medan, Palembang, Pontianak, Balikpapan, Banjarbaru, Manado, Ujung Pandang, Denpasar, Ambon dan Biak (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 093/Kpts-II/84, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BIPHUT, Tanggal 12 Mei 1984) 8) Pembentukan 3 Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Untuk melaksanakan penelitian, dibentuk Balai Penelitian Kehutanan yang bertugas di bidang penelitian hutan dan hasil hutan di 3 lokasi yaitu : Pematangsiantar, Samarinda dan Ujung Pandang (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 095/Kpts-II/84, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BPK, Tanggal 12 Mei 1984 ).
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 26

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

9) Pembentukan 10 Taman Nasional (TN) Untuk melaksanaan pengelolaan taman nasional, dibentuk Taman Nasional yang bertugas di bidang perlindungan dan Pelestarian alam di 10 lokasi , yaitu di: Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Ujung Kulon, Gunung Gede Pangrango, Baluran, Bali Barat, Pulau Komodo, Tanjung Putting, Kutai dan Dumoga Bone (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 096/Kpts- II/1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja TN, Tanggal 12 Mei 1984). 10) Pembentukan 1 Balai Persuteraan Alam (BPA) Untuk melaksanakan dan memberikan bimbingan teknis pesuteraan alam, dibentuk Balai Persuteraan yang bertugas di bidang persuteraan alam di 1 lokasi, yaitu di Ujung Pandang (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 097/Kpts-II/1984,Tentang Organisasi dan Tata Kerja BPA,Tanggal 12 Mei 1984). 11) Pembentukan 1 Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTPDAS) Untuk melaksanakan perakitan dan pengujian teknis pengelolaan daerah alian sungai, dibentuk Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Sungai yang bertugas dibidang teknologi pengelolaan daerah aliran sungai di 1 lokasi, yaitu di Surakarta (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 098/Kpts-II/1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTPDAS, Tanggal 12 Mei 1984). 12) Pembentukan 3 Balai Teknologi Reboisasi (BTR) Untuk melaksanakan perakitan dan pengujian teknik reboisasi, dibentuk Balai Teknologi Reboisasi yang bertugas di bidang teknologi reboisasi di 3 lokasi, yaitu : di Benakat, Banjarbaru, Kupang (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 099/Kpts-II/ 1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTR, Tanggal 12 Mei 1984). 13) Pembentukan 1 Balai Teknologi Perbenihan (BTP) Untuk melaksanakan perakitan dan pengujian teknik perbenihan, dibentuk Balai Teknologi Perbenihan yang bertugas di bidang teknologi perbenihan di 1 lokasi, yaitu : di Bogor (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 100/Kpts-II/ 1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTP, Tanggal 12 Mei 1984).
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 27

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

14) Pembentukan 10 Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) Untuk melaksanakan informasi dan sertifikasi hasil hutan, dibentuk Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan yang bertugas di bidang Informasi dan Sertifikasi di 10 lokasi, yaitu di : Medan, Jambi, Sumatera Selatan, Jakarta, Jatim, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Ujung Pandang, Ambon (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 101/Kpts-II/ 1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BISHH, Tanggal 12 Mei 1984). 15) Pembentukan 22 Balai Produksi dan Pengujian Benih (BP2B) Untuk melaksanakan produksi, pengujian dan penyaluran benih dibentuk Balai Produksi dan Pengujian Benih yang bertugas dibidang produksi dan pengujian benih di 22 Lokasi (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 102/Kpts-II/1984, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BP2B, Tanggal 12 Mei 1984). 16) Mengimplementasikan Jabatan Fungsional Departemen Kehutanan a. Implementasi Jabatan Fungsional Peneliti sebagai sumber daya aparatur kehutanan di Pusat Penelitian Kehutanan, dan 3 Balai Penelitian Kehutanan. b. Implementasi Jabatan Fungsional Widyaiswara sebagai

sumberdaya aparatur kehutanan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan 8 Balai Latihan Kehutanan. c. Implementasi Jabatan Fungsional Guru sebagai sumber daya aparatur kehutanan di Sekolah Menengah Kehutanan Samarinda dan Kadipaten. Implikasi dari Kebijakan Pengembangan Kelembagaan Departemen Kehutanan adalah Pemenuhan Kebutuhan Sumber Daya Manusia dalam jumlah dan kualitas yang mewadahi pada Kelembagaan Departemen Kehutanan. Kebijakan Kepegawaian Departemen Kehutanan, adalah: Pengembangan Pegawai Negeri Sipil secara bertahap untuk mengisi Formasi Pegawai Negeri Sipil baik pada tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara. Strategi Kebijakan Pengembangan Kepegawaian Biro Kepegawaian pada Periode Tahun 1983 - 1988, adalah :
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 28

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

1) Pada Tahun 1983, Pengalihan Pegawai Negeri Sipil dari Direktorat Jenderal Kehutanan Departemen Pertanian ke Departemen Kehutanan baik yang ada di Tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara sebanyak : 12.390 PNS. Pelimpahan Pegawai ini merupakan modal awal pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kehutanan . 2) Pada Tahun 1984, • Pengalihan profesi pegawai dari jabatan struktural/ non struktural yang memenuhi persyaratan menjadi ke jabatan fungsional Peneliti pada Pusat Penelitian Kehutanan dan Balai Penelitian Kehutanan. • Pengalihan profesi pegawai dari jabatan struktural/ non struktural yang memenuhi persyaratan menjadi ke jabatan fungsional Widyaiswara pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. • Pengalihan profesi pegawai dari jabatan struktural/ non struktural yang memenuhi persyaratan menjadi ke jabatan fungsional guru pada Sekolah Kehutanan Menengah Atas. 4.2.2. Periode Tahun 1988 - 1993 - Era Pemantapan Kelembagaan Dalam Kabinet Pembangunan V Periode Tahun 1988 s/d 1993 dibentuk Departemen Kehutanan yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang kehutanan (Keputusan Presiden RI Nomor 64/M Tahun 1988 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan V Periode Tahun 1988 - 1993, Tanggal 16 Maret 1988). Untuk mencapai tujuan tugas pokok tersebut, Misi Departemen Kehutanan dirumuskan dalam Kebijakan Panca Bakti Departemen Kehutanan, yaitu : 1). Pembinaan Aparatur, 2). Pemantapan Koordinasi, 3). Peningkatan Peran Serta Masyarakat, 4). Peningkatan Konservasi dan Rehabilitasi hutan, 5). Penertiban Pemanfaatan Hutan. (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 083/Kpts-II/1990, Tentang Panca Bakti Departemen Kehutanan, Tanggal 24 Pebruari 1990).
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 29

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kebijakan yang ditempuh Departemen Kehutanan adalah : 1. Pengembangan kelembagaan, pembentukan kelembagaan. melalui : pengembangan dan

2. Pemantapan kelembagaan, melalui : a. Peningkatan efisiensi, efektifitas kerja dan pemantapan koordinasi kelembagaan di daerah. b. Penguatan kelembagaan kehutanan di daerah. c. Penguatan kelembagaan penelitian dan pengembangan kehutanan. d. Pengembangan jabatan fungsional binaan Departemen Kehutanan. Strategi kebijakan pengembangan dan pemantapan kelembagaan Departemen Kehutanan dalam periode tahun 1988 - 1993, adalah : 1) Pengembangan dan pembentukan unit pelaksana teknis 1. Penambahan 3 Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknis menengah dibidang kehutanan perlu menambah lokasi SKMA di 3 lokasi, yaitu di Pekanbaru, Riau dan Ujung Pandang Sulawesi Selatan (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 195/Kpts-II/1990, Tentang Organisasi dan Tata Kerja SKMA, Tanggal 23 April 1990). 2. Pembentukan 8 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan 28 Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Sub BKSDA). Untuk melaksanakan pemangkuan kawasam suaka alam, taman hutan raya dan taman wisata alam serta pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, perlindungan serta pemanfaatannya dibentuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam (Sub BKSDA), yang bertugas dibidang konservasi sumber daya alam (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 144/Kpts-II/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BKSDA, Tanggal 13 Maret 1991 ). 3. Penambahan 1 Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknis menengah dibidang kehutanan perlu menambah lokasi SKMA di satu lokasi, yaitu di Manokwari Propinsi Irian Jaya (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 630/Kpts-II/1992, Tentang Organisasi dan Tata Kerja SKMA , Tanggal 19 Juni 1992).
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 30

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

4. Penambahan 1 Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai ( BTPDAS) Untuk menambah lokasi pengembangan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai dipandang perlu menambah lokasi BTPDAS di Ujung Pandang Propinsi Sulawesi Selatan. (Keputusan Menteri 1992 ). 5. Penambahan 2 Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional (TN) Untuk pengembangan pengelolaan Tanam Nasional dipandang perlu menambah lokasi 2 Taman Nasional, yaitu TN Kerinci Seblat di Jambi dan TN Bromo Tengger Semeru di Malang ( Keputusan 1992 ). 2) Peningkatan efisiensi, efektifitas kerja dan pemantapan koordinasi di daerah. 1. Pengalihan kedudukan BRLKT wilayah V dari Solo ke Semarang dan tempat kedudukan BRLKT wilayah VI dari Malang ke Surabaya. (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 034/KptsII/1990, Tanggal 18 Januari 1990 ). 2. Pembentukan BKSDA Wilayah IV berkedudukan di Surabaya dengan wilayah kerja Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 694/Kpts-II/1990, Tanggal 27 Nopember 1990). 3) Penguatan kelembagaan kehutanan di Daerah. 1. Pengalihan pembinaan administratif yang berkedudukan BRLKT dan Sub BRLKT Kantor Wilayah Menteri Kehutanan Nomor : 096/Kpts-II/1992, Tentang Organisasi dan Tata Kerja TN, Tanggal 22 Nopember Kehutanan Nomor : 1048/Kpts-II/1992, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTPDAS, Tanggal 22 Nopember

di Propinsi kepada

Departemen Kehutanaan dan secara teknis fungsional dibina oleh Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 145/Kpts-II/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BRLKT).

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 31

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

2. Pengalihan pembinaan administratif BIPHUT dan Sub BIPHUT yang berkedudukan di Propinsi kepada Kantor Wilayah

Departemen Kehutanaan dan secara teknis fungsional dibina oleh Direktorat Jenderal Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 145/Kpts-II/1991,

Tentang Organisasi dan Tata Kerja BIPHUT ). 3. Pengalihan Pembinaan administratif BISHH dari Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan kepada Kantor Wilayah Departemen Kehutanaan dan secara teknis fungsional di bina oleh Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 147/Kpts-II/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BISHH ). 4) Penguatan kelembagaan penelitian dan pengembangan kehutanan. 1. Pengalihan kedudukan BTR dari Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan yang secara teknis fungsional sehari hari dibina oleh Kapus LITBANGHUT dan Kapus Litbang Hasil Hutan sesuai fungsinya masing-masing (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 169/Kpts-II/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTR). 2. Pengalihan kedudukan BTP dari Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan yang secara teknis fungsional sehari hari dibina oleh Kapus Litbang Hutan dan Kapus Litbang Hasil Hutan sesuai fungsinya masing-masing (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 170/Kpts-II/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTP ). 3. Pengalihan kedudukan BTPDAS dari Direktorat Jenderal

Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan secara teknis fungsional sehari hari dibina oleh Kapus Litbang Hasil Hutan sesuai fungsinya masingmasing (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 171/KptsII/1991, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTPDAS ).
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 32

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

5) Pengembangan jabatan fungsional binaan Departemen Kehutanan. Untuk meningkatkan fungsi perlindungan dan pengamanan hutan dan hasil hutan, dan pengelolaan teknis kehutanan dipandang perlu adanya wadah jabatan sebagai pengisi dan ujung tombak kelembagaan di daerah. Oleh karena itu dibentuk jabatan fungsional binaan Departemen Kehutanan, yaitu dengan : 1. Pembentukan jabatan fungsional penyuluh kehutanan. Untuk mewadahi karier tenaga penyuluhan kehutanan dibentuk jabatan fungsional penyuluh kehutanan sebagai ujung tombak tenaga penyuluhan kehutanan (Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 16/MENPAN/1998, Tanggal 29 Pebruari 1988). 2. Pembentukan jabatan fungsional jagawana. Untuk mewadahi karier tenaga jagawana dibentuk jabatan fungsional jagawana sebagai ujung tombak tenaga perlindungan dan pengamanan hutuan/ hasil hutan (Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 131/MENPAN/1989 Tanggal 27 Nopember 1989). 3. Pembentukan jabatan fungsional teknisi kehutanan. Untuk mewadahi karier tenaga teknis kehutanan dibentuk jabatan fungsional teknisi kehutanan sebagai ujung tombak tenaga pengelola teknis kehutanan meliputi tenaga pengukuran hutan, inventarisasi hutan, eksploitasi hutan, pengujian hasil hutan, reboisasi hutan, budidaya hasil hutan non kayu, konsernasi kawasan hutan dan lingkungan, konservasi jenis sumber daya alam hayati dan bina wisata alam ( Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur negara Nomor : 123/MENPAN/1990, Tanggal 24 Agustus 1990 ). Implikasi dari kebijakan pengembangan dan pemantapan kelembagaan Departemen Kehutanan adalah pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi pada kelembagaan Departemen Kehutanan. Strategi kebijakan kepegawaian Departemen Kehutanan, adalah :
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 33

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

1) Melanjutkan pengembangan pegawai melalui rekruitasi pegawai, baik yang ada di tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara. 2) Memutasi PNS dari kedudukan unit kerja lama ke kedudukan unit kerja baru. 3) Memutasi PNS dari lingkup Direktorat Jenderal Rehalitasi Lahan dan Konservasi Tanah ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 4) Rekruitasi Tenaga Fungsional binaan Departemen Kehutanan. 1. Rekruitasi Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan Jabatan Fungsional Penyuluh Kehutanan direkrut dari tenaga Penyuluh Lapangan Reboisasi (PLR) dan Penyuluh Lapangan Penghijauan (PLP) yang memenuhi persyaratan. 2. Rekruitasi Jabatan Fungsional Jagawana. Jabatan Fungsional Jagawana disisi dari tenaga pengamanan dan perlindungan hutan yang memenuhi persyaratan. Rekruitasi Jabatan Fungsional Teknisi Kehutanan. Jabatan Fungsional Teknisi Kehutanan direkrut dari tenaga teknis lapangan kehutanan yang memenuhi persyaratan, yaitu :  Tenaga inventarisasi, tenaga pengukuran dan perpetaan yang berasal dari BIPHUT/ Sub BIPHUT untuk Teknisi Inventarisasi dan Pengukuran Hutan.  Tenaga teknis perancang dan pelaksana konservasi tanah pada BRLKT untuk Teknisi Konservasi Tanah.  Tenaga teknis reboisasi pada BRLKT dan Dinas Kehutanan untuk Teknisi Reboisasi.  Tenaga teknis persuteraan alam pada BPA dan tenaga teknis perlebahan pada BRLKT untuk teknisi Budidaya Hasil Hutan Non Kayu.  Tenaga Pengawas dan Pengesah LHP (P2LHP) dan cruiser pada Cabang Dinas Kehutanan untuk Teknisi Eksploitasi Hutan.  Tenaga Pengawas Penguji Kayu Bulat (P3KB) pada BISHH untuk Teknisi Pengujian Hasil Hutan.  Tenaga pemandu wisata pada Taman Nasional, Suaka Alam, Suaka Margasatwa untuk Teknisi Bina Wisata Alam.  Tenaga teknis konservasi pada Taman Nasional dan BKSDA untuk Teknisi Konservasi Kawasan Hutan dan Lingkungan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 34

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3. Penambahan Jabatan Fungsional Peneliti dan Guru.  Penambahan Jabatan Fungsional Peneliti untuk menopang penambahan BTPDAS Ujung Pandang  Penambahan Guru untuk menopang penambahan 4 (empat) SKMA yaitu : SKMA Pekanbaru, SKMA Samarinda, SKMA Ujung Pandang dan SKMA Manokwari. 4.2.3. Periode Tahun 1993 - 1998 - Era Peningkatan Profesionalisme Dalam Kabinet Pembangunan VI dibentuk Departemen Kehutanan yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang kehutanan (Keputusan Presiden RI Nomor : 45/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI Periode Tahun 1993-1998, Tanggal 16 Maret1993). Misi Departemen Kehutanan pada Kabinet Pebangunan VI adalah : 1). Pemanfaatan sumber daya hutan yang sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat banyak 2). Rehabilitasi sumber dan pencegahan terhadap kerusakan baru, konservasi sumber daya alam serta menopang pembangunan sektor lain. Dengan semakin kompleknya pemasalahan pembangunan nasional, pembangunan di sektor kehutanan harus terintegrasi dengan pembangunan sektor lainnya. Pembangunan hutan tidak dapat bersifat sektoral akan tetapi harus bersifat lintas sektoral. Dalam mengemban misi pembangunan kehutanan diperlukan sumberdaya manusia yang memiliki pengetahuan, keahlian dan ketrampilan yang mewadahi. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pembangunan kehutanan dimasa mendatang diperlukan sumberdaya manusia yang berperan sebagai innovator, analis kebijakan, perumus kebijakan dan pengajar/ pelatihan yang professional di bidang tugasnya. Kebijakan Kelembagaan yang ditempuh Departemen Kehutanan adalah : 1) Peningkatan profesionalisme sumber daya manusia Departemen Kehutanan. 2) Peningkatan efisiensi, efektifitas kerja dan pemantapan koordinasi kelembagaan di daerah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 35

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Strategi Kebijakan yang di tempuh Departemen Kehutanan dalam Periode Tahun 1993 - 1998, adalah : 1) Peningkatan profesionalisme PNS. 1. Penyelenggaran Program jangka panjang pendidikan S2 dan S3 di dalam/ luar negeri. 2. Pemberian kesempatan kepada PNS Departemen Kehutanan yang memenuhi persyaratan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan melalui studi dengan biaya mandiri (Swadana). Peningkatan efisiensi, efektifitas kerja dan pemantapan koordinasi kelembagaan di daerah. 2) Pemindahan kedudukan BKSDA wilayah III dari Bogor ke Bandung. (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 640/Kpts-II/1993, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BKSDA, Tanggal 12 Oktober 1993). 3) Pemindahan kedudukan Sub BRLKT Asahan Barumun dari Medan ke Padang Sidempuan dan Sub BRLKT Cimanuk dari Majalengka ke Garut (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 641/Kpts-II/1993, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BRLKT, Tanggal 12 Oktober 1993). 4) Pemindahan kedudukan BTR Benakat ke Palembang (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 642/Kpts-II/1993, Tentang Organisasi dan Tata Kerja BTR, Tanggal 12 Oktober 1993). Implikasi dari kebijakan kelembagaan tersebut, kebijakan kepegawaian Departemen Kehutanan, adalah : pengembangan kuantitas dan kualitas Pegawai Negeri Sipil secara bertahap untuk mengisi formasi Pegawai Negeri Sipil baik pada tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara. Strategi kebijakan kepegawaian Departemen Kehutanan periode tahun 1993 - 1998, adalah : 1) Penugasan PNS untuk mengikuti Karya Siswa dan Ijin Belajar. Program pendidikan ini dilaksanakan dengan mengirimkan PNS Departemen Kehutanan yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti tugas belajar dengan jenjang pendidikan S2, S3 di dalam/ luar Negeri. Target program pendidikan tersebut adalah tersedianya 400 Master, 200 Doktor dan 80 Magister Managemen/ Master Bussiness Administrasi Sumber Daya Manusia sampai dengan tahun 2004 pada Departemen Kehutanan
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 36

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

2) Memutasi PNS dari kedudukan unit kerja lama ke kedudukan unit kerja baru. 3) Rekruitasi Calon Pegawai Negeri Sipil, untuk mengisi formasi pegawai baik yang ada di Tingkat Pusat, Daerah dan Badan Usaha Milik Negara. 4.3. Organisasi Kehutanan Papua 4.3.1. Dinas Kehutanan Dengan diserahkannya Irian Barat kepada kekuasaan Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, maka untuk menyelenggarakan Pemerintahan di Wilayah Irian Jaya, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1963. Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1963 mengatur tentang Ketentuan Pokok mengenai Pemerintahan dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan ini sesuai dengan Penetapan Presiden Nomor 1/1963, Pemerintahan Afdeling, Orderafdeling serta District belum berubah dan atau disesuaikan dengan Struktur Pemerintahan di daerah Indonesia lainnya di luar Irian Jaya. Pasal 7 Penetapan Presiden Nomor 1 tahun 1963 menetapkan bahwa Gubernur membawahi semua peralatan Pemerintahan Sipil yang ada di derah Irian Jaya dan mengadakan koordinasi penyelenggaraan tugas peralatan-peralatan yang ada. Peralatan-peralatan yang dimaksud adalah Dinas-dinas tingkat Propinsi yang menurut Keputusan Predisen Republik Indonesia Nomor 02/INSTR/1963 (RHS) terdiri dari : a. b. c. d. e. f. g. h. i. Dinas Pemerintahan; Dinas Keuangan; Dinas Sosial dan Kehakiman; Dinas Kesehatan; Dinas Pendidikan dan Kebudayaan; Dinas Penerangan; Dinas Perekonomian Rakyat; Dinas Perhubungan; Dinas Pekerjaan Umum.

Nama Dinas Kehutanan saat itu belum terbentuk, tetapi kegiatan sudah berjalan di bawah Dinas Perekonomian Rakyat, yaitu Sub Dinas Kehutanan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 37

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

a. Keputusan Gubernur Irian Barat Nomor 177/GIB/1970 Dinas Kehutanan pertama kali baru terbentuk pada tahun 1970 terbentuk Dinas Kehutanan Irian Barat untuk pertama kalinya, berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 dan 135 tahun 1970 yang membentuk Dinas-dinas Otonom di Provinsi Irian Jaya. Peraturan Mendagri ini mengacu kepada Undang-undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonomi Irian Barat dan Kabupatenkabupaten Otonom Propinsi Irian Barat, yang merupakan tindak lanjut hasil Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) Irian Jaya.

Pegawai Kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pegunungan Jayawijaya, Tahun 1970

Selanjutnya Gubernur Irian Barat menindaklanjuti dengan Kuputusan Gubernur Nomor 177/GIB/1970 tentang Pembentukan Dinas-dinas Otonom di tingkat Kabupaten, yaitu (1) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, (2) Dinas Sosial, (3) Dinas Kesehatan, (4) Dinas Pekerjaan Umum, (5) Dinas Pertanian, (6) Dinas Tenaga Kerja, (7) Dinas Pertambangan, (8) Dinas Pariwisata, dan (9) Dinas LLAJR. Dinas Kehutanan tidak ada di tingkat Kabupaten, tetapi ini tidak berarti bahwa Aparat Kehutanan di Kabupaten tidak ada, hanya statusnya bukan Dinas tetapi di berinama Pemangkuan Hutan, yang merupakan verlengstruk dari Dinas Kehutanan Propinsi.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 38

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

b. Keputusan Gubernur Irian Barat Nomor 92/GIJ/1974 Selanjutnya Berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 92/GIJ/1974 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kehutanan Propinsi Irian Jaya, tanggal 7 Mei 1974 dibentuklah Organisasi Dinas Kehutanan Propinsi Irian Jaya.

Serah terima KRPH dari Abdul Bari kepada L. Rumai Kewi di Wamena Tahun 1970 Dengan Keputusan Gubernur tersebut, dalam menjalankan tugasnya Kepala Dinas Kehutanan bertanggung jawab langsung kepada Gubernur dan dibantu oleh lima unsur, yaitu : 1. Bagian Sekretariat 2. Seksi Perencanaan, Penelitian dan Pendidikan 3. Seksi Teknik Umum 4. Seksi Pembinaan Hutan 5. Seksi Pengusahaan dan Pemasaran Hasil Hutan Di tingkat Kabupaten Dinas Kehutanan membawahi 8 (delapan) Kesatuan Pemangkuan Hutan, yaitu : 1. Kesatuan Pemangkuan Hutan Jayapura dan Jayawijaya 2. Kesatuan Pemangkuan Hutan Biak-Numfor 3. Kesatuan Pemangkuan Hutan Paniai 4. Kesatuan Pemangkuan Hutan Yapen Waropen
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 39

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

5. Kesatuan Pemangkuan Hutan Manokwari 6. Kesatuan Pemangkuan Hutan Sorong 7. Kesatuan Pemangkuan Hutan Fakfak 8. Kesatuan Pemangkuan Hutan Merauke Sedangkan unsur-unsur pelaksana lapangan Dinas Kehutanan secara hirarki terbentuk dalam 5 bagian, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Sub-sub Kesatuan Pemangkuan Hutan Bagian-bagian pemangkuan Hutan Bagian-bagian Perlindungan Hutan/ Polisi Hutan Bagian-bagian Penggergajian Ressort-resort Polisi Hutan

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Dinas Kehutanan dibantu oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kepala Bagian Sekretariat Kepala Seksi Perencanaan, Penelitian dan Pendidikan Kepala Seksi Pembinaan Hutan Kepala Seksi Tehnik Umum Kepala Seksi Pengusahaan dan Pemasaran Hasil Hutan Para Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan di masing-masing Kabupaten Kepala Bagian Sekretariat dibantu oleh tiga Kepala Sub Bagian (Kasubag), yaitu : 1) Kasubag Tata Usaha 2) Kasubag Kepegawaian 3) Kasubag Keuangan Kepala Seksi Perencanaan, Penelitian dan Pendidikan dibantu oleh empat Kepala Sub Seksi, yaitu : 1) Kasub Seksi Perencanaan, Evaluasi dan Inventarisasi 2) Kasub Seksi Penelitian 3) Kasub Seksi Pendidikan/SKMA/ Latihan 4) Kasub Seksi Tata Usaha
IV- 40

Acara Serah Terima KRPH L. Rumai Kewi kepada N.S. Samber, di Kantor Bupati Wamena (1973)
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kepala Seksi Pembinaan Hutan dibantu oleh tiga Kepala Sub Seksi, yaitu : (1) Kasub Seksi Agraria (2) Kasub Seksi Hukum/Keamanan dan Pembinaan Hutan (3) Kasub Seksi Reboisasi/Perlindungan Hutan Kepala Seksi Tehnik Umum dalam menjalankan tugasnya, dibantu oleh tiga Kepala Sub Seksi, yaitu : (1) Kasub Seksi Pemliharaan Alat-alat Berat (2) Kasub Seksi Pemeliharaan Bangunan (3) Kasub Seksi Tehnik Umum

Abdul Bari, TS KKPH Jayapura dan Jayawijaya, Tahun 1972

Kepala Seksi Pengusahaan dan Pemasaran Hasil Hutan dibantu oleh tiga Kasub Seksi, yaitu : (1) Kasub Seksi Statistik (2) Kasub Seksi Pengusahaan dan Pemasaran (3) Kasub Seksi Tehnik/ Mesin-mesin Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan di masing-masing Kabupaten dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dibantu oleh : (1) Seorang Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan sebagai pembantu utama dan tertinggi (2) Beberapa orang Kepala Bagian Bagian Pemangkuan Hutan (3) Seorang Kepala Bagian Perlindungan Hutan/ Polisi Khusus yang memiliki wilayah-wilayah tugas dan operasionil di daerah Kesatuan Pemangkuan Hutan yang besangkutan (4) Seorang Kepala Bagian Penggergajian, khusus untuk wilayahwilayah kesatuan Pemangkuan Hutan Biak-Numfor, Sorong dan Merauke
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 41

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

(5) Seorang Kepala Tata usaha yang memimpin dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan tugas-tugas administratif di lingkungan Kesatuan Pemangkuan Hutan dan Bagian-bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan yang bersangkutan (6) Beberapa Staf Tehnik

Ir. Hizar Purba (baju safari) Kadishut Irian Jaya Tahun 1972-1980

Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan, dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dibantu oleh beberapa orang tenaga staf tehnik. Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dibantu oleh tiga unsur, yaitu: (1) Para Kepala Ressort Polisi Hutan (2) Beberapa orang tenaga polisi Khusus Kehutanan (3) Beberapa orang tenaga administrasi Kepala bagian Penggergajian, dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya dibantu oleh beberapa orang Staf Teknik, Logging dan Penggergajian. Kepala Ressort Polisi Hutan, dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dibantu oleh beberapa orang mandor dan pekerja-pekerja lainnya.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 42

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dari Kiri ke Kanan : Sudjarwo (Menteri Kehutanan), A. Komboy, Ir. H. Purba pada Acara Kunjungan Kerja ke Propinsi Irian Jaya Tahun 1976

Tabel 4 -1. Pembagian Wilayah KPH dan Pejabat KKPH
NO 1 WILAYAH KPH KPH Jayapura dan Jayawijaya NAMA KEPALA KPH mulai dari awal 1. Abdul Bari, TS 2. Ir. Soeyoto Wongserojo 3. Ir. Joseph Kaman Nainggolan 1. Leo Verbon 2. Ir. Ujung Sahala Hutagaol 3. Ir. Suratman Rasbad 1. Adjar Djohan 2. LK Worabay, BSc

2 3

KPH Biak - Numfor KPH Paniai

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 43

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 4 -1. Lanjutan
NO WILAYAH KPH NAMA KEPALA KPH mulai dari awal 1 Abdul Rasyid 2 Mikdar A. Safari 3 Ir. M. Ramtealo 4. Bambang Sutejo 5. DN Mamei 1. Ir. HG Rajaar 2. Ir. Lestuni 3. Ir. Rusgani M. Alif 4. LK Worabay, BSc 1. Bambang Warishaji 2. dIr. A. Sahat Maruli 1. Ir. Ifka Hartono 2. Ir. Suratman Rasbad 3. F. Kelanit 1. Ir. Soedjono Surjo 2. Abner Komboy 3. Ir. Ujung Sahala Hutagaol 4. Albert Pahelerang

4

KPH Yapen Waropen

5

KPH Manokwari

6 7

KPH Sorong KPH Fakfak

8

KPH Merauke

c. Peraturan Daerah Propinsi Dati I Irian Jaya 10 Tahun 1985 Pada tanggal 5 November 1985 Gubernur Propinsi Dati I Irian Jaya Izzac Hindom bersama DPRD Propinsi Dati I Irian Jaya yang diketuai oleh Barnabas Suebu, SH mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1985, tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Cabang Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Berdasarkan Perda 10 Tahun 1985 ini dibentuk Cabang Dinas Kehutann (CDK) sejumlah 19 unit (Lokasi), yaitu : (i)

Abner Komboy, Kadishut Propinsi Irian Jaya (1980-1989)

Cabang Dinas I meliputi Kecamatan Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Arso, Waris, berkedudukan di Jayapura. Cabang Dinas II meliputi Kecamatan Kentuk Gresie, Nimberan, Demta, Unurunguai, Bengo, Sentani, Depapre, berkedudukan di Genyem.
IV- 44

(ii)

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

(iii)

Cabang Dinas III meliputi Kecamatan Sarmi, Pantai Timur, Ter Atas, Pantai Barat, Mambramo Hilir, Mambramo Tengah, Membramo Hulu, berkeduduk an di Sarmi.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat Tgl. Lahir Agama Pendidikan Terakhir Riwayat Pekerjaan Tahun 1959 Tahun 1962 Tahun 1963 Tahun 1963 Tahun 1968 Tahun 1969 Tahun 1972 Tahun 1973 Tahun 1977 Tahun 1981 Tahun 1984 Tahun 1988 Tahun 1996 : : : : : : : : : : : : : L. Opsiner - Dir Ez Jayapura Bosoziner (Kebar) - Dir Ez Jayapura Hoofd Bosoziner (Biak) - Dir Ez Jayapura Pengaturan Kehutanan - Gubernur Irian Barat Pengatur Kehutanan Tk I –Gubernur Irian Barat Penata Kehutanan –Gubernur Irian Barat Penata Kehutanan Tk I –Gubernur Irian Barat Penata Muda –Gubernur Irian Jaya Penata Muda Tk I –Gubernur Irian Jaya Penata –Gubernur Irian Jaya Penata Tk I –Gubernur Irian Jaya Pembina –Gubernur Irian Jaya Kenaikan Pangkat (IV/B) –Presiden : : : : Abner Komboy Biak, 21 Desember 1940 Kristen Protestan SKMA Bogor Tahun 1965

(iv)

Cabang Dinas IV meliputi Kecamatan Kaureh, Senggi, Web, berkedudukan di Ubruk. Cabang Dinas V meliputi Kecamatan Wamena, Kiwirok, Ampisibil, Oksibil, Kurima, Bokendini, Karulu, Kelila, Asologoima, karubaga, Maggi, Tiom, berkedudukan di Wamena. Cabang Dinas VI meliputi Kecamatan Merauke, Mutting, Okaba, Kimam, berkedudukan di Merauke. Cabang Dinas VII meliputi Kecamatan Waropko, Kauh, Tanah Merah, Mindip Tanah, Jair, Oban, Edera, Assue, nambai, berkedudukan di Bade. Cabang Dinas VIII meliputi Kecamatan Agats, Primapun, Atsy, Citak Mitak, Sawa Erma, berkedudukan di Agats. Cabang Dinas IX meliputi berkedudukan di Fak Fak. Kecamatan Fak Fak, Kekas,

(v)

(vi)

(vii)

(viii)

(ix)

(x)

Cabang Dinas X meliputi Kecamatan Kaimana, Teluk Arguni, Teluk Ethna, berkedudukan di Kaimana.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 45

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

(xi)

Cabang Dinas XI meliputi Kecamatan Akimuga, Mimika Timur, Mimik Barat, berkedudukan di mapura Jaya.

(xii)

Cabang Dinas XII meliputi Kecamatan Sorong, Suasaper, Muraid, Makben, Waigeo Utara, Waigeo Selatan, Salawati, Seget, Misool, berkedudukan di Sorong.
Ir. Husein Duwila, MM; 1988-1991 KCDK Merauke; 1995-1998 KCDK Bintuni; 1998-2001 KCDK Kaimana; 2001-Sekarang Kasubdin Perlindungan Hutan Dishut Provinsi Papua

(xiii)

Cabang Dinas XIII meliputi Kecamatan Ayamaru, Aifat, Aitinyo, Inanwatan, Teminabuan, Beraur, berkedudukan di Teminabuan.

(xiv)

Cabang Dinas XIV meliputi Kecamatan Manokwari, Warmare, Kebar, Saukerem, Anggi, Oransbari, Ransiki, Windosi, Wasior, berkedudukan di Manokwari.

(xv)

Cabang Dinas XV meliputi Kecamatan Bintuni, mandusi, babo, berkedudukan di Bintuni.

(xvi)

Cabang Dinas XVI meliputi Kecamatan Nabire, Yaur, Napen, Homoya, Kamuu, Paniai Barat, Mapia, Uwapa, berkedudukan di Nabire.

(xvii)

Cabang Dinas XVII meliputi Kecamatan Paniai Timur, Tigi, Komopa, Ilu, Mulia, Sinak, Bioga, Ilaga, berkedudukan di Enarotali.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 46

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dari Kiri Ke Kanan, A Komboy, Izzac Hindom (Gub. Irja) dan Ir. HJ Rajaar di Sahid Jaya Hotel Jakarta, Tahun 1985

(xviii) Cabang Dinas XVIII meliputi Kecamatan Yapen Selatan, Yapen Timur, Yapen Barat, Waropen Bawah, Waropen Atas, Sugapa, berkedudukan di Serui. (xix) Cabang Dinas XIX meliputi Wilayah Kerja Daerah Tingkat I Biak Numfor, berkedudukan di Biak. Cabang Dinas ini merupakan unsur pelaksana Dinas Kehutanan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Irian Jaya. Untuk melaksankan tugasnya, CDK dipimpin oleh seorang Kepala Cabang Dinas Kehutanan. Tugas CDK adalah melaksanakan perbantuan yang diserahakan dari Kepala Dinas Kehutanan dengan fungsi sebagai berikut : (i) Melaksanakan kebijaksanaan teknis, memberi bimbingan dan

pembinaan, memberikan perizinan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Kepala Dinas berdasarkan Peraturan PerundangUndangan yang berlaku. (ii) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 47

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

(iii) Melakukan pengamanan dan pengendalian teknis atas pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Kepala Dinas berdasarkan Peraturan Peundang-Undangan yang berlaku. Susunan Organisasi Cabang Dinas terdiri dari : (a) Kepala Cabang Dinas ; (b) Sub Bagian Tata Usaha; (c) Seksi Monitoring dan Laporan ; (d) Seksi Pembinaan dan Perlindungan Hutan ; (e) Seksi Produksi dan Usaha Tani. Sub Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang kepala Sub Bagian dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala CDK mempunyai tugas: (a) Menyelenggarakan surat-menyurat, pengetikan, pengadaan, ekspedisi, tata kearsipan, dokumentasi, pemeliharaan, pengadaan barang-barang inventaris, urusan rumah tangga, Cabang Dinas dan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan ketata Usahaan; (b) Menyelenggarakan urusan kepegawaian dan keuangan; (c) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Cabang Dinas. Seksi Monitoring dan Laporan yang dipimpin oleh seorang Kepala Seksi mempunyai tugas : (a) Mengumpulkan data Cruising serta mengawasi Cruising yang dilaksanakan Pengusaha; (b) Mengurus tata batas dan jalan hutan.; (c) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan dan rencana teknik dan kerja tahunan; (d) Menyusun rencana kerja tahunan dan rencana kerja lima tahun; (e) Membuat laporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; (f) Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Cabang Dinas. Pada bagian Seksi Pembinaan dan Perlindungan Hutan yang dipimpin langsug oleh seorang Kepala Seksi mempunyai tugas : (a) Mengelola kegiatan penghijauan pada kawasan hutan dan/ hutan rakyat; (b) Mengelola kegiatan Reboisasi pada areal bekas tebangan Hak Pengusahaan Hutan (HPH); (c) Mengelola Pembinaan Hutan Kemasyarakatan dan Aneka Guna Tanaman; (d) Mengelola daerah Aliran Sungai dan Hutan Tanaman Industri; (e) Melaksanakan kegiatan penyuluhan Kehutanan; (f) Melaksanakan pengamanan hutan dari kebakaran, penebangan liar, pengembalaan, perladangan berpindah, penyerobotan lahan, hama penyakit; (g) Mengelola kegiatan perlindungan Flora dan Fauna yang dilindungi; (h) Melaksanakan operasi POLSUS dan koordinasi kegiatan antara POLRI dan POLSUS dalam wilayahnya; (i) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala Seksi.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 48

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Seksi Produksi dan Usaha Tani mempunyai tugas : (a) Mengelola Tata Usaha Kayu dan Tata Usaha Hasil Hutan; (b) Mengelola pemberian Fasilitas Perizinan Pemungutan dan Angkutan; (c) Mengelola Pengujian dan Pengukuran serta Pemberian Tanda Legalitas; (d) Mengadakan Pengawasan dan Pembinaan terhadap Eksploitasi, Pengolahan dan Peredaran Hasil Hutan; (e) Menyelenggarakan pungutan/ iuran Hasil Hutan dan (f) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan Kepala Cabang Dinas. Kepala Cabang Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas usul Kepala Dinas; Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan para Kepala Seksi diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas usul Kepala Dinas setelah mendengar saran Kepala Cabang Dinas. d. Peraturan Daerah Propinsi Dati I Irian Jaya Nomor 10 Tahun 1986 Pada tanggal 26 Maret 1986 terbentuk Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya Nomor 10 Tahun 1986, tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kehutanan Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Dalam peraturan daerah ini, Dinas Kehutanan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Gubernur Kepala Daerah. Tugas Pokok Dinas Kehutanan adalah: (a) Melaksanakan urusan Rumah Tangga Daerah di bidang Kehutanan; (b) Melaksanakan Tugas Pembantuan yang diserahkan oleh Gubernur Kepala Daerah. Fungsi Dinas Kehutanan, terdiri dari : (a) Perumusan kebijaksanaan teknis, pemberian bimbingan dan pembinaan, pembinaan perijinan sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku; (b) Pelaksanaan sesuai dengan tugas pokoknya dan berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku; (c) Pengamanan serta pengendalian teknis atas pelaksanaan tugas pokoknya sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Unsur Dinas Kehutanan terdiri dari : (a) Pimpinan sebagai Kepala Dinas; (b) Pembantu Pimpinan terdiri dari : Bidang Administrasi yaitu Tata Usaha yang membawahi Sub Bagian –Sub Bagian dan Bidang Teknis adalah Sub Dinas –Sub Dinas yang membawahi Seksi-Seksi; serta Pelaksana, yaitu Cabang-Cabang Dinas dan Unit-Unit Pelaksana Teknis Dinas.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 49

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Susunan Organisasi Dinas Kehutanan adalah sebagai berkut : a. Kepala Dinas; b. Bagian Tata Usaha terdiri dari : (i) Sub Bagian Umum; (ii) Sub Bagian Kepegawaian; (iii) Sub Bagian Keuangan; (iv) Sub Bagian Perlengkapan; (v) Sub Bagian Efisiensi dan Tatalaksana. c. Sub Dinas Bina Program terdiri dari : (i) Seksi Inventarisasi Hutan; (ii) Seksi Kawasan Hutan; (iii) Seksi Rencana Karya; (iv) Seksi Pengukuran dan Perpetaan. d. Sub Dinas Produksi terdiri dari : (i) Seksi Sarana Produksi; (ii) Seksi Pengolahan Hasil; (iii) Seksi Pemungutan Hasil; (iv) Seksi Tenaga Teknis. e. Sub Dinas Usaha Tani terdiri dari : (i) Seksi Pengujian Hasil Hutan; (ii) Seksi Informasi Pasar; (iii) Seksi Pungutan Iuran; (iv) Seksi Tanda Legalitas. f. Sub Dinas Bina Hutan terdiri dari : (i) Seksi Benih dan Persemaian; (ii) Seksi Aneka Guna Hutan; (iii) Seksi Reboisasi dan Rehabilitasi; (iv) Seksi Perlindungan.

g. Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan terdiri dari : (i) Seksi Peundang-Undangan; (ii) Seksi Sarana Penyuluhan; (iii) Seksi Polisi Khusus. h. Cabang Dinas ; i. Unit Pelaksana Teknis Dinas yang memungkinkan ada yaitu : (iv) Kebun Percontohan; (v) Kebun Persemaian; (vi) Kebun Arboretum; (vii)Pangkalan Distribusi Kayu.
IV- 50

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Bagian Tata Usaha, Sub Dinas – Sub Dinas, Cabang Dinas dan Unit Pelaksana Teknis, dipimpin oleh seorang Kepala, dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas, sedangkan Sub Bagian dan Seksi-Seksi, dipimpin oleh seorang kepala, dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bagian atau Kepala Sub Dinasnya masing-masing. Dinas Kehutanan sebagai lembaga memiliki tugas : a. Merencanakan dan melaksanakan tugasnya sesuai dengan garis-garis kebijaksanaan yang telah ditetapkan Gubernur Kepala Daerah; b. Memberikan bantuan sepenuhnya kepada Gubernur Kepala Daerah bagi penentuan kebijaksanaan Umum Pemerintah Daerah; c. Menyampaikan saran dan pendapat yang berhubungan dengan kebijaksanaan yang akan diambil oleh Gubernur Kepala Daerah; d. Mengadakan hubungan kerja sama dengan semua instansi, baik Otonom, Vertikal maupun swasta yang berhubungan dengan bidang tugasnya; e. Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku menyelenggarakan Tata Kepegawaian, Tata Keuangan, Tata Material, Pencatatan dan Pelaporan, Korespondensi dan Kearsipan serta Administrasi Perkantoran. Kepala Dinas Kehutanan mempunyai tugas sebagai berikut : a. Membantu Gubernur Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya di bidang Kehutanan dalam perencanaan dan perumusan kebijaksanaan Umum; b. Memberikan informasi, saran dan pertimbangan kepada Gubernur Kepala Daerah di bidang Kehutanan; c. Mempertanggung jawabkan tugas-tugas Dinas operasionil kepada Gubernur Kepala Daerah; secara teknis

d. Memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan semua kegiatan Dinas; e. Memberikan pertimbangan kepada Gubernur Kepala Daerah dalam jabatan-jabatan tertentu di lingkungan Dinas;

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 51

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

f.

Mengadakan hubungan kerja sama dengan semua instansi, baik Otonom, Vertikal maupun swasta untuk kepentingan pelaksanaan tugas-tugasnya;

g. Menyusun Program Kerja Dinas; h. Memelihara terus menerus kemampuan berprestasi para pegawai dalam lingkungan Dinasnya; i. Mengelola perijinan, pengusahaan, pemungutan dan pemanfaatan hasil Hutan; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah.

j.

Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang Kepala Bagian, mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam hal : a. Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang Administrasi; b. Mempersiapkan dan menyusun pedoman serta petunjuk tatalaksana Administrasi Umum; c. Mempersiapkan dan menyusun rencana anggaran menurut bidang tugas Dinas; d. Menyelenggarakan pengelolaan dan bimbingan Administrasi dalam arti mengelola dan membimbing kegiatan-kegiatan ketata-usahaan dan perlengkapan di lingkungan Dinas; e. Menyelenggarakan pembinaan organisasi dan tatalaksana dalam arti membina dan memelihara seluruh kelembagaan dan tatalaksana serta pengembangan dilingkungan Dinas; f. Menyelenggarakan pengurusan rumah tangga Dinas; g. Mempersiapkan Naskah rancangan peraturan/ keputusan, serta melaksanakan penilaian atas pelaksanaan peraturan-peraturan/ keputusan yang berhubungan dengan bidang tugas organisasi dan tatalaksana; h. Mengumpulkan dan mengelola bahan-bahan/ informasi serta mengajukan pemecahan masalah dan pertimbangan kepada Kepala Daerah; i. Menyiapkan dan menyusun laporan mengenai kegiatan kerja dan pelaksanaan tugas di seluruh Satuan Organisasi Dinas/ Cabang Dinas/ Unit Pelaksana Teknis Dinas;
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 52

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

j.

Menyelenggarakan tugas-tugas hubungan masyarakat, dalam arti menyelenggarakan pengumpulan, penyusunan dan penyajian serta memberikan dan/ atau menyebarluaskan data dan informasi Dinas sesuai dengan petunjuk dan garis kebijaksanaan Kepala Dinas;

k. l.

Menyelenggarakan Urusan di bidang Kepegawaian Dinas; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dalam melaksanakan tugas tersebut di atas, Bagian Tata Usaha dibantu oleh : a. Sub Bagian Umum ; b. Sub Bagian Kepegawaian ; c. Sub Bagian Keuangan ; d. Sub Bagian Perlengkapan ; e. Sub Bagian Efisiensi dan Tatalaksana. Perincian Tugas Sub Bagian Umum adalah sebagai berikut : a. Melaksanakan pencatatan surat masuk dan keluar ; b. Melaksanakan pembuatan konsep-konsep Surat Keputusan, Instruksi, Surat Edaran, Pengumuman, Surat Dinas dengan memperhatikan bentuk-bentuk surat dan ketentuan yang berlaku di lingkungan Pemerintah Daerah ; c. Melaksanakan pengiriman surat-surat keluar ; d. Mengurus arsip surat-surat ; e. Menyelenggarakan pelaksanaan pengetikan/ pengadaan blanko-

blanko/ formulir-formulir ; f. Mengurus perjalanan Dinas ; g. Mengatur pelaksanaan tugas pengetik, pengganda, mengarsip,

pesuruh dan pengemudi kendaraan Dinas ; h. Menyiapkan laporan Dinas di bidang urusan Umum ; i. j. Merencanakan pengadaan dokumentasi dan publikasi Dinas ; Mengatur acara-acara yang berhubungan dengan penerimaan tamu Dinas, rapat-rapat dan upacara Dinas ; k. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 53

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian Tugas Sub Bagian Kepegawaian adalah sebagai berikut : a. Membuat daftar perencanaan Kepegawaian untuk kenaikan pangkat/ golongan dan gaji berkala; b. Menyiapkan bahan-bahan dan membuat konsep usulan kenaikan gaji berkala dan kenaikan pangkat; c. Menyiapkan konsep untuk pengisian blanko penyaringan pegawai baru; d. Mengurus dan menyiapkan permohonan usul cuti pegawai di lingkungan Dinas; e. Membuat daftar gaji perencanaan para pegawai yang akan pensiun; f. Menyiapkan bahan-bahan yang berhubungan dengan pengembangan Kepegawaian, yaitu dengan membuat daftar perencanaan para pegawai yang harus ikut ujian Dinas, tugas belajar, daftar urut kepangkatan dan sebagainya; g. Menyiapkan bahan-bahan serta konsep usul pemberhentian dengan hak pensiun bagi para pegawai di lingkungan Dinas; h. Mengusahakan pelaksanaan kesejahteraan pegawai yang meliputi pengurusan kartu kesehatan, surat keterangan Taspen dan lain-lain; i. j. l. Mengurus kartu Taspen dan memberi petunjuk kepada para pegawai tentang cara-cara mengurus uang Taspen; Melaksanakan pembuatan Statistik kepegawaian dan daftar hadir; Melaksanakan Kepegawaian; m. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha. Perincian Tugas Sub Bagian Keuangan adalah sebagai berikut : a. Menyusun rencana anggaran pendapatan dan belanja Dinas ; b. Melaksanakan anggaran sesuai dengan Daftar Isian Kegiatan (DIK) Dinas ; c. Mengumpulkan data keuangan yang dipergunakan dan memberi petunjuk-petunjuk tentang penggunaan anggaran ; d. Memberi bantuan, saran serta meneliti pertanggung-jawaban keuangan Dinas sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku ; e. Melaksanakan pembuatan laporan Keuangan ; pengetikan/ Penggandaan blanko/ formulir k. Mengurus arsip Kepegawaian;

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 54

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

f. Mengumpulkan

data,

menyiapkan

analisa

dan

penyajian

data

keuangan untuk menyusun anggaran tahun berikutnya ; g. Melaksanakan pengetikan/ Penggandaan blanko-blanko, daftar-daftar/ formulir-formulir bidang Keuangan ; h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha. Perincian Tugas Sub Bagian Perlengkapan adalah sebagai berikut : a. Merencanakan pengadaan kebutuhan perlengkapan dan inventarisasi Dinas, termasuk kendaraan Dinas ; b. Mengurus dan memelihara perlengkapan Dinas ; c. Merencanakan dan mengatur penggunaan/ Pemeliharaan ruangan kantor, Inventaris, Alat-alat tulis dan kendaraan Dinas ; d. Menyelengarakan kegiatan untuk memelihara keamanaan dan

ketertiban dalam lingkungan Kantor Dinas ; e. Mengurus dan mengawasi pemakaian rumah Dinas ; f. Menyelenggarakan pengelolaan administrasi perlengkapan dan Kantor Dinas ; g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha. Perincian Tugas Sub Bagian Efisiensi dan Tatalaksana adalah sebagai berikut : a. Mempelajari meneliti dan menganalisa pekerjaan satuan-satuan Organisasi di lingkungan Dinas guna menentukan pembagian tugas dan fungsi secara efisien dalam arti rasionil, terperinci, jelas dan tegas bagi setiap pegawai ; b. Memberikan saran perbaikan rumusan tujuan, sasaran, tugas dan fungsi serta susunan organisasi di lingkungan Dinas ; c. Mempelajari, menganalisa, menilai dan menunjukkan saran perbaikan sistem dan prosedur kerja ; d. Meneliti dan menilai kembali daftar kegiatan-kegiatan dan daftar perincian tugas yang dimiliki setiap satuan Organisasi dan setiap pegawai ;
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 55

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

e. Meneliti kembali,

dan apakah

menilai beban

kerja telah merata ; f. Melaksanakan lain yang tugas-tugas oleh diberikan

Kepala Bagian Tata Usaha. Sub Dinas Program dipimpin oleh Dinas, hal : seorang Kepala Sub tugas mempunyai

membantu Kepala Dinas dalam
Dr. Ir. BD Nasendy, MS Kadishut Prop. Irian Jaya

Tahun 1989-1994

a. b. c. d. e. f.

Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang tugasnya ; Menyelenggarakan survey, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data statistik inventarisasi Hutan ; Penyusunan pedoman dan bimbingan penata gunakan hutan dan Tata batas hutan ; Penyusunan pedoman, bimbingan dan penilaian terhadap rencana kerja Kehutanan ; Penyusunan pedoman dan mengadakan bimbingan terhadap pelaksanaan pengukuran dan pemetaan ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dalam melaksanakan tugas Sub Bagian Program dibantu : a. Seksi Inventarisasi Hutan ; b. Seksi Kawasan Hutan ; c. Seksi Rencana Kerja ; d. Seksi Pengangkutan dan Perpetaan. Perincian tugas Seksi Inventarisasi Hutan adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan survey dan pengumpulan data ; b. Menyelenggarakan pengolahan data untuk statistik ; c. Menyelenggarakan Penyusunan Data Tafsir Potret Udara ; d. Menyelenggarakan pengumpulan, pengolahan dan penyusunan Laporan ; e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Program.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 56

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian tugas Seksi Kawasan Hutan adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan penyusunan pedoman, bimbingan pengukuhan hutan dan pengukuhan tata batas hutan; b. Menyelenggarakan penyusunan pedoman dan bimbingan penataan hutan dan penata gunaan hutan; c. Menyelenggarakan penyusunan pedoman dan bimbingan untuk kawasan dan Tata Guna Hutan; d. Menyelenggarakan penyusunan pedoman dan bimbingan

penggolongan, penetapan dan peruntukan hutan serta kawasan hutan; e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Program. Perincian tugas Seksi Rencana Karya adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan penilaian pelaksanaan Program guna penyusunan Program dan Pelaporan ; b. c. Menyelenggarakan perumusan dan penyusunan program ; Menyelenggarakan penyusunan pedoman, penilaian serta bimbingan penyusunan Rencana Karya Kehutanan ; d. Menyelenggarakan penyusunan pedoman, penilaian serta bimbingan penyusunan Rencana Karya Hak Pengusahaan Hutan ; e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Program. Perincian tugas Seksi Pengukuran dan Perpetaan adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan perumusan dan penyusunan program pengukuran serta perpetaan ; b. Menyelenggarakan penilaian pelaksanaan pengukuran dan perpetaan guna bantuan penyusunan program serta laporan ; c. Menyelenggarakan penyusunan, pedoman dan penilaian/ Bimbingan penyusunan rencana pengukuran dan perpetaan ; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Program.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 57

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Abner Komboy bersama dengan Menteri Kehutanan Ir. Jamaludin Suryohadikusumo pada Acara Pelatihan Manajemen Angkatan I di Cisarua, Bogor Tahun 1994

Sub Dinas Produksi dipimpin oleh seorang Kepala Sub Dinas, mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam hal : a. b. c. d. e. f. Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang tugasnya ; Melaksanakan pembinaan dan bimbingan dalam bidang peningkatan produksi hasil hutan ; Mengkoordinasikan semua kegiatan wilayah pengembangan Kehutanan dalam bidang peningkatan produksi ; Mengumpulkan dan mengolah data serta menyajikan laporan di bidang peningkatan produksi Komoditi Kehutanan ; Mengelola perijinan, pengusahaan pungutan dan pemanfaatan hasil hutan ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dalam melaksanakan tugasnya Sub Dinas Produksi dibantu oleh : a. b. c. d. Seksi sarana Produksi ; Seksi Pengolahan Hasil ; Seksi Pungutan hasil ; Seksi Tenaga Tehnis.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 58

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian tugas Seksi Sarana Produksi adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan bimbingan, pengarahan dan pengawasan terhadap penggunaan peralatan pada HPH dan Non HPH; b. Melaksanakan kegiatan DAFTAR RIWAYAT HIDUP pemantauan Nama : Ir. Tagor S.M, Pardede terhadap Tempat Tgl. Lahir : Balige, 10 Juni 1944 penyebaran Agama : Kristen Protestan Pendidikan Terakhir : Sarjana Kehutanan Tahun 1973 Sarana Produksi HPH Riwayat Pekerjaan Tahun 1976 : Kepala Seksi Perencanaan Umum dan Non HPH DISHUT Sumatera Utara Tahun 1978 - 1979 : Kepala Seksi Persiapan Pemungutan sesuai Hasil Hutan DISHUT Sumatera Utara dengan Tahun 1979 - 1981 : Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan Sumatera Timur ketentuan Tahun 1981 - 1984 : Kepala Cabang Dinas Kehutanan III yang berlaku; Labuan Batu
Tahun 1984 - 1985 Tahun 1985 - 1988 Tahun 1988 - 1989 Tahun 1989 - 1992 Tahun 1992 - 1993 Tahun 1993 - 1995 Tahun 1995 Tahun 1996-2000 : Kepala Sub Dinas Bina Hutan DISHUT Sumatera Utara : Kepala Bidang PTGH Kantor Wilayah Kehutanan Riau : Kepala Bidang Program Kantor Wilayah Hutan Riau : Kepala Bidang PHKA Kantor Wilayah Hutan Nusa Tenggara Timur : IRBAN Kepegawaian III IRJEN Departemen Kehutanan : IRBAN Umum Wilayah III IRJEN Departemen Kehutanan : IRBAN Umum Wilayah III ITJEN Departemen Kehutanan : Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Dati I Irian Jaya

c.

Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Produksi.

Perincian tugas Seksi Pengolahan Hasil adalah

sebagai berikut : a. Menyelenggarakan bimbingan, pengarahan dan pengawasan serta pengembangan pengolahan hasil hutan kayu dan non kayu ; b. Menyelenggarakan pengumpulan dan analisa data ; c. Membuat daftar perhitungan Produksi Hasil Hutan ; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Produksi. Perincian tugas Seksi Pungutan Hasil adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan bimbingan, pengarahan dan pengawasan terhadap cara dan sistem pungutan hasil hutan ; b. Menyelenggarakan bimbingan, pengarahan dan pengawasan, pengendalian terhadap prosedur pemberian ijin, hak pengusahaan, pemungutan dan pemanfaatan hasil hutan ; c. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Produksi.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 59

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian tugas Seksi Tenaga Teknis adalah sebagai berikut : a. b. c. Menyelenggarakan bimbingan, pengarahan dan pengawasan ketenaga-kerjaan di bidang HPH dan Non HPH ; Menyelenggarakan peningkatan keterampilan tenaga-tenaga tehnis di bidang Produksi Hasil Hutan ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Produksi. Sub Dinas Usaha Tani dipimpin oleh seorang Kepala Sub Dinas dalam hal : a. b. c. d. e. f. g. h. i. Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang tugasnya ; Mempersiapkan bahan-bahan untuk penyusunan rencana tehnis tahunan dalam bidang tugasnya ; Menyelenggarakan tugas-tugas pengujian hasil hutan ; Menyelenggarakan tugas-tugas standarisasi Hasil Hutan ; Menyelenggarakan pengawasan dan penertiban terhadap tanda Pengenal Perusahaan dan tanda-tanda lainnya ; Menyelenggarakan bimbingan Tata Usaha Kayu ; Menyelenggarakan pengumpulan dan analisa Data Pasar ; Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan terhadap pungutan Iuran Hasil Hutan dan pungutan-pungutan lainnya ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dalam melaksanakan tugasnya Sub Dinas Usaha Tani dibantu oleh : a. Seksi Pengujian Hasil Hutan ; b. Seksi Informasi Pasar ; c. Seksi Pungutan Iuran ; d. Seksi Tanda Legalitas. Perincian tugas Seksi Pengujian Hasil Hutan adalah sebagai berikut : a. b. c. d. Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan pengujian hasil hutan ; Menyelenggarakan pengembangan dan koordinasi tenaga pengukur dan penguji hasil hutan ; Menyediakan dan menyelenggarakan pembinaan/ pengawasan sarana Pengujian Hasil Hutan; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Usaha Tani.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 60

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian tugas Seksi Informasi Pasar adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pengurusan dan pengawasan peredaran hasil hutan ; b. Menyelenggarakan pembinaan, pengembangan serta pengawasan sarana dan prasarana angkutan Hasil Hutan ; c. Menyelenggarakan pengumpulan dan analisa data angkutan dan perdagangan Hasil Hutan ; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Produksi. Perincian tugas Seksi Pungutan Iuran adalah sebagai berikut : a. Mengelola penerimaan Iuran Hasil Hutan yang menjadi bagian Daerah; b. Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan terhadap Iuran yang dikelola Pemerintah Pusat; c. Menyelenggarakan pengumpulan dan analisa data Pungutan dan Iuran di bidang Kehutanan; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Usaha Tani. Perincian tugas Seksi Tanda Legalitas adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan standarisasi hasil hutan ; b. Menyelenggarakan pengurusan/ pelayanan dan pengeluaran blanko Tata Usaha Kayu ; c. Menyelenggarakan penertiban dan pengawasan penggunaan tanda pengenal Perusahaan dan tanda-tanda lainnya ; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Usaha Tani. Sub Dinas Bina Hutan dipimpin oleh seorang Kepala Sub Dinas dalam hal : a. Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang tugasnya ; b. Mempersiapkan bahan-bahan untuk penyusunan rencana tehnis tahunan dalam bidang tugasnya ; c. Menyelenggarakan inventarisasi tanah kosong dan tanah kritis serta tanah kosong bekas areal tebangan Hak Pengusahaan Hutan ; d. Menyelenggarakan bimbingan dan pelaksanaan usaha-usaha perlindungan Hutan baik dari kerusakan-kerusakan gangguan alam, hama dan penyakit maupun perladangan liar serta perlindungan terhadap aliran sungai dan hutan lindung ;
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 61

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

e.

f. g.

Menyelenggarakan bimbingan dan Tatalaksana kegiatan reboisasi dan Rehabilitasi tanah kosong dan tanah kritis serta tanah kosong bekas areal tebangan hak pengusahaan hutan ; Menyelenggarakan bimbingan dalam rangka pemanfaatan hutan secara serba guna dan lestari ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Dalam melaksanakan tugasnya Sub Dinas Bina Hutan dibantu oleh : a. Seksi Benih dan Persemaian; b. Seksi Aneka Guna Hutan; c. Seksi Reboisasi dan Rehabilitasi; d. Seksi Perlindungan. Perincian tugas Seksi Benih dan Persemaian adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan bimbingan dan perencanaan Pembenihan dan Persemaian ; b. Menyelenggarakan Ir. Suhardiono, Kepala Dinas Kehutanan pengumpulan/ pengolahan Propinsi Irian Jaya (1994-1996) dan analisa data benih/ persemaian ; c. Menyelenggarakan rencana tahunan pembenihan/ persemaian ; d. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Bina Hutan. Perincian tugas Seksi Aneka Guna Hutan adalah sebagai berikut : a. Menyusun pedoman serta bimbingan dalam rangka pemanfaatan hutan secara serba guna dan lestari ; b. Menyelenggarakan pembinaan dan pengarahan pengembangan areal hutan non kayu ; c. Menyelenggarakan pembinaan dan pengarahan serta pembentukan Klas Perusahaan ; d. Menyelenggarakan pengumpulan/ Pengolahan dan analisa data tentang aneka guna hutan ; e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Bina Hutan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 62

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perincian tugas Seksi Reboisasi dan Rehabilitasi adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan survey dan inventarisasi tanah kosong dan tanah kritis b. c. d. e. f. hidrologis serta tanah bekas dan areal penebangan hak pengusahaan hutan ; Menyusun pedoman, bimbingan tatalaksana penanaman kawasan hutan dalam rangka pengendalian erosi dan banjir ; Menyusun pedoman dan bimbingan dan reboisasi hutan dengan permudaan ; Menyusun pedoman dan bimbingan serta pelaksanaan rehabilitasi tanah-tanah kritis dalam pengendalian erosi dan banjir ; Menyusun pedoman dan bimbingan pemeliharaan tanaman hutan dan Usaha-usaha pengawetan hutan ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Bina Hutan. Perincian tugas Seksi Perlindungan adalah sebagai berikut : a. b. Menyelenggarakan survey dan inventarisasi daerah aliran sungai dan hutan lindung ; Menyusun pedoman, bimbingan dan pelaksanaan usaha-usaha perlindungan hutan dari kerusakan gangguan akan hama dan penyakit ; c. d. Menyusun pedoman, bimbingan serta pelaksanaan dalam usaha mencegah terjadinya perladangan berpindah ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Bina Hutan. Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan dipimpin oleh seorang Kepala Sub Dinas, mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam hal : a. b. c. d. e. f. Memimpin dan menyelenggarakan kegiatan dalam bidang tugasnya ; Mempersiapkan bahan-bahan untuk penyusunan rencana tehnis tahunan dalam bidang tugasnya ; Menyelenggarakan tata dokumentasi Peraturan Perundang-Undangan Kehutanan dan memberiakan saran-saran di bidang hukum ; Menyelenggarakan kegiatan penyuluhan ; Menyelenggarakan tugas-tugas pengamanan hutan dan tata koordinasi penyelesaian sengketa Tata Batas Kawasan Hutan ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.
IV- 63

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam melaksanakan tugasnya Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan dibantu oleh : a. b. c. Seksi Perundang-Undangan ; Seksi Sarana Penyuluhan ; Seksi Polisi Khusus.

Perincian tugas Seksi Perundang-Undangan adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan Tata Dokumentasi Perundang-Undangan Kehutanan dan memberikan saran-saran di bidang hukum ; b. Menyelenggarakan pelayanan/ bantuan Tata Koordinasi pemberian dan dokumentasi Hak Pengusahaan Hutan ; c. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan. Perincian tugas Seksi Sarana Penyuluhan adalah sebagai berikut : a. Menyusun Naskah siaran pedesaan dan Penyuluhan b. Pengadaan sarana penyuluhan c. Visualisasi dan pendataan Ir. Tagor SM Pardede Kadishut Prop. Irian Jaya Tahun 1996-2000 d. Menyelenggarakan kegiatan penyuluhan e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan. Perincian tugas Seksi Polisi Khusus adalah sebagai berikut : a. Menyelenggarakan pembinaan, bimbingan, pengamanan hutan dan Kepolisian Khusus Kehutanan serta pengumpulan dan penyusunan data-data kerugian akibat kebakaran hutan, pencurian hasil hutan dan masalah-masalah yang berhubungan dengan keamanan hutan ;
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 64

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

b.

c. d.

Menyelenggarakan pelayanan/ bantuan dan Tata koordinasi penyelesaian sengketa batas-batas areal pengusahaan hasil hutan dan masalah-masalah yang berhubungan dengan tata batas hutan ; Menyelenggarakan mengumpulkan informasi sarana usaha ; Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Sub Dinas Keamanan dan Penyuluhan.

Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah. Kepala Bagian dan Kepala Sub Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah atas usul Kepala Dinas. Kepala Dinas tidak dibenarkan merangkap jabatan lain. Perangkapan Jabatan Kepala Dinas oleh Kepala Instansi Vertikal yang sejenis dimungkinkan atas persetujuan Gubernur Kepala Daerah dan Menteri yang bersangkutan. Dalam hal Kepala Dinas berhalangan menjalankan tugas, maka ia dapat menunjuk Kepala Bagian atau salah seorang Kepala Sub Dinas untuk menjalankan tugas dan wewenang Kepala Dinas sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. e. Peraturan Daerah Propinsi Dati I Irian Jaya Nomor 2 Tahun 2001 Pada tahun 2001 dikeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Propinsi Irian Jaya. Organisasi Dinas Kehutanan. Terdapat 119 Pasal yang mengatur tentang Dinas Kehutanan, yaitu terdapat pada Bagian Kesembilan Pasal 119 sampai dengan Pasal 137. Dinas Kehutanan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi di bidang Kehutanan dan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh Gubernur, yaitu : (1) Perumusan kebijakan teknis di bidang kehutanan; (2) Pemberian perijinan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas kabupaten/kota di bidang kehutanan; (3) Pembinaan teknis di bidang kehutanan; (4) Penyuluhan UPTD; (5) Pelaksanaan urusan tata usaha dinas.
IV- 65

Dr (HC) Ir. Hugo Julian Rajaar Kadishut Prop. Irian Jaya (Papua), Tahun 2000 - 2003

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Susunan Organisasi Dinas Kehutanan, terdiri dari a. Kepala dinas Kehutanan; Memiliki tugas pokok sesuai dengan kebijaksanaan Gubernur dengan memperhatikan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku b. Wakil Kepala Dinas Kehutanan mempunyai tugas pokok membantu Kepala Dinas melaksanakan tugas pokoknya dan tugas lainnya yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. c. Bagian Tata Usaha; mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan administrasi umum, kepegawain, keuangan, perlengkapan dan penyusunan program serta pelaporan.
RIWAYAT HIDUP Nama Tempat Tgl. Lahir Agama Pendidikan Terakhir : : : : Dr. (HC) Ir. Hugo. J. Rajaar Bawey, 10 Juli 1943 Kristen Protestan Doctor Honoris Causa di Singapura Tahun 2000

Riwayat Pekerjaan Tahun 1967

Tahun 1974 - 1978

Bagian Tata Usaha membawahi empat Sub Tahun 1984 - 1985 Bagian, yaitu : (1) Sub Bagian Umum, yang Tahun 1985 - 1993 mempunyai tugas pokok Tahun 1993 - 2000 melaksanakan urusan perlengkapan, rumah Tahun 2000 - 2003 tangga surat menyurat dan urusan umum lainnya; (2) Sub Bagian Kepegawaian; mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan administrasi kepegawaian. (3) Sub Bagian Keuangan; mempunyai tugas; mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan anggaran dan administrasi keuangan. dan (4) Sub Bagian Program; mempunyai tugas pokok melaksanakan pengumpulan, pengelolaan, analisis, penyajian, penyusunan program dan evaluasi serta pelaporan. d. Sub Dinas Potensi Hutan; Potensi Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melakukan identifikasi Sumber Daya hutan. Tataguna dan Pemanfaatan, perpetaan, rencana karya, kerjasama dan pengumpulan data dan pelaporan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 66

: Kepala Balai Kesatuan Pemangkuan Hutan BKPH) di Seruai : Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KKPH) Manokwari di Manokwari : Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) XII Sorong di Sorong : Kepala Cabang Dinas Kehutanan (KCDK) XII Sorong di Sorong : Kepala Cabang Dinas Kehutanan (KCDK) XVI Nabire di Nabire : Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Irian Jaya

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sub Dinas Potensi Hutan membawahi empat Seksi, yaitu : (1) Seksi Inventarisasi Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis mengumpulkan data dan inventarisasi keberadaan dan potensi hutan lintas kabupaten/ kota; (2) Seksi Tata guna Hutan dan Perpetaan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis penyusunan program dan petunjuk teknis penatagunaan hutan dan melaksanakan penyusunan rencana pembinaan teknis pemetaan keberadaan dan potensi hutan; (3) Seksi Rencana Karya dan Kerjasama Teknis mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk rencana Karya kehutanan dan melaksanakan penyusunan program kerjasama teknis bidang kehutanan dan (4) Seksi Data dan Pelaporan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis perumusan teknis pengumpulan, pengolahan dan penyajian data serta melakukan penyusunan pelaporan. e. Sub Dinas Sarana Produksi mempunyai tugas pokok merumuskan dan mempersiapkan pengumpulan bahan dan petunjuk teknis administrasi sarana produksi, pemungutan, pengolahan dan pengendalian hasil produksi kehutanan. Sub Dinas Produksi membawahi empat Seksi : (1) Seksi Sarana Produksi mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis produksi, bimbingan pengadaan sarana produksi, proses produksi dan pembinaan administrasi serta pengujian lapangan bidang produksi kehutanan; (2) mempunyai pembinaan pokok tugas teknis pokok perumusan dan Seksi mengananalisis kebijakan Pemungutan dan teknis Hasil melaksanakan administrasi teknis

pemungutan hasil hutan; (3) Seksi Pengolahan hasil mempunyai tugas menganalisis melaksanakan pembinaan pengumpulan bahan dan petunjuk pembinaan, bimbingan sarana proses pengelolaan hasil hutan; (4) Seksi Pengendalian hasil produksi mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pengawasan dan pengendalian pengolahan produksi hasil hutan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 67

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

f.

Sub Dinas Peredaran Hasil Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan perumusan bahan dan petunjuk teknis pembinaan, pengujian hasil hutan, prijinan, pengawasan peredaran hasil hutan dan informasi pasar hasil hutan. Sub Dinas Peredaran Hasil Hutan membawahi empat Seksi, yaitu : (1) Seksi Pengujian Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pengujian hasil hutan; (2) Seksi Perijinan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk administrasi pemberian ijin peredaran hasil hutan lintas kabupaten/ kota dan keluar propinsi; (3) Seksi Pengawasan Peredaran Hasil mempuntai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi dan menyusun pola petunjuk operasional pembinaan, pengawasan, evaluasi peredaran hasil hutan; (4) Seksi Informasi Pasar Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan, pengolahan, penyajian data informasi pasar hasil hutan.

g. Sub Dinas Pengendalian Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan pengumpulan bahan dan petunjuk teknis pembinaan perbenihan dan sertifikasi tanaman hutan, aneka huna hutan, reboisasi dan rehabilitasi hutan dan penyelenggaraan pembinaan masyarakat desa hutan. Sub Dinas Pengendalian Hutan membawahi empat seksi, yaitu : (1) Seksi Benih dan Sertifikasi Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pengadaan benih, penyebaran dan penanaman dan melakukan inventarisasi pelaksanaan sertifikasi tanaman hutan. (2) Seksi Aneka Guna Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk administrasi pendayagunaan anekadaya guna hutan. (3) Seksi Reboisasi dan Rehabili-tasi mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi dan menyusun pola petunjuk operasional reboisasi dan rehabilitasi Hutan. (4) Seksi Pembinaan Masyarakat Desa Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk teknis pembinaan, bimbingan dan penyuluhan pelestarian, pengembangan sumberdaya hutan terhadap masyarakat desa hutan termasuk taman hutan rakyat.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 68

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

h. Sub Dinas Perlindungan Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan pembinaan teknis pengamanan dan konservasi hutan. Sub Dinas Perlindungan Hutan membawahi dua Seksi, yaitu : (1) Seksi Pengamanan Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan
Ir. Marthen Kayoi, MM Kadishut Prov. Papua Tahun 2003 - sekarang

bahan dan perumusan petunjuk pengamanan hutan dan penyiapan bahan pembinaan, penyuluhan

tenaga pengamanan hutan. (2) Seksi Konservasi Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama Tempat Tgl. Lahir Agama Pendidikan Terakhir Riwayat Pekerjaan Tahun 1985 Tahun 1986 Tahun 1987 Tahun 1987 Tahun 1988 Tahun 1990 Tahun 1992 Tahun 1994 Tahun 1999 Tahun 2000 : Honorer Terhadap Sub BIPHUT Manokwari : Staf BIPHUT X Biak Irja : Kepala Sub Seksi Pengukuran Pada BIBHUT X Biak : Kepala Sub Seksi Inventarisasi BIPHUT X Biak : PJS Kepala Sub BIPHUT Merauke : Kepala Sub BIPHUT Merauke : Kepala Sub BIPHUT Merauke : Kepala Sub BIPHUT Pontianak : Kepala BIPHUT Wilayah X Jayapura –Irian Jaya : PLT. Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan Propinsi Irian Jaya Tahun 2001 Tahun 2003-Sekarang : Wakil Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Papua : Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua : Ir. Marthen Kayoi, MM. : Papuma, 4 Maret 1956 : Kristen Protestan : Lulus Magister Manajemen Tahun 1999

pelestarian sumber daya hutan kritis, mempersiapkan rencana konservasi pencadangan dan pemberian rekomendasi pengelolaan kawasan hutan serta hutan taman nasional dan pencegahan kerusaakan hutan konservasi.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 69

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

f. Peraturan Daerah Provinsi Papua Nomor 2 Tahun 2006 Menyempurnakan Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2001 dikeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Susunan Organisasi dan Tenaga Kerja Dinas-dinas Daerah Propinsi Papua. Organisasi Dinas Kehutanan. Terdapat 119 Pasal yang mengatur tentang Dinas Kehutanan, yaitu terdapat pada Bagian Kesembilan Pasal 119 sampai dengan Pasal 134. Dinas Kehutanan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan

kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi di bidang Kehutanan dan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh Gubernur, yaitu Perumusan kebijakan teknis di bidang kehutanan (1) Pemberian perijinan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas kabupaten/kota di bidang kehutanan; (2) Pembinaan teknis di bidang kehutanan; (3) Penyuluhan UPTD; (4) Pelaksanaan urusan tata usaha dinas. Susunan Organisasi Kehutanan dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Kepala Dinas melaksanakan tugas pokoknya sesuai dengan

kebijaksanaan Gubernur dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bekas Kantor Dinas Kehutanan (1970-1976) di Komplek Pemda III Melati –Kotaraja - Abepura –Jayapura, saat ini sudah menjadi rumah tinggal

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 70

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

b. Wakil Kepala Dinas mempunyai tugas pokok membantu Kepala Dinas melaksanakan tugas pokoknya dan tugas lainnya yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. c. Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan administrasi umum, kepegawain, keuangan, perlengkapan dan penyusunan program serta pelaporan.

Kantor Dinas Kehutanan Prop. Irian Jaya berdomisili di Komplek Gubernur Propinsi Irian Jaya, Tahun 1977-1979

Bagian Tata Usaha membawahi empat Sub Bagian, yaitu : (1) Sub Bagian Umum mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan perlengkapan, rumah tangga surat menyurat dan urusan umum lainnya; (2) Sub Bagian Kepegawaian mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan administrasi kepegawaian; (3) Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan anggaran dan administrasi keuangan; (4) Sub Bagian Program mempunyai tugas pokok melaksanakan pengumpulan, pengelolaan, analisis, penyajian, penyusunan program dan evaluasi serta pelaporan. d. Sub Dinas Potensi Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melakukan identifikasi Sumber Daya Hutan. Tataguna dan Pemanfaatan, Perpetaan, Rencana Karya, Kerjasama dan Pengumpulan data dan pelaporan.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 71

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sub Dinas Potensi Hutan membawahi empat Seksi, yaitu : (1) Seksi Inventarisasi Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis mengumpulkan data dan inventarisasi keberadaan dan potensi hutan lintas kabupaten/ kota. (2) Seksi Tataguna Hutan dan Perpetaan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis penyusunan program dan petunjuk teknis penatagunaan hutan dan melaksanakan penyusunan rencana pembinaan teknis pemetaan keberadaan dan potensi hutan; (3) Seksi Rencana Karya dan Kerjasama Teknis mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk teknis rencana karya kehutanan dan pelaksanakan penyusunan program kerjasama teknis bidang kehutanan; (4) Seksi Data dan Pelaporan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis perumusan teknis pengumpulan, pengolahan dan penyajian data serta melakukan penyusunan pelaporan.

Kantor Dinas Kehutanan Sebelum sebelum Otonomi Khusus

e. Sub Dinas Sarana Produksi mempunyai tugas pokok merumuskan dan mempersiapkan pengumpulan bahan dan petunjuk teknis administrasi sarana produksi, pemungutan, pengolahan dan pengendalian hasil produksi kehutanan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 72

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kepala Sub Dinas Produksi membawahi empat seksi, yaitu : (1) Seksi Sarana Produksi mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis produksi, bimbingan pengadaan sarana produksi, proses produksi dan pembinaan administrasi serta pengujian lapangan bidang produksi kehutanan; (2) Seksi Pemungutan Hasil mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis perumusan kebijakan teknis administrasi pemungutan hasil hutan; (3) Seksi Pengolahan Hasil mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pembinaan, bimbingan sarana proses pengelolaan hasil hutan; (4) Seksi Pengendalian Hasil Produksi mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pengawasan dan pengendalian pengolahan produksi hasil hutan. f. Sub Dinas Peredaran Hasil Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan perumusan bahan dan petunjuk teknis pembinaan, pengujian hasil hutan, perijinan, pengawasan peredaran hasil hutan dan informasi pasar hasil hutan. Kepala Sub Dinas Peredaran Hasil Hutan membawahi empat seksi, yaitu : (1) Seksi Pengujian Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk pengujian hasil hutan; (2) Seksi Perijinan Kehutanan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk administrasi pemberian ijin peredaran hasil hutan lintas kabupaten/kota dan keluar propinsi; (3) Seksi Pengawasan Peredaran Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi dan menyusun pola petunjuk operasional pembinaan, pengawasan, evaluasi peredaran hasil hutan; (4) Seksi Informasi Pasar Hasil Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan, pengolahan, penyajian data informasi pasar hasil hutan. g. Sub Dinas Pengendalian Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan pengumpulan bahan dan petunjuk teknis pembinaan perbenihan dan sertifikasi tanaman hutan, aneka guna hutan, reboisasi dan rehabilitasi hutan dan penyelenggaraan pembinaan masyarakat desa hutan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 73

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kepala Sub Dinas Pengendalian Hutan, membawahi empat pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan

seksi, teknis

yaitu (1) Seksi Benih dan Sertifikasi Tanaman Hutan mempunyai tugas pengumpulan bahan dan petunjuk pengadaan benih, penyebaran dan penanaman dan melakukan inventarisasi pelaksanaan sertifikasi tanaman hutan; (2) Seksi Aneka Guna Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk administrasi pendayagunaan aneka dayaguna hutan; (3) Seksi Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi dan menyusun pola petunjuk operasional reboisasi dan rehabilitasi Hutan; (4) Seksi Pembinaan Masyarakat Desa Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan petunjuk teknis pembinaan, bimbingan dan penyuluhan pelestarian, pengembangan sumberdaya hutan terhadap masyarakat desa hutan termasuk taman hutan rakyat.

Dinas Kehutanan Prov. Papua setelah Otonomi Khusus

h. Sub Dinas Perlindungan Hutan mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan pembinaan teknis pengamanan dan konservasi hutan.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 74

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dinas Perlindungan Hutan membawahi dua seksi, yaitu : (1) Seksi Pengamanan Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis pengumpulan bahan dan perumusan petunjuk pengamanan hutan dan penyiapan bahan pembinaan, penyuluhan tenaga pengamanan hutan. (2) Seksi Konservasi Hutan mempunyai tugas pokok menganalisis dan melaksanakan pembinaan teknis identifikasi, inventarisasi pelestarian sumber daya hutan kritis, mempersiapkan rencana konservasi pencadangan dan pemberian rekomendasi pengelolaan kawasan hutan serta hutan taman nasional dan pencegahan kerusakan hutan konservasi. Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Irian Barat/ Irian Jaya/ Papua dari berbagai periode adalah sebagai berikut (Sumber Dinas Kehutanan Tahun 2006) : 1. Ir. Priono Hardjosentono (1963-1964) 2. R. Sukahar (1964 - 1972) 3. Ir. Hizar Purba (1972 –1980) 4. Abner Komboy (1980 –1989) 5. Dr. Ir. BD Nasendi, MS (1989 –1994) 6. Ir. Suhardiono (1994 –1996) 7. Ir. Tagor SM Pardede (1996-2000) 8. Dr. (HC) Ir. Hugo Julian Rajaar (2000-2003) 9. Ir. Marthen Kayoi, MM (2003 –sekarang) Dua orang pertama, yaitu Ir. Priono Hardjosentono dan R. Sukahar kedudukan beliau pada saat itu adalah sebagai Kepala Bagian Kehutanan pada Dinas Perekonomian sebagai cikal bakal Dinas Kehutanan. Jadi Ir. Priono Hardjosentono adalah sebagai perintis Dinas Kehutanan di Irian Barat/ Irian Jaya/ Papua. Periodisasi Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Papua 1. Kantor Kehutanan di bawah Dinas Perekonomian Dok II Jayapura tahun 1963 -1970 2. Kantor Dinas Kehutanan pindah ke Kotaraja (masa Ir. Purba) yang saat ini sudah menjadi rumah tinggal di dahulu merupakan kompleks perkantoran dari berbagai dinas provinsi ; pada tahun 1970-1976 3. Selanjutnya kantor pindah ke dalam areal komplek perkantoran Gubernur, sekarang menjadi kantor kesehatan; 1977-1979 4. Terakhir kantor Dinas Kehutanan pindah dan menetap sampai sekarang di Dok IX base G Jayapura.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 75

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

4.3.2. Kantor Wilayah (Kanwil) Kehutanan Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor 34/Kpts-II/1983, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi, maka dibentuklah Kantor Wilayah (Kanwil) Kehutanan yang dipimpin oleh seorang Kepala Kapala Kantor Wilayah (Kakanwil) dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kehutanan, berbeda dengan Dinas Kehutanan yang bertanggung jawab langsung kepada Gubernur/ Kepala Daerah Tk I. Kanwil Kehutanan merupakan instansi vertikal Departemen Kehutanan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kehutanan. Dinamika organisasi Kanwil mengikuti perkembangan

organisasi induknya, yaitu Departemen Kehutanan, Jakarta. Fungsi Kanwil adalah : (1) Menyusun dan mengkoordinasikan rencana dan program regional pembangunan kehutanan atas dasar Kebijaksanaan Pusat dan Daerah. (2) Melaksanakan pembinaan dan pembangunan kehutanan yang

meliputi kawasan, pengusahaan hutan, reboisasi dan rehabilitasi lahan serta perlindungan hutan dan pelestarian alam. (3) Melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan tugas

Departemen Kehutanan di Wilayah. (4) Mengadakan hubungan konsultasi yang terus menerus dengan Pemerintah Daerah serta melaksanakan hubungan kerja dengan instansi vertical lainnya sesuai dengan tugas pokoknya. (5) Melaksankan urusan tata usaha dan rumah tangga Kantor Wilayah Berdasarkan Beban kerja, fungsi dan intensitas tata hubungan antara Departemen Kehutanan dengan Pemerintah Daerah dan instansi vertical lainnya, maka Kanwil dibagi ke dalam 3 (tiga) tipe, yaitu: (1) Kanwil Tipe A, (2) Kanwil Tipe B dan (3) Kanwil Tipe C.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 76

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Susunan Organisasi Kantor Wilayah Tipe A Kantor wilayah Tipe A dibagi ke dalam 6 (enam) bidang, yaitu : 1) Bidang Tata Usaha; bertugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada semua satuan organisasi di lingkungan Kanwil. 2) Bidang Bina Program; bertugas menyusun rencana dan program rutin dan pembangunan kehutanan baik jangka panjang, menengah maupun pendek serta melakukan evaluasi pelaksanaannya. 3) Bidang Pengusahaan Hutan; mempunyai tugas membina dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan. 4) Bidang Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan; bertugas membina dan mengkoordinasikan pelaksanaan reboisasi dan rehabilitasi lahan, hutan kemasyarakatan dan penyuluhan. 5) Bidang Konservasi Sumberdaya Alam; memiliki tugas membina dan mengkoordinasikan pelaksanaan pelestarian alam, pemangkuan kawasan konservasi dan urusan wisata alam. 6) Bidang Pengukuhan dan Tata Guna Hutan; mempunyai tugas melaksanakan urusan pengukuhan dan penatagunaan hutan Provinsi yang memiliki Kanwil Tipe A adalah yang terbanyak, yaitu terdapat di 15 Provinsi (55.56), yaitu : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Daerah Istimewa Aceh, berkedudukan di Banda Aceh Sumatera Utara, berkedudukan di Medan Riau, berkedudukan di Pekanbaru Sumatera Selatan, berkedudukan di Palembang Lampung, berkedudukan di Tanjung Karang Kalimantan Barat, berkedudukan di Pontianak Kalimantan Selatan, berkdudukan di Banjarmasin Kalimantan Tengah, berkdudukan di Palangkaraya Kalimantan Timur, berkdudukan di Samarinda Jawa Barat, berkedudukan di Bandung Jawa Tengah, berkedudukan di Semarang Jawa Timur, berkedudukan di Surabaya Sulawesi Selatan, berkedudukan di Ujung Pandang (sekarang Makasar) Maluku, berkedudukan di Ambon dan Irian Jaya (sekarang Papua), berkedudukan di Jayapura
IV- 77

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Susunan Organisasi Kantor Wilayah Tipe B Kantor Wilayah Tipe B, terdiri dari : (1) Bidang Tata Usaha, (2) Bidang Bina Program, (3) Bidang Pengusahaan Hutan, (4) Bidang Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (5) Bidang Pengukuhan Hutan dan Konservasi Alam Tugas-tugas masing bagian, seperti diuraikan dalam dalam Organisasi Kanwil Tipe A. Berbeda dengan Tipe A, pada Tipe ini tidak terdapat Bagian Pengukuhan Hutan digabungkan dengan Konservasi Alam, dan tidak ada bagian Tata Guna Hutan. Kantor Wilayah Tipe B terdapat di 9 (sembilan) Provinsi, yaitu : (1) Sumatera Barat, berkedudukan di Padang, (2) Jambi, berkedudukan di Telanaipura, (3) Bengkulu, berkedudukan di Bengkulu, (4) Bali, berkedudukan di Denpasar, (5) Nusa Tenggara Barat, berkedudukan di Mataram, (6) Nusa Tenggara Timur, berkedudukan di Kupang, (7) Sulawesi Utara, berkedudukan di Manado, (8) Sulawesi Tengah, berkedudukan di Palu, (9) Sulawesi Tenggara, berkdudukan di Kendari. Susunan Organisasi Kantor Wilayah Tipe C Kantor Wilayah Tipe C, terdiri dari : (1) Bidang Tata Usaha, (2) Bidang Bina Program, (3) Bidang Pemanfaatan Hutan dan Reboisasi, (4) Bidang Pengukuhan Hutan dan Konservasi Alam Dalam Organisasi Tipe C, terlihat tidak ada Bidang Pengusahaan Hutan, namun muncul Bidang Pemanfaatan Hutan dan Reboisasi dan tidak ada Bidang Tata Guna Hutan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 78

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Hanya 3 (tiga) provinsi yang ditempati oleh Kantor Wilayah Tipe C, yaitu : (1) DKI Jakarta; berkedudukan di Jakarta (2) Daerah Istimewa Yogyakarta; berkedudukan di Yogyakarta (3) Timor Timur; berkdudukan di Dilly (saat ini sudah lepas dari NKRI, menjadi Negara sendiri) Untuk melaksankan kegiatannya Bagian Bina Program mempunyai 3 (tiga) fungsi, yaitu melakukan : (1) Urusan kepegawaian (2) Urusan keuangan (3) Urusan surat-menyurat, perelengkapan dan rumah tangga. Bagian Tata Usaha terbagi ke dalam tiga Sub Bagian, yaitu : (1) Sub Bagian Kepegawaian; bertugas melakukan urusan kepegawaian (2) Sub Bagian Keuangan; bertugas melakukan urusan keuangan (3) Sub Bagian Umum; bertugas melakukan urusan surat-menyurat, kearsipan, perlengkapan dan rumah tangga. Untuk dapat melakukan tugasnya, Bina Program mempunyai 4 (empat) fungsi, yaitu : 1) Melakukan pengumpulan dan pengolahan data; 2) Melakukan penyusunan rencana dan program rutin dan pembangunan; 3) Memberikan bimbingan penyusunan rencana pengelolaan hutan; 4) Melakukan evaluasi dan mempersiapkan laporan hasil pelaksanaan rencana dan program. Kepala Bidang Bina Program membawahi 4 (empat) Seksi, yaitu : (1) Seksi Pengumpulan dan Pengolahan Data; bertugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data kehutanan. (2) Seksi Penyusunan Rencana Program; dan mempunyai program rutin tugas dan mempersiapkan perumusan rencana

pembangunan kehutanan di Wilayah yang bersangkutan. (3) Seksi Bimbingan Rencana Pengelolaan Hutan; memiliki tugas memberikan bimbingan penyusunan rencana pengelolaan hutan. (4) Seksi Evaluasi dan Laporan; bertugas mengikuti perkembangan, melakukan analisa serta menyusun laporan pelaksanaan rencana dan program rutin dan pembangunan kehutanan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 79

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kakanwil Kehutanan Prop. Irian Jaya Ir. Yaman Mulyana disambut Bupati Merauke, acara Kunjungan Kerja, tahun 1990

Bidang Pengusahaan Hutan memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu melakukan : (1) Pembinaan penataan penataan penebangan, eksploitasi, penggunaan dan pemeliharaan peralatan produksi, ketertiban produksi dan peredaran hasil hutan, pemeliharaan hutan serta pengolahan hasil hutan. (2) Koordinasi pelaksanaan penataan penebangan, eksploitasi, penggunaan dan pemeliharaan peralatan produksi, tertib produksi, dan peredaran hasil hutan, pemeliharaan hutan serta pengolahan hasil hutan. Kepala Bidang Pengusahaan Hutan membawahi 4 (empat) seksi, yaitu : (1) Seksi Penataan Tebangan; bertugas mempersiapkan bahan pembinaan teknis penataan tebangan. (2) Seksi Eksploitasi; memiliki tugas mempersiapkan bahan pembinaan teknis eksploitasi dan penggunaan serta pemeliharaan. (3) Seksi Tertib Produksi dan Pemeliharaan Hutan; bertugas mempersiapkan bahan pembinaan teknis tata usaha hasil hutan, tertib peredaran, pemasaran dan pemeliharaan hutan. (4) Seksi Pengolahan Hasil Hutan, bertugas mempersiapkan bahan pembinaan teknis pengolahan, sarana pengolahan serta pemanfaatan bahan baku dan limbah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 80

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Gedung Kantor Wilayah Kehutanan Propinsi Irian Jaya di Abepura, Jayapura

Bidang Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan mempunyai 2 (dua) macam fungsi, yaitu : (1) Melakukan pembinaan pelaksanaan reboisasi dan rehabilitasi lahan dan hutan kemasyarakatan; (2) Melakukan urusan penyuluhan Kepala Bidang Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan dibantu oleh 3 (tiga) seksi, yaitu : (1) Seksi Reboisasi; bertugas mempersiapkan bahan pembinaan teknis perencanaan dan pelaksanaan reboisasi (2) Seksi Rehabilitasi Lahan dan Hutan Kemasyarakatan; bertugas mempersiapkan (3) Seksi bahan pembinaan teknis perencanaan urusan dan pelaksanaan rehabilitasi lahan dan pembinaan hutan kemasyarakatan Penyuluhan; bertugas melakukan penyuluhan kehutanan. Fungsi Bidang Konservasi Sumberdaya Alam terbagi ke dalam tiga, yaitu: (1) (2) (3) Melakukan pembinaan pemangkuan kawasan konservasi; Melakukan pembinaan usaha konservasi kawasan dan jenis; Melakukan pembinaan urusan cinta alam dan wisata alam.
IV- 81

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kepala Bidang Konservasi Sumberdaya Alam dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dibantu oleh 4 (empat) seksi, yaitu : (1) Seksi Pemangkuan Kawasan Konservasi; bertugas mempersiapkan bahan pembinaan pemangkuan kawasan konservasi; (2) Seksi Konservasi jenis; memiliki tugas mempersiapkan bahan pembinaan konservasi jenis flora dan fauna; (3) Seksi Pelestarian Alam; mempunyai tugas mempersiapkan bahan pembinaan pelestarian alam; (4) Seksi Wisata Alam mempunyai tugas melakukan urusan cinta alam dan cinta wisata. Fungsi Bidang Pengukuhan dan Tata Guna Hutan adalah melakukan : (1) penyusunan Rencana Umum Kehutanan; (2) urusan pengukuhan kawasan hutan; (3) urusan penatagunaan lahan. Kepala Bidang Pengukuhan dan Tata Guna Hutan dibantu oleh 3 (tiga) seksi, yaitu : (1) Seksi Penyusunan Rencana Umum Kehutanan; bertugas melakukan inventarisasi potensi sumberdaya alam hutan serta mempersiapkan penyusunan Rencana Umum Kehutanan; (2) Seksi Pengukuhan Hutan; memiliki tugas melakukan urusan pengukuhan kawasan hutan; (3) Seksi Tata Guna Hutan; mempunyai tugas melakukan urusan penatagunaan hutan;

Kakanwil Kehutanan Propinsi Irian Jaya, Ir. Yaman Mulyana (Kanan) saat Kunjungan Kerja ke Sub BIPHUT Merauke, Tahun 1990 PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 82

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Kantor Wilayah, Kepala Bagian, para Kepala Bidang wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik di lingkungan masing-masing, maupun dengan instansi lain di luar Kantor Wilayah sesuai dengan tugasnya. Seiring dengan berjalannya waktu, pergantian pemerintahan dari Orde Baru menjadi Era Reformasi yang mengubah paradigma-paradigma lama, dari sentralistik menjadi desentralistik, dari otoriter ke alam demokrasi, dari Jakarta sentris ke otonomi daerah, maka peran Kanwil Kehutanan dirasa sudah tidak relevan lagi, tidak layak lagi dan tidak cocok lagi diterapkan dalam era otonomi daerah. Apalagi ketika muncul Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000, tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, dan peraturan lain yang menjabarkan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tersebut, termasuk Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 123/Kpts-II/2001, tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan, maka Menteri Kehutanan membubarkan Kelembagaan Kantor Wilayah Kehutanan di setiap provinsi tanggal 12 Maret 2002, dengan Keputusan Menhut Nomor 733/Kpts-II/2002, tentang Pencabutan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 34/Kpts-II/1983, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi. Pejabat yang memimpin Kantor Wilayah Kehutanan Irain Jaya/Papua Nama-nama para Kepala Kanwil Kehutanan Propinsi Irian Jaya/ Papua, diurut dari yang tertua atau yang pertama memimpin hingga berakhir Tahun 2003, adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ir. Bistok Panggabean Ir. Susatyo Arjoyuwono Ir. Yaman Mulyana Ir. Memed B. Suhanda Ir. Kayat Sutarya Ir. Sujud Ir. Marthen Kayoi, MM
IV- 83

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

4.3.3. Unit Pelaksana Teknis Kehutanan Balai merupakan unit pelaksana teknis sesuai dengan bidangnya dalam lingkungan Departemen Kehutanan dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal atau Kepala Badan. Namun berjalan dengan waktu, maka Unit Pelaksana Teknis bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Kehutanan yang mengkoordinir seluruh Unit-unit Pelaksana Teknis termasuk Dinas Kehutanan Propinsi saat itu, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 379/Kpts-II/85 tentang Tata Hubungan Kerja Instansi Kehutanan di Wilayah. Unit Pelaksana Teknis dibagi ke dalam Balai-balai, sebagai berikut : (1) Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) (2) Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (3) Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (4) Balai Latihan Kehutanan (5) Balai Penelitian Kehutanan (6) Taman Nasional (7) Balai Persuteraan Alam (8) Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (9) Balai Teknologi Reboisasi (10) Balai Teknologi Perbenihan (11) Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan Sehubungan dengan penutupan Kantor Wilayah Kehutanan oleh Menteri Kehutanan, melalui Keputusan Menhut Nomor 733/Kpts-II/2002, tentang Pencabutan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 34/Kpts-II/1983, tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi. Maka masing-masing Unit Pelaksana Teknis tersebut berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal dan Kepala Badan di Departemen Kehutanan Jakarta. 4.3.3.1. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Dalam sejarahnya, berdasarkan SK Mentan 428/Kpts/Org/1978 tentang Balai Konservasi Sumber Daya Alam , dibentuk Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA); yang terbagi dua di Irian Jaya, yaitu : 1. Sub Balai PPA Irian Jaya I, berkedudukan di Sorong, dipimpin oleh Sulaeman Antohari, BA 2. Sub Balai PPA Irian Jaya II, berkedudukan di Jayapura, dipimpin oleh Ir. Sriyono
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 84

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada saat itu Kedua Sub Balai tersebut, bertanggung jawab kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah VIII, berkedudukan di Ambon. Pada tahun 1983 berdasarkan SK Menhut 34/Kpts-II/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi Tanggal 26 Agustus 1983, yang efektif baru dapat dilaksankan pada tahun 1985 dengan terbentuknya Sub Balai KSDA di Irian Jaya terbagi ke dalam 2 Sub Balai KSDA, yaitu :

Ir. Ben G. Saroy Kepala BKSDA Papua Tahun 2004-sekarang

1. Sub Balai KSDA Sorong, dikepalai oleh :  Poniran, BA (1985-1986)  Ir. M. Ratuperissa (1986-1987)  Ir. Maraden Purba (1987-1994)  Ir. Gunung Nababan (1994-1998)  Ir. Johanes Soedarsono (1998-2000)  Ir. Konstansondanya (2000-2004)  Ir. Frans Moga, MP (2004-2006)  Ir. Fred Kurung (2006-sekarang) 2. Sub Balai KSDA Jayapura, dikepalai oleh :  Ir. Resubun (1985-1996)  Drs. Sumaryoto (1996-1989)  Drs. Djoko Sutiyono (1989-1994)  Ir. Hendriyono (1994-1997)  Drs. IGN Suteja, MM (1997-2000) Sejak 1998, Sub BKSDA diubah menjadi BKSDA, yang dipimpin oleh  Ir. Resubun (2000-2004) Selanjutnya sesuai SK Menhut No. 6187/Kpts-II/2002, tentang organisasi dan Tata Kerja BKSDA, tanggal 10 Juni 2002 dimana Wilayah Papua I di Jayapura dan Wilayah Papua II di Sorong. Balai KSDA Papua I, sejak 2004 dipimpin oleh :  Ir. Ben G. Saroy (2004 –Sekarang)
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 85

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) adalah unit pelaksana teknis di bidang perlindungan dan pelestarian alam dalam lingkungan Departemen Pertanian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Kehutanan yang dipimpin oleh seorang Kepala Balai BKSDA mempunyai tugas melaksanakan pemangkuan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata serta pemanfaatan, pengembangan dan pengamanan sumber daya alam. BKSDA memiliki fungsi : (1) Menyusun rencana operasionil perlindungan dan pelestarian alam ; (2) Melaksanakan pemangkuan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata ; (3) Memberikan perlindungan dan melaksanakan pengamanan flora dan fauna yang dilindungi ; (4) Memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan penelitian, pendidikan, kebudayaan, sumber keturunan dan pariwisata. Balai Konservasi Sumber Daya Alam terdiri dari : a. Sub Bagian Tata Usaha ; b. Seksi Pemangkuan ; c. Seksi Pemanfaatan ; d. Seksi Perlindungan ; e. Kelompok Pejabat Fungsionil Konservasi Sumber Daya Alam ; f. Instalasi yang terdiri dari Laboratorium Konservasi.  Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif kepada semua satuan organisasi dalam lingkungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai fungsi : (a) Mengurus surat menyurat dan rumah tangga serta perlengkapan; (b) Mengurus kepegawaian dan (c) Mengurus keuangan. Sub Bagian Tata Usaha terdiri dari : (a) Urusan Umum ; (b) Urusan Kepegawaian dan (c) Urusan Keuangan.  Urusan Umum mempunyai tugas melaksanakan korespondensi, pengurusan surat, tata kearsipan; pengetikan, penggandaan, tata naskah, perpustakaan, pencatatan serta pemeliharaan baik inventaris, pembuatan daftar gaji pegawai serta pembayarannya, pengurusan perjalanan dinas serta merencanakan dan menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan pendistribusian, pencatatan; dan penghapusan barang-barang materil dan barangbarang inventaris ;
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 86

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

 Urusan Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan pengurusan kepegawaian, yang melibatkan tata kearsipan pegawai, penyiapan data untuk pembuatan rencana formasi dan mutasi pegawai;  Urusan Keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan data untuk penyusunan anggaran; pendapatan dan belanja negara, melaksanakan penerimaan dan pengeluaran uang, penyiapan bahan untuk perhitungan dan penelaahan perbendaharaan serta melaksanakan pertanggung jawaban keuangan anggaran belanja negara.  Seksi Pemangkuan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan-bahan untuk melaksanakan bimbingan Pemangkuan dan usaha pengembangan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata. Seksi Pemangkuan mempunyai fungsi : (a) Menyiapkan bahan untuk penyusunan rencana pemangkuan dan (b) Memberikan bimbingan pemangkuan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata. Seksi Pemangkuan terdiri dari : (a) Sub Seksi Perancangan dan (b) Sub Seksi Bimbingan.  Sub Seksi Perancangan mempunyai tugas mengumpulkan bahan dan mempersiapkan penyusunan rencana pemangkuan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata ;  Sub Seksi Bimbingan mempunyai tugas melaksanakan bimbingan pelaksanaan pemangkuan taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata.  Seksi Pemanfaatan mempunyai tugas melaksanakan pendayagunaan fungsi yang terdapat dalam taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata untuk kepentingan konservasi, pendidikan, penelitian, kebudayaan dan kepariwisataan. Seksi Pemanfaatan mempunyai fungsi : (a) Melakukan pendayagunaan fungsi taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata serta flora dan fauna untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan konservasi dan (b) Melakukan pendayagunaan fungsi taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata serta flora dan fauna untuk kepentingan pariwisata. Seksi Pemanfaatan terdiri dari : (a) Sub Seksi Informasi dan (b) Sub Seksi Promosi Pariwisata.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 87

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

 Sub Seksi Informasi mempunyai tugas melaksanakan informasi fungsi-fungsi taman pelestarian alam, hutan suaka alam dan hutan wisata, serta flora dan fauna untuk kepentingan pendidikan dan penelitian ;  Sub Seksi Promosi Pariwisata mempunyai tugas melaksanakan promosi taman pelestarian alam dan hutan wisata untuk kepentingan pariwisata.  Seksi Perlindungan mempunyai tugas melaksanakan penertiban

pelaksanaan peraturan perundangan di bidang perlindungan dan pelestarian sumber daya alam. Seksi Perlindungan mempunyai fungsi : (a) Memberikan perijinan di bidang perlindungan dan pelestarian alam dan (b) Melakukan penertiban pelaksanaan peraturan perundangan di bidang perlindungan dan pelestarian alam. Sub Seksi Perlindungan terdiri dari : (a) Sub Seksi Perijinan dan (b) Sub Seksi Pengamanan.  Sub Seksi Perijinan mempunyai tugas menyiapkan perizinan berburu pengangkutan flora ;  Sub Seksi Pengamanan pelaksanaan mempunyai tugas melaksanakan di bidang dan menangkap, mengangkut dan memelihara binatang liar serta pemberian ijin

penertiban

peraturan-perundangan

pelestarian flora, fauna dan alam lingkungannya. Kelompok Pejabat Fungsionil Konservasi Sumber Daya Alam mempunyai tugas melaksanakan penilaian potensi, dan alam lingkungannya; Terdiri penelaahan metode dan teknik dari pejabat-pejabat fungsionil konservasi, penyuluhan arti dan manfaat serta pengamanan flora, fauna berdasarkan peraturan perundangan yang ditetapkan kemudian; Kelompok Pejabat Fungsionil Konservasi Sumber Daya Alam dipimpin oleh seorang Pejabat fungsionil senior, yang ditunjuk dari antara para pejabat fungsionil dalam lingkungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam; Jumlah Pejabat Fungsionil Konservasi Sumber Daya Alam ditentukan berdasarkan beban kerja.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 88

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Laboratorium Konservasi merupakan sarana fisik tempat pengumpulan data tentang flora, fauna dan alam lingkungannya. Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam mempunyai tugas melaksanakan pemangkuan hutan suaka alam dan hutan wisata serta mentertibkan pelaksanaan peraturan perundangan dibidang lindungan dan pelestarian alam. Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam mempunyai fungsi : a. Melakukan pemangkuan hutan suaka alam dan hutan wisata ; b. Meningkatkan usaha pemanfaatan sumber daya alam ; c. Melaksanakan penertiban pelaksanaan peraturan perundangan dibidang perlindungan dan pelestarian alam. Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam terdiri dari : a. Urusan Tata Usaha ; b. Sub Seksi-Sub Seksi Perlindungan dan Pelestarian Alam sebanyakbanyaknya 8 (delapan) Seksi.  Urusan Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan surat menyurat dan rumah tar kepegawaian, keuangan dan perlengkapan.  Sub Seksi Perlindungan dan Pelestarian Alam mempunyai tugas melaksanakan Pemangkuan bagian wilayah Sub Balai Perlindungan dan Pelestarian Alam.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 89

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam adaiah unit pelaksana teknis dibidang pengelolaan taman pelestarian alam yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang dipimpin oleh seorang kepala. Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan taman pelestarian alam berdasarkan pola pengelolaan yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Kehutanan. Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam mempunyai fungsi :  Melaksanakan pemangkuan taman pelestarian alam ;  Meningkatkan usaha pemanfaatan taman pelestarian alam ;  Melakukan penertiban pelaksanaan operasionil peraturan

perundang-undangan dibidang perlindungan dan pelestarian alam. Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam terdiri dari :  Urusan Tata Usaha ;  Sub Seksi Pemangkuan ;  Sub Seksi Pemanfaatan ;  Sub Seksi Perlindungan.  Urusan Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan urusan surat menyurat dan rumah tangga, kepegawaian, keuangan dan perlengkapan.  Sub Seksi Pemangkuan mempunyai tugas pemeliharaan tata batas, keutuhan kawasan, mengurus flora, fauna dan habitatnya sesuai dengan keadaan alaminya serta sarana dan prasarana fisik

pengelolaan.  Sub Seksi Pemanfaatan mempunyai fungsi mendayagunakan fungsi yang terdapat dalam taman pelestarian alam untuk kepentingan konservasi, pendidikan, penelitian, kebudayaan dan pariwisata.  Sub Seksi Perlindungan mempunyai tugas pengamanan terhadap kekayaan, gangguan, fungsi dan usaha pemangkuan taman

pelestarian alam.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 90

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

4.3.3.2. Taman Nasional Tahun 1997 terbentuk dua Taman Nasional : 1. Taman Nasional Teluk Cendrawasih, diketuai oleh - Ir. Minto Basuki (1997 - 2002) - Ir. Gunung Nababan (2002 - sekarang) 2. Taman Nasional Wasur; diketuai oleh : - Ir. Maraden Purba (1997 - 2002) - Ir. Ben G. Saroy (2002 - 2004) - Ir. Abraham Kaya (2004 - 2006) - Ir. Tri Siswoyo (2006 –sekarang) Tahun 2006, terbentuk Taman Nasional Lorentz (sementara berkantor di BKSDA Jayapura) pada tanggal 13 Oktober 2006 dikepalai oleh Ir. Yunus Rumbarar Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam. Kriteria Penetapan Kawasan Taman Nasional (TN) adalah sebagai berikut :

Ir. Yunus Rumbarar Kepala Taman Nasional Lorentz 2006-sekarang

a. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; b. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; c. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh; d. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; e. Merupakan kawasan yang dapat dibagi kedalam Zona Inti, Zona Pemanfaatan, Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 91

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Manfaat Taman Nasional; Pengelolaan memberikan manfaat antara lain :

taman

nasional

dapat

1. Ekonomi Dapat dikembangkan sebagai kawasan yang mempunyai nilai ekonomis, sebagai contoh potensi terumbu karang merupakan sumber yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi sehingga membantu meningkatkan pendapatan bagi nelayan, penduduk pesisir bahkan devisa negara. 2. Ekologi Dapat menjaga keseimbangan kehidupan baik biotik maupun abiotik di daratan maupun perairan. 3. Estetika Memiliki keindahan sebagai obyek wisata alam yang dikembangkan sebagai usaha pariwisata alam / bahari. 4. Pendidikan dan Penelitian Merupakan obyek dalam pendidikan dan penelitian. pengembangan ilmu pengetahuan,

5. Jaminan Masa Depan Keanekaragaman sumber daya alam kawasan konservasi baik di darat maupun di perairan memiliki jaminan untuk dimanfaatkan secara batasan bagi kehidupan yang lebih baik untuk generasi kini dan yang akan datang. Kawasan taman nasional dikelola oleh pemerintah dan dikelola dengan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman nasionali kelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Pengelolaan Taman nasional didasarkan atas sistem zonasi, yang dapat dibagi atas : 1. Zona inti 2. Zona pemanfaatan 3. Zona rimba; dan atau yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
TN - LORENTZ

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 92

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

TN –TELUK CENDRAWASIH

Kriteria zona inti, yaitu : 1. mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya 2. mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya 3. mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan atau tidak atau belum diganggu manusia 4. mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami 5. mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi 6. mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta

ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 93

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kriteria zona pemanfaatan, yaitu : 1. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik 2. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam 3. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. Kriteria zona rimba, yaitu : 1. kawasan konservasi 2. memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan 3. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Upaya pengawetan kawasan taman nasional dilaksanakan sesuai dengan sistem zonasi pengelolaannya : Upaya pengawetan pada zona inti dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. perlindungan dan pengamanan 2. inventarisasi potensi kawasan 3. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan. Upaya pengawetan pada zona pemanfaatan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. perlindungan dan pengamanan 2. inventarisasi potensi kawasan 3. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pariwisata alam Upaya pengawetan pada zona rimba dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : 1. perlindungan dan pengamanan 2. inventarisasi potensi kawasan 3. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan 4. pembinaan habitat dan populasi satwa.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 94

yang

ditetapkan

mampu

mendukung

upaya

perkembangan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan : 1. pembinaan padang rumput 2. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa 3. penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohonpohon sumber makanan satwa 4. penjarangan populasi satwa 5. penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau 6. pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. Beberapa kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan taman nasional adalah : 1. merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistem 2. merusak keindahan dan gejala alam 3. mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan 4. melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang. Sesuatu kegiatan yang dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melakukan kegiatan yang berakibat terhadap perubahan fungsi kawasan adalah : 1. memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan 2. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, menangkap, berburu, menebang, merusak, memusnahkan dan mengangkut sumberdaya alam ke dan dari dalam kawasan. Taman nasional zonasinya : dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem

Pemanfaatan Zona inti : 1. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 2. ilmu pengetahuan 3. pendidikan 4. kegiatan penunjang budidaya Pemanfaatan zona pemanfaatan : 1. pariwisata alam dan rekreasi 2. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 3. pendidikan dan atau 4. kegiatan penunjang budidaya
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 95

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pemanfaatan zona rimba : 1. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan 2. ilmu pengetahuan 3. pendidikan 4. kegiatan penunjang budidaya 5. wisata alam terbatas. Taman Nasional Teluk Cendrawasih Pada awalnya Teluk Cendrawasih merupakan cagar alam laut sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 58/Kpts- II/1990 tanggal 3 Januari 1990, selanjutnya pada tanggal 2 September 1993 diubah menjadi Taman Nasional Teluk Cendrawasih, melalui Keputusan Menteri

Kehutanan Nomor 472/Kpts-II/1993 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Cagar Alam Lut Teluk Cendrawasih dan Daerah sekitarnya yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Manokwari dan Kabupaten Daerah Tingkat II Paniai Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya, Seluas ± 1.453.500 (Satu Juta Empat Ratus Lima Puluh Tiga Ribu Lima Ratus) Hektar menjadi Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih.

PETA TAMAN NASIONAL TELUK CENDRAWASIH

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 96

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Perubahan Fungsi tersebut didasarkan pada pertimbangan, bahwa di kawasan tersebut memiliki potensi cukup tinggi berupa berbagai jenis kerang serta jenis moluska yang langka seperti Kima Raksasa (Tridacna gigas) dan Tiram Kuda (Hiposus), macam-macam Penyu Sisik (Chelonia midas), Duyung (Dugong - dugong) dan di daratannya merupakan habibat bagi burung Jumoi Nikobar (Coloinas nikobarea). Oleh karena itu perlu dipertahankan keutuhan dan kelestariannya untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan menunjang budidaya pariwisata dan rekreasi, dan telah memenuhi kriteria untuk diubah fungsinya menjadi taman nasional. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%). Potensi karang Taman Nasional Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40% sampai dengan 65,64%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak. Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 97

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Taman Nasional Wasur Pada awalnya berdasarkan pernyataan Menteri Kehutanan No.448/ Menhut/VI/1990 tanggal 24 Maret 1990, Suaka Margasatwa Wasur seluas 409.810 hektar dan Cagar Alam Rawa Biru seluas 4.000 hektar yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Merauke, Propinsi Daerah Tingkat 1 Irian Jaya dinyatakan sebagai Taman Nasional Wasur, merupakan perwakilan tipe Taman Nasional Wasur ekosistem rawa, hutan Eucalyptus murni, dan padang rumput. Selanjutnya pada tanggal 25 Mei 1997 ditetapkan sebagai Taman Nasionala melalui Keptusan Menteri Kehutanan Nomor 282/Kpts-VI/1997, tentang Penunjukan Taman Nasional Wasur seluas 413.810 hektar yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Merauke, Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Pertimbangan yang melandasi perubahan fungsi dari Cagar Alam dan Suaka Marga Satwa menjadi Taman Nasonal, adalah : 1. Taman Nasional Wasur mempunyai potensi flora antara lain kayu putih (Melaleuca sp.), kayu bus (Ecalyptus sp.) , akasia (Acacia sp.) nibung (Nipa fructican) , dan vegetasi padang rumput ; 2. Taman Nasional Wasur mempunyai potensi fauna penting antara lain mambruk (Goura victoria), cendrawasih (Paradisea rubra), elang (Haryopsi novaeguineae), rangkong (Buceros bucernis), bangau (Ibis sp.), kasuari (Casuarius casuarius), kanguru tanah (Thylogale sp), dan rusa (Cervus timorensis). d. bahwa Taman Nasional Wasur memiliki panorama dan keindahan alam, keunikan alam, dan budaya yang potensial untuk pengembangan kepariwisataan; 3. Taman Nasional Wasur dapat memberikan peranan dan manfaat bagi keseimbangan ekosistem, kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan kepariwisataan dalam rangka mendukung pembangunan daerah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 98

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

4. Untuk Peningkatkan perlindunganan pelestarian potensi kawasan serta dalam rangka pengembangan fungsi kawasan Taman Nasional Wasur merupakan perwakilan dari lahan basah yang paling luas di Papua/ Irian Jaya dan sedikit mengalami gangguan oleh aktivitas manusia. Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedan`g lainnya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.), dan kayu putih (Melaleuca sp.). Jenis satwa yang umum dijumpai antara lain kanguru pohon (Dendrolagus spadix), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), kasuari gelambir (Casuarius casuarius sclateri), dara mahkota/mambruk (Goura cristata), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda novaeguineae), cendrawasih raja (Cicinnurus regius rex), cendrawasih merah (Paradisea rubra), buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae), dan buaya air asin (C. porosus). Keanekaragaman hayati bernilai tinggi dan mengagumkan di Taman Nasional Wasur, menyebabkan kawasan ini lebih dikenal sebagai “ee g i a u ” S rn iP p a. t Lahan basah di Kondisi Taman Nasional Wasur taman nasional ini merupakan ekosistem yang paling produktif dalam menyediakan bahan pakan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru. Oleh karena itu, Danau Rawa Br d e u “a a Ar k rn rma y b ra a k h u a s ta i i b t T n h i ae a a i a eb g i e i p n aw . u s ” n d Lokasi ini sangat cocok untuk mengamati atraksi satwa yang menarik dan menakjubkan
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 99

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Taman Nasional Lorentz Taman Nasional Lorentz pada awalnya adalah berupa Cagar Alam yang ditunjuk sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 44/Kpts/Um/1/1978, tanggal 25 Januari 1978 selanjutnya diubah fungsnya pada tanggal 19 Maret 1997 melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor l54/Kpts-II/l997, tentang Perubahan fungsi dan Peunjukan Cagar Alam Lorentz seluas ± 1.907.500
Gunung Lorentz di Taman Nasional Lorentz

hektar, Hutan Lindung Gunung Trikora Seluas ± 373.125 hektar dan Perairan sekitarnya seluas ± 224.975 hektar yang

terletak di Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya. Sebagai Taman Nasional Seluas 2.505.600 hektar dengan nama Taman Nasional Lorentz. Penunjukan Cagar Alam Lorentz dan Kawasan di sektiarnya sebagai taman nasional dilakukan dengan pertimbangan sebgai berikut : a. Hutan Lindung Gunung Trikora seluas ± 373.125 hektar merupakan satu kesatuan ekosistem dengan Cagar Alam Lorentz dan merupakan hulu DAS Lorentz yang penting bagi pelestarian ekosistem Lorentz; b. Perairan bagian selatan Cagar Alam Lorentz yang mencakup daerah pantai dan perairan laut sampai kedalam 10 m merupakan ekosistem lahan basah yang penting bagi pelestarian ekosistem Lorentz; c. Pegunungan Lorentz, yang memiliki Salju Abadi (glacier) daerah khatulistiwa, merupakan pegunungan tertinggi di Asia Tenggara yang memiliki ekosistem yang lengkap dan ekosistem daerah pegunungan tertinggi sampai ke lahan basah di pantai laut Arafura. d. Pada kawasan Lorentz terdapat 123 jenis mamalia dan 154 mamalia Papua, 411 jenis burung dan 639 jenis burung di Papua dan berbagai jenis tumbuhan endemik Papua, yang perlu dilindungi dan dilestarikan; e. Pada kawasan Lorentz terdapat berbagai gejala dan keunikan alam serta panorama alam yang indah, yang potensial untuk dikembangkan untuk pariwisata alam;

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 100

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang Taman Nasional Lorentz dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis-jenis tumbuhan di taman nasionalini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata. Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 101

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN. Taman Nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern. Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain. Lorentz ditunjuk sebagai taman nasionalpada tahun 1997, sehingga fasilitas/ sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan. Musim kunjungan terbaik : bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya; Cara pencapaian lokasi: Dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi. 4.3.3.3. Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Pada tahun 1971 dengan Surat Direktorat Jenderal Kehutanan no. 97/Kwt/SD/1971 serta no. 1943/A-2/D.A/71 terbentuklah Brigade Planologi Kehutanan yang melaksanakan tugas Inventarisasi, Pemetaan, Pengukuhan Hutan dan efisiensi Tata Guna Tanah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 102

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam tahun 1978 terbentuklah Balai Planologi Kehutanan dengan Surat Keputusan no. 430/Kpts/Org/7/1979 dan pada tahun 1984 berubah menjadi Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan no. 6188/Kpts-II/2002 berubah tugas dan fungsi menjadi Balai Pemantapan Kawasan Hutan. Pada Awalnya terbentuk Brigair Planologi Wilayah IX Irian Jaya dan Maluku, yaitu : 1. Brigadir Planologi di Biak (1981-1983) di bawah Dirjen Kehutanan Departemen Pertanian 2. Balai Planologi di Biak (1983-1988) Selanjutnya berada di bawah Kanwil Kehutanan Departemen Kehutanan 3. Badan Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) (1988-2002) 4. Badan Pemantapan Kawasan Hutan Produksi (BPKH) (2002sekarang) Periode Pejabat Brigadir Planologi sampai dengan BPKH 1. Ir. Mulyono 2. Ir. Bistok Panggabean 3. Ir. Palulun Boroh 4. Ir. Nurhayin Mangkusisastra 5. Ir. Muhtadin Nafari 6. Ir. Marthen Kayoi,MM 7. Ir. Noak Kapisa, MSc (1981 -1983) (1983 -1988) (1988 -1989)  PJS (1989 -1994) (1994 -1999) (1999 - 2001) (2002 - sekarang) Organisasi Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BKPH) terbentuk melalui 6188/Kpts-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemantapan Kawasan Hutan menggantikan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 093/Kpts-II/1984 dan Nomor 146/Kpts-II/1991 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 32/Kpts-II/1995.

Ir. Noak Kapisa, MSc Kepala BPKH X Papua Tahun 2002 -Sekarang

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 103

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Box RIWAYAT HIDUP
Nama NIP Agama Alamat Rumah Pendidikan Terakhir Pangkat/Gol.Terakhir Instansi : Ir. Noak Kapisa, M.Sc : 710008429 : Kristen Protestan : Komplek Kehutanan Sylva Griya No. C-15 Kotaraja – Jayapura : Master of Science (MSc) in Tropical Forestry, Wageningen Agricultural University, The Netherland : Pembina Tk I/Ivb : Balai Pemantapan Hutan Wilayah X Papua, Badan Planologi Kehutanan, Dep. Kehutanan

Tempat/Tanggal Lahir : Kameri, 22 November 1958

Jabatan Terakhir/Saat ini: 1. Kepala Balai Pemantaan Kawasan Hutan Wilayah X Papua 2. Koordinator Unit Pelaksana Teknis (UPT) Lingkup Departemen Kehutanan, Provinsi Papua No Dosen 1 2 Uraian Jabatan Dosen Honorer pada Jurusan Kehutanan Dosen Honorer pada Jurusan Kehutanan Pengalaman Pekerjaan Instansi Faperta, Cendrawasih, Depdiknas Faperta, Simalu-ngun Depdiknas Univ. Manokwari, Irian Jaya Univ. Pematang Siantar, Sumatera Utara 1984-1986 1988-1999 Tempat Tahun

Jabatan Fungsional Peneliti 1 2 3 4 5 6 Calon Peneliti Kehutanan Asisten Peneliti Muda Kehutanan Ajun Peneliti Madya Kehutanan Ajun Peneliti Madya Kehutanan Peneliti Muda Kehutanan Peneliti Madya Kehutanan Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar*) Idem Idem Idem Idem Puslit & Pengembangan Bioteknologi & Tanaman Hutan Yogyakarta **) Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar*) Puslitbang Bioteknologi dan Tanaman Hutan Yogyakarta Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah X Papua ***) Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara D.I. Yogyakarta 1986-1989 1989-1991 1991-1994 1994-1996 1996-2000 2000-2002

Jabatan Struktural 1 Ketua Kelompok Peneliti Silvikultur Ketua Kelompok Peneliti Pemuliaan Pohon Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wil. X Papua Koordinator Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan Prov. Papua Sumatera Utara 1995-1999

2

D.I. Yogyakarta

2000-2002 2002Sekarang 2002Sekarang

3 4

Jayapura Jayapura

Keterangan: *) Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan Litbang Kehutanan, Dep. Kehutanan **) Eselon II pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Dep. Kehutanan ***) Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada Badan Planologi Kehutanan, Dep. Kehutanan

BKPH merupakan unit pelaksana teknis di bidang pemantapan kawasan hutan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Planologi Kehutanan yang dipimpin oleh seorang Kepala.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 104

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tugas BKPH adalah melaksanakan pemantapan kawasan hutan, penilaian perubahan status dan fungsi hutan serta penyajian data dan informasi sumberdaya hutan. Fungsi BKPH, adalah untuk : (a) Pelaksanaan identifikasi lokasi dan potensi kawasan hutan yang akan ditunjuk; (b) Pelaksanaan penataan batas dan pemetaan kawasan hutan konservasi; (c) Pelaksanaan identifikasi fungsi dan penggunaan Kantor BPKH Wilayah X Papua di dalam rangka penatagunaan Jayapura kawasan hutan; (d) penilaian hasil tata batas dalam rangka penetapan kawasan hutan lindung dan hutan produksi; (e) Pelaksanaan identifikasi dan penilaian perubahan status dan fungsi kawasan hutan; (f) Pelaksanaan identifikasi pembentukan unit pengelolaan hutan konservvasi, serta hutan lindung dan hutan produksi lintas administrasi pemerintahan;(g) Penyusunan dan penyajian data informasi sumberdaya hutan serta neraca sumberdaya hutan; (h) pengelolaan sistem informasi geografis dan perpetaan kehutanan; (i) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga. Organisasi Balai Pemantapan Kawasan Hutan terdiri dari : a. Subbagian Tata Usaha; b. Seksi Pemolaan Kawasan Hutan; c. Seksi Informasi Sumberdaya Hutan; d. Kelompok Jabatan Fungsional.  Sub bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan tata persuratan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan dan rumah tangga.  Seksi Pemolaan Kawasan Hutan mempunyai tugas melakukan identifikasi lokasi dan potensi kawasan hutan yang akan ditunjuk, penataan batas dan pemetaan kawasan hutan konservasi, identifikasi fungsi dan penggunaan dalam rangka penatagunaan kawasan hutan, penilaian hasil tata batas dalam rangka penetapan kawasan hutan lindung dan hutan produksi, identifikasi dan penilaian perubahan status dan fungsi kawasan hutan serta identifikasi pembentukan unit pengelolaan hutan konservasi, serta hutan lindung dan hutan produksi lintas administrasi pemerintahan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 105

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

 Seksi Informasi Sumberdaya Hutan mempunyai tugas melakukan penyusunan program, anggaran dan evaluasi kegiatan, penginderaan jauh, pengelolaan sistem informasi geografis, perpetaan kehutanan dan pemasangan titik kontrol, penyusunan neraca sumberdaya hutan, pengamatan dan pengolahan data pertumbuhan dan kondisi hutan serta penyajian informasi sumberdaya hutan. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahliannya. Masing-masing kelompok jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk oleh Kepala Balai. Jumlah tenaga fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Dalam melaksanakan tugas, Kepala balai, Kepala Subbagian Tata Usaha, Kepala Seksi dan Kelompok Jabatan Fungsional wajib : (1) menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik di lingkungan satuan organisasi masing-masing maupun dengan instansi lain di luar Balai sesuai bidang tugasnya; (2) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas bawahan dan apabila terjadi penyimpangan pelaksanaan tugas wajib mengambil langkah-langkah diperlukan; (3) bertanggung jawab memimpin dan mengkoordinasikan bawahan masing-masing serta memberikan bimbingan dan petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan; (4) mengikuti dan memenuhi petunjuk, dan bertanggung jawab kepada atasan masingmasing dan menyampaikan laporan berkala tepat pada waktunya; (5) menyampaikan laporan kepada Kepala Balai, dan selanjutnya Kepala Subbagian Tata Usaha menyusun laporan Balai. Perubahan organisasi Balai Inventarisasi Hutan (BIPHUT) menjadi Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) sebagal UPT (Unit Pelaksana Teknis) dari Badan Planologi Kehutanan sangat diperlukan untuk memberikan kontribusi data informasi potensi, penataan batas, pemetaan hutan, penatagunaan hutan, penetapan hutan, identifikasi dan penilaian perubahan hutan dan fungsi kawasan hutan, penyusunan KPHP dan KPHL dan sistem informasi geografis kepada organisasi kehutanan di daerah.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 106

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sirkulasi perubahan organisasi mengikuti edaran bola yang selalu dipengaruhi oleh enviroment (lingkungan) dan power maupun politik, di samping organisasi secara intern berputar untuk penyesuaian agar organisasi selalu hidup dan exist. Pada tahun 1971 dengan Surat Direktorat Jenderal Kehutanan no. 97/Kwt/SD/1971 serta no. 1943/A-2/D.A/71 terbentuklah Brigade Planologi Kehutanan yang melaksanakan tugas Inventarisasi, Pemetaan, Pengukuhan Hutan dan efisiensi Tata Guna Tanah. Dalam tahun 1978 terbentuklah Balai Planologi Kehutanan dengan Surat Keputusan no. 430/Kpts/Org/7/1979 dan pada tahun 1984 berubah menjadi Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan no. 6188/Kpts-II/2002 berubah tugas dan fungsi menjadi Balai Pemantapan Kawasan Hutan. Balai Pemantapan Kawasan Hutan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Planologi Kehutanan. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi BPKH menyelenggarakan fungsi : Pelaksanaan identifikasi lokasi dan potensi kawasan hutan yang ditunjuk. Pelaksanaan penataan batas dan pemetaan kawasan hutan konservasi. Pelaksanaan identifikasi fungsi dan penggunaan dalam rangka penatagunaan kawasan hutan. Penilaian hasil tata batas dalam rangka penetapan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Pelaksanaan identifikasi dan penilaian perubahan status dan fungsi kawasan hutan. Pelaksanaan identifikasi pembentukan pengelolaan hutan konservasi serta hutan lindung dan hutan produksi lintas administrasi pemerintahan. Penyusunan dan penyajian dan informasi sumber daya hutan serta neraca sumber daya hutan. Pengelolaan sistem informasi geografis dan perpetaan kehutanan. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 107

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

BPKH dibentuk sebanyak 11 wilayah yang terbagi menjadi : BPKH Wilayah I yang berkedudukan di Medan meliputi Propinsipropinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau. BPKH Wilayah II yang berkedudukan di Palembang meliputi Propinsipropinsi Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung dan Bangka Blitung. BPKH Wilayah III yang berkedudukan di Pontianak meliputi Propinsi Kalimantan Barat. BPKH Wilayah IV yang berkedudukan di Samarinda meliputi Propinsi Kalimantan Timur. BPKH Wilayah V yang berkedudukan di Banjarbaru meliputi Propinsipropinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. BPKH Wilayah VI yang berkedudukan di Manado meliputi Propinsipropinsi Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. BPKH Wilayah VII yang berkedudukan di Makasar meliputi Propinsipropinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. BPKH Wilayah VIII yang berkedudukan di Denpasar meliputi Propinsipropinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. BPKH Wilayah IX yang berkedudukan di Ambon meliputi Propinsipropinsi Maluku Utara dan Maluku. BPKH Wilayah X yang berkedudukan di Jaya Pura meliputi Propinsi Papua. BPKH Wilayah XI yang berkedudukan di Yogyakarta meliputi Propinsi-propinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Keadaan dan Masalah BPKH Hutan merupakan salah satu modal dasar dan faktor dominan bagi pembangunan nasional yang sangat potensial harus dapat dimanfaatkan secara rasional dengan memperhatikan kebutuhan generasi masa kini dan masa datang. Dalam perencanaan kehutanan dimana kegiatan inventarisasi hutan belum dapat dilakukan di seluruh kawasan hutan sehingga kegiatan ini perlu mendapatkan prioritas sebagai upaya dalam penyiapan prakondisi pengelolaan antara lain yang dikembangkan melalui Inventarisasi Hutan Nasional. Pelaksanaan inventarisasi hutan nasional sangat penting untuk dapat mengetahui dan menguasai isi sumber daya hutan dan sumber kekayaan alam lainnya. Kegiatan penatagunaan kawasan hutan pelaksanaaanya baru mencapai 12% dari seluruh kawasan hutan yang ada.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 108

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Prakondisi pengelolaan hutan dapat dikatakan mantap apabila seluruh areal hutan telah dikukuhkan dan ditetapkan sebagai kawasan hutan sesuai dengan fungsinya. Kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan pembangunan dan kepentingan lain telah mengakibatkan timbulnya tekanan terhadap keberadaan kawasan hutan, keadaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah terutama pada lokasi kawasan hutan yang masih belum selesai proses pengukuhannya, sehingga tata batas hutan harus terus dilaksanakan. Kawasan hutan di Indonesia yang luasnya mencapai 140,4 juta hektar dalam kegiatan perencanaan hutan yang merupakan tugas pokok dan fungsi dari BPKH telah dilaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : i. Pelaksanaan inventarisasi hutan yang bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh data dan informasi tentang sumber daya, potensi kekayaan alam hutan serta lingkungannya secara lengkap dilakukan melalui penapsiran citra satelit, pembuatan Temporary sample plot dan permanent sample plot, penapsiran citra spot, penapsiran potret udara, pembuatan peta vegetasi hutan dan penggunaan lahan pembuatan data base peta digital (GIS). Dari seluruh kegiatan tersebut belum sepenuhnya dapat mencakup seluruh kawasan hutan sehingga kegiatan-kegiatan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh BPKH agar didapat data yang valid dan terbaru dari kawasan hutan guna pengelolaan lebih lanjut. Kegiatan penngukuhan kawasan hutan antara lain telah dilaksanakan tata batas luar kawasan hutan, tata batas fungsi, tata batas areal kerja HPH, pengesahan batas luar kawasan hutan dan pengukuhan batas fungsi, penetapan batas kerja areal HPH, pemasangan titik kontrol GPS dan pengukuran jaringan titik kontrol. Pelaksanaan penataan batas kawasan hutan secara keseluruhan baru mencapal 32% sehingga masih banyak kawasan hutan yang belum dilaksanakan tata batas. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan hanya baru dilaksanakan tahap awal yaitu pembentukan konsep KPHP sedangkan kawasan hutan lainnya belum dilaksanakan. Penyusunan rencana kehutanan baik tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional yang berkelanjutan baik rencana jangka pendek, menengah maupun rencana jangka panjang masih belum tuntas.
IV- 109

ii.

iii.

iv.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam pelaksanaan kegiatan BPKH yang menjadi fokus utama untuk segera diselesaikan dan terdapat banyak permasalahan tugas kegiatan : a. Inventarisasi Hutan Pelaksanaan kegiatan inventarisasi hutan mendapatkan prioritas sebagai upaya dalam penyiapan prakondisi pengelolaan hutan antara lain pelaksanaan inventarisasi hutan yang dikembangkan melalui inventarisasi hutan nasional. Mempercepat pelaksanaan inventarisasi hutan melalui metoda penginderaan jauh dengan menggunakan citra landsat, spot dan potret udara serta memanfaatkan data hasil Proyek Nasional Forest Inventory dan melanjutkan pelaksanaan inventarisasi terrestis. b. Pengukuhan Kawasan Hutan Dalam upaya pemanfaatan pengelolaan hutan, maka seluruh areal hutan harus dikukuhkan dan ditetapkan sebagai kawasan hutan sesuai dengan fungsinya. Oleh karena belum selesainya penataan batas, pengukuhan kawasan hutan serta mendesaknya keperluan pemanfaaatan lahan serta pembangunan, maka telah terjadi tumpang tindih dalam penggunaan lahan hutan. Hal ini terjadi pada penggunaan lahan bagi kepentingan transmigrasi, pertanian, pengembangan wilayah, pertambangan, industri dan lainnya. Penataan fungsi-fungsi hutan diatur melalui penataan ruang dan perlunya pemaduserasian dalam pengaturan alokasi sumber daya hutan yang berkaitan dengan perencanaan dan pemanfaatannya. 4.3.3.4. Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) Perdiodisasi kelembagaan pada masa awal hingga terbentuknya Balai Pemantauan Pemanafaatan Hutan Produksi seperti diuraikan berikut ini : 1. BISHH (Balai Inventarisasi Sertifikasi Hasil Hutan), (1995 - 1999) Kepala Balai : Ir. Tabur 2. BEHPHH (Balai Eksploitasi Hutan dan Penguji Hasil Hutan), (1999 – 2002) Kepala Balai : (1) Ir. Taufik, (2) Ir. Alex Sudarsono 3. BSPHH (Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan) Wil XVII Jayapura (2002 –2006); Kepala Balai : Ir. Hendrik Ruamba 4. BPPHP (Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XVII Jayapura (2007 –Sekarang); Kepala Balai: Ir. Hendrik Ruamba
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 110

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sebelum terbentuk BISHH di Jayapura, kegiatan bergabung pada Loka Eksploitasi Penguji Hasil Hutan (LEHPHH) Wilayah Maluku-Irian Jaya berkedudukan di Ambon. Profil BSPHH Wilayah XVII Jayapura - Kedudukan Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH) adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 6341/Kpts-II/2002 tanggal 17 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan.

Ir. Hendrik Ruamba Kepala BPPHP Wilayah XVII Jayapura Tahun 2007- Sekarang

RIWAYAT HIDUP
Nama : Ir. Hendrik Ruamba Tempat Tanggal Lahir : Randawaya, 02-05-1959

Balai Sertifikasi Penguji Hasil Agama : K. Pantekosta Hutan (BSPHH) merupakan Pendidikan Terakhir : Lulus Sarjana Kehutanan Tahun 1987 unit Pelaksana Teknis (UPT) Riwayat Pekerjaan : di Bidang Sertifikasi Penguji 1. Staf Sub Balai Konsesrvasi I Sumber Daya Alam (KSDA) Irian Jaya (1987-1992) Hasil Hutan yang berada di 2. Kepala Sub Balai KSDA Irian Jaya I (1992-1998) bawah dan bertanggung 3. Kasi Konservasi pada Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih (1998-2002) jawab kepada Direktorat 4. Kepala Balai Sertifikasi Penguji Jendral Bina Produksi Hasil Hutan (BSPHH) (2002-2006) 5. Kepala Balai Pemantauan Pemanfaatan Kehutanan, Departemen Hutan Produksi (BP2HP) (2007-sekarang) Kehutanan yang dibentuk berdasarkan Keputusan Mentei Kehutanan No. 6341/Kpts-II/2002 tanggal 12 Juni 2002. Pembentukan organisasi BSPHH merupakan perubahan nomenklatur dan pengembangan dari UPT Dirjen Bina Broduksi Kehutanan yang telah ada sebelumnya, yaitu Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) dan Balai Eksploitasi Hutan dan Pengujian Hasil Hutan (BEHPHH). Perubahan tugas pokok dan fungsi BSPHH tersebut efektif mulai bulan Oktober 2002.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 111

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pengembangan Organisasi BEHPHH menjadi BSPHH dimaksudkan guna melaksanakan sertifikasi personil penguji hasil hutan dan pengawas penguji hasil hutan, penilaian sarana dan metode pengujian hasil hutan serta pengembangan sistem informasi hasuil hutan dan pengelolaan hutan produksi lestari. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. 6341/KptsII/2002 tanggal 17 Juni 2002, Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) BSPHH sebagai berikut : - Tugas Pokok BSPHH Tugas pokok BSPHH adalah Melaksanakan sertifikasi personil penguji hasil hutan dan pengawas penguji hasil hutan, penilaian sarana dan metode pengujian hasil hutan serta pengembangan sistem informasi hasil hutan dan pengelolaan hutan produksi lestari. - Fungsi BSPHH 1. Penyusunan rencana, program dan evaluasi pelaksanaan sertifikasi penguji hasil hutan; 2. Penilaian kinerja dan pengembangan profesi tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan; 3. Penyiapan tenaga penguji hasil hutan, tenaga pengawas penguji hasil hutan dan penyiapan rekomendasi pemberian Ijin Menguji; 4. Pemberian perpanjangan atau usulan pencabutan Ijin Menguji bagi tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan; 5. Penilaian sarana dan pengembangan metode pengujian hasil hutan yang digunakan oleh tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan; 6. Pelaksanaan desiminasi dan sosialisasi metode pengujian hasil hutan dan sistem pengelolaan hutan produksi lestari; 7. Pengembangan sistem informasi hasil hutan dan pengelolaan hutan produksi lestari 8. Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga. Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan mempunyai tugas melaksanakan sertifikasi personil penguji hasil hutan dan pengawas penguji hasil hutan, penilaian sarana dan metode pengujian hasil hutan serta pengembangan sistem informasi hasil hutan dan pengelolaan hutan produksi lestari.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 112

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam melaksanakan tugasnya, BSPHH menyelenggarakan fungsi : (1) Penyusunan rencana, program dan evaluasi pelaksanaan sertifikasi penguji hasil hutan Penilaian kinerja dan pengembangan profesi tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan (2) Penyiapan tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan dan penyiapan rekomendasi pemberian ijin penguji (3) Pemberian perpanjangan atau usulan pencabutan ijin menguji bagi tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan. (4) Penilaian sarana dan pengembangan metode pengujian hasil hutan yang digunakan oleh tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan (5) Pelaksanaan desiminasi dan sosialisasi metode pengujian hasil hutan dan sistem pengelolaan hutan produksi lestari (6) Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga Dalam melaksanakan tugas Kepala Balai, Kepala Subbagian Tata Usaha, Kepala Seksi, dan Kelompok Jabatan Fungsional di Lingkungan Balai wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi di lingkungan satuan organisasi masing-masing maupun dengan instansi lain di luar Balai sesuai bidang tugasnya - Sub Bagian Tata Usaha Sub bagian tata usaha mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program, urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta penyiapan bahan evaluasi pelaksanaan sertifikasi penguji hasil hutan - Seksi Pelayanan Teknis dan Informasi Seksi Pelayanan Teknis dan Informasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penilaian kerja dan pengembangan profesi tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan, penyiapan tenaga penguji hasil hutan dan tenaga pengawas penguji hasil hutan, penyiapan rekomendasi pemberian ijin menguji, pemberian perpanjangan atau usulan pencabutan Ijin Menguji, penilaian sarana dan pengembangan metode pengujian hasil hutan, desiminasi dan sosialisasi metode pengujian hasil hutan dan sistem pengelolaan hutan produksi lestari, serta pengembangan sistem informasi hasil hutan dan pengelolaan hutan produksi lestari.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 113

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

- Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan fungsional sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan fungsional terdiri dari sejumlah jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahliannya. Masing-masing kelompok jabatan fungsional dikoordinasikan oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk oleh Kepala Balai - Wilayah Kerja Wilayah kerja BSPHH Wilayah XVII Jayapura meliputi (1) Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Perjalanan Panjang Berdirinya BPPHP Terbentuknya Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) diawali pada tahun 1984, Menteri Kehutanan Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Nomor 101/Kpts-II/1984 tanggal 12 Mei 1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan yang kemudian disingkat BISHH. Di seluruh Indoensia BISHH dibagi atas sepuluh (10) wilayah yang letaknya tersebar di beberapa daerah. Papua termasuk ke dalam BISHH Wilayah X berlokasi di Ambon (Propinsi Maluku) mempunyai wilayah kerja di Propinsi Maluku dan Irian Jaya. Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan ( BISHH) Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan. Kemudian berdasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 147/Kpts-II/1991 tanggal 13 Maret 1991, maka Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dimana BISHH tersebut berkedudukan. Kepala Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) secara teknis fungsional dalam melaksanakan tugas sehari –hari dibina oleh Direktur Tertib Peredaran Hasil Hutan dan secara administrasi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dimana Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) berkedudukan. BISHH Wilayah X berlokasi di Ambon (Propinsi Maluku) mempunyai wilayah kerja di Propinsi Maluku dan Irian Jaya.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 114

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH) mempunyai tugas memberikan informasi dan bimbingan teknis serta melakukan pengujian, pengawasan dan sertifikasi hasil hutan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut BISHH mempunyai fungsi :  Memberikan informasi dan bimbingan teknis pengujian.  Melakukan sertifikasi hasil hutan  Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas penguji dan menilai hasil pengujian serta melakukan pengujian hasil hutan  Melakukan urusan tata usaha. Balai Eksploitasi Hutan dan Penguji Hasil Hutan (BEHPHH) dan Loka Eksploitasi Hutan dan Penguji Hasil Hutan (LEHPHH) Seiring dengan berkembangnya waktu dari tahun ke tahun ditunjang dengan berubahnya kabinet di pemerintahan maka sebagai pengganti Balai Informasi dan Sertifikasi Hasil Hutan (BISHH), Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 149/Kpts-II/99 tanggal 22 Maret 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Eksploitasi Hutan dan Pengujian Hasil Hutan (BEHPHH) serta Loka Eksploitasi Hutan dan Pengujian Hasil Hutan (LEHPHH). BEHPHH ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan dan mengakomodasi kegiatan di bidang pengusahaan hutan. BEHPHH Wilayah XV berlokasi di Jayapura (Propinsi Irian Jaya) mempunyai wilayah kerja di Kodya Jayapura, Kabupaten Jayawijaya, Merauke, Yapen Waropen, Biak dan Paniai. LEHPHH Wilayah IV berlokasi di Manokwari (Propinsi Irian Jaya) mempunyai wilayah kerja di Kabupaten Sorong, Manokwari dan Fak Fak. Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan BSPHH Kemudian berdasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6341/Kpts-II/2002 tanggal 17 Juni 2002, maka Balai Eksploitasi Hutan dan Pengujian Hasil Hutan (BEHPHH) dan Loka Eksploitasi Hutan dan Pengujian Hasil Hutan (LEHPHH) berubah menjadi Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH), yang dibagi menjadi 17 wilayah, Papua termasuk kedalam BSPHH Wilayah XVII Papua berkedudukan di Jayapura.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 115

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Bala Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP) Kemudian berdasar Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 557/MenhutII/2006 tanggal 29 Desember 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi, maka Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH) berubah menjadi Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi (BPPHP), yang dibagi menjadi 17; Papua termasuk kedalam BPPHP Wilayah XVII Papua, berkedudukan di Jayapura. Susunan Organisasi BPPHP Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang pemantauan pemanfaatan hutan produksi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi terdiri dari : - Sub bagian Tata Usaha; - Seksi Sertifikasi Tenaga Teknis; - Seksi Pemantauan dan Evaluasi Hutan Produksi; - Kelompok Fungsional  Sub bagian Tata Usaha bertugas melakukan penyusunan rencana dan program, urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas Balai.  Seksi Sertifikasi Tenaga Teknis bertugas melakukan pengembangan profesi tenaga teknis bidang bina produksi kehutanan, penyiapan tenaga teknis bidang bina produksi kehutanan dan rekomendasi pemberian ijin operasional teknis fungsional serta pemberian perpanjangan atau usulan penjabutan ijin operasional teknis fungsional.  Seksi Pemantauan dan Evaluasi Hutan Produksi bertugas melakukan penyiapan bahan sarana dan pengembangan metode pemanfaatan hutan produksi yang digunakan oleh tenaga teknis bidang bina produksi kehutanan, penyiapan bahan penilaian kinerja, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana kerja usaha pemanfaatan hutan produksi jangka panjang, rencana pemenuhan bahan baku industri, industri primer kapasitas di atas 6000 m3/tahun dan dokumen peredaran hasil hutan serta pelaksanaan pengembangan informasi pemanfaatan hutan produksi lestari.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 116

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

 Kelompok Jabatan Fungsional bertugas melakukan kegiatan fungsional sesuai dengan jabatan fungsional masingmasing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas dan Fungsi BPPHP Tugas BPPHP yaitu melaksanakan sertifikasi tenaga teknis bidang Bina Produksi Kehutanan, penilaian sarana dan metode pemanfaatan hutan produksi serta pengembangan informasi, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pemanfaatan hutan produksi lestari. Fungsi BPPHP antara lain :  Penyusunan rencana, program dan evaluasi pelaksanaan tugas pokok Balai;  Penilaian kinerja dan pengembangan profesi tenaga teknis bidang Bina Produksi Kehutanan;  Penyiapan tenaga teknis bidang Bina Produksi Kehutanan dan penyiapan rekomendasi pemberian ijin operasional teknis fungsional;  Pemberian perpanjangan atau usulan pencabutan ijin operasional teknis fungsional;  Penilaian sarana dan pengembangan metode pemanfaatan hutan produksi yang digunakan oleh tenaga teknis bidang Bina Produksi Kehutanan;  Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana kerja usaha pemanfaatan hutan produksi jangka panjang, rencana pemenuhan bahan baku industri, industri primer kapasitas di atas 6000 m3/tahun dan dokumen hasil hutan;  Pelaksanaan pengembangan informasi pemanfaatan hutan produksi lestari;  Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga. 4.3.3.5. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo Periodisasi berdirinya BPDAS Memberamo mulai dari Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dapat diurutkan sebagai berikut : 1. Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (Sub BRLKT); Tahun 1985-1999 2. Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT); Tahun 1999-2002 3. Balai Pengelolaan DAS Memberamo; Tahun 2002-sekarang
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 117

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Adapun para kepala balai yang masing-masing memimpin Balai pada masanya adalah sebagai berikut: 1. Ir. Willy Brordust Pongmasak (1985-1990) 2. Ir. Piether Ganing Tangko (1990-1997) 3. Ir. Bambang Sugito, MP (1997-1999) 4. Ir. Suhartadi (1999-2002) 5. Ir. Anthonius Patandiaman, MP (2002-2006) 6. Ir. Garendel Siboro, MSi (2006-sekarang) Sejarah Perjalanan Organisasi BPDAS Memberamo Pada awalnya dibentuk organisasi Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 98/Kpts-II/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah pada tanggal 16 Desember 1983. Keputusan ini menginduk pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 34/Kpts-11/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Departemen Kehutanan di Propinsi.

Ir. Garendel Siboro, Msi Kepala BPDAS Memberamo (2006 –sekarang)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Ir. Garendel Siboro, Msi

Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT) Agama : Katholik Pendidikan Terakhir : MSi pada PSL-IPB, adalah Unit Pelaksana Teknis di tahun 1996 bidang rehabilitasi lahan dan Riwayat Pekerjaan : 1. Kasi Pengolahan Pengumpulan konservasi tanah dalam Data Kanwil Dephut Tim Tim (1991-1997) lingkungan Departemen 2. Kasi Evaluasi dan Pelaporan BRLKT Medan (1997-2002) Kehutanan yang berada di bawah 3. Kasi Kelembagaan (2002-2003) dan bertanggung jawab kepada 4. Kasi Program (2003-2006) 5. Ka BPDAS Memberamo (2006-sekarang) Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. BRLKT mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana, bimbingan, monitor pelaksanaan dan evaluasi hasil pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.
Tempat/Tgl Lahir : Hutagalung, Sagala 29 – 09 2007

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 118

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Fungsi BRKLT : a. Melakukan penyusunan rencana dan program reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; b. Melakukan bimbingan terhadap pelaksanaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; c. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; d. Melakukan urusan tata usaha. Kepala Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah membawahi : a. Sub Bagian Tata Usaha ; b. Seksi Program dan Laporan ; c. Seksi Bimbingan Teknis ; d. Kelompok Tenaga Fungsional Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan administratif kepada semua satuan organisasi dalam lingkungan Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah dan mempunyai fungsi : a. Melakukan urusan kepegawaian ; b. Melakukan urusan keuangan ; c. Melakukan urusan surat-menyurat, perlengkapan dan rumah tangga. Sub Bagian Tata Usaha terdiri dari: (a) Umum dan (b) Urusan Keuangan Urusan Umum mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, suratmenyurat, perlengkapan dan rumah tangga. Urusan Keuangan mempunyai tugas melakukan urusan keuangan. Seksi Program dan Laporan mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program serta menilai dan menyusun laporan pelaksanaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah. Seksi Bimbingan Teknis mempunyai tugas melakukan bimbingan pelaksanaan dan bantuan teknis reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah. Kelompok Tenaga Fungsional Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah mempunyai tugas melaksanakan identifikasi dan pengkajian teknologi rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang terdiri dari beberapa tenaga fungsional rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dalam berbagai keahlian. Jumlah tenaga fungsional diatur sesuai dengan kebutuhan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 119

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah adalah Unit Pelaksana Teknis di bidang rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. Tugas Sub BRKLT adalah : menyusun rencana, melakukan bimbingan dan pelaksanaan kegiatan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah di wilayah Daerah Aliran Sungai. Fungsi Sub BRKLT, yaitu: a. Melakukan penyusunan rencana reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; b. Melakukan kegiatan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; c. Memberikan bimbingan serta bantuan teknik pelaksanaan kegiatan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah ; d. Memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah serta keadaan tata air dan daya dukung lahan Daerah Aliran Sungai ; e. Melakukan urusan tata usaha. Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah terdiri dari : a. Urusan Tata Usaha ; b. Sub Seksi Rancangan Teknik ; c. Sub Seksi Monitor dan Evaluasi ; d. Kelompok Tenaga Fungsional Teknisi dan Bimbingan Lapangan. Urusan Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, perlengkapan dan rumah tangga. Sub Seksi Rancangan Teknik mempunyai tugas menyusun rancangan teknik dan pembiayaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah. Sub Seksi Monitor dan Evaluasi mempunyai tugas memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah serta keadaan tata air dan daya dukung lahan Daerah Aliran Sungai. Kelompok Tenaga Fungsional Teknisi dan Bimbingan Lapangan mempunyai tugas melakukan, memberikan bimbingan dan bantuan teknik reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah. Kelompok Tenaga Fungsional Teknisi dan Bimbingan Lapangan terdiri dari sejumlah tenaga teknisi dan petugas lapangan yang Jumlahnya diatur berdasarkan kebutuhan.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 120

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

PETA WILAYAH KERJA BPDAS MEMBERAMO

Jumlah Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di Indonesia terdapat di 11 (sebelas) lokasi dan Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah terdapat di 40 (empat puluh) lokasi. Irian Jaya termasuk ke dalam Sub BRLKT Irian Jaya DAS di Wilayah Propinsi Irian Jaya berkedudukan di Jayapura dan termasuk ke dalam BRLKT Wilayah XI DAS di Wilayah Propinsi Maluku dan Irian Jaya berkedudukan di Ambon. Selanjutnya pada 27 Pebruari Tahun 1998 dikeluarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 203/Kpts-II/1998 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Rehabilitasi dan Konservasi Tanah dan Unit Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah. Tugas Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRKLT) dan Unit Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (URLKT) adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan; BRLKT dan URLKT mempunyai tugas melaksanakan penyusunan perencanaan makro, monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS dan keberhasilan RLKT, penilaian rencana tahunan dan rancangan teknis RLKT.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 121

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Fungsi BRKLT dan URKLT a. Penyusunan rencana Jangka Panjang (Pola RLKT) dan Jangka Menengah (Rencana Teknik Lapangan RLKT); b. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi Pengelolaan DAS; pelaksanaan monitoring dan evaluasi keberhasilan DAS; c. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi keberhasilan RLKT; d. Penilaian Rancangan Teknis RLKT; e. Penilaian Rencana Teknis Penghijauan dan Reboisasi; f. Urusan Tata Usaha. Kepala BRLKT membawahi : a. Sub Bagian Tata Usaha; b. Seksi Program; c. Kelompok Jabatan Fungsional. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas urusan kepegawaian, keuangan, surat menyurat, perlengkapan, dan rumah tangga. Seksi Program mempunyai tugas melakukan rencana dan program RLKT, monitoring dan evaluasi, penilaian rancangan teknik RLKT, rencana teknik penghijauan dan reboisasi serta menyusun laporan kegiatan RLKT. Fungsi BRKT meliputi kegiatan sebagai berikut : a. Melakukan penyusunan rencana dan program RLKT; b. Melakukan penilaian rencana teknik tahunan reboisasi dan penghijauan; c. Melakukan penilaian rancangan teknik RLKT; d. Melakukan monitoring dan evaluasi keberhasilan RLKT; e. Melakukan monitoring dan evaluasi dan pelaksanaan pengelolaan DAS; f. Melakukan evaluasi dan pelaporan keberhasilan RLKT. Seksi Program terdiri dari : (a) Sub Seksi Perencanaan; (b) Sub Seksi Evaluasi dan Pelaporan; dan (c) Sub Seksi Bimbingan Teknik. Sub Seksi Perencanaan mempunyai tugas mempersiapkan bahan penyusunan rencana dan program RLKT, mempersiapkan bahan penilaian rencana teknik penghijauan dan reboisasi dan bahan penilaian rancangan teknik RLKT. Sub Seksi Evaluasi dan Pelaporan mempunyai tugas mempersiapkan bahan evaluasi dan pelaporan keberhasilan penghijauan, reboisasi, Konservasi Tanah, hutan rakyat, perlebahan dan persuteraan alam, bahan evaluasi dan pelaporan pengelolaan DAS serta mempersiapkan bahan penyusunan laporan kegiatan RLKT.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 122

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sub Seksi Bimbingan Teknis mempunyai tugas mempersiapkan bahan bimbingan teknik reboisasi, penghijauan, konservasi tanah, hutan rakyat, perlebahan dan persuteraan alam serta mempersiapkan bahan pemasyrakatan keberhasilan RLKT. Unit Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah terdiri dari : a. Urusan Tata Usaha; b. Sub Seksi Perencanaan; c. Sub Seksi Evaluasi dan Pelaporan; d. Kelompok Jabatan Fungsional. Urusan Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan Kepegawaian, keuangan, surat menyurat, perlengkapan dan tumah tangga. Sub Seksi Perencanaan mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program RLKT, menyiapkan bahan penilaian rencana teknik penghijauan dan reboisasi, dan menyiapkan bahan penilaian rancangan teknik RLKT, menyiapkan bahan bimbingan teknis penghijauan, reboisasi, koservasi tanah, hutan rakyat, perlebahan dan persuteraan alam serta menyiapkan bahan pemasyarakatan keberhasilan RLKT. Sub Seksi Evaluasi dan Pelaporan mempunyai tugas mempersiapkan bahan evaluasi dan pelaporan pengelolaan DAS, bahan evaluasi keberhasilan reboisasi, penghijauan, konservasi tanah, hutan rakyat, perlebahan, persuteraan alam serta mempersiapkan penyusunan laporan kegiatan RLKT. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan teknis rehabilitasi lahan dan bidang konservasi tanah, teknis reboisasi dan teknis konservasi tanah. Kelompok Jabatan Fungsional di Balai dan Unit Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah terdiri dari : (a) Kelompok teknisi kehutanan dibidang Reboisasi; dan (b) Kelompok teknisi kehutanan dibidang Konservasi Tanah. Kelompok jabatan fungsional dipimpin oleh pejabat fungsional yang senior, dimana jumlah tenaga fungsional disesuaikan kebutuhan; Terakhir pada tanggal 7 Maret 2002 diterbitkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 665/Kpts-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 123

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) adalah unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial yag dipimpin oleh seorang kepala balai. BPDAS mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana pengembangan kelembagaan dan evaluasi pengelolaan daerah aliran sungai. Fungsi yang diemban oleh BPDAS, meliputi enam macam, yaitu: a. penyusunan rencana pengelolaan daerah aliran sungai; b. penyusunan dan penyajian informasi daerah aliran sungai; c. Pengembangan model pengelolaan daerah aliran sungai; d. pengembangan kelembagaan dan kemitraan pengelolaan daerah aliran sungai; e. pemantauan dan evaluasi pengelolaan daerah aliran sungai; f. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai terdiri dari dua tipe, yaitu : a. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tipe A; b. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tipe B. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tipe A; a. Sub bagian Tata Usaha; b. Seksi Program Daerah Aliran Sungai; c. Seksi Kelembagaan Daerah Aliran Sungai; d. Seksi Evaluasi Daerah Aliran Sungai; e. Kelompok Jabatan Fungsional. Sub bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan dan rumah tangga Balai. Seksi Program Daerah Aliran Sungai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan inventarisasi dan identifikasi potensi dan kerusakan daerah aliran sungai, serta penyusunan program dan rencana pengelolaan daerah aliran sungai. Seksi Kelembagaan Daerah Aliran Sungai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan inventarisasi dan identifikasi sistem kelembagaan masyarakat, pengembangan model kelembagaan dan kemitraan pengelolaan daerah aliran sungai.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 124

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Seksi Evaluasi Daerah Aliran Sungai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pemantauan dan evaluasi tata air, penggunaan lahan, sosial ekonomi, kelembagaan, dan pengelolaan sistem informasi pengelolaan daerah aliran sungai. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tipe B terdiri dari : a. Sub bagian Tata Usaha; b. Seksi Program dan Kelembagaan Daerah Aliran Sungai; c. Seksi Evaluasi Daerah Aliran Sungai; d. Kelompok Jabatan Fungsional. Sub Balai. Seksi Program dan Kelembagaan Daerah Aliran Sungai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan inventarisasi dan identifikasi potensi dan kerusakan daerah aliran sungai, penyusunan program dan rencana, serta inventarisasi dan identifikasi sistem kelembagaan masyarakat, pengembangan model kelembagaan dan kemitraan pengelolaan daerah aliran sungai. Seksi Evaluasi Daerah Aliran Sungai mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pemantauan dan evaluasi tata air, penggunaan lahan, sosial ekonomi, kelembagaan, dan pengelolaan sistem informasi pengelolaan daerah aliran sungai. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan fungsional sesuai dengan keahlian masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari sejumlah jabatan yang terbagi dalam berbagai kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahliannya dimana jumlahnya ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Masing-masing Kelompok Jabatan Fungsional dikoordinasikan oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk oleh Kepala Balai. bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan

kepegawaian, keuangan, tata persuratan, perlengkapan dan rumah tangga

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 125

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

DAS di Papua Saat ini di Papua terdapat 19 DAS dan 110 Sub 1 ARAMASA DS 992,412 2.4 DAS, yaitu 4 DAS lintas 2 BALIEM DS 644,812 1.6 negara (Sentani, 3 BIAK 291,943 0.7 Memberamo, Digul, 4 DIGUL DS 3,920,708 9.6 Merauke Bulaka dan 3 5 EILANDEN LORENTZ DS 4,012,743 9.8 DAS Lintas Provinsi 6 KOROL BOMBERAI DS 1,737,415 4.3 (Omba, Muru dan 7 MAMBERAMO DS 9,368,959 22.9 Waren). Data tersebut 8 MERAUKE BULAKA DS 4,388,557 10.7 9 MURU DS 449,853 1.1 pada saat ini tengah 10 MUTURI DS 2,143,417 5.2 direvisi dan masih dalam 11 OMBA DS 838,750 2.1 proses, menjadi: 23 DAS 12 OTOKWA BLUMEN DS 1,861,585 4.6 dan 190 Sub DAS, 13 RANSIKI DS 314,288 0.8 sementara DAS lintas 14 REMU DS 2,991,313 7.3 negara dan provinsi 15 SENTANI DS 1,640,972 4 masih dalam jumlah yang 16 TUGA MINAJERWI DS 1,694,529 4.1 sama. 17 WAREN DS 2,652,172 6.5 18 WARSAMSON DS 633,851 1.6 Saat ini sedang dilakukan 19 YAPEN 242,043 0.6 revisi terhadap Data DAS yang ada, karena (1) Batas DAS/Sub DAS tidak konsisten dengan pengertian DAS; (2) Luas DAS berbeda dengan luas kawasan hutan dan luas administrasi serta (3) derdapat 3 DAS Prioritas I (Sentani, Baliem, Remu).
No. DAS Luas (ha) %

Kondisi DAS Prioritas di Papua

4.3.3.6. Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku di Manokwari Periodisasi Organisasi Organisasi Balai Peneletian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku (BP2KPM) di manwokawri dimulai pada tahun 1985 dalam bentuk keproyekan. Keputusan Menteri Kehutanan tengang Organisasi telah diterbitkan, yaitu melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 095/KptsII/1984, tentang, yang diterbitkan pada tanggal 12 Mei 1984, namun saat itu hanya berlaku untuk Propinsi Sumatera Utara di Pematang Siantar, Propinsi Kalimantan Timur di Samarinda dan Propinsi Sulawesi Selatan di Ujung Pandang.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 126

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selanjutnya pda tahun 1993 diterbitkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 52/Kpts-II/1993j tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan yang mengubah Keputusan Menteri Kehutanan Tampak Muka Kantor BP2KPM Manokwari Nomor 095/Kpts-II/1984, tentang, yang diterbitkan pada tanggal 12 Mei 1984. Selanjutnya Keputsan di atas diubah dengan terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 279/Kpts-II/1998, tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 095/Kpts-II/1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan sebagaimana telah dua kali diubah, terakhir dengan Keputusan menteri Kehutanan Nomor 52/Kpts-II/1993. Selanjutnya pada tahun 2002, diterbitkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6184/Kpts-II/2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku. Terakhir diterbtikan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 409/KptsII/2003, tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6184/KptsII/2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Papua dan Maluku.
Suasana Kerja di Kantor BP2KPM, Manokwari

Tugas dan Fungsi Tugas BP2KPM Manokwari berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 6184/Kpts-II/2002 adalah Melaksanakan penelitian dan pengembangan Ekosistem Hutan Australasia. Sedangkan fungsi lembaga ini adalah untuk menyelenggarakan :
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 127

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

    

Penyusunan rencana dan program kerja penelitian dan pengembangan Ekosistem Hutan Australasia; Pelaksanaan penelitian dan pengembangan Ekosistem Hutan Australasia; Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan penelitian dan pengembangan Ekosistem Hutan Australasia; Pelaksanaan publikasi dan diseminasi hasil penelitian dan pengembangan Ekosistem Hutan Australasia Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Periodisasi Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 1. Pada masa kepyoyeken (bakal BP2KPM) dikepalai oleh Ir. Sasa Abdurrahim, MS Tahun 1985-1989 2. Ir. Abdul Adjiz Tahun 1990 –1995 3. Ir. Basoeki Karyaatmadja, M.Sc Tahun 1995-1999 4. Ir. Daud Leppe 1999-2007 5. Ir. Thomas TB Amboryaman, M.Sc 1997 - sekarang Hasil –Hasil Penelitian Penelitian pada saat Balaai Litbang Manokwari masih dalam bentuk keproyekan, antar lain seperti yang diterbitkan dalam Buletin Matoa Volume 1 Nomor 1 Tahun 1988, sebagai berikut : 1. PERKEMBANGAN PERCOBAAN INTRODUKSI JENIS PADA WANARISET BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANOKWARI Oleh : R. Mulyana Omon and Sasa Abdurrohim 2. EVALUASI SERANGAN INGER-INGER (NEOTHERMAS TECTONAE DAMM.) PADA TEGAKAN JATI (TECTONA GRANDIS L.F.) DALAM TAMAN WISATA GUNUNG MEJA Oleh : Herman Remetwa and Sasa Abdurrohim 3. PERCOBAAN BUDIDAYA TIGA JENIS SAGU DI DESA TANDIA KECAMATAN WASIOR, MANOKWARI Oleh : Johanes P. Auri and Sasa Abdurrohim 4. PERCOBAAN PENANAMAN STEK BATANG LINGGOA (PTEROCARPUS INDICUS WILD.) DALAM KANTONG PLASTIK Oleh : Motong Sarijan, Sasa Abdurrohim and Yorienta Sasarila

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 128

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

5. PERKECAMBAHAN BENIH MAHONI (SWIETENIA MACROPHYLLA KING) ASAL KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK Oleh : Ilyas Kadir Daud and Sasa Abdurrohim 6. BAHAN PENGAWETAN EMPAT JENIS KAYU SECARA RENDAMAN DINGIN DENGAN BAHAN PENGAWET IMPRALIT CKB Oleh : Sasa Abdurrohim and Pipin Permadi 7. PERSENTASE HIDUP DAN PERTUMBUHAN TINGGI TIGA JENIS MATOA PADA WANARISET I ANGGRESI, MANOKWARI 8. PERCOBAAN PENYAPIHAN ANAKAN SAGU Oleh : Johanes P. Auri, Sasa Abdurrohim dan Ilyas Kadir Daud. 9. PRODUKTIVITAS GERGAJI RANTAI PADA AREAL PENEBANGAN PT. HANURATA JAYAPURA Oleh : Sasa Abdurrohim, Panehas Wally, Alex N. Homer dan Bambang Nugroho 10. PENGAWETAN SEPULUH JENIS KAYU SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN MAMAKAI BAHAN PENGAWET DIFFUSOL CB DAN BASILIT CFK Oleh : Sasa Abdurrohim 11. KERAGAMAN JENIS DAN PEMANFAATAN MANGROVE OLEH BURUNG DI KOMPLEKS HUTAN MANGROVE BINTUNI, MANOKWARI Oleh : Ammar S. Wiriosoepharto Buletin Penelitian Kehutanan, Vol. I, No. 1 Halaman : 1-50 Tahun 1996 1. PENGARUH PEMBERIAN PAKAN DENGAN KONSENTRASI PROTEIN DAN SAGU TERHADAP PERTUMBUHAN BUAYA (CROCODILUS NOVAEGUINEAE); Oleh : Yoseph O. Lekitoo, Pujo Setio and Mahfudz Halaman : 1-6 2. PENGARUH WADAH PENYIMPANAN DAN KELAS DIAMETER TERHADAP PERTUMBUHAN STUMP WIEKSTROMIA POLYANTHA MERR. Oleh : Regina R. Maai and Batseba A. Suripatty 3. PERTUMBUHAN DAMAR (AGATHIS LABILLARDIERI WARB.) SATU TAHUN SETELAH PENANAMAN DI WANARISET II INAMBERI Oleh : Totok M. Untarto, R.R. Maai , B.A. Suripatty and A. Rizal H.B. 4. TEKNIK INVENTARISASI HUTAN DI IRIAN JAYA; Oleh : Encep Rachman, Pudja M. Utomo and R. Kuswandi

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 129

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

5. PELAKSANAAN HPH BINA DESA HUTAN DI IRIAN JAYA; Oleh : Hidayat Alhamid and Bambang Nugroho 6. PENELITIAN PEMELIHAN JENIS DAN TINGKAT PENGGUNAAN KAYU BAKAR DALAM RANGKA PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN DI WAMENA; Oleh : Encep Rachman, Mahfudz and R. Kuswandi Buletin Penelitian Kehutanan, Vol. I, Nomor 2 Tahun 1996 1. POLA PERKEMBANGAN BURUNG DARA MAHKOTA VIKTORIA Oleh : Pujo Setio,Hidayat Alhamid dan Yosep O. Lekitoo 2. PENGARUH WADAH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP PERSENTASE HIDUP ANAKAN (Cinnamum cullilawaene); Oleh : Batseba A. Suripatty dan Regina R.Maai 3. FENOLOGI AGATHIS LABILLARDIERI Warb.dan intsia spp DI BIAK DAN SORONG; Oleh: Totok Mei Untarto,Encep Rachman,dan Ifhendri 4. PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT PADA SUKU WETIPOHESELO DI LEMBAH BALIEM IRIAN JAYA; Oleh : Hidayat Alhamid dan Neni Sumarliani 5. PENGARUH ARAH LETAK BUAH DAN MEDIA KECAMBAH TERHADAP PERSENTASE DAN NILAI KECAMBAH DAMAR (Agathis Labillardieri Warb) Oleh : Batseba A.S, Regina R.Maai. Totok M.U dan A. Rizal 6. PERSENTASE TUMBUH BEBERAPA JENIS TANAMAN DI DAERAH TANGKAPAN AIR SENTANI, BUPER CENDERAWASIH; Oleh : Yoseph O. Lekitoo, Achmad Rizal H.B. dan Situmeang 7. PENANAMAN PADA KAWASAN HUTAN OLEH MASYARAKAT DI KABUPATEN JAYAWIJAYA, IRIAN JAYA Achmad Rizal H.B. dan lfhendri, 2001 Buletin Penelitian BPK Manokwari, Vol. 6 No.1 Tahun. 2001 1. KERAGAMAN JENIS KUPU-KUPU SIANG DI YONGSU, CAGAR ALAM PEGUNUNGAN CYCLOPS BAGIAN UTARA, IRIAN JAYA; Oleh : Henry Silka lnnah, Edy Rosariyanto, Hugo Yoteni and Henk van Mastrigt, 2001

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 130

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

2. PENANAMAN PADA KAWASAN HUTAN OLEH MASYARAKAT DI KABUPATEN JAYAWIJAYA, IRIAN JAYA Oleh : Achmad Rizal H.B. dan lfhendri, 2001 3. POLA TATA RUANG DAN ZONASI KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KAPET BIAK; Oleh : Herman Remetwa and Totok Mei Untarto, 2001 Buletin Penelitian Kehutanan Manokwari, Vol. VII No. 1 & 2, 2002 1. DAMPAK EKSPLOITASI MANGROVE TERHADAPA KUALITAS EKOSISTEM PERAIRAN ESTUARI PADA AREAL HPH PT. BINTUNI UTAMA MURNI WOOD INDUSTRIES (BUMWI) DI BABO, MANOKWARI Oleh : Relawan Kuswandi, Ronni Bawole dan Ezrom Batorinding 2. IDENTIFIKASI ETNOBOTANI MASYARAKAT SUKU MAKSAM DI CAGAR ALAM PEGUNUNGAN TAMRAU BAGIAN UTARA; Oleh : Abdullah Tuharea, Achmad Rizal H. B., dan Ifhendri 3. KERAGAMAN JENIS KUPU-KUPU DE DAERAH SAUKOREM, C.AGAR ALAM PEGUNUNGAN TAMRAU UTARA, PAPUA; Oleh : Edy Michelis Rosariyanto, Henry Silka Innah, and Totak Mei Untarto 4. KAJIAN PENGUASAAN LUAS OPTIMUM AREAL HPH DALAM RANGKA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI DI IRIAN JAYA; Oleh : Encep Rachman and Max J. Tokede 5. KAJIAN PENGETAHUAN MASYARAKAT SUKU MEYAKH MENGENAI BEBERAPA JENIS POHON SEBAGAI BAHAN OBAT TRADISIONAL; Oleh : Abdullah Tuharea dan C. Y. Hans Arwan 6. PENETAPAN ANGKA BENTUK DAN TABEL BERAT ROTAN Calamus Heteracanthus Zipp DAN Korthalsia Zippelii Burret) PADA KONDISI KERING UDARA ASAL HUTAN DATARAN RENDAH RANSIKI, MANOKWARI; oleh : Susan Trida Salosa, Anna Renwari and Encep Rachman Bulletin Matoa No. 12, 2002 1. PENGARUH PEMANENAN KAYU TERHADAP KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL DAN REGENERASI HUTAN PADA TANAMAN MANGROVE; Oleh: Pudja M. Utomo dan Relawan Kuswandi
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 131

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

2. KEADAAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA MASYARAKAT DI SEKITAR DAS REMU SORONG; Oleh : Irma Yeny & Arif Hasan 3. KAJIAN PELAKSANAAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN KRITIS DI DISTRIK KEBAR – MANOKWARI; Oleh : Encep Rachman dan Pudja Mardi Utomo 4. PEMANFAATAN TUMBUHAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HASI PENDUDUK DESA WEKARI KECAMATAN AMBERBAKEN, KABUPATEN MANOKWARI; Oleh : Abdullah Tuharea, Wilson Rumbiak, Jufri Thaib dan Arif Hasan 5. PENDUGAAN VOLUME POHON JENIS KETAPANG (Terminalia bellorica) DI KAWASAN HUTAN TELUK KAMRAU KAIMANA; Oleh : Pudja Mardi Utomo dan Encep Rachman 6. BEBERAPA INFORMASI TENTANG MINYAK LAWANG DI PAPUA; Oleh : Pudja Mardi Utomo 4.3.3.7. Balai Latihan Kehutanan Balai Latihan Kehutanan dibentuk berdasarkan Keputusan oleh Menteri Kehutanan Nomor 094/Kpts-II/1984 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Latihan Kehutanan. Lembaga ini sebagai Unit Pelaksana Teknis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan di Bidang Latihan Kehutanan yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Kehutanan yang dipimpin oleh seorang Kepala. Balai Latihan Kehutanan (BLK) memiliki tugas melaksanakan kursus dan latihan pegawai dan non pegawai di bidang kehutanan. Fungsi BLK adalah sebagai penyelenggara dalam hal : (a) mempersiapkan, mengatur dan mengevaluasi pelaksanaan kursus dan latihan, serta mengelola sarana latihan; (b) melakukan pengajaran teori dan praktek; (c) melakukan urusan tata usaha. Kepala BLK membawahi : (a) Balai Latihan Kehutanan terdiri dari; (b) Sub Bagian Tata Usaha; (c) Seksi Penyelenggaraan Latihan; dan (d) Kelompok Pelatih/ Instruktur. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, surat-menyurat, perlengkapan dan rumah tangga.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 132

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Seksi Penyelenggaraan Latihan mempunyai tugas mempersiapkan, mengatur dan mengevaluasi pelaksanaan kursus dan latihan, serta mengelola sarana latihan. Kelompok Pelatih/ Instruktur mempunyai tugas mempersiapkan bahan pelajaran dan melakukan pengajaran teori dan praktek; memiliki jabatan fungsional di bidang kursus dan latihan kehutanan dengan jumlah yang diatur sesuai dengan kebutuhan. Periodisasi Kepala Balai Latihan Kehutanan Periode Pejabat yang memimpin Balai Latihan Kehutanan Manokwari adalah sebagai berikut: 1. Ir. Samuel Tiranda : 1985-1987 2. Ir. Aep Rohandi : 1987-1992 3. Ir. Hermes Kudik : 1992-1996 4. Ir. Eduard Simbolon : 1996-sekarang Kurikulum/ Kehutanan Modul Balai Latihan

- Inventarisasi Hutan Latar Belakang; Kondisi hutan yang semakin memprihatinkan, menyebabkan kelestarian dan aliran manfaat baik yang tangible maupun yang intangible terganggu dan secara signifikan berdampak luas terhadap performasi ekonomi, sosial dan Ir. Edward Simbolon Kepala BLK Manokwari ekologi. Berdasarkan hasil interpretasi citra Tahun 1996 - sekarang satelit tahun 1995-1999 pada 432 areal HPH/eks HPH, hutan produksi yang rusak mencapai 14,2 juta Ha, sedangkan kerusakan pada hutan lindung dan konservasi mencapai 5,9 juta Ha. Kerusakan tersebut antara lain disebebakan oleh pengelolaan hutan yang tidak tepat, penebangan liar, perambahan hutan, pembukaan hutan skala besar dan kebakaran hutan. Sebagai dasar untuk menuju pengelolaan hutan yang baik diperlukan informasi karakteristik hutan yang lengkap dan akurat yang diperoleh dari hasil kegiatan inventarisasi hutan.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 133

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama NIP Tempat/Tanggal Lahir Pangkat/Golongan Terakhir 2001 Jabatan Terakhir/Saat ini Instansi Alamat Pendidikan Terakhir Riwayat Pekerjaan
No Uraian Perubahan Pangkat/Jabatan Tenaga harian pada Direktorat RRL CPNS PNS Ka. Subdin BRLKT Asasan Barumun Medan Penyesuaian Gaji Pokok SK Naik Pangkat SK Naik Pangkat Ka. Sub BRLKT Wompo Se Ular Ka. Sub Bid Bina Program Pusdiklat Bogor SK. Naik Pangkat Ka. SPL BLK Kadipaten Ka. SKMA Kadipaten Ka. BLK Manokwari SK Naik Pangkat SK Naik Pangkat Kenaikan Gaji Berkala Terhitung Mulai Tanggal 01-06-1978 01-03-1981 01-04-1982 18-05-1984 01-04-1985 01-04-1985 01-04-1985 29-08-1988 Golongan Surat Keputusan

: : : :

Ir. Edward Simbolon 080045851 Pangururan, 17 Pebruari 1951 Pembina Tk I IV/a sejak 1 Jan.

: Kepala BLK Manokwari, sejak 1997 : BLK Manokwari, Papua Barat : Jl. Serma Suandi, Sanggeng Manokwari – Papua Barat : S1- Pertanian USU - Medan, 1978

1 2 3 4 5 6 7 8

III/a III/a III/a III/a III/a III/b III/c III/c

929/AP/IV/ 1981 929/AP/IV/ 1981 285/AP/2/ 1982 053a/Kpts/OP/5/ 1984 014/PG/II/KWDephut/1985 3410/D/10/ 1985 17077/D/10/ 1987 160/Kpts/OP/ 8/1988 168/Kpts/OP/ 7/1989 707/D/II/1991 080/Kpts/OP/ II/1991 23/Kpts/08/3/199 4 84/Kpts/O8/ 3/1997 261/D/II/1997 24/K/2001 S.46/IIBLK/KP/2006

9 10 11 12 13 14 15 16

01-07-1989 01-04-1991 05-11-1991 07-01-1994 25-10-1997 13-11-1997 01-01-2001 01-06-2006

III/c III/d III/d III/d III/d IV/a IV/b IV/b

Akurasi hasil inventarisasi hutan dipengaruhi oleh faktor alat dan faktor pelaksana juga faktor kecocokan teknik inventarisasi yang diterapkan dalam kondisi/ karakteristik hutan yang diinventarisasi. Dalam hal ini kondisi/karakteristik hutan yang berbeda memerlukan teknik inventarisasi yang berbeda pula. Dengan kata lain dalam rangka mendukung kualitas hasil inventarisasi hutan, maka sangat penting adanya upaya menyediakan tenaga dibidang tersebut melalui penyelenggaraan pelatihan teknik inventarisasi hutan.

Tujuan; Setelah mengikuti pelatihan peserta diharapkan mampu melaksanakan inventarisasi hutan dengan beberapa teknik sampling untuk menaksir potensi tegakan dengan tingkat presisi 10%. Materi Pokok  Kebijaksanaan Inventarisasi Hutan  Inventarisasi Hutan  Pengukuran, Pemetaan dan Pengetahuan GPS  Pengenalan Jenis Pohon  Pengukuran Pohon  Pengolahan Data dan Pelaporan
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 134

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Peserta  Sasaran : PNS yang akan ditunjuk atau sudah bertugas di bidang inventarisasi hutan pada instansi kehutanan khususnya di daerah  Kualifikasi : Minimal SLTA, D-3 Kehutanan dan S1, Umur maksimal 40 tahun Pengajar; Widyaiswara Pusat Diklat Kehutanan dan Balai Diklat Kehutanan, Instansi Dephut/Lembaga lain yang terkait yang kompeten dibidangnya

Pemetaan Kontur & Posisi Pohon serta Perencanaan RIL Tahun 2006

Latar Belakang; Sejak diberlakukannya penanaman modal asing dan domestik dalam pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia tahun 1970 hingga saat ini, hutan alam produksi di Indonesia tahun 1970 hingga saat ini, hutan alam produksi Indonesia mengalami kerusakan berat karena dieksploitasi dengan cara yang tidak ramah lingkungan, sehingga kelestariannya tidak tercapai. Di sisi lain, mencermati kecenderungan parahnya kondisi hutan alam produksi di Indonesia, pasar global telah mengambil langkah yang selektif dalam mengimport produk sektor kehutanan dari Indonesia. Guna mengatasi permasalahan tersebut dan untuk keberlanjutannya, diperlukan upaya perbaikan pengelolaan dan pemanfaatan hutan alam produksi sehingga dari aspek lingkungan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Salah satu langkah untuk mengoptimalkan terlaksananya pengelolaan hutan yang berkelanjutan yang juga merupakan kebijakan Dephut RI (SK Dirjen PH No.27/VIPHA/2001) adalah penerapan Teknik Pembalakan berdampak Rendah atau Reduce Impact Logging (RIL) pada tiap pengelolaan hutan alam atau hutan tanaman. Untuk itu diperlukan pelatihan Pemetaan kontur dan Posisi Pohon serta Perencanaan RIL sebagai dasar penerapan RIL bagi pegawai perusahaan pengelolaan hutan dan pegawai kehutanan Pemda Propinsi/Kabupaten. Tujuan; Mampu memahami pentingnya penerapan RIL sebagai prasyarat pengelolaan hutan alam produksi lestari (PHAPL) dapat tercapai dan mampu melaksanakan survei pemetaan kontur dan posisi serta merencanakan RIL

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 135

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Materi Pokok  Perencanaan RIL dalam PHAPL  Pengantar Teknik Perencanaan RIL  Prosedur Survei Kontur dan Posisi Pohon  Kapita Selekta Peserta; Sasaran : Perusahaan IUPHHK, Instansi Kehutanan Pemda Propinsi/Kabupaten; Kualifikasi : Pendidikan minimal SLTA, umur maksimal 45 tahun, masa kerja minimal 3 tahun sebagai Gedung Balai Latihan Kehutanan di Manokwari surveyor/ teknisi/ perencana/ pelaksana/ supervisor bidang inventarisasi, pemetaan, penataan, pemanenan kayu& pembukaan wilayah hutan. Pengajar : Widyaiswara Pusat Diklat, Instansi Lain Terkait Durasi : 6 hari, 50 JPL, Teori 40%, Praktek 60%  Survey Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan Latar Belakang; Salah satu unsur utama pembangunan ekonomi di Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat adalah sumber daya hutan (SDH). Selain SDH di pandang sebagai unsur sumber daya ekonomi, hutan juga berperan sebagai penyangga kehidupan diantaranya, penyedia air, pabrik zat asam dan gudang plasma Jadwal Pelatihan di BLK Manokwari nutfah.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 136

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tentu saja peran ganda tersebut akan terwujud jika pengelolaannya benarbenar terencana dan optimal sesuai dengan daya dukung dan fungsi hutannya. Untuk itu pembangunan sektor kehutanan harus dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan keadaan sosial ekonomi serta keperluan masyarakat sekitar. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan tersebut diatas, maka upaya menyelenggarakan Diklat Survey Sosial Ekonomi Kehutanan dipandang sebagai salah satu hal yang baik dan tepat untuk dilaksanakan. Tujuan; Diharapkan memiliki pen getahuan , keterampilan dan sikap kerja, mendeskripsikan kondisi masyarakat di dalam dan sekitar hutan agar dapat digunakan sebagai bahan panduan pengembangan dan penilaian kegiatan kehutanan dengan pola PHBM (Community Based Forest Management) Materi Pokok
     

Kecerdasan Spiritual Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Sekitar Hutan Metode Survei Sosial Ekonomi Pengolahan Data dan Pelaporan Penyusunan Alat Bantu/Instrument Survey

Peserta ; Sasaran : Dishut Kab/Kota/Propinsi yang menangani urusan kehutanan, BPDAS,BKSDA dan BTN serta UPT Litbang; Kualifikasi : Pendidikan Minimal SLTA Pengajar : Widyaiswara Pusat Diklat Kehutanan dan Balai Diklat Kehutanan, Instansi Dephut/lembaga lain yang terkait yang kompeten di bidangnya Durasi : 15 hari, 100 JPL, Teori 40%, Praktek 60%

Pengawas Timber Cruising

Latar Belakang; Pengelolaan hutan bertujuan agar dapat memberikan manfaat optimal dan secara signifikan berdampak luas dan positif terhadap kondisi ekonomi, sosial dan ekologi. Pengelolaan hutan yang baik perlu didukung data dan informasi serta karakteristik yang akurat dari hutan yang akan dikelola.
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 137

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kebijakan pemerintah dalam pelaksanaan cruising dan pengawasan cruising ini antara lain terdapat dalam Surat Keputusan Menhut No.126/Kpts-II/2003 tentang penatausahaan hasil hutan yang menyebutkan bahwa pemegang IUPHHK dan ILS yang akan melakukan penebangan, wajib melakukan timber cruising dan selanjutnya instansi kehutanan Kabupaten melaksanakan pengawasan cruising dari hasil timber cruising tersebut. Tujuan; Peserta diharapkan mampu melakukan pengawasan Timber Cruising dengan baik dan benar sesuai dengan juknis yang berlaku Materi Pokok :  Kecerdasan Spiritual  Kebijakan Dephut Bidang Inventarisasi Hutan  Teknik Pengukuran, Pemetaan dan Pengetahuan GPS  Pengenalan Jenis Pohon Latar Belakang; Hutan alam Indonesia mempunyai kenakekaragaman hayati cukup tinggi. Berbagai ahli botani mengemukakan sekitar 25.000 jenis tumbuhan berbunga/berbiji terdapat dihutan alam sekitar 17.000 pulau di Indonesia. Lebih dari 4.000 jenis pohon yang terdapat di Indonesia baru sebagian kecil diantaranya yang telah dikenal dan dimanfaatkan untuk keperluan ekonomi maupun penelitian ilmiah. Upaya pengenalan sifat-sifat dan kegunaan kayu dimulai dengan pengenalan jenis pohon yang bersangkutan. Disamping banyaknya jenis-jenis kayu yang tersebar luas di wilayah Indonesia, tenaga teknis kehutanan yang ahli dan terampil dalam pengenalan jenis-jenis pohon pada saat ini dirasakan masih sangat kurang, sehingga diperlukan adanya pelatihan-pelatihan, salah satunya adalah pelatihan pengenalan jenis pohon bagi pegawai yang diserahi tugas tersebut. Tujuan; Mampu mengidentifikasi dan mengenal jenis-jenis pohon berdasarkan ciri-ciri morfologisnya untuk menunjang kegiatan inventarisasi hutan. Materi Pokok  Kebijaksanaan Dephut di Bidang PH dan Bidang Konservasi Alam  Sistematika Dunia Tumbuh-tumbuhan  Ekologi dan Penyebaran Tumbuh-Tumbuhan  Dendrologi dan Teknik Pengenalan Jenis Pohon  Pembuatan Herbarium  Pengenalan Jenis Tumbuhan yang Dilindungi  Teknik Survival dan SAR
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 138

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Peserta; Sasaran : Dinas yang mengurusi kehutanan di Prop/Kab/Kota dan UPT Dephut, Kualifikasi :  SLTA atau sederajat  Masa kerja minimal 2 tahun  Umur maksimal 40 tahun Pengajar : Widyaiswara Pusat/Daerah, instansi lain terkait dan pejabat yang menguasai materi diklat Durasi : 30 hari, 200 Jpl, Teori 40%, Praktek 60%  Diklat Pra Jabatan Tingkat III Latar Belakang; Sebagai tindak lanjut dari PP No.101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS, LAN telah menetapkan beberapa ketentuan pelaksanaan diklat, diantaranya diklat Pra Jabatan Tingkat III yang merupakan syarat pengangkatan CPNS untuk menjadi PNS Golongan III, Diklat Pra Jabatan Tingkat III dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, disamping pengetahuan dasar tentang Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara, Bidang Tugas dan budaya organisasinya agar mampu melaksanakan tugas dan perannya sebagai pelayanan masyarakat. Tujuan; Sesuai dengan ketentuan PP No.101 Tahun 2000 Diklat Pra Jabatan Tingkat III bertujuan mencipatakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya kepemerintahan yang baik. Materi Pokok :  Dinamika kelompok  Sistem Penyelenggaraan Negara Republik Indonesia  Administrasi Kepegawaian Negara

Tampak Muka Gedung Balai Latihan Kehutanan di Manokwari

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 139

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

      

Etika Organisasi Pemerintah Pelayanan Prima Budaya Kerja Organisasi Pemerintah Manajemen Perkantoran Modern Membangun Kerjasama Team (Team Building) Komunikasi yang Efektif Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka NKRI

Peserta; Sasaran : CPNS Departemen kehutanan; Kualifikasi : Pendidikan Diploma IV, Sarjana Pengajar : Widyaiswara Pusat/BDK Kehutanan, instansi terkait Durasi : 14 hari, 135 jam pelajaran (JPL)  Diklat Pra-Jabatan Tingkat II Latar Belakang; Sebagai tindak lanjut dari PP No.101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS, LAN telah menetapkan beberapa ketentuan pelaksanaan diklat, diantaranya diklat Pra Jabatan Tingkat II. Mulai tahun anggaran 1999-2000 Diklat Pra Jabatan Tingkat II menggunakan kurikulum sebagaimana keputusan Ketua LAN No.929/IX/6/4/1998 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Pra Jabatan Tingkat II, dengan jangka waktu 14 hari kerja setara dengan 120 jpl @ 45 menit. Dalam penerapan kurikulum baru tersebut, terdapat beberapa perubahan yang menyangkut ketentuan ujian, penilaian dan penetapan kelulusan peserta. Tujuan; berdasarkan UU No.8 Tahun 1974, UU No.43 tahun 2000 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian antara lain menegaaskan bahwa kepada CPNS diberikan pelatihan prajabatan dengan tujuan agar pegawai tersebut terampil dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Materi Pokok :  Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Negara RI  Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan RI  Administrasi Kepegawaian Negara  Komunikasi yang Efektif  Etika Organisasi Pemerintah  Pelayanan Prima  Budaya Kerja Organisasi Pemerintah  Manajemen Perkantoran Modern
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 140

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Peserta  CPNS Departemen Kehutanan  Kualifikasi pendidikan SLTA, Diploma I, II dan III Pengajar : Widayaiswara Pusat/Balai Diklat Kehutanan, instansi terkait Durasi : 14 hari 120 JPL 4.3.3.8. Sekolah Kehutanan Menengah Atas Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) di Manokwari berada di bawah pembinaan Balai Latihan Kehutanan Manokwari dan satu komplek dengan BLK Manokwari. Penjelasan rinci mengenai SKMA Manokwari dijabarkan dalam Bab V Periodisasi Pendidikan. 4.3.4. Periodisasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (MPTI) Asosiasi-asosiasi di bidang kehutanan, kontribusinya dalam menggerakkan sektor kehutanan tidak dapat diragukan lagi. Asosiasi-asosiasi yang tergabung dalam MPI mampu menjadi motor penggerak sektor kehutanan baik di bagian hulu maupun di bagian hilir. Kontribusi devisa yang besar pada pertengahan era 90-an yang mencapai 7 –8 milyar dollar adalah kontribusi nyata dari anggota asosiasi-asosiasi kehutanan. Asosiasiasosiasi menjadi pelaku paling aktif dalam kinerja produksi kehutanan. Sektor kehutanan juga mendapat dukungan penting dari LSM-LSM yang memiliki perhatian pada sektor kehutanan. Maraknya persoalan-persoalan lingkungan dan sosial direspon dengan cepat sekali oleh LSM-LSM baik LSM lokal maupun LSM dari luar negeri. LSM mampu mengemban peran sebagai penyeimbang pengelolaan kehutanan yang cenderung product oriented sehingga integritas hutan sebagai sebuah ekosistem dapat dijaga keseimbangannya. Berikut adalah periodisasi perkembangan Indonesia di Prpovinsi Papua. Masyarakat Perhutanan

Organisasi MPI Bakorda Papua mempunyai anggota 3 Asosiasi yaitu : 1. APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia) 2. ISA (Indonesia Sawmill and Woodworking Association) asosiasi ini setelah Munas di Surabaya asosiasi ini dikenal dengan singkatan ISWA. 3. Apkindo (Asosiasi Panel Kayu Indonesia)
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 141

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

MPI BAKORDA PAPUA Susunan Ketua Wakil Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara kepengurusan MPI Bakorda Papua periode 1998-2003

berdasarkan SK No. 206/01A/MPI/1198 tanggal 4 November 1998 adalah : : Bosco Fernandez : H. Saleh S. Alui : Subroto DS : Fransiskus Kariyanto : Ir. Suryana

KOMDA APHI PAPUA Kepengurusan Aphi Papua periode 1988 – 2003 sesuai SK No. 543/APHI/Pusat/1198 tanggal 03 November 1998 adalah sebagai berikut :
Komisaris I Komisaris II Komisaris III Sekretaris Bendahara : Bosco Renandez, BA (PT. Barito Pacific Timber Group) : H. Saleh S. Alui (PT. Damai Setiatama) : Subroto DS (PT. Kayu Lapis Indonesia) : Ronny Makal (PT. Kebun Sari Putera) : Ir. Suryana, MM (PT. Djajanti Group)

Dalam perjalanan periode kepengurusan MPI Bakorda Papua, beberapa pengurus tidak dapat aktif sepenuhnya dan mengundurkan diri karena keputusan manajemen perusahaan yang melakukan mutasi. Adapun pengurus yang tidak aktif adalah : Komisaris II Sekretaris : Subroto D. S. : Ronny Makal

Untuk memaksimalkan kerja kepengurusan komda APHI Papua akhirnya diadakan pergantian pengurus antar waktu yang disahkan melalui : 1. SK APHI No. 891/Org-APHI/Pusat/1002 tanggal 22 Oktober mengangkat Sdr. Bani Susilo sebagai sekretaris Komda APHI Papua periode 1998 –2003. 2. SK APHI No. 894/Org-APHI/Pusat/1002 tanggal 22 Oktober 2002 mengangkat Sdr. Tulus Sianipar sebagai Komisaris III Komda APHI Papua periode 1998 –2003. Dengan terbitnya SK ini maka susunan pengurus Komda APHI Papua adalah sebagai berikut :
PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI IV- 142

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Komisaris I Komisaris II Komisaris III Sekretaris Bendahara

: Bosco Renandez, BA (PT. Barito Pacific Timber Group) : H. Saleh S. Alui (PT. Damai Setiatama) : Ir. Tulus Sianipar (PT. Korindo Group) : Ir. Bani Susilo : Ir. Suryana, MM (PT. Djajanti Group)

Atas pertimbangan masih terdapat konflik internal organisasi maka diterbitkan SK No. 724/Org-APHI/Pusat/1103 tanggal 4 November 2003 tentang penyesuaian periode kepengurusan Komda APHI Papua yang isinya memperpanjang masa bhakti kepengurusan Komda APHI Papua sampai terselenggaranya Munas APHI V tahun 2004 dengan susunan kepengurusan seperti tersebut di atas. Pada bulan Agustus 2006 Bpk. Saleh S. Alui meninggal dunia dan posisinya tetap dibiarkan kosong hingga saat ini. Pada 29 November 2006 APHI Pusat berhasil melakukan konsolidasi kepengurusan dan berhasil membentuk kepengurusan baru dibawah kepemimpinan Bpk. Letjen (Purn) Sugiono. Sedangkan kepengurusan Komda APHI Papua saat ini sedang mengupayakan untuk dilakukan Rapat Anggota tentang Reorganisasi. Komda ISA/ ISWA Papua Kepengurusan Komda ISA Papua periode 1996 – 200 sesuai SK No. 067/III/01/1996/ISA tanggal 1 Maret 1996 adalah sebagai berikut : Komisaris Sekretaris Bendahara : Bosco Renandez, BA : Sumardi : Ir. Suryana, MM

Wkl Komisaris : Ir. Erizon

Kepengurusan Komda ISA Papua periode 1998 –2003 sesuai SK No. 226/01/98/ISA tanggal 02 November 1998 adalah sebagai berikut : Komisaris Sekretaris Bendahara : Bosco Renandez, BA : Fransiskus Kariyanto, SE : Ir. Suryana, MM (PT. Djajanti Group)

Wkl Komisaris : Subroto D.S.

Kepengurusan ini masih belum dirubah/ reorganisasi.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 143

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Komda APKINDO Papua Komda Apkindo Papua sempat terbentuk namun sulit untuk dapat eksis, mengingat susunan kepengurusan banyak melibatkan kepala perwakilan yang ada di Jayapura namun kurang memahami permasalahan industri plywood. Catatan :  Sebelum tahun 1996 operasional dikendalikan langsung oleh pengurus khususnya ketua asosiasi masing-masing.  Pada periode 1998 dan seterusnya organisasi mulai merekrut tenaga sekretariat full time atas alasan agar roda organisasi berjalan efektif. Periode tahun 1998 – 2000 adalah Sdr. Frans Kariyanto, SE dan periode 2000 –sekarang Sdr. Ir. Bani Susilo.

PERIODISASI BIROKRASI/ORGANISASI

IV- 144

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful