Belajar dan Model-Model Pembelajaran

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah Swt. karena atas izin dan rahmat-Nya lah penyusun dapat menyelesaikan tugas pembuatan buku dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran PTAG. Penyusun banyak berterima kasih kepada Dr. Sri Handayani, MPd. sebagai dosen Mata Kuliah Media Pembelajaran yang telah membimbing dalam pengerjaan tugas ini, serta teman-teman Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri 2010 yang turut membantu dalam penyelesaian tugas ini. Judul buku ini adalah “Belajar dan Model-Model Pembelajara”. Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas semester padat mata kuliah Media Pembelajaran PTAG. Dalam proses penyusunan buku ini, penyusun menyadari masih banyak kekurangan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan buku ini. Penyusun berharap buku ini dapat menunjang pembelajaran Media Pembelajaran PTAG dan dapat bermanfaat bagi semua orang. Akan tetapi, penyusun menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Oleh karena itu penyusun menerima saran dan kritik agar dapat membuat buku yang lebih bagus lagi.

Bandung, Agustus 2012

Penyusun 

.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

i

DAFTAR ISI

Daftar Isi ..................................................................................................... i Kata Pengantar .......................................................................................... ii

BAB I TEORI BELAJAR ....................................................................... 1 A. Teori Belajar Behavioristik ............................................................. 3 B. Teori Belajar Kognitivisme ............................................................ 6 C. Teori Belajar Konstruktivisme ........................................................ 9 D. Teori Belajar Humanistik ................................................................ 11 BAB II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI .......................... 16 A. Teori Belajar Menurut J.B. Bruner ................................................. 17 B. Teori Koneksionisme ...................................................................... 26 C. Teori Belajar Skinner ...................................................................... 33 D. Teori Belajar Piaget ........................................................................ 41 BAB III MODEL_MODEL PEMBELAJARAN .................................... 47 A. Model PAKEM ............................................................................... 48 B. Model Pembelajaran Example non Example .................................. 56 C. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning .................... 62 D. Model Pembelajaran Number Head Together ............................... 73 E. Model Pembelajaran Project Work ................................................. 76 F. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ......................................... 81 G. Model Pembelajaran Debate ........................................................... 87 H. Model Pembelajaran Role Playing................................................... 92 I. Model Pembelajaran Based Learning ............................................. 99 Daftar Pustaka ............................................................................................ 103

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

ii

Bab 1 TEORI BELAJAR Belajar dan Model-Model Pembelajaran 1 .

dan disimpan. meningkatkan. yaitu. Teori Belajar adalah hipotesis rumit yang menggambarkan bagaimana sebenarnya prosedur ini terjadi. (2) kognitivisme. humanis dan sosial/situasional. emosional. behaviorisme hanya berfokus pada aspek-aspek obyektif yang diamati pada proses pembelajaran. atau membuat perubahan dalam pengetahuan seseorang. Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis dari teori teori belajar ini. Teori-teori tidak memberikan solusi.I TEORI BELAJAR Dalam psikologi dan pendidikan. Ormrod. keterampilan. Sedangkan teori konstruktivisme mengemukakan bahwa belajar sebagai proses saat peserta didik secara aktif membangun ide-ide baru dalam belajar. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 2 . Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam mempelajari sesuatu. pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai proses yang menyatukan pengaruh kognitif. Merriam dan Caffarella (1991) menyoroti empat pendekatan atau orientasi untuk belajar. Pendekatan ini melibatkan ide yang bertentangan dengan tujuan dan proses pembelajaran dan pendidikan juga peran para pendidik dalam mengajar. behavioris. dan pandangan dunia (Illeris. Teori belajar memiliki dua nilai utama menurut Hill (2002). tetapi mengarahkan perhatian kita pada variabel yang penting dalam menemukan solusi. yaitu. Hal ini juga dianggap sebagai cara di mana informasi diserap. Yang lainnya adalah dalam mengusulkan dimana kita seharusnya mencari solusi untuk masalah praktis. diproses. (1)behaviorisme. Secara garis besar. dan (3) kontruktivisme. 1995). 2004. cognitivist. nilai. dan lingkungan dan pengalaman untuk memperoleh. Salah satunya adalah dalam menyediakan kita dengan kosa kata dan kerangka kerja konseptual untuk menafsirkan contoh pembelajaran yang kita amati.

1. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak. berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Teori Belajar Behavioristik Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar berarti penguatan ikatan. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Mendidik pada dasarnya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 3 . Sedangkan respons adalah akibat atau dampak. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. diukur dan dinilai secara konkret. Ciri-Ciri Teori Behavioristik : a) b) c) Mementingkan faktor lingkungan Menekankan pada faktor bagian Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif d) e) Sifatnya mekanis Mementingkan masa lalu Teori behaviouristik ini memiliki beberapa cabang teori yang menekankan pembelajaran pada titik yang berbeda-beda yaitu. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). Classical Conditioning oleh Ivan Pavlov yang menyimpulkan bahwa sesuatu yang di pelajari dapat di kembalikan kepada stimulus respon. asosiasi. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-respon. mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.A. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukumhukum mekanistik. baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar.

Berpikir harus merupakan tingkah laku senso motoris dan berbicara dalam hati adalah tingkah laku berfikir. Adanya kesan motoris di tujukan terhadap berbagai stimulus. sedangkan kebiasaan – kebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan di sebabkan oleh latihan dan belajar. Teori berpikir.beliau mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon. dalam teori ini di sebutkan bahwa ada dua macam respon. Respon ini di timbulkan oleh perangsang – perangsang tertentu yang disebut electing stimuli yang sifatnya relative tetap dan terbatas Belajar dan Model-Model Pembelajaran 4 . e. dan cinta. 3. yaitu : takut. Perasaan. Apabila kita menganalisis tingkah laku yang kompleks. Respondent response. Pendapat yang di kemukakan yaitu : a. yaitu : a. 2. Reaksi instinktif atau kodrati yang di bawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali. Operant Conditioning . Stimulus merupakan situasi objektif dan respon merupakan reaksi subjektif individu terhadap stimulus. Tingkah laku dan Afektif. meskipun mereka tetap mengakui bahwa semua hal itu penting. b. c. Teori stimulus dan respon. namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. d. marah. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar. Di temukan tiga reaksi emosional yang di bawa sejak lahir. namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Hal ini di lakukan berulang – ulang agar hubungan stimulus dan respon semakin kuat. Perasaan senag dan tidak senang merupakan reaksi senso motoris. Teori Behaviorisme Watson. akan di temukan rangkaian unit stimulus dan respon yang disebut reflex.adalah memberikan stimulus yang memberi respon sesuai yang kita inginkan. Pengamatan dan kesan.Teori ini di pelopori oleh Skinner. Pengaruh Lingkungan tehadap perkembangan individu. Penganut aliran ini lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal – hal yang tidak bisa diukur.

Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran. Teori Systematic Behavior Clark Hull. (2)idenya tentang proses internal dianggap abstrak dan sulit dibuktikan melalui eksperimen empiris. Respon ini merupakan bagian yang tebesar dari pada tingkah laku manusia dan kemungkinannya untuk di modifikasi tak terbatas. Teori ini tidak banyak dipakai dalam dunia praktis karena (1)dianggap terlalu kompleks dan sulit dimengerti. berarti responnya menjadi lebih kuat / intensif. 4. Mengemukakan konsep pokok teorinya yang sangat di pengaruhi oleh teori evolusi Darwin. meskipun sering digunakan dalam berbagai eksperimen 5. Oleh karena itu. perasaan. kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. kemudian memperoleh hadiah sehingga ia akan lebih giat lagi belajar. Titik berat teori Skinner adalah pada respon kedua ini. atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 5 . b. Teori Koneksionisme Thorndike. Menurut Hull. atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. dan (3)partikularistic. dalam teori Hull. Menurut Thorndike. meskipun menghasilkan respon yang berbeda–beda bentuknya. misalnya makanan yang menimbulkan air liur. perasaan. belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive). usaha utk menggeneralisasi hasil eksperimen secara berlebihan. tidur. Operant response. misalnya saja seorang anak belajar. Perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme sehingga sifatnya mengikuti. haus. yang dapat pula berupa pikiran. Stimulus hampir selalu di kaitkan dengan kebutuhan biologis ini. yamg biasa di sebut dengan reinforcing stimuli atau reinforcer. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar.serta hubungan antara stimulus dan respons sudah pasti sehingga kemungkinan untuk di modifikasi kecil. dan sebagainya. Dia berpendapat bahwa tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. seperti lapar. Respon yang timbul dan berkembangnya di ikuti oleh perangsang–perangsang tertentu.

dan cepat atau lambat binatang itu tersandung pada palang sehingga kotak terbuka dan binatang itu lepas ke tempat makanan. Model ini menekankan pada bagaimana sebuah informasi diproses. maka binatang itu sering melakukan bermacam kelakuan. Teori Belajar Kognitivisme Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Teori Edwin Gutrie. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. tetapi juga dengan stimulus lain seperti minum kopi. Selanjutnya Edwin Guthrie berpendapat bahwa hubungan antara stimulus dan respon merupakan faktor kritis dalam belajar. menyimpan.gerakan/tindakan. Sebagai contoh. mengemukakan teori kontinguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. seperti menggigit. menggosokkan badannya ke sisi kotak. suatu respon akan lebih kuat apabila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. 6. Selain itu. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Dalam hal ini apabila binatang terkurung. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit. Hal ini dapat terjadi karena merokok bukan hanya berhubungan dengan satu macam stimulus.Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. yaitu yang dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionismeProsedur eksperimennya ialah membuat agar setiap binatang lepas dari kurungannya sampai ke tempat makanan. B. akan mampu mengubah kebiasaan seseorang. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran. Oleh karena itu. Menurutnya suatu hukuman yang di berikan pada waktu yang tepat. di perlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. seseorang yang memiliki kebiasaan merokok sulit di tinggalkan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 6 . tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Bruner menitikberatkan pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Proses pembelajaran strategi kognitif merupakan proses reflection in action. Sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), guru memiliki posisi yang menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola dan mengevaluasi pembelajaran (Gagne, 1974). Ausubel (1968) mengatakan bahwa guru bertugas mengalihkan seperangkat pengetahuan yang terorganisasikan sehingga pengetahuan tersebut menjadi bagian dari sistem pengetahuan siswa. Sejalan dengan itu, Kurikulum { KTSP } menegaskan bahwa kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar sangat strategis dan menentukan. Strategis karena guru akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Menentukan karena gurulah yang memilah dan memilih bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi guru dalam upaya memperluas dan memperdalam materi ialah rancangan pembelajaran yang efektif, efisien, menarik dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dicapai oleh setiap guru. Menurut Snelbecker (1983 : 465), CDT (Center for the Development of Teaching) merupakan model preskripsi pembelajaran yang paling lengkap yang memperhitungkan teori pembelajaran behavioristik, teori pembelajaran humanistik dan teori pembelajaran kognitif. CDT juga memerhatikan fungsi kegiatan mental yang berhubungan dengan proses belajar yang diadopsi dari pandangan neo-behaviorist, agar tercapai suatu proses belajar (internal condition) diperlukan situasi belajar (external condition) tertentu sesuai dengan unjuk kerja belajar. Asumsi ini kemudian digunakan oleh CDT dalam penetapan tujuan belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

7

Konsep yang diajukan teori pembelajaran humanistik terhadap individu siswa juga diadaptasi oleh CDT untuk mempreskripsikan cara membelajarkan siswa. Menurut Rogers (1983) dalam melaksanakan tugasnya di kelas, guru harus mampu memfasilitasi tumbuhnya kemamuan belajar siswa melalui motivasi. Begitu pula Maslow (1971), sebagai seorang tokoh psikologi humanistik, menentukan perlunya pemberian motivasi bagi tumbuhnya semangat belajar siswa. Pendapat dan prinsipprinsip pemberian motivasi dari dua tokoh psikologi humanistik ini digunakan oleh CDT dalam merancang strategi penyajian Keungulan CDT secara teoretis juga dibuktikan lewat berbagai penelitian. Hasil-hasil penelitian Merrill dan Tennyson (1982), Suhardjono (1990), dan Tugur (1991), semuanya menunjukkan bahwa CDT memiliki keunggulan dalam meningkatkan perolehan belajar pada performansi mengingat, menggunakan, dan mengembangkan, baik untuk tipe isi pelajaran yang berupa fakta, konsep, prosedur, maupun prinsip.
Tabel 1. Asumsi Umum Tentang Teori Belajar Kognitif Asumsi Pembelajaran sekarang berasal dari proses Pembelajaran sebelumnya Pembelajaran informasi melibatkan Penjelasan Siswa memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda sehingga mereka mengkonstruksi satu hal yang sama secara berbeda. proses Ini merupakan proses aktif yang mengacu pada pengetahuan siswa Pemaknaan Pemaknaan hubungan merupakan dikonstruksi refleksi dari pengalaman antara yang proses

hubungan

pembelajaran sebelumnya dengan yang baru. Kegiatan belajar mengajar menekankan Penekananya pada hubungan dan strategi pada kebermaknaan yang tujuanya

membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

8

C. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Ciri-ciri teori Konstruktivisme
a) b)

Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

c)

Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah

d)

Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaanSelain itu

yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

9

Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme Belajar dan Model-Model Pembelajaran 10 . Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya. menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya Untuk mengajar dengan baik. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi engetahuan pada diri peserta didik. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi .menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan. sehingga pengetahuan materi yang dibangun atau dikonstruksi para siswa sendirisan bukan ditanamkan oleh guru. Aplikasi dan Implikasi dalam Pembelajaran Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Guru hanya sebagai fasilitator. namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. mediator. Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”. Karena. guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu. tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.1. Selian itu murid terlibat secara langsung dengan aktif.. 2. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru. siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain. mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. bukan dari sudut pandang pengamatnya. teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya. Dalam teori belajar humanistik. mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. menjana idea dan membuat keputusan. Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar. Faham kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru. Teori Belajar Humanistik Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 11 . Kelebihan Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. D. seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya. Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap dunianya. Prinsip-prinsip Teori Belajar Humanistik Beberapa prinsip Teori belajar Humanistik 1. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu 3. Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam proses belajar 8. dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi pengalaman baru. Menurut hemat kami. Manusia itu memiliki keinginan alamiah untuk belajar. (2). Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh cara. Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri 10. Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam 9. 6.Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 12 . 1. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya 7. 4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil 5. yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Manusia mempunyai belajar alami 2.

pikiran maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama. mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. 2. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri 4. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 13 . Aplikasi Teori Belajar Humanistik Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis. melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang ditunjukkan. kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. kreatifitas. jujur dan positif.(3) belajar dapat di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas . (4) belajar secara partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri. (5) belajar atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi. 3. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat. Merumuskan tujuan belajar yang jelas 2. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. memilih pilihannya sendiri. dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu penting. Diharapkan siswa memahami potensi diri . Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. memaknai proses pembelajaran secara mandiri 5. dan (6) kebebasan.

6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk

bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. 7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya 8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. 3. Implikasi Teori Belajar Humanistik Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk): 1) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas 2) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum. 3) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk

melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

14

6) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. 8) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa 9) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar 10) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah : a) Merespon perasaan siswa b) Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang c) Berdialog dan berdiskusi dengan siswa d) Menghargai siswa e) Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan f) Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa) g) Tersenyum pada siswa

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

15

Bab II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI

Belajar dan Model-Model Pembelajaran

16

Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972. Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan iaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. pemikir dan pencipta informasi. proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner menganggap. Jerome Bruner. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia. seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran.II TEORI BELAJAR MENURUT PARA AHLI A. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik.B Bruner Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model Belajar dan Model-Model Pembelajaran 17 . Teori Belajar Menurut J. yaitu memperoleh informasi baru. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu. Jerome S. motivasi. dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Setelah itu. ia menganggap manusia sebagai pemroses. transformasi pengetahuan. didasarkan pada dua prinsip. bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif. beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England. dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat. Walau bagaimanapun. Bruner bersetuju dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui peringkatperingkat tertentu. Dalam mempelajarai manusia. belajar dan berfikir.

pengajaran didasarkan kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan pengetahuan sedia ada. dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal.kanak-kanak membentuk konsep segiempat dengan mengenal segiempat mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk bersisi empat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 18 . Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar. ditinjau dari segi aktivasi. Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya. 3. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah. Misalnya. Beliau berpendapat bahawa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari.mengenai kenyataan yang dibangunnya. ditinjau dari segi cara penyajian. sifat materi pelajaran dan perbedaan individu. Bentuk dan pemberian reinforsemen. dengan memperhatikan faktor-faktor belajar sebelumnya. 4. Kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciri-ciri persamaan dan perbezaan. tingkat perkembangan anak. ekonomi dan kuasa. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan. Selain itu. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal. pemeliharaan dan pengarahan. Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup: 1. Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. 2.

(2) tahap transformasi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 19 . yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu.dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi tiga kedalam kategori segitiga. Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasiformulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak. Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner a) Empat Tema tentang Pendidikan Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi. yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak. dan (3) evaluasi. b) Model dan Kategori Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. 1. Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. dapat dihubungkan satu dengan yang lain. yaitu tahap memahami. Dengan intuisi.kedalam kategori segiempat. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan.

Ketiga cara itu ialah: cara enaktif. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita. Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Jadi. transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan. Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain. kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian- Belajar dan Model-Model Pembelajaran 20 . (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner. c) Belajar sebagai Proses Kognitif Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner (1966). Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. 1973). jadi bersifat manipulatif. cara ikonik dan cara simbolik. suatu model alam (model of the world). Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan.Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru. Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuanny secara sempurna.

karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan. Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen. d) Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini. maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”.kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. tentang pelajaran penggunaan timbangan. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda. tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Disamping itu. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek. Secara sin gkat. Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial. ”Bayangan” timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih Belajar dan Model-Model Pembelajaran 21 . kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks.

Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. b. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning). 2. Pemaknaan berdasarkan hubungan. Model kognitif ini memiliki Belajar dan Model-Model Pembelajaran 22 . Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. d. Diantaranya adalah: a. pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan. b. Bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya. Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi. Selain itu. Belajar Penemuan Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. Bruner menganggap bahwa belajar peneuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. c. c. Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.kompleks. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.

Symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak. Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel. konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Enactive. siswa mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Sejalan dengan pernyataan di atas. dan Gagne. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar c. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan.perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan. Dari ketiga peneliti ini. maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. b. Menurut Ausubel. Iconic. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 23 . yaitu: a. dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual. Bruner. masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. menyimpan. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

Mengevaluasi proses dan hasil belajar Bermakna Ausubel Dalam aplikasinya 1. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak. Menentukan instruksional 2. Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki 4. Mencari ilustrasi contoh-contoh. Sesuatu pengetahuan yang diperolehi melalui pengalaman atau pendidikan formal akan disimpan dan disusun melalui proses pengumpulan pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian. Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran: Belajar Kognitif Bruner Karakteristik Teori Model ini sangat Penerapan Dalam pembelajaran 1. dan gagne). ternyata teori kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang individu. arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).. Memilih materi pelajaran 3. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep. Menentukan instruksional tujuan-tujuan menuntut peserta didik belajar secara deduktif 2. Mengukur kesiapan peserta didik Belajar dan Model-Model Pembelajaran 24 . untuk peserta belajar discovery digunakan peserta didik untuk bahan belajar 5. yang tugas. dsbnya. Tabel 2. dari yang sederhana ke kompleks 6.kognitif mereka. untuk belajar ini Teori mengarahkan didik secara learning. Ausubel. dapat tujuan-tujuan membebaskan peserta didik sendiri. Teori ini ada kaitan dengan ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang.

5. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb. pertanyaan dll. kognitif)baik mementingkan struktur peserta didik interviw. 3. Memilih materi pelajaran dan kognitif mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci 4. kemampuan. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik 6.(dari khusus) umum dan ke lebih aspek (minat. melalui tes struktur awal. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Belajar dan Model-Model Pembelajaran 25 . Mengajar memahami peserta didik untuk dan konsep-konsep prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada 8. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan. dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi yang sudah (keterkaiatan) materi diberikan dengan yang akan diberikan 7.

Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Ateacher’s Word Book (1921). dan Human Nature and The Social Order (1940). Menurutnya. sedangkan respons akanmendorong seseorang untuk melakukan tindakan.B. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus (S) de¬ngan respons(R). Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Mental and social Measurements (1904). perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 26 . Asosiasi seperti itu disebut Connection. Bukubuku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903). Teori Koneksionisme Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Berhaviorisme.Your City (1939). Animal Intelligence (1911). Stimulus akan memberi kesan ke-pada pancaindra.Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism. Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895. Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons. Thorndike (1874-1949). Teori Thorndike dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.

Itu berarti. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 27 . Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana. Respons yang berhasil untuk membuka pintu. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus danrespons. hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yangmenyebabkan pintu terbuka. sehingga dapat digambarkan sebagai berikut: S R S1 R1 dst 1. yaitu semakin siap suatu organism memperoleh suatu perubahan tingkah laku. seperti meloncat yangtidak menentu. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”. yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa. maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil.Setelah percobaan itu diulang-ulang. kucing dapat memilih atau menyeleksiantara respons yang berguna dan yang tidak. reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah. ternyata tingkah laku kucing untuk keluar darikandang menjadi semakin efisien. yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru. demikian selanjutnya.Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subjek pada situasi yangmengandung problem. Hukum-Hukum Belajar Dari percobaan yang Thorndike lakukan seperti yang telah dipaparkan pasa subbab sebelumnya. dengan model pintu yangdihubungkan dengan tali. Dalam melaksanakan coba-coba ini. yaitudengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak ke-luar. ia menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut : a) Hukum Kesiapan (law of readiness). sedangkan respons lainnyadilupakan. Padaawalnya.

Akibatnya. dia akan puas bila ujian itu benar-benar dilaksanakan. bila sese¬orang sudah siap melakukansuatu tingkah laku. Apabila hal ini dilaksanakan. Masalah pertama. maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. ia akan melakukan ting¬kah laku lain untuk mengurangi kekecewaan.tetapi ujian dibatalkan. karena dia belum belajarHukum Latihan (law of exercise). pelaksanaannya akan memberi kepuasan baginya sehingga tidak akanmelakukan tingkah laku lain. Apabila hal ini dilaksanakan. protes) untuk melampiaskan kekecewaannya.Contoh. Masalah ketiga.Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) . peserta didik yang sudah benar-benar siapmenempuh ujian. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. bila seseorang belum siap melakukan suatu perbuatan tetapi dia harusmelakukannya. ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. maka ia akan cenderung mengerjakannya. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. peserta didik akan merasa lega bila ulanganditunda. peserta didik tiba-tiba diberi tes tanpa diberi tahu lebih dahulu. bila seseorang siap melakukan suatu tingkah laku tetapi tidak dilaksanakan. Masalah kedua. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 28 . mereka pun akan bertingkah untuk menggagalkan tes. maka ia akan cenderung mengerjakannya. Misalnya. orang tersebut akanmelakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut. bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tetap tidak melakukannya. Misalnya. jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit. maka ia akan merasa tidak puas. Akibatnya. Masalah keempat. ia cenderung melakukan hal lain (misalnya: berbuat gaduh. Contoh. makaakan timbul kekecewaan. Contoh. maka ia akan puas. Contoh peserta didik yang sudah belajar tekun untuk ujian.

Makin sering diulangi. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Sebaliknya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 29 . Namun. jika sebaliknya. walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. b) Hukum akibat(law of effect).Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response). Hukum Tambahan Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut: a. Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia. suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Misalnya. yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. ia mendapatkan muka manis gurunya. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. bila anak mengerjakan PR. 1984). tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah. Binatang melakukan responsrespons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto. 2. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. materi pelajaran akan semakin dikuasai.

b. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 30 . b. maupun psikomotornya. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). Hukum Respon by Analogy. Hukum akibat direvisi. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon. tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element). Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah. sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. d. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. emosi . 3. e. Revisi Hukum Belajar Selain menambahkan hukum-hukum baru. sosial . Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja. dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain : a. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. c.

4. dimana teori ini merupakan teori pembelajaran yang hanya berfokus pada perilaku yang bisa diamati dan stimuli yang mengontrolnya. maka bergeser dari teori pembelajaran Belajar dan Model-Model Pembelajaran 31 . Karena teori ini hanya membicarakan input. adanya keinginan untuk mengadakan perbaikan hingga Curiosity dari para ahli untuk memecahkan dan menutup kekurangan yang ada pada teori sebelumnya menjadi pemicu untuk melakukan perubahan terhadap teori-teori pembelajaran. yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. Dengan kata lain. maka teori ini bergeser menjadi teori pembelajaran konstruktivisme. Adanya sikap kritis para ahli. karena teori ini hanya berfokus pada perilaku individu. Karena teori pembelajaran ini dianggap masih kurang. teori ini mampu membangun ilmu pengetahuan yang telah lalu dengan ilmu pengetahuan yang baru. perkembangan IPTEK. Kita tentu telah mengetahui teori pembelajaran koneksionisme. dimana Teori pembelajaran ini mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan proses daripada belajar. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training.c. teori ini kemudian bergeser menjadi teori pembelajaran kognitivisme dimana teori ini menekankan pada proses pendalaman yang berlaku dalam akal pikiran. tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. dan tidak dapat diperhatikan secara langsung dengan tingkah laku. Begesernya Teori-Teori Belajar (Dari Koneksionisme hingga Humanisme) Tak dapat dipungkiri manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis selalu tidak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba dan menciptakan sesuatu yang baru atau lain dari biasanya. d. begitu juga dengan teori-teori pembelajaran. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. sehingga mengharuskan siswa bersikap aktif.

Dalam teori humanisme memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja. Manusia memiliki kebebasan untuk berfikir alternatif. mendorong guru untuk responsif terhadap perubahan serta mendorong guru untuk mengkondisikan pembelajaran sesuai konteks yang nyata. afektif. Domain tersebut meliputi domain kognitif. menemukan konsep dan prinsip. Dengan alur pergeseran: Koneksionisme Kognitivisme Konstruktivisme Kognitivisme Konstruktivisme Humanisme Dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu menawarkan solusi dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan landasan teori yang lebih mutakhir sehingga proses dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Pergeseran Teori Pembelajaran berawal dari teori koneksionisme dan sementara ini berakhir pada teori humanisme. Selain itu dengan adanya pergeseran teori-teori pembelajaran ini diharapkan mampu mendorong pemilihan cara-cara yang tepat untuk membelajarkan siswa.konstruktivisme menjadi teori pembelajaran humanisme. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 32 . sehingga proses pembelajarannya pun ideal. dimana teori pembelajaran ini mampu menciptakan manusia yang ideal. dan psikomotorik. melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada.

1. banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.F. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana.Skiner. yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya. Bukan begitu.C. agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 33 . Artinya.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori kondisioning operan pada bagian berikut ini. maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. namun lebih komprehensif. Teori Kondisioning Operan Menurut B. tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya. Asas pengkondisian operan B. Teori Belajar Menurut Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. pada waktu keluarnya teori S-R.

perilaku (senyum. Sebaliknya. penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu : a. Belajar itu adalah tingkah laku. Santrock.2. Menurut Skinner (J. Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut: a. hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 34 . c. Bell Gredler. Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan. atau penghargaan (nilai A. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku. Bentukbentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen.W.Penguatan dan Hukuman. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B. mengacungkan jempol). bertepuk tangan. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). menganggukkan kepala untuk menyetujui. b.Skiner Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi.F. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama. 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). hlm 122). makanan. b. dll). kado. Juara 1 dsb). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E.

adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Penguatan positif Perilaku Murid Konsekuensi mengajukan Guru menguji murid Prilaku kedepan Murid mengajukan pertanyaan yang bagus B. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 35 . Penguatan negatif. memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng.W Santrock. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Penguatan negatif Perilaku Murid Konsekuensi lebih banyak pertanyaan Prilaku kedepan makin sering menyerahkan Guru berhenti menegur Murid murid PR tepat waktu menyerahkan PR tepat waktu C. perilakunya berkurang. A.b. Dalam kedua bentuk itu. Dalam hukuman. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan. Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Hukuman Perilaku Murid menyela guru Konsekuensi Guru mengajar Prilaku kedepan murid Murid berhenti menyela guru langsung Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. kening berkerut. Agar istilah ini tidak rancu. Dalam penguatan negatif. konsekuensi meningkatkan prilaku. Contoh dari konsep penguatan positif. dan hukuman (J. 274). ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku. negatif. muka kecewa dll). sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.

Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain: a. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Materi pelajaran. dan penguat umum. berhasil atau gagal. untuk menghindari adanya hukuman. dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. digunakan sistem modul.Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). penguat positif dan negative. Maksudnya. jika benar diberi penguat. Belajar. jika salah dibetulkan. Tingkah laku yang diinginkan pendidik. c. d. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-responpenguatan yang diatur secara seksama. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Dalam proses pembelajaran. Namun ini lingkungan perlu diubah. lebih dipentingkan aktivitas sendiri. b. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa. b. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce Belajar dan Model-Model Pembelajaran 36 . Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. binatang itu harus berusaha penuh resiko. dan sebagainya. c. Dalam proses pembelajaran. tidak digunakan hukuman. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami. yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons. diberi hadiah.

Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. b. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri. Tingkah laku yang diinginkan. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic. Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: a. b. e. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. h. i. Dalam pembelajaran. d. maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman. b. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. Materi pelajaran digunakan sistem modul. dianalisis kecil-kecil. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah. d. diantaranya : a. jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.e. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 37 .F. Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran. c. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu) g. c. f. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat. Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B. semakin meningkat mencapai tujuan. 3. digunakan shaping.

penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya.j. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak. 4. b. apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak. sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Analisa Perilaku Terapan Dalam Pendidikan Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan. mainan dan uang. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu Agar penguatan dapat efektif. Memilih Penguatan yang efektif Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. seperti permen. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu a) Meningkatkan perilaku yang diharapkan Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu: a. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine. yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. k. administrasi kompleks. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 38 . Tugas guru berat. disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu.

tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan diperkuat. Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Empat jadwal penguatan utama adalah 1) Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon. guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid.variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan. dan kemudian diberi tanggal. Menggunakan Perjanjian. c. 5) Jadwal interval . Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 39 . Menggunakan penguatan negatif secara efektif Dalam penguatan negatif.sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak. e. 2) Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respon. frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru mengatakan”Pepeng. 4) Jadwal interval . akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat 3) diperidiksi. b) Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping). Memilih jadwal penguatan terbaik Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif. c.

d. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap. analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis. Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajarmengajar. mengganggu diskusi kelas. atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah a. Disamping itu pula. Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Kekurangan Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. G. Dengan melaksanakan mastery learning. c) Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. b. Kelebihan Pada teori ini. tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. Menghentikan penguatan (pelenyapan) c.terjadi. Menggunakan Penguatan Diferensial. pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran. B. Skinner a. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 40 . b.F. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman) d) Kelebihan dan kekurangan Menurut B. tugas guru akan menjadi semakin berat. (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian.

Inteligensi adalah bagian integral dari setiap organisme karena setiap organisme yang hidup selalu mencari kondisi yang kondusif untuk keberlangsungan hidup. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Namun bagaimana kecerdasan memanifestasikan dirinya pada waktu tertentu akan selalu bervariasi sesuai kondisi yang ada. Teori Piaget sering disebut sebagai genetic epistemology. Struktur atau skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi yang terbentuk pada individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. karena teori ini berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual. Piaget mengemukakan. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk beradaptasi atau Belajar dan Model-Model Pembelajaran 41 . inteligensi adalah ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme itu makin matang secara biologis dan mendapat pengalaman. Fungsi itu terdiri dari organisasi dan adaptasi. Ada tiga aspek perkembangan intelektual yaitu : struktur. D. (Dahar .Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar.1988:179). Isi merupakan pola perilaku khas anak yang tercermin pada responnya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. jeweran justru berakibat buruk pada siswa. Sedangkan fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. ejekan. Sedangkan istilah genetik yang dimaksud mengacu pada pertumbuhan developmental bukan warisan biologi. Teori Belajar Menurut Piaget Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis. isi dan fungsi. cubitan.

mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru.menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. ia berkeyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderungan yang fundamental. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 42 . Yaitu proses ketika manusia menghubungkan informasi yang diterimanya dengan struktur-struktur pengetahuan yang sudah disimpan atau sudah ada sebelumnya dalam otak. sehingga akan terjadi keseimbangan (equilibrium). Organisasi (tindakan penataan). sehingga manusia dapat mengasimilasikan atau mengakomodasikan informasi atau pengetahuan tersebut. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Melalui proses ini. Dan proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada untuk mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan. Cara beradaptasi ini berbeda antara organisme yang satu dengan yang lain. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui 2 proses yaitu : assimilasi dan akomodasi. yaitu kecenderungan untuk : a. Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi. manusia dapat memahami sebuah informasi baru yang didapatnya dengan menyesuaikan informasi tersebut dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya. mengabungkan atau mengintegrasikan pengetahuan yang diterima oleh manusia atau disebut asimilasi. Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungan. Pada proses ini berisi dua kegiatan. Pertama. Beradaptasi. b. Kedua. Perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi. membangun struktur biologi tertentu yang ia perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lingkungan.

Secara teoritis.Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar. yang aktif dalam menggunakan skema untuk merespon lingkungan. orang. Skema lebih dari sekedar manifestasi refleksi memegang saja. keadaan. 2) Asimilasi Asimilasi itu suatu proses kognitif. Seseorang tidak hanya memproses satu stimulus saja. atau muncul secara tersamar. asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata. melainkan memproses banyak stimulus. Asimilasi berlangsung setiap saat. Misalnya. Skemata dapat muncul dalam perilaku yang jelas. Skema akan menentukan bagaimana ia akan merespon lingkungan fisik. seperti dalam kasus refleks memegang. Dalam teori Piaget. skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu. Dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yang ada atau tingkah laku yang ada. Agar terjadi interaksi organisme-lingkungan. skema dianggap sebagai elemen penting dalam struktur kognitif organisme. Jelas. Skema memegang dapat dianggap sebagai struktur kognitif yang membuat semua tindakan memegang bisa dimungkinkan. skemata yang tersedia untuk anak harus berubah. Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses Belajar dan Model-Model Pembelajaran 43 . tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skemata. cara anak menghadapi lingkungan akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. kejadian) dan menata lingkungan ini secara intelektual. Skema adalah struktur kognitif atau serangkaian perilaku terbuka secara sistematis yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan (barang. yaitu sebagai berikut: 1) Skema. Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Manifestasi skema yang tidak jelas dapat disamakan dengan tindak berpikir.

Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan oleh Piaget disebut sebagai keseimbangan. Atau sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Dan tidak akan mampu melihat persamaan antara berbagai hal. 3) Akomodasi Akomodasi dapat diartikan penyesuaian aplikasi skema yang cocok dengan lingkungan yang direspons . 4) Keseimbangan. Yaitu keseimbangan antara proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses asimilasi dan akomodasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Seandainya hanya asimilasi secara kontinu maka yang bersangkutan hanya akan memiliki beberapa skemata global dan ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbagai hal. Dengan kata lain terjadi keseimbangan antara faktor-faktor internal dan faktor eksternal. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui proses ekuilibrasi.kognitif. Sebaliknya jika hanya akomodasi saja secara kontinu. Yaitu keseimbangan antara skema yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil ketepatan akomodasi . Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Dalam proses adaptasi dengan lingkungan individu berusaha mencapai struktur mental atau skemata yang stabil. dengan proses itu individu secara kognitif mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu. Proses akomodasi adalah proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah dimiliki dengan informasi yang diterima. Dengan keseimbangan ini maka efisiensi interaksi antara anak yang sedang berkembang dengan lingkungannya dapat tercapai dan terjamin. Proses ekuilibrasi ini merupakan proses yang berkesinambungan antara proses asimilasi dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 44 . maka hanya memiliki skemata kecil-kecil saja dan mereka tidak memiliki skemata yang umum.

b. Tahapan ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu. Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam diri pembelajar dan ia akan dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya. Periode konkret (7.0 tahun) Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.akomodasi.0-dewasa) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 45 . Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hierarki.0-7. Desmita mengutip dari Mussen (1969) mengatakan bahwa Piaget tidak menegaskan batasan umur dalam masing-masing tahap. e. Periode Pra operasional (2. Periode operasi formal (11.0 tahun) Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek. Demikian pula.0 tahun) d. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi. Seseorang harus melalui urutan tertentu dan tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. c. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat.0-11. Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. pemikiran seorang anak berbeda pada setiap tahap. Kemampuan bayi melalui tahapan ini bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya pengorganisasian struktur berpikir. sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. Batasan umur tersebut diberikan oleh Ginsburg dan Opper. Periode Sensori motor (0-2. Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu : a.

Pendewasaaan/kematangan. anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis. b. adalah pertukaran ide antara individu dengan individu d. dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 46 . merupakan pengembanagn dari susunan syaraf.Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif. Pengalaman fisis. adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk e. menyelesaikan peranan pendewasaan. Keseimbangan. Interaksi social. penglaman fisis. anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu. masalah verbal. dan interksi social. Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif : a. c.

Bab III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN Belajar dan Model-Model Pembelajaran 47 .

partisipasi di dalam proyek. cara belajar secara penemuan (discovery). Yang menyangkut dua aspek tentang penelitian pelaksanaan PAKEM dalam mendukung KTSP. dan beberapa macam strategi yang hanya dibatasi dari imaginasi guru. penyelidikan. dan Menyenangkan. penemuan. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk grup.2001). sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik. Yang kedua menyangkut ”cara siswa kita belajar” yaitu “A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates student to make connections between knowledge and its application to their lives as family members. supaya mereka dapat menjadi pelajar selama hidup (life long learner) yang efektif. menyenangkan dan efektif. penelitian. individu dan kelas. analisa.” (BEST. secara kreatif. yang pertama mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka belajar (learning how to learn). Philip Rekdale (2005) melakukan penelitian menyangkut sejauh mana PAKEM mendukung pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kreatif. citizens and workers. Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif. Satu konsep yang membantu Belajar dan Model-Model Pembelajaran 48 .III MODEL-MODEL PEMBELAJARAN A. dan kritis. PAKEM adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja.

Kreatif Kreatif merupakan ciri ke-2 dari PAKEM yang artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya.Gurupun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. 4.guru-guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswa untuk lebih paham hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup mereka sebagai anggota keluarga. Menyenangkan berarti tidak membelenggu. Efektif. Efektif Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif . melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya. yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Aktif Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan. Dari kepanjangannya PAKEM mempunyai empat ciri-ciri pembelajaran yaitu Aktif. 3. Kreatif . 2. memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari manipulasi yang sudah dilakukan. masyarakat dan karyawan-karyawan. kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Maksudnya pembelajaran yang aktif. Menyenangkan. Menyenangkan Menyenangkan merupakan ciri ke empat dari PAKEM dengan maksud pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya. 1. sehingga siswa memusatkan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 49 . Guru terlibat secara aktif dalam merancang.

Ciri-Ciri/Karakteristik PAKEM Ciri-ciri/karakteristik PAKEM adalah: a. d. Menciptakan lingkungan tanpa stress (relaks). Pembelajarannya menyenangkan utamanya bagi peserta didik 2. namum harapan untuk sukses tetap tinggi. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan. Demikian Rose dan Nicholl. Sehubungan dengan ciri menyenangkan dalam PAKEM. Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan. ketika ada humor dan dorongan semangat. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Anda ingin belajar ketika Anda melihat manfaat dan pentingnya bahan ajar. e. Prinsip PAKEM Prinsip PAKEM antara lain: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 50 . Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya. c. dengan demikian waktu untuk mencurahkan perhatian (time of task) siswa menjadi tinggi.waktu rehat dan jeda teratur serta dukungan antusias. Rose and Nocholl (2003) mengatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a.perhatiannya secara penuh pada pembelajaran. b. 1. Menantang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan apa yang sedang dipelajari dengan sebanyak mungkin kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar. yang pada umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama orang lain. Mendorong kreativitas peserta didik &guru c. Pembelajarannya efektif d. lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan. Pembelajarannya mengaktifkan peserta didik b.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 51 . cek lis. 4) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik. studi kasus. b. Interaksi: kegiatan pembelajarannyaa memungkinkan terjadinya interaksi multi arah d. Komunikasi: kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta diidik c. Bentuk penilaian tes dapat dilakukan secara lisan. Hal ini disebabkan setiap jenis atau bentuk penilaian tersebut memiliki beberapa kelemahan selain keunggulan. 6) Akuntabilitas lembaga. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Tujuan Penilaian otentik itu sendiri adalah untuk: 1) Menilai Kemampuan Individual melalui tugas tertentu. kuesioner. 7) Meningkatkan kualitas pendidikan. dan perbuatan. mental maupun emosional b. d. Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran model Pakem adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan.a. Refkesi: kegiatan pembelajarannya memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan 3. 2) Menentukan kebutuhan pembelajaran. Jenis Penilaian Model PAKEM a. bentuk penilaian non tes dilakukan dengan menggunakan skala sikap. dan portofolio. c. 5) Menentukan strategi pembelajaran. dengan pendekatan Pakem rangkaian penilaian ini seyogiayanya dilakukan oleh seorang guru. tertulis. 3) Membantu dan mendorong siswa. Sementara itu. Mengalami: peserta didik terlibat secara aktif baik fisik. Dalam pembelajaran.

Penilaian disesuaikan dengan pendekatan dan metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran. seperti hal nya ilmu mengajar yang terus berkembang. selama pembelajaran itu berlangsung. Merancang penilaian dilakukan bersamaan dengan merancang pembelajaran tersebut. b. guru selain sebagai fasilitator juga melakukan penilaian dengan berbagai alat yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik e.4. Merancang dan Melaksanakan Penilaian Model PAKEM a. Meningkatkan kualitas pendidikan 5. oleh Gladene Robertson dan Hellmut Lang di maknai selain sebagai Kerangka umum untuk Praktek Profesional guru. Menentukan strategi pembelajaran f. juga dimaksudkan sebagai studi komprehensif tentang praktik pembelajaran. Artinya. Menentukan kebutuhan pembelajaran c. Dalam pembelajaran dengan pendekatan model Pakem. Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu b. (3) merupakan seni. Pendekatan pembelajaran sebagai bahan kajian yang terus berkembang. Selain itu dokumen itu juga dimaksudkan untuk mendorong para guru untuk: (1) mengkaji lebih jauh tentang pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lainnya. Gambaran mengenai pendekatan pembelajaran yang lebih jelas terdapat dalam artikel pendidikan yang diterbitkan oleh Saskatchewan education (1980). Tujuan Penilaian Model PAKEM a. penilaian dirancang sebagaimana dengan penilaian otentik. dan (4) juga sebagai katalisator untuk mengembangkan profesional guru lebih lanjut. maupun petunjuk pelaksanaanya. (2) menjadi bahan refleksi tentang pembelajaran yang sudah dilakukannya. Pendekatan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 52 . Membantu dan mendorong siswa d. Akuntabilitas lembaga g.

Pendekatan pembelajaran juga merupakan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model pembelajaran. Pendekatan konservatif memandang bahwa proses pembelajaran yang dilakukan sebagai mana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. metode pembelajaran dan keterampilan mengajar. pendekatan pembelajaran digambarkan sebagai kerangka umum tentang skenario yang digunakan guru untuk membelajarkan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. metode pembelajaran maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Instructional Frame Work (Sumber: Saskatchewan Education. Diagram tersebut juga memperlihatkan dengan lebih jelas tentang hubungan antara model pembelajaran. yaitu: Pendekatan konservatif (conservative approaches) dan pendekatan liberal (liberal approach). metode-metode pembelajaran dan juga keterampilan-keterampilan mengajar. Wallace (1992: 13) pendekatan pembelajaran dibedakan menjadi 2. strategi pembelajaran. Sedangkan pendekatan liberal (liberal approaches) Belajar dan Model-Model Pembelajaran 53 . strategi pembelajaran. sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima. 1988:9) Berdasarkan diagram di atas.pembelajaran digambarkan sebagai kerangka besar tentang tugas profesional guru yang di dalamnya meliputi: model-model pembelajaran. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Strategi-strategi pembelajaran. Menurut Philip R.

Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan. dalam bukunya “The Process of Learning”. f. menyebutkan paling tidak ada 12 aspek dari sebuah pembelajaran kreatif. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri. g. bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa. Peranan Guru Dalam Model PAKEM Agar pelaksanaan Pakem berjalan sebagaimana diharapkan. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata. Memuji keindahan perbedaan potensi. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuai dengan kecenderungan bakat dan minat mereka. karakter. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya. 6. d. h. b. c. John B. e. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya Belajar dan Model-Model Pembelajaran 54 . Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka. i.adalah pendekatan pembelajaran yang memberi kesempatan luas kepada siswa untuk mengembangkan strategi dan keterampilan belajarnya sendiri. yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang guru yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa: a. Biggs and Ross Telfer. edisi kedua. 1987.

kolaboratif. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif.sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa. l. inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 55 . Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam. j. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa. k.

B. Menurut Buehl (1996) keuntungan dari metode examples non examples antara lain: a. c. Model Pembelajaran Examples non Example Menurut Buehl (1996) examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari examples non examples. Tennyson dan Pork (1980) dalam Slavin 1994 menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples. b. sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas. Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan). Belajar dan Model-Model Pembelajaran 56 . Siswa berangkat dari suatu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih komplek. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa utnuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh. Pilih contoh yang berbeda satu sama lainnya. b. yaitu: a. Urutkan dari yang gampang sampai yang ke sulit. c. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas.

tanyakanlah pada mereka apa yang membuat kedua daftar tersebut berbeda. yang menggunakan model inkuiri untuk memperkenalkan konsep yang baru dengan metode example non example. Menyiapkan examples non examples tambahan. mengenai konsep yang lebih spesifik untuk mendorong siswa mengecek hipotesis yang telah dibuatnya sehingga mampu memahami konsep yang baru. Guru menempelkan gambar/tulisan dipapan atau ditayangkan . b. Meminta siswa untuk bekerja berpasangna untuk menggeneralisasikan konsep examples non examples mereka. d. Guru menggunakan gambar/tulisan sesuai tengan tujuan pembelajaran. e. Kerangka konsep tersebut antara lain: a. adalah meminta siswa untuk mendeskripsikan konsep yang elah diperoleh dengan menggunakan karakter yang telah didapat dari examples non examples. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. Selama siswa memikirkan tentang tiap example dan non example tersebut. Menggeneralisasikan pasangan antara contoh dan non contoh yang menjelaskan beberapa dari sebagian esar kareakter atau atribut dari konsep baru. Langkah-langkah Pembelajaran Langkhah-langkah: a.Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan non contoh akan membantu siswa untuk membangun pemikiran yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting. Menyajikannya dalam satu waktu dan meminta siswa untuk memikirkan perbedaan apa yang terdapat pada dua daftar tersebut. Guru memberi petunjuk pada peserta didik untuk memperhatikan/menganalisis. Sebagai bagian penutup. c. Melalui diskusi gambar tersebut dicatat pada kertas. Setelah itu meminta tiap pasangan untuk menginformasikan di kelas untuk mendiskusikan secara klaikal sehingga tiap siswa dapat memberikan umpan balik. 1. b. Joyce and Weil (1986) dalam Buehl (1996) telah memberikan kerangka konsep terkait strategi tindakan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 57 . c. d.

yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi. Jenis motivasi belajar ada dua yaitu: a. Kesimpulan 2. g. dan rangsang karena adanya tujuan. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.f. sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar. motivasi adalah perubahan energi dalamdiri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 58 . sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktifitas belajar. jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dari pengertian tersebut. mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu. Motivasi ekstrinsik. Adapun menurut Mc Donald. Guru menjelaskan materi sesuai tujuan yang dicapai. jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari luar. ialah : a. Dalam kegiatan belajar. Motivasi instrinsik. Dalam kegiatan belajar. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. ditandai dengan adanaya feeling. Strategi yang digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan). motivbasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan. b. motivasi sangat diperlukan. h. Motivasi Belajar Motivasi berpangkal dari kata motiv yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.

Pujian h. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menysun dan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 59 .b. Pujian yang bersifat membangun kepada siswa yang berprestasi. n. Hadiah d. p. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar l. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. o. Saingan atau kompetisi f. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Disamping itu. m. Menggunakan metode yang bervariasi. 3. Guru berusaha mengadakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seseorang guru menjelaskan mengenai tujuan instruksional khusus yang akan dicapai kepada siswa makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. k. e. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hukuman j. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau mengubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. c. g. i. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Hal ini akan memacu semangat meraka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Proses penilaian tehadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. siswa yang belum berprestai akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

Kunggulan dan Kekurangan Menggunakan Model Pembelajaran Examples Non Examples Ada beberapa keunggulan dalam menggunakan model examples non examles. 2) Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). 1989: 111) 4. harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Faktor eksternal. 2004: 22) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar a. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa. b. Pengetahuan dan pengertian Sikap dan cita-cita yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. 1) Siswa lebih berpikir kritis dala mengenalisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. (Nana Sudjana. pencapaian tujuan belajar perlu diciptka adanya sistem lingkkungan belajar yang kondusif. adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 60 .membina kegiatan-kegitan siswa lebih lanjut. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa. Faktor internal. diantaranya adalah sebagai berikut. c. Keterampilan dan kebiasaan. Hasil belajar dibagi dalam tiga macam hasil belajar yaitu: a. b. Ada pun kelemahan dalam menggunakan model Examles non examples. 3) Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya mengenai analisis gambar yang relevan dengan kompetensi dasar (KD). (Nana Sudjana. faktor ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar.

Belajar dan Model-Model Pembelajaran 61 . 2) Memakan waktu yang lama.1) Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.

seperti: pendekatan pembelajaran kontekstual. para ahli menyebutnya dengan istilah yang berbedabeda. belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran dapat mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang dipelajari. strategi pembelajaran kontekstual. dan model pembelajaran kontekstual. tetapi merekonstruksikan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 62 . Terkait dengan CTL ini. pengalaman yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah strategi pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selanjutnya disebut CTL. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak. tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya. pada dasarnya kontekstual berasal dari bahasa Inggris “contextual” yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan konteks. Strategi CTL fokus pada siswa sebagai pembelajar yang aktif. Apapun istilah yang digunakan para ahli tersebut. Pembelajaran secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian macam topik.C. Oleh sebab itu pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang mana guru menggunakan pengalaman siswa yang pernah dilihat atau dilakukan dalam kehidupannya sebagai sumber belajar pendukung. dan memberikan rentang yang luas tentang peluang-peluang belajar bagi mereka yang menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks. Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal.

pembelajaran terjadi hanya ketika siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka. tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak. CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. sawah. kesehatan. budaya. tapi bisa di laboratorium. Mengharuskan pendidik (guru) untuk pintar-pintar memilih serta mendesain linkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata. sehingga siswa memiliki pengetahuan/ Belajar dan Model-Model Pembelajaran 63 . ekonomi.atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. yang mudah dilupakan. Kehadiran kurikulum berbasis kompetensi juga dilandasi oleh pemikiran bahwa berbagai kompetensi akan terbangun secara mantap dan maksimal apabila pembelajaran dilakukan secara kontekstual. menurut metode pembelajaran kontekstual kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya. serta lainnya. dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. atau tempat-tempat lainnya. Berdasarkan pemahaman di atas. sosial. Pendekatan ini selaras dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi yang diberlakukan saat ini dan secara operasional tertuang pada KTSP. baik konteks pribadi. Menurut teori pembelajran kontekstual. untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. tempat kerja.

serta menghubungkan. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan. Sebagai contoh. Atau kelas biologi atau kelas kimia bisa belajar konsep dasar ilmu alam dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara-cara petani bercocok tanam dan pengaruhnya terhadap lingkungan.ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. yaitu pendekatan pengajaran yang menperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna melalui pengembangan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata. d) Project-Based Learning. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual mempunyai karakteristik sebagai berikut. Dalam lingkungan seperti itu. 1. kelas fisika yang mempelajari tentang konduktivitas termal dapat mengukur bagaimana kualitas dan jumlah bahan bangunan mempengaruhi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga gedung saat terkena panas atau terkena dingin. konsep diinternalisasi melalui menemukan. dan mengkulminasikannya dalam produk nyatae. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 64 . memperkuat. para siswa dapat menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dengan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata. a) Problem-Based Learning. pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya (pengetahuan dan keterampilan baru). pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi ke-sempatan untuk pembelajaran bermakna. c) Inquiry-Based Learning. yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar melalui berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. b) Authentic Instruction.

yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam rangka memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. e) Work-Based Learning. menyenangkan. pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja. g) Cooperative Learning. Kelas dikatakan menerapkan CTL jika menerapkan ke tujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. sharing dengan teman. pembelajaran terintegrasi.Secara lebih sederhana karakteristik pembelajaran kontekstual dapat dinyatakan menggunakan sepuluh kata kunci yaitu: kerja sama. 1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. Secara garis besar langkah-langkah penerapatan CTL dalam kelas sebagai berikut. f) Service Learning. siswa kritis dan guru kreatif. yaitu pendekatan pembelajar-an yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.bekerja sama. 2. menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik 3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya 4) Ciptakan masyaraka belajar (belajar dalam kelompok) 5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan Belajar dan Model-Model Pembelajaran 65 . siswa aktif. belajar dengan gairah. saling menunjang. menggunakan berbagai sumber. dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam. Implementasi Pembelajaran Kontekstual di Kelas Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama.

d) Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar. a) Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran. e) Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri. b) Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis. kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. konsep dan kaidah yang siap dipraktekkan. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. melainkan harus dkonstruksi terlebih dahulu dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. dan mengembangkan ideide yang ada pada dirinya. f) Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru.7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Untuk lebih jelasnya uraian setiap komponen utama CTL dan penerapannya dalam pembelajaran adalah sebagai berikut sebagai berikut: a. Prinsip konstruktivisme yang harus dimiliki guru adalah sebagai berikut. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta. g) Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (pengetahuan baru dibangun dari pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menyesuaikan hadirnya pengalaman baru). Karena itu siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah. Kontruktivisme (Constructivism) Komponen ini merupakan landasan berfikir pendekatan CTL. Bertanya dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk Belajar dan Model-Model Pembelajaran 66 . b. c) Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif. Bertanya (Questioning) Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL.

mengecek pemahaman siswa. d) Bagi guru. bertanya kepada siswa bisa mendorong. kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya. mengetahui kadar keingintahuan siswa. Pada sisi lain. mengetahui hal-hal yang diketahui siswa. membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa. e) Dalam pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya berguna untuk: menggali informasi. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri. tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. b) Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui siswa lebih efektif melalui tanya jawab. c) Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi baik kelompok maupun kelas. Prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya sebagai berikut. dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi. sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berfikir siswa. Menemukan (Inquiry) Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. c. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta. memfokuskan perhatian siswa sesuai yang dikehendaki guru. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. membangkitkan respon siswa. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 67 . a) Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya. Prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.mengetahui sesuatu. dan menyegarkan pengetahuan siswa.

teman sekelas. gambar. Hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman. audiens yang lain). mengamati atau melakukan observasi. b) Siklus inquiry adalah observasi. Masyarakat belajar (learning community) Komponen ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. baik di dalam maupun di luar kelas. dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain. a) Pada dasarnya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain. Karena itu pembelajaran yang dikemas dalam diskusi kelompok dengan anggota heterogen dan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen learning community. pengumpulan data. bertanya. Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community adalah sebagai berikut. bagan. pengalaman. tabel. b) Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi. dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu. dan karya lain. d) Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan. laporan. c) Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah. e) Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar. mengajukan dugaan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 68 .a) Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan buktibukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa. mengkomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca. menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. antarkelompok. guru. d. dan penyimpulan. c) Langkah-langkah kegiatan inquiry: merumuskan masalah.

Pemodelan (modelling) Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran. menelaah. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari. misalnya cara mengoperasikan sesuatu. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh. Refleksi (reflection) Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru. atau model penampilan. a) Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru. dan merespons semua kejadian. Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut. aktivitas. contoh hasil karya. Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut. f. bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan.e. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 69 . siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa dari pada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. menunjukkan hasil karya. mempertontonkan suatu penampilan. b) Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya. c) Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu.

Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa.a) Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya. diskusi dengan teman sejawat. c) Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar. aktivitas. b) Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil. Sehubungan dengan hal tersebut. d) Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri (self assessment) dan penilaian sesama (peer assessment). penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati. bukan semata-mata pada hasil pembelajaran. prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung. tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa. dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar. a) Penilaian autentik bukan menghakimi siswa. Penilaian autentik (authentic assessment) Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. menganalisis. g. atau pengetahuan yang baru diperolehnya. Dengan demikian. bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks. membuat catatan singkat. c) Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima. atau unjuk kerja. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 70 . b) Perenungan merupakan respons atas kejadian.

akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa. 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 71 . Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. 4) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa. Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning a. Kelebihan 1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka.3. Di sini guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Hal ini sangat penting. sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional. 2) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme. sihingga tidak akan mudah dilupakan. 4. Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual guru dituntut membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Maksudnya adalah guru lebih berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi.

Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 72 . peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. 2) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Karena dalam metode CTL. b.dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Kelemahan 1) Guru lebih intensif dalam membimbing. Dengan demikian. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.

bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Metode Pembelajran Kooperatif Number Head Together (NHT) Tipe pembelajaran kooperatif melalui metode NHT dirancang khusus agar siswa dapat memahami materi pelajaran meski menggunakan metode berkelompok. Hasil belajar akademik stuktural. Hal ini dapat meminimalkan kegaduhan dalam kelas pada penggunaan metode tradisional dimana siswa mengacungkan tangan terlebih dahulu baru ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan. Persiapan Pada tahap ini guru mempersiapkan lembar kerja siswa yang digunakan sebagai bahan permasalahan yang akan didiskusikan dalam proses pembelajaran. 1. Jumlah lembar kerja siswa disesuaikan dengan jumlah kelompok. Tipe NHT menekankan pada pembentukan struktur-struktur khusus untuk menciptakan pola interaksi siswa. Langkah-langkah penerapan NHT a.D. c. b. Pengakuan adanya keragaman. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dengan melibatkan siswa yang terbagi dalam kelompok untuk menguasai materi pada mata pelajaran yang akan dibahas. b. bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. NHT menekankan kepada siswa agar saling bergantung pada kelompok-kelompok yang telah dibuat secara kooperatif. Ada tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : a. Pengembangan keterampilan social. Pembentukan kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 73 . bertujuan agar siswa dapat menerima temantemannya yang mempunyai berbagai latar belakang.

f. Pemanggilan Nomor Anggota Langkah ini dilakukan ketika diskusi sudah selesai. Diskusi masalah Pada langkah ini setiap kelompok mulai membahas materi yang telah diberikan guru. Kesimpulan Setelah semua siswa menjawab pertanyaan yang diajukan. ras. Setelah itu guru akan mengajukan pertanyaan kepada para siswa yang nomornya ditunjuk secara bergantian. 2. e. d. Diusahakan setiap kelompok berjumlah 3-5 anak agar diskusi di dalam kelompok berjalan efisien. kemudian para siswa dari masing-masing kelompok yang nomornya disebut mengangkat tangan. Kelompok yang dibentuk sebaiknya mewakili prestasi akademik. Setiap siswa diharapkan dapat aktif dan memahami alur diskusi masing-masing kelompok. jenis kelamin. Guru memanggil salah satu nomor. dan kemampuan belajar. Dengan pegangan buku paket para siswa di dalam kelompok mulai berdiskusi mengenai permasalahan yang tertuang dalam lembar kerja siswa. Setelah itu setiap anggota kelompok memiliki pandangan yang sama terhadap masalah yang sudah didiskusikan. guru yang merupakan fasilitator dalam pembelajaran bersama para siswa akan merangkum kesimpulan dari hasil diskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya. Kelebihan dan Kekurangan NHT Kelebihan atau keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 74 . Pegangan materi Setiap kelompok wajib memiliki pegangan materi berupa buku paket atau sumber bacaan yang lain. guru memberikan nomor kepada masing-masing siswa pada setiap kelompok antara 1-3 atau 1-5. c.Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok. Setelah kelompok terbentuk. Hal ini untuk memudahkan para siswa di dalam kelompok tersebut mengerjakan lembar kerja yang sudah dipersiapkan oleh guru.

Pemahaman yang lebih mendalam f. Adanya alokasi waktu yang panjang b. Munculnya jiwa kompetisi yang sehat d. Timbul rasa tanggung jawab Sedangkan kekurangan tipe number head together adalah: a. Kelas menjadi benar-benar hidup dan dinamis b. dipanggil lagi oleh guru atau adanya nomor yang tidak terpanggil Belajar dan Model-Model Pembelajaran 75 . Setiap siswa mendapat kesempatan untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapatnya c.a. Waktu untuk mengkoreksi hasil kerja siswa lebih efektif dan efisien e. Kemungkinan nomor yang dipanggil.

Inventarisasi jenis pekerjaan (job).……… Belajar dan Model-Model Pembelajaran 76 . Setiap kompetensi keahlian pada umumnya memiliki lebih dari satu bidang/jenis pekerjaan yang dapat di isi oleh lulusan.1 …………………………………………. P.2 …………………………………. SK1 …………………………. sehingga cocok digunakan untuk di SMK. Model pembelajaran project work sering digunakan untuk program pembelajaran produktif. Langkah-langkah pembelajaran project work 1.…………………….…………….. SK3 …………….3 …………………………………. Inventarisasi Pekerjaan (Job) Pendataan jenis pekerjaan (job) dapat mengacu: kepada jenis pekerjaan yang ada di kurikulum. Dst ……….. P. melalui proses produksi/pekerjaan yang sesungguhnya.……… P. b. SK2 ……………. Standar Kompetensi Kerja (SKK) yang berlaku. 1) Inventarisasi Standar Kompetensi Lulusan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi standar kompetensi (SK) yang terdapat dalam kurikulum/silabus. standar kompetensi dan produk yang dapat dihasilkan. Model Pembelajaran Project Work Project Work adalah model Pembelajaran yang mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematisdan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk (barang atau jasa).. Perencanaan Project Work a.…………….E.. dan atau standar pekerjaan lain yang ada di DU/DI/masyarakat.

Analisis Standar Kompetensi Terhadap Jenis Produk Standar Kompetensi Produk Kode Standar Kompetensi SK1 Pr1 Pr2 Pr3 Prn SK2 SK3 SK4 SK5 SK6 SK7 SKn Belajar dan Model-Model Pembelajaran 77 . c. dan produk tersebut. selanjutnya dianalisis standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap produk dan bidang pekerjaan dengan menggunakan tabel 2.Dst. Analisis Standar Kompetensi Terhadap Produk (Barang/Jasa) Hasil inventarisasi standar kompetensi lulusan. Tabel 2. Tabel 1. bidang pekerjaan. Daftar Nama Produk Setiap Bidang Pekerjaan No 1 Bidang/Jenis Pekerjaan P1 Nama Produk (barang/jasa) Pr1 Pr2 2 P2 Pr3 Pr3 3 P3 Pr4 Pr5 d. Inventarisasi Produk (Barang/Jasa) Setiap Pekejaan Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengiden-tifikasi produk yang dapat dihasilkan oleh setiap bidang/jenis pekerjaan sehingga peserta didik memilki orientasi produk yang akan dihasilkan pada setiap pembelajaran.

3) Produk (Pr1) dan (Pr2 ) dapat digunakan sebagai pilihan peserta didik sebagai media pembelajaran SK1 dan SK2 4) Setelah seluruh standar kompetensi teridentifikasi terhadap produk yang ada. e. demikian selanjutnya untuk Produk yang lain. Hasil analisis Standar Kompetensi terhadap Jenis Produk pada tabel 2 dapat dimaknai sebagai berikut. Pelaksanaan Model Pembelajaran Pendekatan Project Work Pembelajaran dengan pendekatan Project Work dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Alternatif produk dapat dipilih oleh peserta didik. SK4 2) Produk (Pr2 ) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1. SK3 dan SK 5. 1) Produk (Pr1) dapat dikerjakan pada pembelajaran SK1. Guru menyampaikan: 1) tujuan pembelajaran yang akan dicapai 2) strategi pembelajaran dengan pendekatan project work Belajar dan Model-Model Pembelajaran 78 . sedangkan kolom berikutnya diisi dengan kode Standar Kompetensi hasil inventarisasi (Kurikulum/Silabus). a. Penetapan Bukti Belajar/Evidence of Learning Berdasarkan hasil analisis standar kompetensi terhadap produk. 2.Baris pada kolom 1 diisi kode produk (nama barang/jasa). maka guru menetapkan alternatif produk yang akan dikembangkan untuk setiap standar kompetensi yang dipelajari. SK2. SK2. Menentukan standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk (barang/jasa) dengan memberi tanda cek (√) pada kolom standar kompetensi terkait. guru diminta untuk menetapkan bukti-bukti belajar (Evidence Of Learning) yang akan digunakan sebagi acuan dalam penilaian hasil belajar peserta didik.

b. 3) Sketsa/Gambar Kerja (Jika Diperlukan) 4) Bahan Produksi 5) Fasilitas/Peralatan Produksi 6) Proses Produksi   Rencana Anggaran Biaya Sasaran Pasar/Konsumen o Jadwal Pelaksanaan 2. memilih salah satu judul/nama produk/jasa. melakukan proses belajar sesuai dengan proses produksi yang telah direncanakan. Kerangka rencana Project Work sebagai berikut. Kegiatan dilakukan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proposal di bawah bimbingan dan pengawasan guru. 1) Latar Belakang 2) Keunggulan Dan Fungsi Produk/Jasa. 4. mengorganisasi bukti belajar sebagai portofolio. Dan menyusun rencana Project Work sesuai dengan judul yang dipilih. 4) ruang lingkup standar kompetensi yang akan dipelajari oleh peserta didik untuk setiap judul/nama produk/jasa 5) menyusun dan menetapkan pedoman penilaian kompetensi sesuai dengan judul project work 6) memfasilitasi bimbingan kepada peserta didik dengan memanfaatkan lembar bimbingan. Proses belajar menekankan pada pencapaian standar kompetensi yang dibuktikan dengan bukti belajar (learning evidence) dan diorganisasi dalam bentuk portofolio. Peserta didik 1. melaksanakan kegiatan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display).3) alternatif judul/nama produk/jasa yang dapat dipilih peserta. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 79 . 3.

dan kesesuaian waktu pelaksanaan. dan kulminasi (presentasi/ pengujian/penyajian/display). keterampilan. 3. Peserta didik dinyatakan kompeten apabila memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan pada indikator dari setiap kompetensi dasar.5. sikap. Komponen project work yang dinilai terdiri dari penyusunan rencana Project Work. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 80 . pelaksanaan proses produksi. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar dengan pendekatan project work pada dasarnya adalah penilaian standar kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan. kegiatan. Penetapan pencapaian nilai mengacu pada Pedoman Penilaian dan Pelaporan Hasil Belajar Peserta Didik SMK. kesesuaian produk/jasa. laporan. menyusun laporan sesuai dengan pengalaman belajar yang diperoleh.

bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pemebelajaran kooperatif ini guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubungan ke arah pemahaman yang Belajar dan Model-Model Pembelajaran 81 . anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari.F. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat. sesuai dengan falsafah konstruktivisme. dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman. Dengan demikian. Ini membolehkan pertukaran ide dan pemeriksaaan ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam. pendidikan hendaknya mampu mengkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi siswa. yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. seperti yang diungkapkan Lie (1993: 73). Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Menurut Slavin (2007). Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (jigsaw). menumbuhkan aktivitas dan daya cipta kreativitas sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pemebelajaran. yaitu sebuah teka-teki yang menyusun potongan gambar.203). dan mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa inggris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle. 2008.

tetapi harus juga membangun dalam pikirannya. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka. b. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan langsung menerapkan ide-ide meraka. Guru memberi evaluasi h. Namun. ini merupakan kesempatan bagi siswa menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. hasil pembahasan itu dibawa kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang siswa. permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama. Tiap tem ahli mempresentasikan hasil diskusi g. Guru tidak hanya memberikan penegtahuan pada siswa. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan d. mengemukakan langkah-langkah kooperatif model jigsaw sebagai berikut: a. e. Selanjutnya. Menurut Stepen. dengan catatan siswa sendiri. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda c. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Penutup Secara umum langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 82 . dalam untuk 1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Menurut Rusman (2008 : 205) pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip Rusman (2008).lebih tinggi. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang subbab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama f.

Guru mendorong anggota kelompok mengajukan pertanyaan ke penyaji dan mendiskusikan lembar kerja kelompok kecil. apabila jumlah anggota kelompok 4 orang siswa maka bab tersebut dibagi menjadi 4 bagian. Masing-masing anggota kelompok kecil mengajarkan topik masing-masing ke anggota lainnya dalam kelompok. Jadi. Seringlah Belajar dan Model-Model Pembelajaran 83 . Setiap anggota kelompok ahli harus menerima satu lembar kerja “ahli”. Setiap anggota kelompok ditugasi untuk membaca dan mempelajari bagiannya pada bab tersebut. Setelah diskusi kelompok kecil guru menyelenggarakan tes yang mencakup materi satu bab penuh dalam waktu yang tidak lebih dari 15 menit. c) Pelaporan dan Pengetesan Masing-masing anggota kelompok ahli kembali ke kelompok kecil masingmasing.Bahan Ajar Diskusi Kelompok Ahli Pelaporan dan Pengetesan Penghargaan Gambar. Pada tahap selanjutnya masing-masing anggota kelompok bertemu dengan ahli-ahli dari kelompok lain dalam kelas. Tujuan kelompok ini adalah mempelajari subbab tersebut kepada kelompok kecil masing-masing. Guru mendorong para siswa untuk menggunakan metode mengajar yang bervariasi. b) Diskusi Kelompok Ahli Kelompok ahli harus melakukan pertemuan sekitar satu kali pertemuan untuk mendiskusikan topik yang ditugaskan. Guru mendorong para siswa menggunakan cara belajar yang bervariasi. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Keterangan: a) Bahan Ajar Guru memilih satu bab dalam buku ajar kemudian membagi bab tersebut menjadi bagian-bagian sesuai dengan jumlah anggota kelompok. Lembar kerja ahli harus membuat pertanyaan-pertanyaan dan kegiatan (jika ada) utnuk mengarahkan diskusi kelompok.

segera beri dia penghargaan khusus yang bersifat terbuka untuk kompetisi ini. 2008: 246). Ellizabeth Cohen telah menemukan bahwa penting untuk menyadari akan para siswa yang diduga memiliki kompetensi yang konsisten rendah. d) Penghargaan Tahap ini merupakan tahap yang mampu mendorong para siswa untuk lebih kompak. Dampak dari model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai berikut: struktur konsep kepekaa n sosial keberga ntungan positif toleransi atas perbeda an kepemi mpinan kolektif model jigsaw pemrose san kelompo k kesadara n akan perbeda an Belajar dan Model-Model Pembelajaran 84 . Kinerja individu yang luar biasa juga dilaporkan. Kepekaan guru sangat diperlukan disini. Cukup berikan nilai individual kepada siswa. Penghargaan kerja masingmasing kelompok dapat disajikan pada papan pengumuman yang dilaporkan peringkat masing-masing kelompok dalam kelas. Guru dapat menggunakan kata-kata khusus untuk memberikan kinerja kelompok semacam Bintang Sains. (Slavin. Pada tahap ini rata-rata peningkatan kelompok dilaporkan. atau lembar berita. skor kemajuan. Penting untuk dipahami bahwa menghargai siswa secara akademik dari kelompok berkemampuan rendah merupakan bagian integral keefektifan pembelajaran Jigsaw.menggunakan kuis-kuis dan jangan menggunakan skor tim. Kelompok Einstein. atau sebutan lainnya. Ketika siswa semacam ini meununjukkan kinerja baik.

bertemu dengan topik yang sama dalam kempok ahli untuk berdiskusi dan membahas metari yang ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain untuk mempelajari topik mereka tersebut. Selanjutnya diakhir pembelajaran. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependensi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik. siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Illustrasi kelompok Jigsaw Keterangan: Dalam Jigwas ini setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 85 .Gambar. para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan berusaha mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok ahli. Para anggota dari kelompok asala yang berbeda. Dampak Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Kelompok Asal 1 2 1 2 1 2 1 2 3 4 3 4 3 4 3 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 Kelomok Ahli Gambar. mempelajari serta memahami setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut. Kemudian siswa-siswa perwakilan dari kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota dari kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. Setelah pembahasan selesai. Selanjtunya materi tersebut didiskusikan.

2. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigwas a) Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Mengembangkan hubungan antar pribadi positif siswa yang dimiliki kemampuan belajar berbeda 2) Menerapkan bimbingan sesama teman 3) Rasa menghargai yang lebih tinggi 4) Memperbaiki kehadiran dan keaktifan siswa 5) Penerima terhadap perbedaan individu 6) Sikap apatis berkurang 7) Pamahaman materi lebih mendalam 8) Meningkatkan motivasi belajar b) Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: 1) Jika guru tidak meningkatkan agar siswa selalu menggunakan keterampilanketerampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet. 2) Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 86 . sehingga perlu waktu merubah possi yang dapat juga menimbulkan gaduh. misal jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-tugas dan pasif dalam diskusi. 3) Membutuhkan waktu yang lebih lama terelebih bila ada penataan ruang yang belum terkondisi dengan baik.

Kesulitan pokok yang dihadapi siswa dalam berbicara adalah menghubungkan berbagai ide yang dimiliki untuk membangun suatu pemahaman dan penyampaian yang baik dan menarik. Peran penting penguasaan keterampilan berbicara sangat tampak di semua lingkungan . Kemampuan atau keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan gagasan pendapat dan perasaan pada pihak lain secara lisan. peningkatan rasa kemanusiaan. penumbuhan apresiasi budaya. seorang guru pun dituntut untuk dapat berbicara dengan baik agar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. imajinasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif baik secara lisan maupun tulis. seorang pemuka agama pastilah juga mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa saat ini lebih di tekankan pada fungsi bahasa artinya bahasa sebagai alat komunikasi. kepedulian sosial. pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan keterampilan siswa berkomunikasi dan fungsi utama sastra sebagai sebagai penghalus budi. Metode Pembelajaran Debate Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif.G. Oleh karena itu. dan bermasyarakat. Hal itu terjadi karena memang berbicara merupakan hal yang sangat penting dalam pencapaian cita-cita. hampir dapat dipastikan setiap orang yang sukses pasti memiliki kemampuan berbicara yang baik. tepat dan sesuai dengan kaidah ketatabahasaan yang berlaku. Ketepatan mengungkapakan gagasan pendapat dan perasaan dipengaruhi oleh penggunaan bahasa yang efektif. pergaulan. Seorang presiden pastilah orang yang pandai dalam berbicara. Suatu komunikasi dikatakan berhasil kalau pesan yang disampaikan pembicara atau penulis dapat dipahami penyimak atau pembaca persis sama seperti yang dimaksudkan pembicara atau penulis tersebut. Kesulitan yang dialami siswa dalam berbicara dapat Belajar dan Model-Model Pembelajaran 87 . serta penyalur gagasan. oleh karena itu kita harus terampil berbahasa supaya komunikasi berjalan lancar. kerja. Keterampilan berbicara sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan sekolah.

faktor guru juga sangat berpengaruh khususnya dalam proses pembelajaran. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 88 . Salah satu model pembelajaran yang mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak adalah model pembelajaran debat. Pertama-tama masalah yang akan diperdebatkan dibacakan dengan pemberian beberapa ilustrasi yang sudah terjadi. Melihat pentingnya kemampuan berbicara dalam kehidupan sehari-hari tentulah dalam membelajarkan kemampuan berbahasa aspek berbicara diperlukan metode dan atau model pembelajaran yang bervariasi. Setelah itu kelompok pro diminta untuk menyanggah apa yang telah disampaikan oleh kelompok kontra juga dengan pemberian alasan-alasan yang logis. diantaranya faktor pada diri siswa yaitu pemahaman siswa masih kurang terhadap keterampilan berbicara. kemudian siswa yang telah dibagi menjadi dua kelompok diminta untuk memberi tanggapan. dan sikap siswa yang meremehkan kegiatan berbicara. pertama kelompok kontra diberi kesempatan untuk menolak atau tidak setuju dengan ilustrasi yang diberikan dengan memberikan alasan-alasan yang logis dari berbagai sudut pandang. Lebih jelasnya pembelajaran model Debat dilakukan dengan pemberian materi berupa masalah yang sedang hangat dibicarakan saat itu. Model pembelajaran debat mengarahkan siswa untuk berbicara dengan beradu argumen dari dua kelompok yang telah disetting untuk selalu beda pendapat. kelompok pertama diminta untuk selalu setuju ( kelompok pro ) terhadap masalah yang diberikan sedangkan kelompok yang kedua diminta untuk selalu tidak setuju ( kelompok kontra ) terhadap masalah yang diberikan. Selain itu.dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam pelaksanaanya dua kelompok tersebut akan mempertahankan pendapatnya sesuai apa yang telah di setting. 1. Pengertian Model Pembelajaran Debate Model pembelajaran debat merupakan model pembelajaran berbicara yang tidak hanya monoton satu arah. Kevariasian ini dilakukan untuk menemukan model yang paling cocok doterapkan pada siswa tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.

Untuk menghindari kebosanan kedua kelompok diadakan pertukaran posisi dan permasalahan yang berbeda-beda.Proses debat tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga siswa benarbenar berfikir semaksimal mungkin kemudian mengungkapkanya di depan forum. 2. Dalam pelaksanaan model pembelajaran debat ini sangat diperlukan seorang pembimbing untuk mengendalikan keadaan kelas. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. Guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas. Langkah-langkah Pembelajaran Debate Langkah-langkah dalam pembelajaran debate adalah sebagai berikut: a. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. yaitu kelompok pro berubah menjadi kelompok kontra dan begitu juga sebaliknya. setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yang lain kontra b. Setelah selesai membaca materi guru menunjukkan salah satu anggotanya kelompok pro untuk bicara saat itu ditanggapi atau diulas oleh kelompok Belajar dan Model-Model Pembelajaran 89 . Yang diharuskan bagi para peserta debat adalah tidak diperkenankan menggunakan kata-kata yang kasar atau tidak baik agar siswa terlatih untuk berbicara dengan baik dan teratur. karena apabila sudah terjadi perdebatan setiap kelompok tidak ada yang mau mengalah dan semakin lama perdebatan akan semakin memanas sehingga kehadiran seorang pembimbing sangat diperlukan. Metode debat juga merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Pada dasarnya. c. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra.

Setelah kelompok dibagi. b. c. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. d. Siswa dibagi dalam dua kelompok besar. Menyuruh kelompok kontra untuk menanggapi informasi tersebut. Kegitan tersebut di ulang terus secara bergantian dan peran kelompok juga dirubah dari yang semula kelompok pro menjadi kelompok kontra dan sebaliknya juga. dan kelompok pro pun mempertahankan pendapat mereka dengan berbagai argumen yang dimiliki. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Guru menambah konsep / ide yang belum terungkap f. Dari data-data di papan tersebut guru mengajukan siswa membuat kesimpulan rangkuman yang mengacu pada topic yang ingin dicapai. Menyuruh kelompok pro untuk menanggapi pernyataan dari kelompok kontra. Proses pembelajaranya dimulai dengan pemberian masalah berupa informasi kontroversial yang sedang hangat dibicarakan dengan memberikan ilustrasi terhadap masalah tersebut kemudian salah satu kelompok diberi kesempatan memberi tanggapan terhadap ilustrasi tersebut.kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa menemukakan pendapatnya. Pelaksanaan langkah-langkah metode pembelajaran debate misalnya sebagai berikut: a. tentunya dalam bentuk sanggahan. Langkah-langkah penerapan pembelajaran model ini yaitu pertama-tama siswa diberi tahu tentang aturan main dari model debat ini. yang terdiri dari kelompok pro dan kontra. Kelompok kontra kembali menyanggah untuk mempertahankan pendapat mereka. d. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 90 . guru menjelaskan tentang kompetensi dasar yang akan dipelajari. e. Pembacaan informasi atau masalah yang akan diperdebatkan. setelah itu kelompok yang satunya diberi kesempatan untuk menyanggah pendapat dari kelompok yang satunya.

3. g. Adapun kekurangan dari metode ini adalah ketika menyampaikan pendapat saling berebut. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Debate Kelebihan dari model pembelajaran debat adalah memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan.e. Setelah kegiatan debat selesai siswa diminta menanggapi dan mengevaluasi cara penyampaian pendapat yang diberikan oleh siswa dalam kegiatan debat tersebut. Pembacaan masalah lain yang harus ditanggapi oleh tiap kelompok dan seterusnya. melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Setelah dirasa cukup. melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan oleh guru. Dengan sering diadakanya kegiatan ini siswa akan menjadi terbiasa untuk berbicara secara terstuktur dan terkonsep dengan baik. Selain itu dia juga dapat dengan mudah merangsang siswa untuk berpikir kritis dan spontan yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengungkapan secara lisan yang secara langsung merangsang kemampuan berbicara anak. kelompok diadakan pergantian yaitu kelompok pro diubah menjadi kelompok kontra. menyenangkan. dan ramai. dan sebaliknya. Guru yang bertindak sebagai pembimbing di sini juga memberikan evaluasi terhadap kegiatan dan cara mengemukan pendapat siswa dalam kegiatan debat. f. Dalam pembelajaran berbicara dengan model debat akan lebih menarik apabila pembimbing dapat menguasai emosi peserta. Dengan pembimbing mengguasai emosi peserta dia akan mudah membuat debat tersebut menjadi sangat menarik. saling adu argumen yang tidak kunjung selesai bila guru tidak menengahi. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 91 . h. siswa yang pandai berargumen akan selalu aktif dan yang kurang pandai berargumen hanya diam dan pasif.

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu.H. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran. atau main drama. titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Kegiatan tersebut biasanya spontan tanpa dipersiapkan atau dilatih terlebih dahulu. Model Pembelajaran Role Playing Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan. Dan sesudah sosiodrama berlangsung masing-masing individu mendiskusikan bagaimana perasaan-perasaan mereka. sosial. Kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan kostum atau naskah cerita tertentu. Selain itu. sangat penting untuk perkembangan kognisi. Erikson. dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygotzky. Latar belakang dari sesuatu situasi didiskusikan dan kemudian bagian-bagian yang ada diseleksi. Biasanya anak didik memilih di antara beberapa topik yang diberikan kepada mereka. make-believe. fantasi. Main peran disebut juga main simbolik. 1986). Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid Belajar dan Model-Model Pembelajaran 92 . Naskah pendek yang dibawakan biasanya sudah mengandung situasi permasalahan. pura-pura. 2000). 1967. Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Pada metode bermain peranan. secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield. imajinasi. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. 1963).

(Departemen Pendidikan Nasional. Jadi. melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi. tahap ini peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter. dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah. bagaimana Belajar dan Model-Model Pembelajaran 93 . dan menghargai keputusan bersama. dalam pembelajaran murid harus aktif. Bermain peran akan berhasil apabila peserta didik menaruh minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru. menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain. Metode role playing (bermain peranan) pada pengajaran yang direncanakan secara baik. apa yang mereka suka. 2001). E. dapat menanamkan pengertian peranan orang lain pada kehidupan bermasyarakat. karena tanpa adanya aktivitas. 2002). menghargai pendapat dan kemampuan orang lain. Tahap ini lebih banyak dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena itu tahap ini sangat penting dalam bermain peran dan paling menentukan keberhasilan. Menghangatkan suasana kelompok termasuk mengantarkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari. serta menjelaskan peran yang akan dimainkan. Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik. maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. Langkah-langkah Pembelajaran Role Playing Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel. Memilih peran Memilih peran dalam pembelajaran. murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah. 1. mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono. menafsirkan cerita dan mengeksplorasi isu-isu. menjelaskan masalah. 2. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi: 1. Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi.

Pemeranan ulang Pemeranan ulang. 5. para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Ada kalanya para peserta didik keasyikan bermain peran sehingga tanpa disadari telah mamakan waktu yang terlampau lama. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran lainnya. Dalam hal ini. 8. sebaiknya pengamat dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya. baik secara emosional maupun secara intelektual. Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup. sesuai dengan peran masing-masing. Menyiapkan pengamat Menyiapkan pengamat. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam upaya pemecahan masalah. dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif pemeranan. 6. kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk menjadi pemeran. Diskusi dan evaluasi tahap dua Belajar dan Model-Model Pembelajaran 94 . 3. Diskusi dan evaluasi Diskusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran. Dengan melontarkan sebuah pertanyaan. 4. Mungkin ada perubahan peran watak yang dituntut. tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk bertindak dan berbicara secara spontan. Pemeranan Pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi secara spontan. pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain peran dihentikan. Menyusun tahap-tahap peran Menyusun tahap-tahap baru. 7.mereka merasakan. dan apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. dan apa yang harus mereka kerjakan.

8. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul secara spontan. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 95 . dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri 5. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah. guru. hanya dimaksudkan untuk menganalisis hasil pemeranan ulang. 6. teman dan sebagainya. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. diskusi dan evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi 4. dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan 2. 9. Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua. Sangat menarik bagi siswa. 9. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.Diskusi dan evaluasi tahap dua. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda. sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias 3. 7. 2. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Role Playing Berikut adalah kelebihan dari model pembelajaran role playing dalam kegiatan pembelajaran: 1.

Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. biografi maupun cerita-cerita yang lain dapat membantu anak didik untuk mencapai keterampilan tersebut. Salah satu tugas guru adalah membantu anak didik untuk bisa berlaku sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan. ceritacerita sejarah. kita beranggapan lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena akan lebih jelas. 3. Penerapan Role Playing saat Proses Pembelajaran Metode role playing (bermain peranan) dalam proses belajar mengajar digunakan: 1. Apabila kita ingin melatih anak-anak agar mereka dapat menyelesaikan masalahmasalah yang bersifat sosial psikologis. (Nana Sudjana. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 96 . Melatih daya imajinasi siswa Selain memiliki kelebihan. Berbagai bentuk permainan. 3. Memerlukan tempat yang cukup luas. Banyak memakan waktu. jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas. 2. dalam proses pembelajarannya role playing memiliki bebarapa kelemahan. Apabila kita ingin menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak. yaitu: 1. 2. 3.10. 4. Apabila kita akan melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. 11. dan sebagainya. Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadangkadang bertepuk tangan. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif. 2005:8485).

Tindakan ini bisa menambah kegairahan anak untuk bermain peranan (role playing). guru justru memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para siswa. Petunjuk pelaksanaan role playing antara lain: 1. Di dalam melaksanakan kegiatan sosiodrama yang pertama kali sebaiknya guru juga mengambil sesuatu peran. 6.Bercerita tentang apa yang dirasakan orang lain kadang-kadang ada manfaatnya. Hal itu akan sangat menguntungkan bagi para siswa yang menjadi penonton (sekaligus sebagai penilai). Apa yang telah dipilih barangkali mempunyai arti tersendiri bagi dirinya. antara lain: 1. Upayakan agar semua pihak bisa mengambil peranan. 3. 7. bagaimana perasaan mereka setelah bermain. 2. tetapi jangan sampai membatasi anak didik tentang apa yang akan diutarakan dan bagaimana mereka menghayati perannya. Jika hal itu benar-benar dilaksanakan. Dalam penggunaan metode role playing ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil. Guru Belajar dan Model-Model Pembelajaran 97 . Sebaliknya. Guru yang telah berhasil menggunakan sosiodrama akan beranggapan bahwa metode tersebut lebih baik dibanding metode-metode yang lain. 5. Harap diingat bahwa guru jangan terlalu banyak memberikan aturan-aturan permainan. Biarkan anak didik menentukan sendiri. Berikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih peranannya sendiri. Usahakan situasi benar-benar jelas dan terang. baik dengan bercerita yang sama maupun tidak. Ulangi situasi tersebut. maka situasi sosial yang didramatisasikan akan serupa benar dengan kejadian yang sesungguhnya. Diskusi bisa dimulai dari aktor atau aktris itu sendiri. Diskusikan pelaksanaan sosiodrama tersebut. Diskusikan terlebih dahulu situasi yang akan dimainkan. Mereka akan memerankannya dengan lebih baik apabila mereka sendiri yang memilih bagiannya. 4.

dapat bertingkah laku dan bersikap seperti dalam situasi sosial yang sesungguhnya. semua harus diserahkan kepada pemeran yang bersangkutan. c. b. Siswa Dramatisasi ini akan berhasil kalau para siswa yang berperan dapat menjiwai situasinya. Apa yang akan ia lakukan. 3.Guru tidak boleh bersikap apriori. Bahan harus dipilih dengan cermat. keputusan apa yang akan ia pilih jika ia berada dalam situasi sosial seperti itu. 2. Kriteria yang harus diperhatikan antara lain: a. jika bahan itu cocok dengan para pemeran yang akan memerankannya. agama. Bahan Sesuatu yang didramatisasikan akan baik hasilnya. Bahan hendaknya tidak mengandung adegan-adegan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Setiap individu akan menghayati situasi sosial menurut caranya sendiri. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 98 . Bahan harus memperkaya pengalaman sosial siswa. Bahan harus cukup mengandung sikap dan perbuatan yang akan didramatisasikan siswa. Bahan harus sesuai dengan perkembangan jiwa siswa. kepribadian bangsa Indonesia. d.

2. menggunakan kelompok kecil.I. dkk. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Ward. memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa.1993). berbentuk ill-structured. 3. 2002. Fogarty(1997) menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada siswa (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis. Pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru). dan 6. 4. merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong Belajar dan Model-Model Pembelajaran 99 . Model Pembelajaran Based Learning Pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning). atau open ended melalui stimulus dalam belajar. selanjutnya disingkat PBL. 5. Lebih lanjut Boud dan felleti. bukan diseputar disiplin ilmu. PBL memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut: 1. menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja. belajar dimulai dengan suatu masalah. Stepien. (1997). mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah.. memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri. kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut.

penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari 1. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa.berperan aktif dalam belajar. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacammacam pertanyaan. Jika pembelajaran dimulai dengan suatu masalah dan masalah tersebut bersifat kontekstual. maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri siswa.Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok. Dengan kata lain. Alasan Problem Based Learning digunakan PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada Belajar dan Model-Model Pembelajaran 100 . Oleh sebab itu. fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa/mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan apa yang harus dilakukan. siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis. Dalam model PBL.

Implementasi Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. 2001). ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning). belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors). mengidentifikasi masalah. 2. mengumpulkan data. Secara umum penerapan model yaitu dengan adanya masalah yangharus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa/mahasiswa. dan 8. Siswa/mahasiswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen. inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah. menganalisis data. Adapun langkah-langkah model pembelajaran ini bagi guru adalah sebagai berikut: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 101 . Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh siswa yang diajar dengan PBL yaitu: 1. dengan arti lain. memilih cara untuk memecahkan masalah. melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkahlangkah metode ilmiah. yaitu: 1. siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Dengan demikian siswa/mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. 2. penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa/mahasiswa. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa/mahasiswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. merencanakan penerapan pemecahan masalah. Oleh sebab itu. 6. 3.bagaimana dia membelajarkan dirinya. 7. memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya. 4. melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. 5. dan 3. 2.

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. jadwal. tugas. hipotesis. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 5. 3. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 102 . pemecahan masalah.1. 4. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. dll). pengumpulan data. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. 2. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

.google.id/url?sa=t&rct=j&q=koneksinimisme&source=web&cd= 2&ved=0CCsQFjAB&url=http%3A%2F%2Ftrimanjuniarso. Bandung: CV Siliwangi & CO Juniarso. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw. Bergesernya Teori-Teori Belajar.go.edu/operator/upload/s_d0251_060231_chapter2.. (2005).kemenag. MP. Riau Fadhly. Fertina. Rum. SE.pdf [18 Mei 2012] Hidayat. (2011). Triman. Dr. [Online]/ Tersedia: kompasiana.wordpress. (2009).com %2F2008%2F02%2Fteori-belajarbehavioristik. [Online]. Jakarta : Erlangga Dra. Tersedia:http://andi1988. Msi. Tersedia: http://sharingkuliahku.M.com/rumrosyid/d/45080023/28-TeoriKoneksionisme [10 Maret 2012] Rulam. Model-Model Pembelajaran Berbasis Paikem. Prof.1989. 2012. Teori-Teori Belajar. Almasdi Syahza.wordpress. (2011). Teori Belajar Behavioristik. [Online]. teori-teori belajar.scribd.wordpress. Tersedia: Belajar dan Model-Model Pembelajaran 103 . Tersedia: http://sumsel.DAFTAR PUSTAKA Andi.pdf [6 Juni 2012] Anonim.upi. Pembelajaran Kontekstual.S. [Online]. Tersedia: http://repository. [Online]. 2011. _______.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2/ [10 Maret 2012] Anonim. [Online].id/file/dokumen/modeljigsaw. Dr. Mitri Irianti.doc&ei=RbZWT9uGGsnprQfyk8S1Bw&usg=AFQjCNGkyC_amh 54NCSlSd3-_4ZWktMyaQ [7 Maret 2012] Rizcha. [Online]. 2011. Pengaruh Bermain Peran (Role Playing) dalam Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Inggris. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.com/category/model-pembelajaran-roleplaying/ (20 Mei 2012) Dahar Ranta Willis Pof.com [7 Maret 2012] Rosyid. Model Pembelajaran Role Playing.files. [Online].co. Tersedia:http://www. U. Tersedia: http://www. Kolaborasi Teori dalam Pendidikan Pragmatisme.SC. 2010.

Tidak diterbitkan. Bandung : Pusat pengembangan penataran guru IPA. Belajar dan Model-Model Pembelajaran 104 . Problem Based Learning: Suatu Metode Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.com/207-pengaruh-bermain-peran-role-playing-dalammeningkatkan-pembelajaran-bahasa-inggris/ (20 Mei 2012) Sudarman. ____. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning).____.2000.infodiknas.html#ixzz16klc4gPi September 2011) : (08 .http://www. Wayan I. Model Pakem..com/2010/03/model-pakem. 2007.vilila. _____. 2010. [On Line] Tersedia http://www. Tidak diterbitkan. kumpulan-nahan diklat nasional guru biologi SMU. Dasna.

Melihat hasil UAN yang peluangnya kecil unuk diterima di SMA Negeri. Di SMA dia mulai di OSIS dan menjadi panitia diberbagai acara. Diakhir pendidikan SMP-nya. Menempuh pendidikan SD (1998-2004) di SDN Cibeureum 8. juara 1 lomba Danton Paskibra antar kelas. Berbekal nilai hasil UAN yang memuaskan pada tahun 2004 dia berhasil diterima di SMPN 9 Bandung (2004-2007). ia rajin berkunjung ke perpustakaan. Akan tetapi. tidak jauh dari sekretaris atau bendahara. Jadi. pernah bolos pelajaran Bahasa Sunda. mulai dari dihukum berlari keliling sekolah.RIWAYAT HIDUP PENYUSUN Anja Wulan Sari. tidak heran gelar murid teladan pernah disandangnya. lahir di Bandung pada 11 Januari 1992. Dari kegemarannya itulah ia mulai senang menulis puisi. ia menyenangi bacaan fiksi. Entah apa Belajar dan Model-Model Pembelajaran 105 . sampai juara 3 lomba musikalisasi puisi antar kelas. Semasa SD-nya dia dikenal sebagai sosok murid yang rajin dan patuh. Posisi yang selalu diamanatkan kepadanya. dia tetap bangga dengan apa yang didapatkannya karena semua murni hasil usahanya sendiri. Walau puisinya tidak sebagus punjangga tapi karyanya merupakan kepuasan batin tersendiri baginya. Selama SMP. Kehidupan SMA-nya cukup menarik. akhirnya dia tertarik dengan salah satu SMA swasta di Bandung dan dia berhasil diterima di SMA Angkasa Husein Sastranegara (2007-2010). juara kelas setiap semester. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kehidupan SMP-nya karena dia sama seperti siswa-siswi SMP lainnya yang mematuhi peraturan sekolah dan berteman dengan banyak orang. dia mendapatkan hasil UAN yang begitu mepet dengan passing gread SMA Negeri di Bandung.

gagal UM Poltekes Depkes Bandung sampai akhirnya berhasil diterima melalui jalur SNMPTN di Universitas Pendidikan Indonesia di Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri (2010-sekarang). gagal UM UPI. Mulai dari gagal seleksi PMDK UPI. Perjalanan memilih universitas pun penuh perjuangan. dia mulai disibukan dengan tes masuk universitas. Selesai mengenyam pendidikan SMA. ****** Belajar dan Model-Model Pembelajaran 106 .alasanya tapi dua posisi inilah yang selalu dikaitkan dengan siswi berpenampilan sederhana ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful