MAKALAH PERBANKAN SYARIAH “Prinsip Rahn (Gadai syariah)”

Oleh:

MUHAIMIN 2009110020

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG 2013

i

DAFTAR ISI BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2 1.3. Tujuan ........................................................................................................... 2 BAB II ..................................................................................................................... 3 2.1. Sejarah Berdirinya Rahn (Gadai Syariah) .................................................... 3 2.2. Tujuan Berdirinya Rahn (Gadai Syariah) ..................................................... 3 2.3. Aspek Pendirian Rahn (GadaiSyariah) ......................................................... 4 2.4. Pengertian Rahn ........................................................................................... 6 2.5. Dasar hukum ................................................................................................. 7 2.6. Hikmah Persyariatannya ............................................................................. 10 2.7. Unsur-unsur dalam Rahn ............................................................................ 11 2.8. Syarat-syarat Rahn ..................................................................................... 12 2.9. Jenis-jenis Rahn (Gadai Syariah) ............................................................... 16 2.10. Kapan Rahn (Gadai) menjadi keharusan? ................................................ 17 2.11. Kapan Dianggap Sah Serah Terima Rahn? .............................................. 18 2.12. Hukum-hukum Setelah Serah Terima. ..................................................... 18 2.13. Hak dan Kewajiban Rahin dan Murtahin ................................................. 20 2.14. Resiko kerusakan Marhun ........................................................................ 21 2.15. Manfaat Barang Gadai.............................................................................. 22 2.16. Memanfaatkan Barang yang Digadaikan ................................................. 23 2.17. Pertumbuhan barang gadai ....................................................................... 25 2.18. Perpindahan Kepemilikan dan Pelunasan Barang Gadai ......................... 26 2.19. Persamaan dan Perbedaan Rahn (Gadai Syariah) dengan Gadai Konvensional ..................................................................................................... 28 2.20. Konstruksi Sistem Operasional Gadai Syari‟ah (Rahn) ........................... 28 2.21. Riba dan Rahn (Gadai Syariah) ................................................................ 32 2.22. Berakhirnya Akad Gadai Rahn ................................................................. 33 2.23. Praktek Rahn (gadai) di Indonesia ........................................................... 34

ii

BAB III ................................................................................................................. 40 PENUTUP ............................................................................................................. 40 3.1. Kesimpulan ................................................................................................ 40 3.2. Kritik dan saran .......................................................................................... 42 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 43

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Dengan melihat fenomena yang terjadi diera globalisasi dan pengaruh westerinasi khususnya pada bidang fiqih muamalat, dimana orang sekarang kurang memperhatikan akan peraturan-peraturan yang tertera pada fiqih muamalat, sehingga terkadang menimbulkan kejanggalan, seperti contoh berhutang dengan menggunakan jaminan, banyak terjadi kesalah pahaman , terkadang orang menganggap barang jaminan itu telah menjadi miliknya, padahal tidak demikian. Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna telah meletakkan kaedah-kaedah dasar dan aturan dalam semua sisi kehidupan manusia baik dalam ibadah dan juga mu‟amalah (hubungan antar makhluk).

Setiap orang mesti butuh berinteraksi dengan lainnya untuk saling menutupi kebutuhan dan saling tolong menolong diantara mereka. Karena itulah sangat perlu sekali kita mengetahui aturan islam dalam seluruh sisi kehidupan kita sehari-hari, diantaranya yang bersifat interaksi social dengan sesama manusia, khususnya berkenaan dengan berpindahnya harta dari satu tangan ketangan yang lainnya. Hutang piutang terkadang tidak dapat dihindari, padahal banyak bermunculan fenomena ketidakpercayaan diantara manusia, khususnya dizaman kiwari ini. Sehingga orang terdesak untuk meminta jaminan benda atau barang berharga dalam meminjamkan hartanya.

Tidak dapat dipungkiri realita yang ada, suburnya usaha-usaha pergadaian baik dikelola pemerintah atau swasta menjadi bukti terjadinya gadai menggadai ini. Ironisnya banyak kaum muslimin yang belum mengenal aturan indah dan adil Islam mengenai hal ini. Padahal perkara ini bukanlah perkara baru dalam kehidupan mereka, sudah sejak lama mereka mengenal jenis transaksi seperti ini. Sebagai akibatnya terjadi kedzoliman dan saling memakan harta saudaranya dengan batil.

1

Kelebihan pegadaian dibanding bank, secara umum, adalah dalam hal kemudahan dan kecepatan prosedur. Pegadai (nasabah) tinggal membawa barang yang cukup berharga, kemudian ditaksir nilainya, dan duit pun cair. Praktis, sehingga sangat menguntungkan buat mereka yang butuh dana cepat.

Sedangkan perbedaan gadai syariah dengan konvensional adalah dalam hal pengenaan bunga. Pegadaian syariah menerapkan beberapa sistem pembiayaan, antara lain qardhul hasan (pinjaman kebajikan), dan mudharabah (bagi hasil) Bukan tanpa alasan mereka tertarik untuk menggarap gadai ini. Di samping alasan rasional, bahwa gadai ini memilki potensi pasar yang besar, sistem pembiayaan ini memang memiliki landasan syariah. Apalagi terbukti, di negara–negara dengan mayoritas penduduk muslim, seperti di Timur Tengah dan Malaysia, pegadaian syariah telah berkembang pesat sehingga dalam pembahasan makalah ini akan kami bahas mengenai tentang rahn.

1.2. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian rahn (gadai) dalam ilmu fiqih ? 2. Bagaimana pendapat para ulama fiqih tentang gadai ? 3. Bagaimana proses penerapan Rahn?

1.3. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian rahn (gadai) dalam ilmu fiqih. 2. Untuk mengetahui pendapat –pendapat yang telah diutarakan oleh para ahli fiqih mengenai gadai 3. Untuk mengetahui proses penerapan Rahn yang benar?

2

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Berdirinya Rahn (Gadai Syariah) Pegadaian dikenal mulai dari Eropa, yaitu negara Italia, Inggris, dan Belanda. Pengenalan di Indonesia pada awal masuknya kolonial Belanda, yaitu sekitar akhir abad XIX, oleh sebuah bank yang bernama Van Leaning. Bank tersebut memberi jasa pinjaman dana dengan syarat penyerahan barang bergerak, sehingga bank ini pada hakikatnya telah memberikan jasa pegadaian.

Lahirnya pegadaian syariah sebenarnya berawal dari hadirnya fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 mengenai bunga bank. Fatwa ini memperkuat terbitnya PP No. 10 tahun 1990 yang menerangkan bahwa misi yang diemban oleh pegadaian syariah adalah untuk mencegah praktik riba, dan misi ini tidak berubah hingga diterbitkannya PP No. 103 tahun 2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum pegadaian hingga sekarang.

Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah ( ULGS ). Konsep operasi pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern, yaitu asas rasionalitas, efisiensi, dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai islam. ULGS merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional. Kemudian menyusul pendirian ULGS di Surabaya, Makasar, Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta di tahun yang sama hingga September 2003. Masih di tahun yang sama pula, 4 Kantor Cabang Pegadaian di Aceh dikonversi menjadi Pegadaian Syariah.

2.2. Tujuan Berdirinya Rahn (Gadai Syariah) Dalam perspektif ekonomi, pegadaian merupakan salah satu alternatif pendanaan yang sangat efektif karena tidak memerlukan proses dan persyaratan yang rumit. Pegadaian melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat atas dasar hukum

3

gadai. Tugas pokok dari lembaga ini adalah memberikan pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan. Lembaga Keuangan Gadai Syariah mempunyai fungsi sosial yang sangat besar. Karena pada umumnya, orang-orang yang datang ke tempat ini adalah mereka yang secara ekonomi sangat kekurangan.

Dan biasanya pinjaman yang dibutuhkan adalah pinjaman yang bersifat komsumtif dan sifatnya mendesak. Dalam implementasinya, pegadaian syariah merupakan kombinasi komersil-produktif, meskipun jika kita mengkaji latar belakang gadai syariah, baik secara implisit maupun eksplisit lebih berpihak dan tertuju untuk kepentingan sosial. Banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari pegadaian syariah. Pertama, prosesnya cepat.

Dalam pegadaian syariah, nasabah dapat memperoleh pinjaman yang diperlukan dalam waktu yang relatif cepat, baik proses administrasi, maupun penaksiran barang gadai. Kedua, caranya cukup mudah. Yakni hanya dengan membawa barang gadai (marhun) beserta bukti kepemilikan. Ketiga, jaminan keamanan atas barang diserahkan dengan standar keamanan yang telah diuji dan diasuransikan dan sebagainya.

2.3. Aspek Pendirian Rahn (GadaiSyariah) Dalam mewujudkan sebuah pegadaian yang ideal dibutuhkan beberapa aspek pendirian. Adapun aspek – aspek pendirian pegadaian syariah adalah : 1. Aspek legalitas Mendirikan lembaga gadai syariah dalam bentuk perusahaan memerlukan izin pemerintah. Aspek ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1990 tentang berdirinya lembaga gadai yang berubah dari bentuk Perusahaan Jawatan Pegadaian menjadi Perusahaan Umum Pegadaian.

2. Aspek permodalan Apabila umat Islam memilih mendirikan suatu lembaga gadai dalam bentuk perusahaan yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam, aspek penting lainnya yang perlu dipikirkan adalah permodalan. Modal untuk

4

menjalankan perusahaan gadai cukup besar karena selain diperlukan dana untuk dipinjamkan kepada nasabah juga diperlukan investasi untuk tempat penyimpanan barang gadaian. Permodalan gadai syariah bias diperoleh dengan system bagi hasil, seperti mengumpulkan dana dari bebrapa orang ( musyarakah ), atau dengan mencari sumber dana (shahibul mal), seperti bank atau perorangan untuk mengelola perusahaan gadai syariah (mudharabah).

3. Aspek sumber daya manusia Keberlangsungan pegadaian syariah sangat ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusia ( SDM ) nya. SDM pegadaian syariah harus memahami filosofis gadai dan system operasionalisasi gadai syariah. SDM selain mampu menangani masalah taksiran barang gadai, penentuan instrument pembagian rugi laba atau jual beli, menangani masalah – masalah yang dihadapi nasabah yang berhubungan penggunaan uang gadai, juga berperan aktif dalam syiar islam di mana pegadaian itu berada.

4. Aspek kelembagaan Sifat kelembagaan mempengaruhi keefektifan ssebuah perusahaan gadai dapat bertahan. Sebagai lembaga yang relative belum banyak dikenal masyarakat, pegadaian syariah perlu mensosialisasikan posisinya sebagai lembaga yang berbeda dengan gadai konvensional. Hal ini guna memperteguh keberadaannya sebagai lembaga yang berdiri untuk memberikan ke maslahatan bagi masyarakat.

5. Aspek sistem dan prosedur System dan prosedur gadai syariah harus sesuai dengan prinsip – prinsip syariah yang keberadaannya menekankan akan pentingnya gadai syariah. Oleh karena itu gadai syariah merupakan representasi dari suatu masyarakat di mana gadai itu berada, maka system dan prosedural gadai syariah berlaku fleksibel dan sesuai dengan prinsip gadai syariah.

5

6. Aspek pengawasan Untuk menjaga jangan sampai gadai syariah menyalahi prinsip syariah maka gadai syariah harus diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Dewan Pengawas Syariah bertugas mengawasi operasional gadai syariah supaya sesuai dengan prinsip – prinsip syariah.

2.4. Pengertian Rahn Secara etimologi, rahn atau gadai berasal dari kata ats-tsubutu yang berarti tetap dan ad-dawamu yang berarti terus menerus. Sehingga air yang diam tidak mengalir dikatakan sebagai maun rahin. Dan Rahn dalam istilah positif Indonesia disebut dengan barang jaminan,sedangkan dalam islam rahn merupakan sarana saling tolong menolong bagi ummat islam Pengertian secara bahasa tentang rahn ini juga terdapat dalam firman Allah SWT : ‫كل وفس بما كسبت رٌيىت‬ Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.(QS. AlMuddatstsr : 38) Sedangkan berdasarkan terminilogi terdapat beberapa perbedaan pendapat para ulama : 1.Ulama fiqih syafi‟yah ‫جعل عيه بديه َثيقتفى يستُفاوً تعدرَعىد مىٍا‬ Menjadikan suatu benda sebagai jaminan hutang yang dapat dijadikan pembayaran ketika berhalangan dalam membayar hutang. 2.Ulama fiqih hanabilah ً‫المااللدييجعلُتيقتبالديىليسثُفىمىتمىٍاوثعدراسثفاؤٌممىٍُال‬ Harta yang dijadikan jaminan hutang sebagai pembayaran harga atau nilai hutang ketika yang berhutang berhalangan atau tidak mampu membayar hutangnya kepada pemberi pinjaman.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1150, gadai dalah suatu hak yang diperoleh seorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh

6

seorang yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang.

Sedangkan Syeikh Al Basaam mendefinisikan, Al Rahnsebagai jaminan hutang dengan barang yang memungkinkan pelunasan hutang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut apabila orang yang berhutang tidak mampu melunasinya.

Dari pendapat diatas bisa diambil kesimpulan bahwa jaminan adalah suatu barang yang dijadikan penguat kepercayaan dalam hutang piutang atau yang lebih populer dengan sebutan gadai, dengan catatan barang yang digadaikan harus barangnya sendiri bukan barang ghasab atau pinjaman. Barang tersebut boleh dijual jika sang peminjam tidak dapat membayar hutang, hanya saja penjualan itu hendaknya dengan keadilan ( dengan harga yang berlaku pada waktu itu). Jika terdapat sisa dari penjualan barang tersebut untuk membayar hutang maka sisanya di kembaikan pada pemilik.

2.5. Dasar hukum Ulama fiqih mengemukakan bahwa akad rahn dibolehkan dalam islam berdasarkan Al-Qur‟an dan sunnah Rasulullah SAW dalam Al-Quran Al-Kariem disebutkan: ْ ‫جد‬ ْ‫م‬ ُ‫ض‬ ُ ‫َإِن‬ ْ ‫ذ ي‬ ْ ِ ‫ُُضتٌ فَئ‬ ٌ ٌ‫ز‬ َ ‫َُا‬ ِّ ‫ؤ‬ ْ َ ‫كم ب‬ ْ َ‫مهَ ب‬ ‫ق‬ ُ ‫ع‬ ً ‫ع‬ َ ُ‫ضا فَ ْلي‬ َ ‫م‬ َ ‫قب‬ ْ َ ‫َل‬ َ ‫علَى‬ ْ ُ‫كىت‬ َّ ‫َان‬ ِ ُ‫اؤت‬ ِ َّ‫د ال‬ ِ َ‫ن أ‬ َ ًَُ‫ماوَت‬ َ ‫ز‬ َ ِ َ‫م ت‬ َ َ‫مهَ أ‬ ِ َّ‫َ ْليَت‬ ٍ َ‫سف‬ ِ َ‫كاتِبًا ف‬ ْ ‫م‬ ّ َ ّ ْ‫ي‬ ْ َ‫َالَ ت‬ َّ ‫ُا ال‬ ْ َ‫ما ت‬ ‫م‬ َ َ‫ملُُن‬ َ ‫شٍَا‬ ْ ُ‫كت‬ َ ‫مه‬ َ َ‫ّللا‬ ٌ ‫علِي‬ ٌ ِ‫مٍَا فَئِوًَُّ آث‬ ُ ُ‫كت‬ َ ًُُ‫م قَ ْلب‬ َ َ‫دة‬ َ ًَُّ‫رب‬ َ‫ع‬ َ ِ‫ّللاُ ب‬ ََ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)..”.(QS Al-Baqarah ayat 283) Ayat ini secara eksplisit menyebutkan barang tanggungan yang dipegang oleh yang berpiutang. Dalam dunia finansial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai objek gadai atau jaminan (kolateral) dalam dunia perbankan.

7

Selain itu, istilah ar-Rahnu juga disebut dalam salah satu hadis nabawi. Apabila ada ternak digadaikan, punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya… Kepada orang yang naik ia harus mengeluarkan biaya perawatannya”, (HR Jamaah kecuali Muslim dan Nasa‟i, Bukhari no. 2329, kitab ar-Rahn).

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW membeli makanan dari seorang yahudi dengan cara menggadaikan baju besinya.(HR. Bukhari dan Muslim) Landasan ini kemudian diperkuat dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut: Ketentuan Umum: 1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunsi. 2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya. 3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin. 4. Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. 5. Penjualan marhun. a. Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi utangnya. b. Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi.

8

c. Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan. d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin.

Ketentuan Penutup 1. Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesainnya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. a. Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah. b. Menghindarkan masyarakat dari gadai gelap, praktik riba, dan pinjaman tidak wajar lainnya.

Para fuqaha sepakat membolehkan praktek rahn / gadai ini, asalkan tidak terdapat praktek yang dilarang, seperti riba atau penipuan. Di masa Rasulullah praktek rahn pernah dilakukan. Dahulu ada orang menggadaikan kambingnya. Rasululah SAW ditanya bolehkah susu kambingnya diperah. Nabi mengizinkan, sekadar untuk menutup biaya pemeliharaan. Artinya, Rasullulah mengizinkan kita boleh mengambil keuntungan dari barang yang digadaikan untuk menutup biaya pemeliharaan. Nah, biaya pemeliharaan inilah yang kemudian dijadikan ladang ijtihad para pengkaji keuangan syariah, sehingga gadai atau rahn ini menjadi produk keuangan syariah yang cukup menjanjikan.

Secara teknis gadai syariah dapat dilakukan oleh suatu lembaga tersendiri seperi Perum Pegadaian, perusahaan swasta maupun pemerintah, atau merupakan bagian dari produk-produk finansial yang ditawarkan bank.Praktek gadai syariah

9

ini sangat strategis mengingat citra pegadaian memang telah berubah sejak enamtujuh tahun terakhir ini. Pegadaian, kini bukan lagi dipandang tempatnya masyarakat kalangan bawah mencari dana di kala anaknya sakit atau butuh biaya sekolah. Pegadaian kini juga tempat para pengusaha mencari dana segar untuk kelancaran bisnisnya.

Misalnya seorang produsen film butuh biaya untuk memproduksi filemnya, maka bisa saja ia menggadaikan mobil untuk memperoleh dana segar beberapa puluh juta rupiah. Setelah hasil panenya terjual dan bayaran telah ditangan, selekas itu pula ia menebus mobil yang digadaikannya. Bisnis tetap jalan, likuiditas lancar, dan yang penting produksi bisa tetap berjalan.

2.6. Hikmah Persyariatannya Setiap orang berbeda-beda keadaannya, ada yang kaya dan ada yang miskin, padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. Lalu terkadang seorang disatu waktu sangat butuh kepada uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya yang mendesak dan tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya atau yang meminjamkan uang kapadanya, juga tidak ada penjamin yang menjaminnya.

Hingga ia mendatangi orang lain membeli barang yang dibutuhkannya dengan hutang yang disepakati kedua belah pihak atau meminjam darinya dengan ketentuan memberikan jaminan gadai yang disimpan pada pihak pemberi hutang hingga ia melunasi hutangnya. Oleh karena itu Allah mensyariatkan Al Rahn (gadai) untuk kemaslahatan orang yang menggadaikan (Raahin), pemberi hutangan (Murtahin) dan masyarakat.

Untuk Raahin ia mendapatkan keuntungan dapat menutupi kebutuhannya. Ini tentunya bias menyelamatkannya dari krisis dan menghilangkan kegundahan dihatinya serta kadang ia bias berdagang dengan modal tersebut lalu menjadi sebab ia menjadi kaya. Sedangkan Murtahin (pihak pemberi hutang) akan menjadi tenang dan merasa aman atas haknya dan mendapatkan keuntungan syar‟I dan bila ia berniat baik maka mendapatkan pahala dari Allah.

10

Adapun kemaslahatan yang kembalai kepada masyarakat adalah memperluas interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaandan kasih saying diantara manusia, karena ini termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Disana ada manfaat menjadi solusi dalam krisis, memperkecil permusuhan dan melapangkan penguasa.

2.7. Unsur-unsur dalam Rahn Dalam praktek rahn menurut jumhur ulama‟ ada terdapat beberapa unsur yaitu: 1. Ar-Rahin Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang 2. Al-Murtahin Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya. 3. Al-Marhun / Ar-Rahn Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan 4. Al-Marhun bihi Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan. 5. Al-'Aqdu Yaitu akad atau kesepaktan untuk melakukan transaksi rahn

Sedangkan ulama mazhaf hanafi berpendapat lain bahwa rukun rahn itu hanya ijab (pernyataan meyerahkan barang sebagai anggunan oleh pemilik barang) dan kabul (pernyataan kesediaan memberi utang dan menerima barang anggunan tersebut). Disamping itu, menurut mereka, untuk sempurna dan mengikatya akad rahn ini, maka di perlukan al-qabd (penguasaan barang) oleh kridor.Adapaun kedua orang yang melakukan akad, harta yang dijadikan agunan, dan utang, menurut ulama mashaf hanafi termaksuk syarat-syarat rahn bukan rukunnya.

11

2.8. Syarat-syarat Rahn Sedangkan secara umum yang termasuk rukun rahn adalah hal-hal berikut : 1. Adanya Lafaz yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai. Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan, yang penting di dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para pihak. 2. Adanya pemberi dan penerima gadai. Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum sesuai dengan ketentuan syari‟at Islam. 3. Adanya barang yang digadaikan. Barang yang digadaikan harus ada pada saat dilakukan perjanjian gadai dan barang itu adalah milik si pemberi gadai, barang gadaian itu kemudian berada dibawah pengasaan penerima gadai. 4. Adanya utang/ hutang. Hutang yang terjadi haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba. Sedangkan menurut ulama‟ fiqh syarat rahn itu tersendiri dari masingmasing unsur atau rukun rahn yaitu sebagai berikut:

1. Syarat yang terkait dengan orang yang berakat adalah cakap bertindak hokum. Kecakapan bertindak hokum, menurut jumhur ulama, adalah orang yang telah balig dan berakal. Namun menurut ulama Mazhaf hanafi, kedua belah pihak yang berakat tidak disayaratkan balig melainkan cukup berakal saja. Oleh sebab itu, menurut mereka anak kecil yang mumayis boleh melakukan akad rahn, dengan syarat akad rahn yang dialakukan anak kecil yang sudah mumayis ini mendapat persetujuan wilayah.

2. Syarat sigah ( lafal). Ulama mazhab hanafi mengatakan dalam akad rahn tidak boleh di kaitkan dengan syarat tertentu atau dikaitkan

12

dengan masa yang akan datang, karena akad rahn sama dengan akad jual beli. Apa bila akad tersebut dibarengi dengan syarat tertentu atau dikaitkan dengan masa yang akan datang.

3.Syarat al-marhunbih (utang) adalah a.Merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada kreditor b.Hutang itu bisa dilunasi dengan agunan c.Utang itu jelas dan tertentu

4.Syarat al-marhun (barang yang dijadikan agunan) menurut ahli fiqhi : a.Agunan itu bisa dijual dan nilainya seimbang dengan utang b.Agunan itu bernilai harta dan bisa dimanfaatkan c.Agunan itu jelas dan tertentu d.Agunan itu milik sahdebitor e.Agunan itu tidak terkait dengan dengan hak orang lain f.Ugunan itu harta yang utuh tidak bertebaran dalam beberapa tempat g. Agunan itu bisa diserahkan baik materinya maupun manfaatnya Mengenai barang (marhum) apa saja yang boleh digadaikan, dijelaskan dalam Kifayatul Akhyar 5 bahwa semua barang yang boleh dijual – belikan menurut syariah, boleh digadaikan sebagai tanggungan hutang.

Dalam keadaan normal hak dari rahin setelah melaksanakan kewajibannya adalah menerima uang pinjaman dalam jumlah yang sesuai dengan yang disepakati dalam batas nilai jaminannya, sedang kewajiban rahin adalah menyerahkan barang jaminan yang nilainya cukup untuk jumlah hutang yang dikehendaki. Sebaliknya hak dari murtahin adalah menerima barang jaminan dengan nilai yang aman untuk uang yang akan dipinjamkannya., sedang kewajibannya adalah menyerahkan uang pinjaman sesuai dengan yang disepakati bersama.

Setelah jatuh tempo, rahin berhak menerima barang yang menjadi tanggungan hutangnya dan berkewajiban membayar kembali hutangnya dengan

13

sejumlah uang yang diterima pada awal perjanjian hutang. Sebaliknya murtahin berhak menerima pembayaran hutang sejumlah uang yang diberikan pada awal perjanjian hutang, sedang kewajibannya adalah menyerahkan barang yang menjadi tanggungan hutang rahin secara utuh tanpa cacat.

Diatas hak dan kewajiban tersebut diatas, kewajiban murtahin adalah memelihara barang jaminan yang dipercayakan kepadanya sebagai barang amanah, sedang haknya dalah menerima biaya pemeliharaan dari rahin. Sebaliknya rahin berkewajiban membayar biaya pemeliharaan yang dikeluarkan murtahin, sedang haknya adalah menerima barang yang menjadi tanggungan hutang dalam keadaan utuh. Dasar hukum siapa yang menanggung biaya pemeliharaan dapat dirujuk dari pendapat yang didasarkan kepada Hadist Nabi riwayat Al – Syafi‟I, Al – Ataram, dan Al – Darulquthni dari Muswiyah bin Abdullah Bin Ja‟far : Ia (pemilik barang gadai) berhak menikmati hasilnya dan wajib memikul bebannya (beban pemeliharaannya).

Ditempat lain terdapat penjelasan bahwa apabila barang jaminan itu diizinkan untuk diambil manfaatnya selama digadaikan, maka pihak yang memanfaatkan itu berkewajiban membiayainya. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasullullah SAW : Dari Abu Hurairah , barkata, sabda Rasullulah SAW : Punggung (binatang) apabila digadaikan, boleh dinaiki asal dibiayai. Dan susu yang deras apabila digadaikan, boleh juga diminum asal dibiayai. Dan orang yang menaiki dan meminum itulah yang wajib membiayai. (HR. AlBukhari).

Dalam keadaan tidak normal dimana barang yang dijadikan jaminan hilang, rusak, sakit atau mati yang berada diluar kekuasaan murtahin tidak menghapuskan kewajiban rahin melunasi hutangnya.Namun dalam praktek pihak murtahim telah mengambil langkah – langkah pencegahan dengan menutup asuransi kerugian sehingga dapat dilakukan penyelesaian yang adil.

14

Mengenai pemilikan barang gadaian, berdasarkan berita dari Abu Hurairah perjanjian gadai tidak merubah pemilikan walaupun orang yang berhutang dan menyerahkan barang jaminan itu tidak mampu melunasi hutangnya. Berita dari Abu Hurairah, sabda Rasullulah SAW., : Barang jaminan tidak bisa tertutup dari pemiliknya yang telah menggadaikannya.Dia tetap menjadi pemiliknya dan dia tetap berhutang.

Pada waktu jatuh tempo apabila rahin tidak mampu membayar hutangnya dan tidak mengizinkan murtahin menjual barang gadaiannya, maka

hakim/pengadilan dapat memaksa pemilik barang membayar hutang atau menjual barangnya. Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk menutup hutangnya, apabila lebih dikembalikan kepada pemilik barang tetapi apabila kurang pemilik barang tetap harus menutup kekurangannya

Dalam hal orang yang menggadaikan meninggal dan masih menanggung hutang, maka penerima gadai boleh menjual barang gadai tersebut dengan harga umum.Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk menutup hutangnya, apabila lebih dikembalikan kepada ahli waris tetapi apabila kurang ahli waris tetap harus menutup kekurangannya atau barang gadai dikembalikan kepada ahli waris setelah melunasi hutang almarhum pemilik barang.

Dari ketentuan-ketentuan yang tersedia dapat disimpulkan bahwa barang gadai sesuai syariah adalah merupakan pelengkap belaka dari konsep hutang piutang antara individu atau perorangan. Konsep hutang piutang sesuai dengan syariat menurut Muhammad Akram Khan adalah merupakan salah satu konsep ekonomi Islam dimana bentuknya yang lebih tepat adalah al-qardhul hassan. Hutang piutang dalam bentuk al- qardhul hassan dengan dukungan gadai (rahn), dapat dipergunakan untuk keperluan sosial maupun komersial.

Peminjam mempunyai dua pilihan, yaitu : dapat memilih qardhul hassan atau menerima pemberi pinjaman atau penyandang dana (rabb al-mal) sebagai mitra usaha dalam perjanjian mudharabah. Didalam bentuk al-qardhul hassan ini

15

hutang yang terjadi wajib dilunasi pada waktu jatuh tempo tanpa ada tambahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok). Peminjam menanggung biaya yang secara nyata terjadi seperti biata penyimpanan dll., dan dibayarkan dalam bentuk uang (bukan prosentase).

Peminjam pada waktu jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun boleh menambahkan secara sukarela pengembalian hutangnya.Apabila peminjam memilih qardhul hassan, rabb al-mal tentu saja akan mempertimbangkannya apabila peminjam adalah pengusaha pemula dan apabila peminjam memilih perjanjian mudharabah maka terlebih dahulu harus disepakati porsi bagihasil masing-masing pihak dimana posisi peminjam dana adalah sebagai mudharib.

2.9. Jenis-jenis Rahn (Gadai Syariah) Gadai jika dilihat dari sah tidaknya akad terbagi menjadi dua yaitu gadai shahih dan gadai fasid adapun rinciannya adalah sebagai berikut : a. Rahn Shahih / lazim, yaitu rahn yang benar karena terpenuhi syarat dan rukunnya b. Rahn Fasid, yaitu akad rahn yang tidak terpenuhi rukun dan syaratnya. Apabila sebuah akad rahn telah terpenuhi rukun dan syaratnya maka membawa dampak yang harus dilakukan oleh murtahin dan juga rahin, diantara dampak tersebut adalah : a. Adanya hutang bagi rahin (penggadai). b. Penguasaan suatu barang yang berpindah dari rahin kepada murtahin. c. Kewajiban untuk menjaga barang gadaian bagi murtahin. d. Biaya-biaya pemeliharaan harta gadai menjadi tanggung jawab rahin, karena itu murtahin berhak untuk memintanya kepada rahin.

Sedangkan pada rahn yang fasid maka tidak ada hak ataupun kewajiban yang terjadi, karena akad tersebut telah rusak / batal. Para imam madzhab fiqh telah sepakat mengenai ha ini. Karena itu tidak ada dampak hukum pada barang gadaian, dan murtahin tidak boleh menahannya, serta rahin hendaknya meminta

16

kembali barang gadai tersebut, jika murtahin menolak mengembalikannya hingga barang tersebut rusak maka murtahin dianggap sebagai perampas, karena itu dia berhak mengembalikannya. Jika rahin meninggal dunia sedangkan dia masing berhutang, maka barang gadaian tersebut menjadi hak milik murtahin dengan nilai yang seimbang dengan hutangnya.

2.10. Kapan Rahn (Gadai) menjadi keharusan? Para ulama berselisih pendapat dalam masalah Al Rahn menjadi keharusan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terima barang gadainya dalam dua pendapat:

1. Serah terima adalah syarat keharusan terjadinya Rahn. Ini pendapat Madzhab Hanafiyah, Syafi‟iyah dan riwayat dalam madzhab Ahmad bin Hambal serta madzhab Dzohiriyah. Dasar pendapat ini adalah firman ْ‫م‬ ٌ ٌ‫ز‬ ُ ُ ‫ضت‬ Allah : ‫َان‬ َ ُُ‫قب‬ َّ dalam ayat ini Allah mensifatkannya dengan dipegang (serah ِ َ ‫ُف‬ terima) dan Al rahn adalah transaksi penyerta yang butuh kepada penerimaan, sehingga butuh kepada serah terima (Al Qabdh) seperti hutang. Juga karena hal itu adalah Rahn (Gadai) yang belum diserah terimakan maka tidak diharuskan menyerahkannya sebagaimana bila yang menggadaikannya meninggal dunia.

2. Rahn langsung Terjadi Setelah Selesai Transaksi Dengan demikian bila pihak yang menggadaikan menolak menyerahkan barang gadainya maka dipaksa untuk menyerahkannya. Ini pendapat madzhab Malikiyah dan riwayat dalam madzhab Al Hambaliyah. Dasar pendapat ini adalah ْ‫م‬ ُ ُ‫ُُضت‬ firman Allah : ُ َ ‫قب‬ َّ ٌ‫زٌَاو‬ ِ َ‫ ف‬dalam ayat ini Allah menetapkannya sebagai Al Rahn sebelum dipegang (serah terimakan). Juga Rahn adalah akad transaksi yang mengharuskan adanya serah terima sehingga juga menjadi wajib sebelumnya seperti jual beli. Demikian juga menurut imam Malik, serah terima hanyalah menjadi penyempurna Al rahn dan bukan syarat sahnya.

Syeikh Abdurrahman bin Hasan menyatakan: sedangkan mengenai firman ْ‫م‬ ٌ ٌ‫ز‬ ُ ُ ‫ضت‬ Allah ‫َان‬ َ ُُ‫قب‬ َّ itu adalah sifat keumumannya namun hajat menuntut ِ َ ‫ُف‬

17

(keharusannya) tidak dengan serah terima (Al Qabdh). Prof. DR. Abdullah Al Thoyyar menyatakan bahwa yang rojih adalah Al Rahn menjadi keharusan dengan akad transaksi, karena hal itu dapat merealisasikan faedah Al Rahn berupa pelunasan hutang dengannya atau dengan nilainya ketika tidak mampu dilunasi dan ayat hanya menjelaskan sifat mayoritas dan kebutuhan menuntut adanya jaminan walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan mendapatkannya.

2.11. Kapan Dianggap Sah Serah Terima Rahn? Barang gadai adakalanya berupa barang yang tidak dapat dipindahkan seperti rumah dan tananh, maka disepakati serah terimanya dengan

mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya. Ada kalanya berupa barang yang dapat dipindahkan, bila berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, bila barang timbangan maka disepakati serah terimanya dengan ditimbang dan dihitung bila barangnya dapat dihitung serta diukur bila barangnya berupa barang yang diukur. Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya; ada yang berpendapat dengan cara memindahkannya dari tempat semula dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak yang menggadaikannya dan murtahin dapat mengambilnya.

2.12. Hukum-hukum Setelah Serah Terima. Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah terima yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan), pertumbuhan barang gadai dan pemanfaatan serta jaminan pertanggung jawaban bila rusak atau hilang, diantaranya:

1. Pemegang barang gadai Barang gadai tersebut berada ditangan Murtahin selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah: ْ‫م‬ ُ ‫علَى‬ َ ُُ ُ‫سهَان‬ ‫ىإِن‬ َ ‫س‬ َ ‫م‬ َ ‫قبُى‬ َ‫م‬ َ ‫َجدُوا‬ ْ ُ‫كىت‬ ْ َ‫ول‬ ِ ‫كاتِبًات‬ ٍ َ‫سف‬ َّ ِ َ‫ضةُُُ ف‬

18

Jika kamudalam perjalanan (dan bermu‟amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidakmemperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).(QS. 2:283) dan sabda beliau: َ ِ ‫كاوَإ‬ َ ِ ‫كاوَإ‬ َ‫س‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ‫س‬ ‫س‬ ُ ْ َ‫ىي‬ َّ ‫ْسبُال‬ َ ‫ى‬ ْ َّ‫كبُالظ‬ ْ ُ‫ذاي‬ ْ‫م‬ ْ‫م‬ ْ َ‫سبُي‬ ِّ ‫د‬ ُ‫ه‬ ُ ُ‫وَفَقَت‬ َ ‫ذايُش‬ َ‫ش‬ ِ َّ‫كبُال‬ َ‫ز‬ َ ‫ري‬ َ‫ه‬ َ ُ‫ولَبَى‬ َ ‫علَى‬ Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum memberi nafkahnya. (Hadits Shohih riwayat Al Tirmidzi).

2. Pembiayaan pemeliharaan barang gadai Pada asalnya barang, biaya pemeliharaan dan manfaat barang yang digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (Raahin) dan Murtahin tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya, maka boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut).

Pemanfaatannya

tentunya

sesuai

dengan

besarnya

nafkah

yang

dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini di dasarkan sabda Rasululloh SAW : َ ِ‫كاوَإ‬ َ ِ ‫كاوَإ‬ َ‫س‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ‫س‬ ‫س‬ ُ ْ ُ‫ذاي‬ ْ َ‫ىي‬ َّ ‫سبُال‬ َ ‫ى‬ ْ َّ‫كبُالظ‬ ْ ُ‫ذاي‬ ْ‫م‬ ْ‫م‬ ْ َ‫سبُي‬ ِّ ‫د‬ ُ‫ه‬ ُ ُ‫وَفَقَت‬ َ‫ش‬ َ‫ش‬ ِ َّ‫كبُال‬ َ‫ز‬ َ ‫ري‬ َ‫ه‬ َ ُ‫ولَبَى‬ َ ‫علَى‬ Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum memberi nafkahnya. (Hadits Shohih riwayat Al Tirmidzi).

Syeikh Al Basaam menyatakan: Menurut kesepakatan ulama bahwa biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya.Demikian juga pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga miliknya kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas (pen).

Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan: Hadits ini dan kaedah dan ushul syari‟at menunjukkan

19

hewan gadai dihormati karena hak Allah dan pemiliknya memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang memberikan hutang) memiliki padanya hak jaminan.

2.13. Hak dan Kewajiban Rahin dan Murtahin Akibat hukum adanya kesepakatan dalam suatu perjanjian ialah berlakunya hak dan kewajiban yang bersifat mengikat para pihak. Secara umum, hak dan kewajiban yang terdapat dalam perjanjian gadai adalah sebagai berikut:

Penerima gadai (murtahin) Hak 1) Penerima gadai (murtahin) Kewajiban a) Murtahin bertanggungjawab

mendapatkan biaya administrasi yang telah dikeluarkan untuk menjaga keselamatan harta

atas hilang atau merosotnya harga marhun bila itu

disebabkan oleh kelalaian. b) Murtahin tidak barang boleh gadai

benda gadai (marhun) 2) murtahin mempunyai hak

menggunakan

menahan marhun sampai semua hutang(narhun bih) dilunasi. 3) Penerima gadai berhak menjual marhun apabila rahin pada saat jatuh tempo tidak dapat Hasil

untuk kepentingan pribadinya. c) Murtahin berkewajiban

memberikan informasi kepada rahin sebelum mengadakan

pelelangan harta benda gadai

memenuhi penjualan

kewajiban. diambil

sebagian

untuk melunasi marhun bih dan sisanya dikembalikan kepada rahin Pemberi gadai (rahin) 1) Rahin berhak mendapatkan dan/atau jasa a) Rahin berkewajiban melunasi marhun bih yang telah

pembiayaan penitipan. 2) ]Rahin

diterimanya berhak menerima

dalam

tenggang

waktu yang telah ditentukan,

20

kembali

harta

benda

yang

termasuk disepakati.

biaya

lain

yang

digadaikan hutangnya.

setelah

melunasi

b) Pemeliharaan dasarnya

marhun

pada

3) Rahin berhak menuntut ganti rugi atas kerusakan dan/atau hilangnya harta benda yang digadaikan. 4) Rahin berhak menerima sisa hasil penjualan harta benda gadai yang sudah dikurangi biaya lainnya. 5) Rahin berhak meminta kembali harta benda gadai jika diketahui adanya penyalahgunaan pinjaman dan biaya

menjadi

kewajiban

rahin. Namun jika dilakukan oleh murtahin, maka tetap biaya menjadi

pemeliharaan

kewajiban rahin. Besar biaya pemeliharaan tidak boleh

ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. c) Rahin berkewajiban merelakan penjualan marhun bila dalam jangka waktu yang telah tidak

ditetapkan

ternyata

mampu melunasi pinjamannya

2.14. Resiko kerusakan Marhun Bila marhun hilang dibawah penguasaan murtahin,maka murtahin tidak wajib menggantinya,kecuali bila rusak atau hilangnya itu Karen kelalaian murtahin atau karena di sia-siakan. Menurut Hanafi,murtahin yang memegang marhun menanggung resiko kerusakan marhun atau kehilangan marhun,bila marhun itu rusak atau hilang baik karena kelalaian (disia-siakan) maupun tidak.Demikian pendapat Ahmad Azhar Basyir.

Perbedaan dua pendapat tersebut ialah menurut Hanafi murtahin harus menanggung resiko kerusakan atau kehilangan marhun yang dipegangnya,baik marhun hilang karena disia-siakan maupun dengan sendirinya.Sedangkan menurut Syafi`iyah murtahin menanggung resiko kehilangan atau kerusakan marhun bila marhun itu rusak atau hilang karena disia-siakan murtahin.

21

2.15. Manfaat Barang Gadai Para ulama fiqhi sepakat menyatakan bahwa segala biaya yang dibutuhkan untuk pemeliharaan barang gadai tersebut menjadi tanggung jawab pemiliknya, yaitu debitor hal ini sejalan dengan sabda rasulullah SAW yang mengatakan”….. pemilik gadai berhak atas segala hasil barang gadai dan ia juga bertanggung jawab atas segala biaya barang gadai tersebut. ( HR. Asy-syafi‟i dan adDaruqutni).

Ulama fiqhi juga sepakat bahwa barang yang dijadikan gadai itu tidak boleh di biarkan begitu saja, tanpa menghasilkan sama sekali, karena tindakan tersebut termaksuk tindakan meyiayiakan harta yang dilarang Rasulullah SAW (HR. At-Tirmidzi). Akan tetapi bolekah pihak pemegang barang jaminan memanfaatkan barang jaminan tesebut: sekalipun mendapat izin dari pemilik barang jaminan? Dalam persoalan ini terjadi perbedaan pendapat ulama.

Jumhur ulama fiqhi, selain ulama mazhab hambali, berpendapat bahwa pemegang gadai tidak boleh memanfaatkan barang itu bukan miliknya secara penuh. Hak pemegang barang gadai terhadap barang itu hayalah sebagai jaminan piutang yang ia berikan, dan apabila debitor tidak mampu melunasi utangnya, barulah ia bisa menjual barang itu, alasan jumhur ulama mengatakan seperti itu dikarenakan Rasulullah SAW Bersabda yang artinya : “barang jaminan tidak boleh disembuyikan dari pemiliknya, karena hasil dari barang jaminan dan tanggung jawabnya” ( HR. al-hakim, al-baihaki, dan ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Akan tetapi apa bila pemilik barang mengizinkan pemengan barang gadai memanfaatkannya maka barang tersebut selama ditangannya dia bisa

memanfaatkannya, maka sebahagian ulama membolehkannya, karena dengan adanya izin maka tidak ada halangan bagi pemegang gadai tersebut.

22

2.16. Memanfaatkan Barang yang Digadaikan Pada dasarnya tidak boleh terlalu lama memanfaatkan barang gadaian sebab hal itu akan menyebabkan barang rusak atau hilang. Dalam hal ini terdapat prebedaan diantara para ulama : 1. UlamaHanafiyah berpendapat bahwa rahin (orang yang menggadaikan ) tidak boleh memanfaatkan barang gadaian tanpa seizin murtahin ( orang yang menerima gadai), begitu pula sebaliknya. Mereka beralasan bahwa barang gadaian harus tetap dikuasai oleh murtahin, sebab manfaat yang ada dalam barang gadaian pada dasarnya termasuk rahn. Hal ini sependapat dengan ulama Hanabilah.

2. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika murtahin mengizinkan rohin untuk memanfaatkan barang gadaian maka akad menjadi batal,adapun murtahin boleh memanfaatkan barang gadaian sekedarnaya itupun atas tanggungan rahin. 3. Ulama syafiiyah berpendapat bahwa rahin di perbolehkan untuk memanfaatkan marhun, jika tidak menyebabkan marhun berkurang tidak perlu minta izin, akan tetapi bila marhun berkurang harus meminta izin murtahin.

Dari keterangan diatas bisa di simpulkan bahwasanya memanfaatkan barang yang di gadaikan itu di perbolehkan, atas izin yang punya dengan tidak merusak atau tidak megurangi nilai barangnya.sabda nabi : Dari Abu Hurairah, Rosulullah Bersabda : Binatang tunggangan jika tergadai boleh ditunggangi karena memberinya makan, susunya boleh diminum jika binatang itu tergadai, karena memberinya makan, dan wajib atas orang yang menunggang dan meminum susunya memberi makan binatang tersebut.( HR. Bukhari)

Adapun bagi orang yang mempunyai barang berhak mengambil manfaat dari barang yang di gadaikan,bahkan semua manfaatnya tetap milik dia walaupun tanpa seizin orang yang menerima gadai, kerusakan barangpun atas tanggunganya.

23

Tetapi usaha untuk menghilangkan miliknya atau mengurangi harga barang itu tidak diperbolehkan kecuali atas izin orang yang menerima gadai, maka menjual atau menyewakan barang yang sedang di gadaikan hukumnya tidak sah. Rosulullah Bersabda : Barang gadaianmu tidak menutup pemiliknya dari manfaat barang itu faedahnya kepunyaan dia, dan dia wajib membayar dendanya.

Adapun bagi orang yang memegang barang gadaian diperbolehkan juga mengambil manfaat barang tersebut dengan sekedar ganti kerugianya untuk menjaga barang itu.Sabda Rosulullah Saw : Apabila seekor kambing digadaikan, maka yang memegang barang gadaian itu boleh meminum susunya sekedar sebanyak makanan yang di berikannya pada kambing itu. Jika lebih dari itu, maka lebihnya adalah riba.(HR. Hammad bin salmah).

Penulis kitab Al Fiqh Al Muyassar menyatakan: Manfaat dan pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai, karena itu adalah miliknya. Tidak boleh orang lain mengambilnya tanpa seizinnya. Bila ia mengizinkan murtahin (pemberi hutang) untuk mengambil manfaat barang gadainya tanpa imbalan dan hutang gadainya dihasilkan dari peminjaman maka tidak boleh, karena itu adalah peminjaman hutang yang menghasilkan manfaat.

Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang memiliki susu perah, maka diperbolehkan murtahin mengendarainya dan memeras susunya sesuai besarnya nafkah tanpa izin dari penggadai karena sabda Rasululloh: َ ِ‫كاوَإ‬ َ ِ ‫كاوَإ‬ َ‫س‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ ‫سهُىوًا‬ َ‫س‬ ُُ‫سهْه‬ ُ ْ َ‫وي‬ َّ ‫ْسبُال‬ َ ‫يى‬ ْ ُ‫هي‬ ْ‫م‬ ْ‫م‬ ْ َ‫سبُي‬ َّ ‫كبُال‬ ِّ ‫د‬ َ ‫هيُش‬ َ‫ش‬ ِ َّ‫كبُال‬ َ‫ز‬ َ ‫ر‬ َ ُ‫الىَّفَقَة‬ ِ ِ‫ذابِىَفَقَت‬ ِ ِ‫ذابِىَفَقَت‬ َ ُ‫ولَبَى‬ َ ‫علَى‬ Rahn (Gadai) ditunggangi dengan sebab nafkahnya, apabila digadaikan dan susu hewan menyusui diminum dengan sebab nafkah apabila digadaikan dan wajib bagi menungganginya dan meminumnya nafkah. (HR Al Bukhori no. 2512). Ini madzhab Hanabilah.

24

2.17. Pertumbuhan barang gadai Pertumbuhan atau pertambahan barang gadai setelah digadaikan adakalanya bergabung dan adakalanya terpisah. Bila tergabung seperti (bertambah) gemuk, maka ia masuk dalam barang gadai dengan kesepakatan ulama dan bila terpisah maka terjadi perbedaan pendapat ulama disini. Abu hanifah dan imam Ahmad dan yang menyepakatinya memandang pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi setelah barang gadai ditangan murtahin maka ikut kepada barang gadai tersebut. Sedangkan imam Syafi‟I dan ibnu Hazm dan yang menyepatinya memandang hal itu bukan ikut barang gadai dan itu milik orang yang menggadaikannya. Hanya saja Ibnu hazm berbeda dengan Syafi‟I dalam kendaraan dan hewan menyusui, karena Ibnu Hazm berpendapat dalam kendaraan dan hewan yang menyusui, (pertambahan dan pertumbuhannya) milik yang menafkahinya. Adapun mengenai pertumbuhan atau pertambahan barang yang digadaikan masih terbagai dua yaitu sebagai berikut:

1. Tambahan yang terpisah Tambahan yang terpisah seperti telur, buah, atau anak yang lahir sesudah digadaikan, tidak termasuk barang yang di gadaikan, tetapi tetap kepunyaan orang yang menggadaikan. 2. Tambahan yang tidak dapat dipisahkan Tambahan yang tidak dapat dipisahkan seperti tambah gemuk, tambah besar, dan anak yang masih dalam kandungan, semuanya itu termasuk dalam barang jaminan.

Jadi apabila seseorang mengadaikan sawah, pohon kelapa, pohon mangga,dan semua penghasilanya diambil orang yang menerima gadai, maka hal itu tidak sah dan tidak halal sebab gadai itu hanya berguna untuk menambah kepercayaan orang yang memberi hutang kepada orang yang berhutang, bukan untuk mencari keuntungan bagi yang berpiutang. Nabi bersabda : Tiap-tiap

25

piutang yang mengambil manfaat, maka itu salah satu dari beberapa macam riba (Riwayat Baihaqi).

2.18. Perpindahan Kepemilikan dan Pelunasan Barang Gadai Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya kecuali dengan izin orang yang

menggadaikannya (Raahin) dan tidak mampu melunasinya Pada zaman jahiliyah dahulu apabila telah jatuh tempo pembayaran hutang dan orang yang menggadaikan belum melunasi hutangnya kepada pihak yang berpiutang, maka pihak yang berpiutang menyita barang gadai tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya.

Lalu Islam membatalkan cara yang dzalim ini dan menjelaskan bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya ditangan pihak yang berpiutang, tidak boleh memaksa orang yang menggadaikannya menjualnya kecuali dalam keadaan tidak mampu melunasi hutangnya tesebut. Bila tidak mampu melunasi saat jatuh tempo maka barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunasan hutang tersebut. Apa bila ternyata ada sisanya maka ia milik pemilik barang gadai tersebut (orang yang menggadaikan barang tersebut) dan bila harga barang tersebut belum dapat melunasi hutangnya, maka orang yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa hutangnya.

Demikianlah barang gadai adlah milik orang yang menggadaikannya, namun bila telah jatuh tempo, maka penggadai meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk emnyelesaikan permasalah hutangnya, karena itu adalah hutang yang sudah jatuh tempo maka harus dilunasi seperti hutang tanpa gadai. Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan kepemilikian) barang gadainya maka murtahin melepas barang tersebut.

Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya maka wajib bagi orang yang menggadaikan (Al Raahin) untuk menjual sendiri barang gadainya atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin dan didahulukan

26

murtahin daalam pembayarannya atas pemilik piutang lainnya. Apabila penggadai tersebut enggan melunasi hutangnya dan menjual barang gadainya, maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara agar ia menjual barang gadainya tersebut.

Apabila tidak juga menjualnya maka pemerintah menjual barang gadai tersebut dan melunasi hutang tersebut dari nilai hasil jualnya. Inilah pendapat madzhab Syafi‟iyah dan Hambaliyah. Malikiyah memadang pemerintah boleh menjual barang gadainya tanpa memenjarakannya dan melunasi hutang tersebut dengan hasil penjualannya. Sedangkan Hanafiyah memandang murtahin boleh menagih pelunasan hutang kepada penggadai dan meminta pemerintah untuk memenjarakannya bila nampak ia tidak mau melunasinya.

Tidak boleh pemerintah (pengadilan) menjual barang gadainya, namun memenjarakannya saja sampai ia menjualnya dalam rangka menolak kedzoliman. Yang rojih, pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi hutangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan sang penggadai tersebut, karena tujuannya adalah membayar hutang dan itu terrealisasikan dengan hal itu. Ditambah juga adanya dampak negatip social masyarakat dan lainnya pada pemenjaraan.

Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh hutangnya maka selesailah hutang tersebut dan bila tidak dapat menutupinya maka tetap penggadai tersebut memiliki hutang sisa antara nila barang gadai dan hutangnya dan ia wajib melunasinya. Demikianlah keindahan islam dalam permasalah gadai, tidak seperti yang banyak berlaku direalitas yang ada. Dimana pemilik piutang menyita barang gadainya walaupun nilainya lebih besar dari hutangnya bahkan mungkin berlipatlipat. Ini jelas perbuatan kejahiliyah dan kedzoliman yang harus dihilangkan.

27

2.19. Persamaan dan Perbedaan Rahn (Gadai Syariah) dengan Gadai Konvensional

Persamaan      Hak gadai atas pinjaman uang. Adanya agunan sebagai jaminan utang. Tidak boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan. Biaya barang yang digadaikan ditanggung para pemberi gadai. Apabila batas waktu pinjaman uang habis, barang yang  

Perbadaan Rahn dalam islam dilakukan secara suka rela atas dasar tolong – menolong keuntungan tanpa sedangkan mencari gadai

menurut hukum perdata disamping berprinsip tolong – menolong juga menarik keuntungan dengan cara menarik bungan atau sewa modal. Dalam hukum perdata, hak gadai hanya berlaku pada benda yang bergerak sedangkan dalam hukum islam, rahn berlaku pada seluruh benda, baik harus yang bergerak maupun yang tidak bergerak.   Dalam rahn tidak asa istilah bunga. Gadai menurut hukum perdata

digadaikan dijual atau dilelang.

dilaksanakan melalui suatu lembaga yang di Indonesia disebut Perum Pegadaian, rahn menurut hukum islam dapat dilaksanakan tanpa

melalui suatu lembaga.

2.20. Konstruksi Sistem Operasional Gadai Syari’ah (Rahn)

28

A. Pegadaian dan Bunga Gadai dalam Islam Pada dasarnya saat akad perjanjian gadai merupakan akad utang-piutang. Namun akad utang-piutang gadai mensyaratkan adanya penyerahan barang dari pihak yang berhutang sebagai jaminan utangnya. Apabila terjadi penambahan sejumlah uang atau penentuan persentase tertentu dari pokok utang (dalam pembayaran utang tersebut), maka hal terbut termasuk perbuatan riba, dan riba merupakan suatu hal yang dilarang oleh syara‟ (Basyir, 1983: 55). Mengenai pengertian riba para Ulama‟ telah berbeda pendapat. Walaupun demikian, Afzalurrahman (1996) memberikan pedoman bahwa yang dikatakan riba (lebih lazim) disebut bunga, di dalamnya terdapat tiga unsur berikut: Pertama, kelebihan dari pokok pinjaman; kedua, kelebihan pembayaran sebagai imbalan tempo pembayaran; ketiga, sejumlah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi.

Adapun mengenai berlakunya pemungutan bunga (Riba) dalam lembaga pegadaian yang selama ini berlaku, merupakan sudah menjadi hal yang biasa. Hal ini disebabkan oleh karena pendapatan terbesar dari lembaga pegadaian tersebut adalah dari pemungutan bunga dari pokok pinjaman. Bagaimana Islam menanggapi terjadinya praktek tersebut?.

Mengenai hal ini sebenarnya sudah ada dua peneliti yang telah mengkaji lebih jauh tentang bunga pegadaian, yaitu Muhammad Yusuf dan Viyolina. Adapun untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai deskripsi dari penelitian tersebut, secara umum adalah sebagai berikut: Pertama: Muhammad Yusuf (2000) berpendapat dalam hasil penelitiannya tersebut berpendapat bahwa: a) Islam membenarkan adanya praktik pegadaian yang dilakukan dengan cara-cara dan tujuan yang tidak merugikan orang lain. Pegadaian dibolehkan dengan syarat rukun yang bebas dari unsur-unsur yang dilarang dan merusak perjanjian gadai. b) Praktik yang terjadi di pegadaian konvensional, pada dasarnya masih terdapat beberapa hal yang dipandang merusak dan menyalahi norma dan

29

etika bisnis Islam, diantaranya adalah masih terdapat unsur riba, yaitu yang berupa sewa modal yang disamakan dengan bunga.Pegadaian yang berlaku saat ini masih terdapat satu diantara banyak unsur yang dilarang oleh syara‟, yaitu dalam upaya meraih keuntungan (laba) pegadaian tersebut memungut sewa modal atau lebih lazim disebut dengan bunga. Kedua: Viyolina (2000) lebih tegas memaparkan dalam penelitiannya tersebut berpendapat bahwa: Unsur riba yang terdapat dalam aktivitas pegadaian saat ini sudah pada tingkat yang nyata, yaitu pada transaksi penetapan dan penarikan bunga dalam gadai yang sudah jelas tidak sesuai dengan al-Qur‟an dan as-Sunnah. Penerapan bunga gadai yang pada awalnya sebagai fasilitas untuk memudahkan dalam menentukan besar kecilnya pinjaman, telah menjadi kegiatan spekulatip dari kaum kapitalis dalam mengesploitasikan keuntungan yang besar.

Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dijadikan dasar Istinbat (kesimpulan hukum) untuk menyatakan bahwa penarikan dan penetapan bunga gadai belum sesuai dengan prinsip-prinsip hukum Islam dan lebih banyak mendatangkan kemudharatan, sehingga dapat pula dikatakan bahwa penarikan dan penetapan bunga gadai adalah tidak sah dan haram.

Berdasarkan kedua penelitian tersebut di atas, Islam membenarkan adanya praktik utang-piutang dengan cara akad gadai yang sesuai dengan prinsip syari‟ah. Artinya, bahwa utang-piutang gadai tersebut tidak boleh mengandung unsur-unsur yang dilarang oleh syara‟ seperti adanya unsur riba di dalam akadnya.

B. Aspek Sosial dan Komersial Gadai Gadai pada dasarnya mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi. Yaitu menolong orang yang sedang dalam kesusahan. Namun pada kenyataannya dalam masyarakat konsep tersebut dinilai “tidak adil” karena adanya pihak-pihak yang merasa dirugikan. Dilihat dari segi komersial, yang meminjamkan uang merasa dirugikan, misalnya karena inflasi, pelunasan yang berlarut-larut, sementara barang jaminan tidak laku.

30

Dilain pihak, barang jaminan mempunyai hasil atau manfaat yang kemungkinan dapat diambil manfaatnya atau dipungut hasilnya. Bagaimanakah cara untuk mengatasi hal tersebut? Sejauh manakah hak penerima gadai atas hasil atau manfaat barang yang digadaikan? (Syafi‟i dalam Chuzaimah, 1997: 59).

Bertolak dari permasalahan tersebut diatas, berikut akan dibahas solusi alternatif agar pihak penggadai dan penerima gadai tidak merasa saling diperlakukan tidak adil dan tidak merasa saling dirugikan. Sedangkan untuk lebih jelasnya adalah pada bagian berikut:

Pendapat ahli hukum Islam tentang manfaat barang gadai pada dasarnya barang gadai tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh Rahin sebagai pemilik maupun Murtahin sebagai pemegang amanat, kecuali mendapat izin masingmasing pihak bersangkutan. Hak Murtahim terhadap Marhun hanya sebatas menahan dan tidak berhak menggunakan atau memungut hasilnya. Demikian pula Rahin, selama Marhun ada ditangan Martahin sebagai jaminan hutang, Rahin tidak berhak menggunakan Marhun. Keadaan demikian ini, apabila kedua belah pihak (rahin dan murtahin) tidak ada kesepakatan (Basyir, 1983: 56).

Adapun mengenai boleh atau tidaknya barang gadai diambil manfaatnya, beberapa Ulama‟ berbeda pendapat. Namun menurut Syafi‟i (1997) dari kesekian perbedaan pendapat para Ulama yang tergabung dalam beberapa mazhab, sebenarnya ada titik yang mengarah menuju kesamaan dari pendapat mereka. Inti dari kesamaan pendapat Mazhab tersebut terletak pada pemanfaatan barang gadaian pada dasarnya tidak diperbolehkan oleh syara‟, namun apabila pemanfatan barang tersebut telah mendapatkan izin kedua belah pihak (rahin dan murtahin), maka pemanfaatan barang gadaian tersebut diperbolehkan. Sedangkan untuk lebih jelasnya mengenai pendapat para Ulama‟ fiqh tentang pemanfaatan barang gadai menurut Syafi‟i (1997) adalah sebagai berikut: a. Pendapat Ulama as- Syafi‟iyah

31

Mengenai pemanfaatan barang gadaian, masih menajadi perdebatan dikalangan para Ulama, ada yang berpendapat Rahinlah yan berhak atas Marhun, dan adapula berpendapat sebaliknya Murtahinlah yang berhak atas Marhun tersebut. Imam Syafi‟i mengatakan dalam bukunya, yaitu al-Um bahwa: “Manfaat dari barang jaminan atau gadaian adalah bagi yang menggadaikan, tidak ada sesuatu pun dari barang jaminan itu bagi yang menerima gadai” (t.t: 155).

b. Pendapat Ulama Malikiyah Mengenai pemanfaatan dan pemungutan hasil barang gadaian dan segala sesuatu yang dihasilkan dari padanya, adalah termasuk hak-hak yang menggadaikan. Hasil gadaian itu adalah bagi yang menggadaikan selama pihak penerima gadai tidak mensyaratkan.

c. Pendapat Ulama Hanabillah Ulama Hanabilah dalam masalah ini memperhatikan barang yang digadaikan itu sendiri, yaitu hewan atau bukan hewan, sedangkan hewanpun dibedakan pula antara hewan yang dapat diperah atau ditunggangi dan hewan yang tidak dapat diperah dan ditunggangi.

d. Pendapat Ulama Hanafiah Menurut Ulama Hanafiah tidak ada bedanya antara pemanfaatan barang gadaian yang mengakibatkan kurangnya harga atau tidak, maka apabila yang menggadaikan memberi izin, maka penerima gadai sah mengambil manfaat dari barang yang digadaikan oleh penggadai (Syafi‟i dalam Chuzaimah, 1997: 72).

2.21. Riba dan Rahn (Gadai Syariah) Perjanjian gadai pada dasarnya adalah perjanjian utang-piutang, hanya saja dalam gadai ada jaminannya, riba akan terjadi dalam gadai apabila dalam akad gadai ditentukan bahwa rahin harus memberikan tambahan kepada

murtahinketika membayar utangnya atau ketika akad gadai ditentukan syaratsyarat, kemudian syarat tersebut dilaksanakan.

32

Bila rahin tidak mampu membayar utangnya hingga pada waktu yang telah ditentukan, kemudian rahin menjual marhun dengan tidak memberikan kelebihan harga marhun kepada rahin, maka di sini juga telah berlaku riba.

2.22. Berakhirnya Akad Gadai Rahn Ada beberapa sebab yang menjadikan akad gadai akan berakhir di antaranya adalah : 1) Rahn diserahkan kepada pemiliknya. Ketika barang gadaian dikembalikan kepada pemiliknya maka berakhirlah akad gadai tersebut. 2) Hutang dibayarkan semuanya. Dengan dibayarkannya hutang maka rahin berhak mengambil kembali barang gadaiannya. Sayid Sabiq menukil perkataan Ibnu Mundzir mengatakan bahwa para ahli ilmu telah sepakat jika seseorang menggadaikan sesuatu lalu membayar hutangnya sebagian, dan ingin mengambil sebagian barang gadaiannya maka hal ini tidak berhak atasnya sampai dia melunasi seluruh hutangnya. 3) Penjualan rahn secara paksa oleh hakim. Hakim berhak mengambil harta rahn dari murtahin untuk pembayaran hutang rahin, walaupun rahin menolak hal itu. 4) Pembebasan hutang oleh murtahin. Ketika murtahin membebaskan hutang rahin maka berakhirlah akad gadai tersebut. 5) Pembatalan hutang dari pihak murtahin.Murtahin berhak untuk

membatalkan hutang kepada pihak rahin, ketika hal ini terjadi maka batalah akad gadai. 6) Rahin meninggal dunia. Pendapat ini adalah dari Ulama Hanâfiyah. Menurut pendapat ulama Malikiyah bahwa rahn itu batal jika rahin meninggal dunia sebelum menyerahkan harta gadai kepada murtahin, bangkrut, tidak mampu untuk membayar hutangnya, sakit atau gila yang membawa pada kematian. Sedangkan, menurut Ulama Syafi‟iyah dan Hanâbilah hal tersebut tidak menyebabkan batalnya akad. Merujuk pada Buku 2 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Bab XIII tentang Rahn pasal 348 ayat 1 dinyatakan :

33

”Ahli waris yang memiliki kecakapan hukum dapat menggantikan pemberi gadai (baca : râhin) yang meninggal” 7) Rahn rusak atau sirna. Dengan rusak atau sirnanya harta gadai maka berakhirlah akad gadai tersebut. Menurut Ulama Hanâfiyah, atas perkara tersebut murtahin dapat dikenakan denda sebesar harga barang minimum atau sebesar utang râhin, sebab hakikatnya marhun adalah amanah yang diberikan 8) Pemindahan shadaqah. rahn kepada pihak lain baik berupa hadiah, hibah atau

2.23. Praktek Rahn (gadai) di Indonesia Setelah kita memahami gadai dalam fiqh Islam, maka bagaimanakah praktek gadai yang ada di tengah masyarakat pada masa kini? Di Indonesia ada beberapa praktek gadai, diantaranya adalah yang terjadi di daerah pedesaan, dimana sebagian mereka menggadaikan sawah, ladang atau pohon kelapa, dan hasil dari barang gadaian tersebut menjadi hak penuh bagi murtahin, hal ini tentu bertentangan dengan sabda Nabi : ٌ‫ساقِط‬ ُ ‫ار‬ ْ‫م‬ ُ ُ ‫سىَا‬ ْ ِ ‫َإ‬ َّ ‫ج‬ َ ُ‫دي‬ َ ُ‫ث بْهُ أَبِي أ‬ َ ‫َايُ اَ ْل‬ َ ‫ربًا‬ َ َ‫ىف‬ َ ‫ض‬ َ ,َ‫مت‬ َ‫ر‬ َ ٍَُ‫ ف‬,ً‫عت‬ َ ‫سا‬ َ ‫ز‬ ِ ‫ح‬ ِ ُ ٍ ْ‫كلُّ قَز‬ “Setiap pinjaman yang mengambil manfaat maka itu adalah riba " HR. Al-Harist bin Abi Usamah.

Hal di atas terjadi karena ketidakpahaman mengenai akad gadai, yang dipahami menjadi milik mutlak bagi murtahin. Karena tujuan dari rahn adalah sebagai penguat kepercayaan orang yang berhutang kepada pemilik piutang, bukan untuk mencari keuntungan. Mengenai biaya perawatan barang gadaian maka hal ini menjadi kewajiban rahin, dan murtahin berhak untuk meminta biaya perawatan tersebut. Karena itu buah dari pohon dan penghasilan dari sawah atau ladang adalah menjadi milik dari rahin, dan jika murtahin yang menggarap sawahnya maka harus dengan izin dari rahin.

34

Selain itu kita mengenal adanya Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian yang ditetapkan dengan PP10/1990 tanggal 10 April 1990 serta PP 103 tahun 2000 yang menjadi lembaga yang memberikan pelayanan gadai milik pemerintah Pola kerjanya adalah pihak pegadaian menyediakan dan menyalurkannya bagi masyarakat yang membutuhkan dana segar dengan segera, adapun masyarakat menjadikan harta bendanya sebagai jaminan ( barang gadaian ). Dengan semakin berkembangnya sistem ekonomi syari'ah maka saat ini Perum Pegadaian juga telah membuka Unit Pegadaian Syari'ah, yaitu pegadaian dengan prinsip akad rahn yang bebas bunga dan sesuai dengan prinsip Islam. Implementasi operasional Pegadaian Syariah hampir sama dengan Pegadaian konvensional. Seperti halnya Pegadaian konvensional, Pegadaian Syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana, masyarakat hanya

menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan, uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit saja). Begitupun untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja dengan waktu proses yang juga singkat. Di samping beberapa kemiripan dari beberapa segi, jika ditinjau dari aspek landasan konsep; teknik transaksi; dan pendanaan, Pegadaian Syariah memilki ciri tersendiri yang implementasinya sangat berbeda dengan Pegadaian konvensional. Dari beberapa perbedaan yang sangat urgen adalah tidak adanya riba yang dikenakan bagi penggadai, karena riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam Islam.

Di antara landasan yang menjadi rujukan bagi pegadaian syari'ah selain sumber-sumber hukum Islam juga Fatwa Dewan Syariah Nasional no 25/DSNMUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan. Adapun ketentuannya sebagai berikut: 1. Murtahin (penerima barang) mempunya hak untuk menahan Marhun ( barang ) sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.

35

2.

Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya.

3.

Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin.

4.

Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.

5.

Penjualan marhun, Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi utangnya.Apabila rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi. Hasil Penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin.

6.

Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbritase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Sesuai dengan landasan konsep di atas, pada dasarnya Pegadaian Syariah berjalan di atas dua akad transaksi Syariah yaitu.

1.

Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian menahan barang bergerak sebagai jaminan atas utang nasabah.

2.

Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barangnya sendri. Melalui akad ini dimungkinkan bagi Pegadaian untuk menarik sewa atas penyimpanan barang bergerak milik nasabah yang telah melakukan akad.

36

Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut : Melalui akad rahn, nasabah menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Akibat yang timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan keseluruhan proses kegiatannya.

Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pegadaian Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa tempat yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal yang diperhitungkan dari uang pinjaman.. Sehingga di sini dapat dikatakan proses pinjam meminjam uang hanya sebagai „lipstick‟ yang akan menarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya di Pegadaian.

Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut meliputi : 1. Akad. Akad tidak mengandung syarat fasik/bathil seperti murtahin mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas. 2. Marhun Bih ( Pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang dirahnkan tersebut. Serta, pinjaman itu jelas dan tertentu. 3. Marhun (barang yang dirahnkan). Marhun bisa dijual dan nilainya seimbang dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya,milik sah penuh dari rahin, tidak terkait dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan baik materi maupun manfaatnya. 4. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur. 5. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya asuransi,biaya penyimpanan,biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi.

37

Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah, masyarakat hanya cukup menyerahkan harta geraknya ( emas, berlian, kendaraan, dan lainlain) untuk dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal. Kemudian staf Penaksir akan menentukan nilai taksiran barang bergerak tersebut yang akan dijadikan sebagai patokan perhitungan pengenaan sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang pinjaman yang dapat diberikan. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai intrinsik dan harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. Maksimum uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai taksiran barang.

Setelah melalui tahapan ini, Gadai Syariah dan nasabah melakukan akad dengan kesepakatan : 1) Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama maksimum empat bulan. 2) Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90,- ( sembilan puluh rupiah ) dari kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman. 3) Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh Pegadaian pada saat pencairan uang pinjaman.

Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk : 1) Melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun sebelum jangka waktu empat bulan. 2) Mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa simpan yang sudah berjalan ditambah bea administrasi, 3) atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dahulu jika pada saat jatuh tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman uangnya.

Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar jasa simpan, maka Pegadaian Syarian melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara dijual, selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberi

38

kesempatan selama satu tahun untuk mengambil Uang kelebihan, dan jika dalam satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, Pegadaian Syariah akan menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS.

Aplikasi gadai syariah dalam perbankan syariah sendiri dipakai dalam beberapa hal, diantaranya sebagai akad pelengkap, yaitu akad tambahan dalam pembiayaan bai' al-murabahah dimana barang dari nasabah dijadikan sebagai jaminan. Manfaat yang dapat diambil oleh pihak bank dalam akad rahn ini adalah : menjaga kemungkinan nasabah lalai atau bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan bank. Selain itu rahn juga sangat membantu masyarakat yang membutuhkan dana dengan segera namun tidak mau jatuh kepada riba. Selain keuntungan yang didapat pihak bank, maka ada beberapa resiko yang terjadi jika nasabah tidak dapat melunasi hutangnya (wanprestasi), atau penurunan nilai barang gadai karena rusak atau harganya yang turun.

39

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Dari apa yang telah dipaparkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa awal berdirinya Rahn (Gadai syariah) adalah fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 mengenai bunga bank. Fatwa ini memperkuat terbitnya PP No. 10 tahun 1990 yang menerangkan bahwa misi yang diemban oleh pegadaian syariah adalah untuk mencegah praktik riba, dan misi ini tidak berubah hingga diterbitkannya PP No. 103 tahun 2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum pegadaian hingga sekarang. Sedangkan

Gadai syariah memiliki tugas pokok yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan. Lembaga Keuangan Gadai Syariah mempunyai fungsi sosial yang sangat besar. Karena pada umumnya, orang-orang yang datang ke tempat ini adalah mereka yang secara ekonomi sangat kekurangan. Adapun pengertian dari rahn (gadai syariah) adalah suatu barang yang dijadikan penguat kepercayaan dalam hutang piutang atau yang lebih populer dengan sebutan gadai.dengan catatan barang yang digadaikan harus barangnya sendiri bukan barang ghasab atau pinjaman. Rahn berlandaskan pada Al-Qur‟an, Hadits, dan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002.

Ada beberapa aspek yang menjadi latar belakang pemdirian Rahn (gadai syariah yaitu:  Aspek Legalitas  Aspek permodalan  Aspek sumber daya manusia  Aspek kelembagaan  Aspek sistem dan prosedur  Aspek pengawasan

40

Selain itu dalam imlplementasi gadai syariah rukun dan syarat yang harus dipenuhi yaitu: Rukun Rahn (Gadai syariah)  Ar-Rahin  Al-Murtahin  Al-Marhun / Ar-Rahn  Al-Marhun bihi  Al-'Aqdu Syarat Rahn (Gadai syariah)  Adanya Lafaz  Adanya pemberi dan penerima gadai  Adanya barang yang digadaikan  Adanya utang/ hutang Dalam keadaan normal hak dari rahin setelah melaksanakan kewajibannya adalah menerima uang pinjaman dalam jumlah yang sesuai dengan yang disepakati dalam batas nilai jaminannya, sedangkan kewajiban rahin adalah menyerahkan barang jaminan yang nilainya cukup untuk jumlah huyang yang dikehendaki. Sebaliknya hak dari murtahin adalah menerima barang jaminan dengan nilai yang aman untuk uan yang akan dipinjamkannya. Sedangkan kewajibanya adalah menyerahkan uang pinjaman sesuai dengan yang disepakati bersama.

Rahn (Gadai Syariah) jika dilihat dari sah tidaknya akad terbagi menjadi dua yaitu gadai shahih dan gadai fasid adapun rinciannya adalah sebagai berikut : a. Rahn Shahih / lazim, yaitu rahn yang benar karena terpenuhi syarat dan rukunnya b. Rahn Fasid, yaitu akad rahn yang tidak terpenuhi rukun dan syaratnya.

Di Indonesia ada beberapa praktek gadai, diantaranya adalah yang terjadi di daerah pedesaan, dimana sebagian mereka menggadaikan sawah, ladang atau pohon kelapa, dan hasil dari barang gadaian tersebut menjadi hak penuh bagi murtahin, hal ini tentu bertentangan dengan sabda Nabi :

41

ٌ‫ساقِط‬ ُ ‫ار‬ ْ‫م‬ ُ ُ ‫سىَا‬ ْ ِ ‫َإ‬ َّ ‫ج‬ َ ُ‫دي‬ َ ُ‫ث بْهُ أَبِي أ‬ َ ‫َايُ اَ ْل‬ َ ‫ربًا‬ َ َ‫ىف‬ َ ‫ض‬ َ ,َ‫مت‬ َ‫ر‬ َ ٍَُ‫ ف‬,ً‫عت‬ َ ‫سا‬ َ ‫ز‬ ِ ‫ح‬ ِ ُ ٍ ْ‫كلُّ قَز‬ “Setiap pinjaman yang mengambil manfaat maka itu adalah riba " HR. Al-Harist bin Abi Usamah.

3.2. Kritik dan saran Keterbatasan penulis tentunya tidak bisa dipungkiri dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis membuka dengan tangan terbuka atas kritik dan saran dari dosen pengampu ataupun pembaca. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif akan menjadikan penulis menjadi lebih untuk kedepannya karena tolok ukur dari kesempurnaan makalah ini adalah dari pembaca pada umumnya dan dosen pengampu mata kuliah perbankan syariah pada kususnya.

42

DAFTAR PUSTAKA

1. Drs. D. Sirojuddin Ar (Ensiklopedi Hukum Islam) PT Ichtiar Baru van Hoevo, Jakarta. 2000 2. Msi Suherdi Hendi H. Drs, Fiqh Muamallah, PT RajaGrafindo Persada : jakarta 2002. 3. MA Karim Helmi. Dr, Fiqh muamallah, PT RajaGrafindo Persada 2002 : Jakarta 2002 4. I‟ Doi Rahman A, Syariat Hukum Islam, PT RajaGrafindo Persada : Jakarta 1996 5. Al- Quran Al-karim, QS Ai-Baqarah : 283 6. Asyatiri, Sayyid Ahmad Ibnu Umar, Alyaqutu Annafisa Fi Madzhabi Ibnu Idris, Maktabah Alhidayah, Surabaya. 7. Algazi, Muhammad Ibnu Qasim, Fathu Al-Qarib Al-mujib, Al-Haramain, halaman 32 8. Asyafi‟i, Imam Taqiyyudin abi Bakrin Ibnu muhammad alhusaini alhusni addimisyaqi, Kifayatu Al- Ahyar, Syirkah Maktabah Ahmad Ibnu Sa‟id Ibnu Nabhan waauladuhu, Surabaya, jiz I, hlm 263. 9. Syafi‟i Rahmad, Fiqh Muamalah, Prof. Dr. H.MA, cv Pustaka Setia, Bandung, 2001 10. Kitab Al Fiqh Al Muyassarah, Qismul Mu‟amalah, Prof. DR Abdullah bin Muhammad Al Thoyaar, Prof. DR. Abdullah bin Muhammad Al Muthliq dan DR. Muhammad bin Ibrohim Alumusa, cetakan pertama tahun 1425H, Madar Al Wathoni LinNasyr, Riyadh, KSA hal. 115 11. Abhaats Hai‟at Kibaar Al Ulama Bil Mamlakah Al Arabiyah Al Su‟udiyah, disusun oleh Al Amaanah Al „Amah Lihai‟at Kibar Al Ulama. Cetakan pertama tahun 1422H 12. Kitab Taudhih Al Ahkam Min Bulugh Al Maram, Syeikh Abdullah Al Bassaam cetakan kelima tahun 1423, Maktabah Al Asadi, Makkah, KSA 13. Mughni, Ibnu Qudamah tahqiq DR. Abdullah bin Abdulmuhsin Alturki dan Abdulfatah Muhammad Al Hulwu, cetakan kedua tahun 1412H, penerbit hajar, Kairo, Mesir.

43

14. Al Majmu‟ Syarhul Muhadzab, imam Nawawi dengan penyempurnaan Muhammad Najieb Al Muthi‟I, cetakan tahun 1419H, Dar Ihyaa Al TUrats Al „Arabi, Beirut. 15. Abdul Muhsin Sulaiman, “Haajul Musykilah al-Iqtisshaadiyah fil Islam”, Terj. Anshari Umar Sitanggal, Bandung : Al-Ma‟arif, 1985. 16. Rachmadi Usman, Aspek – Aspek Hukum Perbankan Islam di Indonesia, Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2002 17. Muhammad Firdaus, dkk, Mengatasi Masalah dengan Pegadaian Syariah, Jakarta: Renaisan, 2005 18. Rahmad Syafei, Konsep Gadai (al-rahn Dalam Fiqh Islam: Antara Nilai Sosial ‎ dan Nilai Komersial), Dalam “Problematika Hukum Islam Kontemporer III”, Jakarta: Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, ‎ 1995. ‎ 19. Ahmad Rodoni dan Abdul hamid, Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta : Zikrul Hakim, 2008 20. Basyir Ahmad Azhar.Hukum Islam Tentang Riba, Utang-piutang Gadai. Bandung: Al-Ma‟arif. 1993. 21. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, cet. XVII, At-Tahiriyah : Jakarta, tahun 1976, hal. 298. 22. Abdurrahman Al-Jazairi, Fiqh „Ala Madzahibul Arba‟ah Juz II, Darul Ihya At-Turats Al-Arabi, Beirut, Libanon, tahun 1993 23. Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taisir Karim Ar-Rahman fi Tafsir kalam Al-Manan, Jam'iyyah Ihya At-Turats Al-Islami, Kuwait, tahun 2003 24. http://majelispenulis.blogspot.com/2011/03/gadai-dalamislam.html

44

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful