P. 1
_Asuhan Keperawatan Anak_ BBLR

_Asuhan Keperawatan Anak_ BBLR

|Views: 133|Likes:

More info:

Published by: Chaerani Triyuliana Rusli on Apr 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN PADA BAYI BARU LAHIR RESIKO TINGGI (BBLR, HIPERBILIRUBINEMIA, ASFIKSIA, SEPSIS DAN RDS

)

OLEH ANDY NURIYANTO 04.004

DINAS KESEHATAN KABUPATEN MALANG AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN MALANG 2007 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hyperbilirubinemia adalah kenaikan kadar bilirubin yang ditandai oleh icterus pada kulit sklera, membran mukosa dan cairan tubuh. Icterus dapat ditemukan pada minggu pertama kehidupan sekitar 60 % bayi aterm dan 80 % bayi premature (IKA I, 1990 : 640). Bayi dengan hyperbilirubinemia mempunyai resiko tinggi karena pada bayi tersebut terjadi gangguan –gangguan antara lain

menurunnya refleks menghisap sehingga pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi berkurang, gangguan integritas akibat dari bilirubin dan enzim yang dikeluarkan bersma feces dapat mengiritasi kulit terutama pada daerah sekitar anus. Hyperbilirubinemia merupakan gejala klinik dimana hal tersebut dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Komplikasi yang paling berbahaya adalah terjadi icterus, keadaan ini bila tidak terjadi secara serius akan menyebabkan kematian atau bila hidup akan mengalami kecacatan fisik atau mental, gangguan bicara atau retardasi mental (IKA III, 1985 : 1104). Bayi hyperbilirubin yang diberikan fototerapi juga dapat menimbulkan masalah. Meskipun fototerapi merupakan teknik yang sederhana namun perlu mendapatkan pengawasan yang terus menerus untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi yaitu :peningkatan insesible water loss, frekuensi defekasi meningkat, timbulnya kelainan kulit, gangguan retina, gangguan pertumbuhan, gangguan suhu dan beberapa kelainan lain (IKA, FKUI, 1985 : 1985). Pada kelurga yang mempunyai bayi dengan hyperbilirubinemia secara pskologis timbul rasa cemas karena tidak mengerti tentang penyebab, cara pengobatan dan perawatan secara komplikasi yang mungkin timbul pada bayinya. Untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang mungkin terjadi pada bayi hyperbilirubinemia maka peran dan fungsi perawat sangat menentukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang intensif. Mengingat banyaknya masalah-masalah yang seperti tersebut diatas maka penulis mengambil kasus bayi dengan Hyperbilirubinemia di Ruang 7 RS Syaiful Anwar Malang. B. Batasan Masalah Untuk lebih memperjelas pembahasan, penulis membatasi permasalahan tentang Asuhan Keperawatan yang diberikan pada Bayi Ny. W dengan kasus Hyperbilirubinemia di Ruang 7 RS Syaiful Anwar Malang tanggal 3-5 juni 2004. C. Tujuan Tujuan umum Untuk melakukan asuhan keperawatan pada Bayi Ny. W dengan Hyperbilirubinemia di Ruang 7 RSSA Malang. Tujuan khusus Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada bayi dengan kasus BBLR dan hyperbilirubinemia, mahasiswa mampu : Mengetahui gambaran konkrit bayi dengan BBLR dan hyperbilirubinemia. Melakukan pengkajian pada klien dengan hyperbilirubinemia. Merumuskan diagnosa, perencanaan dan melakukan intervensi yang spesifik pada klien dengan kasus hyperbilirubinemia. Melakukan evaluasi berdasarkan kriteria standart yang telah ditetapkan.

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Hyperbilirubinemia adalah peningkatan serum bilirubin dalam darah yang ditandai dengan icterus pada kulit, sclera, mukosa dan cairan tubuh (Cindy Smith, 1990). B. Macam-macam Icterus Icterus Fisiologis adalah icterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga serta tidak mempunyai dasar patologik dan tidak mempunyai dasar potensi untuk menjadi kernicterus. Icterus disebb\ut fisiologik bila : Timbul pada hari kedua dan ketiga Kadar bilirubin indirect tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5 mg% untuk neonatus kurang bulan. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% per hari. Kadar bilirubin direct tidak melebihi 5 mg% per hari. Kadar bilirubin direct tidak melebihi 1 mg%. Icterus menghilang pada 10 hari pertama. Icterus Patologik : Icterus disebut patologik bila : Terjadi dalam 24 jam hari pertama. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% per hari. Icterus menetap sesudah 2 minggu pertama. Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg%. Punya hubungan dengan proses hemolitik. Breast feeding Assosiated Joundice Breast Milk Joundice (Wong;1995).

C. Etilogi Hyperbilirubinemia Produksi bilirubin yang berlebihan, misal : hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah RH, ABO, golongan darah lain. Gangguan fungsi hepar, misalnya imaturitas hepar pada bayi prematur, terjadinya infeksi hepar, tidak terjadinya enzim glukoronil transfferase (sindrom Cringgler-Majjar). Gangguan transportasi misalnya hipoalbuminemia pada bayi premature. Gangguan ekskresi bilirubin atau obstruksi.

Patofisiologi Hyperbilirubinenia Pembentukan Bilirubin Meningkat Gangguan Konjugasi Transportasi Gangguan Ekskresi Intrahepatik (Penyakit Hemolisis Atau (Immaturitas Hepar (Hipoalbumenia Pada Dan Ekstra Hepatic (Obstruksi Destruksi Eretrosit) Atau Subsitrat U/ Konjugasi Premature) HIPERBILIRUBINEMIA Bilirubin Direk Meningkat Bilirubin Indirek Meningkat Hepatomegali Tranfusi Tukar Bilirubin Anareksia Pertahanan Hipo/Hiper Tubuh Ventilasi Intake Nutrisi Terhadap Antigen Me↓ Dehidrasi Perubahan perfusi jaringan Kerusakan Integrutas Kulit Tidak Injury Epistotonus Mau Potensial Minum Penurunan Laju Filtrasi Glomerolus Intake Cairan Injury Pada Mata Deficit Volume Cairan Kejang Lethargi Hipoperfusirenal Diare Perubahan Suhu Tubuh Resiko Peningkatan Peristaltic Hipertermia Hipervolemia Gangguan IWL Meningkat Neurologis Cemas Deficit Knowledgje Over Load Dalam Otak ↑↑ Fototerapi Penumpukan Terapi Gangguan Bayi .D.

Potensial Gagal Kurang Volume Cairan Ginjal Tubuh .

pengobatan serta komplikasi yang akan timbul (Cindy Smith. d. bayi tampak lemah . Neurologi: reflek moro menurun.extensi dan endotorasi (IKA. kedutan pada wajah dan ekstremitas. sedih.1985). mukosa bibir kering. Riwayat post natal : Dehidrasi pada bayi akan meningkatkan kadar bilirubin serum yang mungkin disebabkan bayi dengan reflek hisap yang menurun . releks menghisap lemah dan lehe kaku (Doenges. Pengkajian meliputi : Biodata : untuk mengetahui identitas bayi dan orangtua.1994). FKUI. nadi relatif cepat dan tekanan darah menurun. maka beresiko besar terjadi gangguan transportasi bilirubin. Pemeriksaan fisik. Genetalia: ditemukan warna kemerahan pada kulit daerah anus karena iritasi dari bilirubin dan enzimenzim yang dikeluarkan feces. Keadaan yang dapat kita temukan pada bayi hiperbilirubinemia. Riwayat psikososial Terjadinya hiperbilirubinemia pada bayi menyebabkan orang tua mengalami perubahan psikologis berupa kecemasan. Muskuloskeletal: ada tanda kern ikterus seperti spasme.1994) Riwayat natal : Cara pertolongan pertama dalam penjepitan tali pusat yang terlambat sehingga darah itu banyak mengalir ke janin lewat tali pusat dan akan mengakibatkan terjadinya policitemia yang akan meningkatkan produksi bilirubin (IKA I. FKUI. tali pusat harus dirawat dengan baik untuk mencegah infeksi.Suhu tubuh tidak stabil .Hematom menunjukkan trauma persalinan. terutama obat seperti salisilat. penyakit diabetes melitus pada saat kelahiran menyebabkan hiperglikemi pada bayi. kurang pengetahuan tentang perawatan. frekwensi pernapasan menurun. terutama yang berkaitan dengan gangguan fungsi hepar . 1990). nutrisi ibu yang kurang dapat menyebabkan partus prematurus dan nutrisi lebih mengakibatkan preeklamsi. tangan mengepal. Tanggal lahir bayi perlu dikaji untuk menentukan bayi lahir aterm atau premature sehingga memperkuat diagnosa icterus fisiologis atau patologis. reflek menghisap dan menelan lemah. . Penyakit yang pernah diderita selama hamil .Perawatan byi dengan penggunaan obat – obatan seperti oksitosin. c.Pada bayi lahir kurang dari 37 minggu (premature) lebih sering terjadi hiperbilirubin karena kadar albumin dalam darah yang rendah (IKA. Kepala dan rambut: rambut kemerahan dan penyebaran masih jarang menandakan kelahiran premature. Penggunaan obat selama hamil . 1990). Riwayat kehamilan dan persalinan. Asuhan Keperawatan 1.Kebiasaan merokok. tidak ada kejang pada tahap kritis. Kebiasaan ibu selama hamil. dapat diketahui usia bayi termasuk aterm atau premature. sensitif terhadap rangsangan dan tangisan merengek. Riwayat kesehatan keluarga Yang perlu dikaji adalah dimana ada faktor-faktor yang meurun atau pembawaan orang tua misalnya. kejang-kejang. bahan pembersih fenol dapat pula mengakibatkan hiperbilirubinemia (FKUI.E. sehingga meningkatnya viskositas darah menghambat konjugasi indirect dalam hepar. sehingga dapat mempermudah dalam memberikan informasi. Abdomen: peristaltik meningkat. sulfafurazole. mata cowong. yaitu Keadaan umum : tubuh tampak kuning . 1990). ubun-ubun cekung.Pada mata ditemukan sklera tampak icterus.1988). minum alkohol dapat menyebabkan premature (Kapita Selekta . mengkonsumsi bahan narkotik. meliputi Riwayat prenatal : Usia kehamilan .

Transfusi tukar untuk membuang bilirubin dalam darah dan mengganti dengan darah baru. catat bila ada peningkatan ikterus. diarhoe. Dignosa : Resti injury(kern ikterus) b/d peningkatan serum bilirubin. Observasi perubahan perilaku (letargi. sklera tidak icterus. Ht > pada policitemia. hipertonisitas. dahi. Observasi warna kulit dan sklera mata klien . fototerapi. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan bilirubin (direct dan indirect) Pemeriksaan darah lengkap. kehangatan kulit kurang . Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan premature. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan joundice dan diarhoe. lanugo pada wajah. Kolaborasi foto terapi dan transfusi tukar jika ada indikasi . anemia berlebihan.1994) Protein serum total. tidak terjadi kejang. telinga. Perubahan psiklogis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang joundice.Integumen: warna kuning seluruh tubuh . reflek bayi baik. R : warna yang berubah menadakan peningkatan bilirubin. Penatalaksanaan. Fototerapi untuk mengubah bilirubin indirect menjadi bilirubin direct merupakan senyawa yang larut dalam air sehingga mudah diekskresi. bayi tidak mau minum . Pemeriksaan golongan darah bayi dan ibu untuk mengidentifikasi inkompabilitas ABO (Doenges. respiratori distres. penatalaksanaan dan perawatan. Kurang volume cairan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan . hipotonia. Prinsip penatalaksanaan bayi hiperbilirubinemia (IKA. Pertahankan bayi tetap hangat dan kering R : stressor dingin berpotensi melepaskan asam lemak yang bersaing pada sisi ikatan pada albumin.3 g/dt) menandakan penurunan kapasitas ikatan terutama pada bayi praterm. kedutan tidak ada. R : mendeteksi dini terjadinya kern ikterus Observasi warna dari feces dan urine. Resiko injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan fototerapi. fototerapi. 1985) adalah : Mempercepat proses konjugasi dengan pemberian fenobarbital. kadar (< 0. a. pelipis. Diagnosa Keperawatan Resiko tinggi injury (ssp: kern ikterus) berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin.dll) R : deteksi dini adanya kern ikterus sehingga diperlukan intervensi. punggung adalah indikasi bayi premature. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan serum bilirubin indirect kembali normal. Hb<. Memberi substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi dengan memberi albumin dan plasma. jaringan subkutan tipis dan keriput. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipo/hiperventilasi selama transfusi tukar. FKUI. R : kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan pembalikan barier darah otak sehingga meningkatkan resiko terhadap keterlibatan ssp. Kriteria Standar : Kadar bilirubin dibawah 12 mg% pada bayi aterm dan kurang 15 mg% pada bayi premature. Pemeriksaan retikulosit: peningkatan retikulosit menandakan peningkatan produksi SDM dalam respon terhadap hemolisis yang berkenaan dengan penyakit Rh. Intervensi : Identifikasi faktor predisposisi terjadinya hiperbilirubinemia. sehingga meningkatkan kadar bilirubinyang bersirkulasi dengan bebas. Rencana Asuhan Keperawatan.

seka setiap hari. monitor keadaan kulit dan lakukan massage R : mengurangi daerah tertekan Perhatikan warna dan frekwensi defekasi R : defekasi encer. R : pengukuran tanda-tanda vital secar teratur dapat mendeteksi bila terjadi kelainan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan tindakan keperawatan klien mendapatkan hidrasi yang adekuat Kriteria Standar : Trugor kulit kembali kurang dari 1 detik. bab C 4 x / hari. icterus pada tubuh berkurang. sering serta kehijauan serta urine kehijauan menandakan keefektifan fototerapi dengan pemecahan dan ekskresi bilirubin Jaga kebersihan dan kekeringan tubuh klien R : agar kulit tidak teriritasi oleh bilirubin dan enzim yang dikeluarkan oleh feces Berikan perawatan area perianal setelah defekasi R : mencegah iritasi dari defekasi yang sering dan encer Pelihara kebersihan kulit bayi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak ada tanda-tanda penurunan . bersih anus tidak kemerahan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan Kriteria Standar : Keadaan kulit kering. d. konsistensi feces. klien mengalami diarhoe sehingga perlu ditindak lanjuti c. fototerapi. sedangkan transfusi tukar untuk membuang biliburin dalam darah dan mengganti dengan yang baru b. Diagnosa : Perubahan suhu tubuh b/d premature. Diagnosa : Kerusakan itegritas kulit b/d joundice dan diarhoe.R : fototerapi untuk merubah bentuk senyawa yang larut dalam lemak ke senyawa yang larut dalam air sehingga mudah dieksresi. diarhoe. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal Kriteria Standar : Suhu tubuh normal (36 – 37 º c) Intervensi : Ciptakan suhu lingkungan yang netral R : pengaruh suhu lingkungan sangat besar terhadap kestabilan suhu tubuh bayi Pertahankan bayi tetap hangat dan kering R : kestabilan suhu tubuh klien dapat memberikan kenyamanan bagi klien Observasi tanda-tanda vital secara teratur dapat mendeteksi bila terjadi kelainan. Diagnosa : Kurang volume cairan tubuh b/d tidak adekuatnya intake cairan . konsistensi dan warna feces R : perubahan dari frekwensi. Diagnosa : Resiko injury pada mata dan genetalia b/d fototerapi. mukosa bibir cekung. ganti popok dan pakain setiap saat jika diperlukan R :kulit tetap bersih dan kering dapat mencegah iritasi kulit e. fototerapi. intake dan output seimbang Intervensi : Kaji tingkat dehidrasi R : mengetahui cairan yang dibutuhkan Monitor tanda-tanda dehidrasi R : mengetahui tindakan yan akan dilakukan selanjutnya Berikan asi / pasi sesuai program R : memenuhi hidrasi dengan intake yang adekuat Observasi frekwensi. Intervensi Observasi warna dan keadaan kulit tiap 8 jam / bila diperlukan R : dapat mengetahui secara dini bila terjadi kelainan Ubah posisi setiap 2 jam dengan terlentang / tengkurap.

Tujuan : Setelah diberi penjelasan keluarga mengerti tentang penyakit. konjungtiutis Beri tutup pada testis dan penis bayi R : mencegah kerusakan testis dari panas Beri rangsangan kata-kata atau sentuhan klien secara halusselama perawatan R : memberikan respon pada bayi tentang kepekaan terhadap rangsangan. pengobatan dan kecemasan berkurang Kriteria Standar : Keluarga mampu menjelaskan tengang penyakit. R : merupakan jarak yang tepat untuk keuntungan maksimal Berikan penutup mata yang tidak tembus cahaya R : mencegah kemungkinan kerusakan retina dan kongjungttiva dari sinar intensitas tinggi Inspeksi mata setiap 2 jam bila penutup mata dibuka R : memberikan rangsang terhadap klien sehingga tidak terjadi penurunan persepsi Pantau posisi penutup mata R : pemasangan tidak tepat / pergeseran dapat menyebabkan iritasi. Tujuan : Pelaksanaan tranfusi tukar berhasil dan komplikasi tidak terjadi Kriteria standar : Joundice berkurang atau hilang kadar serum bilirubin kurang 12 mg/dl pada bayi atern dan kurang 15 mg / dl pada bayi pretern Intervensi Perisapkan alat-alat untuk mengukur suhu nadi respirasi dan alat resusitasi R : menyiapkan alat-alat untuk mengukur suhu nadi respirasi dan alat resusitasi Cek tipe dan golongan darah sesuai protokol R : mempersiapkan sebelum dilakukan transfusi tukar Jamin kesegaran darah (tidak < 2 hari) R : darah yang lama lebih mungkin mengalami hemolisis. keluarga mengerti pentingnya perawatan dan kecemasan berkurang Intervensi Jelaskan pada orang tua tentang penyakit.sensori visual. serta komplikasi yang mungkin timbul. abrasi. karenanya meningkatkan kadar biliburin Berikan pencucian saline pada tali pusat R : pencucian perlu untuk melunakkan tali pusat dan vena umbilikus sebelum transfusi Pantau tekanan vena. Diagnosa : Perubahan psikologis (cemas) b/d kurang pengetahuan keluarga tentang joundice penatalaksanaan dan perawatan. penyebab komplikasi perawatan dan pengobatan R : menambah pengetahuan keluarga sehingga berpartisipasi terhadap tindakan keperawatan Anjurkan keluarga mengunjungi klien R : keterlibatan orang tua sangat penting dan untuk mengetahui keadaan bayi secara langsung Diskusi dengan keluarga penatalaksanaan klien bila di rumah R : pemahaman orang tua membantu mengembangkan kerjasama mereka bila bayi dipulangkan Anjurkan pada orang tua untuk membantu mengembangkan kerja sama mereka bila bayi dipulangkan R : mengetahui / mengenali tanda-tanda peningkatan biliburin untuk evaluasi medis secara tepat g. pengobatann dan perawatan. warna dan frekwensi pernapasan sebelum. sensori visual baik. kornea. f. tak ada trauma genetalia Kriteria Standar : Reflek mata / pupil ada bila pelindung mata dibuka. nadi. selama dan sesudah transfusi R : mengidentifikasi potensial kondisi tidak stabil Observasi kejadian selama trnasfusi pencatatan jumlah darah yang diambil dan diinjeksikan R : mencegah kesalahan dalam penggantian cairan . Diagnosa : Perubahan perfusi jaringan b/d hipo/hiperventilasi selama transfusi tukar. perawat. adanya respon dengan sentuhan. eliminasi urin lancar Intervensi : Tempatkan bayi pada 18 – 20 inchi dari sumber cahaya. genetalia tidak atropi.

S / Ny. Sesaat setelah lahir bayi langsung dihangatkan kedalam inkubator. berat badannya 1700 gram yang ditolong oleh bidan di Puskesmas Purwosari Pasuruan. EVALUASI Kriteria evaluasi yang diharapkan dari diagnosa yang muncul pada klien hiperbilirubineia : serum bilirubin indirect kembali normal : kadar bilirubin dibawah 12 mg % pada bayi aterm dan 15 mg % pada bayi prematore kebutuhan cairan terpenuhi suhu tubuh normal (36 – 37 º c) kebutuhan kulit dapat dipertahankan tidak ada tanda penurunan sensori visual dan tidak terjadi trauma pada genetalia keluarga mengerti tentang penyakit perawatan dan pengobatan pelaksanaan transfusi tukar berhasil dan komplikasi tidak terjadi BAB III FORMAT PENGKAJIAN PADA BBLR A.Monitor kadar bilirubin setelah prosedure kemudian 4 – 6 jam R : kadar biliburin bisa menurun sampai setengah setelah dilakukan tindakan dan dapat meningkatkan setelah dan perlu pengulangan transfusi 4. Identitas Nama : Bayi Ny. Riwayat Penyakit Sekarang Ayah mengatakan bayinya lahir saat usia kehamilan 30 minggu dengan kelahiran spontan. misal pemberian albumin untuk mengikat bilirubin bebas pencegahan peningkatan kadar bilirubin meningkatkan kerja enzim dengan pemberian phenobarbital melakukan fototerapi dan transfusi tukar 5. W ( Anak I ) Tanggal Lahir : 29 Mei 2004 Umur : 5 hari Nama Ayah / Ibu : Tn. Reg : 412060 B. Bakalan RT IV RW I Purwosari Pasuruan Kultur : Jawa Agama : Islam Pendidikan Ayah / Ibu : SD Tanggal MRS : 2 Juni 2004 Tanggal Pengkajian : 3 Juni 2004 No . PELAKSANAAN Prinsip-prinsip dalam mengatasi klien dengan hiperbilirubinemia antara lain : menghilangkan penyebab. Alasan Kunjungan/ Keluhan Utama Penurunan berat badan bayi dari 1700 gram menjadi 1500 gram + ikterus C. W mengalami penurunan menjadi 1500 gram dan bayinya berwarna kuning ( Kremer IV) yang akhirnya di rujuk ke RSSA Malang pada pukul 13. Kemudian pada hari ke 3 berat badan bayi Ny.11 WIB . yang kemudian bayi dirawat di ruang VII bagian Perinatologi. W Pekerjaan Ayah : Tani Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga Alamat : Ds. . Pada hari ke 2 bayi dipasang infus pada tangan kanan untuk pemberian cairan D 5 % serta pemberian obat Natrium Bicarbonat.

Imunisasi : Belum mendapatkan imunisasi F. Riwayat Keluarga Ny. bayi mendapatkan susu Lactogen.Satu minggu sebelum kelahiran bayinya . W merasakan gatal-gatal karena alergi yang semakin parah sesaat sebelum dengan penyebab yang tidak jelas. W melahirkan ditolong oleh Bidan di Puskesmas Purwosari Pasuruan dengan kelahiran spontan. Riwayat Masa Lampau Penyakit – penyakit waktu kecil :Pernah dirawat RS :Obat – obatan : Vic 50 mg. Bayi belum pernah disusui oleh Ibunya sejak lahir karena ASI belum keluar sehingga senbagai gantinya mendapatkan susu Lactogen.D. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran Prenatal Ibu bayi mengatakan selama kehamilan mulai dari Trimester I selama I bulan pertama Ibu mengeluh mual dan tidak mau makan. W ) tidak pernah jatuh selama sebelum melahirkan. Riwayat Sosial Yang mengasuh : Selam 3 hari bayi Ny. Serta bayi diletakkan dalam inkubator dengan suhu 37. Kecelakaan : Ibu bayi ( Ny. W dilakukan pemasangan infus pada kaki kiri dan mendapatkan susu formula SGM untuk BBLR. Untuk kebutuhan cairan. W mengatakan allergi pada sekujur tubuh sejak sebelum kehamilan yang kambuh I minggu sebelum melahirkan dengan penyebab yang tidak jelas. Selama MRS : Bayi Ny. G. asma. Kemudian selama di rawat di RSSA Malang bayi Ny. Sedangkan selama hamil klien hanya mengeluh pusing.9°C. dan tidak ada yang menderita allergi . hipertensi. berat bayi lahir 1700 gram. dan Infus D5 % Tindakan ( Misalnya : Operasi ) : Tidak pernah Allergi : Ny. W mengatakan didalam keluarga. E. tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan seperti : DM. dengan usia kehamilan 30 minggu dan bayi menangis spontan. sesekali menangis bila merasa haus demikian pula ketika sebelum MRS. bayi diletakkan dalam inkubator dan pada hari ke 2 bayi dilakukan pemasangan infus D 5 % yang mendapatkan obat Natrium Bicarbinat secara IV bolus. Aktifitas / Bermain : . W di rawat di Puskesmas dan pada hari ke 4 bayi dibawa ke RSSA karena berat badannya menurun dan warnanya kuning ( Kremer IV ) Hubungan dengan anggota keluarga : Anak pertama Hubungan dengan teman sebaya :Pembawaan secara umum :Lingkungan rumah :H. W mendapatkan infus CN 10 % 6 tetes mikro/ menit . Natal Ny. Postnatal Hari pertama setelah kelahiran. Ny. mendapatkan susu formula SGM untuk BBLR ± 40 ml serta bayi belum pernah mendapatkan ASI Makanan :Pola Tidur : Selama di RS bayi tidur terus. Luitiral 2x5 mg. Mandi : Selama di RS bayi hanya di seka sehari 1 x pada pagi hari saja sama sdengan sebelum MRS. Kebutuhan Dasar Cairan : Sebelum MRS : Di Puskesmas bayi mendapatkan infus D 5% 6 tetes mikro / menit selama I hari yaitu pada hari ke 2.

terpasang NGT pada hari ke 2 setelah dilahirkan. Obat. TTV TD :RR : 32 x / menit Suhu : 36. Tindakan Keperawatan : Bayi mendapatkan IVFD D 5% + CN 10 % 6 tts mikro/ mnt. reflek menghisapnya lemah . Eliminasi : Sebelum MRS : Bayi BAK sebanyak ±11 x / hari dengan warna kuning pekat. Bayi juga mendapatkan infus CN 10 % 150 cc / 24 jam 6 tts mikro / mnt.Ray :Lain. 3. konsistensinya lunak. W mendapatkan susu formula SGM untuk BBLR ±40 ml selam 12 jam.Bayi Ny. aktifitas dan gerakannya lemah . Tangisan lemah.lain : Direncanakan tindakan fototerapi yang dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2004 J. konsistensinya lunak. turgor kulit < 2 detik. 3. Selama MRS : Bayi BAK sebanyak ± 10 x / hari denganwarna kuning. jumlahnya sedikit – sedikit ( setiap kali BAK ).obatan : Injeksi Ampicilin 1x 100 mg ( IV ). W dapat menggerakkan tangan dan kaki secara agak aktif dan bayi menangis dengan lemah. lemak sub-kutan tipis. reflek menghisap lemah. 5 °C Denyut Jantung : 150 x/ menit BB sekarang : 1500 Kg BB Lahir : 1700 Kg Panjang Badan : 45 Cm Lingkar Dada : 31 Cm Lingkar Kepala : 28 Cm Lingkar Lengan : 7 Cm Pemeriksaan Kepala dan Leher Kepala . I. Aktifitas : Bayi menangis dengan lemah dan gerakan akstrimitas atas dan bawah tidak aktif. konjungtiva tidak anemis dan sklera ikrerus. Pemerikasaan Fisik Keadaan Umum Bayi lebih banyak tidur dan kadang – kadang terbangun dan tidur lagi. Bayi BAB 1x / hari dengan warna kuning kecoklatan. Status Cairan : Bayi Ny. Keadaan Kesehatan Saat Ini Diagnosa Medis : BBLR + Ikterus ( Hiperbilirubin ) Tindakan Operasi :Status Nutrisi : Saat MRS berat badan bayi Ny. keadaan umum bayi tampak lemah dengan GCS 4. Bayi BAB ± 1.2 x / hari dengan warna kuning kecoklatan. mukosa bibir kering. reflek moro kurang. kulit keriput (kisut). inj. X. dan diletakkan dalam inkubator. Kalmethason 2 x ¼ ccdan salep kulit. jumlahnya sedikit – sedikit ( setiap kali BAK). W yaitu 1500 gram. Bayi diletakkan dalam inkubator dan warna kulit bayi kuning ( Kremer IV ).

tidak ada suara tambahan serta bunyi jantung 150 x/ menit. Telinga Bentuk telinga kanan/ kiri simetris. sklera icterus. reflek pupil terhadap cahaya lambat. kelopak mata tidak oedema. mukosa membran sedikit pucat. pada punggung tangan dengan warna hitam karena pemberian Natrium Bicarbonat pada tanggal 30 Mei 2004 dan kulit keriput. Hidung Tidak ada pernapasan cuping hidung. . BJ I dan BJ II tunggal. Lubang anus tidak ada kelainan. conjungtiva tidak anemis. liang telinga bersih.ubun tidak rata . tidak ada luka atau benjolan.Bentuk kepala bulat. mucosa lembab. lingkar kepala 28 cm. Pada telinga. Pemerikasaan Integumen Inspeksi : Kulit warna kuning ( Kremer IV ) .terdapat jaringan nekrotik . bunyi napas paru kanan dan kiri sama. Palpasi : Turgor kembali dalam waktu kurang dari 2 detik. Mata Simetris kanan / kiri. suara napas broncho vesikuler. Ubun. tidak terdapat kelainan pada septum nasi dan terpasang NGT pada tanggal 30 Mei 2004. daun telinga teraba lembut dan tipi. Pemeriksaan Abdomen Inspeksi Permukaan datar. tulang masih dapat bergerak.dan tidak ada bayangan pembuluh darah limpe.tanda peradangan serta tidak ada cacat pada telinga kanan maupun telinga kiri. lingkar dada : 31 Cm. dan kuku tidak terdapat kelainan. lemak sub. pada rongga hidung terdapat sekret. tidak terdapat distensi abdome. bayangan pembuluh darah pada dinding abdomen ( + ) Palpasi Hepar / lien tidak teraba. areola. Pemeriksaan Payudara Kulit. nipple tidak ada kelainan. Pemeriksaan Dada dan Thorax Inspeksi Bentuk dada pigeon chest dan simetris. libia minora dan mayara berwarna merah. Pemeriksaan Genetalia Jenis kelamin perempuan. gigi belum ada. rambut tampak kotor karena terkena salep dan muka tampak pucat ke kuningkuningan. tidak tampak retraksi suprasternaldan intercostal. kulit tidak ada lesi. reflek menghisap lemah dan tidak terdapat perdarahan pada gusi. Perkusi Perkusi suara tympani Auskultasi Bising usu 5 x/ menit. caput hematom tidak ada. Auskultasi RR : 32 x / menit reguler. tidak terdapatt sekret. Perkusi Resonan Palpasi Tidak ada kelainan. akral dingin. tidak ada tanda. reguler. pupil simetris isocor. Mulut Mukosa mulut dan bibir kering. dan mata lebih banyak tertutup ( tidur). rambut lembut dan halus. perdarahan tidak ada. dahi dan pelipis terdapat lanugo.kutan tipis.

0 ) Bilirubin Direk : 0. Pemeriksaan Ekstrimitas Ekstrimitas kanan. Informasi Lain Data Subjektif Ibu mengatakan selama setelah melahirkan belum pernah menyusui anaknya. reflek moro dan menghisap lemah. Ampicillin 1x 100 mg ( IV) IVFD CN 10 % 150 cc / 24 jam 6 tts mikro / mnt Tranfusi plasma 15 cc Diet susu formula SGM untuk BBLR . tidak ada kelainan pada ekstrimitas serta aktivitas atau gerakan tidak aktif. 92 mg/ dl ( 0. K. Ampicillin1x 100 mg ( IV) Inj. Ibu mengatakan bahwa bayinya sejak lahir belum pernah di bawa ke rumah Ibu mengatakan bahwa sejak lahir bayinya diletakkan didalam inkubator Ibu menanyakan kapan anaknya akan di bawa pulang.25 ) Bilirubin Indirek : 18 .genetalia lengkap tidak ada kelainan. Pemeriksaan Penunjang Tanggal 4 Juni 2004 Kimia Darah Bilirubin total : 19. 8 gr/ dl . Tingkat Perkembangan Pada tingkat perkembangan yang dinilai adalah : Reflek rotting : Kurang Reflek sucking : Lemah Reflek palmar graff : Cukup Reflek plantar graff : Kurang Reflek moro : Lemah L. Pemeriksaan Neurologi Kesadaran compos mentis. Kalmethason 2 x ¼ cc Diet ASI dengan susu formula SGM untuk BBLR Foto terapi Salep kulit Tanggal 5 Juni 2004 Foto terapi ( terapi sinar ) Inj. orientasi baik. Ampicillin1x 100 mg ( IV) Inj. 75 mg / dl ( 0. Terapi / pengobatan Tanggal 3 Juni 2004 IVFD CN 10 % 150 cc/ 24 jam 6 tts mikro/ mnt Inj.65 mg/dl ( 1. kejang tidak ada . Ibu mengatakan ASI nya belum bisa keluar.kiri sama besar dan panjang. Kalmethason 2 x ¼ cc Diet ASI dengan susu formula SGM untuk BBLR Tanggal 4 Juni 2004 IVFD CN 10 % 150 cc /24 jam 6 tts mikro / mnt Inj.75 ) Darah Lengkap Hemoglobin : 16. mata tidak berputar dan tidak terdapat kaku kuduk.

Gerakan bayi tidak aktif.Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi.Reflek hisap yang lemah. Terpasang infuse CN 10%.Leukosit : 8200 / mm³ L.92 mg/dl. Sclera ikterus. Pemeriksaan lab tanggal 5 juni 2004 : (Kimia Darah) bilirubin total : 19.75 mg/dl.W Umur : 5 Hari. lingkar kepala 28 cm. No.02DS : --DO : Berat badan bayi 1500 gr. Minum susu formula ntuk BBLR.9ºC.Resiko terjadi injury pada susunan saraf pusat: Karena ikterusPeningkatan kadar bilirubin indirek. Bilirubin Direk : 0. Kulit bayi tampak ikterus (Kramer 4). 150 cc/24 jam : 6 tetes mikro/menit.65 mg/dl. panjang bayi 45 cm. Peristaltic usus 5 kali/menit. Kelembaban kulit cukup. Reg : 412060 NoData PenunjangMasalahKemungkinan Penyebab01DS : ---DO : Bayi tampak lemah dan banyak tidur. Umur bayi 5 hari. Lingkar dada 31 cm. Tiap kali minum sedikit (< ½ botol) Kemampuan menghisap lemah.03DS : --DO : Bayi tampak terbungkus selimut dan diletakkan pada incubator dengan suhu 37. Terpasang NGT. Bilirubin Indirek : 18. Reflek menghisap lemah.800 / mm³ Evaluasi Hapusan Darah : Eritrosit : Normal Leukosit : Normal Trombosit : Normal ANALISA DATA Nama : Bayi Ny. Akral teraba dingin. tonus otot sedikit fleksi. Lingkar lengan 7 cm.D : Darah kurang mm/jam Trombosit : 14. .E. Tangisan bayi tidak keras (Tidak melengking).

Jarak bayi dengan alat 40-45 cm. Tekstur kulit lunak dan turgor baik. Resiko terjadinya HipotermiTipisnya jaringan lemak subcutan. Kulit bayi keriput.04DS : Keluarga mengatakan pada hari ke 2 setelah kelahiran bayi dipasang infuse (tangan kanan).Resiko injury pada mata dan genetalia.1ºC RR : 35 kali/menit. Ibu menanyakan mengapa anaknya sudah diobati tetapi warna kuningnya masih belum hilang.DX. dengan diameter ± 2 cm. BB : 1500 gr.Kerusakan integritas kulit (Punggung. Bibir sedikit pucat dan kering. TTV : Suhu : 36.06DS : --DO : Dilakukan tindakan foto terapi dengan sinar lampu neon 100 watt. Kulit berwarna kuning (Kramer 4) Kehangatan kulit kurang. Nadi : 150 Kali/menit. Ibu menanyakan apakah penyakit bayinya dapat disembuhkan. DO : Ekspresi wajah Ny. DJ : 166 Kali/menit. TTV : Suhu : 36. Punggung dan tangan warna kehitaman (jaringan nekrotik). Ibu menayakan kapan bayinya boleh dibawa pulang.W lemah. Tekanan bicara Ny. BB : 1500 gr. DIAGNOSA KEPERAWATAN No. Nadi : 150 Kali/menit.Tindakan foto terapi. bingung dan gelisah. Jaringan lemak subcutan tipis. lambat dan sering diulang-ulang. DO : Terpasang infuse (obat : natrium bikarbonat). Kulit keriput dan jaringan lemak subkutan tipis.Terdapat lanugo pada telinga dahi dan pelipis.W tampak cemas. TTV : Suhu : 37.Perubahan psikologis (cemas sedang) pada orang tua. dan tangan kanan)Berhubungan dengan Tindakan infansif.05DS : Ibu menayakan apakah yang menyebabkan bayinya berwarna kuning.5ºC RR : 32 kali/menit.Tgl MunculDiagnosa KeperawatanTgl Teratasi01 . Pembuluh darah terlihat samar-samar pada dinding abdoment. Mata dan genetalia ditutup dengan pelindung yang tidak tembus dengan cahaya. BB : 1500 gr. Gerakan dan aktivitas bayi.5ºC RR : 32 kali/menit.Kurang pengetahan tentang proses penyakit dan perawatan yang lama pada bayi.

02 03 04 05 06I II III IV V VI3 Juni 2004 3 Juni 2004 3 Juni 2004 3 Juni 2004 3 Juni 2004 .

. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek hisap yang lemah. Resiko terjadinya hipotermi berhubungan dengan tipisnya jaringan lemak subcutan. Perubahan psikologis (cemas sedang) pada orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan perawatan yang lama pada bayi. Resiko injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan tindakan foto terapi. Kerusakan integritas kulit (punggung tangan kanan) berhubungan dengan tindakan infansif.4 Juni 2004Resiko terjadinya injury pada susun saraf pusat kern ikterus berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin indirek.

Pertahankan bayi tetap hangat dan kering. letergi. Observasi bayi jika tidak mau minum. Terapi sinar merubah bentuk senyawa yang larut dalam air sehingga mudah diekresi. Lemak subcutan cukup tebal.Observasi kemampuan menghisap bayi. Reflek hisap bayi baik. Kulit tidak keriput. Mengetahui kadar billirubin untuk dilakukan tindakan selanjutnya. Orang tua mengerti penyebab dan tanda-tanda adanya gangguan susunan saraf pusat.75 mg/dl Jaundice berkurang atau hilang.Pertahankan pemberian infuse CN 10%. Tangisan bayi keras.25 mg/dl Indirek ≤0. Dengan mengetahui kadar billirubin sebagai dasar untuk melakukan tindakan selanjutnya. 150 cc/24jam. Catat adanya ikterus dan observasi warna kulit dan sclera bayi.023 Juni 2004Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek hisap yang lemah. reflek hisap yang lemah dan tangisan yang lemah. kekakuan otot. Tidak terjadi kejang dan spasme pada otot. Direk ≤ 0. Mucosa mulut dan bibir bayi lembab.Koordinasi reflek menghisap baik dan berat badan meningkat antara 20-30 gr/hari. Mendeteksi secara dini adanya kern ikterus sehingga dapat dilakukan tindakan selanjutnya. Membantu proses konjugasi dan transportasi billirubin dalam darah. Observasi warna feses dan urine. Kolaborasi direncana-kan pelaksanaan fototerapi tanggal 4 juni 2004. Orang tua mampu dan menyebutkan tanda-tanda adanya gangguan susunan saraf pusat. . Gerakan bayi lebih aktif. Stress dingin berpotensi melepaskan asam lemak yang bersaing mengikat albumin. Dengan mengetahui tanda-tanda tersebut maka kern ikterus dapat dilakukan tindakan secepatnya. Kulit dan sclera bayi tidak ikterus. Total bilirubin tidak lebih ≥10 mg/dl.TanggalDiagnosa KeperawatanTujuanKriteria StandartIntervensiRasional013 Juni 2004Resiko terjadinya injury pada susun saraf pusat kern ikterus berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin indirekSetelah tindakan keperawatan serum bilirubinindirek dalam batas normal dalam waktu kurang dari 1 minggu.No.Setelah dilakukan tindakan keperawatan nutrisi bayi dapat terpenuhi. Observasi pemeriksaan bilirubin. Lingkar lengan sesuai dengan badan bayi.

Kestabilan suhu memberi kenyamanan dan mengurangi terjadinya hipotermi. Observasi intake makanan bayi dan minuman bayi. Motifasi ibu untuk meningkatkan intake nutrisi. menurunkan kemampuan menelan bayi. TTV : Suhu : 36-37. lingkar lengan. Indikasi secara klinis pemenuhan nutrisi pada bayi. Observasi intake output. pelindung berguna untuk menyesuaikan suhu tubuh bayi dengan suhu lingkungan.5ºC.033 Juni 2004Resiko terjadinya hipotermi berhubungan dengan tipisnya jaringan lemak subcutanSetelah dilakukan tindakan keperawatan suhu tubuh bayi tetap stabil.Mempertahankan suhu tubuh bayi agar stabil. Beri perlindungan pada bayi. lemak subcutan dan mukusa mulut. Posisi kepala yang lebih rendah dapat menyebabkan aspirasi. RR : 40-90/menit Nadi : 120-180 /menitLetakkan bayi dalam incubator dengan suhu 37. Atur posisi pada waktu makan dengan meninggikan kepala.9ºC. Intake nutrisi yang meningkat dapat meningkatkan pengeluaran ASI. Orang tua mengambil tindakan bila suhu tubuh bayinya menurun.Suhu tubuh bayi stabil (36ºC-37ºC). TTV dapat digunakan sebagai pedoman jika terjadi perubahan atau kelainan.043 Juni 2004Kerusakan integritas kulit (punggung tangan kanan) berhubungan dengan tindakan infansifSetelah dilakukan tindakan . Monitor berat badan. Akral teraba hangat. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam. Anjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan payudara. Perawatan payudara dapat mepercepat proses pengeluaran ASI.5ºC. Warna kulit memerah. Berlebihnya intake dan menurunnya output dan menyebabkan distensi abdoment. Pertahankan suhu aksilar 36-37. Kulit tidak keriput dan jaringan lemak subcutan cukup tebal. Meningkatkan cairan mucus dalam saluran pencernaan. perubahan suhu mempengaruhi keseimbangan cairan.Aktivitas nervus fagus mempengaruhi kemampuan menghisap dan menelan bayi.Bersihkan mulut bayi.

Lakukan perawatan pada punggung tangan kanan (yang terdapat jaringan nekrosis) Berikan lotion pada daerah sekitar jaringan nekrosis. Observasi tingkat kecemasan orang tua.Suhu tubuh bayi stabil (36-37. tidak lagi gelisah dan tidak mengulang pertanyaan yang sama. Ada reflek mata jika pelindung mata dilepas. Kolaborasi pemberian antibiotic.Mencegah perluasan dan mempercepat proses penyembuhan.W tampak tenang.5ºC.5ºC). Menjaga kelembaban kulit.keperawatan tidak terjadi infeksi pada punggung tangan dan jaringan nekrosis tidak meluas. Orang tua dapat menerima bahwa bayinya memerlukan perawatan yang lama. Memberikan rangsangan dan mem.Setelah mendapat penjelasan dari perawat kecemasan orang tua menjadi berkurang (cemas ringan). Tidak terjadi perluasan pada jaringan nekrotik. TTV : Suhu : 36-37. . Mencegah infeksi lebih lanjut. Memberikan alternative pemecahan masalah. Ny. Mengetahui terjadinya kelainan pada luka. Memberikan kesempatan pada orang tua untuk berhubungan dengan bayinya (memberikan sentuhan kasih sayang).Orang tua mengerti dan dapat menjelaskan penyakit yang diderita oleh bayinya. Ada respon dengan sentuhan. Tidak tampak adanya perubahan pada genetalia. Tidak ada kemerahan pada genetalia.064 Juni 2004Resiko injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan tindakan foto terapi.Komunikasi 2 arah dapat memperjelas permasalahan dan mengerti tentang perkembangan keadaan bayinya walaupun perawatannya terpisah. Sklera tidak merah. Anjurkan orang tua untuk mengajak bicara (kontak) dengan bayinya. Libatkan keluarga dalam merawat bayinya. Kulit tidak keriput dan lemak subcutan cukup tebal.053 Juni 2004Perubahan psikologis (cemas sedang) pada orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan perawatan yang lama pada bayi. Molisasi tangan kanan setiap 2 jam sekali dan masase pada daerah sekitar luka. Mencegah penekanan yang lama pada kulit dan memperlancar sirkulasi darah.pererat kasih saying. RR : 40-90/menit Nadi : 120-180 /menit Kelembaban kulit cukup.Diskusikan dengan keluarga tentang penyakit pada bayi Ny. Setelah dilakukan tindakan keperawatan maka dampak fototerapi pada mata dan genital dapat dikurangi. Observasi warna dan keadaan luka.W dan perkembangan secara keperawatan.

Memberikan rangsangan pada bayi sehingga tidak terjadi penurunan persepsi sensori. . Periksa reflek sclera mata apakah bisa terpejam. Berikan rangsangan kata-kata. Adanya kekakuan pada sclera mata merupakan kontra indikasi fisioterapi.Tempatkan bayi pada jarak 45 cm dari sumber cahaya. Tutup mata dan genetalia dengan pelindung yang tidak tembus cahaya. Memberikan respon pada bayi tentang kepekaannya terhadap rangsang. Reflek palpebra sepontan. pada bayi secara halus selama perawatan. Jangan meletakkan pelindung sampai menutupi hidungnya Observasi warna sclera tiap 8 jam sekali Buka penutup mata sewaktu bayi diberi minum atau dikeluarkan dari kotak fototerapi (±setiap dua jam). sentuhan.Eliminasi urine lancar. Menyebabkan banyak kekurangan O2 sehingga menyebabkan terjadinya hipoksia. Jarak yang dapat meberikan keuntungan yang maxsimal. Dapat melindungi mata dan genetalia dari injury. Kemerahan pada mata menunjukan efek negative foto terapi pada mata.

pada bayi secara halus selama perawatan . Memberi tutup mata dan genetalia dengan pelindung yang tidak tembus cahaya. 6 tetes mikro/menit. Mengatur posisi bayi pada waktu makan. Membersihkan mulut bayi dengan cairan NS.064 Juni 2004VIMenempatkan bayi pada jarak 45 cm dari sumber cahaya. Mengobservasi atau mengukur lingkar lengan.CATATAN KEPERAWATAN Nama : Bayi Ny. Mengobservasi warna kulit dan sclera bayi. Menganjurkan pada ibu untuk melakukan perawatan payudara. Berkolaborasi pemberian antibiotic.No DXTindakan KeperawatanTTD014 Juni 2004IMengawasi pemberian infuse CN 10% 150CC.054 Juni 2004VMendiskusikan dengan keluarga tentang penyakit pada bayi Ny.024 Juni 2004IIMengawasi kemampuan bayi dalam menghisap dan menelan. Berkolaborasi dalam fototerapi.Reg : 412060 No. Memobilisasi tangan kanan setiap 2 jam sekali dan masase pada daerah sekitar luka. Melakukan pemeriksaan reflek sclera mata apakah bisa terpejam. Memotifasi ibu untuk meningkatkan intake nutrisi agar ASI cepat keluar. Memberikan perlindungan (selimut) pada bayi. Mengobservasi intake dan output bayi.W Umur : 5 Hari No. Meletakkan pelindung tidak sampai menutupi hidung. Menganjurkan orang tua untuk mengajak bicara (kontak) dengan bayinya. Mengawasi kemampuan bayi dalam menghisap dan menelan. Mengobservasi tingkat kecemasan orang tua. Mengobservasi intake output. Mengobservasi warna dan keadaan luka.044 Juni 2004IVMelakukan perawatan pada punggung tangan kanan (yang terdapat jaringan nekrosis) Memberikan lotion pada daerah sekitar jaringan nekrosis. sentuhan. Mengobservasi warna feses dan urine. Mengobservasi warna sclera tiap 8 jam sekali Membuka penutup mata sewaktu bayi diberi minum atau dikeluarkan dari kotak fototerapi (±setiap dua jam). Melibatkan keluarga dalam merawat bayinya.9ºC. Meletakkan bayi dalam incubator. Mengamati adanya peningkatan ikterus. lemak subcutan atau mukosa mulut. Mengobservasi kekuatan otot dan tangisan bayi. Memberikan rangsangan kata-kata.W dan perkembangan secara keperawatan.Tanggal. Mengobservasi TTV Mempertahankan suhu aksilar.034 Juni 2004IIIMeletakkan bayi pada incubator dengan suhu 37.

Tangisan lemah. Tanggal 4 Juni 2004DX.1 ºC. tetapi muncul masalah baru yaitu resiko terjadinya injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan tindakan foto terapi. TTV : DN : 166 X/menit RR : 30 X/menit Suhu : 37. Tanggal 5Juni 200401S : --O: Keadaan umum bayi tampak lemah. A: Masalah tidak menjadi actual.5 CM Minum susu formula < 3 botol. . Dilakukan fototerapi.S : --O: Keadaan umum bayi tampak lemah. Reflek hisap cukup. P: Lanjutkan intervensi. Ikterus pada kulit bayi berkurang. TTV : DJ : 140 X/menit RR : 40 X/menit Suhu : 37. Ikterus pada kulit bayi berkurang. Lingkar lengan 7. Tangisan cukup.DXDX. Reflek hisap lemah.W Umur : 5 Hari No.EVALUASI Nama : Bayi Ny.5 ºC A: Masalah tidak menjadi actual. Berat badan bayi 1600 kg Bising usus 5X/menit IVFD CN 10% 150CC/24 jam 6 tetes mikro/menit. Sclera ikterus Terpasang infuse. P: Lanjutkan intervensi.Reg : 412060 No.02S : --O: Keadaan umum lemah.

P: Lanjutkan interfensi03S : --O: Bayi terbungkus selimut dan diletakkan diatas inkubator dengan suhu 37. Akral teraba hangat. Bayi tidak menggigil.5 ºC A: Masalah tidak menjadi actual. A: Masalah tidak menjadi actual .Konjungtiva tidak anemis. Akral teraba hangat. lapisan lemak subcutan tipis.9ºC. A: Masalah teratasi sebagian. Berat badan bayi 1600 kg Transfuse plasma 15 cc IVFD CN 10% 150 cc/24 jam 6 tetes mikro/menit Minum susu formula ±3 botol Reflek hisap cukup Dilakukan foto terapi TTV : DJ : 140 X/menit RR : 40 X/menit Suhu : 37. Tekstur kulit keriput. Bibir agak lembab. Turgor kulit baik.S : --O: Bayi dilakukan foto terapi dengan suhu 30 ºC. Kelembaban kulit cukup. TTV : DJ : 166 X/menit RR : 35 X/menit Suhu : 37.S : --O: Keadaan umum cukup. P: Lanjutkan intervensi. TTV : DJ : 140 X/menit RR : 40 X/menit Suhu : 37.1 ºC.5 ºC. A: Masalah tidak menjadi actual. P: Lanjutkan intervensi. Keadaan umum cukup. Umur bayyi 6 hari. Bibir lembab.

Suhu tubuh stabil (37.S : Ibu mengatakan keadaan bayinya lebih baik dari sebelumnya.W tampak tenang.W tidak gelisah lagi dan mengulang-ulang pertanyaan.P: Lanjutkan intervensi04S : --O: Terdapat jaringan nekrosis pada pungung tangan dengan diameter 2 CM.06S : --O : --A : --P : ---S : --O: sclera tidak memerah reflek motorik baik BAB 2 kali BAK sering respon terhadap sentuhan baik .5ºc) Tidak kemerahan didaerah sekitar luka. A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi. Lemak subcutan tipis. A: Masalah teratasi sebagian. P: Lanjutkan intervensi. Terdapat jaringan nekrotik pada punggung tangan dengan diameter 2 cm Jaringan nekrotik tidak meluas. Ny.05S : Orang tua mengatakan mengerti penyakit yang diderita oleh bayinya. Orang tua (ibu) mengatakan tidak khawatir lagi tentang bayinya. O: Ibu selalu menunggui bayinya. Ibu (Ny. O: Ny. A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensiS : --O: Kulit bayi bersih dan kering.W tampak tenang tidak gelisah lagi ) A: Masalah teratasi sebagian.1 ºC) Tidak terjadi perluasan pada jaringan nekrotik. P: Lanjutkan intervensi. Dilakukan injkesi ampicilin dan kalmetason. Suhu tubuh stabil (37. Orang tua mengatakan menerima jika bayinya dilakukan perawatan dalam waktu lama.

ubun tidak cekung. Penulis menemukan beberapa kesenjangan antara tinjauan teori dengan kasus nyata. P : Lanjutkan intervensi BAB IV PEMBAHASAN Setelah melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny. telinga. rambut kemerahan dan penyebaran masih jarang. ubun. Adapun kesenjangan tersebut antara lain: A. Berikut ini diagnosa yang tidak muncul pada tinjauan kasus: Kurang Volume Cairan Tubuh Berhubungan Dengan Tidak Adekuatnya Intake Cairan. konjungtiva tidak anemis. Kehangatan kulit kurang. warna genetalia agak kemerahan. W lahir dengan usia kehamilan 30 minggu dengan berat badan lahir 1700 gram. Pada tinjauan teori terutama pada riwayat natal diketahui hiperbillirubindapat terjadi karena cara pertolongan pertama yang mengalami penyempitan tali pusat dengan penanganan terlambat sehingga darah banyak mengalir ke janin yang mengakibatkan policetemia yang akan meningkatkan produksi billirubin. . dan nadi relatif cepat. A : Masalah tidak menjadi actual.W. Hal ini terjadi kesesuaian dengan tinjauan kasus karena reflek hisap bayi Ny. hal ini dikarenakan diagnosa keperawatan merupakan pernyataan dari respon klien yang ada pada saat pengkajian.dimana hal ini terjadi kesesuaian dengan tinjauan kasus pada bayi Ny.tanda vital yaitu suhu tubuh tak stabil.W disebabkan karena peningkatan kadar billirubin indirek pada gangguan fungsi hati (imaturitas pada bayi prematur) dapat juga karena reflek hisap yang lemah sehingga intake nutrisi menurun. Hal ini terjadi kesesuaian dengan tinjauan kasus yaitu yang terjadi pada bayi Ny.tanda kekurangan volume cairan. jaringan lemak sub-cutan tipis dan keriput serta ditemukan pada pemeriksaan tanda. Fototerapi. W lahir secara spontan baik. ubun. W dengan BBLR dan Hiperbilirubin di ruang 7 Rumah Sakit Dr. Pada tinjauan teori terutama riwayat postnatal diketahui meningkatnya kadar billirubin serum mungkin disebabkan oleh reflek hisap yang menurun. Diagnosa keperawatan ini tidak muncul karena bayi mendapatkan cairan parenteral (infus CN 10% 6 tetes mikro/ menit) dan bayi segera diberikan PASI (sus SGM untuk BBLR) ±40 ml selama 12 jam untuk melatih reflek menghisap pada bayi sehingga tidak ditemukan tanda. Pengkajian Pada tinjauan teori ikterus fisiologis terjadi pada hari ke dua atau hari ketiga yang disertai peningkatan kadar billirubin lebih dari 12. Syaiful Anwar Malang pada tanggal 3-5 Juni 2004.75 mg/dl.5 mg % pada neonatus kurang bulan. mukosa bibir lembab. Diare.ubun tidak merata. Diagnosa Keperawatan Dari beberapa diagnosa yng terdapat pada tinjauan teori tidak semuanya muncul pada bayi Ny. Pada tinjauan teori terutama pada pemeriksaan fisik diketahui keadaan umum bayi tampak kuning. Hal ini terjadi kesesuaian dengan tinjauan kasus dimana bayi Ny.5 ºC. Hal ini terjadi ketidaksesuaian dengan tinjauan kasus karena bayi Ny. W . W juga lemah (menurun). B. pelipis. reflek menghisap lemah. terdapat lanugo pada wajah. mukosa bibir kering. sehingga kemungkinan hiperbillirubin yang terjadi pada bayi Ny.TTV : DJ : 140 X/menit RR : 40 X/menit Suhu : 37. sklera ikterus. bayi lemah. dan menangis kuat (tidak terjadi aspiksia). mata tidak cowong. W yang mengalami ikterus fisiologis mulai hari ke3 setelah kelahiran dengan kadar billirubin indirek yaitu 18. Pada tinjauan teori disebutkan bahwa ikterus fisiologis terjadi pada bayi lahir aterm atau prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu yang sering terjadi hiperbillirubin karena kadar albumin dalam darah yang rendah.

Resiko injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan tindakan fototerapi. Diagnosa ini muncul kemungkinan karena bayi lahir prematur dengan berat badan lahir 1700 gram. lemak sub-cutan tipis sehingga resiko hipotermi sangat tinggi. Diagnosa ini muncul karena adanya kemungkinan akan terjadinya mata dan genetalia jika bayi diletakkan pada jarak < 45cm. mata.9ºC dan pada saat pengkajian tanda. Misalnya tindakan fototerapi hanya dilakukan oleh tim medis karena merupakan tanggung jawab tim medis. reflek hisap yang lemah dan gerakan bayi yang tidak aktif. Dalam pemberian sinar bayi Ny. Diagnosa Yang Muncul Pada Tinjauan Kasus: Resiko terjadinya injury pada sistem saraf pusat(kern ikterus) berhubungan dengan peningkatan kadar billirubin indirek.1ºC (4 Juni 2004) dan 37. . W belum sampai dilakukan tindakan transfusi tukar.tanda vital suhu tubuhnya 37.prinsip untuk mengatasi hiperbillirubin pada bayi sudah sesuai dengan tinjauan yaitu dengan melakukan fototerapi yang bertujuan untuk merubah bentuk senyawa yang larut dalam lemak ke senyawa yang larut dalam air. Resiko terjadinya hipotermi berhubungan dengan tipisnya jaringan lemak sub-cutan. Diagnosa keperawatan ini tidak muncul karena bayi Ny.BAK 10 X/hari. Perubahan psikologis (cemas sedang) pada orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan perawatan yang lama pada bayi. tetapi dilaksanakan oleh perawat dalam ruangan.W). keadaan umum bayi lemah.5ºC (5 Juni 2004) Perubahan Perfusi Jaringan Berhubungan Dengan Hipo Atau Hiperventilasi Selama Transfusi Tukar. Fototerapi. Namun pada beberapa diagnosa ada perubahan dan pengurangan intervensi karena disesuaikan dengan kondisi dan respon yang muncul pada klien (bayi Ny. Sedangkan tindakan lain yang diberikan yaitu pemberian intake cairan peroral dan parenteral secara adekuat. kulit keriput. Implementasi Dalam pelaksanaan pada tinjauan kasus. Observasi tanda. Berikut Diagnosa Tambahan Yang Muncul: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek hisap yang lemah. dan turgor kembali dalam waktu kurang dari 2 detik. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan invasif. prinsip. Diagnosa keperawatan ini tidak muncul karena selama melakukan asuhan keperawatan pada bayi Ny. D. Perubahan Suhu Tubuh Berhubungan Dengan Prematur.tanda injury pada SSP. Diagnosa ini muncul karena reflek hisap bayi menurun diakibatkan oleh bayi lahir prematur pada usia kehamilan 30 minggu sehingga intake nutrisi tidak adekuat yang menyebabkan terjadinya gangguan transportasi billirubin dan terjadilah ikterus. Diagnosa ini muncul karena adanya kemungkinan akan terjadinya injury SSP(kern ikterus) yang dibuktikan dengan peningkatan kadar billirubin indirek (18. Intervansi Keperawatan Perencanaan pada kasus nyata pada dasarnya mengacu pada tinjauan keperawatan. sehingga mudah diekskresi. menjaga personal hiegiene bayi dan mempertahankan kontak ibu dengan bayinya. W suhu tubuhnya stabil dibuktikan dengan bayi diletakkan dalam inkubator dengan suhu 37. Diagnosa ini muncul karena pada hari ke2 kelahiran bayi dilakukan pemasangan infus yang tidak tepat pada punggung telapak tangan yang menyebabkan nekrosis jaringan akibat pemberian Natrium Bicarbonat. genetalia. C.75 mg/dl. kulit bayi ikterus (kremer4). mata dan genetalia tidak ditutupi serta bayi tidak berespon terhadap sentuhan.W dilakukan selama>24 jam. Adanya ekspresi verbal dari orangtua yang menunjukkan kekawatiran tentang kondisi bayinya dan proses perawatan pada bayinya. Diagnosa ini muncul karena orang tua kurang mengetahui tentang perawatan bayi baru lahir dengan berat badan rendah.

Misalnya berkolaborasi dalam tindakan fototerapi. dan masalah teratasi. Tapi pada dasarnya tindakan yang kita lakukan sesuai dengan kriteria standart yang telah ditetapkan. Evaluasi Pada tahap evaluasi dilakukan penilaian keberhasilan asuhan keperawatan yang mengacu pada kriteria standart. masalah teratasi sebagian.Pada pelaksanaan tidak semua tindakan yang telah direncanakan dapat dilakukan oleh perawat. Pada Kasus Kami Masalah Yang Tidak Menjadi Aktual Yaitu: Resiko terjadinya injury pada sistem saraf pusat(kern ikterus) berhubungan dengan peningkatan kadar billirubin indirek. Resiko terjadinya hipotermi berhubungan dengan tipisnya jaringan lemak sub-cutan Resiko injury pada mata dan genetalia berhubungan dengan tindakan fototerapi. berkolaborasi pemeriksaan laboratorium kadar billirubin. Setelah dilakukan tindakan keperawatan kemungkinan yang terjadi pada kasus kami yaitu masalah tidak menjadi aktual. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan invasif . Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan semua tindakan yang telah direncanakan tersebut. E. Diagnosa Keperawatan Yang Teratasi Sebagian Yaitu: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek hisap yang lemah Perubahan psikologis (cemas sedang) pada orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan perawatan yang lama pada bayi.

Ibu secepatnya melaporkan kepada petugas kesehatan bila ada kelainan pada bayi misalnya : warna kuning. B. Resiko injury pada mata dan genetalia b/d tindakan fototerapi. Apabila menemukan kasus bayi hyperbilirubinemia dengan premature maka permasalahan baru yang muncul perlu dipertimbangkan seperti masalah infeksi pada bayi baik potensial maupun aktual. Diagnosa yang muncul pada bayi Ny. terutama data objektif yang kita dapat dengan memperhatikan kelainan-kelainan fisik paad klien.BAB V PENUTUP A. Rencana Asuhan Keperawatan yang diberikan pada bayi Ny. Gangguan integritas kulit (punggung tangan kanan) b/d tindakan invasif. W dengan hyperbilirubinemia yang utama adalah mencegah komplikasi yang mungkin terjadi yang dapat mengancam kehidupan yaitu kernicterus. pemberian cairan lewat pemasangan infus CN 10 % 150 cc 6 tetes mikro/menit. Resiko terjadinya hypotermi b/d tipisnya jaringan lemak subkutan. Dengan melihat berbagai data penulis menyimpulkan bahwa icterus yang timbul pada bayi Ny. . tindakan fototerapi. Kesimpulan Setelah dilakukan studi kasus pada bayi Ny. hyperbilirubin yang terjadi disebabkan karena bayi dilahirkan premature. W meliputi pemberian nutrisi (PASI) pada bayi secara adekuat. maka harus menginformasikan tentang cara perawatan lanjutan selama dirumah pada orang tua bayi. badan panas. W dengan hyperbilirubin di Ruang 7 RSSA Malang. W adalah : Resiko terjadinya injury pada SSp (kernicterus) b/d peningkatan kadar bilirubin indirect. anak tidak mau disusui. Untuk menghindari infeksi nasokomial sebaiknya setiap selesai melakukan tindakan atau sebelum melakukan tindakan haruslah mencuci tangan terlebih dahulu. mulai tanggal 3-5 Juni 2004. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi b/d reflek hisap yang lemah. kita harus cermat dalam pengumpulan data. diare. karena ketidak matangan fungsi organ. W. W adalah icterus fisiologis. dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya : Pada pengkajian klien dengan hyperbilirubin. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran-saran yang penulis dapat sampaikan : Ibu dengan bayi hyperbilirubin harus senantiasa memberikan nutrisi / ASI secara adekuat kepada bayinya. dan refleks hisap yang menurun (lemah). Dimana bayi premature disamping fungsi heparnya belum matang mungkin juga terjadi gangguan fungsi hepar oleh karena hypoksia. Implementasi yang dilakukan pada bayi Ny. Pada bayi Ny. serta yang paling utama adalah pencegahan komplikasi yang mungkin terjadi yang mengancam kesehatan dan kehidupan yaitu terjadinya kernicterus. Untuk melanjutkan perawatan pada bayi yang permasalahannya belum dapat teratasi selama dirawat di RS.

Jakarta : Infomedika. Fanaroff Dan Klaus. Disusun Guna Memenuhi Tugas Dari Mata Ajar Keperawatan Anak I (KJR 212) . Cs. 2001. 2001. 1995. Ilmu Kesehatan Anak III. Wong. Doenges. Whaley 8 Wong’s : Nursing Care Of Infants And Children. Jakarta : Media Aesculapius. 2001. Editor : A. Jakarta : EGC. Samik Wahob. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Asuhan Keperawatan Pada Anak. 1988. Rencana Perawatan Maternal Atau Bayi : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Dokumentasi Perawatan Klien. Cindy Smith. 1994. Sagung Seto. Ilmu Kesehatan Anak I. Williams And Willkins. Louis : Mosby Year Book. 2002. Jakarta : EGC. G. Buku Saku Perawatan Pediatric. Alih Bahasa : Monica Ester. Sowden Dan Betz. 1998. Marilyn E. 2002. Et All. 1990. St. Donna L. Nursing Care Planning Guides For Children California. Alih Bahasa : Achmad Surjono. Arief. Jakarta : EGC Suriadi. Mansjoer. Penatalaksanaan Neonatus Resiko Tinggi. Jakarta : Infomedika. Jakarta : EGC. FKUI. Aliha Bahasa : Jan Tamhoyong. FKUI. Jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Behrman. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Robert M. Jakarta : CV. Pincus. Kapita Selekta Pediatric II.

Oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Ibu Hj. Rekan-Rekan Mahasiswa Dan Seluruh Pihak Yang Telah Membantu Penyusunan Tugas Makalah Ini. M. S. SKM.A ALVINA PUSPITASARI ANANG SATRIANTO CHRISTIN SUSANTI A. Dan makalah ini penyusun persembahkan kepada para pembaca. Selaku Direktur Poltekes Malang Ibu Dra. pengumpulan data hingga pada analisis data. Akhirnya makalah asuhan keperawatan ini dapat diselesaikan dengan baik. DEWI KESWULAN N. Kes selaku dosen pembimbimg klinik dan seminar mata ajaran Keperawatan Anak I (KJR 212). Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Malang. Susilaningsih. DEWI RACHMAWATI (0201100001) (0201100002) (0201100003) (0201100005) (0201100006) DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN MALANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN MALANG 2004 KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas kehendak-Nyalah penyusunan makalah asuhan keperawatan dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny. Setelah melalui beberapa tahapan antara lain penentuan topic dan judul.H. Skp. Selaku Coordinator Sekaligus Dosen Pengajar Mata Kuliah Keperawatan Anak I (KJR 212) Perawat ruang 7 Rumah Sakit Dr. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Isnaeni DTN. Syaiful anwar Malang. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran Keperawatan Anak I (KJR 212) tahun ajaran 2003-2004.S. Kes. Kes Selaku Ketua Program Studi Keperawatan Malang Ibu Ni Luh Putu ES. penyusunan kerangka. Juni 2004 . M.P.W Dengan BBLR + Hyperbiliruminemia” ini dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.Kep. Makalah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik apabila tidak didukung oleh beberapa pihak. oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat penyusun harapkan.Disusun Oleh : Kelompok I. M. Ibu Atty Yudiernawati.

Penyusun DAFTAR ISI 333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 33333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333333 333333333333333333333333333333333333333333333333333 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->