Mengakui Kemanusiaan (Pesan Benediktus XVI

)
Rabu, 27 Februari minggu lalu, Roma mengalami satu peristiwa langka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik seorang paus dengan sadar mengadakan audiensi umum (tatap muka) yang diumumkan sebagai audiensinya yang terakhir. Tentu saja selalu ada audiensi umum terakhir dari setiap paus sejak audiensi umum itu diadakan. Namun, sejak pengunduran diri paus terakhir pada tahun 1414 audiensi terakhir seorang paus hanya dapat dipastikan setelah peristiwa berlangsung, post factum, yakni pada saat paus tersebut tidak bisa lagi mengadakan audiensinya yang berikut. Boleh jadi seorang paus, karena penyakit yang sedang dideritanya, berpikir dalam hati bahwa audiensi ini boleh jadi yang terakhir, namun hal itu tidak pernah diumumkan secara publik. Pengumuman tentang sebuah audiensi terakhir hanya bisa terjadi kalau seorang paus menyampaikan bahwa dia akan meletakkan jabatannya. Namun, ketika Gregor XII mengundurkan diri pada tahun 1414, belum ada kebiasaan membuat audiensi umum. Karena itu, memang benar bahwa audiensi pada hari Rabu, 27 Februari yang lalu ada peristiwa yang baru terjadi pertama kali dalam sejarah kepausan. Karena itu, tidak seperti audiensi pada waktu-waktu sebelumnya, kali ini sekitar 200 ribu orang memadati lapangan Santo Petrus. Kendati audiensi baru dimulai pada jam 10.30, sudah sejak dini hari banyak orang sudah mendatangi tempat itu. Malah ada yang mengaku sudah datang pada malam sebelumnya. Manusia dari berbagai sudut bumi. Macam-macam bendera dan transparan dibawa, dengan tulisan yang umumnya mengungkapkan dukungan terhadap keputusan paus dan terima kasih untuk pelayanannya. Di tengah lautan manusia itu dengan berbagai bendera itu, ada pula bendera Indonesia, merah putih dengan tulisan Indonesia. Dibawa oleh sejumlah peziarah. Banyak kelompok mengisi waktu dengan menyanyi. Kebetulan saya berada dekat sekelompok anak sekolah dari Spanyol. Katanya sejak pukul 7 pagi mereka sudah tiba di sana. Dengan penuh semangat dan hampir tanpa henti mereka bernyanyi. Lagulagu berbahasa Spanyol maupun Italia mereka kumandangkan. Umumnya bernada gembira. Dan, memang begitulah suasana umum pada hari itu. Kegembiraan itu

bertambah ketika sapaan selamat datang disampaikan dalam beberapa bahasa, Italia, Prancis, Inggris, Jerman, Spanyol, Portugis dan Arab. Sorakan dan tepuk tangan menggemuruh ketika Paus mengelilingi lapangan santo Petrus di atas mobil terbukanya. Walaupun kelihatan capai, Benediktus memancarkan kegembiraan yang mendalam. Kegembiraan ini diperdalam dan diberi isi oleh paus sendiri dalam sambutannya yang sangat sederhana dan bermakna. Dia tidak berbicara dalam bahasa teologi yang rumit dengan argumentasi yang memaksa otak. Sebaliknya, dia menggunakan ungkapanungkapan yang mudah dipahami. Paus mengungkapkan kegembiraannya bahwa Gereja hidup dan menjadi tanda hidup dari Tuhan yang berpihak kepada manusia. Kita perlu membuka mata dan menyukuri berbagai pengalaman menggembirakan dalam hidup. Namun, ada banyak pula pengalaman yang menunjukkan bahwa Gereja sedang berada dalam bahaya, bahwa Tuhan tampaknya sedang tidur dalam bahtera Gereja yang tengah menerjang gelombang dahsyat. Dengan ini paus mengingatkan akan berbagai persoalan dan skandal yang terjadi di dalam Gereja. Sebagai persekutuan manusia, Gereja tidak luput dari permasalahan. Hal ini mesti disadari dan diakui dengan jujur. Gereja rapuh, seperti semua yang bersifat manusiawi rapuh adanya. Walau demikian, Gereja pun sadar, mengimani dan karena itu harus mewartakan bahwa Tuhan tetap menyertai dunia dan ziarahnya melewati ziarah. Gereja dan dunia ini milik Tuhan. Yang terutama bukan struktur yang harus dipertahankan, atau nama baik yang harus dijaga dengan segala cara, tetapi bahwa Allah memiliki komitmen terhadap manusia dan dunia yang seperti ini. Keyakinan seperti itulah yang memungkinkan Benediktus bersedia menerima tanggungjawab sebagai paus pada tangggal 19 April 2005. Iman yang sama pulalah yang menjadi dasar baginya untuk meletakkan jabatan. Dengan ini, paus hendak mengatakan, Gereja dan agama saja tidak pertama-tama ditentukan oleh para pemimpinnya. Tanpa mengurangi peran para pemimpin, namun satu agama akan menghadapi persoalan besar kalau yang terjadi di sana adalah konsentrasi pada pemimpin. Jika demikian, orang telah menggantikan Tuhan dengan pemimpin. Maka, di sini kita sedang berhadapan dengan penyembahan berhala, yang mestinya menjadi ancaman serentak musuh dalam agama-agama. Dekonsentrasi ini ditegaskan berulang kali oleh Benediktus ketika dia mengatakan

bahwa seorang paus tidak pernah sendirian. Paus tidak sendirian dalam memimpin Gereja, dan tidak boleh dibiarkan sendirian. Benediktus merangkai pernyataan ini dengan mengungkapkan terima kasihnya kepada semua yang telah membantunya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ungkapan ini pun dapat dibaca sebagai harapan dan dorongan agar orang tidak membiarkan paus mendatang dan setiap pemimpin agama sendirian dalam memikul tanggungjawabnya. Serentak pernyataan ini adalah ajakan agar para pemimpin Gereja dan pejabat agama pada umumnya tidak berperilaku dan bertintak seolah-olah mereka tidak memerlukan siapa-siapa. Setiap pemimpin perlu mendengar dan belajar. Kendati pada akhirnya keputusan mesti diambil dan tidak jarang bertentangan dengan anjuran atau masukan dari sejumlah pihak, tetapi keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan semuanya itu. Jika seorang pemimpin, terlebih pemimpin agama, sungguh-sungguh menerima dan melaksanakan tugasnya dalam keterbukaan kepada banyak orang, maka sebenarnya dia kehilangan privasi. Bukan maksudnya untuk mengatakan bahwa seorang pemimpin agama tidak lagi memiliki kamar pribadi atau waktu untuk dirinya sendiri. Yang dimaksudkan adalah sikap dasar dalam diri. Apapun yang dilakukan dan dikatakannya, selalu demi kepentingan lembaga atau kelompok yang dipimpinnya. Pertimbangan berdasarkan kepentingan pribadi tidak lagi mempunyai tempat. Dia mendefinisikan dirinya menurut apa yang berguna dan dibutuhkan oleh kelompoknya. Yang dilakukannya bukanlah memaksa kelompok agar menyesuaikan diri dengan kepentingannya. Sebaliknya, dia menjadikan kelompok dan kepentingannya penentu apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan, apa dan kapan mesti berbicara dan di mana serta kapan dia perlu diam. Orientasi yang penuh pada kebaikan bersama itulah yang menjadi alasan Benediktus untuk mengundurkan diri. Sejak pertama kali mengumumkan pengunduran dirinya 11 Februari lalu sampai audiensi terakhirnya dia menegaskan hal itu. Langkah ini diambil bukan demi diri sendiri. Seperti dikatakannya, dengan berhenti sebagai paus bukan berarti dia akan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Dia tidak menolak salib atau turun dari salib. Sebaliknya, dengan cara yang lain dia tetap mengikuti Tuhan yang tersalib. Maksudnya jelas, tanggungjawab terhadap Gereja tidak pernah kenal kata pensiun. Tanggungjawab itu melekat pada keanggotaan dalam Gereja. Dia menjadi mantan paus, namun tidak menjadi mantan orang beriman.

Sekali lagi, ini pun merupakan sebuah ajakan bagi para pemimpin. Jika orang sungguh mencintai kelompok yang dipimpinnya, maka status sebagai mantan pemimpin tidak akan menyurutkan komitmennya. Kalau seorang gubernur benar-benar menjadikan provinsinya yang utama, maka baktinya untuk provinsi tidak akan kendor dengan perubahan statusnya menjadi mantan gubernur. Dia akan terus menyumbangkan gagasan untuk kebaikan provinsi, bukan sekadar melampiaskan kekecewaannya kepada pemimpin baru karena dikalahkan dalam pertarungan. Pidato perpisahan Benediktus, penampilannya dan seluruh suasana waktu itu membawa pesan bahwa Gereja semakin berwajah manusiawi. Para pemimpin Gereja pun manusiawi, perlu sadari dan akui dimensi kemanusiaan ini. Tuhan tidak direndahkan kalau para pemimpin Gereja mengakui kemanusiaan ini. Memaksakan diri tampil tanpa cela dalam aura keilahian hanya menjadi sebab dari perilaku tak terpuji: menutupnutupi kesalahan. Mengakui kemanusiaan dengan segala kerapuhannya adalah syarat untuk menjadi saudara bagi manusia dan berjuang demi manusia. Paul Budi Kleden, SVD Victory News, 8 Maret 2013