Buletin 

Pengelolaan Lahan dan Air 
Edisi Juni 2007 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air
Sekretariat Redaksi Jl. Harsono RM No. 3 Gd D Lantai VIII Ragunan—Jakarta Selatan 12550 Telp/Fax (021) 7820026

Buletin

PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR
Tim Redaksi :
Penanggung Jawab : Ir. Hilman Manan, Dipl.HE Pengarah Ketua Anggota : : : Ir. Djodi Tjahjadi K., MM Dr. Ir. Agus Sofyan, MS Ir. Suhartanto, MM Dr. Ir. Sumardjo Gatot Irianto Ir. Ir. Ir. Ir. Amier Hartono, Dipl.HE Muchransyah Achmad, MSi Didie Selamet Riyadi Abdul Madjid

Editor Ketua Anggota

: : :

Editor Pelaksana Ketua Anggota

: : :

Drs. Bambang Agus YP, M.Si Ir. Rina Suprihati, MES Edy Purnawan, SP Masduki, SP.MSi Anis Minarwati, SP Seta Rukmalasari, SP Laili Munawaroh, SP Lolitha Tasik Taparan, S.Si Saat Fauzi

Sekretariat Redaksi:
Sub Bagian Data dan Informasi, Setditjen Pengelolaan Lahan dan Air Jl. Harsono RM 3 Gd. D Lt. 8, Ragunan – Jakarta 12550 Telp/Fax : (021) 7820026 Homepage http ://www.deptan.go.id/pla/index.htm Alamat Email : datinpla@deptan.go.id

Kata Pengantar
Assalammualaikum Wr.Wb, Sidang pembaca yang terhormat, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, sehingga buletin Pengelolaan Lahan dan Air edisi Juni 2007 ini dapat tersusun. Buletin Pengelolaan Lahan dan Air ini menyajikan informasi kegiatan dan kebijakan pembangunan bidang Pengelolaan Lahan dan Air, antara lain: (1). Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Tahun 2007. (2). Pemantauan Kegiatan dan Evaluasi Pengelolaan Air. (3). Rapat Koordinasi Perencanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Tahun 2007 (4). Konferensi Regional Asia ke-4 dan Seminar Internasional “Participatory Irrigation Management”. (5). Kerja sama Indonesia dan Thailand dalam Indonesia-Thailand Joint Agriculture Working Group (JAWG). Dengan segala kerendahan hati, kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang terhormat sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan penerbitan buletin edisi berikutnya. Harapan kami, semoga buletin Pengelolaan Lahan dan Air ini ada manfaatnya bagi para pembaca, para pimpinan terkait dan pelaku agribisnis. Wassalammualaikum Wr.Wb. Jakarta, Juni 2007 Direktur Jenderal,

Ir. Hilman Manan, Dipl.H.E

Daftar Isi
Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air TA.2007 Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan Pengelolaan Air Rapat Koordinasi Perencanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Tahun 2007 Konferensi Regional Asia ke-4 dan Seminar Internasional “Participatory Irrigation Management” Kerja sama Indonesia Dan Thailand dalam Indonesia-Thailand Joint Agriculture Working Group (JAWG). 1 8 19 25 30

Daftar Tabel
Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Alokasi Kegiatan Direktorat Pengelolaan Air di seluruh wilayah Indonesia TA.2006 s.d. 2007 Ketentuan Pokok Kegiatan Pengelolaan Air Kontribusi Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) TA.2006 Terhadap Produksi Padi Nasional 2007 Financial Analysis of Irrigation Improvemnet 10 14 15 16

Daftar Gambar
Gambar 1. Pembukaan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Kegiatan PLA oleh Bapak Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. 1

Delegasi Indonesia sedang mengikuti sidang. Delegasi Indonesia sedang memberikan tanggapan. Gambar 7. Gambar 8. 25 26 29 31 32 . Gambar 5. Gambar 6. 20 Gambar 4. Pembukaan Pertemuan Perencanaan Wilayah Barat oleh Bapak Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Menyanyikan lagu Indonesia Raya pada Acara Pembukaan Pertemuan Perencanaan Wilayah Timur oleh Dirjen Pengelolaan lahan dan Air Delegasi Indonesia berfoto bersama di depan Iran Summit Hall.Daftar Gambar Gambar 2. 19 Gambar 3. Para Delegasi The 2nd Indonesia – Thailand JAWG meeting. Irigasi springkler (sprinkler irrigation) di kota Qazvin.

Perkebunan dan Peternakan Provinsi se Indonesia.RAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI PELAKSANAAN PROGRAM/ KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA 2007 Tanggal 11 . Pembukaan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Kegiatan PLA oleh Bapak Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 2007 yang diselenggarakan dari tanggal 11 s/d 13 Maret 2007 di Bandung. maka dilaksanakan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kegiatan/Program Pengelolaan Lahan dan Air TA. Hortikultura. Direktur lingkup Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air.13 MARET 2007 di BANDUNG Dalam rangka mensosialisasikan pelaksanaan kegiatan pengelolaan lahan dan air pada tahun 2007 serta untuk membangun persamaan persepsi dan komitmen antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan lahan dan air. Untuk membangun persamaan persepsi dan komitmen antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan kegiatan PLA. Pertemuan dihadiri oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Perkebunan dan Buletin PLA Edisi Juni 2007 1 .maka dilaksanakan Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Kegiatan di Bandung Gambar 1. Hortikultura. Jawa Barat. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air.

Dalam rangka peningkatan/tambahan produksi beras sebanyak 2 juta ton pada tahun 2007. Tahun 2007 alokasi anggaran Pengelolaan Lahan dan Air tergabung dalam DIPA Ditjen. Komoditas. Sehingga pelaksanaan kegiatan PLA akan lebih terintegrasi dengan kegiatan peningkatan produksi TP. pembekalan dari Sesditjen Pengelolaan Lahan dan Air. perluasan lahan sawah maupun lahan kering serta pengembangan usaha tani padi sawah metode SRI (System of Rice Intensification). sehingga POK nya akan diterbitkan oleh Ditjen. Inspektorat IV Itjen Deptan. Selanjutnya seluruh Dinas Pertanian Tanaman Pangan.Peternakan Kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Barat dan dibuka secara resmi oleh Gubernur Jawa Barat. rehab JITUT/JIDES.hortikultura. Buletin PLA Edisi Juni 2007 2 . Setelah memperhatikan pengarahan Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Direktur lingkup Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. Perkebunan. Hortikultura. maka dirumuskan pokok-pokok hasil Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi pelaksanaan program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Kabupaten/Kota TA. perkebunan dan peternakan. kegiatan-kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air harus dapat dilaksanakan lebih awal khususnya kegiatan pengembangan TAM. hortikultura. 3. Pedoman Umum dan Pedoman Teknis lingkup Ditjen. embung. dan Peternakan Provinsi agar menindaklanjuti untuk menyusun Petunjuk Pelaksanaan dan Dinas lingkup pertanian Kabupaten/Kota yang menerima dana Tugas Pembantuan dari Ditjen. 2007 sebagai berikut : 1. perkebunan dan peternakan. Kepala Bagian Perencanaan. Pengelolaan Lahan dan Air harus segera menerbitkan Petunjuk Teknis kegiatan 2. Pengelolaan Lahan dan Air sangat penting diketahui dan dipahami dengan benar oleh seluruh staf/petugas Dinas lingkup pertanian yang menangani kegiatan pengelolaan lahan dan air. optimasi lahan dan reklamasi lahan rawa. irigasi permukaan dan air tanah dalam/dangkal. Komoditas. Kepala Bagian Keuangan dan Perlengkapan serta diskusi yang berkembang selama persidangan. Diharapkan pelaksanaan kegiatan pengelolaan lahan dan air akan lebih terintegrasi dengan kegiatan peningkatan produksi tanaman pangan.Komoditas. dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat. dam parit. Pada tahun 2007 alokasi anggaran pengelolaan lahan dan air tergabung dalam DIPA Ditjen. Staf Khusus Menteri Pertanian.

4. guna menghindari dampak negatif dan memberikan pendidikan kepada daerah. Manajemen berbasis “Reward and Punishment” masih perlu dilanjutkan oleh karena itu kewajiban penyusunan dan penyampaian laporan yang tepat waktu. Dalam rangka menerapkan reward dan punishment. perlu dipertimbangkan surat dari Ditjen PLA ke bupati sebagai dasar dilakukannya reward dan punishment. Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pertanian agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan infrastruktur pengelolaan lahan dan air. laporan SIMONEV. oleh karenanya koordinasi dengan instansi terkait baik internal Departemen Pertanian maupun eksternal Departemen Pertanian seperti Dinas Kehutanan. Untuk itu Dinas pelaksana kegiatan pengelolaan lahan dan air di Kabupaten/Kota secepatnya Buletin PLA Edisi Juni 2007 5. 3 . tepat tujuan dan tepat isi (3T) harus diwujudkan sesuai kesepakatan Rapat Evaluasi Pelaksanaan Program/Kegiatan PLA Tahun 2006 di Riau tanggal 13-15 Desember 2006. 6. Guna menghindari dampak negatif dan memberikan pendidikan kepada daerah. maka akan dikenakan ”punishment” antara lain dengan pemotongan anggaran. Laporan dimaksud terdiri dari: laporan SAI. laporan form DA yang dikirimkan ke Setditjen Pengelolaan Lahan dan Air serta laporan teknis dikirimkan ke Direktorat Teknis. Dinas PU Pengairan. Bila dalam waktu 3 bulan berturut-turut tidak melaporkan hasil kegiatan.Pengelolaan Lahan dan Air yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi di masing-masing daerah. dan pedomannya dapat menyusun Pedum yang diterbitkan untuk dana Tugas Pembantuan. perlu dipertimbangkan surat dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air ke Bupati yang bersangkutan sebagai pemberitahuan dasar dlakukannya reward dan punishment. Untuk meningkatkan performance kegiatan pengelolaan lahan dan air khususnya pada aspek manajerial diperlukan upaya peningkatan SDM di bidang Sistem Akuntansi Instansi (SAI) pemerintah dan Sistem Monitoring dan Evaluasi (Simonev) serta form DA dan laporan teknis lainnya. BPN dan instansi lainnya mutlak dilaksanakan guna memperoleh sinergitas dan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan. 8. 7. Koordinasi dengan instansi terkait merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lahan dan air.

diharapkan Dinas lingkup pertanian Kabupaten/Kota telah melaksanakan CPCL. 12. lokasi dan tujuan/sasaran yang ingin dicapai. 10. memadai dan berdasarkan aturan/pedoman yang berlaku. 9. SID dan kegiatan persiapan lainnya. Sebagai kegiatan penunjang dan bukti keseriusan daerah. sebagai bahan perbandingan bagi daerah-daerah yang belum memiliki pengalaman. Hortikultura. 11.perlu melakukan koordinasi dengan dinas terkait agar dapat dilakukan sinkronisasi kegiatan. selanjutnya keseluruhan usulan pembangunan pertanian akan menjadi usulan Gubernur dari Propinsi yang bersangkutan. Dengan demikian hasil LHP tidak langsung diterima begitu saja. satu tahun sebelum pelaksanaan (T-1). Temuan hasil pemeriksaan Inspektorat Jenderal Deptan terhadap pelaksanaan kegiatan PLA di daerah harus dikaji lebih teliti dan mendalam oleh Dinas lingkup pertanian di Propinsi atau Dinas lingkup pertanian Kabupaten/Kota terkait bersama-sama dengan Tim Pemeriksa dan dilihat secara komprehensif sehingga ada kesamaan persepsi dan penilaian. namun sudah melalui proses diskusi dan penyampaian argumentasi yang logis. masing-masing Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Untuk meningkatkan pemahaman petugas terhadap seluruh komponen kegiatan lingkup PLA. Selanjutnya proposalproposal yang telah dilakukan CPCL/desain sederhana satu tahun sebelum pelaksanaan (T-1) akan diprioritaskan untuk di fasilitasi anggarannya melalui dana tugas pembantuan dari Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. Perkebunan dan Peternakan Propinsi akan mengkoordinasikan. wajar. Buletin PLA Edisi Juni 2007 4 . maka perlu ada contohcontoh kegiatan yang sudah berhasil dengan spesifikasi dan standar teknis yang baku. Proposal Kabupaten/Kota untuk tahun 2008 agar segera diajukan dengan memperhatikan fokus/prioritas kegiatan. Untuk menyusun usulan program/kegiatan pengelolaan lahan dan air tahun 2008. melakukan verifikasi dan mengevaluasi penyusunan usulan tahun 2008 dari masingmasing kabupaten/kota di wilayahnya.

kebutuhan prioritas kegiatan dan penentuan tahapan-tahapan/ komponen kegiatan yang akan dilaksanakan serta kegiatankegiatan lain sebagai “sharing” petani. c. pemecahan masalah.Diprioritaskan untuk antisipasi kekeringan/kebanjiran b. Adapun kesepakatan yang terkait dengan teknis pelaksanaan kegiatan pengelolaan lahan dan air dari berbagai aspek adalah sbb: Aspek Pengelolaan Air a.Kesanggupan melaksanakan O2P Aspek Pengelolaan Lahan a. PAT. Untuk mendukung pencapaian produksi 2 juta ton beras.Kelayakan usahatani .Ada manfaat keberlanjutannya . b. Penentuan calon petani dan calon lokasi untuk kegiatan pengembangan pengelolaan air memperhatikan: .Sentra produksi padi khususnya yang menerima bantuan benih dari Ditjen. TAM. Dalam persiapan kegiatan sertifikasi tanah petani.13.Dibutuhkan oleh petani . Petugas yang melaksanakan pekerjaan SID agar ditetapkan melalui SK KPA dan gambar disain sederhana agar dilegalisasi oleh Kepala Dinas Kab/Kota yang bersangkutan. Kepala Dinas lingkup Pertanian Kabupaten/Kota agar berkoordinasi dengan Kepala Kantor Pertanahan Buletin PLA Edisi Juni 2007 5 .Kelayakan lokasi . JIDES. Produksi Tanaman Pangan . produktivitas dan produksi . Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan lahan dan air terutama aspek lahan perlu dikembangkan identifikasi kebutuhan petani secara cepat melalui aplikasi piranti RRA (Rapid Rural Appraisal) baik dalam rangka identifikasi potensi. kegiatan pengelolaan air agar difokuskan pada: . permasalahan. Kegiatan SID yang terdapat pada aspek pengelolaan air (JITUT. Irigasi Air Tanah Dalam. Irigasi Air Permukaan.Mempunyai potensi peningkatan IP. dll) merupakan kegiatan Disain Sederhana dilakukan secara swakelola oleh Dinas pelaksana dengan melibatkan petani.

pengadaan saprodi) tetap dilaksanakan secara kontraktual. Dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Kemitraan Penyelematan Air (GNKPA) pada DAS kritis yang telah dicanangkan oleh Bapak Presiden RI pada tanggal 28 April 2005. khususnya dalam persiapan pembersihan lahan harus dilakukan dengan metode tanpa pembakaran (zero burning). Sulut dan Papua). Banten. d. Metode pelaksanaan kegiatan untuk perluasan areal tanaman pangan (SID. maka lokasi kegiatan pengembangan usahatani konservasi lahan terpadu (PUKLT) diarahkan pada lokasilokasi yang telah disepakati bersama dalam sosialisasi dan koordinasi program GNKPA TA. Jatim. konstruksi. Unit cost untuk kegiatan perluasan areal cetak sawah. Sulsel.003 Ha. sehingga hasil kegiatannya menjadi tidak bergulir atau menjadi milik masyarakat/ kelompok. apabila terjadi kekurangan agar dapat didukung melalui dana APBD atau sumber dana lainnya. b. Hortikultura 4. Jabar. NTT. Rencana perluasan areal TA 2007 untuk Tanaman Pangan sebesar 19. Aspek Perluasan Areal a. NTB. c. hortikultura dan peternakan SID-nya dilaksanakan secara swakelola setelah konsultasi dengan KPPN setempat.870 Ha. Berkenaan dengan itu segera dibuatkan Pedoman Pelaksanaan Bantuan Sosial Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air khususnya untuk kegiatan perluasan areal. Jateng. serta konstruksi dan pengadaan saprodi dilaksanakan melalui mekanisme bantuan sosial. Sifat pelaksanaan kegiatan bantuan sosial dalam kegiatan perluasan areal merupakan kegiatan investasi. Perkebunan 10. Sedangkan apabila Buletin PLA Edisi Juni 2007 6 . 2006 di 13 Propinsi (Sumut. perkebunan. sehingga pelaksanaan sertifikasi tanah petani dapat berjalan dengan lancar. Sultra. Sedangkan untuk perkebunan.196 Ha. Kriteria kegiatan aspek pengelolaan lahan yang bersifat universal. peternakan dan hortikultura sifatnya final. c. Kalbar.613 Ha dan Peternakan 4. Kaltim.setempat.

2007 kegiatan ini dilaksanakan secara kontraktual. Pada TA. Dinas Peternakan atau Dinas yang menangani peternakan perlu memahami dengan baik aspek kegiatan Optimasi. maka perlu diupayakan melalui dana APBD atau sumber dana lainnya. Buletin PLA Edisi Juni 2007 7 . Pembangunan Poskeswan melalui dana dekonsentrasi PLA harus sesuai spesifikasi/desain yang dikeluarkan oleh Ditjen Peternakan. d. Pembuatan jalan kebun pada kegiatan perluasan areal perkebunan merupakan satu paket dalam kegiatan perluasan kawasan perkebunan yang dapat dilakukan dengan pola padat karya. f. e. g. Dalam kegiatan perluasan areal peternakan (padang penggembalaan) disediakan ternak sapi (sebagai stimulan) sebanyak satu ekor umur 2 tahun untuk setiap luasan 2 Ha padang penggembalaan. Kegiatan ini bukan merupakan kegiatan jalan usahatani atau jalan produksi yang pedoman umum teknisnya dikeluarkan oleh Direktorat Pengelolaan Lahan.berlebih dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur lainnya atau meningkatkan volume. namun demikian kedepan dapat dimungkinkan pelaksanaanya dilakukan dengan pola padat karya. h. Oleh karena itu bila unit cost tidak sesuai (tidak mencukupi) bila dibandingkan dengan spesifikasi teknis. Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran peningkatan produksi beras 2 juta ton pada tahun 2007. karena dirasakan pemanfaatan kegiatan tersebut masih kurang diaplikasikan di daerah untuk sektor peternakan. maka dari perluasan sawah tahun 2006 diproyeksikan dapat diusahakan untuk tanaman padi dengan IP 150% dan produktivitas 3 ton/ha. Dalam rangka meningkatkan dukungan pembangunan kawasan peternakan di Kabupaten/kota. Konservasi dan reklamasi lahan. sedangkan dari perluasan sawah tahun 2007 dengan IP 30% dan produktivitas 3 ton/ha.

Ditjen PLA mengemban tugas merumuskan dan melaksanakan kebijaksanaan dan standarisasi teknis di bidang pengelolaan lahan dan pengelolaan air irigasi.243.. ME. Muhammad Samsul Huda. (2) panen air hujan dan aliran permukaan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering.000. Strategi yang akan diimplementasikan didalam pengelolaan air untuk produksi pangan dapat dikelompokkan menjadi empat bagian yaitu (1) optimasi air untuk meningkatkan luas tanam. Kebijakan yang dilakukan dalam pengelolaan air khususnya irigasi antara lain meliputi: • Pemberdayaan irigasi yang telah dikembangkan petani sendiri sebagai irigasi pedesaan dan merupakan kearifan local (indigenous knowledge) yang perlu dipertahankan.89%) dari total anggaran Ditjen PLA sebesar Rp. 1 ) KEGIATAN PENGELOLAAN AIR Sesuai dengan Perpres No.(32.200. Kebijakan ini diarahkan untuk mendukung sub sektor tanaman pangan. Kegiatan pengelolaan air teralokasikan di 33 propinsi dan di 280 kabupaten dengan anggaran sekitar Rp. perkebunan dan peternakan.-. 1) Kepala Seksi Rehabilitasi Jaringan. (3) peningkatan efisiensi penggunaan air sesuai dengan kebutuhan tanaman dan (4) pengembangan sumberdaya manusia dan kelembagaan dalam pengelolaan irigasi. 10 Tahun 2005 tentang Struktur Organisasi Departemen Pertanian.015. 333. • Pengembangan sumber air alternatif & skala kecil secara berkelanjutan dan partisipatif pada kawasan rawan kekeringan. hortikultura. 1. bahwa Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air mengemban tugas merumuskan dan melaksanakan kebijaksanaan dan standarisasi teknis di bidang pengelolaan lahan dan pengelolaan air irigasi. Direktorat Pengelolaan Air Buletin PLA Edisi Juni 2007 8 . 9 dan No.000. produktivitas dan indeks pertanaman lahan irigasi . Direktorat Pengelolaan Air yang merupakan salah satu direktorat di lingkup Ditjen PLA mengemban khusus di bidang pengelolaan air.089.878.PEMANTAUAN & EVALUASI KEGIATAN PENGELOLAAN AIR Oleh: Ir.

irigasi desa (JIDES). sumur resapan. • Peningkatan kualitas koordinasi kelembagaan dalam penanganan masalah air. dengan perincian sebagai berikut: Buletin PLA Edisi Juni 2007 9 . air tanah dalam. peran dan pemberian fasilitas. Pengembangan sarana konservasi air melalui pengembangan embung. pemanenan air hujan. tata air mikro (TAM) di lahan rawa (pasang surut & lebak) Efisiensi pemanfaatan air irigasi melalui penerapan irigasi tetes. Pemberdayaan kelembagaan (P3A & P3AT). dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petugas pembina & petani pemakai air. dsb. • Konservasi air melalui pengembangan prasarana. • Pengaturan secara adil antara hak guna air untuk irigasi yang diberikan untuk pertanian rakyat dan hak guna usaha untuk irigasi yang diberikan untuk keperluan pengusaha di bidang pertanian. Pengembangan sumber air alternatif melalui pengembangan sumur air tanah dangkal. 6. dam parit/ chekdam. gerakan hemat air. Adapun program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya air adalah sebagai berikut: 1. • Pengembangan dan pemberdayaan kelembagaan pengelola air agar menjadi kelembagaan yang mandiri melalui peningkatan fungsi. • Peningkatan kualitas SDM pertanian (petugas dan petani) di bidang pengelolaan air melalui peningkatan kapasitas dan peningkatan efektifitas pembelajaran melalui pendampingan. 3. 2006 dan 2007 kegiatan Direktorat Pengelolaan Air teralokasikan dihampir seluruh wilayah Indonesia. penerapan teknologi hemat air. dsb. dsb Optimalisasi jaringan melalui rehabilitasi /pembangunan jaringan tingkat usaha tani (JITUT). irigasi sprinkler.• Optimasi pemanfaatan air irigasi melalui perbaikan operasi & pemeliharaan dan perbaikan prasarana irigasi. teknologi irigasi tepat guna. pompanisasi. 5. dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Pada TA. 2. 4.

5. sehingga dengan evaluasi ini diharapkan kelemahan. 7.162 unit 103 unit 94 unit 298 unit 478 unit 130 unit Pembuatan Embung 9. 10. TABEL 1. 3. 4.444 Ha 51. 11.d. 8. 6.252 Ha 22. maka kegiatan pemantauan dan evaluasi kinerja menjadi sangat penting. Program/Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tingkat Usaha Tani (JITUT) Rehabilitasi Jaringan Irigasi Desa (JIDES) Pengembangan Mikro (TAM) Sumur Resapan Pembuatan Dam parit Irigasi Tanah Dangkal Irigasi Tanah Dalam Irigasi Tetes Irigasi Sprinkler Air Permukaan Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PIP) Tata Air Tahun 2006 103. 1. kesulitan dan kesalahan yang telah dilakukan dapat diperbaiki atau diperkecil dampaknya untuk masa yang akan datang.455 Ha 100. pembuatan embung.100 unit 77 unit 144 unit 145 unit 73 unit Tahun 2007 87. 12.504 unit 117 unit 2. pembuatan embung dan dam parit dilakukan secara padat karya dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran petani di dalam memelihara & mengoperasionalkan prasarana irigasi. 2. Evaluasi memegang peranan yang cukup penting. hal ini dikarenakan semua kegiatan tentunya mempunyai kelemahan atau kesulitan bahkan kesalahan di dalam pelaksanaannya. Alokasi Kegiatan Direktorat Pengelolaan Air di seluruh wilayah Indonesia TA.643 Ha 364 unit 378 unit 136 unit 1. dam parit tersebut dilakukan secara padat karya dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran petani di dalam memelihara dan mengoperasionalkan prasarana irigasi tersebut.957 Ha 36. PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam rangka untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan sesuai yang diharapkan. 2006 s. Kegiatan monitoring (pemantauan) ini biasanya berdampingan dengan kegiatan evaluasi.No.889 Ha 595 unit 1. Buletin PLA Edisi Juni 2007 10 . Kegiatan rehabilitasi JITUT dan JIDES. 2007 Kegiatan seperti rehabilitasi JITUT dan JIDES.

Dibawah ini. Dengan demikian tujuan dari pemantauan dan evaluasi adalah sebagai: • Alat dalam melaksanakan kegiatan pemantauan baik di tingkat pusat. mengingat dinas terkadang harus menentukan prioritas-prioritas dari beberapa lokasi yang akan dipilih. Tahap Persiapan. Untuk itu peran dinas didalam kegiatan penentuan CPCL (calon petani dan calon lokasi) sangat menentukan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Sering terjadi ketidaktahuan atau kurang memperhatikan kriteria yang harus diperhatikan. Penentuan Calon Lokasi dan Calon Petani (Identification Stage) Kegiatan persiapan ini merupakan tahap yang sangat penting. Setiap kegiatan mempunyai ciri dan peruntukannya. misal kegiatan pengembangan tata air mikro (TAM) khusus diperuntukkan pada tipologi lahan rawa. sehingga CPCL ini harus benar-benar dimengerti dan dikuasai oleh dinas. Buletin PLA Edisi Juni 2007 11 . salah satu kiat dan strategi bagaimana penentuan calon lokasi dan calon petani dapat ditentukan agar lokasi pengembangan pengelolaan air tepat lokasi. Jadi masing-masing kegiatan mempunyai sejarah (history) dan kesesuaian jenis kegiatannya. • Alat dalam melaksanakan evaluasi kinerja sekaligus untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan kegiatannya. dan daerah. baik pasang surut dan lebak. banyak kegiatan yang salah dalam implementasinya. tepat sasaran dan tepat manfaat.Pemantauan dan evaluasi kinerja dapat juga digunakan sebagai bahan untuk mengetahui kemajuan kegiatan baik sebelum dan sesudah sekaligus untuk mengukur keberhasilan program. Pemantauan dan evaluasi kinerja dapat juga digunakan sebagai bahan untuk mengetahui kemajuan kegiatan baik sebelum dan sesudah sekaligus untuk mengukur keberrhasilan program. karena menentukan sekali dalam kriteria sasaran dan tujuan daripada suatu kegiatan. sedangkan kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tingkat usahatani (JITUT) diperuntukkan pada daerah irigasi teknis atau semi teknis pada jaringan irigasi tersier sampai tingkat usaha tani.

• Komponen yang direhab/ diperbaiki. • Berada pada Jaringan Irigasi berskala Kecil yang bikelola oleh Masyarakat Desa. meliputi: .Gambar 2. Rehabilitasi/Perbaikan Jaringan Irigasi Desa (JIDES) Padat Karya dan Bantuan Sosial Buletin PLA Edisi Juni 2007 12 .saluran tersier (ferosement) . dll. meliputi: . didalam Petak Tersier. Kiat dan Strategi Pemantauan Lapangan untuk CPCL Tahap Pelaksanaan/konstruksi (Implementation Stage) Pelaksanaan kegiatan pengelolaan air dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang ada. talang.boks bagi tersier/kuarter . terjunan. Pola pelaksanaan kegiatan ada yang dilakukan melalui padat karya. • Komponen yang direhab atau diperbaiki.Boks bagi 2. Kegiatan Rehabilitasi/Perbaikan Jaringan Irigasi Tingkat Usahatani (JITUT) Ketentuan Pokok • Berada pada Daerah Irigasi Pemerintah. termasuk lining saluran .Saluran.saluran kuarter (ferosement) .Bangunan Pengambilan .bangunan pelengkap: siphon.saluran pembuang . bantuan sosial dan kontraktual. Namun beberapa hal pokok yang perlu diperhatikan mengenai kegiatan-kegiatan pengelolaan air adalah sebagai berikut: Pola Pelaksanaan Padat Karya dan Bantuan Sosial No.Bendung .

Pengembangan Sumur Resapan 7. terjunan. baik Rawa Pasang Surut dan Lebak. pintu dan area penyimpan air (area water retention) Dibangun pada daerah lahan kering/perkebunan/ peternakan Terdapat sumber air yang dapat ditampung berupa air hujan atau limpasan permukaan (run off). Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) • Padat Karya dan Bantuan Sosial • • • 4.Normalisasi. dll.Pembuatan saluran sudetan (drainase) . talang.Bangunan pelengkap siphon. peningkatan dan pembuatan saluran tersier. atau sungai kecil Pola Pelaksanaan 3. sub tersier dan kuarter.Pembuatan tanggul keliling. yang telah dikembangkan Pemerintah maupun Desa Sistem Tata Air Makro (saluran primer dan sekunder) berfungsi dengan baik untuk tipologi Rawa Pasang Surut Sistem Tata Air Makro (saluran primer dan sekunder) tidak harus ada untuk tipologi Rawa Lebak Komponen yang dikembangkan. Kegiatan Ketentuan Pokok .d tinggi) • Dibangun pada daerah pertanian yang mengalami kekurangan air pada musim kemarau • Bertujuan meningkatkan muka air tanah • Mencegah intrusi air laut terutama di daerah pertanian lahan pantai • Dikembangkan pada daerah sentra produksi hortikultura/ perkebunan yang potensial dan berkembang lama Padat Karya dan Bantuan Sosial Padat Karya dan Bantuan Sosial Kontraktual Buletin PLA Edisi Juni 2007 13 . meliputi: .No. Berada pada Daerah Rawa. Pengembangan Dam Parit 6. mata air. bangunan bagi. . Pengembangan Irigasi Bertekanan • Dibangun pada daerah pertanian lahan kering • Terdapat parit-parit alamiah atau sungai-sungai kecil (dengan kemiringan sedang s. Pengembangan Embung • • Padat Karya dan Bantuan Sosial .

sumber air. tidak ada sumber air permukaan • Usahatani yang dikembangkan adalah tanaman bernilai ekonomi tinggi (TBET) • Komponen utama meliputi : sumur. Pengembangan Air Tanah Dangkal Kontraktual 10. pompa sentrifugal atau axia diameter 2 – 4 inc. pompa. • Lokasi mempunyai potensi air tanah dangkal (kuantitas dan kualitas) dan sumber air permukaan terbatas • Komponen utama meliputi: sumur. kapasitas debit > 3 lt/dt • Lokasi mempunyai potensi sumber air tanah dalam lebih dari 60 m. kincir angin. Kegiatan Ketentuan Pokok • Sumber air diutamakan dari sumber air permukaan yang mempunyai beda tinggi (elevasi) yang lebih tinggi dari lokasi pengembangan • Memanfaatkan potensi sumber air permukaan dengan sarana penyediaan air irigasi • Sumber air permukaan berupa air terjunan. jaringan irigasi ait tanah (JIAT). Pengembangan Air Tanah Dalam Kontraktual 11. Pengembangan Irigasi Permukaan Kontraktual 9. bak penampung dan pipa. • Kedalaman sumur > 60 m. pompa dan jaringan distribusi • Kedalaman sumur < 30 m. pompa submersibel atau turbin • Lokasi tidak berada dalam 1 kecamatan dengan kegiatan rehab JITUT/JIDES • Lokasi mempunyai rasa gotong royong atau partisipatif yang tinggi • Komponen kegiatan seperti kegiatan Rehab/Perbaikan JIDES dan JITUT Pola Pelaksanaan 8. Ketentuan Pokok Kegiatan Pengelolaan Air Buletin PLA Edisi Juni 2007 14 . pompa hidram. debit > 10 liter/dt. rumah pompa.No. Pengembangan Irigasi Partisipatif Bantuan Sosial TABEL 2. air sungai dan air bekas galian/tambang/air kolong • Fasilitas penyediaan air irigasi ini dapat memanfatkan alat berupa : kincir air.

dapat menggunakan analisa perhitungan sederhana. Disamping itu untuk melihat hanya sekedar perbandingan pengaruh kegiatan pengelolaan air sebelum pelaksanaan kegiatan dan setelah pelaksanaan kegiatan. Tahap Manfaat Untuk mengetahui manfaat yang akan didapat dari kegiatan pengelolaan air.Ketentuan pokok diatas adalah hal-hal yang utama yang mesti diperhatikan dalam pelaksanaannya untuk masing-masing kegiatan. seperti contoh dibawah ini kontribusi pengembangan tata ar mikro (TAM) terhadap produksi padi nasional. Kontribusi Pengembangan Tata Air Mikro (TAM) TA. Analisa finansial dapat dihitung menggunakan beberapa rumus yang tersedia. (contoh terlampir). Perhitungan ini biasanya menggunakan analisa B/C dan IRR. TABEL 3. diperlukan analisa perhitungan baik analisa finansial maupun analisa kontribusi produksi yang dihasilkan. sehingga benar-benar sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.2006 Terhadap Produksi Padi Nasional 2007 Buletin PLA Edisi Juni 2007 15 . yaitu dengan memperhitungkan biaya (cost) dan keuntungan (benefit) yang akan didapat serta memperhatikan bunga bank.

Untuk mengatasi hal semacam itu. operasi. seperti kesalahan design. ada beberapa hal yang dapat dilakukan langkah-langkah operasional untuk menangani Buletin PLA Edisi Juni 2007 16 . Oleh karena itu ke depan seharusnya juga perlu dilakukan evaluasi teknis agar manfaat yang didapat lebih optimal lagi. memang sangat kondisional dan untuk masing-masing kegiatan bisa penanganannya tidak sama.TABEL 4. tetapi apabila dievaluasi secara teknis tidak optimal dan kalau ini terus-menerus dibiarkan maka system ini akan tidak reasonable. dan lain-lain atau juga oleh karena faktor alam seperti terjadi kekeringan dan kebanjiran. Operasionalisasi untuk mengatasi ini harus dicermati dan sering pelaksanaan kegiatan pengelolaan air secara fisik dapat dilaksanakan atau direalisasikan secara 100%. Berdasarkan teladan diatas. Financial Analysis of Irrigation Improvemnet Tahap Operasionalisasi Setelah pelaksanaan kegiatan pengelolaan air dilakukan sering dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama terjadi operasi atau pengelolaannya terganggu oleh berbagai sebab baik dikarenakan faktor manusia.

sehingga menurut PP 20 tahun 2006. Selain itu juga penerapan teknologi hemat air dalam usahatani juga perlu menjadi perhatian. dimana didalam SK tersebut diatur pola tanam. Kelemahan yang sering terjadi adalah petani belum mematuhi penetapan pola dan jadwal tanam yang telah disepakati.pengelolaan air khususnya di daerah irigasi. sehingga dimungkinkan debit yang diprediksi ternyata lebih rendah dari yang dibutuhkan. seperti pola SRI (Sytem of Rice Intenfication) dan Good Agriculture Practices (GAP). maka diperlukan skenario-skenario pengaturan pemberian air secara bergilir (gilir giring) yang adil dan merata. rencana pengeringan jaringan irigasi. sehingga dimungkinkan debit yang diprediksi ternyata lebih rendah dari yang dibutuhkan. maka apabila jaringan irigasi lintas kabupaten menjadi hak tanggung jawab propinsi untuk menanganinya. biasanya penyediaan air berdasarkan perkiraaan data debit bulanan andalan (dependable flow) tahun sebelumnya. Untuk itu walaupun pengaturan dan jadwal pengambilan air telah ditetapkan oleh rapat komisi irigasi. tetapi juga diperuntukan untuk industri. serta tugas dinas terkait dengan pengelolaan jaringan irigasi. 17 . Hal Buletin PLA Edisi Juni 2007 Penyediaan air berdasarkan perkiraaan data debit bulanan andalan (dependable flow) tahun sebelumnya. tetapi sering berada di luar administrasi kabupaten/kota. pengumuman kepada petani untuk mematuhi penetapan pola dan jadwal tanam. koordinator PPL dan KCD untuk memberikan penyuluhan lebih ditingkatkan dengan memperhatikan penyusunan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dan Rencana Tata Tanam Detil (RTTD) dengan melibatkan petani/P3A lebih aktif. maka diperlukan skenarioskenario pengaturan pemberian air secara bergilir (gilir Disamping itu penyediaan air dalam suatu jaringan irigasi tentunya tidak hanya diperuntukan untuk irigasi/pertanian saja. jadwal tanam. • Sering permasalahan jaringan irigasi ini inti persoalannya tidak berada pada lokasi dimana terjadi masalah. • Dalam rencana pola tanam dan tata tanam yang diterbitkan setiap tahun. setidaknya disebutkan sebagai berikut: • Bupati setiap tahun menerbitkan surat keputusan tentang pengaturan pola tanam dan tata tanam penyediaan air dan pengeringan daerah irigasi. jangan sampai terjadi over pumping yang dapat merugikan petani. maka akan lebih baik jika sewaktu-waktu dilakukan cheking secara mendadak berapa air yang telah diambil. Untuk itu peranan petugas penyuluh pertanian.

juga pengambilan air tanah sesuai dengan potensi dan ketersediaannya. • Dalam rangka untuk meningkatkan pengelolaan jaringan irigasi yang lebih baik. seperti pompa yang berada di dinas terkait atau pompa yang dikelola dalam UPJA (unit pengelolaan jasa alsin) yang seyogyanya dapat dipinjamkan pada daerah diluar UPJA itu berada yang mengalami kekurangan/kekeringan air.semacam ini diperlukan koordinasi yang baik dan terus menerus antara instansi terkait mengingat jaringan irigasi ini merupakan suatu sistem yang terkait. Disamping itu sering terjadi pencurian air oleh bagian hulu (upstream) yang seharusnya menurut jadwal air untuk bagian hilir (downstream). Penelusuran jaringan irigasi (walk trough) yang dilakukan secara terpadu/terkait antar stakehoder. Pada kegiatan ini dapat dilakukan diagnostic analysis yang menyangkut permasalahan atau kondisi baik dari segi teknis irigasi. Praktek ini telah dilakukan oleh para premanisme yaitu dengan membelokkannya. • Dalam hal jumlah air di jaringan irigasi telah berkurang atau tidak dapat memenuhi permintaan/kebutuhan. maka evaluasi jaringan irigasi. maka upaya-upaya sangat diperlukan dalam rangka menyelamatkan pertanaman padi baik dengan memanfaatkan sisa air yang ada disaluran dengan menggunakan pompa (disebabkan air di saluran tidak bisa dialirkan secara grafitasi). seyogyanya sering dilakukan untuk melihat sejauhmana performanya. Upaya-upaya sangat diperlukan dalam rangka menyelamatkan pertanaman padi baik dengan memanfaatkan sisa air yang ada disaluran dengan menggunakan pompa (disebabkan air di saluran tidak bisa dialirkan secara grafitasi). khususnya pada lokasi ujung daerah irigasi (tail end). pertanian maupun sosial ekonomi dapat dievaluasi. Buletin PLA Edisi Juni 2007 18 . Pompa-pompa dapat digunakan. juga pengambilan air tanah sesuai dengan potensi dan ketersediaannya. terjadwal dan terus menerus merupakan kunci pengelolaan air irigasi yang lebih baik (good of irrigation water management). walaupun telah dilakukan gilir giring.

NTB. NTB. Maluku Utara. 2007 Rapat koordinasi perencanaan program/kegiatan pengelolaan lahan dan air tahun 2007 dilaksanakan sebanyak dua kali. NTT. Peserta pertemuan Koordinasi Perencanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Wilayah Barat Tahun 2007 adalah Kepala Dinas (atau yang mewakili) lingkup Pertanian Propinsi Sumatera Selatan dan Kasubbdin yang menangani kegiatan PLA dari Dinas Lingkup Pertanian Propinsi wilayah Indonesia Barat (Jawa dan Sumatera) dan Wilayah Timur adalah Kepala Dinas (atau yang mewakili) lingkup Pertanian Sulawesi Selatan. Sulawesi. Sulawesi. yaitu di Palembang pada tanggal 28 . Papua Barat dan Papua).30 Mei 2007 untuk wilayah Indonesia Barat (Jawa dan Sumatera) dan di Makasar pada tanggal 4 – 6 Juni 2007 untuk wilayah Indonesia Timur (Kalimantan.RAPAT KOORDINASI PERENCANAAN ROGRAM/KEGIATAN PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR TA. Maluku Utara. Maluku. Buletin PLA Edisi Juni 2007 19 . NTT. Bali. Kasubbdin yang menangani kegiatan PLA dari Dinas Lingkup Pertanian di 17 Propinsi Wilayah Timur (Kalimantan. Maluku. Papua Barat dan Papua). Bali.

Inspektur II Itjen. Dalam pertemuan koordinasi perencanaan program/kegiatan pengelolaan lahan dan air para peserta memperoleh pembekalan dan arahan kebijakan dari Direktur lingkup Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Deptan. Pembukaan Pertemuan Perencanaan Wilayah Barat oleh Bapak Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Pertemuan Koordinasi Perencanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Wilayah Barat dan Wilayah Timur Tahun 2007 dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Buletin PLA Edisi Juni 2007 20 .Gambar 2. Kepala Biro Perencanaan Deptan yang diwakili Kepala Bagian Perencanaan Program dan untuk Wilayah Timur ditambah pembekalan dari Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Efisiensi.

Pengembangan Agribisnis dan Peningkatan Kesejahteraan Petani. Rencana Kerja Pembangunan Pertanian TA 2008 mengacu kepada kebijakan Nasional prioritas serta kebijakan Departemen Pertanian. Pada penyusunan RKAKL TA 2008. Pada tahun 2008 kegiatan pengelolaan lahan dan air tertuang dalam program-program Peningkatan Ketahanan Pangan. serta mengacu pada kebijakan Pengelolaan Lahan dan Air tahun 2008. Menyanyikan lagu Indonesia Raya pada Acara Pembukaan Pertemuan Perencanaan Wilayah Timur oleh Dirjen Pengelolaan lahan dan Air Hasil Pertemuan Koordinasi Perencanaan Program/ Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Wilayah Barat dan Wilayah Timur Tahun 2007 dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. setiap daerah agar memilih menu kegiatan pengelolaan lahan dan air yang benarbenar dibutuhkan oleh masing-masing kabupaten/kota di propinsinya dalam mendukung Program Pengembangan Buletin PLA Edisi Juni 2007 2. 3. Kegiatan PLA pada tahun 2008 diarahkan untuk mengikuti kebijakan Pembangunan Pertanian tahun 2008 yang telah ditetapkan oleh Departemen Pertanian. dengan mengakomodasikan usulan prioritas kabupaten/kota yang diusulkan Gubernur dalam Musrenbangtan. 21 .Gambar 3.

4. antara lain yaitu: • usulan kegiatan harus sesuai dengan tupoksi Ditjen PLA • mengakomodir pertemuan lingkup Ditjen PLA TA. Penentuan skala prioritas. • mengacu kepada pagu sementara 5. PLA.Agribisnis. diyakini akan mampu dilaksanakan dengan baik. Ditjen PLA akan mengusulkan kepada BPN agar kegiatan sertifikasi lahan pertanian tahun 2008 dapat ditangani oleh BPN. perkebunan dan peternakan. PLA agar mengalokasikan dana pendukung dari APBD Propinsi dan atau Kabupaten/Kota untuk melaksanakan kegiatan SID (Survey. Investegasi dan Desain) dan setiap usulan kegiatan sudah ditetapkan berdasarkan hasil CPCL. Buletin PLA Edisi Juni 2007 22 . Beberapa kebijakan baru yang diterapkan pada penyusunan kegiatan pengelolaan lahan dan air Tahun 2008 antara lain sbb: a. c. agar mematuhi koridor-koridor yang telah ditentukan. hortikultura. sehingga setiap usulan kegiatan yang dipilih. 2008 • mengacu pada Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK)/ Unit cost lingkup Ditjen. dan mampu berdampak nyata dalam peningkatan produksi pertanian. b. kesiapan SDM petugas dan petani serta ketersediaan SID dan CPCL. harus didasarkan pada potensi dan kebutuhan daerah. PLA. Kabupaten/Kota yang baru mengalami pemekaran dengan SDM (Petugas dan Petani) yang terbatas dan dipandang belum siap melaksanakan kegiatan pengelolaan lahan dan air untuk sementara agar tidak diusulkan oleh propinsi. • penempatan Mata Anggaran Keluaran (MAK) sesuai Pedum Perencanaan Program/Kegiatan Pengelolaan Lahan dan Air Tahun 2008. Program Ketahanan Pangan dan Program Peningkatan Kesejahteraan Petani pada sub sektor tanaman pangan. Dalam menyusun RKAKL-DIPA Ditjen PLA Tahun 2008. Kabupaten/Kota yang menerima anggaran Tugas Pembantuan dari Ditjen. Kegiatan sertifikasi lahan mulai tahun 2008 tidak dilaksanakan oleh Ditjen.

hortikultura dan perkebunan serta Propinsi Kalimantan Timur. terutama untuk sub sektor tanaman pangan. optimasi lahan terlantar dan reklamasi lahan rawa. dengan tetap memberikan dukungan yang proporsional untuk sub sektor hortikultura. namun tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan komoditas lain dengan persyaratan khusus. lahan sawah maupun lahan kering serta pengembangan usaha tani padi sawah metode SRI (System of Rice Intensification). Perlu disusun oleh daerah komponen kegiatan pengendalian kebakaran lahan di Propinsi Jambi. 9. Sumsel dan Riau. perkebunan. 12. Untuk mendukung Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Untuk Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Selatan dalam rangka perluasan areal perkebunan PLA hanya menyediakan dana untuk Land Clearing (LC) dan atau Land Levelling sedangkan pengadaan Saprodi menjadi kewajiban dan tanggungjawab Kab/Kota. Pengadaan sarana produksi untuk perluasan areal tanaman pangan pada tahun 2008 hanya dialokasikan untuk satu musim tanam (MT I). 6. 11. 10. karet. Buletin PLA Edisi Juni 2007 23 . Kegiatan pembinaan P3A/Kelompok tani difokuskan pada propinsi diluar yang memperoleh dana melalui pinjaman/hibah luar negeri.d. 7. Pada tahun 2008 kegiatan pengelolaan lahan dan air untuk mendukung sub sektor perkebunan difokuskan pada pengembangan komoditas tebu. rehab JITUT/JIDES. 8. pengembangan TAM. Bagi Kabupaten/Kota yang mempunyai realisasi kegiatan PLA dibawah 50 % sesuai dengan laporan SAI agar tidak diusulkan kegiatan fisik konstruksi Tahun 2008. Kegiatan padang penggembalaan mulai tahun 2008 digabungkan dalam kegiatan pengembangan lahan HMT. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah untuk sub sektor perkebunan. dan peternakan. kegiatan PLA pada tahun 2007 dan tahun 2008 agar lebih ditingkatkan porsi kegiatan-kegiatan yang secara nyata mampu meningkatkan produksi beras antara lain: perluasan sawah. Kalimantan Barat. dan kakao.

Adapun lokasi kegiatan tersebut sebaiknya ditempatkan di lahan yang asetnya milik pusat. Dalam penetapan persyaratan lokasi dan sasaran pengembangan SRI supaya dicermati dengan sungguhsungguh yaitu. Selain itu diharapkan di propinsi juga dialokasikan kegiatan-kegiatan pelatihan untuk petugas propinsi dan kabupaten. irigasi air tanah dangkal. 16. Perluasan areal tanaman hijauan makanan ternak (HMT) di Jawa dapat dilakukan di kawasan hutan masyarakat dan hutan milik Perum Perhutani. 19. 14. Kegiatan pelatihan dan pendampingan pengembangan pupuk organik dialokasikan ditingkat propinsi. diharapkan tetap pada kegiatan-kegiatan non fisik berupa koordinasi. 15. monitoring dan evaluasi terhadap kegiatankegiatan tugas pembantuan di Kabupaten/Kota di wilayahnya. petani yang telah maju. mempunyai visi kearah pertanian organik. Dalam rangka kegiatan pengendalian lahan terutama di lahan sawah. Jateng dan Jatim dapat diusulkan kegiatan model ”konsolidasi usahatani”. Pemanfaatan dana dekonsentrasi pada tahun 2008. Agar kegiatan-kegiatan pengelolaan lahan dan air yang telah dibangun seperti: tata air mikro. setelah terdapat suatu kesepakatan bersama antara pemerintah desa/ kecamatan dengan Perum Perhutani. 18. 20. pembinaan. Akan difasilitasi pertemuan finalisasi RKAKL memantapkan dan menyempurnakan draft RKAKL. Spesifikasi teknis kegiatan pembangunan poskeswan yang dikeluarkan oleh Ditjen Peternakan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. irigasi tanah dalam. propinsi atau Kab/Kota serta diupayakan berada di lokasi BPP supaya memudahkan pelayanan dalam satu lokasi.13. di Propinsi Jabar. irigasi air permukaan dan jalan produksi dapat berfungsi secara berkelanjutan dan berdayaguna perlu diperhatikan kesediaan petani penerima manfaat serta dukungan APBD Kabupaten/Kota dalam membiayai operasional dan pemeliharaan infrastruktur pertanian tersebut. Buletin PLA Edisi Juni 2007 untuk 24 . yang akan dialokasikan ke propinsi melalui dana tugas pembantuan Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air tahun 2008. 17.

23. pengadaan APPO (Alat Pengolahan Pupuk Organik) menjadi salah satu komponen dalam pengadaan sarana produksi dengan satuan sekitar 1 unit/25 Ha yang akan dikelola oleh kelompok tani. Dalam rangka perbaikan kesuburan lahan sawah terdegradasi di daerah irigasi. Untuk satker Dinas Pertanian TPH Propinsi NTB. perluasan areal tanam dan produksi pertanian.21. NTT. 24. dan Sulawesi Barat yang mendapat alokasi dana SID pompa hidram pada tahun 2007 agar segera melakukan koordinasi dengan kabupaten/ kota untuk mempercepat pelaksanaannya. Lahan tidur tidak diperuntukkan untuk perluasan areal pertanian tetapi digunakan dalam rangka optimasi lahan untuk meningkatkan produktivitas. Buletin PLA Edisi Juni 2007 25 . Kegiatan model konsolidasi usaha tani tanaman pangan difokuskan pada daerah irigasi dengan luas pemilikan lahan sempit akibat fragmentasi lahan akan dilaksanakan di beberapa Kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Kalimantan Selatan. 22.

Lebih dari 900 ahli. 2) Kepala Bagian Perencanaan. pembuat kebijakan. regional dan nasional dari 40 negara ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara ini. Bertindak sebagai tuan rumah dan panitia adalah Iranian National Committee on Irrigation and Drainage (IRNCID). dan wakil dari organisasi internasional. peneliti. Dalam Konferensi Regional Asia ke-4 ini juga diadakan International History Seminar on Irrigation and Drainage dengan judul seminar: Lessons to Learn from the Historical Development and Management of Water in Arid and Semiarid Regions. 0leh: Ir. perencana. HE 2 ) The International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) bekerjasama dengan the International Network on Participatory Irrigation Management (INPIM) menyelenggarakan konferensi regional dan seminar internasional yaitu Konferensi Regional Asia ke-4 (The 4th Asian Regional Conference) dan Seminar Internasional mengenai Pengelolaan Irigasi Partisipatif ke-10 (the 10th International Seminar on Participatory Irrigation Management (PIM)). manajer. Amier Hartono. Dipl.KONFERENSI REGIONAL ASIA Ke-4 DAN SEMINAR INTERNASIONAL “PARTICIPATORY IRRIGATION MANAGEMENT” di TEHRAN. professional. IRAN. donor. Delegasi Indonesia berfoto bersama di depan Iran Summit Hall. Gambar 4. Ditjen PLA Buletin PLA Edisi Juni 2007 26 .

teknis dan sukarela yang berdiri pada 24 Juni 1950 dan bermarkas besar di New Delhi. wakil dari perguruan tinggi serta organisasi INACID Indonesia. Untuk mencapai misinya. India. drainase dan banjir. Departemen Pertanian. Departemen Pekerjaan Umum. Delegasi Indonesia berjumlah 13 orang berasal dari berbagai instansi terkait seperti Ditjen Sumber Daya Air dan Litbang. lingkungan dan teknik aplikasi pengelolaan irigasi. Komisi ini mempunyai tugas untuk meningkatkan suplai makanan dunia bagi seluruh umat manusia melalui perbaikan pengelolaan lahan dan air dan peningkatan produktivitas lahan beririgasi melalui pengelolaan air. ICID mensponsori berbagai konferensi regional dan internasional. The 4th Asian Regional Conference kali ini yang bertema “Participatory Irrigation Management (PIM)” merupakan lanjutan dari beberapa konferensi serupa yang rutin dilaksanakan. Gambar 5. Delegasi Indonesia sedang memberikan tanggapan. Buletin PLA Edisi Juni 2007 27 . Sedangkan INPIM merupakan jaringan global untuk memasyarakatkan pengelolaan irigasi partisipatif.ICID merupakan organisasi non-pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bersifat ilmiah. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air.

Berikut adalah beberapa hasil deklarasi dari the 4th Asian Regional Conference: 1. 3. Dalam forum kali ini menampilkan lebih dari 110 makalah yang membahas berbagai aspek PIP. Iran ini merupakan konferensi Regional Asia yang ke-4 dengan tema Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PIP) atau Participatory Irrigation Management. Mengajak seluruh pemerintah pusat baik lokal maupun regional serta para donor internasional dan bank-bank pembangunan untuk memfasilitasi reformasi PIP. Event internasional ini merupakan forum penting bagi seluruh stakeholder untuk mendiskusikan berbagai isu yang berkaitan dengan pengelolaan air bagi pertanian yang secara spesifik berfokus pada pendekatan partisipatif bagi pengelolaan irigasi. PIP) & International History Seminar on Irrigation & Drainage Seminar Internasional ke-10 di Tehran. Iran. The 4th Asian Regional Conference Konferensi Regional Asia yang diadakan di Tehran. Terdapat konsensus umum akan kebutuhan untuk memasyarakatkan. The 10th International Seminar on Participatory Irrigation Management (Pengelolaan Irigasi Partisipatif. Menyadari bahwa ada tantangan yang dihadapi sektor irigasi (dari mulai tingkat sungai sampai ke tingkat lahan/sawah). pembentukan agen irigasi masyarakat adalah sangat penting seperti pembentukan P3A. 5. mengangkat tema mengenai Pengelolaan Irigasi Partisipatif (PIP). Konferensi dilaksanakan di Iran Summit Hall (ISH). 4. Menekankan kembali pentingnya irigasi untuk meningkatkan 2. pendapatan pertanian dan ketahanan pangan. Dari tema yang ada terbagi dalam tiga sub-tema yaitu: Buletin PLA Edisi Juni 2007 28 . ketenagakerjaan.A. Untuk mensukseskan reformasi PIP. B. produktivitas. memperkuat serta memperluas reformasi PIP sektor irigasi di seluruh negara.

Qazvin adalah kota bersejarah karena merupakan kota propinsi terletak 1250 di atas permukaan laut. India. Kunjungan lapang sehari (one day technical tour) dilaksanakan untuk melihat lebih dekat pengelolaan irigasi partisipatif (PIP) dan jaringan irigasi pada daerah irigasi Qazvin Irrigation System serta sejarah penyimpanan air di kota Qazvin. kerangka dan norma.3 centigrade. lingkungan dan isu-isu sosial. Sistem pendukung untuk PIP berkelanjutan yang mendiskusikan kebijakan dan strategi yang diperlukan. International History Seminar on Irrigation and Drainage Dalam kesempatan the 4th Asian Regional Conference kali ini IRNCID juga menyelenggarakan seminar mengenai irigasi dan drainase dengan judul seminar: “Lessons Learned from the Historical Development and Management of Water in Arid and SemiArid Regions” termasuk dari segi teknik.000 Ha. Oman dan Srilanka. Turki. C. sociokultur dan latar belakang politis. Fokusnya adalah penerapan kerangka dan model PIP. dengan suhu sekitar 14. Fasilitas yang dibutuhkan bagi PIP untuk mendiskusikan mengenai reformasi organisasi. Qazvin telah dikembangkan pada tahun 241 sebelum masehi.1. institusi. Pada tahun 1962 proyek pengembangan irigasi Qazvin dilaksanakan oleh pemerintah Iran dengan melakukan perbaikan dan pembangunan beberapa bendungan. bangunan pengambilan dan saluran pembawa maupun drainase. bendung. Jepang Belanda. dengan pengelolaan irigasi dan pertanian oleh seorang raja dan setelah adanya undang-undang pengalihan tanah pada tahun 1963 pemilikan lahan pertanian ini menjadi milik petani. Buletin PLA Edisi Juni 2007 29 . Ada sekitar 27 judul makalah yang dipresentasikan oleh sekitar 7 negara seperti Iran. monitor dan kerangka evaluasi serta kebutuhan peningkatan kapasitas (capacity building) dan pelatihan. 2. 3. Tinjauan mengenai pengukuran partisipatif dalam irigasi. Qazvin Irrigation System (QIS) terletak 150 km dari kota Tehran dengan luas daerah irigasi 80.

Umumnya tanaman yang ditanam adalah gandum. Gambar 6.QIS ini saat ini dikelola oleh Qazvin Agricultural Organization of Jihad (QAOJ). basin. Irigasi springkler (sprinkler irrigation) di kota Qazvin. Selain pemanfaatan sumber air permukaan. Setelah terjadi revolusi. Namun ternyata dewan ini yang beranggotakan petani diharapkan dapat mendistribusikan air. jagung dan beberapa tanaman hortikultura. border strip dan sekitar 5% berupa irigasi bertekanan yang meliputi irigasi curah (sprinkler irrigation) dan irigasi tetes (drip irrigation). pada daerah irigasi ini juga terdapat 1220 sumur dalam serta sistem resapan buatan (artificial recharge) seluas 425 Ha. sekaligus penyerahan dan distribusinya untuk para petani. khususnya di Qazvin Irrigation Project telah diinisiasi oleh pemerintah yaitu dengan membangun berbagai fasilitas. Dewan Pertanian yang didirikan oleh Kementrian Pertanian membuat kontrak dengan perusahaan QISOC (Qazvin Irrigation System Operation Company) untuk menyediakan air di tingkat tersier. beet. memelihara saluran kuarter kemudian menyerahkan ke Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk dikelola secara partisipatif namun tidak dapat berjalan. alfalfa. barley. Sejarah pengelolaan irigasi partisipatif di Iran. Metode pemberian irigasi yang digunakan antara lain adalah furrow. Buletin PLA Edisi Juni 2007 30 .

IUC dan P3A bertanggung jawab memasok. Mekanisme ini telah berjalan dan diharapkan dapat diaplikasikan di bagian lain wilayah Iran. Dari GP3A ini membentuk semacam Induk GP3A yang dinamakan IUC (Irrigation Union Centre). Buletin PLA Edisi Juni 2007 31 .Pada tahun 2002 s/d 2005 sebanyak 158 P3A terbentuk di daerah irigasi Qazvin dan terdapat 8 Gabungan P3A. mendistribusikan sekaligus melakukan pemeliharaan sistem.

Gambar 7.KERJA SAMA INDONESIA DAN THAILAND Dalam Indonesia-Thailand Joint Agriculture Working Group (JAWG) Meeting di Bali. The 2nd Indonesia – Thailand Joint Agriculture Working Group (JAWG) Meeting Joint Agriculture Working Group (JAWG) antara IndonesiaThailand merupakan hasil tindak lanjut dari pertemuan kedua pemimpin negara pada 16 Desember 2005 dalam rangka penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) kerjasama bilateral kedua negara bidang Pertanian. Delegasi Indonesia sedang mengikuti sidang. Amier Hartono. Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah pada The 2nd Indonesia–Thailand JAWG meeting yang diselenggarakan pada tanggal 20 s/d 22 Juni 2007 di Ramada Bintang Bali Resort. Diantaranya yang terkait dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) adalah pihak Thailand 3) Kepala Bagian Perencanaan. Thailand pada bulan Nopember 2006. Bali. 0leh: Ir. Dipl. Ditjen PLA Buletin PLA Edisi Juni 2007 32 . The 1st Indonesia-Thailand JAWG meeting diselenggarakan di Chiang Mai. HE 3 ) A. Pada pertemuan bilateral tersebut kedua negara membahas mengenai berbagai kerjasama baik yang sudah disetujui untuk dilakukan maupun yang masih harus dibahas lebih lanjut.

Kecamatan Mengwi.menyampaikan dua usulan kerjasama baru yaitu Farmer’s Participation in Irrigation Management: Irrigation Service Fee dan Organic Fertilizer through the Use of Bio-Technology in Sustainable Management of Palm Oil and Rubber Plantation. Gambar 8. Badung. para delegasi dari kedua negara diajak untuk mengunjungi salah satu Subak dan Unit Pelayanan Teknis Peternakan propinsi Bali. Para Delegasi The 2nd Indonesia – Thailand JAWG meeting. B. Subak yang dikunjungi adalah Subak Lepud yang merupaka wilayah persawahan (rice field) dan terletak di Desa Baha. Buletin PLA Edisi Juni 2007 33 . Kedua usulan kerjasama ini lebih lanjut akan dibahas mengenai bentuk kerjasama dan akan dikoordinasikan dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air dan Perkebunan. Pada akhir rangkaian acara The 2nd Indonesia–Thailand JAWG meeting. Exchange Information and Study Tour on Subak Traditional Irrigation Management Exchange Information and Study Tour on Subak Traditional Irrigation Management merupakan program pertukaran informasi sekaligus memperkenalkan subak. suatu praktek kearifan lokal yang bergerak di bidang pengelolaan air sawah di propinsi Bali. Bertindak sebagai penanggung jawab acara kunjungan ke subak adalah Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air.

Pemaparan yang terakhir disampaikan oleh Dinas Kebudayaan propinsi Bali tentang “Pengantar mengenai Subak di Bali”. Produksi yang dicapai petani dapat mencapai hingga 800 kg jeruk/ha. Pemaparan pertama disampaikan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) propinsi Bali tentang “Pengantar mengenai Teknologi Pertanian di propinsi Bali”. Luasnya lebih kurang 800 ha dengan rata-rata kepemilikan lahan per petani adalah 1 ha. Wilayah Subak Abian Kertawaringin juga merupakan daerah lahan kering (upland farming) dengan tanaman utamanya adalah kopi (Arabica). Di Museum Subak ini. para petani yang tergabung dalam koperasi di wilayah ini masih kesulitan dalam memenuhi permintaan kopi terutama permintaan ekspor. Program yang diikuti oleh lima orang peserta dari Ministry of Agriculture and Cooperation Kerajaan Thailand ini diawali dengan pertukaran informasi. para peserta juga dapat melihat film mengenai Subak dalam bahasa Inggris. peserta Exchange Information and Study Tour on Subak Traditional Irrigation Management diajak untuk mengunjungi Museum Subak. Selain dapat melihat peralatan yang dipakai petani dari mulai zaman dahulu. para peserta dapat lebih jelas mendapat penjelasan mengenai Subak. Buletin PLA Edisi Juni 2007 34 .Program ini dilaksanakan berurutan dengan kegiatan the 2nd Indonesia – Thailand JAWG meeting yaitu 23 s/d 26 Juni 2007. Setelah mengunjungi beberapa Subak yang ada di propinsi Bali. pemaparan mengenai halhal yang berkaitan dengan Subak dan diskusi. Pada hari-hari selanjutnya dilakukan kunjungan ke beberapa Subak yaitu Subak Abian Kertawaringin dan Subak Abian Bayung Gede serta Museum Subak. Walaupun belum diterapkan sistem organik 100% namun para petani sudah mulai menerapkan Integrated Pest Management (IPM) sehingga penggunaan pestisida sangatlah efisien. Wilayah Subak Abian Bayung Gede merupakan daerah lahan kering (upland farming) dengan tanaman utamanya adalah jeruk. Pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum propinsi Bali tentang “Pengantar mengenai Pengelolaan Air untuk Irigasi”. Dengan luas areal perkebunan ± 50 ha.

Buletin PLA Edisi Juni 2007 35 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful