Kelompok tutorial VII

KELAINAN KELENJAR SALIVA
 Non neoplastik
 neoplastik

Non neoplastic  Mucocele  Ranula  Sialadenitis supuratif akut  Sialadenitis kronis  Sialolitiasis .

Neoplastik  Pleomorphic Adenoma  Tumor Warthin .

Tipe retensi mukus . paling sering bibir bawah  Klasifikasi : 1.MUCOCELE  Terdapat penumpukan mucin pada sekeliling jaringan lunak akibat rupturnya duktus kelenjar saliva minor  Lokasi : bervariasi. Tipe ekstravasasi mukus/mukokel superfisial 2.

Saliva minor (kebiasaan buruk seperti menghisap mukosa bibir diantara dua gigi yang jarang.Tipe ekstravasasi mukus  Etiologi : akibat trauma lokal atau mekanik pada duktus kel. menggigit-gigit bibir) sehingga duktus glandula saliva minor ruptur .

HPA  glandula yang dikelilingi oleh jaringan granulasi Gambaran histopatologi mukokel tipe ekstravasasi mukus yang terletak di bibir bawah .

Tipe retensi mukus  Etiologi : plug mukus akibat sialolith atau inflamasi pada mukosa mulut yang menyebabkan duktus glandula saliva tertekan dan tersumbat secara tidak langsung .

HPA  adanya epithelial lining .

Gejala klinis mukokel pembengkakan lunak berfluktuasi. Mukokel pada bibir bawah . Batas tegas 5. Massa berdiameter 1 mm hingga beberapa cm (umumnya kurang dari 1 cm) 4. warna translusen kebiruan (massa belum begitu dalam letaknya). kadangkadang warnanya normal seperti warna mukosa mulut apabila massa sudah terletak lebih dalam 2. dipalpasi tidak sakit. Kadang pecah dan hilang namun akan timbul lg 1. 3.

 Patogenesis tipe ekstravasasi mukus : Trauma pada mukosa  duktus kelenjar saliva minor rupture  saliva keluar menuju lapisan submukosa  cairan mukus terdorong dan sekresinya tertahan  penyumbatan  pembengkakan lunak. translusen kebiruan  Patogenesis tipe retensi mukus : Obstruksi duktus karena sialolith atau inflamasi  penyumbatan  pembengkakan lunak pada duktus . berfluktuasi.

dapat juga glandula salivari minor. melibatkan glandula sublingualis. obstruksi kelenjar saliva. gambaran klinis sama dengan mukokel  Dibagi menjadi ranula simpel dan ranula plunging  pembengkakannya menyerupai bentuk tenggorokan bagian bawah dari katak  Etiologi : trauma.RANULA  mukokel yang letaknya di dasar mulut. dan aneurisma duktus glandula saliva .

 Ranula simple : terbentuk karena obstruksi duktus glandula saliva tanpa diikuti dengan rupturnya duktus tersebut  Ranula plunging : terbentuk akibat rupturnya glandula saliva tanpa diikuti rupturnya ruang submandibula yang kemudian menimbulkan plug pseudokista yang meluas hingga ke ruang submandibula atau dengan kata lain berpenetrasi ke otot milohioideus .

Ranula simple .

Ranula plunging  menimbulkan pembengkakan pada leher  berdiameter 4-10 cm dan melibatkan ruang submandibula .

dan juga dijumpai mucin .HPA  kebanyakan ranula tidak mempunyai lapisan epitel dan dinding dari ranula terdiri dari jaringan ikat fibrous yang menyerupai jaringan granulasi.  Adanya ruang dalam kista dan dindingnya didominasi oleh histiosit.

Patogenesis ranula  sialolith. pembentukan parut pada periduktus akibat trauma. malformasi kongenital. agenesis duktus atau tumor  obstruksi duktus saliva  injuri duktus  ekstravasasi mukus  mengalir ke arah leher melalui otot milohioideus  menetap di dalam jaringan fasial  pembengkakan di leher (ranula servikal) .

nyeri disertai demam.  kulit di atas kelenjar parotid teraba hangat.  dapat terjadi pada pasien pasca operasi dan pasien tua dengan kondisi medis kronis. tekanan dan edema. . akut.  dapat menyebabkan terbentuknya abses.SIALADENITIS SUPURATIF AKUT  pembengkakan kelenjar saliva. sensitif dengan sentuhan. trauma.  faktor resiko termasuk dehidrasi. imunosupresi dan keadaan umum memburuk.

Streptococcus pneumonia. Escheria coli dan Haemophilus influenza patogenesis  obstruksi pada duktus  stasis saliva kemampuan saliva untuk membantu dalam oral higiene dan sebagai antimikroba menurun  infeksi  sialadenitis . Bakteria : Staphylococcus aureus.

SIALADENITIS KRONIK  Gejalanya adalah pembengkakan kelenjar liur yang nyeri intermiten dan kronik terutama apabila makan. Pembengkakan biasanya bilateral dan kadang disertai infeksi akut. .

Kemudian inflamasi kronik menyebabkan perubahan pada epitel duktus yang biasanya akan menyebabkan peningkatan musin dalam sekresi. Sialadenitis kronik mungkin dapat disebabkan oleh infeksi dari flora normal oral dan inflamasi kronik akibat infeksi akut berulang. memperlambat aliran dan sumbatan mukosa . Patogenesis  Aliran yang melambat atau stasis memperburuk fungsi kelenjar liur sehingga menimbulkan kondisi yang rentan terhadap infeksi.

kalkuli dapat terlihat di dalam duktus .hpa  dilatasi duktus dan atrofisel-sel asinar. Jika penyebabnya adalah obstruksi batu. Inflamasi yang lama dapat menyebabkan fibrosis dan infiltrasi limfosit.

ektasia duktus dan striktur . komplikasi termasuk sialadenitis supuratif akut. terapi berdasarkan lokasi kalkulus. batu pada dasar mulut bida dipalpasi. kalkulus dapat diekstraksikan secara intraoral atau jika letaknya distal maka kelenjar submandibular terindikasi. pembengkakan dapat disingkirkan setelah 1 jam. gejala semakin memburuk setelah makan.SIALOLITIASIS  pembengkakan kelenjar liur major yang akut dan nyeri      terutama di kelenjar submandibular yang bisa berulang. riwayat gout atau xerostomia.

10-20% di kelenjar parotid  batu sering dapat dipalpasi pada dua pertiga anterior kelenjar submandibular  HPA : pengapuran  Ro : tampak sebagai masa yang radiopak . 80-90% terjadi di kelenjar submandibular.

.

patogenesis  Agregasi dari debris yang termineralisasi dalam duktus  pembentukan kalkuli  saliva statis  obstruksi .

kenyal. mucoid. mobile.Pleomorphic Adenoma Gambaran Klinis  Dari kelenjar minor maupun mayor  Tumbuh lambat.  Komponen jaringan epitel terdiri dari 2 tipe sel. yaitu sel-sel mioepitel dan sel-sel duktus . tidak menimbulkan rasa sakit. permukaan halus. Gambaran mikroskopis  Campuran proliferasi jaringan epitel dalam daerah jaringan myxoid. atau chondroid.

WHARTIN’S TUMOR Gambaran klinis  Paling umum terjadi pada kelenjar parotis  Lebih sering terkena pada laki-laki dibanding wanita  Dapat terjadi secara bilateral Gambaran mikroskopik  Tumor berbentuk glandula yang dipisahkan celah berbentuk kistik dan membentuk proyeksi papilapapila yang tertanam di jaringan limfoid padat.  Rongga kistik dilapisi oleh sel epitel yang eosinofilik 2 lapis .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful