ATAPENGANTAR...............................................................……................ i DAFTAR ISI..................................................................................……....... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang....................

...........................................…….................... 1 B. Tujuan Penulisan.......................................................................……........ 1 C. Proses Penyusunan Makalah.....................................................…............2 BAB II GAMBARAN KASUS A. Pengkajian..............................................................................……........... 3 B. Masalah Keperawatan................................................................. ...……....4 C. Pohon Masalah (Problem Tree)....................................................….........5 BAB III TINJAUAN TEORITIS A. Proses Terjadinya Curiga............................................................……....…5 B. Masalah Keperawatan................................................................……........6 C. Tindakan Keperawatan Untuk Semua Masalah Pada Klien.......….............7 BAB IV PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN.............................…..15 BAB V PEMBAHASAN......................................................................……... 17 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN................................................…....... 20 DAFTAR KEPUSTAKAAN...............................................................…....... 21 LAMPIRAN-LAMPIRAN..................................................................……...... 22

KATA PENGANTAR

1. 2. 3. 4. 5.

Puji syukur kehadirat Tuhan atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Asuhan Keperawatan Klien Nn. G. Dengan Masalah Utama ”Curiga”. Dalam penyelesaian masalah ini kami mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, maka kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Dr. Azrul Azwar . MPH. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Ibu Netty Herawaty, Skp, M..App.Sc. selaku Koordinator Mata Ajaran Keperawatan Jiwa Ibu. Ria Utami Panjaitan SKp, selaku Pembimbing dan Tim Mata Ajaran Keperawatan Jiwa. Kapala Ruangan dan Staf Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta. Rekan-rekan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang mengikuti Mata Ajaran Keperawatan Jiwa.

Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, makalah ini tentu masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran sehingga dapat lebih menyempurnakannya. Surabaya, Oktober 2002 Kelompok V

Dari masalah-masalah yang ada. Akhirnya disusun secara tertulis dalam bentuk makalah untuk diseminarkan. diperoleh data bahwa 75 % klien yang rawat ulang. sehingga dapat melukai diri sendiri dan orang lain. 3. ditemukan 4 kasus dari 12 yang ada ( 30%) klien dengan masalah curiga. halusinasi dan ketidak mampuan merawat diri. Apabila masalah curiga tidak diatasi. Asuhan keperawatan dilakukan mulai minggu ke tiga (17 April 1997) sampai dengan minggu ke tujuh (16 Mei 1997). PROSES PENULISAN MAKALAH. curiga. B. selanjutnya melakukan asuhan keperawatan pada klien yang dimaksud. kurang minat dalam kebersihan diri yang dapat menyebabkan penampilan diri kurang adekuat. TUJUAN Tujuan kelompok V mengambil kasus Nn. . kemudian kelompok melakukan studi literatur yang terkait dengan kasus. LATAR BELAKANG Perilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang ditandai denganperasaan tidak percaya dan ragu-ragu. memutuskan untuk mengambil salah satu kasus untuk seminar yaitu curiga. kelompok tertarik untuk mempelajari lebih lanjut dan menyajikan dalam bentuk seminar dengan topik ”Asuhan Keperawatan Klien dengan Perilaku Curiga”. kelompok mahasiswa mendiskusikan kasus-kasus diruang Melati. 2. Mendesiminasikan asuhan keperawatan klien curiga. Mempelajari kasus curigai disesuaikan dengan teori dan konsep yang telah diterima. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta (RSJPJ) sebagai lahan praktek. Kelompok juga sulit menemukan literatur yang membahas tentang perilaku curiga.BAB l PENDAHULUAN A. Dalam menuliskan laporan kasus ini. Masalah asuhan keperawatan yang ditemukan adalah menarik diri. Memberikan asuhan keperawatan pada klien curiga dengan pendekatan proses keperawatan. Berdasarkan fenomena tersebut. maka akan menimbulkan maslah-masalah lain seperti : menarik diri. G dengan masalah utama curiga adalah : 1. C. Dapat juga menyebabkan pengungkapan marah yang tidak konstruktif. Perilaku tersebut tampak jelas saat individu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan .

D. jika bicara mata melotot. bersih-bersih rumah. diri sendiri/amuk. Menarik diri D. vena jugularisnya menonjol. kurang berminat dalam kebersihan diri dan penampilan diri kurang adekuat. rambut kotor banyak ketombe. 2. Keadaan klien saat ini. potensial melukai orang lain/amuk. kalau marah nada suara tinggi dan cepat. Suatu hari klien mengeluh barangnya (uang dan alat mandi) hilang. mengatakan barang-barangnya hilang dan baju robek menuduh klien E yang melakukan.S : Klien megatakan kalau marah mengamuk. cara mengungkapkan marah yang tidak konstruktif. Setelah di eksplorasi klien mengatakan ” klien M mengejek”. Pengkajian. G. menarik diri. tiba-tiba nada suara klien seperti mengomel melihat klien M. Pada tanggal 25/4 1997 . 4. keluarga mengatakan klien marah-marah. anak pertama dari 8 bersaudara (klien anak angkat). . Klien beranggapan klien E. Masalah Keperawatan. sampah. Setiap bertemu dengan mahasiswa klien belum mandi. B. wanita 47 th. 3.BAB ll GAMBARAN KASUS A. Klien sedang duduk dan disampingnya duduk klien M. kalau lagi marah suara tinggi dan cepat. belum kawin. tetapi setelah itu klien marah-marah membuat lingkungan menjadi berisik. Gigi klien kuning sudah banyak yang tanggal. nada suara tinggi tidak jelas dan melempari rumah orang. sering duduk dan tiduran dilantai. dan bajunya robek. kurang bersahabat. tiba-tiba marah dan memukul klien M pada saat klien M duduk. Potensial melukai orang lain. Klien keluar masuk RS jiwa tahun 1977 di RS J Bogor. Cara mengungkapkan marah yang tidak konstruktif D. yang mengambil. DO : klien menyelidik bila ada orang berbicara. Jika melihat orang sedang ngobrol klien tampak menyelidik. baju jarang ganti. Klien mandi 1x sehari kadang-kadang tidak mandi. Nn.       1. sering melamun dibawah tempat tidurnya sambil merokok. klien mengatakan malas mandi. dan masuk RSJ Grogol 1978 sampai sekarang. sambil berjalan jalan menghampiri klien lain. Dari data-data tersebut diatas muncul masalah keperawatan : curiga. merasa kesal karena klien M sering mengejek. tidak tahu penyebabnya. klien tampak tidak rapi. Bila klien marah mengatakan ” Orang-orang disini malas-malas tidak mau bantu bersih-bersih. Alasan masuk rumah sakit menurut keluarga. mata melotot. kulit agak bersisik. inginnya enak-enakkan makan tidur saja”. Curiga DS : Klien selalu mengatakan orang lai malas. tidak tamat SD. sering kontrol kamar klien lain. merebut barang orang lain. tidak pernah berinteraksi dengan klien lain. nada suaranya tambah tinggi dan tiba-tiba klien M dipukul lalu pergi meninggalkan klien M sambil marah-marah. bicara kacau dan terlihat vena jugularis menonjol. kadang-kadang marah. banting pintu. Agama budha. klien sering marah . sering tampak tegang bicara kadang-kkadang kacau.O : Klien sering tampak tegang.O : Klien sering sendiri dikamar. Dari hasil pengkajian keluarga : apabila klien pulang kerumah (setiap hari Sabtu dan Minggu) kegiatan klien bersih-bersih got.marah .S : Klien mengatakan malas bicara dengan klien lain karena sering membuat kesal D.

ProblemTree ( Pohon Masalah ) Penampilan diri tidak adekuat Potensial Amuk Kurang minat dlm kebersihan diri Pengungkapan Efek marah yang tidak konstruktif Menarik Diri CURIGA Core Problem Harga Diri Rendah Causa Konflik Sibling Kehilangan berkepanjangan . 6.O : Klien kalau marah jalan-jalan menghampiri klien lain. suka merebut barang orang lain. kalau mandi 1x sehari. setiap kali interaksi dengan mahasiswa (jam 09. gigi kuning rambut kotor banya ketombe. minta agar klien lain mau membersihkan kotoran yang ada diruangan.00) klien belum mandi. sering berdebat dengan klien lain. Kurang berminat dalam kebersihan diri  D.O : Klien tampak tidak rapi. marah-marah. baju jarang diganti tidak rapi dan sering duduk dilantai.  D. Penampilan diri kurang adekuat D.  D.S : Klien mengatakan malas mandi. Klien lain mengatakan bahwa klien G sering menyuruh kalau tidak mau . kadang-kadang tidak mandi. 5.S : Klien mengatakan. nada suara tinggi. siang hari. D.S: Klien mengatakan enggan mandi badannya gatal.O : Kulit agak bersisik. C. D. sering duduk dan tiduran dilantai.

bersikap seperti orang penting. Masalah yang biasanya timbul pada klien curiga karena adanya kecemasan yang timbul akibat klien merasa terancam konsep dirinya. Klien dengan perilaku curiga memperlihatkan sikap bermusuhan dan mudah marah. Menarik diri. dineal (pengingkaran). Tidak terpenuhinya karena lingkungan yang bermusuhan. Kurang berpartisipasi dalam kegiatan agama. Masalah lain yang juga sering muncul pada klien curiga yaitu marah.BAB III TINJAUAN TEORI A. selalu memprotes keadaan lingkungan. karena klien dianggap sebagai pembawa rejeki keluarga. menolak terhadap ketidaknyamanan. Proses terjadinya masalah. ketakutan. Ketika klien kecemasannya meningkat dalam merespon terhadap stresor. Klien menarik diri akibat perasaan tidak percaya pada lingkungan . Dengan demikian anak akan menggunakan mekanisme fantasi untuk meningkatkan harga dirinya atau dia akan mengembangkan tujuan yang tidak jelas. tidak dapat tidur atau sering terbangun waktu tidur. Perasaan ketidak nyamanan di dalam dirinya akan diproyeksikan dan kemudian dia akan merasakan sebagai ancaman/ bahaya dari luar. sering marah-marah dan mengamuk sehingga klien dibawa oleh keluarganya ke RS jiwa. Di dalam keluarga klien merupakan anak angkat dari keluarga yang pada saat itu belum memiliki anak. berbicara tidak sesuai dengan kenyataan. merasa asing dengan orang lain dan lingkungan. timbul sebagai proyeksi dari keadaan ketidak adekuatan dari perasaan ditolak. dari data yang ditemukan faktor predisposisi dari prilaku curiga adalah gangguan pola asuh. Klien akan mempunyai fokus untuk memproyeksikan perasaannya yang akan menyebabkan perasaan curiga terhadap orang lain dan lingkungannya. orang tua yang otoriter. Sering kali kaku dalam menafsirkan pendapat tentang lingkungan. sehingga klien merasa terancam dari lingkungan keluarganya. cemas (agitasi dan agresif). ketidakadekuatan dan inferiority. tidak rapih. Perilaku tersebut tampak jelas saat individu berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya. denial. sorot mata tajam dan menyelidik. ketergantungan. intra personal. sangat sensitif terhadap perilaku orang lain. Curiga merupakan akibat dari mekanisme . gelisah. Kebersihan diri kurang. suasana yang kritis dalam keluarga.masalah ini tidak muncul pada klien G. Sejak kelahiran adik-adiknya ( 7 orang ) klien klien berusia 10 tahun. Perilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan yang ditandai dengan perasaan tidak percaya dan ragu-ragu. tidak mampu melaksanakan peran dalam keluarga mengguanakan mekanisme dalam mempertahankan diri proyeksi. merasa tidak nyaman. menolak makan dan obat berat badan cenderung turun. Isolasi sosial merupakan masalah yang juga muncul pada diri klien. tuntutan lingkungan yang tinggi terhadap penampilan anak serta tidak terpenuhinya kebutuhan anak. afek tumpul. Faktor predisposisi dari curiga adalah tidak terpenuhinya trust pada masa bayi . Proyeksi klien tersebut akan menimbulkan prilaku agresif sebagaimana yang muncul pada klien atau klien mungkin menggunakan mekanisme pertahanan yang lain seperti reaksi formasi melawan agresifitas. Perilaku curiga merupakan prilaku proyeksi terhadap perasaan ditolak. Pada klien . pakaian kotor. Klien menjadi anak kesayangan ayahnya. Berbicara membesar-besarkan diri (grandiosa). Sejak itu klien tidak percaya pada orang lain. mulai merasa tersisih dan tidak diperhatikan. ekstra personal dan inter personal. ada usaha bunuh diri dan cenderung melikai orang lain. kurangnya rasa percaya diri terhadap lingkungan yang baru/asing . masalah ini muncul pada klien .

Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal dan bersama-sama mencari jalan penyelesaiannya Bantu dan bimbing klien menemukan cara penyelesaian masalah (koping) yang konstruktif. Bila ada perubahan jadwal informasikan dengan mengunakan kalimat yang singkat dan jelas. Selama melakukan asuhan keperawatan kemungkinan ditemukan. kesulitan membuat keputusan. Bicarakan dengan klien apa yang dilakukannya saat mengalami perasaan curiga. takut dan cemas. Berikan kesempatan pada klien untuk mencobanya. pertahankan kontak mata. Bersama klien mencari alternatif cara penyelesaian masalah untuk mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan tersebut. Pada klien umumnya terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah. Bimibing klien untuk mencoba cara lain a)       b)      c)       . tidak menggunakan bahasa sindiran. karena kalau dianalisa masalah curiga muncul karena adanya masalah harga diri rendah. akibatnya tidak mau makan . MASALAH 1 : Curiga. dimana klien mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya. Tanyakan tenyang persaan klien apabila klien mengungkapkan perasaan secara nonverbal dan memberi umpan balik. bermusuhan. Minta maaf bila perawat tidak memenuhi janjinya. kuku kotor dan panjang. Bingbing klien mengungkapkan perasaan Katakan pada klien bahwa menjamin keamanan dan melindunginya selama perawatan. berperilaku destruktif dan menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidak sesuai.minum. tidak berhenti berbicara saat klien datang. Berikan dorongan kepada klien agar memilih penyelesaian masalah yang tepat . Tindakan Keperawatan. klien menunjukan bingung peran. dan masalah ini ada pada diri klien. dimana klien tidak mandi. Hindari perdebatab dalam berbicara dengan klien. Psikoterapeutik. curiga. dan banyak menggunakan mekanisme pertahanan diri proyeksi. masalah ini ada pada diri klien.koping yang tidak efektif. Potensial gangguan nutrisi. Bina hubungan saling percaya. kelompok masih perlu data lagi. tidak mau gosok gigi. Sadari bahwa klien sangat sensitif . masalah ini tidak ada pada diri klien. Adakan kontak hubungan dengan klien sering dalam waktu singkat. Masalah lain yang timbul adalah gangguan perawatan diri dan data yang diperoleh : klien berpenampilan tidak adekuat. rambut kotor dan banyak ketombe. Bicarakan dengan klien manfaat dari cara penyelasaian masalah yang biasa digunakan. pada klien curiga biasanya mengira makanan itu beracun atau petugas mungkin sudah memasukkan obat-obatan ke dalam minumannya. tidak ber bisik-bisik klien dapat mendengar dengan jelas. Bicara secara terbuka . Katakan kepada klien bahwa perawat selalu membantunya sehubungan dengan perasaannya .serta membicaraakan konsekwensi dari cara yang dipilih. Anjurkan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya secara nonverbal dan memberi umpan balik.

Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang jenis. Kegiatan Hidup Sehari-hari (ADL).gosok gigi. yang dapat diselesaikan dengan baik.berhias dan berpakaian yang pantas dan rapih Sediakan fasil. Bicarakan akibat penilaian yang salah terhadap realitas. Bimbing klien melaksanakan kebersihan diri Jelaskan kepada klien manfaat kebersihan diri Bimbing klien untuk mandi. Ajak klien makan bersama dengan klien lain dan petugas Anjurkan kepada keluarga untuk membawa makanan dari rumah. meningkatkan kecemasan dan tanda marah.  Berikan jaminan bahwa lingkungan aman bagi klien. a) Beri obat sesuai denganprogram medis  Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain agar kemasan obat tetap terjamin. Pantau pola makan Ajak klien ke ruang makan Jelaskan kepada klien bahwa makan dan minum yang cukup untuk menjaga kesehatannya. Tanyakan kepada klien alasan jika dia menolak makan Beri kesempatan klien untuk ikut serta menyiapkan makanan bila klien curiga makanannya diracuni. Ajak klien mengikuti kegiatan atau secara bertahap. .d) Beri penghargaan dan pujian atas keberhasilan klien. Bimbing klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.dosis dan manfaat obat. Berikan klien kegiatan yang disukai.untuk tetap mengakui keberadaan orang lain dengan menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya. b) Pantau respon klien.sikat gigi.keramas.  Beri obat dalam bentuk cairan bila klien enggan minum obat dalam bentuk tablet. a)        b)     c)    Terapi Somatik.  Pindahkan klien ke tempt yang tenang dan aman apabila dia merasa terancam dan kehilangan kontrol diri.  Pantau tingkah laku klien . dari jenis kegiatan yang tidak memerlukan persaingan (kompetetif) sesuai dengan kemampuan klien. Latih klien dalam berkomunikasi .itas untuk:mandi .      Pendidikan Kesehatan. Bimbing klien untuk meningkatkan pengetahuan tentang perilaku yang adaptif (dapat diterima) dan maladaptif (tidak dapat diterima). Bantu dan latih klien untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi. Bantu klien memilih kegiatan yang dapat dilakukan. dan dapat menyalurkan dorongan agresifitas dan rasa bermusuhan. Lingkungan Terapeutik a) Siapkan lingkungan fisik yang aman agar dapat menurunkan perasaan cemas.berhias dan berpakaian Beri pujian bila klien berpenampilan bersih dan rapih Bimbing klien melakukan kegiatan.

menggambar.  Buat agar klien dapat berinteraksi dengan petugas lain dan menganjurkan kepada petugas tersebut untuk sering berinteraksi dalam waktu singkat. Tunjukkan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaanya c) Kenal dan dukung kelebihan klien  Tunjukkan cara penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien.  Pantau klien saat berinteraksi dan anjurkan untuk mengembangkan pendekatan yang tepat dalam membina hubungan dengan orang lain.  Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.  Jelaskan kepada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang tidak berkepentingan.  Beri dukungan bila klien mampu mencoba berinteraksi dengan orang lain dengan menyediakan fasilitas.  Temani klien beberapa saat dengan duduk disamping klien. Sediakan tempat tidur . a) Bina hubungan saling percaya  Buat kontrak dengan klien : memperkenalkan nama perawat dan waktu interaksi dan tujuan.lemari pribadi dimana klien yakin barangnya aman tersimpan.  Selalu memperhatikan kebutuhan klien.  Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri. MASALAH 2 : Menarik diri Psikoterapeutik. dimulai dari klien dengan perawat.  Bahas bersama klien tentang koping yang konstruktif  Dukung koping klien yang konstruktif  Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif. cara menceritakan perasaanya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya. bermain musik.pujian. cara berhubungan dengan orang lain : keuntungan berhubungan dengan orang lain. berolah-raga. b)     Berkomunikasi dengan klien secara jelas dan terbuka Bicarakan dengan klien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai. menangis. kemudian ditambah dengan satu klien dan seterusnya.  Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien. kemudian dengan dua perawat. b) Siapkan Lingkungan Sosial  Pindahkan klien ketempat yang tenang bila kemarahannya memuncak dan berikan pengertian kepada klien yang lain bahwa perilakunya tersebut sehubungan dengan curiga. .  Libatkan klien dalam aktivitas kelompok. Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraannya dengan perawat. untuk menunjukkan penghargaan yang tulus. jelas dan teratur. Pendidikan kesehatan  Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan selain dengan kata-kata seperti dengan menulis.tempat.  Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap. d) Bantu klien mengurangi cemasnya ketika hubungan interpersonal  Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.

b)    c)  d)    Bantu klien mengidentifikasi rasa marah Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap yang tenang. Pastikan apakah obat telah diminum. Bimbing klien mengungkapkan rasa marah yang sehat. Bantu memperhatikan perilaku positif. radio dan televisi.  Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien. Beri obat sesuai dengan prinsip lima benar.  Beri rangsangan sensori seperti suara musik dan gambar di ruangan klien. rileks dan berwibawa. emosional. Terapi Somatik.  Bicara dengan sikap tenang . Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)  Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakannya sendiri. periksa tempat-tempat yang memungkinkan klien menyimpan obat. Bantu latihan asertif (kenali tanda marah.  Cegah agar klien tidak berada dalam ruangan sendiri dalam waktu lama. intelektual.kenali cara marah. Beri respon atas ungkapan rasa marah dan bermusuhan. sosial. surat kabar.  Pindahkan barang-barang yang dapat membehayakan klien maupun orang lain dari ruangan klien. Berikan bimbingan atau latihan mengungkapkan marah secara asertif.      Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.  Bimbing klien berpakaian yang rapi  Batasi kesempatan untuk tidur  Sediakan sarana informasi dan hiburan seperti : majalah. Pantau reaksi obat.dengan membedakan cara yang konstruktif dan destruktif). spiritual) Bimbing klien mencoba cara marah yang dipilih pada situasi nyata. Lingkungan terpeutik. Anjurkan pada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam aktivitas dilingkungan masyarakat. MASALAH 3: Cara mengungkapkan marah yang tidak konstrukti Psikoterapeutik a) Bina hubungan saling percaya  Memanggil klien dengan nama panggilan yang disukai. Lindungi melukai diri sendiri dan orang lain. Catat pemberian obat yang telah dilaksanakan. Lingkungan Terapeutik . Identifikasi cara marah yang sehat(biologi.

  Rencanakan dan ciptakan lingkungan yang tidak meningkatkan reaksi marah klien.  Ajarkan dan anjurkan keluarga menerima marah klien dengan diam sebentar.  Setelah klien tenang anjurkan klien dan keluarga mendiskusikan penyebab marah.  Sediakan makanan tinggi kalori dan protein. Tempatkan klien di ruang rawat dan ikut sertakan dalam kegiatan ruangan.  Catat obat (nama obat. cara.  Pantau respon klien. waktu) yang telah ditentukan.  Anjurkan klien untuk cuci tangan sebelum makan. Terapi Somatik Melaksanakan program terapi medik :  Siapkan obat sesuai dengan dosis. Bantu klien merawat kebersihan diri  Buat perjanjian dengan klien tantang kegiatan yang akan dilakukan  Bimbing klien untuk mandi .  Anjurkan klien untuk latihan relaksasi.  Bantu klien dan bimbing berpakaian rapih.menyisir rambut serta menghias wajah.  Beri pujian dan umpan balik setelah klien melakukan kegiatan  Catat hasil kegiatan serta respon klien MASALAH 4 : Potensial melukai orang lain. . mengeringkan badannya sendiri. gosok gigi. 2. kasur).  Jelaskan bahwa makan/minum dapat meningkatkan kesehatannya. pola staf dan tingkat aktivitas.  Anjurkan keluarga untuk menggunakan humor yang tidak menyakiti orang lain. Psikoterapeutik a) Bina hubungan saling percaya  Memanggil klien dengan nama yang disukai  Bicara dengan sikap tenang . Penuhi kebutuhan gizi dan cairan  Beritahu klien saat makan /minum.  Tanyakan alasan klien menolak makan  Beri pujian bila klien dapat menghabiskan makanan yang disiapkan. latihan fisik atau olah raga.  Pastikan klien sudah minum obat. Pendidikan Kesehatan  Arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak bantal.rileks dan berwibawa  Tanyakan apa yang diinginkan oleh klien dengan tidak menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin dapat dipenuhi. pengaturan waktu interaksi.  Anjurkan klien untuk cuci tangan sesudah makan. Kegiatan Kehidupan Sehari-hari (ADL) 1. keramas .

 Dua orang petugas menghampiri klien sambil membantu mengatur posisi dan pegang tanmgannya.  Beri informasi cara-cara mengatasi klien amuk serta tempat mencari bantuan bila diperlukan.  Tangan klien disilangkan diodadanya kemudian petugas satu memegang tangan kanan dan petugas dua memegang tangan kiri kilen. Jelaskan pada klien tujuan tindakan yang dilakukan secara berulang.didalam spit bawa ke ruang klien dengan menggunakan bak instrumen steril. Terapi Somatik Melaksanakan program terapi medik.  Satu orang petugas / perawat yang lain menahan bagian yang akan disuntik sambil menenangkan klien . dosis.  Klien diminta berjalan keruangan yang telah disiapkan. Beri respon atas ungkapan rasa marah dan bermusuhan Anjurkan klien untuk mencoba mengendalikan diri . . dan menyatakan bahwa perawat siap membantunya. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap yang tenang. cara.  Siapkan obat sesui dengan dosis .  Jelaskan pada keluarga tanda-tanda dini pada klien amuk. Pindahkan klien ke tempat yang aman  Siapkan tenaga minimal 2 orang (sesuai dengan kondisi klien)  Seorang petugas berbicara kepada klien agar ia berusaha mengendalikan diri dengan tetap menjaga jarak personal.b)    Bantu klien mengungkapkan rasa marah. Pendidikan Kesehatan.  Bila klien tetap tidak dapat mengendalikan diri maka :  Petugas satu memegang tangan kiri klien petugas memegang tangan kanannya. Amankan klien dan lingkungan  siapkan ruangan yang akan dipakai untuk perawatan klien  Anjurkan klien lain atau keluarga untuk mengosongkan tempat yang akan dilalui oleh klien  Pindahkan alat-alat yang membahayakan klien atau lingkungannya 2. dan waktu pemberiaan ).  Jelaskan pada keluarga agar tidak menghadapi klien sendiri bila dia dalam keadaan amuk. beri obat melalui suntikan :  Jelaskan pada klien tindakan yang akan dilakukan  Manset klien bila dalam keadaan gelisah. tapi bila klien dapat mengendalikan diri maka ajak klien ketempat yang tenang dengan didampigi oleh perawat. Lingkungan terapeutik 1.  Perawat merapihkan alat dan mencuci tangan.  Petugas yang lain siap memberi bantuan bila klien tidak dapat mengendalikan diri.  Setelah disuntik salah seroang perawat mendampingi klien sampai tenang kembali. dokumentasikan pemberian obat (nama obat.

gosok gigi. gosok gigi.  Bimbing klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan. mengeringkan badannya sendiri.  Anjurkan klien untuk cuci tangan sesudah makan.Kegiatan Kehidupan Sehari-hari (ADL) a) Penuhi kebutuhan gizi dan cairan  Beritahu klien saat makan /minum  Jelaskan bahwa makan/minum dapat meningkatkan kesehatannya  Sediakan makanan tinggi kalori dan protein  Anjurkan klien untuk cuci tangan sebelum makan  Tanyakan alasan klien menolak makan  Beri pujian bila klien dapat menghabiskan makanan yang disiapkan.  Jelaskan kepada klien manfaat kebersihan diri.  Diskusikan dengan klien manfaat kebersihan diri.  Bimbing klien melakukan kegiatan sehari-hari. . Beri pujian dan umpan balik setelah klien melakukan kegiatan Catat hasil kegiatan serta respon klien MASALAH 5 : Kurang minat dalam kebersihan diri Psikoterapeutik  Bina hubungan saling percaya  Bimbing klin mengungkapkan perasaannya  Bantu dan bimbing klien menemukan cara penyelesaian masalah kebersihan Kesehatan Pendidikan  Bimbing klien untuk meningkatkan pengetahuan tentang perawatan diri.menyisir rambut serta menghias wajah. Bantu klien dan bimbing berpakaian rapih. b) Bantu klien merawat kebersihan diri      Buat perjanjian dengan klien tantang kegiatan yang akan dilakukan Bimbing klien untuk mandi . keramas. berhias dan berpakaian yang pantas dan rapi.  Sediakan fasilitas untuk memelihara kebersihan. keramas .  Bimbing klien untuk mandi .  Beri reinforcement positif bila klien berpenampilan rapi dan bersih.  Diskusikan dengan klien cara perawatan diri Lingkungan terapeutik  Siapkan lingkungan fisik yang bersih.  Bimbing klien melaksanakan kebersihan diri. Kegiatan Hidup Sehari-hari.

Tupan : tidak melukai orang lain / diri sendiri serta mampu mengungkapkan marah secara konstruktif. dapat membalas jabat tangan dan mau diajak berbicara. memberikan obat sesuai dengan program terapi dan mengawasi respon klien. klien disiplin dalam meminum obat sesuai program terapi. klien tidak berinteraksi dengan klien lain. klien hanya berinteraksi dengan perawat terutama perawat praktikan. menarik diri sehubungan dengan curiga”. mengadakan kontak sering dan singkat. Pada bab ini akan menyampaikan secara singkat mengenai pelaksanaan proses keperawatan yang meliputi : diagnosa keperawatan. bersikap empati pada klien. mendiskusikan dengan keluarga (pada saat kunjungan rumah) ttg marah pada klien . meningkatkan respon klien terhadap realita. Tindak lanjut : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diatas kelompok merencanakan untuk melanjutkan untuk latihan marah yang konstruktif dengan tehnik relaksasi dan tehnik asertif. mendiskusikan dengan klien tentang tanda-tanda yang biasa terjadi pada orang yang sedang marah. Diagnosa Keperawatan III . Diagnosa keperawatan I ”Potensial melukai diri sendiri. Evaluasi : Setelah mendapatkan asuhan keperawatan klien mengalami perkembangan : klien mau menerima petugas (mahasiswa ) dan membalas salam. mengeksplorasi penyebab kecurigaan pada klien. implementasi/tindakan yang dilakukan. mempertahan kan sikap perwat secara konsisten. mendiskusikan dengan klien cara mengungkapkan marah secara konstruktif. mampu mengungkapkan penyebab marahnya. perawat) Implementasi : membina hubungan saling percaya. mendorong klien untuk mengatakan cara-cara yang dilekukan bila klien marah. dapat mengenal tanda-tanda marah. Intervensi : Membina hubungan saling percaya dengan klien. berespon secara verbal. apa yang sudah dilakukan bila klien marah dirumah bila klien cuti.BAB IV PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN Pelaksanaan proses keperawatan berorientasi pada masalah yang timbul pada klien. mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah. orang lain s/d ketidakmampuan klien mengungkapkan marah secara konstruktif”. Tupan : klien dapat berinteraksi dengan orang lain (sesama klien. megatakan kalau amuk itu tidak baik. Tindak lanjut: Teruskan untuk program sosialisasi/ interaksi klien untuk mengurangi kecurigaan. tujuan jangka panjang. mengikut sertakan klien dalam TAK sosialisasi untuk berinteraksi. memelihara ketengann lingkungan dengan suasana hangat dan bersahabat. evaluasi dan tindak lanjut. Adapun proses keperawatan secara lengkap ada pada lampiran. Diagnosa keperawatan II ”Gangguan hubungan sosial. dapat memperagakan tehnik relaksasi. Evaluasi: Klien mampu mengeksplorasi yang menyebabkan curiga.

Implementasi : Memperhatikan tentang kebersihan klien. Klien dapat mengungkapkan pentingnya kebersihan diri dan akibatnya dari tidak memelihara kebersihan. Tindak lanjut : Perlu dilanjutkan dengan TAK tentang kegiatan sehari-hari dan berikan motivasi agar klien mau merawat diri. keramas memakai sampo dan menggosok gigi. memberikan reinforsemen positif apa yang sudah dilakukan klien. . Tupan : Penampilan klien rapih dan bersih serta klien mampu merawat kebersihan diri. Evaluasi : Klien mandi 1x sehari pakai sabun mandi. mendiskusikan dengan klien ttg gunanya kebersihan.”Penampilan diri kurang s/d kurang minat dalam kebersihan diri”. mendorong klien untuk mengurus kebersihan diri.

membuat klien semakin menarik diri dan tidak mau berinteraksi dengan klien lain. Setelah cuti klien tampak lebih gembira. antara lain menarik diri. Faktor lingkungan juga memberikan dampak yang besar terhadap perilaku curiga klien. klien marah-marah karena merasa orang lain tidak bekerja. tidak berbisik dan tidak berhenti saat klien datang juga membuat klien berinteraksi dengan perawat. Prinsip kegiatan yang tidak bersifat kompetitif juga dapat dibuktikan. G dengan maslah curiga.G kemungkinan disebabkan oleh kesalahan dalam pola asuh. Selama praktek. Dengan TAK. Hal ini disebabkan klien merasakan kembali ia masih diterima di keluarga. Hal ini mungkin disebabkan perilaku disebabkan perilaku tersebut merupakan mekanisme pertahanan diri dengan proyeksi dan merupakan masalah ini bagi klien sehingga klien akan merasa terancam integritasnya bila hal tersebut dibicarakan. Setelah melakukan suatu kegiatan. klien sudah tiga kali cuti. dimana klien tampak senang dan selalu mengatakan apa yang telah dilakukannya dan yang akan dilakukannya. Dari implementasi yang telah dilakukan menunjukan bahwa memanggil nama klien dengan nama yang disukai. dan respon klien setelah dilakukan implementasi berdasarkan teori tersebut. Berbicara dengan jelas. perilaku curiga pada klien Nn. Klien menolak ketika diajak bermain congklak karena kesal temanya bermain curang. Memberikan dorongan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan pada saat curiga tidak selamanya diterima klien. memberikan respon yang positif untuk membina hubungan saling percaya. Ketika apa yang diucapkan klien tidak dibenarkan. Memberikan kesempatan klien untuk cuti pulang ke rumah. hanya klien sendiri setelah diberikan intervensi dengan mengekspresikan perasaan dan . Melibatkan klien dalam terapi aktifitas kelompok (TAK) memberikan dampak yang baik. Memberikan kegiatan yang disenangi klien membuat klien merasa dihargai. Pemberian reinforcement positif. perilaku tersebut hilang. Dengan mengajak klien terlibat dalam pembicaraan.BAB V PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas penerapan teori pada kasus Nn. Mengadakan kontak singkat tapi sering juga membuat klien harus merasa diperhatikan dan klien terlihat lebih kooperatif. Klien sering menunjukan perilaku menarik diri dan diam ketika diminta untuk mengungkapkan perasaannya. Hal ini ditunjukan melalui perilaku klien yang bersahabat dan mau memulai pembicaraan dengan perawat. Ditambah kematian ayah angkatnya yang selama ini menyayangi klien sehingga membuat klien merasa tidak diperhatikan lagi. kurangnya perawatan diri dan marah. pada kasus ini juga memperhatikan perilaku maladaptif sebagai dampak dari perilaku curiga. Prinsip untuk tidak mendebat saat berbicara dengan klien memang dapat diterapkan pada kasus ini. Berdasarkan hasil pengkajian. memberikan respon yang baik. Dengan membersihkan kamar mandi. klien akan semakin menarik diri dan kadang menjadi agresif. juga memperbaiki perilaku klien. klien mulai mencoba berinteraksi dengan klien lain dan mengurangi sikap bermusuhan. Kondisi klien di ruangan sebagian besar menarik diri. Sesuai dengan tinjauan teori pada bab III. Dengan demikian keluarga mempunyai peran yang penting dalam membantu mengatasi perilaku klien. membereskan meja setiap hari membuat klien merasa berhasil dan berguna. Kedudukan klien sebagai anak angkat seolah-olah dirasakan klien berkompetisi dengan kelahiran anak kandung orang tua angkatnya. rajin melaksanakan kegiatan. Klien selalu menunjukan sikap menyelidik ketika ia melihat orang lain berbincang-bincang.

. tampak terjadi perubahan sikap keluarga terhadap klien. Apabila tidak diberikan stimulus.mendiskusikan tanda-tanda marah dan cara mengungkapkan marah yang konstruktif. lalu klien kembali ke rumah sakit. Dengan memberitahukan pentingnya peran keluarga dalam membantu mengatasi perilaku klien dan cara menghadapi klien. klien dapat menyebutkan tanda-tanda marah dan mau berlatih mengungkapkan marah secara asertif. Klien menarik diri akan memberikan perilaku malas dalam melakukan kebersihan diri dan pada klien tampak kurang minat dalam melakukan perawatan diri. pemberian motivasi dan pemberian reinforcement positif terhadap keberhasilan atau kemajuan yang ditujukan. ternyata klien termotivasi untuk melakukan perawatan diri. Klien menjadi lebih betah di rumah. keluarga mau menerima kepulangan klien. Sebelumnya keluarga tidak menginginkan klien pulang ke rumah karena kalau pulang klien hanya marah-marah. Setiap hari sabtu klien minta cuti untuk pulang ke rumah. Dari hasil kunjungan rumah. Bila klien marah. hanya dibiarkan saja dan klien tidak betah di rumah (1 hari). klien cenderung kembali marah. Setelah dilakukan pendekatan.

orang lain atau lingkungan. Cara mengungkapkan marah yang kostruktif sangat diperlukan pada klien curiga. 1. Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien G dengan masalah curiga. Klien dengan curiga hendaknya diajarkan cara-cara marah yang konstruktif. Terapi akitifitas kelompok : sosialisasi dan gerak merupakan bentuk terapi kelompok yang dapat membantu menyelesaikan masalah curiga dan menarik diri. 4. . tidak berhenti bicara saat klien datang.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. menganjurkan keluarga untuk lebih sering menengok klien. Terapi aktifitas kelompok (TAK) hendaknya dilakukan secara rutin dan teratur karena merupakan suatu terapi yang dapat mempercepat proses penyembuhan. 2. 3. 4. 3. (dapat mengurangi perasaan curiga).klien yang terapeutik. tidak mendebat. Lebih banyak melibatkan keluarga dalam mengatasi perilaku klien melalui kunjungan rumah. Dari kesimpulan di atas dapat kami memberikan beberapa saran sebagai berikut : Sebaiknya perawat banyak berlatih cara membina hubungan saling percaya. Support sistem keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku klien curiga. agar tidak membahayakan diri sendiri. Berbicara dengan jelas. 2. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Membina hubungan saling percaya merupakan kunci hubungan perawat .

tidak mendebat dan penerimaan keluarga besar pengaruhnya terhadap perilaku klien curiga. B. Berbicara dengan jelas. Terapi aktifitas kelompok merupakan media yang tepat dalam membantu klien mengatasi perilaku curiga.klien yang terapeutik.BAB VI PENUTUP A. Keluarga mempunyai peran penting dan utama dalam membantu mengatasi perilaku klien. menganjurkan keluarga untuk lebih sering menengok klien dan membuat jadwal terapi aktifitas kelompok secara terstruktur. lebih banyak melibatkan keluarga dalam mengatasi perilaku klien melalui kunjungan rumah. tidak berhenti bicara saat klien datang. KESIMPULAN Membina hubungan saling percaya merupakan kunci hubungan perawat . SARAN Oleh karena itu sebaiknya perawat banyak berlatih cara membina hubungan saling percaya. .

J. Disajikan di Fakultas Ilmu Keperawatan -Universitas Indonesia. Louis: Mosby Year Book. St. 4 th ed. Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Clinical Mannual of Psychiatric Nursing. Diposkan oleh dian susanto di 19. Rawlins. (1991). St. Stuart. Louis: Mosby Year Book.DAFTAR KEPUSTAKAAN Kumpulan Kuliah : Mata Ajaran Keperawatan Jiwa Dalam Konteks Keluarga. G. dan Heacock. Jakarta: tidak dipublikasikan.W.P. R. P. 1997. (1993). dan Sundeen.E. S.44 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful