Stikes Dian Husada

PANDUAN PRAKTIKUM
KETRAMPILAN DASAR PRAKTEK KLINIK

DAN
FORMAT PRAKTEK
NAMA :..........................................................

TINGKAT / SEMESTER.......................................................: NIM PRODI :.......................................................... :..........................................................

EDISI III

STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO TAHUN AJARAN 2008 / 2009
1

Stikes Dian Husada

TATA TERTIB
• • • •


• •


Semua mahasiswi melepas alas kaki ( kaos kaki dan sepatu ) Semua mahasiswi memakai seragam lengkap dengan atribut sesuai dengan aturan yang telah ditentukan Memakai jas laboratorium ( Jas Skort ) Semua mahasiswi masuk laboratorium dilarang membawa tas ( boleh membawa masuk tas dan handphone dimatikan asalkan ditempatkan di locker laboratorium ) Dilarang ramai dan harus tertib apabila di dalam laboratorium dan saat melakukan praktek laboratorium Membawa buku panduan saat melakukan praktek laboratorium baik laboratorium MA ataupun Laboratorium Mandiri A. Ketrampilan dasar praktek klinik ( KDPK ) B. Asuhan kebidanan Ibu dan KB C. Asuhan anak ( neonatus dan balita ) Dilarang makan dan minum di dalam laboratorium dan saat melakukan praktek laboratorium Membuang sampah pada tempatnya, jaga kebersihan bersama untuk kenyamanan belajar di laboratorium Kuku tangan di rapikan, lepas sernua perhiasan kecuali jam tangan Semua mahasiswi masuk laboratorium sesuai jam yang telah ditentukan, terlambat 10 menit tidak boleh masuk ruangan laboratorium untuk mengikuti praktek laboratorium Setelah melakukan praktek laboratorium diharapkan
1

Stikes Dian Husada

membersihkan dan mengembalikan instrumen pada tempat semula dengan mengecek awal bon alat A. Untuk laboratorium MA koordinator mata kuliah yang bersangkutan B. Untuk Laboratorium Mandiri 2 orang penanggung jawab kelompok • Bila mahasiswi diketahui mencuri, menghilangkan atau merusak barang laboratorium wajib mengganti dan membuat surat pemyataan yang diketahui oleh Kepala laboratorium, down wali dan Pudir III • Perwakilan kelompok mengisi bon alat praktek dilakukan 5 menit sebelum praktek laboratorium dimulai untuk praktek mandiri • Koordinator Laboratorium MA mengisi bon alat praktek dilakukan 5 menit sebelum praktek laboratorium dimulai untuk praktek MA Mojokerto, 1 September 2008 Kepala Laboratorium

(Nuris Kushayati S.Kep.Ns)

2

Stikes Dian Husada

Daftar Isi

2

Stikes Dian Husada

PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL
Tujuan Umum Mahasiswa mampu melakukan pemberian oksigen dengan nasal kanul kepada boneka peraga Tujuan Khusus Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu : 1. Menyebutkan rasional penggunaan ketrampilan pemberian oksigen 2. Menyebutkan alat - alat yang diperlukan untuk melakukan pemberian oksigen 3. Mendemostrasikan pemberian oksigen melalui nasal kanul kepada boneka peraga Rasional penggunaan dari ketrampilan ini Oksigen penting untuk kehidupan. Konsentrasi oksigen dalazn dash yang optimal harus dipertahankan agar fungsi selular bekerja terus. Hipoksia merupakan keadaan dimana kandungan oksigen dalam darah arteri rendah ( Perry & Potter, 1997 ). Pada kasus seperti ini pemberian oksigen penting dilakukan untuk meningkatkan konsentrasinya dalam darah Bagaimanapun oksigen murni merupakan suatu agen terapeutik yang akan memberikan efek yang berlawanan apabila diberikan secara tidak tepat. Oleh karena itu. perawat harus terbiasa dengan indikasi - indikasi dari pada penggunaan oksigen dari bermacam - macam peralatan dalam pemberian oksigen. Diagnosa Keperawatan Tetapi oksigen digunakan paling sering untuk pasien dengan diagnosa keperawatan sebagai berikut : gangguan pertukaran gas. Gangguan ini kemungkinan berhubungan dengan berbagai faktor, misalnya : sekresi yang banyak dalam paru – paru, Hipoventilasi, proses penyakit yang menyebabkan pertukaran gas permukaan dalam paru - paru menurun atau kondisi yang 1

Stikes Dian Husada menurunkan sirkulasi darah melalui paru - paru. Tidak semua kondisi hipoksemia akan teratasi dengan pemberian oksigen. Untuk mempertahankan efektifitas oksigen maka darah yang tidak mengandung oksigen harus mengalir melalui paru - paru dan membran alveolar harus mampu melakukan pertukaran gas. Selain itu metode pemberian oksigen harus tepat sehingga meningkatkan persentase oksigen dalam alveolar udara. Alat 1 2 3 4 5 6 alat yang digunakan dalam pemberian oksigen meliputi Nasal kanul Selang oksigen Humidifier yang telah di isi aquadest Flowmeter Sumber oksigen Sentral / tabung

Nasal kanul Tabung plastik yang mempunyai cabang kecil yang menonjol untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. Metode ini merupakan metode yang paling mudah dan paling dapat diterima karena lebih efektif, mudah dipakai dan nyaman untuk pasien ( Potter & Perry, 1997 ). Pasien yang menerima oksigen melalui nasal kanul ke hidung dapat berkomunikasi dengan mudah, dapat makan dan melakukan aktifitas setiap hari. Pasien juga dianjurkan untuk bernafas melalui hidung ( dimana pernafasan melalui mulut dapat menurunkan bahkan menghilangkan oksigen ). Oksigen dengan nasal kanul diberikan 16 liter / menit ( Potter & Perry 1997 ). Di atas meningkatkan kekeringan membrane mukosa. Bagaimanapun oksigen dengan nasal kanul biasanya digunakan dengan kecepatan aliran 2 - 3 liter/ menit. Humidifier Humidifier dilengkapi dengan kontainer air steril yang bisa di isi kembali dan sekali pakai. Alat ini melekat pada alat yang menghasilkan oksigen. Mengacu pada Potter & Perry, ( 1997 ) alat ini berfungsi melembabkan, membasahkan oksigen sebelum bergerak melalui hidung ke paru - paru, sehingga mencegah 2

Stikes Dian Husada mengeringnya membran mukosa saluran pernafasan. Air yang digunakan harus steril untuk mencegah infeksi dari organisme yang dapat tumbuh dalam lingkungan lembab. Flowmeter Sebuah alat yang melekat ke oksigen outlet, yang mengatur jumlah oksigen yang dihasilkan. Ada 2 tipe flowmeter; balon air raksa dan ukuran, kedua tipe mencatat jumlah liter oksigen yang dikeluarkan per menit Sumber oksigen : sentral / tabung Oksigen sentral berasal dari pusat di dalam institusi dimana salurannya berada di dinding / dalam tembok dan disiapkan untuk digunakan secara cepat. Oksigen ini dihubungkan melalui sebuah pipa yang bertekanan 50 - 60 pound per inchi persegi. Alat ini dilengkapi dengan sebuah alat pengukur aliran yang khusus ditempelkan dijalan keluar dinding. Alat pengukur aliran ini membuka jalan keluar dan pembukaan katup membuat aliran oksigen terjadi Selain dari sentral, oksigen biasanya disimpan di dalam tabung. Dan pada tabung tersebut dapat alat tambahan yang disebut dengan regulator, yang melekat pada katup dari tabung yang berfungsi mengurangi tekanan dan untuk penyelamatan. Jumlah gas dicatat dalam ukuran pounds per inchi persegi. Ketika tabung hamper kosong, jarum menunjuk ke area merah dan menadakan tabung harus diganti dengan cepat. Terdapat juga tabung yang lebih kecil yang disediakan untuk keadaan darurat, dapat dipindah - pindahkan dan dapat digunakan di rumah. Alat seperti ini pada umumnya aman bei-tekanan rendah. Hal - hal yang perlu diperhatikan : 1 Oksigen adalah gas yang tidak berbau, berasa dan tidak terlihat yang sedikit lebih berat dari udara 2 Oksigen menyokong terjadi pembakaran. Meskipun oksigen itu, sendiri tidak meledak / eksplosive, tetapi dapat mendorong terjadinya pembakaran. Oleh karena itu api ataupun bunga api harus dijauhkan dari derah tempat penyimpanan atau tempat pemakaian. Tindakan pencegahan dengan memasang tanda 2

Stikes Dian Husada DILARANG MEROKOK Pada pintu atau kamar pasien; inspeksi seluruh alat - alat listrik, selimut pemanas, tali lonceng listrik, alat pencukur, radio harus diperiksa dengan teliti untuk memastikan alat - alat ini tidak mengeluarkan api; dan jangan berikan mainan listrik ke anak - anak yang menerima oksigen. Dan sediakan tabung pemadam api yang siap pakai. Oksigen diberikan untuk menghilangkan hipoksia baik lokal maupun umum .Hipoksia adalah suatu keadaan di mana jumlah oksigen yang diperlukan oleh sel jaringan untuk memenuhi kebutuhan suatu organ / jaringan tidak mencukupi; hipoksemis adalah suatu penurunan kandungan oksigen dalam darah. Pengukuran gas darah arteri merupakan metode terbaik dalam menentukan kebutuhan dan keadekuatan terapi oksigen

3

4

FORMAT PROSEDUR PEMBERIAN OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL
N o A. KEGIATAN Pengkajian 1. Cek Instruksi dokter 2. Kaji dengan segera status respirasi 3. Identifikasi alat – alat oksigen yang digunakan Perencanaan 1. Mencuci tangan 2. Rencanakan segala bantuan yang diperlukan 3. Pilih alat - alat yang tepat sesuai kebutuhan klien 4. Siapkan lingkungan yang aman Implementasi I . Identifikasi klien 2. Jelaskan kepada klien apa yang akan 2 1 2 3

B.

C.

Stikes Dian Husada N o KEGIATAN dikerjakan 3. Letakkan tube / pipa pemberian oksigen yang digunakan. Pasang oksigen dan test aliran 4. Ikuti prosedur berikut untuk alat - alat yang akan digunakan : a. Setelah melekatkan pipa pemberian oksigen dari nasal kanul, alirkan oksigen sesuai dengan kebutuhan klien yang ditetapkan b. Lekatkan kanul ke muka klien dan sisipkan cabang ke dalam lubang hidung c. Atur ikatan dan tarikan untuk kenyamanan d. Atur kecepatan aliran e. Balutan kecil di atas puncak telinga jika diperlukan 5. Kaji pernafasan klien dan atur alat-alat jika diperlukan 6. Jelaskan hal - hal yang perlu diperhatikan kepada klien dan keluarga / pengunjung jika ada 7. Kaji kondisi hidung, mulut dan perawatan lubang hidung jika diperlukan 8. Tetap tinggal dengan klien sampai situasi aman untuk ditinggalkan 9. Pasang tanda penggunaan oksigen pada pintu kamar klien 10. Perawat cuci tangan 1 2 3

1

Stikes Dian Husada N o D. KEGIATAN Evaluasi 1. Pola pernafasan yang teratur dan kecepatan yang normal 2. Warna merah muda pada kuku, bibir, konjungtiva mata 3. Tidak ada disorientasi, bingung, sulit berpikir 4. Klien tidur dengan nyaman 5. Hasil pengukuran lab ( Pa02) dalam Batas normal. Dokumentasi 1. Catat tanggal dan waktu pemberian oksigen dimulai, konsentrasi oksigen dan kecepatan aliran liter per menit 2. Observasi subyektif dan obyektif klien 1 2 3

E.

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan: ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

PIPA LAMBUNG, PEMASANGAN DAN PERAWATANNYA
Tujuan : Pemasangan pipa lambung adalah : untuk mengkaji fungsi dan isi dari lambung serta untuk mengkaji fungsi hati dan isi dari lambung serta untuk dekompresi saluran cerna bagian atas Indikasi : 1 Pendarahan saluran cerna bagian atas 2 Trauma abdomen 3 Obstruksi ileus 4 Pemberian obat atau nutrisi 5 Mencegah aspirasi pada pasien yang di intubasi 6 Laparotomi Kontra indikasi : 1. Trauma basis kranial 2. Pasien yang menjalani operasi pada esophagus atau gaster Penyulit : 1. Langsung • Epistaxis • Masuk ke saluran nafas • Aritmia • Muntah 1. Tak langsung : • Sinusitis • spirasi karena sphinter esophagus tak dapat menutup Persiapan : 1. Pipa lambung nomornya disesuaikan dengan kebutuhan, kalau hanya untuk nutrisi pakai ukuran kecil 2. Semprit 50 cc untuk irigasi 1. Larutan PZ atau air untuk irigasi 2. Jelly 3. Stetoskop 3

Stikes Dian Husada 4. Mesin suction 5. Plaster 6. Bengkok Prosedur : 1. Posisi pasien semi fowler, kepala sedikit fleksi 2. Beritahu pada pasien 3. Ukur panjang pipa lambung yang akan dimasukkan dengan cara ujung pipa di tempatkan di telinga, ulur sampai ke lubang hidung pada sisi yang sama kemudian tarunkan mencapai xypoid. Beri tanda batas tersebut 4. Beri pelicin jelly jangan terlalu banyak 5. Masukkan pipa secara halus melalui salah satu lubang hidung 6. Setelah masuk ke rongga pharyng, pasien di suruh melakukan gerakan seperti menelan, kalau perlu di bantu dengan pemberian air dengan sendok sedikit - sedikit 7. Masukkan pipa sampai batas yang telah di tentukan 8. Bila pasien batuk -batuk atau sesak segera cabut 1. Untuk memastikan letak : aspirasi isi lambung atau beri udara dengan syringe dan dengarkan dengan stetoskop di daerah epigastrium 2. Fiksasi ( ada beberapa teknik fiksasi ) 3. Hubungkan dengan drain bag atau suction tekanan rendah, posisi bag harus selalu lebih rendah dari lambung Perawatan : 1. Periksa batas tiap kali pergantian jaga 2. Jaga supaya jangan buntu 3. Perhatikan jumlah dan warna aspirasi 4. Irigasi setiap 2 - 4 jam atau setiap kali pemberian nutrisi atau obat 5. Catat intake dan output setiap 6 jam 6. Tutup pipa selama 30 menit setiap kali pemberian obat 7. Lepaskan atau ganti plesternya setiap hari untuk mencegah necrosis lubang hidung Dokumentasi : 1. Ukuran dan tipe pipa lambung yang di pakai 1

Stikes Dian Husada 2. Jumlah dan kwalitas aspirasi 3. Tanggal pemasangan 4. Mukosa hidung adakah perlukaan, tanda sinusitis

FORMAT PEMASANGAN SONDE LAMBUNG (NGT)
No 1. 2 3 4 5 6 7 8 KEGIATAN Perawat cuci tangan Lubang dibersihkan dengan kassa / tissue Memasang perlak dan alasnya di bawah dagu pasien Letakkan bengkok di sisi pasien Perawat cuci tangan Slang peduga lambung di ukur panjangnya dan epigastrium ke hidung kemudian belok ke telinga dan diberi tanda, di klem Ujungnya diberi jelly Pangkal selang dilipat sambil memegang klem dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang ujungnya dengan pinset dimasukkan perlahan - lahan melalui hidung sampai batas yang telah ditentukan Anjurkan pasien untuk tidak menarik lidah, agar u.jung penduga mudah mencapai pangkal lidah, pasien dianjurkan menelan dan menarik napas sekali - kali, perawat mcndorong sonde perlahan – lahan Untuk pasien tidak sadar, tangan kiri perawat menekan lidah pasien keluar dengan spatel yang ujungnya dibungkus kasa, sementara tangan kenan memasukkan sonde perlahan – lahan. Memastikan apakah sonde benar- benar masuk ke dalam lambung dengan cara : a. memasukkan ujung selang ke mangkok yang berisi air, bila 1 1 2 3

9

10

11

Stikes Dian Husada No KEGIATAN timbul gelembung - gelembung udara berarti selang salah masuk ke saluran nafas b. memakai stetoskop dengan memasukkan udara dalam lambung 10 - 20 cc sampai terdengar udara di dalam lambung c. bila slang salah masuk, segera slang ditarik perlahan - lahan, ulangi pernasangan lagi Bila selang dipasang menetap lakukan fiksasi dengan plester Masukkan makanan : • Pasang corong pada ujung slang, tinggi corong 15 - 20 cc dari wajah pasien • Masukkan air matang 15 - 20 cc • Pada ujung permulaan, corong dimiringkan dan luangkan makanan melalui pinggirnya, setelah penuh corong di tegakkan • klem di buka • Cairan selanjutnya dituangkan sebelum isi corong kosong • Bila cairan tidak mengalir lancar, Posisi corong ditinggikan atau anjurkan pasien merubah posisi sedikit • Bila minun obat, obat diberikan sebelum makanan habis Setelah makanan habis, slang di bilas dengan air masak lebih kurang 20 - 30 cc, selanjutnya pangkal selang di klem Mulut / hidung dan sekitarnya dibersihkan dengan tissue Setelah selesai, pasien dirapikan, alat alat dibereskan dan kembalikan ke tempat 1 1 2 3

12 13

14 15 16 17 18 19

Stikes Dian Husada No KEGIATAN semula Perawat cuci tangan Cairan nutrisi mengalir lancar melalui sonde, pasien merasa nyaman dan tidak merasakan kesakitan lagi Dilakukan dengan cermat, cepat, hati – hati dan tidak ragu Kebersihan tetap dijaga Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 1 2 3

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada

NUTRISI
A. Memberikan makan dan minum pada penderita Artinya : menyediakan dan menghidangkan makanan serta minuman pada penderita sesuai dengan diitnya Tujuan : 1. Membantu dan mempercepat proses penyembuhan 2. Menambah selera makan penderita 3. Menolong penderita yang tidak sanggup atau tidak dapat makan sendiri 4. Mengurangi pergerakan penderita Syarat - syarat makanan penderita : 1. Harus cukup mengandung bahan yang diperlukan 2. Harus sesuai dengan macam penyakit yang di deritanya 3. Harus cukup kwalitas dan kuantitasnya 4. Cukup menarik, hersih, segar dan bervariasi Guna makanan : 1. Memperoleh tenaga sehagai sumber yang diperlukan, misal : protein. Hidrat arang dan lemak 2. Untuk mempertinggi daya tahan tubuh 3. Sebagai bahan simpanan 4. Sebagai pengobatan 5. Untuk pertumbuhan 6. Sebagai bahan pembangun yang terdiri dari protein, mineral dan air Bentuk makanan menurut konsistensinya : 1. Makanan cair, misalnya : sari buah - buahan, air kacang ijo, susu, kaldu 2. Makanan saring, yaitu : 1

Stikes Dian Husada Makanan yang dihaluskan dan disaring, misalnya : bubur maizena dan bubur saring 3. Makanan Cincang : Makanan dimana bahan makanan telah di masak kemudian dihaluskan atau di cincang 4. Makanan Lunak, yaitu : Makanan yang bersifat lunak, misalnya : bubur ( tim ), bubur susu ( roti di siram dengan susu ), pure ( kentang yang dihaluskan ) 5. Makanan biasa.misalnya : Nasi dengan lauk pauknya, roti dengan isinya, kentang dengan lauknya Macam - macam makanan diit Diit adalah : cara pemberian makanan pada seseorang dari berbagai golongan terutama golongan umur,.jenis pekerjaan, sakit atau tidak Guna makanan pantang atau diit : 1. Supaya cepat dicerna 2. Memberi istirahat alat – alat tubuh yang sakit, sehingga gangguan gangguan dapat berkurang 3. Untuk memperbaiki kekacauan metabolism 4. Untuk mengurangi atau menambah berat badan 5. Untuk pemeriksaan tertentu, missal : bensidine diit 6. Untuk menghindari alergi Macam - macam makanan diit : 1. Diit rendah garam (ZOUT ARM ) biasanva garam yang di perbolehkan dapat sampai 450 mgr/hari diberikan kepada penderita dengan : • Oedema yang tidak terlalu berat • Wanita hamil tua • Acites • Hipertensi • Penyakit jantung 1

Stikes Dian Husada • Penyakit ginjal • Yang mana kesemuanya itu tidak terlalu berat 1. Diit tanpa garam ( ZOUT LOOS ) adalah makanan yang sama sekali tidak mengandung garam dapur atau pula bahan - bahan yang mengandung garam, misalnya : udang, ikan laut Makanan Zout Loos ini biasanya diberikan pada : • Penderita oedema akibat dari penyakit : Jantung, ginjal, hipertensi 1. Kaya Protein ( EIWIT RIJK ) Diberikan kepada penderita yang berpenyakit hati atau berpenyakit anemia 2. Miskin Protein (EIWIT ARM) Diberikan kepada penderita yang berpenyakit ginjal Miskin protein ada 2: BOORST DIIT, KEMPER DIIT Perbedaan kedua bentuk ini hanya terletak pada bahannya saja 3. Diit Lemak • rendah lemak : ( VET ARM ) diberikan pada penderita hepatitis • Tanpa lemak : ( VET LOOS ) diberikan kepada penderita hepatitis, diare 1. Diit TKTP ( tinggi kalori tinggi protein ) Biasanya diberikan kepada penderita : TBC, Malnutrisi, Anemia, Pre-Post operasi 2. Diit Diabetes Mellitus Diberikan pada penderita DM yang ditentukan oleh dokter, beberapa jumlah kalori yang dibutuhkan 3. Benzidin Diit Untuk mengetahui adanya perdarahan atau tidak pada Tractus Digest Tivus Penderita sebelum diperiksa selama tiga hari harus menjalani Benzidin Diit ( bahan makanan tidak boleh mengandung Hb/Fe dan Chloropenil ) 4. Diit Halus Makanan khusus untuk penderita penyakit tertentu, misalnya : Typhus \abdominalis Pemberian makan pada penderita yang dapat makan sendiri , tidak 1

Stikes Dian Husada dapat duduk, dan disuapi Persediaan alat: 1. Piring yang diisi makanan 2. Garpu dan sendok makan 3. Gelas berisi iair minum dengan tatakan dan tutup 4. Serbet / lap semuanya diletakkan di dalam baki 5. Penghisap atau sedotan Perhatian : 1. Makan diberikan dalam keadaan hangat 2. Cocokan diitnya dulu untuk mencegah kekeliruan 3. Makanan diberikan menurut instruksi dokter 4. Perhatikan apakah makanan habis atau tidak 5. Obat - obat yang harus diberikan sebelum makan jangan sanpai lupa Pemberian makanan pada penderita yang terpasang sonde / NGT Persediaan alat - alat : 1. Corong / spuit 2. Perrgalas 3. Bengkok 4. Plester 5. Gunting Plester 6. Makanan cair sesuai dengan kebutuhan 7. Air m.atang dalam tempatnya 8. Baki

2

Stikes Dian Husada

FORMAT PEMBERIAN MAKAN DAN MINUMUM PADA PASIEN
N o A 1 2 3 4 5 B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 KEGIATAN Penderita yang dapat makan sendiri Penderita mencuci tangan terlebih dahulu alat - alat disiapkan Penderita diberitahu Makan disiapkan di meja dan serbet/lap diberikan pada penderita Setelah selesai alat - alat dibawa ke dapur dan dibersihkan Perawat cuci tangan Terpenuhi kebutuhan dasar ( makan ) pasien Penderita dapat makan sendiri tetapi tidak diperbolehkan duduk Penderita mencuci tangan terlebih dahulu Alat - alat disiapkan Penderita diberitahu Penderita di miringkan sebaiknya ke sebelah kiri supaya dapat makan dengan tangan kanan Serbet diletakkan di dekat penderita Makanan di letakkan dekat dengan penderita Bila lauknya keras dapat kita potong - potong terlebih dahulu Sesudah selesai makan alat - alat dibereskan dan dibawa ke dapur Perawat cuci tangan Terpenuhi kebutuhan dasar ( makan ) pasien 1 2 3

1

Stikes Dian Husada N o C 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 KEGIATAN Memberi makan penderita yang disuapi Penderita mencuci tangan Alat - alat disiapkan Penderita diberitahu Posisi penderita senyaman mungkin Serbet dipasang diatas dada dibawah dagu Tanyakan apakan mau minum dulu atau tidak Perawat duduk disebelah kanan penderita untuk menyuapi Porsi kecil - kecil dan jangan tergesa - gesa Setelah selesai makan berilah minum, bibir dibersihkan dengan serbet Alat - alat dibereskan Perawat cuci tangan Terpenuhi kebutuhan dasar ( makan ) pasien 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMBERIKAN MAKAN MELALUI SONDE
N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 KEGIATAN Peralatan diletakkan ke dekat pasien Perawat cuci tangan Beritahu pasien tentang prosedur yang akan dilakukan Pasang corong pada ujung selang NGT Buka tutup selang NGT, tetapi tetap mempertahankan agar udara tidak masuk, dengan cara menekuk selang NGT Berikan sedikit air matang untuk membilas dan agar lambung tidak kaget menerima makanan cair yang akan diberikan Masukkan air matang kedalam selang tetapi sebelumnya selang dihubungkan dengan corong, jangan sampai habis agar udara tidak ikut masuk ke dalam selang, lalu tutup Buka selang dan masukkan makanan cair sesuai kebutuhan Kalau ada pemberian obat oral, haluskan dulu obatnya dengan martiI dan tempatnya kemudian dicampurkan pada makanan cair tcrscbut lalu masukkan ke dalam selang NGT secara pcrlahan - lahan, jangan sampai habis makanan yang ada di corong, lalu tutup Bilas dengan air matang 10 cc untuk membersihkan sisa - sisa makanan yang ada di selang, lalu tutup Mulut atau hidung dan sekitarnya dibersihkan dengan tissue Setelah selesai , pasien dirapikan Alat - alat dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula Perawat cuci tangan 1 1 2 3

1 1 1 2 1 3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

PEMASANGAN KATETER
Tujuan Umum . Mahasiswa mampu melakukan latihan pemasangan kateter kepada boneka peraga 'I'ujuan Khusus : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu : 1 Menyebutkan pengertian dari kateterisasi urinarius 2 Menyebutkan tujuan dari pemasangan kateter 3 Menyebutkan alat - alat yang diperlukan dalam pemasangan kateter 4 Mendemonstrasikan pemasangan kateter kcpnda boneka peraga Pengertian Kateter adalah suatu selang untuk memasukkan dan mengeluarkan cairan. Kateterisasi urinarius adalah memasukkan kateter melalui urethra ke dalam kandung kemih dengan tujuan untuk mengeluarkan urin ( Perry & Potter 1997 ). "tindakan kateterisasi dapat menyebabkan infeksi nosokomial, oleh karena itu sedapat mungkin, tindakan kateterisasi dihindarkan, kecuali bila sangat diperlukan, dan harus menggunakan teknik yang tepat. Bila melakukan kateterisasi kita harus mcmpunyai pengetahuan dasar tcntang sistem urinarius bagian bawah, yaitu : 1. Kandung kemih secara normal merupakan kantong yang steril 2. Sphingter urethra bagian luar tidak steril 3. Kandung kemih mempunyai mekanisme pertahanan sendiri, dapat mengosongkan urine sendiri secara teratur dan mempertahankan keasaman lingkungannya, yang bersifat anti bacterial yang dapat membantu kandung kemih tetap steril dan mencegah terjadinya infeksi 4. Kuman pathogen yang masuk ke dalam urethra dapat menyebabkan infeksi kandung kemih dan ginjal 1

Stikes Dian Husada 5. Kandung kemih yang normal tidak mudah terkena infeksi kecuali ada cedera. Pasien yang mempunyai daya tahan yang rendah akibat suatu penyakit atau stress yang berat merupakan predisposisi untuk infeksi saluran kencing. Bahaya yang dapat terjadi pada waktu melakukan kateterisasi adalah trauma, infeksi, dan sepsis ( Kozier, Erb, & Oliveri 1996 ). Pria memiliki resiko trauma dan infeksi yang lebih besar karena mempunyai urethra yang panjang. Suatu benda yang di dorong melalui penyempitan atau saluran yang tidak benar dapat menyebabkan kerusakan yang serius dari uretra. Pada wanita walaupun urethranya lebih pendek, apabila mendorong kateter melalui urethra yang sempit akan menimbulkan trauma. Selaput mukosa yang terdapat pada permukaan saluran urethra akan mengalami kerusakan akibat pemasukan kateter dan bakteri dapat masuk ke dalam kandung kemih melalui saluran kateter ataupun melalui ruang kateter dan dinding urethra. Indikasi tindakan kateterisasi : 1. Mengatasi retensi urine 2. Mengukur jumlah produksi urine oleh ginjal secara akurat 3. Untuk memperoleh bahan urine steril 4. Mengukur jumlah residu dalam kandung kemih 5. Memperoleh bahan urin bila tidak dapat ditampung dengan cara yang lain: menampung urin agar tidak terkontarninasi pada wanita yang sedang menstruasi; atau pada klien yang mengalami masalah inkontinensia urin 6. Mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama operasi dan sebelum suatu pemeriksaan diagnostic 7. Membantu memenuhi kebutuhan pasien untuk mengosongkan kandung kemih , yang digunakan bila pasien mengalami sakit yang akut, sakit yang hebat atau terbatas pergerakan atau tidak sadar akan lingkungan 1

Stikes Dian Husada 8. Menjaga agar kandung kemih tetap kosong dan penyembuhan luka pengobatan beberapa infeksi dan operasi suatu organ dari sistem urinarius dimana kandung kemih tidak boleh tegang sehingga menekan struktur yang lain 9. Menjaga agar pasien yang inkontinen tetap kering pada daerah perineum, agar kulit tetap utuh dan tidak infeksi 10.Membantu melatih kembali atau memulihkan pengendalian kandung kcmih secara normal Tipe Kateter : A. Nelaton kateter /" Straight catheter " / kateter sementara B. Folley catheter /" Indwelling catheter " / kateter tetap Folley catheter terbuat dari terbuat dari karet atau plastic yang mempunyai cabang 2 atau 3 ( yang terdapat satu balon yang dapat mengembang oleh air atau udara untuk mengamankan / menahan ujung kateter dalam kandung kemih, cabang yang lainnya untuk mengalirkan urin dari kandung kemih, cabang yang lainnya untuk mengalirkan urin dari kandung kemih dan itu dapat disambung dengan tabung tertutup dari kantong / urine bag ). Sedangkan pada kateter cabang 3, cabang yang ketiga digunakan untuk disambung ke irigasi dengan demikian cairan irigasi yang steril dapat masuk ke kandung kemih dan tercampur dengan urine dan akan keluar ke urine bag Ukuran kateter : Wanita dewasa Laki - laki dewasa Anak - anak Ukuran kateter : Panjang uretra ( cm ) Kateter no. 14 / 16 Kateter no. 18 / 20 Kateter no. 8 / 10 Wanita 3,7-7 1 Pria 13 - 20

Stikes Dian Husada Kateter yang masuk Yang diberi jelly 5-7,5 3-4 15-2,5 5-7,5

Persiapan alat - alat : 1. Set kateter 2. Urine bag 3. Sarung tangan steril 4. Set bengkok + pinset steril 5. Kapas + cairan sublimate 6. Jelly 7. Plester 8. Spuit + aqua steril 9. Alas / perlak alas 10.Handuk kecil + Waskom isi air hanga + sabun 11.Sampiran 12. Lampu 13. Perban

1

Stikes Dian Husada

FORMAT PEMASANGAN KATETER
N o A. 1 2 KEGIATAN 1 2 3

Pengkajian Kaji klien dan cek instruksi dokter Tentukan apakah menggunakan indwelling kateter atau straight kateter 3 Kaji kebutuhan untuk pengumpulan urine B. Perencanaan 1 Mencuci tangan 2 Memilih tipe dan ukuran kateter yang spesifik 3 Mengumpulkan alat - alat yang tepat C Implementasi 1 Perkusi dan palpasi kandung kemih untuk mengkaji adanya retensi urine 2 Persiapkan klien : • Identifikasi klien • Jelaskan prosedur kepada klien • Tarik tirai tempat tidur dan atur posisi a Pasien anak atau pasien sadar butuh bantuan b Pasien dewasa / wanita : posisi dorsala recumbent dengan lutut flexi 3 c Pasien dewasa / laki - laki : posisi supine dengan kaki abduksi 4 Cuci area genital - perineal dengan air hangat dan sabun Keringkan Persiapan alat : 5 • Persiapan urine bag 6 • Pasang perlak / alas pada klien 7 • Sediakan spuit isi aquadest 1

Stikes Dian Husada N o 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 D. 1 2 E KEGIATAN Pasang sarung tangan Lakukan VulVa hygiene atau perineal hygiene Buka set kateter dan berikan jelly di ujung kateter Masukan kateter sampai urine mengalir Ketika urine mengalir, pindahkan tangan yang tidak dominan dari labia atau dari penis ke kateter ,2 cm dari meatus untuk menahan kateter agar tidak terdorong keluar Tangan dorninan menghubungkan ujung kateter ke urine bag Jika menggunakan indwelling kateter , isi balon kemudian tarik kateter kira-kira 2,5 cm Lepas sarung tangan steril Plester kateter Pria: ke abdomen bagian bawah Wanita: ke arah paha Bantu pasien pada posisi yang nyaman Kumpulkan dan buang alat - alat yang sekali pakai, bersihkan alat - alat yang bukan sekali pakai Cuci tangan Evaluasi Indwelling kateter masuk secara benar, straight masuk dan dilepas tanpa menimbulkan rasa sakit Pasien nyaman Dokumentasi Tanggal dan waktu, tipe dan ukuran kateter, spesimen/ bahan urine yang didapatkan, jumlah urine, deskripsi urine, respon terhadap prosedur 1 1 2 3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

PEMBERSIHAN COLON DAN PEMBERIAN OBATOBATAN MELALUI ANUS
Beberapa macam : a. Huknah pembersih • Huknah rendah • Huknah tinggi a. Huknah perangsang : Huknah gliserin b. Huknah retensi : Huknah pengobatan Huknah makanan Pengertian : Huknah adalah memasukkan cairan kedalam poros usus melalui pelepasan atau anus dengan menggunakan irigator atau semprit gliserin_ Menggunakan cairan : 1. Air hangat 2. Air sabun hangat 15 gram dalam 1 liter 3. Larutan obat-obatan ( Dermatal, yatreen, garam bismuth ) 4. Larutan glukosa 5% atau NaCI 0,9 % Huknah pembersih : Ada dua macam : l. Huknah rendah 2.Huknah tinggi Huknah rendah : Tujuan : 1. Untuk merangsang peristaltik colon, supaya dapat buang air besar 2. Untuk membersihkan colon desenden Indikasi : 2

Stikes Dian Husada 1. Pada pasien obstipasi 2. Pada penderita sebelum dilakukan operasi 3. Pada penderita sebelum rectoscopy 4. Pada penderita sebelum pemeriksaan ronten tertentu 5. Penderita sebelum diberi huknah retensi Persiapan alat : 1. Irigator 2. Pipa karet 3. Rectal kanule 4. Air sabun hangat 5. Bengkok dua 6. Pengalas dan perlak 7. Vaselin 8. Salastop 9. Alat-alat untuk BAB • Yang perlu diperhatikan : a. Perhatikan keadaan umum pasien b. Perhatikan apakah jalannya cairan lancar c. Apakah huknah berhasil atau tidak • Perbedaan huknah rendah dan huknah tinggi :

A.

Huknah rendah: – Banyaknya cairan : ½ -1 liter – Tinggi irrigator : 25 - 30 cm – Posisi : miring kiri B. Huknah tinggi : ○ Banyaknya cairan : I - 2 liter. ○ tinggi irrigator :50 - 75 cm ○ Posisi : Miring kekanan

HUKNAH PERANGSANG ATAU SEMPRIT GLYSERIN.
Pengertian : Memasukkan sejumlah cairan glyserin biasanya dicampur dengan 1

Stikes Dian Husada minyak dengan perbandingan 1 : 1 ke dalam rectum melalui anus. Tujuan : a. Merangsang peristaltik usus. b. Melicinkan feses. c. Supaya pasien dapat BAB d. Memberi perasaan tenang dan senang pada pasien. Indikasi : a. penderita obstipasi b. untuk pemeriksaan Persiapan alat-alat : a. semprit gliserin b. bengkok c. alas dan kain pengalas d. mangkok berisi gliserin : • untuk orang dewasa : 15-20 cc • untuk anak-anak : 10 cc a. alat-alat untuk BAB Memberikan huknah tinggi Tujuan : Untuk membersihkan colon desenden, colon transversum dan colon ascenden dari feses. Indikasi : 1. penderita yang akan di operasi 2. penderita yang akan dilakukan rontgen terutama daerah abdomen dan colon Persiapan alat-alat : 1. sama seperti diatas 2. cairan sabun hangat 1,5 – 2 liter 3. darm canule Pelaksanaan : no

Kegiatan 1

1

2

3

Stikes Dian Husada 1 2 3 4 Sama seperti diatas hanya miringnya pasien ke kanan Darm canule dimasukkan sepanjang 15 cm Tinggi irigator 30 cm dari tempat tidur Air dialirkan perlahan selama 20 menit

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

Pelaksanaan N Pelaksanaan o 1 Perawat cuci tangan . 2 Alat - alat dipersiapkan. 3 Pasien diberitahu. 4 Hisap glyserin dengan semprit gliserin dan letakkan kedalambengkok. 5 Siapkan pasien seperti akan memberi huknah rendah. 6 Keluarkan udara dari canule. 7 Masukkan canule secara hati-hati , pasien dianjurkan tarik nafas panjang 8 Keluarkan canule dan letakkan dalam bengkok 9 Berikan pasu najis bila merasa mules 1 Cara kerja seperti membantu BAB. , 0 1 Alat- alat dibereskan , perawat cuci tangan 1 1 Hasilnya dicatat ,dan diperhatikan keadaan 2 pasien juga dengan semprit gliserin berhasil Keterangantidak atau : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

2

3

Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

HUKNAH RETENSI
Pengertian : Memberikan huknah makanan dan pengobatan Persediaan alat – alat a. Larutan Nacl 0,9 % suhu 40 derajat celcius. b. lrigator dengan perlengkapannya Pelaksanaan. N KEGIATAN o 1 Perawat cuci tangan 2 Pasien diberi tahu 3 Alat – alat dipersiapkan 4 Bila perlu sebelumnya diberi huknah 5 pembersih Cara kerja seperti memberi huknah rendah, 6 canul dimasukkan dengan hati- hati. 7 Tetesan dihitung, diatur 20 - 60 tetes / 8 menit. 9 Sebelum habis cairannya , ditutup. 10 Canul dikeluarkan dan masukkan dalam bengkok Alat- alat dibereskan . Perawat cuci tangan. Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

1

2

3

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

MEMANDIKAN PASIEN
Tujuannya : a. Memberikan perasaan segar b. Membersihkan c. Mencegah timbulnya luka dan komplikasi pada kulit d. Merangsang peredaran darah, otot - otot dan urat saraf bagian perifer e. Sebagai pengobatan f. Mendidik penderita dalam kebersihan perorangan Waktu mengerjakan : a. Secara rutin b. Sewaktu - waktu bila perlu : • penderita akan dioperasi • pasien baru yang sangat kotor Persediaan alat - alat : 1. 2 waskom berisi air bersih 2. Sabun ditempatnya 3. 2 waslap 4. Handuk 5. Kamper-spiritus dan talk 6. Tempat pakaian kotor Kontra indikasi : 1. Pada penyakit cacar, morbili 2. Penderita dalam keadaan panas Perhatian : 1. Selama bekerja perhatikan keadaan 2. Bila pakaian kotor, basah dan alat tenun kotor baru diganti 3. Setiap air kotor harus diganti 1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMANDIKAN ORANG DEWASA
N o 1 2 3 4 5 6 7 8 1 1 2 3 KEGIATAN PERSIAPAN ALAT Satu kom berisis air hangat / dingin 2 kantong pencuci Sabun mandi Sisir Sikat gigi, pasta gigi 1 handuk Pakaian Ember tertutup PERSIAPAN PASIEN Memberi tahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan PELAKSANAAN Memakai celemek Perawat mencuci tangan Sebelum mandi a. Membantu pasien menyikat gigi b. Membantu untuk buang air kecil / buang air besar Mencuci muka a. Letakkan handuk melintang dibawah kepala b. Mencuci daerah mata c. Mencuci daerah muka dan telinga ( k/p memakai sabun ), lalu dibilas dan dikeringkan Mencuci Lengan a. Pakaian atas dibuka b. Letak handuk melintang diatas dada c. Tangan diletakkan diatas handuk 1 1 2 3

4

5

6

Stikes Dian Husada d. Menyabuni tangan ( dari jari kearah ketiak ) e. Membilas dan mengeringkan Mencuci Dada a. Leak handuk melintang dibawah punggung b. Kedua tangan dikeataskan c. Menyabuni leher dan dada d. Membilas dada dan mengeringkan e. Memberi bedak tipis- tipis Mencuci Punggung a. Handuk tetap dibawah pungggung b. Pasien miring kekiri c. Menyabuni. Membilas dan mengeringkan d. Memberi bedak e. Bila keadaan rnemungkinkan boleh tengkurap Mencuci Kaki : a. Letak handuk memanjang dibawah kaki b. Menaggalkan pakaian bawah c. Lutut ditekuk d. Menyabuni kaki dari jari-jari kaki kearah paha e. Membilas dan megeringkan Mencuci bagian bawah depan : a. Letak handuk melintang dibawah bokong b. Sebagian handuk menutupi tubuh bagian bawah depan c. Mencuci tubuh bagian bawah depan. d. Membilas dan mengeringkan e. Memberi bedak tipis – tipis Mencuci Bagian Bawah Belakang : a. Handuk tetap melintang dibawah bokong 1

7

8

9

1 0

1 1 1 2

Stikes Dian Husada 1 3 1 4 1 5 b. Pasien miring kekiri c. Menyabuni, membilas dan mengeringkan d. Memberi bedak e. pasien miring kekanan f. menyabuni membilas dan mengeringkan memberi bedak Mengenakan pakaian bagian bawah Menyisir rambut Merapikan tempat tidur Mengembalikan alat - alat Mencuci tangan

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMANDIKAN BAYI
N o A 1 2 3 4 5 6 7 B 1 2 C 1 2 3 4 5 KEGIATAN PERSIAPAN ALAT Alkohol 70% dan Betadine 10 % dalam tempatnya Kassa dan kapas steril dalam tempatnya Korentang dalam tempatnya Perlengkapan pakaian bayi ( gurita, popok, baju ) Pengikat tali pusat steril Aquadest steril Gunting Verband PERSIAPAN PASIEN DAN LINGKUNGAN Melakukan pendekatan molalui anak atau keluarganya Untuk bayi diselimuti kain khusus atau digedong PELAKSANAAN Kassa Pembungkus tali pusat ditetesi Aquadest dan dibuka Bersihkan tali pusat dengan kapas alkohol mulai dari ujung sampai pangkal tali pusat dan daerah sekitarnya dengan diameter cm Olesi tali pusat dengan betadine dengan cara yang sama seperti diatas Tali pusat selanjutnya dibungkus kasa steril dan difiksasi dengan gurita Pakaian bayi dikenakan dan selanjutnya dirapikan, kemudian dibaringkan dengan posisi sesuai kebutuhan 1 1 2 3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

PEMELIHARAAN RAMBUT
Pemeliharaan Rambut meliputi : 1. Mencuci rambut 2. Menyisir rambut 3. Memasang kap kutu Pemeliharaan rambut sangat penting, sebab dapat : 1. Mencegah rontoknya rambut 2. Mencegah timbulnya kutu rambut 3. Mencegah infeksi pada kulit kepala 4. Kelihatan rapi, bersih dan bercahaya 5. Memberi perasan senang dan segar A. MENCUCI RAMBUT Artinya : Menghilangkan kotoran - kotoran yang ada / melekat di rambut serta kulit kepala, dengan menggunakan : shampo ( obat untuk mencuci ram but ) dan di bilas dengan air yang bersih Tujuan : a. Untuk menghilangkan bau pada rambut dan memberi rasa segar b. Untuk membersihkan kulit kepala dan rambut dari kotoran kotoran c. Untuk merangsang peredaran darah dibawah kulit kepala d. Memberi perasaan senang pada penderita dan rasa segar Waktu : a. Bila rambut kelihatan kotor b. Pada penderita - penderita yang akan menjalani operasi c. Setelah mengerjakan perasat memasang kap kutu Persediaan alat - alat : Baki berisi : 1

Stikes Dian Husada 1. 2 buah handuk 2. Perlak pengalas 3. Talang karet 4. 2 buah sisir 5. Waskom yang berisi air hangat dan sarung 6. Shampo, kapas, dan kassa + 7. Kom kosong 8. Ember kosong 9. Kain pel 10.Bengkok berisi larutan lysol 2 - 3 % 11.Celemek 12.Gayung 13.Head band (pengganti waslap tutup mata ) B. Menyisir Rambut Artinya: Mengatur rambut supaya kelihatan rapi dan rajin Tujuan : a. Memberikan perasaan senang pada pasien b. Merangsang kulit kepala c. Mencegah bersarangnya kutu – kutu rambut d. Agar rambut terpelihara dengan baik Waktu : a. 2 kali sehari b. Bilamana perlu untuk konsultasi Persediaan alat - alat : Baki berisi : a. Sisir b. Karet gelang, bila rambut pasien panjang c. Bengkok berisi larutan air lysol 2 % d. Handuk e. Minyak rambut b/p 1

Stikes Dian Husada C. MEMASANG KAP KUTU Artinya : Menggosokkan obat kutu pada rambut dan kepala penderita kemudian membungkusnya dengan kap untuk mematikan kutu - kutu rambut serta telur – telurnya Tujuan : a. Memusnahkan kutu - kutu serta tetur - telurnya b. Menghindari penderita dari luka -- luka di kepalanya c. Menccgah penularan kutu - kutu rambut dari penderita ke penderita yang lain, serta menjaga kebersih rambut Waktu : a. Bila keadaan penderita mengijinkan b. Bila penderita / pada penderita yang mempunyai kutu rambut Macam - macam obat kutu : a. Peditok b. Cuka 3 % c. D.D.T ( Diclor Difenil Trichloretan ) 5 % • Rambut yang diserang kutu disebut : Pedisculo Persediaan alat - alat : a. Pengalas dari karet b. Kom berisi obat pembasmi kutu c. Kertas koran d. Sisir kutu ( serit ) e. Bengkok dalam lanrtan lysol 2% f. Ember berisi larutan lysol 2 % Perhatian : harus memperhatikan keadaan pasien

2

Stikes Dian Husada

FORMAT MENCUCI RAMBUT
N o KEGIATAN 1 2 3

1

Stikes Dian Husada 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 Dekatkan alat - alat yang telah disiapkan Cuci tangan Berdirilah di sisi kanan / kiri klien Beritahu klien bahwa akan dilakukan mencuci rambut Pasang celemek Pasang perlak dan handuk dibawah kepala klien Pasang talang di bawah kepala klien dan arahkan ke ember yang kosong Letakkan kain pel di bawah ember kosong tersebut Sumbatlah telinga klien dengan kapas dan kenakan head band ( dari handuk ) pada dahi pasien Tutup dada dengan handuk sampai leher Sisirlah rambut kemudian di siram dengan air hangat memakai gayung Tuangkan shampo pada kain kassa, gosokkan pada pangkal rambut, setelah itu lakukan massage dengan ujung lain Bilaslah rambut sampai bersih dan kemudian keringkan Angkat talang dan masukkan ke dalam ember yang telah dikosongkan dari air buangan kemudian letakkan handuk penutup dada ke dalam baki Atur pasien ke posisi semula dengan cara mengangkat kepala dan alas kepala di atas rambut Sisirlah rambut pasien dan biarkan kering atau dengan menggunakan hair dryer Buka celemek dan masukkan ke dalam ember Rambut bersih Pasien dan tempat tidur rapi Alat - alat dibereskan dengan baik 1

Stikes Dian Husada 1 8 1 9 2 0 2 1 Perawat cuci tangan

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

FORMAT MENYISIR RAMBUT
N o 1 2 3 4 5 6 7 KEGIATAN Perawat cuci tangan Alat – alat disiapkan Penderita terlebih dahulu diberitahu Handuk diletakkan di bawah kepada penderita yang terbaring/ penderita duduk pada penderita yang sudah boleh duduk Bila rambut kusut dapat diberi minyak rambut dahulu Rambut dibagi menjadi dua, kemudian disisir sedikit demi sedikit dari ujung pangkal Setelah rambut licin, rambut di ikat dengan karet gelang dan pada rambut yang panjang bisa dijalin dng rapi serta diikat dengan karet gelang pada pangkalnya Bila rambut rontok , masukkan ke dalam bengkok berisi larutan lysol Sisir dibersihkan yang bersih dan handuk diangkat Alat – alat kerja dirapikan atau diangkat Perawat cuci tangan 1 2 3

8 9 1 0 1 1

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

MEMELIHARA KEBERSIHAN MULUT
Pemeliharaan kebersihan mulut meliputi : a. Menyikat gigi b. Membersihkan mulut c. Memelihara gigi palsu • Mulut adalah rongga lonjong pada permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas dua bagian ; a. Bagian luar yang sempit yaitu : ruang diantara gusi serta gigi dengan bibir, , dan pipi b. Bagian dalam yaitu : rongga mulut yang di batasi di sisi - sisinya oleh tulang maxsilaris dan semua gigi di sebelah belakang bersambung dengan awal faring • Atap mulut dibentuk oleh palatum : bagian dalam dari mulut seluruhnya dilapisi oleh selaput lendir dan selalu dalam keadaan basah oleh air ludah yang dihasilkan dari kelenjar ludah • Jika ada sisa - sisa makanan yang tertinggal di dalam selasela di rongga mulut maka akan menyebabkan mulut menjadi kotor dan menimbulkan infeksi A. MENYIKAT GIGI Artinya : Membersihkan gigi dari sisa - sisa kotoran makan yang melekat di sela- sela atau pada gigi , dengan mempergunakan sikat gigi Tujuannya : a. Memberikan perasaan segar pada penderita b. Supaya mulut dan gigi tidak berbau atau bersih c. Mencegah terjadinya stomatitis dan caries Wakt u : a. Bila gigi –gigi kotor b. Sesudah makan 1

Stikes Dian Husada Persediaan alat - alat Baki bertsi : a. Sikat gigi b. Handuk c. Gelas berisi air bersih dengan pengisapnya d. Bengkok Kontra indikasi : Penderita payah Perhatian : a. Bila penderita tidak dapat menyikat gigi sendiri maka dilakukan oleh perawat b. Bekerja dengan hati - hati untuk mencegah perdarahan c. Selama bekerja perhatikan keadaan penderita B. Membersihkan Mulut Artinya ; Membersihkan mulut dan gigi dari kotoran dengan menggunakan kassa atau lidi kapas Tujuannya : a. Mencegah Infeksi b. Memberikan perasaan senang Dilakukan pada : a. Penderita yang tidak dapat mempergunakan sikat gigi, karena stornatitis yang hebat Persedian alat - alat : Baki berisi : a. Handuk b. Gelas kumur berisi air masak / air garam c. Boraks gliserin 10 % dalam tempatnya d. Tong spatel e. Lidi kapas f. Bengkok g. Kassa h. Bila perlu gentian violet 2

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMBERSIHKAN MULUT
N o 1 2 3 4 KEGIATAN Kaji keadaan mulut dan gigi pasien, juga daerah sekitar meleputi kebersihan dan kelainan kelainan yang ada Tentukan rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan / kondisi pasien Jelaskan pada pesien tentang apa yang akan dikerjakan Persiapan alat - alat yang diperlukan di atas baki beralas atau meja dorong, sebagai berikut : • gelas air hangat untuk kumur- kumur • 1 buah pemangkas dalam keadaan tergulung • 1 buah bengkok untuk tempat kotoran • Sudip lidah yang ujungnya dibungkus kain kasa untuk menekan dorsum • Tissue secukupnya untuk mengeringkan sekitar mulut • 1 buah pinset anatomi untuk menjepit deppers • Lidi kapas secukupnya bila perlu • Gentian violet untuk mengulas stomatitis ( bila ada ) • Boraks gliserin tidak bisa kumur, tambahkan : Mesin suction / slym suicker untuk menghisap sekret / cairan yang ada dirongga mulut Air hangat sekitar 30 - 50 cm datam spuit untuk membasahi bagia - bagian mulut • Jika pasien memakai gigi pa1su, 1 1 2 3

5 6

Stikes Dian Husada tambahkan ; – ( satu ) buah kom / handuk 7 8 9 1 ( satu ) sikat gigi Pasta / serbuk gigi 1 ( satu ) tempat unluk gigi palsu • Jika semua alat tclah siap, bawa ke dekat pasien Perawat cuci tangan Atur posisi pasien miring semi fowler dengan kepala miring menghadap perawat, jika tidak bisa tidur dengan kepala miring menghadap perawat, jika tidak bisa tidur dengan kepala miring berada di pinggir bantal. Pasang pengalas dibawah dada sampai dagu, lalu letakkan bergkok di bawah pipi Untuk pasien yang tidak sadar Posisi pasien miring, bertumpu pada perut / pinggang, kepala lebih rendah dari dada Pengalas dipasang di bawah kepala dan leher, bengkok diletakkan di bawah dagu dan mulut Ambil air untuk berkumur, bantu pasien untuk berkumur, buang ke dalam bengkok, Bila pasien tidak bisa berkumur / tidak sadar : letakkan suction di bawah lidah, Amhil spetel dengan tangan kiri untuk menekan dorsum hingga mulut terbuka, kemudian ambil spuit yang berisi air deng an tangan kanan, semprotkan sedikit sedikit di sisi mulut yang atas, letakkan spuit, tekan / hidupkan mesin suction atau bila tidak ada hisap dengan suction kemudian untuk sisi mulut yang bawah.semprotkan air ke seluruh bagian mulut dengan tangan kanan lalu letakkan, hisap kembali airnya Tangan kiri tetap menekan lidah dengan 2

1 0

1 1

1 2 1

Stikes Dian Husada 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 spatel, ambil pinset anatomi dengan tangan kanan, jepit 1 buah deppers, basahi dengan air garam, bersihkan palatum atas dengan deppers kotor ke bengkok. Ambil lagi deppers dengan pinset basahi dengan air garam, bersihkan geraham kanan dan kiri atas dengan gerakan bawah kiri dan kanan, gigi bawah kiri dan kanan, lidah lalu bibir dengan gerakan yang sama Ganti setiap deppers yang kotor, buang kedalam bengkok, jangan lupa basahi dengan air garam dulu, jika ada air yang menggenang di rongga mulut (untuk pasien tidak sadar) hisap dengan selang suction Kegiatan seperti no 7 Keringkan sekitar mulut dengan tissue, bila bibir pasien kering olesi dengan boraks gliscrin menggunakan lidi kapas Bengkok diangkat, pengalas digulung kembali, alat-alat lain disimpan kcmbali ke baki / meja dorong Setelah semua tindakan selesai atur kembali posisi pasien sesuai dengan kebutuhan Untuk pasien tidak sadar Biarkan dulu dengan posisi awal, sekitar 20 menit setelah prosedur, baru posisi diperbaiki Perawat cuci tangan Untuk pasien yang memiliki gigi palsu 1. Sebelum membersihkan mulut, gigi palsu dilepas dulu setelah berkumur anjurkan pasien untuk melepas gigi palsunya, jika tidak bisa perawat membantu: – Pegang bagian atas gigi palsu dengan kasa atau tisu, gerakan keatas dan 2

Stikes Dian Husada kebawah pelan -- pelan, bila sudah terasa longgar, lepaskan ulangi dengan gigi palsu Yang bawah dengan cara yang sama 1. Setelah mulut dan sekitarnya dibersihkan, bersihkan gigi palsu dengan cara: – Ambil gigi palsu bagian atas dengan tangan kiri, siram dengan air hangat diatas baskom. – Kemudian dengan tangan kanan ambil sikat gigi yang sudah diberi pasta / serbuk gigi. Bersihkan seluruh pcrmukaan gigi palsu mulai dari belakang ke depan dengan gerakan keatas dan kebawah – Setelah seluruh permukaan gigi dibersihkan, bilas dengan air hangat, lalu keringkan dengan tisu, simpan. – Ulangi 2. Pasang kembali gigi palsu dengan cara: Masukkan gigi palsu bagian bawah terlebih dahulu, letakkan di gusi lalu ditekan – tekan seluruh permukaan gigi pelan – pelan Pasang gigi palsu bagian atas dengan cara yang sama 2

1 9 2 0 2 1 2 2

Stikes Dian Husada Mulut pasien bersih Pasien merasa aman dan nyaman Alat – alat bersih dan rapi kembali ketempat semula Perawat cuci tangan Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MENGGOSOK GIGI
N o 1 2 KEGIATAN Kaji keadaan gigi dan sekitarnya, meliputi bentuk, kebersihan dan kelainan – kelainan yang ada Tentukan rencana tindakan sesuai dengan kondisi pasien, jika pasien mampu menggosok gigi sendiri, perawat mendampingi pasien saat membersihkan giginya, jika tidak mampu perawat membantunya Jelaskan pada pasien tujuan menggosok gigi dan apa saja yang akan dikerjakan Persiapan alat - alat yang diperlukan di dalam baki beralas atau meja dorong, sebagai berikut : ○ 1 buah pengalas dalam keadaan tergulung ○ l buah bengkok untuk tempat buangan air kumur ○ 1 gelas air hangat untuk kumur-kumur ○ I buah Sikat gigi yang sudah di beri 1 1 2 3

3 4

5 6 7 8

Stikes Dian Husada 9 1 0 pasta secukupnya ○ Tissue secukupnya untuk mengeringkan sekitar mulut ○ 1 buah sudip lidah yang ujungnya dibungkus kassa ( jika pasien sulit membuka mulut ) ○ batang lidi secukupnya ( bila perlu ) ○ Setelah semua alat siap, dibawa ke dekat pasien, perawat cuci tangan, pasang sampiran bila perlu Atur posisi pasien jika bisa pasien setengah duduk Jika tidak pasien tidur dengan posisi kepala lebih tinggi Pasang pengalas diatas dada sampai dibawah dagu Ambil air hangat, bantu pasien kumurkumur, buang air kumur ke dalam bengkok Anjurkan pasien untuk membuka mulutnya 2

1 1

1 2 1 3 1 4 1 5

Stikes Dian Husada jika tidak bisa ambil sudip lidah dengan tangan kiri, letakkan pada dorsum, tekan hingga mulut terbuka Dengan tangan kanan, ambil sikat gigi yang tclah diberi pasta, pegang sikat gigi 45 dcrajat dari sikat gigi, bersihkan gigi geraham, atas kiri lalu kanan, dari belakang ke depan dengan gerakan dari bawah ke atas lalu putar keluar dari dalam, kemudian gigi bagian bawah dengan cara yang sama, sikat gigi dipegang sejajar dengan gigi atas Beri pasien air untuk berkumur, lalu buang ke dalam bengkok, ulang sampai bersih dan pasien merasa segar Jika masih ada sisa makanan di sela gigi, bersihkan sela gigi dengan benang. ○ gulung benang di antara jari kiri dan kanan ○ pegang dan rentangkan dengan ibu jari kiri dan kanan dengan jarak sekitar 10 cm ○ Masukkan benang di sela gigi mulai dari belakang ke depan Keringkan sekitar mulut dengan tisu, buang ke bengkok Bengkok diambil alat dibersihkan Atur posisi pasien perawat cuci tangan 2

Stikes Dian Husada Gigi bersih, pasien merasa nyaman Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

VULVA HYGIENE
Artinya : Membersihkan alat kelamin wanita bagian luar Tujuan : 1. Memberikan rasa nyaman pada penderita 2. Mencegah infeksi 3. Memperlancar keluarnya lochea 4. Menjaga agar vulva dan perineum tetap kering Dilakukan : 1. Rutin pada penderita yang habis melahirkan 2. Penderita yang payah 3. Sewaktu - waktu bila diperlukan Persediaan alat - alat Baki berisi : 1. Bak instrumen yang berisi bahan steril : ✔ Pinset ✔ Sarung tangan / Hand scoon ✔ Kapas sitblimat atau kapas lysol 1/2 % ✔ Atau larutan PK 1/4000 Yang direndam 24 jam sebelumnya 2. Bengkok 3. Pot 4. Botol berisi larutan lisol 1% atau PK 1 : 400 Bila untuk penderita habis melahirkan persedan ditambah : 1. Lidi kapas steril 2. Obat merah sulfa puder atau betadin salep 3. Duk 4. Gurita dan stik laken bila perlu 1

Stikes Dian Husada

FORMAT VULVA HYGIENE
N o 1 2 3 KEGIATAN Alat alat dibawa kedekat pasien Memasang sampiran Menutup badan pasien dengan kain penutup, kemudian pakaian bawah pasien dikeataskan. Bengkok diletakkan disela – sela paha pasien dengan terlebih dahulu mengatur posisi pasien (DR). Dengan sarung tangan steril / kapas sublimat, membuka labia mayora, membersihkan vulva bagian luar dengan kapas sublimat satu arah dari atas kebawah, kapas dipakai satu kali kemudian dibuang ke bengkok Catatan: Kapas sublimat diambil dengan menggunakan pinset steril Minimal dilakukan sekali atau sampai dianggap bersih Pakaian dirapikan Alat – alat dibersihkan Perawat cuci tangan Pasien merasa aman dan nyaman 1 2 3

4 5 6 7 8

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

MENGGANTI ALAT TENUN ("BED MAKING")
Tujuan Umum : Mahasiswa mampu melakukan latihan mengganti alat tenun Tujuan Khusus : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapk.an mampu : 1. Menyebutkan pengertian mengganti alat tenun atau "bed making" 2. Menyebutkan tujuan dan mengganti alat tenun 3. Menyebutkan alat - alat yang diperlukan 4. Mendemonstrasikan latihan mengganti alat tenun Pengertian : Mengganti alat tenun kotor dengan alat tenun yang bersih pada tempat tidur klien dengan klien di atas tempat tidur dan pada tempat tidur kosong Tujuan : 1. Untuk memberikan lingkungan yang bersih, tenang dan nyaman 2. Untuk menghilangkan hal yang dapat mengiritasi kulit dengan menciptakan alat tidur dan selimut yang bebas dari kotoran / lipatan 3. Untuk meningkatkan gambaran diri dan harga diri klien dengan menciptakan tempat tidur yang bersih, rapi dan nyaman 4. Untuk mengontrol penyebab mikroorganisme Alat - alat : 1. Alas kasur 2. Laken 3. Perlak 4. Steek laken (sprei melintang ) 5. Boven laken ( sprei alas ) 1

Stikes Dian Husada 6. Selimut 7. Sarung bantal 8. Over Iaken ( Sprei penutup )

Tempat tidur dan perlengkapannya : a. Macam - macam tempat tidur • Menurut bentuknya 1. Biasa 2. Yang dapat dirubah posisinya 3. Beroda • Menurut bahannya : 1. dari kayu 2. dari besi • Ukuran tempat tidur : Panjang : 190 cm Iebar : 90 cm Tinggi : 70 cm • Syarat tempat tidur yang baik : 1. Kuat dan tahan lama 2. Mudah dibersihkan dan dihapus hamakan 3. Mudah untuk merawat pasien Tempat tidur harus diletakkan sedemikian rupa sehingga penderita tidak terkena angin atau cahaya yang menyilaukan. b. Macam – macam kasur 1. dibuat dari kain tenun berisi kapuk atau sabut kelapa 2. karet busa 3. kasur ukuran disesuaikan dcngan tempat tidur, tebalnya 10 cm c. Bantal : 1. Ukurannya 60 x 45 cm 2. Isi dapat dari bahan kapuk atau busa d. Alas kasur: 1. Terbuat dari tenun, karet atau plastik 1

Stikes Dian Husada 2. Pada ke-empat ( 4) ujungnya dibagi tali - tali mengikat Guna : Untuk melindungi kasur supaya tidak kotor e. Sprei atau laken ; Gunanya untuk : 1. Untuk menutup kasur bagian atas 2. Ukurannya lebih besar dari ukuran kasur 2,80 x 2 meter f. Perlak atau Zeil : ' Ukurannya : I meter + dengan 50 cm kain balaso pada kedua belah sisinya. Gunanya : Melindungi sprei dan kasur agar tidak mudah basah dan kotor g. Steek laken Ukurannya : 2 x 1,20 meter Gunanya : Melindungi penderita dari perlak dan menutup perlak supaya kelihatan rapi h. Boven laken : Ukurannya : 2,60 x 2,10 meter Gunanya : Untuk melindungi selimut supaya tidak kotor i. Selimut : Dapat terbuat dari bahan wool, flanel atau katun Gunanya : untuk memberi rasa hangat pada pcnderita j. Sarung bantal : Bahan dapat digunakan dari katun Ukurannya : 70 x 50 cm k. Over laken : • Gunanya : Untuk menutup tempat tidur • Ukurannya : 2,5 x 2 meter

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMPERSIAPKAN TEMPAT TIDUR
N o 1. KEGIATAN Siapkan alat tenun yang diperlukan di atas / meja dorong, yang telah di lipat dan di susun menurut urutan pemakaian ( dari atas ) sebagai berikut : • Alas kasur • Perlak • Sprei melintang ( Steek laken ) • Sprei alas ( Boven laken ) . • Selimut • Sarung bantal • Sprei penutup ( Over laken ) Dekatkan alat - alat tenun yang diperlukan Perawat cuci_tangan Pasang alas kasur dan ikatan tali - talinya ke arah dalam rangka pada tiap sudut Letakkan sprei dengan lipatan panjang yang menentukan garis tengahnya di tengah tengah tempat tidur Masukkan sprei pada bagian kepala 25 cm ke bawah kasur, kemudian buat sudut 45 Masukkan sprei pada bagian kaki 25 cm ke bawah kasur dan buat sudut 45 Masukkan sprei bagian sisi ke bawah kasur ( posisi perawat berdiri ) Letakkan perlak melintang 50 cm dari garis kasur bagian , kepala, demikian juga steek laken, dan masukkan sama - sama ke bawah kasur Letakkan boven laken secara terbalik dengan jahitan lebar di bagian kepala, mulai dari garis kasur kemudian masukkan bagian kaki k.e 1 1 2 3

2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1

Stikes Dian Husada 1 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 bawah kasur Lipat selimut 25 cm dari garis kasur bagian kepala dan masukkan bagian kaki ke bawah kasur Lipat boven laken bagian atas tepat di atas garis selimut Masukkan bantal ke dalam sarungnya dan letakkan bantal dengan yang tertutup ke jurusan pintu Selesaikan bagian sisi yang lain, seperti sisi yang tadi Pasang sprei penutup Perawat cuci tangan Perhatikan kembali apakah alat - alat tenun sudah tegang dan rata Apakah alat – alat tenun yang terselip ke bawah alas kasur dengan tegang dan rata

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 2

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MENGGANTI ALAT TENUN DENGAN PASIEN DI ATASNYA
N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 KEGIATAN Menjelaskan prosedur pada klien Kaji status pasien dan rencana tindakan keperawatan yang dilakukan Lihat keadaan alat - alat tenun yang kotor dan perlu diganti Komunikasi rencana tindakan yang akan dilakukan, jelaskan maksud dan tujuannya Siapkan alat dan bahan yang diperlukan di atas baki / meja .dorong Cuci tangan Angkat selimut lalu masukkan ke dalam tempat pakaian kotor Miringkan pasien bila tidak dapat miring sendiri dibantu seorang perawat lagi yang memegang atau menahan bahu dan paha pasien dari sisi lain. Tempatkan bantal di bawah kepala pasien Lepaskan alat tenun dari bawah kasur di mana perawat berdiri Gulung steek laken sampai ke punggung pasien Bersihkan perlak dengan lap yang dicelupkan ke dalam larutan lysol, lalu bersihkan dengan air bersih, kemudian keringkan dan tutupkan sampai ke punggung pasien ( bila perlu perlak diganti ) Gulung sprei sampai ke punggung pasien 1 1 2 3

13 14 15

Stikes Dian Husada 16 17 18 Bersihkan kerangka tempat tidur sebelah tempat perawat berdiri Bentangkan sprei bersih memanjang dengan lipatan tengahnya tepat pada bagian tengah tempat tidur Masukkan sprei bagian kepala dan kaki ke bawah kasur kemudian buat sudut dan masukkan bagian sisi ke bawah kasur Bentangkan kembali perlak yang ditutupkan pada punggung pasien Pasang steek laken bersih dan bersama dengan perlak masukkan ke bawah kasur, cara membentangkan seperti memasangkan sprei Terlentangkan pasien kemudian miringkan ke sisi lain Perawat pindah ke sisi lain dan bawa alat-alat pembersihan Lepaskan alat tenun dari bawah kasur Angkat steek laken yang kotor, kemudian masukkan ke tempat pakaian kotor. Bersihkan perlak seperti cara diatas kemudian masukkan ke tempat pakaian kotor Angkat sprei kotor, kemidian masukkan ke tempat pakaian kotor. Bersihkan kerangka tempat tidur seperti diatas Menarik sprei bersih pada punggung pasien, lalu bentangkan sampai rata. Terlentangkan pasien kemudian miringkan ke sisi lain Perawat pindah kc sisi lain dan bawa alat-alat pcmbcrsihan Lepaskan alat tenun dari bawah kasur, 2

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Stikes Dian Husada 32 33 34 35 Ganti dengan yang bersih lalu letakkan di bawah kepala pasien Menarik perlak Menarik steek laken yang kotor dengan yang bersih (caranya seperti memasang selimut mandi ) Masukkan sprei, perlak, steek laken bagian sisi serta bagian kepala ke bawah kasur Rapikan pasien Bersihkan dan kembalikan alat-alat Periksa keadaan pasien apakah tetap baik setelah bekerja Pastikan apakah alat-alat tenun sudah terlentang rata dan tidak terdapat lipatan

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

PEMELIHARAAN LINGKUNGAN PENDERITA
1. Melawa - lawa Artinya : Membersihkan sarang laba-laba, debu kotoran yang ada pada dinding dan langit - langit Tujuan : 1. supaya ruangan tetap. terpelihara dan bersih 2. mencegah penularan 3. supaya menyenangkan dan sedap dipandang mata baik olch penderita, petugas dan orang lain Waktu pembersihan : 1. dilakukan setiap hari atau bila perlu dan kelihatan kotor 2. pada waktu pembersihan besar / kerja bakti Persediaan alat-alat : a. sapu sarang laba - laba / sapu ijuk b. kain scgi tiga untuk tutup kepala c. celemek / baju d. masker e. lap bersih 2. Menyapu Persediaan alat : a. sapu lantai dan baskom bcrisikan air b. serok sampah dan tempat sampah 1. Mengepel Persediaan alat : a. kain pel 2 buah b. tangkai pengepel c. ember berisi larutan creolin 1

Stikes Dian Husada d. ember berisi air bersih

FORMAT HYGIENE LINGKUNGAN A. MENYAPU
N o 1 2 3 5 6 7 8 KEGIATAN Lantai diperciki dahulu dengan air, jangan terlalu basah, hal ini supaya debu jangan beterbangan. Kemudian ruangan disapu dari arah sudut menuju keluar Sampah dikumpulkan di dekat pintu kemudian diserok dan di buang ke tempat sampah Bila ada kotoran yang besar-besar, misalnya : kulit jeruk, kulit pisang langsung dimasukkan dalam serok. Alat-alat di bersihkan dan dikembalikan ketempatnya Lantai dalam keadaan bersih Perawat cuci tangan 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

1

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT HYGIENE LINGKUNGAN A. MENGEPEL
N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 KEGIATAN Kain pel dimasukkan ke dalam larutan creolin, kemudian diperaskan tetapi jangan terlalu kering Kemudian dipasang pada tongkat pengepel Mengepel dari sudut kemudian ke bagian tengah Kain pel harus dibilas atau dibersihkan dalam ember air bersih kemudian dimasukkan ke dalam larutan creolin, diperas dan dipakai lagi Hal ini dilakukan berulang kali sampai lantai bersih Jika larutan creolin kelihatan kotor harus diganti Setelah selesai semua alat-alat dibersihkan dan dijemur, kemudian dikembalikan pada tempatnya Lantai dalam keadaan bersih Perawat cuci tangan 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

FORMAT HYGIENE LINGKUNGAN A. MELAWA – LAWA
No 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 KEGIATAN Cuci tangan Penderita dan alat-alat yang dapat diangkut di bawa keluar dan untuk alat-alat yang tidak bisa diangkat ditutup dengan kain penutup koran atau Baju atau celemek dipakai, kepala dibungkus atau ditutup dengan kain segitiga dan bila perlu memakai masker Sapu sorong laba-laba yang dibungkus dengan lap basah Langit-langit disapu dari sudut menuju ke tengah, atau bisa dari ruangan yang tidak begitu kotor lebih dahulu Pada pembersihan dinding kamar dari atas ke bawah kemudian bagian dinding bawah dibersihkan memakai sapu ijuk Kain segitiga dan maske dibuka kemudian dilanjutkan dengan menyapu dan mengepel Langit-langit dan dinding dalam keadaan bersih Perawat cuci tangan 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

FORMAT HYGIENE LINGKUNGAN A. MELAP KACA
N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 KEGIATAN Cuci tangan Terlebih dahulu kayunya dibersihkan dengan larutan sabun dan dibilas dengan air bersih Bersihkan kacanya dengan lap larutan sabun hangat dari sudut menuju ke bagian tengah Bila ada kotoran yang tidak bisa hilang, dibersihkan dengan silet Kemudian dibersihkan dengan lap bersih dan dikeringkan Dengan lap tua yang diberi spiritus bakar digosok pada kaca atau dapat pula memakai kertas koran Alat-alat disimpan dan dibersihkan pada tempatnya 1 2 3

Perhatian :  Bila air kotor segera diganti  kaca jangan sampai pecah 9 Keterangan (harus hati-hati) : 1 : dilakukan sendiri  jangan sampai menimbulkan 2 : tidak dilakukan goresan silet pada kaca 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Perawat cuci tangan
Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

MEMBANTU AMBULASI
Ambulasi klien Ambulasi atau gerakan untuk berjalan merupakan suatu fungsi yang perlu untuk dibantu. khususnya bagi klien yang berada pada kondisi sakit atau ditempat tidur yang mengalami immobilisasi. Masa perawatan yang semakin lama akan semakin menurunkan kemampuan berjalan. Klien yang berada pada tempat tidur 1- 2 hari berturut - turut akan menjadilemah dan tidak siap dan gemetar pada saat pertama kali bangun dan turun dari tempat tidur . Begitu pula pada klien yang mengalami pembedahan, klien lansia atau klien dengan immobilisasi dalam waktu lama akan merasa.sangat lemah Resiko masalah immobilisasi akan dapat dikurangi apabila klien untuk ambulasi sesegera mungkin.Perawat dapat membantu klien untuk mempersiapkan ambulasi dengan membantu mereka pada tingkat kemandirian yang mungkin dicapai pada saat klien masih di tempat tidur. Perawat harus memberikan dukungan pada klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari, menjaga posisis tubuh yang benar dan melakukan latihan ROM ( Range Of Motion)sampai mencapai batas kemampuan maksimal dengna tetap memperhatikan pembatasan sesuai dengan penyakit dari program pemulihan. Mengajarkan klien Menggunakan Alat Bantu JalanMekanik : Tujuan : 1. Meningkatkan kekuatan otot, pergerakan sendi dan kemampuan mobilisasi. 2. Menurunkan resiko komplikasi immobilisasi 3. Menurunkan ketergantungan klien terhadap orang lain 4. Meningkatkan rasa percaya diri klien Klien mungkin memerlukan bantuan/asistensi berupa dukungan sesudah kondisi immobilisasi atau memerlukan alat bantu ambulasi. 1

Stikes Dian Husada Bermacam-macam alat bantu tersedia untuk membantu ambulasi. Terdapat beberapa tingkatan alat bantu mobilisasi yaitu tongkat, dengan sport minimal, serta kruk dan alat bantu jalan ( walker ) yang dapat digunakan oleh klien apabila ekstremitas bawahnya tidak dapat menopang anggota badan-sepenuhnya Pemilihan alat yang tepat tergantung pada umur, diagnosa, kordinasi muskular dan kemampuan klien. Penggunaan alat bantu ini bisa temporal seperti pada klien pemulihan fraktur ekstremitas atau pembedahan ortopedi. Penggunaan secara permanen seperti pada kasus klien paralisis atau kelemahan ekstremitas bawah yang permanen. 1. Tongkat atau canes Tongkat merupakan alat ringan, membantu pergerakan dengan mudah terbuat dari kayu atau besi.Tongkat dapat membantu menjaga keseimbangan badan, diberikan bagi klien dengan hemiparese dan digunakan untuk menurunkan ketegangan karena kumpulan beban yang berat.Tongkat tidak direkomendasikan untuk klien dengan kelemahan kaki bilateral.Terdapat tiga tipe tongkat yang umum digunakan yaitu : • Tongkat standart, memberi dukungan minimal dan digunakan oleh klien yang membutuhkan sedikit bantuan untuk berjalan. • Tongkat bertangkai,terdapat gagang untuk dipegang sehingga memudahkan untuk memberikan stabilitas lebih besar dari tongkat standar khususnya berguna untuk klien dengan kelemahan tangan. • Tongkat segi empat, mempunyai tiga atau empat kaki yang memberikan dukungan keseimbangan lebih besar. Alat ini berguna bagi klien dengan parsial unilateral atau paralisis penuh pada kaki. 1. Tongkat penopang atau kruk Terbuat dari kayu atau besi sepanjang ujung mencapai aksila. Kruk digunakan untuk memindahkan berat dari satu atau kedua kaki . Terdapat tiga tipe kruk yaitu kruk aksila, kruk 2

Stikes Dian Husada lofstrand/karade, kruk platform. Kruk aksila kebanyakan digunakan oleh klien semua golongan umur , kruk lofstrand mempunyai suatu pegangan tangan dan lingkaran besi yang melingkari lengan bawah.Kedua lingkaran besi dan pegangan tangan diatur sesuai dengan ketinggian klien.Kruk tipe ini sangat berguna klien yang mengalami ketidakmampuan permanen seperti para plegia. Lingkaran besi menstabilkan dan menbantu mengarahkan kruk. Kruk platform digunakan oleh klien yang tidak dapat menahan berat di pergelangan tangannya. 3. Walkers atau alat bantu jalan. Alat ini merniliki dasr yang lebar rnemberi keseimbangan dan keamanan.Terdiri dari tangkai besi dangan pegangan tangan, 4kaki yang kuat dan satu tempat/ permukaan terbuka.Alat bantu ini dapat digunakan bagi klien yang mengalaii-ii masalah keseimbangan. Proses Keperawatan Pengkajian : 1. Lakukan pergerakan status klien, kaji diagnosa medis ( seperti artritis, fraktur dengan penurunan ambulasi ), indikasi untuk ambulasi, dan alat bantu ambulasi yang tepat 2. Observasi kesiapan fisik klien untuk mencoba ambulasi • Stabilitas tanda vital • Kaji " range of motion " dan kekuatan otot • Kaji kemungkinan adanya ketidaknyamanan 1. Jelaskan rasional dari manfaat latihan 2. Kaji pengetahuan klien dan petugas kesehatan tentang teknik yang dapat digunakan 3. Tetapkan waktu optimal untuk tahap latihan 4. Kaji tingkat bantuan yang dibutuhkan klien Diagnosa Keperawatan 1. Resiko terjadi cedera berhubungan dengan ketidakstabilan atau penggunaanalat bantu 2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan usaha ambulasi setelah immobilisasi 3. Defisit pengetahuan penggunaan alat bantu berhubungan dengan kurang informasi tentang alat 2

Stikes Dian Husada 4. Isolasi sosial berhubungan dengan immobilisasi Rencana 1. Tetapkan tujuan untuk masing - masing diagnosa keperawatan a. Klien dapat melakukan alnbulasi tanpa mengalami cidera b. Meminimalkan kelemahan klien sesudah periode ambulasi c. Menjaga kontak klien dengan keluarga dan orang lain d. Klien dapat melakukan ambulasi tanpa alat bantu e. Klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri f. Klien dapat melakukan aktifitas sosial 1. Persiapkan alat dan perlengkapan lain a. Alat ambulasi ( kruk, walker,tongkat ) b. Alat pengamanan seperti sabuk pengaman c. Sepatu d. jubah mandi 1. Persiapkan pasien untuk prosedur a. Jelaskan alasan tindakan, demonstrasikan secara spesifik teknik berjalan kepada klien dan keluarga b. Tetapkan jarak ambullasi klien c. Rencanakan kisaran ambulasi dan aktifitas lain klien d. Tempatkan tempat tidur pada posisi rendah dan perlahan – lahan bantu klien bangun, biarkan klien duduk atau berdiri beberapa menit sampai tecapai keseimbangan e. Cek BB dan TB klien sebelum memulai membantu ambulasi klien f. Jika ambulasi menggunakan alat bantu, yakinkan ketinggian alat bantu sudah tepat • Kruk Ukuran kruk mencakup 3 hal : tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila dan sudut fleksi siku. Gunakan I dari 2 metode berikut : berdiri posisi kruk dengan ujung kruk sekitar 14 - 15 cm dan 14 - 15 cm di depan kaki klien, bantalan kruk 4 - 5 cm di bawah aksila. Supine, bantalan kruk berada pada 3- 4 jari di bawah aksila dengan ujung kruk diposisikan 18 cm di samping luar tumit 1

Stikes Dian Husada dengan metode lain, siku harus difleksikan 11 - 30 derajat. Fleksi siku dapat diukur dengan geniometer • ukuran tongkat klien harus memegang tongkat dalam jarak lebih dari 14 - 15 cm di samping telapak kaki. Tongkat harus dipanjangkan dari lingkaran yang Iebih besar ke lantai, 15 - 30 derajat fleksi siku . • ukuran walker : siku harus difleksikan,pada sudut 15 - 30 derajat pada saat berdiri pada walker dengan tangan berpegang pada pegangan tangan walker a. Yakinkan bahwa alat ambulasi memiliki ujung- ujung yang terbuat dari karet b. Yakinkan bahwa lantai dalam keadaan bersih, kering dan pencahayaan yang cukup. Pindahkan obyek / benda yang mungkin mengganggu klien berjalan Implementasi Ambulasi klien dengan alat bantu : , 1. Bantu klien yang menggunakan kruk dengan memilih / menggunakan langkah yang tepat a. Teknik 4 langkah : • Mulai dengan posisi tripod. Kruk ditempatkan 15 cm di depan atau 18 cm di samping masing -- masing telapak kaki • Gerakkan maju kruk kanan 14 - 15 cm • Gerakkan maju kruk kiri sejajar dengan kruk kiri • Gerakkan maju kruk 14 - 15 cm • Gerakkan kaki kanan maju sejajar dengan kruk kanan • Ulangi langkah di atas a. Teknik 3 langkah • mulai dengan posisi tripod • majukan kedua kruk dan kaki yang cidera • Gerakkan kaki dengan kuat ke depan a. Teknik 2 langkah • Mulai dengan posisi tripod • Gerakkan kruk kiri dan kaki kanan ke depan • Gerakkan kruk kanan dan kaki kiri ke depan 1 •

Stikes Dian Husada • Ulangi langkah-langkah a. Bantu klien dalam teknik langkah mengayun dan teknik langkah mengayun berlebih Teknik langkah mengayun • Gerakkan kedua kruk kedepan • Angkat dan ayunkan tungkai ke kruk, biarkan kruk menahan berat badan • Ulangi langkah 1 dan 2 Teknik langkah mengayun berlebih • Gerakkan kedua kruk ke depan • Angkat dan ayunkan kedua tongkat melalui dan melebihi kedua kruk 1. Bantu klien dalam menaiki tangga dengan menggunakan kruk a. Mulai dengan posisi tripoid b. Pindahkan berat badan pada kedua kruk c. Majukan kaki yang tidak cedera ke tangga d. Posisikan kedua kruk dan kaki yang tidak cedera pada tangga e. Ulangi gerakan hingga klien mencapai tangga tertinggi 1. Bantu klien dalam menuruni tangga dengan menggunakan kruk a. Mulai pada posisi tripoid b. Klien memindahkan beban berat badan pada tungkai yang tidak mengalami cidera c. Gerakkan kruk ke tangga dan instruksikan klien untuk memulai memindahkan beban berat badan ke kruk dan gerakkan tungkai yang mengalami cidera ke depan d. Gerakkan tungkai yang tidak cidera ke tangga dan posisikan sejajar dengan kruk e. Ulangi gerakan sampai tangga terakhir 1. Bantu klien dalam ambulasi dengan walker a. Berdiri di tengah-tengah walker dan pegang hand grips (pegangan pada batang yang lebih atas) b. Lakukan langkah ke depan dalam walker c. Gerakkan walker 14-15 cm dan lakukan langkah ke depan dengan tungkai yang lain 1

Stikes Dian Husada d. Ulangi langkah-langkah 1. Bantu klien dalam ambulasi menggunakan tongkat (langkah yang sama diajarkan pada klein baik pada penggunaan tongkat jenis standart ataupun segi empat) a. Mulai dengan penempatan tongkat pada sisi yang lemah b. Tempatkan tongkat ke depan 15-25 cm, jaga beban BB pada kedua tungkai c. Gerakkan sisi yang lemah maju d. Majukan tungkai melewati tongkat dengan kuat e. Gerakkan tungkai yang lemah ke depan rata dengan tungkai yang kuat f. Ulangi langkah Evaluasi Kaji ulang klien untuk mengetahui respon terhadap ambulasi • Kaji tingkat energi klien, nadi frekuensi pernapasan, warna kulit dan temperatur sesudah ambulasi • Kaji respon subjectif klien sesudah latihan • Kaji langkah kaki klien, observasi posisi badan saat berdiri, serta keseimbangan Aktifitas lanjutan 1. Inspeksi secara teratur ujung karet pada dasar alat ambulasi 2. Jika menggunakan kruk kayu, perhatikan kemungkinan tongkat retak/patah 3. Singkirkan barang-barang yang mengganggu di area latihan 4. Hindari ruangan yang terlalu ramai ➢ Jika klien mulai terlihat terjatuh pada saat berjalan bersama, letakkan lenganmu melingkari pinggang klien dan berdiri dengan kaki terbuka ➢ Tegakkan tungkaimu dan biarkan klien mendorong melawan lantai. ➢ Pada saat klien mendorong, tekuk lututnya lebih rendah dari badanmu ➢ Jika klien mulai akan terjatuh jangan berusaha untuk memegang 1. Laporkan jika terdapat tanda kekakuan atau gatal pada saat 1

Stikes Dian Husada menggunakan kruk 2. Lanjutkan latihan kekuatan otot di rumah

2

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMBANTU KLIEN JALAN
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 KEGIATAN Identifikasi kebutuhan untuk jalan Jelaskan tujuan dan manfaat yang khusus untuk berjalan Pastikan tidak ada hambatan Perawat cuci tangan Semua bantal dan selimut disingkirkan dari klien Dudukkan klien di pinggir tempat tidur sampai kaki terjuntai Lihat kondisi klien (1-2 menit), cek nadi, tanyakan klien merasa pusing atau tidak Bantu klien untuk berdiri Lihat dan evaluasi kembali kondisi klien selama 1-2 menit Perawat berdiri di sebelah kanan/kiri Letakkan tangan klien terdekat untuk memegang bahu perawat Ajarkan langkah demi langkah yang sesuai Evaluasi kondisi dan kemampuan klien Beri pujian atas keberhasilan klien dan dorong untuk melakukan secara maksimal Kaji kembali kemampuan klien, pernapasan, keadaan umum klien dan sebagainya Bantu klien untuk kembali ke tempat tidur atau ke kursi Beri kenyamanan (evalusi klien) Diskusikan rencana selanjutnya Perawat cuci tangan Catat hasil kegiatan dan hasil diskusi dg klien 1 1 2 3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMBANTU KLIEN PINDAH DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI N o 1. 2 3 4 5 6 7 KEGIATAN Identifikasi kebutuhan akan duduk di sisi tempat tidur Jelaskan tujuan dan manfaat tindakan Cuci tangan Jaga privacy klien Letakkan klien pada posisi miring (sesuai sisi yang diinginkan Naikkan kepala klien pada tempat tidur sampai pada ketinggian yang dapat di toleransi klien beri bantal di belakang daerah punggung Tempatkan diri perawat pada bagian kepala tempat tidur letakkan tangan perawat yang dekat dengan kepala tempat tidur di bawah bahu klien dan sokong kepala dan leher klien, tangan yang lain di pinggul klien, tarik paha klien dan agak d i p u t a r Berikan sepatu/sandal Bantu klien agar dapat menggenggan lengan kursi(jika mampu)dan kursi terkunci Sangga kedua aksila klien dengan kedua tangan anda Letakkan kaki anda agak kesamping dan depan klien Ambil ancang-ancang dan pakai gerakan koordinasi agar pindah hanya dengan membantu tubuh klien Atur posisi di kursi agar nyaman dengan cara menanyakan pada klien Perawat cuci tangan 1 1 2 3

8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1

Stikes Dian Husada 4 Catat tindakan yang telah dilakukan dan hasil

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMBANTU KLIEN DUDUK DI SISI TEMPAT TIDUR N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 KEGIATAN Identifikasi kebutuhan akan duduk di sisi tempat tidur Jelaskan tujuan dan manfaat tindakan Cuci tangan Jaga privacy klien Letakkan klien pada posisi miring ( sesuai sisi yang anda inginkan) Naikkan kepala klien pada tempat tidur sampai pada ketinggian yang dapat di toleransi klien Tempatkan diri perawat pada bagian kepala tempat tidur Letakkan tangan perawat yang dekat dengan kepala tempat tidur di bawah bahu klien dan sokong kepala dan leher klien Letakkan tangan yang lain di bagian pinggul klien Gerakkan kaki bawah klien dan paha ke samping tempat tidur Tarik paha klien dan agak di putar sehingga kaki klien terjuntai ke lantai Waktu bersamaan dengan langkah no. 11, angkat bagian bahu sampai klien tertunduk Atur posisi klien hingga tercapai keseimbangan jika bisa rendahkan tempat tidur hingga kaki klien menyentuh lantai perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya 1 1 2 3

Stikes Dian Husada 5

3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMINDAHKAN KLIEN KE POSISI LATERAL ATAU PRONE DI TEMPAT TIDUR N KEGIATAN o 1. Identifikasi kebutuhan akan memindahkan klien ke posisi lateral atau prone di tempat tidur 2. Jelaskan tujuan ,manfaat dan tindakan yang akan dilakukan 3. Perawat cuci tangan 4. Jaga privasy 5. Atur posisi tempat tidur 6. Tempatkan diri anda & klien secara tepat sebelum bergerak a. Pindahkan klien ke posisi yang berlawanan b. Letakkan tangan klien yang dekat dengan perawat dada dan tangan yang jauh dari perwat sedikit ke depan badan klien c. Letakkan kaki klien yang terjauh dengan perawat menyilangkan di atas kaki yang terdekat d. Tempatkan diri perawat sedekat mungkin dengan klien e. Tempatkan tangan perawat di bokong 7. dan bahu klien f. Tarik badan klien Beri bantal pada tempat yang diperlukan 8. evaluasi tindakan yang telah 9. dilakukan,tanyakan apakah klien telah merasa nyaman Perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya 1 1 2 3

Stikes Dian Husada

3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMINDAHKAN KLIEN DIATAS TEMPAT TIDUR N KEGIATAN o 1. Identifikasi kebutuhan akan pergerakan 2 ditempat tidur Jelaskan tujuan, manfaat, dan tindakan yang 3 akan dilakukan 4 Perawat cuci tangan Letakkan kepala klien dalam posisi datar 5 dengan tempat tidur ( turunkan bantal dari tempat tidur ) 6 Atur tinggi tempat tidur,sesuaikan dengan ”body 7 aligment”anda (aman dan nyaman) Taruh bantal di tempat tidur bagian kepala 8 Tekuk lutut klien dan anjurkan untuk meletakkan tangan diatas dadanya 9 Letakkan satu tangan anda di bawah bahu dan tangan yang lain di bawah paha klien 1 Angkat dan tarik klien sesuai yang 0 diinginkan,perintahkan klien untuk mendorong kakinya 1 Atur posisi klien,tempatkan bantal-bantal sesuai 1 yang diperlukan Evaluasi tindakan yang telah dilakukan,tanyakan 1 apakah klien telah merasa nyaman 2 Perawat cuci tangan 1 Catat tindakan yang telah dilakukan dan hasilnya Keterangan : 3 1 : dilakukan sendiri 2 3 : tidak dilakukan : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) 1 2 3

Mengetahui Kepala Laboratorium

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

3

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMINDAHKAN KLIEN DARI TEMPAT TIDUR KE KERETA DORONG N KEGIATAN o 1. Memberitahukan pasien tentang prosedur yang akan dilakukan 2 Mengatur lingkungan 3 Perawat mencuci tangan 4 Mengatur posisi pasien terlentang 5 Mengunci roda tempat tidur, letakkan kereta dorong merapat pada pinggir tempat tidur 6 Menganjurkan pasien bergeser ke kereta dorong ( jika pasien,mampu ) 7 Menggeser pasien ke tepi 8 Mengangkat pasien dengan dibantu perawat lain : ➢ Perawat l di bagian kepala tangan kiri menyorong kepala dan memegang pangkal lengan, tangan kanan melalui dada dan bahu, pasien memegang tangan perawat 2 di bawah punggung ➢ Perawat 2 di bagian tengah tanggan kiri di bawah pinggang pasien berpegangan dengan perawat satu, tangan kanan dibawah pangkal paha 8 ➢ Perawat 3 dibagian kaki, tangan kiri 9 menyokong paha bawah, tangan kanan 1 pada betis 0 Kedua tangan pasien meyilang di atas dada Perawat 1 memberi aba - aba 1 Bersama - sama mengangkat pasien dan 1 memindahkan pasien ke kereta dorong 1 Memberi posisi yang nyaman 1 1 2 3

Stikes Dian Husada 2 1 3 1 4 1 5 Menyelimuti pasien dengan rapi Perawat mencuci tangan Posisi pasien aman dan keadaan umum pasien tidak berubah Pasien nyaman berada di kereta dorong

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada FORMAT MEBANTU PASIEN PINDAH DARI TEMPAT TIDUR KE KURSI RODA N KEGIATAN o 1. Memberitahukan pasien tentang prosedur yang akan dilakukan 2 Mendekatkan alat 3 Mengatur lingkungan yang aman 4 Perawat cuci tangan 5 Mengatur posisi klien 6 Meletakkan kursi roda sejajar dengan tempat 7 tidur 8 Mengunci kursi roda dan membuka sandaran kaki 9 Perawat meletakkan kedua tangan dibawah 1 ketiak pasien dan j ari - jari memegang dada 0 bagian atas 1 Pasien dibantu untuk berdiri 1 Menganjurkan pasien membelakangi kursi roda Kedua tangan pasien memegangi kedua 1 tangan kursi roda kemudian pasien dibantu 2 duduk di atas kursi roda Memasang kembali sandaran kaki dan 1 meletakkan kaki diatas 3 Kunci kursi roda dilepas 1 Perawat cuci tangan 4 Posisi pasien aman dan keadaan umum 1 pasien Keterangan : tidak berubah Posisi nyaman 5 1 berada di kursi roda : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 2 3

Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 1

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

3

Stikes Dian Husada

POSITIONING
Tujuan Umum : Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mempu mendemonstrasikan posisi tidur pada mahasiswa lain sesuai dengan yang ditugaskan Tujuan Khusus : Setelah mengikuti praktikum mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan tujuan pengaturan posisi dan perubahan posisi secara teratur 2. Menyebutkan jenis-jenis posisi tidur klien 3. Menyebutkan alat-alat bantu yang diperlukan untuk masingmasing posisi 4. Mengatur posisi tidur mahasiswa lain sesuai kebutuhan Tujuan pengaturan posisi : 1. Mencegah rasa tidak nyaman pada otot 2. Mencegah terjadinya ulkus dekubitus, superfisial dan pembuluh darah 3. Mencegah kontraktur 4. Mempertahankan tonus otot

kerusakan

syaraf

Prinsip pengaturan posisi : 1. Pada saat menempatkan klien di tempat tidur, pertahankan agar kasur yang digunakan dapat memberikan support yang baik bagi tubuh 2. Yakinkan bahwa alas tidur tetap bersih dan kering, karena alas tidur yang lembab atau terlipat akan meningkatkan resiko terjadinya ulkus dekubitus 3. Letakkan alat-alat bantu di tempat-tempat yang membutuhkan, sesuai dengan jenis posisi 4. Jangan meletakkan satu bagian tubuh di atas bagian tubuh yang lain, terutama dengan daerah penonjolan tulang 5. Rencanakan perubahan posisi selama 24 jam dan lakukan secara teratur 1

Stikes Dian Husada Jenis-jenis posisi tidur : 1. Fowler dengan kombinasi semi fowler dan high fowler 2. Dorsal recumbent 3. Prone 4. Lateral 5. Sims Posisi Fowler Posisi fowler adalah posisi tidur klien dimana kepala dan badan dinaikkan 45-90 derajat. Terdapat kombinasi posisi fowler yaitu posisi semi fowler dimana posisi kepala dinaikkan 30-45 derajat dan posisi high fowler (fowler tinggi), posisi dimana posisi kepala dinaikkan hingga 45-90 derajat. Posisi ini digunakan untuk klien yang mengalami masalah pernapasan dan klien dengan gangguan jantung. Alat bantu yang digunakan : 1. 1-6 bantal kecil 2. 1-2 trochanter roll 3. Papan kaki/foot board Persiapan : 1. Identifikasi kebutuhan klien akan posisi fowler 2. Jelaskan pada klien tentang tujuan/manfaat dari posisi fowler 3. Jaga privasi klien 4. Siapkan alat-alat 5. Cuci tangan Posisi Dorsal Recumbent : Posisi dorsal recumbent adalah posisi tidur terlentang dngan kepala dan bahu sedikit di tinggikan dengan bantal Alat bantu yang digunakan : 1. 1-6 bantal kecil 2. 2 trochnter roll 3. Papan kaki 3

Stikes Dian Husada 4. Handroll Persiapan : 1. Kaji kebutuhan klien akan posisi dorsal recumbent 2. Jelaskan pada klien tentang manfaat dari posisi dorsal recumbent 3. Jaga privasi klien 4. Siapkan alat-alat 5. Cuci tangan Posisi prone Posisis prone adalah posisi tidur dimana klien berbaring dengan posisi telungkup dan kepala menghadap kesamping (potter dan perry 1997). Jika digunakan secara teratur, posisi ini dapat mencegah kontraktur fleksi pada bokong dan lutut. Posisi prone juga meningkatkan drainase dari mulut, oleh karena itu sangat bermanfaat untk klien pasca operasi mulut dan tenggorokan. Kerugian dari posisi ini dadalah menyebabkan lordosis lumbal dan lateral rotasi pada leher. Alat bantu yang digunakan : • 5 buah bantal Persiapan : 1. Kaji kebutuhan klien akan posisi prone 2. Jelaskan pada klien tentang manfaat dari posisi prone 3. Jaga privasi klien 4. Siapkan alat-alat 5. Cuci tangan Posisi lateral Posisi lateral adalah posisi dimana klien berbaring pada sisi dari tubuh. Posisi ini baik untuk klien yan membutuhkan istirahat atau tidur yang baik. Posisi ini juga menghilangkan tekanan pada sakrum dan tumit. Alat bantu yang digunakan : 1. 5 buah bantal 1

Stikes Dian Husada 2. Gulungan handuk Persiapan: 1. Kaji kebutuhan klien akan posisi lateral 2. Jelaskan pada klien tentag manfaat dari posisi lateral 3. Jaga privasi klien 4. Siapkan alat-alat 5. Cucic tangan Posisi sims Posisi sims adalah posisi antara posisi prone dan lateral Alat bantu yang digunakan : 1. 3 buah bantal kecil 2. Bantal pasir atau gulungan handuk Persiapan : 1. Kaji kebutuhan klien akan posisi sims 2. Jelaskan pada pasien akan tentang manfaat dari posisi sims 3. Jaga rivasi klien, siapkan alat-alat dan cuci tangan.

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI FOWLER
No KEGIATAN 1. Kaji daerah-daerah yang mungkin tertekan pada posisi tidur ini, seperti tumit, prosesus spinosis, sakrum, dan skapula 2 Atur tempat tidur pada posisi datar, pindahkan klien pada bagian atas tempat tidur. Instruksikan klieri menekuk lutut sedikit sebelum menaikkan bagian kepala tempat tidur. Yakinkan bahwa bokong klien berada 3 tepat pada sudut tekukan tempat tidur 4 Naikkan posisi kepala 30-40 derajat 5 Letakkan bantal kecil atau lunak dibawah kepala 6 Letakkan bantal kecil didaerah lengkung pinggang jika terdapat celah kecil didaerah 7 tersebut 8 Letakkan bantal kecil mulai dari bawah lutut 9 sampai ke tumit Letakkan trochanter roll disisi luar paha 10 Letakkan papan penghalang pada telapak kaki klien 11 Letakkan bantal untuk mendukung lengan jika 12 klien tidak dapat menggerakkan lengan 13 Evaluasi tindakan yang telah dilakukan dengan menilai rasa nyaman klien Rapikan alat-alat Perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan 1 2 3

1

Stikes Dian Husada

3

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI DORSAL RECUMBENT
N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KEGIATAN Kaji daerah -daerah yang mungkin tertekan pada posisi tidur ini misalnya tumit, sakrum, siku, skapula dan bagian belakang kepala Bantu klien untuk tidur terlentang Letakkan bantal kecil dibawah kepala dan bahu klien Letakkan trochanter roll disisi luar paha Letakkan gulungan handuk atau bantal kecil dibawah lengkung lumbal Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisis pada ekstremitas atas, naikkan lengan bawah clan letakkan tangan di atas bantal Jika klien mempunyai kecenderungan deformitas pada jari - jari dan telapak tangan gunakan handroll Evaluasi tindakan yang telah dilakukan dengan menilai rasa nvaman klien Rapikan alat - alat Perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI PRONE
N o 1. KEGIATAN Kaji daerah yang mungkin tertekan pada posisi ini seperti jari - jari, lutut, genital ( pada laki - laki ), payudara (pada wanita ), prosessus akromius bahu, pipi dan telinga Bantu klien pada posisi telungkup Hadapkan kepada klien ke satu sisi, letakkan bantal kecil di bawah kepalatetapi tidak sampai bahu letakkan bantal kecil dibawah perut mulai dari diafragma sampai crista iliaca Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut hingga tumit Evaluasi tindakan yang telah dilakukan dengan menilai rasa nyaman klien Rapikan alat - alat dan kembalikan ke tempat semula Perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan 1 2 3

2 3 4 5 6 7 8 9

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) 1

(………………….……….)

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI LATERAL
N o 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 KEGIATAN Kaji daerah tertekan pada posisi ini, ischium, telinga bawah, pipi, lateral maleolus tumit bawah, medial maleolus tumit atas, trochanter besar Bantu klien miring Letakkali gulungan handuk di bawah kepala dan leher Atur posisi bahu bawah sedikit fleksi dan agak condong ke depan Letakkan bantal di bawah tangan Letakkan bantal keras pada punggung klien untuk menstabilkan posisi Letakkan 2 atau lebih bantal di antara kedua kaki klien dengan posisi kaki sebelah atas semi fleksi Evaluasi tindakan yang telah dilakukan dengan menilai rasa nyaman klien Rapikan alat - alat dan kembalikan ke tempat semula Perawat cuci tangan Catat tindakan yang telah dilakukan 1 2 3

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI SIMS
N o 1. 2 KEGIATAN 1 2 3

Kaji daerah-daerah yang tertekan pada posisi ini Pindahkan klien kesisi tempat tidur dengan 3 arah berlawanan dengan posisi yang 4 diinginkan 5 Rapatkan kedua kaki klien dan tekuk lututnya 6 Miringkan klien sampai posisi agak tengkurap 7 Letakkan bantal kecil di bawah kepala 8 Tempatkan satu tangan di belakang tubuh Atur bahu atas sedikit abbduksi dan siku 9 fleksi Letakkan bantal di ruang antara dada, 1 abdomen serta lengan atas dan kasur 0 Letakkan bantal di ruang antara abdomen, pelvis, paha atas dan tempat 1 tidur 1 Yakinkan bahwa bahu dan pinggul berada pada bidang 1 yang, sama 2 Letakkan gulungan handuk atau bantal pasir di bawah telapak_kaki 1 Rapikan alat - alat dan kcmbalikan ke 3 tempat semula Keterangan : cuci tangan 1 Perawat : dilakukan sendiri 4 1 Catat tindakan yang telah dilakukan pada 2 catatan dilakukan : tidak keperawatan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….)

Stikes Dian Husada

3

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT POSISI LITHOTOMI
N o 1. 2 KEGIATAN 1 2 3

Perawat cuci tangan Pasien meletakkan kedua tangan pasien di atas kepala mengangkat kedua tungkai, menekuk lutut ke arah dada, kedua tungkai bawah ditahan oleh kedua orang 3 perawat Bila ada meja ginekologi kedua tungkai 4 bawah diletakkan pada penahan kaki Merapikan pasien setelah pemeriksaan 5 atau pelaksanaan perasat 6 Perawat cuci tangan Keterangan :berada pada posisi lithotomy yang Pasien 1 nyaman : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. .............................................................................................................

FORMAT POSISI TRENDELENBURG
N o 1. KEGIATAN Sikap trendeleburg dilaksanakan pada : • Pasien dalam keadaan syok • Pasien dengan tekanan darah rendah • Pembedahan di daerah perut • Pemeriksaan tertentu, misalnya : Bronchoscopy Perhatikan keadaan umum pasien selama bekerja 1 2 3

2.

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. .............................................................................................................

MENCUCI TANGAN
Tujuan Umum : Mahasiswa mampu mempraktikkan teknik mencuci tangan secara teratur Tujuan Khusus : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu : 1. Menyebutkan pengertian mencuci tangan 2. Menjelaskan tujuan mencuci tangan 3. Menyebutkan alat - alat yang diperlukan untuk mencuci tangan 4. Mendemonstrasikan latihan mencuci tangan secara benar Pengertian : Mencuci tangan hingga siku dengan menggunakan air mengalir dan sabun Tujuan Mencuci Tangan : • Mengurangi jumlah mikroorganisme pada tangan • Mengurangi resiko tranmisi mikroorganisme ke perawat dan klien serta kontaminasi silang kepada kIien lain, anggota keluarga dan tenaga kesehatan lain • Melatih kebiasaan yang baik • Memberi perasaan enak kepada perawat, pasien dan siapa saja yang melihatnya Macam - macam mencuci tangan : 1. Mencuci tangan biasa 2. Mencuci tangan dengan larutan lysol 0,5 % 1

Stikes Dian Husada 3. Mencuci tangan steril A. Mencuci tangan biasa Persediaan : • Air yang mengalir atau air dalam waskom • Sabun dan lap tangan yang kering dan bersih • B/p sikat kuku Cara kerja : • Tangan dibasahi dengan air kemudian di sabun • Bita perlu sela - sela jari dan kuku di sikat • Kemudian tangan di bilas dengan air mengalir sampai bersih • Tangan dikeringkan dengan lap tangan B. Mencuci tangan dengan larutan lysol 0,5 Persediaan : • Sama dengan mencuci tangan biasa • Larutan lysol 0,5 % • Waskom 2 buah ( 1 berisi air bersih, I berisi larutan lysol ) %

Cara kerja : • Arloji dilepas ( bila memakai arloji/cincin) • Tangan dibasahi dengan air bersih dari ujung sampai siku,kemudian dibilas dengan larutan lisol dan di bilas lagi dengan air bersih • Setelah itu tangan dikeringkan dengan lap tangan C. Mencuci tangan steril Persediaan : • Sikat yang steril • Sabun • Kran dengan pegangan yang panjang Cara kerja : • Cincin dan arloji dilepas ( bila memakai, kemudian baju di gulung sampai Siku ) 1

Stikes Dian Husada • • • Mengambil sikat dan sabun Kran di buka kemudian tangan dibasahi hingga siku dan disabun sampai rata Sabun tetap di pegang dipunggung sikat, kemudian memulai menyikat dari jari - jari tangan, punggung tangan kemudian telapak tangan secara membujur, kemudian secara melintang Setelah itu ke bagian lengan secara membujur sampai dengan siku tangan Kemudian pindah ke lengan yang lain ( caranya sama dengan cara menyikat tangan yang telah dilakukan sebelumnya ) Kedua lengan di bilas lalu disabuni sekali lagi, dan di sikat lagi kemudian di bilas lagi, hal ini diulangi beberapa kali selama 15 menit Dengan diarahkan ke atas sehinggaair dari tangan mengarah ke lengan Sikat disiram dengan air mengalir dan diletakkan di atas wastafel krannya ditutup dengan siku tangan Yang perlu diperhatikan : a. Tangan dibiarkan basah b. Tetap di jaga kesterilannya

• • • • • •

CATATAN Cara kerja membuat larutan lysol : 1. Membuat larutan lysol 0,5 % • 5 cc lysol dicampur dengan 1 liter air 2. Membuat larutan lysol 1% • 10 cc lysol dicampur dengan I liter air 3. Membuat larutan lysol 2 % 1

Stikes Dian Husada • 20 cc lysol dicampur dengan I liter air Yang perlu diperhatikan : 1. Perbandingan harus benar - benar tepat 2. Bila menuang lysol, pada sisi yang tidak beretiket supaya etiket tidak kotor Keterangan : Perawat mencuci tangan bila : 1. Sebelum dan sesudah berhubungan dengan klien dan di antara kontak dengan klien yang berbeda 2. Setelah kontak dengan material organik dan segala benda yang terkontaminasi seperti bedpan, urinal, dan lain – lain 3. Sebelum dan sesudah memberi asuhan keperawatan klien, misalnya merawat luka, memandikan, dan lain – lain 4. Sebelum menyiapkan dan memberikan obat 5. Sebelum melakukan prosedur invasif seperti injeksi parenteral, suction, NGT 6. Sebelum istirahat, minum dan makan Tenaga kesehatan mencuci tangan bila : 1. Sebelum dan sesudah menyentuh klien , 2. Setelah menyentuh alat - alat yang digunakan klien 3. Sebelum menggunakan benda - benda steril, misalnya alat alat intravena pengunjung mencuci tangan bila : 1. Setelah menyentuh klien yang infeksi 2. Setelah menyentuh alat - alat atau barang - barang yang terkontaminasi 3. Sebelum memberi makan klien Masalah keperawatan yang timbul : 1. Gangguan integritas kulit 2. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh 3. Resiko Infeksi Persiapan : 2

Stikes Dian Husada Alat - alat : 1. Sabun atau desinfektan . 2. Air yang mengalir ( sebaiknya hangat untuk memudahkan menghilangkan lemak ) 3. Handuk atau kertas tissue Perawat : Kuku pendek ( Rasional : mengurangi jumlah mikroorganisme tersembunyi, mudah dibersihkan, mencegah melukai klien dan tidak merusak sarung tangan )

FORMAT MENCUCI TANGAN
N o 1. KEGIATAN Berdiri di depan wastafel 1 2 3 KETERANGAN Pakaian tidak boleh menyentuh wastafel

2.

Lepaskan perhiasan (cincin,gelang dan jam tangan)serta angkat lengan baju diatas siku 1

Stikes Dian Husada 3. Buka kran,atur kecepatan aliran dan temperatur air Dapat menggunakan tangan,pengungkit di lutut,kaki dan siku Air sebaiknya mengalir dari area yang lebih sedikit kontaminasi ke area yang lebih terkontaminasi

4.

Basahi tangan sampai pergelangan,pertahankan agar posisi tangan selalu lebih rendah dari siku agar air dapat mengalir ke jari-jari tangan Ambil sabun cair kurang lebih 1 sdt(2-4 ml) dari dispenser atau bila tidak ada,basahi sabun batangan sehingga berbusa lalu kembalikan sabun batangan ke tempatnya Dengan gerakan mengosok dan berputar,gosokkan sabun ke tangan meliputi daerah telapak tangan,punggung tangan,jari-jari,sela-sela jari,pergelangan dan lengan bawah

5.

6.

Waktu mencuci tangan bervariasi: 10-30 detik

1

Stikes Dian Husada 7. Lanjutkan gerakan menggosok selam 10-30 detik minimal 5 kali Bilas tangan dengan air mengalir dari ujung tangan ke pangkal tangan Pertahankan posisi tangan menghadap ke atas sebelum mengeringkan tangan

8.

9.

10 .

Keringkan tangan dari ujung pangkal dengan menggunakan tissue(paper towel) Matikan kran air dengan menggunakan tissue yang dipakai utk mengeringkan tangan.bila perlu memberikan lotion atau pelembab utk klit kering Kulit kering mudah mengelupas dan menjaditempat masuknya infeksi

11 .

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 1 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

2

Stikes Dian Husada

MEMASANG SARUNG TANGAN / HAND SCOON
Tujuan umum : Mahasiswa mampu melakukan latihan melepaskan sarung tangan atau hand scoon memasang dan

Tujuan Khusus : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu : 1. Menyebutkan pengertian dan memasang sarung tangan steril dan tidak steril 2. Menjelaskan tujuan dari memasang sarung tangan steril dan tidak steril 3. Menyebutkan alat-alat yang diperlukan 4. Medemonstrasikan latihan memasang sarung tangan steril dan tidak steril Memasang sarung tangan tidak steril pengertian : Memasang sarung tangan tanpa memperhatikan sterilitas Tujuan : mencegah transmisi kuman dan melindungi individu Persiapan : 1. Alat-alat • Sarung tangan tidak steril • Tempat barang-barang kotor 1. Tangan bersih Memasang sarung tangan steril Pengertian : memasang sarung tangan dengan memperhatikan sterilitas Tujuan : 1. Mencegah kontaminasi dan transmisi kuman dari tangan ke objek steril 2. Melindungi luka atau rongga tubuh dan mikroorganisme yang dibawa oleh tangan 3. Mempertahankan aseptik selama melakukan prosedur invasif 1

Stikes Dian Husada 4. Melindungi individu Persiapan : Alat - alat : 1. Sarung tangan steril ukuran 6 sampai dengan 8,5 (sesuai ukuran tangan pemakai) 2. Cap dan masker(bila perlu) Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memasang sarung tangan steril dan tidak steril : 1. Pemakaian sarung tangan bukan berarti pengganti cuci tangan 2. Sarung tangan tidak steril digunakan jika ada kemungkinan transmisi infek si, kontak langsung dengan klien, dan kontak tidak langsung misalnya dengan alat-alat terkontaminasi atau dengan cairan tubuh 3. Sarung tangan steril digunakan pada prosedur yang memerlukan teknik steril. Sarung tangan steril dipasang setelah memakai masker dan gaun steril(jika benda-benda ini diperlukan) 4. Sarung tangan hanya digunakan satu kali pakai

1

Stikes Dian Husada

FORMAT MEMASANG & MELEPAS SARUNG TANGAN STERIL
N o A 1. 2. 3. 4. KEGIATAN MEMASANG SARUNG TANGAN Cuci tangan dan keringkan tangan Letakkan set sarung tangan steril pada tempat yang bersih,kering dan rata setinggi di atas pinggang Buka pembungkus sbelah luar dengan hatihati,dengan hanya menyentuh bagian luarnya saja dan idntifikasi sarung tangan kanan dan kiri Dengan menggunakan tangan yang tidak dominan,ambil ujung sarung tangan steril yang terlipat dan angkat dengan hati-hati dengan ujung jari sarung tangan mengarah ke bawah,hindari sarung tangan bersentuhan dengan benda yang tidak steril Masukkan tangan dominan ke dalam sarung tangan secara hati-hati dan tarik sarung tangan ke atas,biarkan lipatan sarunga tangan yang lainnya memakai sarung tangan juga Masukkan jari-jari tangan( kecuali ibu jari)yang bersarung tangan ke dalam lipatan sarunga tangan yang belum terpasang dan angkat sarung tangan ke atas Masukkan tangan yang tidak dominan ke dalam sarung tangan,atur sarung tangan yang terpasang dengan hanya menyentuh daerah yang steril saja MELEPAS SARUNG TANGAN 1 1 2 3

5.

6. 7.

B

Stikes Dian Husada Dengan menggunakan tangan yang dominan,ambil ujung sarung tangan dan lepaskan dengan cara membalikkannya dengan daerah yang terkontaminasi pada sebelah dalam,pegang sarung tangan yang sudah 2 terlepas pada tangan yang dominan Masukkan jari tangan yang sudah tidak memakai sarung tangan ke dalam sarung tangan yang masih tepasang,pegang bagian dalam sarung tangan dan lepaskan dengan 3 bagian dalam sarung tangan di sebelah luar 4 Letakkan sarunga tangan pada tempatnya Perawat cuci tangan Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 1

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

STERILISASI
Proses pencegahan infeksi dasar yang dianjurkan untuk menurunkan penularan penyakit dari instrumen yang kotor, sarung tangan bedah, dan barang - barang lain yang dipakai kcmbali adalah dekontaminasi, pembersihan, dan sterilisasi atau desinfeksi tingkat tinggi ( DTT ). Apapun jenis tindakan prosedur bcdah, baik seksio sesarea maupun memasang AKDR, langkah - langkah dalam memroses barang-barang adalah sebagai berikut :

1

Stikes Dian Husada DEFINISI : • Dekontaminasi : Proses yang membuat benda mati lebih

arnan untuk ditangani oleh staf sebelum dibersihkan ( umpamanya menginaktivasi HBV, HBC, dan HIV ) dan mengurangi, tapi tidak menghilangkan, jumlah mikroorganismc yang mengontaminasi. Pembersihan : Proses yang secara fisik membuang semua debu yang tampak. kotoran, darah atau cairan tubuh lainnya dari benda mati ataupun membuang sejumlah mikroorganisme untuk mengurangi risiko bagi mereka yang menycntuh kulit atau rnenangani objek Proses terdiri dari mencuci sepenuhnya dengan sabun atau deterjen dan air, membilas dengan air bersih, dan mengeringkan. Disinfeksi tingkat tinggi ( DTT ) : Proses menghilangkan semua mikroorganisme, kecuali beberapa endospora bakterial dari obyek, dengan merebus, menguapkan atau memakai disinfektan kimiawi. Sterilisasi : Proses menghilangkan semua mikroorganisme (bakteria, virus, fungi dan parasit) termasuk endospora bakterial dari benda mati dengan uap tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven), sterilan kimiawi, atau radiasi.

PANDUAN UNTUK MEMPROSES BENDA - BENDA

Setiap benda, baik instrumen metal yang kotor maupun sarung tangan, memerlukan penanganan dan pemrosesan khusus agar : • Mengurangi , risiko perlukaan aksidental atau terpapar darah atau tubuh terhadap staf pembersih dan rumah tangga, dan • Memberikan hasil akhir berkualitas tinggi (umpamanya instrumen atau benda lain yang steril atau yang didesinfeksi tingkat tingggi (DTT)
3

Stikes Dian Husada DEKONTAMINASI

Adalah langkah pertama yang penting dalam menangani peralatan, perlengkapan, sarung tangan dan benda-benda lainnya yang terkontaminasi. Dekontaminasi membuat bendabenda lebih aman untuk ditangani petugas pada saat pembersihan. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari Iates. lika menangani peralatan yang digunakan atau kotor. Segera setelah digunakan masukan benda - benda yang terkontaminasi ke dalam larutan klorin 0, 5 % selama 10 menit. Ini akan dengan cepat mematikan virus Hepatitis B dan HIV. Pastikan hahwa benda - benda yang terkontaminasi, telah tcrendam scluruhnya dalam larutan klorin. Daya kerja larutan klorin akan cepat mengalami penurunan sehingga harus diganti paling sedikit setiap 24 jam atau lebih cepat jika terlihat telah kotor atau keruh
PERSIAPAN ALAT :

1. Sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan rumah tangga dari lateks 2. Sikat halus (boleh menggunakan sikatgigi 3. Tabung suntik (minimal ukuran 10 ml,untuk membilas bagian dalam termasuk kateter penghisap lendir) 4. Wadah plastik atau baja anti karat (stainless steel) 5. Air bersih 6. Sabun atau deterjen
TAHAP-TAHAP PENCUCIAN DAN PEMBILASAN :

1. Pakai sarung tangan karet yang tebal pada kedua tangan. 2. Ambil peralatan bekas pakai yang sudah
3

Stikes Dian Husada

2.

3.

1. 2.

didckontaminasi (hati-hati bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit). Agar tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik atau karet,jangan dicuci segera bersamaan dengan peralatan yang terbuat dari logam Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati-hati :  Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran.  Buka engsel gunting dan klem.  Sikat dengan seksama terutama dibagian sambungan dan pojok peralatan.  Pastikan tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal pada peralatan.  Cuci setiap benda sedik-itnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen. Bilas bendabenda tersebut dengan air bersih. Ulangi prosedur tersebut pada benda benda lain. Jika peralatan akan didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi (misalkan dalam larutan klorin 0,5%) tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum memulai proses DTT.
Alasan :.jika peralatan masih basah mungkin akan mengencerkan larutan kimia dan membuat larutan menjadi kurang efektif

3. Peralatan yang akan didisinfeksi tingkat tinggi dengan,cara

dikukus atau direbus, atau disterilisasi didalam otoklaf atau oven panas kering, tidak usah dikeringkan sebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai. 4. Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung tangan dcngan air dan sabun dan kemudian bilas secara seksama dengan menggunakan air bersih. 5. Gantungkan sarung tangan dan biarkan dengan cara diangin-anginkan.
2

Stikes Dian Husada Bola karet penghisap tidak boleh dibersihkan dan digunakan ulang untuk lebih dari satu bayi. Bola kater seperti itu harus dibuang setelah digunakan. Secara ideal kateter penghisap lendir DeLee, harus dibuang setelah satu kali digunakan, jika hal ini tidak memungkinkan, kateter harus dibersihkan dan didesinfeksi tingkat tinggi dengan seksama Kateter urin sangat sulit dibersihkan dan didisinfeksi tingkat tinggi. Menggunakan kateter tersebut pada lebih dari satu ibu dapat meningkatkan resiko infeksi jika tidak diproses dengan benar. Untuk mencuci kateter (termasuk kateter penghisap lendir), lakukan tahap-tahap berikut ini : • Pakai sarung tangan karct yang tebal atau sarung tangan rumah tangan dari lateks pada kedua tangan. • Lepaskan penutup wadah penampung lendir (untuk kateter penghisap lendir) • Gunakan tabung suntik besar untuk mencuci bagian dalam kateter sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen. • Bilas kateter menggunakan tabung suntik dan air bersih • Letakkan kateter dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum dilakukan proses DTT. Catatan: kateter harus didesinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi,kateter bisa rusak jika didesinfeksi tingkat tinggi dengan jalan direbus. DTT DENGAN CARA MEREBUS : 1. Gunakan panci dengan penutup yang rapat. 2. Ganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan 3. Rendam peralatan sehingga semuanya terendam didalam air. 4. Mulai panaskan air. 5. Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih. 6. Jangan tambahkan benda apapun kedalam air mendidih setelah penghitungan waklu dimulai : • Rebus selama 20 menit. • Catat lama waktu perebusan peralatan didalam buku khusus. 2

Stikes Dian Husada • Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan (jika peralatan dalam keadaan lembab maka tingkat pencapaian desinfeksi tingkat tinggi tidak terjaga). Setelah peralatan kering gunakan segera atau simpan dalam wadah desinfeksi tingkat tinggi dan berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutupnya tidak dibuka.

DTT DENGAN UAP PANAS PADA SARUNG TANGAN: Setelah sarung tangan didekontraminasi dan dicuci, maka sarung tangan ini siap DTT dengan uap tanpa diberi talk 1. Gunakan panci perebus yang memiliki tiga susun nampan pengukus. 2. Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah DTT selesai sarung tangan dapat dipakai tanpa membuat kontaminasi baru. 3. Letakkan sarung tangan pada baki atau nampan pengukus yang berlubang dibawahnya. Agar mudah dikeluarkan dari bagian atas panci pengukus, letakkan sarung tangan dengan bagian jarinya kearah tengah panci. Jangan menumpuk sarung tangan (lima sampai sepuluh pasang sarung tangan bisa diletakkan dipanci pengukus, tergantung dari diameter panci). 4. Ulangi proses tersebut hingga semua nampan pengukus terisi sarung tangan. Susun tiga nampan pengukus diatas panci perebus yang berisi air. Letakkan sebuah panci perebus kosong disebelah kompor. 5. Letakkan penutup di atas panti pengukus paling atas dan panaskan air hingga mendidih. Jika air mendidih perlahan, hanya sedikit uap air yang dihasilkan dan suunya mungkin tidak cukup tinggi untuk membunuh mikroorganisme.jika air mendidih terlalu cepat,air akan menguap dengan cepat dan bahan bakar akan terbuang. 6. Jika uap mulai keluar dari celah-celah diantara panci pengukus, mulailah penghitungan waktu. Catat lamanya pengukusan sarung tangan dalam buku kh usus. 7. Kukus sarung tangan selama 20 menit. 1

Stikes Dian Husada 8. Angkat nampan pengukus paling atas yang berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan - lahan agar air yang tersisa pada sarung tangan dapat menetes keluar. 9. Letakkan nampan pengukus diatas panci perebus yang kosong di sebelah kompor. 10.Ulangi langkah tersebut hingga semua nampan pengukus yang berisi sarung tangan tersusun di atas panci perebus yang kosong Lctakkan penutup di atasnya hingga sarung tangan menjadi dingin dan kering tanpa terkontaminasi 11.Biarkan sarung tangan kering dengan diangin-anginkan sampai kering di dalam panci selama 4-6 jam, jika diperlukan segera biarkan sarung tangan menjadi dingin selama 5-10 menit dan kemudian gunakan dalam waktu 30 menit pada saat masih basah atau lembab (setelah 30 menit bagian jari sarung tangan akan menjadi lengket dan membuat sarung tangan sulit di gunakan atau dipakai). 12.Jika sarung tangan tidak di pakai segera , setelah kering, gunakan cunam penjepit atau pin-set DTT untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung tangan tersebut dalam wadah DTT lalu tutup rapat (sarung tangan bisa disimpan di dalam panci pengukus yang berpenutup rapat). Sarung tangan tersebut bisa di simpan sampai satu minggu. LANGKAH - LANGKAH KUNCI PADA DTT SECARA KIMIA : 1. Setelah dilakukan dekontaminasi, cuci dan bilas, keringkan dengan seksama semua peralatan. 2. Rendam sernua peralatan menggunakan larutan desinfeksi tingkat tinggi (pastikan peralatan terendam seluruhnya dalam larutan kimia). 3. Rendam selama 20 menit. 4. Catat lama waktu peralatan direndam dalam larutan kimia di buku khusus. 5. Bilas peralatan dengan air matang dan angin-anginkan sampai kering di wadah DTT yang berpenutup. 6. Setelah kering peralatan dapat digunakan dengan segera atau disimpan dalam wadah DTT yang berpenutup rapat. 7. Untuk menyiapkan wadah DTT, direbus bila kecil atau isi 1

Stikes Dian Husada dengan larutan klorin 0,5% dan biarkan selama 20 menit. STERILISASI Suatu tindakan untuk,membunuh kuman patogen dan a patogen bescrta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara merebus, stoom, panas tinggi atau menggunakan bahan kimia. PELAKSANAAN 1. Sterilisasi dengan cara rebus Mensterilkan peralatan dengan cara merebusnya didalam air sampai mendidih ( 100 ° C ) dan ditunggu antara 15 - 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan karet. 2. Sterilisasi dengan cara stoom Mensterilkan peralatan dengan uap panas didalarn autoclove dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat - obatan dan lain - lain. 3. sterilisasi dengan cara panas kering Mensterilkan peralatan dalam oven dengan panas tinggi, misalnya peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca danobat tertentu. 4. Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan bimia Mensterilkan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kena panas. Misalnya sarung tangan, kateter, dan lain - lain-

2

Stikes Dian Husada

FORMAT PENCUCIAN DAN PEMBILASAN
N KEGIATAN o 1. Pakai sarung tangan karet yang tebal pada 2 kedua tangan Ambil peralatan bekas pakai yang telah didekontaminasi(hati-hati bila memegang 3 peralatan yang tajam,seperti gunting dan jarum jahit). Agar tidak merusak benda-benda yang terbuat dari plastik atau karet jangan 4 dicuci segera bersamaan dengan peralatan yang terbuat dari logam. Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati-hati ➢ Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran. ➢ Buka engsel gunting dan klem. ➢ Sikat dengan seksama terutama dibagian sambungan dan pojok peralatan. ➢ Pastikan tidak ada sisa darah dan 5 kotoran yang tertinggal pada peralatan. 6 ➢ Cuci setiap benda sedikitnya tiga kali (atau lebih jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.bilas bendabenda tersebut dengan air bersih 7 Ulangi prosedur tersebut pada benda-benda lain Jika peralatan akan didisinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi (misalkan dalam larutan klorin 0,5%) tempatkan peralatan 1 1 2 3

Stikes Dian Husada 8 9 dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum memulai proses DTT Peralatan yang akan didisinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus atau direbus, atau disterilisasi didalam otoklaf atau oven panas kering, tidak usah dikeringkansebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung tangan dengan air dan sabun dan kemudian bilas secara seksama dengan menggunakan air bersih Gantungkan sarung tangan dan biarkan dengan cara dianginanginkan

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada

FORMAT DESINFEKSI TINGKAT TINGGI
N KEGIATAN o A DTT DENGAN CARA MEREBUS 1. Gunakan panci dengan penutup yang rapat. 2 Ganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan. 3 Rendam peralatan sehingga semuanya terendam didalam air. 4 Mulai panaskan air. 5 Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih. 6 Jangan tambahkan benda apapun- kedalam air mendidih setelah penghitungan waktu dimulai : • Rebus selama 20 menit. • Catat lama waktu perebusan peralatan didalam buku khusus. • Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan (jika peralatan dalam keadaan lembab maka tingkat pencapaian desinfeksi tingkat tinggi tidak terjaga). • Setelah peralatan kering gunakan segera atau simpan dalam wadah desinfeksi tingkat tinggi dan berpenutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutupnya tidak dibuka. B DTT SECARA KIMIA 1 2 3

1

Stikes Dian Husada 1. Setelah dilakukan dekontaminasi, cuci dan bilas, keringkan dengan seksama semua 2 peralatan. Rendam semua peralatan menggunakan larutan desinfeksi tinggi (pastikan peralatan terendam 3 seluruhnya dalam larutan kimia). 4 Rendam selama 20 mcnit. Catat lama waktu peralatan direndam dalam 5 larutan kimia di buku khusus. Bilas peralatan dengan air matang dan anginanginkan sampai 6 kering di wadah DTT yang berpenutup Setelah kering peralatan dapat digunakan dengan 7 segera atau disimpan dalam wadah DTT yang berpenutup rapat. Untuk menyiapkan wadah DTT, direbus bila kecil atau isi dengan larutan klorin 0,5°% dan biarkan selama 20 menit. Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 1

Stikes Dian Husada .............................................................................................................

1

Stikes Dian Husada Proses Dekontaminasi adalah langkah pertama dalam menangani benda yang sudah dipakai; mengurangi resiko HBV dan HIV/AIDS DEKONTAMINASI Seka permukaan yang terekspos dengan kasa yang direndam dalam 60 – 90% alcohol atau klorin 0,5%, bilas segera Pembersihan menghilangkan darah, duh tubuh dan kotoran yang tampak Sterilisasi menghancurk an semua mikro organism termasuk endospora Disinfeksi tingkat tinggi menghancurka n semua virus bakteri parasit, fungi dan beberapa endospora DISINFEKSI TINGKAT TINGGI Tidak perlu

Instrumen / benda Ambu bag/masker muka resusitasi kardiopulmoner

PEMBERSIHAN

STERILISASI

Cuci dengan Tidak perlu sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan diudara atau dengan handuk Tidak perlu Tidak dianjurkan,

AKDR dan Tidak perlu inserternya

Tidak dianjurkan

2

Stikes Dian Husada kebanyakan AKDR dimasukkan dalam kantong streril, buang kalau kantongnya berlubang Alas kaki Seka dengan Cuci dengan Tidak perlu klorin 0,5% bilas sabun dan air, dengan air bersih bilas dengan air bersih, keringkan Tidak perlu

Apron (plastic / Seka dengan Cuci dengan Tidak perlu karet klorin 0,5% bilas sabun dan air, dengan air bersih bilas dengan air bersih, keringkan

Tidak perlu

3

Stikes Dian Husada Bola isap Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Cuci dengan Tidak perlu sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan diudara atau dengan handuk Cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan diudara atau dengan handuk Cuci dengan menggunakan sikat, cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, kl sudah di sterilisasi, 4 Tidak perlu

Diafragma atau fitting rings (digunakan untuk ukuran pasien)

Forsep transfer Rendam dengan dan tempatnya larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera

Stikes Dian Husada keringkan diudara atau dengan handuk Gaun bedah, kain penutup linen dan pembungkus Tidak perlu (staf londri harus memakai gaun pelindung, sarung tangan, dan kaca mata sewaktu menangani linen kotor) Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Cuci dengan sabun dan air. Bilas dengan air bersih, keringkan dengan udara atau mesin pengering Cuci dengan menggunakan sikat, cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, kl sudah di sterilisasi, keringkan diudara atau 5

Instrument bedah

Stikes Dian Husada dengan handuk Jarum suntik Isi jarum dan dan semprit semprit yang (gelas plastic) terpasang dengan klorin 0,5%. Bilas 3 kali dan apakah dibuang jarumnya atau rendam selama 10 menit sebelum pembersihan. Bilas dengan menyemprot 3 kali dengan air bersih Kanula (plastic) AVM Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Buka pasangannya, kemudian cuci dengan sabun dan air. Bilas dengan air bersih, keringkan sempritnya di udara atau dengan handuk (hanya jarum dikeringkan di udara) Cuci dengan sabun dan air, lepaskan semua partikel

6

Stikes Dian Husada Kap darah tekanan Jika terkontaminasi dengan darah atau duh tubuh, seka dengan kain yang dibasahi klorin 0,5% Jika kotor cuci dengan sabun, bilas dengan air bersih, keringkan

Kateter isap Rendam dengan (karet / plastik) larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Kateter urin Rendam dengan karet dan logam larutan klorin yang lurus 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera

Cuci dengan sabun dan air. Bilas 3 kali dengan air bersih (luar dan dalam) Dengan menggunakan sikat cuci dengan sabun dan air. Bilas 3 kali dengan air bersih (luar dan dalam) 7

Stikes Dian Husada Laparoskop Seka permukaan yang terekspos dengan kasa yang dicelupkan dalam 60 – 90% alkohol atau klorin 0,5%, bilas segera Lepaskan satu persatu, kemudian menggunakan sikat cuci dengan sabun dan air. Bilas dengan air bersih, keringkan dengan handuk

Meja periksa Bilas atau bedah atau larutan permukaan area 0,5% yang luas (kereta dan usungan) PPD masker, operasi)

dengan Cuci dengan klorin sabun dan air kalau materi organic masih ada setelah dekontaminasi Cuci dengan sabun dan air. Bilas dengan air bersih, keringkan 8

(kap, Tidak perlu (staf baju londri harus memakai gaun pelindung, sarung tangan, dan kaca

Stikes Dian Husada mata sewaktu dengan udara menangani linen atau mesin kotor) pengering Saluran plastik udara Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera tangan Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera Cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan diudara atau dengan handuk Cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, lihat apakah berlubang Cuci dengan menggunakan sikat, cuci dengan sabun dan air, bilas 9

Sarung bedah

Slang ventilator Tidak perlu atau sirkuit

Stikes Dian Husada dengan bersih, Stetoskop Seka permukaan yang terekspos dengan kasa yang direndam dalam 60 – 90% alcohol Rendam dengan larutan klorin 0,5% selama 10 menit sebelum dibersihkan. Bilas atau cuci segera air

Bila kotor, cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan Cuci dengan sabun dan air, bilas dengan air bersih, keringkan diudara atau dengan handuk Dengan sikat, cuci dengan desinfektan, sabun dan air, bilas dengan air bersih 10

Tempat penyimpanan instrument

Tempat muntah Tidak perlu bedpan / urinal

Stikes Dian Husada Thermometer gelas Tudak perlu Seka dengan larutan desinfektan, bilas dengan air bersih, keringkan

Catatan: 1. Jika tidak dibungkus gunakan segera, bila dibungkus proses ulang jika bungkusnya rusak atau terkontaminasi 2. Kertas atau plastik letakkan ditempat pembuangan yang tahan kotor atau kantong plastik untuk dibuang 3. Jika sterilisasi (panas kering atau otoklaf) tidak ada barang barang ini dapat didesinfeksi tingkat tinggi dengan didihkan, diuapkan, atau direndam dalam desinfektan kimia 4. Hindarkan paparan berkepanjangan dengan larutan clorin, untuk mengurangi korosi (karatan) dari instrumen dan kerusakan produk karet dan kain 5. Instrumen yang tajam jangan disterilisasi pada suhu diatas 160oC untuk mencegah penumpulan

11

Stikes Dian Husada

PENGKAJIAN FISIK
Pada Kesehatan Fungsional menurut Gordon : 1. Pola Persepsi kcsehatan - Pemeliharaaan Kesehta 2. Pola Nutrisi Metabolisme 3. Pola Eliminasi 4. Pola Aktifitas-Latihan 5. Pola Istirahat – Tidur 6. Pola Kognitif-Persepsi 7. Pola Konsep diri - Persepsi diri 8. Pola hubungan – Peran 9. Pola Seksual – Reproduksi 10.Pola Penanganan masalah - Stress - Toleransi 11.Pola Keyakinan - Nilai - nilai Untuk membantu pasien dalam mengutarakan maslah / keluhannya secara lengkap, maka perawat dianjurkan menggunakan analisa simptom PQRST P : Provokatif atau Paliatif Q : Qualitas atau Kuantitas R : Regional / Area radiasi S : Skala Keparahan T : Timing ( Waktu ) Wawancara riwayat kesehatan meliputi lima bidantg utama yaitu data biografi, pola sehat - sakit, Permeliharaan kesehatan, Pola hubungan Peran dan suatu ringkasan data riwayat keperawatan TEKNIS DAN PERSIAPAN PENGKAJIAN ADA 4 YA1TU : 1. INSPEKSI 2. PALPASI 3. PERKUSI 4. AUSKULTASI lnspeksi Merupakan proses obserfasi dengan menggunakan mata. Adapun langkah kerja inspeksi adalah : 12

INSPEKSI

Stikes Dian Husada 1. atur pencahayaan yang cukup sebelu m melakukan inspeksi 2. Atur suhu dan suasana ruangan yang nyaman 3. Buka bagian yang diinspeksi dan yakinkan bahwa bagian tersebut tidak tertutup baju selimut dan sebagainya 4. Bila perlu gunakan kaca pembesar untuk membantu inspeksi 5. Selalu jelaskah dalam menetapkan apa yang anda lihal 6. Perhatikan kesan pertama pasien yang meliputi perilaku, ekspresi, penampilan umum pakaian, postur tubuh dan gerakan dengan waktu yang cukup 7. Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh dengan sisi yang lain Palpasi dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau rabaan. metode ini dikerjakan untuk mendeterminasi ciri - ciri jaringan atau organ. Palpasi biasanya dilakukan terakir setelah inspeksi, auskultasi dan perkusi Ada 2 jenis Palpasi yaitu : 1. Palpasi Dalam 2. Palpasi Ringan Palpasi Rangan banyak digunakan dalam pengkajian Palpasi Dalam dikerjakaanuntuk merasakan isi Abdomen Cara Kerja Palpasi : 1. Pastikan bahwa area, yang akan di palpasi benar - benar nampak ( tidak tertutup selimut, baju dan lain - lain ) 2. Cuci tangan sampai bersih dan keringkan 3. Beritahu pasien tentang apa yang akan dikerjakan 4. Secara prinsip palpasi dapat dikerjakan dengan semua jari, tetapi jari telunjuk dan ibu jari lebih sensitif 5. Untuk menterminasi bentuk dan struktur organ gunakan jari 2,3 dan 4 secara bersamaan Untuk Palpasi abdomen gunakan telapak tangan dan beri tekanan dengan jari - jari secara ringan 6. Bila perlu lakukan palapasi dengan dua tangan 7. Perhatikan dengan seksama muka pasien selama palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan 8. Lakukan palpasi secar sistematis dan uraian ciri - ciri 13

PALPASI

Stikes Dian Husada tentang ukuran, bentuk, konsistensi dan permukaannya PERKUSI Adalah : Metode pemeriksaan dangan cara mangetuk, Tujuan : Untuk menentukan batas - batas organ atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan ke bawah jaringan Cara Kerja Perkusi : 1. Buka / lepas pakaian pasien sesuai yang diperlukan 2. Luruskan jari tangah tangan kiri., tekan bagian ujung jari dan letakkan dengan kuat pada permiksan yang diperkusi. Upayakan jari - jari yang lain tidak menyentuh Permukaan, karena akan mengaburkan auara Konsistenlah dalam memberikan tekanan pada permukaan pada permukaannya yang di Perkusi 3. Lenturkan jari tengah kanan ke atas dangan lengan bawah relaks. Pertahankan kelenturan tangan pada pergelangan tangan 4. Gerakkan pergelangan tangan dengan cepat, jelas dan relaks serta ketukkan ujung jari tengah tangan kiri ( setelah batas kuku ) di mans tekanan yang mendesak pada permukaan yang dipertusi paling besar 5. Segera angkat jari tengah tangan kanan untuk menghindari vibrasi terendam 6. Pertahankan gerakan pads pergelangan tangg an Ticlak pada jari, siku atau pundak AUSKULTASI Merupakan metode pengkajian yang menggunakan stetoskop untuk memperjelas pendengaran untuk mendengarkan bunyi jantung, paru - paru, bunyi usus serta untuk mendengarkan tekanan darah dan denyut nadi Cara Kerja dengan menggunakan stetoskop adalah sebagai berikut : 1. Lakukan pengkajian dalam ruangan yang tenang dan nyaman 2. Pasang bagian telinga ( ear piece ) di telinga 14

Stikes Dian Husada 3. Pastikan stetoskop benar - benar terpasang tepat di telinga dan tidak menimbulkan rasa sakit 4. Pastikan bahwa aksis longitudinal telinga luar dengan ear Piece benar - banar tepat 5. Pilih bagian diafragma atau bel tergantung pada apa yang akan didengar TINGKATAN KESADARAN Kesadaran Tanda - Tanda Kompos Mentis Apatis Somnolen Sadar penuh, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilinnya Keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan kehidupan sekitarnya, sikapnya acuh - takacuh Keadaan kesadaran yang mau tidur saja, dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri, akan tetapi jatuh tidur lagi Keadaan kacau motorik yang sangat, memberontak, berteriak-teriak dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu / Keadaan kesadaranyang menyerupai koma reaksi ditimbulkan dengan rangsan nyeri Dapat hanya Keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan ranpsang apapun PENGKAJIAN KULIT, RAMBUT DAN KUKU INSPEKSI DAN PALPASI 1. Inspeksi kulit mengenai warna, jaringan parut, lesi dan kondisi vaskularisasi supervisial 2. Palpasi kulit untuk mengetahui suhu kulit, tekstur ( halus, kasar ), mobilitas / turgor dan adanya lesi 3. Inspeksi dan palpasi kuku dan catat mengenai warna, bentuk dan setiap ada ketidak normalan / lesi 15

Delinium

Soopor Semikoma koma

Stikes Dian Husada 4. Inspeksi dan palpasi rambut dan perhatikan jumlah, distribusi dan teksturnya Variasi warna kulit 1. Coklat : Deposisi melanin, Deposisi melanin hemosiderin 2. Biru ( sianosis) Akibat hipoksia 3. Biru kemerah - merahan : Kombinasi akibat jumlah total hemoglobin meningkat, polisitemia 4. Merah : Demam, Alkohol, Peradangan Iokal, lingkungan yang dingin 5. Kuning ( Ikterik ) : Kadar bilirubin meningkat 6. Warna Berkurang : Penurunan kadar melanin ( Albinisme ), Kehilangan melanin ( Vitiligo ) Tinea Versikolor ( Infeksi jamur yang umum ) Bates, A. Guide To Physical Examination and History Taking. Fifth Edition, JB, Lippiacott, New York, 1991 PENGKAJIAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Mengetahui bentuk dan fungsi kepala, pengkajian diawali dengan inspeksi kemudian palpasi 1. Atur pasien dalam posisi duduk atau berdiri tergantung kondisi pasien 2. Bila pasien memakai kacamata, anjurkan untuk melepaskannya 3. Lakukan inspeksi yaitu dengan memperhatikan kesimetrisan muka, tengkorak, warna dan distribusi rambut serta kulit kepala, Muka Normalnya simetris antara kanan dan kiri. Ketidak simetrisan muka dapat merupakan suatu petunjuk adanya kelumpuhan / parasa, saraf ketujuh. Bentuk tengkorak yang normal adalah simetris dengan bagian frontal 4. Distribusi rambut sangat bervariatif pada setiap orang dan kulit kepala normalnya tidak mengalami peradangan , tumor maupun bekas luka / sikatrik MATA 16

Stikes Dian Husada Dalam Inspeksi, bagian - bagian mata yang perlu diamati adalah bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sklera dan pupil 1. Amati bola mata terhadap adanya protrusis, gerakan mata, medan penglihatan dan visus. 2. Amati kelopak mata , perhatikan terhadap bentuk dan setiap ada kelainan dengan cara sebagai berikut a. Anjurkan pasien melihat ke depan b. bandingkan mata kanan dan kiri c. Anjurkan pasien menutup kedua mata d. Amati Bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata , serta pada bagian pinggir kelopak mata e. Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata f. Perhatikan keluasan mata dapat membuka dan catat bila ada dropping kelopak mata atau sewaktu waktu membuka ( Ptosis ) 3. Amati konjungtiva dan Skler 4. Amati warna iris serta ukinan dan bentuk pupil, kemudian lanjutkan dengan mengevaluasi reaksi pupil terdap cahaya. Normalnya bentuk pupil sama besar ( Isokor), pupil yang mengecil tersebut Miosis, Amat kecil disebitt Pin Poin, sedangkan pupil yang melebar / dilatasi disebut Midriasis lnspeksi gerakan mata dan inspeksi Medan Penglikatan Baca Di Buku Pengkajian Fisik Keperawatan Robert Priharjo hal 43 Pemeriksaan Visus ( Ketajaman Penglihatan ) 1. Siapkan kartu snellen / kartu yang lain untuk pasien dewasa atau kartu gambar untuk anak - anak 2. Atur Kursi tempat duduk pasien dengan jarak 5 stau 6 cm dari kartu snellen 3. Atur pencahayaan 4. Beritahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangan 5. Pemeriksaan mata kanan dengan cara pasien disuruh membaca mulai huruf yang paling besar menuju huruf yang kecil dan catat tulisan terakhir yang masih dapat dibaca oleh pasien 6. Selanjutnnya pemeriksaan mata kiri PALPASI Untuk mengetahui tekanan bola mata dan untuk mengdari adanya 17

Stikes Dian Husada nyeri a. b. c. ) tekan secara Icbih teliti diperlukan alat Tonometer Beritahu pasien untuk duduk Anjurkan pasien untuk memejamkan mata Lakukan palpasi pada kedua mata. Bila tekanan bola mata tinggi maka mata teraba keras

TELINGA Pengkajian secara umum bertujuan untuk mengetahi keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga / membran timpani dan pendengaran Alat - alat yang periu disiapkan dalam pengkajian telinga antara lain otoskop, Garputala, dan arloji Inspeksi dan Palpasi Baca Di Buku Pengkajian Fisik Keperawatan Robert Priharjo hal 50 - 51 Cara Membuka lubang telinga 1. Pada Anak - anak tetap datam posisi normal 2. Pada orang dewasa Ditarik ke atas Pcmcriksaan Pendengaran 1. Dengan arloji 2. Dengan suara bisikan ( sederhana ) 3. Garputala 4. Test Audiometri ( oleh Spesaialis ) Pemeriksaan garputala ada 2 teknik : a. Pemeriksaan Rinne ( Garputala diletakkan pada mastoid kiri) Gunakan untuk membandingkan antara konduksi udara dengan konduksi tulang b. Pemeriksaan weber ( Garputala diletakkan di puncak kepala pasien ) Digunakan untuk mengetahui lateralisasi fibrasi ( getaran, yang dirasakan baik oleh kanan maupun kiri ) Hidung dan sinus - sinus Mulut dan Paring 18

Stikes Dian Husada Baca Di Buku Pengkajian Fisik Keperawatan Robert Priharjo hal 68 PENGKAJIAN DADA DAN PARU - PARU Ciri - Ciri Bunyi Nafas Bunyi Nafas Vesikulcr Nada Durasi bunyi bunyi inspirasi Ekspiras dan ekspirasi i Inspirasi > Renda Ekspirasi h Intensitas bunyi ekspirasi Lembut Lokasi Sebagian area paru - paru kanan dan kiri , Sering pada spasium intercostalis ke -1 dan ke-2 bagian dan di antara skapula Di atas mal mutrisi Di alas trakea pada leher

BronkoVesikuler

(aspirasi Ekspirasi

=

Sedang

Sedang

Bronkeal Trakeal

Ekspirasi lnspirasi Inspirasi Ekspirasi

> tinggi = Sangat tiggi

Keras Sangat Keras

Tindakan Gradasi Kekuatan Otot Skal Kekuatan Ciri – ciri a normal % 0 0 Paralisis total 1 10 Tidak ada gerakan, teraba / terlihat adanya kontraksi otot 2 25 Gerakan otot penuh menentang gravitasi, dengan sokongan 3 50 Gerakan normal menentang gravitasi 4 75 Gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan sedikit penahanan 5 100 Gerakan normal penuh menentang 19

Stikes Dian Husada gravitasi dengan sedikit penahanan penuh Skala Koma Glasgow ( GCS ) Parameter responden Nilai Mata Membuka secara spontan 4 Terhadap suara 3 Terhadap nyeri 2 Tidak terespon 1 Respon verbal Orientasi baik 5 Bingung 4 Kata – kata tidak jelas 3 Bunyi tidak jelas 1 Respon motorik / Mengikuti perintah 6 gerak Gerakan local 5 Fleksi, menarik 4 Fleksi abnormal 3 Ekstensi abnormal 2 Tidak ada 1 Nilai maksimal 15, minimal 3 Pergerakan 1. Pergerakan otot - otot ekstraokuler di atur oleh saraf kranial III, IV dan VI 2. Saraf kranial yang terlibat dalam aktifitas lngesti ( Menggigit dan menelan ) yaitu saraf V, VII, IX, X dan XII 3. Aktifitas Motoric bicara dipeng,aruhi oleh kenormalan saraf kranial VII, IX, X dan XII

20

Stikes Dian Husada

FORMAT PEMERIKSAAN FISIK
N o 1 2 3 4 5 6 7 8 KEGIATAN Menyapa klien dengan ramah Meminta klien mengosongkan kandung kemih ( k/p ) Merninta klien mengganti baju dengan skort ( klp ) Mengatur sikap klien dalam keadaan nyaman Memberitahu klien tentang prosedur permintaan Mencuci tangan Mendekatkan peralatan dan memeriksa kembali kelengkapan alat dan bahan Pemeriksaan sistematis dari kepala s/d ujung kaki ( inspeksi palpasi, auskultasi, perkusi ) a Penampilan umum  Keadaan umum  Wajah  Penafsiran umum  Bentuk badan  Cara berbaring, bergerak  Cara bicara  Pakaian, kerapian, kehersihan badan b. Kulit, rarnbut dan kuku  insneksi : warna kulit, akar, lesi, banyaknya rambut, warna kuku, bentuk kuku  palpasi : suhu, kelembaban, 21 1 2 3

Stikes Dian Husada tekstur, turgor, edema c. Kepala  inspeksi : kesimetris an muka, tengkorak, rambut, kulit kepala  palpasi : kulit kepala, deformitas d. Mata  inspeksi : bentuk bola mata, kelopak, konjungtiva, sidera, konim iris, pupil ka / ki, lensa, gerakan, medan Penglihatan, visus .  palpasi : tekanan bola main e. Telinga ○ inspeksi : daun telinga, liang, membran tympani

22

Stikes Dian Husada ○ palpasi : nyeri tekan tragus, kartilago uji pendengaran

f. Hidung dan sinus - sinus ○ inspeksi : badan luar, bagian dalam, ingus, perdarahan, penyumbat ○ palpasi : septum, sinus g. Mulut • inspeksi : bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lendir, faring usula tonsil • Palpasi : pipi palatum, dasar mulut, lidah • Perkusi gigi • Bau mulut h. leher • Inspeksi : bentuk, warna kulit, bengkak tumor, gerakan • Palpasi : kelenjar linfe, kelenjar tiroid, trakhea i. Pembulub darah • inspeksi : a. temporalis, a karotis, a. brachialis, a radialis, a. femoralis a popliteal, a tibialis post, a. dorsalis pedis j. Dada • inspeksi : bentuk 23 retraksi, kulit,

9 1 0 1 1

Stikes Dian Husada buah dada, dll k Paru - paru • inspeksi ka / ki, palpasi ka / ki, Perkusi ka-/ ki, auskultasi ka / ki l. Jantung inspeksi, palpasi, auskufiasi, perkusi m. Perut ○ inspeksi : bentuk., retraksi, simetris, kontur permukaan., penonjolan auskultasi : bunyi usus, bising arteri, bising vena, dIl palpasi : ringan, dalam, hepar, lien, ginjal, kandung kemih, dll

n. Anus & rektum • inspcksi dan palpasi ( RT : rectal toucher ) o. Alat kelamin • inspeksi : ( Luar & dalam ) . • palpasi ( VT } 24

Stikes Dian Husada p. Muskuloskletal • Qtot : Inspeksi : ukuran, kontraktur, kontraksi, kekuatan • Tulang : Inspiksi : susunan tulang, deformitas, pembengkakan Persendian, kaku, ROM, dll Palpasi : nyeri tekan, bengkak, krepitasi q. Neurologi • kesadaran, mentasi, gerakan, sensasi, regulasi integrasi, pola pemecahan masalah / penyesuaian diri Kesimpulan Mencatat hasil pengkajian Mencuci tangan Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 25

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. .............................................................................................................

26

Stikes Dian Husada

OBSERVASI TANDA - TANDA VITAL
Tujuan Umum : Mahasiswa mampu melakukan observasi tanda - tanda vital Tujuan khusus : Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu :. 1. Menyebutkan pengertian dan tanda - tanda vital 2. Menyebutkan suhu normal rata - rata di berbagai bagian tubuh 3. Menyebutkan tempat untuk pengukuran suhu 4. Menyebutkan kecepatan denyut nadi yang normal 5. Menyebutkan tempat untuk mengukur denyut nadi 6. Menyebutkan kecepatan pernafasan yang normal 7. Melakukan observasi tanda - tanda vital Perubahan fungsi tubuh seringkali tercermin pada suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah. Setiap perubahan yang berbeda dengan keadaan normal dianggap sebagai indikasi yang penting mengenai keadaan kesehatan seseorang. Karena itu ke empat komponen ini disebut tanda - tanda vital ( Potter & Perry 1997 ). Pemeriksaan tanda - tanda vital merupakan cara yang cepat dan efisien dalam memantau kondisi klien atau mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi respon klien terhadap intervensi yang diberikan. Pemeriksaan merupakan bagian dari proses penerimaan pasien. Data ini membemrikan sebagian keterangan pokok yang memungkinkan disusunnya rencana perawatan. Selanjutnya pengambilan tanda - tanda vital ini dilakukan dengan jarak waktu, pengambilan tergantung pada keadaan umum atau kebutuhan klien. Palpasi dan auskultasi merupakan metode pokok yang digunakan untuk mengetahui tanda - tanda vital. SUHU TUBUH Suhu tubuh rata - rata untuk orang dewasa adalah : suhu oral 3 7 C ; suhu rectal 37,5 C; dan suhu aksilla 36,7 C ( Potter & Perry 1997 ). Pusat pengaturan ,suhu tuhuh ada di hipotalamus dalam SSP yang terletak di bawah otak. Organ ini memainkan peranan penting sebagai 27

Stikes Dian Husada pengatur panas. Hipotalamus mempunyai dua, hipotalamus bagian depan untuk mengatur pembuangan panas; dan hipotamus bagian belakang mengatur upaya penyimpanan panas. Pusat tersebut menjaga agar suhu tetap birkisar 37 C dengan mempertahankan keseimbangan ,rata – rata panas yang hilang dengan produksi panas yang berasal dari metaholisme. Sedangkan mekanisme untuk menjaga agar suhu tubuh tetap seimbang dilakukan dengan melebarkan pembuluh darah / vasodilatasi dalam upaya mengeluarkan panas dan menyempitnya pembuluh darah / vasokontriksi dalam upaya menahan pan as. Pireksia atau demam adalah terjadinya kenaikan suhu tubuh di atas normal yang merupakan gejala umum penyakit. Naiknya suhu tubuh membantu tubuh -nelawan penyakit / menghancurkan bakteri. Hiperpireksia terjadi jika suhu lebih 41C dan dalam keadaan ini sel – sel otak dapat mengalami kerusakan dan jika suhu lebih dari 43C, maka individu tidak dapat bertahan untuk hidup. Hipotermia adalah kondisi sebaliknya dimana suhu berada dibawah rata – rata normal. Kematian biasanya terjadi apabila suhu turun sampai dibawah 34C M e n e n t u k a n t e m p at u n t u k m e n g u k u r s u h u a. Suhu Oral / mulut merupakan suhu inti tubuh. Menurut Potter & Perry ( 1997 ) cara ini tidak dilakukan pada klien yang menjalani bedah mulut, menggigil, riwayat epilepsi, pingsan, bernafas dengan mulut, klien dengan terapi oksigen, klien yang baru makan/minum ( tunggu 30 menit untuk memberikan waktu pada jaringan untuk kembali pada suhu normal) Pengukuran pada tempat ini juga tidak dilakukan pada bayi dan balita. b. Suhu rektal : Lebih akurat dari suhu mulut. Tidak dilakukan pada bayi baru lahir, klien diare, kanker anus atau klien dengan sakit jantung, c. Suhu aksla : Dilakukan jika pengambilan suhu mulut dan rektal tidak mungkin dilakukan karena merupakan kontra indikasi. Metode ini adalah metode yang paling tidak akurat karena kondisi ketiak mudah dipengaruhi oleh suhu lingkungan. 28

Stikes Dian Husada NADI Kecepatan denyut nadi yang normal bagi orang dewasa adalah a n t a r a 5 0 - 100 kali permenit. Denyut nadi merupakan dorongan alau ketukan yang diukibatkan mengembangnya aorta yang menghasilkun gelombang,pada dinding aorta Ada banyak sebab terjadinya perubahan kecepatan denyut jantung. Kecepatan denyut bereaksi terhadap terhadap rangsangan yang ditimbulkan oleh sistem saraf simpatis dan para simpatis. Beberapa hal yang mempengaruhi jumlah denyut : Emosi, nyeri, aktivitas dan obat - obatan. Kecepatan denyut nadi bertambah bila tekanan darah turun karena jantung berusaha meningkatnya keluarnya darah. Kecepatan denyut > 100 kali pernienit disebut takikardia dan < 50 kali permenit disebut bradikardia. Irama denyut nadi ada beberapa macam yaitu : irama normal ( jika selang waktu antar denyut sama ), irama tidak teratur (aritmia), pulsus intermitten (denyut yang mengalami periode irama yang normal kemudian terganggu oleh periode yang tidak teratur) Tempat-tempat yang paling sering digunakan untuk memeriksa denyut nadi adalah nadi radialis dipergelangan tangan. Bagian-bagian tubuh yang lain dapat dijadikan tempat mengukur nadi dapat dilihat digambar berikut ini : a. Temporal---------------------Ularis a. Radialis---------------a. Bracialis-----------------Kronis a. --------------------a. ---------------Aplikat

--------------a. Femoralis Popliteral -----------------29 --------------a.

Stikes Dian Husada

PERNAFASAN Menurut Potter & Perry ( 1997 ) bernafas adalah tindakan mengambil oksigen oleh tubuh ( inspirasi ) dan tindakan membuang karbondioksida dan dalam tubuh ( ekspirasi ). Secara normal orang dewasa sehat bernafas kira - kira 18 - 20 kali per menit, sementara bayi dan anak kecil bernafas lebih cepat daripada orang dewasa. Naiknya kecepatan bernafas disebut Potypnea. Jikasuhu badan naik kecepatan bernafas bertambah karena tubuh berusaha melepaskan diri dari kelebihan panas. Setiap keadaan yang menyebabkan akumulasi kekurangan C02 dalam darah mengakibatkan bertambahnya kecepatan, kedalaman pernafasan Bernafas yang semakin dalam disebut Hyperpnea. Secara normal bernafas dilakukan secara otomatis dan tidak mengeluarkan suara, teratur, tenang dan tanpa upaya khusus. Pernafasan yang sulit disebut Dyspnea yang ditandai oleh pernapasan cuping hidung, wajah tegang dan bernafas menggunakan otot - otot tambahan. TEKANAN DARAH Kerja jantung dapat dilihat melalul tekanan darah. Tekanan darah terdiri atas tekanan Sistolik ( pembilang ) yaitu : Merupakan tekanan tertinggi pada dinding uteri yang terjadi ketika bilik kiri jantung menyemprotkan darah melalui katuh aorta yang terbuka ke dalam aorta, dan tekanan Diastolik ( penyebut ) yaitu : tekanan yang minimal terhadap dinding arteri pada setiap waktu Potter & Perry, 1997 . Satuan tekanan darah adalah mmHg . Faktor - faktor yang menentukan tekanan darah :tolakan periferal, gerakan memompa jantung, volume darah, kekentalan darah, elastisitas dinding pembuluh darah. Faktor - faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah pada orang yang sehat ialah : usia, jenis kelamin, aktifitas dan emosi. Tekanan darah normal pada setiap orang berbeda. Oleh karena itu kita perlu mengkaji tekanan darah yang normal pada orang tertentu. Menurut Potter & Perry, seorang dewasa muda 30

Stikes Dian Husada rata - rata tekanan darah normalnya adahh 120/80 nimlig, Jika terjadi kenaikan atau penurunan sebesar 20 - 30 mmllg atau Iebih maka perlu dikaji kembali apakah orang tersebut mempunyai gangguan dalam sistem sirkulasi.

31

Stikes Dian Husada FORMAT OBSERVASI TANDA – TANDA VITAL N o A 1. 2. 3. 4. 5. KEGIATAN NADI Berikan penjelasan kepada klien Cuci tangan Atur posisi yang nyaman, duduk atau berbaring dengan posisi tangan rileks Letakkan ujung jari-jari tangan kecuali ibu jari pada arteri / nadi yang akan di ukur, tekan denagn lembut. Hitung frekuensi nadi mulai hitungan nol ( 0 ) selama 30 detik ( kalikan 2 kali untuk memperoleh frekuensi dalam 1 menit ). Jika ritme naik tidak teratur, hitung selama satu menit. Cuci tangan Catat pada catatan perawat dan kardeks pasien Catat pada catatan perawatan dan kardeks pasien MENGUKUR TEKANAN DARAH Berikan penjelasan pada klien Siapkan alat tensimeter Cuci tangan Persiapan tindakan : a. Paseien berbaring dengan posisi supine b. Lengan baju pasien di gulung. c. Pasang manset sphigmomanometer • Manset dipasang setinggi letal jantung • Tepi bawah manset letakkan 2 – 3 cm di atas fossa cubiti. 32 1 2 3

6. 7. 8.

B 1. 2. 3. 4.

5.

Stikes Dian Husada Pengukuran tekanan darah dengan cara auskultasi a. Naikkan tekanan dalam manset sambil meraba arteri radialis sampai denyutan hilang. b. Tekanan di naikkan lagi kurang lebih 30 mmHg c. Letakkan stetoskop pada arteri brachialis pada fossa cubiti dengan cermat dan tentukan tekanan sistolik. d. Turunkan tekanan dalam manset dengan kecepatan 4 mmHg / detik sambil mendengar hilangkan bunyi pembuluh yang mengikuti 5 fase Korotkov. Ulangi pengukuran 1 kali lagi dengan air raksa dalam spigmomanometer di kembalikan pada angka 0, lakukan tindakan seperti di atas. MENGUKUR RESPIRASI Mencuci tangan Hitunglah naik turunnya dad klien ( pernafasan ) sambil memegang arteri radialis dan menekukkan ke dada pasien seperti pura – pura menghitung denyut nadi ( mengupayakan agar pasien tidak merasa di observasi ). Hitunglah jumlah pernafasan ; jika teratur selama 30 detik, jika tidak teratur selama 1 menit. Cuci tangan Catat hasil pengukuran pada catatan perawat dan kardeks pasien MENGUKUR SUHU : AKSILA

6.

C 1. 2.

3. 4. 5. 6. D

33

Stikes Dian Husada 1. 2. 3. Menjelaskan prosedur pada klien Mencuci tangan Bersihkan termometer yang di ambil dari larutan antiseptik, bersihkan / keringkan dari ujung ke pangkal termometer, kemudian turunkan air raksa sampai angka nol. Siapkan posisi yang nyaman pada klien ; duduk / supinasi dan membersihkan daerah aksila. Pasang termometer dari aksila dan baca kenaikan air raksa. Lepaskan termometer dari aksila selama 5 – 10 menit. Turunkan air raksa pada termometer sampai batas normal dan kemudian mengelap dari pangkal ke ujung, lalu rendamkan kembali ke larutan antiseptik. Catat hasil pengukuran pada catatan perawat dan kardeks pasien

4. 5. 6. 7. 8.

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. 34

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

35

Stikes Dian Husada

PERAWATAN PRE DAN POST OPERASI
PERSIAPAN KULIT UNTUK PEMBEDAHAN Sebelum proses pembedahan kulit dipersiapkan untuk meminimalkan jumlah mikroorganisme residen yang dapat masuk ke luka operasi. Persiapan kulit secara rutin memerlukan pembersihan menyeluruh dengan scrub atau pancuran. Penjepitan atau pencukuran rambut juga dilakukan untuk menghilangkan rambut tubuh yang menjadi tempat mikroorganisme dan menghambat pandangan lapangan pembedahan CDC ( Central For Disease Control and Prevention ) menganjurkan menghindari penghilangan atau, bila perlu, mencukur hanya segera sebelum operasi ( Garner, 1996, CDC, 1999 ). Pembuangan rambut dapat mencederai kulit, khususnya tempat pertumbuhan bakteri. Makin lama periode antara pencukuran dan pembedahan, makiri besar potensial untuk pertumbuhan bakteri. PERSIAPAN ALAT : 1. Alat potong elektrik 2. Gunting 3. Handuk 4. Baskom dengan air 5. Bola kapas, aplikator, dan larutan antiseptik ( opsional ) 6. Lampu portable 7. Selimut mandi 8. Sarung tangan steril (hand scoon steril / sekali pakai)

36

Stikes Dian Husada

A dan B, area yg gelap menunjukkan area perkiraan penghilangan rambut pra operasi ( Dari Peterson VM: Just the Facts: a Pocket guide to basic nursing, ed 2, St.Louis, 1998,Mosby)

37

Stikes Dian Husada

38

Stikes Dian Husada FORMAT PERAWATAN PRE - OPERASI N o 1 2 3 4 5 KEGIATAN Ikuti Protokol Standart Inspeksi kondisi umum kulit. Bila ada luka, iritasi, atau tanda infeksi, pencukuran tidak harus dilakukan Tinjau kembali program dokter untuk area yang dipotong. Tinggikan tempat tidur pada posisi tinggi Posisikan klien secara nyaman dengan tempat pembedahan yang dapat di akses, kemudian kenakan sarung tangan sekali pakai. Pencukuran rambut dan persiapan kulit memerlukan beberapa menit Dengan lembut, keringkan area yang diklip pakai handuk. Bila krim pencabut rambut digunakan, berikan pada area tersebut dengan cukup Tunggu beberapa menit yang diperlukan dan kemudian bersihkan krimnya Jika pencukuran dilakukan, tahan pencukur pada tangan dominan, kira - kira 1 cm di atas kulit, dan potong searah tumbuhnya rambut. Jepit area yang kecil pada saat yang sama Dengan Iembut, sikat potongan rambut pakai handuk Ketika area yang di klip merupakan permukaan cekung ( Misalkan umbilikus atau lipat paha ) bersihkan cekungan dengan aplikator berujung kapas atau bola kapas yang di rendam dalam larutan antiseptik, kemudin keringkan Beritahu pasien bahwa prosedur selesai Bersihkan dan buang peralatan sesuai 39 1 2 3

6 7 8

9 1 0

1 1 1 2 1

Stikes Dian Husada 3 1 4 protap dan buang sarung tangan Lihat kondisi klien setelah penyelesaian pembuangan rambut Catat prosedur, area yang diklip atau dicukur, dan kondisi klien sebelum dam setelah prosedur dalam catatan perawat Lengkapi Akhir Protokol

1 5 Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium

Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

40

Stikes Dian Husada MENDEMONSTRASIKAN LATIHAN PASCA OPERASI Cara menyiapkan klien untuk pembedahan dapat memberikan pengaruh positif pada pemulihannya. Pada instruksi yang direncanakan dengan baik, klien dapat belajar bagaimana batuk, nafas panjang dengan teratur, ambulasi dan melakukan aktifitas sehari - hari dini setelah pembedahan. Sedikit manuver sederhana - pernafasan diafragmatik, batuk, membalik, dan latihan kaki - membantu mencegah komplikasi pernafasan dan sirkulasi yang dapat menyebabkan klien tinggal inaktif pasca operasi. Latihan penting untuk klien yang mengalami anastesi umum. Penyuluhan pra - operasi terstruktur dapat mempengaruihi faktor pasca - operasi seperti : 1. Fungsi ventilasi : perbaikan kemampuan batuk dan nafas panjang 2. Kapasitas fungsi fisik : Perbaikan kemampuian ambulasi dan melakukan aktifitas dini 3. Perasaan Sejahtera : Penurunan ansietas 4. Lama Tinggal di Rumah Sakit : Penurunan Lama Tinggal Bila direncanakan latihan pasca opernsi, penting untuk mengetahui resiko komplikasi klien : 1. Perokok Klinik 2. Riwayat pernafasan dan Insisi bedah yang nyeri dapat menyertai gangguan kapasitas ventilasi klien. 3. Demikian juga riwayat penyakit vaskular perifer atau immobilisasi kuat daripenggunaan gips atau traksi dapat meningkatkan resiko perfusi jaringan buruk 4. Membantu Klien Belajar bagaimana berpartisipasi secara aktif dalam pemulihan pasca operasi 5. Memberi perencanaan pencegahan dan perawatan yang efektif 6. Demonstrasi latihan pasca operasi memerlukan pengetahuan dan pembuatan kepeutusan untuk perawat profesional dan tidak boleh didelegsikan pada personel asisten 41

Stikes Dian Husada PERSIAPAN ALAT : 1. Bantal 2. Spirometer insentif 3. Stocking elastis atau manset kompresi pneumatik

42

Stikes Dian Husada FORMAT PERAWATAN PASCA OPERASI No KEGIATAN Pernafasan Diafragmatik : Demonstrasikan langkah berikut pada klien : a. Bantu klien pada posisi nyaman semi - fowler atau fowler tinggi dengan lutut fleksi. Tunjukkan langkah berikut, kemudian klien mengulangidemonstrasi anda : • Duduk atau berdiri tegak, tempatkan telapak tangan anda sepanjang batas bawah, kurva iga anterior anda, minta klien bernafas panjang dan lambat melalui hidung, hindari hiperventilasi • Beri perhatian pada gerakan ke bawah normal dari diafragma anda selama inspirasi. Organ abdominal menurun, dan toraks meluas dengan perlahan • Hindari menggunakan dada dan bahu anda ketika inhalasi • Ambil Nafas panjang dan pada hitungan 3 hembuskan melalui mulut dengan perlahan Ulangi latihan 3 sampai 5 kali a. Minta klien mempraktikkan latihan Spirometri Insentif a. Berikan posisi semi fowler atau fowler tinggi b. Tempatkan bagian mulut pada 43 1 2 3

Stikes Dian Husada mulut sehingga bibir benar - benar menutup bagian mulut c. Klien menarik nafas dengan perlahan untuk mempertankan aliran konstan melalui bagian mulut. Bila inspirasi maksimal dicapai klien menahan nafas selama 2 sampai 3 detik dan kemudian mengeluarkan dengan perlahan. Jumlah pernafasan tidak harus lebih dari 10 sampai 12 per menit d. Klien bernafas dengan normal selama periode pendek e. Klien menglangi gerakan. Beritahu klien tentang petingnya tindakan spirometer insentif setiap 2 jam saat bangun selma periode pasca operasi Pengontrolan Batuk a. Jelaskan pentingnya mempertahankan posisi tegak di tempat tidur atau dui samping tempat tidur b. Tunjukkan batuk dengan mengambil 2 atau 3 nafas pendek c. Inhalasi dalam, tahan nafas anda pada hitungan ke 3, dan batuk sekali dan kemudian batuk lagi d. Waspadai klien terhadap hanya membersihkan tenggorok daripada batuk dengan dalam e. Bila Insisi pembedahan di dada atau area abdomen, tempatkan satu tangan di atas area insisi dan tangan yang lain di atas tangan pertama, selama inhalasi 44

Stikes Dian Husada dan batuk, tekan dengan perlahan pada area tersebut untuk membelat insisi ( satu bantal di atas insisi adalah opsional )

f. Biarkan klien mempraktikkan batuk dengan pembelatan setiap 2 jam ketika terjaga selama periode pasca operasi g. Instruksikan klien untuk memeriksa sputum terhadap konsistensi, bau, jumlah, dan warna Membalik Catatan : Tindakan ini untuk membalik klien ke kiri A. Instruksikan klien untuk melakukan posisi terlentang pada setengah kanan tempt tidur ( tempat tidur harus dipasang pagar di kedua sisinya ) B. Tempatkan tangan kiri klien di atas area insisi untuk membelat C. Minta Klien lurus dan fleksi 45

Stikes Dian Husada lutut kanan dan di atas kaki kiri

A. Penggunaan bantal dan posisi untuk meningkatkan kenyamanan klien B. Perawat menggunakan bantal untuk Menyokong insisi abdomen d. Pegang pagar tempat pada sisi kiri tempat tidur dengan tangan kanannya, klien menarik ke arah kiri dan mengelinding ke sisi kirinya e. Beritahu klien pentingnya membalik setiap 2 jam saat bangun selama periode pasca operasi Latihan Kaki a. Tempatkan klien terlentang di tempat tidur. i Demontrasikan latihan kaki dengan gerakan rentang sendi pasif' 46

Stikes Dian Husada b. Rotasikan tiap sendi pergelangan kaki pada lingkaran yang lengkap dengan berpura - pura menggambarkan lingkaran dengan ibu jari kakinyn ,

. c. Ubah - ubah dorsofleksi dan fleksi plantar pada kaki. Klien akan merasa otot betisnya kontraksi dan kemudian ri leks d. Minta klien memfleksikan dan ekstensi lututnya

e. Pertahankan kaki klien lurus klienkemudian secara bergantian meninggikan tiap kaki dari perrnukaaan tempat tidur dan biarkan turun dengan 47

Stikes Dian Husada perlahan f. Instruksikan klien untuk melakukan latihan kaki tiap 2 jam saat terbangun g. Untuk semua latihan pasca operasi, observasi kemampuan klien untuk melkukan semua latihan secara mandiri Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

48

Stikes Dian Husada

PERAWATAN LUKA
Pengertian Luka merupakan discontinuitas / terputusnya atau terpisahnya susunan sel dari jaringan tubuh yang rusak yang disebabkan benda tajam, tumpul, peluru, pecahan bahan peledak atau kecelakaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka 1. FAKTOR SISTEMIK. a. Usia Pada usia lanjut proses penyembuhan luka lebih lama dibandingkan dengan usia muda. Faktor ini karena kemungkinan adanya proses degenerasi , tidak adekuatnya pemasukan makanan , menurunnya kekebaIan , dan penurunan sirkulasi. b. Nutrisi Faktor nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan luka. Pada pasien yang mengalami penurunan tingkat diantaranya serum albumin , total limposit dan transferin adalah merupakan risiko terhambatnya proses penyembuhan luka. c. Insufisiensi vascular Infusiensi vaskular juga merupakan faktor penghambat pada proses penyembuhan luka. Seringkali pada kasus luka pada ekstremitas bawah seperti luka diabetik , pada pembuluh arteri atau vena kemudian decubitus karena faktor tekanan yang semuanya akan berdampak pada penurunan atau gangguan sirkulasi darah. d. Obat-obatan Terutama sekali pada pasien yang mengunakan terapi steroid , kemoterapi dan imunosupresi. 2. FAKTOR LOKAL a. Suplai darah b. Infeksi Infeksi sisternik atau lokal dapat menghambat penyembuhan luka. 49

Stikes Dian Husada c. Nekrosis Luka dengan jaringan yang mengalami nekrosis dan eskar akan dapat menjadi faktor penghanbat untuk perbaikan luka. d. Adanya benda asing pada luka.

50

Stikes Dian Husada LUKA DECUBITUS Luka decubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan mengalami jaringan nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan peningkatan tekanan kapiler. Manisfestasi klinis 1. Adanya eritema atau kemerahan pada kulit setempat yang menetap , atau bila ditekan dengan jari , tanda eritema atau kemerahan tidak kembali putih 2. Adanya kerusakan pada epitelial kulit yaitu lapisan epidermis dan dermis . Kemudian dapat ditandai dengan adanya luka lecet atau melepuh. 3. Kerusakan pada semua lapisan kulit atau sampai jaringan subkutan , dan mengalami nekrosis dengan tanpa kapitas yang dalam . ' Tingkat 4. Adanya kerusakan pada ketebalan kulit dan nekrosis hingga sampai kejaringan otot bahkan tulang atau tendon dengan kapitas yang dalam. Tempat luka dekubitus

51

Stikes Dian Husada

(Gambar 45 ) 1. Tulang oksipitalis 2. Skapula 3. Prosesus spinosus 4. Siku 5. Krista iliaka 6. Sakrum 7. Iskium 8. Tendon Achilles 9. Tumit 10.Telapak 11.Telinga 12. Bahu 13. Anterior spina illiaka 14.Trokanter 15.Paha 52

Stikes Dian Husada 16.Lutut medial 17.Lutut lateral 18.Kaki bawah 19.Maleolus medial 20.Maleolus lateral 21.Tepi lateral telapak kaki 22. Lutut posterior Penyebab dari luka decubitus dibedakan menjadi dua faktor yaitu : • Faktor ekstrinsik a. Tekanan Faktor tekanan, terutama sekali bila tekanan tersebut terjadi dalam waktu lama yang menyebabkan jaringan mengalami iskemik. b. Pergesekan dan pergeseran Gaya gesekan adalah faktor yang menimbulkan luka iskemik (Reichel1958) Hal ini bisanya akan terjadi apabila pasien diatas tempat tidur kemudian sering merosot, dan kulit sering kali mengalami regangan dan tekanan yang mengalihatkan iskemik pada jaringan. c. Kelembaban Kondisi kulit pada pasien yang sering mengalami lembab akan mengkontribusi kulit menjadi mascrasi kemudian adanya gesekan dan pergeseran , memudahkan kulit mengalami kerusakan.Kelembaban dapat akibat incontinesia, drain luka, banyak keringat dan lainya. • Faktor intrinsik a. Usia Usia lanjut mudah sekali untuk terjadi luka decubitus hal ini karena pada usia lanjut terjadi perubahan kualitas kulit dimana adanya penurunan elastisitas, dan kurangnya sirkulasi pada dermis. b. Temperatur Kondisi tubuh yang mengalami peningkatan temperatur akan berpengaruh pada temperatur jaringan . Setiap terjadi 53

Stikes Dian Husada peningkatan metabolisme akan meningkatkan I derajat celsius dalam temperatur jaringan . Dengan adanya peningkatan temperatur akan berisiko terhadap iskemik jaringan. Selain itu dengan menurunnya elasitas kulit, akan tidak toleran terhadap adanya gaya gesekan dan pergeseran sehingga akan mudah mengalami kerusakan kulit. c. Nutrisi Nutrisi merupakan faktor yang dapat mengkontribusi terjadi lika decubitus. Individu dengan tingkat serum albumin yang rendah terkait dengan perkembangan terjadinya luka decubitus. Adapun faktor yang lain adalah: a. Menurunnya persepsi sensori b. Immobilisasi dan ' c. Keterbatasan aktivitas Ketiga dampak Ini adalah dampak dari pada lamanya intesitas tekanan pada bagian permukaan tulang yang menonjol Perawatan luka decubitus mencakup prinsip : Debridement, pembersihan dan dressing. Debridement adalah mengangkat jaringan yang sudah mengalami nekrosis dan untuk menyokong pertumbuhan atau pemulihan luka. Adapun tipe dari debridement adalah beberapa cara diantaranya secara mekanik yaitu dengan kompres basah - kering , hidroterapi , dan irigasi luka. Secara bedah yaitu dengan bedah insisi , kemudian autolitik debridement yaitu mengunakan dresing sintetis dengan menutup luka , ini hanya digunakan pada klien dengan terinfeksi hydroclloid, hydrogels, calcium alginates dan lain- lain. Pembersihan ( wound cleansing ) Pada setiap luka yang akan diganti selalu dibersihkan . Bahan - bahan yang perlu dihindari untuk membersihkan luka seperti povidon iodine, larutan sodium hypochlorite, hydrogen 54

Stikes Dian Husada peroxide, acetic acid, karena bahan- bahan ini tersebut bersifat cytotoxic. Yang paling sering membersihkan luka decubitus adalah dengan norma salin atau bisa dengan larutan antiseptik yang tidak menimbulkan cytotoxic. Dalam membersihkan luka perlu di irigasi dengan tekanan yang tidak terlalu kuat , dengan tujuan untuk membersihkan sisa - sisa jaringan nekrotik atau eksudat. Dressing Dressing adalah suatu usaha untuk mempertahankan integritas fisiologi pada luka. Sebelum melakukan dressing atau balutan dan pengobatan luka diperlukan pengkajian pada kondisi luka hal ini untuk menentukan tipe dressing atau balutan yang dibuluhkan . Perawatan luka decubitus adalah berdasarkan derajat luka decubitus , eksudat, sekeliling luka , dan ada tidaknya infeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada balutan yaitu terdapat beberapa tipe balutan atau dressing tersebut adalah dressing yang sifatnya kering, basah , basah – lembab basah kering. Ada juga balutan untuk pelindung luka, dan dressing yang sifatnya menyerap dan mengabsorsi. Persiapan alat 1. Bak instrumen berisi: – Pinset anatomi 2 – Pinset chirurgi 1 – Handscoon steril sepasang – Kassa steril sesuai kebutuhan – Gunting nekrotomi – Depress sesuai kebutuhan 2. Cucing 1 3. Baskorn berisi air hangat 4. Sabun 5. cairan norma salin 6. Spuit 10 cc 7. Handsccon bersih 8. Waslap 9. Plester 55

Stikes Dian Husada 10.Balutan adesif( hipofix) sekali pakai 11. Bengkok 2 12.Handuk kecil 1 Pelaksanaan: N KEGIATAN o 1 Cuci tangan dan gunakan sarung tangan 2 Tutup pintu ruangan atau gorden tempat 3 tidur. Baringkan klien dengan nyaman dengan 4 area luka decubitus dan kulit sekitar mudah diakses. Kaji luka decubitus untuk menentukan derajat luka . a. Perhatikan warna, kelembaban , dan penampilan kulit sekitar luka. b. Ukur dua diameter yang dapat diperkirakan. c. Ukur kedalaman luka decubitus 5 dengan menggunakan aplikator berujung kapas atau alat lain yang 6 memungkinkan pengukuran kedalaman luka 7 Ukur kedalanan lubang kulit dengan nekrosis jaringan .gunakan 8 Aplikator berujung kapas steril dengan lembut tekan tepi luka. C u c i k u l i t sekitar dengan lembut dengan air hangat dan sabun Aplikator berujung kapas atau alat lain yang 9 memungkinkan pengukuran kedalaman luka. Ukur kedalaman lubang kulit dengan nekrosis jaringan . Gunakan aplikator 1 berujung kapas steril dengan lembut tekan 0 tepi luka 1 Cuci kulit sekitar dengan lembut dengan air 56 1 2 3

Stikes Dian Husada 1 1 2 1 3 1 4 hangat dan sabun Cuci secara menyeluruh dengan air Gunakan sarung tangan steril Bersihkan secara menyeluruh dengan cairan norma salin atau agen pembersih. Lepaskan sarung tangan dan buang peralatan yang basah. Cuci Tangan Catat penmpilan luka dan perawatan pada catatan perawatan Laporkan adanya penyimpangan penampilan luka pada perawat atau dokter yang bertugas

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

57

Stikes Dian Husada LUKA BAKAR Penyebab luka bakarpun bermacam- macam bisa berupa api , cairan panas , uap panas bahkan bahan kimia. Luka bakar yang terjadi , akan menimbulkan kondisi kerusakan kulit selain itu .juga dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh. Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain : 1. Keluasan luka bakar. 2. Kedalaman luka bakar . 3. Umur pasien . 4. Agen penyebab. 5. Fraktur atau kuka- luka lain yang menyertai. 6. Penyakit yang dialami terdahulu seperti : diabetes, jantung, ginjal dan lain- lain. 7. Obesitas. 8. Adanya trauma inhalasi. Komplikasi luka bakar: Curling ulcer, sepsis, pneumoni, gagal ginjal akut, deformitas, kontraktur, hipertrofi jaringan parut, dan decubitus. Proses penyembuhan luka bakar, terbagi dalam tiga fase : • Fase inflamasi. Adalah fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 34 hari pasca luka bakar . Dalam fase ini terjadi perubahan vaskular dan proliferasi selular. Daerah luka mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan serotinin Mulai timbul epitelisasi • Fase fibroblastik. Fase yang dimulai pada hari ke 4- 20 pasca luka bakar . Pada fase ini timbul sebukan fibroblast yang membentuk kolagen yang tampak secara klinis sebagai jaringan granulasi yang berwarna kemerahan. • Fase maturasi. Terjadi proses pematangan kolagen . Pada fase ini terjadi pula penurunan aktivitas selular dan vaskular, berlangsung 8 bulan 58

Stikes Dian Husada sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada tanda- tanda radang. Bentuk akhir dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis , lemas tanpa rasa nyeri atau gagal.

59

Stikes Dian Husada Penanganan luka Ada berbagai macam hal yang dapat dilakukan dalam menangani luka yang dialami pasien luka bakar sesuai dengan keadaan luka. • Pendinginan luka. Mengingat sifat kulit adalah sebagai penyimpan panas yang terbaik maka, pada pasien yang mengalami luka bakar , tubuh masih tetap menyimpan energi panas sampai beberapa menit setelah terjadi trauma panas. Oleh karena itu , tindakan pendinginan luka perlu dilakukan untuk mencegah pasien berada pada zona luka bakar lebih dalam. Tindakan ini juga dapat mengurangi perluasan kerusakan fisik sel, mencegah dehidrasi dan membersihkan luka sekaligus mengurangi penggantian balutan , atau pada saat pembedahan. Tindakan debridemen ini penting dilakukan untuk mencegah terjadi infeksi luka dalam proses penyembuhan luka. • Tindakan pembedahan. Eskarotomi merupakan tindakan pembedahan utama untuk mengatasi perfusi jaringan yang tidak adekuat karena adanya eschar yang menekan vaskuler.Tindakan yang dilakukan hanya berupa insisi dan bukan membuang eschar. Apabila tindakan ini tidak dilakukan maka akan mengakibatkan tidak adanya aliran darah kepembuluh darah dan terjadi hipoksia serta iskemia jaringan. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum hari k e - 5 . Penatalaksanaan. * Penanganan awal ditempat kejadian. a. Jauhkan korban dari sumber panas , jika penyebabnya api, jangan biarkan korban berlari, anjurkan korban untuk berguling- guling dengan kain basah dan pindahkan segera korban keruangan yang cukup ventilasi jika kejadian luka bakar berada diruangan tertutup. b. Buka pakaian dan perhiasan logam yang dikenakan korban. c. Kaji kelancaran jalan nafas korban , beri bantuan pernafasan ( life suport) dan oksigen jika diperlukan. 60

Stikes Dian Husada d. Beri pendinginan dengan merendam korban dalam air bersih yang bersuhu 20 derajat celcius ( suhu air yang terlalu rendah akan menyebabkan hipotermia ) selama 15 - 20 menit segera setelah terjadinya luka bakar ( jika sudah tidak ada masalah pada jalan nafas korban ). e. Jika penyebab luka bakar adalah zat kimia , siram korban dengan air sebanyak - banyaknya untuk menghilangkan zat kimia dari tubuh korban. f'. Kaji kesadaran , keadaan umum , luas dan kedalaman luka bakar dan cedera lain yang menyertai luka bakar. g. Segera bawa penderita kerumah sakit untuk penangan lebih lanjut( tutup tubuh korban dengan kasa / kain yang bersih selama perjalanan kerumah sakit 2. Penanganan pertama luka bakar di unit gawat darurat. Tindakan yang harus dilakukan terhadap pasien pada 24 jam pertama yaitu : a. Penilaian keadan umum pasien . Perhatikan A: Airway ( jalan nafas ); B: Breathing (pernafasan); C: Circulation ( sirkulasi ) . b. Penilaian luas dan kedalaman luka bakar. c. Kaji adanya kesulitan menelan atau bicara ( kemungkinan pasien mengalami trauma inhalasi). . d. Kaji adanya edema saluran pernafasan ( mungkin pasien perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi ). e. Kaji adanya faktor – faktor lain yang memperberat luka bakar seperti: adanya fraktur ,riwayat penyakit sebelumnya ( seperti diabetes, hipertensi , gagal ginjal dll) dan penyebab luka bakar karena tegangan listrk ( sulit diketahui secara akurat tingkat kedalamannya ). f. Pasag infus ( iv line ) jika luka bakar > 20 % derajat 2 / 3 basanya dipasang CVP ( kolaborasi dengan dokter ) g. Pasang kateter urine. h. Pasang nasograstik tube (NGT) jika perlu i. Berikan terapi cairan intra vena (kolaborasi dengan dokter) Biasanya diberikan sesuai formula parkland yaitu cairan ringer laktat (RL) 4 ml / kgBB/ % luka bakar pada 24 jam pertama 61

Stikes Dian Husada j. Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan ( kolaborasi dengan dokter ) pada pasien yang mengalami trauma inhalasi / gangguan sistem pernafasan dapat dilakukan nebulasasi dengan obat bronkodilatator ( seperti :ventolin ) Pemeriksaaan lab darah : Hb, Ht, trombosit, proten lokal( albumin dan globulin ), ureum dan kreatinin, elektrolit, gula darah, analisa gas darah (jika perlu dilakukan tiap 12jam atau minimal tiap hari ), karboksihaemoglobin, test fungsi hati / LFT Berkan suntikan ATS / Toxoid. Perawatan luka : • Cuci luka dengan cairan savlon 1% ( savlon dipecah kecuali terdapat pada daerah sendi yang dapat menggangu gerakan ). • Biarkan bullae ( lepuh ) utuh"( jangan dipecah kecuali terdapat pada daerah sendi yang dapat mengganggu gerakan ) • Selimuti pada pasien dengan selimut steril ( usahakan pasien tidak kedinginan sampai siap dipindah keruang gawat ). Pemberian obat -obatan ( kolabarasi dengan dokter ): antasida, H2 antagonis, roborantika ( vitamin c, vitamin b), analgeik, antibiotika. Mobilisasi secara dini ( range of moian ) Pengaturan posisi.

k.

l. m.

a. b. c.

• Keterangan : Pada 8 jam 1 diberkan ½ dari kebutuhan cairan . 8 jam 2 diberikan ¼ dari kebutuhan cairan . 8 jam diberikan sisanya. 3. Penanganan pasien luka bakar di unit perawatan intensif. Hal yang perlu diperhatikan selam pasien dirawat diunit ini meliputi : a. Pantau keadaan pasien dan seting ventilator, kaji apakah pasien mengadakan perlawanan terhadap ventilator. 62

Stikes Dian Husada b. Observasi TTV, tekanan darah , nadi, pernafasan setiap jam dan suhu setiap 4 .jam. c. Pantau nilai CVP. d. Amati neurologis pasien ( GCS ) e. Pantau status hemodinamik . f. Pantau saluran urin (minimal 1 ml/ kg BB/ jam) g. Auskultasi suara paru tiap pertukaran jaga. h. Cek analisa gas darah setiap hari / bila diperlukan. i. Pantau saturasi oksigen. j. Pengisapan lendir ( suction ) minimal setiap 2 jam dan jika perlu. k. Perawatan mulut setiap 2 jam ( beri boraq gliserin ). l. Perawatan dengan memberi salep / tetes mata setiap 2 jam. m. Ganti posisi pasien setiap 3 jam ( perhatikan posisi yang benar bagi pasien ) n. Fisioterapi dada. o. Perawatan daerah invasif seperti daerah pemasangan CVP , kateter, tube setiap hari. p. Ganti kateter dan NGT setiap minggu. q. Observasi letak tube ( ETT) setiap shift. r. Observasi terhadap aspirasi cairan lambung . s. Periksalah caiaran elektrolit ureum / kreatinin, AGD, protein ( albumin ),gula darah (kolaborasi dokter) t. Perawatan luka bakar sesuai dengan protokol rumah sakit u. Pemberian medikasi sesuai dengan petunjuk dokter 4. Penanganan pasien luka bakar diunit perawatan luka bakar. Terdapat 2 jenis perawatan luka bakar selama dirawat dibangsal yaitu : 1. Perawatan terbuka adalah luka yang telah diberi obat topikal dibiarkan terbuka tanpa balutan dan diberi pelindung cradle bed Biasanya juga dilakukan untuk daerah yang sulit dibalut seperti wajah , perineum, lipat paha. • Keuntungan perawatan terbuka : a. Waktu yang dibutuhkan lebih singkat. b. Lebih praktis dan efisien. c. Bila terjadi infeksi mudah terdeteksi. 63

Stikes Dian Husada Kerugiannya : 1. Pasien merasa tidak nyaman. 2. Dari segi etika kurang. 3. Perawatan tertutup adalah penutupan luka dengan balutan kassa steril setelah diberikan obat topikal. Keuntungan perawatan luka tertutup : Luka tidak langsung berhubungan dengan udara ruangan ( mengurangi kontaminasi ) • Pasien merasa lebih nyaman. • • • • • Kerugian : Balutan seringkali mengatasi gerakan pasien Biaya perawatan bertambah. Butuh waktu perawatan lebih lama. Pasien merasa nyeri saat balutan dibuka.

Persiapan alat- alat : Bak instrumen berisi : 1. Pinset anatomi l 2. Handscoon steri 1 . 3. Kassa steril sesuai kebutuhan. 4. Pinset chirurgi 2 5. Gunting nekrotomi 6. Gunting plester. 7. Bengkok. 8. Cairan savlon I %. 9. Cairan Nacl 0,9 %. 10. Betadine sol 2 %. 11.Salep silver sulfadiazine. 12.Cucing Pelaksanaan: N KEGIATAN o 1 Cuci / bersihkan luka dengan cairan savlon 1% dan cukur rambut yang 64 1 2 3

Stikes Dian Husada 2 3 4 tumbuh pada daerah luka bakar seperti pada wajah, aksila, pubis. Lakukan nekrotomi / debridement jaringan nekrosis. Lakukan escharotomy jika luka bakar melingakar dan eschar menekan pembuluh d arah . Bullae dibiarkan utuh sampai hari ke 5 post luka bakar, kecuali jika berada di daerah sendi / pergerakan boleh dipecahkan dengan menggunakan spuit steril dan kemudian lakukan nekrotomi. Mandikan pasien tiap hari .jika mungkin. Jika banyak pus, bersihkan dengan betadine sol 2 %, perhatikan ekspresi wajah dan KU pasien selama merawat luka. Bilas savlon 1% dengan menggunakan cairan Nacl 0,9 %. Keringkan dengan menggunakan kassa steril. Beri salep silver sulfadiazine ( SSD) setebal 0,5 cm pada seluruh daerah luka bakar ( kecuali wajah hanya jika luka bakar derajat ½ beri salep antibiotika ( mis., salep neomisin ). Tutup dengan kassa steril ( p e r a w a t a n tertutup ) atau biarkan terbuka ( gunakan cradle bed ).

5 6 7 8 9

1 0

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium 65 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

66

Stikes Dian Husada Hal - hal y ang harus d ip e rhat i kan d al am pe raw at an l uka yai t u: a. Saat membuka balutan luka yang.akan dibersihkan harus dilakukan secara hati - hati dan beri / siram dengan cairan Nacl jika kassa lengket dan kering untuk menghindari perdarahan dan nyeri. b. Beri analgetik sebelum dilakukan perawatan luka ( jika diperlukan ) kolaborasi dokter. c. Kaji dan catat kondisi luka setiap hari terhadap tanda- tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, berbau, ada pus dan lain- lain. d. Jangan gunakan salep yang sama ( satu tube) untuk pasien yang berbeda. e. Ganti sarung tangan steril saat merawat pasien lain. f. Cukur gundul pasien terutama pada pasien dengan luka bakar luas dan dalam yang perlu tindakan operasi dan luka bakar didaerah wajah. g. Gunakan linen steril ( sprei, selimut, sarung bantal ). PERAWATAN LUKA SECARA UMUM. Perawaan luka tergantung pada jenis luka , berat ringannya luka, ada tidaknya perdarahan dan resiko yang dapat menimbulkan infeksi. Persiapan alat : Bak instrumen steril berisi 1. Pinset anatomi 1 2. Pinset chirurgi 2 3. Handscon steril 1 pasang 4. Kassa steril sesuai kebutuhan 5. Gunting nekrotomi 1 k/p 6. Gunting lancip 1 k/p . 7. Cuching sesuai dengan larutan yang dibutuhkan. 8. Gunting kassa 1 9. Bengkok 2 10.Cairan Norma salin (Ns ) 67

Stikes Dian Husada 11.Cairan Perihidrol ( H 2 O 2 ) 12.Betadine 13.Korentang + tempatnya Pelaksanaan : N KEGIATAN o 1 Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau larutan anti septik 2 Segera pantau luka kemungkinan ada benda asing dalam luka 3 Bersihkan luka dengan antiseptik atau sabun antiseptik, bila lukanya dalam, bersihkan dengan norma salin dari pusat luka kearah luar, setelah luka dibersihkan kemudian lakukan irigasi luka dengan norma salin 4 Keringkan luka dengan kassa steril yang 5 lembut 6 Berikan anti biotik atau obat anti septik yang sesuai Tutup luka dengan kassa steril dan paten, tinggikan posisi are IKA bila ada perdarahan dan imobilisasi Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

1

2

3

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

68

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

69

Stikes Dian Husada MENGATASI TEGANGAN KULIT Kulit yang terlampau tegang tidak boleh dijahit. Biarkan luka tetap terbuka atau tutup dengan split skin graft . Kedua tepi luka dapat ditarik mendekat dan dibersihkan dengan membuat sayatan horisantal dilapisan lemak subdermal sejauh 3-6 mm ( undermining ). Kedalaman sayatan ditentukan dengan memperhitungkan vaskularisasi dan enervasi. Teknik ini tidak boleh digunakan tanpa batas karena dapat menyebabkan nekrosis tepi luka. Jika diperlukan penutupan primer untuk melindungi tulang, tendo atau saraf yang terbuka . Beberapa teknis insisi sejajar untuk mengurangi ketegangan kulit. MENGGUNAKAN PLESTER UNTUK MENGURANGI KETEGANGAN KULIT : Setelah luka selesai dijahit, plester steristrips bisa direkatkan sepanjang luka agar tegangan tersebar pada daerah yang lebih luas. Dipilah ukuran yang sesuai, kulit dikeringkan, dan plester direkatkan melintang pada kulit dengan bantuan pinset tak bergigi. Jika salah satu tepi luka diragukan vaskularisasinya, plester direkatkan dari sisi ini kesisi yang sehat. Daya rekat plester akan bertambah jika kulit disekitar luka dibubuhi semacam bahan penutup luka yang disemprotkan atau dibalsam friar..Karena menghambat epitalisasi bahan ini disapukan didaerah sekitar luka dengan bantuan kasa tidak boleh disemprotkan langsung. Plester harus dipasang dengan rapi dan interval yang sama JAHITAN SUB KUTIKULAR UNTUK MENJAHIT KULIT Disebut juga jahitan intradermal. Jahitan ini cukup kuat dan memberikan parut luka yang tipis tanpa bekas melintang .Teknis ini sangat menguntungkan dari segi kosmetika. Benang yang dipakai harus satu tingkat lebih kuat dari pada benang jahitan sederhana. Jahitan dimulai dengan menusukkan jarum kekulit 1 cm dan ujung luka sebelah kanan, sampai keluar tepat dibagian luka. Jarum ditusukkan mendatar mengambil 5 mm jaringan dermis. Benang ditarik terus sampal ujungnya yang telah dijepit dengan klem disisakan 5 cm diatas kulit. Tusukkan disisi yang lain dilakukan 70

Stikes Dian Husada tepat diseberang tempat keluarnya benang. Eversi tepi luka yang dicapai dengan jepitan pinset disisi operator dan tarikan benang disisi asisten . Kedua tepi luka yang tidak sama tinggi serta dog ear juga bisa disebabkan oleh jahitan subkutis yang tidak terpasang dengan balk. Jahitan ini harus diangkat. Jika dibiarkan, dengan cara apapun kulit tidak dapat dirapatkan dengan sempurna. Untuk mengatasi inversi kulit dan tepi luka yang tidak sama tinggi dipakai jahitan matras vertikal. Jahitan ini tidak boleh dipakai jika ada keraguan atas vaskularisasi kulit. Bila salah satu sisi yang pendarahan nya diragukan, bisa digunakan jahitan donatti yang telah dimodifikasi. Tepi lika akan cenderung untuk inversi jika lemak subkutis tidak dijahit dengan baik atau jika kulit telah mengalami atrofi dan kurang disangga oleh jaringan lemak. Menjahit dari sisi luka yang tebal akan terasa lebih mudah dibandingkan dengan dan sisi yang tipis. Pada flap, misalnya luka kulit kepala, jarum dapat ditusukkan dari sisi yang bebas kearah sisi yang terfiksasi. Pada lika yang tepinya tidak sama tinggi, tusukkan dari sisi yang tinggi kearah yang rendah. Tebal ketipis, ' . Sisi bebas kesisi yang terfiksasi, Tinggi ke rendah. CARA MENCAPAI HASIL YANG MEMUASKAN DALAM MENJAHIT KULIT Pada jahitan terputus sederhana eversi kulit akan terjadi bila lapisan lemak subkutis diambil lebih banyak dari pada kulit. ( Gbr. 3.45 )

71

Stikes Dian Husada Jika jahitan pertama ditempatkan dipertengahan luka dan jahitan - jahitan selanjutnya dipasang di pertengahan jarak antara dua jahitan, kedua tepi luka dapat dirapatkan sesuai posisi semula dengan mencocokkan kembali alur - alur kulit di kedua sisi. Jika kulit kendur, kedua ujung sayatan dapat ditarik dengan pengait bergigi tunggal ( Gbr. 3.46 )

" Dog ear " terbentuk jika panjang kedua tepi luka tidak sesuai. Dengan memperpendek jarak antara dua jahitan pada sisi yang pendek serta memperpanjang jarak ini pada sisi yang lebih panjang, biasanya " dog ear " yang kecil akan menjadi rata. " Dog ear " yang besar harus dieksisi ( Gbr. 3.47 )

Jahitan kendali digunakan untuk mengontrol atau mengarahkan jaringan yang akan dimanipulmi, misalnya pada sirkumsisi ( 72

Stikes Dian Husada Gbr. 3.43 TEKNIK JEPIT DAN POTONG UNTUK MENUTUP LUKA Untuk memasang sederetan jahitan dalam dengan tepat, digunakan teknik " jepit dan potong " ini memungkinkan visualisasi seluruh luka sampai seluruh jahitan selesai terpasang. Setelah itu simpul dieratkan satu persatu ( Gbr. 3.41 )

Jika jaringan dalam keadaan rapuh ( misalnya pada penjapitan sekunder) jarum dapat dimasukkan menembus semua lapisan, termasuk kulit ini dikerjakan dengan teknik ”jepit dan potong” Jika fasia begitu tegang, jaitan jelujur boleh dipakai

Jahitan sederhana 1. Jahitan dipasang pada jarak yang sama 2. Meletakkan simpul di satu sisi 3. Jika simpul terlalu ketat, luka akan terasa nyeri dan jahitan akan meninggalkan bekas yang buruk 73

Stikes Dian Husada 4. Simpul harus dilctakkan di tepi luka, di isis yang mempunyai vaskularisasi lebih balk

Memegang jarum yang benar dengan alat

Memegang jarum yang salah dengan alat Memotong benang

SIMPUL 74

Stikes Dian Husada Latihan membuat simpul merupakan hal yang penting, simpul dapat di ikatkan dengan 2 tangan ( mirip dengan mengikat tali sepatu ) atau satu tangan. Perlu diperhatikan bahwa benang harus selalu dalam keadaan tegang, karena itu bila kendur gerakan akan menjadi lebih lambat. Dalam Ilustrasi akan terlihat jelas bahwa setelah satu gerakan selesai dilakukan, tangan dan benang berada dalam posisi siap untuk gerakan selanjutnya

Mengikat dengan menggunakan instrumen akan menghemat pemakaian benang. Untuk operasi - operasi halus cara ini harus dipakai, setelah benang dilewatkan menembus kedua tepi luka, diusahakan agar ujung yang bebas sependek mungkin mencuat dari permukaan kulit, dengan demikian ujung tersebut akan mudah dijepit dan ditarik melalui bagian benang yang dilingkarkan pada klem pemegang jarum ( Gbr. 3.29 dan 3.30 ) JARUM Jarum ada yang dirancang untuk digunakan langsung dengan tangan ada pula yang harus dengan instrumen, jarum biasanya terbuat dan baja tahan karat yang keras, dan ditutupi oleh lapisan yang akan membuatnya menembus jaringan dengan mudah, semua jarum bedah mempunyai tiga komponen dasar ; bagian 75

Stikes Dian Husada belakang, bagian tengah atau batang tuhuh : serta bagian ujung

Persiapan Alat a. Baki atau meja dorong yang telah dilengkapi dengan heacting set steril antara lain : 1. Pinset anatomi dan pinset chirurghi 2. Klem arteri 3. Gunting jaringan 4. Jarum otot atau jarum kulit 5. Benang (side atau cat gut) 6. Mes (pisau) 7. Duk steril 8. Hand scoon 9. Chucing dan com a. Obat anastesi 1. Lidocain, pehacain, procain, lidonest, cloretil 2. Cairan desinfectan 3. NaCl, Perhidrol, BIOC, Betadine, Savlon 4. Lain - lain : kapas lidi, kassa steril, bengkok, depers, spuit, plester, gunting, supratule a. Pasien dan lingkungan 1. menjelaskan maksud dan tujuan 2. Mengatur posisi pasien yang nyaman 3. Memasang sketsel / tiras + B40

76

Stikes Dian Husada

FORMAT HEACTING
N o 1 2 3 KEGIATAN Perawat cuci tangan Pasang pengalas dibawah anggota tubuh yang akan dilakukan tindakan Bila luka kotor dibersihkan dengan NaCI 0,9% dengan arah memutar dari dalam keluar, bila luka masih kotor bersihkan dengan menggunakan perhidrol kemudian bersihkan lagi dengan NaCl 0,9% Resinjeksi pada tepi kulit yang luka dengan larutan betadine dari dalam keluar dengan memakai pinset dan depress Memakai handscoon Memasang duk lubang Memberikan anastesi lokal pada daerah sekitar jaringan yang luka Lakukan debridement pada jaringan yang luka dengan memakai pinset chirurghi Melakukan penjahitan yang dimulai dari tepi luka dengan jarak antara jahitan yang satu dengan lainnya ½ - 1 cm, jahitan pc;rtarna 0,5 cm- dari tepi luka dan seterusnya hingga jahitan terlihat rapi Desinfektan pada daerah luka dan bersihkan dengan depress / kassa steril Kalau perlu memberikan obat untuk mempercepat proses penyembuhan jaringan luka Menutup luka dengan kassa steril yang diberi desinfeksi ( betadine ), kemudian tutup dengan kassa kering dan difiksasi dengan plester Peralatan dirapikan dan dikembalikan 77 1 2 3

4 5 6 7 8 9

1 0 1 1 1 2 1

Stikes Dian Husada 3 1 4 1 5 1 6 pada tempatnya Perawat cuci tangan Teliti dan hati - hati Bertanggung jawab atau respon yang terjadi pada prosedur yang dilaksanakan

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

78

Stikes Dian Husada FORMAT MENGANGKAT JAHITAN N o 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Perawat mencuci tangan Memakai hand scoon Membuka balutan lama dengan menggunakan pinset anatomis dan membuang pada bengkok Bekas plester dibersihkan dengan alkohol / bensin Membersihkan luka jahitan dengan kassa satu arah dimulai dari pinggir Menjepit pangkal / simpul jahitan dengan pinset Chirurghi Ujung dari lekukan gunting diletakkan di bawah jahitan kemudian kedua simpul yang berhadapan / simpul yang dibawah kulit dipotong dan potongan jahitan di buang di bengkok Mengangkat jahitan secara berurutan dengan cara selang – seling Jika tidak terjadi dehischene sisa jahitan diangkat Membersihkan luka dengan antiseptik / betadine Menutup luka dcngan kassa steril dan fiksasi dengan plester secukupnya Rapikan alat - alat dan perawat cuci tangan Hati – hati dan teliti Bertanggung jawab atas respon yang tcrjadi 1 2 3

7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3

79

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

80

Stikes Dian Husada

MENYIAPKAN OBAT SUNTIKAN DARI AMPUL ATAU VIAL AMPUL
Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian Ieher menyempit yang berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair, Untuk mengambil obat dalam ampul, perawat harus dapat mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. Saat menghisap medikasi, perawat menggunakan teknik aseptik ( jarum tidak menyentuh permukaan luar ampul ). Obat / cairan dalam ampul dapat mudah diaspirasi kedalam spuit cukup dengan menarik plunger spuit kebelakang. VIAL Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet diatasnya yang terdapat cap logam untuk melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan atau kering dan untuk memudahkan mengambil cairan didalamnya, disuntikkan dulu udara kedalam vial karena vial merupakan sistem tertutup. Jika gagal menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat didalam vial menjadi sulit. PERSIAPAN ALAT : 1. Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan 2. Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan 3. Kapas alkohol atau kassa dengan ukuran 2x2 inc 4. Metal file ( opsional ) 5. Jarum spuit ekstra .

81

Stikes Dian Husada FORMAT MENYIAPKAN OBAT SUNTIK DARI AMPUL N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KEGIATAN Perawat cuci tangan Menyiapkan medikasi Menyentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat dengan menggunakanjari Meletakkan bantalan kassa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul Mematahkan leher ampul menjahui tangan anda (jika leher ampul belum patah, gunakan metal file untuk mengikir salah satu sisi leher Pegang ampul dengan posisi tegak atau menjorok dan rnasukkan spuit kedalam ampul ( ujung jarum tidak boleh menyentuh pinggiran ampul ) Aspirasi mcdikasi kedalam spuit dcngan cara menarik kebelakang flunger spuit Jika gelembung udara terinspirasi jangan mengcluarkan udara didalam ampul Untuk mengeluarkan gelembung udara angkat jarum dari dalam ampul dan pegang spuit dengan jarum mengarah keatas tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali keatas untuk mengeluarkan udara tapi jangan mengeluarkan cairan Jika udara terlalu banyak dalam spuit gunakan bak untuk membuang. Pegang spuit kearah vertikal terhadap ujung jarum, hentakkan sedikit ke bak dan dengan perlahan keluarkan sedikit kelebihan cairan ke bak. Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. 1 2 3

1 0

82

Stikes Dian Husada Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

83

Stikes Dian Husada FORMAT MENYIAPKAN OBAT SUNTIKAN DARI VIAL N o 1. 2 3 4 5 6 KEGIATAN Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya Dengan kapas alkohol usap permukann penutup karet Lepaskan cap jarum. Tarik pulunger kebelakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Masukan bagian ujung jarum, dengan bevel jarum mengarah keatas , menembus bagian tengah penutup karet. Keluarkan udara kedalam vial, jangan biarkan plunger kembali keatas Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spet dan plunger. Pegang vial antara ibu jari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Raih bagian ujung barel dan pulunger dengan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. Tahan bagian ujung jarum dibawah ketinggian cairan. Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi ( tarik kembali plunger jika perlu ) Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. Keluarkan semua udara yang terdapat diatas.spuit kedalam vial Jika dosis yang sesuai sudah terpenuhi, angkat jarum dari dalam dengan menarik kebelakang barrel spuit. 84 1 2 3

7 8 9 1 0 1 1

Stikes Dian Husada Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel kebelakang. Pegang spuit dengan jarum mengarah keatas dan sentilsentil untuk melepaskan gelembung. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger keatas untuk mengeluarkan udara (jangan mcngeluarkan cairan). Berikan label pada vial jika masih tersisa obat didalamnya. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. Bungkus jarum dengan capnya dan ganti jarum yang terdapat pada spuit Buanglah alat – alat yang basah pada tempatnya Cuci tangan

1 2 1 3 1 4 1 5

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 85

Stikes Dian Husada ............................................................................................................. .............................................................................................................

86

Stikes Dian Husada

FUNGSI VENA
Merupakan teknik yang mencakup penusukan vena secara transcutan dengan jarum tajam yang kaku ( seperti jarum kupu – kupu, angiokateter, jarum yang diletakkan pada spuit atau vakutainer ) Tujuan umurn : • Untuk mendapatkan darah • Memasukan obat • Memulai infus IV • Menyuntikan bahan radiopaque untuk pemeriksaan sinar -X TERAPI INTRAVENA Merupakan teknik yang mencakup penusukan vena melalui traskutan dengan stilet tajam yang kaku, seperti angiokateter, atau dengan jarum yang disambungkan spuit Penggunaan utama dari teknik ini adalah : untuk memulai dan mempertahankan terapi cairan IV. Pada kebanyakan situasi perawat rnempunyai tanggungjawab utama untuk memulai terapi IV dengan ungiokateter Persiapan alat : ' 1. larutan IV yang tepat 2. Jarum / kateter untuk fungsi vena yang sesuai 3. Untuk infuse cairan IV 4. Perangkat pemberian ( Pilihan tergantung pada tipe larutan dan kecepatan pemberian : bayi dan anak kecil memerlukan selang mikrodrip, yang memberikan 60 tetes / ml ) 5. Filter 0,22 m( bila diperlukan oleh kebijakan institusi atau bila bahan berpatikel akan diberikan ) 6. Tambahan selang ( digunakan bila jalur IV lebih panjang perlu ) 7. Untuk heparin lock • Steker IV • Loop IV atau selang pendek ( Bila perlu ) 87

Stikes Dian Husada Normal salin atau salin heparinisasi 1 sampai 3 ml ( 10 - 100 U/ml ) • Spuit 1. Tourniquet 2. Sarung tangan sekali pakai 3. Papan tangan 4. Kasa 2 x 2 dan salep povidon yodin : atau, untuk balutan transparan, larutan hovidon yodin 5. Plester yang telah dipotong dan siap digunakan 6. Handuk untuk diletakkan dibawah tangan pasien 14. Tiang intravena 15. Pakaian khusus dengan kancing di lapisan bahu ( membuat pelepasan selang IV lebih mudah ) bila tersedia •

88

Stikes Dian Husada Cara kerja : N KEGIATAN o 1 Cuci tangan 2 Atur peralatan di samping yang bebas dari kusut atau di atas meja tempat tidur 3 Buka kemasan steril dengan menggunakan teknik aseptic 4 Untuk pemberian cairan IV : a. Periksa larutan. Pastikan aditif yang diresepkan, seperti kalium dan vitamin, telah ditambahkan. Periksa larutan terhadap warna, kejernihan, dan tanggal kadaluarsa b. Bila menggunakan larutan IV dalam botol, lepaskan penutup logam dan lempeng logam dan logam di bawah penutup. Untuk kantung larutan IV plastic, lepaskan lapisan plastic di atas port selang IV c. Buka set infuse, mempertankan sterilitas pada kedua ujung d. Pasang klem rol sekitar 2 - 4 cm ( 1 sampai 2 Inci ) di bawah bilik drip dan pindahkan klem rol pada posisi "o f f " e. Tusukkan set infuse ke dalam kantung botol cuiran : • lepaskan penutup pelindung kantong IV tanpa menyentuh lubangnya • lepaskan penutup pelindung dari paku penusuk, dan tusukan paku ke dalam lubang kantung IV atau tusukan penusuk ke penyumbat karet hitam dari botol. Bersihkan karet penyumbat dengan 89 1 2 3

Stikes Dian Husada antiseptik sebelum menusukkan paku penusuk a. Isi selang infuse : • Tekan bilik drip dan lepaskan, biarkan terisi sepertiga sampai setengah penuh • Lepaskan pelindung jarum dan klem rol untuk • memungkinkan cairan memenuhi bilik drip melalui selang ke adapter jarum. Kembalikan klem rol ke posisi off setelah selang terisi • Pastikan selang bersih dari udara dan gelembung udara • Lepaskan pelindung jarum Pilih jarum IV yang tepat atau over the needle catheter ( ONC ) Pilih tempat distal vena yang digunakan Bila terdapat banyak rambut pada temapat penusukkan, bersihkan atau gunting Bila mungkin letakkan ekstremitas pada posisi dependen Letakkan tourniquet 10 - 12 cm di atas tempat penusukan ,tourniquet harus menyumbat aliran vena bukan arteri. Periksa adanya nadi distal Kenakan sarung tangan sekali pakai. Pelindung mata dan masker dapat digunakan untuk mencegah cipratan darah pada membrane mukosa perawat Letakkan ujung adapter jarum perangkat infuse dekat dengan kasa steril atau handuk Pilih vena yang terdilatasi baik. Metode metode untuk membantu mendilatasi vena meliputi : • Menggosok ekstremitas dari 90

5 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2

1 3 1 4

Stikes Dian Husada distal ke proksimal dibawah tempat vena yang dimaksud • Menggenggam dan melepaskan genggaman • Menepuk perlahan di atas vena Memasang kompres hangat pada ekstremitas, misalnya dengan waslap hangat Bersihkan tempat insersi dengan gerakan sirkular yang kuat menggunakan laurtan povidon iodine, hindari rnenyentuh tempat yang telah dibersihkan, biarkan tempat tersebut mengering selama sedikitnya 30 detik. bila klien alergi terhadap iodine, gunakan alcohol Lakukan fungsi vena, tahan vena dengan meletakkan ibu jari di atas vena dan dengan meregangkan kulit berlawanan arah dengan arah penusukan 5 sampai 7,5 cm kearah distal tempat penusukkan Perhatikan keluarnya darah melalui selang jarum yang menandakan bahwa jarum telah memasuki vena, turunkan jarum sampai hampir menyentuh kulit, dorong jarum sampai menempel dengan tempat tungsi vena jangan pcrnah mcmasukkan kembali stilet bila telah rnelepaskannya Tahan kateter dengan satu tangan, lepaskan tourniquet dan lepaskan stilet dari ONC, dengan cepat hubungkan adaptor jarum dari perangkat pemberian, jangan menyentuh tempat penusukan adaptor j arum Lepaskan klem roler untuk memulai infuse pada kecepatan untuk mempertahankan patensi aliran IV Amankan kateter atau jarum IV ( Prosedur dapat saja berbeda,periksa kebijakan 91

1 5

1 6

1 7

1 8 1 9

Stikes Dian Husada 2 0 institusi ) Pasang plester kecil di bawah kateter dengan sisi yang Iengket menghadap ke atas dan silangkan plester di atas kateter • Bila digunakan balutan kasa oleskan salep povidon iodine di tempat fungsi vena, bila digunakan balutan transparan, oleskan larutan povidon iodine di tempat fungsi vena, biarkan larutan mengering • Pasang plester kedua tepat menyilang hub kateter Letakkan bantalan kassa 2 x 2 di atas tempat insersi dan hub kateter dan amankan plester 2,5 cm atau pasang balutan transparan di atas tempat • penusukan IV searah pertumbuhan rambut, jangan menutup hubungan antara selang IV clan hub kateter • Lekatkan loop sclanb infuse pada balutan menggunakan plester 2,5 cm Untuk pernberian cairan IV atur kecepatan aliran sarnpai tetesan yang tepat per menit Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan aliran serta ukuran jarum pada balutan Lepaskan sarung tangan , singkirkan alat alat dan cuci tangan Catat pada catatan perawat jenis lanitan, Ietak insersi, kecepatan aliran, ukuran dan tipe kateter atau jarum, kapan infuse dimulai,dan bagaimana toleransi klien terhadap prosedur, mungkin digunakan lembar kerja terapi khusus parenteral 92 •

2 1 2 2 2 3 2 4

Stikes Dian Husada Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

93

Stikes Dian Husada

MENGATUR KECEPATAN ALIRAN INTRAVENA
Manakala infus terpasang perawat mempunyai tanggung jawab tentang pengaturan kecepatan sesuai advis dokter, kecepatan infus yang terlalu lambat menimbulkan kolaps kardiovaskuler dan sirkulasi pada klien dehidrasi, syok, atau sakit kritis. Kecepatan infus terlalu cepat mengakibatkan lelebihan cairan. Perawat menghitung kecepatan infus untuk mencegah ketidaktepatan pemberian cairan Persiapan alat : 1. Kertas dan pensil 2. Jam dengan jarum detik a. Mikrodrip 60 gtUml b. Makrodrip ( Mathency, 1992) Abbott Lab 15 gtt/ml Travcnol Lab 10 gtt/ml McGraw Lab15gtt/ml Pilih salah satu rumus berikut untuk menghitung kecepatan aliran setelah menentukan ml/jam ( Bila.perlu ) ml/hr=infus total(ml)lama waktu pengimfusan 1. ml hr60 menit 2. Faktor tetesan x ml/menit=tetes/menit Atau ml / jam x faktor tetesan60 menit=tetes/menit Dengan meggunakan rumus hitung kecepatan aliran permenit : Botol 1 ( 1000 ml dengan mEq KCL ) 94

Stikes Dian Husada Hikrodrip 125ml x 60gtt /ml60 menit=7500 gtt60 menit=125 gtt/mnt Makrodrip 125 ml x isi btt ml60 menit=31 sampai 32 gtt/menit

Memungkinkan anda untuk menghitung kecepatan aliran per jam berdasarkan pada rumus dibawah ini : Volume total x faktor tetesanWaktu pengimfusan dlm menit

95

Stikes Dian Husada

MENAMBAHKAN OBAT KE DALAM WADAH CAIRAN INTRAVANA
Cara teraman untuk pemberian obat IV adalah dengan menambahkan kedalam wadah cairan yang mempunyai volume besar ( biasanya dengan dekstrosa dan larutan air atau normal salin ). Kemudian obat infuskan dengan lambat, resiko efek samping diminimalkan dan kadar terapeutik dalam darah dapat di pertahankan. Obat-obat yang ditambahkan kedalam wadah cairan IV termasuk elektrolit, vitamin dan mineral Resiko utama terjadi dengan metode ini adalah kelebihan cairan. Peralatan : 1.Siapkan obat didalam spuit 2.Wadah cairan IV ( kantung/ botol dengan volume 500 atau 1000 ml ) 3.Swab alkohol atau antiseptik 4.Label yang akan diletakkan kekantong atau botol IV Pelaksanaan : N KEGIATAN o 1 Cuci tangan 2 Pastikan advis dari dokter 3 Pastikan advis dari dokter 4 Jelaskan rosedur ada klien pastikan identifikasi klien dengan benar 5 Tambahkan obat kewadah yang baru : • Cari port menyuntikkan obat pada kantung IV • Usap port dengan antiseptik • Tusukkan jarum spuit sampai mencmbus bagian tengah port dan dorong plunger • Tarik spuit dan campur larutan 96 1 2 3

Stikes Dian Husada dengan memegang kantung cairan dan • membalikkan kantung cairan dengan perlahan dari satu ujung keujung yang lain • Gantung kantung cairan dan periksa kecepatan infus • Lengkapi label obat dan tempel label tersebut dengan terbalik. Tambahkan obat kedalam wadah yang sudah ada : • Cuci tangan • Periksa volume cairan yang tersisa kedalam wadah • Tutup klep infus IV • Usap port obat dengan antiseptik atau alkohol • Tusukkan jarum spuit melalui port dan suntikkan obat • Turunkan wadah dari penggantung kantung IV dan campur dengan perlahan dengan membalikkan kantung perlahan. • Gantungkan kembali dan atur kembali kecepatan tetesan • Berikan label pada wadah dengan nama dan dosis obat Cuci tangan.

6

7

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

97 (………………….……….)

Stikes Dian Husada

98

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

99

Stikes Dian Husada

MENGISI DAN MEMBERI KIRBAT ES
Kirbat Es adalah : suatu kantong yang dapat terbuat dari karet atau plastic yang dapat di isi dengan potongan- potongan es Tujuan memberikan kirbat es : 1. Menurunkan suhu 2. Mengurangi rasa saki setempat 3. Mengurangi perdarahan Indikasi : 1. Suhu tinggi 2. Perdarahan 3. pada penderita kesakitan Macam - macam bentuk kirbat es : 1. Bulat gepeng 2. Bulat lonjong gepeng 3. Berbentuk panjang dan kecil seperti KRAAG 4. Berbentuk segiempat dan berisi semacam agar - agar, bila mendinginkan di dalam almari es Gambaran macam – macam kirbat es :

Persediaan alat : 1. Kirbat es 2. Sarung kirbat es 3. Kom berisi potongan - potongan es 4. Pisau 5. Kom berisi air bersih 6. Serbet atau lap

100

Stikes Dian Husada FORMAT MENGISI DAN MEMBERIKAN KIRBAT ES N o 1 2 3 KEGIATAN 1 2 3

Alat – alat disiapkan Perawat cuci tangan Es dipotong kecil - kecil dengan pisau, kemudian dimasukkan kedalam kom berisi air bersih, untuk menghilangkan ujung 4 -ujungnya Kirbat es diisi setengah bagian, kemudian 5 udara dikeluarkan 6 Periksa apakah ada kebocoran atau tidak Dila basah dilap terlebih duhulu kemudian 7 masukkan ke dalam sarungnya Kemudian letakkan kepada tempat yang 8 memerlukan 9 Menganti es sebelum esnya mencair kesemuanya 1 Bila sudah selesai alat - alat yang 0 dipergunakan dibereskan Perawat cuci tangan Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

101

Stikes Dian Husada Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

102

Stikes Dian Husada

MENGISI DAN MEMBERI KRAAG ES
Persedian alat : 1. Sama dengan di atas 2. Es kraag Cara Kerja : 1. Sama dengan yang di atas 2. Tempatnya di leher Perhatian : 1. Kulit harus diperhatikan apakah ada iritasi,luka atau tidak 2. Sering –sering mengontrol apakah letaknya kirbat es tepat pada tempatnya atau tidak 3. Sebelum diberikan kntrol terlebih dahulu

MEMBERIKAN KOMPRES AIR ES ATAU ALKOHOL
Dibrikan pada penderita yang tidak dapat atau tidak mungkin memakai kirbat es Misal : pada pasien/ penderita dengan suhu sangat tinggi Persedian alat : 1. Kom berisi air es atau alcohol 2. Dua helai kain kasa yang besar dan kom. 3. Perlak dan kain pengalas Cara 1. 2. 3. kerja : Alat- alat disiapkan Perawat cuci tangan Perlak dan kain pengalas diletakkan dibawah tempat yang akan di kompres 4. Kain kasa dibasahi dengan air es atau alkohol dalam kom 103

Stikes Dian Husada 5. Pasang pada tempat yang memerlukan 6. Kain kasa sering dibasahi supaya tidak kering,tetap dingin 7. Alat – alat dibereskan 8. Perawat cuci tangan Perhatian : • Bila memakai alcohol 70 % dicampur denagan air supaya tidak terjadi iritasi

MEMBUAT DAN MEMBERIKAN PIL –PIL
Tujuan : 1. Mengurangi perdarahan 2. Mengurangi rasa haus Diberikan : 1. Penderita yang mengalami perdarahan Misal :Haematemesis, Haemaptoe, Tonsilectomi 2. Penderita post operasi tetapi belum diperbolehkan minum Persediaan alat : 1. Es 2. Pemukul Es 3. Mangkok dan air bersih 4. Sendok 5. Mangkok dan penutupnya Cara 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. kerja : Perawat cuci tangan Alat - alat dipersiapkan Es dijadikan potongan kecil - kecil Cuci dengan air bersih Masukkan dalam mangkuk tertutup Penderita diberitahu Dengan sendok es diberikan penderita Banyaknya es yang diberikan menurut kebutuhan penderita 104

Stikes Dian Husada

MENGISI DAN MEMBERIKAN KIRBAT ES GANTUNG
Tujuan : Mengurangi perdarahan Dilakukan : 1. Penderita dengan perdarahan di otak 2. Penderita dengan peritonitis Persiapan alat : 1. Sama dengan mengisi dan member kirbat kraag 2. Sungkup busur, jika memakai cara1 3. Sarung kirbat es yang berbentuk segi empat dengan memakai dua tali pada setiap sudutnya 4. Handuk atau kain segitiga Cara 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. kerja dengan memakai sungkup busur ( cara 1 ) : Perawat cuci tangan Alat – alat disiapkan Penderita diberi tahu Cara mengisi kibet es sama Letakkan sungkup busur pada daerah perut Letakkan kirbat es diatas kain Perawat cuci tangan

Perhatian : 1. Kirbat Es dapat diisi penuh 2. Kirbat Es tidak boleh menekan pada daerah tersebut 3. Tanyakan pada penderita apakah penderita merasa enak dan nyaman Cara 1. 2. 3. kerja ke II : Alat – alat disiapkan Perawat cuci tangan Letakkan sarung kirbat Es di atas perut atau yang 105

Stikes Dian Husada 4. 5. 6. 7. 8. dikehandaki Seorang perawat berdiri dibagian ujung tempat tidur bagian kepala, seorang lagi berdiri di ujung bagian kaki Masinh – masing perawat memegang tali sarung kirbat es sambil merentangkan sampai tegak, kemudian mengikatkan tali tersebut ke tiang tempat tidur Mulut sarung kirbat es menghadap ke atas Kirbat es dimasukan ke dalam sarung tadi, dengan jarak antara perut dan kirbat es gantung kurang lebih 2-4 mm Perawat cuci tangan

MENGISI DAN MEMBERI BULI – BULI PANAS ( W WS)
Tujuan : 1. Untuk mengurangi rasa sakit 2. Untuk menghangatkan penderita 3. Member perasaan senang dan nyaman Dilakukan : Sewaktu – waktu bila perlu Persedian alat : 1. Buli - buli panas dengan sarungnya 2. Air panas dengan tempatnya 3. Kom kecil 4. Lap kerja Cara 1. 2. 3. 4. kerja : Perawat cuci tangan Alat – alat disiapkan Penderita diberitahu Buli – buli panas diisi air panas tidak kurang setengah sampai sepertiganya 5. Keluarkan udara dengan cara meletakkan buli-buli panas diatas meja, sampai permukaan air ada pada tempat penutup 106

Stikes Dian Husada setelah itu ditutup 6. Periksa apakah ada yang bocor atau tidak dengan cara membalikan buli-buli tersebut 7. Keringkan dan masukan kedalam sarungnya 8. Pasang pada bagian badan penderita yang memerlukan 9. Alat-alat dibersihkan 10.Perawat cuci tangan Perhatian : 1. Bila sudah dingin segera diganti 2. Air panas untuk penderita langsung suhunya 50 deraiat 3. untuk aether bed 80 derajat 4. jangan diberikan pada perdarahan usus Gambar buli – buli panas :

KOMPRES PANAS
Kompres panas basah efektif untuk memperbaiki sirkulasi, menghilangkan edema dan meningkatkan konsolidasi dan drainase pus, karena kompres dipasangkan pada luka terbuka maka kompres harus steril begitu juga sebaliknya. 107

Stikes Dian Husada Diagnosa keperawatan potensial 1. resiko tinggi terhadap infeksi 2. Nyeri 3. Mobilitas fisik Persiapan alat : 1. Hangatkan larutan yang diresepkan pada suhu yang tepat ( sekitar 43 derajat celcius sampai 46 derajat celcius ) 2. Balutan kassa steril 3. Wadah steril untuk larutan 4. Kompres siap pakai yang dapat dibcli tanpa resep ( k/p ) 5. Sarung tangan steril 6. Jeli petrolium 7. Kapas steril 8. Bantalan tahan air ( sarung buli-buli panas ) 9. Plester atau tali 10.Handuk mandi kering 11.Bantalan pemanas atau aliran air ( buli - buli panas ) kalau Perlu 12.Sarung tangan sekali pakai 13.Termometer mandi

PENGGUNAAN SELIMUT HIPOTERIMIA / HIPERTERMIA
Klien dapat megalami demam tinggi dan berkepanjangan kibat penyakit neurologist infeksius dan efek samping anastesia. Satu tindakan. untuk mengontrol demam adalah selimut hipotermia ( pendigin )selimut hipotermia adalah selinut karet berisi air yang mensirkulasi larutan dingin ( biasanya air distilasi ) melalui selinut. Bila klien berbaring di atas alat ini selimut pendingin membantu menurunkan suhu tubuh klien. Sebaliknya klien yang suhu tubuhnya secara abnormal rendah karena pemajanan ekstrem pada dingin atau sebagai akibat hipotermia dari bedah neurologik atau jantung memerlukan selimut 108

Stikes Dian Husada hipertermia ( penghangatan ) untuk membantu tubuh kembali ke suhu hamper normal. Pada kasus hipertermia atau penghangatan ulang, terapi larutan hangat disirkulasi melalui selimut untuk membantu kembalinya suhu tubuh klien ke normal. Diagnosa keperawatan potensial : 1. Hipertemia 2. Hipotermia Persiapan alat : 1. Selimut hipotermia/ hipotermia dengan panel pengontrol dan pemeriksa suhu rectal 2. Sprei atau selimut mandi tipis. 3. Air distalasi untuk mengisi unit bila perlu 4. Sarung tangan 5. Termometer rectal

PERAWATAN PENDERITA YANG AKAN DAN TELAH MENINGGAL DUNIA
Tujuan : 1. Memberikan perasaan tenang tentram dan damai pada penderita 2. Memberikan perasaan puas atas usaha perawat yang telah diberikan kepada keluarga penderita Kemungkinan dampak penderita dirawat dirumah sakit : 1. Sembuh 2. Tidak dapat sembuh dan pulang 3. Meninggal Pada penderita yang sakit payah dan akan meninggal dunia keadaannya tidak selalu sama, pada umumnya dijumpai beberapa keadaan sebagai berikut : 1. Warna muka berubah menjadi pucat atau biru 109

Stikes Dian Husada 2. Mata cekung dan hidung menonjol 3. Sirkulasi darah menjadi tidak sempurna sehingga anggota badan menjadi dingin 4. Otot - otot menjadi lemes dapat juga terjadi inkontinential urin atau alvi 5. Denyut nadi menjadi tidak teratur 6. Pernafasan sesak 7. Penglihatan berkurang, reflek mala negatif 8. Kadang-kadang gelisah 9. Tensi turun Tanda-tanda kematian pasti : 1. Jantung dan paru-paru berfienti bekerja, jadi tekanan darah, pernafasan dan denyut nadi negatif 2. Dua tiga jam sampai dengan enam jam sesudahnya tubuh akan menjadi kaku. MENJELANG AJAL Tugas perawat menghadapi penderita menjelang ajal : 1. Perawatan yang khusus 2. Kenyalnanan 3. perawatan mental 4. A. PERAWATAN YANG KHUSUS Sedapat mungkin penderita disendirikan atau diisolasikan dengan jalan memberikan kamar tersendiri atau dapat pula disudut kamar yang dilindungi dengan tabir dan ketenangan lingkungan terjaga. B. MEMBERI KENYAMANAN Dengan membetulkan letak bantal, membasahi bibir penderita, bila banyak peluh atau keringat dikeringkan bila perlu pakaian diganti, menjaga kebersihan dan mengabulkan permintaannya ( asal tidak berbahaya ) Melaksanakan intruksi dokter, misalnya memberikan obat-obatan. Catatan : Perawat tetap berada didekat pasien untuk mengobservasi penderita. C. PERAWATAN MENTAL 110

Stikes Dian Husada Berusaha rnemberikan kekuatan mental, iman dan kepercayaan. Misalnya membaca doa-doa singkat ,berusaha memberikan kesempatan bertobat Memberikan pengertian kepada keluarga penderita tentang keadaan penderita dan memberikan ketenangan Sikap seorang perawat : 1. seorang perawat harus tenang 2. hindarkan rasa takut 3. harus terus mengobservasi 4. Berlaku sopan dan serius 5. Hindarkan keributan 6. Bekerja harus hati-hati Hal yang harus diperhatikan : Bila penderita masih safar, sesuai dengan agamanya dapat dipanggilkan pemuka agama masing-masing

MEMELIHARA MAYAT
Sikap perawat : 1. Tenang 2. Tetap sopan dan menghormati 3. Hindarkan perasaan takut 4. Menghibur keluarga dan memberikan bela sungkawa Hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. Mencatat waktu penderita meninggal 2. Mata harus ditutup dengan baik dengan kapas basah 3. Bila mulut terbuka bisa diikat dengan perban 4. Surat-surat kematian dibereskan Persiapan alat-alat : 1. Untuk mernandikan mayat sama seperti memandikan penderita biasa ditambah dengan : pinset, schort, kapas dan bengkok. 2. Tempat pakaian kotor 111

Stikes Dian Husada 3. Laken

Cara kerja : 1. Perawat cuci tangan 2. Alat-alat dipersiapkan 3. Perawat memakai schort 4. Mayat dimandikan 5. Semua bagian badan yang harus ditutup, ditutup dengan kapas bila perlu memakai pinset 6. Semua perhiasan diangkat dan seterusnya diserahkan kepada keluarga penderita 7. Dagu dan kaki diikat 8. Tangan diikat sesuai dengan agamanya 9. Mayat dan tempat tidur dirapikan kemudian ditutup dengan taken yang bersih Catatan : Selama berkerja perawat tetap bersikap hormat dan mengantar mayat kekamar mayat dengan menggunakan brangkart khusus. Cara kerja : 1. Sesudah dimandikan, brangkart di ambil olek dua perawat kemudian mayat dipindahkan ke brangkart 2. Mayat ditutup dengan selimut atau dengan penderita 3. Perawat cuci tangan, scort dibuka 4. Barang-barang penderita dikumpulkan dan dikirimkan ke kamar mayat diserahkan keluarga penderita Dikamar mayat : 1. Memakai mayat 2. Mayat dipindahkan kepembaringan mayat 3. Mayat ditutup seluruhnya dengan kain putih 4. Surat keterangan meninggal ditaruh diatasnya 5. Mengisi saluran air pada bagian bawah pembaringan supaya serangga tidak naik keatas 6. 6. Periksa sekali lagi barang-barang penderita 7. Schort dibuka dan cuci tangan 112

Stikes Dian Husada Catatan : 1. Kasur dan bantal di jemur 2. Lemari dan tempat tidur dibersihkan dengan larutan lisol 3. Semua alat-alat dibersihkan 4. Schort dimasukan ditempat cucian 5. Cuci tangan Penatalaksanaan : N KEGIATAN 1 2 o 1 Perawat cuci tangan 2 Perawat cuci tangan 3 Pasien diberi tahu 4 Menyiapkan alat-alat 5 Memasang sketsel 6 Pasien miring kekiri 7 Memasang perlak dan pengalas 8 Pakaian bagian bawah ditinggikan 9 Memasang bengkok dibawah bokong 10 Irigator diisi air satu liter, kanul diolesi dengan 11 vaselin Udara dikeluarkan dari pipa karet melalui 12 kanul, airan ditampung dalam bengkok Pasien dianjurkan menarik nafas panjang, 13 kanul dimasukan kurang lebih 5cm-7,5cm 14 Tinggi irrigator 50 cm di atas tempat tidur 15 Air di alirkan perlahan-lahan 10 menit Pipa karet ditiup sebelum masuk 16 udaranya,kanul ditarik keluar di masukan kedalam bengkok 17 Segera :setelah tindakan berikan pasien Keterangan 18 1 : dilakukan sendiri BAB pasu najis bila ingin 19 2 : tidak dilakukan Membereskan alat-alat Pearawat cuci tangan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Hasil huknah dilaporkan Mengetahui Mojokerto, 2008 Kepala Laboratorium Penanggung jawab 113 (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….) 3

Stikes Dian Husada

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

INJEKSI SUBKUTAN
Injeksi subkutan diberikan dengan menusuk area dibawah kulit ( jaringan konektif atau lemak dibawah dermis ). Setiap jaringan subkutan dapat dipakai untuk area injeksi ini tapi yang lazim adalah dilengan atas bagian luar, paha bagian depan dan area yang lazim lainnya adalah perut, area skapula, ventrogluteal dan dorsogluteal. Injeksi tidak boleh diarea yang nyeri, merah, pruritus atau edema Jenis 1. 2. 3. 4. 5. obat yang diberikan secara subkutan : Vaksin Obat-obatan preoperasi Narkotik Insulin Heparin 114

Stikes Dian Husada Persiapan alat – alat : 1. Buku catatan rencana/order pengobatan 2. Vial atau ampuf yang berisi obat yang akan diberikan 3. Spuit dan jarum steril 4. Kapas antiseptik steril 5. Kasa Steril untuk membuka ampul Pelaksanaan : INJEKSI SUBKUTAN N o 1 2 3 4 KEGIATAN Menyiapkan alat Memasukkan obat dari vial/ampul kedalam spuit dengan cara yang benar Beritahu pasien dan atur posisi yang nyaman serta rileks Pilih area tubuh yang tepat, uasap dengan kapas antiseptik dari tengah keluar secara melingkar sekitar 5 Cm menggunakan tangan yang tidak untuk menginjeksi Siapkan spuit, lepas kap penutup secara tegak lurus sambil menunggu antiseptik kering dan keluarkan udara dari spuit Pegang salah satu tangan antara jempol dan jari – jari pada area injeksi dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau atas untuk kemiringan 45 derajat atau dengan telapak tangan menghadap ke bawah untuk kemiringan 45 derajat. Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk mengangkat atau merentangkan kulit, lalu secara hati – hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. Lakukan aspirasi, bila muncul darah maka segera cabut spuit untuk dibuang dan diganti spuit dan obat 115 1 2 3

5 6

Stikes Dian Husada baru. Bila tidak muncul darah, maka pelan – pelan dorong obat kedalam jaringan Buanag spuit tanpa harus menutup jarum 8 dengan kapnya ( mencegah cedera pada 9 perawat ) pada tempat pembungan yang benar Catat tindakan yang telah dilakukan Kaji keefektifan obat Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab 7

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. 116

Stikes Dian Husada

INJEKSI IM ( INTRAMUSKULAR )
Tujuan injeksi IM adalah untuk memasukkan obat dalam jumlah yang Iebih besar dibanding obat yang diberikan melalui SC, absorbsi juga lebih cepat karena lebih banyaknya suplai darah diotot tubuh tapi cara ini dapat mencegah/mengurangi iritasi obat. Beberapa lokasi yang lazim digunakan untuk injeksi IM : 1. Deltoid 2. Dorsogluteal 3. Ventrogluteal 4. Vastus lateralis 5. Rektus femoris Alasan- alasan area di atas digunakan untuk injeksi IM : 1. Massa otot yang besar 2. Vaskularisasi yang baik 3. Jauh dari syaraf Hal-hal yang harus diperhatikan : 1. Usia pasien 2. Ukuran dan kondisi dari otot yang akan diinjeksi 3. Jarum dalarn posisi tegak lurus ( 90 derajat). Peralatan : 1. Kartu pengobatan atau rcncana pengobatan 2. Obat steril dalam ampul atau vial 3. Spuit dan jurum steril (ukuran sesuai dengan kebutuhan) 4. Kapas pengusap dalam larutan antiseptik 5. Kasa steril jika perlukan untuk membuka ampul. Pelaksanaan: 117

Stikes Dian Husada No 1 2 3 4 5 6 KEGIATAN Pastikan adanya order pengobatan Menyiapkan peralatan Mengambil obat dari ampul / vial sesuai dengan jumlah yang dikehendaki Yakinkan bahwa pasien benar dan memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan bantu untuk posisi yang nyaman. Buka pakaian /selimut kain yang menutupi area yang akan diinjeksi Tentukan lokasi penyuntikan, pilihlah area yang bebas dari lesi,nyeri tekan bengkak dan radang dan bersihkan kulit dengan pengusap antiseptik secara melingkar dari dalam keluar Siapkan spuit yang sudah berisi obat buka penutup jarumnya dengan hati-hati dan keluarkan udara dalam spuit Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit yang akan ditusuk, pegang spuit antara jempol dan jarijari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus hadap sudut 90 de:rajat Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah dengan cara menarik pengokang. Bila terhisap darah segera cabut spuit buang dan ganti yang baru. Bila tidak terhisap darah maka perlahan – lahan masukkan obat dengan cara mendorong pengkang spuit Bila obat sudah masuk semua segera cabut spuit dan lakukan masase pada area penusukan Rapikan pasien dan atur posisi yang nyaman Buang spuit pada tempat yang disedikan dan bereskan alat 118 1 2 3

7 8

9

10 11 12 13

Stikes Dian Husada Observasi keadaan pasien dan catat tindakan yang dilakukan

119

Stikes Dian Husada

Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns)

(………………….……….)

Keterangan. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. ............................................................................................................. .............................................................................................................

120

Stikes Dian Husada

INJEKSI INTRAVENA
Jalur vena dipakai khususnya untuk tujuan agar obat yang diberikan dapat bereaksi dengan cepat misalnya pada situasi bawat darurat.Obat langsung masuk sistem sirkulasi reaksi Iebih cepat dibanding dengan cara enteral atau parenteral yang memerlukan waktu untuk absorbsi. Cara pemberian obat intravena jika pasien tidak memakai infus diinjeksikan langsung kevena yaitu mencari vena yang besar ( vena basilika atau vena sefalika pada lengan ) Jika pasien dipasang infus, obat dapat diberikan melalui botol infus atau melalui karet pada selang infus yang dibuat untuk memasukkan obat. Mengusap tempat yang akan ditusuk dengan kapas anti septik dan klem infus dimatikan selama obat dimasukkan, bila sudah selesai kecepatan tetesan diatur kembali. Untuk memasukkan obat melalui vena, perawat harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang cukup sehingga tidak terjadi kesalahan karena resikonyn sangat besar misalnya emboli udara Persiapan alat : 1. Kartu pengobatan/rencana order pengobatan 2. Spuit steril yang berisi obat steril 3. Kapas pengusap dalam larutan antiseptik 4. Turnikuet

121

Stikes Dian Husada

INJEKSI INRAVENA N o 1 2 3 4 5 6 7 KEGIATAN Memastikan tentang adanya order pengobatan Menyiapkan alat Menyakinkan bahwa pasien benar dan beritahu pasien tentang tindakan yang dilakukan dan atur posisi yang nyaman Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk Bila vena sudah ditemukan pasang torniket agar vena benar-benar dapat dilihat dan diraha dan usap dengan kapas antiseptik Siapkan spuit yang sudah berisi obat dan cek adanya udara Dengan pelan tusukkan jarum kedalam vena dengan posisi jarum sejajar dengan vena. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spuit digunakan untuk menahan vena sarnpai jarum masuk vena Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spuit. Bila terhisap darah lepas torniket dan dorong obat pelan-pelan kedalam vena Setelah obat masuk semua segera cabut spuit dan buang spuit ditempat sesuai prosedur. Rapikan pasien dan atur posisi yang nyaman Observasi pasien dan catat tindakan 1 2 3

8 9 1 0 1 1

122

Stikes Dian Husada Keterangan. : Keterangan 1 : dilakukan sendiri ............................................................................................................. 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan ............................................................................................................. Mengetahui Mojokerto, 2008 ............................................................................................................. Kepala Laboratorium Penanggung jawab ............................................................................................................. ............................................................................................................. (Nuris Kushayati.SKep.Ns) (………………….……….)

123

Stikes Dian Husada

PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL
Pemberian obat secara parenteral atau injeksi, baik injeksi intradermal, subcutan, intramuscular atau intravena. Pemberian obat secara parenteral mempunyai aksi kerja lebih cepat dibanding secara oral. Tapi pemberian secara parenteral mempunyai beberapa resiko sebagai berikut: merusak kulit, menyebabkan nyeri pada pasien, salah tusuk dan lebih mahal. Demi keamanan pasien, sebelum injeksi seorang perawat harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang cara pemberian obat secara parenteral termasuk cara menyiapkan obat dan menggunakan teknis steril. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat secara parenteral : 1. Menyiapkan peralatan yang benar ,termasuk alat suntik, jarum, vial dan ampul 2. Menurut bentuknya spuit mempunyai tiga bagian : • Ujung yang berkaitan dengan jarum • Bagian tabung • Bagian pendorong obat 1. Menurut bahannya, spuit ada : • Spuit kaca • Spuit • Plastic 1. Menurut penggunaannya, spuit ada : • Spuit standart hipodermik • Spuit insulin • Spuit tuberculin 1. Jarum merupakan alat pelengkap spuit, yang terbuat dari bahan stainles dan mempunyai ukuran yang bervariasi dalam bentuk gauge. Semakin besar ukuran gaugenya semakin kecil diameternya jarumnya. 2. Penngunaan ukuran jarum disesuaikan dengan keadaan pasien yang meliputi : umur, gemuk/kurus, jalur yang akan dipakai, obat yang akan dimasukan. 124

Stikes Dian Husada 3. Cairan/atau obat yang diberikan secara parenteral/biasanya dikemas dalam ampul atau vial.

125

Stikes Dian Husada

INJEKSI INTRADERMAL
Injeksi intradermal atau injeksi intrakutan merupakan injeksi yang ditusukkan pada lapisan dermis atau dibawah epidermis ( permukaan kulit ). Injeksi ini dilakukan secara terbatas karena hanya sejumlah kecil obat yang dapat dimasukan dan biasanya digunakan untuk : 1. Tes tuberculin 2. Tes untuk mengetahui reaksi alergi terhadap obat tertentu 3. Vaksinasi 4. Kadang-kadang untuk anastesi local yang demikian dilanjutkan injeksi pada area yang lebih dalam Area yang lazim digunakan untuk injeksi intradermal adalah : • Lengan bawah bagian dalam • Dada bagian atas • Dan punggung area scapula Persiapan alat : 1. Spuit ukuran 1 ml dengan kalibrasi ratusan millimeter 2. Jarum degan ukuran yang sesuai kebutuhan 3. Kapas alcohol 4. Buku pengobatan dan intruksi pengobatan Pelaksanaan :

126

Stikes Dian Husada N O 1. 2 3 KEGIATAN 1 2 3

Menyiapkan alat Memberi tahu pasien Menyiapkan area yang akan diinjeksi misalnya lengan kanan lengan kanan dan lakukan desinfeksi dengan alcohol 4 Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan satunya memegang spuit 5 kearah pasien. Tusukkan spuit dengan sudut 15 derajat pada epidermis kemudian diteruskan sampai dermis lalu dorong cairan obat. Obat ini akan 6 menimbulkan tonjalan dibawah permukaan kulit. Cabut spuit, usap pelan-pelan area penyuntikan dengan kapas antiseptic tanpa memberikan masase ( massase dapat menyebabkan obat masuk kejaringan atau keluar melalui lubang injeksi Keterangan : 1 : dilakukan sendiri 2 : tidak dilakukan 3 : dilakukan tetapi memerlukan bantuan Mengetahui Kepala Laboratorium Mojokerto, 2008 Penanggung jawab

(Nuris Kushayati.SKep.Ns) Keterangan.

(………………….……….)

............................................................................................................. ............................................................................................................. 127 .............................................................................................................

Stikes Dian Husada

Daftar isi
PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL.......................6 PIPA LAMBUNG, PEMASANGAN DAN PERAWATANNYA......................12 NUTRISI............................................................................................17 PEMASANGAN KATETER...................................................................25 PEMBERSIHAN COLON DAN PEMBERIAN OBAT-OBATAN MELALUI ANUS................................................................................................31 HUKNAH RETENSI.............................................................................37 MEMANDIKAN PASIEN......................................................................39 PEMELIHARAAN RAMBUT..................................................................45 MEMELIHARA KEBERSIHAN MULUT...................................................52 VULVA HYGIENE...............................................................................61 MENGGANTI ALAT TENUN ("BED MAKING")......................................64 PEMELIHARAAN LINGKUNGAN PENDERITA.......................................72 MEMBANTU AMBULASI.....................................................................81 POSITIONING..................................................................................102 MENCUCI TANGAN..........................................................................118 MEMASANG SARUNG TANGAN / HAND SCOON...............................125 PENGKAJIAN FISIK...........................................................................146 OBSERVASI TANDA - TANDA VITAL................................................159 PERAWATAN PRE DAN POST OPERASI............................................166 PERAWATAN LUKA.........................................................................177 128

Stikes Dian Husada MENYIAPKAN OBAT SUNTIKAN DARI AMPUL ATAU VIAL AMPUL............................................................................................204 FUNGSI VENA.................................................................................209 MENGATUR KECEPATAN ALIRAN INTRAVENA.................................215 MENAMBAHKAN OBAT KE DALAM WADAH CAIRAN INTRAVANA....................................................................................217 MENGISI DAN MEMBERI KIRBAT ES................................................220 MENGISI DAN MEMBERI KRAAG ES................................................223 MEMBUAT DAN MEMBERIKAN PIL –PIL............................................224 MENGISI DAN MEMBERIKAN KIRBAT ES GANTUNG.........................225 MENGISI DAN MEMBERI BULI – BULI PANAS ( W W S )....................226 KOMPRES PANAS............................................................................227 PENGGUNAAN SELIMUT HIPOTERIMIA / HIPERTERMIA.....................228 PERAWATAN PENDERITA YANG AKAN DAN TELAH MENINGGAL DUNIA .......................................................................................................229 MEMELIHARA MAYAT......................................................................231 INJEKSI SUBKUTAN.........................................................................234 INJEKSI IM ( INTRAMUSKULAR )......................................................237 INJEKSI INTRAVENA........................................................................240 PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL.......................................243 INJEKSI INTRADERMAL....................................................................244 INJEKSI INTRADERMAL

129

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful