P. 1
REKRISTALISASI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS INKLUSI KATEKIN DENGAN MENGGUNAKAN β SIKLODESTRIN _RIDWAN ALFIT 0811012053_

REKRISTALISASI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS INKLUSI KATEKIN DENGAN MENGGUNAKAN β SIKLODESTRIN _RIDWAN ALFIT 0811012053_

|Views: 279|Likes:
Published by Nova Dhila

More info:

Published by: Nova Dhila on Apr 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2014

pdf

text

original

REKRISTALISASI DAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS INKLUSI KATEKIN DENGAN MENGGUNAKAN β SIKLODESTRIN

a

Ridwan Alfita, Deddi Prima Putraa, Syofyana Faculty of Pharmacy, Andalas University,Padang 25163, Indonesia E-mail address: alfit.ridwan@yahoo.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang rekristalisasi katekin yang diperoleh dari gambir dan dilanjutkan dengan pembentukan komplek inklusi katekin menggunakan β-siklodestrin. Rekristalisasi katekin dilakukan dengan dua metode yaitu metode pendinginan dan metode spray drying. Kadar katekin yang didapat dengan metode pendinginan adalah 71,53% dan dengan metode spray dryingadalah 65,81%. Selanjutnyasalahsatudarimetodetersebutdikompleksdengan β-siklodekstrin, dimana didapatkadar katekin sebesar 87,30%. Dari penelitian yang telah dilakukan, ternyata hasil katekin yang dikompleks dengan β-siklodekstrin memiliki laju disolusi yang lebih baik, dibandingkan dengan tanpa dikompleks.

ABSTRACT
Researched on recrystallization catechins obtained from gambir and continued with the formation of inclusion complexes using β-siklodestrin catechins. Rekristalisasi catechins done by two methods, they are the method of cooling and spray drying methods. Catechin levels obtained by the method of cooling is 71.53% and the spray drying method was 65.81%. Next, one of these methods dikompleks with β-siklodestrin, which obtained catechin levels is 87.30%. From there search that has been done, apparently the result dikompleks catechins with βsiklodestrin has a better solubilty.

PENDAHULUAN Gambir merupakan salah satu tanaman unggulan Sumatera Barat, yang mengandung senyawa kimia berupa katekin, asam kateku tanat, gambir fluoresensi, kuersetin, lendir, lemak dan lilin (Bakhtiar, 1991; Suherdi, 1995).Kandungan kimia gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah katekin dan tanin (Bakhtiar, 1991). Persyaratan mutu gambir yang berlaku saat ini adalah SNI 01-3391-1994 yang telah direvisi berdasarkan hasil Pertemuan Teknis Evaluasi Standar Mutu pada bulan November 1999. Di dalam SNI 01-3391-1994 (revisi 1999) disebutkan bahwa kadar katekin sebagai syarat mutu gambir berkisar antara 40% sampai dengan 60%. Katekin merupakan senyawa golongan polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan. Katekin biasa disebut asam katekuat atau asam katekinat dengan rumus kimia (2R-trans)-2-(3,4dihidroxi fenil) 4-dihidro-2 H-1 benzopiran3,5,7 triol).Katekin hidrat dengan rumus molekul C15H14O6. 4H2O mempunyai titik lebur 175-177ºC. Katekin anhidrat dengan rumus molekul C15H14O6 mempunyai titik lebur 235º237ºC (Anonim, 1983).

Jika dilihat dari strukturnya, katekin merupakan flavanoid dengan banyak gugus hidroksi, maka diperkirakan gugus hidroksi pada cincin B dari struktur molekul ini akan menjadi faktor utama yang menyebabkan ketidakstabilan katekin terhadap oksidasi. Peristiwa oksidasi ini dipengaruhi oleh oksigen, pH larutan, cahaya dan adanya bahan antioksidan (Connors, et al., 1992). Kristal katekin dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan selama penyimpanan. Dimana kristal katekin ini dapat meleleh dengan adanya pengaruh suhu lingkungan dalam penyimpanannya sehingga akan memberikan rasa yang agak pahit. Selain itu derajat kelembabannya selama penyimpanan pada suhu ruangan selama proses produksi akan menyebabkan perubahan terhadap kandungan utama dari kristal katekin. Selain sebagai antioksidan katekin juga memilikiefek lain seperti sebagai antibakteri (Pambayun,et al., 2007) sebagai antivirus(Uesato,et al., 2003) sebagai antiseptik mulut (Lucida, Bachtiar & Putri, 2007)antidiare (Anonim, 1983), antitumor (Valcid, et al., 1996), untuk penyakit kardiovaskular, anti inflamasi (Dubey, et al., 1984). Untuk penggunaan sebagai kosmetik,telah dilakukan

Dengan melakukan rekristalisasi terhadap katekin diharapkan dapat dihasilkan katekin dengan sifat fisikokimia seperti kelarutan yang lebih baik.Hasil rekristalisasi kedua metode ini dibandingkan. simpan dalam freeze dryer. Selain itu β. 2. etil asetat. 2009).siklodekstrin karena β-siklodekstrin mudah diperoleh dan umum digunakan. Dari ketiga jenis siklodekstrin.siklodekstrin > γsiklodekstrin. a. Ukur absorban blanko (etil asetat) b..Kajian terhadap sifat fisikokimia obat ini disebut dengan istilah preformulasi. Isolasi Katekin dari Gambir Pasta gambir yang diperoleh. Larutan induk mengandung katekin dengan kadar 1 mg/mL. air suling. Pada pembentukan kompleks inklusi digunakan bentuk β. maka katekin menjadi potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat untuk itu perlu dilakukan kajian terhadap sifat fisikokimia katekin agar dapat didesain dalam bentuk sediaan obat yang stabil. ditimbang sebanyak 100 g dilarutkan dalam etil asetat sebanyak 500 mL. 4. dari larutan ini dipipet 2 ml dan diencerkan dengan etil asetat dalam labu ukur hingga 50 mL. maka perlu dilakukan optimasi katekin yang telah diperoleh dari gambir salah satunya dengan melakukan rekristalisasi terhadap katekin. Penetapan Kadar Katekin (SNI. selesai dirotari tambahkan aquades sebanyak add 100 mL. 5. Persiapan katekin uji Katekin uji dihaluskan. Metoda 1. (Bekers et al. terutama sifat dasar obat yaitu stabilitas dan kelarutannya. Persiapan katekin standar Katekin standar dikeringkan di dalam oven pada temperatur 105°C selama 3 jam. keringkan lapisan gambir tersebut di dalam oven pada temperatur 105°C selama 3 jam. sehingga diharapkan dapat MATERIAL DAN METODA Material Bahan yang digunakan adalah. Untuk memperoleh katekin yang memenuhi persyaratan sifat fisikokimia yang baik dalam tahap preformulasi. maka dilakukan penelitian berupa metode yang berbedayaitu metode pendinginan dipercepat dan metode dengan spray drying. 3. Persiapan larutan contoh Sebanyak 50 mg katekin yang didapatkan ditimbang dan dilarutkan dengan etil asetat hingga 50 mL. sehingga dihasilkan serbuk katekin. pasta gambir. efektif dan amandigunakan. standar katekin. Persiapan larutan standar katekin 50 mg katekin standar ditimbang dan dilarutkan dengan etil asetat hingga 50 ml (larutan induk).siklodekstrin juga tidak toksik bila diberikan secara oral terutama digunakan dalam formulasi tablet atau kapsul. Dari larutan induk ini dipipet 2 mL dan diencerkan dengan etil asetat dalam labu ukur hingga 50 mL. dilakukan kajian terhadap sifat fisikokimia obat. 2000) 1.Sebagai langkah awal dalam mendisain bentuk sediaan obat tersebut. disaring dengan kertas saring kemudian dirotari. Dengan melihat aktivitas farmakologis yang cukup banyak dari katekin. kemudian salah satu dari metode tersebut dilanjutkan prosesnya dengan pembentukan kompleks inklusi dengan β-siklodekstrin. 2.siklodekstrin dapat membentuk kompleks dengan berbagai molekul obat. 2009)dan untuk menurunkan berat badan (Heller. Pengukuran absorban larutan Pengukuran absorban larutan dengan menggunakan spektrofotometer UV dengan panjang gelombang 279 nm. NaOH. Ukur larutan absorban standar terjadi peningkatan laju disolusi katekin. β. . βsiklodekstrin memiliki kemampuan terbaik dalam membentuk kompleks inklusi. βsiklodekstrin. Larutan contoh mengandung katekin dengan kadar 1 mg/mL. Tingkat kemampuan siklodekstrin dalam membentuk kompleks dapat dilihat sebagai berikut : βsiklodekstrin > α. KH2PO4. Berdasarkan hal diatas. Selain itu.uji ekstrak gambir diantaranya sebagai antiaging (Maurya.1991).

sehingga molekul tersebut terinklusi di dalamnya.JF. and Whiteley. Kadar katekin cukup tinggi jika dibandingkan dengan gambir yang diolah masyarakat secara tradisional di daerah Sumatera Barat dengan kadar katekin 40-80 % (amos 2010). Dari publikasi tersebut dijelaskan bahwa katekin dapat terinklusi di dalam rongga β-siklodekstrin dan model pembentukannya (Kriz. Rekristalisasi katekin dengan metode spray drying Sebanyak 50 gram katekin dilarutkan dalam air panas sebanyak 150 mL. 2. kemudian saring sehingga di dapat serbuk katekin. Penentuan kadar katekin dilakukan dengan mengukur serapan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 279 nm. dengan perbandingan 1. 2003). Hal ini disebabkan sampel yang digunakan masih segar sehingga kadar yang terhitung menjadi optimal. yang dapat memerangkap molekul lain dalam rongganya.2. Maka dari itu digunakan pengompleks β-siklodekstrin yang merupakan senyawa oligosakarida siklik. Disamping itu katekin merupakan senyawa fenolik yang tidak stabil. Ukur larutan contoh (larutan katekin yang didapat) Perhitungan Et 279 Ws % kadar katekin = × ×100% Ec 279 W Keterangan : Et 279 = Penyerapan larutan contoh pada panjang gelombang 279 nm Ec 279 = Penyerapan larutan standar pada panjang gelombang 279 nm Ws = Berat katekin standar (mg) W = Berat katekin contoh (mg) 3.1 1%).. 1921) Kadar katekin di dalam sampel yang digunakan sesuai dengan ketetapan SNI yaitu minimal mengandung 60% katekin. Perbedaan ini disebabkan karena cara pengolahan dan perlakukan yang berbeda terhadap gambir. di spray drying sehingga akan menghasilkan serbuk yang kering. Pemeriksaan . Dari literatur diketahui bahwa kelarutan katekin dalam air adalah sukar larut (berada pada rentang 0. maka perlu cara untuk meningkatkan kelarutannya. untuk senyawa kandidat obat yang mempunyai kelarutan kecil dari 1% akan bermasalah pada absorpsinya. M. Katekin bersifat asam sangat lemah dengan nilai pKa 7. (BM Katekin: 290. Kadar katekin yang diperoleh adalah 92. dimana katekin yang digunakan sebanyak 300 mg dan β siklodestrin 1144 mg.A. Kompleks dibentuk dengan cara metode cogrinding selama 30 menit. 6. Rekristalisasi katekin Katekin yang diperoleh dari isolasi gambir selanjutnya diperlakukan sebagai berikut: 1. Hasil pemeriksaan pendahuluan terhadap katekin memperlihatkan panjang gelombang 278 nm dengan menggunakan dapar pospat . mudah berubah warna jadi cokelat terutama dalam larutan. pengaruh suhu dan lama perebusan sangat mempengaruhi kandungan katekin pada produk gambir. 1998. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini digunakan pasta gambir yang diperoleh dari kebun tanaman obat farmasi (KTO) universitas andalas. 4.85%..1 molaritas. mudah teroksidasi. Kelarutan katekin sampel sedikit berbeda dengan literatur.Pembentukan kompleks inklusi katekin dengan β-siklodestrin Serbuk katekin yang diperoleh dengan metode spray drying dikompleks dengan βsiklodekstrin. Menurut wells. Hal ini dikarenakan sifat katekin yang akan kehilangan 1 molekul air pada saat pemanasan di atas 1100C menjadi asam kateku tanat (Thrope. 27 dan BM Siklodestrin: 1135). Rekristalisasi katekin dengan metode pendinginan Sebanyak 10 gram katekin dilarutkan dengan air panas sebanyak 50 mL dinginkan selama 24 jam di dalam free zer. cara rekristalisasi dan sumber katekin tersebut. sehingga sukar untuk diformula menjadi suatu bentuk sediaan. Pemeriksaan morfologi atau habit kristal dilakukan pada percobaan katekin dengan metode pendinginan dan katekin yang di kompleks dengan β-siklodekstrin. hal ini disebabkan karna perbedaan kemurnian.2 dan 10.c.

dibuat larutan dengan konsentrasi 0. katekin dengan metode spry drying dan katekin yang .455x +0. Dari penelitian.06. bentuk habit dari katekin yang dikompleks dengan βsiklodekstrin adalah bentuk yang tidak beraturan. 0. dilakukan dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dengan perbesaran 2500 kali. Dari data tersebut dapat kita lihat dengan penambahan pengompleks akan menurunkan persentase distribusi ukuran partikel. Pada hasil penentuan perolehan kembali katekin. ada yang berbentuk mendekati bulat dan ada yang berbentuk persegi. Distribusi ukuran partikel paling banyak pada semua perlakuan ditunjukkan pada rentang 0-26.66 µm (katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin = 73<katekin yang dipanaskan = 76 ). Hal ini disebabkan kalau perbesaran yang digunakan terlalu besar. 0.20 mg/mL dan diukur serapanya pada panjang gelombang maksimum. hal ini disebabkan karna perbedaan kemurnian. 0. Sebelum menentukan penetapan kadar zat aktif dilakukan penentuan panjang gelombang serapan maksimum. Persamaan garis yang didapat adalah: y = 0. Secara umum. kurva yang terbentuk dari semua formula menyerupai lonceng (kurva distribusi ukuran partikel normal). seharusnya perbesaran yang digunakan lebih menunjukkan hasil yang kecil sehingga dapat mengamati perbedaan ukuran partikel lebih jelas.013dengan r=0.06. Uji disolusi dari katekin dengan metode pendinginan. Pada rentang tersebut. 0.04. Dimana hasil % frekuensi distribusi ukuran partikel katekin dengan metode pendinginan dibandingkan dengan katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin pada diameter 0-26.33 µm.5%. namun jarak antara diameter (d) terbesar dan yang terkecil cukup jauh berarti kurang homogen. Persamaan garis yang didapat adalah y= 6. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum katekin dalam medium dapar fosfat menggunakan larutan dengan konsentrasi 0.53x -+0. didapatkan hasil sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam British Pharmacoipea tahun 2009 yaitu tidak boleh kurang dari 90% dan tidak boleh lebih dari 100. Penentuan perolehan kembali zat aktif katekin dilakukan menggunakan spektrofotometer uv.04. 0.20mg/mL dan panjang gelombang serapan maksimum yang didapat 278 nm. cara rekristalisasi dan sumber katekin tersebut.12 dan 0. Penentuan panjang gelombang maksimum katekin dengan cara membuat larutan induk dengan melarutkan 50 mg katekin dalam 50 ml etil asetat.ini. persentase frekuensi paling besar ditunjukan pada katekin yang di spray drying dan paling rendah pada katekin yang dikompleks.10.995. katekin dengan metode spray drying dan katekin yang dikompleks dengan βsiklodekstrin menggunakan medium dapar fosfat pH 4. di dapatkan hasil 94.08 mg/ mL dari larutan induk diukur serapannya pada panjang gelombang 278 dengan menggunakan spektrofotometer UV. Kemudian. katekin dengan metode spry drying dan katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin. Uji disolusi untuk semua perlakuan baik katekin dengan metode pendinginan. dan ukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang didapat.66 µm. Kurva kalibrasi diperoleh dengan cara membuat larutan katekin dengan konsentrasi 0. 0. Persamaan regresi diatas digunakan untuk menghitung persen zat terdisolusi katekin dengan metode pendinginan. Pemeriksaan distribusi ukuran partikel katekin dengan metode pendinginan lebih tinggi dari katekin yang dikompleks dengan βsiklodekstrin. Pemeriksaan distribusi ukuran partikel menggunakan mikroskop okuler perbesaran 10 kali yang di kalibrasi dengan menggunakan mikrometer pentas sehingga diketahui bahwa nilai 1 okuler sama dengan 13.08.9959 dapat dilihat pada (lampiran 6). dimana didalam literatur 279 nm. Sedangkan. 0.10.7.02. Hasil yang diperoleh menunjukkan bentuk habit morfologi kristal dari katekin berbentuk kristal batang. 0.201 dengan nilai r = 0. Dari hasil SEM ini juga dapat dilihat katekin dengan metode pendinginan masih menunjukan kristal yang jelas sedangkan katekin yang dikompleks dengan β-siklodekstrin habit kristal yang terbentuk tidak tajam tapi belum berbentuk amorf.08. Pembuatan kurva kalibrasi diperoleh dengan cara membuat larutan katekin dengan konsentrasi : 0.2%.

85%.. pada suhu 37 ºC.53%. orde 1.A.Jakarta :DepartemenPendidikan dan Kebudayaan. Mencari metode perlakuan yang lain dalam pengomplek inklusi katekin. 9th ed. Dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan memiliki bentuk kristal dan ukuran partikel lebih besar.74%.31%.7 sebanyak 900 mL. Dimana katekin dengan metode pendinginan pada persentase disolusi menit ke-30 adalah 77. Hal ini dapat disimpulkan bahwa katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin dapat meningkatkan laju disolusi obat lebih besar dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan atau katekin dengan metode spray drying. Partikel kecil dengan energi permukaan yang tinggi dan ikatan kisi sangat lemah menyebabkan perubahan dari fase kristal menjadi fase amorf yang kelarutannya sangat tinggi dalam air. diperoleh kesimpulan bahwa kadar katekin yang diperoleh 92. Pathway New Jersey. Peningkatan laju disolusi katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin dipengaruhi oleh pengurangan ukuran partikel yang disebabkan oleh energi yang diberikan saat penggilingan dengan ball mill dalam tabung kaca. S. sedangkan katekin yang dikompleks dengan β siklodestrin adalah persamaan orde 1. sedangkan untuk katekin yang dikompleks dengan β-siklodekstrin menit ke-30 = 95. 65.30%. RUJUKAN Achmad. Persamaan garis lurus untuk menentukan model kinetika pelepasan zat dilakukan dengan kinetika orde 0.00 (Sig<0. Dari hasil yang di dapat katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin didapatkan peningkatan laju disolusi obat. The Merk Index. untuk itu dilakukan pengomplekan.dikompleks dengan β -siklodekstrin dilakukan pada medium dapar fosfat pH 4. Dari hasil yang di dapat nilai Sig 0. katekin dengan metode spray drying dan katekin dikompleks dengan β berturut-turut 71. Kimia organik bahan alam (Modul 4). dengan Apparatus II (metoda paddle) dengan kecepatan 100 rpm. dengan pengurangan ukuran partikel. sehingga kelarutan obat dalam medium akan meningkat dan laju disolusi juga akan meningkat. Katekin yang dikomplek dengan β siklodekstrin memiliki kelarutan yang lebih baik dibandingkan dengan katekin dengan metode pendinginan dan katekin dengan metode spray drying. katekin dengan metode spray drying adalah persamaan orde 1. disarankan peneliti selanjutnya menggunakan metode/ rekristalisasi katekin sehingga didapatkan katekin yang memiliki sifat fisikokimia yang lebih baik. Dari ketiga persamaan tersebut yang menunjukkan persamaan garis lurus untuk katekin dengan metode pendinginan adalah persamaan orde Higuchi. Katekin yang di komplek dengan β siklodekstrin memilki ukuran partikel yang lebih halus di bandingkan katekin dengan metode pendinginan dan katekin dengan metode spray drying. Anonim. 87. 1983. 1988.00) antara katekin dengan metode pendinginan. Merck & Co Inc. Dari penelitian ini. KESIMPULAN DAN SARAN Dari penelitian yang dilakukan. Dimana persamaan orde 1 menunjukkan nilai r yang terbesar dibandingkan dengan model kinetika orde 0 dengan Higuchi. An Encyclopedia of chemicals and drugs. katekin dengan metode spray drying dan katekin yang dikompleks dengan β-siklodekstrin menunjukan perbedaan yang signifikan (berbeda secara nyata) dari rata-rata katekin yang dikompleks dengan β siklodekstrin adalah yang paling besar yaitu 87.88%. Ay New Jersey. Untuk membandingkan ketiga perlakuan terhadap persentase efisiensi disolusi menggunakan uji anova dua arah dengan menggunakan program SPSS 16. Selain itu. Hasil efisiensi disolusi dari katekin dengan metode pendinginan. Hasil uji disolusi. dimana kelarutan katekin dengan metode pendinginan lebih baik dibandingkan dengan katekin dengan metode spray drying. akan menyebabkan luas permukaan semakin besar. dari katekin dengan metode pendinginan dibandingkan dengan katekin dengan metode spray drying. dimana tujuan dari pengomplekan tersebut untuk memperbaiki kelarutan dari katekin yang di spray drying. Universitas Terbuka.59 %. . dan persamaan higuchi.

IKIP Semarang Press. S.. Padang: FMIPA Unand. P. H. India : Departement of Biochemistry University of Allahabad. T. 2000. Vol. Jakarta.Azad. S.. Jakarta Dewan Standarisasi Nasional-DSN. Muchtar. terjemahan Didik Gunawan . Takahashi. Sundram & S. “Effect of catechin diet on gingivitis in cats”. Shinichi. Kandungan fenol dan sifat antibakteri dariberbagai jenis ekstrak produk gambir (Uncariagambir Roxb). Biomedical Polymers Theraupetics.. Yukihiko. et al. 141 – 146. & Gilani. 2003. Departemen Perindustrian dan Perdagangan23(Juni 2008).. Alberts D. Protective role of tea catechins on erythrocytes subjected to oxidative stress during human aging. K. Diakses tanggal 12 Mei 2011. K. Bull 51(12) 1448-1450.S. SNI.Jerman.. N. 2009. C. Dubey.. Maurya. USA. Emo.International Journal App. No 8. H. 2008. P.. 860-866. M. 2009. Standar Nasional Indonesia. Denian dan H. & Takeshi. PK. 1991.A.Ogiyama.a Naturally Occurring Flavonoid. Lucida.001-3391.Aktivitas penangkapan Radikal DPPH Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb). .. 2. R. K. S. Cannors. Rizvi. 1979. 2007. 1991. Padang : FMIPA Universitas Andalas Brown. Koichi. A.Makalah Penataran Petani dan Pedagang Pengumpul Gambir di Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota.. & Kurebayashi.& Hoyoku. Valcid. KA. The complete herbalist. Leon. Sassa. Dati I Sumbar. Uesato. 2007. Kluwer. A. Isogai. Isogai. Bakhtiar.. “ Effects of tea in Gastric Acid Secrestion” Dig. Manfaat Tanaman gambir. Stabilitas kimiawi sediaan farmasi.Agritech. Wachter G. “Inhibitory Effect of six Green Tea Catecchins and Cafein on The Growth of Four Slected Human Tumor Cells Lines”. & Gustri Yeni. 18(3). Med. Ghayur. Keisuke. H.. H.. A. Nundy.. N. Edisi II. Teori dan Prakter Farmasi Industri. Biro Bina Pengembangan Sarana Perekonomian.A. Journal Wood Sci 47:406-409. et al.“Formulasi sediaan antiseptik mulut dari katekin gambir”. Amri.. Dril.30(1):1-5 Suherdi. No. Heller. 2000. Amidon... Universitas Indonesia Press. Vol. T.M. Pharm. Rauf.. et al. Budidaya dan pasca panen gambir serta permasalahannya. E. L. 2009... Lachman. “Pengaruh jenis absorban dalam proses isolasi katekin gambir”. Timmermann B. Badan Standarisasi. 2008. Ayako... Standar Nasional Indonesia-Gambir.. 14Pambayun. 1985.N. 2002.Majalah Farmasi Indonesia. Y. bronchodilator and vasodilator activities of (+)-catechin”. W. 1996.A.. 1.6. Khan H. The Journal of Nutrition. Syamsu. 970-975. “Green tea catechins linked to weight loss”.Jurnal Teknologi Farmasi 12 (1) 2007. SNI 01-3391-2000.Chem. Yasuo.. Padang. 1992. R. “Isolation of (+)catechin and a new polyphenolic compound inBengal catechu”. Ryota.. Pharmacology in medicine.Arch Pharm Res Vol 30. A. V.. 2010. “Inhibitory effect of 3-O-acetyl-(+)catechins on Epstein-Barr virus activation”.H. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Padang. 1994. Farmakope Indonesia Edisi III. Yesmeiarti.. New York: .N.. B. Chiellini. 29-30 November 1991. Harukuni. Journal Riset Industri .. Semarang Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1984. 2001. 2007 “Antispasmodic. K. Japan. Graw Hill Book Company Inc. Res. & Putri.Gambir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->