Nama : TUGAS

:

Nico Leviathan Politik Hukum Perburuhan

III. Buruh dalam Penataan Politik Awal Orde Baru Oleh : Vedi R. Hadiz

Tulisan ini mengetengahkan proses penataan kembali organisasi perburuhan pada masa awal Orde Baru dalam hubungannya dengan restrukturisasi politik yang mengarah kepada perkembangan sistem yang dapat disebut sebagai “korporatisme-eksklusioner”. Menurut Alfred Stephan “korporatisme-ekslusioner” mempunyai ciri upaya kelompok elite dalam masyarakat untuk meredam dan mengubah bentuk kelompok kelas pekerja yang menonjol melalui kebijaksanaan yang bersifat koersi. Ia berbeda dengan “korporatisme-inklusioner” yang lebih bercirikan akomodasi dan inkorporasi kelompok pekerja oleh negara. Perkembangan “korporatisme-inklusioner” berkaitan dengan kemunculan gerakan buruh yang relatif kuat dan berarti di banyak negara Amerika latin. Argentina pada tahun 1940-an dan 1950-an ketika Peronisme secara aktif melindungi dan mempromosikan gerakan buruh merupakan salah satu contoh “korporatisme-inklusioner”. Terutama bercirikan kooptasi dan buruh yang dimaksudkan untuk membangun basis dukungan massa pada negara. Tetapi di Korea Selatan masa kini maupun Indonesia masa Orde Baru sebagai dua contoh negara yang menerapkan “korporatisme-ekslusioner” elite negara lebih berkepentingan untuk mengontrol dan mendemobilisasi gerakan buruh sebagai suatu kekuatan sosial, termasuk dengan kebijaksanaan yang bersifat koersi. Negara tidak berminat mengembangkan basis dukungan massa, apalagi dikalangan kelompok buruh. Dengan kata lain lemahlah yang direpresi, sedangkan yang kuat cenderung dikooptasi.

Tugas yang diemban Orde Baru, menghidupkan kembali perekonomian tang stagnan di masa akhir Orde Lama. Dwight Y. King menganggap bahwa kebijaksanaan perburuhan Orde Baru dibentuk oleh tujuan-tujuan ekonominya. Tetapi interpretasinya cenderung mengabaikan pertimbangan-pertimbangan politik yang turut mendasari kebijaksanaan perburuhan Orde Baru. Koalisi politik yang membangun Orde Baru itu terdiri dari tentara, lapisan teratas birokrasi, serta elemen-elemen kecil borjuasi kota maupun pedesaan, dengan tentara sebagai elemen paling dominan. Akhirnya sifat dasar strategi politik pada masa Orde Baru bukan hanya ditandai kecenderungan untuk mengekang setiap gerakan yang bersifat radikal, tetapi juga bagi setiap gerakan atau organisasi yang mempunyai sifat massal seperti partai politik, serikat buruh dan organisasi tani. Richard Robinson menilai kebijaksanaan para teknokrat tersebut mengandalkan lenyapnya kekuatan-kekuatan politik yang secara ideologis mengutamakan redistribusi kekayaan dan sumberdaya secara radikal. Belakangan pada tahun 1975, gagasan hubungan kemitraan antara majikan dan buruh dikodifikasikan dalam doktrin HPP (Hubungan Perburuhan Pancasila) yang kemudian menjadi HIP (Hubungan Industrial Pancasila). Doktrin ini pada dasarnya menentang konflik dan dalam praktek juga menolak hak untuk aksi mogok karena dianggap tidak selaras dengan prinsip kekeluargaan yang melandasi Pancasila. Penataan kembali dunia organisasi buruh masa awal Orde Baru terjadi sebagai akibat hubungan yang kompleks antara pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan politik. Kebijaksanaan perburuhan Orde Baru tidak semata-mata dibentuk oleh agenda tuntutan ekonomi pada waktu itu. Pertimbangan-pertimbangan politik pun turut menciptakan kebijaksanaan tersebut. Untuk membatasi ruang gerak organisasi yang bersifat massal. Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang dibentuk pada tahun 1985 sebagai pengganti FBSI, lebih diarahkan lagi untuk menjalankan fungsi-fungsi kontrol dan demobilisasi tersebut. Dengan dorongan Mennaker Soedomo sebuah struktur organisasi

yang lebih hierarkis dan bersifat komando dilahirkan. Ciri khususnya adalah penghapusan serikat buruh lapangan industri yang digantikan oleh departemendepartemen yang dapat lebih dikendalikan secara terpusat.

V. One World, Ready or Not : Buruh pada Era Gobalisasi Oleh : Surya Tjandra

Dalam dunia yang semakin mengglobal sekarang ini, ekonomi dunia semakin membentuk satu sistem ekonomi tunggal yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dan sering disebut sebagai perusahaan transnasional (transnastional corporation, TNCs). Istilah lain yang juga cukup popular adalah perusahaan multinasional (multinational corporation, MNCs). Pemusatan modal seperti ini membuat TNCs menjadi satu kekuatan ekonomi dan politik yang sangat besar. Kekuasaannya seringkali melebihi kekuasaan pemerintahpemerintah nasional atau organisasi antar-negara dalam dunia internasional. Perkembangan ini didukung oleh kebijaksanaan “neo-liberal” yang mengatakan bahwa modal swasta harus diberikan keleluasaan dan kebebasan yang lebih besar dibandingkan pemerintahan dan rakyat di suatu negara. Biasanya TNCs membagi aktivitas mereka dalam berbagai kegiatan di negaranegara yang berbeda. Semua itu sangat tergantung pada perhitungan keuntungan yang ingin mereka raih, gambarannya adalah sebagai berikut: 1. Proses produksi yang menggunakan banyak buruh biasanya dialihkan ke negara-negara yang upah buruhnya rendah. 2. Proses produksi yang menggunakan teknologi tinggi dan hanya membutuhkan sedikit jumlah tenaga kerja biasanya bertempat di negara-negara maju atau negara industri baru.

3. Sistem manajemen tetap dikendalikan oleh perusahaan induk. Untuk menciptakan sosok perusahaan besar seperti ini, prosesnya dicapai melalui pembelian perusahaan yang lebih kecil, merger atau usaha patungan. Kemudian setahap demi setahap, perusahaan yang lebih besar akan menguasai perusahaan yang lebih kecil. Tetapi ada juga proses yang disebut “penyederhanaan” dimana beberapa perusahaan besar melepaskan beberapa jenis aktivitas produksi yang sebelumnya mereka jalankan dan mengontrak perusahaan lain untuk melakukan aktivitas produksi tersebut sehingga kecenderungan “sub-kontrak” menjadi kecenderungan. Ribuan perusahaan kecil saling bersaing memperebutkan kontrak itu dan akibatnya penekanan terhadap upah buruh, karena setiap perusahaan itu harus bersaing untuk menekan biaya produksi mereka. Karena semakin kompetitifnya persaingan global dan makin bebasnya arus barang-barang, perusahaan, entah yang memproduksi untuk pasar domestik atau ekspor, dipaksa untuk melakukan perubahan dan penyesuaian dalam proses kerja dengan tujuan agar dapat menghasilkan produk-produk lebih murah dengan kualitas lebih baik. Berarti sebuah proses terus menerus dari pemotongan ongkos produksi atau meningkatkan produktivitas atau keduanya. Buruh dengan mudah harus menanggung dua kemungkinan tersebut. Inilah mengapa globalisasi, sebagai hasil dari sistem produksi massal, secara radikal mengubah susasana dan pola kerja buruh. Fleksibilitas tenaga kerja (labour flexibilization), mempunyai arti kemampuan dari pengusaha untuk mengurangi ongkos buruh, meningkatkan produktifitas buruh, dan penguatan kontrol manajemen terhadap proses kerja dan kepada buruh. Intinya kemampuan perusahaan untuk “merekayasa ulang” dirinya denga mengkonsentrasikan pada bisnis inti dan memisahkan bisnis yang bukan bisnis inti melalui sub-kontrak. Strategi HRD yang masih terdapat di dunia buruh dan bahkan di serikat buruh, ide bahwa mereka adalah sekutu strategis atau pasangan yang sama-sama menghadapi musuh bersama. Strategi HRD banyak pada komunikasi dan konsultasi dengan para buruh mengenai aspek proses kerja yang secara langsung mempengaruhi mereka yang

kemudian akan menimbulkan kesadaran palsu dan menghilangkan realitas eksploitasi pemilik modal terhadap buruhnya. Sesungguhnya globalisasi adalah proses rekonsiliasi oleh sekelompok elite global kaya dan berkuasa. Mereka mengontrol sebagian besar TNCs, pemerintah dan angkatan bersenjata dari negara-negara kaya dan kuat. Sebagai akibatnya kekuatan dan kedaulatan negara bangsa dan pemerintah negara-negara miskin untuk mengontrol atau mempengaruhi nasib masyarakatnya sendiri secara sosial maupun ekonomi semakin berkurang. Negara yang miskin akan semakin miskin dan negara yang kaya akan semakin kaya.

VI. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Oleh : J. Sudarminta

Secara umum yang dimaksud tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab perusahaan untuk ikut mengatasi masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Perusahaan bukan hanya berfungsi sebagai penghasil barang dan jasa yang dijual demi memperoleh keuntungan, tetapi perusahaan berhubungan dengan masyarakat. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat yang ikut bertanggungjawab untuk mengatasi masalah sosial yang amat mendesak dalam masyarakat. Menurut Thomas Donaldson antara perusahaan dan masyarakat sebenarnya terjalin suatu “kontrak sosial” implisit yang memuat hak dan kewajiban untuk kedua belah pihak. Perusahaan wajib melindungi dan memajukan kepentingan para karyawannya, memperhatikan kepentingan dan kebutuhan para konsumen serta memajukan kesejahteraan hidup masyarakat tempat perusahaan itu berada. Cukup banyak sosiolog menyatakan bahwa perusahaan besar telah menjadi lembaga sosial yang amat penting, menggantikan pemerintah, agama, dan bahkan keluarga dalam daya pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Mereka yang menekankan tanggung jawab sosial perusahaan menyatakan bahwa organisasi bisnis

mempunyai kewajiban moral untuk menggunakan sebagian dari sumber dana dan keuntungan usahanya yang besar untuk ikut memecahkan masalah sosial yang menimpa masyarakat dan yang kadang juga ikut diakibatkan oleh kegiatan bisnis itu sendiri. Ada juga yang berpendapat konsep tanggung jawab sosial perusahaan muncul sebagai tanggapan perubahan terhadap perubahan sosial lingkungan bisnis. Yang sering dilukiskan sebagai perubahan dalam faham kontrak antara dunia bisnis dan masyarakat. a. Argumentasi pro Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, dalam arti dilakukannya beberapa tindakan yang menyatakan kepefulian dan keikutsertaan dengan pemerintah dan lembaga masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah social dalam jangka pendek memang selalu akan dirasakan sebagai tambahan biaya pengeluaran bagi perusahaan. Tetapi dalam jangka panjang, tindakan tersebut dapat membawa keuntungan bagi perusahaan. Karena pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan dapat menjadi bagian dari keguatan promosi. Perusahaan akan mendapat citra yang lebih baik di mata pemerintah dan masyarakat dengan melaksanakan tanggungjawab sosialnya. Dengan mendapatkan citra yang lebih baik, kegiatan perusahaan akan lebih ditunjang dan didukung baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Salah satu prinsip moral dasar yang juga berlaku di dunia etika bisnis adalah prinsip tidak melakukan yang jahat (principle of maleficence) atau prinsip tidak mergikan orang lain. Kalau dalam masyarakat tidak terdapat hokum yang mengatur kegiatan bisnis yang senyatanya ada dan yang secara konsekuen dipatuhi, maka kewajiban moral minimum dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan sudah tidak terpenuhi. Para penganjur tanggung jawab sosial perusahaan juga menekankan bahwa dunia bisnis pun sesungguhnya punya misi moral untuk memajukan peradaban manusia. Untuk itu dunia bisnis tidak dapat hanya bersifat negative dan minimalis, yakni tidak melanggar hokum dalam bisnis yang dijalani. Juga tidak cukup dengan hanya memperhatikan mekanisme pasar bebas. Menurut Mulligan, dalam melaksanakan misi moralnya para

pengusaha perlu mengambil sikap positif dan proaktif secara moral. Misalnya dengtan memproduksi dan memasarkan barang dan jasa yang bukan hanya laku di pasaran dan menguntungkan bagi perusahaan, tetapi yang memang memajukan peradaban manusia. b. Argumentasi kontra Seorang tokoh yang melancarkan kritik terhadap konsep tanggungjawab sosial perusahaan adalah ekonom pemenang hadiah Nobel bernama Milton Friedman. Tulisannya yang berjudul “The Social Responsibility of Bussines Is to Increase Its Profits”, dalam pandangannya ajaran tentang tanggung jwaba sosial perusahaan itu merupakan ajaran yang penuh kekaburan pengertian dan pelaksanaanya dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bisnis yang sehat dalam masyarakat yang bebas. Karena pertama perushaan tidak pernah bisa mempunyai tanggung jawab sosial, yang punya tanggung jawab sosial adalah orang yang dalam hal ini menjalakan perusahaan. Seperti manajer misalnya. Selain itu menurut Friedman, ajaran tanggung jawab sosial perusahaan secara operasional manajerial bukan hanya sulit dilakukan, tapi juga secara prinsip tidak dapat dibenarkan. Dari sisi operasional manajerial misalnya, seorang manajer akan mengalami banyak kesulitan untuk menentukan masalah sosial yang mana yang mau ditanggapi oleh perusahaan. Dari sisi prinsip misalnya, pengeluaran perusahaan untuk tujuan kepentingan sosial sebenarnya telah berfungsi menjadi semacam pajak diluar pajak yang resmi, tugas untuk menetapkan pajak dan menangani masalah sosial adalah tugas dan hak prerogatif pemerintah, bukan tugas perusahaan. Tanggapan Pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih mendesak adalah yang termasuk dalam pemenuhan kewajiban moral minimum sebagaimana yang tercermin dalam ketentuan hukum yang mengatur perusahaan. Diluar pemenuhan kewajiban moral minimum yang berlaku tentu saja perusahaan masih terikat secara moral. Akan tetapi hal ini tidak dapat dipaksakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful