You are on page 1of 19

TUGAS TERSTRUKTUR PARASITOLOGI CESTODA USUS

Disusun oleh : 1. Roffa Hijrani 2. Lenny Rachmawati (G1B012007) (G1B012008)

3. Alvianti Fatma Pratami S (G1B012009) 4. Rossita Kurnia Rahayu 5. Leti Siana (G1B012015) (G1B012016)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Cestoda merupakan salah satu kelas dari filum Platyhelminthes. Cacing kelas ini mampu menyebabkan penyakit yang khususnya lebih menyerang usus hospes definitif (manusia). Hospes perantara dari cacing ini sebagian besar berada di ikan, anjing, tikus, dan lain-lain. Cestoda yang hidup di usus manusia sebagai hospes definitifnya. Hospes reservoarnya adalah hewan/mamalia pemakan ikan. Cacing dewasanya menempati usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata. Bentuk cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih dorsoventral, tidak mempunyai alat cerna atau saluran vaskular dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang bila dewasa berisi alat reproduktif jantan dan betina. Ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks, yang dilengkapi dengan alat isap dan kait-kait. Penyebaran cacing ini di Indonesia tidak terlalu banyak, karena masih sedikitnya penggemar anjing, kucing, dan hewan mamalia lainnya yang berperan sebagai hospes perantaranya sehingga di Indonesia sangat jarang ditemukan di Indonesia. Penyakit ini dapat terdeteksi pada hati hospes karena ada kista di dalamnya. Gejala dari penyakit ini umumnya diare karena cacing ini menginfeksi usus pada hospesnya. Selain gejalanya, penyakit ini juga dapat diobati. B. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas, tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui klasifikasi, epidemiologi, distribusi geografis, morfologi, siklus hidup, patologi, dan cara pencegahan serta pengobatannya dari masing-masing jenis cacing kelas cestoda khususnya yang menginfeksi usus.

BAB II PEMBAHASAN

Cacing dalam klas cestoidea disebut juga cacing pita karena bentuk tubuhnya yang panjang dan pipih menyerupai pita. Cacing ini tidak mempunyai saluran pencernaan ataupun pembuluh darah. Tubuhnya memanjang terbagi atas segmen-segmen yang disebut proglotida dan segmen ini bila sudah dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina. Pada dasarnya morfologi cacing dewasa terdiri dari : - Kepala atau scoleks yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekat. Dilengkapi dengan batil isap atau lekuk isap. - Leher, yaitu tempat untuk pertumbuhan badan. - Strobila, adalah badan yang terdiri dari segmen proglotida. Tiap proglotida dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina lengkap, keadaan ini disebut hemafrodit. Infeksi terjadi dengan menelan larva bentuk infektif atau menelan telur. Pada cestoda dikenal dua ordo yakni Pseudophylidea dan Cyclophylidea. Sedangkan yang menginfeksi manusia ada dua bentuk fase cacing yaitu, bentuk cacing dewasa, bentuk larva ataupun keduanya. 1. Cacing dewasa (manusia sebagai hospes definitif) Diphylobotrium latum Taeniarinchus saginatus Taenia solium Hymenolepis nana Hymenolepis diminuta Dipylidium caninum

2. Larva (manusia sebagai hospes intermedier) Diphylobotrium sp Taenia solium Hymenolepis nana

-

Echinococcus granulosus

Makalah ini membahas mengenai spesies cestoda yang menyerang pada usus. 1. Diphyllobothrium latum 1.1 Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Platyhelminthes :Cestoda :Pseudophylidea :Pseudophyllidea :Diphyllobothriidae : Diphyllobothrium latum

1.2 Epidemiologi Penyakit ini di Indonesia tidak ditemukan tetapi banyak dijumpai di Negara-negara yang banyak makan ikan salem mentah atau kurang matang. Banyak bintang seperti anjing, kucing, dan babi bertindak sebagai reservoir dan perlu diperhatikan. Cacing pita ini sering ditemukan berparasit pada hewan carnivora pemakan ikan, terutama di Eropa Utara. Sering menginfeksi anjing, kucing, beruang dan pada orang.

1.3 Distribusi geografis D. latum sering dilaporkan menginfeksi orang di daerah tertentu, bahkan hampir 100% di suatu lokasi orang terinfeksi oleh parasit ini. Orang yang terinfeksi banyak dijumpai didaerah Scandinavia, Baltic dan Rusia. Parasit ini juga ditemukan di Amerika, Kanada, Eropa, daerah danau di Swiss, Rumania, Turkestan, Israel, Mancuria, Jepang, Afrika, Malagasi, dan Siberia.

1.4 Morfologi Cacing dewasa yang keluar dari usus manusia berwarna gading, panjangnya dapat sampai 10 m dan terdiri dari 3000 – 4000 buah proglotid, tiap proglotid mempunyai alat kelamin jantan dan betina lengkap, mempunyai sepasang celah penghisap (bothria)

dibagian ventral dan dorsal pada skoleks, telur mempunyai operculum, berukuran 70 x 45 mikron, dikeluarkan melalui lubang uterus proglotid gravid dan ditemukan dalam tinja.

1.5 Siklus hidup Telur keluar melalui feses dan berkembang membentuk embrio yang akan berkembang dalam air. Telur berkembang menjadi coracidium dalam waktu 8 hari sampai beberapa minggu bergantung suhu lingkungan. Coraciudium keluar melalui operkulum telur dan coracidium yang berisilia berenang mncari hospes intermedier ke 1 dari jenis Copepoda krustacea termasuk genus Diaptomus. Segera setelah masuk kedalam usus krustasea tersebut, coracidium melepaskan silianya dan penetrasi melalui dinding usus dan masuk ke haemocel (sistem darah) krustasea menjadi parasit dengan memakan sari makana dalam tubuh krustasea tersebut. Selama sekitar 3 minggu coracidium berkembang dan bertambah panjang sampai sekitar 500 um dan disebut procercoid dan tidak berkembang lagi dalam tubuh krustasea tersebut. Bila krustasea dimakan ikan air tawar sebagai hospes intermedier ke 2, procercoid ada dalam usus ikan dan menembus melalui dinding intestinum masuk kedalam istem muskularis dan berparasit dengan memakan unsur nutrisi dari ikan tersebut dan procercoid berkembang menjadi plerocercoid. Plerocercoid berkembang dari beberapa mm menjadi beberapa cm. Plerocercoid akan terlihat pada daging ikan mentah yang berwarna putih dalam bentuk cyste. Bila daging ikan tersebut dimakan orang, cacing berkembang dengan cepat dan menjadi dewasa serta mulai memproduksi telur pada 7 – 14 hari kemudian. Secara singkat dijelaskan bahwa telur menetas dalam air. Larva disebut korasidium dan dimakan oleh hospes perantara pertama yaitu bintang yang termasuk copepoda seperti Cyclops dan Diaptomus. Dalam hospes ini larva tumbuh menjadi proserkoid berubah menjadi larva pleroserkoid atau disebut sparganum. Bila ikan tersebut dimakan hospes definitive, misalnya manusia, sedangkan ikan itu tidak dimasak dengan baik, maka sparganum di rongga usus halus tumbuh menjadi cacing dewasa.

1.6 Patologi Kasus penyakit banyak dilaporkan di daerah yang orangnya suka mengkonsumsi ikan mentah. Kebanyakan kasus penyakit tidak memperlihatkan gejala yang nyata. Gejala umum yang sering ditemukan adalah gangguan sakit perut, diare, nausea dan kelemahan. Pada kasus infeksi yang berat dapat menyebabkan anemia megaloblastic. Gejala ini sering dilaporkan pada penduduk di Finlandia. Di negara ini hampir seperempat dari populasi penduduk terinfeksi oleh D. latum dan sekitar 1000 orang menderita anemia perniciosa. Pada mulanya dikira bahwa cacing ini menyebarkan toksin penyebab anemia, tetapi setelah diteliti ternyata vitamin B12 yang masuk dalam usus diabsorbsi oleh cacing, sehingga pasien menderita defisiensi vitamin B12. Seorang peneliti melaporkan bahwa pasien yang diberi singel dosis vit. B12 40% yang dilabel dengan cobalt, ternyata disbsorbsi oleh D. latum sekitar 80-100% dari vit B12 yang diberikan. Gejala yang jelas terlihat adalah terjadinya anemia perniciosa (anemia yang disebabkan oleh gangguan absorpsi vitamin B12 dalam usus).

1.7 Cara pencegahan serta pengobatannya Pencegahan yang dapat dilakukan adalah emasak ikan air tawar sampai betul-betul matang atau membekukannya sampai -10°C selama 24 jam, mengeringkan dan mengasinkan ikan secara baik. Selain itu dilarang membuang tinja di kolam air tawar, serta memberikan penyuluhan pada masyarakat mengenai pola hidup bersih dan sehat. Pengobatan yang dilakukan, penderita diberikan obat atabrin dalam keadaan perut kosong, disertai pemberian Na-bikarbons, dosis 0,5 gram. Obat pilihan adalah Niclosamid (Yomesan), diberikan 4 tablet ( 2 gram ) dikunyah sekaligus setelah makan hidangan ringan. Obat lain yang juga efektif adalah paromomisin, yang diberikan dengan dosis 1 gram setiap 4 jam sebanyak 4 dosis. Selain daripada itu dapat dipakai prazikuantel dosis tunggal 10 mgr/kg berat badan.

2. Taenia saginata 2.1 Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Platyhelminthes : Cestoda : Cyclophyllidea : Taeniidae : Taenia : Taenia saginata

2.2 Epidemiologi Cacing terssebut sering ditemukan di Negara yang penduduknya banyak makan daging sapi atau kerbau. Cara penduduk memakan daging tersebut yaitu matang (well done), setengah matang (medium) atau mentah (rare) dan cara memelihata ternak memainkan peranan. Ternak yan dilepas di padang rumput lebih mudah dihinggapi cacing gelembung tersebut, daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di kandang.

2.3 Distribusi geografis Cacing tersebut adalah kosmopolit, didapatkan di Eropa, Timur Tengah, Afrika, Asia, Amerika Utara, Amerika Latin, Rusia, dan juga Indonesia, yaitu daerah Bali, Jakarta, dan lain-lain. Parasit ini ditemukan di mana saja di mana daging sapi yang dimakan, bahkan di negara-negara seperti Amerika Serikat di mana ada kebijakan sanitasi ketat federal. Di AS insiden terinfeksi rendah, bagaimanapun, 25% sapi terinfeksi masih dijual.

2.4 Morfologi Cacing pita Taenia saginata adalah salah satu cacing pita yang berukuran besar dan panjang, terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher, dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid, sebanyak 1000 – 2000 buah. Panjang cacing 4 – 12 meter atau lebih. Skoleksnya hanya berukuran 1 – 2 milimeter, mempunyai empat batil isap dengan otot-otot yang kuat, tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas dan di dalamnya tidak terlihat struktur tertentu. Strobila terdiri dari dari rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur), yang dewasa (matur), dan mengandung telur atau disebut gravid. Pada proglotid-proglotid yang dewasa terlihat struktur alat kelamin seperti folikel testis yan berjumlah 300 – 400 buah, tersebar di bidang dorsal. Vasa eferens bergabung untuk masuk ke rongga kelamin (genital atrium), yang berakhir di lubang kelamin (genital pore). Lubang kelamin ini letaknya selang-seling pada sisi kanan atau kiri strobila. Di bagian posterior lubang kelamin, dekat vas deferens, terdapat tabung vagina yang berpangkal pada ootip. Ovarium terdiri dari 2 lobus, berbentuk kipas, besarnya hampir sama. Letak ovarium di sepertiga bagian posterior dari proglotid. Vitelaria letaknya dibelakang ovarium dan merupakan kumpulan folikel yang eliptik. Telur berkembang di kapsul hialin dan gudang setelah meninggalkan proglottid tersebut. Telur dibungkus embriofor, yang bergaris-garis radial, berukuran 30 – 40 mikron, berisi suatu embrio heksakan atau onkosfer. Telur ini tertelan oleh ternak atau host antara lainnya dan sekali mereka mencapai duodenum, menetas dan menembus dinding usus.

2.5 Siklus hidup Siklus hidup tidak langsung dan rumit, dan selesai pada manusia sebagai tuan rumah definitif dan ternak sebagai hospes perantara. Uterus tumbuh dari bagian anterior ootip dan menjulur ke bagian anterior proglotid. Setelah uterus ini penuh dengan telur, maka cabang-cabangnya akan tumbuh, yang berjumlah 15 – 30 buah pada satu sisiya dan tidak memiliki lubang uterus (porus uterinus). Proglotid yang sudah gravid letaknya terminal dan sering terlepas dari strobila. Proglotid ini dapat bergerak aktif, keluar dengan tinja atau keluar sendiri dari luban dubur (spontan). Setiap harinya, kira-kira 9 buah proglotid dilepas. Proglotid ini bentuknya lebih panjang daripada lebar. Telur yang baru keluar dari uterus masih diliputi selaput tipis yang disebut lapisan luar telur. Sebuah proglotid gravid berisi kira-kira 100.000 buah telur. Waktu proglotid terlepas dari rangkaiannya menjadi koyak, cairan putih susu yang mengandung banyak telur mengalir keluar dari sisi anterior proglotid tersebut, terutama bila proglotid berkontraksi waktu gerak. Telur-telur ini melekat pada rumput bersama tinja, bila orang berdefekasi di padang rumput, atau karena tinja yang hanyut dari sungai di waktu banjir. Ternak yang makan rumput yang terkontaminasi dihinggapi cacing gelembung, oleh karena telur yang tertelan dicerna dan embrio heksakan menetas. Embrio heksakan di saluran pencernaan ternak menembus dinding usus, masuk ke saluran getah bening atau darah dan ikut dengan aliran darah ke jaringan ikat di sela-sela otot untuk tumbuh menjadi cacing gelembung, disebut sistiserkus bovis, yaitu larva Taenia saginata. Peristiwa ini terjadi setelah 12 – 15 minggu. Bagian tubuh ternak yang sering dihinggapi larva tersebut adalah otot maseter, paha belakang dan punggung. Otot di bagian lain juga dapat dihinggapi. Setelah 1 tahun cacing gelembung ini biasanya mengalami degenerasi, walaupun ada yang dapat hidup sampai 3 tahun. Bila cacing gelembung yang terdapat did aging sapi yang di masak kurang matang termakan oleh manusia, skoleksnya keluar dari cacing gelembing dengan cara evaginasi dan melekat pada mukosa usus halus seperti yeyenum. Cacing gelembung tersebut dalam

waktu 8 – 10 minggu menjadi dewasa. Biasanya di rongga usus hospes terdapat seekor cacing.

2.6 Patologi Cacing dewasa Taenia saginata biasanya tanpa gejala, tetapi bisa menimbulkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, mencret, pusing atau gugup. Gejala-gejala tersebut disertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang bergerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja. Namun infeksi berat sering menyebabkan penurunan berat badan, pusing , sakit perut , diare , sakit kepala , mual , sembelit , atau gangguan pencernaan kronis , dan kehilangan nafsu makan . Ada dapat obstruksi usus pada manusia ketika proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang dan ini dapat diatasi dengan operasi. Cacing pita ini juga dapat mengusir antigen yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada individu. Sumber penularan apabila penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atu proglotid, hewan sapi yang mengandung cysticercus, makanan atau minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur-telur cacing pita.

2.7 Cara pencegahan serta pengobatannya Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat, mencuci sayuran dan daging dengan bersih dan memasaknya sampai matang, Pengobatan untuk cestode infeksi bisa dilakukan dalam obat tradisional berupa biji labu merah atau biji pinang. Sedangkan obat lama berupa kuinakrin, amodiakuin, dan niklosamid. Sementara denga obat baru yaitu praziquantel dan albendazol. Praziquantel membuka membran saluran kalsium menyebabkan kelumpuhan cacing, membantu tubuh dalam

mengeluarkan parasit melalui peristaltik . niklosamid , digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi dengan trematoda dan cacing pita dewasa, cukup efektif.

3. Taenia solium 3.1 Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Platyhelminthes :Cestoda :Cyclophyllidea :Taeniidae :Taenia : Taenia solium

3.2 Epidemiologi Walaupun cacing ini kosmopolit, kebiasaan hidup penduduk yang di pengaruhi tradisi kebudayaan dan agama, memainkan peranan penting. Pada orang-orang bukan pemeluk agama Islam, yang biasanya memakan daging babi, penyakit ini ditemukan. Cara menyantap daging tersebut yaitu matang, setengah matang, atau mentah dan pengertian akan keberhasilan atau hygiene, memainkan peranan penting dalam penularan Taenia solium maupun sistiserkus selulose. T. solium dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan itu, yang paling lazim di negara berkembang di mana babi dibangkitkan. Banyak kali babi-babi merumput di dekat dengan manusia, dan daerah ini sering menunjukkan kondisi sanitasi yang buruk.. Karena

itu, 'makanan pasokan babi yang terkontaminasi dengan kotoran manusia, menciptakan situasi yang sempurna untuk Taenia solium menyebar.

3.3 Distribusi geografis Taenia solium adalah kosmopolit, akan tetapi jarang ditemukan di Negara-negara Islam. Cacing tersebut banyak ditemukan di Negara-negara yang mempunyai banyak peternakan babi dan di tempat daging babi banyak di santap seperti Eropa (Czezh, Slowakia, Kroatia, Serbia), Amerika Latin, Cina, India, Amerika Utara dan juga di beberapa daerah di Indonesia antara lain Papua, Bali, dan Sumatera Utara. Masalah ini diperparah dalam beberapa budaya di mana ia kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Karena kenyataan bahwa hospes perantara adalah babi, jarang ditemukan dalam masyarakat Muslim di mana konsumsi daging babi dilarang. Hal ini endemik di Amerika Selatan, Amerika Tengah, India, Asia selatan, Afrika, Eropa bagian selatan, dan bagian dari Meksiko. Hal ini juga terlihat di daerah di dunia yang mengalami jumlah besar imigrasi.

3.4 Morfologi Cacing pita Taenia solium, berukuran panjang kira-kira 2 – 4 meter dan kadangkadang sampai 8 meter. Cacing ini seperti cacing Taenia saginata, yang terdiri dari skoleks, leher, dan strobila yang terdiri dari 800 – 1000 ruas proglotoid. Skoleks yang bulat berukuran kira-kira 1 milimeter, mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait, masing-masing sebanyak 25 – 30 buah. Seperti Taenia saginata, strobila terdiri rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur), dewasa (matur), dan mengandung telur (gravid). Gambaran alat kelamin pada proglotid dewasa sama dengan Taenia saginata, kecuali jumlah folikel testisnya lebih sedikit, yaitu 150 – 200 buah. Bentuk proglotid gravid mempunyai ukuran panjang hampir sama dengan lebarnya. Jumlah cacing uterus pada proglotid gravid adalah 7 – 12 buah pada satu sisi. Lubang kelamin letaknya bergantian selang-seling pada sisi kanan atau kiri strobila secara tidak beraturan.

3.5 Siklus hidup Daur hidupnya mirip dengan T. saginatus, tetapi hospes intermedier berbeda dimana T. saginatus pada sapi dan T. solium pada babi. Proglotid yang penuh telur keluar melalui feses, kemudian telur infektif keluar dimakan oleh babi. Telur menetas dalam tubuh babi dan telur dan membentuk Cysticercus celluloses, didalam daging (otot) atau organ lainnya. Orang akan mudah terinfeksi bila memakan daging babi yang kurang masak. Cysticercus berkembang menjadi cacing cacing muda yang langsung menempel pada dinding intestinum dan tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 5-12 minggu. Dimana cacing ini dapat bertahan hidup sampai 25 tahun. Cysticercosis tidak seperti spesies cacing pita lainnya, T. solium dapat berkembang dalam bentuk cysticercus pada orang. Infeksi terjadi bila telur berembrio tertelan masuk kedalam lambung dan usus, kemudian cacing berkembang menjadi cysticercus di dalam otot. Cysticerci sering ditemukan dalam jaringan subcutaneus, mata, otak, otot, jantung, hati dan paru. Kapsul fibrosa mengelilingi metacestoda ini, kecuali bila cacing berkembang dalam kantong mata. Pengaruh cysticercus terhadap tubuh bergantung pada lokasi cysticercus tinggal. Bila berlokasi di jaringan otot, kulit atau hati, gejala tidak begitu terlihat, kecuali pada infeksi yang berat. Bila berlokasi di mata dapat menyebabkan kerusakan retina, iris, uvea atau choroid. Perkembangan cysticercus dalam retina dapat dikelirukan dengan tumor, sehingga kadang terjadi kesalahan pengobatan dengan mengambil bola mata. Pengambilan cysticercus dengan operasi biasanya berhasil dilakukan. Cysticerci jarang ditemukan pada syaraf tulang belakang (spinal cord), tetapi sering ditemukan pada otak. Terjadinya nekrosis karena tekanan dapat menyebabkan gangguan sistem saraf yaitu tidak berfungsinya saraf tersebut. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa seperti pada Taenia saginata, telurnya keluar melalui celah robekan pada proglotid. Telur tersebut bila termakan hospes perantara yang sesuai, maka dindingnya dicerna dan embrio heksakan keluar dari telur, menembus dinding usus, dan masuk ke saluran getah bening atau darah. Embrio heksakan cacing gelembung (sistiserkus) babi, dapat dibeddakan dari cacing gelembung sapi, dengan adanya kait-kait di skoleks tunggal. Cacing gelembung yang disebut sistiserkus seluose

biasanya ditemukan pada otot lidah, punggung, dan pundak babi. Hospes perantara lain kecuali babi adalah monyet, onta, anjing, babi hutan, domba, kucing, tikus, dan manusia. Larva tersebut berukuran 0,6 – 1,8 cm. Bila daging babi yang mengandung larva sistiserkus dimakan setengah matang atau mentah oleh manusia, dinding kista dicerna, skoleks mengalami evaginasi untuk kemudian melekat pada dinding usus halus seperti yeyenum. Dalam waktu 3 bulan cacing tersebut menjadi dewasa dan melepaskan proglotid dengan telur.

3.6 Patologi Infeksi berat dapat terjadi kebutaan, paralysis, gangguan keseimbangan,

hydrocephalus karena obstruksi atau terjadi disorientasi. Kemungkinan terjadinya epilepsi dapat terjadi. Penyakit dapat dicurigai sebagai epilepsi peyebab cysticercosis bila penderita bukan keturunan penderita epilepsi. Bilamana cysticercus mati dalam jaringan, akan menimbulkan reaksi radang, hal tersebut dapat mengakibatkan fatal pada hospes, terutama bila cacing berada dalam otak.

Reaksi seluler lain dapat dpat terjadi yaitu dengan adanya kalsifikasi. Bila ini terjadi pada mata pengobatan dengan operasi akan sulit dilakukan.Cacing dewasa, yang biasanya beerjumlah seekor, tidak menyebabkan gejala klinis yang berarti. Bila ada, dapat menyerupai nyeri ulu hati, mencret, mual, obstipasi, dan sakit kepala. Darah tepi dapat menunjukan eosinofilia. Gejala klinis yang lebih berarti dan sering diderita disebabkan oleh larva dan disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menunjukan gejala, kecuali bila alat yang dihinggapi adalah tubuh yang penting. Pada manusia, sistiserkus atau larva T. Solium sering menghinggapi jaringan subkutis, mata, jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru, dan rongga perut. Walaupun sering dijumpai pengapuran pada sistiserkus tidak menimbulkan gejala, akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis, demam tinggi dan eosinofilia.

3.7 Cara pencegahan serta pengobatannya Pencegahan infeksi cacing ini lebih utama yaitu mencegah kontaminasi air minum, makanan dari feses yang tercemar. Sayuran yang biasanya dimakan mentah harus dicuci berish dan hindarkan terkontaminasi terhadap telur cacing ini. Pendidikan mengenai kesehatan harus dirintis. Cara-cara ternak babi harus diperbaiki agar tidak kontak dengan tinja manusia. Sebaiknya untuk kandang babi harus bersih dan makanan ternaknya sesuai. Pengobatan perorangan maupun pengobatan massal harus dilaksanakan agar supaya penderita tidak menjadi sumber infeksi bagi diri sendiri maupun babi dan hewan lain seperti anjing. Obat yang digunakan untuk penyakit teniasis solium adalah prazikuantel, albendazol, atau dengan pembedahan.

4. Hymenolepis nana 4.1 Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Platyhelminthes : Cestoda : Cyclophyllidea : Hymenolepididae : Hymenolepis : Hymenolepis nana

4.2 Epidemiologi Hymenolepis nana dapat ditemukan di mana pun manusia dan tikus hidup. Mereka telah ditemukan di hampir semua jenis biomes terestrial ( Roberts dan Janovy Jr, 2000 ). Cacing pita kerdil (Hymenolepis nana, sebelumnya dikenal sebagai nana Vampirolepis, Hymenolepis fraterna, dan nana Taenia) adalah spesies kosmopolitan yang merupakan salah satu yang paling umum cestodes manusia di dunia, terutama di kalangan anak-anak. Hal ini dapat ditemukan di seluruh dunia, tetapi biasanya paling umum di zona sedang.. Ini adalah cestode paling umum manusia dan ditemukan di mana pun ada penduduk manusia. Cacing pita ini tidak memerlukan hospes perantara. Infeksi kebanyakan terjadi secara langsing dari tangan ke mulut. Hal ini sering terjadi pada anak-anak umur 15 tahun ke bawah. Infeksi pada manusia selalu disebabkan oleh telur yang tertelan dari benda-benda yang terkena tanah, dari tempat buang air, atau langsung dari anus ke mulut. Bilharz menemukan H. nana pada tahun 1851 di usus kecil seorang anak Mesir dan spesimen dikirim ke Siebold, yang, karena ukuran kecil worm menamainya Taenia nana. Pada tahun 1887 Grassi menunjukkan bahwa penularan dari tikus ke tikus tidak memerlukan sebuah hospes perantara. Kemudian, pada tahun 1921, Saeki

mendemostrasikan siklus penularan langsung H. nana pada manusia; transmisi tanpa hospes perantara. Selain siklus langsung, Nicholl dan Minchin menunjukkan bahwa kutu dapat berfungsi sebagai host perantara antara manusia.

4.3 Distribusi geografis Penyebarannya kosmopolit, lebih banyak ditemukan di daerah dengan iklim panas daripada dingin dan juga ditemukan di Indonesia.

4.4 Morfologi Seperti namanya ( Yunani : Nano - kerdil), itu adalah spesies kecil, jarang melebihi 40 mm dan 1 mm lebar. Scolex ini dikenakan rostellum ditarik bersenjata dengan lingkaran tunggal 20 sampai 30 kait. Scolex juga memiliki empat pengisap, atau suatu tetrad. Leher panjang dan ramping, dan segmen yang lebih luas daripada panjang. Genital pori-pori yang sepihak, dan setiap segmen dewasa berisi tiga testis. Setelah apolysis segmen terkubur hancur, melepaskan telur, yang mengukur 30 µm untuk 47 µm dengan diameter. Oncosphere ditutupi dengan selaput, tipis hialin, luar dan membran, batin tebal dengan thickenings kutub yang mempunyai beberapa filamen. Para embryophores berat yang memberikan telur taeniid penampilan karakteristik lurik mereka kurang dalam hal ini dan keluarga lainnya dari cacing pita yang menginfeksi manusia. Cacing ini merupakan golongan Cestoda yang memiliki ukuran terkecil dengan panjang ±25 mm-10 cm dan lebar 1 mm. Skoleksnya bulat memiliki rostellum yang refraktil dengan mahkota kait-kait 20-30 buah. Strobila terdiri dari kira-kira 200 proglotid. Telurnya bulat, mempunyai 2 membran yang meliputi embrio dengan 6 buah kait. Dikenal sebagai cacing pita kerdil. Kosmopolitan. Terdapat di tikus dan mencit, pada manusia khususnya anak-anak. 4.5 Siklus hidup

4.6 Patologi Parasit ini biasanya apabila terinfeksi ringan tidak menimbulkan gejala. Tetapi, jumlah besar dari cacing yang menempel pada dinding usus halus menimbulkan iritasi mukosa usus. Kelainan yang sering ditimbulkan adalah toksemia umum karena penyerapan sisa metabolit dari parasit masuk ke dalam sistem peredarahan darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini dapat menyebabkan keluhan neurologi yang gawat, mengalami sakit perut dengan atau tanpa diare, kejang-kejang, susah tidur, pusing, menimbulkan enteritis catarrhal,

berkurang berat badan, kurang nafsu makan, bila supersensitif terjadi alergi, obstipasi.

4.7 Cara pencegahan serta pengobatannya Pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan kebersihan anak-anak, sanitasi lingkungan, menghindarkan makanan dari kontaminasi, pemerantasan binatang pengerat (rodentia). Sementara itu, obat yang efektif adalah atabrine, bitional, prazikuantel, dan niklosamid, tetapi saat-saat ini obat tersebut sulit di dapat di Indonesia. Obat yang efektif dan ada di pasaran Indonesia adalah amodiakuin. Hiperinfeksi sulit diobati, tidak semua cacing dapat dikeluarkan dan sistiserkoid masih ada dalam mukosa usus.

5

Hymenolepis diminuta 5.1 Klasifikasi Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species : Animalia : Platyhelminthes : Cestoda : Cyclophyllidea : Hymenolepididae : Hymenolepis : Hymenolepis diminuta

5.2 Epidemiologi Hospes definitive mendapat infeksi bila hospes perantara yang mengandung parasit tertelan secara kebetulan. 5.3 Distribusi geografis 5.4 Morfologi 5.5 Siklus hidup 5.6 Patologi 5.7 Cara pencegahan serta pengobatannya

6

Dipylidium caninum 6.1 Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Platyhelminthes : Cestoda : Cyclophyllidea : Hymenolepididae : Dipylidium : Dipylidium caninum

6.2 Epidemiologi 6.3 Distribusi geografis 6.4 Morfologi 6.5 Siklus hidup 6.6 Patologi 6.7 Cara pencegahan serta pengobatannya Pencegahan dapat dilakukan dengan jangan mencium anjing atau kucing, menghindari jilatan anjing, binatang peliharaan diberi obat cacing dan insektisida, pengendalian kutu pada hewan peliharaan Anda dan lingkungan mereka, memeriksa anjing atau kucing atau hewan peliharaan ke dokter hewan jika mereka memiliki sebuah cacing pita untuk diobati, mencuci tangan setelah memegang hewan. Obat yang efektif yaitu atabrine. BAB III KESIMPULAN