WANITA DALAM ISLAM posted in Membantah Feminis, Muslimah | Oleh: Buletin Al-Ilmu Wanita di Masa Jahiliyah Wanita di masa

jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59) Islam Menjunjung Martabat Wanita Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhalimankezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33). Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97) Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau

menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini. Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuhmusuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27) Peran Wanita dalam Rumah Tangga Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah: “Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33) Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setipa orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.” Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum. Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab: 1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagamana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat. 2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’) Pekerjaan Wanita di dalam Rumah Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah: 1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33) 2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini: - Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ِᐯ ‫ن‬ ‫ه‬ ِᐯ ‫ذ‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ‫ب‬ ِᐯ ‫ال‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ ‫د‬ ٌ ‫ه إ‬ ِᐯ ‫شها‬ َ‫هها ا‬ َ‫ج ا‬ ُ‫و َه‬ ْ‫ز ِن‬ َ‫و ا‬ َ‫م ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫ص ِن‬ ُ‫ت َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ة ا‬ ِᐯ ‫أ‬ َ‫را‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ل ِن‬ ِᐯ ‫ل‬ ُّ ‫ح‬ ِᐯ ‫ي‬ َ‫ال ا‬ َ‫ا‬ “Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356) - Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.

- Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda: ِᐯ ‫ده‬ ِᐯ ‫ي‬ َ‫ت ا‬ ِᐯ ‫ذتا‬ َ‫ف ي ا‬ ِᐯ ‫ج‬ ٍ ‫و ف‬ ْ‫ز ِن‬ َ‫ل ى ا‬ َ‫عا‬ َ‫َهُ ا‬ ‫عهاه‬ َ‫ر ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫وا‬ َ‫ ا‬، ‫ه‬ ِᐯ ‫ر‬ ِᐯ ‫غ‬ َ‫ص ا‬ ِᐯ ‫ف ي‬ ِᐯ ‫د‬ ٍ ‫ل ف‬ َ‫وا‬ َ‫ل ى ا‬ َ‫عا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫نها َه‬ َ‫ح ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ ا‬: ‫ش‬ ٍ ‫ي ف‬ ْ‫ر ِن‬ َ‫ق ا‬ ُ‫ء َه‬ ِᐯ ‫سها‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫ح‬ ُ‫ل َه‬ ِᐯ‫صها‬ َ‫ل ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫إل‬ ِᐯ ‫ن تا‬ َ‫ب ا‬ ْ‫ك ِن‬ ِᐯ ‫ر‬ َ‫ء ا‬ ٍ ‫سها ف‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫ر‬ ُ‫ي َه‬ ْ‫خ ِن‬ َ‫ا‬ “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi) - Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah. 3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala. Adab Keluar Rumah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: َّ ‫ك ب‬ ‫ن‬ ُ‫ج َه‬ ِᐯ ‫ئ‬ ِᐯ ‫وتا‬ َ‫ح ا‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫ج ا‬ ْ‫ر ِن‬ ُ‫خ َه‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ن ا‬ َّ ‫ك ب‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫ذ ا‬ ِᐯ ‫أ‬ َ‫د ا‬ ْ‫ق ِن‬ َ‫ا‬ “Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi) Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya: “Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36) Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: a. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59. b. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah. c. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341) d. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31) e. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32) f. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan. g. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311) h. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. ( An Nur: 31) i. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)

j. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978). Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35) Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggug jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5) Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya. Wanita adalah Sumber Segala Fitnah Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala. Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber

segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114) Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: َ‫ي ا‬ ‫ل‬ ْ‫ئ ِن‬ ِᐯ ‫رتا‬ َ‫س ا‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ ‫ ي‬ ْ‫ن ِن‬ ِᐯ ‫ب‬ َ‫ة ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫ت ا‬ ْ‫ف ِن‬ ِᐯ ‫ل‬ ِᐯ ‫و‬ َّ ‫أ ب‬ َ‫ن ا‬ َّ ‫فإ ب‬ َ‫ء ا‬ َ‫سها ا‬ َ‫ن ا‬ ِّ ‫قوتا تال‬ ُ‫ت َه‬ َّ ‫و تا ب‬ َ‫يها ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫د ِن‬ ُّ ‫قوتا تال‬ ُ‫ت َه‬ َّ ‫فها ب‬ َ‫ن ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫ل ِن‬ ُ‫مَه‬ َ‫ع ا‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫ف ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ك ِن‬ َ‫ر ا‬ ُ‫ظ َه‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫ف ا‬ َ‫هها ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ف ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ف َه‬ ُ‫ل َه‬ ِᐯ‫خ‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫س ا‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫هلل َه‬ َ‫ن تا ا‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ‫و‬ َ‫ة ا‬ ٌ ‫ر إ‬ َ‫ض ا‬ ْ‫خ ِن‬ َ‫ة ا‬ ٌ ‫و إ‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ح ِن‬ ُ‫يها َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫د ِن‬ ُّ ‫ن تال‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ ِᐯ ‫سها‬ ‫ء‬ َ‫ن ا‬ ِّ‫ف ي تال‬ ِᐯ ‫ت‬ ْ‫ن ِن‬ َ‫كها ا‬ َ‫ا‬ “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim) Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!!!! Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat ِᐯ ‫ي‬ ‫ن‬ ْ‫ص ِن‬ ِّ ‫بهال‬ ِᐯ ‫و‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫و ا‬ َ‫م ا‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ع ِن‬ ِᐯ ‫وتا تال‬ ْ‫ب ِن‬ ُ‫ل َه‬ ُ‫طَه‬ ْ‫تا ِن‬ ُ‫َه‬ “Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Keterangan: Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena didalam perawi-perawi hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416)

ISLAM MEMULIAKAN WANITA posted in Membantah Feminis, Muslimah | Penulis: Al-Ustâdzah Ummu Ishâq Al-Atsariyyah Keberadaan Wanita Sebelum Islam Panjang sudah zaman yang dilalui umat manusia yang berdiam di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Sekian waktu mereka lalui dalam memakmurkan bumi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi-Nya. Dia Yang Maha Tinggi berfirman kepada para malaikat-Nya sebagaimana diabadikan dalam Tanzil-Nya yang mulia: ً‫ف ذ‬ ‫ة‬ َ‫لي ا‬ ِᐯ‫خ‬ َ‫ض ا‬ ِᐯ ‫ر‬ ْ‫أل ِن‬ َ‫تا ا‬ ْ‫ف ي ِن‬ ِᐯ ‫ل‬ ٌ ‫ع إ‬ ِᐯ ‫جها‬ َ‫ن ي ا‬ ِّ‫إ‬ ِᐯ ‫ة‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫ئ ا‬ ِᐯ ‫ال‬ َ‫م ا‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ل ِن‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫ب ا‬ ُّ ‫ر‬ َ‫ل ا‬ َ‫قها ا‬ َ‫ذ ا‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ‫و‬ َ‫ا‬ “Ingatlah ketika Rabbmu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’.” (Al-Baqarah: 30) Manusia pun membangun kehidupan dan peradaban mereka, generasi demi generasi, silih berganti. Namun sejarah mencatat sisi gelap perlakuan mereka terhadap makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bernama wanita, padahal wanita merupakan bagian dari umat manusia. Kesewenang-wenangan dan penindasan mewarnai hari-hari kaum wanita dalam kegelapan alam jahiliyyah, baik di kalangan bangsa Arab maupun di kalangan ajam (non Arab). Perlakuan jahat dan ketidaksukaan orang-orang jahiliyyah terhadap wanita ini diabadikan dalam Al-Qur’anul Karim. ُ‫س َه‬ ‫ه‬ ُّ ‫د‬ ُ‫ي َه‬ َ‫م ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ن ا‬ ٍ ‫و ف‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ل ى َه‬ َ‫عا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ك َه‬ ُ‫س َه‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫أ َه‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫ب‬ ِᐯ ‫ر‬ َ‫ش ا‬ ِّ ‫ب‬ ُ‫مها َه‬ َ‫ء ا‬ ِᐯ ‫و‬ ْ‫س ِن‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ِ ِن‬ᐯ ‫مم‬ ِᐯ ‫و‬ ْ‫ق ِن‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ن تا ِن‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫ر ى‬ َ‫وتا ا‬ َ‫ت ا‬ َ‫ي ا‬ َ‫ ا‬.‫م‬ ٌ ‫ي إ‬ ْ‫ظ ِن‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫و ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫و َه‬ َ‫دتا ا‬ ًّ‫و ا‬ َ‫س ا‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ج َه‬ ْ‫و ِن‬ َ‫ل ا‬ َّ ‫ظ ب‬ َ‫ث ى ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أل ِن‬ ُ‫ها َه‬ ْ‫بِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫د َه‬ ُ‫ح َه‬ َ‫أ ا‬ َ‫ر ا‬ َ‫ش ا‬ ِّ ‫ب‬ ُ‫ذتا َه‬ َ‫إ ا‬ ِᐯ‫و‬ َ‫ا‬ َ‫و ا‬ ‫ن‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ك َه‬ ُ‫ح َه‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫مها ا‬ َ‫ء ا‬ َ‫سها ا‬ َ‫ال ا‬ َ‫أ ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫رتا‬ َ‫ت ا‬ ُّ ‫ف ي تال‬ ِᐯ “Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59) ْ‫ل ِن‬ ‫ت‬ َ‫تا‬ ِᐯ ‫ق‬ ُ‫ب َه‬ ٍ ‫ن ف‬ ْ‫ذ ِن‬ َ‫ي ا‬ ِّ ‫أ‬ َ‫با‬ ِᐯ ‫ت‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫ئا‬ ِᐯ ‫س‬ ُ‫ة َه‬ ُ‫د َه‬ َ‫و ا‬ ْ‫ء ِن‬ ُ‫و َه‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ذتا تا ِن‬ َ‫إ ا‬ ِᐯ‫و‬ َ‫ا‬ “Dan apabila anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh?” (At-Takwir: 8-9) Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup oleh orang-orang jahiliyyah karena tidak suka dengan anak perempuan. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/260)

Apabila anak perempuan itu selamat dari tindakan tersebut dan tetap hidup maka ia hidup dalam keadaan dihinakan, ditindas dan didzalimi, tidak diberikan hak waris walaupun si wanita sangat butuh karena fakirnya. Bahkan justru ia menjadi salah satu benda warisan bagi anak laki-laki suaminya apabila suaminya meninggal dunia. Dan seorang pria dalam adat jahiliyyah berhak menikahi berapa pun wanita yang diinginkannya tanpa ada batasan dan tanpa memerhatikan hak-hak para istrinya. (Al-Mu`minat, hal. 11) Ini kenyataan yang didapatkan pada bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenyataan buruk yang sama juga terdapat pada bangsa ajam. Kita tengok perlakuan bangsa Yunani dan Romawi yang dulunya dikatakan telah memiliki “peradaban yang tinggi”. Mereka menempatkan wanita tidak lebih dari sekedar barang murahan yang bebas untuk diperjualbelikan di pasaran. Wanita di sisi mereka tidak memiliki kemerdekaan dan kedudukan, tidak pula diberi hak waris. Di Hindustan, wanita dianggap jelek, sepadan dengan kematian, neraka, racun dan api. Bila seorang suami meninggal dan jenazahnya diperabukan maka si istri yang jelas-jelas masih hidup harus ikut dibakar bersama jenazah suaminya. Bagi bangsa Yahudi, wanita adalah makhluk terlaknat karena sebabnyalah Nabi Adam melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga dikeluarkan dari surga. Sebagian golongan Yahudi menganggap ayah si wanita berhak memperjualbelikan putrinya. Wanita juga dihinakan oleh para pemeluk agama Nasrani. Sekitar abad ke-5 Masehi, para pemuka agama ini berkumpul untuk membahas masalah wanita; apakah wanita itu sekedar tubuh tanpa ruh di dalamnya, ataukah memiliki ruh sebagaimana lelaki? Keputusan akhir mereka menyatakan wanita itu tidak memiliki ruh yang selamat dari azab neraka Jahannam, kecuali Maryam ibu ‘Isa. (Al-Mar`ah fil Islam, hal. 10-12) Kedudukan Wanita dalam Islam Islam datang dengan cahayanya yang menerangi dunia. Kedzaliman terhadap wanita pun terangkat. Islam menetapkan insaniyyah (kemanusiaan) seorang wanita layaknya seorang lelaki, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫ث ى‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ ُ‫وَه‬ َ‫ر ا‬ ٍ ‫ك ف‬ َ‫ذ ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫نها َه‬ َ‫ق ا‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫خا‬ َ‫نها ا‬ َّ ‫إب‬ ِᐯ ‫س‬ ُ‫نها َه‬ َّ ‫هها تال ب‬ َ‫ي ا‬ ُّ ‫أ‬ َ‫يها ا‬ َ‫ا‬ “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan…” (.Al-Hujurat: 13) ً‫سها ذ‬ ‫ء‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫و‬ َ‫رتا ا‬ ً‫ي ذ‬ ْ‫ث ِن‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫ال ا‬ ً‫جها ذ‬ َ‫ر ا‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ث‬ َّ ‫ب ب‬ َ‫و ا‬ َ‫هها ا‬ َ‫ج ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫ز ِن‬ َ‫هها ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ق‬ َ‫ل ا‬ َ‫خا‬ َ‫و ا‬ َ‫ة ا‬ ٍ ‫د ف‬ َ‫ح ا‬ ِᐯ ‫وتا‬ َ‫س ا‬ ٍ ‫ف ف‬ ْ‫ن ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ق َه‬ َ‫ل ا‬ َ‫خا‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫م تاب‬ ُ‫ك َه‬ ُ‫ب َه‬ َّ ‫ر ب‬ َ‫قوتا ا‬ ُ‫ت َه‬ َّ ‫س تا ب‬ ُ‫نها َه‬ َّ ‫هها تال ب‬ َ‫ي ا‬ ُّ ‫أ‬ َ‫يها ا‬ َ‫ا‬ “Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu, kemudian Dia ciptakan dari jiwa yang satu itu pasangannya. Lalu dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)

Sebagaimana wanita berserikat dengan lelaki dalam memperoleh pahala dan hukuman atas amalan yang dilakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ‫و ا‬ ‫ن‬ ْ‫ل ِن‬ ُ‫مَه‬ َ‫ع ا‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫نوتا ا‬ ُ‫كها َه‬ َ‫مها ا‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫س‬ َ‫ح ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ر َه‬ َ‫ج ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ن َه‬ َّ ‫ي ب‬ َ‫ز ا‬ ِᐯ ‫ج‬ ْ‫ن ِن‬ َ‫ل ا‬ َ‫وا‬ َ‫ة ا‬ ً‫ب ذ‬ َ‫ي ا‬ ِّ‫ط‬ َ‫ة ا‬ ً‫يها ذ‬ َ‫ح ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ َّ ‫ي ب‬ َ‫ي ا‬ ِᐯ ‫ح‬ ْ‫ن ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫فا‬ َ‫ن ا‬ ٌ ‫م إ‬ ِᐯ ‫ؤ‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫و َه‬ َ‫ه ا‬ ُ‫و َه‬ َ‫ث ى ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ ُ‫و َه‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ر ا‬ ٍ ‫ك ف‬ َ‫ذ ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫حها‬ ً‫ل ذ‬ ِᐯ‫صها‬ َ‫ل ا‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫ع‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ا‬ “Siapa yang beramal shalih dari kalangan laki-laki ataupun perempuan sedangkan ia dalam keadaan beriman maka Kami akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan memberikan balasan pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan.” (An-Nahl: 97) Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ِᐯ ‫نها‬ ‫ت‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫ؤ‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫وتا ِن‬ َ‫ن ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ن ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ِᐯ ‫ؤ‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫ل ى تا ِن‬ َ‫عا‬ َ‫هلل ا‬ ُ‫ب تا َه‬ َ‫و ا‬ ْ‫ت ِن‬ ُ‫ي َه‬ َ‫و ا‬ َ‫ت ا‬ ِᐯ ‫كها‬ َ‫ر ا‬ ِᐯ ‫ش‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫وتا ِن‬ َ‫ن ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ك ِن‬ ِᐯ ‫ر‬ ِᐯ ‫ش‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫وتا ِن‬ َ‫ت ا‬ ِᐯ ‫قها‬ َ‫ف ا‬ ِᐯ ‫نها‬ َ‫م ا‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫وتا ِن‬ َ‫ن ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ق ِن‬ ِᐯ ‫ف‬ ِᐯ ‫نها‬ َ‫م ا‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫هلل تا ِن‬ ُ‫ب تا َه‬ َ‫ذ ا‬ ِّ َ‫ا‬ ‫يع‬ ُ‫ل َه‬ ِᐯ “Agar Allah mengazab orang-orang munafik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang musyrik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Dan agar Allah mengampuni orang-orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan…” (Al-Ahzab: 73) Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan wanita dijadikan barang warisan sepeninggal suaminya. ‫هها‬ ً‫ر ذ‬ ْ‫ك ِن‬ َ‫ء ا‬ َ‫سها ا‬ َ‫ن ا‬ ِّ‫ثوتا تال‬ ُ‫ر َه‬ ِᐯ ‫ت‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ل ا‬ ُّ ‫ح‬ ِᐯ ‫ي‬ َ‫ال ا‬ َ‫نوتا ا‬ ُ‫م َه‬ َ‫ن آ ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ذ ِن‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫هها تاب‬ َ‫ي ا‬ ُّ ‫أ‬ َ‫يها ا‬ َ‫ا‬ “Wahai orang-orang yang beriman tidak halal bagi kalian mewarisi para wanita secara paksa.” (An-Nisa`: 19) Bahkan wanita dijadikan sebagai salah satu ahli waris dari harta kerabatnya yang meninggal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ‫ث ا‬ ‫ر‬ ُ‫ك َه‬ َ‫و ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫ق ب‬ َ‫مها ا‬ َّ ‫م ب‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫و ا‬ ْ‫ب ِن‬ ُ‫ر َه‬ َ‫ق ا‬ ْ‫أل ِن‬ َ‫تا ا‬ ْ‫و ِن‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫دتا‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ‫وتا‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ك تا ِن‬ َ‫ر ا‬ َ‫ت ا‬ َ‫مها ا‬ َّ ‫م ب‬ ِᐯ ‫ب‬ ٌ ‫ي إ‬ ْ‫ص ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫ء ا‬ ِᐯ ‫سها‬ َ‫ن ا‬ ِّ‫لل‬ ِᐯ‫و‬ َ‫ن ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫ب ِن‬ ُ‫ر َه‬ َ‫ق ا‬ ْ‫أل ِن‬ َ‫تا ا‬ ْ‫و ِن‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫دتا‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ‫وتا‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ك تا ِن‬ َ‫ر ا‬ َ‫ت ا‬ َ‫مها ا‬ َّ ‫م ب‬ ِᐯ ‫ب‬ ٌ ‫ي إ‬ ْ‫ص ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ ‫جها‬ َ‫ر ا‬ ِّ ‫لل‬ ِᐯ “Bagi para lelaki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatkerabatnya. Dan bagi para wanita ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya, baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7) Dalam masalah pernikahan, Allah Subhanahu wa Ta’ala membatasi laki-laki hanya boleh mengumpulkan empat istri, dengan syarat harus berlaku adil dengan sekuat kemampuannya di antara para istrinya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan bagi suami untuk bergaul dengan ma’ruf terhadap istrinya: ِᐯ ‫و‬ ‫ف‬ ْ‫ر ِن‬ ُ‫ع َه‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ل ا‬ ْ‫بها ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ َّ ‫ه ب‬ ُ‫و َه‬ ْ‫ر ِن‬ ُ‫ش َه‬ ِᐯ ‫عها‬ َ‫و ا‬ َ‫ا‬ “Dan bergaullah kalian dengan para istri dengan cara yang ma’ruf.” (An-Nisa`: 19)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan adanya mahar dalam pernikahan sebagai hak wanita yang harus diberikan secara sempurna kecuali bila si wanita merelakan dengan kelapangan hatinya. Dia Yang Maha Tinggi Sebutan-Nya berfirman: ‫ئها‬ ً‫ي ذ‬ ْ‫ر ِن‬ ِᐯ َ‫ا‬ ‫ئها م‬ ً‫ي ذ‬ ْ‫ن ِن‬ ِᐯ ‫ه‬ َ‫ه ا‬ ُ‫و َه‬ ْ‫ل ِن‬ ُ‫كَه‬ ُ‫ف َه‬ َ‫سها ا‬ ً‫ف ذ‬ ْ‫ن ِن‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ء‬ ٍ ‫ ي ف‬ ْ‫ش ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫ب ا‬ ْ‫ط ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ ‫ف‬ َ‫ة ا‬ ً‫ل ذ‬ َ‫حا‬ ْ‫ن ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ َّ ‫ه ب‬ ِᐯ ‫ت‬ ِᐯ ‫قها‬ َ‫د ا‬ ُ‫ص َه‬ َ‫ء ا‬ َ‫سها ا‬ َ‫ن ا‬ ِّ‫توتا تال‬ ُ‫وآ َه‬ َ‫ا‬ “Dan berikanlah mahar kepada para wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai sesuatu yang baik.” (An-Nisa`: 4) Wanita pun dijadikan sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya, sebagai pemimpin atas anak-anaknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan hal ini dalam sabdanya: ْ‫ه ِن‬ ‫م‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫ة ا‬ ٌ ‫ل إ‬ َ‫وا‬ ْ‫ئ ِن‬ ُ‫س َه‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ ي ا‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫و‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫د‬ ِᐯ ‫ل‬ َ‫وا‬ َ‫و ا‬ َ‫هها ا‬ َ‫ج ا‬ ِᐯ ‫و‬ ْ‫ز ِن‬ َ‫ت ا‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫ل ى ا‬ َ‫عا‬ َ‫ة ا‬ ٌ ‫ي إ‬ َ‫ع ا‬ ِᐯ ‫رتا‬ َ‫ة ا‬ ُ‫أ َه‬ َ‫را‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ل ا‬ ْ‫تا ِن‬ “Wanita adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). (Al-Mukminat, hal. 12-14) Wanita di hadapan Hukum Syariat Syariat Islam yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan bahwa wanita adalah insan yang mukallaf sebagaimana lelaki. Wanita wajib bersaksi tidak adanya sesembahan yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia harus menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan berhaji bila ada kemampuan. Ia wajib beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman akan datangnya hari akhir dan beriman dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang baik ataupun yang buruk semuanya ditetapkan oleh-Nya. Wajib pula bagi wanita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan ia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila tidak bisa menghadirkan yang seperti ini, maka ia harus yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melihatnya dalam seluruh keadaannya, ketika sendiri ataupun bersama orang banyak. Wanita juga harus melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar semampunya, melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Ia pun diperintah untuk berhias dengan akhlak mulia seperti jujur, amanah, dan adab-adab Islam lainnya. Pembebanan syariat atas wanita sebagaimana kepada lelaki ini tidak lain bertujuan untuk memuliakan wanita dan mengantarkannya kepada derajat keimanan yang lebih tinggi. Karena, pemberian beban syariat kepada seorang hamba hakikatnya adalah pemuliaan bagi si hamba, bila ia melaksanakannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah di balik beban syariat itu ada pahala yang dijanjikan dan kenikmatan abadi yang menanti…?

Perlu diketahui, sekalipun wanita memiliki kedudukan yang sama dengan lelaki dalam hukum syariat, namun ada beberapa kekhususan hukum yang diberikan kepada wanita. Di antaranya: 1. Wanita tidak diwajibkan mencari nafkah untuk keluarganya. 2. Dalam warisan, wanita memperoleh setengah dari bagian lelaki , sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ِᐯ ‫ي‬ ‫ن‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫ث ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أل ِن‬ ُ‫تا َه‬ ْ‫ظ ِن‬ ِّ ‫ح‬ َ‫ل ا‬ ُ‫ث َه‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ر‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫ذ ا‬ َّ ‫لل ب‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫د َه‬ ِᐯ ‫ال‬ َ‫و ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ف ي ا‬ ِᐯ ‫هلل‬ ُ‫م تا َه‬ ُ‫ك َه‬ ُ‫ي َه‬ ْ‫ص ِن‬ ِᐯ ‫و‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫َه‬ “Allah memberi wasiat kepada kalian tentang pembagian warisan bagi anak-anak kalian, yaitu anak laki-laki mendapat bagian yang sama dengan bagian yang diperoleh dua anak perempuan.” (An-Nisa`: 11) Pembagian seperti ini ditetapkan karena seorang lelaki memiliki kebutuhan untuk memberi nafkah, memikul beban, mencari rizki dan menanggung kesulitan, sehingga pantas sekali ia menerima bagian warisan dua kali lipat dari yang diperoleh wanita. Demikian dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat di atas. 3. Wanita tidak boleh memimpin laki-laki , bahkan ia harus berada di bawah kepemimpinan lelaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ْ‫ه ِن‬ ‫م‬ ِᐯ ‫ل‬ ِᐯ‫وتا‬ َ‫م ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫قوتا‬ ُ‫ف َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫مها ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫و‬ َ‫ض ا‬ ٍ ‫ع ف‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫ل ى ا‬ َ‫عا‬ َ‫م ا‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ض َه‬ َ‫ع ا‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫هلل ا‬ ُ‫ل تا َه‬ َ‫ض ا‬ َّ ‫ف ب‬ َ‫مها ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫ء‬ ِᐯ ‫سها‬ َ‫ن ا‬ ِّ‫ل ى تال‬ َ‫عا‬ َ‫ن ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫م ِن‬ ُ‫وتا َه‬ َّ ‫ق ب‬ َ‫ل ا‬ ُ‫جها َه‬ َ‫ر ا‬ ِّ ‫تال‬ “Kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa`: 34) Al-Imam Al-Alusi rahimahullahu berkata: “….Terdapat riwayat yang menerangkan bahwa para wanita kurang akal dan agamanya, sedangkan lelaki sebaliknya. Hal ini sangatlah jelas. Karena itulah para lelaki mendapat kekhususan mengemban risalah kerasulan dan kenabian menurut pendapat yang paling masyhur. Mereka mengemban amanah imamatul kubra (kepemimpinan global) dan imamatus shughra (kepemimpinan nasional), menegakkan syiar-syiar Islam seperti adzan, iqamah, khutbah, shalat Jum’at, bertakbir pada hari-hari tasyrik -menurut pendapat guru kami yang mulia-. Demikian pula memutuskan perceraian dan pernikahan menurut pendapat madzhab Syafi’iyyah, memberikan kesaksian-kesaksian dalam perkara pokok, mendapat bagian yang lebih banyak dalam pembagian harta warisan dan berbagai permasalahan lainnya.” ( Ruhul Ma’ani, 3/23) Ketika seorang wanita diangkat sebagai pemimpin oleh suatu kaum, maka mereka tidak akan beruntung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٌ ‫أ إ‬ ‫ة‬ َ‫را‬ َ‫م ا‬ ْ‫م تا ِن‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ر َه‬ َ‫م ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫و ا‬ ْ‫ل ِن‬ َّ ‫وب‬ َ‫م ا‬ ٌ ‫و إ‬ ْ‫ق ِن‬ َ‫ح ا‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ‫ف‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫ا‬

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mereka menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda seperti ini tatkala sampai berita kepada beliau bahwa penduduk Persia menobatkan Buran, putri Kisra, sebagai ratu mereka. Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata: “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan tidak bolehnya seorang wanita memimpin sesuatu pun dari hukumhukum yang bersifat umum di kalangan muslimin….” (Subulus Salam, 4/190) Demikianlah. Semua kekhususan yang ditentukan oleh Islam terhadap wanita bertujuan untuk menjaga agama, akal, nasab/keturunan, jiwa dan harta, di mana -menurut AlHafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu- bila kelima perkara ini terjaga niscaya akan terwujud kebaikan dunia dan akhirat. (Fathul Bari, 1/226) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. TINJAU EMANSIPASI posted in Membantah Feminis | Penulis: Redaksi Asy-Syariah Masalah kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Dari soal kepemimpinan, “diskriminasi” peran, partisipasi yang “rendah” karena posisinya yang dianggap “subordinat”, hingga poligami. Semuanya bermuara pada sebuah gugatan bahwa wanita harus mempunyai hak yang sama alias sejajar dengan pria. Seolah-olah dalam agama ini terjadi pembedaan (yang membabi buta) antara pria dan wanita. Adalah sebuah kenyataan, wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan sebagainya. Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi perempuan. Secara fisiologis, misalnya, wanita mengalami haid hingga berkonsekuensi berbeda pada hukum-hukum yang dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan, pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya. Hal-hal di atas bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan (sebagaimana sering didalilkan kaum feminis). Semuanya itu merupakan tatanan terbaik yang diatur Sang Pencipta, Allah l. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan wanita bisa bersenyawa sebagai suami istri. Namun tatanan ini

nampaknya hendak dicabik-cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai “kesetaraan” jender, yang mana hal itu telah diklaim sebagai simbol kemajuan di negara-negara Barat. Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada segala hal yang berbau Barat. “Akidah” ini, sekaligus merupakan potret dari sebagian masyarakat Islam sekarang. Di mana busana, kultur, sistem politik (demokrasi) hingga makanan ’serba Barat’ telah demikian kokoh menjajah ‘gaya hidup’ sebagian kaum muslimin. Demikian juga emansipasi. Propagandanya telah memperkuat citra yang rendah terhadap ibu rumah tangga -yang jamak ditekuni oleh sebagian besar muslimah-, bahwa berkutatnya wanita dalam wilayah domestik dianggap keterbelakangan sebelum bisa menapaki karir. Falsafah ini kian diperparah dengan paham yang mendewakan kecantikan fisik. Alhasil, ada wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi, dan sebagainya, (konon) demi semata menjaga “bentuk tubuh”. Sedemikian rusaknya pandangan ini, hingga anak pun dianggap sebagai penghambat kemajuan (karir). Sejatinya, jika mau jujur, emansipasi tak lebih dari “produk gagal” dari industri peradaban Barat. Hanya karena kemasan alias silau terhadap kemajuan (fisik) Barat kemudian lahirlah pemahaman bahwa kemunduran negara-negara Islam disebabkan tidak mengikuti Barat, seakan menjadi harga mati. Padahal kalau kita menilik sejarah, bukan teknologi atau tatanan pergaulan ala Barat sekarang yang membuat Islam jaya di masa silam. Apa arti teknologi jika tidak diimbangi keimanan. Yang terjadi, teknologi justru kemudian digunakan untuk membunuh, mengeksploitasi alam, menjajah negara lain apalagi hanya dengan dalih menangkap gembong teroris, memainkan perannya sebagai polisi dunia, serta menjerat negara berkembang dengan hutang plus (intervensi politik). Negara Barat seakan tutup mata dengan keroposnya sendi-sendi masyarakat mereka karena tingginya angka perceraian, meratanya seks bebas, meningkatnya homoseksualitas (karena dilegalkan), kentalnya praktik rasial (terhadap warga non kulit putih), dan sebagainya. Makanya jika kita masih saja berkaca dengan Barat, sudah saatnya kita meninjau ulang emansipasi! Artikel-artikel terkait: Emansipasi atau Deislamisasi? Propaganda Emansipasi Wanita Emansipasi, Propaganda untuk Meruntuhkan Aqidah Emansipasi Wanita, Propaganda Musuh-musuh Islam

Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Persamaan dalam Segala Hal Surat An-Nisa’, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita Berita Kenabian atas Kepemimpinan Wanita Menyoal Kiprah Muslimah Hak-Hak Wanita yang Sempurna dalam Islam dan Hijab yang Syar’i Wanita Kurang Agamanya? Halilintar kepada Penolak Poligami Poligami, Anugerah yang Terzhalimi Kecemburuan Wanita dan Hikmah Ta’addud (Poligami) EMANSIPASI ATAU DEISLAMISASI? posted in Membantah Feminis, Muslimah | Penulis: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin Emansipasi sejatinya hanyalah salah satu jalan yang digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk mempreteli bahkan mengubur syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur`an dan hadits ditelikung, dipahami sepotong-sepotong, untuk kemudian ditafsirkan secara sembrono. Syariat bahkan dianggap sebagai ajaran lama yang perlu direkonstruksi atau dikontekstualisasikan. “Ahli” tafsir dan hadits yang menjadi rujukan, siapa lagi kalau bukan kalangan akademisi Barat. Kata emansipasi bukan lagi menjadi kata yang asing di telinga masyarakat. Kata ini menjadi lekat seiring era keterbukaan di setiap lini kehidupan. Slogan emansipasi seakan menjadi taji bagi setiap wanita. Ketertindasan, keterkungkungan, keterbelakangan dan ketiadaan harkat menjadi belenggu kaum wanita. Kehidupan wanita seakan terpasung di tengah eksploitasi kaum Adam terhadapnya. Sebagian wanita pun menjadi gamang menatap rona kehidupan. Hilang keyakinan diri untuk menapaki laju zaman. Di tengah kepungan kemelut, wanita pun tersulut bangkit. Mendobrak tatanan yang ada, meneriakkan slogan-slogan persamaan. Mencoba memberangus keterpurukan nasibnya. Maka, lamat-lamat teriakan itu terus bergulir. Menggelinding bak bola salju. Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, pun ikut berbicara. Melalui bukunya yang berjudul Sarinah, ia menguak sejarah kelam kehidupan wanita di belahan Eropa, terkhusus Perancis. Dituturkan bahwa 6 Oktober 1789 merupakan tonggak awal munculnya aksi-aksi para wanita. Mereka menyuarakan kesetaraan jender. Menuntut perlakuan yang sama dengan kaum pria. Pemberontakan kaum wanita Perancis dilatari perlakuan sewenang-wenang berbagai pihak terhadap para wanita. Mereka diperlakukan tidak adil, dihinakan, bagai seonggok tubuh yang tiada lagi guna. Setelah aksi para wanita Perancis, 6 Oktober 1789, di depan Gedung Balai Kota Paris yang lantas bergeser ke depan istana raja, Versailles, bermunculan organisasi-organisasi kewanitaan. Menjamurnya berbagai organisasi kewanitaan tak semata di Perancis, tapi menyebar ke Inggris, Jerman, dan belahan Eropa lainnya. Gaung slogan emansipasi pun makin membahana.

Dari kacamata sejarah, gerakan emansipasi kelahirannya berawal dari akibat rasa ‘frustrasi’ dan ‘dendam’ terhadap sejarah kehidupan Barat yang dianggap tidak memihak kaum perempuan. Supremasi masyarakat yang feodal pada abad ke-18 di Eropa, dominasi filsafat dan teologi gereja yang cenderung meremehkan dan melecehkan kaum wanita, telah ikut andil menyulut kemarahan kaum wanita untuk menyuarakan gagasangagasan tentang emansipasi. Tuntutan persamaan, kebebasan, dan pemberdayaan hak-hak perempuan terus diletupkan seiring dengan semangat pemberontakan terhadap dominasi dan kekuasaan gereja oleh para pemikir ilmu pengetahuan. Inilah yang dikenal dalam lintasan sejarah sebagai masa renaissance (revolusi ilmu pengetahuan). Masa itu merupakan masa ‘rame-rame’ menggoyang arogansi gereja. Begitulah awal lahir gerakan emansipasi. Kini, emansipasi telah menjadi bara di manamana. Semangat untuk menyetarakan diri dengan kaum Adam sedemikian dahsyat. Hingga melupakan batas-batas kesejatian diri sebagai kaum Hawa. Seakan tak mau peduli, bahwa antara wanita dan pria memiliki beragam perbedaan. Entah perbedaan yang bersifat psikis (kejiwaan), emosional, atau yang berkenaan dengan struktur fisik. Lantaran arus deras gerakan emansipasi, hal-hal mendasar seperti di atas menjadi terabaikan. Maka, gerakan emansipasi yang telah digulirkan menjadi alat perusak masyarakat. Perjuangan untuk menaikkan harkat dan martabat kaum wanita, menjadi perjuangan untuk menggerus sistem sosial yang ada. Ironisnya, sebagian kaum muslimah terprovokasi gerakan ini. Tanpa memahami latar belakang sejarah gerakan emansipasi, mereka ikut-ikutan meneriakkan persamaan hak. Yang lebih tragis, mereka menuntut persamaan hak dalam setiap sisi aturan agama. Bahkan, untuk menjadi khatib Jum’at pun mereka tuntut. Mereka menggugat, bahwa khatib Jum’at bukan monopoli kaum pria semata. Sudah sejauh ini pemahaman emansipasi menggayut di benak sebagian kaum muslimah. Ke depan, bisa saja mereka menggugat agar kaum wanita tidak haid dan nifas. Gerakan emansipasi wanita yang salah kaprah ini menjadi preseden buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Kehidupan yang karut-marut inilah yang dicitakan Iblis la’natullah alaih. Dengan menyusupkan gagasan-gagasan destruktif (yang merusak), Iblis berupaya menarik kaum hawa ke dalam kubangan kehancuran. Para wanita yang telah rusak pemikiran, perilaku, akidah, akhlak dan paham agamanya inilah yang disukai Iblis. Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam, yang kali pertama menyerukan nilai-nilai kebebasan wanita adalah Iblis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫نها‬ َ‫كو ا‬ ُ‫ت َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ال ا‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ ِᐯ ‫رة‬ َ‫ج ا‬ َ‫ش ا‬ َّ ‫ِ تال ب‬ᐯ ‫ذه‬ ِᐯ ‫ه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫مها ا‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ب َه‬ ُّ ‫ر‬ َ‫مها ا‬ َ‫ك ا‬ ُ‫هها َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫مها ا‬ َ‫ل ا‬ َ‫قها ا‬ َ‫و ا‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫ت‬ ِᐯ ‫وآ‬ ْ‫س ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫ي ا‬ َ‫ر ا‬ ِᐯ ‫وو‬ ُ‫مها َه‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ي ا‬ َ‫د ا‬ ِᐯ ‫ب‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫لَه‬ ِᐯ ‫ن‬ ُ‫طها َه‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ش ِن‬ َّ ‫مها تال ب‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫س ا‬ َ‫و ا‬ َ‫وسِنْ ا‬ َ‫ف ا‬ َ‫ا‬ َ‫حي ا‬ ‫ن‬ ِᐯ ‫ص‬ ِᐯ ‫نها‬ َّ ‫ن تال ب‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َ‫مها ا‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ن ي ا‬ ِّ‫إ‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ُ‫م َه‬ َ‫س ا‬ َ‫قها ا‬ َ‫و ا‬ َ‫ ا‬.‫ن‬ َ‫دي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ ِᐯ‫خها‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ن تا ِن‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫نها‬ َ‫كو ا‬ ُ‫ت َه‬ َ‫و ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫اَ ِن‬ ‫لك‬ َ‫ما‬ َ‫ا‬ “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata: ‘Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua’.” (Al-A’raf: 20-21)

Maka Iblis pun memalsukan hakikat senyatanya kepada Adam dan Hawa. Memakaikan sesuatu yang haq kepada sesuatu yang batil dan mengenakan kebatilan terhadap kebenaran. Lantas, apakah buah dari bisikan dan sumpahnya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫مها‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ه َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫أا‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ب َه‬ ُّ ‫ر‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫دتا َه‬ َ‫نها ا‬ َ‫و ا‬ َ‫ة ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َّ ‫ج ب‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ق تا ِن‬ ِᐯ ‫ر‬ َ‫و ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫عا‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫فها‬ َ‫ص ا‬ ِᐯ ‫خ‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫قها ا‬ َ‫ف ا‬ ِᐯ ‫ط‬ َ‫و ا‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ت َه‬ ُ‫وآ َه‬ ْ‫س ِن‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ت ا‬ ْ‫د ِن‬ َ‫ب ا‬ َ‫ة ا‬ َ‫ر ا‬ َ‫ج ا‬ َ‫ش ا‬ َّ ‫قها تال ب‬ َ‫ذتا ا‬ َ‫مها ا‬ َّ ‫ل ب‬ َ‫فا‬ َ‫ر ا‬ ٍ ‫رو ف‬ ُ‫غ َه‬ ُ‫ب َه‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ب َّ َه‬ ‫دال‬ َ‫ف ا‬ َ‫ا‬ ٌ ‫بي إ‬ ‫ن‬ ِᐯ ‫م‬ ُ‫و َه‬ ٌّ ‫د‬ ُ‫ع َه‬ َ‫مها ا‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫طها ا‬ َ‫ي ا‬ ْ‫ش ِن‬ َّ ‫ن تال ب‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ق ِن‬ ُ‫أ َه‬ َ‫وا‬ َ‫ة ا‬ ِᐯ ‫ر‬ َ‫ج ا‬ َ‫ش ا‬ َّ ‫مها تال ب‬ َ‫ك ا‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫ت ِن‬ ِᐯ ْ‫عنِن‬ َ‫ا‬ “Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’.” (Al-A’raf: 22) Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah anugerahkan kepada bapak kita Adam dan ibu kita Hawa, dengan (keduanya) melakukan taubat nashuha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ‫ري ا‬ ‫ن‬ ِᐯ ‫س‬ ِᐯ ‫خها‬ َ‫ل ا‬ ْ‫ن تا ِن‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َّ ‫ن ب‬ َ‫كو ا‬ ُ‫ن َه‬ َ‫ل ا‬ َ‫نها ا‬ َ‫م ا‬ ْ‫ح ِن‬ َ‫ر ا‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫و ا‬ َ‫نها ا‬ َ‫ل ا‬ َ‫ر ا‬ ْ‫ف ِن‬ ِᐯ ‫غ‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ‫و‬ َ‫نها ا‬ َ‫س ا‬ َ‫ف ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫نها ا‬ َ‫م ا‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫ظا‬ َ‫نها ا‬ َ‫ب ا‬ َّ ‫رب‬ َ‫ال ا‬ َ‫قها ا‬ َ‫ا‬ “Keduanya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (Al-A’raf: 23) ُ‫حي َه‬ ‫م‬ ِᐯ ‫ر‬ َّ ‫ب تال ب‬ ُ‫وتا َه‬ َّ ‫ت ب‬ َّ ‫و تال ب‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ن َه‬ َّ ‫إب‬ ِᐯ ‫ه‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫عا‬ َ‫ب ا‬ َ‫تها ا‬ َ‫ف ا‬ َ‫ت ا‬ ٍ ‫مها ف‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ‫ك‬ َ‫ه ا‬ ِᐯ ‫ب‬ ِّ‫ر‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ُ‫د َه‬ َ‫ق ى آ ا‬ َّ ‫ل ب‬ َ‫تا‬ َ‫ف ا‬ َ‫ا‬ “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (AlBaqarah: 37) Selanjutnya, menurut Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah, seruan (untuk menghancurkan nilai wanita) diistilahkan dengan banyak nama. Seperti Tahrirul Mar`ah (Kebebasan Wanita), yaitu yang arahnya membebaskan dan mengeluarkan muslimah dari Islam. Atau dengan nama An-Nahdhah bil Mar`ah (Kebangkitan Wanita), yaitu mengarahkan sikap membebek terhadap para wanita kafir, Barat atau Eropa. Juga dengan istilah Tathwirul Mar`ah (Pemberdayaan/Pengentasan Kaum Wanita). Istilah-istilah ini sengaja disebar kaum kafir dan orang-orang yang menyimpang dari Islam dan (istilah ini) tidak terkait dengan Islam. (Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/21-22) Yahudi, sebagai kaki tangan Iblis di muka bumi ini, mengungkapkan pula tekadnya untuk menghancurkan kaum wanita melalui slogan-slogan terkait emansipasi. Ini sebagaimana terungkap dalam Protokolat Para Hakim Zionis, bahwa sesungguhnya kalimat-kalimat yang bersifat meruntuhkan (menghancurkan), yang merupakan syi’ar-syi’ar kami adalah kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. (idem, hal. 24)

Maka, gerakan emansipasi memancangkan jargon-jargon perjuangan dengan menggunakan kebebasan wanita dan persamaan hak antara kaum wanita dan pria. Dengan istilah lain, memperjuangkan penyetaraan jender. Timbul pertanyaan, mengapa kaum wanita dijadikan bidikan Yahudi (bahkan Nasrani) untuk menghancurkan masyarakat Islam? Menurut Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, salah seorang ulama terkemuka Yaman: Pertama, kaum muslimah umumnya lebih minimal dalam urusan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan pria. Karena tingkat pemahaman agama yang minim tersebut sehingga mudah terprovokasi untuk menerima hal-hal yang merusak. Kedua, Yahudi dan Nasrani memandang bahwa menghancurkan wanita merupakan dasar bagi kehancuran berbagai sisi lainnya. Sebagaimana pula bila adanya perbaikan terhadap kaum wanita, maka akan membawa dampak kebaikan bagi lainnya. Ketiga, Yahudi dan Nasrani berpendapat, apabila tersingkap wajah kaum wanita, maka akan tersingkap pula aurat lainnya bila kaum wanita itu berbaur dengan kaum pria. Keempat, mereka memandang bahwa muslimah lebih cenderung khianat dan bertindak merusak terhadap suami. Ini sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari rahimahullahu (no. 3330 dan 3399) dan Muslim rahimahullahu (no. 1470) dari hadits Abu Hurairah z. Ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‫هها‬ َ‫ج ا‬ َ‫و ا‬ ْ‫ز ِن‬ َ‫ث ى ا‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أ ِن‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫خ ِن‬ ُ‫ت َه‬ َ‫م ا‬ ْ‫لمـ ِن‬ َ‫ء ا‬ ُ‫وتا َه‬ َّ ‫ح ب‬ َ‫ال ا‬ َ‫لو ا‬ َ‫وا‬ َ‫ا‬ “Dan seandainya bukan (karena) Hawa, seorang istri tidak akan mengkhianati suaminya.” Pengertian hadits ini bahwa Hawa menerima ajakan Iblis sebelum bapak kita, Adam ‘alaihissalam. Kemudian Adam pun terbujuk, terjatuhlah ia pada tindak maksiat. Ini karena adanya sikap khianat para wanita, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman berkenaan dengan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam: َ‫م ا‬ ‫ن‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ه ا‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫يها ا‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫غ‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫م َه‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫فا‬ َ‫مها ا‬ َ‫ه ا‬ ُ‫تها َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫خها ا‬ َ‫ف ا‬ َ‫ن ا‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫ح ِن‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ‫صها‬ َ‫نها ا‬ َ‫د ا‬ ِᐯ ‫بها‬ َ‫ع ا‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ ِᐯ ‫ي‬ ْ‫د ِن‬ َ‫ب ا‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫ت ا‬ َ‫ح ا‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫تها ا‬ َ‫ن ا‬ َ‫كها ا‬ َ‫ط ا‬ ٍ ‫لو ف‬ ُ‫ة َه‬ َ‫أ ا‬ َ‫را‬ َ‫م ا‬ ْ‫وتا ِن‬ َ‫ح ا‬ ٍ ‫نو ف‬ ُ‫ة َه‬ َ‫أ ا‬ َ‫را‬ َ‫م ا‬ ْ‫تا ِن‬ ِᐯ ‫روتا‬ ُ‫ف َه‬ َ‫ك ا‬ َ‫ن ا‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫لب‬ ِᐯ ‫ال‬ ً‫ث ذ‬ َ‫م ا‬ َ‫هلل ا‬ ُ‫ب تا َه‬ َ‫ر ا‬ َ‫ض ا‬ َ‫ا‬ َ‫لي ا‬ ‫ن‬ ِᐯ‫خ‬ ِᐯ ‫دتا‬ َّ ‫ع تال ب‬ َ‫م ا‬ َ‫ر ا‬ َ‫نها ا‬ َّ ‫ال تال ب‬ َ‫خ ا‬ ُ‫د َه‬ ْ‫ل تا ِن‬ َ‫قي ا‬ ِᐯ ‫و‬ َ‫ئها ا‬ ً‫ي ذ‬ ْ‫ش ِن‬ َ‫هلل ا‬ ِᐯ ‫تا‬ “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (AtTahrim: 10) [Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 1/147-148] Kalau manusia mau membuka mata, walau sejenak, akan didapati pelajaran yang demikian berharga. Akan nampak secara transparan, betapa mereka yang termakan

dengan gagasan-gagasan emansipasi, justru mengalami keterpurukan. Berapa banyak rumah tangga tidak terbina secara harmonis lantaran salah satu (atau bahkan keduanya) pasangan suami istri terjerat zina di tempat kerja. Berapa banyak pula lapangan kerja yang diisi kaum wanita, padahal bila diisi kaum pria akan dapat mengurangi angka pengangguran. Dengan demikian, berapa juta istri dan anak-anak bisa ternafkahi bila laki-laki mendapatkan pekerjaan. Inilah fenomena sosial yang tentu saja tidak bisa lepas dari dampak gerakan emansipasi. Masih banyak lagi ketimpangan sosial akibat gerakan emansipasi yang liar dan tak terkendali. Kerusakan-kerusakan Emansipasi Gerakan emansipasi yang membuncah di tengah masyarakat, bila ditelisik lebih jauh akan menimbulkan berbagai kerusakan yang tidak ringan. Bagi kalangan muslimah, gerakan ini bisa merusak keyakinan agama yang dipeluknya1. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam telah menyebutkan 66 dampak kerusakan yang diakibatkan paham ini. Dalam tulisan ini hanya akan disebutkan beberapa hal saja. Di antara kerusakan-kerusakan tersebut yaitu: 1. Sebuah bentuk perang terhadap Islam. Seruan emansipasi menyimpan perseteruan terhadap Islam. Selain itu, melecehkan, mencerca, menumbuhkan kebencian dari berbagai sisi terhadap agama. Termuat dalam gerakan emansipasi: kerusakan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan politik. Secara akibat, gerakan ini memuat seruan terhadap muslim untuk tidak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sunyi dari rasa takut dan pengagungan kepada-Nya. Menumbuhkan dalam hati sebongkah pelecehan dan olok-olok terhadap kebenaran agama. Menjadikan seseorang bersikap ragu, menentang dan lari dari agama. Dari sisi ibadah, nyata sekali bahwa gerakan ini mengerdilkan, meremehkan terhadap siapa pun yang menjaga berbagai bentuk peribadatan (yang selaras syariat). 2. Merupakan bentuk seruan yang menyeleweng dari Islam. Bagaimana tidak dikatakan semacam ini, sementara gerakan tersebut melakukan penolakan terhadap sesuatu yang bersifat keimanan pada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu, hukum syariat terkait pada kekhususan wanita dan pria. Maka, gerakan ini telah secara nyata melakukan pembangkangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Entah dalam bentuk tindakan langsung menolak hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, atau dalam bentuk melakukan berbagai penafsiran yang menyimpang sesuai dengan kepentingan dan selera gerakan emansipasi. Bisa diambil contoh adalah lontaranlontaran pernyataan mereka, seperti Islam mendzalimi wanita, (atau di Indonesia mencuat istilah rekonstruksi pemahaman agama, yang intinya melakukan aksi penolakan terhadap syariat Islam, pen.). Islam membelenggu wanita dengan menyuruh mereka tinggal di rumah dan ungkapan-ungkapan lainnya. 3. Menyerukan permisivisme (serba boleh) dan menghalalkan segalanya. Maka bila diperhatikan kata “gender” akan diketahui bahwa makna kata itu terkait wanita dan pria. Sesungguhnya ini bentuk keserbabolehan (permisif) secara mutlak dan bebas tanpa batasan-batasan yang selaras fitrah, agama atau akal sehat. Kebebasan tanpa batas. Inilah

yang dikehendaki para pegiat hak-hak wanita dan emansipasi. Mereka yang menyuarakan emansipasi tidak akan mampu menaikkan seruan mereka dari cara hidup binatang ternak. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‫و ى‬ ً‫ث ذ‬ ْ‫م ِن‬ َ‫ر ا‬ ُ‫نها َه‬ َّ ‫وتال ب‬ َ‫م ا‬ ُ‫عها َه‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أل ِن‬ َ‫تا ا‬ ْ‫ل ِن‬ ُ‫ك َه‬ ُ‫أ َه‬ ْ‫ت ِن‬ َ‫مها ا‬ َ‫ك ا‬ َ‫ن ا‬ َ‫لو ا‬ ُ‫كَه‬ ُ‫أ َه‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫و ا‬ َ‫ن ا‬ َ‫عو ا‬ ُ‫ت َه‬ َّ ‫م ب‬ َ‫ت ا‬ َ‫ي ا‬ َ‫روتا ا‬ ُ‫ف َه‬ َ‫ك ا‬ َ‫ن ا‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫وتاب‬ َ‫ا‬ “….Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12) Bahkan emansipasi telah menurunkan derajat mereka ke tingkatan binatang ternak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ‫عو ا‬ ‫ن‬ ُ‫م َه‬ َ‫س ا‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫ال ا‬ َ‫ن ا‬ ٌ ‫ذتا إ‬ َ‫ءتا ا‬ َ‫م ا‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫وا‬ َ‫هها ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫رو ا‬ ُ‫ص َه‬ ِᐯ ‫ب‬ ْ‫ي ِن‬ ُ‫ال َه‬ َ‫ن ا‬ ٌ ‫ي إ‬ ُ‫ع َه‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫وا‬ َ‫هها ا‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫هو ا‬ ُ‫ق َه‬ َ‫ف ا‬ ْ‫ي ِن‬ َ‫ال ا‬ َ‫ب ا‬ ٌ ‫لو إ‬ ُ‫قَه‬ ُ‫م َه‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ل َه‬ َ‫س ا‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫إل ِن‬ ِᐯ ‫تا‬ ْ‫و ِن‬ َ‫ن ا‬ ِّ ‫ج‬ ِᐯ ‫ل‬ ْ‫ن تا ِن‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫رتا‬ ً‫ثي ذ‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫م ا‬ َ‫ن ا‬ َّ ‫ه ب‬ َ‫ج ا‬ َ‫ل ا‬ ِᐯ ‫نها‬ َ‫أ ا‬ ْ‫ر ِن‬ َ‫ذ ا‬ َ‫د ا‬ ْ‫ق ِن‬ َ‫ل ا‬ َ‫وا‬ َ‫ا‬ َ‫لو ا‬ ‫ن‬ ُ‫فَه‬ ِᐯ ‫غها‬ َ‫ل ا‬ ْ‫م تا ِن‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ك َه‬ َ‫ئ ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َ‫أوا‬ ُ‫ل َه‬ ُّ ‫ض‬ َ‫أ ا‬ َ‫م ا‬ ْ‫ه ِن‬ ُ‫ل َه‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫عها‬ َ‫ن ا‬ ْ‫أل ِن‬ َ‫ها ا‬ ْ‫كِن‬ َ‫ك ا‬ َ‫ئ ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َ‫أوا‬ ُ‫هها َه‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179) 4. Merupakan kumpulan dari berbagai macam kekufuran, baik secara keyakinan, ucapan, atau perbuatan. 5. Merupakan wujud seruan kekufuran Yahudi dan Nasrani. Karena senyatanya, gerakan emansipasi yang memperjuangkan hak-hak dan kebebasan kaum wanita merupakan (program) dakwah Freemasonry Zionis Yahudi, yang bersenyawa dengan orang-orang Nasrani. Ketahuilah, bahwa para penyeru emansipasi (sadar atau tidak) merupakan orang yang taat kepada Yahudi dan Nasrani. Mulai dari bentuk organisasi, pernyataan, pendidikan (training), penyebaran, dan dakwahnya. Semuanya dilakukan sebagai upaya ke arah kekufuran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ‫ري ا‬ ‫ن‬ ِᐯ ‫ف‬ ِᐯ ‫كها‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ن َه‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫إي ا‬ ِᐯ ‫د‬ َ‫ع ا‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫دو َه‬ ُّ ‫ر‬ ُ‫ي َه‬ َ‫ب ا‬ َ‫تها ا‬ َ‫ك ا‬ ِᐯ ‫ل‬ ْ‫توتا تا ِن‬ ُ‫أو َه‬ ُ‫ن َه‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫ن تاب‬ َ‫م ا‬ ِᐯ ‫قها‬ ً‫ري ذ‬ ِᐯ ‫ف‬ َ‫عوتا ا‬ ُ‫طي َه‬ ِᐯ ‫ت‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ ‫نوتا‬ ُ‫م َه‬ َ‫ن آ ا‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫هها تاب‬ َ‫ي ا‬ ُّ ‫أ‬ َ‫يهاا‬ َ‫ا‬ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah beriman.” (Ali ‘Imran: 100) Program mereka bertujuan mengeluarkan muslimin dari agamanya. Ini berdasarkan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ُّ ‫ح‬ ‫ق‬ َ‫ل ا‬ ْ‫م تا ِن‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ل َه‬ َ‫ن ا‬ َ‫ي ا‬ َّ ‫ب ب‬ َ‫ت ا‬ َ‫مها ا‬ َ‫د ا‬ ِᐯ ‫ع‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ه ِن‬ ِᐯ ‫س‬ ِᐯ ‫ف‬ ُ‫ن َه‬ ْ‫اَ ِن‬ ‫دأ‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫ع ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫دتا‬ ً‫س ذ‬ َ‫ح ا‬ َ‫رتا ا‬ ً‫فها ذ‬ َّ ‫ك ب‬ ُ‫م َه‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ن َه‬ ِᐯ ‫مها‬ َ‫ي ا‬ ْ‫إ ِن‬ ِᐯ ‫د‬ ِᐯ ‫ع‬ ْ‫ب ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ن َه‬ َ‫دو ا‬ ُّ ‫ر‬ ُ‫ي َه‬ َ‫و ا‬ ْ‫ل ِن‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫تها‬ َ‫ك ا‬ ِᐯ ‫ل‬ ْ‫ل تا ِن‬ ِᐯ ‫ه‬ ْ‫أ ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ر‬ ٌ ‫ثي إ‬ ِᐯ ‫ك‬ َ‫د ا‬ َّ ‫و ب‬ َ‫ا‬

“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109) Firman-Nya: ‫عوتا‬ ُ‫طها َه‬ َ‫ت ا‬ َ‫س ا‬ ْ‫ن تا ِن‬ ِᐯ ‫إ‬ ِᐯ ‫م‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ن َه‬ ِᐯ ‫دي‬ ِᐯ ‫ن‬ ْ‫ع ِن‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫دو َه‬ ُّ ‫ر‬ ُ‫ي َه‬ َ‫ت ى ا‬ َّ ‫ح ب‬ َ‫م ا‬ ْ‫ك ِن‬ ُ‫ن َه‬ َ‫لو ا‬ ُ‫تَه‬ ِᐯ ‫قها‬ َ‫ي ا‬ ُ‫ن َه‬ َ‫لو ا‬ ُ‫زتاَه‬ َ‫ي ا‬ َ‫ال ا‬ َ‫و ا‬ َ‫ا‬ “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup.” (Al-Baqarah: 217) 6. Meniadakan (menolak) penerapan hukum-hukum syariat. 7. Membiarkan dan membebaskan perzinaan. 8. Membolehkan nikah antara muslimah dengan orang kafir (tentunya dengan dalil kebebasan wanita, pen.). 9. Tukar menukar atau berganti-ganti pasangan hidup. 10. Terlepasnya hijab Islami (jilbab yang syar’i). 11. Tersebarnya kemaksiatan secara terbuka. 12. Tasyabbuh (penyerupaan) antara laki-laki dan wanita (baik dalam cara berpakaian, perilaku dan lain-lain, pen.). Demikian beberapa kerusakan yang ditimbulkan akibat gaung emansipasi. (Mu’amaratul Kubra ‘alal Mar`atil Muslimah, 2/475-511) Tidak sepatutnya kaum muslimin mengambil sistem nilai di luar Islam menjadi acuannya. Begitu pula seorang muslimah tidak sepantasnya menceburkan diri menyuarakan nilainilai emansipasi. Bila Islam dipelajari secara benar, maka akan memberikan kecukupan dan keadilan. Sebaliknya, bila Islam ditinggalkan maka kehinaan akan meliputi kehidupan kaum muslimah, bahkan masyarakat yang lebih luas. ْ‫ه ِن‬ ‫م‬ ِᐯ ‫ل‬ ِᐯ‫ب‬ ْ‫ق ِن‬ َ‫ن ا‬ ْ‫م ِن‬ ِᐯ ‫ن‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫ت تاب‬ َ‫ب ا‬ ِᐯ ‫ك‬ ُ‫مها َه‬ َ‫ك ا‬ َ‫توتا ا‬ ُ‫ب َه‬ ِᐯ ‫ك‬ ُ‫ه َه‬ ُ‫ل َه‬ َ‫سوا‬ ُ‫ر َه‬ َ‫و ا‬ َ‫هلل ا‬ َ‫ن تا ا‬ َ‫دو ا‬ ُّ ‫حها‬ َ‫ي ا‬ ُ‫ن َه‬ َ‫ذي ا‬ ِᐯ ‫ل‬ َّ ‫ن تاب‬ َّ ‫إ ب‬ ِᐯ “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.” (AlMujadilah: 5) Menurut Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, yang dimaksud “menentang Allah dan Rasul-Nya” adalah menyelisihi serta bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. (Taisirul Karimirrahman, hal. 845)

Karenanya, sudah tiba masanya bagi kita untuk tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam. Footnote: Deislamisasi, mencerabut nilai-nilai Islam dari kaum muslimah hingga ke akar-akarnya. Sumber: http://www. PROPAGANDA EMANSIPASI posted in Akhlak & Adab, Membantah Feminis | Penulis: Asy Syaikh Hasyim bin Hamid ‘Ajil Ar Rifa’iy Propaganda Emansipasi wanita adalah lagu lama, yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, ketika mereka melihat Islam adalah agama yang sempurna dan pemeluknya sangat teguh memegangnya. Selama kaum muslimin, terutama kaum wanitanya konsekuen dengan agama dan sunnah Nabi-Nya, maka kehidupan mereka akan baik dan bersih, serta mengetahui seluk belum musuh. Propaganda Emansipasi wanita adalah lagu lama, yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, ketika mereka melihat Islam adalah agama yang sempurna dan pemeluknya sangat teguh memegangnya. Selama kaum muslimin, terutama kaum wanitanya konsekuen dengan agama dan sunnah Nabi-Nya, maka kehidupan mereka akan baik dan bersih, serta mengetahui seluk belum musuh. Ini semua membuat musuh-musuh Islam khususnya Yahudi dan Nasrani benci. Maka disebarkanlah faham baru ini untuk memecah-belah umat Islam, memperluas kerusakan di antara mereka, mengeluarkan para wanita dari rumah-rumah pingitan dan menghilangkan rasa malunya, sehingga mudah bagi mereka menguasai dunia Islam dan menghinakan kaum muslimin. lnilah yang terjadi, kaum muslimin tanpa berfikir mengekor di belakang propaganda ini terutama kaum wanitanya. Kondisi kita sekarang merupakan bukti apa yang telah saya paparkan di atas. Maka kita mohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala keselamatan dan penjagaan terhadap agama dan keluarga kita, karena protokol-protokol Zeonis menyatakan : “Kita wajib berusaha memperluas kerusakan akhlak di setiap penjuru (negara-negara Islam) agar dengan mudah menguasai mereka” Glastone, seorang Inggris yang fanatik menyatakan : “Tidak mungkin menguasai negara-negara Timur (negara-negara Islam) selama kaum wanitanya tidak menanggalkan hijab dari wajahnya, menutup Al Qur’an dari mereka,

mendatangkan minuman-minuman keras dan ekstasi, pelacuran, serta kemungkarankemungkaran lain yang melemahkan agama Islam”. Coba saudara perhatikan dan renungkan dengan cermat rencana / perkataan mereka. Sesungguhnya yang mereka inginkan bukanlah emansipasi wanita itu sendiri, karena Allah telah mengangkat dan memuliakan derajat kaum wanita dengan sempurna (dalam Islam), akan tetapi yang mereka kehendaki adalah kerusakan dari agama yang agung ini dan cerai-berainya umat untuk dijadikan budak dan pelayan mereka. Yang demikian ini telah disebutkan dalam Taurat, yang sudah dirubah-rubah oleh tangan mereka. Maka waspadalah wahai saudaraku seagama, terhadap bahaya propaganda-propaganda seperti ini, pegang teguhlah agama Allah Subhanahu wa ta’ala dengan erat, dan berjalanlah di atas sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik makhluk semuanya. Untuk merealisir impiannya yang sia-sia dan menyebarkan propaganda yang jahat ini di kalangan umat Islam, khususnya kaum wanitanya, dengan segala daya dan upaya mereka telah mempersiapkan bala tentaranya. Mereka memiliki pembantu-pembantu baik pria maupun wanita. (Ironisnya) semua ini dibiayai oleh umat Islam yang dermawan. Maka tampillah orang laki-laki dan wanita melaksanakan niat jahat ini di bawah pimpinan “Persatuan Yahudi Internasional dan Salibisme”, seperti : 1. Marcos Fahmi, Nasrani ; menerbitkan bukunya yang berjudul “Wanita Timur Tahun 1894 M”. Menyerukan wajibnya menanggalkan hijab kaum wanita, pergaulan bebas, talak dengan syarat-syarat tertentu, dan larangan kawin lebih dari satu orang. 2. Huda Sya’rawi, seorang wanita didikan Eropa yang setuju dengan tuan-tuannya (Godfather-nya) untuk mendirikan Persatuan Isteri-Isteri Mesir, sasarannya adalah persamaan hak talak seperti suami, larangan poligami, kebebasan wanita tanpa hijab dan pergaulan bebas. 3. Ahli Syair, Jamil Sidqi Az Zuhawis. Dalam syairnya, ia menyuruh para wanita Iraq membuang dan membakar hijab, bergaul bebas dengan pria, dan menyatakan bahwa hijab itu adalah merusak dan merupakan penyakit dalam masyarakat. Demikianlah, mereka mensifati seruan Allah Subhanahu wa ta’ala (kepada kaum wanita) untuk menutup tubuh, berhijab, menjaga kehormatan dan membersihkan diri dari penyakit-penyakit yang merusak, sementara mereka menentang kekuasaan dan ciptaanNya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : ?????????????????? ?????????? (???????: ??) “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. (QS Al A’raf : 54).

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksudnya adalah : Milik Allahlah kerajaan dan hanya Allahlah yang berhak mengatur. Kemudian tentang tafsir firman Allah Subhanahu wa ta’ala: ????????????? ???? ?????? ????????????????? ?????????? (?????: ??) “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang karnu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS Al Mulk : 14). Maksudnya : Mungkinkah Sang Pencipta tidak mengetahui? Ada juga yang mengatakan ” Mungkinlah Allah tidak mengetahui makhluk-Nya? (lbnu Katsir dalam tafsirnya). Akan tetapi, kemana orang-orang yang hidup ini akan lari (dari pengawasan Allah, pent) apabila mereka tidak memperbaiki diri dengan taubat nasuhah (taubat dengan sungguhsungguh). Orang-orang seperti ini banyak kita jumpai sampai hari ini. Mereka hidup gembira ria menyebarkan kerusakan, kekejian serta menentang nilai-nilai kebaikan dan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla. (Jika ingin mengetahui lebih luas tentang hal ini) silahkan membaca buku “Al Harokatun Nisaiyah wa Shilatiha bil isti’maar”, karangan Muhammad Athiyah Khumais. Begitu juga tulisan-tulisan yang membahas permasalahan ini telah jelas dan gamblang faktanya, berupa tuduhan-tuduhan musuh-musuh Islam dengan berbagai macam tipu daya kepada kita dan agama Islam, sementara kita lengah dan terus disibukkan oleh syahwat dan memperoleh kesenangan dunia. Maka waspadalah, bangunlah kalian dari tidur dan hadapilah bahaya besar ini. Wahai Saudariku Muslimah… Saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengembalikan anda kepada agama Islam dengan baik, memegang teguh syariat-Nya, menghiasi diri dengan rasa malu, dan senantiasa berpakaian yang Islami. Saya sangat mencintai dan sayang kepadamu. Dan sebagai penasihat yang tidak menghendaki apa-apa kecuali balasan pahala dan ridla Allah, Rabb di atas segala yang dituhankan. Janganlah kalian berbaris di belakang propaganda palsu ini yang hanya merupakan fatamorgana bagi yang haus. Bagaimana tidak, padahal engkau telah mengetahui hakekat ajaran ini. Sementara yang mereka serukan menjadikanmu sebagai barang dagangan murah, sehingga mereka dapat menikmati tubuhmu, padahal Allah ta’ala menghendaki agar hal itu ditutup dan dijaga. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwa semua yang tertutup itu disenangi dan dicintai-Nya. Karena itulah Allah ta’ala memerintahkan anda untuk berhijab dan menutup (aurat). Dia menciptakan kamu dari mani, dan menjadikan kamu dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Apakah kebaikan-Nya engkau balas dengan kejelekan, dengan merusak dan membuang jauh-jauh syariat-Nya, serta menolak perintah-perintah-Nya? Maka kembalilah anda ke jalan yang lurus, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala

memberkahimu, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, karena anda akan menjadi penghuni neraka. Marilah kita bersama menyingsingkan lengan dengan sungguh-sungguh, menyebarluaskan keutamaan, dan bersatu padu memerangi kebejatan moral, membangun masyarakat yang beradab, bersih dan suci. Anda adalah pendamping pria dalam kehidupan. Perjuangan tidaklah sempurna kecuali dengan anda, di samping pertolongan Allah. Anda adalah isteri shalihah yang baik, sekaligus sebagai ibu, teladan dan sekolah untuk membentuk generasi penegak panji Islam; dan suami anda menginginkan anda menjadi tangan kanannya, menghilangkan segala kelelahan dan penghibur di kala susah. Begitulah keadaan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan isteri-isteri para shahabat, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala meridlai mereka semua. Amin. Berkata seorang penyair : Tirulah mereka, walaupun tidak dapat seperti mereka (para shahabat). Sungguh meniru orang-orang mulia itu adalah suatu kemenangan. Saudariku muslimah, coba pikirkan propaganda yang katanya untuk “kebebasan” anda itu. Terangkan pada saya kebebasan apa yang diberikan dan kebahagiaan apa yang anda peroleh? Sedang wanita Barat sendiri sudah muak dan bosan dengan kebebasan palsu ini, dan penganiayaan kaum pria terhadap mereka dengan semboyan-semboyan kemajuan. Wanita dijadikan barang dagangan dengan harga murah. Mereka memperdagangkan wanita melalui promosi dan siaran-siaran, untuk mendapatkan keuntungan dunia yang fana ini. Dan sekarang para wanitanya insaf, sadar dan meneriakkan kata-kata untuk kembali ke rumah tangga; hidup sebagai ibu dan sekaligus sebagai isteri yang tenang, jauh dari kelelahan bekerja dan campur baur dengan pria. Demikianlah apa yang terjadi pada wanita di negara-negara Barat, yang hanya dijadikan “komoditi” untuk mencari harta dan ketenaran, dan isteri sebagai barang dagangan yang tidak ada harga dan kehormatannya. Maka janganlah anda menjadi begitu. Menghindarlah sejauh-jauhnya dari faham-faham seperti ini, sebelum anda terkena perangkap, lalu sukar untuk keluar lagi. Referensi: Buku “Membina Keharmonisan Berumah Tangga Menurut Al Qur’an dan Sunnah dan Bahaya Emansipasi Wanita” Hal. 15-22 Penerbit Cahaya Tauhid Press, Malang) http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=343
This entry was posted on Wednesday, December 12th, 2007 at 11:41 am and is filed under Akhlak & Adab, Membantah Feminis. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

There are currently 4 responses to “Propaganda Emansipasi Wanita”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think. 1. 1 On March 11th, 2008, irjik said: tanks you. hal-hal diatas harusnya diperhatikan oleh para kaum wanita dewasa . budaya semakin kabur dibalik awan kemajuan jaman yang membebaskan segala keinginan individual [reply this comment] posted on March 11th, 2008 at 4:52 pm 2. 2 On March 30th, 2008, akbar said: saya sudah mencoba untuk membaca, mencerna dan mengartikan hal2 yang tertulis diatas. Saya seorang Muslim yang jujur saja tidak tahu banyak tentang hal2 ini. mungkin propaganda ‘kaum2′ lain sangat mengena di diri saya karena saya berdomisili di luar Indonesia. yang saya bingungkan disini, mengapa kaum wanita harus ‘dipingit’ dirumah dan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum pria. saya cukup mengerti kaum wanita mempunyai ‘kekuatan’ yang bisa menarik kaum pria ke arah kerusakan, tapi mengapa harus kebebasan mereka yang dibatasi? bukannya nafsu kaum pria juga yang harus diusahakan untuk bisa ditahan? okelah sebagai muslim, saya juga mengutuk wanita2 seperti Britney Spears atau Madonna yang memperlakukan kebebasan ’semau’ mereka, menjadikan diri mereka sebagai komoditi dan mempertontonkan aurat. tetapi saya sendiri sadar, banyak sekali wanita2 lain yang lebih capable dan reliable dari kaum pria, dimana mereka bekerja sebagai profesional dengan kode etik dan manner (berhijab dan bersikap islami) untuk menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua orang. Beberapa wanita sadar bahwa dirinya mampu membawa perubahan yang sangat positif kepada dunia, tetapi sekali lagi, mereka dicap tidak berhak untuk membawa perubahan tersebut. saya disini hanya mengharapkan jawaban, bukan memulai konflik dengan pihak manapun. seperti yang saya utarakan terlebih dahulu, saya tidak tahu banyak. mohon bimbingannya…. Wa ‘alaykumussalâm wa rahmatullâhi wa barakâtuhu. Mungkin artikel-artikel berikut dapat membantu menjawab permasalahan ini, in syâ’ Allâh: Ikhtilath dan Bahayanya, Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Persamaan dalam Segala Hal, Berita Kenabian Atas Kepemimpinan Wanita, Emansipasi, Propaganda Untuk Meruntuhkan Aqidah, Apa Lagi yang Engkau Tuntut Wahai Wanita?, Emansipasi Wanita, Propaganda Musuh-musuh Islam, Emansipasi atau Deislamisasi?, Menyoal Kiprah Muslimah, dan Wanita Kurang Agamanya?.

Sebagai tambahan, silakan baca juga tentang Fatwa `Ulamâ’ tentang Penyingkatan Salâm dan Shalawat dan Faedah Shalawat untuk Nabî Shallallâhu `Alayhi wa Sallam & Hukum Menyingkat Tulisan Shalawat, in syâ’ Allâh. Disebutkan dalam Buletin Da’wah Al-Walâ’ wal-Barâ’: “Janganlah kita menyingkat lafazh suatu do’a baik do’a salâm, shalawat ataupun yang lainnya. Karena menyingkat lafazh do’a (seperti assalâmu ‘alaykum disingkat ass., dan lain-lain) adalah perbuatan orang yang pelit dalam mendo’akan orang lain, juga lafazh singkatan tersebut tidak bisa dipahami maknanya dan tidak bisa disebut sebagai do’a serta perbuatan ini tidak ada contohnya dari Rasûlullâh shallallâhu ‘alayhi wa sallam maupun Salafush Shâlih.” (Buletin Da’wah AlWalâ’ wal-Barâ’). Jazâkumullâhu khayran wa bârakallâhu fîkum. [reply this comment] posted on March 30th, 2008 at 11:15 am 3. 3 On March 30th, 2008, akbar said: oh ya saya juga mau bertanya, kalau memang kaum wanita seharusnya berada dirumah, sebagai isteri dan ibu yang jauh dari kelelahan bekerja dan berbaur dengan pria, apa yang terjadi apabila para suami meninggalkan isteri mereka (bercerai atau meninggal)? apakah mereka tetap harus dirumah dan menjauhi kelelahan dan berbaur dengan pria? kalau memang iya, bagaimana mereka mencari nafkah buat diri sendiri dan anak2 yg menjadi tanggungannya? untuk jawabannya terimaksih, semoga kita semua selalu berada dibawah lindungan Allah S.W.T [reply this comment] posted on March 30th, 2008 at 11:25 am 4. 4 On April 3rd, 2008, fajar said: download dong tentang emansipasi perempuan [reply this comment]

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful