Penetapan Standar Nasional Pendidikan Nonformal dalam Pelaksanaan Akreditasi Satuan dan Program PNF

Oleh Dr. Reni Marlinawati

A.

Pendahuluan

Secara filosofis pendidikan di Indonesia menganut paham pendidikan sepanjang hayat (life long education), dalam bahasa agamanya Minal Mahdi ilal Lahdi (dari buayan bunda hingga liang lahat). Filosofis pendidikan ini mengandung makna, bahwa pendidikan, khususnya dalam mencari ilmu – yang merupakan kewajiban bagi setiap kaum muslimin dan muslimat – tidak bisa dibatasi hanya dengan pendidikan formal.

Karenanya kita mengakui dan juga menganut pendidikan informal, yaitu pendidikan di keluarga dan lingkungan. Demikian juga dengan pendidikan nonformal, yaitu pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Selanjutnya, pendidikan formal, informal dan nonformal tersebut dalam rangka untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya tentu saja untuk menunjang pembangunan nasional. Oleh karena itu, menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin kualitas pendidikan tersebut. Dalam menjamin kualitas pendidikan tersebut, pemerintah tentu saja harus mempunyai grand strategi yang terukur, sehingga pencapaiannya dari tahun ke tahun dapat terlihat.

B.

Pemahaman Pendidikan Non Formal

Pendidikan nonformal sebenarnya usaha masyarakat dalam mencari jalan keluar terhadap persoalan pendidikan formal yang tidak terjangkau oleh masyarakat.

ayat (2). menyatakan bahwa pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dan Pasal 26 menjelaskan secara terperinci penyelenggaraan pendidikan nonformal. orientasi pendidikan nonformal lebih menekankan pada tujuan. UU Sisdiknas No. pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. . sebagai berikut: (1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti. dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. masyarakat. (2) Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan. (4) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis. (3) Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara. lingkungan sosial. dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Hal ini sesuai dengan Pasal 55. serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. (5) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (3). dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Dengan demikian. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) no 20 tahun 2003.Perhatian pendidikan nonformal lebih terpusat pada usaha-usaha untuk membantu terwujudnya proses pembelajaran di masyarakat. Pemerintah. penambah. agar masyarakat memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan di lingkungannya. kemudian mencari upaya yang tepat untuk memecahkannya sehingga masyarakat dapat memperbaiki hakikat dan harkat hidupnya.20 tahun 2003 sebagai berikut: (1) Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. subsidi dana.

keterampilan. pendidikan kesetaraan. dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. pendidikan kepemudaan. ayat (5).(2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. pendidikan anak usia dini. (6) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. terampil. usaha mandiri. mengembangkan profesi. (b) perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar luar sekolah. sesuai dengan visi pendidikan nonformal yang mencanangkan terwujudnya warga masyarakat cerdas. (3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. ayat (4). Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkanlah misi pendidikan nonformal sebagai berikut: (a) perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan bagi anak usia dini. kelompok belajar. mandiri. ayat (3). (4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus. kecakapan hidup. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. pusat kegiatan belajar masyarakat. berdaya saing. lembaga pelatihan.1 . serta satuan pendidikan yang sejenis. dan sikap untuk mengembangkan diri. serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. pendidikan pemberdayaan perempuan. (d) perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dan keterampilan bagi perempuan. (7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). dan majelis taklim. bekerja. (5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan. dan genar belajar. (c) perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dan keterampilan masyarakat. lembaga pendidikan nonformal. pasal 6 di atas. penyelenggara. Pasal 6 di atas secara jelas menyatakan peran. Lebih jauh. pendidikan keaksaraan. fungsi.

kemampuan membina keluarga sejahtera untuk memajukan kesejahteraan umum.20 tahun 2003. berakhlak mulia. 3.Pendidikan nonformal mempunyai fungsi membelajarkan individu atau kelompok agar mampu memberdayakan dan mengembangkan dirinya sehingga mampu beradaptasi terhadap perubahan/perkembangan zaman. yaitu mengembangkan potensi pesertya didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. keluarga. 2. kemampuan menghadapi tantangan hidup baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungn masyarakat. . kemampuan wawasan yang luas tentang hak dan kewajiban sebagai warga segara. pendidikan penyesuaian. kreatif. dan seimbang terhadap kecerdasan. pendidikan komplemen. Berdasarkan fungsi tersebut pendidikan nonformal dapat melayani kebutuhan pendidikan suplemen. bernegara. cakap. sehat. maupun masyarakat. 4. kreativitas. sikap. 3 Keenam tujuan institusional tersebut menegaskan bahwa pendidikan nonformal berusaha mengembangkan secara selaras. pendidikan nonformal mempunyai tujuan institusional yang memungkinkan warga masyarakat memiliki: 1. Sedangkan secara operasional. pendidikan/ pelatihan keterampilan. dan bermasyarakat dalam rangka pembangunan manusia dan masyarakat. mandiri. pendidikan pengayaan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. pendidikan pemutakhiran (updating). pendidikan alternatif. dan keterampilan dalam upaya meningkatkan mutu dan taraf hidup baik untuk diri sendiri. dan pendidikan pembibitan. serasi. kemampuan menciptakan atau membantu menciptakan lapangan kerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki. kemampuan kesadaran berbangsa.2 Sedangkan tujuan pendidikan nonformal sama dengan tujuan pendidikan nasional. berilmu. pendidikan substitusi. 5. kesempatan mengembangkan kepribadian dan mengaktualisasikan diri. pendidikan kompensasi. sebagaimana termaktub dalam pasal 3 UU Sisdiknas No.

Paket A setara SD. Pendidikan Kepemudaan. antara lain: Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD).20 tahun 2003. Kepramukaan. Secara lebih terperinci yang dimaksud dengan Standar nasional pendidikan. adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. termaktub dalam Pasal 35. maka sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk campur tangan mengelola pendidikan nonformal. Taman Penitipan Anak (TPA). UU Sisdiknas No. Demikian juga dengan cakupan umur warga belajar dalam pendidikan nonformal mulai dari Bawah Lima Tahun (BALITA) sampai lanjut usia. Lebih jauh. dan Pemberdayaan Ekonomi Desa. serta pendidikan lain yang ditunjuk untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. sebagaimana termaktub dalam pasal 52 UU Sisdiknas No. Paket C setara SLTA.20 tahun 2003. Kebutuhan akan pendidikan seperti itu disalurkan melalui program-program pendidikan nonformal. meliputi pendidikan kecakapan hidup. pemerintah daerah. pendidikan kesetaraan. maka mutu pendidikan nonformal harus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. pendidikan keaksaraan. pendidikan anak usia dini.20 tahun 2003. sebagai berikut: (1) Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah.20 tahun 2003.Adapun cakupan pendidikan nonformal. Standar Nasional Pendidikan Untuk mencapai tujuan diinginkan oleh masyarakat. C. sebagaimana termaktub dalam pasal 26 UU Sisdiknas No. Paket B setara SLTP. Pendidikan Kewanitaan. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. . Permagangan. pendidikan kepemudaan. sebagai berikut. Kursus-kursus Keterampilan/Kejuruan. Standar nasional pendidikan sebagaimana didefinisikan dalam Pasal 1. Keaksaraan Fungsional (KF). Kejar Usaha. (2) Ketentuan mengenai pengelolaan satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Kelompok Bermain (Play Group). dan/atau masyarakat. karena pendidikan nonformal dapat disetarakan dengan pendidikan formal. pendidikan pemberdayaan perempuan. UU Sisdiknas No.

pendidikan nonformal yang langsung dibiayai oleh masyarakat itu sendiri. kompetensi lulusan. Diprioritaskan untuk diakreditasi adalah lembaga yang dikelola oleh pemerintah. tanpa ada bantuan dana dari pemerintah. sarana dan prasarana. Dengan kata lain. tak jarang bahkan. pengelolaan. Akreditasi Pendidikan Nonformal Badan akreditasi pendidikan nonformal dalam melakukan akreditasi harus ekstra hati-hati. jangan sampai menimbulkan persoalan baru. sarana dan prasarana. (4) (4) Ketentuan mengenai standar nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Adanya akreditasi terhadap lembaga pendidikan nonformal.(1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. (2) Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum. D. (3) Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi. dan pengendalian mutu pendidikan. tenaga kependidikan. Jika data tersebut sudah dimiliki oleh pemerintah. Dari data tersebut ditaksonomikan lagi berapa jumlah lembaga pendidikan nonformal yang dibantu langsung oleh pemerintah atau dikelola langsung oleh pemerintah. pemerintah sudah harus punya data yang valid tentang jumlah lembaga pendidikan nonformal yang ada di masyarakat. maka akreditasi dapat dilakukan secara bertahap. ayat (2). dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. penjaminan. baik pusat maupun daerah. Sebab pendidikan nonformal sangat bersentuhan langsung dengan masyarakat. tenaga kependidikan. pembiayaan. namun harus serius. karena pendidikan nonformal . proses. Sebelum melakukan akreditasi. Baru kemudian lembaga-lembaga yang belum dikelola oleh pemerintah. Dengan adanya standar nasional pendidikan. pengelolaan. Karena kualitas pendidikan nonformal akan berimplikasi pada pencapaian bangsa secara nasional. dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. dan pembiayaan. maka penyelenggaraan pendidikan nonformal bukan sesuatu yang asal-asalan.

Majlis taklim ini atau lembaga sejenis lainnya. Hal ini jelas akan menimbulkan persoalan baru.sangat beragam. pola komunikasi dll. UU Sisdiknas No. ‘ideologi.jangankan seindonesia. dan yang pasti disalahkan adalah pemerintah. karena menyangkut masalah kualitas pendidikan dan pemberdayaan masyarakat terhadap kebutuhan yang diinginkan. Hal ini sangat penting. Pemerintah dalam melakukan akreditasi harus terencana dengan baik. pemerintah juga harus memperhatikan persoalan kualitatif.20 tahun 2003. E. Catatan Kaki . adalah majlis taklim dan lembaga sejenis lainnya. metode pengajaran. demikian juga dengan ragam budaya. pemahaman keagamaan yang dianut oleh sebuah masyarakat. sedangkan yang belum terakreditasi tidak mendapatkan bantuan. Meski demikian akreditasi yang berdasarkan sistem nasional pendidikan jangan sampai menjadi masalah baru di tengah-tengah masyarakat. -. sangat terkait dengan budaya. Misalnya bantuan pemerintah hanya untuk lembaga pendidikan nonformal yang sudah terakreditasi. Kesimpulan Akreditasi terhadap lembaga pendidikan nonformal. Akreditasi yang akan dilakukan diupayakan jangan mempersulit peran masyarakat dalam berpartisipasi dalam dunia pendidikan. sebagaimana disebutkan dalam Pasal 26 ayat 4.terutama isi bahan ajar akan sangat sulit. sebab salah satu lembaga pendidikan nonformal. Karenanya standar satu majlis taklim dengan yang lainnya jelas berbeda. serta ditunjang oleh data yang valid terkait dengan pendidikan nonformal. jelas sangat perlu dilakukan. maka akreditasi jangan sampai menimbulkan diskriminasi terhadap lembaga pendidikan nonformal yang belum terakreditasi. mulai dari Balita sampai dengan usia senja. satu kecamatanpun -. Hal ini terkait dengan persoalan budaya. Selain persoalan kuantitatif berupa data jumlah lembaga pendidikan nonformal. karena itu untuk menyamakan pola majlis taklim.

Kiat. dan Pelaksanaan. Jakarta: PD Mahkota 1999. 2 Anonim. hal. Balitbang Dikbud. *Makalah ini pernah disampaikan pada Acara Lokakarya Balitbang Kemendikbud di Tangerang . 1985. Pendidikan Luar Sekolah ke Arah Pengembangan Sistem Belajar Masyarakat. hal.15. 1989. Jakarta: Dirjen Dikti. Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Kelompok Kerja PLS. Depdikbud. Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan.1 Umberto Sihombing. Konsep.10 3 M Sudomo.