You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Sistem pencernaan dalam merupakan salah satu bagian penting di dalam tubuh manusia. Sistem pencernaan mengolah makanan atau asupan yang masuk untuk diubah menjadi zat-zat yang diperlukan oleh tubuh. Sistem pencernaan dari bagian atas hingga bawah terdiri dari organ-organ vital, misalnya esofagus, lambung, dan saluran intestinal. Oleh karena itu, sistem pencernaan yang terdiri dari organ-organ tersebut harus selalu terjaga agar tetap dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Walaupun sistem pencernaan harus selalu dipertahankan dalam kondisi baik tetapi terkadang muncul berbagai gangguan yang muncul pada sistem ini. Adanya hematemesis melena merupakan salah satu indikasi munculnya gangguan dalam sistem pencernaan. Hematemesis melena dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya peptic ulcer atau ulkus peptikum. Mengenai hematemesis melena, peptic ulcer, dan patofisiologinya akan dibahas di bab selanjutnya. Sebagai perawat, kita harus mengetahui penyebab hematemesis melena, peptic ulcer, etiologi serta patofisiologinya. Hal ini diperlukan agar perawat dapat melakukan tindakan-tindakan yang sesuai untuk menolong atau menangani klien. Perawat juga perlu mengetahui tindakan medis atau non medis yang akan dilakukan terhadap klien. Selain itu perawat juga harus mengkaji dan mengetahui tanda-tanda vital klien untuk merumuskan asuhan keperawatan yang akan dilakukannya untuk meningkatkan status kesehatan klien. Hal itulah yang melatarbelakangi kami dalam penyusunan makalah ini. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam makalah ini antara lain: 1.2.1 1.2.2 Apakah pengertian hematemesis melena serta penyebabnya? Bagaimana proses patofisiologi peptic ulcer?

1

1.2.3 1.2.4

Bagaimana penatalaksanaan medis dan non medis pada klien dengan hematemesis melena ec. Peptic ulcer? Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan hematemesis melenan ec. Peptic ulcer?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini antara lain: 1.3.1 1.3.2 1.3.3 Memaparkan apakah hematemesis melena dan peptic ulcer dan proses patofisiologinya. Memaparkan penatalaksanaan medis dan non medis pada klien. Memaparkan asuhan keperawatan yang akan dilakukan pada klien.

1.4 Metode Penulisan Metode penulisan yang kami pergunakan adalah telusur pustaka, yaitu mengadakan tinjauan kepustakaan untuk memperoleh bahan-bahan yang berhubungan dengan judul makalah ini. Kami pun menggunakan internet sebagai sarana referensi yang lain serta dilengkapi dengan diskusi kelompok yang bertujuan untuk saling memberi masukan terkait materi. 1.5 Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari sampul/cover, kata pengantar, daftar isi, tiga bab, dan daftar pustaka. Bab pertama adalah pendahuluan, terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab kedua berisi tinjauan pustaka yang membahas isi dari makalah. Bab ketiga berisi kesimpulan dan saran. Terakhir adalah daftar pustaka.

2

Namun dalam prosesnya. 3 . Melena adalah hasil defekasi (feses) yang berwarna hitam akibat hasil perdarahan yang bercampur dengan asam lambung yang membentuk hematin. melena tidak selalu diikuti oleh hematemesis. 2. Hematemesis terjadi sebagai akibat trauma ataupun pembentukan lesi pada saluran percernaan bagian atas (esophagus. akan terlihat vomitus kemerahan. akan memasuki lambung dan akan menghasilkan berbagai warna sesuai dengan kadar asam lambung saat itu. namun dapat pula terjadi gangguan pada saluran perncernaan bagian bawah. lambung. abu-abu. atau hitam dan terkadang berbentuk seperti ampas kopi. Salah satu kelainan dalam saluran pencernaan adalah hematemesis melena ec peptic ulcer. usus halus) sampai duodenum (proksimal ligamentum Treitz) yang menghasilkan perdarahan pada saluran cerna tersebut. Hasil perdarahan ini. hasil perdarahan tidak dapat memasuki lambung. jika sudah lama bercampur dengan asam lambung maka akan berwarna merah tua. Hematemesis terkadang diikuti oleh melena. Sedangkan jika terjadi perdarahan pada bagian bawah duodenum seperti kolon (perdarahan saluran percernaan bagian bawah/hematokezia). Melena terjadi jika darah hasil perdarahan berjumlah 60 ml dan berada di usus selama 8 jam. beberapa organ dalam saluran percernaan mengalami trauma ataupun gangguan yang menimbulkan beberapa kelainan. Etiologi dari melena tidak hanya terjadi pada saluran percernaan bagian atas. Jika hasil perdarahan langsung dimuntahkan. Namun.1 Hematemesis Melena Hematemesis adalah muntah darah.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Saluran percernaan merupakan rangkaian organ-organ yang berfungsi dalam mengelola bahan makanan menjadi nutrien-nutrien yang dapat diserap oleh tubuh yang akan digunakan dalam proses metabolisme.

d. diare. b. Syok kardiogenik akibat infark miokard atau emboli paru. dan varises. atau luka bakar. sehingga terjadi ketidakseimbangan sistem sirkulasi yang dapat dikaji dari frekuensi denyut jantung. PUD. lembab. muntah. Syok septik akibat pertumbuhan bakteri yang tak terkontrol. Syok neurogenik akibat dari tonus vasomotor yang tidak adekuat. dan koagulopati yaitu muncul purpura dan memar. diabetes. Salah satu penyebab syok hipovolemik adalah perdarahan yang terlalu hebat (hemoragi). Patofisiologi terjadinya syok hipovolemik hemoragi berawal dari proses inflamasi atau trauma yang terjadi akan menghasilkan bradikinin dan histamine. Efeknya terjadi kebocoran pembuluh darah pada jaringan yang 4 . dan suhu tubuh. Penyebab lain perdarahan saluran percernaan bagian atas adalah robekan Mallory-weiss (robekan pada kerongkongan) dan karsinoma lambung. Tanda-tanda yang ditemukan pada pemeriksaan fisik seperti syok hipovolemik akibat banyaknya darah yang keluar dari tubuh. Syok hpovolemik dapat disebabkan oleh perdarahan. Syok berdasarkan etiologinya dibedakan menjadi: a. etiologi dari hematesis maupun melena adalah ulkus peptikum (peptic ulcer disease/ PUD). Syok hipovolemik terjadi jika volume plasma atau darah tidak adekuat. Syok hipovolemik akibat perdarahan yang masif. lesi kongenital. Syok semakin berbahaya jika terjadi kehilangan cairan dengan penurunan asupan oleh sebab apapun.2 Syok Hipovolemik Syok adalah ketidakseimbangan cairan dalam ruang intravaskuler.Pada rentang dewasa muda. diakibatkan oleh tumor. seperti mual. dan tidak dilakukan intervensi yang tepat. Manifestasi klinis yang terjadi yaitu hipotensi. dan sebagainya. luka bakar. takipnea. Syok anafilaktik akibat dari respon imun. trauma. jika cairan yang berkurang mencapai 45% dari volume cairan total. Penyakit hati kronis (CLD). dan sianosis. dan angiodisplasia. e. tekanan darah. 2. dehidrasi. c. kulit yang dingin. Sedangkan pada dewasa akhir (lansia). denyut nadi lemah dan cepat.

Respon yang terjadi berupa vasokontriksi perifer. Angiotensin II membantu perbaikan akibat syok hipovolemik dengan melakukan vasokontriksi pada arteriol otot polos dan mengaktifkan hormone aldosteron. Renin akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I. 2003). 5 . Darah keluar menuju ruang ekstravasikuler akibat trauma atau pembentukan lesi seperti karsinoma. yang kemudian menginduksi respon simpatis terjadi pelepasan norepinefrin dan penurunan ambang dasar tonus nervus vagus. yang selanjutnya akan dikonversi menjadi angiotensin II di paru-paru dan hati. 2003). serta peningkatan kontraktilitas jantung” (Sylvia. pembuluh darah yang menuju ginjal mengalami vasokontriksi yang mengakibatkan perfusi ginjal menurun. dan pembuluh paru normal. “Penurunan perfusi ginjal mengaktifkan mekanisme renninangiotensin-aldosteron” (Sylvia. 2003). robekan pada saluran pencernaan. Peptic ulcer. tekanan arteri rerata juga menurun menyebabkan tekanan darah ikut menurun. Segala respon ini bertujuan untuk mengembalikan curah jantung dan pendistribusian darah yang adekuat sehingga perfusi ke jantung. 2003). Hormone aldosteron berfungsi meningkatkan reabsorpsi natrium dan air oleh ginjal. dan penbuluh darah pulmonal lalu diteruskan ke pusat vasomotor di batang otak. membuat curah jantung menurun. arcus aorta. “Terkumpulnya cairan di dalam ruang non-ECF dan non-ICF membuat cairan terperangkap dan tidak dapat dipakai oleh tubuh karena tempat berkumpulnya cairan berada ruang tertentu yang tidak mudah terjadi pertukaran dengan ECF” (Sylvia. “Penurunan tekanan darah dideteksi oleh baroreseptor di arcus caroticus. otak. atrium kiri. Bradikinin dan histamin berfungsi sebagai vasodilator pembuluh darah. Darah yang seharusnya didistribusikan dengan normal namun berkurang dan berpindah ke ruangan tertentu. Penurunan curah jantung ini diikuti oleh aliran balik vena yang juga menurun. Respon simpatis juga terjadi pada ginjal. heart rate meningkat. “Perubahan ini meningkatkan curah jantung dengan memulihkan volume dan tekanan darah efektif ke nilai normal” (Sylvia.mengalami inflamasi.

1 Terapi Obat Tujuan dari penatalaksaan medis yang diberikan kepada klien dengan peptic ulcer yaitu untuk menetralisir asam. kompensasi yang dilakukan dapat membantu mengembalikan curah jantung dan tekanan darah. Jika hal ini diikuti oleh sekresi asam lambung yang mengandung ion kalium dan hidrogen dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan perfusi jaringan ke organ-organ kecuali jantung dan otak akan menurun.3 Penatalaksanaan Medis Klien Peptic Ulcer 2. “Jika mampu bertahan lebih lama dari kompensasi awal. serta sistem hematologi yang kurang akan mengakibatkan komplikasi pada gangguan elekrolit. Kriteria keberhasilan dari terapi medis yang diberikan yaitu penurunan 6 . Namun. dan aliran darah ke jantung dan otak relative dpertahankan. maka vasokontriksi simpatis dan yang diperantai oleh Angiotensin II akan meningkat. jika cairan yang keluar banyak (1000 ml). maka kekurangan volume pada kondisi di atas disertai dengan alkalosis metabolik dan hipokalemia. membuat alkalosis metabolik atau asidosis metabolik.3. Namun. maka defisit volume cairan akan disertai dengan asidosis metabolik dan hipokalemia. mengurangi aktivitas pepsin dan HCl. membuat ketidakafektifannya perfusi jaringan ke seluruh sistem tubuh.Jika volume cairan yang berkurang tidak banyak (500 ml). 2003)” 2. serta natrium dan kalium. membasmi H. klien akan memasuki tahap kedua yang didominasi oleh insufiensi renal dan ditandai dengan penurunan pengeluaran urin secara progresif sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang berat (Sylvia. Pylory dari saluran pencernaan. walaupun denyut jantung masih cepat. Gangguan ini tergambar dari konsentrasi pada hasil perdarahan yang banyak mengandung natrium dan air. menghambat sekresi asam. Pendistribusian darah yang tidak adekuat akibat dari penurunan jumlah volume darah yang diikuti dengan tekanan darah yang menurun. dan untuk melindungi barier mukosa. Kompensasi yang dilakukan oleh sistem kardiovaskuler. sistem renalis. jika saluran cerna bagian bawah mensekresi bikarbonat dalam jumlah yang besar.

meskipun peningkatan hiperasiditas tidak terjadi ketika klien menghentikan pengobatan. dan omeprazole 20 mg. metronidazole 250 mg. Agen Hyposecretory (1) Antagonis reseptor histamin (antagonis reseptor H2) Antagonis reseptor histamin (antagonis reseptor H2) menutup rangsangan sekresi lambung sehingga hal tersebut efektif terhadap pengendalian penyakit ulkus. Regimen tersebut mengandung clarithromycin 250 mg. manajemen diet.pylory dari saluran pencernaan yang menggunakan regimen. dan nizatidin (axid). Klien biasanya diberikan antagonis reseptor histamin setiap 6 jam untuk pengobatan jangka pendek sampai ulkus sembuh dan setelah mereda. Obat Antibacterial Obat ini berfungsi untuk membunuh H. yaitu simetidein (tagamet). Obat ini digunakan dalam jangka waktu 1 mingggu.rasa sakit. kemudian diberikan sekali sehari pada waktu sebelum tidur. Tipe pertama antagonis reseptor histamin adalah simetidein. yaitu obat antibacterial. Ulkus dapat kambuh setelah pengobatan dihentikan. Antagonis reseptor histamin memiliki empat tipe. mucosal barrier fortifiers. agen hyposecretory. namun terdapat beberapa orang yang menggunakannya lebih dari 1 minggu. a. famotidin (pepcid). mengikuti jadwal pengobatan. b. dan dapat mengidentifikasi stressor dan memiliki cara untuk mengatasinya. klien mengkonsumsi makanan yang telah disarankan dan melaporkan intoleransi terhadap beberapa makanan. Berikut penjelasan dari masing-masing terapi medis yang akan dilakukan. Simetidein (tagamet) digunakan untuk pengurangan penyebab dan pencegahan komplikasi ulkus 7 . ranitidin (zantac). Terdapat beberapa penatalaksanaan medis yang dapat diberikan kepada pasien dengan peptic ulcer.

peptikum. dan ginekomastia sementara (apabila digunakan lebih dari 1 bulan). Ranitidin (zantac) memiliki dua indikasi yaitu pemeliharaan erosif esofagitis dan mencegah kerusakan lambung. Pengobatan lanjutan tidak lebih dari 8 minggu untuk memastikan penyembuhan. phenytoin. sakit kepala. Simetidein harus digunakan hati-hati pada klien dengan kerusakan ginjal karena obat ini di metabolis oleh hati dan di eksresikan oleh ginjal. Simetidein memiliki kontraindikasi terhadap klien yang mana hipersensitifitas terhadap obat dan ibu hamil. Kisaran dosis simetidein yang digunakan pada klien dewasa adalah 800 mg sebelum tidur atau 4 kali sehari sebanyak 300 mg setelah makan dan sebelum tidur selama 4 sampai 6 minggu (gangguan usus) atau 8 minggu (gangguan lambung). Simetidein bereaksi terhadap ophylline. warfarin. Apabila terpasang intravena maka dosisnya tidak melebihi dari 2400 mg/d. pucat. agitasi. Kerja utama dari ranitidin (zantac) adalah menghambat sekresi asam dengan menutup kerja histamin pada reseptor histamin dari sel pariteal di lambung. Pertimbangan keperawatan pada klien yang menggunakan simetidein. Tipe kedua antagonis reseptor histamin adalah ranitidin (zantac). 8 . Simetidein diberikan setelah makan atau sebelum tidur. yaitu: o o o o Jangan memberikan antasida dalam waktu satu jam dari waktu pemberian simetidein. Simetidein dapat menyebabkan bingung. Kerja utama dari simetidein adalah menghambat sekresi asam dengan menutup kerja histamin pada reseptor histamin dari sel pariteal di lambung. diare.

Kisaran dosis famotidin (pepcid) pada klien dewasa adalah 40 mg/d sebelum tidur atau 2 kali sehari sebanyak 20 mg selama 6 sampai 8 minggu. dan dapat diberikan dalam dosis tunggal sebelum tidur. memiliki interaksi rendah terhadap obat lain. Efek samping dari famotidin (pepcid) adalah sakit kepala. bradicardia. boleh diberikan bersamaan dengan antasida.Kisaran dosis ranitidin yang digunakan klien dewasa adalah 2 kali sehari sebanyak 150 mg atau 300 mg sebelum tidur dalam jangka pendek pada ulkus yang aktif. Efek samping dari ranitidin berupa sakit kepala. Pertimbangan keperawatan pada klien yang menggunakan ranitidin (zantac). mual. Kisaran dosis pada klien dewasa dengan ulkus aktif adalah 300 mg sekali dalam sehari sebelum tidur atau 150 mg 2 kali sehari. yaitu: kaji kantuk yang 9 . konstipasi. konstipasi. Kerja utama dari famotidin (pepcid) adalah menghambat sekresi asam dengan menutup kerja histamin pada reseptor histamin dari sel pariteal di lambung. yaitu: jangan diberikan lebih dari 8 minggu. dan berkeringat. dan ranitidin harus digunakan hati-hati pada klien dengan gangguan ginjal. Tipe ketiga antagonis reseptor histamin adalah famotidin (pepcid). dapat diberikan dalam dosis tunggal sebelum tidur. Kerja utama obat sama dengan tipe 1 sampai 3. diare. Tipe keempat antagonis reseptor histamin adalah nizatidin (axid). yaitu: berikan antasida setidaknya 1 jam atau 2 jam setelah ranitidin. Pertimbangan keperawatan pada klien yang menggunkan nizatidine (axid). Efek samping dari nizatidin (axid) adalah diare. Pertimbangan keperawatan pada klien yang menggunakan famotidin (pepcid). ruam bronkospasme. mual. BUN dan kreatinin meningkat. somnolence. tidak ada interaksi terhadap obat lain. nyeri sendi. dan peningkatan enzim liver.

Kategori yang termasuk prostaglandin jenis tersebut adalah misoprostol. Pertimbangan keperawatan berupa: tidak bisa digunakan pada ibu hamil karena obat ini menstimulasi kontraksi uterus. Efek dari obat ini akan terasa setalah 4 sampai 5 jam.berlebihan. Antikolinergis baik diberikan satu jam setelah makan. Pertimbangan keperawatan: obat ini jangan diberikan untuk klien yang mengalami perdarahan karena perutnya dapat menjadi distensi. (3) Antikolinergis Jenis antikolinergis ulkus (bentyl). Dua jenis prostaglandin E1 dan E2. jangan di berikan pada klien dengan 10 . hormon ini tampak dalam berbagai bentuk di hampir setiap jaringan tubuh. harus diberikan selama 4 sampai 8 minggu untuk penyembuhan ulkus. jangan berikan antasida dalam waktu satu jam dari pemberian nizatidin (axid). yang peptikum Cara dapat kerja digunakan obat ini untuk adalah pengobatan hydrochloride adalah dicyclomine menghambat kerja aserilkolin (yang merangsang sel-sel parietal lambung untuk mensekresikan asam) dan karenanya mengurangi sekresi asam. beritahu dokter apabila somnolence meningkat. Efek samping dari penggunaan obat ini adlah diare dan kram (termasuk kram uterus). di sarankan untuk klien dengan terapi obat anti inflamsi dan penggunaan jangka panjang aspirin. mengahalangi sekresi asam lambung. Misoprostol (cytotec) merupakan suatu prostaglandin sintetis yang melindungi mukosa lambung dari agen ulserogenik dan meningkatkan produksi mukus sitoprotektif dan kadar bikarbonat. (2) Prostaglandin Analog Prostaglandin merupakan hormon jaringan lokal yang mana di formulasikan dari asam lemak esensial.

Cara kerja dari obat ini adalah menurunkan sekressi asam lambung dengan memperlambat pompa hidrogen: kalsium adenosin trifosfat (H+. kebingungan. dan sebelum tidur dengan tujuan menjaga pH lambung antara 3-3. dan megakolon.obstruksi uropati. dan hypophosphatemia. Efek samping yang ditimbulkan yaitu konstipasi. disarankan untuk dihansurkan dengan air untuk memastikan antasida masuk kedalam lambung dan tidak mudah larut saat di kerongkongan. Obat ini diminum secara oral 1 jam setelah makan. konstipasi. retensi urin. Terdapat beberpa jenis dari antasida. yaitu: Alumunium hidrosida: berfungsi sebagai penetralisir asam di saluran pencernaan. Saat meminm antasida. (5) Antasida Antasida digunakan untuk mengurangi keasaman. K+. Kocok suspensi sebelum diminum. Kontraindikasinya yaitu digunakan dalam jumlah yang 11 . anorexia. obstruksi GI. Dosis standar yang digunakan adalah 20 mg dalam satu kali sehari selama 4 sampai 8 minggu sebelum sarapan. dan mulut kering. Efek samping dari obat ini dalam penggunaan jangka waktu yang lama dapat menyebabkan tumor lambung dan invasi bakteri. dan jika berbentuk tablet minum dengan air. Berikan alumunium hydroxida 1 jam atau 2 jam setelah makan dan jangan berikan H2 reseptor antagonis dalam jangka waktu 1-2 jam setelah konsumsi alumunium hidroksida atau tertracy cline. obstruksi usus halus.5. Efek samping dari obat ini dapat menyebabkan pusing. -ATpase) pada permukaan sel-sel pariteal. Antasida efektif digunakan untuk waktu yang panjang. (4) Inhibitor Pompa Proton (asam lambung) Jenis dari inhibitor pompa proton (asam lambung) adalah omeprazol.

Efek samping yang ditimbulkan dari obat ini yaitu diare. dan ganti dengan alumunium atau produk kombinasinya. hentikan pengobatan dengan obat ini. pasien tidak boleh mengkonsumsi H 2reseptor antagonis. dan hypophosphatemia. hypercalsemia. dan enteric coated tablets. yang Efek antagonis. Selama 1-2 jam. Kombinasi ditimbulkan alumunium-magnesium: dengan magnesium sama sampingnya yaitu konstipasi ringan atau diare. tetracycline. peningkatan hyperacidity. mual. Obat ini juga tidak boleh dikonsumsi dengan susu. 12 . tetracycline. serta memperkuat barier mukosa lambung dan esophageal sphyncter tone. Selama 1-2 jam. pasien tidak boleh mengkonsumsi H2-reseptor antagonis. Kalsium karbonat: fungsi yang dimilikinya sama dengan magnesium oksida. Selama 1-2 jam. dan enteric coated tablets.besar pada pasien dengan sodium restricted diets karena mengandung garam. pasien tidak boleh mengkonsumsi H2-reseptor aksi oksida. Jika terjadi diare. Efek samping yang ditimbulkan yaitu konstipasi. distensi lambung. tetracycline. Kontra indikasi dari obat ini yaitu kepada pasien dengan gangguan ginjal. Magnesium oksida: berfungsi untuk meningkatkan pH lambung untuk mengurangi aktivitas pepsin. dan kombinasi alumunium-magnesium. dan ganti dengan alumunium atau produk kombinasinya. dan enteric coated tablets. dan hypermagnesema. hentikan pengobatan dengan obat ini. Jika terjadi diare. Kontra indikasi dari obat ini yaitu kepada pasien dengan gangguan ginjal. hentikan pengobatan dengan obat ini. dan ganti dengan alumunium atau produk kombinasinya. Kontra indikasi dari obat ini yaitu kepada pasien dengan gangguan ginjal. Jika terjadi diare.

mengantuk. 13 . Contoh konstipasi. Hindari makanan yang menyebabkan peningkatan keasaman lambung. ketidaknyamanan lambung. barrier dan fortifiers yaitu sulfacrate. d. Keasaman lambung dapat memperparah kondisi peptic ulcer yang dimiliki pasien. seperti kopi. perforasi atau obstruksi pyloric. alkohol. Efek samping yang ditimbulkan yaitu pusing. mucosa barrier fortifiers akan membentuk kompleks protein yang melapisi dan menjadi mantel pelindung. mucosa barrier fortifiers dikonsumsi 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur. Dalam jangka waktu 30 menit pasien tidak boleh mengkonsumsi antasida.3. Sulfacrate paling baik dikonsumsi saat perut masih kosong. Selain itu.2 Intervensi Bedah Intervensi pembedahan dianjurkan untuk klien dengan ulkus yang tidak sembuh (yang gagal untuk sembuh setalah 12 sampai 16 minggu pengobatan medis). yaitu 1 jam sebelum makan dan sebelum tidur. hindari makanan yang dapat meningkatkan keasaman lambung. Manajemen Diet Pada pasien dengan peptic ulcer dan menyebabkan hematemesis melena. hemoragi yang mengancam. dan antroktomi billroth I atau II.c. 2. Prosedur pembedahan mencakup vagotomi. mucosa barrier fortifiers juga akan menstimulasi sekresi mukus ikut berperan dalam penyembuhan peptic ulcer. dari mucosa mual. dan susu. Mucosa barrier fortifiers Mucosa barrier berfungsi mencegah ion hidrigen berdifusi kembali kedalam mukosa lambung. Fungsinya yaitu untuk mneghalangi aksi dari asam dan pepsin.

(1) Vagotomi Trunkus adalah pemotongan saraf vagus kanan dan kiri saat saraf ini memasuki ambung pada bagian distal esofasgus. untuk menurunkasn asma lambung dengan menguangi stimulasi kolinergik pada sel parietal dan membuatnya kurang responsif terhadap gastrin. Vagotomi merupakan suatu tipe prosedur drainase yang berfungsi untuk membantu pengosongan lambung (bila ada denovasi total ke lambung). vagotomi dengan piloroplasti. Vagotomi Vagotomi adalah pemotongan saraf vagus. Tipe vagotomi ini paling umum digunakan mengurangi untuk menurunkan lambung sekresi dan asam usus. perasaan penuh pada lambung. Vagotomi tipe ini biasanya menyertai vagotomi trunkus dan vagotomi selektif. piloroplasti. Ada beberapa tipe vagotomi yaitu vagotomi trunkus. vagotomi selektif. (3) Vagotomi Piloroplasti adalah suatu operasi drainase di mana insisi longitudinal dibuat ke dalam pilorus dan secara transversal dijahit dekat pada pembesaran jalan keluar dan merilekskan otot. diare serta gastritis. Setelah melakukan vagotomi beberapa klien mengalami masalah seperti sindrom dumping. dimana menimbulkan pelambatan pengosongan lambung karena penurunan inervasi. (2) Vagotomi Selektif adalah pemotongan persarafan vagal ke lambung tetapi mempertahankan persarafan pada seluruh abdomen.a. Vagotomi dapat dilakukan untuk mengurangi sekresi asam lambung. dan motilitas Angka dan vagotomi lambung proksimal tanpa kekambuhan ulkus setalah melakukan vagotomi trunkus adalah 10% samapai 15 %. 14 .

15 . (gbr 1.(4) Vagotomi lambung proksimal (sel pariteal) tanpa piloroplasti adalah denevarsi sel pariteal yang mensekresi asam tetapi mepertahanakan inervasi vagal pada antrum dan pilorus lambung. Pada billroth I adanya penurunan terhadap insiden sindrom dumping yang mana sering terjadi setelah prosedur billroth II. Antroktomi Billroth I) (gbr 2. serta menghentikan pendarahan. yaitu hemoragi ditandai dengan timbulnya hematemesis (muntah yang mengandung darah) dan melena (terdapatnya darah pada feses). mencegah dehidrasi dan keseimbangan eletrolit. Billroth I adalah pengangkatan bagian bawah porsi antrum lambung (yang mengandung selsel yang mensekresi gastrin) serta bagian kecil dari duodenum dan pilorus. b. Intervensi yang diberikan untuk klien dengan komplikasi hemoragi bertujuan untuk mengobati syok hipovolemik. Pembedahan dengan teknik billroth II lebih baik dilakukan untuk ulkus duodenal karena angka kekambuhan ulkus lebih rendah dengan prosedur ini sekitar kurang dari 1 %.4 Penatalaksanaan Komplikasi Peptic Ulcer: Hemoragi Komplikasi dari peptic ulcer. Pada vagotomi tipe ini tidak ada sindrom dumping. Berikut tindakan yang dilakukan kepada klien dengan komplikasi dari peptic ulcer: hemoragi. Antroktomi Billroth II) 2. Antroktomi Billroth I dan II Prosedur pembedahan kedua mencakup antroktomi billroth I (gastroduodenosiom) dan billroth II (gastrojejunostomi). Billroth II meliputi reanastomosis perut bagian proksimal ke proksimal jejunum.

Ada beberapa jenis selang nasogastrik yang mempunyai fungsinya masing-masing. yaitu: (Smeltzer & Bare. untuk uji laboratorium. Dalam kasus dikatakan klien memakai selang nasogastrik dengan drainase darah 400 cc/5 jam. d. untuk mendapatkan spesimen isi lambung. dan untuk memberikan obat-obatan atau pemberian makanan (gavase) secara langsung ke dalam saluran gastrointestinal. 16 . b. Lumen ketiga adalah untuk pemberian makanan duodenal. Selang Gastrik Sump Selang ini digunakan untuk dekompresi lambung dan mempertahankannya tetap kosong. Selang Levin Selang ini digunakan pada orang dewasa untuk menghilangkan cairan dan gas dari saluran gastrointestinal atas. Kateter dekompresi mengaspirasi esofagus dan lambung sebagai lavase. Selang Moss Selang dekompresi lambung nasoesofagus moss panjangnya 90 cm (35 inci) dan mempunyai lumen tripel. Selang ini dibenamkan dalam lambung dengan mengembangkan balon.2. Penyakit ini menyebabkan klien kehilangan banyak darah dan cairan sehingga diperlukan salah satu cara penatalaksanaan untuk menjaga keseimbangan cairan dan darah. 2002) a. Selang Nutriflex Selang nasogastrik nutriflex panjangnya 76 cm (30 inci) dan mempunyai ujung dengan pemberat air raksa untuk memudahkan pemasukan. hal tersebut menandakan klien mengeluarkan darah sebanyak drainase darah yang dibutuhkan. c. Pemakaian selang nasogastrik merupakan salah satu cara untuk menjaga keseimbangan tersebut.1 Pemasangan NGT Hematemesis melena ec peptic ulcer merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan perdarahan yang disebabkan oleh adanya area berlubang pada dinding lambung.4.

Kumbah lambung ini akan dilakukan berulang kali memakai air sebanyak 100. dapat dilihat jenis NGT yang cocok untuk klien hematesis melena ec. Pemeriksaan endoskopi dapat segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih. dan pemberian obat-obatan. 1 lumen digunakan untuk mengembangkan balon lambung. mencegah mual dan muntah. Jika dilihat dari jenis-jenis NGT tersebut. Perawat menggunakan sarung yang diperkirakan selama 17 . karena Intubasi nasogastrik digunakan untuk membedakan darah segar dari materi “kopi gelap” membantu menghilangkan bekuan dan asam.150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. Pemberian air pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung. dengan demikian perdarahan akan berhenti. Selang Sengstaken-Blakemore Selang ini digunakan untuk mengatasi perdarahan varises esofagus. c. Mengidentifikasi pemasukan selang. Memasang selang Pasien ditempatkan pada posisi fowler dan handuk dilebarkan menutupi dada. lavage (kumbah lambung) dengan air . Selain itu selang nasogastrik juga dapat memantau pH sekresi lambung dan juga untuk untuk aspirasi cairan lambung.e. Menjelaskan pada klien tentang tujuan selang dan prosedur b. peptic ulcer adalah selang nasogastrik Sengstaken-Blakemore. yang diperlukan sensasi untuk memasang dan memasukkannya. yaitu: a. dan lumen terakhir digunakan untuk lavase lambung dan perdarahan. Adapun intervensi keperawatan untuk intubasi nasogastrik. lumen lain digunakan untuk mengembangkan balon esofagus. Selang ini mempunyai 3 lumen. dan untuk pemantauan lebih lanjut.

Memastikan penempatan selang nasogastrik Sinar X dapat dilakukan. Memberikan higiene dan perawatan oral dan nasal Swab berujung kapas yang dilembabkan dapat digunakan untuk membersihkan hidung. d. batuk. penghisapan trakea atau nasotrakea. Gejala-gejala yang menunjukkan kekurangan volume cairan mencakup: 18 . dan intubasi jalan napas. diikuti dengan pembersihan dengan minyak larut air untuk pelumasan. Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi potensial Pasien dengan intubasi nasogastrik rentan terhadap berbagai masalah. Memantau pasien Pemastian tempat selang penting dilakukan sebelum cairan atau obat dimasukkan. bila diijinkan. Dorong klien untuk bernapas melalui mulut atau napas pendek cepat. Apabila selang mencapai nasofaring. pasien diinstruksikan untuk menurunkan kepala sedikit dan mulai menelan saat selang dimasukkan. Anjurkan pada pasien untuk berkumur dengan cairan anestetik atau menyimpan bata es dalam mulut selama beberapa menit. Ujung hidung klien ditinggikan dan selang disejajarkan masuk orofaring. Berikan privasi dan cahaya yang adekuat. akan tetpi terdapat studi baru yaitu dengan menentukan pH aspirat selang. f. lembabkan atau inhalasi uap dingin mungkin menguntungkan.tangan selama prosedur. Siapkan tisu. Plester nasal diganti setiap 2 hari sekali. yaitu: (1) Kekurangan volume cairan. g. Pasien juga dapat menghisap air melalui sedotan untuk memudahkan pemasukan selang. Perubahan posisi selang dapat disebabkan oleh tegangan selang (bila pasien bergerak disekitar tempat tidur atau ruangan). e. atau menelan air. Bila mukosa nasal dan faring sangat kering.

esofagus. o Jumlah cairan yang dimasukkan dengan irigasi selang nasogastrik dan jumlah air yang diminum. setiap 8 jam. o Air yang diberikan dengan selang pemberian makan. melalui auskultasi untuk menentukan adanya kongesti. o Keseimbangan cairan selama 24 jam. warna. dan trakea rentan terhadap iritasi dan nekrosis. Pasien dikaji untuk adanya esofagitis dan trakeitis. 19 .o Kekeringan kulit dan membran mukosa o Penurunan haluaran urin o Letargi dan kelelahan o Penurunan suhu tubuh Pengkajian kekurangan volume cairan mencakup mempertahankan catatan akurat tentang hal berikut: o Drainase. o Jumlah dan karakter muntahan bila ada. o Perawat mengkaji bidang paru dengan teratur. (3) Iritasi yang berhubungan dengan selang o Perawat mengobservasi membran mukosa akan adanya tanda-tanda iritasi atau kekeringan berlebihan dan mempalpasi area disekitar parotis untuk mendeteksi adanya sariawan atau benjolan dan adanya iritasi kulit atau membran mukosa atau nekrosis. o Durasi adanya periode dimana alat penghisap tambahan tidak berfungsi. Jumlah. o Efek yang dihasilkan oleh pengobatan. o Hidung. (2) Komplikasi paru o Intubasi nasogastrik meningkatkan insiden komplikasi paru pascaoperatif dengan mempengaruhi batuk dan pembersihan faring. dan tipe. mukosa oral.

selama 15 sampai 20 cm. perawat dapat mengklem selang secara intermiten dan melepaskan klem nasogastrik selama periode 24 jam untuk menjamin bahwa klien tidak mengalami mual. Setelah selag diangkat lakukan higiene oral. sisanya ditarik dengan cepat dari hidung. Indikasi pemasangan Nasogastric Tube (NGT) antara lain: (1) Adanya perdarahan gastrointestinal. atau distensi. (8) Dekompresi obstruksi usus. selang dibilas dengan salin normal 10 ml untuk menjamin bahwa selang bebas dari debris dan jauh dari lambung. walaupun perdarahan tersebut diduga berada di saluran gastrointestinal bagian bawah. (4) Memonitor perdarahan yang sedang terjadi dan mendeteksi adanya perdarahan kembali. muntah. b. (7) Rute pemberian nutrisi. Selang ditarik dengan perlahan dan halus. (2) Adanya perdarahan di saluran gastrointestinal bagian atas. Pakai sarung tangan pada saat mengangkat selang. Saat selang ditarik. Sebelum mengangkatnya. Kontraindikasi pemasangan Nasogastric tube (NGT). (5) Sebagai terapi. antara lain: (1) Adanya perdarahan diatesis yang ditunjukkan dengan adanya perdarahan yang tidak terkontrol di bagian nasal. (3) Pemasangan tabung di perut dapat digunakan untuk mendiagnosa permasalahan yang terjadi. Pengangkatan selang Sebelum mengangkat selang. (6) Untuk pemberian obat. Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan NGT (Nasogastric Tube) a.h. (4) Koagulopati parah 20 . (2) Sinusitis. sampai ujung selang mencapai esofagus. pada interval 10 menit. (3) Fraktur maksilofasial. letakkan selang dalam handuk.

Kedua jenis infus set ini memiliki jumlah tetes atau faktor tetes yang berbeda per ml. yaitu cairan yang bertujuan untuk menggantikan cairan seluler.2 Pemberian Terapi Intravena Infus intravena adalah salah satu metode umum pemberian cairan. Makro drip: 20 tetes/cc dan mikro drip: 60 tetes/cc. Terapi intravena digunakan kepada klien untuk menyediakan air.45%.33%.9% natrium klorida). Cairan hipotonik. yaitu dekstrosa 5% dalam salin 0. Jenis infus set yang digunakan dalam pemasangan terapi intravena ada dua yaitu makro drip dan mikro drip. karena larutan ini bersifat hipotonis dibandingkan dengan plasma. 1982). yaitu: a. dan ntrien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. salin 0. b.45%.4. elektrolit. dan pengobatan untuk pasien serta intravena solution merupakan satu-satunya sumber makanan dan cairan untuk banyak pasien akut (Kozier & Erb. larutan ringer lactate. nutrisi. Cara yang dapat dilakukan untuk mengganti cairan yang hilang yaitu dengan memberikan terapi intravena. atau dekstrosa 2. untuk menggantikan air dan memperbaiki kekurangan elektrolit serta untuk menyediakan suatu medium untuk pemberian obat secara intravena. larutan natrium hipotonik digunakan untuk mengatasi hipernatremia dan kondisi hiperosmolar yang lain.5% dalam air.2. Contohnya natrium klorida 0. Cairan isotonis. c. dekstrosa 5% dalam salin normal. Rumus yang digunakan untuk mengitung jumlah tetesan cairan yang dibutuhkan klien permenit yaitu: Ada beberapa jenis larutan intravena. yaitu cairan dengan osmolalitas total yang mendekati cairan ekstraseluler dan tidak menyebabkan sel darah merah mengkerut atau membengkak. atau dekstrosa 5% dalam ringer 21 . Cairan hipertonik. Pada klien yang mengalami kekurangan cairan dan elektrolit akibat hematemesis melena. Pada saat-saat tertentu. Contohnya saline normal (0.

Emboli kateter dapat dengan mudah dicegah dengan mengikuti peraturan sederhana seperti tidak menggunakan gunting di dekat kateter dan tidak menarik kateter melalui jarum penginsersi.laktat yang diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan kalori. Perdarahan dapat dicegah dengan menggunakan spons yang kering dan streil yang harus diletakkan di atas tempat penusukkan pada saat kanul dilepaskan. Penghentian pemberian terapi intravena berkaitan dengan dua kemungkinan bahaya yaitu perdarahan dan emboli kateter. Larutan-larutan ini menarik air dari kompartemen intraseluler ke ekstraseluler dan menyebabkan sel-sel mengkerut. Jika diberikan dengan cepat dan dalam jumlah besar. dapat menyebabkan kelebihan volume ekstraseluler dan mencetuskan kelebihan cairan sirkulatori dan dehidrasi. Jika suatu kateter IV plastik putus. hal tersebut dapat mengalir ke ventrikel kanan dan menyumbat aliran darah sehingga menimbulkan emboli kateter. 22 .

Pasien juga mendapatkan terapi pengobatan untuk masalah perdarahannya.BAB III PEMBAHASAN “Pasien laki-laki berusia 40 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosa medis hematemesis melena ec peptic ulcer.3 3.” 3. Saat ini pasien masih terpasang nasogastric tube (NGT) dengan drainase darah sejumlah 400 cc/5 jam. 3.2.1 Definisi Masalah Klien laki-laki mengalami hematemesis melena ec peptic ulcer sehingga mengalami perdarahan yang mengakibatkan cairan di tubuhnya berkurang (hipovolemik).2.5 3.6 Apakah pengertian hematemesis melena serta etiologinya? Bagaimana proses patofisiologi peptic ulcer? Bagaimana patofisiologi peptic ulcer menyebabkan hematemesis melena? Mengapa hematemesis melena ec. Pasien ada perencanaan pemeriksaan lab untuk evaluasi masalah cairan terkait perdarahan yang muncul.2. Peptic ulcer (NGT dan terapi intravena atau 23 .2 Analisis Masalah 3. Peptic ulcer menyebabkan hipovolemik? Bagaimana penatalaksanaan medis pada klien dengan hematemesis melena ec. Peptic ulcer (obat-obatan)? Bagaimana infus)? 3.4 3.1 3.2.2. Kesadaran compos mentis.7 Apa saja pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk klien dengan hematemesis melena ec peptic ulcer? penatalaksanaan non medis pada klien dengan hematemesis melena ec.2.2. TTV= TD= 90/60 mmHg. Infus terpasang di tangan kiri sejak 2 hari yang lalu.2 3.

2.4 Pembahasan Kasus 24 . Peptic ulcer? 3.3. 3.8 Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan hematemesis melena ec.3 Hipotesis Klien mengalami hipovolemik karena mengalami perdarahan yaitu hematemesis melena yang disebabkan oleh peptic ulcer.

Intervensi yang diberikan untuk klien dengan komplikasi hemoragi bertujuan untuk mengobati syok hipovolemik. klien juga mendapatkan intervensi berupa pemasangan NGT dan pemasangan infus intravena. beberapa organ dalam saluran percernaan mengalami trauma ataupun gangguan yang menimbulkan beberapa kelainan. Syok hipovolemik diakibatkan oleh pendarahan yang masif. Namun dalam prosesnya. yaitu hemoragi ditandai dengan timbulnya hematemesis (muntah yang mengandung darah) dan melena (terdapatnya darah pada feses). 25 .BAB IV PENUTUP Kesimpulan Saluran percernaan merupakan rangkaian organ-organ yang berfungsi dalam mengelola bahan makanan menjadi nutrien-nutrien yang dapat diserap oleh tubuh yang akan digunakan dalam proses metabolisme. Salah satu kelainan dalam saluran pencernaan adalah hematemesis melena. berupa pemberian obat-obatan antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan. Komplikasi dari peptic ulcer. Selain obat-obatan.ec peptic ulcer. Intervensi yang dapat di lakukan untuk menangani komplikasi peptic ulcer: hemoragi.

Smeltzer. Polaski. Rencana asuhan keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. (2000). proses. (2005). intervensi NIC. Arlene L dan Tatro. Lukmann’s core principales and practice of medical surgical nursing. Jakarta: EGC. Buku saku diagnosis keperawatan (diagnosis NANDA. Suzanne E. Brenda G. (1996). Jakarta: 26 . Buku Ajar Keperawatan Klinis. Buku ajar fundamental keperawatan: konsep. Edisi 4. Doenges. Volume 1. 3rd ed. 9th Edition. dkk. (2009). Jakarta: EGC. (2012). Penerbit buku kedokteran EGC. Barbara et al. dan praktik. (2002). Patricia A dan Perry. & Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddath. Philadelphia: WB Saunders Company. Potter. Anne Griffin. dan kriteria hasil NOC). Jakarta: EGC. Nancy R dan Wilkinson. Kozier. Judith M. Marylin E. Jakarta: EGC.DAFTAR PUSTAKA Ahern. Suzane C.