You are on page 1of 9

1. a.) Bagaimana anatomi saluran pernapasan? Jawaban: Anatomi Saluran Pernapasan 1.

Hidung Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membrane mukosa bersilia. Hidung berbentuk pyramid yang tersusun dari tulang, kartilago hialin, dan jaringan fibroaerolar. Hidung dibagi menjadi dua ruang oleh septum nasal. Struktur hidung pada eksternal terdapat folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea yang merentang sampai vestibula yang terletak di dalam nostril. Kulit pada bagian ini mengandung vibrissae yang berfungsi menyaring partikel dari udara yang terhisap. Sedangkan pada rongga nasal yang lebih dalam terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mucus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar mukosa. Udara yang masuk ke dalam hidung akan mengalami penyaringan partikel dan penghangatan dan pelembaban udara terlebih dahulu sebelum memasuki saluran udara yang lebih dalam. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, ssedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mucus. Gerakan silia mendorong lapisan mucus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior di dalam system pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sini partikel halus akan tertelan atau dibatukkan. Lapisan mucus memberikan air untuk kelembaban, dan banyaknya jaringan pembuluh darah di bawahnya akan menyuplai panas ke udara inspirasi. 2. Faring Faring adalah tabung muscular berukuran 12,5 cm. terdiri dari nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Pada nasofaring terdapat tuba eustachius yang menghubungkannya dengan telinga tengah (Ethel Sloane, 2003). Faring merupakan saluran bersama untuk udara dan makanan.

tetapi fungsinya sebagai organ pelindung jauh lebih penting. Erosi bagian . Carina terdiri dari 6-10 cincin tulang rawan. Trakea berjalan dari bagian bawah tulang rawan krikoid laring dan berakhir setinggi vertebra thorakal 4 atau 5. Trakea kemudian bercabang menjadi bronkus principallis dextra dan sinistra di tempat yang disebut carina. dapat timbul erosi di posterior membrane tersebut. Epiglottis juga merupakan batas antara saluran napas atas dan bawah. Meskipun laring terutama dianggap berhubungan dengan fonasi. 4. gerakan laring ke atas. Laring Laring adalah tabung pendek berupa berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh sembilan kartilago. dan fungsi seperti pintu dari epiglottis yang berbentuk daun pada pintu masuk laring.3. Jika benda asing masih mampu masuk melampaui glottis. Trakea tersusun dari 16-20 cincin kartilago berbentuk C yang diikat bersama jaringan fibrosa yang melengkapi lingkaran di belakang trakea (Ethel Sloane. dan letaknya tepat di depan esophagus. dan membentuk fistula trakeoesofageal. Trakea Trakea adalah tuba dengan panjang 10-12 cm yang terletak di anterior esophagus. fungsi batuk yang dimiliki laring akan membantu menghalau benda dan secret keluar dari saluran pernapasan bagian bawah. kartilago krikoid yang merupakan cincin anterior yang lebih dalam dan lebih tebal. Akibatnya. Permukaan posterior trakea agak pipih dibandingkan sekelilingnya karena cincin tulang rawan di daerah itu tidak sempurna. Epiglottis menutup pada saat menelan untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke saluran pernapasan bawah (Ethel Sloane. berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke esophagus. epiglotis yang merupakan katup kartilago yang melekat pada tepi anterior kartilago tiroid. 2003). tiga berpasangan dan tiga lainnya tidak berpasangan. 2003). penutupan glottis. Pada waktu menelan. Tiga kartilago yang tidak berpasangan adalah kartilago tiroid yang berada di bagian proksimal kelenjar tiroid. jika suatu pipa endotrakea (ET) bulat yang kaku dengan balon yang digembungkan dimasukkan selama ventilasi mekanik.

lebar dan lebih dekat dengan trakea. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya . Setiap bronkus primer bercabang membentuk bronkus sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin mengecil dan menyempit. batang atau lempeng kartilago mengganti cincin kartilago (Ethel Sloane. udara tidak dapat memasuki paru kiri dan menyebabkan kolaps paru (ateletaksis). 2003). arah bronkus kanan yang hampir vertical tersebut memudahkan masuknya kateter untuk melakukan pengisapan yang dalam. Bronkiokus berakhir pada saccus alveolaris. yang merupakan percabangan dari trakea. Bronkus kiri terdiri dari lobus superior dan inferior. 2007). Bronkus Bronkus merupakan struktur dalam mediatinum. Namun demikian. Pembengkakan dan kerusakan pita suara juga merupakan komplikasi dari pemakaian pipa ET. Satu pipa ET yang telah dipasang untuk menjamin patensi jalan udara akan mudah meluncur ke bawah. Bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih sempit dibandingkan dengan bronkus utama kanan dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih tajam. Bronkus kanan lebih pendek. ke bronkus utama kanan. dan lobus inferior. jika pipa tidak tertahan dengan baik pada mulut atau hidung. Jika terjadi demikian. tidak memiliki tulang rawan maupun kelenjar di dalam mukosanya (Luiz Carlos Junqueira. Selain itum benda asing yang terhirup lebih sering tersangkut pada percabangan bronkus kanan karena arahnya vertical.anterior menembus cincin tulang rawan dapat juga timbul tetapi tidak sering. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. lobus medius. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk berat jika dirangsang. 5. 6. Bronkus kanan kemudian bercabang menjadi lobus superior. Bronkiolus Bronkiolus merupakan jalan napas intralobular dengan diameter 5 mm. Awal proses pertukaran gas terjadi di bronkhiolus respiratorius.

yang terkadang memiliki alveoli pada dindingnya. Lubang ini memungkinkan hubungan atau aliran udara antar sakus alveolaris terminalis. Alveolus dipidahkan dari alveolus di dekatnya oleh dinding tipis atau septum. Terdapat dua tipe lapisan sel alveolar:pneumosit tipe I. Dalam setiap paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan seluas sebuah lapangan tenis. yaitu tempat pertukaran gas. yang bertanggungjawab terhadap sekresi surfaktan. Alveolus pada hakekatnya merupakan suatu gelembung gas yang dikelilingi oleh jaringan kapiler sehingga batas antara cairan dan gas membentuk tegangan permukaan yang cenderung mencegah pengembangan saat inspirasi dan cenderung kolaps saat ekspirasi. yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli. dan pneumosit tipe II. 7. Paru . tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Tetapi. Bronkiolus tidak diperkuatoleh cincin tulang rawan. dan (3) sakus alveolaris terminalis. seluruhnya dibatasi oleh alveolus. untunglah alveolus dilapisi oleh zat lipoprotein (disebut surfaktan) yang dapat mengurangi tegangan permukaan dan mengurangi resistensi terhadap pengembangan saat inspirasi . merupakan lapisan tipis yang menyebar dan menutupi lebih dari 90% daerah permukaan. yaitu struktur akhir paru. dan mencegah kolaps alveolus saat ekspirasi. Alveolus Setelah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru. Asinus terdiri dari (1) bronkiolus respiratorius. Alveolus hanya mempunyai satu lapis sel yang diameternya lebih kecil dibandingkan dengan diameter sel darah merah.menjadi bronkiolus terminalis.seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas paru. 8. Terdapat sekitar 23 percabangan mulai dari trakea sampai sakus alveolaris terminalis. (2) duktus alveolaris. Lubang kecil pada dinding ini dinamakan pori-pori Kohn.

pembuluh limfe. pulmonalis. alveolus. pulmonalnalis. bronkialis. Paru kanan dibagi menjadi 10 segmen sedangkan paru kiri dibagi menjadi 9 segmen. Respon imun pada paru: A. persarafan. bronkialis. sedangkan paru kiri terbagi menjadi 2 lobus oleh 1 fisura (Ethel Sloane. Paru dibagi menjadi beberapa lobus oleh fisura. atau (3) fagositosis dan pembasmian oleh neutrosil yang direkrut oleh faktor-faktor makrofag. (2) fagositosis oleh makrofag alveolus yang dapat mematikan dan menguraikan mikroorganisme serta mengeluarkannya dari rongga udara dengan bermigrasi ke elevator mukosilia. diafragma. pembersihan mikroorganisme bergantung pada (1 ) kemampuan selimut mukosa menangkap dan mengeluarkan mikroba melalui elevator mukosilia. Paru dilapisi oleh pleura. a. v. dan system limfatik. 2003). Diantara kedua pleura tersebut terdapat rongga pleura yang berisi cairan pleura sehingga memungkinkan paru untuk berkembang dan berkontraksi tanpa gesekan (Ethel Sloane.e). 1. 2003). dan kelenjar limfe. bronkiolus.Paru adalah organ berbentuk pyramid seperti spons dan berisi udara yang terletak di rongga toraks. Paru kanan terbagi menjadi 3 lobus oleh 2 fisura. v. saraf. Pleura terdiri dari pleura visceral yang melekat pada paru dan tidak dapat dipisahkan dan pleura parietal yang melapisi sternum. Paru merupakan jalinan atau susunan bronkus. Komplemen serum dapat masuk ke . bronkiolus respiratori. memicu respon imun dan menyebabkan peradangan. Paru adalah alat pernapasan utama yang merupakan organ berbentuk kerucut dengan apex di atas dan sedikit lebih tinggi dari klavikula di dalam dasar leher. bronkus. Infeksi atau peradangan akan semakin serius jika bakteri yang masuk banyak atau imunitas tubuh melemah. 4. Pada paru non imun. Mekanisme sukar bernapas: Infeksi mikroorganisme: Mikroorganisme masuk ke saluran pernapasan bawah setelah menembus pertahanan imunitas pada saluran nafas atas. Paru memiliki hilus paru yang dibentuk oleh a. dan mediastinum. sirkulasi paru.

1. Riwayat atopi mungkin saja . termasuk yang dimakan oleh fagosit. 2. Peradangan yang terjadi pada parenkim paru melalui cara penyebaran langsung melalui saluran pernapasan atau hematogen sampai ke bronkus. Hal inilah yang menyebabkan hipoksemia dan mekanisme kompensasi berupa peningkatan otot-otot bantu pernapasan. khususnya bronkus terminalis. fibrin dan eksudat ini akan mengisi alveolus dan mengalami konsolidasi. IgG) terdapat dalam cairan yang melapisi alveolus. Hal ini akan menyebabkan masuknya eksudat serosa dari pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. Sehingga timbullah sukar bernapas atau sesak napas. Mekanisme tambahan yang bekerja pada paru imun. Di saluran napas bawah. B. IgG bersifat opsonik.alveolus dan diaktifkan oleh jalur alternatif untuk menghasilkan opsosnin C3b yang meningkatkan fagositosis. 2.c) Bagaimana hubungan riwayat tidak ada atopi dalam keluarga terhadap kasus? Jawaban: tidak ada riwayat atopi dalam keluarga Didi menunjukkan bahwa sesak nafas dan batuk yang dialami Didi bukan akibat atopi. kemudian menjadi bagian yang terkonsolidasi. 3. dapat mencapai kelenjar getah bening drainase untuk memicu respons imun. Terjadi respon inflamasi pada bronkus. sel darah merah. menghasilkan C3b. dan peningkatan sekresi mukus. Terjadi hipersekresi mucus. antibody serum (IgM. Organisme. Terjadi penyempitan saluran napas. Sel-sel PMN . Keduanya mengaktifkan komplemen secara lebih efisien melalui jalur klasik. Pelepasan sitokin-sitokin inflamasi akibat aktivasi makrofag akan menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular dan aktivasi dan kemotaksis netrofil. Sitokinsitokin ini akan menimbulkan reaksi inflamasi di alveolus. Akumulasi sel T imun sangat penting untuk mengendalikan infeksi oleh virus dan mikroorganisme intrasel lainnya. 5. Bronkus terminalis yang tersumbat oleh eksudat. IgA yang disekresikan dapat menghambat perlekatan mikroorganisme ke epitel di daluran napas atas. Selain itu. Pada bagian paru yang mengalami konsolidasi akan menyebabkan pirau darah sehingga proses difusi gas terganggu dan paru-paru sulit mengembang.

513.514.diturunkan pada Didi.015.015.9 <17 86-110 28-36 28-38 250-450 300-700 250-600 250-550 250-550 150-450 150-450 150-450 <16.0 4.020.5 3.3 3.9 <18 95-115 31-37 29-37 250-450 3. Berikut ini ada nilai lab normal pada anak dan dewasa menurut American Academy of Pediatrics : Darah Rutin / Darah Lengkap Usia 0-3 hari 1-2 minggu 1-6 bulan 7 bulan – 2 tahun 2-5 tahun 5-8 tahun 13-18 tahun Laki-laki dewasa Wanita dewasa Hb (g/dL) 15.0 Ht (%) 4561 3957 2942 3338 3439 3542 3647 4150 3644 Eritrosit RDW MCV MCH MCHC Trombosit (x (mill/mm3) (fL) (pg) (%) 103/mm3) 4.6-5.9 4.0 12.0-4.7-4.2 13.5 80-100 26-34 31-37 <14.513.5 12.013.0-4. jumlah eosinofil normal dan tidak ada wheezing.9 3.518.9-5.5 74-96 25-35 30-36 <16 <15 <15 70-84 23-30 31-37 75-87 24-30 31-37 77-95 25-33 31-37 <14.5-5.a) Interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan laboratorium: Nilai laboratorium normal (rujukan) pada anak bisa berbeda tergantung pada metode dan reagent yang dipergunakan oleh laboratorium atau rumah sakit masing-masing.5 78-96 25-35 31-37 <14.5 10.5-5. Informasi ini untuk menyingkirkan diagnosis banding yang lain seperti asma atatu bronchitis akut.5 4.0 10. Tampak dari hitung jenis leukosit.1 4.1-4.0 11.0-5.516.5 80-100 26-34 31-37 Sel Darah Putih dan Hitung Jenis Usia Leukosit Seg Bat Limf Mono Eos Bas .5 12. 3.0 11.

0-20.5-13.5 23-45 5-11 35-65 3-6 5-8 tahun 5.9 gr/dl 10-13 gr/dl Ht: 34 vol% Leukosit: 33-38 vol% 6.0 14-34 6-14 36-45 6-10 1-6 bulan 6.5% Hasil Pemeriksaan Nilai normal Interpretasi Hb: 11.0 35-66 5-11 24-44 3-6 Seg = neutrofil segmen Bat = neutrofil batang Limf = limfosit Mono = monosit Eos = eosinofil Bas = basofil 0-2 0-2 0-3 0-3 0-3 0-3 0-3 0-3 0-1 0-1 0-1 0-1 0-1 0-1 0-1 0-1 Laju Endap Darah (LED) and Hitung Retikulosit Laju endap darah.8% Dewasa 0.5 32-54 5-11 28-48 3-6 13-18 tahun 4. Westergren Anak Pria dewasa Wanita dewasa Sedimentation rate.0-14.0 32-62 10-18 19-29 5-7 1-2 minggu 5.5 13-33 4-12 41-71 4-7 7 bulan – 2 tahun 6.(x 103/mm3) 0-3 hari 9.000- Normal Normal Relative Leukositosis .0 15-35 5-11 45-76 3-6 2-5 tahun 5.0 34-64 5-11 25-45 3-6 Dewasa 4. Wintrobe Anak Pria dewasa Wanita dewasa Hitung Retikulosit 0-20 mm/jam 0-15 mm/jam 0-20 mm/jam 0-13 mm/jam 0-10 mm/jam 0-15 mm/jam Newborns (<28 hari) 2%-6% 1-6 bulan 0%-2.5-11.0-35.0-17.5%-1.5-15.0-17.

000/mm3 0-1/0-3/511/15-35/4576/3-6 Menurun Normal/normal/rendah/meningkat/menurun/menurun CRP: (-) .000/mm3 LED 18 mm/jam 17.000/mm3 Westergreen: 0-20 mm/jam Wintrobe: 013 mm/jam Westergreen: menurun Wintrobe: meningkat Trombosit: 220.000600.15.000/mm3 Hitung jenis: 0/2/1/75/20/2 250.