You are on page 1of 23

ASUHAN KEPERAWATAN

SALAM KENAL DARI TEGUH PRAYITNO No hp 6285643787316

my partner site

http://www.sketsarumahidaman.blogspot.com

Tampilan slide

.

.

.

September 10.Blog ini Di-link Dari Sini my partner site tanpa kerja dapat uang Web Blog ini Di-link Dari Sini my partner site tanpa kerja dapat uang Web Kamis. 2009 .

Bila tidak ditangani. penggunaan antibiotic yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koalesens akut menjadi jarang. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan mastoid. yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. meskipun otitis media dengan efusi lebih banyak terdapat pada anak yang telah sembuh dari otitis media akut dan biasanya dikenal dengan “glue ear”. Etiologi . Ada 3 ( tiga ) jenis otitis media yang paling umum ditemukan di klinik. Secara teori. kehilangan pendengaran sensorineural dan/ atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam) dan abses otak. Cranial VII ). Sekarang. dan beberapa dari infeksi kronik ini. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrane timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. Bila terjadi pada orang dewasa. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrane timpani.ASKEP otitis media OTITIS MEDIA Pengertian Otitis media adalah inflamasi pada bagian telinga tengah. kolesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralysis nervus fasialis ( N. Otitis media sebenarnya adalah diagnosa yang paling sering dijumpai pada anak – anak di bawah usia 15 tahun. dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma. Sebelum penemuan antibiotic. tidak ada agen penyebab definitive yang telah diidentifikasi. Otitis media kronik sendiri adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah mengalami radioterapi dan barotrauma ( eg : penyelam ) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustachii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. yaitu : · Otitis Media Akut · Otitis Media Serosa (Otitis media dengan efusi) · Otitis Media Kronik Otitis media akut adalah keadaan dimana terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi. infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. Mastoiditis kronik lebih sering. Pada penyakit ini. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tak ditangani. penyebab lain yang mendasari terjadinya disfungsi tuba eustachii harus dicari. Otitis media serosa / efusi adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah tanpa adanya tanda dan gejala infeksi aktif. yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam ( epitel skuamosa ) dari lapisan luar membrane timpani ke telinga tengah. Kulit dari membrane timpani lateral membentuk kantong luar. cairan ini sebagai akibat tekanan negative dalam telinga tengah yang disebabkan oleh obstruksi tuba eustachii.

Hemophylus influenzae. dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah. Patofisiologi Pada gangguan ini biasanya terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran nafas atas. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( eg : rhinitis alergika). Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif. tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ).Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. yang terjadi ketika tuba eustachii berusaha membuka. inflamasi jaringan disekitarnya (eg : sinusitis. sehingga timbul tekanan negative di telinga tengah. Streptococcus pyogenes. bila terjadi rupture membrane tymphani · Keluhan nyeri telinga ( otalgia ) · Demam · Anoreksia · Limfadenopati servikal anterior v Otitis Media Serosa Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abu-abu pada otoskopi pneumatik. dapat mengalami perforasi. Manifestasi Klinis v Otitis Media Akut Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. atau bahkan suara letup atau berderik. . · Otorrhea. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. Cara masuk bakteri pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi secret dalam nasofaring. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. dan Moraxella catarrhalis. · Membrane tymphani merah. Sebaliknya. terdapat gangguan drainase cairan telinga tengah dan kemungkinan refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang secara normal bersifat steril. sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran tymphani. rasa penuh atau gatal dalam telinga atau perasaan bendungan.

pilihan kedua – digunakan bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksisilin – adalah amoksisilin dengan klavulanat (Augmentin . dan status fisik klien Antibiotik dapat digunakan untuk otitis media akut. Kemungkinan komplikasinya adala atrofi membrane timpani. dapat diberikan eritronmisin dan sulfonamide atau trimetoprim – sulfa. dianjurkan untuk melakukan miringotomi. Selang itu umumnya lepas sendiri setelah 6 sampai 12 bulan. dan kolesteatoma. Kolesteatoma. dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani). Pemeriksaan Diagnostik 1. Pada klien yang alergi penisilin. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. Hal ini memungkinkan ventilasi dari telinga tengah. timpanosklerosis (parut pada membrane timpani). atau trimetoprin sulfametoksazol. terapi yang umum dilakukan adalah menunggu. Evaluasi otoskopik membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi.v Otitis Media Kronik Gejala dapat minimal. Penatalaksanaan Medis Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada efektifitas terapi ( e. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Untuk otitis media serosa yang persisten. mengurangi tekanan negative dan memungkinkan drainase cairan. Miringotomi adalah prosedur bedah dengan memasukkan selang penyeimbang tekanan ke dalam membrane timpani. dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Untuk otitis media serosa ( otitis media dengan efusi ). Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar 2. dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang perforasi. Pilihan pertama adalah Amoksisilin. Kultur dan uji sensitifitas . Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan membrane timpani 3. perforasi kronik. Keadaan ini umumnya sembuh sendiri dalam 2 bulan.g : dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi ). dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN OTITIS MEDIA Pengkajian o Kaji adanya perilaku nyeri verbal dan non verbal . virulensi bakteri. Hasil audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. sefalosporin generasi kedua). sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri.

Diagnosa Keperawatan v Nyeri R/t Inflamasi pada jaringan telinga tengah v Perubahan Sensori – Persepsi .o Kaji adanya peningkatan suhu (indikasi adanya proses infeksi) o Kaji adanya pembesaran kelenjar limfe di daerah leher o Kaji status nutrisi dan keadekuatan asupan cairan berkalori o Kaji kemungkinan tuli. Auditorius R/t Gangguan penghantaran bunyi pada organ pendengaran. Ekspresi wajah. Auditorius R/t Gangguan penghantaran bunyi pada organ pendengaran v Gangguan Body Image R/t paralysis nervus fasialis . touching. atau . facial palsy v Ancietas R/t Prosedur pembedahan . imajinasi terbimbing. dll v perubahan sensori – persepsi . Miringopalsty / mastoidektomi Intervensi Keperawatan v Nyeri R/t proses inflamasi pada jaringan telinga tengah Tujuan : Penurunan rasa nyeri Intervensi : o Kaji tingkat intensitas klien & mekanisme koping klien o Berikan analgetik sesuai indikasi o Alihkan perhatian klien dengan menggunakan teknik – teknik relaksasi : distraksi. menunjuk. Tujuan : memperbaiki komunikasi Intervensi : o mengurangi kegaduhan pada lingkungan klien o Memandang klien ketika sedang berbicara o Berbicara jelas dan tegas pada klien tanpa perlu berteriak o Memberikan pencahayaan yang memadai bila klien bergantung pada gerab bibir o Menggunakan tanda – tanda nonverbal ( mis.

DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. v Ancietas R/t prosedur pembedahan . o Informasi mengenai pembedahan dan lingkungan ruang operasi penting untuk diketahui klien sebelum pembedahan o Mendiskusikan harapan pasca operatif dapat membantu mengurangi ansietas mengenai hal – hal yang tidak diketahui klien.A. Danielle. pola aktivitas dengan melakukan aktivitas yang berat. atau sering terpajan dengan asap rokok.. Patofisiologi edisi 4 buku 2. Buku Ajar Patologi II edisi 4. o Kaji tingkat kecemasan klien dan anjurkan klien untuk mengungkapkan kecemasan serta keprihatinannya mengenai pembedahan.& Jane Charette.& Lorraine M. miringoplasty / mastoidektomi. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.. EGC. Price. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 1997. Jakarta. Gale. EGC. v Gangguan Body Image R/t paralysis nervus fasialis o Kaji tingkat kecemasan dan mekanisme koping klien terlebih dahulu o Beritahukan pada klien kemungkinan terjadinya fasial palsy akibat tindak lanjut dari penyakit tersebut o Informasikan bahwa keadaan ini biasanya hanya bersifat sementara dan akan hilang dengan pengobatan yang teratur dan rutin. Sylvia. 1995. Jakarta. RN. EGC. Jakarta. Jakarta..RN. 1996.. EGC. Pemeriksaan Fisik · Tanda-tanda vital . 1995.gerakan tubuh ) dan bentuk komunikasi lainnya.. Robbins & Kumar. o Instruksikan kepada keluarga atau orang terdekat klien tentang bagaimana teknik komunikasi yang efektif sehingga mereka dapat saling berinteraksi dengan klien o Bila klien menginginkan dapat digunakan alat bantu pendengaran.Wilson. PENGKAJIAN Riwayat Penyakit Riwayat merokok pada pasien.MS.

yang timbul di dalam paru atau mediastinum. BB menurun. mukolitis. dyspepsia atau disfagia. Tumor paru dapat berupa benigna atau meligna. mediastinoskopi. muntah. stomatitis. biopsi skala nodus : untuk menentukan massa kanker. tomografi paru dan MRI : untuk menentukan adanya massa.Tekanan darah menurun dan nadi cepat. bronkoskopi dengan menyikat atau mencuci. Pemeriksaan Diagnostik · Foto ronsen torak. · Sitologi sputum. · Sistem Kardiovaskuler Tekanan darah menurun. IIIa. Pembedahan untuk pasien dengan NSCLC stadium I. dan sianosis. · Sistem Pencernaan Anoreksia. mual. · Titer enzim Carcynoembrionic Antigen (CEA) : kadar CEA yang tinggi mengindikasikan kehadiran tumor yang semakin ekstensif. suara nafas menurun/menghilang & adanya suara tambahan seperti rale (krekels). ronki dengan auskultasi. nadi cepat. jarum biopsy. · Sistem muskuloskeletal Kelemahan. KONSEP DASAR PENDAHULUAN Kanker paru merupakan suatu bentuk keganasan dari system pernafasan bagian bawah yang bersifat epithelial dan berasal dari mukosa bronkus. radiasi dan kemoterapi. Penatalaksanaan/ pengobatan Rejimen pengobatan yang paling sering adalah kombinasi dari pembedahan. mengi. · Torakotomi bila jaringan tidak dapat diperoleh. Tumor paru maligna dapat primer. II. Perubahan pada pola dan frekuensi pernafasan. Scan CT dada. penurunan massa otot/jaringan · Sistem Pernafasan Dispnea. atau dapat merupakan metastasis dari .

Karsinoma bronkogenik adalah tumor maligna yang timbul dari bronkus. Adenoma bronchial adalah tumor yang tumbuh lambat. Banyak tumor paru timbul dari epitelium bronchial. biasanya benigna. Proses ini dapat terjadi selama waktu yang lama. tetapi ada beberapa factor risiko yang erat hubungannya dalam peningkatan insidens penyakit ini. emisi kendaraan bermotor. antara lain : · Merokok (perokok I) Kanker paru adalah sepuluh kali lebih umum terjadi pada perokok dibandingkan pada bukan perokok. dan polutan pabrik. · Polusi udara Berbagai karsinogen telah diidentifikasi dalam atmosfer termasuk sulfur.tumor primer dimanapun di dalam tubuh. seperti arsenik. diidentifikasi melalui jenis selnya. Tumor seperti ini adalah epidermoid. dll. asbestos. · Radon Radon adalah gas tak berwarna. · Perokok kedua Individu secara involunter terpajan pada asap rokok dalam lingkungan yang dekat berisiko terhadap terjadinya kanker paru. tidak berbau terdapat dalam tanah. Tumor tumbuh di dalam dan di antara alveoli dan bronki. biasanya terletak dalam bronki yang besar atau mungkin adenokarsinoma yang timbul jauh di luar paru. mendorong alveoli dan bronki sejalan dengan pertumbuhan mereka. gas ini dikaitkan dengan pertambangan uranium. ETIOLOGI Etiologi dari Karsinoma bronkogenik sebenarnya belum diketahui. Diet rendah vitamin A berkaitan dengan terjadinya kanker paru. · Pemajanan okupasi Pemajanan kronik terhadap karsinogen industrial. · Vitamin A Vitamin A berkaitan dengan pengaturan diferensiasi sel. menyebabkan beberapa gejala atau tidak sama sekali. tetapi mereka dapat sangat vascular dan oleh karenanya menimbulkan gejala-gejala perdarahan dan obstruksi bronchial. Tumor paru metastatik seringkali karena aliran darah membawa sel-sel kanker yang bebas dari kanker primer dimana saja di dalam tubuh ke paru. . Juga terdapat beberapa tipe kanker paru intermediate atau jenis yang tidak dapat dibedakan.

· Hemoptisis. dispnea. kedalaman pernafasan. sianosis. menggunakan otot-otot aksesori dan/atau sianosis. · Disfagia. anoreksia. BB menurun. R/ : perubahan dalam pola dan/atau frekuensi pernafasan. mengi. Gangguan pertukaran gas b. tanpa sputum. kaji penurunan atau hilangnya ventilasi.· Factor lain-lain Termasuk factor predisposisi genetic dan penyakit pernafasan lain seperti PPOM dan Tuberkulosis. kaji frekuensi. mengi. · Anemia tampak pada akhir penyakit RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Kemungkinan-kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang bisa muncul pada klien : 1. dan mudah timbul dispnea. · Nyeri pada bahu. sesak nafas. dan adanya suarasuara tambahan seperti rale (krakels). keletihan. purulen dalam berespons terhadap infeksi sekunder · Pasien demam terjadi sebagai gejala dini dalam berespons terhadap infeksi yang menetap pada area pneumonitis ke arah distal tumor. lengan dan dada. atau menggunakan otot-otot Bantu nafas mungkin mengindikasikan distress pernafasan dan memerlukan intervensi segera.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi dari paru dengan permukaan yang terkena kanker. dispnea. auskultasi suara nafas. · Sindrom vena kava superior · Edema kepala dan leher · Gejala efusi pleura atau pericardial. Batuk mulai sebagai batuk kering (hacking). tapi berkembang sampai titik dimana bentuk sputum yang kental. Tujuan : okisgenasi jaringan dapat dipertahankan Intervensi : 1. MANIFESTASI KLINIS · Gejala kanker paru paling sering adalah batuk. 2. . ronki.

anjuran untuk batuk efektif dan nafas dalam R/: membantu untuk mengeluarkan sekresi. R/: difusi dan pertukaran Oksigen dan Karbondioksida dipengaruhi jika ketersediaan permukaan jaringan berkurang atau menurun dan mungkin mengakibatkan ketidakseimbangan asam basa yang memerlukan intervensi segera. . berikan bronkodilator sesuai kebutuhan R/: meningkatkan terbukanya jalan nafas. gelisah. 9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. 7. 3. Tujuan : pasien makan cukup makanan untuk mempertahankan BB dalam 5 % BB dasar. berikan oksigen sesuai kebutuhan. kaji perubahan kesadaran. anjurkan minum minimal 2 liter per hari R/: peningkatan masukan cairan diperlukan untuk menghilangkan sekresi dan lebih mudah untuk membatukkannya. status mental.R/ : suara nafas menurun/hilang mengindikasikan kolaps paru atau adanya suara tambahan mengindikasikan kebutuhan intervensi tambahan. berikan posisi semi fowler atau fowler tinggi atau izinkan untuk duduk di kursi R/: meningkatkan potensi ventilasi secara maksimal. 2. 4. 6. kaji hasil analisa gas darah jika dilaksanakan. 5.d tidak mampu mencerna makanan. berikan antibiotik sesuai pesanan R/: infeksi muncul dan hilang secara teratur pada permukaan paru karena adanya pertukaran gas. berikan aerosol atau pengobatan nebulizer sesuai kebutuhan R/: meningkatkan potensial ventilasi maksimum 10. R/: membantu mempertahankan oksigenasi jaringan adekuat tanpa menekan pusat kendali pernafasan. 11. R/: adanya hal-hal ini mungkin mengindikasikan penurunan oksigenasi jaringan otak. 8. biasanya dengan kanula 2-3 liter/menit. peka rangsang.

kelemahan. 9. 2. mukolitis. berikan perawatan mulut sebelum makan dan atau anestesi local/topical jika ada masalah nyeri mulut/oral. muntah (berapa kali dan jumlah). kalori. 10. R/: stomatitis dari kemo/radioterapi dapat menyebabkan mukosa kering. kaji adanya rasa cepat kenyang. penurunan massa otot/jaringan. berikan obat antiemetik sebelum makan R/: mencegah mual dan muntah dan meningkatkan pemasuka makanan yang adekuat. 6. dyspepsia. R/: meningkatan kelembaban dalam rongga mulut yang merupakan efek samping dari radiasi. 8. atau disfagia. kaji adanya anoreksia. iritasi dan amat nyeri yang membuat kesulitan untuk makan. kakeksia R/: akibat dari pengaruh metabolic tumor pada metabolisme tubuh dan jeratan-jeratan nutrien dengan memecah sel tumor secara cepat. yang membuat kesulitan bernafas. tawarkan saliva buatan jika ada masalah mulut kering. berikan kemoterapi saat malam hari R/: menurunkan stimulus pada pusat muntah dan mengurangi mual berkaitan dengan peningkatan waktu tidur. 5. R/: meningkatkan pemasukan makanan 4. . jika ada anjuran pasien untuk makan saat tidak merasa lapar. mual. dan atau cairan pengganti yang mumdah dikonsumsi. stomatitis. tawarkan makanan sedikit tapi sering. R/: mencegah distensi berlebihan dari lambung yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma. kaji makanan yang disukai dan atau yang tidak disukai R/: memberikan informasi untuk perencanaan diet 3. R/: tanda dan gejala yang b. kaji penurunan BB.d kemoterapi atau radiasi yang mempengaruhi mukosa oral atau gastrointestinal yang membuat pencernaan makanan jadi sulit. 7. tawarkan kudapan dengan tinggi protein.Intervensi : 1.

13. R/: makanan yang mudah dicerna. 3. dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat diatasi : mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan. . R/: meningkatkan masukan karena bau dan stimulasi berlebihan dan tidak enak dapat meningkatkan ansietas dan mual. gunakan satu sistem pendekatan yang tenang yang meyakinkan. brendi. Koping tidak efektif b. 5. beri obat untuk menurunkan ansietas sesuai kebutuhan.d merasakan ancaman pada diri sehubungan dengan kanker. tawarkan makanan lunak yang dihaluskan seperti es krim dan pudding.d diagnosis kanker dan prognosis tidak menentu. atau megace sebelum makan. 11. R/: meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah 4. 2. dukung penggunaan mekanisme pertahanan yang sesuai R/: mekanisme pertahanan membantu dalam koping selama periode stress. R/: meningkatkan kepercayaan pada lingkungan 3. kaji tanda dan gejala adanya ansietas R/: membantu dalam mengidentifikasi berat-ringannya ansietas.R/: memberikan masukan tinggi kalori dan protein untuk emmpertahankan cadangan protein dan mencegah keletihan. Tujuan : tingkat kecemasan menurun dan terpelihara pada tingkat yang dapat diterima. R/: tindakan untuk menstimulasi nafsu makan. tidak menimbulkan iritasi pada saluran gastrointestinal. lakukan teknik mendengar aktif R/: mendorong pengungkapan perasaan. warna yang menarik dan bebas dari bau lingkungan. kekuatiran. 12. 4. tawarkan makanan yang bersih. Intervensi : 1. Tujuan : ansietas. tawarkan anggur. Ansietas b.

edisi 8. FRCS. EGC. Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat. R/: membantu pasien dalam membangun kepercayaan pada tenaga kesehatan 2. MB. dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai R/: meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah. R/: memberikan informasi dan dukungan dari orang lain dengan pengalaman yang sama. Edisi 11. Yogyakarta.. edisi 3. 6. 1992. berikan sumber-sumber spiritual jika diperlukan R/: untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Jakarta. 3. kenalkan pasien pada seseorang atau kelompok yang telah memiliki pengalaman penyakit yang sama.A. Hipokrates. gunakan pendekatan yang tenang dan berikan satu suasana lingkungan yang dapat diterima. Cecily L. nilai kebutuhan atau keinginan pasien terhadap dukungan social R/: memenuhi kebutuhan pasien. Jakarta. Gadjah Mada University Press. evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan. 5.Intervensi : 1. Jakarta. Ludman. 7.F. 4. Harold. Petunjuk Penting pada Penyakit THT. • . Buku Saku Keperawatan Pediatri. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. 2002 Dudley. EGC. dorong sikap harapan yang realistis R/: meningkatkan kedamaian diri. 1996 Smeltzer. Suzanne C.. H.. R/: membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan. DAFTAR PUSTAKA Betz.

Tampilan slide .