KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmatnya penulis telah dapat menyelesaikan refrat yang berjudul “demam typhoid”. Dimana bahan-bahan yang dipergunakan diperoleh dari berbagai sumber. Terima kasih kami sampaikan sedalam-dalamnya kepada dr. Pulung M Silalahi,SpA atas kesediaan waktu dan tempat yang diberikan sebagai pembimbing refrat ini, dan kepada teman – teman sejawat yang selalu mendukung memberi saran dan motivasi, bimbingan dan kerjasama yang baik sehingga dapat terselesaikannya refrat ini. Meskipun tim penulis sudah berusaha dengan segenap kemampuan, namun saya menyadari bahwa dalam refrat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya gunakan sebagai acuan dalam membuat tugas-tugas selanjutnya. Semoga refrat ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan semoga Tuhan senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kepada kita semu. Amin

Jakarta, 22 April 2011

Penulis

1

DAFTAR ISI 2 .

nyeri kepala. Gejala klinis pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. sanitasi lingkungan dan kebersihan individu yang kurang baik. Komplikasi pada usus halus jarang terjadi. Selama masa inkubasi dapat ditemukan gejala prodormal. tetapi lebih sering bersifat sporadik. Relaps dapat terjadi pada minggu ketiga setelah suhu badan normal kembali. tetapi dapat menjadi fatal. asupan makanan yang kurang atau suhu tubuh yang tinggi 3 . dan peritonitis.BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid terdapat di seluruh dunia dan penyebarannya tidak tergantung pada iklim. Insiden tertinggi didapatkan pada anak. Hal ini disebabkan karena penyediaan air bersih. Masa tunas rata – rata 10 – 20 hari. perforasi usus. Demam typhoid dapat ditemukan sepanjang tahun. terpencar – pencar di suatu daerah. dan juga bisa disertai gangguan kesadaran. dan tidak bersemangat. pusing. Komplikasi di luar usus dapat terjadi oleh karena lokalisasi peradangan akibat sepsis.anak dibandingkan orang dewasa dan tidak ada perbedaan yang nyata antara insidensi demam typhoid pada wanita dan pria. lesu. Di Indonesia demam typhoid jarang dijumpai secara epidemik. dan jarang menimbulkan satu kasus pada orang – orang serumah. terjadinya infeksi sekunder. Typhoid abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu. tetapi lebih banyak dijumpai di negara – negara sedang berkembang di daerah tropis. gangguan saluran cerna. yaitu perdarahan usus. yaitu perasaan tidak enak badan.

tidak berspora. dan antigen Vi.0. D. C. Masa tunas berkisar antara 10 hari sampai 20 hari. bergerak dengan rambut getar. kurangnya derajat 4 . Dimana negara maju insidensi sangat menurun sekali. tetapi dapat mati dengan pemanasan dengan suhu 130°F (54.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Epidemiologi Cara penyebaran demam tifoid sangat berbeda di negara maju dengan negara berkembang.4°C) selama 1 jam atau dengan pemanasan dengan suhu 140°F (60°C) selama 15 menit. yaitu antigen O ( somatik. Di Indonesia penyakit ini jarang endemik. basil gram negatif. dan kebanyakan mikroorganisme dapat dimusnahkan dengan cepat oleh sama lambung pH ≤ 2. Di negara yang sedang berkembang Salmonella enterica serotype typhii dan Salmonella enterica serotype paratyphii merupakan bakteri yang paling sering menimbulkan demam tifoid dengan angka insidensi mortalitas kurang dari 1 %. Mempunyai sekurang – kurangnya 3 macam antigen. B. Definisi Demam Tifoid ( Typhoid fever ) adalah penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhii dan Salmonella enterica serotype paratyphii yang menyerang saluran cerna dan ditandai dengan atau tanpa gangguan kesehatan. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Kurangnya kadar asam lambung. antigen H ( flagela ). Diagnosis ditegakan dari anamnesa. Bakteri ini tahan dari berbagai agen fisik. Patogenesis Kuman masuk bersama makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella typhii atau Salmonella paratyphii. terdiri dari zat kompleks liposakarida ). Dalam serum penderita terdapat zat anti ( IgA ) yang memiliki antigen terhadap bakteri Salmonella enterica serotype typhii dan Salmonella enterica serotype paratyphii tersebut. Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhii dan Salmonella enterica serotype paratyphii. Asam lambung menghambat multiplikasi dari kuman ini.

hiperplasia jaringan dan nekrosis dari organ. kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah selama 24 – 72 jam ( mengakibatkan bakterimia asimptomatik ) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. dan dapat mengakibatkan perforasi. berkembang biak. Sebagian dikeluarkan bersama feses dan sebagian masuk sirkulasi setelah menembus usus. malaise. Selanjutnya kuman akan bermigrasi ke lamina propia. dan gangguan organ lainnya. serosa usus. E. maka kuman dapat menembus sel epitel usus walaupun tidak dapat ditemukan rusaknya sel epitelial maupun ulcerasi sel epitel. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga lapisan otot. gangguan mental dan kesadaran. mialgia. Terjadi reaktifasi dari makrofag dan terjadi beberapa pelepasan mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam. kardiovaskuler. dan berkompetisi dengan flora normal usus. kuman dapat masuk ke dalam kantung empedu.pengosongan lambung yang terlalu cepat. Didalam hati. dan besarnya inokulum dapat membuat kuman Salmonella ini dapat mencapai usus halus. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik dan jika terdapat penurunan motilitas usus ( obat. dan bersama cairan empedu dieksresikan ke dalam lumen usus. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasi akibat akumulasi sel-sel PMN di dinding usus. maupun kelainan anatomi kongenital ). Gejala Klinis Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan dibandingkan dengan penderita dewasa. pernapasan. Selanjutnya melalui duktus torasikus. Di lamina propia kuman berkembang biak dan karena proses peradangan dapat timbul proses peradangan dan kuman difagosit terutama oleh makrofag dan lekosit PMN. Di organ – organ retikuloendotelial ini kuman meninggalkan makrofag dan berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah kembali selama beberapa hari sampai 2 minggu ( bakterimia II ) yang disertai tanda – tanda penyakit infeksi sistemik. Gejala 5 . serta gangguan koagulasi. Kuman mencapai usus halus dan usus besar kuman bermultiplikasi. sakit perut. Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler sehingga dapat menyebabkan timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik.anak .keasaman pada neonatus maupun anak . instabilitas vaskuler. Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plak peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesentrika. Di dalam plak peyeri makrofag hiperaktif dan menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan serta menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. sakit kepala.

perasaan tidak enak pada perut. Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala infeksi akut sama seperti penyakit lain. dalam minggu kedua gejala lebih jelas berupa demam tinggi. yaitu demam. Biasanya timbul pada minggu ketiga. splenomegali. Secara klinis perdarahan hebat yang membutuhkan pembedahan dapat ditegakan apabila terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/KgBB/jam. perdarahan juga dapat terjadi karena faktor gangguan koagulasi darah sehingga dapat terjadi komplikasi lain yaitu syok. Perdarahan saluran cerna Pada plak peyeri usus yang terinfeksi. miokarditis. nyeri otot. dan epistakis. angka motralitas cukup tinggi sekitar 10-32 %. Bila penanangan terlambat. Bila luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah maka terjadi perdarahan. Tandatanda perforasi yang lain adalah nadi cepat. pankreatitis.klinis yang timbul bervariasi dari ringan sampai berat. Bila pada gambaran foto polos abdomen (BNO 3 posisi) ditemukan udara pada rongga peritoneum atau subdiafragma kanan. 6 . obstipasi atau diare. muntah. Komplikasi Komplikasi sering terjadi apabila penanganan yang terlambat maupun tatalaksana yang kurang adekuat. Bising usus melemah pada 50% penderita. perforasi usus) dan komplikasi ekstraintestinal (hematologi. batuk. dapat terbentuk tukak. Sifat demam adalah meningkatnya suhu badan perlahan-lahan terutama pada sore dan malam hari. bahkan bisa tejadi syok. tekanan darah turun. Selain faktor luka. F. mual. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan suhu badan. nyeri kepala. Pasien mengeluh selain gejala umum. anoreksia. yaitu komplikasi intestinal (perdarahan saluran cerna. hepatitis tifosa. pusing. neuropsikiatrik). Leukositosis dengan pergeseran ke kiri dapat menyokong adanya perforasi. maka hal ini merupakan nilai yang cukup menentukan apakah terjadi perforasi pada pendertita demam tifoid. bradikardi relatif. Dapat dibagi menjadi dua macam komplikasi. nyeri perut hebat terutama di kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar di seluruh perut dan disertai tanda-tanda ileus. pekak hati menghilang karena terdapat udara bebas di abdomen. Perforasi usus Terjadi 3% dari penderita demam tifoid. meteorismus. hepatomegali. Selanjutnya bila tukak menembus dinding usus maka perforasi dapat terjadi. dan gangguan mental.

gentamisin untuk gram negatif dan juga metronidazol untuk mengatasi kuman anaerob. Untuk membedakan apakah hepatitis ini karena tifoid. sopor. nilai laboratorium. ensefalomielitis. meningitis. bila perlu histopatologik hati. 7 . Pankreatitis sendiri juga dapat terjadi oleh mediator inflamasi. malaria. hipo-fibrino-genemia. Pemeriksaan enzim amilase dan lipase serta USG/CT scan dapat membantu diagnosis penyakit dengan akurat. Thrombositopenia juga dapat terjadi karena menurunnya produksi thrombosit pada sumsum tulang selama proses infeksi atau meningkatnya destruksi thrombosit di sistem retikuloendotelial. Penanganan komplikasi ini sama dengan pankreatitis pada umumnya. pengobatan yang kurang adekuat. peningkatan fibrin degradation products sampai koagulasi intravaskuler diseminata dapat ditemukan pada pasien dengan demam tifoid. Hepatitis Tifosa Pembengkakan hati ringan sampai berat 50 % dapat ditemukan pada demam tifoid. Pemberian antibiotik juga harus dilakukan pada penderita demam tifoid yang mengalami perforasi untuk mengatasi kuman yang bersifat fakultatif dan anaerob pada flora usus. atau koma) yang disebut sebagai tifoid toksik. bakteri. semi-koma. Penyebab KID pada demam tifoid belumlah jelas. dan mobilitas penderita. lama demam. Manifestasi Neuropsikiatrik (Tifoid toksik) Dapat berupa delirium dengan atau tanpa kejang. skizofrenia sitotoksik. dan sistem imun yang kurang. apatis. peningkatan protombin time. Pada emam tifoid kenaikan serum transaminase tidak relevan dengan kenaikan serum bilirubin. virus. virus. Terkadang gejala demam tifoid dapat diikuti dengan suatu sindrom klinis berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (kesadaran berkabut. meningismus.Beberapa faktor yang dapat meningkatkan terjadinya kejadian perforasi pada demam tifoid adalah umur (20-30 tahun). hipomania. sindrom Gullian Barre dan psikosis. Pankreatitis Tifosa Merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada demam tifoid. cacing maupun obat-obatan. dan fibrinolisis. tetapi bisa karena endotoksin mengaktifkan beberapa sistem biologik. mania akut. Hepatitis tifosa dapat terjadi pada penderita yang disertai malnutrisi. Umumnya diberikan antibiotik berspektrum luas dengan kombinasi kloramfenikol. delirium. prostaglandin dan histamin menyebabkan vasokonstriksi dan kerusakan endotel pembuluh darah dan selanjutnya mengakibatkan perangsangan mekanisme koagulasi. peningkatan partial thromboplastin time. koagulasi. bahkan bisa koma. Pelepasn kinin. somnolen. beratnya penyakit. Komplikasi Hematologi Dapat berupa trombositopenia. atau amuba maka perlu dilihat dari gejala klinis.

2. 15 21 e. 15 e..g. Diet dan terapi penunjang Bertujuan mengembalikan rasa kenyamanan dan kesehatan pasien secara optimal. menghindari makanan berserat juga penting pada penderita demam tifoid. 3..G. ofloxacin or ciprofloxacin 14 5–7 Azithromycin 7–14 Cefixime 7 10– 14 Cefixime 8–10 15–20 20 7 7–14 7–14 Amoxicillin 75–100 Multidrug resistant Fluoroquinolone 15 or cefixime 15–20 Quinolone resistant[†] Azithromycin or 8–10 ceftriaxone 75 SEVERE TYPHOID FEVER Fully sensitive Ampicillin or ceftriaxone 100 14 Fluoroquinolone. Pemberian antimikroba ALTERNATIVE EFFECTIVE DRUGS Daily Dose (mg/kg/day) Days 5–7[*] OPTIMAL THERAPY SUSCEPTIBILITY Antibiotic Fully sensitive Daily Dose (mg/kg/day) Days Antibiotic UNCOMPLICATED TYPHOID FEVER Chloramphenicol 50–75 14– Fluoroquinolone. Dengan pemberian bubur saring yang bertujuan mengistirahatkan usus.g. 1. ofloxacin or ciprofloxacin 10– 14 8 . Penatalaksanaan Istirahat dan rawat dalam bangsal Bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.

who. pp.OPTIMAL THERAPY SUSCEPTIBILITY Antibiotic ALTERNATIVE EFFECTIVE DRUGS Daily Dose (mg/kg/day) Days Daily Dose (mg/kg/day) Days Antibiotic 60–75 10– 14 10– Ceftriaxone or 14 cefotaxime Multidrug resistant Fluoroquinolone 15 60 80 10– 14 Quinolone resistant Ceftriaxone 60–75 10– Fluoroquinolone 20–30 14 14 Modified from World Health Organization: Treatment of typhoid fever. Kortikosteroid Pemberian kortikosteroid diindikasikan pada tifoid toksik atau demam tifoid yang mengalami syok sepsis.pdf 4.int/entity/vaccine_research/documents/en/diagnosis. Geneva. maupun jumlah leukosit yang normal. Antara lain : Pemeriksaan darah rutin Leukopenia (paling sering). Pemeriksaan Widal 9 . SGOT dan SGPT seringkali meningkat tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Diagnosis Selain mengenali gejala klinis. pemeriksaan LED juga dapat meningkat. prevention and treatment of typhoid fever. H. [Available from URL: www. Background document: the diagnosis. Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals: World Health Organization. kita juga bisa mendiagnosis dari pemeriksaan penunjang. 19–23. 2003. Anemia ringan dan trombositopenia. tetapi juga bisa leukositosis.

Infeksi Salmonella paratyphii menunjukan hasil yang negatif.6%). karena disebabkan oleh berbagai hal. Perbandingan antara widal dan tubex Berdasarkan penelitian Surya H. yaitu pengobatan dini dengan antibiotik. dkk pada tahun 2006 di jakarta yang melakukan penelitian dengan 52 sampel darah yang membandingkan spesifisitas. Pada penderita yang sudah sembuh. dan negatif prediktif value menghasilkan. saat pengambilan darah dilakukan saat kadar aglutinin tinggi. sensitivitas.8%). Kultur darah Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid.Dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman Salmonella dengan antibodi yang disebut aglutinin. akan tetapi hasil negatif tidak dapat menyingkirkan demam tifoid. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O. sensitivitas tubex 100 % (widal 53. kemudian diikuti aglutinin H. sedangkan aglutinin H lebih lama sekitar 9 sampai 12 bulan. aglutinin O masih bisa ditemukan setelah 4 samapi 6 bulan. Uji tubex ini hanya dapat mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat menentukan adanya infeksi sebelumnya. telah mendapat terapi antibiotik sebelum pengambilan darah untuk kultur dilakukan. Uji widal ini untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka penderita demam tifoid. 10 . Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. daerah endemik dan non endemik. volume darah yang diambil untuk sampel kurang. gangguan pembentukan antibiotik maupun pemberian kortikosteroid. positif prediktif value tubex 94. positif prediktif value. Antara lain. Pemeriksaan Tubex Merupakan uji semi kuantitatif kolometrik yang cepat dan mudah untuk dikerjakan. negatif prediktif value tubex 100% (widal 46. waktu pengambilan darah untuk diuji. Uji ini untuk mendeteksi antibodi anti-salmonella dalam serum pasien. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal. faktor teknis dalam pengambilan darah. riwayat vaksinasi dimasa lampau menimbulkan antibodi (aglutinin) dapat menekan bakterimia hingga biakan dapat negatif.1 %). spesitifitas tubex 90 % (widal 65%).11 % (widal 70. Hasil positif uji tubex ini menunjukan infeksi salmonella serogroup D walau tidak spesifik untuk Salmonella typhii. Oleh karena itu test widal tidak dapat dipakai untuk menentukan kesembuhan penyakit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful