1

BAB I PENDAHULUAN

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan mycobacterium yang bersifat berulang, kronik, penyakit infeksi pulmo dan extrapulmo yang dikarakteristikan dengan terbentuknya granuloma dengan kaseosa, fibrosis dan cavitas.1 Tuberkulosis dapat menyebar secara pulmoner dan ekstrapulmoner. Tuberkulosis paru merupakan bentuk TB yang sering terjadi yaitu sekitar 80% dari kasus. Tuberkulosis ekstrapulmoner dapat menyerang beberapa organ selain paru. Hal ini karena penyebarannya yang bersifat limfogen dan hematogen. Salah satu jenisnya ialah TB Milier.2 Tuberkulosis milier merupakan adanya manifestasi Mycobacterium tuberculosis (tuberculosis diseminata) yang menyebar secara hematogen. 3 Akan tetapi, berdasarkan konsensus tuberkulosis anak (2010) mengatakan bahwa TB milier masuk kedalam TB pulmoner tipe berat.4 Berdasarkan data yang didapatkan dari Pedoman Nasional TB 2008, diketahui bahwa tuberkulosis milier memiliki angka kejadian sekitar 3-7% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi (dapat mencapai 25% pada bayi).5,6 TB Milier, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu basil M. Tuberculosis (jumlah dan virulensinya) dan status imunologis pasien (nonspesifik dan spesifik).5 Tuberkulosis milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil terutama usia <2 tahun. Hal ini dikarenakan imunitas seluler spesifik, fungsi makrofag dan mekanisme lokal pertahanan parunya belum dapat berkembang

sempurna, sehingga basil TB mudah berkembang biak dan menyebar keseluruh tubuh.5,6 Pada penatalaksanaan TB Milier, dapat dilihat dari 2 aspek, yaitu aspek non farmakologis dan aspek farmakologis. Non farmakologis seperti nutrisi, edukasi terhadap pasien serta keluarga pasien, dukungan emosional dari klinisi dan keluarga serta persiapan pasien untuk dapat melakukan kehidupan sosialnya sangat diperlukan.7 Kemudian, dari aspek farmakologis berdasarkan Buku Ajar Respirologi (2010) mengungkapkan bahwa penatalaksanaan medikamentosa TB Milier adalah dengan pemberian 4-5 macam OAT, kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan streptomisin atau etambutol selama 2 bulan pertama, dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin sampai 9-12 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. Menurut WHO 2006 dalam Guidance for National Tuberculosis Programmes on the management of tuberculosis in children, pada TB Milier direkomendasikan diberikan kortikosteroid, yaitu yang sering dipakai ialah prednison dengan dosis 2mg/kgbb/hari selama 4 minggu full dose (dibagi dalam 3 dosis) kemudian diturunkan secara perlahan (tappering off) selama 1-2 minggu sebelum obat tersebut dihentikan.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Tuberkulosis Definisi Tuberkulosis Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan mycobacterium yang bersifat berulang, kronik, penyakit infeksi pulmo dan extrapulmo yang dikarakteristikan dengan terbentuknya granuloma dengan kaseosa, fibrosis dan cavitas.1 Sedangkan, berdasarkan National Guidelines and Operational Manual for Tuberculosis Control, tuberculosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium Tuberculosis. Basil ini, akan masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi lalu masuk ke paru dan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan sistem limfatik atau secara langsung menyebar ke organ target tersebut.2 Tuberkulosis paru merupakan bentuk TB yang sering terjadi yaitu sekitar 80% dari kasus. Tuberculosis extra-pulmonary dapat menyerang beberapa organ selain paru.2 Berdasarkan Harrison (1999), tuberculosis merupakan infeksi bakteri kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi dan oleh hipersensitivitas yang diperantarai sel (cell-mediated).8

3

tekanan oksigen pada bagian apikal. Berbentuk batang dengan ukuran panjang I-4/µm. paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lain. kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Hal ini dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi di dunia. Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es. Dalam hal ini. Sifat lain kuman ini adalah bersifat aerob. sehingga menyebabkan peningkatan insidensi tuberkulosis. Mikobakterium ini. dibedakan dari lipid permukaannya. Dari sifat dormant ini. Hal ini terjadi karena kuman bersifat dormant. Mycobacterium Tuberculosis merupakan basil yang berperan dalam patogenesis penyakit ini. 4 . sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag. kemiskinan ekonomi yang terjadi.9 Di dalam jaringan. Anak-anak merupakan grup yang sangat tinggi menjadi tuberkulosis pulmo. antara lain karena memburuknya sistem pertahanan tubuh yang dimiliki seseorang. Dari beberapa faktor tersebut.Etiologi Tuberkulosis Tuberkulosis merupakan infeksi yang terjadi di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. penyalahgunaan obat dan imigrasi dari negara yang sedang berkembang. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya tuberkulosis. yang membuatnya tahan asam sehingga warnanya tidak dapat dihilangkan dengan alkohol asam setelah diberi warna.

dan mortalitas TB mengalami penurunan.7 juta kasus tahun 2007 (206 per 100. Tidak seperti TB pada dewasa.000 populasi) dan tahun 2006 yaitu 13. dengan peningkatan kasus dari 9.6 juta kasus tahun 1990.000 populasi tahun 2010.6 per 100.770 kasus (4.9 juta kasus (210 per 100. TB Pediatrik sering berupa pausibasiler.10 5 .000 populasi).000.000 populasi).10 Dibeberapa negara. tuberkulosis pada pediatrik merupakan suatu tantangan bagi para ahli kesehatan untuk mendiagnosis dan melakukan terapinya. TB pediatrik sering disertai oleh gejala dan tanda yang tidak spesifik.27 juta kasus TB diduna. Walaupun ternyata Amerika Serikat mencanangkan penurunan kasus TB yaitu <1 per 1. kasus TB mengalami penurunan yaitu 13.24 juta kasus tahun 2006.11 WHO tahun 2007 memperkirakan sekitar 9.Epidemiologi Tuberkulosis Tuberkulosis merupakan penyakit yang menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas di dunia. sudah mulai menurunkan populasi TB sejak tahun 1992 dan puncaknya tahun 2006.3 juta orang. menyebabkan angka mortalitas sekitar 1.3 juta kasus tahun 200 dan 6. akan tetapi hal ini tidak cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan target secara global. prevalensi. sekitar 9 juta kasus dan 2 juta dinyatakan meninggal.12 Lain halnya di Amerika Serikat. Pravelensi dan tingkat mortalitas TB dari 13. 8. Beberapa penelitian memprediksi bahwa insidensi TB tahun2050 akan tetap atau 100 kali lebih meningkat insidensi TB bahkan jika strategi stop TB berhasil diimplementasikan. Insidensi.

Diagram 1. 13 Table 1. Insidensi. prevalensi dan mortalitas tuberkulosis. Insidensi. India dan Indonesia. Pravelensi dan Mortalitas Penyakit Tuberkulosis di Asia Selatan-Timur. Insidensi Penyakit Tuberkulosis di dunia 2009. lebih tinggi pada negara-negara dengan yang memiliki sumber daya manusia yang lemah. sedangkan yang terkecil ialah Australia. korupsi. 13 6 . 2008. Tiga negara tuberkulosis tertinggi ialah Kamboja. gross domestic product (GDP) per capita dan beberapa negara yang memiliki sumber daya manusia yang minimal suplementasi nutrisi di negaranya.

Penelitian dari Wu (2012) menyarankan agar setiap negara dapat menurunkan tingkat korupsi yang akan berdampak pada kesehatan masyarakatnya dan merubah sanitasi lingkungan tiap negaranya. sehingga diupayakan insidensi TB ini dapat berkurang. memegang peranan penting dalam patogenesis TB di Asia dan area Pasifik.Status ekonomi dan perkembangan sistem kesehatan diberbagai negara yang sedang berkembang. Klasifikasi Negara Berkembang dan Sedang Berkembang Klasifikasi Tuberkulosis dibagi menjadi Primary TB.12 Tabel 2. Tuberkulosis pulmonum dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti TB 7 . yang biasa terjadi pada anakanak dan Post-primary TB yang biasa terjadu pada orang dewasa.

keringat malam. sering dalam 3 bulan pertama. tuberkulosis milier atau diseminata merupakan bentuk yang berat dari perjalanan penyakit tuberkulosis. Pada anak-anak. Diagnosis dan penanganan yang dini. sangat penting pada anak yang mengalami tuberkulosis. tuberkulosis milier merupakan penyakit limfohematogen sistemik.tuberculosis dari kompleks primer. dalam pengecekan uji tuberkulin pada bayi juga dapat negatif. Selain 8 . sangat sulit untuk dilakukan.meningitis atau tuberkulosis milier. setelah infeksi awal.5. TB milier juga menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS). walaupun konfirmasi bakteriologik pada penyakit.2.9 II. akibat penyebaran kuman M. TB milier terjadi setelah adanya infeksi primer pada anak. yang biasanya terjadi dalam waktu 6 bulan pertama.6 Sedangkan menurut Monie (1983). 3 Menurut Pedoman Nasional Tuberkulosis Pada Anak (2008) dan Buku Ajar Repirologi Anak (2010). Definisi Tuberkulosis Milier Tuberkulosis milier merupakan adanya manifestasi Mycobacterium tuberculosis (tuberculosis diseminata) yang menyebar secara hematogen. penyakit ini dapat terjadi secara akut atau subakut dengan panas tinggi yang bersifat intermittent. Selain itu. yang disebabkan penyebaran secara hematogen dari basil tuberkel tersebut. oleh karena itu harus digali secara teliti mengenai adanya kontak langsung dengan penderita TB dan dikonfirmasi dengan foto thorax yang harus dilakukan. Hal ini terjadi pada anak-anak muda yang mengalami infeksi primer sebelumnya.

TB milier juga dapat terjadi pada anak besar dan remaja akibat pengobatan penyakit paru primer sebelumnya yang tidak adekuat atau pada usia dewasa akibat reaktivasi kuman yang dorman. WHO melaporkan bahwa sekitar 2-3 juta pasien meninggal tiap tahunnya akibat TB Milier. sehingga basil TB mudah berkembang biak dan menyebar keseluruh tubuh. Hal ini disebabkan faktor risiko sosial ekonomi.14 II. jenis kelamin yaitu lelaki lebih banyak dibanding perempuan dan faktor kesehatan.6 TB milier ini. selalu diikuti oleh infeksi primer. sekitar 1.5% mengalami TB Milier.3. diketahui bahwa tuberkulosis milier ini merupakan salah satu bentuk TB berat dan dan memiliki angka kejadian sekitar 3-7% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi (dapat mencapai 25% pada bayi). Tidak dibuktikan adanya peran genetik dalam hal ini.15 Berdasarkan data yang didapatkan dari Pedoman Nasional TB 2008. Akan tetapi. fungsi makrofag dan mekanisme lokal pertahanan parunya belum dpaat berkembang sempurna. tuberkulosis milier juga merupakan sebuah komplikasi pada lesi tuberkulosis yang kronik pada dewasa.5. dengan atau tanpa periode laten yang pendek. Tuberkulosis milier lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil terutama usia <2 tahun. Infeksi yang terjadi pada TB Milier dikarakteristikan sebagai 9 .itu. Hal ini dikarenakan imunitas seluler spesifik. Epidemiologi Tuberkulosis Milier Dari seluruh kasus TB. Insidensi TB Milier nampak lebih tinggi di Amerika dan Afrika terutama Amerika Serikat.

gagal ginjal. penggunaan alkohol. Faktor-faktor lain. polusi udara. akan tetapi bila tidak ditangani dengan segera maka dapat menyebabkan kematian pada pasien. infeksi morbili. yaitu kurangnya paparan sinar matahari.5. TB Milier dapat didiagnosis. Tuberculosis (jumlah dan virulensinya) dan status imunologis pasien (nonspesifik dan spesifik). Etiologi Tuberkulosis Milier Terjadinya TB Milier. Beberapa kondisi yang menurunkan sistem imun juga dapat memudahkan timbulnya TB Milier. perumahan yang padat. yaitu basil M. dipengaruhi oleh dua faktor. obat bius serta sosial ekonomi. diabetes mellitus. asap rokok. keganansan dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. malnutrisi. pertusis.6 Gambar 1. yang juga ikut mempengaruhi perkembangan penyakit ini ialah faktor lingkungan.15 II. Sekitar 25% pasien dengan TB Milier dapat terjadi penyebarluasan ke menings. Walaupun dengan foto thorax.jumlah yang besar dari basil TB. Mycobacterium Tuberculosis 10 .4. seperti infeksi HIV.

maka basil TB ini akan masuk ke saluran pernafasan dan ke daerah paru. maka basil TB akan menyebar secara hematogen. Hal ini diikuti dengan terbentuknya limfangitis paru dan limfadenopati hilus. Patofisiologi Tuberkulosis Milier Berdasarkan Konsensus Tuberkulosis pada pediatrik tahun 2010. diketahui bahwa TB milier termasuk dalam TB pulmo yang berat (Severe Pulmonary TB).7 Gambar 2.II. apabila kondisi pasien mengalami penurunan.5. setelah 11 . Perkembangan TB milier merupakan perkembangan fokus infeksi basil Mycobacterium tuberculosis secara hematogen. sanitasi buruk dan keadaan gizi kurang. Proses Infeksi Mycobacterium Tuberculosis15 Setelah paparan dan inhalasi dari basil TB melalui droplet infection. Kemudian dalam waktu 3 bulan.

Opsoniasi C3 lebih cepat.16 Gambar 3. Akibat hal tersebut C3 sebagai komplemen protein bekerja dengan mengikat dinding sel dan meningkatkan perlawanan terhadap mycobakterium. akibat adanya penularan terhadap basil ini. maka akan mengaktifkan sistem imun tubuh. bahkan tanpa paparan dari M. basil tersebut juga mengaktifkan makrofag alveolar yang berfungsi memfagosit patogen tersebut melalui reseptor makrofag yang dimilikinya.tuberkulosis sebelumnya opsoniasi juga tetap berlangsung cepat. Lipoarabinomannan mycobacterial merupakan hal yang dimiliki oleh basil ini untuk berikatan dengan reseptor makrofag alveolar. Akan tetapi TB milier. dapat terjadi sebagai TB primer atau mungkin merupakan perkembangan setelah adanya infeksi awal. Proses Reaksi Awal Mycobacterium Tuberculosis 12 . Setelah itu. 16 Pada awalnya.terjadi infeksi primer. Pertama diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik.

Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12 minggu. Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB.Makrofag alveolus akan menfagosit kuman TB dan biasanya dapat menghancurkan sebagian besar kuman TB. Produksi dari sitokin akan merangsang T-limfosit pada proses imunitas. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain. kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 10 -10. akan menghasilkan enzim proteolitik dan sitokin. kuman TB yang tidak dapat dilawan oleh beberapa proses tersebut akan terus berkembang biak di dalam makrofag. Dalam masa inkubasi tersebut. Selain itu. lalu diikuti terjadinya fase latent tuberculosis atau perubahan menjadi aktifnya penyakitnya TB yang disebut sebagai primary progressive tuberculosis. Akibat reaksi makrofag dan mycobacterium selanjutnya. 16 13 . Akan tetapi. Makrofag ini juga akan menginisiasi terbentuknya berbagai reaksi yang berkelanjutan dan mengontrol terjadinya infeksi akibat basil ini. pada sebagian kecil kasus. yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. akhirnya akan membentuk koloni di tempat tersebut. yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler. makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag yang terjadi setiap 25-32 jam. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN. Makrofag akan menggiring antigen dari basil ini ke permukaan Tcell untuk terus bereaksi melawan mycobakterium ini.

Kompleks primer merupakan gabungan antara fokus primer. yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus.17 Selama berminggu-minggu awal proses infeksi. yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal.16. Waktu Tahapan Perjalanan Infeksi Mycbacterium Tuberculosis17 Dari fokus primer. mikroorganisme basil tersebut akan berlanjut tumbuh sampai jumlah yang dicapai cukup untuk bereaksi dengan sistem imun tubuh.Tabel 3. Sehingga. terjadi perubahan pada jaringan tubuh yang awalnya belum tersensitisasi terhadap tuberculin. infeksi TB primer 14 . Jika fokus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah. Pada saat terbentuknya kompleks primer inilah. kelenjar limfe regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis). kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar limfe regional. mengalami perkembangan sensitivitas. sedangkan jika fokus primer terletak di apeks paru.7.

yaitu timbulnya respons positif terhadap uji tuberculin. Setelah kompleks primer terbentuk. nekrosis yang terjadi berubah menjadi nekrosis perkejuan. Hal ini dapat berlanjut membentuk nekrosis padat di tengah dari lesi yang terbentuk. Kondisi ini akan menghambat pertumbuhan basil tersebut dan mempertahankan fase laten yang akan terus berlanjut. nutrisi yang terbatas. M.tuberculosis dapat merubah ekspresi fenotipnya seperti protein regulation untuk tetap bertahan.16. Sekitar 2 sampai 3 minggu. Namun. Selama masa inkubasi. Pada sebagian besar individu dengan sistem imun yang berfungsi baik. proliferasi kuman TB terhenti. Granuloma ini terbentuk akibat adanya reaksi dengan sistem imunitas.dinyatakan telah terjadi. imunitas seluluer tubuh terhadap TB telah terbentuk. Bila imunitas seluler telah terbentuk. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi. pH rendah. fokus primer di jaringan paru biasanya mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkejuan dan enkapsulasi. kuman TB baru yang masuk ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.17 Setelah imunitas seluler terbentuk. lesi yang terbentuk merupakan tipe nodular yang terbentuk akibat adanya akumulasi dari pengaktifan T-limfosit dan makrofag yang terbentuk akibat upaya dalam mempertahankan replikasi basil TB. Selain itu. begitu sistem imun seluler berkembang. Kuman TB dapat tetap hidup dan 15 . sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam granuloma. Setelah itu. uji tuberculin masih negatif. tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna focus primer di jaringan paru. yang dikarakteristikan dengan kadar oksigen yang rendah. Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein. 7.

kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer. sehingga menyebabkan TB endobronkial atau membentuk fistula. Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis fokal. Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal dapat menyebabkan ateletaksis. sebelum terbentuknya imunitas seluler. 7. Jika terjadi nekrosis perkejuan yang berat. Kelenjar limfe hilus atau paratrakea yang mulanya berukuran normal saat awal infeksi. Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi. dapat terjadi penyebaran limfogen dan hematogen.menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkejuan dapat merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus. Komplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh fokus paru atau di kelenjar limfe regional.16. Sedangkan pada penyebaran hematogen. akan membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut ke area bronkus.17 Selama masa inkubasi. yang sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi. kuman TB masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Massa keju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis. bagian tengah lesi akan mencair dan keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru (kavitas). Pada penyebaran limfogen. Adanya penyebaran hematogen inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik. 7 16 .

Gambar 4. tetapi berpotensi untuk menjadi fokus reaktivasi. Melalui cara ini. misalnya otak.16 Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi pertumbuhannya oleh imunitas seluler. terutama apeks paru atau lobus atas paru. Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit. tulang.7. kuman TB akan bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya. Fokus potensial di apkes paru disebut sebagai 17 . Kuman TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh. Perjalanan Infeksi Terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread). dan paru sendiri. ginjal. Organ yang biasanya dituju adalah organ yang mempunyai vaskularisasi baik. kuman tetap hidup dalam bentuk dormant. Di berbagai lokasi tersebut. kuman TB menyebar secara sporadic dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis.

7. misalnya meningitis. yang disebut TB diseminata atau milier. Hal ini dapat terjadi secara berulang. Secara klinis. sehingga sejumlah kuman TB akan masuk dan beredar di dalam darah. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu fokus perkejuan menyebar ke saluran vaskular di dekatnya.16 18 . Istilah milier berasal dari gambaran lesi diseminata yang menyerupai butur padi-padian/jewawut (millet seed). sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan dengan acute generalized hematogenic spread. lesi ini berupa nodul kuning berukuran 1-3 mm. Secara patologi anatomik.Fokus SIMON. bila daya tahan tubuh pejamu menurun.16 Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized hematogenic spread dengan jumlah kuman yang besar. TB tulang. 7. Semua tuberkel yang dihasilkan melalui cara ini akan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama. dan lain-lain.16 Bentuk penyebaran hematogen yang lain adalah penyebaran hematogenik generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted hematogenic spread. Timbulnya penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang beredar serta frekuensi berulangnya penyebaran.7. Pada bentuk ini. sejumlah besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju ke seluruh tubuh. focus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi penyakit TB di organ terkait. Tuberkulosis milier terjadi karena tidak adekuatnya sistem imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB. TB milier ini timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi. misalnya pada balita. yang secara histologi merupakan granuloma. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut. Bertahun-tahun kemudian.

akan tetapi ekstrapulmoner dapat terjadi sekitar 20% dari pasien yang mengalami immunokompeten dan komplikasi ekstrapulmoner meningkat seiring immunosupresi yang dialami pasien. dimana akan menghasilkan meningitis atau space occupying tuberculomas.6. Diagnosis Tuberkulosis Milier Anamnesis dan Gejala Klinis Daerah pulmo merupakan lokasi yang tersering untuk tuberkulosis. Patogenesis Tuberkulosis Berdasarkan Penyimpangan Kebutuhan Dasar Manusia II.Gambar 5. meningitis tuberkulosis fatal pada beberapa kasus. Lokasi yang serius apabila terkena yakni sistem nervus sentral. Jika tidak teratasi. 19 .

Gejala klinis. Adapun gejala dan tanda nonspesifik yang muncul. pasien tampak sakit berat dalam beberapa hari. hampir diseluruh organ terbentuk tuberkel difus multiple. hati dan sumsum tulang. karena beredar secara sistemik dan tidak memiliki tanda serta gejala spesifik pada penyakit ini. limpa. serta batuk dan sesak nafas. penurunan berat badan. terutama diparu. misalnya anoreksia dan BB turun atau gagal tumbuh pada anak (dengan demam ringan atau tanpa demam). tanpa diserti gejala respiratorik atau disertai gejala minimal dan foto rontgen thorax biasanya masih normal. Tuberkulosis milier terjadi secara cepat dan sulit didiagnosis.7 Berdasarkan Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak (2008). bentuk ini dikenal dengan tuberkulosis milier atau diseminata. Basil dapat mengikuti aliran darah diseluruh tubuh sehingga melibatkan seluruh muktiorgan. antara lain demam. Demam kemudian bertambah tinggi dan berlangsung terus menerus atau kontinu.Tuberkulosis ekstrapulmonar merupakan bentuk fatal lain dari infeksi basil ini. tetapi gejala dan tanda respiratorik belum ada. bergantung pada banyaknya kuman dan jenis organ yang terkena. dan kelemahan. demam lama dengan penyebab yang tidak jelas. mengatakan bahwa manifestasi klinis TB Milier bermacam-macam. Sekitar 50% pasien akan mengalami limfadenopati superfisial. splenomegali dan hepatomegali yang akan terjadi dalam beberapa minggu. Hal ini dikarenakan penyebarannya secara hematogen. seperti TB pada umumnya. Gejala yang sering dijumpai adalah keluhan kronik yang tidak khas. Beberapa minggu kemudian. juga dapat diawali dengan serangan akut berupa demam tinggi yang seirng hilang timbul (remittent). Tuberkulosis milier. biasanya timbul 20 .

sehingga timbul gejala gangguan pernafasan. kegagalan multiorgan serta syok. pembesaran kelenjar limfe kolli. Dapat juga terjadi gangguan fungsi organ. dapat timbul sindrom sumbatan alveolar. yaitu gejala respiratorik seperti batuk dan sesak nafas yang disertai ronkhi atau mengi. tidak terlalu spesifik dibandingkan tuberkulosis pada umumnya. hipoksia.5 Tabel 4. papula nekrotik. Pada kelainan paru yang berlanjut.akibat gangguan pada paru. Pemeriksaan fisik dapat diidentifikasi dari berat badan atau keadaan gizi. nodul atau purpura. Tuberkuloid koroid ditemukan pada 13-87% pasien. dan jika ditemukan dini dapat menjadi tanda yang sangat spesifik dan 21 .18 Pemeriksaan Penunjang Gejala lain yang dapat ditemukan ialah kelainan kulit berupa tuberkuloid. Karakteristik Klinik Tuberkulosis Milier dalam 15 Pasien.3 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik TB milier. inguinal dan pembengkakan tulang atau sendi panggul. aksila. dan pneumomediastinum. lutut dan falang. pneumothorax.

Mantoux) Seseorang yang menerima vaksin BCG dapat memberikan hasil yang positif pada TST. juga merupakan salah satu alat bantu diagnostik pada tuberkulosis milier ini.5 Test Tuberkulin (TST. Interpretasi Test Tuberkulin T-cell-based interferon-gamma release assay (IGRAs) IGRAs memiliki spesifitas yang sangat baik (lebih tinggi dibandingkan tuberkulin) dan tidak dipengaruhi oleh vaksinasi BCG. 22 . Lesi milier dapat terlihat pada foto Rontgen Thorax dalam waktu 2-3 minggu setelah penyebaran basil secara hematogen.sangat membantu diagnosis TB Milier. Maka pada pasien TB Milier perlu dilakukan funduskopi untuk menemukan tuberkel koroid.19 Gambaran radiologis Gambaran radiologis yang khas. Gambar 6. Hal ini dikarenakan efek BCG pada hasil TST kurang lebih bermakna selama 15 tahun dan akan minimal terjadi pada setelah 10 tahun.

Sekitar 1-2 minggu setelah timbulnya penyakit. Gambaran Rontgen Thorax Pasien Tuberkulosis Milier3 Khan dkk (1995) menetapkan kriteria khusus dalam mendiagnosis tuberkulosis pulmonal ketika kultur tidak dapat dilakukan. Jika dari sputum atau cairan gaster mengandung BTA (+) b. dapat dilihat lesi yang tidak teratur speerti kepingan salju.7 Gambar 7.TB milier secara klasik digambarkan sebagai “milletlike” yaitu bintik bulat atau tuberkel halus (millii) 2mm (1-5mm) di daerah paru dan nampak jika dilakukan foto thorax.5. Bentukan ini terlihat sekitar 1-3% dari semua kasus TB. pada foto Rontgen thorax. Ada 2 atau lebih dari hal dibawah ini. yaitu ≥ 10 mm pada anak tanpa adnya vaksinasi BCG atau ≥ 15 mm pada anak dengan vaksinasi BCG 23 . • • • Adanya sejarah kontak dengan penderita tuberkulosis Batuk lebih dari atau sama dengan 2 minggu Tuberculin test positif. yaitu : a.

terjadi peningkatan berat badan 10% setelah 2 bulan dan terjadi penurunan gejala. Gejala Klinis. Oleh karena itu. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. saat ini sistem skoring mulai diberlakukan.18 Gambar 8. Skematik Diagnosis TB Berdasarkan Anamnesis. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang4 Selain berdasarkan anamnesis. sistem skoring juga sangat membantu dalam penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pasien yang diduga TB. Sistem skoring 24 .• • Radiografi yang menunjukkan tanda-tanda TB Adanya respon terhadap terapi anti-TB. gejala klinis.

Biaya. Tabel 5. Oleh karena itu. hal ini sangat efektif dalam mendiagnosis seorang anak mengalami tuberkulosis. Berbagai sistem penilaian klinis yaitu melalui sistem skoring telah diusulkan. di mana sekitar 95% kasus terjadi. Sistem ini dibuat berdasarkan informasi yang tersedia dari pasien dan beberapa hasil tes yang dilakukan. Sistem Skoring TB Pediatrik 25 .TB merupakan masalah yang sangat besar dalam negara-negara yang sedang berkembang. Beberapa hal dari sistem skoring ini yaitu riwayat kontak dengan pasien TB. tetapi sensitivitas dan spesifitasnya rendah. pemeriksaan foto thorax. dan kurangnya sumber daya membuat diagnosis TB pada anak sangat sulit terutama di negara-negara tersebut. uji tuberkulin. kesulitan teknis. Meskipun membantu.

obat-obatan yang dapat digunakan untuk melawan aktifitas basil tuberkulosis sampai saat ini yaitu isoniazid (H). diharapkan sumber penularannya segera diobati agar tidak terjadi penularan lebih lanjut. rifampicin 26 . terkadang seseorang yang mengalami tuberkulosis ini. setelah itu.7 Selain itu. juga memegang peranan penting terhadap perbaikan kasus ini. Selain itu. Edukasi kepada keluarga agar pasien minum obat secara teratur (adheren) dan dihabiskan sesuai resep dokter walaupun merasa sudahsembuh. dan karena termasuk TB berat maka diperlukan pembatasan aktifitas fisik. sumber penularan pada anak adalah orangdewasa yang menderita TB aktif dan kontak erat dengan anak tersebut. Penatalaksanaan Tuberkulosis Milier Pada penatalaksanaan TB Milier. Dan minta agar pasien datang kembali tiap 2 minggu selama 2 bulan untuk mengevaluasi efek samping obat (pemeriksaan fungsi hati). dapat dilihat dari 2 aspek. Lacak sumber penularan.II. sangat penting dapat mengetahui lebih cepat mengenai tanda dan gejala tuberkulosis milier.7 Dari aspek farmakologis. edukasi terhadap pasien serta keluarga pasien. Hal ini dikarenakan latar belakang timbulnya penyakit ini dapat dikarenakan faktor individual. Selain itu diberitahukan juga efek samping obat yang mungkin terjadi. faktor lingkungan serta sosial ekonomi pasien. dukungan emosional dari klinisi dan keluarga serta persiapan pasien untuk dapat melakukan kehidupan sosialnya setelah pulang dari rumah sakit merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Sebagai klinisi. yaitu aspek non farmakologis dan aspek farmakologis.7. Non farmakologis. sulit diterima oleh masyarakat sehingga menambah bebab pikiran yang dapat berakibat ke kondisi penyakitnya tersebut. Pemberian nutrisi.

ketiga regimen obat tersebut sesuai untuk penatalaksanaan TB dengan efeknya masing-masing. resistensi obat. mekanisme metabolik. prothionamide.17 Tabel 6.(R). streptomycin (atau amykacin). Oleh karena itu.4 27 . Berdasarkan hal tersebut. Kemudian sebagai obat lini kedua yaitu ciprofloxacin. clarithromycin. cycloserine. para-amin salicylate (PAS). Isoniazid (INH) dan Rifamipicin (RMP) membunuh pertumbuhan basil secara cepat sedangkan Pirazinamid (PZA) melawan organisme intraseluler ini dalam medium asam ketika basil ini berada diekstraseluler yakni saat tersebut. farmakokinetik dan faktor patologisnya. Obat-obatan Lini Kedua Tuberkulosis21 Pemilihan regimen obat ini didasarkan pada sifat basil sendiri. pertumbuhan basil ini lambat saat diekstraseluler. ethambutol (E) dan pyrazinamid (P) merupakan onat lini pertama yang dipakai. saat inilah basil tersebut dapat dimusnahkan dengan baik oleh RMP.

TB osteoarticular. menyatakan bahwa pengobatan tuberkulosis milier terutama dengan komplikasi neurologis. TB abdominal. RMP dan PZA (7 kali setiap minggu) ditambah 4 bulan INH dan RMP (2 kali setiap minggu). pericardial dan genitourinary menyatakan bahwa regimen pengobatan yang diberikan ialah 2HRZE/7HR. TB dengan cavitatory disease/ bronkopneumonia. Berbagai Regimen Obat Untuk TB Milier20 Penelitian mengenai regimen obat TB secara umur terutama TB milier. seseorang yang mengalami TB milier atau TB diseminata. 4 bulan INH dan RMP (2 kali setiap minggu) atau 2 bulan mengkonsumsi INH. untuk grup 4 yaitu TB Milier (diseminata).Tabel 7. Kemudian konsensus tuberkulosis anak (2010). dapat diberikan dengan total 8-9 bulan dimana 2 bulan tahap intensif dan 6-7 bulan 28 . diterapi dengan 2 bulan INH. menurut Kumar dkk (1990).22 Kemudian berdasarkan rekomendasi dari konsensus tuberkulosis anak (1997). RMP dan PZA (2 kali setiap minggu). terus dilakukan seiring waktu. Adapun beberapa perkembangan dan pendapat dari beberapa para ahli mengenai obat TB milier tersebut antara lain.

yang menyatakan bahwa tatalaksana medikamentosa TB Milier adalah pemberian 4-5 macam OAT selama 2 bulan pertama.tahap kontinue. Kategori Pasien TB Menurut Konsensus Tuberkulosis Anak 2010.23 Gambaran milier pada Rontgen Thorax biasanya menghilang dalam 1 bulan.5 Sedangkan.4. perbaikan TB Milier biasanya berjalan lambat. peningkatan nafsu makan. Pendapat ini juga didukung oleh Pedoman Tuberkulosis Anak tahun 2008.20 Tabel 8. kadang-kadang berangsur-angsur menghilang dalam waktu 5-10 minggu. pada prinsipnya pengobatan penyakit tuberkulosis yaitu pengobatan yang mencakup keseluruhan komunitas terutama individu tersebut.23 Dengan pengobatan yang tepat. tetapi mungkin saja belum ada perbaikan hingga beberapa bulan.4 29 . menurut Treatment of Tuberculosis Standard Therapy for Active Disease in Children 2009. Respon keberhasilan terapi antara lain adalah menghilangnya demam setelah 2-3 minggu pengobatan. dan ini merupakan program yang diberlakukan untuk kesehatan masyarakat secara keseluruhan sampai tuntas dan secara lengkap. dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama 6-10 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. perbaikan kualitas hidup sehari-hari dan peningkatan BB.

Obat-obatan tuberculosis yang dipergunakan pada TB Milier ini dapat 4 atau 5 jenis obat pada tahan initial yaitu INH. efusi plura dan peritonitis TB. pemberian dosis prednison selama 1-3 bulan.24 30 . RMP. penyakit abdominal. Kortikosteroid (prednison) diberikan pada TB Milier.Untuk penderita yang telah mengalami TB ekstrapulmonar seperti TB Milier ini. penatalaksanaan medikamentosa TB Milier adalah dengan pemberian 4-5 macam OAT. golongan aminoglikosida dan ethionamide. EMB. pengobatan tuberkulosis dilakukan selama 9-12 bulan. perikarditis TB. Pada pengobatan TB Milier.20 Hal ini juga diungkapkan oleh Swaminathanand dkk (2010). dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin sampai 9-12 bulan sesuai dengan perkembangan klinis. RIF. PZA dan obat selanjutnya dapat berupa EMB. Prednison biasanya diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu selanjutnya diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu.23 Berdasarkan Buku Ajar Respirologi (2010) juga mengungkapkan hal yang sama yakni. kombinasi isoniazid. penyakit endotracheal dan TB milier. PZA. sebagai fase intensif inisial. pirazinamid dan streptomisin atau etambutol selama 2 bulan pertama. meningitis TB. rifampisin. dianjurkan melakukan pengobatan selama 9-12 bulan. Steroid diindikasikan untuk TB CNS yang berlanjut sampai efusi pleura dan pericardial. 6 Sedangkan menurut Panduan Praktisi Klinik Pediatri Ilmu Kesehatan Anak FK UNLAM 2011. bahwa prinsip dasar dari penatalaksanaan TB Milier dan yang telah direkomendasikan untuk anak-anak sampai dewasa yakni terdiri atas 6 bulan dengan regimen terapi INH. yang diikuti dengan 2 jenis obat yaitu INH dan RMP pada fase kontinu. Untuk TB milier (diseminata).

perikarditis TB.21 Gambar 9. harus dirawat dirumah sakit sampai keadaan klinis pasien stabil. pada TB Milier direkomendasikan diberikan kortikosteroid. Oleh karena itu.Berdasarkan konsensus tuberkulosis anak (2010). meningitis TB. Prednison biasanya diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu. yaitu yang sering dipakai ialah prednison dengan dosis 2mg/kgbb/hari selama 4 minggu full dose (dibagi dalam 3 dosis) kemudian diturunkan secara perlahan (tappering off) selama 1-2 minggu sebelum obat tersebut dihentikan.23 Sedangkan. kortikosteroid (prednison) diberikan pada TB milier. menurut WHO 2006 dalam Guidance for National Tuberculosis Programmes on the management of tuberculosis in children . Dosis prednison dapat ditingkatkan menjadi 4 mg/kgbb/hari maksimal 60 mg/hari pada kasus anak yang berat karena rifampisin dapat menurunkan konsentrasi kortikosteroid akan tetapi apabila dosisnya berlebih maka akan menyebabkan supresi imun berlebih. Peran Regimen Obat TB Terhadap Basil TB 31 . efusi pleura dan peritonitis TB. pada tahap awal sebaiknya seluruh anak-anak yang terdiagnosis TB Milier. kemudian diturunkan secara perlahan (tappering off) selama 2-4 minggu.

tabel 9. 32 . dinyatakan dalam tabel dibawah ini. seluruhnya dapat diobati tanpa adanya kegagalan dalam pengobatan yang dilakukan. Kriteria Putus Obat OAT4 II. Komplikasi Tuberkulosis milier dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat memperburuk keadaan pasien. (tabel 8. Komplikasi pada TB milier terbagi atas 3 bagian. Outcome Pasien TB yang Telah Diberi Pengobatan Khusus25 Apabila pasien mengalami putus pengobatan maka berdasarkan konsensus tuberkulosis anak tahun 2010.) Tabel 9. Tabel 10. maka penelitian dari Indumathi dkk (2010) menyatakan bahwa sekitar 3 orang pasien TB Milier.Setelah dilakukan pengobatan pada pasien TB terutama TB milier.8.

Gejala-gejala klinis yang dapat terlihat pada pasien tuberkulosis milier yaitu terdapat tanda kesulitan bernafas.5% pada tuberkulosis milier. juga terlihat pada pasien TB milier dengan pneumothorax. hematogen dan limfogen.yakni paru. abses paru. yang mungkin muncul bahkan setelah pengenalan antituberkulosis terapi.3%-1. dalam pemeriksaan fisik sukar untuk dibedakan antara TB milier saja 33 . sekitar 1. batuk kering dan perubahan fungsi dan struktur anatomi jantung. Insidensi pneumothorax jarang. tuberculoma dan TB enteritis. Sekitar 7% kasus tuberkulosis milier berhubungan dengan sindrom ini. Hematogen dapat menyebabkan meningitis TB. ARDS menyebabkan terjadinya kasus infeksi akibat lipopolisakarida yang dihasilkan oleh mycobacterial tersebut. Kematian telah dilaporkan setinggi 100% walaupun sudah diterapi adekuat dengan pengobatan. Patogenesis ARDS secara keseluruhan belum dapat diketahui secara pasti.26 Selain itu. berdasarkan penelitian Khan dkk (2011) menyatakan bahwa pasien yang mengalami tuberkulosis milier dapat mengakibatkan terjadinya pneumothorax. Sindrom gangguan pernapasan Dewasa (ARDS) merupakan salah satu komplikasi yang jarang terjadi pada TB miliaria. akan tetapi jika dengan pneumothorax akan terlihat peningkatan dispneu dan nafas pendek pada pasien. Pada paru dapat menyebabkan ARDS. Salah satu produknya ialah lipoarabinomannan yang menginduksi produksi tumor necrosis factor (TNF) pada makrofag dan hal inilah yang memodulasi timbulnya ARDS. pneumothorax. Sedangkan penyebaran secara limfogen ialah lymphodenitis TB. Sehingga. Gejala-gejala ini.

tuberkulosis milier akut dapat menyebabkan emphysematous lung. maka penanganan secara emergency harus segera dilakukan. Selain itu. (Slide Kanan) Foto Thorax PA Pada Pneumothorax Akibat TB Milier Setelah dilakukan Drainage.atau TB milier dengan pneumothorax. Patogenesis pneumothorax dalam tuberkulosis milier belum diketahui secara pasti. akan tetapi diduga akibat proses caseosa atau nekrosis di subpleural akibat nodul milier dan hal ini dapat terjadi ruptur sehingga memicu terperangkapnya udara yang menyebabkan pneumothorax. simultan dan atau adanya pneumothorax rekuren pada pasien. open thoracotomy tidak dianjurkan sampai pasien mendapatkan terapi antituberkulosis selama beberapa minggu. sehingga memicu timbulnya gambaran emphysematous lung. Terapi 34 . Gambar 10. pasien dapat jatuh ke dalam ARDS. Pada tuberkulosis milier. (Slide kiri) Foto Thorax PA Pada Pasien Tuberkulosis Milier dengan Pneumothorax. Jika hal ini terjadi. Hal ini dapat disebabkan karena penyebarannya bilateral. karena pada fase ini.

27 Tuberkulosis enteritis juga merupakan manifestasi ekstrapulmoner dari tuberkulosis pulmoner. Chung dkk (2006) melaporkan bahwa tuberkulosis intestinal dapat merupakan salah satu komplikasi tuberkulosis milier yang ditandai dengan nyeri abdomen dan demam. Oleh karena itu. Tuberkulosis intestinal didiagnosis dengan konfirmasi laparotomi dan biopsi darurat. Operasi Apendix dengan Nodule Lesi Pada Permukaan Muskulus Apendix Atas dasar tersebut.28 35 . dan hal ini terjadi sekitar 15-20% dari pasien tuberkulosis pulmoner yang aktif. Gambar 11. maka tuberkulosis enteritis merupakan suatu differential diagnosis pada pasien yang memiliki keluhan bagian abdomen terutama riwayat tuberkulosis pulmner sebelumnya.inisial yang dapat dilakukan ialah tube thoracostomy. Pembedahan pleurectomy dianjurkan pada pasien dengan simultanneous bilateral secondary spontaneous pneumothorax awal. pasien diberikan OAT selama 12 bulan dan kortikosteroid.

Setelah mendapatkan beberapa minggu terapi yang efektif.30 36 . sehingga dapat menjamin perlindungan saat paparan dengan orang lain.29 Menurut Buku Panduan Nasional Tuberkulosis Anak 2008 mengungkapkan bahwa terkadang pada TB Milier Akut yang menyeluruh (acute generalized miliary) dapat terjadi tuberkulosis kelenjar limfe superfisialis. maka diharapkan pasien mengalami perbaikan klinis yang signifikan. terjadi di kelenjar leher (cervical adenitis.5 Hobson (1950) juga mengungkapkan bahwa anemia aplastik juga merupakan salah satu komplikasi dari tuberkulosis milier. dan retraksi nampak minimal. Namun. limfadenitis kolli). yang harus diyakini bahwa pasien benar-benar tidak lagi menular.Sekitar 25% pasien dengan TB milier. Tidak adanya hasil sputum yang positif pada pasien tersebut. Manifestasi klinis tersering. sehingga hasil dapat optimal untuk memastikan kepatuhan dan mencegah kekambuhan pada pasien. dapat berlanjut sampai mengenai sistem saraf pusat yaitu meningitis TB dan tuberculoma. dan memiliki hasil negatif pada pemeriksaan sputum basil tahan asam. Tuberkulosis kelenjar leher umumnya di bagian anterior. Terapi harus diawasi secara langsung. kemudian terdapat juga didaerah aksila dan ingunial. Patogenesisnya secara lebih rinci tidak diketahui secara pasti.

clarithromycin. farmakokinetik dan faktor patologisnya. mekanisme metabolik. pirazinamid dan streptomisin atau etambutol selama 2 bulan pertama. Kortikosteroid (prednison) juga diberikan pada TB Milier dengan dosis 1-2 37 . Non farmakologis seperti pemberian nutrisi.BAB III PENUTUP III. streptomycin (atau amykacin). obat-obatan yang dapat digunakan untuk melawan aktifitas basil tuberkulosis sampai saat ini yaitu isoniazid (H). para-amin salicylate (PAS). dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin sampai 9-12 bulan sesuai dengan perkembangan klinis.17 Pemilihan regimen obat ini didasarkan pada sifat basil sendiri. dukungan emosional dari klinisi dan keluarga serta persiapan pasien untuk dapat melakukan kehidupan sosialnya setelah pulang dari rumah sakit merupakan hal yang sangat penting dilakukan. edukasi terhadap pasien serta keluarga pasien.1. cycloserine. rifampicin (R). resistensi obat. ethambutol (E) dan pyrazinamid (P) merupakan onat lini pertama yang dipakai. Kemudian sebagai obat lini kedua yaitu ciprofloxacin. rifampisin. Berdasarkan Buku Ajar Respirologi (2010) mengungkapkan bahwa pemberian 4-5 macam OAT. prothionamide.7 Dari aspek farmakologis. kombinasi isoniazid. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh melalui penulisan makalah tinjauan kepustakaan ini bahwa penatalaksanaan pada tuberkulosis milier mencakup dua aspek yakni penatalaksanaan farmakologis dan non farmakologis.

kehidupan lingkungan sosial yang lebih baik dan pengobatan yang adekuat untuk penderita TB. Apabila ternyata sudah terinfeksi TB Milier maka penatalaksanaan non farmakologis dan farmakologis harus dilaksanakan. harus dilakukan untuk pencegahan ke arah TB Milier.6 Berdasarkan hal tersebut.6 III. Dengan nutrisi yang baik.mg/kgBB/hari selama 2-4 minggu selanjutnya diturunkan perlahan-lahan hingga 2-6 minggu. maka pencegahan lebih baik dilakukan sebelum terinfeksi TB atau berlanjut kearah TB Milier. 38 .5. diketahui bahwa tuberkulosis milier memiliki angka kejadian sekitar 3-7% dari seluruh kasus TB dengan angka kematian yang tinggi (dapat mencapai 25% pada bayi).2 Saran Berdasarkan data yang didapatkan dari Pedoman Nasional TB 2008.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful