BAB III Profil

RESUME

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berkomitmen untuk menghilangkan
tetanus neonatorum pada tahun 1995. Tiga tahun setelah itu (1998), infeksi itu
menewaskan lebih dari 400.000 bayi per tahun, bahkanmeskipun vaksin telah
tersedia. WHO memperkirakan bahwa pada 2008, 59.000 bayi meninggal dari NT,
pengurangan 92% dari situasi di akhir 1980-an (pada tahun 1988, WHO mencatat bahwa
787.000 bayi meninggal karena tetanus neonatorum (NT) atau sekitar 6,7 NT kematian
per 1000 kelahiran hidup). Pada tahun yang sama, 46 negara masih belum dihilangkan
MNT di semua distrik. Meskipun kemajuan terus dilakukan, pada Desember 2010, 39
negara belum mencapai status eliminasi MNT.
(1)
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang
dihasilkan oleh Clostridium tetani, yang merupakan obligat anaerob, gram positif
batang yang motil dan mudah bentuk endospora, ditandai dengan spasme otot yang
periodik dan berat
.
Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang
disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi
oleh Clostridium tetani
.
Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui
luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali
pusat (Tetanus Neonatorum ).
(1,2)
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 6

A. PENDAHULUAN
a) Data Kasus
Tetanus ibu dan bayi baru lahir didunia merupakan penyebab penting
dari kemat i an i bu dan bayi , s eki t ar 180. 000 kehi dupan di s el ur uh
duni a s et i ap t ahun, hampir secara eksklusif di negara-negara berkembang.
Meskipun sudah dicegah dengan maternal immunization, dengan vaksin, dan
aseptis obstetric, tetanus ibu dan bayi tetap sebagai masalah kesehatan masyarakat
di 48 negara, terutama di Asia dan Africa (Anariyusmi, 2010).
S a l a h s a t u u p a y a d a r i n e g a r a - n e g a r a d u n i a u n t u k
me n u r u n k a n a n g k a k e ma t i a n a n a k d a n me n i n g k a t k a n k e s e h a t a n
i b u a d a l a h d e n g a n me n t a r g e t k a n eliminasi tetanus neonatorum.
Sebanyak 104 dar i 161 negar a ber kembang t el ah mencapai
keber has i l an i t u. Tet api , kar ena t et anus neonat or um mas i h
mer upakan persoalan signifikan di 57 negara berkembang lain, UNICEF,
WHO dan UNFPA pada Desember 1999 setuju mengulur eliminasi hingga 2005.
Target eliminasi tetanus neonatorum adalah satu kasus per seribu kelahiran di
masing-masing wilayah dari setiap negara. WHO mengestimasikan 59.000
neonatus seluruh dunia mati akibat tetanus neonatorum. (WHO, 2010).
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 7
Data kasus tetanus neonatorum dan penyebarannya di beberapa negara (WHO)
Kasus tetanus Neonatorum di I ndones i a mas i h t i nggi , dat a t ahun
2007 s e b e s a r 1 2 , 5 p e r 1 0 0 0 k e l a h i r a n h i d u p ; s e d a n g k a n t a r g e t
El i mi n a s i Te t a n u s Neonatorum (ETN) yang ingin dicapai adalah 1 per
1000 kelahiran hidup. (Survey Penduduk Antar-Sensus (Supas, 2008). Beberapa
upaya telah dilakukan antara lain dengan imunisasi TT diberikan sejak bayi, DPT 3x
murid Sekolah Dasar, meningkatkan cakupan imunisasi TT pada Calon Penganten
(Caten), Ibu Hamil (Bumil) dan Wanita Usia Subur (WUS), surveilans Tetanus
Neonatorum dan persalinan bersih.
T e t a n u s n e o n a t o r u m m e n y e b a b k a n 5 0 % k e m a t i a n
p e r i n a t a l d a n menyumbangkan 20% kematian bayi. Angka kejadian 6-
7/100 kelahiran hidup di perkotaan dan 11-23/100 kelahiran hidup di
pedesaan. Sedangkan angka kejadian tetanus pada anak di rumah sakit 7-40
kasus/tahun, 50% terjadi pada kelompok 5-9tahun, 30% kelompok 1-4 tahun, 18%
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 8
kelompok > 10 tahun, dan sisanya pada bayi <12 bulan. Angka kematian keseluruhan
antara 6,7-30%. (BAPPENAS, 2010).
(3)
Jumlah penderita tetanus neonatorum di Sumatera Selatan dari tahun 2000-2009
Sumber: Depkes RI. Database Kesehatan Per Provinsi.2010 (Online):
(http://www.bankdata.depkes.go.id/nasional/public/report/createtablepit)
Jumlah kasus tetanus neonatorum di kota Palembang tahun 2007 dan 2008
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 9
Sumber: Depkes RI. Database Kesehatan Per Kabupaten. 2010 (Online):
(http://bankdata.depkes.go.id/propinsi/public/report/createtablepti)
a) Urgensi
Tet anus adal ah s al ah s at u penyaki t yang pal i ng ber es i ko
menyebabkan kematian bayi baru lahir. Tetanus yang menyerang bayi usia
di bawah satu bulan, dikenal dengan istilah tetanus neonatorum yang
disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani. Penyakit menyebabkan resiko
kematian sangat tinggi. Bisa dikatakan, 100% bayi yang lahir terkena tetanus
akan mengalami kematian. (Kusmariadi, 2009).
Pada tahun 2007, Filipina dan Indonesia mencatatkan jumlah kasus
tetanus neonat or um t er t i nggi di ant ar a 8 negar a ASEAN, dengan 175
kas us t er j adi di I ndones i a dan121 kas us t er j adi di Fi l i pi na. Jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk, angka tertinggi kasus tetanus
neonatorum terjadi di Kamboja. Indonesia menduduki u r u t a n k e - 5 .
J u ml a h k a s u s t e t a n u s n e o n a t o r u m d i I n d o n e s i a p a d a t a h u n
2 0 0 7 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian (case fatality rate (CFR)
56% (DepkesRI, 2008).
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 10
B. ISI
a) Triad Epidemiologi
Tetanus tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi
dengan cakupan imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis and Tetanus) yang rendah.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak
sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora
kuman Clostridium tetaniyang tahan kering dapat bertebaran di mana- mana.
Por t of ent r y t ak s el al u dapat di ket ahui dengan pas t i , namun dapat
di duga melalui :
1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
3. OMP, caries gigi
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril
5. Penjahitan luka robek yang tidak steril
6. Luka bekas suntikan narkoba.
(4)
i. Agent
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 11
Tetanus disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Clostridium
tetani marupakan bakteri berbentuk batang lurus, langsing, berukuran panjang 2-5
mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini membentuk eksotoksin yang disebut
tetanospasmin. Kuman ini terdapat di tanah terutama tanah yang tercemar tinja manusia
dan binatang, seperti kotoran kuda, domba, sapi, anjing, kucing, tikus, dan
babi. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif, anaerobic (tidak dapat bertahan
hidup dalam kehadiran oksigen), berspora, dan mengeluarkan eksotoksin. Costridium
tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin.Tetanospamin-lah
yang dapat menyebabkan penyakit tetanus, sedangkan untuk tetanolisin belum diketahui
dengan jelas fungsinya. Perkiraan dosis mematikan minimal dari kadar toksin
(tenospamin) adalah 2,5 nanogram per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk
70 kilogram (154lb) manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah
protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas
H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif.
Spora dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan bahan kimia, seperti
etanol, phenol, dan formalin. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave pada suhu
249.8°F (121°C) selama 10–15 menit, juga resisten terhadap phenol dan agen kimia
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 12
yang lainnya. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun, jika ia
menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, ia
akan memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama
tetanospasmin.
(1,5,6)
ii. Host
Host penyakit tetanus adalah manusia dan hewan, khususnya hewan vertebrata, seperti
kucing, anjing, dan kambing
iii. Enviroment
Tetanus merupakan penyakit infeksi yang prevalensi dan angka kematiannya masih
tinggi. Tetanus terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis, daerah dengan
cakupan imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis andTetanus) yang rendah dan di
daerah peternakan.
Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang bisa mengakibatkan kematian yang
disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini ditemukan di tanah dan
feses manusia dan binatang. Karena itulah, daerah peternakan merupakan daerah yang
rentan untuk terjadinya kasus tetanus.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 13
Pada tahun 2001, diperkirakan 282.000 orang di seluruh dunia meninggal karena
tetanus, yang terbesar terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, yang merupakan
daerah tropis.
b) Transmisi

Tetanus tidak ditularkan dari orang ke orang. Luka, baik besar ataupun kecil,
menjadi jalan masuknya bakteri menyebab tetanus (Clostridium tetani), sekaligus
menjadi tempat berkembang dan menghasilkan racun. Tetanus dapat mengikuti operasi
elektif, luka bakar, luka tusuk yang dalam, luka menghancurkan, otitis media, infeksi
gigi, gigitan hewan, aborsi, dan kehamilan.
(7)
Pengguna heroin, terutama mereka yang menggunakan jarum suntik secara
subkutan dengan kina-potong heroin, berisiko tinggi terkena tetanus. Kina digunakan
untuk mencairkan heroin dan benar-benar dapat mendukung pertumbuhan
bakteri Clostridium tetani.
Selama 1998-2000, cedera akut atau luka seperti tusukan, laserasi, dan lecet
menyumbang 73% dari kasus dilaporkan tetanus pada rakyat AS yang bekerja di bidang
yang mempunyai risiko untuk tertusuk, luka, dan lecet.
(7)
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 14
c) Riwayat Alamiah
i. Masa inkubasi dan klinis
Masa inkubasi berkisar dari 2 hari sampai sebulan, dengan sebagian besar (rata-
rata) kasus terjadi dalam 14 hari. Pada neonatus, masa inkubasi biasanya 5-14 hari.
Secara umum, periode inkubasi pendek berhubungan dengan terkontaminasi luka,
penyakit lebih parah, dan prognosis yang buruk.
(7)
Masa inkubasi berkisar antara 3 sampai 21 hari, biasanya sekitar 8 hari. Semakin
pendek masa inkubasi, semakin tinggi peluang kematian, biasanya kurang dari 72 jam.
Dalam gejala tetanus neonatorum, biasanya muncul 4-14 hari setelah kelahiran, rata-rata
sekitar 7 hari.
Karakteristik/gejalan klinis tetanus:
• Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari.
• Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya
• Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
• Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher.
Kemudian timbul kesukaran membuka mulut ( trismus, lockjaw ) karena spasme otot
masetter.
• Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk ( opistotonus , nuchal rigidity )
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 15
• Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas, sudut
mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .
• Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai dengan
• Eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik.
• Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin,
bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis ( pada anak ).
(2)
Te t a n u s t i d a k b i s a s e g e r a t e r d e t e k s i k a r e n a ma s a i n k u b a s i
p e n y a k i t i n i berlangsung hingga 21 hari setelah masuknya kuman tetanus
ke dalam tubuh. Pada masa inkubasi inilah baru timbul gejala awalnya.
Gejala penyakit tetanus bisa dibagi dalam tiga tahap, yaitu:
• Tahap pertama
Rasa nyeri punggung dan perasaan tidak nyaman di seluruh tubuh
merupakan gej al a awal penyaki t i ni . Sat u har i kemudi an bar u t er j adi
kekakuan ot ot . Beber apa penderita juga mengalami kesulitan menelan. Gangguan
terus dialami penderita selama infeksi tetanus masih berlangsung.
• Tahap kedua
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 16
Ge j a l a a wa l b e r l a n j u t d e n g a n k e j a n g y a n g d i s e r t a i n y e r i
o t o t p e n g u n y a h (Trismus). Gejala tahap kedua ini disertai sedikit rasa kaku
di rahang, yang meningkat sampai gigi mengatup dengan ketat, dan mulut tidak bisa
dibuka sama sekali. Kekakuan ini bisa menjalar ke otot-otot wajah, sehingga wajah
penderita akan terlihat menyeringai ( Risus Sardonisus), karena tarikan dari otot-otot di
sudut mulut.Selain itu, otot-otot perut pun menjadi kaku tanpa disertai rasa nyeri.
Kekakuan tersebut akan semakin meningkat hingga kepala penderita akan
tertarik ke belakang (Ophistotonus). Keadaan ini dapat terjadi 48 jam setelah
mengalami luka.
Pada tahap ini, gejala lain yang sering timbul yaitu penderita menjadi lambat dan
sulit bergerak, termasuk bernafas dan menelan makanan. Penderita mengalami
tekanan di daerah dada, suara berubah karena berbicara melalui mulut atau
gigi yang terkatu berat, dan gerakan dari langit-langit mulut menjadi terbatas.
• Tahap ketiga
Daya rangsang dari sel-sel saraf otot semakin meningkat, maka terjadilah kejang
refleks. Biasanya hal ini terjasi beberapa jam setelah adanya kekakuan otot. Kejang otot
ini bisa terjadi spontan tanpa rangsangan dari luar, bisa juga karena adanya
rangsangan dari luar, misalnya cahaya, sentuhan, bunyi-bunyian dan
sebagainya. Pada awalnya, kejang ini hanya berlangsung singkat, tapi
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 17
semakin lama akan berlangsung lebih lama dan dengan frekuensi yang lebih
sering.
Sel ai n dapat menyebabkan r adang ot ot j ant ung ( mycarditis) , t et anus
dapat menyebabkan sulit buang air kecil dan sembelit. Pelukaan lidah,
bahkan patah tulang bel akang dapat t er j adi aki bat adanya kej ang ot ot
hebat . Per naf as an j uga dapat terhenti karena kejang otot, sehingga
beresiko menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan karena sumbatan saluran
nafas, akibat kolapsnya saluran nafas, sehingga refleks batuk tidak memadai,
dan penderita tidak dapat menelan.
(2,4)
Ada tiga bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni :
1. Localited tetanus ( Tetanus Lokal )
2. Cephalic Tetanus
3. Generalized tetanus (Tctanus umum)
1. Tetanus Lokal (Lokalited Tetanus)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah
tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda
dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa
bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 18
Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk
yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai
sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama
dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin. Hanya sekitar 1% dari kasus yang
fatal.
2. Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar
1 –2 hari, yang berasal dari otitis media (infeksi telinga) kronik , seperti dilaporkan di
India, luka pada daerah muka dan kepala.Terisolasi atau dikombinasikan disfungsi dari
salah satu saraf kranial dapat terjadi, tetapi keterlibatan dari saraf kranial ketujuh adalah
yang paling umum.
3. Tetanus Umum (Generalized Tetanus)
Bentuk ini yang paling banyak dikenal (80%). Trismus atau kejang mulut
merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan
otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya
kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin)
yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( kekakuan otot punggung), kejang dinding
perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 19
nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensi urine, kompressi fraktur dan
pendarahan di dalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi bisa
mencapai 2-4
0
C. Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil
dan dijumpai takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya
berdasarkan gejala klinis.
Udara dingin, kebisingan, lampu (cahaya) serta gerakan pasien dapat memicu
kejang paroksismal.Kejang dapat terjadi sering dan berlangsung selama beberapa menit.
Kejang dapat terus berlanjut selama 3-4 minggu. Kadang-kadang, pasien dengan tetanus
umum menampilkan manifestasi otonom yang menyulitkanperawatan pasien
dan dapat mengancam nyawa pasien. Overactivity sistem saraf simpatik lebih
sering ditemui pada pasien usia lanjut atau pecandu narkotika dengan
tetanus. Overaktivitas otonom dapat mengakibatkanfluktuasi yang luas pada tekanan
darah yang bervariasi dari hipertensi sampai hipotensi, serta takikardia,berkeringat,
hipertermia, dan aritmia jantung.
Neonatal tetanus (tetanus neonatorum) adalah bentuk tetanus umum, biasanya
disebabkan infeksiClostridium tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses
pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan
persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi
spora Clostridium tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang telah
terkontaminasi.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 20
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang
tidak steril,merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus. Menurut
penelitian E.Hamid.dkk, Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr.Pringadi Medan, pada
tahun 1981. ada 42 kasus dan tahun 1982 ada 40 kasus tetanus. Biasanya ditolong
melalui tenaga persalianan tradisional ( TBA =Traditional Birth Attedence ) 56 kasus
( 68,29 % ), tenaga bidan 20 kasus ( 24,39 % ) ,dan selebihnya melalui dokter 6 kasus
( 7, 32 %).
Neonatal tetanus merupakan kejadian umum di beberapa negara berkembang
(diperkirakan lebih dari 257.000 kematian tahunan di seluruh dunia pada 2000-2003).
Namun sangat jarang di Amerika Serikat.Neonatus muncul seminggu setelah
kelahiran dengan demam, muntah dan 'kejang'. Diferensial diagnosis termasuk sepsis
dan meningitis. Penyebabnya biasanya kebersihan selama prosese persalinan yang
kurang. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi ibu, yang diberikan selama
kehamilan.
(1,2,7,8)
ii. Masa laten dan periode infeksi
Tetanus tidak menular dari orang ke orang. Tetanus dicegah dengan vaksin penyakit
yang menular, DTP (difteri, tetanus, and pertusis), tapi tidak menular. Luka, baik besar
maupun kecil, adalah jalan bakteriClostridium tetani masuk ke dalam tubuh. Tetanus
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 21
dapat disebabkan oleh luka bakar, luka tusuk yang dalam, otitis media, infeksi gigi,
gigitan hewan, aborsi, dan persalinan yang tidak steril.
Tetanus tidak mempunyai periode infeksius karena tetanus tidak menular dari orang
ke orang. Tetanus merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, tapi tidak
menular.
(7)
d) Pencegahan
Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulangan
artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka
sama seperti orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Tidak terbentuknya
kekebalan pada penderita setelah ia sembuh dikarenakan toksin yang masuk ke dalam
tubuh tidak sanggup untuk merangsang pembentukkan antitoksin ( kaena tetanospamin
sangat poten dan toksisitasnya bisa sangat cepat, walaupun dalam konsentrasi yang
minimal, yang mana hal ini tidak dalam konsentrasi yang adekuat untuk merangsang
pembentukan kekebalan).

(2)
Vaksinasi adalah cara pencegahan terbaik terhadap tetanus. Komite Penasehat
untuk Praktik Imunisasi (ACIP) merekomendasikan bahwa semua anak menerima
serangkaian rutin dari 5 dosis difteri dan vaksin tetanus pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan,
dan 4-6 tahun. Dosis booster difteri dan tetanus toxoid harus diberikan dimulai pada usia
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 22
11-12 tahun (minimal 5 tahun sejak dosis terakhir) dan diulangi setiap 10 tahun
sesudahnya. Saat ini, DTaP dan DT harus digunakan pada orang kurang dari tujuh tahun,
sedangkan Td diberikan kepada mereka yang berusia tujuh tahun atau lebih. Jadwal
catch-up imunisasi Td bagi mereka dimulai pada usia tujuh tahun atau lebih terdiri dari
tiga dosis. Dosis kedua biasanya diberikan 1-2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis
ketiga diberikan 6 bulan setelah dosis kedua. Aselular formulasi vaksin pertusis bagi
remaja dan orang dewasa yang berlisensi dan dikombinasikan dengan difteri dan
tetanus-toxoid. Jadwal yang disarankan untuk Tdap belum ditentukan, tetapi vaksin ini
harus diterima dalam kondisi yang tepat.
(1,9)
Untuk pencegahan tetanus neonatorum, langkah-langkah pencegahan, selain
imunisasi ibu, adalah program imunisasi untuk gadis remaja dan wanita usia subur serta
pelatihan yang tepat bidan dalam rekomendasi untuk imunisasi dan teknik aseptik dan
pengendalian infeksi.
Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program
eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil.
Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal
adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih; 2) cakupan imunisasi
rutin TT yang t i nggi dan merat a; dan 3) penyel enggaraan survei l ans.
Beberapa permasal ahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia
subur yaitu pelaksanaan skrining yang bel um opt i mal , pencat at an yang
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 23
di mul ai dari kohort WUS (bai k kohort i bu maupun WUS tidak hamil)
belum seragam, dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan
K4. Cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengal ami
perkembangan, bahkan cenderung menurun. Namun sej ak dua
t ahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+, dari 26% pada
tahun 2007 menjadi 42,9% pada tahun 2008, kemudian meningkat lagi menjadi
62,52% pada tahun 2009 (Kemenkes RI. 2009).
(3)
Data dari WHO menunjukkan bahwa, dari tahun ke tahun cakupan imunisasi
DTP3 mengalami kenaikan. Semakin tingginya cakupan imunisasi, baik imunisasi DTP3
maupun TT2, menunjukkan penurunan pada terjadinya kasus tetanus, tetanus
neonatorum.
Cakupan imunisasi DTP3 dari tahun 1980 sampai tahun 2009 (WHO)
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 24
Jumlah total kasus tetanus dan Imunisasi DTP3, 1980-2009 (WHO)
Laporan kasus tetanus neonatal dan imunisasi TT2+, 1980-2009 (WHO)
Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi cakupan imunisasi, baik imunisasi
DTP3 maupun TT2, maka kasus tetanus akan semakin turun.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 25
Jadwal pemberian imunisasi:
1. Bayi dan Anak Normal
Imunisasi harus dimulai pada awal masa bayi
dan memerlukan empat suntikan DTaP diberikan
pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 15-18
bulan. Dosis pertama diberikan pada usia 4-6
tahun. Sepuluh tahun setelah
dosis pertama (usia 14-16 tahun), suntikan
Td, yang berisi dosis yang samatetanus toksoid
sebagai DTP dan dosis difteri toxoid
yang dikurangi, harus diberikan dan diulang setiap
10 tahun sepanjang hidup individu dalamperistiwa
yang tidak ada reaksi signifikan untuk DTP atau
Td.
2. Bayi dan Anak Normal Usia Tujuh Bulan yang
tidak Mendapat I munisasi di Awal
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 26
DTP harus diberikan pada
kunjungan pertama dan 2 dan 4 bulan setelah
injeksi pertama. Dosis keempat harus diberikan 6-
12 bulan setelah terlebih dulu
injeksi pertama. Dosis pertama diberikan antara 4
dan 6 tahun. Sepuluh tahun setelah
dosis pertama (14-16 tahun), suntikan Td
harus diberikan dan diulang setiap 10 tahun di
seluruh. Prasekolah dosis tidak diperlukan jika
dosis keempat dari DTP merupakan diberikan
setelah ulang tahun keempat.
3. Anak Usia Tujuh Tahun atau Lebih yang Belum
diimunisasi
Imunisasi memerlukan setidaknya tiga suntikan
Td. Suntikan harus diberikan pada kunjungan
pertama , 4-8 minggu setelah bulan pertama Td,
dan 6-12 setelah Td kedua. Td suntikan
harus berulang setiap 10 tahun sepanjang hidup
dalam hal bahwa tidak ada reaksi yang signifikan
untuk Td.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 27
4. Wanita hamil yang belum Diimunisasi
Neonatal tetanus dapat dicegah dengan imunisasi
aktif dari ibu hamil.Wanita hamil yang belum
diimunisasi harus menerima dua dosis Td sebelum
persalinan, sebaiknya selama dua trimester terakhir,
diberikan 2 bulanterpisah. Sebelum ada bukti
bahwa tetanus dan difteri toxoid yang teratogenik.
Setelah melahirkan, sang ibu harus diberi dosis
ketiga Td 6 bulan setelah dosis kedua untuk
melengkapi imunisasi aktif. Td suntikan harus
diulang setiap 10 tahun sepanjang hidup dalam hal
bahwa tidak adareaksi signifikan terhadap Td. Jika
neonatus yang ditanggung oleh seorang ibu yang
belum diimunisasi tanpa perawatan kebidanan, bayi
harus menerima 250 unit TIG manusia. TIG adalah
solusi dari gamma globulin disiapkan dari darah
vena manusia, hyperimmunized dengan tetanus
toksoid.

Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 28
5. Anak di bawah Tujuh Bulan dengan
Kontraindikasi untuk Vaksinasi Pertusis
DT (untuk penggunaan pediatrik) lebih
baik digunakan daripada DTaP.Anak di bawah 1
tahun menerima imunisasi DT sebanyak 4 kali.
Tiga dosis pertama diberikan dengan interval 4-8
minggu dan dosis keempat 6-12 bulan
kemudian. Jika dosis vaksin pertusis menjadi
kontraindikasi setelah mulai DTaP di tahun pertama
kehidupan anak, DT harus diganti dengan DTaP di
jadwal yang tersisa.
6. Bayi dengan Penyakit Neurologis
Bayi yang memiliki atau diduga memiliki
penyakit neurologis, pemberian imunisasi DTaP
atau DT ditunda sampai observasi lebih lanjut dan
status neurologis anak telah jelas. Tapi, imunisasi
DTaP atau DT dilakukan selambat-lambatnya anak
berusia satu tahun.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 29
7. Bayi Dengan Gangguan N eurologis
sementara Berkaitan dengan DTaP Vaksinasi
Bayi dan anak-anak yang mengalami kejang
dalam waktu 3 hari sejak diterimanya DTaP atau
ensefalopati dalam 7 hari tidak boleh menerima
vaksin pertusis, bahkan
meskipun penyebab dan akibat mungkin tidak bisa
dimunculkan.
8. Anak-anak dengan Gangguan N eurologis tidak
Diimunisasi dengan Lengkap
Jika kejang atau gangguan lainnya terjadi
sebelum ulang tahun pertamadan penyelesaian
terlebih dulu tiga dosis utama serangkaian DTaP,
dosis lebih lanjut DTaP atau DT dianjurkan sampai
status bayi
telah jelas.
9. Bayi dan Anak-anak dengan Kondisi Neurologis
Stabil
Bayi dan anak-anak dengan kondisi neurologis
yang stabil, termasuk kejang terkendali dengan
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 30
baik, dapat divaksinasi. Terjadinya kejang tunggal
(terkait dengan DTaP) pada bayi dan anak
kecil, sementara yang memerlukan evaluasi, tidak
perlu imunisasi DTaP, terutama jika kejang dapat
dijelaskan secara memuaskan. Antikonvulsan
profilaksis harus dipertimbangkan ketika
memberikan DTaP ke
anak-anak tersebut.
10. Anak-anak dengan Gangguan neurologis yang Terselesaikan
Imunisasi DTaP dianjurkan untuk bayi dengan masalah neurologis tertentu yang
telah jelas mereda atau telah diperbaiki, seperti neona-hypocalcemic tetani
atau hidrosefalus (berikut
penempatan shunt dan tanpa kejang).

e) Pengobatan
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 31
Tujuan terapi adalah untuk mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran
toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pernapasan sampai pulih. Dan
tujuan tersebut dapat diperinci sebagai berikut :
• Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
• membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik),
• membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202, dalam hal ini penata
laksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah anti tetanus serum (ATS)
dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
• Diet cukup kalori dan protein
Bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan. Hila ada
trismus, makanan dapat diberikan personde atau parenteral.
(2)
• Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila ada komplikasi
• Penisillin prokain 50.000 IU/kg BB/kali i.m, tiap 12 jam, atau
• Metronidazol loading dose 15 mg/kg BB/jam, selanjutnya 7,5 mg/kg BB tiap 6 jam
Catatan : Bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan antibiotika yang sesuai.
• Imunisasi aktif-pasif
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 32
• Ant i t et anus s er um ( ATS) 5. 000- 10. 000 I U, di ber i kan i nt r amus kul ar .
Unt uk n e o n a t u s b i s a d i b e r i k a n i v ; a p a b i l a t e r s e d i a d a p a t
d i b e r i k a n Hu ma n t e t a n u s immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU i.m.
• Dilakukan imunisasi DT/TT/DTP pada sisi yang lain, pada saat bersamaan.
• Anti konvulsi
· MÞ Þ 4· Þ Þ OC E· · · ·4 Þ Þ Þ M 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
·OEÞ ¤ Þ 1 1 111
Bila datang dengan kejang diberi diazepam :
- neonatus bolus 5 mg iv
- anak bolus 10 mg iv
Dosis rumatan maximal :
- anak 240 mg/hari
- neonatus 120 mg/hari
- Bila dengan dosis 240 mg/hari masih kejang (tetanus sangat berat), harus
dilanjutkan dengan bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat
ditingkatkan sampai 480mg/hari, dengan atau tanpa kurarisasi.
- Diazepam sebaiknya diberikan dengan syringe pump, jangan dicampur dalam
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 33
botol cai r an i nf us . Bi l a t i dak ada s yr i nge pump, di ber i kan bol us t i ap 2
j am ( 12x/hari)
- Dapat dipertimbangkan penggunaan anti konvulsan lain, seperti magnesium sulfat, bila
ada gangguan saraf otonom. P e r a wa t a n l u k a a t a u p o r t d ’ e n t r e e y a n g
d i c u r i g a i , d i l a k u k a n s e k a l i g u s d e n g a n pembuangan j ar i ngan yang
di duga mengandung kuman dan s por a ( debridemant), sebaiknya dilakukan
setelah diberi antitoksin dan anti-konvulsi.
• Terapi suportif
• Bebaskan jalan nafas
• Hi n d a r k a n a s p i r a s i d e n g a n me n g h i s a p l e n d i r p e r l a h a n - l a h a n
d a n me mi n d a h - mindahkan posisi pasien
• Pemberian oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
• Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila perlu dapat dipasang sonde
nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang
• Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit
• Tetanus sedang dan berat
Tetanus sedang
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 34
• Perhatian khusus pada keadaan jalan nafas (akibat kejang dan aspirasi)·
• Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.
Tetanus berat/sangat berat
• Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau tracheostomi
• Balans cairan dimonitor secara ketat
- Apabi l a spas me s angat hebat ( t et anus ber at ) , per l u vent i l as i
mekani k dengan p a n k u r o n i u m b r o mi d a 0 , 0 2 mg / k g b b i n t r a v e n a ,
d i i k u t i 0 , 0 5 mg / k g b b / k a l i , diberikan tiap 2-3 jam
- Apabi l a t er j adi akt i f i t as s i mpat i s yang ber l ebi han, ber i kan b-
bl ocker s eper t i propanolol/a dan b- blocker labetalol.
(1,4)

C. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang
disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 35
oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme
otot yang periodik dan berat. Tetanus biasanya akut
dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan
tetanospasmin yang merupakan neurotoksin yang
diproduksi oleh Clostridium tetani. Ciri utama dari
tetanus adalah kekakuan otot (spasme), tanpa
disertai gangguan kesadaran.
Seorang penderita yang terkena tetanus
tidak imun terhadap serangan berikutnya, artinya
dia mempunyai kesempatan yang sama untuk
terkena tetanus bila terjadi luka sama seperti orang
lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Pencegahan
terhadap tetanus dapat dilakukan dengan pemberian
imunisasi aktif, berupa DPT atau DT, yang
diberikan sejak anak berusia 2 bulan.
Saran
1. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
2. Masyarakat sebaiknya selalu mengikuti program
imunisasi yang telah diselenggarakan pemerintah
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 36
karena itu semua demi kepentingan masyarakat itu
sendiri.
3. Pemerintah dan petugas kesehatan sebaiknya
melakukan sosialisasi atau penyuluhan tentang
pentingnya imunisasi kepada masyarakat, sehingga
masyarakat dapat tahu betapa pentingnya imunisasi
bagi kesehatan anak-anak mereka.
D. GAMBAR PENDUKUNG

Spora tetanus bacilli dapat tinggal di tanah
bertahun-tahun. Spora dapat bertahan pada suhu
121
0
C.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 37
Clostridium tetani dapat hidup pada manusia,
ternak, dan hewan lain. Clostridium tetani juga
memproduksi neurotoxin yang dapat
meneyebabkan terjadinya tetanus.
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 38
Tetanus pada hewan : Anjing dan Kuda
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 39

DAFTAR PUSTAKA
1. Richard F. Edlich, dkk. Management and Prevention of Tetanus. Jurnal (Online).
2003 : Diambil dari :http://www.plasticosfoundation.org/articles/tetanus-article.pdf
2. Kiking Ritarwan. Tetanus. Jurnal (Online). 2004 : Diambil
dari :http://library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-kiking2.pdf
3. http://www.scribd.com/doc/56778191/BAB-1-PIPIN
4. I Dewa Ayu Vanessa. Tetanus. Skripsi (Online). Diambil
dari :http://www.scribd.com/doc/7432195/Laporan-Kasus-TETANUS
5. I Wayan Arditayasa. Clostridium tetani. Jurnal (Online). 2008 : Diambil
dari :http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/i-wayan-arditayasa-078114135.pdf
6. John C. Hariding. Clinical Signs are an Interaction of Host, Agent and the
Environment. Jurnal (Online): Diambil
dari : http://www.banffpork.ca/proc/2005pdf/BO09-HardingJ.pdf
7. Departemen Kesehatan Masyarakat, Biro Pengendalian Penyakit Menular. Tetanus.
Jurnal (Online). 2006 : Diambil
dari : http://www.mass.gov/Eeohhs2/docs/dph/disease_reporting/guide/tetanus.pdf
8. Seema Quasim. Management of Tetanus. Jurnal (Online). Diambil
dari :http://www.frca.co.uk/documents/tetanus.pdf
9. Slaven, Ellen M., dkk. Infectious Diseases: Emergency Department Diagnosis and
Management. 2007. Mc Graw Hill. USA
Profil KESEHATAN Propinsi Kalimantan Tengah 2005 40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.