28

PENGARUH DOSIS MULSA DAUN CENGKEH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SERTA PERKEMBANGAN PENYAKIT BERCAK UNGU PADA DUA KULTIVAR TANAMAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.)
Effects of Clove Leave Mulch Doses on Growth, Yield and Development of Purple Blotch Diseases on Two Cultivars of Garlic (Allium sativum L.) Hardjono Sri Gutomo Mahasiswa Program ascasarjana, Unibraw, Malang Fakultas Pertanian UNS Surakarta Nur Basuki dan Yogi Sugito Dosen Fakultas Pertanian Unibraw, Malang ABSTRAK Percobaan untuk mengetahui pengaruh empat taraf dosis mulsa daun cengkeh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih kultivar Lumbu Hijau dan kultivar Lokal Kayu telah dilakukan pada musim hujan sejak bulan Desember 1977 sampai Maret 1998. Percobaan faktorial dilaksanakan dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat interaksi nyata antara penggunaan dosis mulsa daun cengkeh dengan macam kultivar terhadap bobot kering total, laju tumbuh pertanaman (CGR) dan intensitas serangan A. porri, tetapi tidak nyata terhadap indek luas daun (LAI), luas daun spesifik (SLA) dan bobot umbi kering. Hasil umbi kering kultivar Lumbu Kayu rata-rata lebih besar dibanding kultivar Lumbu Hijau untuk semua perlakuan dosis mulsa. Dosis mulsa mempunyai hubungan berbentuk kubik dengan hasil panen. Hasil maksimun dicapai pada pemberian mulsa dengan dosis 10 t/ha. Pemberian mulsa daun cengkeh dapat meningkatkan bobot umbi bawang putih sebesar 6,494 t/ha pada kultivar Lumbu Kayu, dan 4,040 t/ha pada kultivar Lumbu Hijau, dan menurunkan intensitas serangan A. porri pada kultivar Lumbu Hijau sebesar 10,63 %, tetapi menaikkan intensitas serangan sebesar 17,81 % pada kultivar Lumbu Kayu. Kata Kunci: Allium sativum L., Mulsa, Alternaria porri ABSTRACT The experiment aimed at determining the effect of four level doses of clove leave mulch on the growth and yield of garlic cultivars of Lumbu Hijau and Lumbu Kayu conducted in wet season since December 1997 until March 1998. The experiment used the factorial Randomized Complete Block Design with four replications. The result of the experiment showed that significant interaction was evident between the usage of doses of clove mulch and the kind of cultivar and the total dry weight, Crop Growth Rate (CGR) and disease intensity of Purple Blotch Disease caused by Alternaria porri. This, however, was not true for the Leaf Area Index (LAI), Specific Leaf Area (SLA) and dry weight of bulb.

Penggunaan mulsa daun cengkeh di-harapkan selain dapat meningkatkan pro-duktivitas lahan juga dapat menekan per-kembangan penyakit bercak ungu Alternaria porri.9 t/ha.805 ton dengan hasil rata-rata 5. bakteri sampai virus. 1996. mulai dari cendawan. The maximum yield was reached at 10 t/ha mulch dose. (1992).29 The average yield of dry bulb of Lumbu Kayu cultivar was bigger than that of Lumbu Hijau for all the doses of mulch treatments. Diantara ketiga kelompok tersebut yang paling sering menyerang bawang putih adalah penyakit bercak ungu yang dise-babkan oleh jamur Alternaria porri.563 ha dengan produksi 287. Untuk Jawa Tengah luas panen 6. Mulsa daun cengkeh disamping mem-punyai peran dalam menekan kehilangan air tanah sehingga mempertahankan kelem-baban. 1993).81% on the Lumbu Kayu cultivar. 1994).. menekan erosi melalui pengurangan langsung pukulan air hujan terhadap tanah juga dapat menekan intensitas serangan cendawan yang meru-pakan salah satu hambatan dalam mencapai hasil optimum bawang putih dataran tinggi (Stoner et al. porri on the lumbu hijau cultivar by 10. Mano-hara et al. Rickerl et al.63% but did otherwise by 17.. Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii (Mustika dan Rachmat. Alternaria porri PENDAHULUAN Produksi tanaman bawang putih di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.. Patogen ter-sebut dapat menyebabkan kerugian dengan berbagai variasi. Stauffer. Using clove leave mulch increased the yield of garlic bulb by 6. Mulch.. Foshee et al. 1996.49 t/ha on the Lumbu Kayu cultivar and by 4. Berdasarkan angka BPS tahun 1998 luas panen bawang putih di Indonesia seluas 36. It decreased the disease intensity of A. menjaga suhu tanah.04 t/ha on the Lumbu Hijau cultivar.506 ton atau hasil ratarata 7.. namun untuk mencukupi kebutuhan. Diantaranya pada lebar daun maupun habitat dari tanaman. 1996. Hasil penelitian menunjukkan bahwa be-berapa macam produk cengkeh (eugenol. Tidak sedikit jenis penyakit yang menye-babkan panen bawang putih gagal. tepung daun dan seresah daun cengkeh) dapat digunakan untuk pengendalian pe-nyakit busuk batang panili dan mengham-bat pertumbuhan beberapa jamur patogen seperti Phytophthora capsici. Di Indonesia data mengenai kerugian hasil oleh patogen ini sangat bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Tanaman bawang putih kultivar Lum-bu Kayu mempunyai sifat morphologi yang berbeda dengan kulivar Lumbu Hijau. Kultivar Lumbu Hijau mempunyai daun yang .. yang dapat menyerang seluruh bagian tanaman bawang putih pada semua stadia per-tumbuhan (Black et al.. Menurut Ueda et al. 1993).40% (Rukmana. The mulch dose had cubic relation to the yield.90% (Sastrahidayat. Seringkali penanaman bawang putih mengalami kehancuran. 1995). seperti di Denmark bisa mencapai 25%-30% pada bawang daun dan di Thailand pada bawang putih mencapai 40% . karena gagalnya panen akibat gangguan hama dan penyakit. Key words: Allium sativum L. Indo-nesia sampai sekarang masih impor yang cukup besar. 1985).5 t/ha.320 dengan produksi 34. Serangan yang berat dapat menurunkan hasil atau kerusakan tanaman antara 30% . tanaman cengkeh diketahui mengandung beberapa senyawa volatil yang memiliki aktivitas antibiotik terhadap cendawan dan bakteri. 1992.

Pertumbuhan daun kultivar Lumbu Kayu bersifat tegak. yaitu : V1 : Kultivar Lumbu Kayu V2 : Kultivar Lumbu Hijau Pengamatan Indeks luas daun ( ILD/LAI ) Indeks luas daun dihitung dengan membagi luas daun per tanaman dengan luas tanah yang ternaungi ( jarak tanam). LD ILD =  GA dimana: LD = Luas daun. r = jari-jari alat pelubang . Jenis tanah Andosol. Dari beberapa sifat tersebut masing-masing kultivar mempunyai respon yang berbeda akibat pemberian mulsa terhadap hasil dan intensitas serangan penyakit. GA = Luas tanah ternaungi Luas daun diukur dengan mengguna-kan metode Punch. d = luas satu bulatan daun (cm2) yang diukur dengan rumus πr2. dengan ketinggian tempat ± 1100 meter di atas permukaan laut. a+b LD = ——— x c x d a dimana : LD = luas daun ( cm2 ) / tanaman. SP. Faktor-faktor tersebut ialah : Faktor I : Dosis mulsa daun cengkeh yang terdiri dari empat taraf. Bahan yang digunakan dalam peneliti-an ini antara lain: mulsa daun cengkeh kering. sedangkan untuk Kultivar Lumbu Hijau bersifat roset. Kabupaten Karanganyar. Penelitian dilaksanakan pada musim hujan mulai bulan Desember 1997 sampai bulan Maret 1998.36 dan pupuk KCl. c = jumlah bulatan daun . a = bobot kering total bulatan daun (g) b = bobot kering total daun berlubang (g).30 lebih besar dibandingkan dengan kultivar Lumbu Kayu. Percobaan faktorial dilaksanakan dalam Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari dua faktor dan diulang empat kali. pupuk kandang. bawang putih kultivar Lumbu Hijau dan Lumbu Kayu. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di lahan kering berpengairan Kebun Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tawangmangu. yaitu : M0 : 0 ton/ ha (tanpa pemberian mulsa) M1 : 5 ton/ ha M2 : 10 ton/ ha M3 : 15 ton/ ha Faktor II : Kultivar bawang putih yang ter-diri dari dua macam kultivar. Jawa Tengah. 40 dan 60 hari. ILD diamati pada umur 20. pupuk urea.

Indeks panen ( IP/HI ) Dihitung pada saat panen dengan menggunakan persamaan: IP = berat kering umbi —————————  berat kering total tanaman Intensitas serangan ( Ip ) Penghitungan intensitas serangan dengan menggunakan rumus : Σ(nxv) Ip = ————– x 100% (NxV) dimana: n = jumlah daun terserang pada. Ip = intensitas serangan tiap kategori. W1 = bobot kering total tanaman pada minggu ke-1. –— ( g /cm/hari ) t2 – t1 GA dimana : W2 = bobot kering total tanaman pada minggu ke-2. tidak ada serangan 1 = kerusakan <= 10% 2 = kerusakan > 10 – 30% 3 = kerusakan > 30 – 60% 4 = kerusakan > 60 – 90% 5 = kerusakan > 90% HASIL DAN PEMBAHASAN . 40 dan 60 hari. V = nilai kategori tertinggi Nilai kategori tertinggi menurut Wiyoto (1976) dalam Astiko (1989) adalah sebagai berikut: 0 = sehat. v = nilai kategori untuk tiap serangan. Laju tumbuh pertanaman ( LPT/CGR ) W2 – W1 1 CGR = ———–– . t2 = umur tanaman pada minggu ke-2. GA = luas tanah. N = jumlah seluruh daun yang diamati.31 Cork borer. Hasil umbi kering per hektar Dilakukan setelah pengeringan dengan sinar matahari sampai kadar air mencapai 28%. t1 = umur tanaman pada minggu ke-1. Luas daun spesifik ( LDS/SLA ) LDS = Luas daun / bobot kering daun (cm2/g ) LDS diamati pada umur 20.

32 Hasil analisis Indek luas daun.669 11.146 b Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5% . n = berbeda nyata pada Sidik Ragam. Bobot kering total tanam-an. Hasil analisis terhadap Indek luas daun dan Luas daun spesifik pada umur 60 hari disajikan pada Tabel 1.0287 0.0455 a SLA 11. tn = tidak berbeda nyata pada Sidik Ragam .403 a 10 3. Hasil ter-tinggi diperoleh pada dosis 15 t/ha untuk kultivar Lumbu Kayu. Indek luas daun terbesar diperoleh pada dosis 5/ha. Tabel 2. Luas daun spesifik.0340 b 0.0587 n 0. tetapi tidak nyata terhadap SLA.651 f 5 2.106 d 15 3. Laju tumbuh pertanaman. Hasil umbi kering.112 d Kultivar Lumbu Hijau (t/ha) 0 2. Hasil analisis Laju tumbuh . ILD dan SLA untuk setiap ma-cam kultivar dan dosis mulsa Umur 60 hari Perlakuan Kultivar Lumbu Kayu Lumbu Hijau Mulsa (t/ha) 0 5 10 15 ILD 0. Tabel 1. Indek panen dan Intensitas serangan disajikan dalam Tabel 1 sampai dengan Tabel 5. sedangkan perlakuan dosis mulsa berpengaruh nyata terhadap ILD. dan 5/ha untuk kultivar Lumbu Hijau. Perlakuan macam kultivar dan do-sis mulsa berpengaruh nyata terhadap bobot kering total tanaman.454 11. Perlakuan Bobot kering total tanaman pada dua kultivar bawang putih untuk setiap perlakuan dosis mulsa Bobot kering total tanaman umur 60 hari (g/tan) Kultivar Lumbu Kayu (t/ha) 0 2.530 g 5 4.372 11.300 n 11.413 tn Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5% .0500 a 0.561 c 15 4.0455 a 0. Hasil analisis terhadap Bobot kering total tanaman pada umur 60 hari disajikan pada Tabel 2.653 11.818 e 10 3. Perlakuan kultivar berpengaruh nyata terhadap ILD maupun SLA.

Dosis mulsa berpengaruh nyata terhadap hasil umbi kering.3345 c 9. n= berbeda nyata pada Sidik ragam. porri pada dua kultivar bawang putih untuk setiap . Tabel 3. Peningkatan dosis mulsa meningkatkan CGR.6275 0.6015 a Indeks panen 0.3185 1.3650 b 10.8215 c 1.5450 2.6490 2. Hasil analisis terhadap Hasil umbi kering dan Indek panen disajikan dalam Tabel 4.0660 b 9.6507 tn 41 – 60 hari 2.8215 n 5. n = berbeda nyata pada Sidik Ragam Perlakuan macam kultivar dan dosis mulsa berpengaruh nyata terhadap Laju tumbuh pertanaman pada umur 41 . Perlakuan macam kultivar berpe-ngaruh nyata terhadap Hasil umbi kering maupun Indeks panen. tn = tidak berbeda nyata pada Sidik Ragam.6715 tn Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5% . Tabel 5.6485 0.3010 c 1. Hasil analisis terhadap intensias serangan Alternaria porri disajikan dalam Tabel 5. Laju tumbuh pertanaman Kultivar Lumbu Hijau lebih tinggi dibanding Lumbu Kayu.3717 3. Hasil umbi kering dan indek panen untuk setiap macam kultivar dan dosis mulsa Perlakuan Kultivar Lumbu Kayu Lumbu Hijau Mulsa (t/ha) 0 5 10 15 Hasil umbi kering (t/ha) 10.3620 6. Kultivar Lumbu Kayu hasil umbi kering dan indek panen lebih tinggi dibanding Lumbu Hijau.6440 b 1. Laju tumbuh pertanaman untuk setiap macam kultivar dan dosis mulsa Perlakuan Kultivar Lumbu Kayu Lumbu Hijau Mulsa (t/ha) 0 5 10 15 Laju tumbuh per tanaman (g/cm2/hari) 21 – 40 hari 1.2385 3.6808 0.6165 n 1.5060 4.33 pertanaman disajikan dalam Tabel 3.60 hari.6032 n 0. Tabel 4.0100 a tn Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5% .7105 0. tn = tidak berbeda nyata pada Sidik Ragam . Intensitas serangan A.

Besarnya garis penduga Y = 0.810 c Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5% Perlakuan macam kulivar dan dosis mulsa berpengaruh nyta terhadap intensitas serangan Alternaria porri.060 c 5 60. Pemberian dosis mulsa meningkatkan intensitas serangan pada kultivar Lumbu Kayu. sedangkan terhadap luas daun spesifik pengaruhnya tidak nyata pada umur 60 hari.0030x + 0. Dosis mulsa mem-punyai hubungan berbentuk kuadratik dengan indek luas daun (ILD). PEMBAHASAN Penggunaan daun cengkeh sebagai mulsa sampai dosis 15 t/ha berpengaruh nyata terhadap indek luas daun pada umur 60 hari (taraf 0.05).370 b 10 66.0354 + 0.870 c 15 67. tetapi menurunkan intensitas serangan pada Lumbu Hijau.000 a 10 78.0785 (Gambar 1).130 b 15 86. Kedua kultivar yang diteliti menunjukkan berbeda nyata pada indek luas daun dan luas daun spesifik pada umur 60 hari. .0002x2 dan R2 = 0.870 d Kultivar Lumbu Hijau (t/ha) 0 78.34 perlakuan dosis mulsa Perlakuan Intensitas serangan (%) Kultivar Lumbu Kayu (t/ha) 0 69.440 b 5 79.

06 0. Tanggapan kultivar bawang putih ter-hadap suhu berbeda.003x + 0. Daun cengkeh yang memiliki kandungan eugenol dan caryophylene yang secara bio fisika bersifat panas sehingga akan meningkatkan suhu di bawah permukaan (Rickerl et al.992x + 0. Persamaan garis regresi untuk menduga perbedaan besarnya bobot kering total tanaman pada dua kultivar bawang putih yaitu: untuk kultivar Lumbu Kayu sebesar Y = 2. meskipun untuk luas daun spesifik masih lebih rendah dibanding kultivar Lumbu Kayu (Tabel 1). dimana evaporasi umumnya rendah.05 0. Kultivar Lumbu Hijau yang lebih cocok ditanam pada musim kemarau berarti menunjukkan kebutuhan suhu lebih tinggi dan sebaliknya untuk kultivar Lumbu Kayu.005x3.0.35 Indeks Luas Daun 0.40 hari hingga 41 .01 0 0 5 10 15 y = -0.529 .02 0. Luas daun yang lebih lebar pada kultivar Lumbu Hijau serta peng-gunaan dosis mulsa sampai 5 t/ha secara diskriptip menghasilkan laju tumbuh per-tanaman lebih tinggi dibanding kultivar Lumbu Kayu.0.60 hari ..7772 Dosis mulsa (ton/ha) Gambar 1.0. keduanya mempunyai pengaruh terhadap CGR. nampaknya pengaruh mulsa lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan suhu tanah.651 .04 0. peningkatan suhu tanah dapat berpengaruh terhadap pertum-buhan tanaman menjadi lebih baik. Tetapi peningkatan suhu akibat penggunaan mulsa mampu mendorong potensi genetik pada kultivar Lumbu Hijau yang ditanam pada musim penghujan.006x + 0. penggunaan mulsa diduga dapat meningkatkan suhu di bawah permukaan sehingga mempengaruhi bobot kering total tanaman. periode umur 41 . Sekalipun penelitian ini dilakukan pada musim penghujan. Hubungan antara dosis mulsa cengkeh dengan indek luas daun bawang putih umur 60 hari Sebagaimana diketahui bahwa mulsa mempunyai peran pada penurunan kehi-langan air tanah melalui peristiwa evapo-rasi.041x2 . 1992). Kultivar Lumbu Kayu yang mempunyai karakteristik sesuai ditanam pada musim hujan (suhu tanah rendah). sedangkan pada kultivar Lumbu Hijau sebesar Y = 2.0002x 2 + 0. Penggunaan mulsa mendorong pen-capaian bobot kering total tanaman untuk kultivar Lumbu Hijau rata-rata lebih tinggi dibanding kultivar Lumbu Kayu dan maksimum bobot kering total tanaman pada kultivar Lumbu Hijau dicapai pada dosis mulsa 5 t/ha. hal ini ditunjukkan variabel bobot kering total tanaman pada umur 60 hari (Tabel 2).Tetapi memperhatikan masing-masing faktor yang diteliti. Sebagaimana ditun-jukkan Chang (1976).0.0353 R2 = 0.005x3.03 0.137x2 . namun pada kultivar Lumbu Kayu peningkatan dosis mulsa sampai 10 t/ha .60 hari. Sebagaimana dikemukakan sebelum-nya bahwa interaksi penggunaan dosis mulsa dengan kultivar berbeda tidak nyata pada laju tumbuh pertanaman (CGR) pada kurun waktu 21 .

. Secara statistik pemberian mulsa nyata pengaruhnya (pada taraf 0. Kemampuan berproduksi pada kul-tivar Lumbu Kayu yang lebih tinggi ini. Sebagai tanaman “asli” nampaknya telah memiliki adaptasi yang cukup lama sehingga perubahan lingkungan baik alam maupun tindakan budidaya kurang berpe-ngaruh terhadap kemampuan berproduksi. Penggunaan mulsa tidak berpengaruh terhadap indeks panen (Tabel 4)). Persamaan garis untuk menduga hubungan antara dosis mulsa dengan CGR pada periode 41 – 60 hari sebesar Y = 2.9809). Sekalipun laju tumbuh pertanaman kultivar Lumbu Kayu lebih rendah dibanding kultivar Lumbu Hijau (Tabel 3). peningkatan CGR ini terjadi karena penekanan respirasi dan evaporasi akar. Hubungan penggunaan dosis mulsa dengan laju tumbuh pertanaman sampai umur 60 hari ditunjukkan pada Gambar 2. simpanan fotosintat lebih banyak sehingga laju tumbuh pertanaman mening-kat. dijelaskan pula oleh Wilsie (1979) bahwa wilayah tertentu dapat menjadi “center of origin” dari suatu tanaman karena adanya seleksi alam yang memungkinkan memiliki potensi genetik lebih besar dibanding tanaman introduksi.05) terhadap bobot umbi kering. Besarnya garis penduga Y = 5. sebagaimana dijelaskan Jensen (1991) bahwa respirasi akan membutuhkan energi dari fotosintat. sekalipun lajunya masih berada di bawah kultivar Lumbu Hijau. akibatnya laju fotosintesis mening-kat.1189x (R2= 0.0973x2 – 0. Kaitannya dengan peningkat-an dosis mulsa. demikian pula perbedaan dosis mulsa untuk setiap kultivar (Tabel 3).2841x + 0. fotosintat yang tersimpan di dalam umbi lebih besar. bobot umbi untuk masing-masing kultivar berbeda nyata. Garis penduga untuk mengetahui hubungan antara penggunaan dosis mulsa dengan bobot umbi kering bawang putih bersifat kubik.9808 10 15 Dosis Mulsa (ton/ha) Gambar 2.3017 R2 = 0. Fenomena ini terjadi pada kultivar Lumbu Kayu.2817).3017 + 0.36 masih menunjukkan peningkatan CGR.119x + 2.0052x3 (R2 = 0. apabila energi ini dapat dihemat maka simpanan fotosintesis akan semakin besar. Hubungan antara dosis mulsa cengkeh dengan laju tumbuh pertanaman bawang putih umur 60 hari. Pada kultivar Lumbu Hijau tidak saja karena sifat genetik yang lebih baik (sebagai suatu keunggulan sifat) tetapi karena dorongan faktor lingkungan terutama penggunaan mulsa.675 – 0. CGR (g/cm2/hari) 5 4 3 2 1 0 0 5 y = 0.

sehingga pertumbuhannya akan ter-hambat yang akhirnya hasil yang diperoleh rendah. sehingga indeks panen tidak berbeda nyata karena indeks panen meru-pakan perbandingan antara berat kering umbi dengan bobot biomassa. sehingga senyawa–senyawa yang dikandung dalam mulsa daun cengkeh yaitu eugenol dan caryophylene yang .4312x + 62.8878x + 79. Hubungan dua kultivar bawang putih atas perlakuan dosis mul-sa dengan intensitas serangan Alternaria porri Secara diskriptip ada kecenderungan penurunan intensitas serangan karena peningkatan dosis mulsa pada kultivar Lumbu Hijau.7318). Kepekaan kul-tivar terhadap A. peran mulsa ini sebesar 63. Hubungan kedua kultivar bawang putih atas perlakuan dosis mulsa dengan inten-sitas serangan A. Intensitas serangan (%) 90 85 80 75 70 65 60 55 0 5 y = 1. porri memang berbeda.6367) terhadap perkembangan penyakit.888 setiap penambahan satu satuan mulsa.6367 y = -0. Peningkatan intensitas serangan akibat penggunaan mulsa pada kultivar Lumbu Kayu diduga berkaitan dengan sifat morphologi dari tanaman tersebut.(1992) menyim-pulkan bahwa senyawa eugenol dan caryo-phylene dapat menghambat pembelahan spora dan miselia akhirnya perkembangan cendawan menjadi rendah. (1993) Tombe (1993) dan Rickerl et al.781 R2 = 0. maka indeks panennya juga rendah bila dibandingkan dengan kultivar Lumbu Kayu yang mempunyai sifat yang lebih tahan untuk tumbuh pada musim peng-hujan.67% (R2 = 0.37 Hal ini disebabkan karena dengan meningkatnya bobot umbi ternyata bobot biomassa juga meningkat. porri ditunjukkan pada Gambar 3.431 setiap penambahan satu satuan bobot mulsa.7318 10 Dosis Mulsa (ton/ha) 15 Gambar 3. tetapi sebaliknya pada kultivar Lumbu Kayu. Dari persamaan tersebut berarti untuk kultivar Lumbu Kayu penggunaan mulsa justru meningkatkan intensitas serangan sebesar 1. Kultivar Lumbu Kayu memiliki habitus tanaman yang tegak. Hal ini sesuai dengan sifat genetik dari kedua kultivar tersebut dimana kultivar Lumbu Hijau tidak tahan bila ditanam pada musim hujan..18% (R2 = 0. lebar daun yang sempit. interaksi penggunaan dosis mulsa nyata pengaruhnya pada taraf 0. Terhadap intensitas serangan cenda-wan Alternaria porri. Sebagaimana penelitian Manohara et al.781 R2 = 0. peran mulsa sebesar 73. atas dasar pengalaman lapang kultivar Lumbu Kayu memiliki toleransi yang tinggi dibanding kultivar Lumbu Hijau..05 untuk kedua kultivar bawang putih yang diteliti. sedang untuk kultivar Lumbu Hijau justru menurunkan intensitas serangan sebesar 0. Sedangkan perlakuan kultivar menunjukkan perbedaan yang nyata dimana kultivar Lumbu Kayu mempunyai indeks panen yang lebih tinggi dibanding kultivar Lumbu Hijau.

812 Manohara. DH. 1989..D. Cibubur. Aldine Publishing Company/Chicago. Witt. G. 1992. sehingga intensitas serangannya menurun.A. Pengaruh tepung dan minyak cengkeh terhadap Phytophthora. Bruin. Bogor.. laju tumbuh pertanaman dan intensitas serangan Alternaria porri. Uji ketahanan beberapa varietas bawang putih terhadap penyakit bercak ungu (Alternaria porri). W. Tropical Pest Management.. 1997. Sedangkan tanaman bawang putih kultivar Lumbu Hijau mempunyai habitus tanaman yang roset sehingga pertumbuhan-nya lebih rimbun. W.T. Black.B. J.63 % dengan pemberian mulsa. J.. 1-2 Desember 1993. An ecological survey. The American Society for Horticultural Science... J. K. . 31 (5) : 811 . Curl. R. 295 p. Kultivar Lumbu Kayu memberikan hasil umbi kering lebih besar dibanding kultivar Lumbu Hijau. Biol.49 t/ha pada kultivar Lumbu Kayu dan 4. Williams. 1993. tidak tertahan diantara kanopi daun sehingga tidak dapat menekan perkem-bangan patogen.M.. Considered in Relation to fungicide Use and other Farming Practices..557 Development on disease in Chiang-mai Lamphun Valley. tetapi tidak nyata terhadap indek luas daun.Wahyono. 96 hal. D.. DAFTAR PUSTAKA Astiko. Rickerl.G. Bannon.D. W. Prosiding hasil penelitian dalam rangka peman-faatan pestisida botanis. Sukamto dan Sutrasman. Biocham. Gordon. Jonglaekha. Intensitas serangan Alternaria porri pada kultivar Lumbu Hijau lebih rendah 10.S. Climate and agriculture. KESIMPULAN Terdapat interaksi nyata antara dosis mulsa daun cengkeh dengan kultivar bawang putih terhadap bobot kering tanaman. Soil. D. E.. Sukaseur and S. Burana Viriyakull. luas daun spesifik dan bobot umbi kering.. Touchton and W.. 1976. Pemberian mulsa daun cengkeh dapat meningkatkan bobot umbi bawang putih sebesar 6. Rigidiporus dan Sclerotium. tetapi justru menaikkan intensi-tas serangan sebesar 17. S. J. Northen Thailand. Organic mulches increase growth of young pecan trees (abstr). Crop mulch effects on Rhizotomia soil infestastion and disease severity in conservation field cotton (abstr). Hasil maksimum dicapai pada dosis mulsa 10 t/ha.81 % pada kultivar Lumbu Kayu. Hal ini mengakibatkan senyawa yang bersifat volatil akan mengalami hambatan untuk terus naik keatas. Chang. Jakarta. 293 hal. 1985. Dosis mulsa mempunyai hubungan ber-bentuk kubik dengan hasil umbi kering. Prosiding Konggres Nasional X dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. J.38 bersifat volatil yang memiliki aktifitas antibiotik terhadap cen-dawan dan bakteri akan terus naik keatas.04 t/ha pada kultivar Lumbu Hijau.B. Purple Blotch Disease of Garlic. Tilt. sehinngga senyawa tersebut tetap berada disekitar daun. 31(1) : 47 – 54. Foshee.N. Dengan demikian akan dapat menekan perkembangan dari patogen Alternaria porri.H. Goff. 24 (6) : 553 .

1995.A. Ueda. soybeans. Prosiding hasil penelitian dalam rangka peman-faatan pestisida botanis Sastrahidayat. their residues and straw mulch on soil aggregation.H.S. 29 (200) : 11 – 116. Yamashita.. Mustika dan Rachmat. Surabaya. Nakajima dan Y.R. Gent. J. Ipponhokuin Koga Ga-khashi.1993. 1996. Agron. Chrysomelidae) in potatoes. I. Kurabawa. Am. M. M.1017 Stoner. spent mushroom compost. Inhibition of microorganisme by spesies extract and flavouring compounds. W. Effect of straw mulch.P.. F. M. J. S. Elmer and J. 1992.39 Bogor 1-2 Desember 1993.A. Soc. 96 hal. R.A.N. 85 (5) : 1267-1280 Tombe. 1993. 38 (11): 1010 . Departemen Per-tanian Republik Indonesia. Ferrandino. 23 hal. and fumigation on density of Colorado potato beetles (Coleop-tera. Usaha Nasional. 1996. Effect of corn. Eugenol dan daun cengkeh untuk pengendalian penyakit tanaman. K.. Ilmu penyakit tumbuhan.Econ-Entomol. . Stauffer. Warta penelitian dan pengembangan pertanian XV (1). La Mondia. Efikasi beberapa macam produk cengkeh dan tanaman lain terhadap nematoda lada. 365 hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful