P. 1
penatalaksanaan ggk

penatalaksanaan ggk

|Views: 23|Likes:
Published by Gerald Evans

More info:

Published by: Gerald Evans on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2014

pdf

text

original

H.

PENATALAKSANAAN Penanganan penderita GGK meliputi penanganan : 1) Penyakit yang mendasari Penanganan penyakit yang mendasari misalnya pengobatan glomerulonefritis, reflux nefropati, uropati obstruktif, serta penyakit-penyakit sistemik yang mendasari. 2) Keadaan sebelum mencapai gagal ginjal terminal 3) Gagal ginjal terminal Penanganan sebelum penderita mencapai gagal ginjal terminal meliputi : 1. Pengobatan secara konservatif a. Pengobatan secara simptomatis, yaitu mengurangi gejala uremia seperti mual, muntah b. Mengusahakan kehidupan penderita menjadi normal kembali, sehingga dapat melakukan aktifitas seperti sekolah dan kehidupan sosial c. Mempertahankan pertumbuhan yang normal d. Menghambat laju progresifitas menjadi gagal ginjal terminal e. Mempersiapkan penderita dan keluarga untuk menjalani terapi pengganti ginjal misalnya dialisis, transplantasi ginjal 2. Optimalisai dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam. Biasanya diusahakan hingga tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. Pada beberapa pasien,furosemid dosis besar (2500-1000mg/hari) atau deuretik loop (bumetamid,asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan cairan,sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat.pengawasan dilakukan melalui berat badan, urin dan pencatatan keseimbanan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500ml). 3. Diet tinggi kalori dan rendah protein Diet rendah protein (20-40g/hri) dan tinggi kalori menghilangkan anoreksia dan nausea dari uremia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala.hindari masukan berlebih dari kalium dan garam. 4. Kontrol hipertensi Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dengan hasil gagal jantung kiri. Pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal,keseimbangan garam dan cairan diatur sendiri tanpa tergantung tekanan darah. sering diperlukan diuretik loop,selain obat antihipertensi. 5. Kontrol ketidakseimbangan elektrolit Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat.untuk mencegah hiperkalemia dihindari masukan kalium yang besar (batasi 19 hingga 60 mol/hari) deuretik hemat kalium, obat – obat yang berhubungan dengan ekresi kalium(misalnya,penghambat ACE dan obat antiinflamsinonosteroid) asidosis berat, atau kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Deteksi melalui kadar kalium plasma dan EKG. Gejala – gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15mol/liter biasanya terjadi pada pasien yang sangat kekurangan garam dan dapat diperbaiki spontan dengan dehidrasi. Namun perbaikan yang cepat dapat berbahaya. 6. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang ginjal Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti aliminium hidroksida (300-1800mg) atau kalsium karbonat (500 – 300 mg) pada setiap makan. Namun hati – hati pada toksititas obat tersebut.diberikan suplemen vitanin D dan dilakukan paratidektomi atas indikasi.

Umumnya dipergunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya adalah kapilerkapiler selaput semipermiabel (hollow fibre kidney).amfoteresin. hiperkalemia yang meningkat. yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai sekarang telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Deteksi dini dan terapi infeksi Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imunosupresif dan diterapi lebih ketat.juga obat – obatan yang meningkatkan katabolisme dan ureum darah misalnya tetrasiklin. anoreksia. hipertensi refrakter. kegagalan untuk bertahan. 10. Terapi pengganti ginjal Pada tahap akhir fase gagal ginjal kronis ini kerusakan ginjal akan berlangsung secara progresif dan irreversibel. 8. b. 2009) maka usaha pengobatan konservatif dengan diet. mual. dan transplantasi ginjal (Suwitra. Tubuh tidak dapat mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan elektrolit yang akan menyebabkan uremia (Nursalam. kelebihan cairan yang meningkat. 2008). 2006). 2006). analgesik opiat. Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal Banyak obat. Tetapi terapi dialisis tidak boleh terlalu cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal (LFG). pembatasan minum. 2006). Tahapan ini faal ginjal yang masih tersisa sudah minimal dengan laju filtrasi glomerulus kurang dari 15 ml/menit/1. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan terapi ginjal pengganti (Raharjo dkk. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut. Pada stadium ini terdapat akumulasi toksin uremia dalam darah yang dapat membahayakan hidup pasien (Sumitra. Deteksi dan terapi komplikasi Awasi dengan ketat kemungkinan ensefalopati uremia. bendungan paru dan kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik. dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin > 10 mg%. dan alopurinol. dan astenia berat (Sukandar. dialisis peritoneal. Hemodialisis Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala toksik azotemia. 2006). Kendala yang ada adalah biaya yang mahal (Rahardjo. infeksi yang mengancam jiwa. a.73m². Indikasi elektif. Indikasi medik CAPD. 2008). Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik dan panjang umur yang tertinggi sampai sekarang 14 tahun. dan sitostatik. perikarditis neuropati perifer. muntah. yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65 . sehingga diperlukan dialisis. Indikasi tindakan terapi dialisis. 2006). yaitu perikarditis. Keadaan ini kita sebut dengan GGT atau gagal ginjal tahap akhir (Smeltzer et al. obat-obatan. Dialisis peritoneal (DP) Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia. kortikosteroid. dan malnutrisi. yaitu indikasi absolut dan indikasi elektif. muntah persisten.73m2 (Suharyanto & Majid.obatan yang harus diturunkan dosisnya karena metaboliknya toksik dan dikeluarkan oleh ginjal misalna digoksin aminoglikosid. dan lain-lain tidak dapat memberikan pertolongan lagi.7. Terapi tersebut dapat berupa hemodialisis. yaitu LFG antara 5 dan 8 mL/menit/1. Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5. 9. ensefalopati/neuropati azotemik.

Proses ini perlu penjaringan dan evaluasi yang ketat. Indikasi non-medik. pasien dengan stroke. Tranplantasi ginjal selama ini menjadi terapi definitifdi seluruh dunia. Dialisis Peritoneal c. pasien GGT (gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup. Pertimbangan program transplantasi ginjal. Di sisi lain hemodialisis dan dialisisperitoneal hanya mengatasi akibat dari sebagian jenis penurunan fungsi ginjal sehingga pasien mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggiterhadap tindakan ini (Susalit. sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih 70-80% faal ginjal alamiah. pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular. tingkat intelektual tinggi untuk melakukan sendiri (mandiri). Keterbatasan jumlah donor adalah masalah utama pada transplantasi ginjal.  Kualitas hidup normal kembali  Masa hidup (survival rate) lebih lama. yaitu keinginan pasien sendiri. dan pasien nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. 2006). Transplantasi ginjal Transplantasi Ginjal Hemodialisis Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan faal). 2006). Jumlah yang terbatas ini membuat pasien gagal ginjal tahap akhir harus dilakukan hemodialisis untuk mempertahankan kondisi klinis yang optimal hingga pasien mendapatkan donor ginjal yang sesuai (Suharyanto& Majid.  Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan. karena mengatasiseluruh jenis penurunan fungsi ginjal. kesulitan pembuatan AV shunting. pasien-pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan hemodialisis. yaitu:  Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh (100%) faal ginjal.tahun). . Proses tranplantasi dari donor ke pasien tidak mudah dilakukan oleh tenaga medis. dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal (Sukandar. Manfaat transplantasi sudah jelas terbukti lebih baik dibandingkan dengan hemodialisis terutama dalam hal perbaikan kualitas hidup pasien. 2009). Terapi ini adalah terapi yang paling ideal.

Hemodialisa dan dialisa peritoneal merupakan dua tehnik utama yang digunakan dalam dialisa. Pengertian Menurut Price dan Wilson (1995) dialisa adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari kompartemen cair menuju kompartemen lainnya.evaluasi pemburukan (progession)fungsi ginjal.73m²) Rencana tatalaksana 1 > 90 terapi penyakit dasar. Prinsip dasar kedua teknik tersebut sama yaitu difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisa sebagai respon terhadap perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu. .Tabel Rencana Tatalaksanaan Penyakit GGK sesuai dengan derajatnya Derajat LFG(ml/mnt/1. kondisi komorbid. memperkecil resikokardiovaskuler 2 60-89 menghambat pemburukan (progession) fungsi ginjal 3 30-59 evaluasi dan terapi komplikasi 4 15-29 persiapan untuk terapi pengganti ginjal 5 <15 terapi pengganti ginjal HEMODIALISIS 1.

kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik (oedem pulmonum). Selanjutnya Thiser dan Wilcox (1997) juga menyebutkan bahwa indikasi relatif dari hemodialisa adalah azotemia simtomatis berupa ensefalopati. dan sindrom otak organik. LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa. Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila terdapat komplikasi akut seperti oedem paru. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain. ini sebanding dengan kadar kreatinin serum 8 –10 mg/dL. Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu saringan sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer. instabilitas hemodinamik dan koagulasi. b. penyakit stadium terminal. mengalirkan dialisat dan aliran darah melewati suatu membran semipermeabel. . Komposisi dialisat. Pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika kadar kreatinin serum diatas 6 mg/100 ml pada pria . 2003). yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat. dan kecepatan aliran darah dan larutan mempengaruhi pemindahan larutan (Tisher & Wilcox. 5. karakteristik dan ukuran membran dalam alat dialisa. hiperkalemia. kreatinin. Proses Hemodialisa Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa berfungsi mempersiapkan cairan dialisa (dialisat). 1997). demensia multi infark. menderita neuropati perifer atau memperlihatkan gejala klinis lainnya. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal. dan toksin yang dapat didialisis. sindrom hepatorenal. 4 mg/100 ml pada wanita dan glomeluro filtration rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi sistemik. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi. 4. Sedangkan indikasi khusus adalah perikarditis uremia. Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer. dan nefropatik diabetik. Kontra Indikasi Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi yang tidak responsif terhadap presor.2. Indikasi Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang jelas berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan harus dimulai. dan sisa metabolisme yang lain. dan asidosis yang tidak dapat diatasi. Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa biasanya dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit. dan memantau fungsinya termasuk dialisat dan sirkuit darah korporeal. Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan kesehatan penderita yang terus diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat jalan. Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15 mL/menit. akses vaskuler sulit. sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI. Pengobatan biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak sanggup lagi bekerja purna waktu. yang digunakan untuk menyaring dan membersihkan darah dari ureum. asidosis metabolik berulang. Pasien yang terdapat gejala-gejala uremia dan secara mental dapat membahayakan dirinya juga dianjurkan dilakukan hemodialisa. seperti ureum. Tujuan Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain : a. hiperkalemia. c. Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak dilakukan lagi. Darah dan dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh efisiensi maksimal dari pemindahan larutan. 3. d.

sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Pada akhir interval 2 – 3 hari diantara hemodialisa. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3 – 5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. dan cairan dialisat membasahi bagian luarnya. air.9 %. Darah mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/blood line). Heparin secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat untuk mencegah pembekuan darah. Darah mengalir dari arah yang berlawanan dengan arah darah ataupun dalam arah yang sama dengan arah aliran darah. atau dengan menimbulkan efek vakum dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Satu ruangan dialirkan darah dan ruangan yang lain dialirkan dialisat. Setelah darah selesai dilakukan pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam tubuh melalui arterio venosa shunt (AV-shunt). 1995). Tiap hemodialisa dilakukan 4 – 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat. Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran semipermeabel yang terdiri dari dua bagian. Dializer ini sangat kecil dan kompak karena memiliki permukaan yang luas akibat adanya banyak tabung kapiler (Price & Wilson. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan meningkatkan resistensi terhadap aliran vena. Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter masuk ke dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran semipermeabel (dializer) yang terdiri dari dua ruangan. satu untuk darah dan satu lagi untuk cairan dialisa. Perbedaaan tekanan hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi solut. osmosis. Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil ini. dan ultrafiltrasi. sehingga terbentuk dialisat atau bak cairan dialisa. Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi sepanjang membran semipermeabel dari hemodializer melalui proses difusi. Cairan dialisa membentuk saluran kedua. sehingga keduanya terjadi difusi.kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar tubuh. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa . Perangkap bekuan darah atau gelembung udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam aliran darah pasien. Sirkuit darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl 0. Dialisat kemudian dimasukan ke dalam dializer. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses vaskuler sebagai tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin hemodialisa (NKF. Dializer merupakan sebuah hollow fiber atau capillary dializer yang terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang tersusun pararel. Untuk menjamin keamanan pasien. 2006). maka hemodializer modern dilengkapi dengan monitor-monitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter (Price & Wilson. bagian untuk darah dan bagian lain untuk dialisat. Hemodialisa idealnya dilakukan 10 – 15 jam/minggu dengan QB 200–300 mL/menit. dimana cairan akan mengalir di luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Selanjutnya Price dan Wilson (1995) juga menyebutkan bahwa suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit. keseimbangan garam. dan pH sudah tidak normal lagi. melalui dializer hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur vena. 1995). atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan quick blood (QB) (sekitar 200 sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan yang baik. Air kran difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan suhu tubuh. Tekanan darah pasien mungkin cukup untuk mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar tubuh). kemudian dicampur dengan konsentrat dengan perantaraan pompa pengatur.

Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit kepala. Periode adaptasi jangka panjang (long term adaptation). hipotensi. Auer. Pasien mulai sedih dan tidak berdaya. Periode kekecewaan. d. kalium. Keadaan ini berlangsung tiga sampai enam belas bulan. kekurangan. dan kesadaran pasien lebih jernih. antara lain: a. e. 3. Hipoksemia Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar. 1997 . Perdarahan Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. . Komplikasi Hemodialisa Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi. magnesium. Muncul setelah tiga minggu penderita menjalani hemodialisis yang pertama dan berlangsung enam minggu sampai enam bulan. percaya. Perubahan ini ditandai dengan fluktuasi perasaan pasien tentang emosi dan kesehatan dirinya (Kaplan & Sadock. Aritmia Hipoksia. penyakit jantung aterosklerotik. b. Periode honey moon. keadaan ini diikuti dengan munculnya harapan dan kepercayaan. disebut juga periode optimis. Kram otot Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. masingmasing pasien menerima keterbatasan dirinya. dan harapan mulai berkurang dan kemudian menghilang. dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa. i. rasa senang. neuropati otonomik. Fungsi trombosit dapat dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. rendahnya dialisat natrium. penurunan kalsium. Sindrom ketidakseimbangan dialisa Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat dibandingkan dari darah. yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemen-kompartemen ini. dan komplikasi dari tindakan hemodialisis tersebut. g. yang ditandai adanya perbaikan fisik dan emosional. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.6. Ganguan pencernaan Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang disebabkan karena hipoglikemia. Hipotensi Terjadinya hipotensi karena pemakaian dialisat asetat. Penggunaan heparin selama hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan. yaitu: 1. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. 2. penghentian obat antiaritmia selama dialisa. c. dan kelebihan tambahan berat cairan. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat DAMPAK HEMODIALISIS TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN Pasien hemodialisis akan melalui tiga tahap penyesuaian secara psikologis. Kram otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi. h. Perubahan ke periode ini terjadi secara bertahap. 2002). f.

dan melakukan akses vaskuler melalui Cimino atau vena femoralis. PERAN PERAWAT HEMODIALISIS Perawat hemodialisis adalah perawat profesional bersertifikat pelatihan dialisis yang bertanggung jawab melaksanakan perawatan dab bekerja secara tim di unit hemodialisis. respon verbal dan motorik. (Botton. Persepspsi atau pengalaman individu terhadap perubahan besar termasuk menjalani hemodialisis dapat menimbulkan stres berupa kecemasan. advokasi. kram otot nyeri dada. Depkes. Perawat hemodialisis juga mempunyai peran sebagai peneliti dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan dalam mencapai adekuasi. Perawat hemodialisis harus mempunyai kemampuan profesional dalam mempersiapkan pasien sebelum proses hemodialisis berlangsung memantau kondisi pasien selama hemodialisis. dan ini merupakan ancaman bagi harga diri pasien. pengaturan heparin. dan membantu pasien memutuskan untuk mengikuti terapi. depresi. sehingga terjadi perubahan peran dan tanggung jawab dalam keluarga. Braun. demam. Comton. dan berkolaborasi dalam melakukan evaluasi pencapaian adekuasi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialiisis. marah. pengukuran TTV. Karena dianggap sakit. konsultan. dan memantau keadaan umum. Penyesuaian tersebut mencakup keterbatasan dalam kemampuan fisik dan motorik. pasien tidak ikut serta dalam kegiatan sosial di keluarga dan masyarakat dan tidak boleh mengurus pekerjaan. Pada tahap persiapan. (Soewardi. pasien hemodialisis mengalami perubahan peran dan gaya hidup yang berhubungan dengan beban fisik dan psikologis. berdasarkan fenomena/masalah yang ada di ruang hemodialisis. laboratorium darah. Selama pasien menjalani dialisis. perubahan perilaku kognitif. 1999). perawat hemodialisis memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang terapi hemodialisis sebagai salah satu terapi pengganti ginjal. ketergantungan kepada orang lain secara fisik dan ekonomi. Setelah dialisis selesai dilakukan. muntah. Kegagalan fungsi ginjal mengakibatkanterjadinya kelelahan dan kelemahan yang disebabkan oleh eanemia. Sebelum dialisis dilakukan. 2002 . perawat menjelaskan kepada pasien bahwa proses dialisis akan . dan mekanisme pertahanan ego yang tidak disadari. perawat memonitor pengaturan kecepatan aliran darah (Quick of Blood). Perawat menjelaskan tentang manfaat hemodialisis. ketakutan. Perawat hemodialisis mempunyai peranan penting sebagai pemberi asuhan. serta sambungan selang-selang setiap 1 jam sekali dan hasilnya dicatat pada formulir pasien. BB. serta ketergantungannya terhadap mesin dialisis seumur hidupnya. Perawat juga menlakukan pemantauan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi selama dialisis seperti mual. cairan dialist. TTV. penyesuaian terhadap perubahan fisik dan pola hidup. Kemudian perawat mengatur setting mesin hemodialisis sesuai dengan dosis yang sudah diresepkan. sakit kepala. memfasilitasi pasien untuk dapat bertukar informasi dengan pasien yang telah menjalani hemodialisis. ultrafiltrasi. keluhan pasien. yang pada akhirnya akan dapat memengaruhi tingkat kualitas pasien. serta posisi yang nyaman bagi pasien. menyiapkan sirkulasi darah. gatal dan perubahan tekanan darah. 1998 . Perawat melakukan kolaborasi dengan dokter pemberian terapi obat dan memberikan dukungan kepada pasien selama dialisis berlangsung. Selanjutnya pasien yang telah setuju ubtuk mengikuti terapi diberi penjelasan tentang akses vaskuler dan pemasangan Cimino dan perawatannya yang berguna untuk hemodialisis selanjutnya.Pasien hemodialisis mengalami perubahan fungsi tubuh yang menyebabkan pasien harus beradaptasi dan melakukan penyesuaian diri selama hidupnya. tempat akses vaskuler. 2008 . 2007) Dalam aspek sosial. perawat menyiapkan kelengkapan pasien berupa informed consent. pemberi edukasi untuk membantu pasien gagal ginjal terminal mencapai adekuasi hemodialisis. Depkes RI (1999) telah menguraikan peran dan fungsi perawat hemodialisis sebagai berikut. Pasien merasa bersalah karena ketidakmampuan dalam berperan.

dan hasilnya dicatat pada formulir pasien. 2000). melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memantau adekuasi hemodialisis. menekan bekas akses vaskuler sampai perdarahan berhenti. bila tidak ada masalah pasien diperbolehkan pulang. perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan tentang diet dan pembatasan cairan sampai waktu dialisis berikutnya. 2009). Klien mungkin mempunyai ketidakpastian tentang makna kematian sehingga mereka menjadi rentan terhadap distres spiritual. Manusia sebagai klien yang merupakan makhluk bio-psiko-sosio dan spiritual merupakan kesatuan dari aspek jasmani dan rohani yang memiliki sifat unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangannya masing-masing (Mubarak. 2005). kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta keterikatan. . 2005). 2000). kematian dan ancaman terhadap integritas.berakhir. PERAN PERAWAT DALAM MENGHADAPI PASIEN TERMINAL Gagal ginjal kronik merupakan salah satu penyakit terminal. dan kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf (Hamid. Perawat sebagai tenaga kesehatan profesional mempunyai kesempatan paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan/asuhan keperawatan yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual. Perawat memeriksa TTV dan BB. Seseorang yang mengalami kehilangan atau nyeri akibat dari suatu penyakit kekuatan spiritual dapat membantu seseorang kearah penyembuhan (Potter and Perry. Seseorang yang mengalami penyakit terminal umumnya merasakan ketakutan terhadap nyeri fisik. Terdapat juga klien yang mempunyai rasa spiritual tentang ketenangan yang membuat mereka mampu untuk menghadapi kematiantanpa rasa takut (Potter and Perry. Pasien diobservasi selama 30 menit untuk memantau keluhan yang mungkin terjadi paska dialisis. ketidaktahuan. Dari hasil evaluasi BB. Sebuah riset yang dilakukan oleh Rosenfeld (2003) membuktikan bahwa spiritualitas menawarkan proteksi atau memberikan efek penyangga dalam melawan keputusasaan pada pasien yang menganggap hidupnya akan segera berakhir atau pada penyakit terminal Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan hidup. mematikan alat. Dari hasil adekuasi hemodialisis. Perawat harus berupaya membantu memenuhi kebutuhan spiritual klien sebagai bagian dari kebutuhan menyeluruh klien (Hamid. perawat melakukan kolaborasi dengan dokter untuk menentukan dosis hemodialisis selanjutnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->