20/04/13

02:09 pm - Saturday 20 April 2013

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan - Syariah Publications

Home

Artikel

Berita
Sign In

Keluarga
Stay Connected

Kisah

Konsultasi
Entries RSS

Multimedia
Com m ents RSS

Muslimah

Opini

Resensi

Sastra

Teknologi

The New sPulse

Search...

Hom e » Muslim ah » Aktualita » Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Sim bol Penindasan

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan
By FARIDM - Wed Oct 17, 2:47 am 0 Comments 4 view s Suka 0 Tw eet 0

Search for:

Search

Shopping Cart Your shopping cart is empty Visit the shop

Surabaya. Hasil penelitian Anne Francoise Guttinger DeA terhadap Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menepis anggapan Barat dan kaum feminis yang selama ini menyatakan bahwa jilbab simbol penindasan sehingga bila ingin dikatakan modern harus menanggalkan jilbab. “Justru dengan jilbab, kalian (Muslimah HTI, red) menunjukkan modernitas. Bisa mengekspresikan ide. Paling berani keluar dan menyuarakan ide. Inilah modernitas,” ujar Sosiolog asal Prancis tersebut saat mengungkapkan hasil penelitiannya dalam acara Open House Muslimah HTI, Ahad (14/10) di Gedung Dakwah HTI Jawa Timur.

Edited by faridm ALSO WROTE Perempuan Sejahtera dan Mulia dengan Khilafah Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi? Kesalahan Logika Idrus Ramli, Bantahan atas Buku Jurus Ampuh Membungkam HTI MEMBUAT SEPATU DARI KULIT BABI Mengatasi Gugup Saat Mengisi Kajian

Anne yakin desertasinya yang berjudul New Voice of Women in Indonesia bisa memberikan wacana yang berbeda tentang Muslimah di negara-negara Barat khususnya Prancis yang hanya menganggap jilbab sebagai simbol penindasan dari pria yang mengatasnamakan agama. Sehingga perempuan harus memilih antara agama atau gender. Namun, Muslimah HTI menunjukkan perempuan Islam tidak perlu memilih salah satu antara keduanya. Karena mereka mampu menangkap Islam sebagai agama yang mendudukan gender secara proporsional. Walhasil, Muslimah menutup aurat mampu berbicara politik, mengkritik pemerintah, mencerdaskan masyarakat dan berjuang untuk syariah tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Mengamati Tiga Tahun Penelitian berawal dari ketertarikan Anne pada sebuah artikel di media massa tiga tahun silam yang memberitakan sekelompok wanita Indonesia yang berkerudung putih dan jilbab hitam terkait UU Pornografi. “Berpakaian hitam putih, membawa bendera dan menentang pornografi,” kenang Anne menceritakan awal mengenal Muslimah HTI. Sejak saat itu, bukan saja tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, tetapi ia malah menjadikan Muslimah HTI sebagai objek penelitian untuk meraih gelar doktoral (PhD) di Ehess University, Prancis. Ketertarikannya dengan Muslimah HTI ternyata mengantarkan Anne pada gambaran lain tentang Muslimah yang selama ini lebih banyak diberikan para feminis bahwa Muslimah berjilbab merupakan bentuk penindasan, berbicara politik ataupun syariah hanyalah milik kaum pria. “Karena saya dari Barat, saya hanya dengar suara feminis. Tapi disini (Indonesia), saya temukan bukan hanya satu suara. Tapi banyak wacana tentang Islam yang bisa bersaing dengan (suara) feminis. Ini sesuatu yang baru,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta open house.
Recent Posts Alhamdulillah, Facebook dan Twitter Resmi Amir Hizbut Tahrir al ‘Alim ‘Atha bin Kholil Abu Al Rasytah Diluncurkan Soal Miss World: Jangan Biarkan Jabar Makin Liberal Nasionalisme Vs Ukhuwah Islamiyah Aborsi Mengancam Generasi Paskah Bukan Ajaran Yesus Din: Muhammadiyah Tolak RUU Ormas

syariahpublications.com/2012/10/17/sosiolog-prancis-tepis-anggapan-jilbab-simbol-penindasan/

1/3

20/04/13

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan - Syariah Publications
Kiprah Politik Perempuan Waspadai Rezim Represif Berkedok Pancasila

Sebelum 3 tahun lalu, Anne memang sempat meneliti singkat tentang Muslimah NU dan Asiyah Muhammadiyah. Tapi, Muslimah HTI rupanya dipandang Anne lebih unik dengan aktifitas, pemikiran dan cara berpakaiannya. Dari situ, Anne mulai banyak mengenal Muslimah HTI. Anne mengaku Muslimah HTI sebuah gerakan yang unik dan menjadi fenomena baru. Anne bahkan sempat menganggap bahwa Muslimah HTI adalah gerakan feminis. “Apakah ini modernitas, apakah ini gerakan feminis? Apakah Muslimah HTI gerakan sosial atau partai politik?” pertanyaan yang berputar di benak Anne di awal-awal penelitian. Kemudian secara intensif Anne mengamati kegiatan Muslimah HTI terutama di Surabaya dan Jakarta. Dalam berbagai acara, Anne melihat diskusi dan debat yang diusung Muslimah HTI tidak bersifat patriarki, sifat yang selama ini dihembuskan feminis untuk menggambarkan kondisi kaum perempuan yang dikuasai pria. “Ketika dipaksa di dalam rumah, itu masuk konsep patriarki. Sehingga Muslimah HTI bukan patriarki dengan segala macam aktifitasnya,” tegasnya. Karena dari pengamatannya selama lebih dari dua tahun, perempuan khususnya Muslimah berbicara tentang syariah tapi juga sekaligus menjadi ibu dan manajer rumah tangga. “Ada pembagian sektor publik dan privat dalam dunia Muslimah. Mereka bisa melakukan tugas rumah tapi juga beraktifitas di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya. Muslimah HTI juga memilki profil yang berbeda dari perempuan pada umumnya. Tidak hanya pelajar dan dosen yang bisa menjadi anggotanya. Tapi semua kalangan. Kesadaran berpolitik para Muslimahnya sangat tinggi. “Menentang kapitalisme, liberalisme dan sekulerisme sangat aktif dilakukan,” bebernya. Anne melihat Muslimah HTI sebagai basis identitas kolektif HTI, berperan penting bagi kemajuan sosial sebuah peradaban. Perempuan sebagai ibu dan pendidik generasi punya peran sangat penting dalam perjuangan menegakkan kembali khilafah. (Mediaumat.com, 17/10/2012)

Islam Menghapus Kekerasan Terhadap Anak Meninjau Ulang Keindonesiaan Kita Ribuan Wanita Suriah Dibunuh dan Diperkosa Terungkap: Mata Rantai Pusat-pusat Penyiksaan Irak dengan Pentagon Posisi Geografis Global Kaum Muslim Yang Strategis Harus Menjadi Kekuatan Pendorong Untuk Mendirikan Kembali Khilafah Rasyidah Jubir HTI: “Bantahan Mabes Polri terhadap Video Itu tidak Mengurangi Arti Kekerasan Aparat” Ormas Islam serukan Bubarkan Densus 88 Astagfirullah, Muslim Rohingya Makan Tikus untuk Bertahan Hidup Rakyat Suriah Runtuhkan Patung Ayah Bashar al-Assad Setelah Para Pejuang Memasuki Kota Raqqa Raib 33 tahun, tentara Soviet menetap di Afghanistan Buku: Kritik Hizbut Tahrir Terhadap UUD Mesir Wanita Iran di Stockholm Lepas Baju Menentang Hijab

Related posts Jilbab dan Khimar, Busana Muslimah dalam Kehidupan Sehari-Hari Jilbab, Antara Gaya dan Rekonstruksi Diri Jilbab Tidak Sama dengan Kerudung Membiasakan Anak Berjilbab Sejak Kecil coded by nessus

0 Comments

(No Ratings Yet)

4 view s

Suka

0

Tw eet

0

More on Aktualita

HTI: Hingga 2012, Perem puan Masih Dieksploitasi

Peran Muslim ah dalam Mew ujudkan Generasi Berkualitas

Kiprah Politik Perem puan

Kasus HIV/AIDS pada Ibu Rum ah Tangga di Bali Meningkat

syariahpublications.com/2012/10/17/sosiolog-prancis-tepis-anggapan-jilbab-simbol-penindasan/

2/3

20/04/13

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan - Syariah Publications

Syariah Publications
Suka 208 orang menyukai Syariah Publications.

P lugin sosial F acebook

Leave a Reply
Your name (Required) Your e-mail (Your email won't be published) (Required) Your website

Notify me of follow-up comments via e-mail address Submit Comment

Advertisement

Home

Artikel

Berita

Keluarga

Kisah

Konsultasi Archives

Multimedia Sitemap Help

Muslimah

Opini

Resensi Advertising

Sastra

Teknologi

Syariah Publications New s Netw ork

RSS feeds

Terms of Use

Copyright © 2013 Syariah Publications. All rights reserved. Pow ered by New sWorld CMS.

syariahpublications.com/2012/10/17/sosiolog-prancis-tepis-anggapan-jilbab-simbol-penindasan/

3/3

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful