BERBICARA DAN BERBAHASA Oleh : Asnominanda

PENDAHULUAN Pengertian komunikasi sangat luas yang secara sederhana digambarkan sebagai proses mengirim dan menerima pesan diantara individu atau kelompok dalam berinteraksi. Salah satu cara manusia dalam berkomunikasi adalah berbicara dengan bahasa. Dengan berbicara dan menggunakan kata-kata manusia dapat mengemukakan pendapat, mengingat dan mencatat kejadian serta dapat “mentransfer” ilmunya pada orang lain khususnya kegenerasi berikutnya. Perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa telah dimulai sejak lahir, ini sangat penting untuk mencapai kemampuan maksimal sebagai manusia seutuhnya dalam interaksi sosial, kejiwaan yang stabil dan intelegensia yang semuanya memerlukan kemampuan berbicara dan berbahasa yang baik. Tahun-tahun pertama pada masa anak-anak ternyata sangat penting untuk perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa. Berbagai gangguan pada masa yang penting ini ternyata dapat menghambat kemampuan berbicara dan berbahasa di kemudian hari. Untuk ini perlu kita ketahui perkembangan berbicara dan berbahasa yang normal pada anakanak sebagai standar sehingga kita bisa mengadakan deteksi dan penanggulangan sedini mungkin bila ada kelainan. PENGERTIAN Ada beberapa pengertian yang sering dipergunakan dalam berbicara dan berbahasa : 1. Komunikasi : Individu dengan sengaja dipengaruhi tindak tanduknya oleh orang lain (Reid et al, 1987) dimana dalam komunikasi oral dilakukan dengan mengeluarkan suara yang dimengerti oleh orang lain. 2. Bahasa : Simbol-simbol yang disusun individu dalam mengungkapkan pengalaman, mengekspresikan ide dan perasaan sehingga ada asosiasi suatu bunyi dengan suatu pengertian tertentu yang dimengerti oleh suatu masyarakat. Dengan demikian bahasa tidak hanya kosa kata dan tata bahasa, namun juga kemampuan mengingat, memilah, menyusun dan kemampuan abstraksi. 3. S u a r a : Hasil dari bicara dimana setiap individu punya karakteristik dalam hal kualitas yang ditentukan oleh getaran pita suara dan resonansi, tinggi nada (frekuensi), kekerasan (kecepatan tekanan) dan gema sesuai dengan besar individu, usia dan jenis kelamin. 4. Kepasihan : Termasuk aspek kecepatan, irama dan keteraturan. 5. Bicara : Gerakan motorik dimana gerakan mulut, lidah, tenggorokan dan saluran pernapasan menghasilkan bunyi yang berupa kata-kata, dengan pernapasan sebagai sumber “energi”, fonasi sebagai pembentukan suara dan artikulasi sebagai pengucapannya. Jadi dalam hal ini suara adalah alat untuk menyampaikan bahasa. 6. Fonasi : Suara terbentuk karena getaran pita suara. Tinggi rendahnya nada suara tergantung berbagai keadaan pita suara yaitu panjangnya, tebalannya, ketegangannya dan kecepatan getarannya. 7. Artikulasi : Pengucapan yang terbentuk oleh perubahan ruangan dan pergerakan organ diantara pita suara dan bibir. Yaitu penyempitan dan pergerakan lidah, bibir, palatum tenggorok, pipi dan rahang. Pengucapan ada dua macam yaitu vokal (huruf hidup) dan konsonan (huruf mati) Adapun komunikasi oral mempunyai beberapa komponen sehingga dapat berjalan sebagai mana yang diinginkan, yaitu : a. Proses berfikir : individu ingin mengungkapkan sesuatu

Literatur Study

1

melalui media udara akan dihantarkan sehinga getarannya sampai ke organ pendengaran e. Interaksi yang dini antara ibu dan bayi ini merupakan dasar komunikasi dalam hubungan antar manusia. tapi dalam waktu singkat tangisan ini mulai mempunyai arti oleh karena bayi dapat mengasosiasikan tangisnya dengan perhatian ibu. Seorang ibu juga dapat mengerti tangisan bayinya sehingga dapat membedakan antara tangis karena lapar. Proses memperhatikan : kata-kata yang didengarkan harus dipahami dan dipelajari sehingga akhirnya g. tangis karena nyeri. f.b. Perkembangan dalam menerima keterampilan berbahasa bayi dan anak : Beberapa bentuk perkembangan bayi dan anak dalam menerima keterampilan berbahasa terlihat dari respon sebagai berikut :  Respon pada suara. Dimengerti PERKEMBANGAN BERBICARA DAN BERBAHASA Langkah pertama untuk perkembangan bicara dan bahasa telah mulai pada saat bayi lahir dengan tangisan pertama yang menandakan bahwa bayi telah mulai bernapas. Simbolisasi : ungkapan dalam simbol-simbol yang dimengerti c. berhenti melakukan aktifitas  Tenang dan diam bila mendengar suara yang dikenalinya  Respon terhadap suara dengan senyuman  Mengamati bibir dan mulut yang bicara  Melihat sekelilingnya untuk mencari yang berbicara  Respon terhadap lapar dengan suara tangisan dan suasana menyenangkan dengan senyuman  Mengenali dan merespon bila namanya dipanggil  Mendengarkan suaranya sendiri  Membedakan antara keluarganya dengan orang lain yang belum dikenalinya  Respon terhadap irama musik  Mengerti terhadap pertanyaan sederhana : “mana bola ?”  Menyukai irama dan lagu sederhana  Mengerti nama objek terbatas (8-12 bulan)  Mengerti nama-nama orang tertentu (12-18 bulan)  Mengerti banyak objek yang sering dilihatnya (18 bulan)  Mengenali dua objek yang sangat “familiar” diantara empat objek yang dikenalinya (19-24 bulan)  Bisa mengikuti beberapa perintah sederhana : “beri saya bola”  Bisa mengerti pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak” : “mau susu ?” Perkembangan dalam menghasilkan keterampilan berbahasa pada bayi dan anak : Beberapa bentuk perkembangan bayi dan anak dalam menghasilkan keterampilan berbahasa terlihat dari respon berikut :  Respon dengan suara ketika namanya dipanggil. Transmisi suara : bunyi kata-kata yang dikeluarkan. Memang pada mulanya tangisan bayi hanya merupakan refleks.  Menggunakan mimik dan gerakan tangan saat berbicara  Menggunakan suara dengan kenyaringan berbeda  Mengunakan istilah-istilah  Berbicara sendiri di depan kaca Literatur Study 2 . d. Proses mendengar : mulai dari telinga luar sampai ke telinga dalam dan akhirnya ke pusat pendengaran di otak. Berbicara : ungkapan dari konsep simbolisasi dalam bentuk bunyi kata. tangis karena tak enak badan atau popoknya basah.

Mulai menggunakan kata benda dan kata kerja . D. CH. menyeringai. Panjang kalimat sampai enam kata dan mengandung semua unsur kalimat. NG. Perbendaharaan : 200 – 300 kata. mulai menyusun kalimat dengan dua kata. Perbendaharaan : 1 sampai 3 kata. J T. menambah konsonan t dan d Mulai mengucapkan kata-kata.12 bulan 12-18 bulan AKTIFITAS Bersuara secara reflek Ngoceh (babbling) Bermain dengan suara Bicara KETERANGAN Menangis. Bayi yang tenang dan diam dengan tangisan yang monoton. G S.6 bulan 6 . banyak bersuara. V. th Meniru dan mengulang suara tanpa arti. Panjang kalimat sebanyak empat sampai enam kata. perlu diamati tanda-tanda peringatan sebagai berikut : 1. P. L Tabel 3 : Perkembangan Bahasa yang normal UMUR (tahun) 1 2 3 4 5 KETERANGAN Mulai mengucapkan kata-kata dengan benar. misalnya selalu menggunakan kontak mata yang luar biasa dan sering kali berespon bila ada sentuhan. kemampuan artikulasi makin berkembang Tabel 2 : Perkembangan Artikulasi UMUR (tahun) 3 3. Menggunakan kata tunggal dengan gerakan/isyarat dalam menginginkan sesuatu  Mulai mengulang kata-kata yang didengar dalam percakapan Secara garis besar perkembangan berbicara dan berbahasa yang normal bisa dilihat dari tabel berikut : Tabel 1 : Perkembangan Bicara yang normal UMUR s/d 2 bulan 2 . Masalah interaksi dengan orang lain. H.5 4 4. 2. F. l. n. m. Mengucapkan kalimat dengan tiga sampai lima kata. meniru orang tua. Perbendaharaan lebih dari 2000 kata. melakukan gerakan sambil bicara. 3.5 6 KONSONAN M. Perbendaharaan : 600 – 1000 kata. mulai memberi respon terhadap suara dari luar. biasanya kata benda. B. Perbendaharaan : 1500 – 1600 kata. Tiada atau kurang respon terhadap suara khususnya suara manusia. g dan h Mulai menyadari suara sendiri. terdapat variasi tangisan dan tambahan konsonan p. ng. b. N. W Y K. Proses Fonasi : Perkembangan proses fonasi anak adalah sebagai berikut :  Menggunakan satu kata berturut-turut dengan susunan kata diantaranya Literatur Study 3 . Tanda peringatan : Adakalanya perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa bayi dan anak tidak sesuai dengan pola di atas. Ditemukan masalah dengan bibir atau lidah khususnya saat makan atau minum 4. F. R. mulai bersuara vokal dan konsonan k.

pembesaran adenoid. orang atau situasi Menggunakan dua kata bersamaan (2 tahun) Menggunakan tiga susunan kata (3 tahun) Menggunakan empat susunan kata (4 tahun) Karakteristik suara yang normal : 1. Tingkat nadanya (frekuensi) sesuai dengan usia. trauma laring. Gangguan artikulasi menimbulkan kelainan suara seperti suara hipernasal. peradangan atau trauma Mekanisme Kurang atau terlalu Tuli konduktif. laringocele. hewan dan lain-lain Mungkin akan menarik orang untuk melihat suatu objek. Hidung Hiponasal hiper tropi konka bilateral. polip hidung. Gangguan proses artikulasi : Biasanya disebabkan karena kelainan rongga resonansi. Gangguan proses fonasi : Dihubungkan dengan kelainan di laring dengan segala penyebabnya seperti adanya selaput laring. edema mukosa karena alergi. hiponasal dan disarthria. nada dan kualitas suara) dan kelainan simbolisasi yaitu tidak dapat menghubungkan antara simbol bahasa dengan pengertian yang dikandungnya. proses artikulasi (pengucapan). kelainan irama bicara (gagap. terputus-putus). kista). Gangguan fonasi berkaitan dengan nada suara dan akan menghasilkan mulai suara serak. pasca adenoidektomi Sumbatan hidung : deviasi septum. Insufisiensi velofaringeal : celah faring dan Hipernasal palatum. penggunaan suara yang berlebihan dan kelainan struktur laring lainnya. suara kasar atau suara seperti mendesah. Keseimbangan yang tepat antara gema rongga mulut dan hidung 3. Kualitas suara yang menyenangkan 2. saraf atau tuli campur mendengar nyaring TINGKAT KUALITAS Organik Literatur Study 4 . paralisis mulut palatum. ukuran dan kekerasannya GANGGUAN BERBICARA DAN BERBAHASA PADA ANAK Kelainan atau gangguan bicara pada anak dibagi dalam beberapa jenis kelainan yaitu kelainan proses fonasi (pembentukan). kelainan pita suara (paralisis. pembengkakan Palatum. epiglotis (-) Laring serak atau nada Paralisis pita suara tinggi Massa di laring : papiloma. papilloma. dan kelainan pita suara. kista dll Trauma laring. Secara garis besar kelainan suara bisa terlihat dari tabel berikut ini : Tabel 4 : Penyebab kelainan suara PENYEBAB ASPEK FISIK Kelainan struktur : selaput laring. Kasar. meniup. palatum pendek.     Meniru suara yang ada di lingkungannnya seperti suara motor. mulai dari pita suara sampai bibir dan hidung. disfonia sampai afonia. kelainan suara (volume. Kekerasannya sesuai 4.

baik afasia ekspresif dimana anak mengerti tapi tidak dapat mengungkapkannya dan afasia reseptif dimana anak tidak mengerti simbol bahasa. memperlihatkan gangguan berbahasa yang ekstrim dan belum diketahui penyebabnya yang pasti. plika kasar. pergerakan.Disfonia : kelainan suara . dapat menyebabkan kelainan atau keterlambatan berbicara.Disarthria : kelainan artikulasi dalam ketepatan. membaca dan bicara yang disebabkan oleh kerusakan pusat bahasa di otak. dapat menyebab kan berbagai jenis gangguan dan keterlambatan berbicara dan berbahasa. Pusat pendengaran di otak sangat berdekatan letaknya dengan pusat bahasa yaitu dalam kortek serebri pada belahan otak bagian kiri. adalah : . Anak dengan gangguan tingkah laku/emosional yang berat adalah “ autistik”atau “skizofrenia”. juga ada ketulian yang hilang timbul (karena pilek.Dislalia : kelainan pengucapan karena kelainan alat bicara. hiperkeratosis. meniup. Kelainan bisa dalam bentuk paling ringan yang dikenal dengan “ disfungsi minimal otak” (DMO) sampai pada kelainan dengan kecacatan ganda yang berat. Rangkaian ini dan berbagai jenis kelainan berbicara dan berbahasa dapat dilihat secara skematis pada lampiran 1. Gangguan Pendengaran Mendengar sebagai salah satu komponen komunikasi oral sangat penting untuk belajar berbicara dan berbahasa disamping fungsi penglihatan dan merupakan hal yang pertama-tama harus diperiksa bila ada gangguan berbicara dan berbahasa. gangguan pendengaran atau kelainan fungsional . HAL YANG MENYEBABKAN GANGGUAN BERBICARA DAN BERBAHASA Dalam proses berbicara dan berbahasa yang normal harus mengikuti “rangkaian dengar bicara” sehingga semua komponen komunikasi oral dipergunakan sebagaimana mestinya. 1. 2. 3. disiplin yang terlalu keras. ketakutan. Kerusakan otak di daerah pusat bicara.Terlambat bicara : perkembangan bicara yang tidak sesuai dengan usia anak normal .Perubahan or ganik karena salah m’guna kan suara Pita suara Serak. gangguan fonasi. Gangguan Susunan Saraf Pusat Kerusakan pada jaringan otak anak pada masa perkembangannya. polip pita suara. Literatur Study 5 . Biasanya disebabkan oleh kerusakan susunan saraf pusat . Selain ketulian sejak lahir. gangguan artikulasi dan irama (gagap). hipernasal ventrikularis disfonia. dapat menimbulkan kalainan “ afasia”. t’lalu nyaring/pelan laringitis non spesifik atau tak ada suara Beberapa istilah yang sering digunakan. seperti gangguan emosional. Dimanapun terjadi gangguan proses mendengar ini akan menyebabkan gangguan pendengaran (ketulian). Nodul vokal. Kelainan Tingkah Laku dan Emosional Berbagai kelainan kejiwaan.Afasia : kelainan simbolisasi dari unsur bahasa seperti pengertian. merasa tersisih dan kurang perhatian pada usia kritis. Seperti yang telah kita ketahui bahwa proses mendengar mulai dari telinga luar sampai getaran cairan di dalam kohlea yang diubah jadi impuls elektris oleh organon corti dan akhirnya diteruskan oleh serabut saraf ke pusat pendengaran di dalam otak. radang tonsil) yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan bicara pada usia kritis (3 tahun).Afonia : tidak ada suara . pengaturan dan koordinasi dari gerakan otot bicara.

psikiater. seperti celah bibir dan langitlangit. otologist. psikolog. Kelumpuhan Organ Bicara Kecelakaan atau penyakit yang mengenai susunan saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan otot pada organ bicara sehingga menyebabkan gangguan berbicara. terapi pedagogi. Gangguan proses berbicara dan berbahasa ditangani dengan mengoreksi faktor yang mempengaruhinya baik organik maupun fungsional. Keterbelakangan Mental Anak dengan keterbelakangan mental. terapis wicara dan terapis pedagogi disamping ahli saraf.4. pekerja sosial. KESIMPULAN 1. 3. 5. misalnya karena ibunya penderita bisu tuli. keterlambatan dan gangguan bicara dan bahasa pada anak secara dini bisa diketahui. c. sehingga anak kembali berbicara seperti bayi. Pada keterbelakangan mental dan kelumpuhan organ bicara. Perlu pemeriksaan dan kerjasama dari berbagai disiplin ilmu untuk mendiagnosa dan dalam penatalaksanaan anak dengan gangguan bicara dan bahasa seperti ahli THT. sehingga ditirunya. Hal ini terjadi pada “cerebral palsy” dimana terjadi kerusakan otak yang diduga karena kekurangan oksigen saat lahir. b. Banyak faktor yang berpengaruh sehingga menyebabkan gangguan berbicara dan berbahasa. 4. Kelainan Rongga Mulut Anak yang lahir dengan cacat pada rongga mulut. Adakalanya perlu juga melibatkan ahli psikologi dan psikiater seperti pada kelainan tingkah laku dan emosional. Pada gangguan susunan saraf pusat biasanya memerlukan pengelolaan oleh terapis fisik. terapis fisisk. ayah dan lingkungan lainnya. ahli radiologi dan lain-lain. lidah pendekd dan “maloklusi” akan menyebabkan gangguan pengucapan dimana tidak bisa mengucapkan beberapa konsonan dengan baik. 7. Adanya kelainan berbicara pada orang di sekitar anak. seperti : a. Literatur Study 6 . Sejak lahir proses perkembangan berbicara dan berbahasa telah dimulai dan memerlukan interaksi yang baik antara bayi atau anak dengan ibu. terapi wicara dan pekerja sosial. Kurangnya rangsangan sehingga anak kurang motivasi untuk berbicara. Dengan mengetahui standar perkembangan normal. 6. Adanya penyakit pada tonsil dan adenoid yang besar juga menyebabkan suara anak yang “sengau”. saraf. Merasa kurang diperhatikan karena adanya kelahiran adik baru. terapis wicara. keterlibatan ahli neurologi khususnya saraf anak bisa membantu disamping psikolog. 2. Dalam hal ini adanya kelainan organ pendengaran harus diperhatikan. PENATALAKSANAAN GANGGUAN BERBICARA DAN BERBAHASA Prinsip penatalaksanaan ganguan berbicara dan berbahasa adalah intervensi sedini mungkin dan penyebab atau kelainan yang mendasarinya harus segera dikoreksi seperti gangguan pendengaran. ahli terapi fisik. anak. pendidikan khusus SLB-B dan terapis wicara pada gangguan pendengaran. hipertropi tonsil atau adenoid serta celah bibir dan langit-langit. Keadaan Lingkungan Beberapa keadaan lingkungan yang kurang menunjang dapat menyebabkan gangguan bicara. sehingga dalam penatalaksanaannya juga harus dengan multidisiplin ilmu seperti oleh audiologist. juga terbelakang dalam perkembangan lainnya termasuk berbicara dan berbahasa.

London.G . volume 6. p. Butterworth – Hinemann. 6/13/1 – 6/13/8.KEPUSTAKAAN Thompson. in Scott-Brown’s Otolaryngology edited by Kerr. S . Speecch and Language . 6th edition. Literatur Study 7 . 1997. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful