P. 1
I03_Beny_Samarinda_TPTI TJTI_SDA 2000

I03_Beny_Samarinda_TPTI TJTI_SDA 2000

|Views: 799|Likes:
Published by BENY
PENERAPAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN GIS
UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

RINGKASAN
Kemajuan teknologi penginderaan jauh memungkinkan untuk melakukan deteksi
obyek-obyek muka bumi secara cepat dan akurat serta data terbaru dari citra satelit.
Pendayagunaan penginderaan jauh dan SIG disini akan dititik beratkan pada
pendeteksian perubahan kondisi vegetasi hutan alam karena pengelolaan atau sistem
silvikultur yang berbeda. Kegiatan tahun lalu telah dilakukan pengamatan vegetasi
teristris, pengamatan erosi tanah serta pemasangan pengamatan hidrologi. Sehingga
untuk tahun kedua dikonsentrasikan pada pemantauan kondisi vegetasi untuk
mendapatkan informasi perubahan vegetasi hutan alam dalam rangka kajian tentang
pengelolaan sumber daya alam.
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi potensi sumber daya
alam khususnya aspek vegetasi didalam kawasan hutan alam dengan sistem silvikultur
TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) dan TJTI (Tebang Jalur Tanam Indonesia), dan
menetapkan metode analisa klasifikasi citra satelit pada skala operasional. Sehingga
target yang hendak dicapai adalah menetapkan metode analisa citra satelit untuk
melihat perubahan kondisi sumber daya alam dan metode kalsifikasi citra satelit tingkat
operasional yang dapat ditindak lanjuti untuk kegiatan pengalihan teknologi.
Lokasi penelitian di Gunungsari (km 0), tepatnya di Long Ayan (km 60), wilayah
HPH (Hak Pengusahaan Hutan) milik PT. SLJ-IV (Sumalindo Lestari Jaya), Tanjung
Redeb, Propensi Kalimantan Timur. Lokasi HPH PT.SLJ-IV site Gunungsari terletak
pada koordinat antara 116o 30’ 00” - 117o 00’ 00” BT dan 02o 00’ 00” - 30o 30’ 00” LU
masuk wilayah BKHP Gunung Tabur, KPH/CDK Berau, Dinas Kehutanan. Analisa
penginderaan jauh menggunakan citra satelit Landsat TM yang dilengkapi dengan 7
kanal dan resolusi tinggi (ukuran piksel 30 m x 30 m) tahun 1994 dan tahun 1996 untuk
membedakan sebelum dan setelah dilakukan penebangan tahun 1995. Dari citra yang
berukuran 185 x 185 km selanjutnya hanya dianalisa untuk daerah yang masuk pada
wilayah kepemilikan HPH PT. SLJ-IV, yang terdapat perlakuan sistem silvikultur TPTI
dan TJTI.
Lokasi TPTI terletak pada km 80, memiliki kondisi fisik antara lain : topografi
perbukitan dengan lereng D (25-35%) sampai E (35-45%) pada daerah tenggara dan
berbukit pada daerah barat laut. Luas daerah tangkapan > 3000 ha yang terdiri dari
hutan produksi terbatas dan hutan lindung.
Lokasi TJTI yang terletak pada km 60, memiliki kondisi topografi bergelombang
hingga berbukit dengan kelerengan 15-45%, dengan luas Sub DAS diperkirakan 1000
ha, dimana 650 ha diantaranya merupakan areal TJTI. Pada areal tersebut diterapkan
kombinasi antara jalur konservasi dan jalur tebang 50 -200 m dan seluruhnya ada 6
petak pada areal seluas 650 ha.
Hasil penelitian sementara dengan klasifikasi berbantuan memberikan
informasi kelompok vegetasi penutupan lahan sebelum (1994) dan setelah (1996) penebangan. Disamping itu juga ditetapkan metode yang efektif dan efisien dalam
menganalisis perubahan penutupan lahan. Diawali dengan koreksi radiometri dan
geometri, selanjutnya diikuti dengan deliniasi citra satelit pada daerah yang merupakan
wilayah HPH milik PT.SLJ-IV. Klasifikasi tak berbantuan dan dipadukan data lapangan
selanjutnya dilakukan klasifikasi berbantuan.
PENERAPAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN GIS
UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

RINGKASAN
Kemajuan teknologi penginderaan jauh memungkinkan untuk melakukan deteksi
obyek-obyek muka bumi secara cepat dan akurat serta data terbaru dari citra satelit.
Pendayagunaan penginderaan jauh dan SIG disini akan dititik beratkan pada
pendeteksian perubahan kondisi vegetasi hutan alam karena pengelolaan atau sistem
silvikultur yang berbeda. Kegiatan tahun lalu telah dilakukan pengamatan vegetasi
teristris, pengamatan erosi tanah serta pemasangan pengamatan hidrologi. Sehingga
untuk tahun kedua dikonsentrasikan pada pemantauan kondisi vegetasi untuk
mendapatkan informasi perubahan vegetasi hutan alam dalam rangka kajian tentang
pengelolaan sumber daya alam.
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi potensi sumber daya
alam khususnya aspek vegetasi didalam kawasan hutan alam dengan sistem silvikultur
TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) dan TJTI (Tebang Jalur Tanam Indonesia), dan
menetapkan metode analisa klasifikasi citra satelit pada skala operasional. Sehingga
target yang hendak dicapai adalah menetapkan metode analisa citra satelit untuk
melihat perubahan kondisi sumber daya alam dan metode kalsifikasi citra satelit tingkat
operasional yang dapat ditindak lanjuti untuk kegiatan pengalihan teknologi.
Lokasi penelitian di Gunungsari (km 0), tepatnya di Long Ayan (km 60), wilayah
HPH (Hak Pengusahaan Hutan) milik PT. SLJ-IV (Sumalindo Lestari Jaya), Tanjung
Redeb, Propensi Kalimantan Timur. Lokasi HPH PT.SLJ-IV site Gunungsari terletak
pada koordinat antara 116o 30’ 00” - 117o 00’ 00” BT dan 02o 00’ 00” - 30o 30’ 00” LU
masuk wilayah BKHP Gunung Tabur, KPH/CDK Berau, Dinas Kehutanan. Analisa
penginderaan jauh menggunakan citra satelit Landsat TM yang dilengkapi dengan 7
kanal dan resolusi tinggi (ukuran piksel 30 m x 30 m) tahun 1994 dan tahun 1996 untuk
membedakan sebelum dan setelah dilakukan penebangan tahun 1995. Dari citra yang
berukuran 185 x 185 km selanjutnya hanya dianalisa untuk daerah yang masuk pada
wilayah kepemilikan HPH PT. SLJ-IV, yang terdapat perlakuan sistem silvikultur TPTI
dan TJTI.
Lokasi TPTI terletak pada km 80, memiliki kondisi fisik antara lain : topografi
perbukitan dengan lereng D (25-35%) sampai E (35-45%) pada daerah tenggara dan
berbukit pada daerah barat laut. Luas daerah tangkapan > 3000 ha yang terdiri dari
hutan produksi terbatas dan hutan lindung.
Lokasi TJTI yang terletak pada km 60, memiliki kondisi topografi bergelombang
hingga berbukit dengan kelerengan 15-45%, dengan luas Sub DAS diperkirakan 1000
ha, dimana 650 ha diantaranya merupakan areal TJTI. Pada areal tersebut diterapkan
kombinasi antara jalur konservasi dan jalur tebang 50 -200 m dan seluruhnya ada 6
petak pada areal seluas 650 ha.
Hasil penelitian sementara dengan klasifikasi berbantuan memberikan
informasi kelompok vegetasi penutupan lahan sebelum (1994) dan setelah (1996) penebangan. Disamping itu juga ditetapkan metode yang efektif dan efisien dalam
menganalisis perubahan penutupan lahan. Diawali dengan koreksi radiometri dan
geometri, selanjutnya diikuti dengan deliniasi citra satelit pada daerah yang merupakan
wilayah HPH milik PT.SLJ-IV. Klasifikasi tak berbantuan dan dipadukan data lapangan
selanjutnya dilakukan klasifikasi berbantuan.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: BENY on Mar 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

DEPARTEMEN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

BALAI TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Alamat : Jl. Ahmad-Yani Pabelan PO.BOX. 295 Surakarta. 57102

BTPDAS 08 34.5 03 2000

LAPORAN
PENERAPAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN GIS UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

PENGKAJIAN DAN PENERAPAN HASIL PENELITIAN KEHUTANAN

DIK-S DR 1999/2000

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

1

PENERAPAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN GIS UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
Oleh : Beny Harjadi, C. Nugroho, S.P., Triwilaida, Maming Iriansyah, Totok Arisalam RINGKASAN Kemajuan teknologi penginderaan jauh memungkinkan untuk melakukan deteksi obyek-obyek muka bumi secara cepat dan akurat serta data terbaru dari citra satelit. Pendayagunaan penginderaan jauh dan SIG disini akan dititik beratkan pada pendeteksian perubahan kondisi vegetasi hutan alam karena pengelolaan atau sistem silvikultur yang berbeda. Kegiatan tahun lalu telah dilakukan pengamatan vegetasi teristris, pengamatan erosi tanah serta pemasangan pengamatan hidrologi. Sehingga untuk tahun kedua dikonsentrasikan pada pemantauan kondisi vegetasi untuk mendapatkan informasi perubahan vegetasi hutan alam dalam rangka kajian tentang pengelolaan sumber daya alam. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi potensi sumber daya alam khususnya aspek vegetasi didalam kawasan hutan alam dengan sistem silvikultur TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) dan TJTI (Tebang Jalur Tanam Indonesia), dan menetapkan metode analisa klasifikasi citra satelit pada skala operasional. Sehingga target yang hendak dicapai adalah menetapkan metode analisa citra satelit untuk melihat perubahan kondisi sumber daya alam dan metode kalsifikasi citra satelit tingkat operasional yang dapat ditindak lanjuti untuk kegiatan pengalihan teknologi. Lokasi penelitian di Gunungsari (km 0), tepatnya di Long Ayan (km 60), wilayah HPH (Hak Pengusahaan Hutan) milik PT. SLJ-IV (Sumalindo Lestari Jaya), Tanjung Redeb, Propensi Kalimantan Timur. Lokasi HPH PT.SLJ-IV site Gunungsari terletak pada koordinat antara 116o 30’ 00” - 117o 00’ 00” BT dan 02o 00’ 00” - 30o 30’ 00” LU masuk wilayah BKHP Gunung Tabur, KPH/CDK Berau, Dinas Kehutanan. Analisa penginderaan jauh menggunakan citra satelit Landsat TM yang dilengkapi dengan 7 kanal dan resolusi tinggi (ukuran piksel 30 m x 30 m) tahun 1994 dan tahun 1996 untuk membedakan sebelum dan setelah dilakukan penebangan tahun 1995. Dari citra yang berukuran 185 x 185 km selanjutnya hanya dianalisa untuk daerah yang masuk pada wilayah kepemilikan HPH PT. SLJ-IV, yang terdapat perlakuan sistem silvikultur TPTI dan TJTI. Lokasi TPTI terletak pada km 80, memiliki kondisi fisik antara lain : topografi perbukitan dengan lereng D (25-35%) sampai E (35-45%) pada daerah tenggara dan berbukit pada daerah barat laut. Luas daerah tangkapan > 3000 ha yang terdiri dari hutan produksi terbatas dan hutan lindung. Lokasi TJTI yang terletak pada km 60, memiliki kondisi topografi bergelombang hingga berbukit dengan kelerengan 15-45%, dengan luas Sub DAS diperkirakan 1000 ha, dimana 650 ha diantaranya merupakan areal TJTI. Pada areal tersebut diterapkan kombinasi antara jalur konservasi dan jalur tebang 50 -200 m dan seluruhnya ada 6 petak pada areal seluas 650 ha. Hasil penelitian sementara dengan klasifikasi berbantuan memberikan informasi kelompok vegetasi penutupan lahan sebelum (1994) dan setelah (1996)
f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

2

penebangan. Disamping itu juga ditetapkan metode yang efektif dan efisien dalam menganalisis perubahan penutupan lahan. Diawali dengan koreksi radiometri dan geometri, selanjutnya diikuti dengan deliniasi citra satelit pada daerah yang merupakan wilayah HPH milik PT.SLJ-IV. Klasifikasi tak berbantuan dan dipadukan data lapangan selanjutnya dilakukan klasifikasi berbantuan.

Kata Kunci : Silvikultur, Citra Landsat, Penginderaan jauh, SIG, Klasifikasi

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

3

KATA PENGANTAR Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi ilmiah tentang dampak TPTI dan TJTI terhadap peremajaan tanaman dan kondisi hidrologi hutan. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah memberikan rekomendasi teknis yang berkaitan dengan pelaksanaan TPTI dan TJTI. Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka dengan telah selesainya laporan tentang “PENERAPAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN GIS UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM” kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Atasan Langsung Kegiatan Pengkajian dan Penerapan Hasil Penelitian Kehutanan DIK-S DR 1999/2000 BTPDAS Surakarta, Sikamto beserta Staf Sekretariat Proyek yang telah membantu pengalokasian dana dan koordinasinya, sehingga penelitian ini dapat selesai tepat pada waktunya. 2. Seluruh Staf dan Karyawan PT. Sumalindo Lestari Jaya (SLJ), Perwakilan SLJ-IV dan seluruh pelaksana di Lokasi Gunung Sari, serta Kapala BPK Samarinda dan seluruh Staf atas segala dukungan yang telah diberikan sehingga kegiatan penelitian dapat terlaksana dengan baik. 3. Tim yang telah menyusun dan menyelesaikan kajian ini, antara lain : Ir. Beny Harjadi, MSc dan Ir. C.Nugroho, S.P., MSc. yang telah menulis laporan ini dan kegiatan lainnya, Ir. Triwilaida, MSc., Ir. Maming Iriansyah dan Totok Arisalam, SP. serta rekan-rekan lain yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung kegiatan di kantor dan juga survai di lapangan. 4. Seluruh Staf BTPDAS yang telah mendukung kelancaran penyelesaian teknis maupun non teknis sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Akhirnya laporan berikut tidak terlepas dari segala kekurangannya, sehingga saran dan kritik dalam rangka meningkatkan kualitas penelitian dimasa yang akan datang sangat kami harapkan.

Kepala Balai,nnnnn

Dr.Ir.D.Mulyadhi, MSc. NIP. 080 057 527

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

4

DAFTAR ISI

Hal RINGKASAN…………………………………………………………………….. KATA PENGANTAR……………………………………………………………. DAFTAR ISI……………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….. ii iv v vii viii ix

I. PENDAHULUAN…………………………………………………………….. A. Latar Belakang………………………………………………………………. Maksud dan Tujuan………………………………………………………….

1 1 4

I. STUDY PUSTAKA…………………………………………………………. A. Sistem Penebangan Hutan Produksi………………………………………… B. Dampak TPTI dan TJTI……………………………………………………… C. Teknik Penginderaan Jauh…………………………………………………… 1. Penginderaan Jauh………………………………………………………… 2. Analisa Klasifikasi Citra Satelit Pada Sistem Silvikultur………………… 3. Perbandingan Citra Satelit dengan Foto Udara…………………………… 4. Informasi Citra SPOT……………………………………………………..

5 5 6 8 9 11 13 16

II. DESKRIPSI LOKASI……………………………………………………… A. Letak Luas dan Keadaan Wilayah………………………………………….. B. Lokasi Uji Coba Permanen…………………………………………………. C. Keadaan Hutan………………………………………………………………. D. Kriteria Areal Kegiatan TPTI………………………………………………. E. Kriteria Areal Kegiatan TJTI……………………………………………….. F. Iklim…………………………………………………………………………

18 18 20 20 21 22 24

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

5

I. METODOLOGI……………………………………………………………. A. Bahan dan Peralatan………………………………………………………… B. Metode Kajian………………………………………………………………..

25 25 25

II. PELAKSANAAN KEGIATAN……………………………………………. A. Studi Literatur dan Pembuatan RPTP………………………………………. B. Konsultasi dan Orientasi……………………………………………………. C. Pengumpulan Data Lapangan……………………………………………….. D. Kalibrasi Sarana Pengamatan Hidrologi…………………………………….. E. Pelaksanaan Survei Lapangan……………………………………………….. F. Deliniasi dan Dijitasi Peta…………………………………………………… G. Analisa Data Lapangan dan Citra Satelit……………………………………. H. Produksi Peta………………………………………………………………

30 30 30 31 32 33

34

34 35

III. HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………….. A. Kondisi Penutupan Lahan………………………………………………….. B. Kondisi Hidrologi………………………………………………………….. 1. Curah Hujan………………………………………………………………. 2. Intensitas Curah hujan…………………………………………………….. 3. Tinggi Muka Air (TMA)………………………………………………….. C. Hasil Analisa Citra Satelit…………………………………………………… 1. Karakter Citra Landsat Tahun 1994 dan 1996……………………………. 2. Klasifikasi Berbantuan……………………………………………………. 3. Perubahan Penggunaan Lahan…………………………………………….

36 36 37 37 40 42 44

44 46 48

IV. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………….. A. Kesimpulan………………………………………………………………….

50 50

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

6

B. Saran……………………………………………………………………….. KEPUSTAKAAN……………………………………………………………….. LAMPIRAN…………………………………………………………………….. DAFTAR TABEL

51 52 54

Hal 1. 2. 3. Koordinat Mercator dan UTM untuk Lokasi PT.SLJ-IV…………………… Potensi Kayu Areal HPH PT. SLJ-IV……………………………………… Luas Petak dan Kombinasi Lebar Jalur Perlakuan Uji Coba TJTI di PT. 23 SLJ-IV…………………………………………………………………… 4. 5. Data Curah Hujan TPTI dan TJTI Tahun 1997-1998 di Lokasi SLJ-IV…… Intensitas Curah Hujan TPTI dan TJTI Tahun 1997-1998 di Lokasi SLJIV. 6. Data Tinggi Muka Air TPTI dan TJTI Tahun 1997-1998 di Lokasi SLJIV.. 7. 8. 9. Karakter Citra Landsat Tahun 1994 dan 1996, Lokasi SLJ-IV…………….. Hasil Klasifikasi Berbantuan Citra Landsat tahun 1994 dan 1996…………. Prosentase Perubahan Penggunaan Lahan dari tahun 1994 ke 1996……….. 44 46 48 42 37 40 18 21

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

7

DAFTAR GAMBAR

Hal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Pengambilan Gambar Obyek Muka Bumi oleh Satelit, dengan Sumber Cahaya Utama Sinar Matahari pada Kegiatan Penginderaan Jauh…………. Tahapan Analisis Klasifikasi Citra Satelit Pada Teknik Silvikultur ………… Perbandingan Karakter Antara Citra Satelit dengan Foto Udara dalam Analisa Perubahan Rupa Bumi…………………………………………….. Kapasitas Kandungan Citra SPOT untuk Analisa Citra satelit……………. PT. SLJ-IV Gunung Sari, DAS Segah, Sub DAS Septi, BKPH Gunung Tabur, KPH. Berau, Kalimantan Timur…………………………………… Citra Landsat Tahun 1996, Lokasi Penelitian Sistem Silvikultur TPTI dan TJTI di PT.SLJ-IV………………………………………………………… Lokasi PT. SLJ-IV Gunung Sari (Km 0) dan Lokasi Penelitian Silvikultur TPTI dan TJTI (Km60)…………………………………………………… Tinggi Curah Hujan Lokasi TPTI dan TJTI pada PT.SLJ-IV Tahun 19971998……………………………………………………………………….. Intensitas Hujan Lokasi PT.SLJ-IV Pada Tahun 1997-1998……………… Tinggi Muka Air (TMA) Lokasi PT.SLJ-IV Pada Tahun 1997-1998…….. Gabungan Dua Citra Landsat Tahun 1994, Beberapa Wilayah Kepemilikan HPH Berdekatan dengan PT.SLJ-IV………………………………………. Citra Landsat Tahun 1994, Wilayah HPH PT.SLJ-IV dengan Sistem Silvikultur TPTI dan TJTI…………………………………………………. Grafik Perubahan Penggunaan Lahan di Lokasi TPTI dan TJTI dari tahun 1994 ke 1996………………………………………………………………. 49 47 45 39 41 43 38 23 19 14 17 10 12

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

8

DAFTAR LAMPIRAN

Hal 1. 2. 3. 4. Data Curah Hujan, 1997-1998 (mm)………………………………………. Intensitas Curah Hujan, 1997-1998 (mm/Jam)…………………………….. Rata-rata Tinggi Muka Air (TMA)………………………………………… Hasil Analisis Klasifikasi Berbantuan (Maximum, Minimum, Rerata, Standard Deviasi) Citra 1994 dan 1996……………………………………. 5. Hasil Analisis Klasifikasi Berbantuan Antar Layer Citra Landsat Tahun 1994 dan 1996……………………………………………………………… 59 58 55 56 57

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

9

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang.

Pengelolaan hutan di Indonesia yang lestari perlu memperhatikan sistem silvikultur, yang di dalamnya termasuk tindakan penebangan untuk permudaan hutan, baik secara alami maupun buatan. Sistem silvikultur yang selama ini pernah ada dan digunakan adalah TPI (Tebang Pilih Indonesia), THPA (Tebang Habis Permudaan Alam), THPB (Tebang Habis Permudaan Buatan) dan TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia). Pemilihan salah satu sistem ini ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain tujuan dari pengusahaan hutan serta perlindungan tempat tumbuh. Sistem TPI, THPB dan THPA tersebut mengacu pada Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No 35/Kpts/DP/I/1972. Sistem tebang pilih adalah sistem silvikultur dimana didalamnya diatur mengenai sistem pemanenan kayu dan pembinaan hutannya. Empat faktor yang menentukan sistem tebang pilih adalah limit diameter, rotasi tebang, jumlah tegakan tinggal dan diameter tegakan tinggal. Adapun asumsi yang digunakan dalam menentukan keempat faktor tersebut adalah : pertumbuhan diameter 1 cm/ tahun, pertumbuhan tegakan tinggal 1m /ha/tahun, rotasi tebangan 35 tahun, dan tegakan tinggal akan tumbuh mencapai ukuran yang dapat ditebang dalam kurun waktu rotasi tebang tersebut (Manan, 1998). Sistem silvikultur TPTI sebagai pengembangan dari sistem silvikultur TPI telah ada petunjuk teknisnya sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No 151 tahun 1993, sementara untuk kegiatan TJTI masih dalam tahap uji coba sebagaimana yang tertera dalam SK Dir Jen PH No 40/Kpts/IV-BPHH/1993. Petunjuk Teknis tentang TPTI menurut Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Dir Jen PH No 151/1993 tertanggal 19 Oktober 1993, bahwa untuk kegiatan TPTI mempunyai rotasi tebang 35 tahun dengan diameter tebangan 50 cm
3

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

10

keatas pada Hutan Produksi Tetap dan 60 cm keatas pada Hutan Produksi Terbatas. Dalam ujicoba kegiatan TJTI tersebut disebutkan bahwa : (1) Tebangan dilakukan pada pohon berdiameter lebih dari 20 cm di sepanjang jalur tebang. (2) Kombinasi lebar jalur tebangan dan konservasi 50 - 200 m. (3) Perlakuanperlakuan terhadap jalur-jalur TJTI adalah sebagai berikut : (a) pada jalur tebangan ada perlakuan penanaman dan permudaan alam, (b) permudaan alam berasal dari biji pada jalur-jalur konservasi, (c) pada jalur tebangan dilakukan penanaman dengan sistem larikan, (d) penyaradan kayu dilakukan dengan bulldozer, forwarder, satwa, (e) pemeliharaan dengan permudaan buatan buatan 4 kali selama 1 tahun, selanjutnya 6 bulan sekali sampai umur 5 tahun dan (f) pemeliharaan permudaan alam 1 tahun setelah penebangan sebanyak 4 kali kemudian 5 tahun sekali. Semua sistem silvikultur tersebut di atas lebih menitikberatkan pada kesinambungan produksi kayu dan belum diperoleh informasi tentang

pengaruhnya terhadap kelestarian lingkungan. Dengan berbagai ketentuan di atas, berbagai kendala dijumpai, seperti kerusakan tegakan tinggal atau tegakan pada jalur konservasi, pemadatan tanah akibat penggunaan alat didalam penyaradan, dampak sosial seperti meningkatnya pencurian kayu pada tegakan di jalur konservasi. Namun demikian, informasi yang diperoleh masih terbatas khususnya baru informasi pada kondisi tegakan tinggal. Sementara itu tuntutan akan pengelolaan hutan tidak hanya pada produksi yang berkelanjutan tetapi juga menyangkut suatu proses pengelolaan yang akrab lingkungan. Dalam rangka ekolabeling tahun 2000, dampak setiap tahap pengelolaan hutan perlu dikuantitatifkan untuk memberikan informasi kepedulian lingkungan dalam pengelolaan hutan. Bertitik tolak dari keadaan di atas maka dirasakan perlu untuk melakukan kajian mengenai dampak sistem TPTI dan TJTI terutama pada peremajaan hutan dan kondisi hidrologi hutan. Hasil kajian ini diharapkan dapat melengkapi informasi tentang dampak TPTI dan TJTI.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

11

1.2. Maksud dan Tujuan

Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi ilmiah tentang dampak TPTI dan TJTI terhadap peremajaan tanaman dan kondisi hidrologi hutan. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah memberikan rekomendasi teknis yang berkaitan dengan pelaksanaan TPTI dan TJTI. Tujuan tersebut direncanakan dapat dicapai secara bertahap dalam kurun waktu 5 tahun. Pelaksanaan kajian tahun 1998/199 merupakan tahun pertama dan ditujukan untuk mendapatkan indikator keterkaitan praktek sistem silvikultur tersebut dengan permasalahan hidrologi dan peremajaan tanaman. Indikator

tersebut diperoleh melalui deskripsi data dasar yang dikumpulkan pada tahun pertama pelaksanaan. Berdasarkan indikator tersebut kemudian disusun suatu rancangan penelitian yang lebih komprehensif.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

12

II. STUDI PUSTAKA

2.1. Sistem Penebangan Hutan Produksi.

TPI (Tebang Pilih Indonesia), THPA (Tebang Habis Peremajaan Alam) dan THPB (Tebang Habis Peremajaan Buatan) diterapkan sejak tahun 1972 untuk menggantikan kebijaksanaan tebang habis yang ternyata tidak ramah lingkungan. Sistem TPI diterapkan pada hutan-hutan alam campuran yang mempunyai beragam tanaman hutan dan ditentukan berdasarkan jumlah dan diameter pohon inti. Batas minimum diameter yang boleh ditebang adalah 50 cm, pohon inti yang harus ditinggalkan berdiameter > 20 cm dengan jumlah 25 pohon/ha. Sistem THPA dan THPB diterapkan pada hutan seumur dengan tingkat permudaan 40 %. Apabila tingkat permudaan < 40 % atau akan dikonversikan menjadi hutan jenis tanaman tertentu maka sistem yang dipilih adalah THPB. Sistem yang digunakan untuk memilih salah satu cara penebangan adalah sistem skoring yang diperoleh dari hasil inventarisasi hutan. TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) yang dikembangkan sejak tahun 1989 merupakan penyempurnaan dari sistem TPI. Sistem ini diharapkan dapat memenuhi kriteria ITTO mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan. Tujuan dari sistem ini adalah untuk membentuk struktur dan komposisi hutan alam tak seumur yang optimal dan lestari sesuai dengan sifat biologi dan keadaan tempat tumbuh aslinya. Karena tujuannya maka sistem ini bagus untuk diterapkan pada hutan alam campuran yang tidak seumur. Pada lokasi TPTI bekas kebakaran atau kurang permudaan maka perlu dilakukan program pengayaan. TJTI (Tebang Jalur Tanam Indonesia) merupakan salah satu alternatif sistem silvikultur yang sekarang ini sedang pada tahap penelitian dan uji coba. Sistem ini diharapkan dapat menutup kekurangan yang terdapat pada sistem TPTI, seperti rusaknya plasma nutfah, produksi yang sedikit dengan kawasan penebangan yang luas serta membutuhkan ketrampilan yang tinggi.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

13

Sistem penebangan yang dilakukan pada hutan alam akan memberikan dampak terhadap kinerja vegetasi dan kondisi hidrologi. Indikator perubahan kondisi vegetasi akan dipantau dengan perubahan spectral signature pada klasifikasi citra, sedangkan kondisi hidrologi dipantau dengan parameter hasil air dan sedimen. Kecenderungan perubahan masing-masing indokator menuju ke kondisi semula akan tergantung pada sistem penebangan yang dilakukan.

2.2. Dampak TPTI dan TJTI

Dampak intensitas TPTI terhadap regenerasi dan ekosistem hutan telah diteliti oleh Tim Fak. Kehutanan Universitas Mulawarman (1997). Berkaitan dengan pembukaan lahan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa batas diameter >30cmengakibatkan keterbukaan lahan yang lebih besar daripada > 50 cm akibat rebahan pohon yang lebih luas. Dampak mikroklimat dan ekofisiologis antara batas diameter > 30 cm dengan > 50 cm tidak berbeda nyata, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan yang nyata dibanding dengan hutan perawan di dekatnya. Tebang pilih (baik batas 30 cm maupun 50 cm) secara nyata mengubah jumlah jenis dan keanekaragaman hayati vegetasi pohon dan semai sesaat, sampai hutan memulihkan dirinya kembali melalui suksesi secara pelan-pelan. TJTI juga telah banyak diteliti, tetapi semuanya hampir menitik beratkan pada aspek silvikultur dan analisis ekonominya (Dudung Darusman 1998; dan Elias 1998). Sistem TJTI ini masih dalam rangka uji coba, tetapi telah dilakukan pembahasan yang mendalam dan komprehensif antar pakar pada awal tahun 1998. Berdasarkan perkembangan tersebut, maka kajian ini akan memantau pengkayaan tanaman melalui citra satelit disamping efek dari sistem silvikultur tersebut yang dalam hal ini hanya menyangkut dampak hidrologisnya.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

14

III. DESKRIPSI LOKASI

3.1.

Letak, Luas dan Keadaan Wilayah Lokasi PT. Sumalindo Lestari Jaya IV (SLJ IV) secara geografis terletak
o

pada Bujur Timur : 116o 30’ 00” - 117o 00’ 00” BT dan Lintang Utara : 02
o

00’

00’’ - 30 30’ 00” LU. Secara hidrologis, areal PT. SLJ IV termasuk dalam DAS Segah, sub DAS Septi. Menurut kelompok hutannya termasuk kelompok hutan S.Segah dan S.Uwau.Areal HPH PT.SLJ-IV dapat dilihat pada Gambar 1. Areal Hak Pengusahaan Hutan PT. SLJ IV berdasarkan administrasi pemerintahan termasuk dalam Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Propinsi Dati I Kalimantan Timur. Berdasarkan administrasi kehutanan areal PT.SLJ IV termasuk dalam wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunning Tabur, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) / Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Berau, Dinas Kehutanan Dati I Kalimantan Timur. Luas HPH PT. SLJ IV berdasarkan SK Adendum HPH No 497/Kpts-II/92 tanggal 1 Juni 1992 adalah 100.000 Ha. Berdasarkan Tata Guna Kesepakatan (TGHK) sebagian besar arealnya merupakan hutan produksi terbatas (91,5 %) dan sisanya merupakan hutan produksi yang dapat dikonversi (6,5 %) dan hutan lindung (2 %). Topografi SLJ IV yang berlokasi di Gunung Sari (km 0) dan Longgayan (km 60) dengan kondisi bergelombang sampai berbukit mewakili topografi dan bentuk lahan yang ada di Kalimantan Timur. Ketinggiannya dari muka laut berkisar antara 100 hingga 500 m. Geologi areal PT. SLJ IV adalah sebagai berikut : (1). Formasi Telen (Mts), di bagian Selatan, terdiri dari perselingan antara batu asbak yang berwarna hitam dan merah, rijang yang berwarna merah dan kelabu dan batuipasir malih, sebagian besar sudah sangat tergerus dan terbreksikan. (2) Di bagian Timur dan Tenggara terdapat batuan gunung api jelai, breksi vulkanik, tuf, breksi dan aliran lava yang terdiri dari batuan andesitik basal. (3) Dari Barat Laut hingga Timur Laut dan Tenggara merupakan formasi Sembakung, terdiri dari konklomerat alas, batu liat, batu lanau kecoklatan (kaya

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

15

ganggang, faraminifera, koral, moluska dan gastropoda). (4) Formasi Mentarang kelompok Embaluh (Ktme), terdapat di bagian tengah , Barat Daya, Tenggara dan sedikit di Utara. Formasi ini terdiri dari batupasir kelabu kebiruan hingga kehijauan, berbatu halus-sedang, kuarsit dan felsdfar, mikaan dan sedikit fragmen batuan bersisipan argilit dan serpih, setempat breksi dan konklomerat.

3.2.

Keadaan Hutan Dari luasan 100.000 ha di kelompok hutan Segah, dijumpai areal berhutan

seluas 97.000 Ha dan areal tidak berhutan seluas 3.000 Ha. Hasil survey yang dilakukan oleh PT. Nusa Consultants tentang potensi kayu rata-rata PT.SLJ IV seperti tercantum dalam Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Potensi kayu areal HPH PT.SLJ IV

Kelas Diameter No Kelompok Jenis 20 Cm up N I Komersil 1. Dipterocarpaceae 2. Dipterocarpaceae II Non Komersial Total 38,79 77,37 30,93 108,05 1,33 9,16 4,91 52,02 0,72 5,75 3,12 40,44 14,89 Non 23,60 42,10 35,02 4,92 2,91 31,88 15,23 3,30 1,73 26,30 11,02 V 50 Cm up N V 60 Cm up N V

3.3.

Iklim Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1951), tipe iklim di

wilayah HPH PT.SLJ IV termasuk tipe A dengan curah hujan tahunan a513 mm, bulan terbasah pada bulan September dan bulan terkering pada bulan April.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

16

Gambar 1. Lokasi PT. SLJ IV, site Gunung Sari di Berau, Kalimantan Timur

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

17

IV. METODOLOGI

4.1. Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan adalah : − citra satelit pada tahun 1995 - 2003 pada areal TPTI dan TJTI − peta-peta dasar dan peta tematik yang berkaitan dengan lokasi − bahan-bahan survei termasuk tanaman − bahan-bahan komputerisasi

Peralatan yang digunakan terdiri dari piranti lunak dan piranti keras − piranti lunak : pc ARC/Info, ERDAS Imagine − piranti keras : AWLR atau logger, ARR, komputer, printer, suspended sampler, current meter dan ombrometer

4.2. Metode Kajian

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, maka ditetapkan tiga kegiatan kajian, yaitu :

1. Kajian Kecenderungan Peremajaan Tanaman dengan Klasifikasi Citra Satelit. Kajian ini diarahkan untuk mempelajari kecenderungan spectral signature penebangan dari areal TPTI dan TJTI mulai sebelum pelaksanaan sampai beberapa tahun setelah penebangan. Kecepatan peremajaan ditentukan oleh waktu yang diperlukan oleh areal tersebut untuk mencapai nilai spectral signature yang sama dengan sebelum penebangan

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

18

2. Kajian Tata Air dengan Satuan Sub DAS pada Areal TPTI dan TJTI Kajian ini dimaksudkan untuk mempelajari kecenderungan hasil air dan sedimen mulai dari pra penebangan sampai pasca penebangan. Proses peremajaan tanaman juga dapat diindikasikan dari parameter hidrologi yang mengarah pada kondisi sebelum penebangan

3. Kajian Identifikasi Peremajaan dan Pengayaan Tanaman Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan informasi yang lebih detil mengenai kondisi tanaman yang terdapat pada areal studi. Informasi yang diperoleh akan merupakan komplemen dari kajian terdahulu untuk masukan penentuan rekomendasi.

Pada tahun pertama ini kegiatan kajian yang dilaksanakan merupakan sebagian dari proses kajian tata air dan identifikasi peremajaan dan pengayaan tanaman. Namun demikian karena berbagai keterbatasan maka kegiatan tahun ini masih dititik beratkan pada pencandraan data dasar untuk berikutnya. Rangkaian kegiatan ini direncanakan untuk dilaksanakan selama 5 (lima) tahun dengan asumsi bahwa dalam kurun waktu tersebut telah diperoleh data lengkap untuk penentuan rekomendasi. a) Kajian Kecenderungan Peremajaan Tanaman dengan Klasifikasi Citra Satelit − Metode yang digunakan adalah Supervised dan Unsupervised classification. Unsupervised classification terutama dilakukan pada citra satelit dari tahun-tahun yang lampau. − Klasifikasi spectral signature dilakukan pada citra satelit pada beberapa tahun yang berbeda, yaitu pada : − t0 = sebelum penebangan − t1 = pada saat penebangan − ts = pada tahun 1998 − ts1 = pada tahun 2000 (tahun ke tiga kajian) kegiatan

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

19

− ts2 = pada tahun 2002 (tahun kelima kajian) − Untuk mendapatkan kondisi yang sama, maka diupayakan agar : − cakupan lokasi sama − bulan pengambilan sama (agar musimnya sama) − jenis citra satelit yang sama − Klasifikasi dilakukan dengan piranti lunak ERDAS Imagine setelah terlebih dahulu melakukan proses koreksi citra terhadap kesalahan geometris dan radiometrisnya − Analisis tumpang susun juga dilakukan dengan menggunakan fasilitas SIG dengan peta topografi, peta petak dan peta situasi untuk kepentingan deskripsi lokasi − Nilai-nilai spectral signature antara beberapa citra satelit

diperbandingkan untuk mengetahui kecenderungannya − Kajian ini dilaksanakan pada tahun I, III dan ke V

b) Kajian Tata Air dengan Satuan Sub DAS pada Areal TPTI dan TJTI − DAS merupakan satuan ekosistem terutama dalam kaitannya dengan kondisi hidrologi hutan. Dampak pengelolaan hutan diukur dengan menggunakan metode DAS berpasangan (paired watershed). Dengan demikian dibutuhkan 3 Sub DAS, masing-masing pada areal TPTI, TJTI dan hutan yang tidak ditebang. Luasan masing-masing sub DAS maksimum 1000 ha. − Parameter yang diamati adalah parameter hujan, hasil air dan hasil sedimen. Parameter hujan diukur dengan penakar hujan yang dipasang di daerah tangkapan, sedangkan hasil air diukur dengan alat duga air (pelskal dan AWLR atau logger) yang dipasang pada Stasiun Pengamat Arus Sungai (SPAS). Hasil sedimen dihitung dari

pengambilan sampel saat banjir atau terjadi perubahan Tinggi Muka Air (TMA). − Perbandingan kecenderungan hasil air dan sedimen pada DAS yang dilakukan penebangan dengan TPTI, TJTI dan DAS di daerah hutan
f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

20

yang tidak ditebang menunjukkan dampak penebangan hutan terhadap hasil air dan sedimen. Perbandingan antara hujan dan hasi air (koefisien limpasan) dihitung untuk menunjukkan daya serap DAS yang bersangkutan terhadap faktor masukan (curah hujan).

Penebangan hutan yang dilakukan akan mempengaruhi koefisien limpasan tersebut. − Kajian ini dilaksanakan secara terus menerus sepanjang tahun

c) Kajian Identifikasi Peremajaan dan Pengayaan Tanaman − Identifikasi dilakukan dengan sistem transek pada saat survei lapangan − Pelaksanaan kajian dilakukan selama 3 (tiga) kali dalam lima tahun pelaksanaan; yaitu pada tahun I, III dan tahun ke V.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

21

V. PELAKSANAAN KAJIAN

Sesuai dengan metode kajian yang direncanakan, maka untuk mencapai tujuan direncanakan beberapa kegiatan secara berurutan:

1. Penetapan lokasi uji coba yang permanen 2. Pengumpulan data dasar sebagai dasar pelaksanaan penelitian berikutnya 3. Penyusunan rancangan penelitian selama kurun waktu 5 tahun 4. Kalibrasi peralatan pengamatan hidrologi bila lokasi telah mempunyai perangkat hidrologi, atau persiapan pemasangan sarana pengamatan bila lokasi belum tersedia perangkat pengamatan hidrologi. Masing-masing kegiatan diuraikan pada bab berikut. Khusus untuk butir 3,

laporan ini merupakan rancangan penelitian yang disusun berdasarkan data dasar yang berhasil dikumpulkan pada pelaksanaan kegiatan tahun pertama ini. Dengan demikian bab berikut tidak menguraikan butir 3 secara khusus. Pelaksanaan kajian tahun ini belum menyangkut evaluasi vegetasi melalui klasifikasi citra satelit karena pos anggaran pengadaan citrs tidak mencukupi sebagai akibat penurunan nilai Rupiah sehingga harga digital citra satelit menjadi sangat mahal. Dengan demikian laporan ini tidak membahas kegiatan kajian Kecenderungan Peremajaan Tanaman dengan Klasifikasi Citra Satelit.

Direncanakan kajian ini dapat dilaksanakan tahun mendatang meskipun dengan menggunakan citra satelit hitam putih. Pelaksanaan kegiatan klasifikasi citra

satelit akan masuk dalam perencanaan kegiatan kajian tahun mendatang.

5.1. Penetapan Lokasi Uji Coba Lokasi uji coba ditetapkan sesuai dengan tujuan kajian ini yaitu mengkaji dampak TPTI dan TJTI. Dengan demikian persayaratan lokasi adalah hutan produksi alam yang melakukan penebangan TPTI dan melaksanakan uji coba TJTI. Disamping itu diperlukan pula pengamatan dampak operasi penebangan

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

22

tersebut terhadap kondisi Hidrologi, sehingga lokasi kajian harus mempunyai fasilitas Stasiun Pengamat Arus Sungai (SPAS) di areal penebangan TPTI. Ada dua perusahaan HPH yang arealnya menjadi alternatif lokasi kajian karena memenuhi persyaratan tersebut, yaitu PT International Timber

Corporation Indonesia (ITCI) dan PT Sumalindo Lestari Jaya.(SLJ) yang lokasinya tersebar di beberapa tempat di Kalimantan Timur. Hasil orientasi

pertama di kedua perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kedua perusahaan telah melaksanakan penebangan TPTI dan ujicoba TJTI. Ternyata areal ujicoba TJTI milik PT ITCI telah terbakar tahun yang lalu sehingga kondisinya telah berubah dan tidak memenuhi persyaratan teknis kajian ini. Dengan demikian maka ditetapkan lokasi uji coba adalah areal PT Sumalindo Lestari jaya. Dalam rangka pengamatan tata air di lokasi HPH, PT SLJ telah memasang tiga fasilitas SPAS di tiga lokasi di Kalimantan Timur. Dua

diantaranya berada di Kabupaten Tanjung Redep (Berau), sedangkan lainnya berada di perbatasan Kalimantan Tengah. Berdasarkan pertimbangan

kemudahan untuk dijangkau, maka ditetapkan lokasi di Berau, yaitu SLJ I site Batuputih dan SLJ IV di site Gunungsari. Orintasi detil untuk penetapan lokasi kajian kemudian dilaksanakan di areal SLJ I dan SLJ IV. Hasil orientasi lapangan di kedua areal tersebut menunjukkan bahwa lokasi SLJ I Batuputih mempunyai topografi yang datar, dan berada di dekat pantai timur Kalimantan Timur. Lokasi SPAS TPTI berada didekat jalan utama sehingga mudah dijangkau, namun demikian lokasi ujicoba TJTI berada tepat di hilir SPAS, sehingga menyulitkan untuk melakukan pengamatan dengan metode DAS berpasangan. Hasil orientasi lapangan di SLJ IV menunjukkan bahwa Lokasi

topografi berbukit sampai bergunung dengan kelerengan yang terjal.

SPAS TPTI dan lokasi ujicoba TJTI relatif dekat dan memungkinkan untuk melakukan kajian dengan metode DAS berpasangan. Berdasarkan hasil

orientasi inilah maka ditetapkan lokasi kajian terletak di areal PT SLJ IV site Gunungsari. Pemilihan lokasi ini juga disesuaikan dengan lokasi kegitan penelitian yang dilaksanakan oleh BPK Samarinda, yaitu kajian tentang besarnya erosi

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

23

lahan areal TPTI dan TJTI dan regenerasi tanaman utama di areal TPTI TJTI. Dengan demikian maka kajian yang dilaksanakan oleh BTPDAS dan BPK Samarinda bisa saling komplemen dalam substansi dan berada dalam satu lokasi sehingga output nantinya dapat merupakan paket hasil kajian yang lengkap dan menyeluruh.

5.2. Pengumpulan Data Dasar. Langkah selanjutnya setelah penetapan lokasi adalah pengumpulan data dasar lokasi definitif tersebut. Jenis data yang dikumpulkan harus berkaitan Dengan demikian data yang perlu

dengan metode dan tujuan kajian.

dikumpulkan antara lain: peta dasar (peta RKT, peta Topografi, Peta Geologi), data hidrologi ( data hujan hasil pengamatan SPAS, data TMA hasil pengamatan SPAS), data tanah, data vegetasi dan permudaan tanaman. Data-data tersebut dikumpulkan dari berbagai pihak dan hasil kegiatan yang telah lalu, disamping itu juga data hasil pengamatan dan survey langsung di lapangan. Hasil kegiatan pengumpulan data dasar berupa peta-peta dasar yang diperoleh dari lokasi, kantor pusat PT SLJ dan dari Bakosurtanal. Data hidrologi diperoleh dari hasil pengamatan meskipun kontinyuitas datanya terputus-putus. Data tanah dan vegetasi diperoleh dari hasil survei dan pengamatan lapangan ditambah dengan hasil pengamatan yang telah lalu yang dilakukan oleh PT SLJ. Data-data tersebut diperoleh dalam bentuk kopi lunak (soft copy) yang tersimpan dalam disket dan kopi keras (hard copy) yang berupa peta-peta serta foto kopi hasil-hasil pengamatan. Diantara data yang terkumpul, data hasil air di SPAS TPTI belum bisa memberikan informasi tentang fenomena yang terjadi karena masih diperlukan pengamatan tambahan yaitu pengukuran kecepatan air di beberapa Tinggi Muka Air (TMA) yang belum dilaksanakan.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

24

5.3. Kalibrasi dan Penyiapan Sarana Pengamatan Hidrologi, Salah satu pertimbangan utama pemilihan lokasi SLJ IV adalah karena lokasi ini telah memiliki SPAS sebagai sarana pengamatan hidrologi di areal TPTI. Dengan demikian diharapkan dapat dilakukan kalibrasi sarana prasarana pengamatan hidrologi terutama di areal TPTI. Kegiatan ini terpaksa tidak dapat dilakukan karena peralatan tidak berfungsi lagi karena adanya kerusakan bangunan SPAS sebagai akibat banjir tahunan yang sangat besar. Untuk itu disarankan segera diperbaiki dan lokasi dapat dipindahkan ke arah hulu mendekati calon lokasi worksite. Konstruksi bangunan pengamat juga

disarankan menggunakan kayu yang lebih tersedia di lapangan dan sesuai dengan kondisi sungai di wilayah ini. Pada areal TJTI ditetapkan Sub DAS yang mencakup areal TJTI meskipun areal TJTI hanya akan menjadi bagian terbesar dari Sub DAS tersebut. Setelah ditetapkan Sub DAS di areal TJTI, maka diperlukan pengamatan detil lokasi calon SPASnya. Untuk lokasi di SLJ IV telah ditetapkan calon lokasi SPAS yaitu di dekat Km66 jalan utama di areal tersebut. Konstruksi disarankan dari kayu. Samarinda. Peralatan AWLR telah tersedia baik di BTPDAS maupun di BPK Dalam rangka penyiapan pemasangan sarana tersebut telah

dibahas di kantor pusat PT SLJ. Pada prinsipnya pelaksanaan pembangunan SPAS di arel TJTI diusulkan untuk dilakukan dengan kerjasama. BTPDAS

menyediakan AWLR sedangkan PT SLJ harus membangun rumah pesawatnya. Sementara ini belum ada keputusan tetap mengenai hal ini. Kesulitan utama yang dijumpai dalam pelaksanaan pengamatan hidrologi adalah medan areal yang berat dan ketersediaan tenaga pengamat. Secara ideal pengukuran hujan dalam DAS seluas 1000 ha seharusnya dilakukan pada beberapa tempat, tetapi tampaknya hal ini kurang memungkinkan mengingat medan yang cukup berat. Dalam hal ini disarankan pengukuran hujan tetap

dilaksanakan minimal di dua tempat atau lebih dan alat pengukur dapat ditempatkan di worksite atau di areal yang mudah dijangkau.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

25

5.4. Pelaksanaan Survey lapangan. Survei lapangan dilaksanakan di areal yang telah ditetapkan. Ada dua jenis pengamatan yang dilakukan pada saat survey, yaitu identifikasi dan deskripsi tentang lahan dan tanah serta identifikasi vegetasi. Pengamatan

tentang tanah dilakukan di beberapa titik sampel yang representatif dan mudah untuk dijangkau. Pengamatan vegetasi dilakukan baik di areal TPTI maupun areal TJTI. Pengamatan dilakukan terhadap tegakan primer dan tegakan tinggal sebagai indikator adanya peremajaan tanaman dan tumbuhan bawah sebagai indikator adanya suksesi. Untuk areal TJTI pengambilan sampel juga memperhatikan Pada uji coba TJTI di SLJ IV ini ada

variasi lebar jalur yang dicobakan.

beberapa perlakuan lebar jalur dan areal konservasi sehingga pengambilan sampel vegetasi dilakukan berdasarkan perlakuan ini. Identifikasi dilakukan dengan pengambilan sampel herbarium dan dideskripsikan untuk mengidentifikasi jenis tanaman. Sementara itu pengamatan pertumbuhan tanaman utama juga dilakukan secara rutin oleh petugas perusahaan. Hasil pengamatan dapat diperoleh di kantor pusat perusahaan

dalam bentuk data dijital.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

26

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Lokasi Uji Coba yang Permanen Untuk lokasi ujicoba yang permanen telah ditetapkan di areal Hak Pengusahaan Hutan PT. Sumalindo Lestari Jaya IV (PT.SLJ-IV) Site Gunung Sari. Adapun alasan dipilihnya lokasi ini untuk kajian adalah sebagai berikut : 1. Terdapatnya kegiatan TPTI dan TJTI yang telah berjalan dengan baik. Pada areal kedua kegiatan tersebut terdapat aliran sungai yang dimungkinkan untuk dijadikan Catchment Area uji coba dengan pemasangan alat Stasiun Pengamatan Arus Sungai (SPAS) di lokasi TJTI sedangkan untuk areal TPTI sudah dipasang AWLR pias mingguan. 2. Sudah dilakukan beberapa uji coba yang sedang dan telah berjalan dari para Peneliti di BPK Samarinda dengan melakukan beberapa penelitian : • • • Pertumbuhan jenis tanaman. Pengamatan erosi. Rencana Bina Pilih.

3. Jarak tempuh ke lokasi Gunung Sari dari Tanjung Redeb tidak berapa jauh dan dapat ditempuh dengan dua cara yaitu lewat darat atau air.

Untuk mencapai lokasi PT.SLJ IV site Gunung Sari (Km 0) tersebut dari Tanjung Redeb berjarak 80 km, dapat ditempuh lewat darat selama 3 jam apabila jalan dalam keadaan baik dan jembatan tidak rusak. Jika jembatan rusak, harus ditempuh lewat air dengan Speed Boat PK besar (115 PK) selama 2,5 jam atau dengan Klothok/Bis air dengan waktu tempuh lebih lama lagi yaitu 6 - 8 jam. Klothok yang ke Gunung Sari hanya ada pada hari Rabu dan Sabtu, sedangkan pulangnya dari Gunung Sari hanya ada pada hari Kamis dan Minggu dengan jam keberangkatan pukul 08:00 WITA. Base camp utama terletak pada Km 45 (Long Ayan), sedangkan pangkalan Speed Boat hanya sampai di Km 0. Untuk mencapai lokasi Km 45

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

27

dapat ditempuh lewat darat dengan waktu tempuh 1 jam. Adapun lokasi TPTI terletak di Km80 dan TJTI di Km 60.

a). Kriteria areal kegiatan TPTI Lokasi uji coba TPTI ditetapkan pada areal RKT (Rencana Kerja Tahunan) 1998/1999 dan RKT 1999/2000. Luas catchment area yang dibentuk yang merupakan areal TPTI tersebut sekitar 3.433,67 Ha yang terdiri dari 1.587,60 Ha areal RKT 1998/1999 dan 1.846,07 Ha areal RKT 1999/2000. Areal TPTI dilewati sungai Selling, kelerengan areal TPTI termasuk kelas D (25 - 35 %) hingga E (35 - 45 %) dengan topografi perbukitan pada daerah Tenggara dan berbukit pada daerah Barat Laut. Pada bulan April 1997 pada daerah luaran yang terpilih telah dibangun SPAS yang dilengkapi AWLR pias mingguan. Namun demikian, pada bulan Februari 1999 bangunan SPAS yang dimaksud telah mengalami kerusakan akibat banjir besar tahunan. Untuk mencapai lokasi SPAS dari Km 80 masih harus melewati jalan air selama 2 jam dengan Kethinting PK kecil. Kendala yang dihadapi adalah kesulitan mencari pengamat yang tinggal di dekat SPAS karena lokasinya terpencil. Data tinggi muka air (TMA) yang sempat teramati oleh PT. SLJ IV mulai Desember 1997 hingga September 1998. Kondisi bangunan SPAS tersebut setelah rusak dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan hasil eveluasi terhadap kondisi bangunan SPAS dan kemudahan untuk memperoleh bahan bangunan disarankan untuk memindahkan lokasi SPAS ke daerah hulu, pada sungai yang sama dengan menggunakan tipe bangunan yang sesuai dengan kondisi fisik dan bahan yang banyak tersedia di lokasi setempat Bangunan yang disarankan adalah bangunan sederhana dengan memanfaatkan kayu sebagai pondasi dilengkapi dengan pipa besar untuk sumurannya. Mengingat lokasi ini masih cukup jauh untuk dijangkau, untuk memudahkan pengamatan disarankan bahwa AWLR diganti dengan logger.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

28

Gambar 2. Kondisi bangunan SPAS di areal TPTI, PT SLJ-IV yang rusak akibat banjir.

b). Kriteria Areal Kegiatan TJTI Lokasi uji coba TJTI ditetapkan pada areal bekas tebangan blok RKT 1991/1992 seluas 650 Ha pada petak-petak 04, 06, 07 (zone IX) dan petak 94, 95 dan 96 (zone X) yang kemudian kemudian diubah menjadi petak uji coba 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Peta lokasi uji coba TJTI dapat dilihat pada Gambar 3. Topografi areal uji coba bergelombang hingga berbukit dengan kelerengan berkisar antara 15 hingga di atas 45 %. Jenis tanah yang dijumpai didominasi oleh Ultisols, sebagian terdapat Entisols. Pada jalur tebang sebagian top soil terkelupas/hanyut akibat penyaradan sehingga horison argilik yang padat tampak di permukaan, sementara pada jalur konservasi masih terlihat adanya top soil yang disertai dengan serasah/lantai hutan. Dari 650 ha areal uji coba TJTI tersebut terdiri dari 6 kombinasi lebar jalur tebang dan jalur konservasi. Panjang jalur tebang/konservasi masing-masing 1.000 m, arah jalur memanjang ke Utara dan Selatan. Luas masing-masing petak berikut lebar jalur tebang/konservasi dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :

Tabel 2. Luas petak dan kombinasi lebar jalur perlakuan uji coba TJTI di PT.SLJ IV.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

29

No

Luas

Panjang

Lebar (m) dan luas (ha) jalur Konservasi Tebang Lebar 50 50 100 200 200 100 Luas 35 30 50 100 120 60

Ulangan

Petak 01 02 03 04 05 06

Ha 70 90 100 150 150 90

m 1000 1000 1000 1000 1000 1000

Lebar 50 100 100 100 50 50

Luas 35 60 50 50 30 30

Perlakuan 7 6 5 5 6 6

Untuk mencapai lokasi uji coba TJTI dapat dilalui jalan darat dengan kendaraan roda 4 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari base camp Km 80. Pada lokasi TJTI ini belum dilengkapi dengan bangunan SPAS. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan disarankan untuk membangun SPAS di Km 66, dekat jalan cabang dan mudah dijangkau. Luas catchment area nya sekitar 1.000 ha, diantaranya 650 Ha merupakan areal uji coba TJTI dan selebihnya adalah bekas areal RKT 1991/1992. Untuk menindaklanjuti rencana ini telah diadakan konsultasi dengan PT. SLJ IV , tetapi kontak secara formal belum dilakukan. Atas dasar pertimbangan ketersediaan bahan dan kondisi fisik lapangan disarankan untuk membuat bangunan dengan tipe yang sama dengan di areal TPTI. Untuk AWLR nya telah tersedia di BPK Samarinda.

6.2. Kondisi Tegakan

6.2.1. Kondisi Tegakan TPTI a). (1). RKT 1998/1999 Potensi Tegakan Hutan Hasil inventarisasi tegakan sebelum diadakan penebangan dapat dilihat pada Tabel 3. Luas areal seluruhnya mencapai 1587,6 Ha yang terdiri dari 15

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

30

petak. Hasil pengamatan terhadap pohon berdiameter 20 cm ke atas, dapat dikelompokkan sebagai berikut, yaitu : (1) Jenis yang dilindungi seperti gaharu, tengkawang, pohon buah dan banggeris (2) Jenis yang dapat ditebang yang selanjutnya dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu jenis rimba campuran, jenis kayu arang (eboni) dan jenis kayu indah. Jenis kayu berikut potensinya untuk masing-masing kelas diameter dapat dilihat pada Lampiran 2.

Tabel 3. Jenis dan jumlah pohon di areal RKT 98/99 di Sub DAS Selling PT.SLJ IV.
No Nama lokal Nama botanis N (pohon) untuk diameter cm 20-29 A 1 2 3 Jenis yang dilindungi Pohon buah Tengkawang Banggeris Jumlah A B. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Antidesma sp. Shorea cf amplexicaulis Koompassia exelsa 3 jenis 272 42 18 332 1588 709 364 2661 253 554 422 1229 2113 1305 804 4222 30-59 60 > pohon Total

Jenis yang dapat ditebang Kelompok kayu meranti Meranti putih Meranti merah Meranti kuning Agatis Bangkirai Gerunggang Jelutung Kapur Mersawa Nyatoh Nyerakat Pulai Keruing Resak gunung Perupuk Pandan S.bracteolata Shorea sp. Shorea accuminatissima Agathis lorantifolia Hopea mengarawan Cratoxylon formosum Dyera sp. Dryobalanops camphora Anisoptera marginata Palaqium ferox Shorea spp. Alstonia scholaris Dipterocarpus warburgii Anisoptera marginata Lophopetalum sp. Asplenium nidus 237 531 108 1 16 14 48 1 6 546 33 12 14 131 1 36 946 3578 867 2 84 162 347 11 67 2682 221 115 258 974 13 340 472 472 644 0 133 49 508 0 54 572 24 25 163 70 6 284 1655 4581 1619 3 233 225 908 12 127 3800 278 152 435 1175 20 660

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

31

17 18 19 20 21 22 23 24 25

Damar kucing Palapi Kenari Penjalin Sarangan batu Damar laut Merambung Merbau Kayu bawang Jumlah

Shorea leprosula Shorea lepidota Canarium megalanthum Xanthophylum exelsa Shorea spp. Shorea utilis Veronea arborea Instia bakeri Schorodocarpus bormeensis 25 jenis

1 0 139 128 0 2 0 0 11 2016 3970

0 5 981 1268 8 1 5 10 138 13082 27878

0 1 177 106 5 1 1 7 14 6783 4199

1 6 1297 1502 13 4 6 17 163 21881 36047

II III 1 IV 1 2 3

Kelompok kayu rimba campuran Kelompok kayu ebony Kayu arang Diospyros sumatrana

23

65

8

96

Kelompok kayu indah Anggi/sempetir Ulin Rengas burung Shorea spp. Eusideroxylon zwageri Melanorhoe wallichii 50 171 14 521 1676 146 298 486 43 869 2333 203

4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sungkai Sawo kecik Bungur Kayu kuku Gaharu Pasang Singkuang Cempaka Arau Jumlah IV TOTAL A , B

Peronema canescens Manilkara kauki Lagerstroemia speciosa Pericopsis mooniana Aquillaria mallacensis Quercus sp. Pachyrrhizus erosus Michelia camphaca Casuarina eqisetifolia 12 jenis 43 jenis

0 0 0 0 0 244 9 0 0 488 6829

1 1 1 4 2 1687 108 3 19 4170 47791

0 0 0 0 0 200 21 0 80 1128 13347

1 1 1 4 2 2131 138 3 99 5785 67967

Sumber : PT. SLJ IV, 1999

Dari Tabel 3 tersebut nampak bahwa jenis yang paling dominan adalah jenis kayu rimba campuran, kemudian kelompok kayu meranti, berikutnya kelompok kayu indah dan yang paling rendah adalah kelompok kayu yang dilindungi.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

32

Dari 43 jenis yang yang dijumpai, 10 jenis yang paling mendominasi tegakan berturut-turut adalah : (1) Meranti merah (Shorea sp.), (2) Nyatoh (Palaqium ferox), (3) Ulin (Eusideroxylon zwageri), (4) Pasang (Quercus sp.), (5) Pohon buah (Antidesma sp.), (6) Meranti putih (Shorea bracteolata), (7) Penjalin (Xanthophylum exelsa), (8) Meranti kuning (Shorea accuminatissima), (9) Kenari (Canarium megalanthum) dan (10) Tengkawang (Shorea cf amplexicaulis). Jenis-jenis lain yang cukup banyak dijumpai adalah Resak gunung (Anisoptera marginata), Jelutung (Dyera sp.), Anggi/sempetir (Shorea spp.) dan Banggeris (Koompassia exelsa). Dari jenis-jenis tersebut Pohon buah (Antidesma sp.), Tengkawang (Shorea cf amplexicaulis) dan Banggeris (Koompassia exelsa) merupakan jenis-jenis yang dilindungi. Dari seluruh jenis yang dijumpai, jenis-jenis berikut ini sangat sedikit bahkan kurang dari 50 batang yaitu : Damar mata kucing (Shorea leprosula), Sawo kecik (Manilkara kauki), Bungur (lagerstroemia speciosa), Sungkai (Peronema canescens), gaharu (Aquillaria mallacensis), Agatis (Agathis lorantifolia), Cempaka (Michelia camphaca), Damar laut (Shorea utilis), Kayu kuku (Pericopsis mooniana), Palapi (Shorea lepidota), Merambung (Veronea arborea), Kapur (Dryobalanops camphora), Sarangan batu (Shorea spp), Merbau (Instia bakeri) dan perupuk (Lophopetalum sp.). Jenis-jenis tersebut sebagian besar berdiameter 20 hingga 59 cm, termasuk kayu komersil dan kayu indah. Untuk menghindari kepunahan jenis-jenis tersebut, baik karena kerusakan pada saat penebangan maupun gangguan hutan lainnya, hendaknya didalam pengayaan jenis tanaman dalam kegiatan reboisasi perlu difokuskan pada jenisjenis tersebut. Sianturi (1997) mengemukakan bahwa dampak dari penebangan terhadap kerusakan tegakan tinggal pada akhirnya dapat mengganggu rotasi tebang berikutnya, tergantung pada intensitas kerusakan, makin besar kerusakan tegakan tinggal, makin lama waktu rotasi tebangan yang optimal. Apabila terjadi penurunan tingkat kerusakan sebesar 10 persen, akan ada kenaikan nilai tegakan sebesar 38 persen. Selanjutnya Sianturi (1997) mengemukakan bahwa jumlah pohon dalam tegakan tinggal juga sangat dipengaruhi oleh kerusakan

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

33

tegakan tinggal. Makin besar kerusakan tegakan tinggal, makin kecil jumlah pohon yang sehat yang akan dipelihara untuk tebangan berikutnya, dengan demikian akan semakin ekonomis. Tingkat kerusakan yang terjadi akibat penebangan ini dapat dilihat setelah dilakukan inventarisasi tegakan tinggal 2 tahun setelah penebangan (Et + 2) atau pada tahun 2000/2001. Hal lain yang juga mempengaruhi regenerasi dan ekosistem hutan adalah limit diameter tebang. Anonimus (1997) menemukan bahwa persentase pohon hidup untuk diameter tebang di 50 cm ke atas lebih besar sekitar 10 persen dari pada untuk diameter tebang 30 cm ke atas. Persentase pohon hidup dengan menerapkan diameter tebang 30 cm ke atas berkisar antara 62,4 hingga 65,1 persen dan untuk diameter tebang 50 cm ke atas berkisar antara 67,5 hingga 83,6 persen. Potensi suatu tegakan dapat juga dinyatakan dalam kerapatan pohon. dari Tabel 3 tersebut dapat dikemukakan bahwa kerapatan pohon pada areal TPTI RKT 98/99 dengan jarak rata-rata 8,9 m, jumlah pohon 71 batang/Ha terdapat sebanyak : 4 pohon pada kelas diameter 20 - 29 cm, 12 pohon pada kelas diameter 30 - 39 cm, 11 pohon pada kelas diameter 40 - 49 cm, 27 pohon pada kelas diameter 50 - 59 dan 17 pohon pada kelas diameter di atas 60 cm. Penyebaran kelas diameter pohon di areal KRT 98/99 dapat dilihat pada Gambar 4 berikut. Dari gambar tersebut nampak bahwa.....

Volume tegakan Volume tegakan pada areal TPTI, RKT 1998/1999 disajikan pada Tabel 4 berikut :

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

34

Tabel 4. Jenis dan volume pohon di areal RKT 98/99 di Sub DAS Selling PT.SLJ IV.
No Nama lokal Nama botanis 20-29 A 1 2 3 Jenis yang dilindungi Pohon buah Tengkawang Banggeris Jumlah A B. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Antidesma sp. Shorea cf amplexicaulis Koompassia exelsa 3 jenis
99,22 15,43 7,21 2074,76 1152,88 457,39 1140,89 3311,19 33623,47 3214,87 4479,50 34080,86 3

Volume m 50 >

Total 60 > pohon

Jenis yang dapat ditebang Kelompok kayu meranti Meranti putih Meranti merah Meranti kuning Agatis Bangkirai Gerunggang Jelutung Kapur Mersawa Nyatoh Nyerakat Pulai Keruing Resak gunung Perupuk Pandan Damar kucing Palapi Kenari Penjalin Sarangan batu Damar laut Merambung Merbau Kayu bawang S.bracteolata Shorea sp. Shorea accuminatissima Agathis lorantifolia Hopea mengarawan Cratoxylon formosum Dyera sp. Dryobalanops camphora Anisoptera marginata Palaqium ferox Shorea spp. Alstonia scholaris Dipterocarpus warburgii Anisoptera marginata Lophopetalum sp. Asplenium nidus Shorea leprosula Shorea lepidota Canarium megalanthum Xanthophylum exelsa Shorea spp. Shorea utilis Veronea arborea Instia bakeri Schorodocarpus bormeensis
82,99 206,69 41,24 0,29 5,70 4,75 17,16 0,34 2,38 193,77 13,00 4,45 4,89 50,08 0,48 14,46 0,26 0,00 50,83 45,25 0,00 1,00 0,00 0,00 3,95 1372,61 5594,83 1287,06 2,16 125,07 245,93 524,63 16,54 109,31 3469,48 302,53 99,38 417,03 1187,80 14,58 532,74 0,00 6,80 1336 1566,68 12,95 1,92 5,45 18,58 198,17 2601,47 19103,75 3731,24 0,00 1114,19 205,29 4373,84 0,00 324,54 2388,30 89,44 114,54 865,11 274,73 25,36 1698,32 0,00 3,17 774,15 444,56 17,76 5,12 8,01 25,96 53,43 4057,07 24905,27 5059,54 2,45 1244,96 455,97 4915,63 16,88 436,23 6051,55 404,97 218,37 1287,03 1512,61 40,42 2245,52 0,26 9,97 2160,98 2056,49 30,71 8,04 13,46 44,54 255,55

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

35

Jumlah II

25 jenis

743,95

18493,32 21778,48

38237,36 17508,40

47474,63 40721,74

Kelompok kayu rimba campuran

1434,8 6

III 1 IV 1 2 3

Kelompok kayu ebony Kayu arang Diospyros sumatrana
17,41 368,23 1379,23 2120,02

Kelompok kayu indah Anggi/sempetir Ulin Rengas burung Shorea spp. Eusideroxylon zwageri Melanorhoe wallichii
17,41 58,74 5,36 368,23 2247,11 209,14 1379,23 1776,86 186,03 2120,02 4082,71 400,53

4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sungkai Sawo kecik Bungur Kayu kuku Gaharu Pasang Singkuang Cempaka Arau Jumlah IV Total I, II, III, IV TOTAL A , B

Peronema canescens Manilkara kauki Lagerstroemia speciosa Pericopsis mooniana Aquillaria mallacensis Quercus sp. Pachyrrhizus erosus Michelia camphaca Casuarina eqisetifolia 12 jenis

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 89,98 3,35 0,00 0,00 174,83 2362,66

1,56 0,94 0,94 6,45 2,46 2062,90 159,80 4,65 32,68 5591,99 61669,57

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 753,68 73,17 0,00 339,60 4507,56 60294,79

1,56 0,94 0,94 6,45 2,46 2906,56 236,32 4,65 372,28 10274,38 124327,02

43 jenis

Sumber : PT. SLJ IV, 1999

(2) Komposisi Jenis. Jika dibandingkan dengan jumlah jenis yang ditemui oleh Kartawinata (1981) di Wanariset Samboja, Riswan (1987) di Lempake dan Berau dalam Efffendi (1997) memperlihatkan bahwa jenis yang dijumpai di areal penelitian jauh lebih sedikit. Kartawinata (1981) menemukan bahwa di wanariset dijumpai 239 jenis, Riswan (1981) di Lempake menemukan 205 jenis dan di Berau terdapat 579 jenis, sementara itu di areal penelitian hanya dijumpai 43 jenis. Sangat rendahnya jenis

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

36

yang dijumpai ini kemungkinan karena tidak dikemukakannya secara detil dari jenis kayu rimba campuran yang jumlahnya paling dominan di areal tersebut. b). (1). RKT 1999/2000 Potensi Tegakan

Tabel 4. Jenis dan jumlah pohon di areal RKT 98/99 di Sub DAS Selling PT.SLJ IV.
No Nama lokal Nama botanis N (pohon) untuk diameter cm 20-29 A 1 2 3 4 Jenis yang dilindungi Pohon buah Tengkawang Banggeris Gaharu Jumlah A B. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Antidesma sp. Shorea cf amplexicaulis Koompassia exelsa Aquillaria mallacensis 4 jenis 0 4 4 2 10 12 135 186 2 335 2 41 354 0 397 14 180 544 4 742 30-59 60 > pohon Total

Jenis yang dapat ditebang Kelompok kayu meranti Meranti putih Meranti merah Meranti kuning Agatis Bangkirai Gerunggang Jelutung Kapur Mersawa Nyatoh Nyerakat Meranti Pulai Keruing Resak gunung Perupuk Pandan Damar kucing S.bracteolata Shorea sp. Shorea accuminatissima Agathis lorantifolia Hopea mengarawan Cratoxylon formosum Dyera sp. Dryobalanops camphora Anisoptera marginata Palaqium ferox Shorea spp. Shorea sp. Alstonia scholaris Dipterocarpus warburgii Anisoptera marginata Lophopetalum sp. Asplenium nidus Shorea leprosula 298 608 97 4 4 26 87 1 7 590 98 1 8 14 144 4 30 0 1210 5314 842 11 34 159 674 30 89 4233 411 5 65 264 941 52 210 1 470 4064 449 2 44 72 1083 15 42 799 37 4 15 69 59 10 208 0 1978 6438 1388 17 82 257 1844 46 138 5622 546 10 88 347 1144 66 448 1

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

37

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Palapi Kenari Penjalin Melur Damar laut Merbau Kayu bawang Durian Penjalin Markabang Jumlah

Shorea lepidota Canarium megalanthum Xanthophylum exelsa Dacridyum elatum Shorea utilis Instia bakeri Schorodocarpus bormeensis Durio zibethinus

0 73 0 0 0 0 7 10 93

0 545 0 0 0 10 122 85 722 7

1 87 1 1 1 17 9 3 37 2

1 705 1 1 1 27 138 98 852 9

25 jenis

0

II III 1 IV 1 2 3

Kelompok kayu rimba campuran Kelompok kayu ebony Kayu arang Diospyros sumatrana

3823

27763

3683

35269

Kelompok kayu indah Anggi/sempetir Ulin Rengas burung Shorea spp. Eusideroxylon zwageri Melanorhoe wallichii

4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sungkai Sawo kecik Bungur Kayu kuku Gaharu Pasang Singkuang Cempaka Arau Jumlah IV TOTAL A , B

Peronema canescens Manilkara kauki Lagerstroemia speciosa Pericopsis mooniana Aquillaria mallacensis Quercus sp. Pachyrrhizus erosus Michelia camphaca Casuarina eqisetifolia 12 jenis 43 jenis

Sumber : PT. SLJ IV, 1999

Dari Tabel .. tersebut nampak bahwa jenis yang paling dominan adalah jenis kayu rimba campuran, kemudian kelompok kayu meranti, berikutnya kelompok kayu indah dan yang paling rendah adalah kelompok kayu yang dilindungi.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

38

Dari 43 jenis yang yang dijumpai, 10 jenis yang paling mendominasi tegakan berturut-turut adalah : (1) Meranti merah (Shorea sp.), (2) Nyatoh (Palaqium ferox), (3) Ulin (Eusideroxylon zwageri), (4) Pasang (Quercus sp.), (5) Pohon buah (Antidesma sp.), (6) Meranti putih (Shorea bracteolata), (7) Penjalin (Xanthophylum exelsa), (8) Meranti kuning (Shorea accuminatissima), (9) Kenari (Canarium megalanthum) dan (10) Tengkawang (Shorea cf amplexicaulis). Jenis-jenis lain yang cukup banyak dijumpai adalah Resak gunung (Anisoptera marginata), Jelutung (Dyera sp.), Anggi/sempetir (Shorea spp.) dan Banggeris (Koompassia exelsa). Dari jenis-jenis tersebut Pohon buah (Antidesma sp.), Tengkawang (Shorea cf amplexicaulis) dan Banggeris (Koompassia exelsa) merupakan jenis-jenis yang dilindungi. Dari seluruh jenis yang dijumpai, jenis-jenis berikut ini sangat sedikit bahkan kurang dari 50 batang yaitu : Damar mata kucing (Shorea leprosula), Sawo kecik (Manilkara kauki), Bungur (lagerstroemia speciosa), Sungkai (Peronema canescens), gaharu (Aquillaria mallacensis), Agatis (Agathis lorantifolia), Cempaka (Michelia camphaca), Damar laut (Shorea utilis), Kayu kuku (Pericopsis mooniana), Palapi (Shorea lepidota), Merambung (Veronea arborea), Kapur (Dryobalanops camphora), Sarangan batu (Shorea spp), Merbau (Instia bakeri) dan perupuk (Lophopetalum sp.). Jenis-jenis tersebut sebagian besar berdiameter 20 hingga 59 cm, termasuk kayu komersil dan kayu indah. Untuk menghindari kepunahan jenis-jenis tersebut, baik karena kerusakan pada saat penebangan maupun gangguan hutan lainnya, hendaknya didalam pengayaan jenis tanaman dalam kegiatan reboisasi perlu difokuskan pada jenisjenis tersebut. Sianturi (1997) mengemukakan bahwa dampak dari penebangan terhadap kerusakan tegakan tinggal pada akhirnya dapat mengganggu rotasi tebang berikutnya, tergantung pada intensitas kerusakan, makin besar kerusakan tegakan tinggal, makin lama waktu rotasi tebangan yang optimal. Apabila terjadi penurunan tingkat kerusakan sebesar 10 persen, akan ada kenaikan nilai tegakan sebesar 38 persen. Selanjutnya Sianturi (1997) mengemukakan bahwa jumlah pohon dalam tegakan tinggal juga sangat dipengaruhi oleh kerusakan

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

39

tegakan tinggal. Makin besar kerusakan tegakan tinggal, makin kecil jumlah pohon yang sehat yang akan dipelihara untuk tebangan berikutnya, dengan demikian akan semakin ekonomis. Tingkat kerusakan yang terjadi akibat penebangan ini dapat dilihat setelah dilakukan inventarisasi tegakan tinggal 2 tahun setelah penebangan (Et + 2) atau pada tahun 2000/2001. Hal lain yang juga mempengaruhi regenerasi dan ekosistem hutan adalah limit diameter tebang. Anonimus (1997) menemukan bahwa persentase pohon hidup untuk diameter tebang di 50 cm ke atas lebih besar sekitar 10 persen dari pada untuk diameter tebang 30 cm ke atas. Persentase pohon hidup dengan menerapkan diameter tebang 30 cm ke atas berkisar antara 62,4 hingga 65,1 persen dan untuk diameter tebang 50 cm ke atas berkisar antara 67,5 hingga 83,6 persen. Potensi suatu tegakan dapat juga dinyatakan dalam kerapatan pohon. dari Tabel 3 tersebut dapat dikemukakan bahwa kerapatan pohon pada areal TPTI RKT 98/99 dengan jarak rata-rata 8,9 m, jumlah pohon 71 batang/Ha terdapat sebanyak : 4 pohon pada kelas diameter 20 - 29 cm, 12 pohon pada kelas diameter 30 - 39 cm, 11 pohon pada kelas diameter 40 - 49 cm, 27 pohon pada kelas diameter 50 - 59 dan 17 pohon pada kelas diameter di atas 60 cm. Penyebaran kelas diameter pohon di areal KRT 1999/2000 dapat dilihat pada Gambar 5 berikut. Dari gambar tersebut nampak bahwa.....

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

40

Volume tegakan Volume tegakan pada areal TPTI, RKT 1999/2000 disajikan pada Tabel 5 berikut : Tabel 5. Jenis dan volume pohon di areal TPTI-RKT 1999/2000 Sub DAS Selling PT.SLJ IV.
No Nama lokal Nama botanis 20-29 A 1 2 3 Jenis yang dilindungi Pohon buah Tengkawang Banggeris Jumlah A B. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Antidesma sp. Shorea cf amplexicaulis Koompassia exelsa 3 jenis Volume m 50 >
3

Total 60 > pohon

Jenis yang dapat ditebang Kelompok kayu meranti Meranti putih Meranti merah Meranti kuning Agatis Bangkirai Gerunggang Jelutung Kapur Mersawa Nyatoh Nyerakat Pulai Keruing S.bracteolata Shorea sp. Shorea accuminatissima Agathis lorantifolia Hopea mengarawan Cratoxylon formosum Dyera sp. Dryobalanops camphora Anisoptera marginata Palaqium ferox Shorea spp. Alstonia scholaris Dipterocarpus warburgii

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

41

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

Resak gunung Perupuk Pandan Damar kucing Palapi Kenari Penjalin Sarangan batu Damar laut Merambung Merbau Kayu bawang Jumlah

Anisoptera marginata Lophopetalum sp. Asplenium nidus Shorea leprosula Shorea lepidota Canarium megalanthum Xanthophylum exelsa Shorea spp. Shorea utilis Veronea arborea Instia bakeri Schorodocarpus bormeensis 25 jenis

II III 1 IV 1 2 3

Kelompok kayu rimba campuran Kelompok kayu ebony Kayu arang Diospyros sumatrana

Kelompok kayu indah Anggi/sempetir Ulin Rengas burung Shorea spp. Eusideroxylon zwageri Melanorhoe wallichii

4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sungkai Sawo kecik Bungur Kayu kuku Gaharu Pasang Singkuang Cempaka Arau Jumlah IV TOTAL A , B

Peronema canescens Manilkara kauki Lagerstroemia speciosa Pericopsis mooniana Aquillaria mallacensis Quercus sp. Pachyrrhizus erosus Michelia camphaca Casuarina eqisetifolia 12 jenis 43 jenis

Sumber : PT. SLJ IV, 1999 Komposisi Jenis.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

42

Jika dibandingkan dengan jumlah jenis yang ditemui oleh Kartawinata (1981) di Wanariset Samboja, Riswan (1987) di Lempake dan Berau dalam Efffendi (1997) memperlihatkan bahwa jenis yang dijumpai di areal penelitian jauh lebih sedikit. Kartawinata (1981) menemukan bahwa di Wanariset dijumpai 239 jenis, Riswan (1981) di Lempake menemukan 205 jenis dan di Berau terdapat 579 jenis, sementara itu di areal penelitian hanya dijumpai 43 jenis. Sangat rendahnya jenis yang dijumpai ini kemungkinan karena tidak dikemukakannya secara detil dari jenis kayu rimba campuran yang jumlahnya paling dominan di areal tersebut. 6.2.2. Kondisi Tegakan TJTI (1). Kondisi Tegakan Sebelum Penebangan Potensi tegakan pada tiap jalur ujicoba disajikan pada Tabel 7 berikut :

Tabel 7 Jumlah pohon tiap jalur petak uji coba TJTI di PT.SLJ IV untuk diameter pohon di atas 20 cm.

Petak

Jalur

Luas Ha

Jumlah pohon

Rata-rata / Ha 79

Keterangan

01

1 2 3 4 5 6 7

5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 35.00 5.00

16 Jalur konservasi 50 m 21 Jalur tebang 50 m 24 18 26 23 24 152 25 Jalur konservasi 100 m

106 122 90 130 114 120 761 127

Jumlah 02 1

2 3 4

5.00 5.00 5.00

111 108 199

22 Jalur tebang 50 m 22 40

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

43

5 6 Jumlah 03 1

5.00 5.00 30.00 10.00

215 221 981 361

43 44 196 36 Jalur konservasi 100 m

2 3 4 5 Jumlah 04 1

10.00 10.00 10.00 10.00 50.00 20.00

349 195 243 194 1342 508

35 Jalur tebang 100 m 20 24 19 134 25 Jalur konservasi 100 m

2 3 4 5 Jumlah 05 1 2 3 4 5 6 Jumlah 06 1 2 3 4 5 6 Jumlah

20.00 20.00 20.00 20.00 100.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 100.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 60.00

582 612 726 471 2899 331 668 690 647 594 375 3305 185 187 188 146 207 76 989

29 Jalur tebang 200 m 31 36 24 145 17 Jalur konservasi 50 m 33 Jalur tebang 200 m 35 32 30 19 165 19 Jalur konservasi 50 m 19 Jalur tebang 100 m 19 15 21 8 99

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

44

Total 1 - 6

395

10 277

696

Dari tabel di atas nampak bahwa untuk kelas diameter di atas 20 cm, jumlah pohon terbanyak berturut-turut dijumpai pada petak 02 yaitu 196

batang/ha, petak 05 yaitu 165 batang/ha, petak 01 yaitu 152 batang/ha, petak 04 yaitu 145 batang/ha, petak 03 yaitu 134 batang/ha dan terendah pada petak 06 yaitu 99 batang/ha.

Volume Tegakan Volume tegakan pada tiap-tiap jalur untuk areal ujicoba TJTI sebelum diadakan penebangan disajikan pada Tabel 8 berikut :

Tabel 8. Volume tegakan pada jalur TJTI PT. SLJ-IV site Gunung Sari.
3

Petak

Jalur

Luas Ha

Volume m

Rata-rata m / Ha
3

Keterangan

01

1 2 3 4 5 6 7

5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 35.00 5.00

87,87 141,95 129,20 96,82 179,47 145,25 137,11 917,67 130,81

17,57 Jalur konservasi 50 m 28,39 Jalur tebang 50 m 25,84 19,36 35,89 29,05 27,42 183,53 26,16 Jalur konservasi 100 m

Jumlah 02 1

2 3 4

5.00 5.00 5.00

89,39 188,38 318,11

17,88 Jalur tebang 50 m 37,68 63,62

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

45

5 6 Jumlah 03 1

5.00 5.00 30.00 10.00

397,32 401,88 1.525,89 760,67

79,46 80,38 305,18 76,07 Jalur konservasi 100 m

2 3 4 5 Jumlah 04 1

10.00 10.00 10.00 10.00 50.00 20.00

681,97 215,85 236,47 137,35 2.032,31 441,32

68,20 Jalur tebang 100 m 21,59 21,59 23,65 203,23 22,07 Jalur konservasi 100 m

2 3 4 5 Jumlah 05 1 2 3 4 5 6 Jumlah 06 1 2 3 4 5 6 Jumlah

20.00 20.00 20.00 20.00 100.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 20.00 100.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 60.00

692,84 843,99 828,35 811,31 3.617,81 590,47 1.020,29 99,15 846,61 734,83 498,44 3.789,79 243,54 234,85 303,62 237,04 304,32 152,64 1.476,01

34,64 Jalur tebang 200 m 42,20 41,42 40,57 180,89 29,52 Jalur konservasi 50 m 51,01 Jalur tebang 200 m 4,96 42,33 36,74 24,92 189,49 24,35 Jalur konservasi 50 m 23,49 Jalur tebang 100 m 30,49 23,70 30,43 15,26 147,60

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

46

Total 1 - 6

395

13.359,48

904,75

Komposisi Jenis Jenis pohon yang dijumpai pada areal TJTI sebelum diadakan penebangan dikemukakan pada Tabel .. Dari tabel tersebut dapat dikemukakan bahwa di seluruh petak terdapat .. jenis pohon. Jika dibandingkan dengan jumlah jenis yang dijumpai oleh Kartawinata (1981), Riswan dkk. (1991) di beberapa lokasi di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa jumlah yang dijumpai di areal TJTI lebih ……

6.3.2. Kondisi Tegakan Setelah Penebangan Hasil inventarisasi tegakan setelah diadakan penebangan untuk jalur konservasi dan jalur tebang dapat dilihat pada Lampiran 3 sampai dengan Lampiran 12. Kondisi permudaan pada jalur tebang disajikan pada Tabel 9 berikut :

Tabel 9. Permudaan pada jalur tebang uji coba TJTI di PT. SLJ-IV site Gunung Sari. No No Luas Tingkat permudaan (batang) Jumlah Ratarata Peta k 01 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 5 5 5 5 5 5 5 35 700 375 475 575 350 325 2.800 1.250 250 475 675 350 800 3.800 5.425 4.050 3.750 9.900 9.875 9.900 42.900 7.375 4.675 4.700 11.150 10.575 11.025 49.500 1.475 935 940 2.230 2.115 2.205 Jalur Ha Tiang Pancang Semai batang btg/ha

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

47

Batang/Ha 02 1 2 3 4 5 6 Jumlah Batang/Ha 03 1 2 3 4 5 Jumlah Batang/Ha 04 1 2 3 4 5 Jumlah Batang/Ha 05 1 2 3 4 5 6 Jumlah Batang/Ha 20 20 20 20 20 20 120 20 20 20 20 20 100 10 10 10 10 10 50 5 5 5 5 5 5 30

80 350 225 50 625 21 675 50 725 15 1.875 1.375 2.075 1.175 6.500 65 725 2.450 1.800 1.275 11.275 6.300 23.825 199

108 550 400 375 275 450 2.050 68 900 50 950 19 75 2.325 1.075 2.125 1.225 6.825 68 1.050 4.200 1.675 1.550 20.075 13.825 42.375 353

1.226 9.100 10.625 1.250 9.425 10.925 41.325 1.378 27.875 12.375 10.150 50.400 1.008 10.175 9.525 14.925 23.825 28.125 86.575 866 28.500 48.875 46.250 43.475 167.100 1.392

10.000 11.250 1.625 9.700 11.425 44.000 29.450 12.475 10.150 52.075 10.250 13.725 17.375 28.025 30.525 99.900 30.275 55.525 49.725 46.300 31.350 20.125 233.300 -

1.414 2.000 2.250 325 1.940 2.285 1.467 2.945 1.248 1.015 1.042 513 686 869 1.401 1.526 999 1.514 2.776 2.486 2.315 1.568 1.006 1.944

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

48

06

1 2 3 4 5 6

10 10 10 10 10 10 60

3.675 3.850 8.425 7.525 7.900 3.750 35.125 586

8.550 9.250 2.875 4.225 8.225 3.375 36.500 608 92.500 234

17.825 17.900 16.250 51.975 866 440.275 1.115

12.225 13.100 11.300 29.575 34.025 23.375 123.600

1.223 1.310 1.130 2.958 3.403 2.338 2.060

Jumlah Batang/Ha Total Batang/Ha
m).

395

69.600 176

602.375 -

1.525

Keterangan : Tiang (diam.10 - 30 cm); Pancang (diam. 10 cm <, tinggi >3 m); Semai (tinggi < 3

Sumber : PT. SLJ-IV, 1999

Dari Tabel 9 di atas nampak bahwa jumlah tanaman permudaan pada jalur tebang pada semua petak didominasi oleh permudaan tingkat semai, berkisar antara 42,1 hingga 96,8 persen, kemudian tingkat pancang berkisar antara 1,8 hingga 29,5 persen dan yang terendah adalah tingkat tiang berkisar antara 1,4 hingga 28,4 persen. Dari tabel di atas nampak bahwa jumlah tingkat semai pada petak 02 dan 03 lebih dari 90 %dengan lebar jalur komservasi masing-masing 100 m. Tingginya jumlah tingkat semai tersebut kemunngkinan karena sangat terbantu oleh lebar jalur konservasi yang ada. Dengan lebarnya jalur konservasi meskipun jalur tebang juga lebar, tetapi diharapkan pengayaan tanaman juga diperoleh dari jalur konservasi di sebelahnya. Hal ini merupakan salah satu dari keuntungan yang mendasari dilakukannya TJTI, yaitu untuk memperoleh sumber pengayaan tanaman dari jalur konservasi. Demikian pula halnya pada petak 04 dengan jalur konservasi 100 m, meskipun jalur tebang 200 m, tetapi tingkat semai yang mendominasi masih di atas 80 %.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

49

KEPUSTAKAAN Anonimus ( 1997) Dampak Intensitas TPTI terhadap Regenerasi dan Ekosistem Hutan di Kalimantan. Laporan Akhir Kerjasama antara badan Litbang Kehutanan dan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Tahun 1996/1997, Samarinda. Darusman, D (1998) Sistem Tebang dan Tanam Jalur: Tinjauan Finansial dan Ekonomi Politik. Makalah Panel Pakar TJTI dan Ekspose Pemantapan Tebang Jalur, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Badan Litbang Kehutanan, Bogor Effenndi, R., A. Saridan dan Ismanto (1997) Potensi dan Komposisi Jenis Hutan Penelitian Wanariset Sangai, Mentaya Hulu, Kalimantan Tengah. Buletin Penelitian Kehutanan (11 : 2). Balai Penelitian Kehutanan Samarinda. 31 41. Elias (1998) Sistem Pemanenan TJTI dan TPTI/TTJ. Makalah Panel Pakar TJTI dan Ekspose Pemantapan Tebang Jalur, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Badan Litbang Kehutanan, Bogor. Manan, S. (1998) Pengaruh Sistem Tebang Jalur terhadap Kelestarian dan Keanekaragaman Hayati. Prosiding Panel Pakar TJTI dan Ekspose

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

50

Pemantapan Tebang Jalur di Bogor 3 - 4 Maret 1998. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Badan Litbang Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. 198 - 202. PT. Sumalindo Lestari Jaya IV (1998) Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi Uji Coba TJTI (dengan Permudaan Alam) di PT. SLJ IV. Prosiding Panel Pakar TJTI dan Ekspose Pemantapan Tebang Jalur di Bogor 3 - 4 Maret 1998. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Badan Litbang Kehutanan dan Perkebunan, Bogor. Sianturi, A. (1997) Pengaruh Kerusakan Tegakan Tinggal pada Pengelolaan Hutan dengan Sistim Tebang Pilih. Buletin Teknologi Reboisasi No 07 : 7 - 9. Balai Teknologi Reboisasi Palembang. Tim Peneliti Dampak Intensitas TPTI (1997) Laporan Akhir Dampak Intensitas TTI Terhadap Regenerasi dan Ekonsistem Hutan di Kalimantan Timur, Kerjasama Fak. Kehutanan Universitas Mulawarman dengan Badan Litbang Kehutanan.

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

51

BIODATA BENY HARJADI
Data Diri :
Nama : Ir. Beny Harjadi, MSc. Tempat/Tanggal Lahir: Surakarta, 17 Maret 1961 NIP/Karpeg : 19610317.199002.1.001/ E.896711 NPWP : 58.678.096.7-532.000 Pangkat/Golongan Jabatan : Pembina / IV : Peneliti Madya
b

Riwayat Pendidikan : TK : TK Aisyiyah Premulung, Surakarta (1967)
SD : SD Negeri 94 Premulung, Surakarta (1973) SMP : SMP Negeri IX Jegon Pajang, Surakarta (1976) SMA : SMA Muhammadiyah I, Surakarta (1980) S1 : IPB (Institut Pertanian Bogor), Jurusan Tanah/Fak.Pertanian,BOGOR (1987) Kursus LRI (Land Resources Inventory) kerjasama dengan New Zealand selama 9 bulan untuk Inventarisasi Sumber Daya Lahan (1992), INDONESIA-NEW ZEALAND S2 : ENGREF (École Nationale du Génie Rural, des Eaux et des Forêst), Jurusan Penginderaan Jauh Satelit/ Fak.Kehutanan, Montpellier, PERANCIS (1996) PGD : Post Graduate Diplome Penginderaan Jauh, di IIRS (Indian Institute of Remote Sensing) di danai dari CSSTEAP (Centre for Space Science & Technology Education in Asia and The Pasific) Affiliated to the United Nations (UN/PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa), Dehradun – INDIA (2005).

Riwayat Pekerjaan :
1. 2. 3. 4. 5. Staf Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Surakarta (1989). Ajun Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 1998. Peneliti Muda Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 2001. Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BP2TPDAS-IBB (Balai Litbang Teknologi Pengelolaan DAS - Indonesia Bagian Barat), 2005. Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh pada BPK (Balai Penelitian Kehutanan) Solo, 2006 Menwa Mahawarman, Jawa Barat (1980 – 1985) HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), (1980 – 1983) Ketua ROHIS BP2TPDAS-IBB, 2 periode (2000-2006) Satya Lancana Karya Satya 10 tahun, No. 064/TK/Tahun 2004 Kantor : BPK SOLO, d/a Jl.Ahmad Yani Pabelan, Po.Box.295, Surakarta. Jawa Tengah, Telp/Fax : 0271–716709, 715969. E-mail: bpksolo@indo.net.id Rumah : Perumahan Joho Baru, Jl.Gemak II, Blok T.10, Rt 04/ Rw VIII, Kel.Joho, Sukoharjo, Jawa Tengah. Telp : 0271- 591268. HP : 081.22686657 E-mail : adbsolo@yahoo.com

Riwayat Organisasi :
1. 2. 3. 1. 1. 2.

Penghargaan : Alamat Penulis :

f:\home\nugroho\rptpdr98.doc

52

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->