P. 1
Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Akses Petani.docx

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Akses Petani.docx

|Views: 304|Likes:
Published by Faza Fauzan Syarif

More info:

Published by: Faza Fauzan Syarif on Apr 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2015

pdf

text

original

“FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKSES PETANI TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN”

Makalah diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Agribisnis

KELOMPOK 4: Rifina Chairunisa - 150510110011 Faza Fauzan Syarif - 150510110036 Ayu Aulia - 150510110042 Muhamad Iqbal - 1505101143 Ikhwan Fadli - 150510110052

Agroteknologi B

Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas Mata Kuliah Sistem Agribisnis dengan materi ―FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKSES PETANI TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN‖ di Fakultas Pertanian Unpad. Terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen Sistem Agribisnis yang membimbing kami dan memberikan mata kuliah tersebut demi kelancaran belajar kami. Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan. Seperti halnya pepatah ― tak ada gading yang tak retak ―, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Demikianlah tugas ini disusun. Semoga bermanfaat dan dapat memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Agribisnis. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Amin Sumedang, 20 Mei 2012

PENYUSUN

BAB I PENDAHULUAN Dalam era otonomi daerah memerlukan perubahan cara pandang dalam pengelolaan sumberdaya kapital untuk sebesar-besarnya dapat diakses oleh pelaku agribisnis dan agroindustri di pedesaan. peningkatan kemampuan. utamanya bagi petani pelaku agribisnis dan agroindustri. (3) Mekanisme tranfer pendapatan diantara masyarakat untuk mendorong pemerataan. Selama kurun waktu lebih dari sepuluh tahun terakhir alokasi kredit sektor pertanian kurang dari 10 persen dari total kredit yang disalurkan kepada sektor sektor ekonomi. Sistem perbankan konvensional yang berjalan saat ini sangat mengabaikan sektor pertanian. Pentingnya kredit dalam pembangunan pertanian Indonesia terkait dengan tipologi petani yang sebagian besar merupakan petani kecil dengan penguasaan lahan yang sempit. Kebijakan pembiayaan untuk mendukung sektor . Dengan demikian dukungan pembiayaan harus dilakukan. (4) Insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi usahatani. (1988 dan 1999) menyat akan bahwa peran kredit sebagai pelancar pembangunan pertanian antara lain: (1) Membantu petani kecil dalam mengatsi keterbatsan modal dengan bunga yang relatif ringan. namun tanpa kehadiran modal dalam jumlah dan kualitas pelayanan yang memadai akan menjadi salah satu penghambat dalam peningkatan produktivitas nilai tambah hasil pertanian. Kondisi ini ternyata lebih banyak melumpuhkan kelembagaan lokal yang selama ini berkembang dengan baik di masyarakat dan berperan dalam pemertaan pendapatan (Sudaryanto dan Syukur. Meskipun modal merupakan faktor pelancar pembangunan pertanian. Akses pelaku agribisnis yang rendah pada sumber modal memerlukan kreasi lembaga pembiayaan yang tepat bagi sektor ini. Kooptasi birokrasi yang berlebihan telah memunculkan kondisi asimetris informasi antara sebagian besar masyarakat tani dengan kelompok lainnya. 2001). Kelembagaan ekonomi pedesaan yang kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat tidak berkembang karena kooptasi yang berlebihan dari sistem birokrasi pemerintahan. menyebabkan masyarakat tani tidak dapat akses secara mudah pada sumber pembiayaan saat ini. tetapi lebih disebabkan oleh keberpihakan yang sangat rendah pada sektor ini dan aturan main (kelembagaan) kredit yang sangat kaku. dengan demikian berperan dalam memperbaiki struktur dan pola pemasaran hasil pertanian. teknologi. (2) Mengurangi ketergantungan petani dengan pedagang perantara dan pelepas uang. Alokasi kredit yang timpang tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya kemampuan sektor ini untuk mengembalikan kredit. Pemilikan lahan yang sempit dan kelembagaan skim pembiayaan bagi usaha agribisnis dan agroindustri yang rigid. informasi pasar. Syukur dkk. Dukungan kebijakan yang kuat sangat diperlukan guna menciptakan terbentuknya lembaga pembiayaan yang kuat dan sehat guna mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri di pedesaan. sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pemupukan modal untuk infestasi pada teknologi baru. dan lain sebagainya (Syukur dan Windarti. Asimetris informasi ini membawa implikasi yang sangat luas pada akses yang rendah pelaku agribisnis terhadap sumberdaya modal. 2000).

Hal ini disebabkan karena diantara mereka terdapat unsur saling ketergantungan yang merupakan hasil dari orientasi nilainilai yang dianut bersama oleh pihak-pihak yang saling berinteraksi ( Johnson.agribisnis dan agroindustri dirasakan sangat lemah dan sektor ini cenderung terabaikan. 1986. arisan. Selain itu kelembagaan kemitraan diantara pelaku agribisnis dapat diberdayakan dalam upaya mengatasi masalah pembiayaan pertanian (Irawan. pedagang input.2001).1979) seperti pedagang output. 1984). Kelompok-kelompok yang berdasarkan wilayah (territorial communities) yang masih dapat memenuhi kebutuhan penduduk yang membentuk masyarakat kecil secara demokratis seperti diatas dapat diajak dalam usaha pembangunan (Tjondronegoro. Namun demikian di daerah pedesaan terdapat bentuk-bentuk kelembagaan pembiayaan non formal yang dapat dikembangkan (Uphoff. dkk. Hastuti dan White.1990) . kelompok pengajian dan sebagainya.

Bank-bank umum/formal pada umumnya kurang mampu menjangkau lapisan masyarakat menengah ke bawah. Data sekunder diperoleh dari sejumlah dinas terkait. Dari Jawa Barat dipilih Kabupaten Subang dan Bandung. sedang Nusa Tenggara Barat dipilih Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. cara-cara pengembalian. Sementara itu kredit non program atau kredit komersial bagi usaha pertanian juga relatif rendah. Karena terkait dengan resiko inilah seringkali perbankan sulit dapat menyalurkan kredit kepada sektor yang dianggap beresiko besar. insentif dan sebagainya. Dua kategori yang menjadi sumber pembiayaan masyarakat pedesaan inipun mempunyai karakteristik yang khas. Kegagalan ini terletak tidak hanya pada kegagalan mencapai sasarannya. guna mendapatkan informasi mengenai kebijakan dan keragaan penyaluran kredit bagi pelaku agribisnis. Pengalaman menunjukkan bahwa kredit program yang berbiaya murah justru banyak mengalami kegagalan. tetapi kegagalan dalam mencapai kinerja pengembalian. dan membentuk hubungan saling percaya. dan sebagainya. . Lokasi Penelitian Pengamatan dilakukan di Jawa Barat yang mewakili wilayah dengan tingkat perkembangan agribisnis dan agroindustri yang sudah berkembang/maju. seperti sektor pertanian. sehingga segmen pasar keuangan untuk pelaku usaha pertanian lapisan menengah ke bawah diisi oleh lembaga pembiayaan non formal seperti pedagang sarana produksi. Resiko tersebut akan terjadi manakala pendapatan yang diharapkan untuk membayar pinjaman tidak dapat dipenuhi. sanksi.BAB II METODA PENELITIAN Kerangka Pemikiran Dalam proses transaksi kredit akan terdapat resiko yang harus ditanggung oleh peminjam. dan dari hasil penelitian terdahulu. yaitu pasar kredit formal dan non-formal. pelepas uang. dengan menggunakan kuesioner. Di dalam pasar kredit pedesaan terdapat segmentasi pasar. dan agroindustri di pedesaan. tetangga. Hal ini ditunjukkan oleh terjadinyasegmentasi pasar serta kecilnya volume pinjaman dan daya serap dari lembaga pembiayaan formal. pedagang output. Sistem perkreditan non formal ini sering beroperasi secara personal. dan Nusa Tenggara Barat mewakili wilayah dengan tingkat perkembangan agribisnis yang belum berkembang. Karakteristik tersebut menyangkut sasaran kelompok syaratsyarat peminjaman dan pengajuan. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan pelaku agribisnis dan agroindustri. terlebih golongan masyarakat yang paling kurang mampu. Data primer juga diperoleh dari lembaga pembiayaan formal dan non formal.

Analisis kualitatif terutama digunakan dalam melihat struktur. Sedang analisis kuantitatif digunakan tabulasi sederhana mengenai jangkauan dan persepsi masyarakat terhadap kelembagaan pembiayaan pertanian di pedesaan. . dan mekanisme penyaluran. aturan main.Analisis Data Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. prosedur perolehan pinjaman.

dan Kredit Pemilikan Rumah Sederhana /Sangat Sederhana (KPRS/KPRSS). Namun dai segi tunggakan kredit terdapat kecenderungan peningkatan (Syukur. Peningkatan pencairan KUT yang demikian besar sepatutnya dapat meningkatkan produksi padi. Sementara excecuting berada pada Departemen Koperasi atau LSM. Program yang mendapat KLBI tersebut unsur subsidinya sejauh mungkin dikurangi sehingga suku bunga kredit berorientasi kepada suku bunga pasar.34 milyar pada tahun 1996/1997. baik dari aspek penyaluran maupun pengembaliannya. dkk. sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja sektor pertanian dalam memproduksi pangan. Pola yang demikian berhasil mendongkrak pencairan kredit hingga 1000 persen. 1999) yang memiliki arah sebagai berikut : 1.108 milyar padatahun 1990-1991 menjadi Rp. dan kemampuan KUD dalam mengelola penyaluran dan pengembalian KUT sebagian besar masih lemah (Sumaryanto dan Pasandaran.1991). Selain itu plavon KUT yang bersumber dari dana KLBI ditingkatkan. Penyederhanaan struktur bunga sehingga terbentuk suku bunga yang wajar melalui pengendalian inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap asing.1996. Oleh karena itu pada tahun 1999 dilakukan upaya terobosan untuk meningkatkan penyerapan kredit KUT dengan mengubah pola penyaluran . kemampuan kelompok tani dalam menyususn RDKK umumnya lemah. 1999). Sebagian kredit perbankan diarahkan untuk usaha kecil melaui pemberian kewajiban kepada semua bank untuk menyediakan KUK sebesar minimum 20 persen dari jumlah pemberian kredit. terjadi penurunan dari sekitar Rp. kepada bank asing /campuran dan bank devisa diwajibkan mengalokasikan sebagian dananya untuk kredit ekspor.Kredit Kepada Bulog untuk pengadaan pangan nasional. Kredit program tersebut antara lain Kredit Usha Tani (KUT). namun yang terjadi justru sebaliknya. karena tidak dilakukan pembatasn terhadap plavon KUT. Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) secara bertahap dikurangi dan hanya diberikan untuk mendukung pelestarian swasembada pangan dan pengembangan koperasi. 4.dimana bank hanya berperan sebagai chanelling. dkk. maupun persyaratannya. Kredit Kepada KUD (KKUD) Kredit Kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA) . Hal ini menunjukkan kinerja program KUT semakin menurun. dalam Syukur. Hal ini antara lain disebabkan oleh prosedur penyaluran KUT kurang sederana. 2. 3. Disamping itu untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Skim-skim tersebut dibiayai dengan dana masyarakat yang dihimpun oleh perbankan. harga. Deregulasi perkreditan tersebut tidak berdampak terhadap alokasi kredit sektor pertanian primer terutama KUT.BAB III KEBIJAKAN PERKREDITAN NASIONAL Pada tahun 1990 pemerintah melaksanakan reoriientasi kebijaksanaan perkreditan sejak dikeluarkan Paket Januari 1990 (Bank Indonesia. Penyaluran KUT untuk tanaman pangan dan hortikultura mencapai 8 trilyun rupiah. Dari pada sisi penyaluran KUT selama periode 1990. Bahkan terjadi pula tunggakan kredit yang mencapai 6 trilyun rupiah. Kredit Program : alokasi kredit diserahkan pada mekanisme paket bank-bank bebas dalam memobilisasi dana dan menyalurkan kepada masyarakat baik jumlah. . penggunaan.

dkk. di dalam masyarakat pedesaan banyak terdapat kelembagaan kemitraan antar pelaku agribisnis. Padahal dengan diberlakukannya otonomi daerah.Maka dari itu pemberian kredit dalam keadaan normal perlu memperhatikan syaratsyarat( Ronodiwiryo. Naluri ekonomi atau pelaku agribisnis di pedesaan belum sepenuhnya mendapat dorongan gairah dari pemberian otonomi tersebut. kredit pertanian semacam KUT tidak lagi bisa diperoleh dengan mudah (Pranaji. Di dalam kelembagaan ini masing-masing memperoleh manfaat baik secara finansial maupun sosial (Irawan. khususnya yang berkaitan dengan usaha pertanian. secara ekonomi belum dirasakan manfaatnya. dan ternyata dapat berfungsi dengan baik. Bersamaan dengan diberlakukannya otonomi daerah. Untuk mengatasi masalah permodalan. Akibatnya di tingkat usaha tani terjadi peningkatan krisis permodalan. 2003).2001) . Petani-petani yang diberi kredit mampu dan mau menaikkan produksi 2. Mereka mau dan mampu mengembalikan kredit dari hasil kenaikan produksi tersebut segera sesudah panen 3. dan bimbingan kultur tehnis yang ke dua-duanya perlu dilakukan secara intensif.1982) sebagai berikut : 1. maka kredit diberikan kepada petani-petani secara selektif disertai pengawasan dan bimbingan tentang cara-cara memakainya. Untuk berhasilnya semua itu. KUD tidak lagi bisa diandalkan untuk menjadi lembaga jasa penyalur kredit atau agen penjamin untuk memperoleh sarana atau input pertanian.

Anggota yang dipilih merupakan petani yang benar-benar sanggup dan mau mengembalikan pinjaman. Masalah perkreditan di pedsaan melibatkan dua kelompok kepentingan yaitu petani atau masyarakat di satu pihak sebagai debitor. Di daerah ini KUT dapat berjalan dengan lancar. Dari hasil penelitian di beberapa lokasi penelitian di Jawa Barat dan Nusatenggara Barat aksessibilitas petani terhadap lembaga bank komersial di tingkat cabang relatif tinggi. Seringkali debitor harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengurusnya. Sumber kredit informal lebih bersifat fleksibel. baik yang bersifat formal maupun non formal. terutama di dalam menyeleksi anggotanya. terutama bagi petani yang tidak termasuk di dalam kelompok tani. bank keliling. pedagang hasil pertanian. baik untuk mengambil maupun membayar kredit. Jadi mereka dapat dipercaya untuk menjadi nasabah dalam sistem perkreditan. Sedangkan kredit formal tidak fleksibel. pelepas uang/rentenir. Lembaga yang bersifat formal antara lain Bank BRI. dan berapa saja petani minta. karena peran kelompok tani yang cukup baik. Planck (1993) menegaskan bahwa meskipun sebagian masyarakat hanya mempunyai ukuran usaha dan luas sawah relatif sempit . Kedua kelompok tersebut tentu berbeda kepentingan dan tujuan terhadap perkreditan. petani bebas menggunakan kreditnya. di lain pihak mereka memiliki pendapatan tunai yang bisa digunakan untuk membayar hutang. BKD/LDKP. dimana. Hal ini disebabkan karena adanya program KUT. dan lembaga pembiayaan di lain pihak sebagai kreditor.BAB IV AKSESSIBILITAS MASYARAKAT PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN DI PEDESAAN Di daerah pedesaan terdapat berbgai bentuk lembaga pembiayaan yang dapat melayani masyarakat. prosedur berbelit. Sedang lembaga pembiayaan non formal antara lain kios saprotan. Selain itu kios saprotan. Konflik pandangan ini terjadi antara lembaga perkreditan pemerintah dengan masyarakat petani di pedesaan (Kasryno. dan berhubungan erat. tanpa prosedur berbelit. dan sebagainya. Oleh karena itu di daerah pedesaan muncul berbagai bentuk kelembagaan pembiayaan non formal. sehingga dapat menimbulkan konflik pandangan. dkk. Bukopin BPR. saling mengenal. Namun terjadi kecenderungan bahwaarus dana dari pedesaan lebih besar dari pada kredit yang mengalir ke pedesaan (Rachman. tetapi masih ada sisa tertentu yang dapat dijual. juga kreditor mengetahui betul kelayaan kredit si petani serta bersedia memberi pinjaman kapan. Pegadaian. dan sebagainya. ke dua belah pihak tidak saling mengenal dengan baik. pelepas uang dan tetangga merupakan lembaga pembiayaan yang banyak diakses oleh petani di daerah ini . .1980). sehingga bunga yang berlaku menjadi tinggi. Peran pengurus sangat menentukan keberhasilan program KUT. Pinjaman tidak diawasi dengan ketat. memerlukan waktu relatif lama. 1993). dan kebanyakan petani menggunakan suatu bagian utama produksi beras untuk kebutuhan sendiri. Artinya di satu pihak mempunyai orientasi pasar. Koperasi. yang terbentuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

6 juta s/d Rp. Di Kabupaten Lombok Timur aksessibilitas masyarakat pada lembaga pembiayaan formal relatif rendah. karena petani hanya disyaratkan menjual hasil kepada pedagang output.200 juta. Proses pencarian pinjaman sangat cepat. sertifikat tanah dan bangunan. atau hadiah lebaran. kaos. dan proses peminjamanpun relatif cepat berdasarkana atas kepercayaan. seperti pupuk dan obat-obatan. antara lain berupa sertifikat tanah. Pedagang sarana produksi pertanian merupakan lembaga pembiayaan non formal yang dapat memberikan pinjaman relatif besar. yaitu berupa barang elektronik. Pinjaman pada umumnya berbentuk natura. atau BPKB. Sedangkan besar masyarakat menyatakan bahwa pinjam ke BRI merupakan prosedur peminjaman yang relatif sulit. Sebagian besar masyarakat merasa tidak mempunyai kuwajiban harus mengembalikan hutang tersebut. Kupedes merupakan skim yang melayani dengan volume pinjaman anara Rp 25. karena pernyataan dari beberapa pejabat pemerintah. Prosedurpun relatif mudah. Jumlah pinjaman sekitar Rp50. dengan harga lebih rendah dari harga pasar. Sifat hubungan di dalam kemitraan ini adalah gotong royong.150. Plavon yang diberikan sekitar Rp. selain bank komersial lembaga pembiayaan formal yang dapat diakses masyarakat adalah . yaitu dapat memperoleh pinjaman dana sekaligus memasarkan produk pertaniannya. Lembaga pembiayaan formal lain yang dapat diakses oleh masyarakat adalah bank komersial unit. Tingkat aksessibitas masyarakat terhadap tetangga/saudara/rekanan ternyata cukup tinggi. dan koperasi/KUD. justru tertinggi pada lembaga pembiaaan non formal yang berasal dari .dari harga pasar.1. dan BPD.20 juta. sehingga justru megacaukan sistem pertanian dan harga di daerah ini. Untuk mendapat pinjaman nasabah harus menyerahkan agunan sebagai jaminan. Misalnya untuk harga kentang.000 s/d Rp 50 juta. yaitu sekitar Rp. Jangka waktu pinjaman 3 s/d 24 bulan. UBD. dengan tingkat bunga 24 s/d 32 persen. TPSP. KUD merupakan salah satu lembaga yang dipercaya untuk menyalurkan KUT. sedang kredit konsumtif 40 persen dari penghasilan. dan sebagainya. dan memerlukan biaya tinggi. tergantung kespakatan diantara mereka. Bahkan masyarakat yang bukan petanipun sempat memperoleh KUT.000 s/d Rp. BPKB. peminjaman cukup dengan kepercayaan. Pinjaman dapat diangsur bulanan/ musiman. Kredit biasa senilai 120 persen dari pinjaman. Sampai penyaluran terakhir Kabupaten Bandung masih mempunyai tunggakan sebesar Rp. hal ini antara lain disebabkan karena kurang kontrol dari lembaga pelaksana. LPK (Lembaga Perkreditan rakyat). meskipun dengan bunga yan cukup tinggi yaitu 5 persen per bulan. KUD. Volume penyaluran pinjaman dari lembaga ini dapat mencapai Rp.1 juta s/d Rp. dengan nasabah dapat mencapai 40 petani. Pinjaman yang dikembalikan dalam jangka waktu kurang dari satu bulan tidak dikenakan bunga. Bank BRI merupakan lembaga pembiayaan yang sangat berperan melayani kebutuhan masyarakat. sedang bagi pemula dapat dengan sutrat berharga seperti surat tanah. deposito. dapat dalam waktu satu hari.5 milyar. Jawa Barat . tepat pada saat pupuk/ obat-obatan diperlukan. BPR. 10 juta. Oleh karena itu sebagian besarlembaga tersebut petani dapat memperoleh manfaat ganda. Namun kurang dapat berperan dengan baik. Kepada mitra yang telah dikenal dengan baik. Lembaga ini seringkali memberikan insentif kepada para pelanggan yang baik. surat berharga seperti slip gaji.Di kabupaten Subang. melalui jalinan kemitraan ini petani menjual produk dengan selisih Rp.300 juta.

Hal ini disebabkan karena lokasi kegiatan terletak tidak jauh dari desa. tetangga. pengolah hasil. pengolah hasil pertanian. pegadaian. pedagang hasil pertanian. Hal ini disebabkan karena terjadi lonjakan arel\al tanam. Di Kabupaten Lombok Timur hanya sekali memperoleh kredit program melalui KUT. sehingga pengguna kebanyakan dari pedagang. atau teman. dan Bank Kredit Desa meskipun relatif sedikit. meskipun demikian pada akhirnya banyak petani yang tidak dapat melunasi hutangnya. den bila sudah dapat dipercaya berdasarkan pantauan kreditor pinjaman dari sedikit demi sedikit dapat ditingkatkan. Rendahnya partisipasi petani pada lembaga bank BRI karena adanya agunan berupa sertifikat tanah. Petani yang sudah mempunyai sertifikat mengakses ke skim Kupedes. kepercayaan dan keanggotaaan. Prosedur dan persyaratan peminjaman pada lembaga ini pada umumnya relatif sangat cepat dan sederhana. Lembaga formal lain yang dapat diakses adalah Bank komersial unit. Pada ummnya lembaga-lembaga non formal lebih menekankan persyaratan kualitatif seperti kejujuran.kepastian usaha langganan. Bagi nasabah baru pada umumnya mendapat rekomendasi dari nasabah lama. dan sebagainya.famili atau tetangga. sesuai dengan kemampuan petani. . Lembaga pembiayaan non formal yang dapat diakses petani terbesar adalah famili. Bagi yang membayar tepat waktu akan mendapat potongan bunga sebanyak 0. yang menyebabkan harga produk pertanian merosot. karena telah banyak mengalami perubahan yaitu pengembalian pinjaman dilakukan enam bulan sekali. Bila mulai peminjaman seringkali jumlah pinjaman dalam jumlah kecil. dan pelepas uang.5 persen dari total bunga. Sedang lembaga lain yang dapat diakses adalah kios saprotan.

maupun yang berada di luar kontrol petani/kelompok tani.3 %) petani di Kabupaten Bandung mempunyai persepsi bahwa untuk memperoleh kredit dari Bank Komersial BRI sulit. Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap pemanfaatan kredit. yaitu luas garapan petani. Namun di lain pihak terdapat pula berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya tunggakan kredit baik yang berasal dari internal petani/kelompok. Pandangan petani terhadap dana kredit. penjual sarana produksi pertanian. Demikian pula hal nya untuk memperoleh kredit dari Bank Desa/LDKP. pendidikan kepala keluarga. Sedang untuk memperoleh kredit dari lembaga pembiayaan non formal. demikian pula dengan petani di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. sebagian besar petani mengatakan relatif mudah. kemampuan petani untuk menggunakan pada usaha yang memberikan keuntungan tinggi. Di Kabupaten Subang sebagian besar petani mempunyai persepsi bahwa untuk memperoleh kredit baik dari lembaga formal maupun non formal relatif mudah. bahkan sangat sulit. . karena mereka mempunyai pendapatan yang relatif tetap pula. konsumsi rumah tangga. dan pengusaha baik di Propinsi Jawa Barat maupun NTB. Tingkat aksessibitas masyarakat terhadap lembaga perkreditan tergantung pada pengalaman dalam memperoleh kredit. dkk. Lembaga pembiayaan formal yang relatif mudah untuk memberikan kredit adalah BPR dan Koperasi. Bahkan dari kasus yang ditemukan masyarakat non petani ini dapat menjadi pelanggan tetap bank komersial. dan tingkat kesadaran untuk membayar kredit merupakan faktor yang cukup penting berpengaruh terhadap tunggakan kredit (Syukur.. dan frekuensi/akses pada sumber kredit. jangka waktu pinjaman. Masyarakat non petani mempunyai persepsi yang berbeda dengan petani. 2000).BAB V PERSEPSI PETANI TERHADAP LEMBAGA PEMBIAYAAN Terdapat perbedaan persepsi antara petani dan non petani terhadap lembaga pembiayaan pertanian. Selain itu resiko kegagalan tidak sebesar usaha pertanian. dan sistem pengawasan kelompok tani. Sebagian besar (81. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar non petani seperti pedagang. pengalaman penggunaan kredit. mempunyai persepsi bahwa untuk memperoleh kredit dari lembaga formal maupun non formal cukup mudah. Faktor yang berada pada diri petani antara lain karakteristik petani.

Sementara itu. di pedesaan sendiri rakyat telah lama memiliki lembaga-lembaga keuangan ―lokal‖ atau ―tradisional‖ yang melayani kebutuan mereka berazaskan swadaya dan pendekatan pasar. Ini memaksa petani—terutama petani skala kecil—terus ―berjudi‖ dengan usaha mereka. Petani masih bergulat dengan pembiayaan usaha taninya.BAB VI FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKSES PETANI TERHADAP LEMBAGA KEUANGAN Selama ini. Salah satu aspek itu adalah aspek pembiayaan usaha tani. Ketidakpastian usaha akibat serangan hama. Dimulai dengan kredit Bimas (Bimbingan Massal) pada tahun 1972. dan resiko kreditnya ditanggung pemerintah. atau tidak laku di pasar karena kualitas yang buruk adalah beberapa realitas yang dialami petani. sampai Kredit Usaha Tani (KUT) pada akhir pemerintahan Orde Baru. Lembaga keuangan formal biasanya menganggap sektor pertanian adalah sektor penuh risiko terkait jaminan harga dan jaminan pembelian komoditas yang tidak stabil. memperoleh dana likuiditas dari bank sentral. Ini menyebabkan penentuan harga jual rendah yang tidak bisa ditolak oleh petani. atau tidak terserap pasar karena kualitas buruk. Pembiayaan usaha tani sendiri tersusun dari banyak komponen seperti pendapatan dari pemasaran produkpertanian. maka sering disebut sebut sebagai program kredit ―tradisional‖ atau ―konvensional‖. harga komoditas pertanian yang jatuh di pasaran. Dalam upaya membangun sektor pertanian sebagai landasan perekonomian dan meningkatkan pendapatan rakyat kecil demi pemerataan hasil pembangunan. Ciri umum kredit program pemerintahan adalah bersuku bunga murah. Bisa karena serangan hama penyakit. Di Indonesia. subsidi pemerintah. Lembaga-lembaga tersebut disebut ―lembaga keuangan pedesaan‖ (LKP) atau yang akhir-akhir ini lebih dikenal dengan sebutan ‖lembaga keuangan mikro‖ (LKM). Selain itu. ada juga ketergantungan pemenuhan modal kerja untuk pembelian sarana produksi dari tengkulak atau pemodal. . aspek pembiayaan usaha tani ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah dan lembaga keuangan formal. banyak pihak menganggap yang terpenting dalam sektor pertanian adalah masalah teknis untuk meningkatkan hasil panen. Kredit Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kinerja Permanen (KMKP). muncullah banyak program kredit untuk komoditas lainnya. Padahal ada banyak aspek lain dalam pertanian yang juga penting dan perlu mendapat perhatian serius. Perlu lebih banyak lembaga-lembaga keuangan mikro pedesaan yang memudahkan petani mengakses modal untuk membiayai usaha taninya. pemerintah Indonesia telah melaksanakan program–program perkreditan yang ditujukan kepada petani dan pengusaha kecil sejak Repelita I. harga yang jatuh di pasaran. berjangka waktu cukup lama. Setiap saat mereka harus siap merugi. Karena kebijakan kredit pertanian semacam ini lazim dilaksanakan di negara berkembang selama lebih dari dua dasawarsa. dan kredit dari lembaga keuangan. Penyebab mendasar adalah tidak adanya jaminan harga dan jaminan pembelian komoditas pertanian.

yaitu : 1. selain kurang memperoleh perhatian. pihak perbankan cenderung lebih berhati-hati lagi 3. lembaga keuangan formal juga memiliki kelemahan-kelemahan yang menjadi kendala bagi petani terhadap akses pada lembaga keuangan formal. LKP tersebut. Terlebih lagi untuk sector pertanian yang dipandang sangat berisiko. Persyaratan atau aplikasi pengajuan kredit masih sangat sukar sehingga tidak semua masyarakat dapat mengakses pinjaman yang disalurkan. Persyaratan agunan dengan menetapkan barang yang telah memiliki kekuatan hokum formal (sertifikat / BPKB) dirasa masih cukup memberatkan 6. 2. baik karena gangguan alam seperti banjir dan kekeringan. namun juga ada hal – hal yang tidak memuaskan pada lembaga keuangan yang melaksanakannya. disebabkan lemahnya kepemilikan modal. Penilaian terhadap nilai agunan cenderung sangat underestimate sehingga sangat berpengaruh terhadap nilai pinjaman yang diberikan. Jangkauan pelayanan kredit atau pembiayaan masih sangat terbatas. Hal-hal tersebut diantaranya : 1. Serta pihak perbankan tidak tertarik untuk membiayai sektor pertanian yang dipandang berisiko tinggi. Secara garis besar. Rendahnya tingkat pelunasan kredit Rendahnya moralitas di bidang perkreditan aparat pelaksana Rendahnya tingkat mobilisasi dana masyarakat. juga secara ironis terkena dampak dari kebijakan yang memberikan prioritas kepada program-program kredit murah bersubsidi dan pendirian LKP-LKP baru versi beberapa departemen Dalam perjalanannya program-program tersebut memang telah mencapai tujuannya. Bahkan untuk bank tertentu masih ada yang hanya melayani masyarakat sekitar kota kabupaten atau kota kecamatan 2. maupun fluktuasi harga output. Jangka waktu proses pencairan kredit relative lama karena harus ada screening dan checking 4. Hal-hal terseut diantaranya. faktor yang sangat menonjol dalam akses petani terhadap badan keuangan formal adalah petani Indonesia yang masih sangat lemah mengakses sumbersumber permodalan formal. serangan hama dan penyakit tanaman. Selain adanya hal-hal yang tidak memuaskan pada lembaga keuangan yang melaksanakannya. prosedur yang tidak sederhana dan persayaratan kolateral yang harus dipenuhi oleh petani. dan Badan Kredit Kecamatan (BKK). Badan Kredit Desa (BKD). . Biaya transaksi masih dianggap terlalu besar 5. 3.LKP yang menjadi obyek penelitian ini adalah kelompok swadaya masyarakat (KSM).

Kredit yang disalurkan di eks Karesidenan Pekalongan terkonsentrasi pada sektor lainnya (konsumtif). Oleh karena itu. sehingga bank percaya. pada triwulan III sebesar Rp 301 miliar. kluster-kluster pertanian sudah banyak terbentuk di Kabupaten Tegal.54 persen dari total kredit yang disalurkan bank-bank umum dan BPR. Hal itu. "Pemkab Tegal juga mendidik petani agar membentuk kluster pertanian. Jawa Tengah. Saat ini. pada triwulan II sebesar Rp 275 miliar. Padahal. Rintisan kluster pertanian di Kabupaten Tegal dimulai sejak lima tahun lalu. antara lain.BAB VII STUDI KASUS Penyerapan Kredit Pertanian Masih Rendah Siwi Nurbiajanti | Benny N Joewono | Kamis. Melalui survei itu akan dibuat database sektor pertanian. Data dari Bank Indonesia Tegal." ujarnya. juga akan melakukan survei bagi para petani yang dinilai layak mendapatkan kredit dari bank. serta sektor industri pengolahan. dan Kehutanan Kabupaten Tegal Karwadi mengatakan. Kamis (31/3/2011). melalui pembentukan kluster komoditas pertanian. KOMPAS. lanjutnya. mengatakan. Nilai kredit pertanian pada triwulan IV 2010 sebesar Rp 283 miliar.com — Penyerapan kredit untuk sektor pertanian di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. dan 7. sektor perdagangan. salah satu upaya mendorong peningkatan penyerapan kredit sektor pertanian dengan menstabilkan harga produk pertanian. antara lain kluster pepaya. Pimpinan Bank Indonesia Tegal Yoni Depari. potensi petani sangat besar karena sekitar 60 persen penduduk di Indonesia bekerja di sektor pertanian." katanya.77 persen. berupa kuster jagung.19 persen. . Pada triwulan IV 2010. penyerapan kredit untuk sektor tersebut masih kurang dari 3 persen. hotel. dan restoran. Dengan kluster. di sela-sela Workshop Upaya Stabilisasi Harga dan Peningkatan Produktivitas Pertanian". nanas. bank tidak berani memberi kredit. Pangsa kredit sektor-sektor tersebut masing-masing sekitar 56. 31 Maret 2011 | 21:48 WIB TEGAL. pemerintah daerah terus mendidik dan membimbing petani dengan teknologi sehingga bisa menghasilkan produk yang berkualitas. "Hal itu akibat fluktuasi harga pertanian yang tinggi. Perkebunan. nama-nama petani pelaku. pasar terjamin. penyerapan kredit sektor pertanian di wilayah itu sekitar 2. Kepala Dinas Pertanian. dan produk pertanian yang dihasilkan sehingga bisa dijadikan acuan bagi bank dalam menyalurkan kredit. dan pada triwulan I sebesar Rp 231 miliar. Jadi. hortikultura (cabai. BI Tegal. dan kentang). serta kluster melati. masih rendah. kubis. 28. di kantor BI Tegal.52 persen. penyerapan kredit pertanian masih rendah karena kredit sektor pertanian dianggap memiliki risiko tinggi.

Penurunan dan rendahnya persentase penyerapan kredit sector pertanian ini menurut saya memang tidak akan berbeda jauh dari factor-faktor akses petani terhadap lembaga keuangan formal. Malaysia dan Thailand dapat dijadikan cermin bagi Indonesia. Dari data tersebut dapat dilihat penurunan persentase penyerapan kredit sector pertanian dari tiap triwulan ke triwulan.PEMBAHASAN KASUS Kasus yang terjadi di Bank Indonesia di Tegal. penyerapan kredit sektor pertanian di wilayah itu sekitar 2. dan pada triwulan I sebesar Rp 231 miliar. Kemajuan pertanian bukan hanya diperlihatkan oleh peningkatan produktivitas. maka tentu saja nilai jualnya akan turun. tetapi lebih kepada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat petani dan perdesaan. sayursayuran. Sayur-sayuran adalah produk pertanian yang mudah rusak. Maksud beresiko tinggi di sini tak lain karena produk pertanaian di Indonesia yang punishable dan dalam proses budidayanya masih sangat bergantung pada kondisi alam. efisiensi dan daya saing produk-produk pertaniannya semata. pada triwulan II sebesar Rp 275 miliar. dalam suatu proses transformasi ekonomi yang terjadi secara berkelanjutan apabila pertanian tumbuh menjadi sektor yang kuat dan sehat. Sektor pertanian memang sektor yang beresiko tinggi ditinjau dari hasil produksinya. . Korea Selatan.54 persen dari total kredit yang disalurkan bank-bank umum dan BPR memang begituah pada kenyataannya di lapangan. Dalam perjalanannya. Nilai kredit pertanian pada triwulan IV 2010 sebesar Rp 283 miliar. Misalnya saja kol yang dibudidayakan di Lembang dan hendak di distribusikan ke daerah lain di luar Jawa. pada triwulan III sebesar Rp 301 miliar. dimana pada triwulan IV 2010. Kemajuan negara-negara umumnya sangat ditentukan oleh kemajuan pertaniannya. Contohkan saja pada salah satu produk pertanian. banyak pelajaran telah kita peroleh. jika tidak tercover dengan baik maka kol bisa mengalami kerusakan dan kerusakan tersebut bias menimbulkan kebusukan. Kemajuan-kemajuan yang dicapai Jepang. Hal seperti ini lah yang ditakutkan oleh pihak bank untuk memberikan kredit pertanian. Jika sudah terjadi hal seperi itu. Akar dari berkembangnya proses tersebut dicirikan oleh berkembangnya industri-industri berbasis pertanian sebagai landasan kokoh dari perkembangan perekonomian suatu negara maju. KESIMPULAN Sebenarnya.

atau pemerintah sebaiknya membantu masyarakat. karena prosedur yang rumit.\ pengusaha. sesuai dengan kemampuan petani. . pedagang input. Meskipun berbagai kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki sistem penyaluran pembiayaan pertanian. pelepas uang. namun lebih mementingkan tingkat pelayanan. Bahkan sebagian masyarakat masih mempunyai persepsi bahwa meminjam kredit ke bank komersial merupakan hal yang sulit dilakukan. Selain itu dalam hubungannya dengan lembaga pembiayaan non formal tidak ditemukan sangsi kemungkinan hilangnya satu-satunya aset yang sangat penting bagi mereka. agunan merupakan salah satu syarat yang tidak dapat ditawar. Pada umumnya lembaga-lembaga pembiayaan formal lebih dapat diakses oleh pegawai. Sedang agunan dalam bentuk sertifikat masih perlu dipertimbangkan. pedagang. mahal.BAB VIII PENUTUP Aksessibilitas masyarakat tani pada kelembagaan pembiayaan formal relatif tinggi. Dengan demikian diperlukan suatu lembaga pembiayaan yang dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat di pedesaan. Sebagian besar masyarakat merasakan bahwa meminjam ke lembaga pembiayaan formal relatif sulit. karena lemahnya peranan lembagalembaga pelaksana. Padahal untuk meminjam ke lembaga formal. sesuai dengan siklus produksi petani. Di satu pihak pemerintah sebagai kreditor mewajibkan setiap bantuan harus dikembalikan. disebabkan karena adanya program-program pemerintah seperti KUT. namun sejarah membuktikan bahwa program pemerintah di bidang pembiayaan pertanian sering mengalami kegagalan. khususnya petani untuk dapat memperoleh sertifikat tanah dengan mudah dan murah. karena terjadi over produksi dan penurunan harga-harga produk pertanian. sesuai dengan kebutuhan dan sederhana. Terjadi kecenderungan program bantuan pemerintah yang bersifat masal dan tidak selektif justru menghancurkan usahatani masyarakat pedesaan. yaitu tanah. Hal ini disebabkan karena sering terjadinya komunikasi yang tidak pas antara pemerintah dengan masyarakat tani. namun di pihak lain masyarakat tani sebagai debitor sebagian besar menganggap bahwa bantuan pemerintah bersifat ―bantuan‖ yang tidak perlu dikembalikan. dan sebagian besar masyarakat tidak mempunyai agunan berupa sertifikat tanah sebagai jaminan . Cara pengembalian kredit sebaiknya musiman atau tahunan. dan bukan petani . tetangga/famili/rekanan. KKP dan sebagainya. Prosedur penyaluran kredit sebaiknya dibuat lebih cepat relatif sederhana. Petani pada umumnya tidak mempermasalahkan besarnya bunga pinjaman. Hal ini berarti bahwa berbagai kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan aksessibilitas masyarakat terhadap lembaga perkreditan belum dapat memenuhi sasarannya dengan tepat. Petani lebih akses pada lembaga pembiayaan non formal seperti pedagang output. Disamping itu banyak kesalahan tehnis yang bukan di pihak petani. Dengan diberlakukannya otonomi daerah kemungkinanmendapatkan dana pembiayaan seperti KUT relatif tidak mudah. namun dipihak pelaksana. Modal utama hanyalah berupa kejujuran dan kepercayaan diantara ke dua belah pihak. Hal ini disebabkan karena prosedur yang cepat. Oleh karena itu di dalam menyalurkan kredit dan jenis agunan sebaiknya dalam bentuk uang tunai. Oleh karena itu tingkat pengembaliannya relatif rendah.

Dalam kaitannya dengan masalah permodalan yang dialami para pelaku agribisnis perlu dikembangkan agribisnis industrial yang memungkinkan terjadinya hubungan fungsional yang saling menguntungkan diantara pelaku agribisnis. yang dapat diberdayakan dengan tidak mengubah struktur dan peran kelembagaan tersebut yang telah berfungsi dengan baik. Untuk mendukung program tersebut di pedesaan banyak terdapat kelembagaan kemitraan diantara pelaku agribisnis. . dan tercipta hubungan sinergis dalam kesatuan tindak.

Nurmanaf. Mayrowani. Yayasan Obor Indonesia. Yuni Marisa dan M.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. dan Valeriana Darwis. Yayasan Obor Indonesia. Syukur .T. M.1984. Jawa Barat. Departemen Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi . Badan Litbang Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Teori Sosiologi . M.2001. dan White Benjamin N. Benny Rachman. 2000.. Sosiologi Pertanian. Colter. Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Windarti. Fauzi Sutopo. Departemen Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Keragaan Kredit Usahatani Dalam Menunjang Peningkatan Produksi Pangan. Jawa Barat. M. . 2001. Syukur. 1993.L. Heny. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian.DAFTAR PUSTAKA Bambang Irawan. Soedjanadi Ronodiwirjo. Peningkatan Peranan Kredit Dalam Menunjang Agribisnis di Pedesaan. dkk. Struktur Perkreditan Pertanian di Daerah Produksi Padi: Suatu Penelitian Pedesaan di Karawang. M.Syukur. Bogor. Johnson Doyle Paul.1982. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Bentuk-Bentuk Kerjasama Ekonomi Skala Kecil di Enam Desa Contoh di Daerah Aliran Sungai Cimanuk. Hastuti E. E. Yayasan Obor Indonesia. Sumaryanto dan Effendi Pasandaran. PT Gramedia Pustaka Utama. 1984.1979.F.1999.1991. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Kinerja Kredit Pedesaan dan Alternatif Penyempurnaannya Untuk Pengembangan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.R. SDP/ SAE.Chaerul Muslim.1993. Hastuti. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Syukur. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Karya Usaha Mandiri : Sebuah Skim Pembiayaan Mikro Dalam Pengembangan Ekonomi Lokal. Pengembangan Lembaga Keuangan Alternatif Mendukung Pembangunan Ekonomi Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Deskripsi Perkembangan Lembaga Perkreditan Pedesaan Jawa Timur. Sudaryanto. Bogor.1990. Departemen Pertanian.L. Dalam Bunga Rampai Perekonomian Desa. Masalah Perkreditan Dalam Pembangunan Pertanian. F.1998. Planck Ulrich. Yana Supriatna. Klasik dan Modern. Kasryno. Sunarsih. dan H. Y. Studi Kebijaksanaan pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Hortikultura. dan M.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bunga Rampai Antropologi Terapan. P. M. 1986. Gejala Organisasi dan Pembangunan Berencana Dalam Masyarakat Pedesaan di Jawa. LP3ES. Otonomi Daerah dan Daya Saing Agribisnis. Departemen Pertanian.Tjondronegoro S. Jakarta. Kumarian Press. 1984. . Dalam Masalah-Masalah Pembangunan. Local Institutional Development. Pelajaran dari Provinsi Lampung. Tri Pranadji. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. An Analytical Sourcebook With Cases.2003. Analisis Kebijakan Pertanian. Uphoff Norman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->