P. 1
resensiku

resensiku

|Views: 0|Likes:
Published by Fitriani Nassyam

More info:

Published by: Fitriani Nassyam on Apr 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2014

pdf

text

original

Tugas kelompok

KOMUNIKASI KEPERAWATAN
“Resensi Film Komunikasi Keperawatan Maternitas”

OLEH:

KELOMPOK III
Hamka Abdi Kusuma Irwan Hadi Wirawan Hariana Hasban Harianti Anwar Helmi Juwita Husnul khatimah Fitriani ( 023 ) Fitriani ( 024 ) Ina Angraeni Hartina Hajrah

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2012

Padahal. Etti Iswahyuni sebagai ibu Etti 8. serta penilaian terhadap setiap perkembangan kehamilan istrinya ( Bobak.. Ernawati sebagai bu Erna 11. Haeruddin sebagai pak Didin Film produksi kelompok dua ini mengisahkan tentang komunikasi terapeutik antara perawat dengan pasien yang sedang hamil ( keperawatan maternitas ). Muh. Fatmawati sebagai pegawai administrasi 9. dukungan situasional dari orang-orang dan sumber-sumber yang tersedia untuk . Selain itu. Dewi Marlianti sebagai Suster Dewi 5. dukungan instrumental. Fakhira Dwi Auliawati sebagai Suster Uli 3. Arif Falaq sebagai apoteker 6.Judul film : Komunikasi Keperawatan Maternitas Tahun produksi : Tahun 2012 Kameramen Pemeran : Haeruddin : 1. Dharma Riyani sebagai ibu Yani 4. kehadiran seorang suami dapat memberikan dukungan emosi. perannya sebagai suami sekaligus calon ayah barulah terlaksana. dkk. 2004: 134 ). pada masamasa seperti ini. Enita sebagai penjual rujak 10. Dinianti sebagai apoteker 7. Ibu Amalia yang sedang mengandung anak pertamanya mengalami kecemasan akan kondisi kandungannya terlebih lagi tidak hadirnya suaminya yaitu Pak Didin untuk mendampinginya. Pada film ini. dan dukungan informasi. Firda Reski Amalia sebagai Ibu Amalia 2. Dengan demikian.

memberikan dukungan. Ibu Amalia melakukan registrasi untuk selanjutnya dilakukan tindakan pelayanan keperawatan padanya. Kehadiran Ibu Yani selaku kakak dari Ibu Amalia sebagai salah satu wujud dukungan situasional ini. melakukan tanya jawab sederhana terkait dengan rutinitas dan kondisi kehamilan Ibu Amalia. suster Uli dan Ibu Amalia membangun rasa percaya di antara mereka dan kemudian menggali atau . Ibu Amalia yang notabennya baru pertama kali mengandung mengalami kecemasan yang pasang surut. 2011: 149 ). Hingga keesokan harinya. ia pun mengkhawatirkan suaminya yang berada di luar kota untuk suatu pekerjaan. Tetapi ibu dan kakaknya kemudian membujuknya. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan. terlebih dahulu Suster Uli selaku pelayan kesehatan di klinik tersebut. Karena khawatir akan kondisi anaknya. Hal ini merupakan upaya membangun hubungan terapeutik perawat-pasien sehingga layanan kesehatan berjalan optimal. Ini membuat kondisinya sedikit memburuk. Ibu Etti pun menyarankan Ibu Amalia untuk memeriksakan kandungannya di klinik yang tak jauh dari rumah mereka. Ibu Yani pun sudah terbilang cukup berpengalaman mengenai kehamilan. sebab disamping ia mengkhawatirkan janinnya. Dan setiba di sana. Upaya membangun hubungan terapeutik ini merupakan fase orientasi dari serangkaian proses hubungan terapeutik antara perawat-pasien ( Sitzman. Setelah itu. 1995 ). Pada fase ini. hingga ia pun bersedia untuk memeriksakan kandungannya di klinik tersebut. Ibu Yani menemani Ibu Amalia ke klinik.. Dalam hal ini. lagi-lagi Ibu Amalia merasa tidak yakin dengan pelayanan di klinik tersebut. karena sebenarnya ia pun sudah pernah mengandung. dan Eichelberger. Kehadiran keluarganya dalam mendampingi Ibu Amalia selama proses kehamilannya dapat mengurangi tingkat kecemasan yang dialaminya. Ibu Amalia yang ditemani oleh kakaknya masuk ke ruangan pemeriksaan. bantuan. hanya saja naas ia mengalami keguguran. ia disambut dengan baik oleh seorang pegawai administrasi yang bernama Suster Fatma. Namun. dan perawatan pun sangatlah diharapkan oleh seorang wanita hamil seperti Ibu Amalia ini ( Hamilton. Dengannya.

dan telinga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan suhu tubuh dan tekanan darah. Dalam komunikasi yang terjaling antara Suster Uli dan Ibu Amalia. Tetapi Ibu Amalia sudah terlanjur marah dan melampiaskan amarahnya itu dengan melayangkan pukulan ke wajah Pak Didin.mengeksplorasi informasi apa yang dirasakan dan diinginkan oleh Ibu Amalia. setelah melakukan perbincangan ringan sebagai tahap perkenalan ( orientasi ). Namun. Kelebihan dan Kekurangan . perhatian. dia bersama dengan seorang wanita yang bernama Ibu Erna. Suster Uli yang berusaha menerapkan keterampilan interpersonalnya. Ibu Amalia dan Ibu Yani segera meninggalkan klinik tersebut. Selain itu. suster Uli juga aktif mendengarkan keluhan Ibu Amalia karena hal ini adalah hal yang sangat penting pula dalam fase ini. Dan sebagai tahap interaksi ( kerja ). berusaha menjelaskan kenyataan sebenarnya. selanjutnya Suster Uli melakukan tindakan ( fase kerja ) dengan melakukan pengukuran berat badan terlebih dahulu kepada Ibu Amalia. Dan dalam hal ini. tampak bahwa Ibu Amalia telah menaruh rasa percaya pada Suster Uli. Pak Didin yang juga terkejut. mulut. Hal ini. yang ternyata tensi Ibu Amalia tergolong masih normal yaitu 180/90. Hal ini terlihat dari raut wajah Ibu Amalia begitupun dengan kakaknya yang secara terbuka menyampaikan berbagai keluhan dan permasalahan yang membuatnya selalu merasa cemas. memberikan penjelasan dan saran-saran kepada Ibu Amalia sedetail mungkin dengan gesture yang empati. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan pupil mata. Nah. Hal seperti inilah yang mesti diperhatikan oleh seorang perawat. Hal-hal kecil seperti senyuman. Setelah pemeriksaan dilakukan. betapa terkejutnya mereka ketika melihat pak Didin ( suami Ibu Amalia ) yang setahu mereka Pak Didin itu berada di luar kota dan ternyata di depan mata mereka. dsb yang sering diabaikan ternyata mampu memberikan perasaan senang dan nyaman pada pasien. Ibu Amalia segera dipersilahkan duduk di atas brankar untuk dilakukan pemeriksaan Head to Toe.

bahwa pada komunikasi di bagian adegan ini adalah lipsink. di awal-awal adegan. muncul suara “siluman” yang tidak compatible dengan komunikasi yang sedang berlangsung. perutnya membesar. Dari segi pelafalan naskah. Hal ini menimbulkan kesan ketidakefisienan komunikasi dari pasien ke perawat. bahkan seperti orang yang mengalami keguguran. Hal ini terlihat ketika adegan di apotek. Kalimat perulangan ini diucapkan oleh Ibu Amalia sesudah dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadapnya oleh Suster Uli. d. Dalam hal ini. Di akhir komunikasi antara apoteker dan Bu Yani. Karena di awal adegan. perutnya nampak kecil. sempat Suster Uli melakukan kesalahan ketika hendak melakukan pemeriksaan Head To Toe. Ketidaksempurnaan pengeditan movie. Hal ini seperti menunjukkan ketidakkonsistenan dalam perihal tampilan pendukung karakter. terlihat jelas bahwa ada beberapa kalimat yang diucapkan secara berulang-ulang. Kekurangan yang kami maksudkan di sini adalah: a. Suara itu terdengar “ wei. tampilan kandungan. b. Ujung dari pen light itu sempat hendak ia gunakan untuk menyenter pupil mata pasiennya. cara lipsinknya nampak kasar. Penyajian kostum. dalam hal ini perut dari Ibu Amalia nampak kecil. Karena kata-kata yang diucapkan berulang itu sama persis. karena antara gerakan mulut dan kata yang diucapkan itu tidak sesuai. kehamilan Ibu Amalia nampak sudah membesar karena perutnya sudah cukup membesar. c. Kalimat perulangan ini diucapkan oleh si pasien yaitu Ibu Amalia bahwa ia merasakan kecemasan. tapi kemudian di tengah-tengah cerita..Dari pengamatan kami setelah menonton movie tersebut kemudian dibuatkan resensi sebagaimana yang di atas telah kami sajikan. pada saat adegan hendak memeriksakan kandungannya ke klinik. Ini terlihat jelas.wie. Selain itu.dua juta”. Ini ... Tetapi. ternyata masih ada beberapa kekurangan yang perlu dilengkapi atau dijadikan pertimbangan untuk pembuatan movie mereka selanjutnya. Selain itu.

yaitu berfokus pada komunikasi perawat-klien hamil meskipun terdapat beberapa komunikasi pendukung. cukup sinergis dengan perannya masing-masing. Sinergitas komunikasi verbal dan nonverbal perawatnya cukup bagus. . c. Nah. e. Arah dan maksud dari komunikasi perawat-klien ini cukup jelas. tetapi kelebihannya masih lebih banyak. adapun beberapa yang kami anggap sebagai kelebihan dari movie ini. d. Penghayatan pemeran-pemerannya cukup bagus dan menguasai alur cerita. Suster Uli merasa tegang dan ceroboh. Dari segi kostum. yaitu: a. b. Meskipun terdapat kekurangan dalam movie tersebut.mengundang persepsi bahwa saai tindakan. Perawatnya mampu membangun hubungan terapeutik dengan baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->