You are on page 1of 14

DAMPAK HOSPITALISASI PADA ANAK DAN ORANG TUA

KONSEP HOSPITALISASI Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang. Khususnya hospitalisasi pada anak merupakan stressor baik terhadap anak itu sendiri mampu terhadap keluarga. Stres pada anak disebabkan karena mereka tidak mengerti mengapa mereka dirawat atau mengapa mereka terluka. Lingkungan yang asing, kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, perpisahan dengan keluarga merupakan pengalaman yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Stres akibat hospitalisasi akan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman baik pada anak maupun pada keluarga, hal ini akan memacu anak untuk menggunakan mekanisme koping dalam mengatasi stres. Jika anak tidak mampu menangani stres dapat berkembang menjadi krisis. Dengan mengerti kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangannya dan mampu memenuhi kebutuhan tersebut, perawat dapat mengurangi stres akibat hospitalisasi dan dapat meningkatkan perkembangan anak ke arah yang normal.

REAKSI ANAK TERHADAP STRES AKIBAT SAKIT DAN DIRAWAT DI RUMAH SAKIT BERDASARKAN TAHAP PERKEMBANGAN Reaksi anak terhadap sakit dan di rawat di rumah sakit di pengaruhi oleh perkembangan usia, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, dan dirawat di rumah sakit, support sistem yang tersedia serta keterampilan koping dalam menangani stress.

Hubungan anak dengan ibu sangat dekat sehingga perpisahan dengan ibu akan menimbulkan rasa kehilangan orang yang terdekat bagi diri anak yang dikenal serta akan mengakibatkan rasa tidak aman dan rasa cemas. Pada bayi usia 8 bulan atau lebih telah mengenal ibunya sebagai orang yang berbeda dengan dirinya. Respon bayi terhadap rasa nyeri dapat dilihat melalui ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.Reaksi anak berdasarkan tahap perkembangan : 1. sehingga bayi akan menolak orang baru yang belum dikenal. Hal ini akan kelihatan jika bayi di tinggalkan oleh ibunya. karena bayi belum dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya. Disamping itu bayi juga telah merasa memiliki ibunya. maka akan menangis sejadijadinya. 2. sehingga bila berpisah dengan ibunya akan menimbulkan “separation anxient“ (cemas akan berpisah). Pada bayi usia 6 bulan sulit untuk memahami secara maksimal bagaimana reaksi bayi bila dirawat. Todler (1-3 tahun) Todler belum mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang memadai dan pengertian terhadap realita terbatas. Bayi (0-1 tahun) Bila bayi berpisah dengan orang tua maka pembentukan rasa percaya dan pembinaan kasih sayangnya terganggu. marah dan pergerakan yang berlebihan. pergerakan tubuh seperti menggeliat. melekat dan sangat tergantung pada ibunya. . tersentak atau menagis dengan kuat. Sedangkan pada bayi dengan usia lebih dari 6 bulan akan menunjukan banyak perubahan. sehingga akan terjadi “strategi anxiety“ (cemas pada orang yang tidak dikenal). Kecemasan ini di manifestasikan dengan menagis.

menarik diri. Anak akan bereaksi terhadap nyeri dengan menangis. Respon perilaku anak akibat perpisahan dibagi dalam 3 tahap. menyerang. Tahap protes (protest) Pada tahap ini dimanifestasikan dengan menangis kuat. Todler telah mampu menunjukan kestabilan dalam mengontrol dirinya dengan mempertahankan kegiatan rutin seperti : makan. Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit anak akan kehilangan kebebasan dan pandangan egosentrisnya dalam mengembangkan otonominya. dan memanggil ibunya atau menggunakan tingkah laku agresif agar orang lain tahu bahwa ia tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta menolak perhatian orang lain. yaitu : a. Anxietas perpisahan disebut juga “analytic depression”. Anak akan bereaksi terhadap ketergantungan dengan negatifisik dan agresif. toileting dan bermain. menggigit bibir. Jika terjadi ketergantungan dalam jangka waktu lama (karena penyakit kronik) maka anak akan berespon dengan menarik diri dari hubungan interpersonal. tidur. Tahap menolak/ denial (detachment) Pada tahap ini secara samara-samar anak menerima perpisahan. dsb. b. mandi. Hal ini akan menimbulkan regresi. Reaksi anak terhadap pelukan tubuh dan rasa nyeri hampir mirip dengan bayi. tidak aktif kurang minat untuk bermain. Tahap putus asa (despair) Pada tahap ini anak tampak tenang. sedih dan apatis. .Disebutkan bahwa sumber stress utama pada anak yaitu akibat perpisahan (15-30 bulan). Anak sudah mampu mengkomunikasikan rasa nyeri dan dapat melokalisasi dengan menunjukan lokasi nyeri. c. membina hubungan dangkal dengan orang lain serta kelihatan menyukai lingkungan. tidak nafsu makan. menjerit. namun jumlah variabel yang mempengaruhi respon anak lebih kompleks. memukul. menangis berkurang. Ketergantungan merupakan karakteristik dari peran sakit.

Disamping itu juga anak akan menangis. . tidak kooperatif terhadap aktivitas seharihari. bingung. Pada anak yang lebih muda. merasa tidak aman dan kemandiriannya dihambat. menangis pelan-pelan. Pada usia ini anak merasa takut bila mengalami perlukaan. Anak akan bereaksi dengan agresif. Anak usia prasekolah sangat memperhatikan penampilan dan fungsi tubuh. dipisahkan. sering bertanya misalnya : kapan orang tua berkunjung. sehingga ia percaya bahwa tubuhnya mungkin akan rusak seperti : balon bila ditusuk atau patah seperti mainan bila diremas dengan keras seperti ketika diukur tekanan darah. Maka sulit bagi anak untuk percaya bahwa injeksi. khususnya bila keluar darah. mengukur tekanan darah. Kehilangan kontrol terjadi karena adanya pembatas aktivitas sehari-hari dan karena kehilangan kekuatan diri. Anak prasekolah membayangkan bahwa dirawat di rumah sakit merupakan suatu hukuman.3. bersalah dan takut. mengukur suhu perektal dan prosedur tindakan lainnya tidak akan menimbulkan perlukaan. Walaupun demikian anak tetap membutuhkan perlindungan dari keluarganya. Anak akan berespon dengan perasaan malu. Usia Prasekolah (3-6 tahun) Anak usia prasekolah telah dapat menerima perpisahan dengan orang tuanya dan anak juga dapat membentuk rasa percaya dengan orang lain. anak menganggapbahwa tindakan dan prosedur mengancam integritas tubuhnya. fantasi merupakan fase penting dalam perkembangannya. Akibat perpisahan akan menimbulkan reaksi seperti : menolak makan. Mereka menjadi ingin tahu dan bingung melihat seseorang dengan gangguan penglihatan atau keadaan tidak normal. ekspresif verbal dan dependensi.

penggunaan pispot. perkembangan dan kemampuan anak.4. Hal ini terjadi karena adanya perubahan dalam peran. Usia remaja (12-18 tahun) Kecemasan yang timbul pada anak remaja yang dirawat di rumah sakit adalah akibat perpisahan dengan teman-teman sebaya dan kelompok. takut kehilangan keterampilan merasa kesepian dan sendiri. dll. Pada usia ini anak berusaha independen dan produktif. takut mati dan kehilangan kegiatan dalam kelompok serta akibat kegiatan rutin rumah sakit seperti bedrest. Reaksi yang timbul bila anak remaja dirawat. Anak akan merasa takut terhadap mati pada waktu tidur. Anak akan berusaha mengontrol tingkah lakunya pada waktu merasa nyeri/ sakit dengan cara menggigit bibir atau menggenggam sesuatu dengan erat. marah dan frustasi. ia akan merasa kebebasannya terancam sehingga anak tidak kooperatif. Adanya perubahan dalam body image akibat penyakit/ . Usia sekolah (6-12 tahun) Anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit akan merasa perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya. Anak ingin tahu alasan tindakan yang dilakukan pada dirinya. Anak telah dapat mengekspresikan perasaannya dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri. Anak membutuhkan rasa aman dan perlindungan dari orang tua namun tidak selalu di temani oleh orang tua. menarik diri. Remaja sangat cepat mengalami perubahan body image selama perkembangannya. kecacatan serta kurangnya “privacy“. 5. kelemahan fisik. sehingga ia selalu mengamati apa yang dikatakan perawat. Kecemasan lain disebabkan oleh akibat yang ditimbulkan oleh akibat penyakit fisik. kurangnya privacy. pemakaian kursi roda. Sakit dan dirawat merupakan ancaman terhadap identitas diri. Akibat dirawat di rumah sakit menyebabkan perasaan kehilangan kontrol dan kekuatan. Anak tidak merasa takut berpisah dengan orang tua akan tetapi takut kehilangan status dan hubungan dengan teman sekelompok.

menarik diri dan menolak orang lain. . a. Hal ini akan menimbulkan perasaan cemburu pada anak yang sehat dan akan merasa ditolak. REAKSI KELUARGA TERHADAP ANAK YANG SAKIT DAN DIRAWAT DI RUMAH SAKIT Seriusnya penyakit apakah akut atau kronis mempengaruhi tiap anggota dalam keluarga. Frustasi dihubungkan dengan kurangnya informasi terhadap prosedur dan pengobatan anak familiar dengan peraturan rumah sakit. Ketakutan dan ansietas dihubungkan dengan seriusnya penyakit dan tipe dari prosedur medis. Orang tua sering mengekspresikan perasaan ketakutan ansietas dan frustasi. Orang tua seringkali mencurahkan perhatiannya lebih besar terhadap anak yang sakit di bandingkan dengan anak yang sehat. Kecemasan akan meningkat bila mereka kurang informasi tentang prosedur dan pengobatan anak serta dampaknya terhadap masa depan anak. Reaksi sibling Reaksi sibling terhadap anak yang sakit dan dirawat di rumah sakit adalah marah. b. sering menyalahkan diri karena tidak mampu merawat anak sehingga anak sakit. Orang tua akan mengalami stress bila anaknya sakit dan dirawat di rumah sakit.pembedahan dapat menimbulkan stress atau perasaan tidak aman. maka mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. benci dan bersalah. Orang tua bereaksi dengan tidak percaya terutama jika penyakit anaknya secara tiba-tiba dan serius. cemas akan berespon dengan banyak bertanya. cemburu. Setelah menyadari tentang keadaan anak.

kehilangan kontrol.PERAN PERAWAT DALAM MENGURANGI STRESS AKIBAT HOSPITALISASI Anak dan keluarga membutuhkan perawatan yang kompeten untuk meminimalkan efek negatif dari hospitalisasi. dan perlukaan tubuh atau rasa nyeri pada anak serta memberi support kepada keluarga seperti membantu perkembangan hubungan dalam keluarga dan memberikan informasi : 1. Membantu anak mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah dengan mendatangkan tutor khusus atau melalui kunjungan teman-teman sekolah. Fokus dari intervensi keperawatan adalah meminimalkan stresor perpisahan. . d. “Rooming In“ Yaitu orang tua dan anak tinggal bersama. a. Mencegah/ meminimalkan dampak dari perpisahan tujuan keperawatan yang utama adalah mencegah perpisahan terutama pada anak usia kurang dari 5 tahun. Membuat ruang perawatan seperti situasi di rumah dengan mendekorasi dinding memakai poster/ kartu bergambar sehingga anak merasa aman jika berada di ruang tersebut. Jika tidak bisa. c. b. surat menyurat atau melalui telepon. Partisipasi orang tua Orang tua diharapkan dapat berpartisipasi dalam merawat anak yang sakit terutama dalam perawatan yang bisa dilakukan misal : memberikan kesempatan pada orang tua untuk menyiapkan makanan pada anak atau memandikan. sebaiknya orang tua dapat melihat anak setiap saat untuk mempertahankan kontak/ komunikasi antara orang tua dan anak.

Physical Restriction (pembatasan fisik) Pembatasan fisik / imobilisasi pada ekstremitas untuk mempertahankan aliran infus dapat dicegah jika anak kooperatif. lingkungan dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kebebasan sensori missal dengan menempatkan tempat tidur didekat pintu atau jendela. b. ini meliputi pembuatan jadwal kegiatan penting bagi perawat dan anak. Meminimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri Persiapan anak terhadap prosedur yang menimbulkan rasa nyeri adalah penting untuk mengurangi ketakutan. nonton tv. Mencegah perasaan kehilangan kontrol a. siapa yang dapat ditemui oleh anak jika dia merasa takut. Pada beberapa kasus pasien yang diisolasi. dsb. . Jadwal tersebut dibuat dengan kesepakatan antara perawat. mandi. 3. dsb. memberi musik. Pendekatan ini sesuai untuk anak usia sekolah dan remaja yang telah mempunyai konsep intelektualisasi. mengobservasi atau menunggu di luar ruangan. waktu bermain. Teknik untuk meminimalkan gangguan dalam melakukan kegiatan seharihari yaitu dengan “time planning“. misalnya : prosedur pengobatan. Perawat dapat menjelaskan apa yang akan dilakukan. orang tua dan anak. misal luka bakar berat. Pada tindakan/ prosedur yang menimbulkan nyeri. toileting dan interaksi sosial. Memanipulasi prosedur juga dapat mengurangi ketakutan akibat perlukaan tubuh. dsb. tidur.2. Untuk bayi dan toddler. latihan. kontak orang tua-anak mempunyai arti penting untuk mengurangi stress akibat restrain. Gangguan dalam memenuhi kegiatan sehari-hari Respon anak terhadap kehilangan kegiatan rutinitas dapat dilihat dengan ukuran masalah dalam makan. orang tua dipersiapkan untuk membantu. berpakaian.

c. maka dapat dilakukan melalui ketiak atau aksila. seperti regresi. Meningkatkan Self Mastery Pengalaman menghadapi krisis seperti penyakit/ hospitalisasi akan memberi kesempatan untuk self mastery. Jika orang tua tahu reaksi anak terhadap stress.Misalnya jika anak takut diukur tempertaurnya melalui anus. Anak yang usianya lebih besar. tetapi juga membantu memfasilitasi perubahan kearah positif antara anak dan anggota keluarga. Memberi kesempatan untuk sosialisasi Jika anak yang dirawat dalam suatu ruangan usianya sebaya maka akan membantu anak untuk belajar tentang diri mereka. tidak tergantung dan percaya diri. Membantu perkembangan hubungan orang tua-anak Hospitalisasi memberi kesempatan pada anak dan orang tua untuk belajar tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. b. Sosialisasi juga dapat dilakukan dengan tim kesehatan selain itu orang tuanya memperoleh kelompok sosial baru dengan orang tua anak yang punya masalah yang sama. maka mereka dapat memberi support dan juga akan memperluas pandangan orang tua dalam merawat anak yang sakit. Memberi kesempatan untuk pendidikan Hospitalisasi memberi kesempatan pada anak dan anggota keluarga belajar tentang tubuh. d. a. Memaksimalkan manfaat dari hospitalisasi Walaupun hospitalisasi merupakan stressfull bagi anak dan keluarga. 4. Anak pada usianya lebih mudah punya kesempatan untuk mengatasi fantasi atau realita. punya kesempatan untuk membuat keputusan. profesi kesehatan dan sebagainya. . perawar dapat memfasilitasi perasaan self mastery dengan menekankan kemampuan personal anak.

Melibatkan sibling Keterlibatan sibling sangat pening untuk mengurangi stres pada anak. Memberi support pada anggota keluarga Perawat dapat mendiskusikan dengan keluarga tentang kebutuhan anak. mengunjungi saudara yang sakit secara teratur dan sebagainya. pengobatan serta prognosa. .5. membantu orang tua. Memberikan informasi Salah satu intervensi keperawatan yang penting adalah memberikan informasi sehubungan dengan penyakit. mengidentifikasi alasan spesifik dari perasaan dan responnya terhadap stress. memberi kesempatan kepada orang tua untuk mengurangi beban emosinya a. reaksi emosional anak terhadap sakit dan di rawat.serta reaksi emosional keluarga terhadap anak yang sakit dan di rawat b. Misalnya keterlibatan dalam program RS (program bermain).

kehilangan. peran perawat :    Menjelaskan menggunakan komunikasi sesuai umur Memotivasi agar tidak HDR Meminimalkan stressor pada anak dan orang tua dengan cara perawat berkolaborasi dengan psikolog 2. bagaimana dampak psikologis anak tersebut dan apa peran perawat? Jawab : dampak psikologis pada anak perasaan takut. cemas. Bagaimana cara mengatasi terhadap ibu yang tidak bisa di ajak kerja sama sedangkan anaknya butuh tindakan invasif contohnya pemasangan infus? Jawab: Pendekatan pada orang tua dengan cara :    Membina kepercayaan Memberi penjelasan Membujuk Jika orang tua tetap tidak bisa di ajak kerja sama maka dikembalikan lagi kepada orang tua tersebut 3. Kasus seorang anak di rawat dengan amputasi atau cacat. sedih. apa peran perawat dengan anak yang tempramen atau anak yang keter belakangan mental? Jawab:    Kolaborasi dengan orang tua tentang kebiasaan sehari-hari sehingga dapat di aplikasikan di rumah sakit Pendekatan dengan cara yang halus Memberikan rasa kepercayaan .Hasil Diskusi 1.

dan timbul perasaan tidak nyaman lainnya. reaksi anak terhadap hospitalisasi. . betapa pentingnya perawat memahami konsep hospitalisasi dan dampaknya pada anak dan orang tua sebagai dasar dalam pemberian asuhan keperawatan.Latar belakang Pada kegiatan belajar sebelumnya terutama tentang bermain bagi anak yang di rawat di rumah sakit. Oleh karena itu. takut. dan prinsip keperawatan dalam mengatasi reaksi hospitalisasi pada anak dan orang tua. reaksi orang tua terhadap hospitalisasi. Pada kegiatan ini akan di kemukakan pengertian hospitalisasi. bahwa akan membuat anak menjadi cemas. Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi suatu pengalaman yang menimbulkan trauma baik pada anak maupun orang tua. sedih.

Yupi. Konselor di Pusat Konseling dan Pelatihan IPEKA . S.S. Lindawati.DAFTAR PUSTAKA Supartini. Jakarta : EGC Davida Welni Dana Kontributor: Eunike Septiani Morib. 2004.MEC.KP.KONSEP DASAR KEPERAWATAN ANAK. Psi.

Banteng Dalam No. 6 Bandung 2007 .LAPORAN KEPERAWATAN ANAK DAMPAK HOSPITALISASI PADA ANAK DAN ORANG TUA Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan anak Disusun Oleh : Kelompok 3 Ety fatmayati Evin noviani Esti agustini Suryani rosmawati Triani rukmana Uci eri winarti AKADEMI KEPERAWATAN ‘AISYIYAH Jln.